• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH ORIENTASI KEWIRAUSAHAAN, EXTRAVERSION

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENGARUH ORIENTASI KEWIRAUSAHAAN, EXTRAVERSION"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

70

PENGARUH ORIENTASI KEWIRAUSAHAAN,

EXTRAVERSION

,

AGREEABLENESS

,

CONSCIENTIOUSNESS

,

NEUROTICISM

, DAN

OPENNESS TO EXPERIENCE

TERHADAP KINERJA BISNIS PADA UMKM SASIRANGAN

DI KOTA BANJARMASIN

Farid Wajidi

1

, Widyarfendhi

1 1)

Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin.

Abstrak

Tujuan pokok penelitian ini adalah untuk menguji pengaruh orientasi kewirausahaan, extraversion, agreeableness, conscientiousness, neuroticism, dan openness to experience terhadap kinerja bisnis UMKM Sasirangan di Kota Banjarmasin. Penelitian ini berjenis explanatory research yang berguna untuk menjelaskan dan menganalisis hubungan sebab-akibat antara orientasi kewirausahaan, extraversion, agreeableness, conscientiousness, neuroticism, dan openness to experience dengan kinerja bisnis. Non Probability Sampling digunakan dalam penelitian ini dan didapatkan sebanyak 35 responden pemilik UMKM Sasirangan di Kota Banjarmasin. Analisis Regresi Berganda diterapkan agar menguji dampak dari orientasi kewirausahaan, extraversion, agreeableness, conscientiousness, neuroticism, dan juga openness to experience pada kinerja bisnis dibantu dengan program SPSS. Hasil penelitian diperoleh bahwa pengaruh yang signifikan dimiliki oleh hubungan variabel orientasi kewirausahaan, agreeableness, dan conscientiousness terhadap kinerja bisnis, sedangkan variabel extraversion, neuroticism, dan openness to experience tidak ditemukan pengaruhnya terhadap kinerja bisnis.

Kata Kunci: Orientasi Kewirausahaan, Extraversion, Agreeableness, Conscientiousness, Neuroticism, Openness to Experience, Kinerja Bisnis

Abstract

The primary objective of this research is to investigate the effect of entrepreneurial orientation, extraversion, agreeableness, conscientiousness, neuroticism, and openness to experience on business performance of Sasirangan in Banjarmasin City. This research is an explanatory research type which is useful to explain and analyse the causal relationships between entrepreneurial orientation, extraversion, agreeableness, conscientiousness, neuroticism, and openness to experience with business performance. Non Probability Sampling was used in this study and obtained 35 respondents from the owner of Sasirangan in Banjarmasin City. Multiple Regression Analysis was conducted to examine the effect of entrepreneurial orientation, extraversion, agreeableness, conscientiousness, neuroticism, and openness to experience on business performance assisted by the SPSS program. The results obtained showed that the entrepreneurial orientation, agreeableness, and conscientiousness variables had a significant effect on business performance, while the variables extraversion, neuroticism, and openness to experience did not affect business performance.

Keywords: Entrepreneurial Orientation, Extraversion, Agreeableness, Conscientiousness, Neuroticism, Openness to Experience, Business Performance

Hal. 70 - 81

http://ppjp.ulm.ac.id/journal/index.php/jsmk

(2)

71 PENDAHULUAN

Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) mempunyai fungsi strategis dalam hal perkembangan ekonomi, mengatasi pengangguran dan pendistribusian hasil pembangunan. UMKM juga terbukti mampu bertahan menghadapi krisis di Indonesia pada periode tahun 1997-1998. Setelah krisis ekonomi tersebut, UMKM mengalami peningkatan berkelanjutan, bahkan mampu menyerap tenaga kerja sekitar 85-107 juta orang (Badan Pusat Statistik, 2018).

Banjarmasin sendiri mempunyai UMKM yang potensial agar dapat dikembangkan secara maksimal. Salah satu UMKM yang dapat dikembangkan yaitu industri kain Sasirangan. Industri kain Sasirangan sendiri merupakan produk unggulan dan ciri khas bagi Kota Banjarmasin. Hal tersebut sesuai dengan temuan dari penelitian oleh Bank Indonesia mengenai Komoditi / Produk / Jenis Usaha (KPJU) Unggulan tahun 2018 bahwa jenis usaha “Industri Kain” masih menjadi usaha unggulan di Kota Banjarmasin dengan menempati urutan kedua setelah jenis usaha “Angkutan Bermotor untuk Penumpang” (Bank Indonesia, 2018). Hal tersebut menyebabkan terus berkembangnya UMKM Sasirangan di Kota Banjarmasin dan menyebabkan persaingan antar UMKM Sasirangan khususnya dalam hal peningkatan kinerja bisnis mereka.

Kinerja bisnis pada UMKM sendiri banyak sekali dipengaruhi oleh berbagai macam variabel, beberapa variabel tersebut diantaranya yaitu orientasi kewirausahaan dan kepribadian yang terdiri extraversion (extrovert), agreeableness (keramahan), conscientiousness (kewaspadaan), neuroticism (neurotisisme), openness to experience (keterbukaan terhadap pengalaman). Penelitian sebelumnya (Nadhar, Tawe, & Parawansa, 2017) menyatakan pengaruh positif dimiliki oleh hubungan orientasi kewirausahaan pada kinerja bisnis. Menurut (Miller, 1983) untuk melakukan pengukuran pada variabel tersebut dapat dilihat melalui keputusan pemilik dalam hal bagaimana mereka bersaing dengan berusaha memimpin inovasi pasar, proaktif terhadap pesaing, dan keberanian mengambil risiko. Selain orientasi kewirausahaan, kepribadian yang dimiliki oleh setiap pemilik UMKM Sasirangan juga memiliki hubungan yang erat dalam menentukan kinerja bisnis UMKM mereka. Beberapa studi terdahulu menyatakan kepribadian memiliki pengaruh terhadap kinerja

bisnis. Seperti penelitian oleh (Farrington, 2012), (Jong, Song, & Song, 2013), dan (Han, Seok, & Kim, 2017) menunjukkan bahwa extraversion (extrovert), agreeableness (keramahan), conscientiousness (kewaspadaan), neuroticism (neurotisisme), dan juga openness to experience (keterbukaan terhadap pengalaman) berpengaruh secara parsial terhadap kinerja bisnis.

Penelitian ini memilih UMKM Sasirangan sabagai objek penelitian karena UMKM Sasirangan termasuk ke dalam Komoditi / Produk / Jenis Usaha (KPJU) Unggulan pada tahun 2018 dan kain Sasirangan sendiri merupakan ciri khas yang dimiliki oleh kota Banjarmasin. Berdasarkan fenomena tersebut maka penulis mencoba untuk menilai sejauh mana peran orientasi kewirausahaan, extraversion (extrovert), agreeableness (keramahan), conscientiousness (kewaspadaan), neuroticism (neurotisisme), dan juga openness to experience (keterbukaan terhadap pengalaman) dalam mempengaruhi kinerja bisnis, oleh karena itu rumusan masalah pada studi ini yaitu: (1) apakah orientasi kewirausahaan mempunyai pengaruh yang signifikan pada kinerja bisnis UMKM Sasirangan, (2) apakah extraversion (ektrovert) mempunyai pengaruh pada kinerja bisnis UMKM Sasirangan, (3) apakah agreeableness (keramahan) mempunyai pengaruh pada kinerja bisnis UMKM Sasirangan, (4) apakah conscientiousness (kewaspadaan) mempunyai pengaruh pada kinerja bisnis UMKM Sasirangan, (5) apakah neuroticism (nerotisisme) mempunyai pengaruh pada kinerja bisnis UMKM Sasirangan, (6) apakah openness to experience (keterbukaan pada pengalaman) mempunyai pengaruh signifkan pada kinerja bisnis UMKM Sasirangan.

TINJAUAN PUSTAKA Orientasi Kewirausahaan

Orientasi kewirausahaan mengarah kepada bagaimana individu bertindak secara kewirausahaan melalui metode, implementasi, dan gaya pengambilan keputusannya (Lee & Peterson, 2000). Sedangkan (Miller, 1983) mendeskripsikan orientasi kewirausahaan sebagai orientasi strategis bisnis yang dimiliki setiap individu untuk bersaing dengan berusaha memimpin inovasi pasar, proaktif terhadap pesaing, dan tidak takut dalam hal mengambil risiko. Orientasi kewirausahaan juga berarti suatu metode, implementasi, dan pekerjaan dalam mengambil kebijakan seorang individu untuk bertujuan menciptakan bisnis dan juga dalam

(3)

72

memutuskan tujuan dari bisnis yang telah dirintis (Lumpkin & Dess, 1996).

Kepribadian

Kepribadian juga dapat diartikan sebagai bentuk tingkah laku, pikiran, dan perasaan yang relatif stabil dan unik yang dimiliki oleh setiap individu (Greenberg & Baron, 2003). Menurut (Pervin, Cervone, & John, 2004), kepribadian merupakan karakteristik yang menyebabkan kekonsistenan individu dalam berperilaku, berpikir, dan berperasaan.

Konsep yang paling popular dalam melakukan pembagian terhadap kepribadian adalah konsep yang pertama kali diperkenalkan oleh Lewis R. Goldbergyaitu The Big Five Model (Model Lima Besar), yang diciptakan dengan pendekatan mencoba menemukan inti dari kepribadian dengan melakukan analisis terhadap kata yang dipilih oleh individu dalam menggambarkan kepribadiannya dan individu lain (Pervin, Cervone, & John, 2004). Model Lima Besar terbagi menjadi 5 karakteristik diantaranya yaitu extraversion (extrovert), agreeableness (keramahan), conscientiousness (kewaspadaan), neuroticism (neurotisisme), dan karakteristik terakhir openness to experience (keterbukaan terhadap pengalaman).

Extraversion (extrovert) merupakan sebuah karakteristik seseorang mampu bersosialisasi, energik, dan aktif dalam melakukan segala hal. Kategori yang selanjutnya adalah agreeableness, yaitu kepribadian seseorang yang pemaaf, mudah berkerja sama dan baik terhadap orang lain. Kemudian conscientiousness merupakan karakteristik individu yang terorganisir, dapat diandalkan, dan gigih dalam bekerja. Kategori kepribadian selanjutnya yaitu neuroticism (neurotisisme). Neuroticism adalah karakteristik individu yang mudah merasa depresi, panik, dan gugup. Kategori kepribadian yang terakhir yaitu openness to experience (keterbukaan pada pengalaman), merupakan individu yang berdaya cipta terhadap ide-ide, imajinasi aktif, dan berjiwa seni (Greenberg & Baron, 2003; Pervin, Cervone, & John, 2004).

Kinerja Bisnis

Kinerja berguna sebagai indikasi terhadap output dari suatu bisnis atau organisasi, fungsi manajemen, peralatan, atau hasil kerja dari individu (Wirawan, 2009). Kinerja bisnis juga dapat didefinisikan sebagai penentuan periodik dari keefektifan operasi suatu bisnis, bagian

bisnis tersebut, dan karyawannya berdasarkan target, standar, dan ukuran yang telah ditentukan (Srimindarti, 2006). Sesuai dengan definisi dari (Lin & Kuo, 2007), bahwa kinerja bisnis adalah hasil atau tingkat keberhasilan suatu bisnis dalam segala aspek selama periode tertentu.

Kinerja bisnis dari UMKM dapat diukur dengan menggunakan pengukuran keuangan dan non keuangan seperti penjualan tahunan, pendapatan tahunan, dan jumlah tenaga kerja (Pushpakumari & Watanabe, 2009). Sedangkan menurut (Zahra, 1991), kinerja keuangan dan kinerja pertumbuhan dapat mewakili berbagai aspek dari kinerja bisnis UMKM dan masing-masing mengungkapkan informasi kinerja bisnis yang penting. Secara bersama-sama, kinerja pertumbuhan dan kinerja keuangan memberikan gambaran yang lebih kaya tentang kinerja aktual dari bisnis tersebut dibandingkan pengukurannya yang terpisah. Studi terdahulu oleh (Pushpakumari & Watanabe, 2009) dan (Farrington, 2012), mereka menggunakan kedua indikator tersebut yaitu kinerja keuangan dan pertumbuhan dengan ukuran self-reported dari pemilik UMKM terhadap kinerja bisnisnya. Pengaruh Orientasi Kewirausahaan, Extraversion, Agreeableness, Conscientiousness, Neuroticism, dan Openness to Experience Pada Kinerja Bisnis.

Orientasi kewirausahaan merupakan suatu orientasi strategi bisnis agar dapat bersaing melalui penerapan metode, implementasi, dan gaya mengambil kebijakan yang bertujuan pada entri baru atau dalam menentukan tujuan dari suatu bisnis. Menurut (Nadhar, Tawe, & Parawansa, 2017), orientasi kewirausahaan mempunyai pengaruh pada kinerja bisnis Usaha Mikro, Keci,l dan Menengah (UMKM). Orientasi kewirausahaan pelaku UMKM tersebut dapat diukur melalui indikator berjiwa inovatif, proaktif, juga memiliki keberanian berisiko dalam menjalankan usahanya.

Selain orientasi kewirausahaan, kepribadian pelaku UMKM Sasirangan juga memiliki hubungan yang erat dalam menentukan kinerja bisnis UMKM mereka. Kepribadian sendiri merupakan karakteristik individu yang menyebabkan munculnya perilaku, pikiran, dan emosi yang konsisten dalam beraksi dan/atau berinteraksi dengan individu lain. Konsep yang paling populer dalam melakukan pembagian kepribadian adalah konsep The Big Five Model

(4)

73 yang pertama kali diperkenalkan oleh Lewis R.

Goldberg.

Pertama kepribadian extraversion, yaitusuatu karakteristik seseorang yang mampu bersosialisasi, penuh energi, dan aktif dalam melakukan segala hal. Menurut (Farrington, 2012), kepribadian extraversion yang dimiliki oleh pemilik UMKM mempunyai pengaruh yang signifikan pada kinerja bisnis UMKM. Kepribadian selanjutnya agreeableness, yaitu kepribadian yang menjelaskan seseorang tersebut memiliki sifat pemaaf, mudah bekerja sama, dan baik terhadap orang lain. Menurut (Han, Seok, & Kim, 2017), kepribadian agreeableness pemilik bisnis berpengaruh signifikan pada kinerja bisnis UMKM-nya.

Kepribadian selanjutnya yaitu kepribadian conscientiousness, yaitu kepribadian yang menjelaskan seseorang terorganisir, dapat diandalkan, dan gigih dalam berkerja. Kepribadian conscientiousness mempunyai pengaruh yang signifikan pada kinerja bisnis UMKM (Youshan & Zubair, 2014). Kepribadian selanjutnya yaitu kepribadian neuroticism, yaitu karakteristik individu yang mudah mengalami depresi, panik dan mudah gugup. Menurut (Jong, Song, & Song, 2013), kepribadian neuroticism mempunyai pengaruh yang signifikan pada kinerja bisnis UMKM. Kepribadian terakhir yaitu kepribadian openness to experience, kepribadian yang mengarakterisasi seseorang dari sisi daya cipta terhadap ide-ide, imajinasi aktif, dan berjiwa seni. Menurut (Jong, Song, & Song, 2013), karakteristik openness to experience ini mempunyai pengaruh positif pada kinerja bisnis UMKM.

Kerangka Konseptual dan Hipotesis Penelitian

Kerangka Konseptual

Model regresi disusun berlandaskan pada penelitian sebelumnya, antara lain:

1. Pengaruh orientasi kewirausahaan pada kinerja bisnis (Mahrani & Cahyono, 2015), (Nadhar, Tawe, & Parawansa, 2017)

2. Pengaruh extraversion terhadap kinerja bisnis (Farrington, 2012)

3. Pengaruh agreeableness terhadap kinerja bisnis (Han, Seok, & Kim, 2017)

4. Pengaruh conscientiousness terhadap kinerja bisnis (Farrington, 2012), (Youshan & Zubair, 2014)

5. Pengaruh neuroticism terhadap kinerja bisnis (Jong, Song, & Song, 2013)

6. Pengaruh openness to experience terhadap kinerja bisnis (Farrington, 2012), (Jong, Song, & Song, 2013) Berdasarkan berbagai penelitian tersebut maka kerangka konseptual disusun sebagaimana dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Kerangka Konseptual

Sumber: (Farrington, 2012), (Jong, Song, & Song, 2013), (Youshan & Zubair, 2014), (Mahrani & Cahyono, 2015),(Nadhar, Tawe, & Parawansa, 2017), dan (Han, Seok, & Kim, 2017) Hipotesis

Berdasarkan kerangka konseptual dan penjelasan di atas, hipotesis penelitian ini diantaranya:

H1: Orientasi kewirausahaan berpengaruh

signifikan pada kinerja bisnis.

H2: Extraversion berpengaruh signifikan pada

kinerja bisnis.

H3: Agreeableness berpengaruh signifikan pada

kinerja bisnis.

H4: Conscientiousness berpengaruh signifikan

pada kinerja bisnis.

H5: Neuroticism berpengaruh signifikan pada

kinerja bisnis.

H6: Openness to experience berpengaruh

signifikan pada kinerja bisnis. METODE PENELITIAN

Penelitian kuantitatif merupakan metode yang digunakan, dengan populasinya yaitu pemilik UMKM Sasirangan di Kota Banjarmasin sebanyak 35 orang. Pemilihan sampel memakai metode sampel jenuh yaitu dengan menjadikan

(5)

74

seluruh populasinya sebagai sampel, sehingga didapatkan sampel sebanyak 35 orang.

Regresi linear berganda digunakan pada studi ini, yaitu teknik analisis yang dilakukan apabila terdapat satu variabel dependen (Y) dan lebih dari dua atau dua variabel independen (X) (Ghozali, 2013). Variabel independen penelitian ini berjumlah sebanyak enam variabel antara lain

orientasi kewirausahaan (X1), extraversion (X2), agreeableness (X3), conscientiousness (X4), neuroticism (X5), dan juga openness to experience (X6), sedangkan variabel terikatnya hanya berjumlah satu yaitu kinerja bisnis (Y).

Adapun definisi operasional setiap variabel dijelaskan pada Tabel 1 di bawah ini.

Tabel 1. Definisi Operasional Variabel

Variabel Indikator Item Pertanyaan Sumber

Orientasi Kewirausahaan (X1)

1. Inovatif

1. Secara aktif memperkenalkan penyempurnaan dan inovasi dalam bisnis.

2. Kreatif dalam melakukan metode operasi. 3. Selalu mencari cara baru dalam melakukan bisnis.

(Miller, 1983) 2. Bertindak

proaktif

1. Mencoba berinisiatif pada setiap kondisi. 2. Unggul pada identifikasi peluang. 3. Memulai tindakan yang direspon pesaing. 3. Berani

Mengambil Risiko

1. Mengambil risiko dianggap sebagai hal yang positif. 2. Mendorong karyawan mengambil risiko yang telah

dipertimbangkan mengenai ide baru

3. Mengutamakan eksplorasi dan eksperimentasi dalam mencari peluang. Extraversion (X2) 1. Mudah bersosialisasi 2. Energik 3. Aktif.

1. Seseorang yang banyak bicara. 2. Seseorang yang energik. 3. Seseorang yang aktif.

4. Seseorang dengan kepribadian asertif. 5. Seseorang yang ramah, mudah bergaul.

(John & Srivastava, 1999) Agreeableness (X3) 1. Pemaaf. 2. Mudah berkerja sama. 3. Baik.

1. Seseorang yang suka menolong dan tidak egois. 2. Seseorang yang pemaaf.

3. Seseorang yang mudah percaya. 4. Seseorang yang perhatian dan baik. 5. Seseorang yang suka berkerja sama.

Conscientiousness (X4) 1. Terorganisir 2. Dapat diandalkan. 3. Gigih.

1. Seseorang yang melakukan pekerjaan secara menyeluruh. 2. Seseorang yang dapat diandalkan.

3. Seseorang yang gigih. 4. Seseorang yang efisien. 5. Seseorang yang terorganisir.

Neuroticism (X5) 1. Mudah depresi. 2. Mudah panik. 3. Mudah gugup.

1. Seseorang yang mudah depresi. 2. Seseorang yang mudah panik. 3. Seseorang yang mudah khawatir. 4. Seseorang yang mudah murung. 5. Seseorang yang mudah gugup.

Openness to Experience (X6) 1. Memiliki daya cipta. 2. Imajinatif 3. Berjiwa seni.

1. Seseorang yang memiliki ide baru.

2. Seseorang yang ingin tahu tentang banyak hal. 3. Seseorang yang cerdik, pemikir yang mendalam. 4. Seseorang yang memiliki imajinasi aktif. 5. Seseorang yang berjiwa seni.

Kinerja Bisnis (Y)

1. Growth Performance

1. Mengalami pertumbuhan penjualan dalam dua tahun terakhir.

2. Mengalami pertumbuhan karyawan dalam dua tahun terakhir.

3. Mengalami pertumbuhan laba dalam dua tahun terakhir.

(Farrington, 2012) 2. Financial

Performance

1. Bisnis yang aman secara keuangan. 2. Bisnis yang menguntungkan. 3. Bisnis yang berhasil

(6)

75 HASIL DAN PEMBAHASAN

Deskripsi Responden

Total responden sebesar 35 orang pemilik dari UMKM Sasirangan di Kota Banjarmasin. Berdasarkan karakteristik jenis kelaminnya, terdapat 16 laki-laki dan 19 perempuan. Selanjutnya berdasarkan karakteristik umur, 4 orang memiliki umur antara 21-30 tahun, 8 orang berumur antara 31-40 tahun, selanjutnya umur antara 41-50 tahun sebanyak 12 orang, sisanya 11 orang memiliki umur antara 51-60 tahun. Sedangkan berdasarkan karakteristik pendidikannya, 1 orang berpendidikan terakhir SD, 4 orang SMP, 18 orang SMA, selanjutnya S1 sebanyak 10 orang, berpendidikan S2 sebanyak 1 orang, sisanya 1 orang berpendidikan terakhir S3. Karakteristik responden berdasarkan status usahanya didominasi oleh mereka yang merintis dari awal yaitu sebanyak 29 orang, sedangkan sisanya yaitu 6 orang merupakan warisan dari orang tuanya. Karakteristik responden yang terakhir yaitu lama usaha mereka, lama usaha UMKM Sasirangan didominasi oleh usaha dengan rentang umur 1-10 tahun sebanyak 16 usaha, rentang umur 11-20 tahun sebanyak 7 usaha, rentang umur 21-30 tahun sebanyak 8 usaha, sedangkan sisanya 4 usaha terletak di rentang usaha berumur 31-40 tahun.

Uji Validitas

Uji validitas dilakukan membandingkan r hitung dengan r tabel. Apabila nilai r hitung > r tabel maka item pertanyaan tersebut dapat dinyatakan valid. Uji validitas pada penelitian ini

dilakukan menggunakan bantuan software SPSS 23 dengan melihat nilai Pearson Correlation. Nilai tersebut merupakan nilai r hitung untuk setiap item kuesioner sehingga nilai tersebut dapat dibandingkan dengan nilai r tabel untuk mengetahui valid atau tidaknya setiap item kuesioner yang telah dibuat. Pada penelitian ini semua item kuesioner setiap variabel dikatakan valid, dikarenakan nilai r hitung yang dimiliki setiap variabel bernilai lebih besar dari r tabel. Uji Reliabilitas

Uji reliabilitas digunakan dalam menilai kehandalan dari item kuesioner yang telah dibuat dengan menganalisis konsistensi dari setiap butir item kuesioner (Sugiyono, 2015). Pengujian reliabilitas pada penelitian ini dilakukan dengan bantuan software SPSS 23 dengan melihat hasil nilai Cronbach Alpha (α) pada setiap variabel. Semua item kuesioner pada penelitian ditetapkan reliabel, disebabkan Cronbach Alpha (α) yang lebih besar daripada 0,700.

Uji Asumsi Klasik Uji Multikolinearitas

Uji multikolinearitas berguna dalam mengetahui sebuah model penelitian terjadi korelasi yang kuat atau tidak antara variabel independennya. Uji multikolinearitas pada penelitian dilakukan dengan menggunakan bantuan dari software SPSS 23 dengan melihat nilai tolerance dan nilai variance inflation factor (VIF) yang dimiliki oleh setiap variabel. Hasil uji multikolinearitas dengan menggunakan SPSS 23 dapat dilihat pada Tabel 2 berikut ini:

Tabel 2. Hasil Uji Multikolinearitas

Variabel VIF Tolerance Keterangan

Orientasi Kewirausahaan (X1) 1,476 0,677 Tidak terjadi multikolinearitas

Extraversion (X2) 1,260 0,794 Tidak terjadi multikolinearitas

Agreeableness (X3) 1,363 0,734 Tidak terjadi multikolinearitas

Conscientiousness (X4) 1,310 0,764 Tidak terjadi multikolinearitas

Neuroticism (X5) 1,541 0,649 Tidak terjadi multikolinearitas

Openness to Experience (X6) 2,136 0,468 Tidak terjadi multikolinearitas

Sumber: Data diolah, 2019

Berdasarkan Tabel 2 tersebut, model regresi tidak mengalami multikolinearitas disebabkan nilai variance inflation factor (VIF) pada variabel independen kurang dari 10 dan nilai tolerance yang melebihi 0,10.

Uji Heteroskedastisitas

Heteroskedastisitas dapat berguna agar melihat ketidaksamaan varian residual pengamatan terhadap pengamatan yang lain pada model regresi yang diteliti. Uji Gletsjer dengan bantuan software SPSS 23 digunakan untuk mengujinya, hasilnya dijelaskan pada Tabel 3 ini:

(7)

76

Tabel 3. Hasil Uji Heteroskedastisitas

Sumber: Data diolah, 2019

Pada Tabel 3 signifikansi variabel independen menghasilkan nilai yang lebih besar daripada 5% sehingga model regresi pada penelitian ini tidak mengalami heteroskedastisitas, artinya tidak ada perubahan pada variabel kinerja bisnis (Y) dan tidak mengakibatkan penyimpangan perubahan yang sejalan atau kenaikan ataupun penurunannya.

Uji Normalitas

Normalitas berguna agar mengetahui apakah berdistribusi secara normalkah residual pada sebuah studi. Pengujian dilakukan dengan uji Kolmogorov-Smirnov melalui software SPSS 23. Hasil uji Kolmogorov-Smirnov dijelaskan pada Tabel 4 ini:

Tabel 4. Hasil Uji Kolmogorov-Smirnov

Test Statistic Asymp. Sig (2-tailed)

0,109 0,200

Sumber: Data diolah, 2019

Tabel 4 menampilkan hasil Asymp. Sig (2-tailed) senilai 0,200 melebihi 5%, sehingga variabel residual berdistribusi secara normal pada model penelitian ini.

Uji Linearitas

Uji linearitas bertujuan supaya mengetahui sudah benar atau tidaknya suatu spesifikasi

model penelitian yang telah disusun. Pengujian ini menggunakan bantuan software SPSS 23 dengan pengujian Test of Linearity. Hasil uji linearitas dijelaskan Tabel 5 ini:

Tabel 5. Hasil Uji Linearitas

Deviation from Linearity Sig.

Kinerja Bisnis *Orientasi Kewirausahaan 0,001 *Extraversion 0,025 *Agreeableness 0,003 *Conscientiousness 0,006 *Neuroticism 0,027 *Openness to Experience 0,024

Sumber: Data diolah, 2019

Tabel 5 di atas memaparkan signifikansi semua variabel independen lebih kecil daripada 5% sehingga disimpulkan bahwa setiap variabel bebas berhubungan secara linear dengan variabel terikat kinerja bisnis (Y).

Hasil Analisis

Analisis regresi linear berganda dapat digunakan setelah uji validitas, reliabilitas, dan asumsi klasik sudah terpenuhi. Pengujian hipotesis dilihat dari nilai sig < 0,05 pada setiap variabel independen, maka hipotesis itu dapat diterima. Hasil uji selanjutnya dijelaskan pada Tabel 6 ini:

Tabel 6. Hasil Uji Regresi Linear Berganda

Variabel Independen Koefisien

Regresi t Hitung Sig Keterangan

Orientasi Kewirausahaan (X1) 0,180 2,110 0,044 Signifikan

Extraversion (X2) 0,077 0,937 0,357 TIdak Signifikan

Agreeableness (X3) 0,221 2,094 0,045 Signifikan

Conscientiousness (X4) 0,300 2,535 0,017 Signifikan

Neuroticism (X5) -0,036 -0,481 0,634 TIdak Signifikan

Openness to Experience (X6) -0,112 -0,882 0,385 Tidak Signifikan

Sumber: Data diolah, 2019 Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta (Constant) -1,291 2,441 -0,529 0,601 Orientasi kewirausahaan 0,067 0,052 0,266 1,309 0,201 Extraversion -0,081 0,050 -0,306 -1,627 0,115 Agreeableness -0,095 0,064 -0,290 -1,486 0,148 Conscientiousness 0,007 0,072 0,020 0,104 0,918 Neuroticism 0,032 0,045 0,148 0,713 0,482 Openness to Experience 0,130 0,077 0,413 1,686 0,103

(8)

77 Berdasarkan Tabel 6 menunjukkan hasil

regresi linear berganda dengan pembahasan antara lain:

Pengaruh Orientasi Kewirausahaan pada Kinerja Bisnis UMKM

Signikansi variabel Orientasi Kewirausahaan (X1) pada Kinerja Bisnis UMKM (Y) bernilai 0,044, sehingga kinerja bisnis UMKM dipengaruhi secara positif oleh orientasi kewirausahaan, dikarenakan nilai signifikansi yang kurang daripada 5%. Oleh sebab itu, Hipotesis 1 “Orientasi Kewirausahaan Berpengaruh Signifikan pada Kinerja Bisnis UMKM” dapat diterima.

Para pemilik UMKM Sasirangan di Kota Banjarmasin dalam mengelolanya bisnisnya sudah berorientasikan kewirausahaan. Salah satunya mereka semua selalu berinovasi dalam menciptakan produk baru, maupun dalam melakukan perbaikan dari kekurangan produk-produk sebelumnya. Inovasi memiliki peranan penting dalam menciptakan orientasi kewirausahaan yang dimiliki oleh pemilik UMKM Sasirangan. Pemilik UMKM yang berorientasikan kewirausahaan akan mudah dalam mengidentifikasi peluang dan memanfaatkannya. Kemampuan tersebut menjadikan bisnisnya lebih unggul dan membuat mereka berbeda dari para pesaing

Pengaruh Extraversion pada Kinerja Bisnis UMKM

Pengaruh Extraversion (X2) pada Kinerja Bisnis UMKM (Y) memiliki signifikansi senilai 0,357, sehingga kepribadian extraversion tidak mempunyai pengaruh pada kinerja bisnis UMKM, karena signifikansi tersebut melebihi 5%. Oleh karena itu, Hipotesis 2 “Kepribadian Extraversion Berpengaruh Signifikan pada Kinerja Bisnis UMKM” ditolak.

Pemilik UMKM Sasirangan di Kota Banjarmasin sebagian besar memiliki kepribadian extroversion yang cukup rendah. Beberapa dari mereka merupakan seseorang yang pendiam atau bukanlah orang yang banyak bicara. Menurut mereka berbicara hanya disaat yang diperlukan dan secukupnya saja. Mereka juga memang tidak memerlukan pemasaran yang banyak bicara, karena UMKM Sasirangan pada umumnya memiliki toko dan pembeli hanya tinggal berkunjung ke beberapa toko untuk membandingkan harga dan kemampuan memenuhi pesanannya. Sehingga, para pemilik UMKM Sasirangan banyak bicara maupun orang

yang pendiam, tidak akan mempengaruhi kinerja dari bisnis mereka.

Pengaruh Agreeableness pada Kinerja Bisnis UMKM

Pengaruh Agreeableness (X3) pada Kinerja Bisnis UMKM (Y) memiliki signifikansi senilai 0,045, sehingga kepribadian agreeableness mempunyai pengaruh yang signifikan pada kinerja bisnis UMKM, disebabkan signifikansi kurang dari 5%. Oleh sebab itu, Hipotesis 3 “Kepribadian Agreeableness Berpengaruh Signifikan pada Kinerja Bisnis UMKM” dapat diterima.

Pemilik UMKM Sasirangan di Kota Banjarmasin memiliki kepribadian agreeableness yang tinggi. Kepribadian agreeableness yang sangatlah menonjol adalah bagaimana mereka memiliki sifat pemaaf. Kepribadian yang senang memaafkan tersebut membuat hubungan kerja sama antara pemilik dengan karyawan lebih menyenangkan. Hubungan kerja sama yang baik tersebut dapat meningkatkan kinerja pemilik UMKM maupun karyawannya atau bahkan mengurangi konflik yang berakibat pada kerugian bisnis tersebut.

Pengaruh Conscientiousness pada Kinerja Bisnis UMKM

Pengaruh Conscientiousness (X4) pada Kinerja Bisnis UMKM (Y) memiliki signifikansi senilai 0,017, sehingga kepribadian conscientiousness berpengaruh signifikan dan positif terhadap kinerja bisnis UMKM, karena nilai signifikansi tersebut kurang dari 5%. Oleh sebab itu, Hipotesis 4 “Kepribadian Conscientiousness Berpengaruh Signifikan pada Kinerja Bisnis UMKM” dapat diterima.

Pemilik UMKM Sasirangan di Kota Banjarmasin memiliki kepribadian conscientiousness yang tinggi. Kepribadian conscientiousness yang menonjol dari pemilik UMKM Sasirangan adalah mereka merupakan seseorang yang terorganisir dengan membuat rencana sebelumnya dan mengerjakan rencana tersebut. Pemilik UMKM Sasirangan biasanya mereka mengelola waktu pengerjaan dan penyelesaian dalam setiap proses produksi kain Sasirangan seperti proses pemotifan, penjahitan, pewarnaan, hingga waktu pengeringannya. Pengelolaan yang baik inilah yang dapat menyebabkan peningkatannya kinerja bisnis mereka.

(9)

78

Pengaruh Neuroticism pada Kinerja Bisnis UMKM

Pengaruh Neuroticism (X5) pada Kinerja Bisnis UMKM (Y) memiliki signifikansi senilai 0,634, sehingga kepribadian neuroticism tidak mempunyai pengaruh pada kinerja bisnis UMKM, karena signifikansi tersebut melebihi 5%. Oleh karena itu, Hipotesis 5 “Kepribadian Neuroticism Berpengaruh Signifikan pada Kinerja Bisnis UMKM” ditolak.

Kepribadian neuroticism yang dimiliki oleh pemilik UMKM Sasirangan di Kota Banjarmasin dapat dikategorikan rendah. Mereka merupakan seseorang yang tidak mudah depresi dan juga tidak mudah panik, namun kepribadian tersebut tidak berpengaruh terhadap kinerja bisnis UMKM Sasirangan. Hal tersebut dikarenakan suasana hati pemilik UMKM Sasirangan yang baik maupun buruk tidak akan mempengaruhi kinerja bisnis disebabkan produksi kain Sasirangan tidak dilakukan sepenuhnya oleh pemilik UMKM Sasirangan.

Pengaruh Openness to Experience pada Kinerja Bisnis UMKM

Pengaruh variabel Openness to Experience (X6) pada Kinerja Bisnis UMKM (Y) memiliki signifikansi senilai 0,385, sehingga openness to experience tidak berpengaruh ke kinerja bisnis UMKM, karena nilai signifikansi tersebut lebih besar daripada 5%. Oleh karena itu, Hipotesis 6 “Kepribadian Openness to Experience Berpengaruh Signifikan pada Kinerja Bisnis UMKM” ditolak.

Pemilik UMKM Sasirangan di Kota Banjarmasin memiliki kepribadian openness to experience cukup tinggi. Kepribadian openness to experience dari pemilik UMKM Sasirangan yang menonjol adalah mereka seseorang yang cerdik, pemikir yang mendalam. Namun, hal tersebut tidak mempengaruhi terhadap kinerja bisnis yang dijalankan oleh mereka, karena pemilik UMKM Sasirangan yang berpikiran terlalu mendalam terhadap suatu rencana hanya akan menyebabkan rencana tersebut tidak terjalankan. Hal ini dikarenakan terdapatnya risiko di dalam rencana tersebut dan mereka tidak berani untuk mengambilnya atau karena terlalu banyak memikirkan rencananya sehingga berdampak terhadap kebingungan dalam menjalankannya.

Implikasi Hasil Penelitian

Pengaruh Orientasi Kewirausahaan pada Kinerja Bisnis UMKM

Pada studi ini, kinerja bisis UMKM dipengaruhi secara positif oleh variabel orientasi kewirausahaan, sehingga hal tersebut bisa dijadikan acuan untuk pemilik dari UMKM Sasirangan di Kota Banjarmasin agar lebih meningkatkan orientasi kewirausahaannya sehingga dapat menyebabkan peningkatan terhadap kinerja bisnis dari UMKM tersebut. Hasil ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh (Mahrani & Cahyono, 2014; Nadhar, Tawe, & Parawansa, 2017) yang menemukan kinerja bisnis UMKM dipengaruhi variabel orientasi kewirausahan, berarti semakin tingginya orientasi kewirausahaan cenderung menaikkan kinerja bisnis UMKM tersebut.

Secara rinci pemilik UMKM dapat meningkatkan orientasi kewirausahaan melalui indikatornya yaitu inovatif, bertindak proaktif, dan juga berani mengambil risiko. Inovatif adalah kesanggupan pelaku usaha dalam mendukung kreativitas dan juga eksperimen dalam menginformasikan produk, layanan maupun suatu hal yang terbaru, kepemimpinan pada teknologi dan mendukung dalam hal pengembangan proses yang baru. Proaktif adalah pencarian peluang dengan melibatkan pengenalan produk baru yang memiliki perspektif ke depan agar menjadi yang pertama dibandingkan pesaing dan juga bertindak mengantisipasi permintaan kedepannya yang akan menimbulkan perubahan dan membentuk pasar baru. Sedangkan, berani mengambil risiko merupakan kecendrungan pemilik untuk melakukan pengambilan keputusan dalam lingkungan yang bergejolak dengan informasi minimal dan hasil yang tidak jelas. Pengaruh Extraversion pada Kinerja Bisnis UMKM

Variabel extraversion dalam penelitian ini tidak mempunyai pengaruh ke variabel kinerja bisnis UMKM. Hal tersebut sejalan dengan studi empiris terdahulu oleh Jong, Song, & Song (2013) dan Han, Seok, & Kim (2017) yang juga menemukan hasil yaitu extraversion tidak memiliki pengaruh pada kinerja bisnis UMKM. Kepribadian extraversion merupakan kepribadian yang menjelaskan seseorang tersebut mudah bersosialisasi, penuh energi, dan aktif dalam segala hal. Hal tersebut dapat dijadikan acuan bagi pemilik UMKM Sasirangan di Kota

(10)

79 Banjarmasin bahwa walaupun mereka memiliki

kepribadian extraversion yang tinggi ataupun rendah, hal tersebut tidak mempengaruhi kinerja bisnis UMKM yang mereka kelola.

Pengaruh Agreeableness pada Kinerja Bisnis UMKM

Pada studi ini kinerja bisnis UMKM dipengaruhi secara signifikan oleh agreeableness, sehingga hal tersebut menjadi acuan bagi pemilik UMKM Sasirangan di Kota Banjarmasin agar lebih meningkatkan kepribadian agreeableness yang dimilikinya sehingga dapat menyebabkan peningkatan pada kinerja bisnis dari UMKM tersebut. Hasil ini sejalan dengan studi empiris terdahulu oleh (Han, Seok, & Kim, 2017) yang mengemukakan variabel agreeableness berpengaruh signifikan dengan arah positif pada kinerja bisnis UMKM yang berarti tingginya kepribadian agreeableness cenderung menaikkan kinerja bisnis UMKM tersebut. Secara rinci pemilik UMKM dapat meningkatkan kepribadian agreeableness yang dimilikinya dengan menjadi seseorang yang lebih suka bekerja sama, memiliki sifat pemaaf, perhatian dan baik, dapat dipercaya, suka menolong, tidak egois, dan mudah bersepakat kepada semua orang.

Pengaruh Conscientiousness pada Kinerja Bisnis UMKM

Pada studi ini, Variabel conscientiousness mempunyai pengaruh signifikan pada kinerja bisnis UMKM. Hasil tersebut sesuai dengan studi empiris oleh Youshan & Zubair, (2014) yang mengemukakan bahwa kepribadian conscientiousness berpengaruh signifkan juga positif terhadap kinerja bisnis UMKM yang berarti tingginya kepribadian conscientiousness cenderung menaikkan kinerja bisnis UMKM tersebut. Secara rinci pemilik UMKM dapat meningkatkan kepribadian conscientiousness yang dimilikinya dengan menjadi seseorang yang lebih terorganisir, dapat diandalkan, dan gigih dalam bekerja.

Pengaruh Neuroticism pada Kinerja Bisnis UMKM

Variabel neuroticism pada penelitian ini tidak berpengaruh pada kinerja bisnis UMKM. Hasil studi empiris oleh Farrington, (2012) yaitu kepribadian neuroticism tidak mempunyai pengaruh pada kinerja bisnis UMKM. Kepribadian neuroticism merupakan kepribadian yang menjelaskan seseorang tersebut peka terhadap tekanan psikologis, gagasan yang tidak

rasional, maupun dorongan berlebihan yang menyebabkan mereka banyak khawatir, mudah tertekan, dan tegang. Hal tersebut dapat dijadikan acuan bagi pemilik UMKM Sasirangan di Kota Banjarmasin bahwa walaupun mereka memiliki kepribadian neuroticism tinggi ataupun rendah, hal ini tidak mempengaruhi kinerja bisnis UMKM yang mereka kelola.

Pengaruh Openness to Experience pada Kinerja Bisnis UMKM

Variabel openness to experience dalam penelitian ini tidak memiliki pengaruh terhadap kinerja bisnis UMKM. Hal tersebut sesuai dengan studi empiris oleh (Han, Seok, & Kim, 2017) bahwa kinerja bisnis UMKM tidak dipengaruhi oleh karakteristik openness to experience. Menurut Han, Seok, & Kim (2017), kepribadian openness to experience memiliki kaitan erat dengan variabel yang membutuhkan perencanaan yang bijaksana seperti variabel kinerja pekerjaan atau inovasi, dibandingkan kaitannya dengan kinerja bisnis. Openness to experience karakteristik individu yang kreatif, cerdik, inventif, reflektif, aktif dalam berimajinasi dan suka bermain dengan ide-ide. Hal tersebut dapat dijadikan acuan bagi pemilik UMKM Sasirangan di Kota Banjarmasin bahwa walaupun mereka memiliki kepribadian openness to experience tinggi ataupun rendah, hal ini tidak akan mempengaruhi kinerja bisnis UMKM yang mereka kelola.

SIMPULAN DAN SARAN Simpulan

Simpulan yang dihasilkan pada studi ini yang telah dijelaskan sebelumnya, antara lain:

1. Pengaruh signifikan dengan arah positif dimiliki oleh variabel orientasi kewirausahaan pada kinerja bisnis UMKM Sasirangan di Banjarmasin.

2. Extraversion tidak berpengaruh pada kinerja bisnis UMKM Sasirangan di Banjarmasin.

3. Pengaruh positif signifikan juga dimiliki oleh hubungan agreeableness dengan kinerja bisnis UMKM Sasirangan di Banjarmasin.

4. Pengaruh positif signifikan juga dimiliki oleh hubungan conscientiousness dengan kinerja bisnis UMKM Sasirangan di Banjarmasin.

(11)

80

5. Neuroticism tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kinerja bisnis UMKM Sasirangan di Banjarmasin. 6. Openness to experience tidak mempunyai

pengaruh pada kinerja bisnis UMKM Sasirangan di Banjarmasin.

Saran

Keterbatasan penelitian ini yaitu berkaitan dengan keseriusan dan faktor situasional dari responden ketika memberikan jawaban. Ketika responden diberikan kuesioner dan berada dalam keadaan sibuk atau sedang tidak ingin diganggu menyebabkan keseriusan dalam menjawab kuesioner tersebut berkurang dan menimbulkan bias pada jawaban kuesioner. Saran untuk penelitian selanjutnya agar memperhatikan waktu dalam pembagian kuesioner kepada pemilik UMKM dan mendampingi secara langsung pengisian kuesioner tersebut agar didapatkan jawaban kuesioner yang dapat menggambarkan secara baik variabel yang diteliti.

DAFTAR PUSTAKA

Badan Pusat Statistik. (2018, September 4). Badan Pusat Statistik. Retrieved from https://www.bps.go.id

Bank Indonesia. (2018, Juni 26). Retrieved from https://www.bi.go.id/id/umkm/kelayakan /komoditi/Default.aspx?Prov=Kalimanta n%20Selatan

Farrington, S. M. (2012, Juli). Does Personality Matter for Small Business Success. South African Journal of Economic and Management Sciences, 15(4), 382-401. Ghozali, I. (2013). Aplikasi Analisis Multivariate

Dengan Program IBM SPSS 21 Update PLS Regresi (7 ed.). Semarang: Undip. Greenberg, J., & Baron, R. (2003). Behavior in

Organizations : Understanding and Managing the Human Side of Work (8th ed.). New Jersey: Pearson Education, Inc. Han, M.-p., Seok, B.-i., & Kim, J.-h. (2017, Desember 29). Effect of Six Personality Factors of CEOs at Small and Medium-Sized Enterprises on Performance in Business Management : Focusing on Learning and Growth. Asian Academy of Management Journal, 22(2), 97-128. doi:10.21315/aamj2017.22.2.4

John, O. P., & Srivastava, S. (1999). The Big-Five Trait Taxonomy: History, Measurement, and Theoritical Perspectives (2 ed.). New York: Guilford.

Jong, A. d., Song, M., & Song, L. Z. (2013, November). How Lead Founder Personality Affects New Venture Performance : The Mediating Role of Team Conflict. Journal of Management, 39(7), 1825-1854.

Lee, S., & Peterson, S. (2000, December). Culture, Entrepreneurial Orientation, and Global Competitiveness. Journal of World Business, 35(4), 401-416.

Lin, C.-Y., & Kuo, T.-H. (2007). The Mediate Effect of Learning and Knowledge on Organizational Performance. Industrial Management & Data System, 1066-1083. Lumpkin, G., & Dess, G. (1996, Januari). Clarifying the Entrepreneurial Orientation Construct and Linking It to Performance. The Academy of Management Review, 21, 135-172. Mahrani, A. S., & Cahyono, E. (2015). The

Influence of Entrepreneurial Orientation to Firm Performance. Recent Advances on Finance Science and Management, 128-132.

Miller, D. (1983, Juli). The Correlates of Entrepreneurship in Three Types of Firms. Management Science, 29(7), 770-791. doi:10.1287/mnsc.29.7.770

Nadhar, M., Tawe, A., & Parawansa, D. A. (2017). The Effect of Work Motivation and Entrepreneurship Orientation on Business Performance through Entrepreneurial Commitments of Coffee Shops in Makassar. International Review of Management and Marketing, 7(1), 470-474.

Pervin, L., Cervone, D., & John, O. (2004). Psikologi Kepribadian : Teori & Penelitian (9th ed.). Jakarta: Kencana. Pushpakumari, M., & Watanabe, T. (2009, Juni).

Do Strategies Improve SME Performance ? An Empirical Analysis of Japan and Sri Lanka. Meijo Asian Research Journal, I(1), 61-75.

(12)

81 Srimindarti. (2006). Balance Score Card Sebagai

Alternatif Untuk Mengukur Kinerja. Jakarta: Adi Cipta.

Sugiyono. (2015). Metode Penelitian Manajemen. Bandung: Alfabeta.

Wirawan. (2009). Evaluasi Kinerja Sumber Daya Manusia. Teori, Aplikasi dan Penelitian. Jakarta: Salemba Empat.

Youshan, B. B., & Zubair, H. (2014, April). The Effect of Employess Personality on Organizational Performance: Study on Insurance Company. International Journal of Accounting & Business Management, 3(1), 187-196.

Zahra, S. A. (1991). Predictor and Financial

Outcomes of Corporate

Entrepreneurship: An Exploratory Study. Journal of Business Venturing, 6, 259-285.

Gambar

Gambar 1. Kerangka Konseptual  Sumber:  (Farrington,  2012),  (Jong,  Song,  &amp;  Song,  2013),  (Youshan  &amp;  Zubair,  2014),  (Mahrani  &amp;  Cahyono,  2015),(Nadhar,  Tawe,  &amp;  Parawansa, 2017), dan (Han, Seok, &amp; Kim, 2017)  Hipotesis
Tabel 1. Definisi Operasional Variabel
Tabel  4  menampilkan  hasil  Asymp.  Sig  (2- (2-tailed)  senilai  0,200  melebihi  5%,  sehingga  variabel residual berdistribusi secara normal pada  model penelitian ini

Referensi

Dokumen terkait

Menurut Frees (2003:276) orientasi kewirausahaan adalah kunci untuk meningkatkan kinerja pemasaran. Perusahaan yang pemimpinnya berorientasi wirausaha memiliki visi yang

Pengaruh Orientasi Kewirausahaan dan Orientasi Pasar Terhadap Kinerja Perusahaan Melalui Keunggulan Bersaing sebagai Variabel Intervening (Survey pada UKM Pangan

Uji t digunakan untuk mengukur seberapa besar pengaruh variabel independen (orientasi pasar, orientasi kewirausahaan, dan strategik) secara parsial terhadap variabel

Kedua hal tersebut dipandang sebagai landasan dalam menciptakan kinerja perusahaan yang lebih baik.Mengingat pentingnya peran orientasi kewirausahaan dan kemampuan

Hal ini menunjukkan bahwa sebesar 89% persentase sumbangan pengaruh variabel independen yaitu Peran Orientasi Pasar, Orientasi Kewirausahaan dan Strategi Bersaing terhadap Kinerja UKM

Penelitian ini menjelaskan peran strategi kepemimpinan biaya dalam memediusasi pengaruh orientasi pasar dan orientasi kewirausahaan terhadap kinerja Usaha Dodol di Kabupaten

PENGARUH ORIENTASI KEWIRAUSAHAAN DAN MODAL USAHA TERHADAP KINERJA USAHA STUDI KASUS PADA UMKM DI KECAMATAN GUBUG, GROBOGAN, JAWA TENGAH TUGAS AKHIR Diajukan Kepada Program Studi

Berdasarkan hasil dari analisa pengaruh inovasi produk, orientasi pasar dan orientasi kewirausahaan terhadap kinerja pemasaran industri kecil menengah konveksi di Kecamatan Tanah Merah