• Tidak ada hasil yang ditemukan

SEBUAH PENGANTAR KRITIK THOMAS PIKETTY T

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "SEBUAH PENGANTAR KRITIK THOMAS PIKETTY T"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

“SEBUAH PENGANTAR : KRITIK THOMAS PIKETTY TERHADAP PENERAPAN SISTEM HUKUM PAJAK

(STUDI KASUS : PERUBAHAN ATURAN PAJAK BUMI DAN BANGUNAN DARI PUSAT KE DAERAH”

(Disusun untuk memenuhi Tugas Hukum Pajak)

Oleh: Bakhrul Amal Nim: 1010214410026

(2)

A. PENDAHULUAN

Berbicara soal pajak, artinya berbicara pula soal bagaimana setiap orang berusaha memberikan kontribusinya terhadap suatu negara. Banyak orang beranggapan bahwa, dengan pajak, maka setiap warga negara telah dianggap sebagai warga yang tidak hanya sah tetapi juga taat dan ikut memberikan sumbangsih terhadap negara. Oleh karena itu, pajak, dulu dan sekarang, selalu menjadi perbincangan yang menarik. Bukan hanya karena pajak penting, tetapi juga, karena pajak menyangkut (kadang) hak-hak privat yang kemudian menjadi umum untuk kepentingan bangsa.

Menurut Alex Cobham dalam papernya yang berjudul Taxation policy and Development dikatakan bahwa :

“...Tax is a central but neglected element of development policy. The structure and administration of taxation are frequently omitted from discussion and research agenda. Questions of a primarily redistributive naturemay be deemed political, and so unsuitable for neutral economic analysis, and moreover as questions to be resolved by the democratic process in individual countries. On the other hand, many questions are posed in terms of system reform and these may instead be considered as purely ‘technical’ – matters of economic and bureaucratic efficiency to be settled by experts. As a result, tax generates neither the sort of attention given by independent empirical academic research to e.g. questions of optimal exchange rate arrangements, nor the level of NGO advocacy focus devoted to e.g. multinational investment behaviour...”1

Pajak nyatanya adalah suatu hal yang sentral tetapi elemen yang seringkali diabaikan dalam kebijakan pembangunan. Struktur dan administrasi perpajakan sering dihilangkan dari diskusi dan agenda penelitian. Pertanyaan yang terutama bersifat redistributif dapat dianggap politis, tidak cocok untuk analisis ekonomi netral, dan terlebih lagi sebagai pertanyaan yang harus diselesaikan oleh proses demokrasi daripada masing-masing negara. Namun, di sisi lain, banyak pertanyaan yang diajukan dalam hal reformasi sistem dan hal ini mungkin bukan dianggap sebagai murni 'teknis' –hal efisiensi ekonomi dan birokrasi yang harus diselesaikan oleh para ahli. Akibatnya, pajak menghasilkan jenis perhatian yang tidak diberikan oleh penelitian akademis empiris independen untuk misalnya pertanyaan pengaturan nilai tukar yang optimal, maupun tingkat LSM advokasi fokus ditujukan untuk misalnya perilaku investasi multinasional.

1

(3)

Ada beberapa pendekatan dalam melakukan suatu pemahaman tentang Pajak. Thomas Piketty berargumen, dahulunya, pajak hanya terfokus pada pajak bumi dan bangunan, namun, setelah abad ke-20 pajak mulai merangsek masuk pada pajak pendapatan dan gaji. :

To a first approximation, the tax burden is distributed proportionally to income. Indeed, the historical rise in the tax burden has been made possible by the ability of the government to monitor income flows in the modern economy and hence impose payroll taxes, profits taxes, income taxes, and value-added-taxes, based on the corresponding income and consumption flows. Before the 20th century, the government was largely limited to property and presumptive taxes, and taxes on a few specific goods for which transactions were observable. Such archaic taxes severely limited the tax capacity of the government and tax to national income ratios were low2

Dengan jelas dikatakan oleh Piketty bahwa, pajak bangunan dan terbatas pada sebuah pajak dari pemerintah dan untuk pajak rasio pendapatan nasional sendiri rendah. Artinya, pajak daripada bumi dan bangunan untuk era globalisasi saat ini adalah pajak yang memberikan sumbangan yang tidak lebih besar daripada pajak penghasilan. Piketty menemukan, pertama, pola bahwa pada era antara 1914 sampai paruh 1970-an dunia ditandai dengan surutnya kesenjangan. Dan pada paruh 1970 ke atas, kesenjangan itu kembali naik dan melonjak begitu cepat menuju kesenjangan yang tajam seperti selama abad ke-19. Dan kini, pada abad ke-20 yang berpindah menuju abad ke-21, kesenjangan itu jelas meluncur pada kecepatan yang lebih tinggi. Pola itu Piketty rumuskan dengan r > g. r adalah (rate of return) yang diartikan dengan tingkat keuntungan yang diperoleh dari investasi modal, sedangkan g (economic growth) menunjuk pada keseluruhan pertumbuhan ekonomi. Dengan kata lain, tinggi dan rendahnya kesenjangan ditandai oleh tingkat keuntungan akumulasi modal para kapitalis dibanding laju pertumbuhan ekonomi.3

Berbeda dengan Cobham, Piketty memandang bahwa pajak tidak hanya sebuah sistem pemungutan yang tergantung pada ideologi suatu negara, seperti yang misalnya Indonesia dengan Pancasilanya. Pajak juga tergantung pada sebuah tata kelola ekonomi suatu negara yang mana harus mengikuti trend global. Saat ini, kapitalisme adalah sarana yang dianggap paling cepat menumbuhkan ekonomi bangsa, maka tidak sedikit, nafas-nafas penerapan aturan yang membawa tata

2 Thomas Piketty dan Emanuel Saez,

Optimal Labor Income Taxation, (Cambridge : NBER Publications, 2012) hlm 4

3

(4)

kelola ekonomi secara kapitalisme masuk ke berbagai negara. Dan, Indonesia masuk ke dalam bagian suatu negara yang menuju ke arah penerapan ekonomi kapitalisme, yang mana pajak bumi dan bangunan tidak lebih penting dari pajak penghasilan.4 Alasan itu pula yang mungkin menjadi dasar, pajak bumi dan bangunan dialih fungsikan menjadi pajak daerah.

Berdasarkan apa yang disampaikan oleh Alex Cobham, maka, yang pertama: fokus penulisan paper ini bertumpu pada sistem normatif yang berlaku dan dikaitkan dengan realitas soal. Sifat penulisan multidisipliner ini bukan sifat yang mendalam untuk menjadi sebuah kajian yang lanjut. Akan tetapi, hanya sebagai sebuah pandangan yang mungkin saja bisa digunakan ataupun tidak tergantung dari bagaimana menanggapinya. Kedua: penulisan paper ini, pun tidak terpengaruh pada sistem perekonomian ataupun ideologi namun hanya pada benefit. Ketiga : paper ini lebih kepada mengkaji suatu perpindahan aturan mengenai Pajak Bumi dan Bangunan yang semula pajak Pemerintah Pusat menjadi pajak Daerah beserta implikasinya.

B. PENGERTIAN PAJAK

Dalam buku saku perpajakan yang dikeluarkan oleh Direktorat Jendral Pajak, pajak memiliki arti kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Sebab itu, pembayaran pajak merupakan perwujudan dari kewajiban kenegaraan dan peran serta Wajib Pajak untuk secara langsung dan bersama-sama melaksanakan kewajiban perpajakan untuk pembiayaan negara dan pembangunan nasional. Sesuai falsafah undang-undang perpajakan, membayar pajak bukan hanya merupakan kewajiban, tetapi merupakan hak dari setiap warga Negara untuk ikut berpartisipasi dalam bentuk peran serta terhadap pembiayaan negara dan pembangunan nasional.5

Berlawanan dengan itu, Heather Boushey dalam reviewnya mengenai buku Capital in The Tweenty-First Century mengungkapan, bahwasanya pajak dalam pandangan Thomas Piketty adalah :

4

Penerimaan perpajakan pada tahun 2015 direncanakan meningkat 10 persen dibanding target dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) tahun 2014 yang sebesar Rp1.246,1 triliun. Tahun depan, pemerintah memperkirakan penerimaan perpajakan akan mencapai Rp1.370,8 triliun. Sementara itu, pemerintah merencanakan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) tahun depan mencapai Rp388,04 triliun, meningkat 0,3 persen dibanding target PNBP dalam APBN-P 2014 yang sebesar Rp386,9 triliun.

http://www.kemenkeu.go.id/Berita/tahun-depan-pemerintah-rencanakan-penerimaan-pajak-naik-10-persen diunggah pada 21/11/2014

5 Direktorat Jendral Pajak,

(5)

He wants us to see taxation as the real vehicle of struggle. In his view, taxes are not important for what the government can buy but, rather, because they are the most effective way of boosting economic growth by containing a naturally unequal economic system. In order to have the kind of economic growth we saw in the middle of the twentieth century, we do not need workers to take over the means of production, we need to focus the state’s apparatus on taxing.6

Piketty sejatinya ingin melihat pajak sebagai kendaraan perang yang nyata, bukan lagi perang si miskin dan si kaya. Dalam pandangannya, pajak tidak mempersoalkan penting atau tidaknya negara dapat membeli apa nanti (import) karena itu hanyalah cara yang justeru paling mudah menumbuhkan kesenjangan ekonomi. Piketty pun memandang bahwa :

“...Taxation is not only a way of requiring all citizens to contribute to the fi nancing of public expenditures and projects and to distribute the tax burden as fairly as possible; it is also useful for establishing classifications and promoting knowledge as well as demo cratic transparency...”7

(...Pajak ini tidak hanya cara untuk mewajibkan semua warga negara untuk berkontribusi pada pendanaan belanja dan proyek-proyek publik dan untuk mendistribusikan beban pajak seadil-adilnya; hal ini juga berguna untuk membangun klasifikasi dan

mempromosikan pengetahuan serta demo demokratistransparansi...)

Gagasan Piketty ini pun melengkapi apa yang sudah disampaikan di atas. Ada setidaknya tiga hal yang dapat kita temukan dalam pemikiran Piketty soal pajak.:

1. Pajak digunakan sebagai sebuah tanggung jawab warga negara terhadap pembangunan negara.

2. Pajak, dengan sistem transparasinya, digunakan pula oleh Pemerintah dalam rangka memberikan politik kecerdasan bagai masyarakatnya. Dan

3. Pajak menjadikan suatu hubungan mutualisme yang jelas dan transparan.

6

Houshey, Taxes as Policy, (Chalange magazine vol. 57 edisi Mei/Juni 2014) hlm 84 7

Thomas Piketty, Capital in The Twenty-First Century (translated by Arthur Goldhammer),

(6)

C. PAJAK BUMI dan BANGUNAN

Sedangkan Pajak Bumi dan Bangunan adalah Pajak Negara yang dikenakan terhadap bumi dan atau bangunan berdasarkan Undang-undang nomor 12 Tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan Bangunan sebagaimana telah diubah dengan UndangUndang nomor 12 Tahun 1994. Pajak Bumi dan Bangunan adalah pajak yang bersifat kebendaan dalam arti besarnya pajak terutang ditentukan oleh keadaan objek yaitu bumi/tanah dan atau bangunan. Keadaan subjek (siapa yang membayar) tidak ikut menentukan besarnya pajak8.

1. Objek PBB adalah “Bumi dan atau Bangunan”:

a) Bumi: Permukaan bumi (tanah dan perairan) dan tubuh bumi yang ada di pedalaman serta laut wilayah Indonesia. Contoh: sawah, ladang, kebun, tanah, pekarangan, tambang.

b) Bangunan: Konstruksi teknik yang ditanam atau dilekatkan secara tetap pada tanah dan atau perairan. Contoh: rumah tempat tinggal, bangunan tempat usaha, gedung bertingkat, pusat perbelanjaan, emplasemen, pagar mewah, dermaga, taman mewah, fasilitas lain yang memberi manfaat, jalan tol, kolam renang, anjungan minyak lepas pantai.

2. Objek Pajak Yang Tidak Dikenakan PBB

Objek pajak yang tidak dikenakan PBB adalah objek yang :

a) Digunakan semata-mata untuk melayani kepentingan umum dibidang ibadah, sosial, kesehatan, pendidikan dan kebudayaan nasional yang tidak dimaksudkan untuk memperoleh keuntungan, seperti mesjid, gereja, rumah sakit pemerintah, sekolah, panti asuhan, candi.

b) Digunakan untuk kuburan, peninggalan purbakala atau yang sejenis dengan itu.

c) Merupakan hutan lindung, suaka alam, hutan wisata, taman

nasional, tanah penggembalaan yang dikuasai oleh desa, dan tanah negara yang belum dibebani suatu hak.

d) Digunakan oleh perwakilan diplomatik berdasarkan asas perlakuan timbal balik.

e) Digunakan oleh badan dan perwakilan organisasi internasional yang ditentukan oleh Menteri Keuangan.

3. Subjek Pajak dan Wajib Pajak

Subjek Pajak adalah orang pribadi atau badan yang secara nyata:

8 Direktorat Jendral Pajak,

(7)

a) mempunyai suatu hak atas bumi, dan atau; b) memperoleh manfaat atas bumi, dan atau; c) memiliki bangunan, dan atau;

d) menguasai bangunan, dan atau; e) memperoleh manfaat atas bangunan

Wajib Pajak adalah Subjek Pajak yang dikenakan kewajiban membayar pajak.

4. Cara Mendaftarkan Objek PBB

Orang atau Badan yang menjadi Subjek PBB harus mendaftarkan Objek Pajaknya ke Kantor Pelayanan Pajak (KPP) atau Kantor Pelayanan Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan (KP2KP) yang wilayah kerjanya meliputi letak objek tersebut, dengan menggunakan formulir Surat Pemberitahuan Objek Pajak (SPOP) yang tersedia gratis di KPP atau KP2KP setempat.

5. Dasar Pengenaan PBB

Dasar pengenaan PBB adalah “Nilai Jual Objek Pajak (NJOP)”. NJOP ditetapkan per wilayah berdasarkan keputusan Menteri Keuangan dengan mendengar pertimbangan Bupati/Walikota serta memperhatikan :

a) harga rata-rata yang diperoleh dari transaksi jual beli yang terjadi secara wajar;

b) perbandingan harga dengan objek lain yang sejenis yang letaknya berdekatan dan fungsinya sama dan telah diketahui harga jualnya; c) nilai perolehan baru;

d) penentuan Nilai Jual Objek Pajak pengganti.

6. Nilai Jual Objek Pajak Tidak Kena Pajak (NJOPTKP)

NJOPTKP adalah batas NJOP atas bumi dan/atau bangunan yang tidak kena pajak. Besarnya NJOPTKP untuk setiap daerah Kabupaten/Kota setinggi-tingginya Rp 12.000.000,- dengan ketentuan sebagai berikut :

a) Setiap Wajib Pajak memperoleh pengurangan NJOPTKP sebanyak satu kali dalam satu Tahun Pajak.

b) Apabila Wajib Pajak mempunyai beberapa Objek Pajak, maka yang mendapatkan pengurangan NJOPTKP hanya satu Objek Pajak yang nilainya terbesar dan tidak bisa digabungkan dengan Objek Pajak lainnya.

(8)

Dasar penghitungan PBB adalah Nilai Jual Kena Pajak (NJKP).

Besarnya persentase NJKP adalah sebagai berikut :

a) Objek pajak perkebunan adalah 40% b) Objek pajak kehutanan adalah 40% c) Objek pajak pertambangan adalah 40%

d) Objek pajak lainnya (pedesaan dan perkotaan):

o apabila NJOP-nya≥ Rp1.000.000.000,00adalah 40%

o apabila NJOP-nya < Rp1.000.000.000,00 adalah 20%

8. Tarif PBB

Besarnya tarif PBB adalah 0,5%

9. Rumus Penghitungan PBB

Rumus penghitungan PBB = Tarif x NJKP

a) Jika NJKP = 40% x (NJOP - NJOPTKP) maka besarnya PBB

o = 0,5% x 40% x (NJOP-NJOPTKP)

o = 0,2% x (NJOP-NJOPTKP)

b) Jika NJKP = 20% x (NJOP - NJOPTKP) maka besarnya PBB

o = 0,5% x 20% x (NJOP-NJOPTKP)

o = 0,1% x (NJOP-NJOPTKP)

10. Tempat Pembayaran PBB

Wajib Pajak yang telah menerima Surat Pemberitahuan Pajak Terutang (SPPT), Surat Ketetapan Pajak (SKP) dan Surat Tagihan Pajak (STP) dari KPP Pratama atau disampaikan lewat Pemerintah Daerah harus

melunasinya tepat waktu pada tempat pembayaran yang telah ditunjuk dalam SPPT yaitu Bank Persepsi atau Kantor Pos dan Giro.

11. Saat Yang Menentukan Pajak Terutang

Saat yang menentukan pajak terutang adalah adalah keadaan Objek Pajak pada tanggal 1 Januari. Dengan demikian segala mutasi atau perubahan atas Objek Pajak yang terjadi setelah tanggal 1 Januari akan dikenakan pajak pada tahun berikutnya.9

9

(9)

D. PENUTUP

Pemindahan pengaturan pajak bumi dan bangunan dari Pemerintah Pusat ke Pemerintah Daerah seyogyinya diharapkan mampu meningkatkan kualitas daerah. Asumsi dasarnya :

1. Setiap Pemerintah Daerah bahu membahu meningkatkan pembangunan setiap daerahnya untuk menumbuhkan rasio penyerapan yang lebih besar terhadap pajak bumi dan bangunnya.

2. Secara logis hal ini akan berimplikasi baik terhadap kas daerah.

Namun, di sisi yang lain, masyarakat daerah tentunya akan mengalami imbas daripada kebijakan baru ini. Lahan dan tempat tinggal mereka akan tergeser oleh bangunan yang lebih besar yang tentunya memiliki tarif yang lebih besar pula.

Memang, hak kepemilikan adalah suatu kebebasan, namun bukan berarti kemudian melanggengkan pemarjinalan terhadap masyarat rendah. Data menunjukkan, bagaimanapun, bahwa konsentrasi kekayaan adalah jelas menunjukkan bahwa persamaan hak di pasar tidak bisa menjamin kesetaraan hak. Di sini lagi, pengalaman Perancis cukup relevan dengan dunia sekarang ini, di mana banyak komentator tetap percaya, seperti Leroy Beaulieu yang melakukan lebih dari satu abad yang lalu, yang semakin dijamin pemenuhan seluruh hak milik, pernah pula pasar bebas, dan lebih "Murni dan lebih sempurna" persaingan yang cukup untuk memastikan yang adil, makmur, dan masyarakat yang harmonis. Sayangnya, tugas yang lebih kompleks. Oleh karenanya, yang lebih penting, menurut Piketty, adalah melihat keadilan dicapai secara efektif dan efisien di bawah aturan hukum, yang seharusnya berlaku untuk semua dan menurunkan dari pemahaman universal undang-undang untuk suatu debat demokratis.10

10

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertolak dari kurangnya motivasi peserta didik pada pembelajaran sehingga nilai peserta didik pada materi klasifikasi makhluk hidup rata-rata di

Kevalidan instrumen meliputi kesesuaian antara materi pembelajaran beserta tujuan pembelajaran dengan soal tes yang diberikan dan kesesuaian media gambar dengan

Tujuan dari penelitian ini adalah (1) Untuk mengetahui kelayakan media pembelajaran menggunakan Macromedia Captivate pada mata pelajaran menggunakan alat-alat ukur,

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa ukuran (size) perusahaan dan waktu penutupan akhir tahun buku secara statistik berpengaruh signifikan terhadap ketepatan waktu

Guru memberikan kesempatan pada peserta didik untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin pertanyaan yang berkaitan dengan gambar yang disajikan dan akan dijawab

Tugas dan Evaluasi Media &amp; Buku sumber 2 Mahasiswa dapat menjelaskan konsep pendidikan dan masyarakat • Pendidikan dan lingkungan sosial • Pendidikan dan kebudayaan

Pihak-pihak lainnya yang biasanya terlibat untuk mendukung sistem pembayaran Internet adalah penyedia sertifikat digital, baik untuk Visa (misalnya VeriSign) maupun

Hal ini menunjukan bahwa tidak ada perkara lain yang paling petama disebut Allah dalam Alquran dari ciri orang bertakwa selain beriman kepada perkara gaib.. Ini sekali lagi