IDENTITAS WARGA KETURUNAN CINA
DI JAWA TENGAH
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat
Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi
Program Studi Psikologi
Oleh:
Anne Shakka Ariyani Hermanto
NIM: 059114093
PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA
iv
What doesn’t kill you makes you stronger
v
Persembahan
vii
IDENTITAS WARGA KETURUNAN CINA
DI JAWA TENGAH
Anne Shakka Ariyani Hermanto
ABSTRAK
Warga keturunan Cina di Indonesia merupakan suatu kelompok minoritas yang banyak mendapatkan perlakuan diskriminatif baik dari masyarakat maupun dari pemerintah. Keadaan ini membuat warga keturunan Cina mengalami kesulitan dalam mempertahankan identitas mereka. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan identitas pada warga keturunan Cina yang tinggal di Jawa Tengah. Identitas adalah suatu kesadaran akan kesatuan dan kesinambungan pribadi yang menetap dalam diri manusia walaupun pribadi tersebut mengalami banyak perubahan. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan metode analisis fenomenologis interpretative untuk mencari tema-tema yang muncul dari data yang diperoleh. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara semi terstruktur kepada partisipan. Pemilihan pertisipan adalah dengan teknik purposive sampling dengan syarat partisipan adalah warga keturunan Cina yang tinggal di daerah Jawa Tengah dan sudah menikah. Penelitian ini mengungkapkan pengalaman-pengalaman para warga keturunan Cina dalam interaksinya di dalam keluarga, interaksi dengan sesama warga keturunan Cina, dengan masyarakat dan sebagai warga negara Indonesia. Dari hasil penelitian ini ditemukan bahwa identitas warga keturunan Cina di Jawa Tengah adalah diri yang menyadari bahwa dirinya adalah warga keturunan Cina, diri yang merupakan bagian dari masyarakat, diri yang merasa terancam oleh diskriminasi, dan diri yang berusaha mengatasi diskriminasi.
viii
THE IDENTITY OF THE CHINESE DESCENTS
THAT LIVE IN CENTRAL JAVA
Anne Shakka Ariyani Hermanto
ABSTRACT
Chinese descents in Indonesia belong to the minority group who get discriminative treatments from the society and also the government. This condition makes the Chinese descents in Indonesia undergo an obstacle in defending their identity. This research aims to describe the identity of the Chinese descents that live in Central Java. Identity is an awareness of individual unity and sustainability which settle in humans being, even though that individual goes through many changes. This is a qualitative research which uses phenomenology interpretative method analysis in order to find the themes which come up from the data obtained. Data collection methods used semi-structured interviews conducted directly to the respondents. The selection of the participants uses purposive sampling technique with a specification that the Chinese descents live in Central Java and married. This research reveals the experiences of Chinese descents in their interaction with their family, their Chinese descent fellows, their society, and they themselves as Indonesian. According to the research result, it is found out that the identity of the Chinese descents in Central Java is an individual who recognizes that him or herself is a Chinese descent, an individual who is a part of the society, an individual who feels fear of the discrimination, and an individual who strives to overcome the discrimination.
x
KATA PENGANTAR
Suatu kebodohan jika tulisan ini tidak saya tuntaskan di tengah
melimpahnya dukungan yang diberikan kepada saya. Terima kasih kepada Tuhan
yang telah memanjakan saya dengan semua kemudahan yang telah saya terima
dan semua dukungan serta bantuan melalui orang-orang penting berikut ini:
Bapak Victorianus Didik Surya Hartoko, M.Si. selaku Dosen Pembimbing
Skripsi. Terima kasih atas kesabaran dan bimbingannya selama dua tahun
perjalanan ini, sehingga skripsi ini dapat selesai dengan baik dan tuntas. Terima
kasih juga untuk kesempatan yang diberikan sebagai asisten Rorschach,
pengalaman yang sangat berarti dalam proses belajar saya.
Keluargaku yang selalu ada dalam setiap prosesnya. Terima kasih untuk
semua dukungan secara mental, spiritual dan finansial. Terima kasih juga untuk
usahanya mencarikan partisipan yang bersedia direpotkan.
Ch. Siwi Handayani, M.Si., selaku dekan Fakultas Psikologi Universitas
Sanata Dharma.
Ibu Arie dan Ibu Tanti sebagai dosen pembimbing akademis, terima kasih
atas pendampingannya dari awal hingga semuanya dapat diselesaikan.
Terima kasih untuk Mas Mudji yang selalu menanyakan kabar skripsi ini.
Terima kasih untuk semua bantuannya selama ini. Bu Naniek, Mas Gandung, Mas
Doni dan Pak Gie untuk semua bantuannya, hingga semua proses dan birokrasi ini
xi
Semua teman-teman seperjuangan, Gerombolan Si Berat (Cik Momo,
Widayanti Arioka, Mbak Jean, Henny, Angga, Jessi, Mbak Tinoel), Ayah dan
Palma. Terima kasih atas semangat dan inspirasinya. Saya tahu kalian sudah
bosan mendoakan saya. Untuk Vera, Via, dan Silvi yang menemani di detik-detik
terakhir semua proses ini.
Mas Adit ‘Mbek’ yang sudah selama empat tahun menemani pembadaian
otak dan meluruskan pikiran saya yang tidak logis. Selamat berjuang dalam
prosoes pencarian Tuhan selanjutnya. AMDG.
Teman-teman Pingiters, terima kasih untuk semua tawa, semangat dan
keceriaan yang selalu ada tiap bersama kalian. Kakak Glo untuk semua bantuan
yang berkaitan dengan bahasa Inggris. Terima kasih buat Koh Yhonas yang sudah
banyak membantu dalam penulisan skripsi ini. Teman berdiskusi yang sangat
menyenangkan seperti biasa dan penyedia dukungan yang tepat di saat yang tepat.
Walau kamu selalu
macak
penjahat, aku tahu kok kalau kamu orang
baek
. Icha
yang sudah menjadi teman yang
kepo
dan mengajakku
kepo
juga di mana-mana.
Semua penghuni Kolose Santo Ignatius (Romo dan Frater semuanya) yang
tidak bosan-bosannya menanyakan kapan saya selesai menulis skripsi ini.
Semangat belajar kalian benar-benar menginspirasi untuk terus maju. Terima
kasih terutama untuk Fr. Fajar yang sudah menyediakan waktunya menjadi
pendengar yang sabar setiap aku galau. Tanpa Anda, skripsi ini tidak akan pernah
ada. Frater Koko yang sudah menjadi partner diskusi yang hebat sampai terbawa
mimpi. Tanpa Anda, saya tidak akan bisa mulai melakukan analisis. Saya masih
xii
Untuk semua kuli buku dari Indie Book Corner, Ika, Mambo, Yayas dan
Mas Irwan Bajang. Tanpa kalian, saya tidak akan pernah tahu bahwa
Microsoft
Word
itu sangat canggih dan layout skripsi ini akan sangat berantakan. Terima
kasih yang sebanyak-banyaknya untuk toleransinya dalam penyelesaian naskah
dan mengijinkan saya tidak bekerja agar ini bisa selesai.
Dan untuk semuanya yang tidak dapat disebutkan satu per satu. Terima
kasih yang sebanyak-banyaknya karena sudah bersedia saya repotkan. Semoga
skripsi ini tidak hanya bermanfaat bagi saya, tapi juga bagi semua yang
membacanya.
Yogyakarta, 23 Juli 2012
Penulis,
xiii
DAFTAR ISI
HALAMAN
HALAMAN JUDUL……….
HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING………
HALAMAN PENGESAHAN………..
HALAMAN MOTTO………
HALAMAN PERSEMBAHAN………
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA………..
ABSTRAK………
ABSTRACT
………
LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA
ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS……….
KATA PENGANTAR………..
DAFTAR ISI……….
DAFTAR TABEL……….
DAFTAR SKEMA……….
DAFTAR LAMPIRAN………..
BAB I : PENDAHULUAN………
A.
L
ATARB
ELAKANGM
ASALAH………..
B.
R
UMUSANM
ASALAH………..
C.
T
UJUANP
ENELITIAN………
D.
M
ANFAATP
ENELITIAN………
i
ii
iii
iv
v
vi
vii
viii
ix
x
xiii
xvi
xvii
xviii
1
1
8
8
xiv
BAB II : LANDASAN TEORI………
A.
W
ARGAK
ETURUNANC
INA………..………
1. Sejarah Etnis Cina di Indonesia……….
2. Penggolongan Etnis Cina di Indonesia……….
3. Kehidupan warga keturunan Cina ……….…….
B.
I
DENTITAS………
C.
P
ENGALAMANP
EMBENTUKANI
DENTITAS PADAW
ARGAK
ETURUNANC
INA...
D.
P
ERTANYAANP
ENELITIAN……….
BAB III : METODOLOGI PENELITIAN………..
A.
J
ENISP
ENELITIAN………..
B.
M
ETODEP
EMILIHANP
ARTISIPANP
ENELITIAN……….
C.
F
OKUSP
ENELITIAN………
D.
M
ETODEP
ENGAMBILAND
ATA………..
1.
Persiapan Penelitian………
2.
Pelaksanaan Penelitian………..
E.
P
ROSEDURA
NALISISD
ATA………
F.
R
EFLEKSIVITASP
ENELITI………..
G.
K
REDIBILITASP
ENELITIAN………
BAB IV : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN……….
A.
K
EHIDUPANO
RANGC
INA DIT
EMANGGUNG………
B.
P
ROFILP
ARTISIPAN………
10
10
10
12
15
17
19
20
22
22
23
24
24
25
25
26
28
29
30
30
xv
1. Profil Lee, Partisipan 1………...
2. Profil Han, Partisipan 2………..
3. Profil Sing, Partisipan 3……….
C.
D
ESKRIPSIH
ASILP
ENELITIAN………..………
1. Konteks terbentuknya identitas pada masyarakat keturunan Cina.
2. Deskripsi identitas warga keturunan Cina………..
D.
P
EMBAHASAN………
BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN………
A.
K
ESIMPULAN………
B.
K
ETERBATASANP
ENELITIAN………...
C.
S
ARAN……….
DAFTAR PUSTAKA……….
LAMPIRAN………
33
37
42
46
49
59
70
77
77
78
78
80
83
xvi
DAFTAR TABEL
Tabel 3.1
Pelaksanaan Wawancara………...
26
xvii
DAFTAR SKEMA
xviii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 V
ERBATIMW
AWANCARAP
ARTISIPAN1,
L
EE………... 84
Lampiran 2 T
ABELT
EMA-
TEMAP
ARTISIPAN1,
L
EE……… 111
Lampiran 3 V
ERBATIMW
AWANCARAP
ARTISIPAN2,
H
AN……….
113
Lampiran 4 T
ABELT
EMA-
TEMAP
ARTISIPAN2,
H
AN………..
131
Lampiran 5 V
ERBATIMW
AWANCARAP
ARTISIPAN3,
S
ING………. 133
1
BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
“Di mana-mana, ia adalah orang “asing”.
Ia selalu menjadi minoritas yang berbeda dari
orang kebanyakan.”
-Agustinus Wibowo, Garis Batas-
Minoritas yang berbeda dari orang kebanyakan, seperti itulah gambaran
orang-orang Cina yang tinggal di Indonesia. Mereka belumlah menjadi orang
Indonesia, tetapi mereka juga sudah bukan orang Cina. Mereka sudah lebih dari
dua generasi tinggal di Indonesia, tetapi masih juga belum mendapatkan hak yang
setara dengan orang pribumi, dan sejarah Indonesia tidak dapat memungkiri
keadaan ini.
Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki banyak suku dan
bahasa. Baik itu yang merupakan suku asli Indonesia maupun yang merupakan
pendatang dari luar nusantara. Banyak kita temui kelompok-kelompok keturunan
bangsa asing yang tinggal di Indonesia seperti keturunan Arab, keturunan India
atau keturunan bangsa asing lain.
James Dananjaya (2003) dalam tulisannya “Diskriminasi Terhadap
Minoritas Masih Merupakan Masalah Aktual di Indonesia Sehingga Perlu
Ditanggulangi Segera”, mengungkapkan bahwa warga keturunan Arab, India dan
Cina pada masa kolonial sama-sama dianggap sebagai golongan Timur Asing.
penduduk Indonesia, maka mereka dianggap "Pri" (Pribumi) atau bahkan “Asli”,
sedangkan keturunan Tionghoa, karena agamanya pada umumnya adalah Tri
Dharma (Sam Kao), Budis, Nasrani dan lain-lain, dianggap sebagai orang asing
atau “Non Pri”. Dengan stigma "Non Pri" tersebut kedudukan mereka yang bukan
“pribumi”, terutama keturunan Tionghoa terasa sekali pendiskriminasiannya.
Bahkan oleh pemerintah Orde Baru, telah dikeluarkan beberapa Peraturan
Presiden yang menggencet mereka, bahkan dengan politik pembauran yang
bersifat asimilasi.
Banyak kejadian dalam catatan sejarah bangsa Indonesia yang menyudutkan
warga keturunan Cina. Seperti munculnya Peraturan Presiden No. 10 tahun 1959
yang melarang orang asing untuk membuka usaha di daerah pedalaman yang
statusnya lebih rendah dari kabupaten. Selain itu juga ditemukan adanya masalah
kewarganegaraan dan dilanjutkan dengan adanya pemberontakan G30-S yang
menyebabkan munculnya sentimen pada warga keturunan Cina yang ada di
Indonesia. Pemberontakan tersebut menimbulkan anggapan bahwa mereka
menjadi agen dari pemerintahan Cina yang komunis dan mendukung
pemberontakan PKI tahun 1965. Hal tersebut juga berbuntut munculnya Inpres
No. 14 tahun 1967 yang secara garis besar menyatakan bahwa adat dan budaya
Cina akan memberikan pengaruh yang kurang wajar bagi masyarakat Indonesia
sehingga pelaksanaan adat dan ritual agama hanya boleh dilaksanakan dalam
lingkungan keluarga.
Peraturan tersebut juga diikuti adanya peraturan untuk mengganti nama
ini di mana banyak warga keturunan Cina yang sudah tidak memiliki nama Cina
lagi dan lebih banyak menggunakan nama yang berorientasi barat. Padahal dalam
budaya Cina, nama Cina menunjukkan keturunan dan ikatan kekeluargaan,
sehingga perubahan nama ini menghilangkan identitas sebagai warga keturunan
Cina.
Selain karena kejadian G30-S, dalam sejarah bangsa Indonesia juga terjadi
beberapa kejadian atau kerusuhan yang secara langsung maupun tidak langsung
menyerang etnis Cina yang berada di Indonesia. Seperti kejadian 1998 di Jakarta
dan beberapa tempat lain di Indonesia, di mana terjadi pengerusakan dan
kekerasan seksual yang sebagian besar korbannya merupakan warga keturunan
Cina. Menurut Bachrun dan Hartanto (dalam Susetyo 2000), kejadian tahun 1998
tersebut mengakibatkan munculnya krisis identitas pada masyarakat keturunan
Cina di Indonesia, segala daya dan upaya yang mereka lakukan untuk diterima
menjadi warga Indonesia tidak berhasil. Mereka tetap menjadi sasaran
diskriminasi dari lingkungannya.
Diskriminasi terhadap warga keturunan Cina juga terjadi dalam
pemerintahan. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa warga keturunan Cina
tidak dapat bekerja di sektor pemerintahan, hal ini terutama terjadi pada masa
Orde Baru. Selain itu dalam pengisian berbagai formulir masih ada pembedaan
status antara WNI dan Pribumi. Susi Susanti, seorang atlet Indonesia keturunan
Cina, juga mengalami kesulitan dalam mengurus SKBRI ketika ia akan menikah
Di sisi lain, masyarakat Cina juga memiliki dinamika tersendiri dengan
kelompoknya sebagai warga keturunan Cina.
Contoh nyata yang dapat kita lihat di
masyarakat sendiri adalah masih ada kawasan
pecinan
atau
cina town,
di mana
kawasan tersebut mayoritas ditinggali oleh orang Cina. Hal tersebut menandakan
bahwa dari dalam masyarakat Cina sendiri belum merasa nyaman atau merasa
tinggal di negara sendiri dan merasa lebih aman untuk berada dalam
kelompoknya. Hal ini juga didukung oleh faktor psikologis orang Cina yang
memiliki rasa solidaritas yang kuat (Helmi, 1990), sehingga dalam kelompoknya
terjalin hubungan yang baik dan saling membantu satu sama lain.
Helmi (1990) dalam penelitiannya yang berjudul “Sikap Etnosentris Pada
Generasi Tua dan Muda Etnik Cina” juga mendapati bahwa pada generasi tua
Etnik Cina masih terdapat sikap etnosentris yang tinggi. Sikap etnosentris sendiri
adalah perasaan bahwa kelompok etnis mereka lebih baik daripada kelompok
etnis lain. Hal ini tercermin dari masih banyaknya orang keturunan Cina yang
memiliki keinginan untuk mendapatkan pasangan dari sesama orang keturunan
Cina (Wijaya, 2007).
Orang keturunan Cina sendiri juga masih melaksanakan beberapa tradisi dan
adat istiadat Cina. Walaupun sudah tidak banyak dilakukan namun masih dapat
kita lihat seperti pada saat Imlek mereka masih menghaturkan persembahan dan
mengunjungi sanak saudara. Selain itu dalam kebiasaan menghormati anggota
keluarga yang sudah meninggal mereka tetap menjalankannya sesuai dengan adat
dan budaya Cina, walaupun sudah tidak mendetail dan dipadukan dengan upacara
Adanya diskriminasi yang terjadi bagi warga keturunan Cina dan adanya
keterikatan dengan kelompoknya sebagai orang keturunan Cina, menempatkan
mereka dalam posisi yang unik. Warga keturunan Cina ini ingin diterima tanpa
pembedaan dan berada dalam posisi yang sama dengan etnis atau suku lain yang
ada di Indonesia, dan tetap diakui sebagai orang Cina dengan berbagi adat dan
budayanya. Tetapi mempertahankan identitas sebagai orang Cina sendiri juga
bukan persoalan yang mudah karena adanya berbagai stereotipe dan prasangka
buruk dalam masyarakat.
Berbicara mengenai orang Cina yang berada di Indonesia, mereka sendiri
juga bukanlah suatu kelompok yang homogen. Dalam Onghokham (2008),
menjelaskan bahwa salah satu penyebab berbagai perbedaan tersebut adalah
adanya perbedaan pola imrigasi. Di pulau Jawa para orang Cina yang datang
biasanya perorangan atau dalam kelompok-kelompok kecil. Dalam masyarakat
Jawa yang padat sedikit banyak mereka akan terintegrasi dangan adat dan budaya
setempat, mereka tidak merasa Cina dan akan kehilangan bahasanya setelah satu
atau dua generasi.
Di Sumatera Utara migrasi yang terjadi pada umumnya adalah dalam
kelompok besar, dan karena penduduk asli yang tidak terlalu padat maka mereka
dapat hidup berdampingan dengan baik. Dalam komunitas Cina sendiri tetap
mempertahankan adat dan budayanya. Mereka juga biasanya tetap menggunakan
bahasa Cina untuk berkomunikasi dalam komunitasnya. Di Kalimantan dapat
dikatakan penduduk aslinya adalah orang Cina. Sedangkan di Indonesia Timur,
penduduk asli dan warga keturunan. Istilah Cina Peranakan dan Cina Totok
sebenarnya hanya berlaku di Jawa.
Di Jawa sendiri, terutama di daerah Jawa bagian tengah orang Cina mulai
menyebar dan membentuk komunitas-komunitas baru di daerah Jawa Tengah
adalah pada pertengahan abad ke-18 (Purwanto dalan Rustopo, 2007). Pada
masa-masa itu mulai terbentuk sebuah citra khusus mengenai komunitas orang Cina
yang melekat dengan kegiatan ekonomi dan aliansinya baik dengan penguasa
politik lokal maupun kolonial yang merugikan rakyat. Sebuah proses pengasingan
masyarakat Cina dari masyarakat Jawa Tengah secara menyeluruh mulai
berlangsung.
Pandangan bahwa orang keturunan Cina merupakan komunitas yang asing
dalam masyarakat Jawa Tengah masih terus berlangsung selama masa
kemerdekaan dan pada tahun 1998 terjadi kerusuhan yang menyerang warga
keturunan Cina. Di Jawa Tengah sendiri kerusuhan besar terjadi di Surakarta yang
merupakan salah satu wilayah inti dari kebudayaan Jawa Tengah. Peristiwa ini
menjadi salah satu bukti yang memperkuat bahwa warga keturunan Cina di
Indonesia, terutama di wilayah Jawa Tengah, masih menjadi elemen yang asing
dalam masyarakatnya.
Identitas sendiri merupakan suatu yang unsur yang penting dalam
pembentukan seseorang sebagai individu. Identitas adalah bagaimana individu
mengenali dan menyadari keberadaan dirinya dan terbentuk dari interaksi
seseorang dengan lingkungan di mana ia tumbuh dan dibesarkan. Identitas juga
suatu kelompok atau suatu individu dengan lingkungan masyarakat yang lebih
luas. Hal ini sejalan dengan penelitian Basyar dan Susetyo yang mengakaji
tentang identitas minoritas di Indonesia di mana kelompok minoritas tersebut
belum menemukan tempatnya dalam masyarakat Indonesia yang majemuk.
Basyar (2010), menyatakan bahwa proses diskriminasi yang terjadi pada
masyarakat minoritas mengakibatkan adanya proses alienasi yang terjadi pada
masyarakat minoritas yang mengalaminya dan berakibat terbentuknya suatu
kelompok yang terpisah dari kelompok mayoritas.
Masyarakat Cina di Indonesia saat ini menjadi suatu kelompok minoritas
yang terasing dari masyarakat tempat mereka hidup selama beberapa generasi.
Keterasingan ini menjadikan diri mereka sebagai suatu kelompok masyarakat
yang tidak memiliki akar atau tempat di mana mereka bisa diterima seutuhnya dan
kehilangan sejarah mereka sebagai suatu kelompok. Di sini identitas sebagai suatu
aspek yang terbentuk dari sejarah dan kesinambungan tradisi menjadi suatu hal
yang penting untuk diteliti pada masyarakat keturunan Cina.
Selain itu, peneliti juga tertarik untuk melihat bagaimana identitas yang
dimiliki warga keturunan Cina yang tinggal di Jawa Tengah didasari pada proses
pembentukan identitas itu sendiri yang merupakan hasil dari pengolahan batin
individu dan relasi individu dengan lingkungan di sekitarnya. Peneliti ingin
mengetahui bagaimana pengalaman-pengalaman yang dialami warga keturunan
Cina membentuk identitas mereka saat ini.
Penelitian ini akan menggunakan metode penelitian kulitatif dengan metode
dapat memberikan penjabaran mengenai bagaimana orang Cina memandang diri
dan kehidupan mereka.
Penelitian ini menggambil sample kota Temanggung sebagai wilayah
tempat tinggal partisipan. Pemilihan ini dilatarbelakangi karena kota Temanggung
sendiri dipilih karena kota ini memiliki komunitas warga keturunan Cina, baik itu
yang tinggal di kawasan Pecinan maupun yang tinggal di perkampungan.
Sebagian besar warga Temanggung juga bekerja di bidang tembakau yang
memungkinkan terjadi pertemuan dan pembauran antara warga keturunan Cina,
maupun masyarakat kebanyakan. Selain itu, di Temanggung juga pernah terjadi
kerusuhan yang menyerang warga keturunan Cina.
B.
RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan pemaparan di atas, peneliti ingin melihat bagaimana
pengalaman hidup masyarakat keturunan Cina yang tinggal di Jawa Tengah,
dan bagaimana pengalaman tersebut membentuk identitas mereka.
C.
TUJUAN PENELITIAN
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimanakah
pengalaman-pengalaman warga keturunan Cina yang tinggal di Jawa Tengah dalam
interaksi mereka dengan keluarga, dengan sesama warga keturunan Cina,
dalam masyarakat dan sebagai warga negara, dan bagaimanakah
D.
MANFAAT PENELITIAN
1.
Manfaat Teoretis
Hasil penelitian ini dapat memberikan sumbangan bagi perkembangan
ilmu psikologi sosial dan psikologi kepribadian, khususnya mengenai
identitas pada warga keturunan Cina.
2.
Manfaat Praktis
Penelitian ini diharapkan dapat membangun kesadaran dan pengertian
pada warga keturunan mengenai dirinya dan masyarakat di mana mereka
tinggal, dan memberikan pengertian kepada masyarakat pada umumnya
mengenai warga keturunan Cina, sehingga diharapkan akan terbangun
10
BAB II
LANDASAN TEORI
A.
WARGA KETURUNAN CINA
1. Sejarah Etnis Cina di Indonesia
Masyarakat Cina sebenarnya sudah menjadi bagian yang tidak
terpisahkan dari sejarah bangsa Indonesia. Peter Carey dalam Rustopo
(2007), menjelaskan bahwa hubungan orang Jawa dengan orang Cina
sudah dimulai sejak abad keempat belas melalui perdagangan. Pada masa
itu orang-orang Cina juga mulai bermukim di Indonesia terutama di
kota-kota pelabuhan dan di daerah tepi sungai besar yang merupakan jalur
perdagangan dan membentuk suatu pemukiman orang Cina atau
Pecinan
.
Pada masa itu, hubungan antara orang Cina dan Jawa berlangsung dengan
harmonis.
Memasuki masa kolonialisme terjadi sistem apartheid atau
pembedaan berdasarkan ras yang diberlakukan oleh pihak Belanda.
Dalam Onghokham (2008) dijelaskan bahwa pembagian kelas terbagi
menjadi 3 golongan yaitu: golongan Eropa atau Belanda, golongan Timur
Asing (Cina, India, Arab), golongan pribumi (kecuali bangsawan yang
diberikan status seperti Eropa).
Dari ketiga golongan tersebut pribumi berada dalam status yang
paling rendah. Penggolongan tersebut mengakibatkan adanya mobilitas
Eropa. Mereka mengadopsi cara berpakaian, pendidikan dan agama yang
dianut oleh orang eropa yaitu agama Kristen dan Katolik, walaupun
mereka masih tetap menjalankan adat dan budayanya sendiri. Sangat
jarang ada orang Cina yang mengidentifikasikan dirinya dengan pribumi
karena pada waktu itu kaum pribumi dianggap lebih rendah statusnya,
sehingga jika terjadi pernikahan antara wanita pribumi dengan orang Cina
maka wanita tersebut dianggap diangkat derajatnya. (Susetyo, 2010).
Pembedaan ini juga merupakan benih munculnya anti-Cina di Indonesia.
Kondisi tersebut berbalik arah ketika Indonesia memasuki masa
kemerdekaan. Beberapa kejadian yang menyudutkan warga keturunan
Cina tercatat terjadi dalam sejarah Indonesia. Salah satunya adalah
munculnya Peraturan Presiden No. 10 tahun 1959, yaitu adanya larangan
bagi orang Tionghoa berdagang eceran di daerah-daerah di luar kota yang
lebih kecil dari kota distrik (Koentjaraningrat, 1979).
Adanya pemberontakan G30-S menyebabkan munculnya sentimen
pada warga keturunan Cina yang ada di Indonesia, karena munculnya
anggapan bahwa mereka menjadi agen dari pemerintahan Cina yang
komunis dan mendukung pemberontakan PKI tahun 1965. Hal tersebut
juga berbuntut munculnya Inpres No. 14 tahun 1967 yang secara garis
besar menyatakan bahwa adat dan budaya Cina akan memberikan
pengaruh yang kurang wajar bagi masyarakat Indonesia sehingga
pelaksanaan adat dan ritual agama hanya boleh dilaksanakan dalam
Keputusan Presiden seperti: Pelarangan Sekolah dan Penerbitan berbahasa
Cina; keputusan Presidium Kabinet No. 127/U/Kep/12/1966 mengenai
Penggantian Nama, dan Keputusan Presiden No.240/1967 mengenai
Kebijakan pokok yang menyangkut WNI keturunan Asing, serta Instruksi
Presidium Kabinet No. 37/U/IN/6/1967 tentang kebijaksanaan pokok
penyelesaian masalah Cina (Thung dalam Dananjaya, 2003).
2. Penggolongan Enis Cina di Indonesia
Orang Cina yang berada di Indonesia sebagian besar berasal dari dua
propinsi di negara Cina yaitu Fukien dan Kwangtung. Setiap pendatang
yang datang ke Indonesia membawa kebudayaan dan perbedaan
bahasanya sendiri-sendiri. Ada empat bahasa Cina yang banyak di pakai
di Indonesia yaitu Hokkien, Tio-Chiu, Hakka, dan Kanton. Perbadaan
bahasa ini demikian besar, sehingga pembicara dari bahasa yang satu
tidak dapat mengerti pembicara dari bahasa yang lain. (Koentjaraningrat,
1979).
Walaupun orang Cina yang datang ke Indonesia berasal dari
berbagai suku bangsa, pada umumnya pandangan orang Indonesia
terhadap masyarakat etnis Cina yang ada di Indonesia terbagi menjadi dua
kelompok, yaitu Tionghoa Totok dan Peranakan.
a. Tionghoa Totok
Orang Tionghoa totok atau singkek adalah penggolongan yang
pada awalnya diberikan kepada orang Cina yang baru datang ke
2009). Seiring pergeseran waktu, istilah tionghoa totok diberikan
kepada orang Cina yang orangtuanya adakah orang etnis tionghoa
(Suryadinata, 1984).
Istilah totok juga diberikan bagi orang keturunan Cina yang
masih menjalankan adat budayanya, walaupun sudah memeluk
agama lain. Mereka juga pada umumnya berbicara bahasa Cina
sebagai bahasa pengantar dalam keluarga.
b. Tionghoa Peranakan
Masyarakat di Indonesia menggolongkan orang Cina sebagai
orang Cina peranakan adalah untuk orang-orang Cina yang terlahir
dari perkawinan antara orang Cina dengan orang Indonesia
(Koentjaraningrat, 1979). Pada awal migrasi penduduk Cina di
Indonesia, mereka biasanya datang dalam kelompok kecil dan hanya
para lelakinya saja yang melakukan migrasi. Setibanya mereka di
Indonesia kemudian mereka bekerja dan tinggal di Indonesia.
Beberapa kemudian menikah dengan penduduk Indonesia dan
berakulturasi dengan kebudayaan setempat.
Sebagian
besar
penduduk
tionghoa
peranakan
sudah
menggunakan bahasa setempat untuk berkomunikasi sehari-hari.
Mereka juga sudah tidak menjalankan tradisi dan adat kebudayaan
dari Cina.
Orang Cina di Indonesia sendiri saat ini sudah sulit dipastikan siapa
Terutama di pulau Jawa, terdapat orang-orang yang umum dianggap
Tionghoa tetapi jika ditelusuri ternyata mereka kurang dari seperempat
Tionghoa, buta huruf mengenai bahasa dan tulisan Tionghoa, telah
melepaskan pemujaan nenek moyang dan melepaskan kewarganegaraan
Tionghoanya (Tan, 1981).
Sebaliknya ada orang-orang yang menurut garis nenek-moyangnya
lebih dari seperempat Tionghoa, tapi menganggap dirinya dan juga
dianggap oleh masyarakat luas sebagai orang etnis Indonesia. Karena itu
Skinner dalam Mely G. Tan (1981), batasan yang memadai tidak menurut
ras, hukum ataupun budaya melainkan melaluai identifikasi sosial: “Di
Indonesia seorang keturunan Tionghoa disebut orang Tionghoa, jika ia
bertindak sebagai anggota dan mengidentifikasikan dirinya sebagai
masyarakat Tionghoa.” Skinner juga menyatakan bahwa satu-satunya ciri
budaya yang dapat diandalkan adalah penggunaan nama keluarga
Tionghoa. Coppel (1994), dalam bukunya Tionghoa Indonesia dalam
Krisis, mendefinisikan orang keturunan Cina adalah orang keturunan
Tionghoa yang berfungsi sebagai warga atau berpihak pada masyarakat
Tionghoa atau yang dianggap sebagai orang Tionghoa oleh orang
Indonesia pribumi (paling tidak dalam beberapa keadaan).
Seperti yang diungkapkan oleh Mely G. Tan, warga keturunan Cina
yang banyak ditemui saat ini sudah tidak dapat berbicara bahasa Cina,
buta aksara Cina dan sudah tidak terlalu ketat dalam menjalankan adat
tidak lagi memeluk agama leluhur dan memeluk agama Kristen, sehingga
banyak tradisi seperti upacara pernikahan dan kematian dilakukan sesuai
dengan agama yang dianut saat ini.
3.
Kehidupan warga keturunan Cina
Onghokham (2008) menyatakan bahwa kehidupan orang Cina secara
umum berpusat pada Konfusianisme. Konfusianisme ini mewariskan suatu
tradisi yang menjadi identitas kehidupan spiritual secara umum yaitu fokus
pada keluarga yang baik, baik yang masih hidup maupun anggota keluarga
yang sudah meninggal. Secara nyata hal ini terlihat dalam pengabdian anak
kepada orang tua dan meluas pada pengabdian kepada pemimpin. Salah satu
perwujudan dari pengabdian ini adalah dengan merawat meja abu atau meja
sembahyang untuk mendoakan arwah para leluhur.
Seiring dengan berjalannya waktu semakin banyak orang Cina di
Indonesia yang memeluk agama lain dan meninggalkan tradisi mendoakan
arwah leluhur, tetapi ikatan dalam keluarga masyarakat Cina tetap kuat.
Penghapusan beban adat ini juga membuat masyarakat keturunan Cina di
Indonesia semakin fokus pada pekerjaan dan menggerakkan roda ekonomi
bagi keluarga mereka. Banyak warga masyarakat keturunan Cina yang
bekerja di sektor swasta karena mereka mengalami kesulitan untuk terlibat
dalam sektor pemerintahan.
Sebagai seorang Cina dan membawa jiwa perantauan dalam diri mereka,
orang Cina di Indonesia sebagian besar memiliki sifat yang ulet dan pantang
didukung adanya hubungan kekeluargaan yang erat antar sesama orang Cina
menjadikan banyak orang Cina di Indonesia memiliki penghasilan yang baik
dan menjadi golongan menengah atau golongan kaya di Indonesia
(Onghokham, 2008).
Dari segi kehidupan bernasyarakat sendiri, orang Cina di Indonesia pada
umumnya sudah membaur dengan cukup baik dengan masyarakat di sekitar
mereka. Mereka mengikuti adat dan budaya yang terdapat di lingkungan
mereka. Selain itu sudah tidak banyak orang Cina yang masih menggunakan
nama Cina, terutama generasi mudanya. Hal ini adalah akibat dari adanya
perintah untuk mengganti nama Cina dengan nama yang lebih Indonesia.,
peraturan yang dicanangkan oleh pemerintahan Orde Baru dalam rangka
memuluskan proses asimilasi warga keturunan Cina dengan masyarakat
pribumi.
Seluruh proses sejarah yang dialami oleh warga keturunan Cina yang
tinggal di Indonesia, terutama di Jawa Tengah ini membentuk mereka
menjadi suatu komunitas yang berfokus dalam pergerakan perekonomian. Hal
ini semakin diperkuat dengan sistem kekerabatan yang kuat antar sesama
warga keturunan Cina. Hubungan yang erat ini memungkinkan adanya
perpindahan nilai-nilai yang dianut, seperti ulet dan bekerja keras. Selain itu,
sudah mulai lunturnya nilai-nilai tradisi Cina dan tidak memungkinkannya
orang Cina memasuki budaya Jawa Tengah tempat mereka tinggal
menjadikan kegiatan ekonomi sebagai satu-satunya penopang dalam
B.
IDENTITAS
Erikson (1989), dalam penjelasannya mengenai konsep identitas,
menyatakan bahwa identitas adalah suatu kesadaran akan kesatuan dan
kesinambungan pribadi yang menetap dalam diri manusia walaupun pribadi
tersebut mengalami banyak perubahan. Identitas ini terbentuk dari integrasi
pengalaman masa lalu seseorang, baik itu pengolahan batin maupun
pengalaman individu di tengah lingkungannya. Seluruh pengalaman masa
lalunya ini yang akan menentukan dirinya saat ini dan siapakah atau apakah
yang diinginkan untuk masa depan
.
Lebih lanjut De Levita dalam studi kritisnya mengenai Erikson,
menjelaskan aspek-aspek identitas sebagai berikut (Erikson, 1989):
1. Identitas merupakan intisari seluruh kepribadian yang tetap tinggal
sama walaupun manusia berubah menjadi tua dan menghadapi
perubahan dalam dunia di sekitarnya.
2. Identitas sebagai keserasian peran sosial yang pada perinsipnya dapat
berubah dan selalu berubah-ubah.
3. Identitas sebagai “gaya hidupku sendiri” yang berkembang dalam
tahap-tahap terdahulu dan menentukan bagaimana suatu peran sosial
harus diwujudkan.
4. Identitas sebagai suatu perolehan khusus pada tahap perkembangan
remaja dan sebagai sesuatu yang akan terus berubah dan diperbaharui
5. Identitas sebagai pengalaman subjektif akan kesamaan serta
kesinambungan batiniahnya sendiri dalam ruang dan waktu
6. Identitas sebagai kesinambungan dengan diri sendiri dalam pergaulan
dengan orang lain.
Pemaparan di atas menjelaskan bahwa identitas merupakan suatu faktor
dalam diri individu yang tidak terlepas dari waktu, lingkungan dan interaksi
dengan orang lain. Burns (1993) menyatakan bahwa identitas seseorang tidak
murni berasal dari dalam dirinya sendiri melainkan merupakan hasil
dialektika antara individu dengan dunia sosialnya yang terdiri dari bahasa dan
simbol-simbol yang kasat mata.
Erikson (1989), menyatakan bahwa identitas seseorang pada dasarnya
juga bersifat “psikososial”, karena identitas merupakan solidaritas batin
dengan cita-cita kelompok. Pembentukan identitas adalah suatu proses yang
terjadi dalam diri pribadi dan dan juga di tengah masyarakat. Identitas
kolektif dari keluarga, ras, golongan dan negara merupakan dimensi yang
membentuk identitas seseorang.
Lebih lanjut, Santrock (2003) menjelaskan bahwa keluarga terutama
orangtua merupakan sosok yang penting dalam pembentukan identitas
seseorang. Hal ini disebabkan karena pembentukan identitas yang terjadi pada
individu, terutama pada masa remaja, sangat dipengaruhi oleh pola asuh
dalam keluarga tersebut.
Erikson (1989), menjelaskan bahwa identitas setiap individu diresapi dari
dimensi sosial dan budaya. Identitas individu tidak dapat terlepas dari ciri-ciri
watak khas kelompok tertentu, pada cita-cita kelompok tertentu, atau pada
identitas yang sama dari kelompok tersebut, atau dapat disebut sebagai
identitas kolektif. Erikson (dalam Santrock, 2003) juga menekankan bahwa
kelompok etnis minoritas telah berjuang untuk mempertahankan identitas
budayanya di saat kelompok tersebut bergabung dalam kebudayaan yang
lebih dominan. Perjuangan yang dilakukan oleh kelompok etnis minoritas ini
adalah untuk memperoleh identitas yang inklusif atau identitas di dalam
kebudayaan yang lebih luas.
Dari uraian di atas dapat kita simpulkan bahwa lingkungan seperti
keluarga, kelompok etnis dan masyarakat merupakan suatu faktor yang sangat
berpengaruh pada pembentukan identitas seseorang. Peneliti kemudian ingin
menjelaskan bagaimanakah pengalaman-pengalaman interaksi pada warga
keturunan Cina dengan keluarga, dengan sesama warga keturunan Cina,
sebagai anggota masyarakat dan sebagai warga negara. Lebih lanjut, peneliti
juga ingin mendeskripsikan bagaimanakah identitas mereka saat ini.
C.
PENGALAMAN PEMBENTUKAN IDENTITAS PADA WARGA KETURUNAN CINA
Identitas warga keturunan Cina terbentuk melalui proses interaksi
individu dengan keluarga, komunitas atau masyarakat keturunan Cina,
interaksi dengan masyarakat sekitarnya yang didominasi oleh orang Jawa dan
sebagai warga negara Indonesia. Berbagai interaksi ini memberikan warna
kelompok keturunan Cina
mereka memiliki hubungan kekeluargaan dan
memiliki identifikasi yang kuat dengan identitas mereka sebagai warga
keturunan Cina. Sedangkan dalam interaksi mereka dalam lingkungan
masyarakat,
warga
keturunan
Cina
mendapatkan
perlakuan
yang
mendiskriminasi, baik mereka sebagai individu dengan adanya ejekan dan
penolakan, sebagai kelompok dengan adanya berbagai stereotipe negatif yang
melekat pada warga keturunan Cina, maupun mereka sebagai warga negara
dengan adanya perbedaan perlakuan dari para birokrat dan undang-undang
yang membatasi kebebasan warga keturunan Cina.
Dari penuturan di atas, peneliti ingin melihat bagaimanakah identitas
warga keturunan Cina. Identitas ini akan dilihat berdasarkan pengalaman
masa lalu dalam interaksi warga keturunan Cina dalam lingkungan keluarga
dan dirinya sebagai bagian dari komunitas warga keturunan Cina. Selain itu,
juga berdasarkan interaksi mereka sebagai individu dan sebagai warga
keturunan Cina dalam kehidupan bermasyarakat. Baik dalam relasi secara
personal maupun sebagai warga negara dalam kepentingan birokrasi. Peneliti
juga ingin melihat bagaimana mereka mengolah pengalaman tersebut dalam
pembentukan identitas mereka sebagai warga keturunan Cina.
D.
PERTANYAAN PENELITIAN
Identitas warga keturunan Cina adalah suatu kesadaran mengenai
keberadaan diri mereka yang terbentuk dari proses batin dan
pengalaman-pengalaman yang pernah dialami dalam lingkungan. Identitas mereka juga
dan hubungan yang mendiskriminasi dan berprasangka dari lingkungan sosial
tempat mereka hidup dan bermasyarakat. Dari penjelasan di atas maka
pertanyaan penelitian ini adalah,
1.
Bagaimanakah pengalaman interaksi warga keturunan Cina dalam
keluarga, dengan sesama warga keturunan Cina dan pengalaman
mereka sebagai warga negara?
22
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A.
JENIS PENELITIAN
Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan metode analisis
fenomenologis interpretatif. Metode kualitatif sendiri menurut Creswell (2007)
merupakan suatu proses untuk memperoleh suatu pemahaman yang didasarkan
pada metode-metode yang berbeda dalam cara menggali data untuk mengungkap
masalah manusia baik secara individu maupun sosial. Metode fenomenologi
sendiri memiliki kemampuan untuk menjelaskan suatu fenomena yang dialami
oleh individu dalam konteksnya sebagai mana muncul dalam dunia (Smith, 2009).
Metode penelitian fenomenologis interpretatif ini memiliki kelebihan dapat
mengungkap secara mendetail bagaimana subjek mempersepsi, memahami serta
memaknai dunia personal dan sosialnya (Smith, 2009).
Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan bagaimana pengalaman warga
keturunan Cina yang tinggal di Jawa dalam keluarga, dengan sesama warga
keturunan Cina, dengan warga masyarakat yang lebih luas dan pengalaman
mereka sebagai warga negara. Selain itu penelitian ini juga ingin menjelaskan
bagaimana identitas mereka saat ini. Penelitian ini menggunakan metode
pengumpulan data wawancara semi terstruktur. Peneliti memberikan pertanyaan
yang bersifat terbuka yang memungkinkan partisipan mengutarakan pikiran
Analisis data dalam penelitian ini diawali dengan menarasikan hasil
wawancara dari partisipan. Proses menarasikan hasil wawancara ini dilakukan
dengan tujuan untuk menata hasil wawancara yang tidak beraturan dan memberi
makna dari hasil wawancara tersebut (Smith, 2009). Selain itu, dengan
menceritakan kembali kisah hidup partisipan dalam bentuk narasi, diharapkan
peneliti menjadi lebih familiar dengan struktur dan isi dari hasil wawancara
(Smith, 2009), sehingga lebih mudah dalam melakukan proses analisis di tahap
selanjutnya.
B.
METODE PEMILIHAN PARTISIPAN PENELITIAN
Teknik pemilihan partisipan menggunakan
purposive sampling
, di mana
pemilihan partisipan penelitian didasarkan pada syarat-syarat tertentu (Creswell,
2007). Partisipan dalam penelitian ini adalah warga keturunan Cina yang berusia
dewasa, tinggal di wilayah Jawa Tengah dan sudah berkeluarga. Hal ini
dikarenakan jika seseorang yang sudah menikah dianggap sudah terlibat
sepenuhnya dalam masyarakat dan harus melaksanakan kewajiban-kewajiban
sebagai warga masyarakat. Sebagai contoh bekerja, mengurusi surat-surat (KTP,
pajak, Kartu Keluarga, dll), dan berperan aktif sebagai anggota masyarakat.
Berbagai peran tersebut menyebabkan mereka harus bertemu dengan berbagai
golongan masyarakat. Mereka juga harus berurusan dengan berbagai birokrasi
yang ada dalam sistem pemerintahan. Selain itu seseorang yang sudah menikah
akan lebih memiliki pandangan ke depan mengenai masa depan anak mereka
C.
FOKUS PENELITIAN
Penelitian ini berfokus pada pengalaman-pengalaman pada masa lalu
individu. Pengalaman ini mencakup pengalaman dalam interaksinya dengan
keluarga, pengalaman individu dengan sesama warga keturunan Cina,
pengalaman individu dalam masyarakat dan pengalamannya sebagai warga
nergara. Kemudian penelitian ini akan berusaha menggambarkan bagaimana
pengalaman-pengalaman tersebut membentuk identitas individu saat ini.
Identitas sendiri menurut Erikson (1989) adalah suatu kesadaran akan
kesatuan dan kesinambungan pribadi yang menetap dalam diri manusia
walaupun pribadi tersebut mengalami banyak perubahan. Identitas ini
terbentuk dari integrasi pengalaman masa lalu seseorang, baik itu pengolahan
batin maupun pengalaman individu di tengah lingkungannya.
D.
METODE PENGAMBILAN DATA
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
teknik wawancara. Wawancara direkam dengan alat perekam yang kemudian
ditranskrip dalam bentuk verbatim. Metode wawancara yang digunakan adalah
wawancara semi terstruktur. Dalam proses wawancara, peneliti akan meminta
pada partisipan untuk menceritakan bagaimana pengalaman hidup mereka.
Pedoman wawancara digunakan sejauh diperlukan untuk mengungkap
aspek-aspek dalam identitas dan untuk memastikan apakah aspek-aspek-aspek-aspek tersebut
sudah ditanyakan kepada partisipan. Selain itu Peneliti juga dapat menggali
(Smith, 2009). Wawancara dilakukan dengan tiap-tiap partisipan pada waktu
dan tempat yang sudah disepakati bersama oleh partisipan dan peneliti.
1.
Persiapan Penelitian
Proses pengumpulan data dimulai dengan menghubungi
masing-masing partisipan untuk membicarakan tentang kesediaan partisipan
terlibat dalam penelitian mengenai identitas ini. Untuk beberapa partisipan
peneliti sudah mengenal cukup baik sebelumnya, sehingga tidak
mengalami kesulitan dalam proses rapport dan diharapkan partisipan akan
lebih leluasa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan.
Proses wawancara diawali dengan meminta partisipan menceritakan
tentang pengalaman hidup mereka, kemudian peneliti melakukan probing
pada bagian-bagian yang dianggap relevan dengan penelitian. Hal ini
dilakukan karena peneliti ingin partisipan dapat mengungkapkan
pengalaman-pengalamannya dengan lebih leluasa dan mendapatkan
gambaran yang menyeluruh mengenai kehidupan partisipan.
2.
Pelaksanaan Penelitian
Peneliti melakukan wawancara pada waktu yang telah disepakati
sebelumnya dengan partisipan. Peneliti melakukan
rapport
untuk
menjelaskan tujuan dari wawancara dan membuat partisipan merasa
nyaman dengan wawancara yang akan dilakukan. Waktu dari wawancara
ini pada umumnya berdurasi enam puluh menit, dan dilakukan satu kali
sarana pengumpulan data, yang kemudian diubah menjadi transkrip
wawancara. Berikut adalah gambaran pelaksanaan wawancara.
Tabel 2.1
Pelaksanaan Wawancara
No.
Partisipan
Pelaksanaan Wawancara
Tanggal dan
Waktu
Lokasi
1
Lee
(Wanita,55 tahun)
18 Juni 2011
18.00-19.15
Rumah Partisipan
2
Ting
(Pria, 51 tahun)
9 Oktober 2011
19.15-20.05
Rumah Partisipan
3
Sing
(Pria, 56 tahun)
28
Desember
2011
09.00-10.20
Rumah Partisipan
E.
PROSEDUR ANALISIS DATA
Analisis data dilakukan agar data yang diperoleh dapat memberikan data
dan mengungkapkan hal-hal yang tercantum dalam tujuan penelitian. Analisis
data dalam penelitian ini adalah menggunakan fenomenologis interpretatif.
Metode ini digunaan untuk memahami pengalaman personal serta
menekankan pada persepsi atau pendapat individu tentang suatu peristiwa.
Analisis dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut.
1. Menarasikan profil partisipan
Menarasikan profil dari para partisipan dilakukan dengan
membaca dan menata ulang hasil wawancara menjadi suatu cerita
yang runtut. Proses menarasikan ini dilakukan untuk menata ulang
menyeluruh mengenai kehidupan partisipan dan untuk memudahkan
peneliti dan pembaca memahami kisah hidup partisipan.
2. Mencari tema-tema
Mencari tema dilakukan dengan membaca transkrip berulang kali.
Tabel kanan digunakan untuk mencatat hal-hal yang menarik atau
signifikan dalam transkrip. Berdasarkan catatan tersebut, tema-tema
dirumuskan pada sisi kiri tabel. Tema-tema tersebut mengubah
respon ke level abstraksi yang sedikit lebih tinggi dan bisa
membangkitkan terminologi psikologis (Smith, 2009).
3. Mengkaitkan tema-tema yang ada
Tema-tema dalam suatu kasus didaftar secara kronologis dan
analitis. Dalam daftar kronologis, tema-tema disusun berdasarkan
urutan kemunculannya dalam transkrip. Tema-tema tersebut
kemudian didaftar lagi secara analitis dengan melihat hubungan
antar tema-tema. Tema yang tidak sesuai dengan fokus penelitian
dapat dibuang.
4. Menghubungkan tema-tema dalam beberapa kasus
Tema-tema dari salah satu kasus digunakan untuk menganalisis
transkrip lainnya. Dalam analisis ini, ditemukan tema-tema yang
sama maupun tema-tema yang khas dalam tiap kasusnya. Tema-tema
tersebut kemudian disusun dalam tabel kelompok partisipan. Tabel
ini akan memperlihatkan secara lebih jelas tema-tema yang sama dan
F.
REFLEKSIVITAS PENELITI
Dalam suatu penelitian kualitatif, kualitas peneliti sebagai instrumen
penelitian menjadi penting untuk menentukan validitas dari penelitian
tersebut. Menurut Lucy Yardley dalam Smith (2009), salah satu prinsip umum
dalam menilai kualitas penelitian kualitatif yaitu sensitivitas pada konteks.
Peneliti tertarik untuk meneliti identitas pada warga keturunan Cina di
Temanggung karena latar belakang peneliti sendiri. Peneliti merupakan
seorang keturunan Cina dan lahir serta besar di kota Temanggung. Sebagai
orang yang tumbuh dalam keluarga Cina, peneliti mendapati adanya ketakutan
akan diskriminasi yang terjadi pada warga keturunan Cina. Peneliti juga
mendapatkan pengetahuan akan sifat-sifat yang dianggap lebih unggul dan
dimiliki oleh warga keturunan Cina yang tidak dimiliki oleh orang Jawa.
Pengetahuan dalam keluarga yang didapat oleh peneliti ternyata tidak
ditemukan dalam dunia pergaulan yang dialami oleh peneliti sendiri. Peneliti
tidak menemukan adanya diskriminasi dalam pergaulan dengan teman sebaya
dan tidak ada perbedaan sifat yang nyata antara orang Cina dan orang Jawa.
Dari penemuan ini peneliti ingin melihat bagaimana orang Cina memandang
dirinya sebagai orang Cina atau identitas mereka sebagai orang Cina.
G.
KREDIBILITAS PENELITIAN
Kredibilitas dalam suatu penelitian kualitatif terletak pada keberhasilannya
mencapai maksud mengeksplorasi masalah atau mendeskripsikan setting,
proses, kelompok sosial atau pola interaksi yang kompleks (Poerwandari,
2005). Peneliti sebagai seorang keturunan Cina dan tinggal di kota
Temanggung sudah memiliki pengetahuan untuk memahami interaksi dalam
kelompok warga keturunan Cina yang tinggal di Temanggung. Selain itu,
adanya hubungan yang baik dengan para partisipan sebelum dilakukannya
penelitian memudahkan untuk membangun rapport demi didapatkannya data
wawancara yang sesuai dengan pengalaman para partisipan.
Kredibilitas dalam penelitian ini dicapai melalui validitas argumentatif.
Sarantakos dalam Poerwandari (2005) menjelaskan validitas argumentatif
akan tercapai bila presentasi temuan dan kesimpulan dapat diikuti dengan baik
secara rasional, serta dapat dibuktikan kembali dengan melihat data mentah.
Peneliti memastikan kredibilitas ini dengan cara menarasikan kisah hidup para
partisipan dan mendiskripsikan tema-tema secara sistematis agar para
pembaca dapat memahami dan mendapatkan kesimpulan yang rasional dari
penelitian ini. Peneliti juga mengecek ulang antara transkrip wawancara
dengan kelompok tema dan kesimpulan yang telah dibuat dalam tahap analisis
30