BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Indonesia merupakan negara yang rawan berbagai bencana alam, seperti kekeringan, banjir, tanah longsor, letusan gunung berapi, bencana gempa bumi, dan tsunami. Bencana banjir meskipun menimbulkan risiko relatif lebih rendah dibandingkan bencana letusan gunung berapi, gempa bumi atau tsunami, tetapi mempunyai frekuensi relatif lebih tinggi. Berdasarkan hal tersebut, apabila diakumulasikan bencana banjir dapat berpotensi menimbulkan kerugian yang sama besarnya dari ketiga bencana tersebut (Zubaidah dkk., 2005).
Data kejadian bencana Indonesia mencatat bahwa selalu terjadi peningkatan ketika Indonesia memasuki musim penghujan, termasuk pada musim peralihalan atau yang lebih sering disebut pancaroba. Bulan November tahun 2014, tanah longsor dan banjir mengalami peningkatan intensitas. Sebanyak 62 kali tanah longsor dan 48 kali banjir. Dampak kerugian dan kerusakan banjir dan longsor tahun 2014 tercatat, banjir Jakarta Rp 5 triliun, banjir dan longsor di 16 kabupaten atau kota di Jawa Tengah Rp 2,01 triliun, dan banjir bandang di Sulawesi Utara Rp 1,4 triliun, sedangkan banjir di Pantura Jawa (Banten – Jawa Barat – Jawa Tengah dan Jawa Timur) berdampak Rp 6 triliun (BNPB, 2014).
Ancaman banjir juga semakin sering berdampak pada lahan sawah, yang merupakan salah satu dampak dari perubahan iklim terhadap sektor pertanian. Peristiwa ini menyebabkan berkurangnya luas area panen, dan turunnya produksi padi secara signifikan. Peningkatan intensitas banjir secara tidak langsung dapat mempengaruhi produksi pertanian sawah, karena meningkatnya serangan hama dan penyakit tanaman. Berdasarkan Tabel 1.1, lahan sawah di Pulau Jawa termasuk Provinsi Banten memiliki potensi sangat rawan sampai tidak rawan terhadap banjir (Badan Litbang Pertanian, 2011).
Tabel 1.1: Luas Lahan Sawah yang Rawan Banjir atau Genangan di Pulau Jawa Provinsi Sangat Rawan (ha) Rawan (ha) Kurang Rawan (ha) Tidak Rawan (ha) Jumlah (ha) Jawa Barat 27.654 205.304 324.734 409.984 967.676 Banten 7.509 53.472 89.291 42.259 192.531 Jawa Tengah 49.569 503.803 188.688 303.346 1.045.406 DI Yogyakarta 15.301 34.459 13.622 63.382 Jawa Timur 105.544 306.337 533.447 359.63 1.304.958 Total 162.622 1.084.217 1.170.619 1.128.841 3.573.953 Presentase 4,5 30,3 32,7 32,5 100
Sumber: Badan Litbang Pertanian, 2011
Menurut Zaldi Dhuhana Kepala Seksi Tanaman Pangan Bidang Pertanian Dinas Pertanian Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Serang, luas tanaman padi yang terancam puso akibat banjir di Kabupaten Serang seluas 1.349 ha. Peristiwa ini terjadi meliputi di 15 Kecamatan, yaitu Kramat Watu 47 ha, Binuang 52 ha, Cikande 200 ha, Pamarayan 210 ha, Anyer 22,5 ha, Pontang 267 ha, Ciruas 193 ha, Kibin 10 ha, Keragilan 124 ha, Padarincang 15 ha, Lebak Wangi 7 ha, dan sekitar 201,5 ha di Kecamatan Tunjung Teja, Tanara, Kopo, dan Cikeusal (Antara News, 2014).
DAS Cidurian memiliki luas 928 km2 dan panjang 81,5 km, alirannya melalui empat Kabupaten yaitu Kabupaten Bogor, Tanggerang, Lebak dan Serang. Desa Renged merupakan salah satu desa yang dilalui oleh aliran DAS Cidurian, sehingga memiliki karakteristik wilayah hasil bentuklahan asal proses fluvial untuk itu potensial sebagai lahan pertanian. Kondisi tersebut sesuai dengan kondisi di lapangan yang sebagian besar penggunaan lahan wilayah penelitian untuk lahan sawah padi, yaitu sekitar 380,01 ha dari 474,76 ha luas total. Kondisi tersebut mengakibatkan sebagian besar penduduk wilayah penelitian bekerja sebagai petani.
Wilayah penelitian memiliki kemiringan lereng 0 - 2 % (datar – hampir datar), dan terletak di bagian hilir dari DAS Cidurian. Kondisi tersebut mengakibatkan wilayah penelitian rawan terhadap banjir luapan DAS Cidurian. Berdasarkan hal
tersebut, lahan sawah wilayah penelitian memiliki ancaman terhadap banjir luapan DAS Cidurian. Menurut informasi dari masyarakat setempat peristiwa banjir terjadi setiap tahun yaitu pada musim penghujan khususnya bulan Januari, dengan peristiwa banjir terbesar dalam 21 tahun terakhir terjadi pada tahun 1994, 2001, dan 2013. Selain itu, ketika terjadi banjir luapan Sungai Cidurian air memasuki permukiman dan lahan sawah padi wilayah penelitian, melalui saluran irigasi dan aliran sungai mati. Pada umumnya peristiwa banjir terjadi bertepatan dengan musim tanam padi, sehingga berpotensi menyebabkan terjadinya gagal tanam dan gagal panen. Peristiwa banjir yang mengakibatkan tergenangnya lahan sawah padi berdasarkan data tiga tahun terakhir dapat di lihat pada Tabel 1.2.
Tabel 1.2: Data Kejadian Banjir Desa Renged
Sumber: Laporan Bencana Alam Banjir UPTD Pertanian Kecamatan Binuang, 2013, 2014, dan 2015
Penelitian ini menganalisis risiko banjir DAS Cidurian terhadap lahan sawah padi dengan fokus kajian di skala lokal, yaitu Desa Renged Kecamatan Binuang Kabupaten Serang Provinsi Banten. Pengkajian analisis risiko banjir untuk analisis bahaya, penilaian kerentanan, dan analisis risiko, berdasarkan pendekatan bentuklahan dan persepsi masyarakat. Pendekatan bentuklahan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu bentuklahan asal proses fluvial, karena wilayah penelitian terbentuk oleh aktivitas Sungai Cidurian. Wilayah penelitian memiliki karakteristik satuan bentuklahan fluvial yang beragam, sehingga mempengaruhi variasi tingkat bahaya, kerentanan, dan risiko banjir wilayah penelitian. Pendekatan persepsi masyarakat lokal digunakan karena secara tidak langsung dapat meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan masyarakat setempat terhadap ancaman banjir, sehingga dapat mengurangi tingkat risiko. Selain itu, masyarakat merupakan sebagai elemen kunci dalam memperoleh informasi terkait karakteristik banjir, kerusakan dan kerugian banjir. Analisis bahaya banjir yang digunakan dalam
Tahun Durasi (Hari) Jumlah Terkena Banjir
Rumah Lahan Sawah (ha)
2013 11 49 195
2014 4 27 51
penelitian ini berdasarkan data peristiwa kejadian banjir terbesar selama 20 tahun terakhir yaitu pada tahun 1994, 2001, dan 2013.
1.2. Perumusan Masalah
Lahan sawah padi Desa Renged memiliki ancaman tinggi terhadap banjir luapan DAS Cidurian, yang berpotensi mengakibatkan kerugian bagi petani. Bahaya banjir apabila tidak dilakukan upaya penanggulangan akan berpotensi menyebabkan risiko yang lebih tinggi, berdasarkan hal tersebut dibutuhkan suatu upaya manajemen risiko banjir untuk mengurangi tingkat risiko. Manajemen risiko banjir meliputi analisis risiko, penilaian risiko, dan penurunan risiko, tetapi fokus kajian dalam penelitian ini yaitu analisis risiko. Pengkajian analisis risiko banjir merupakan tahapan yang penting dalam pengurangan risiko, karena analisis risiko yang dikaji terkait bahaya, kerentanan, dan risiko.
Analisis risiko banjir pada lahan sawah padi di tingkat lokal atau desa merupakan penting, karena kedetailan dalam pemetaan banjir menghasilkan informasi risiko banjir yang akurat dan terpercaya. Pada umumnya peneliti terdahulu dalam mengkaji analisis risiko banjir di tingkal lokal berdasarkan analisis data hidrologi-meteorologi, PGIS, dan data DEM (Digital Elevation Model), dalam penelitian ini untuk analisis risiko banjir peneliti mengintegrasikan pendekatan bentuklahan dan persepsi masyarakat yang tidak digunakan oleh peneliti sebelumnya.
Pendekatan bentuklahan menjadi penting dalam analisis risiko banjir, karena kajian geomorfologikal untuk tujuan hidrologikal harus menekankan pada peranan bentuklahan. Hal ini didasarkan atas banjir genangan ataupun jejak-jejaknya dapat dikenali dari pola bentuklahan pada dataran rendah. Wilayah penelitian memiliki satuan bentuklahan asal fluvial yang beragam seperti dataran aluvial, dataran banjir, tanggul alam, aliran sungai mati, dan dataran aluvial antropogenik. Keragaman satuan bentuklahan tersebut berpotensi menghasilkan nilai risiko banjir yang beragam.
Masyarakat lokal merupakan garis terdepan ketika terjadi bencana akan tetapi setiap individu dengan pengalaman yang sama terhadap bencana, berpotensi
memiliki persepsi yang berbeda terhadap kondisi lingkungannya. Kondisi tersebut dapat mempengaruhi perbedaan cara pandang masyarakat terhadap risiko. Berdasarkan hal tersebut, penting untuk mengetahui persepsi masyarakat terkait kondisi lingkungannya, yaitu terkait bahaya dan kerentanan. Persepsi masyarakat digunakan karena secara tidak langsung dapat meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan masyarakat terkait bencana, sehingga dapat meningkatkan kapasitas dan menurunkan tingkat kerentanan dan risiko. Selain itu, persepsi masyarakat merupakan pendekatan yang efektif untuk mengumpulkan data kejadian banjir terkait karakteristik, kerusakan dan kerugian banjir, karena informasi diperoleh dari masyarakat yang merasakan langsung akibat banjir. Berdasarkan hal tersebut maka perlu mengangkat permasalahan penelitian terkait: “Analisis risiko banjir pada lahan sawah padi dengan pendekatan bentuklahan dan persepsi masyarakat di Desa Renged DAS Cidurian”.
1.3. Keaslian Penelitian
Penelitian terkait masalah ini sebelumnya sudah dikaji oleh para ahli, tetapi setiap peneliti mempunyai karakter masing-masing yang berbeda dari peneliti terdahulu. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya yaitu terkait karakteristik wilayah, pendekatan yang digunakan, analisis bahaya, indikator kerentanan, dan metode skenario pembobotan kerentanan dan risiko. Selanjutnya, lokasi ini tidak digunakan sebagai area penelitian oleh peneliti sebelumnya. Perbandingan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya dapat dilihat pada Tabel 1.3.
Peneliti dan Tahun
Judul Metode Tujuan Hasil
Sreyasi Maiti (2007)
Defining a Flood Risk Assessment Procedure using Community Based Approach with Integration of Remote Sensing and GIS
– Based on the 2003 Orissa Flood India. 1. Interpretasi citra satelit 2. Analisis hidrologi 3. Survei 4. DEM
Penilaian risiko banjir menggunakan pendekatan berbasis masyarakat kombinasi dengan Remote Sensing dan GIS, berdasarkan analisis kerugian banjir Orissa tahun 2003.
Kedalaman dan durasi merupakan faktor karakteristik banjir yang mempengaruhi tingkat kerusakan pertanian padi, jute dan tebu.
Florensius Steven (2012)
Analisis Risiko Banjir dengan Pendekatan Participatory Geographic Information System (P-GIS) di Wilayah Perkotaan Kecamatan Muara Lawa Kabupaten Kutai Barat Provinsi Kalimantan Timur.
1. Participatory GIS 2. DEM 3. Skoring 4. Purposive Sampling 5. Analisis Kualitatif dan Kuantitatif
1. Mengidentifikasi tingkat bahaya banjir dan menyusun peta bahaya banjir.
2. Menilai tingkat kerentanan elemen berisiko terhadap banjir.
3. Menilai tingkat kerentanan infrastruktur maupun dampak yang dapat meningkatkan kerentanan elemen berisiko dan
menerapkan P-GIS dalam analisis risiko bencana banjir.
Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat persepsi masyarakat terhadap tingkat bahaya banjir dilingkungannya. Semakin tinggi tingkat bahaya maka tidak secara langsung dapat
meningkatkan persepsi masyarakat terhadap kejadian di lingkungan sekitarnya, hal tersebut dapat dipengaruhi oleh tingkat sosial ekonomi seperti pendidikan dan penghasilan.
Leo Agung Widiarto (2013)
Agriculture Loss Caused by 2007 Flood and Its Household Impact A Case Study In Sidoharjo Village, Sragen Regency, Indonesia. 1. Integrasi Local Knowledge dan Digital Terain Model (DTM) 2. Skoring dan pembobotan 3. Proportional Sampling
1. Pemetaan banjir 2007 di Desa Sidoharjo. 2. Penaksiraan kerugian produksi pertanian. 3. Kemampuan petani untuk menanam di
musim selanjutnya setelah banjir 2007.
1. Tingkat kedalaman banjir dan tahapan pertumbuhan padi menentukan tingkat kerentanan tanaman padi.
2. Nilai grid berdasarkan metode GIS, dapat digunakan untuk mengkalkulasi nilai kerugian produksi padi.
(2013) Tahun 2007 pada Daerah Pertanian di Kabupaten Sukoharjo, Klaten, dan Kota Surakarta, Jawa Tengah dengan Teknik Pengindraan Jauh.
2. Pengharkatan dan pembobotan 3. Purposive
Sampling
terletak dizona rentan banjir.
3. Menghitung kerugian yang terjadi, apabila terkena bencana alam banjir.
4. Mengevaluasi tingkat risiko banjir.
terhadap besarnya kerugian adalah parameter penggunaan lahan.
Toshio, O., Shigenobu, T., Youngjoo, K., Badri, B.S., dan Ai,S (2014) Flood Vulnerability Assessment in the Light of Rice Cultivation
Characteristics in Mekong River Flood Plain in Cambodia.
1. Digital Elevation Model (DEM) 2. Analisis
Hidro-Meteorologi
Untuk mengidentifikasi kerentanan banjir pada pertumbuhaan padi, dan masyarakat di Sungai Mekong, Kamboja.
Adanya korelasi antara kedalaman, durasi genangan, dan kondisi topografi terhadap tingkat kerusakan tanaman dan tempat tinggal masyarakat.
Foudi, S., Osés-Eraso, N., dan Tamayo (2015)
Integrated Spatial Flood Risk Assessment: The Case of Zaragoza.
1. Analisis hidrologi dan hydraulik
2. DTM
Untuk estimasi nilai spasial ekonomi terhadap risiko banjir dengan elemen berisiko manusia, permukiman dan non permukiman, dan lingkungan.
3D model dan DTM baik digunakan untuk estimasi kedalaman,
kecepatan aliran dan luas permukaan banjir.
1.4. Tujuan Penelitian
Penelitian ini memiliki tiga tujuan, berikut Tabel 1.4 merupakan tujuan dan pertanyaan penelitian dalam penelitian ini.
Tabel 1.4: Tujuan dan Pertanyaan Penelitian
No Tujuan Pertanyaan Penelitian
1 Menganalisis bahaya banjir daerah penelitian berdasarkan data
kejadian banjir tahun 1994, 2001, dan 2013.
1.1Bagaimana kedalaman, durasi, dan periode ulang bahaya banjir, berdasarkan persepsi masyarakat?
1.2 Bagaimana distribusi spasial bahaya banjir wilayah penelitian?
2 Menilai tingkat kerentanan lahan sawah padi terhadap bahaya banjir.
2.1Bagaimana tingkat kerentanan lahan sawah padi terhadap bahaya banjir? 2.2Bagaimana distribusi spasial kerentanan
lahan sawah padi wilayah penelitian? 3 Menganalisis tingkat risiko banjir
daerah penelitian terhadap lahan sawah padi.
1.1Bagaimana tingkat risiko banjir daerah penelitian terhadap lahan sawah padi? 1.2Bagaimana distribusi spasial risiko banjir
wilayah penelitian?
1.5. Manfaat Penelitian
1. Manfaat teoritis
Hasil penelitian diharapkan dapat bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan, yaitu terkait analisis bahaya banjir, penilaian kerentanan lahan sawah padi, dan risiko banjir pada skala lokal. Berdasarkan pendekatan bentuklahan dan persepsi masyarakat, dengan memanfaatkan data banjir historis. 2. Manfaat praktis
Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan masukan kepada pemerintah setempat, khususnnya Dinas Pertanian Kecamatan Binuang. Informasi tersebut berkaitan dengan tingkat risiko banjir terhadap lahan sawah padi, dan distribusi spasialnya. Hal tersebut dapat dijadikan sebagai dasar informasi untuk merumuskan upaya mitigasi bahaya banjir, dalam rangka menjaga pola pertanian padi sawah dari ancaman banjir. Berdasarkan hal tersebut, tingkat risiko kerugian dan gagal panen petani akibat banjir dapat diminimalkan.