PENGEMBANGAN PRODUK SUKUK
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah( Pasar Uang dan Pasar Modal Syariah )
Dosen : Yaumul Khair Afif
DI SUSUN OLEH KELOMPOK 6
NURSYAHRI SIMANJUNTAK
RAHMAH SUNDARI
RANI TAMALA
SUNDARY PERTIWI
ZELFIRA
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM
JAM’IYAH MAHMUDIYAH
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur senantiasa kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kesehatan kepada kita. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Baginda Rasullullah Muhammad SAW beserta keluarga, para sahabat dan umatnya, Amin.
Alhamdulillah Penulis dapat menyelesaikan tugas dari dosen pengampu mata kuliah Pasar uang dan Pasar modal syariah dengan judul “Pengembangan produk sukuk”.
Makalah ini disusun berdasarkan apa yang Penulis dapat dari sumber– sumber literatur lain yang relevan. Namun demikian Penulis menyadari jika adanya kekurangan–kekurangan di dalam makalah ini dan oleh karena kekurangan itu untuk dapat terlengkapi melalui diskusi serta bimbingan dan arahan dari dosen pengampu.
Cukup sekian yang dapat Penulis ungkapkan dalam kata pengantar ini, semoga dapat bermanfaat bagi para pembaca.
Penyusun
Kelompok VI
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...i
DAFTAR ISI...ii
BAB I PENDAHULUAN...1
A.LATAR BELAKANG MASALAH...1
B.RUMUSAN MASALAH...1
C.TUJUAN PENULISAN...1
A. Gambaran Umum Sukuk...2
B. Aspek Hukum Sukuk Musyarakah dan Istishna...7
C. Potensi Penerapan Sukuk Musyarakah dan Sukuk Istishna di Indonesia...8
BAB III PENUTUP...16
A. KESIMPULAN...16
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Konsep keuangan berbasis syariah Islam dewasa ini telah diterima secara luas di dunia dan telah menjadi alternatif baik bagi pasar yang menghendaki kepatuhan syariah (syariah compliance), maupun bagi pasar konvensional sebagai sumber keuntungan (profit source). Diawali dengan perkembangan yang pesat di negara-negara Timur Tengah dan Asia Tenggara, produk keuangan dan investasi berbasis syariah Islam saat ini telah diaplikasikan di pasar-pasar keuangan Eropa, Asia, bahkan Amerika Serikat. Selain itu, lembaga-lembaga yang menjadi infrastruktur pendukung keuangan Islam global juga telah didirikan, seperti Accounting and Auditing Organization for Islamic Institution (AAOIFI), International Financial Service Board (IFSB), International Islamic Financial Market (IIFM), dan Islamic Research and Training Institute (IRTI).
B. RUMUSAN MASALAH
1.Bagaimana perkembangan produk sukuk ?
2.Apa itu sukuk musyarakah dan sukuk istishna ?
C. TUJUAN PENULISAN
BAB II
PEMBAHASAN
PENGEMBANGAN PRODUK SUKUK
(SUKUK MUSYARAKAH dan SUKUK ISTISHNA) A. Gambaran Umum Sukuk
1.Sukuk
a.Pengertian Sukuk
Istilah sukuk secara terminology merupakan bentuk jamak dalam bahasa Arab yang berasal dari kata “sakk”, yang berarti sertifikat atau bukti kepemilikan. Dalam Shari’a Standard No.17 tentang Investmen Sukuk, Accounting AND Auditing Organization for Islamic Financial Institutions (AAOIFI) mendefinisikan sukuk sebagai berikut :
“Sukuk merupakan sertifikat bernilai sama yang mewakili bagian tak terpisahkan dalam kepemilikan suatu asset berwujud, manfaat atau jasa, atau kepemilikan dari asset suatu proyek atau aktivitas investasi tertentu, yang terjadi setelah adanya penerimaan danasukuk, penutupan pemesanan, dan dana yang diterima dimanfaatkan sesuai dengan tujuan penerbitan sukuk. Sementara itu, definisi sukuk menurut peraturan Bapepam dan LK Nomor IX.A.13 Tentang penerbitan efek syariah memberikan definisi sukuk sebagai berikut :
a. Aset berwujud tertentu (ayyam maujudat)
b. Nilai manfaat atas asset berwujud (manaful ayyam) tertentu baik yang sudah ada maupun yang akan ada
c. Jasa (al khadamat) yang sudah ada maupun yang akan ada
d. aset proyek tertentu (maujudat masyru’muayyam) dan atau
e. Kegiatan investasi yang telah ditentukan (nasyath ististmarin khashah).”
Adapun Dewan Syariah Nasional (DSN) Majelis Ulama Indonesia(MUI) belum menggunakan istilah sukuk dan masih menggunakan istilah obligasi syariah. Dalam Fatwa No.32/MUI/IX/2002 tentang obligasi syariah DSN-MUI mendefinisikan obligasi syariah sebagai :
“Suatu surat berharga jangka panjang berdasarkan prinsip syariah yang dikeluarkan Emiten kepada pemegang Obligasi Syariah yang mewajibkan Emiten untuk membayar pendapatan kepada pemegang Obligasi Syariah berupa bagi hasil serta membayar kembali dana obligasi pada saat jatuh tempo”.
b. Karakteristik Sukuk
c. Jenis Sukuk
Jenis Sukuk berdasarkan Standa Syariah AAOIFI No.17 tentang Instrument Sukuk, terdiri atas :
1. Sertifikat kepemilikan dalam asset yang disewakan
2. Sertifikat kepemilikan atas manfaat, yang terbagi menjadi 4 tipe : Sertifikat kepemilikan atas manfaat asset yang telah ada, sertifikat kepemilikan atas manfaat asset pada masa depan, sertifikat kepemilikan asset atas jasa pihak tertentu, dan sertifikat kepemilikan atas jasa pada masa depan.
3. Sertifikat salam
4. Sertifikat Istishna
5. Sertifikat murabahah
6. Sertifikat Musyarakah
7. Sertifikat muzara’
8. Sertifikat musaqa
9. Sertifikat mugharasa
1. Sukuk mudharabah
2. Sukuk musyarakah
3. Sukuk Ijarah
4. Sukuk Murabahah
5. Sukuk Salam
6. Sukuk Istishna
Disamping itu, AIMS juga membagi sukuk menjadi empat kelompok berdasarkan asset atau proyek yang menjadi dasar transaksinya, sebagai berikut :
1. Sukuk yang mewakili kepemilikan pada asset berwujud (sebagian besar berupa trasaksi sale and lease back atau direct lease)
2. Sukuk yang mewakili kemanfaatan atau jasa (mendasarkan pada transaksi sub lease atau penjualan jasa/sale of service)
3. Sukuk yang mewakili bagianekuitas dalam usaha atau portofolio investasi tertentu (berdasarkan murabahah, salam, atau istishna)
tertentu. Adapun sukuk yang mewakili piutang dalam bentuk uang ataupunn barang tidak dapat diperdagangkan (non-tradable sukuk).
2. Sukuk Musyarakah
a.Pengertian sukuk musyarakah
M. Taqi Usmani dalam bukunya An Introduction to Islamic Finance menyatakan bahwa musyarakah merupakan suatu kata dalam bahasa arab yang berarti membagi ( sharing). Dalam konteks bisnis dan perdagangan, sharing berarti usaha bersama yang semua partner membagi keuntungan dan kerugian dari perusahaan patungan tersebut. Berdasarkan AAOIFI, dijelaskan bahwa musyrakah yang dikenal saat ini merupakan kontraktual partnership atau sering disebut sebagai sharika al-aqd (AAOIFI Shari’a Standard No.12). Sharika al-aqd berarti perjanjian antara dua tau lebih pihak untuk menggabungkan asset, tenaga kerja atau kewajiban-kewajibannya untuk tujuan memperoleh keuntungan.
Definisi sukuk musyarakah dari beberapa sumber adalah sebagai berikut :
1. Berdasarkan UU No.19 tahun 2008 tentang SBSN, Sukuk dapat diterbitkan berdasarkan akad musyarakah, yang dalam pasal 1 musyarakah didefinisikan sebagai berikut :
“Akad kerjasama antara dua pihak atau lebih untuk menggabungkan modal, baik dalam bentuk uang Mupun bentuk lainnya, dengan tujuan memperoleh keuntungan, yang akan dibagikan sesuai dengan nisbah yang telah disepakati sebelumnya, sedangkan kerugian yang timbul akan ditanggung bersama sesuai dengan jumlah partisipasi modal masing-masing pihak”.
persekutuan (partnership) antara dua pihak atau lebih untuk membiayai usaha patungan (business venture) yang semua pihak memberikan kontribusi modal, baik dalam bentuk kas maupun barang untuk membiayai bisnis tersebut. Dengan ketentuan, setiap keuntungan dari usaha tersebut akan didistribusikan dan dibagikan berdasarkan rasio pembagian keuntungan yang telah disepakati dan setiap kerugian akan dibebankan kepada para pihak berdasarkan partisipasi ekuitasnya.
3. Menurut AAOIFI
Sukuk musyarakah yaitu sertifikat yang menyatakn nilai yang sama yang diterbitkan untuk membiayai proyek baru, mengembangkan proyek yang sudah ada atau membiayai suatu aktivitas bisnis berdasarkan kontrak kerjasama sehingga pemegang sertifikat merupakan pemilik proyek atau asset dari kegiatan tersebut sesuai dengan saham mereka masing-masing, dengan sertifikat muayarakah yang dikelola berdasarkan partisipasi atau mudharabah atau suatu agen investasi.
b.Karakteristik sukuk musyarakah
Sesuai dengan definisnya salah satu karakteristik sukuk musyarakah, terkait konsep pembagian keuntungan dan kerugian adalah setiap keuntungan yang diperoleh dari kegiatan usaha musyarkah akan didistribusikan kepada setiap pihak yang berserikat sesuai dengan rasio keuntungan (nisbah) yang etlah disepakati sebelumnya. Begitu juga, apabila terjadi kerugian akan ditanggung bersama oleh para pihak sesuai dengan kontribusi modal masing-masing.
Karakteristik tersebut sejalan dengan kegiatan investasi yang didalamnya masih terdapat hal-hal yang belum dapat diprediksikan, antara lain berapa keuntungan yang akan diperoleh hal ini dapat dikatakan bahwa sukuk musyarakah merupakan salah satu bentuk pembiayaan syariah yang dalam strukturnya terkandung dnegan jelas konsep syariah, yaitu keuntungan muncul bersama resiko dan hasil usaha muncul bersama biaya.
3.Sukuk Istishna
a.Pengertian Sukuk Istishna
1. Berdasarkan UU No.19 tahun 2008 tentang SBSN, sukuk dapat diterbitkan berdasarkan akad istishna, yang dalam pasal 1, istishna didefinisikan sebagai berikut :
“Istishna adalah akad jual beli asset berupa objek pembiayaan antara pihak dimana spesifikasi, cara dan jangka waktu penyerahan, serta harga asset tersebut ditentukan berdasarkan kesepakatan para pihak.”
2.Berdasarkan terminology ilmu Fiqh menurut Prof.Dr.Abdullah Al-Muslih dan Shalah Ash Shawi, Istishna berarti perjanjian jual beli berdasarkan pemesanan terhadap barang jualan yang berada dalam kepemilikan penjual dengan syarat dibuatkan oleh oenjual, atau pemesan dengan cara khusus, sedangkan bahan bakunya berasal dari pihak penjual.
3.Menurut AAOIFI
b.Karakteristik Sukuk Istishna
Pemesanan menurut mayoritas pendapat ulama hukumnya adalah seperti jual beli as-salm, dilihat dari syarat-syarat atau komitmen dari perjanjian. Adapun pendapat Abu Hanifah dan Muhammad adalah sebagai berikut :
1. Pemesanan adalah perjanjian nonpermanent sebelum kepentingankedua belah pihak (pemesan dan pembuat) terlaksana, tanpa perlu diperselisihkan. Jadi, masing-masing di antara kedua belah pihak mempunyai hak pilih untuk membatalkan perjanjian sebelum itu.
2. Kalaupun pihak pembuat telah selesai mengerjakan barang pesanan, ia tetap memiliki hak pilih sebelum hasil buatannya itu dilihat oleh pesanan.Bahkan, ia boleh menjual kepada siapa saja yang dia kehendaki.
3. Namun, jika pihak pembuat telah berhasil membuatkan pesanan sesuai dengan criteria yang diminta, lalu pihak pesanan melihatnya, pihak pembuat sudah tidak memiliki pilihanlain. Hak pilih tinggal dimiliki oleh pihak pesanan. Dalam hal pihak pemesan setuju, pihak pemesan bias membelinya, dan kalau tidak, pihak pemesan bias membatalkannya. Karena kedudukannya seperti menjual barang yang tidak tampak.
Menurut Abu Yusuf dalam pemesanan sama sekali tidak ada hak pilih. Karena pemesanan itu adalah menjual barang yang tidak hadir namun dalam kepemilikan, seperti jual beli as-salm.
B. Aspek Hukum Sukuk Musyarakah dan Istishna
dibentuk khusus untuk tujuan penerbitan sukuk yang dikenal dengan sebutan SPV/E atau lembaga trustee. Sistem hukum di Indonesia lebih memungkinkan diterapkannya penggunaan SPV.
SPV merupakan badan hukum yang memiliki tujuan, pekerjaan tertentu, dan bersifat sementara. Oleh karena itu, kewenangan SPV terbatas pada hal-hal yang diperlukan untuk mencapai tujuan tertentu tersebut dan jangka waktunya akan berakhir ketika tujuan tersebut telah tercapai. Umumnya, SPV digunakan perusahaan untuk mengisolasi perusahaannya dari risiko keuangan atas suatu proyek. SPV dapat dimiliki oleh satu atau lebih pihak meskipun beberapa yurisdiksi mensyaratkan adanya pembatasan kepemilikan untuk setiap pihak. SPV dapat menerima peralihan, memiliki, dan mengalihkan asset.
SPV pada umumnya dikenal di Negara-negara dengan tradisi hukum Eropa Kontinental. Hal ini karena dalam Negara dengan tradisi hukum Eropa Kontinental tidak memungkinkan terjadinya pembentukan trustee. Trustee dibentuk atas dasar adanya penyerahan kepemilikan atau manfaat atas suatu asset dari settlor ( pihak yang menyerahkan asset) kepada trustee melalui kuasa mutlak. Hal ini mengakibatkan kekayaan tersebut dikuasai dan dikelola oleh trustee dan asset tersebut tidak dapat ditarik kembali oleh settlor. Harta kekayaan ( asset) yang diletakkan dalam trust menjadi harta yang terpisah dari harta kekayaan trustee. Kepailitan trustee tidak menjadikan asset yang berada dalam trust menjadi harta. Dengan tidak dikenalnya konsep trustee sebagaimana tersebut di atas, untuk mengeluarkan hak milik dari pemilikan settlor dalam proses pengalihan asset diperlukan suatu lembaga independen (SPV) yang menerima pengalihan asset-aset dari settlor yang kemudian menjadi pemilik sah dari asset-aset tersebut.
berharga yang disimpan, dan dipelihara oleh indenture trustee, bersama-sama dengan seluruh harta kekayaan yang menjadi dasar penjaminan pemenuhan kewajiban yang lahir dari penerbitan surat berharga tersebut. Dengan demikian, SPV hanya memiliki satu orang kreditor, yang dalam hal ini diwakili oleh indenture trustee, yang merupakan “pemegang kuasa” dari seluruh investor pemegang sukuk yang dipelihara oleh indenture trustee (untuk kepenitngan seluruh investor atau menurut syarat-syarat perjanjian Perwaliamanatan).
C. Potensi Penerapan Sukuk Musyarakah dan Sukuk Istishna di Indonesia
Sukuk musyarakah dan sukuk istishna saat ini masih belum popular digunakan sebagai sarana pembiayaan oleh emiten. Sekalipun demikian, terdapat [eluang bagi emiten tertentu untuk menggunakan skema sukuk dengan basis akad musyarakah dan istishna tersebut.
Di beberapa Negara kawasan Timur Tengah, sukuk musyarakah dan sukuk istishna telah banyak diterbitkan oleh perusahaan. Di kawasan Asia, Malaysia dan Pakistan juga telah menggunakan sukuk musyarakah dan sukuk istishna untuk sumber pembiayaan perusahaan. Bagian ini akan membahas tentang potensi penerapan sukuk musyarakah dan sukuk istishna sebagai instrument pembiayaan di pasar modal bagi emiten.
1. Skema Penerbitan Sukuk Musyarakah
ditanggung bersama sesuai dengan jumlah partisipasi modal masing-masing pihak.
Konsep dasar musyarakah adalah bahwa para pihak melakukan suatu usaha dan jika usaha mendapat keuntungan maka keuntungan tersebut akan dibagi berdasarkan rasio/nisbah yang telah disepakati oleh para pihak. Sebaliknya, jika usaha tersebut mengalami kerugian ,kerugian tersebut akan dibebankan kepada para pihak sesuai dengan porsi penyertaan modalnya. Konsep ini sangat mengedepankan unsur keadilan diantara para pihak yang berserikat dalam usaha musyarakah. Konsep tersebut sering dikenal sebagai profit and loss sharing.
Konsep ini sesuai diterapkan dalam kegiatan investasi, domana dalam kegiatan tersebut masih terdapat hal-hal yang belum dapat diprediksikan antara lain berupa keuntungan yang akan diperoleh. Hal ini dapat dikatakan bahwa sukuk musyarakah merupakan bentuk pembiayaan syariah yang paling ideal karena dalam struktur ini terkandung dengan jelas konsep syariah, yaitu untung muncul bersama risiko dan hasil usaha muncul bersama biaya.
a.Akad
Dari pengertian umum musyarakah tersebut, terdapat beberapa unsur yang harus terpenuhi ketika akan menyusun perjanjian atau akad dalam penerbitan sukuk dengan menggunakan akad musyarakah, yaitu sebagai berikut :
1. Ada dua pihak atau lebih sebagai partner usaha dalam bermusyarakah.
2. Masing-masing pihak turut menyertakan modal, baik berupa uang maupun asset lain yang dapat dinilai dengan uang.
4. Tujuan untuk mendapatkan keuntungan (tijarah), bukan tolong-menolong (tabarru).
5. Keuntungan dibagikan berdasarkan rasio/nisbah yang telah disepakati sebelumnya oleh para pihak yang berserikat.
6. Jika terjadi kerugian, beban kerugian akan ditanggung bersama sesuai dengan proporsi atau partisipasi penyertaan modalnya.
b.Struktur
1.Struktur Musyarakah Tanpa SPV
Emiten sukuk dapat menggunakan berbagai struktur transaksi sesuai dengan kebutuhan. Akan tetapi , pemilihan struktur tersebut harus memerhatikan batas-batas yang diterapkan dalam hukum syariah sehingga kesyariahan dari sukuk yang diterbitkan nya tetap terjaga. Struktur ini merupakan bentuk paling sederhana atau bentuk dasar dalam penerbitan sukuk musyarakah.
Penjelasan dari struktur penerbitan sukuk musyarakah adalah sebagai berikut:
Penerbitan sukuk didahului dengan adanya proyek atau rencana proyek tertentu yang memerlukan pendanaan melalui penerbitan sukuk musyarakah.
Emiten menghitung nilai proyek tersebut dan menawarkan persentase tertentu dalam kepemilikan proyek kepada investor.
Laba yang dihasilkan dari proyek tersebut didistribusikan kepada emiten dan pemegang sukuk berdasarkan rasio yang telah diperjanjikan dalam kontrak penerbitan sukuk.
2.Struktur musyarakah dengan menggunakan SPV
Struktur penerbitan sukuk musyarakah dengan menggunakan SPV adalah sebagai berikut :
Emiten sebagai originator, menjual asset atau proyek yang akan didanai dengan sukuk kepada SPV.
SPV menerbitkan sukuk dan menawarkannya kepada investor, dan menerima dana hasil penjualan sukuk.
Hasil penjualan sukuk tersebut digunakan untuk membiayai proyek yang menjadi underlying asset.
Laba atau penghasilan yang diperoleh dari pelaksanaan proyek diterima oleh SPV, dan didstribusikan kepada pemegang sukuk berdasarkan nisbah yang telah diperjanjikan sebelumnya.
c.Underlying Aset
d.Potensi Emiten mayoritas non muslim, sekalipun untuk menggaet dana-dana segar dari Timur Tengah.
2. Skema Penerbitan Sukuk Istishna
Berdasarkan contoh struktur sukuk istishna yang ada di beberapa Negara, penyusunan
struktur sukuk istishna biasanya didahului dengan perjanjian pembelian istishna (istishna purchace agreement)antara penyandang dana ,dalam hal ini biasa lembaga keuangan atau insvertor ,dan pihak penerbit dalam hal ini perseroan atau SPC.dalam perjanjian tersebut diatur bahwa penerbit setuju untuk membangun dan menyerahkan serta menjual kepada investor atau lembaga keuangan suatu aset istishna. Harga pembelian istishna dengan nilai tertentu akan dibayarkan secara lump sum sekali kepada penerbit.
menerbitkan sukuk istishna sebagai bukti pembayaran yang akan datang dari harga penjualan istishna.
Karena sampai ini struktur sukuk yang ada di Indonesia masih terbatas pada struktur mudharabah dan ijarah, masih dimungkinkan untuk mengembangkan struktur sukuk lain, antara lain struktur sukuk istishna. Struktur dikembangkan dapat dikategorikan ke dalam sukuk istishna murni dan struktur istishna campuran (hybrid).
a. Akad
Dalam suatu struktur istishna murni, akad pokok yang digunakan hanyalah akad istishna,yaitu akad jual beli antara pihak pemesan dan pihak penjual dalam bentuk pemesanan pembuatan barang tertentu dengan kriteria dan persyaratan yang disepakati kedua belah pihak.
Terdapat beberapa unsur yang harus terpenuhi ketika akan menyusun perjanjian atau akad dalam penerbitan sukuk dengan menggunakan akad istishna :
1.Persyaratan pihak yang dapat menjadi pemesan dan pihak penjual wajib memiliki kecakapan dan kewenangan untuk melakukan perbuatan hukum menurut ketentuan dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
2.Hak dan kewajiban pemesan dan pihak penjual
a. Hak dan Kewajiban pemesan adalah :
1. melakukan pembayaran atas objek istishna sesuai dengan kesepakatan
3. menerima objek istishna dalam keadaan baik dan siap dioperasikan sesuai spesifikasi yang diperjanjikan.
4. menerima objek istishna sesuai dengan waktu dan tempat yang disepakati
5. pemesan memiliki hak khiyar (hak memilih) untuk melanjutkan atau membatalkan akad apabila terdapat cacat atau barang yang tidak sesuai dengan kesepakatan.
b.Hak dan Kewajiban penjual adalah :
1. memperoleh pembayaran dengan jumlah dan cara sesuai yang diperjanjikan
2. mengetahui secara jelas objek istishna
3. menyediakan objek istishna sesuai dengan spesifikasi sesuai kesepakatan
4. menjamin objek istishna tidak cacat atau tidak berfungsi
5. menyediakan objek istishna sesuai dengan waktu yang diperjanjikan.
3.Persyaratan akad istishna
1. Identitas pemesan dan penjual
3. Harga jual dan cara pembayarannya
4. Ketentuan jaminan dan asuransi
5. Jangka waktu istishna
6. Tempat dan waktu penyerahan
7. Ketentuan mengenai pengakhiran transaksi yang belum jatuh tempo
8. Ketentuan mengenai biaya-baiya yang ditanggung oleh masing-masing pihak apabila terdapat kerusakan, kehilangan, atau tidak berfungsinya objek istishna.
9. Hak dan tanggung jawab masing-masing pihak.
4.Persyaratan objek istishna
1. tidak beretntangan dengan prinsip syariah
2. ciri dan spesifikasi harus jelas dan dapat diakui sebagai utang serta wajib dituangkan secara tertulis dalam akad
3. penyerahan barang, baik seluruh maupun sebagian dari penjual kepada pemesan, wajib dituangkan secara tertulis dalam akad, yang meliputi waktu, dan cara penyerahan. Penyerahan dilakukan setelah waktu kad berdasarkan kesepakatan.
5. dalam hal terdapat cacat atau barang tidak sesuai dengan kesepakatan, pemesan memiliki hak khiyar (hak memilih) untuk melanjutkan atau membatalkan akad.
6. harga jual objek istishna ditetapkan secara tertulis dalam akad istishna da tidak boleh berubah selama masa istishna.
5.Pembayaran objek istishna
a.pembayaran objek istishna dapat dilakukan secara tunai dan atau cicilan sejak akad ditandatangani atau dengan cara pembayaran lain sesuai kesepakatan.
b.pembayaran tidak boleh dalam bentuk pembebasan utang.
c.pembayaran harus diketahui jumlah dan bentuknya, baik dalam bentuk uang, barang, atau manfaat sesuai dengan kesepakatan.
6.Selain wajib memenuhi hal-hal di atas dalam peraturan ini, dalam istishna dapat disepakati hal-hal berikut :
a.dalam memenuhi kewajibannya kepada pemesan, penjual dapat melakukan istishna lagi dengan pihak lain pada objek yang sama, dengan syarat istishna pertama tidak bergantung pada istishna kedua.
b.pembeli tidak diperkenankan untuk memungut MDC (Margin during construction) dari nasabah (shani’), karena hal ini tidak sesuai dengan prinsip syariah.
melalui Badan Arbitrasi Syariah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah.
b.Underlying Aset
Underlying aset yang biasanya digunakan dalam struktur sukuk istishna adalah proyek-proyek infrastruktur, ataupun barang-barang hasil manufaktur dari pabrik. Oleh karena itu, pengembangan struktur sukuk istishna di Indonesia yang sangat dimungkinkan dilakukan oleh perusahaan-perusahaan yang kegiatan usaha utamanya di bidang manufaktur ataupun infrastruktur.
c.Potensi Emiten
Pendanaan untuk pembangunan infrastruktur diperoleh melalui optimalisasi dana domestik, dan BUMN memiliki potensi dan peran strategis yang diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pembangunan infrastruktur tersebut. BUMN yang memiliki potensi untuk menerbitkan sukuk dengan akad istishna adalah BUMN yang bergerak langsung pada sector pembangunan dan penyelenggaraan jasa infrastruktur dengan cakupan bidang usaha yang sangat luas, seperti jalan tol, telekomunikasi, bendungan, pelabuhan,dll.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Istilah sukuk secara terminology merupakan bentuk jamak dalam bahasa Arab yang berasal dari kata “sakk”, yang berarti sertifikat atau bukti kepemilikan. Dalam Shari’a Standard No.17 tentang Investmen Sukuk, Accounting AND Auditing Organization for Islamic Financial Institutions (AAOIFI) mendefinisikan sukuk sebagai berikut :
“Sukuk merupakan sertifikat bernilai sama yang mewakili bagian tak terpisahkan dalam kepemilikan suatu asset berwujud, manfaat atau jasa, atau kepemilikan dari asset suatu proyek atau aktivitas investasi tertentu, yang terjadi setelah adanya penerimaan dana sukuk, penutupan pemesanan, dan dana yang diterima dimanfaatkan sesuai dengan tujuan penerbitan sukuk. Sementara itu, definisi sukuk menurut peraturan Bapepam dan LK Nomor IX.A.13 Tentang penerbitan efek syariah memberikan definisi sukuk sebagai berikut :
“Efek syariah berupa sertifikat atau bukti kepemilikan yang bernilai sama dan mewakili bagian yang tidak tertentu (tidak terpisahkan atau tidak terbagi (syuyu’ / undivided share)) atas :
a. Aset berwujud tertentu (ayyam maujudat)
b. Nilai manfaat atas asset berwujud (manaful ayyam) tertentu baik yang sudah ada maupun yang akan ada
c. Jasa (al khadamat) yang sudah ada maupun yang akan ada
e. Kegiatan investasi yang telah ditentukan (nasyath ististmarin khashah).”
DAFTAR PUSTAKA
Achsien,lggi H.2002. Investasi Syariah di Pasar Modal : Menggagas Konsep dan Praktek Manajemen Portofolio Syariah. Jakarta : Gramedia.
Ali,M.D. 1990. Azaz-azaz Hukum Islam (Hukum Islam I), Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Islam di Indonesia. Jakarta : Rajawali.
Ahmad Khursyid. 1997. Pembangunan Ekonomi dalam Perspektif Islam, dalam jAinur R.Sophian (ed), Etika Ekonomi Politik : Elemen-elemen Strategis