TARIF BEA MASUK
•
Duty levied at the border on goods going from one
customs territory to another
(GATT)
•
Bea masuk adalah pungutan negara berdasarkan
Undang-Undang ini yang dikenakan terhadap
barang yang diimpor (Undang-Undang Nomor 95
Tahun 1995 tentang Kepabeanansebagaimana
telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 17
Tahun 2006)
SKEMA TARIF BEA MASUK
1. Bound Tariff WTO
2. Applied Tariff
a. Umum (MFN/Most Favored Nations): Program Harmonisasi Tarif Bea Masuk Indonesia
b. Preferensi:
- Sudah implementasi: AFTA (ATIGA), ACFTA, AKFTA, IJ-EPA, AIFTA, AANZFTA, dan Indonesia-Pakistan
- Sedang negosiasi:, IE-CEPA, IK-CEPA, RCEP, D8, Indonesia-Iran, IC-CEPA dll.
3. Bea Masuk Khusus
c. Anti Dumping
d. Imbalan (Countervailling duty)
FUNGSI TARIF BEA MASUK
1. Instrumen pengembangan industri: daya saing
2. Instrumen Perdagangan: komitmen-komitmen
perdagangan dalam:
o
WTO
: secara umum tarif tertinggi 40% (
Bound Tariff
), masih
menunggu hasil
perundingan NAMA dan
Agriculture
o
AFTA
: tarif 0% pada tahun 2010 (IL product)
o
ACFTA
: tarif 0% pada tahun 2012 (90% pos tarif NT product)
o
AKFTA
: tarif 0% pada tahun 2012 (90 pos tarif NT product)
o
IJ-EPA
: tarif 0% pada tahun 2023 (93% pos tarif NT product)
o
AIFTA
: tarif 0% pada tahun 2016 (80% pos tarif NT product)
o
AANZFTA
: tarif 0% pada tahun 2020 (93% pos tarif)
o
Lain-lain
: AJCEP (Indonesia belum implementasi )
PENINJAUAN KEBIJAKAN TARIF BEA MASUK
UMUM (MFN)
LATAR BELAKANG
Sejak berakhirnya Program Harmonisasi Tarif Bea Masuk Indonesia 2005-2010 pada
tahun 2010, belum pernah dilakukan perumusan kebijakan tarif dalam lingkup yang lebih menyeluruh sehingga dirasakan terdapat kebijakan tarif yang saat ini berlaku kurang menampung kepentingan industri, perdagangan dan fiskal sesuai kebutuhan.
Peninjauan kembali kebijakan tarif bea masuk dilakukan dalam rangka.
– Untuk merumuskan tingkat tarif optimal yang dapat dijadikan sebagai tingkat tarif dasar sebagai bahan dalam perundingan-perundingan perdagangan barang internasional yang saat ini sedang dan akan dinegosiasikan.
– Untuk melakukan harmonisasi tarif bea masuk sehingga tercipta kebijakan tarif bea masuk yang harmonis antara produk hulu dengan produk hilir. Pada tahap awal, harmonisasi dilakukan dengan menaikkan tarif bea masuk produk konsumsi dengan alasan:
Dalam rangka FTA, produk yang berasal dari negara mitra tidak selalu dapat menikmati tarif preferensi jika
tidak memenuhi ketentuan asal barang (baik karena konten maupun proseduralnya tidak terpenuhi)
Peningkatan tarif MFN diharapkan dapat meningkatkan pemanfaatan tarif preferensi. Penggunaan tarif
preferensi diharapkan akan meningkatkan transparansi perdagangan sehingga memudahkan pengawasan barang oleh bea dan cukai.
Peningkatan tarif bea masuk MFN diharapkan dapat meningkatkan daya saing industri dalam negeri dan
SASARAN PRODUK
Produk yang akan dievaluasi
• Kategori Produk
– Produk konsumsi langsung (konsumsi rumah tangga)
– Produk barang modal (barang jadi atau intemediari) yang sudah diproduksi di dalam negeri
• Asal Impor
– Produk yang sebagian besar masih diimpor dari negara non mitra FTA
– Produk yang diimpor dari negara mitra FTA tetapi belum memanfaatkan tarif preferensi
• Lainnya
– Produk yang dikenakan tarif khusus (anti dumping dan safe guard)
– Produk yang dikenakan PPnBM
– Produk yang dikenakan PPh Pasal 22 Impor sebesar7,5%
TATACARA PENGAJUAN USULAN
•
Produk akhir sebagai hasil peninjauan tarif bea masuk MFN yang
dilakukan adalah berupa Peraturan Menteri Keuangan (PMK)
tentang penetapan tarif bea masuk umum.
•
Usulan untuk melakukan perubahan tarif bea masuk
disampaikan secara resmi oleh Menteri atau Pejabat setingkat
Menteri dari kementerian/lembaga pembina sektor industri.
•
Dalam rangka efektifitas pembahasan teknis, usulan sementara
PERSYARATAN USULAN
•
Produk yang diusulkan memenuhi kriteria sasaran
produk seperti disebutkan sebelumnya.
•
Sesuai kesepakatan, usulan dilakukan untuk produk yang
direncanakan untuk dinaikkan tarif bea masuknya.
•
Produk yang diusulkan diharapkan sudah melalui
pembahasan internal di kementerian/lembaga pembina
sektor
•
Usulan harus disertai dengan kajian dan data pendukung
TINDAK LANJUT
• Telah diadakan rapat teknis Tim Tarif pertama kali pada tanggal 14 April 2014
dengan mengundang Kementrian/Lembaga (K/L) terkait dengan kesepakatan: peninjauan tarif bea masuk MFN pada tahap pertama difokuskan pada kenaikan tarif, khususnya untuk produk-produk kategori konsumsi langsung.
• Kemenperin melalui Surat Kepala BPKIMI Nomor: 318/BPKIMI/7/2014 tanggal 17
Juli 2014 dan surat No. 540/BPKIMI/12/2014 tanggal 16 Desember 2014 telah mengusulkan kenaikkan pos-pos tarif produk konsumsi untuk sektor industri. Usulan ini telah dibahas dalam beberapa rapat teknis Tim Tarif.
• Sesuai hasil-hasil rapat teknis Tim Tarif, usulan kenaikan tarif bea masuk MFN
dimaksud secara formal telah disampaikan oleh Menteri Perindustrian kepada Menteri Keuangan melalui surat No. 176/M-IND/3/2015 tanggal 23 Maret 2015.
• Guna membahas surat Menteri Perindustrian tersebut di atas telah diadakan
rapat teknis Tim Tarif pada tanggal 2 April 2015 dengan kesimpulan akhir,
terdapat 1.150 pos tarif disetujui untuk dinaikkan tarif bea masuk MFN-nya yang selanjutnya akan dilaporkan dalam rapat pleno Tim Tarif guna mendapatkan