BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Permasalahan
Perkembangan Hukum Perbankan di Indonesia dalam tahun-tahun belakangan ini mengalami perkembangan yang sangat pesat, dan tentunya berpengaruh terhadap semakin meningkatnya perekonomian di Indonesia. Hal ini merupakan upaya Pembangunan Nasional yang berkesinambungan yang bertujuan untuk mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur yang berkualitas secara material dan spiritual berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
Hukum perbankan indonesia merupakan hukum yang mengatur masalah-masalah perbankan yang berlaku sekarang di Indonesia yang merupakan kumpulan hukum yang mengatur kegiatan lembaga keuangan bank yang mengatur kegiatan lembaga keuangan bank yang meliputi segala aspek, dilihat dari segi esensi, dan eksistensinya, serta hubungannya dengan bidang kehidupan yang lain.1
Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Republik Indonesia Nomor.
IV/MPR/1999 Tentang Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) tahun 1994-2004 menyebutkan bahwa tujuan pembangunan nasional adalah terwujudnya masyarakat Indonesia yang damai, demokratis, berkeadilan, berdaya saing, maju dan sejahtera, dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang didukung oleh manusia yang sehat, mandiri, beriman, bertaqwa, berakhlak mulia, cinta tanah air, berkesadaran hukum dan lingkungan, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, serta memiliki etos kerja yang tinggi dan berdisiplin.
Pada tahun 2009, ketika di seluruh dunia telah terjadi krisis global, Indonesia mampu lolos dari keterpurukan dengan menjadi salah satu dari hanya tiga negara yang mengalami pertumbuhan ekonomi selain Cina dan India. Keberhasilan Indonesia tersebut juga menjadikan Indonesia sebagai salah satu kekuatan ekonomi baru di dunia, khususnya di Asia.
Dalam rangka pembangunan nasional, Bank Indonesia bersama Pemerintah telah melakukan berbagai langkah-langkah guna membantu pertumbuhan dan peningkatan kemampuan yang ada dalam berbagai faktor, salah satunya dengan meningkatkan peran perbankan. Peningkatan peran perbankan bertujuan agar mampu berperan dalam tata
1 Muhamad Djumhana, Hukum Perbankan Di Indonesia, (Bandung : Citra Aditya Bakti, 2000), hlm. 1
ekonomi Indonesia melalui pembaharuan perundang-undangan di bidang perbankan yang mampu menjadi sarana penampung aspirasi masyarakat di Indonesia ini. Peranan Hukum dalam hal ini adalah sangat penting dalam menjaga ketertiban dalam masyarakat pada umumnya dan pelaksanaan sistem perbankan pada khususnya.
Dalam sistem perbankan, kita mengenal dengan adanya sistem bunga bank.
Bunga bank dapat diartikan sebagai balas jasa yang diberikan oleh bank yang berdasarkan prinsip konvensional kepada nasabah yang membeli atau menjual produknya. Bunga juga dapat diartikan sebagai harga yang harus dibayar kepada nasabah atau yang memiliki simpanan dengan yang harus dibayar oleh nasabah kepada bank atau nasabah yang memperoleh pinjaman.
Sistem bunga pada bank umum masih belum ada kesepakatan para ulama tentang hukumnya setiap penambahan terhadap utang baik kualitas maupun kuantitas, baik banyak maupun sedikit adalah riba yang diharamkan. Bunga di dalam hukum islam dapat dikatakan sebagai Riba. Riba menurut bahasa berasal dari kata Rabaa’ atau ribaan yang berarti Az Ziadah, tambahan, bertambah atau tumbuh.2 Sementara itu menurut golongan Imam Syafi’i riba ialah transaksi ringan imbalan tertentu yang tidak diketahui takaran kesamaannya maupun ukuran adalah pada barang sejenis sedang penundaan waktu penyerahan boleh jadi harga di salah satu barang itu telah berubah sifat riba. Sedangkan menurut golongan Hambali, Riba merupakan tambahan yang diberikan pada barang tertentu yakni barang yang ditukar atau ditunda dengan jumlah yang berbeda.3
Pengertian riba secara bahasa adalah tambahan, namun yang dimaksud riba dalam ayat Alqur’an, yaitu setiap penambahan yang diambil tanpa adanya satu transaksi pengganti atau penyeimbang yang dibenarkan oleh syariah.4 Larangan riba dalam hukum Islam diatur di dalam Alqur’an yang tidak diturunkan sekaligus, melainkan diturunkan dalam empat tahap antara lain:
1. QS. Ar-Ruum : 39
” Dan , sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia menambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan, apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan
2 Muhammad Mahmud Bably, Kedudukan Harta Menurut Pandangan Islam, terjemahan Abdul Fatah Idris, Kalam Mulia, Jakarta, 1989, hlm. 150
3 Ibid.
4 Zainuddin Ali, Hukum Perbankan Syariah, (Jakarta: Sinar Grafika, 2008), hlm. 89.
Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat-gandakan (pahalanya).”
2. QS. An-Nissa : 160-161
”Maka, disebabkan kezaliman orang-orang yahudi, Kami haramkan atas mereka (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah, dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang darinya, dan mereka memakan harta orang dengan jalan yang batil. Kami telah meyediakan untuk orang-orang yang kafir diantara mereka itu siksa yang pedih.”
3. QS. Ali Imran : 130
” Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.”
4. QS. Al-Baqarah : 278-279
”Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba) maka ketahuilah bahwa Allah dan Rasul-nya akan memerangimu, Dan, jika kamu bertobat (dari pengambilan riba) maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak pula dianiaya.”
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa di dalam Hukum Islam melarang adanya sistem bunga atau riba. Dimana intinya adalah Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Hal ini juga ditegaskan dalam Ijtima Ulama Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) menetapkan bahwa bank, asuransi, pasar modal, pegadaian, koperasi, dan lembaga keuangan lainnya maupun individu yang melakukan praktik pembungaan adalah haram. 5 Dengan demikian berdasarkan hal tersebut, maka masyarakat Islam dilarang untuk melakukan transaksi dengan lembaga keuangan bank konvensional.
Oleh karena itu maka diperlukan suatu lembaga perbankan yang mewadahi aspirasi dan kepentingan umat islam pada khususnya, hal ini dikarenakan bank konvensional yang selama ini menjadi acuan ternyata tidak cukup memberikan kenyamanan dalam melayani kebutuhan masyarakat, khususnya untuk umat Islam.
5 Ibid, hlm. 118.
Perbankan syariah diyakini dapat menjawab segala tantangan tersebut. Sekalipun Indonesia bukan negara Islam, tetapi Indonesia adalah negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam.6 Namun ternyata kebutuhan masyarakat Indonesia yang memeluk agama Islam terhadap suatu lembaga perbankan yang menjalankan usahannya berlandaskan prinsip syariah sangat diperlukan.
Perkembangan lembaga keuangan syariah merupakan fenomena yang cukup menarik ditengah-tengah upaya bangsa kita keluar dari krisis ekonomi yang kita alami selama ini. Dimulai sejak sekitar sepuluh tahun lalu dengan dimotori oleh perbankan syariah, saat ini industri keuangan syariah tumbuh dengan berbagai produknya ditengah- tengah masyarakat.7
Ciri-ciri sebuah Lembaga Keuangan Syariah dapat dilihat dari hal-hal sebagai berikut:8
a. Dalam menerima titipan dan investasi, lembaga Keuangan Syariah harus sesuai denga Fatwa Dewan Syariah Nasional ;
b. Hubungan antara investor (penyimpan dana), penggunaan dana, dan lembaga Keuangan syariah sebagai intermediasi institution berdasarkan prinsip kemitraan, bukan hubungan kreditor dan debitor;
c. Bisnis Lembaga Keuangan Syariah bukan hanya berdasarkan profit oriented, yakni kemakmuran di dunia dan kebahagiaan di akhirat;
d. Konsep yang digunakan dalam transaksi Lembaga Keuangan Syariah berdasarkan prinsip kemitraan bagi hasil, jual beli atau sewa menyewa gua transaksi komersial, dan pinjam-meminjam (qardh/ pembiayaan) guna transaksi sosial;
e. Lembaga Keuangan Syariah hanya melakukan investasi yang halal dan tidak menimbulkan kemudharatan serta tidak merugikan syariat Islam.
Indonesia selama ini memang sedikit tertinggal dalam perkembangan sistem perbankan syariah dibandingkan dengan negara-negara lain, khususnya negara-negara islam maupun yang mayoritas beragama islam. Dalam perkembangannya negara-negara lain sudah lebih maju dalam mencari solusi atas segala kekurangan yang selama ini
6 Sutan Remy Sjahdeini, Perbankan Islam dan Kedudukannya Dalam Tata Hukum Perbankan Indonesia, (Jakarta : Pustaka Utama Grafiti, 1999), hlm. 121
7 Himpunan Fatwa Dewan Syariah Nasional MUI, Sambutan Menteri Keuangan Republik Indonesia Boediono. (Jakarta: Gaung Persada, 2006) hlm. xix
8 Ali, Op.Cit., hlm. 59
terjadi pada sistem perbankan konvensional, dengan ribanya. Ternyata hal ini cukup meresahkan para ulama pada negara-negara tersebut yang berpendapat bahwa bunga merupakan riba yang dilarang di dalam hukum Islam. Bank syariah pertama kali diperkenalkan oleh Undang-Undang nomor 7 tahun 1992, waktu itu dinamakan dengan bank berdasarkan prinsip bagi hasil dan bank bagi hasil.9
Upaya intensif pendirian Bank Syariah di Indonesia dapat ditelusuri jejaknya sejak tahun 1988 di saat pemerintah mengeluarkan paket oktober (Pakto) yang berisi liberalisasi industri perbankan. Setelah adanya rekomendasi dari lokakarya ulama tentang bunga bank dan perbankan di Cisarua, Bogor, tanggal 19 – 22 Agustus 1990,yang kemudian diikuti dengan Undang-Undang Nomer 7 Tahun 1992 Tentang Perbankan, dimana Perbankan bagi hasil diakomodasikan.10 Oleh sebab itulah didirikan Bank pertama di Indonesia yang berbasis syariah Bank pertama yaitu adalah PT. Bank Muamalat Indonesia Tbk, yang didirikan pada tahun 1991. Hal ini merupakan awal dari konsistensi perbankan syariah saat ini, yang telah memberikan semangat baru terhadap dunia perbankan di tanah air. Ternyata munculnya bank syariah pertama ini mendapat respon yang sangat positif dari masyarakat, yang memang terutama dari masyarakat mayoritas muslim yang ada di Indonesia. Perbankan Syariah bertujuan menunjang pelaksanaan pembangunna nasional dalam rangka meningkatkan keadilan, kebersamaan, dan pemerataan kesejahteraan rakyat.11 Selain itu sistem ekonomi syariah mempunyai beberapa tujuan, diantaranya:
a. Kesejahteraan ekonomi dalam kerangka norma moral islam (dasar pemikiran QS.
Al-Baqarah ayat 2 dan 168; Al-maidah ayat 87-88 ; Al-Jum’ah ayat 10);
b. Membentuk masyarakat dengan tatanan sosial yang solid, berdasarkan keadilan dan persaudaraan yang universal (QS. Al-Hujaraat ayat 13, Al-Ma’idah ayat 8, Asy-syu’raa ayat 183);
c. Mencapai distribusi pendapatan dan kekayaan yang adil dan merata (QS, Al- An’aam ayat 165, An-Nahl ayat 71, Az-Zukhruf ayat 32):
d. Menciptakan kebebasan individu dalam konteks kesejahteraan sosial (QS. Ar- Ra’du ayat 36, Luqman ayat 22).
9 Rachmadi Usman, Aspek-Aspek Hukum Perbankan Di Indonesia, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2003) hlm. 40
10 Zainul Arifin, Memahami Bank Syariah, Lingkup Peluang, Tantangan dan Prospek, (Jakarta:Alvabet, 2000), hlm. 26
11 Ali, Op.cit, hlm 57
Pengembangan sistem perbankan syariah di Indonesia dilakukan dalam kerangka dual Banking system atau sistem perbankan ganda dalam kerangka arsitektur Perbankan Indonesia (API), untuk menghadirkan alternatif jasa perbankan yang semakin lengkap kepada masyarakat Indonesia. Secara bersama-sama, sistem perbankan syariah dan perbankan konvensional secara sinergis mendukung mobilisasi dana masyarakat secara lebih luas untuk meningkatkan kemampuan pembiayaan bagi sektor-sektor perekonomian nasional.
Produk-produk jasa yang diberikan oleh perbankan yang berbasis syariah antara lain : 1. Mudharabah, merupakan penanaman dana dari pemilik dana (shahibul maal) kepada pengelola dana (mudharib) untuk melakukan kegiatan usaha tertentu, dengan pembagian menggunakan metode bagi untung dan rugi (profit and loss sharing) atau metode bagi pendapatan (revenue sharing) antara kedua belah pihak berdasarkan nisbah yang telah disepakati sebelumnya
2. Musyarakah (Joint Venture), penanaman dana dari pernilik dana/modal untuk mencampurkan dana/modal mereka pada suatu usaha tertentu, dengan pembagian keuntungan berdasarkan nisbah yang telah disepakati sebelumnya, sedangkan kerugian ditanggung semua pemilik dana / modal berdasarkan bagian dana/modal masing-masing
3. Murabahah, yakni penyaluran dana dalam bentuk jual beli. Jual beli barang sebesar harga pokok barang ditambah dengan margin keuntungan yang disepakati 4. Takaful yaitu, usaha saling melindungi dan tolong menolong diantara sejumlah orang/ pihak melalui investasi dalam bentuk aset dan / atau tabarru' yang memberikan pola pengembalian untuk menghadapi resiko tertentu melalui akad atau perikatan yang sesuai dengan syariah.
5. Wadiah, akad penitipan barang / uang antara pihak yang mempunyai barang/uang dengan pihak yang diberi kepercayaan dengan tujuan untuk menjaga keselamatan, keamanan serta keutuhan barang/uang.
6. Sharf yaitu pertukaran mata uang asing dengan mata uang suatu negara begitu pula sebaliknya maupun antara mata uang asing dengan mata uang asing lainnya.12
Sebagaimana halnya dengan bank konvensional, pada bank syariah juga mempunyai peran sebagai lembaga perantara (intermediary) antara satuan-satuan
12 “Istilah Populer Perbankan Syariah”, http://www.bi.go.id/NR/IstilahPopulerPerbankanSyariah.pdf, diunduh tanggal 14 mei 2010.
kelompok masyarakat atau unit-unit ekonomi yang mengalami kelebihan dana (surplus unit) dengan unit-unit lain yang mengalami kekurangan dana (deficit unit). Melalui bank kelebihan dana-dana tersebut dapat disalurkan kepada pihak-pihak yang memerlukan dan memberikan manfaat kepada kedua belah pihak. Dalam hal ini perbankan syariah dapat berfungsi sebagai lembaga yang dapat membantu kelancaran pembangunan. Bank syariah dapat berperan untuk membantu atau bekerja sama dengan masyarakat yang memerlukan dana dalam menjalankan usahannya.
Fungsi perbankan sebagai penyalur dana ( fund lending ) kepada masyarakat adalah kegiatan usaha meminjamkan dana kepada masyarakat dalam bentuk pembiayaan.
Khususnya mengenai Bank Tabungan Negara Unit Usaha Syariah di Batam dalam hal ini Menurut ketentuan Pasal 19 ayat 2 butir (2) Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 Tentang Perbankan Syariah:
“Kegiatan usaha Unit Usaha Syariah (UUS) meliputi menyalurkan pembiayaan bagi hasil berdasarkan akad mudharabah, akad musyarakah, atau akad lain yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah”
Lembaga perbankan sebagai salah satu lembaga keuangan mempunyai nilai strategis dalam kehidupan perekonomian suatu negara. Lembaga tersebut dimaksudkan sebagai perantara pihak-pihak yang mempunyai kelebihan dana (surplus of funds) dengan pihak-pihak yang kekurangan dan memerlukan dana (lack of funds). Dengan demikian perbankan akan bergerak dalam kegiatan pembiayaan, dan berbagai jasa yang diberikan, bank melayani kebutuhan pembiayaan serta melancarkan mekanisme sistem pembayaran bagi semua sektor perekonomian.13
Pengertian pembiayaan menurut Pasal 1 ayat 25 nomor 21 Undang-Undang nomor 21 tahun 2008 tentang Perbankan Syariah, pembiayaan adalah penyediaan dana atau tagihan yang dipersamakan dengan itu berupa:
1. Transaksi bagi hasil dalam bentuk mudharabah dan musyarakah;
2. transaksi sewa menyewa dalam bentuk ijarah atau sewa beli dalam bentuk ijarah muntahiya bittamlik;
3. transaksi dalam bentuk piutang murabahah, salam atau istishna;
4. transaksi pinjam meminjam dalam bentuk piutang qardh, dan
5. transaksi sewa menyewa jasa dalam bentuk ijarah atau transaksi multijasa berdasarkan persetujuan atau kesepakatan antara bank syariah dan atau Unit usaha syariah (UUS) dan pihak lain yang mewajibkan pihak yang dibiayai dan
13 Djumhana, Loc. Cit. hlm. iix
atau diberi fasilitas dana untuk mengembalikan dana tersebut setelah jangka waktu tertentu dengan imbalan ujrah, tanpa imbalan atau bagi hasil.
Kegiatan pembiayaan yang dilaksanakan oleh perbankan tersebut merupakan salah satu faktor dalam suatu pembangunan, dimana dalam pembangunan ekonomi masyarakat, bank juga memiliki fungsi yang sangat penting dalam hal penyediaan fasilitas pembiayaan yang bertujuan untuk kelancaran usaha masyarakat tersebut. Pada dasarnya antara pembangunan dan pembiayaan merupakan sesatu yang tidak dapat dipisahkan, hal ini dikarenakan biaya Pembangunan berasal dari berbagai sumber antara lain dari pembiayaan bank, yang disalurkan baik oleh Bank Pemerintah maupun Bank swasta.14
Sistem pembiayaan pada Bank Konvensional dapat kita kenal dengan istilah kredit. Pengertian kredit seperti yang disebutkan dalam Pasal 1 angka 11 Undang- Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan menyebutkan bahwa Kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam-meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga.
Hubungan antara Bank syariah dengan nasabahnya bukanlah merupakan hubungan antara debitur dengan kreditur, melainkan hubungan kemitraan antara pemilik atau penyandang dana ( shahibul mal ) dengan pengelola dana ( mudharib ), untuk mengelola usahanya bersama, yang keuntungannya akan diperoleh dengan suatu kesepakatan bersama, dimana segala kerugian merupakan tanggung jawab penyandang dana, sementara pengelola dana tidak mendapatkan imbalan atas usahanya tersebut.
Dalam hal ini hubungan antara Penyandang dana dengan pengelola dana tercipta dalam suatu hubungan perjanjian. Hubungan Perjanjian tersebut berupa perjanjian kredit yang disepakati oleh kedua belah pihak yang mengadakan perjanjian. Menurut Pasal 1313 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, Pengertian perjanjian adalah:
”Perjanjian adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih”
Dalam Bank syariah, akad yang dilakukan memiliki konsekwensi duniawi dan ukhrawi karena akad yang dilakukan berdasarkan hukum islam. Seringkali nasabah
14 Mariam Darus Badrulzaman, Perjanjian Kredit Bank: Beberapa Masalah Hukum Dalam Perjanjian Kredit Bank Dengan Jaminan Hypotek serta Hambatan-Hambatannya Dalam Praktek di Medan, Cet. V, (Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 1991), hlm. 6
berani melanggar kesepakatan atau perjanjian yang telah dilakukan bila hukum itu hanya berdasarkan hukum positif belaka, tapi tidak demikian bila perjanjian tersebut memiliki pertanggungjawaban hingga yaumil qiyamah nanti.15
Perjanjian pembiayaan diperlukan dalam rangka melandasi kepentingan para pihak yang ada di dalam perjanjian tersebut, khususnya pemilik atau penyandang dana ( shahibul mal ) dengan pengelola dana ( mudharib ). Sementara itu secara teknis dalam pelaksanaan perjanjian pembiayaan pada umumnya biasanya pihak bank telah memiliki suatu bentuk perjanjian pembiayaan yang telah dipersiapkan dalam bentuk form, dimana yang isi dan syarat-syaratnya telah ditentukan sendiri oleh pihak bank yang kemudian isi perjanjian tersebut menjadi kesepakatan kedua belah pihak. Atas dasar kepercayaan tersebut, perjanjian pembiayaan yang disepakati tersebut merupakan suatu perjanjian pokok dari pembayaran hutang-hutang debitur dikemudian hari.
Pembiayaan dalam perbankan syariah dapat dalam bentuk kerjasama antara bank selaku pemilik dana dengan nasabah selaku pemilik usaha. Hal ini ada kemungkinan bahwa pemilik usaha dalam melaksanakan usahanya terdapat kendala dalam faktor keuangan atau finansial. Oleh karena itulah peran perbankan syariah dalam membantu sekaligus bekerjasama dengan pemilik usaha tersebut untuk mengembangkan usahanya.
Produk pembiayaan dalam hal ini antara lain akad musyarakah.
Musyarakah adalah akad kerjasama antara dua belah pihak atau lebih yaitu antara pihak bank syariah untuk melakukan suatu usaha atau membiayaai proyek secara bersama-sama dengan pihak nasabah sebagai inisiator proyek dengan suatu jumlah berdasarkan prosentase tertentu dari jumlah total proyek dengan dasar pembagian keuntungan dari hasil yang diperoleh dari usaha atau proyek tersebut berdasarkan prosentase bagi hasil yang telah ditetapkan terlebih dahulu. Dalam hal ini pembiayaan musyarakah yang dilakukan oleh pihak Bank dengan nasabahnya adalah dalam bentuk pembiayaan musyarakah konstruksi yaitu pembiayaan untuk konstruksi pembangungan perumahan.
Peran Notaris dalam pembiayaan musyarakah konstruksi ini adalah merupakan pejabat umum yang berwenang untuk membuat akta-akta otentik, khususnya dalam pembuatan akad-akad pembiayaan musyarakah konstruksi tersebut. Dalam prakteknya di dunia perbankan, Notaris merupakan mitra bank dalam membuat akta-akta untuk keperluan perbankan, dalam hal ini dalam pembuatan Akad-akad pembiayaan.
15 Afzalur Rahman, Economic Doctrines of Islam (Lahore : Islam Publication, 1990).
Dalam melaksanakan pemberian pembiayaan usaha atau kerjasama musyarakah, pada bank syariah menganut prinsip bagi hasil (mudharabah), pada dasarnya tidak memerlukan suatu jaminan hak kebendaan dari mudharib, namun hal ini tentunya dapat menimbulkan resiko yang besar apabila mudharib melakukan kecurangan dan tidak menjaga amanah atas apa yang dipinjamkan oleh shahibul maal. Oleh karena itu diperlukan usaha lain untuk memperkecil resiko yang ada yang dapat merugikan bank tersebut. Salah satu usaha tersebut adalah dengan memberikan syarat jaminan pada suatu akad pembiayaan yang diajukan oleh calon mudharib.
Jaminan tersebut berfungsi untuk menjamin pelunasan pembiayaan mudharib bila mudharib cidera janji atau pailit. Jaminan tersebut akan memberikan jaminan kepastian hukum kepada pihak perbankan bahwa dana daripada pihak bank akan tetap kembali dengan cara mengeksekusi jaminan pembiayaan perbankannya.16 Tanah merupakan benda yang lazim digunakan oleh debitur sebagai jaminan terhadap kreditur pada suatu kegiatan pembiayaan, dengan demikian bentuk pembebanannya dengan menggunakan lembaga hak tanggungan atas tanah. Hal ini bertujuan untuk memberikan jaminan keamanan pelunasan pembiayaan dan perlindungan terhadap pihak bank, dalam hal ini shahibul maal.
Di dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok- Pokok Agraria, telah menjelaskan bahwa hak jaminan atas tanah disebut dengan Hak Tanggungan. Sebagai kelanjutan dari pelaksanaan Undang-Undang Pokok Agraria Tersebut, maka munculah Undang-Undang Nomor 4 tahun 1996 tentang hak tanggungan atas tanah beserta benda-benda yang berkaitan dengan tanah, yang telah disahkan pada tanggal 9 April 1996. Dalam pasal 1 ayat 1 Undang Undang Hak Tanggungan (UUHT), disebutkan bahwa: 17
”Hak Tanggungan adalah Hak jaminan yang dibebankan pada hak atas tanah sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok- Pokok Agraria, berikut atau tidak berikut benda lain yang merupakan satu kesatuan dengan tanah itu, untuk pelunasan utang tertentu, yang memberikan kedudukan yang diutamakan kepada kreditur tertentu terhadap kreditur-kreditur lain.”
Di dalam ruang lingkup hak tanggungan dikenal suatu asas yaitu Droit de Preference, yaitu adalah dalam mengambil pelunasan piutangnya dari hasil penjualan tersebut kreditur pemegang hak tanggungan mempunyai hak mendahului dari pada
16 Rachmadi Usman, Op.Cit. hlm. 286.
17 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 Tentang Hak Tanggungan atas tanah beserta benda-benda yang berkaitan Dengan Tanah
kreditur-kreditur yang lain.18 Selain itu pula terdapat asas yang mengatur bahwa obyek hak tanggungan tersebut mengikuti obyeknya kemanapun obyek tersebut berada yaitu, Droit De Suit, dengan kata lain apabila obyek hak tanggungan tersebut berpindah tangan kepada orang lain, kreditur tetap dapat untuk menggunakan haknya untuk melakukan eksekusi jaminan tersebut.
Langkah yang ditempuh setelah perjanjian pokok dilaksanakan, pemberian hak tanggungan adalah dengan pembuatan Akta Pemberian hak Tanggungan (APHT) yang dibuat oleh Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT), sesuai dengan ketentuan pasal 10 ayat 2 Undang-Undang Hak Tanggungan, dimana Pemberian Hak Tanggungan dilakukan dengan Pembuatan Akta Pemberian Hak Tanggungan oleh PPAT sesuai dengan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku.
Pemberian Hak Tanggungan dalam pelaksanaannya dilakukan dalam bentuk akta, yang oleh pasal 17 Undang-Undang Hak Tanggungan mengatakan bahwa bentuk dan isi Akta Pemberian hak Tanggungan, bentuk dan isi buku tanah hak tanggungan, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan tata cara pemberian dan pendaftaran hak tanggungan ditetapkan dan diselenggarakan berdasarkan Peraturan Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 UUPA. Dalam pelaksanaannya, Perjanjian pembiayaan yang dibuat antara Shahibul maal dan mudharib pada perbankan syariah dengan jaminan hak atas tanah pendaftaran hak tanggungannya dilakukan oleh pihak mudharib.
Peran Notaris dalam perjanjian pembiayaan antara Bank syariah dengan debitur merupakan peran yang karena jabatannya selaku pejabat umum, hal tersebut dalam Pasal 15 ayat 2 huruf (f), Undang-Undang Nomor 30 Tahun Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris, yang menjelaskan bahwa Notaris berwenang untuk membuat akta yang berkaitan dengan pertanahan. Sementara itu, Pejabat Pembuat Akta Tanah dalam hal ini di dalam pasal 1 ayat (4) peraturan Jabatan Pembuat Akta Tanah merupakan pejabat umum, yang diberi wewenang untuk membuat akta pemindahan hak atas tanah, akta pembebanan hak atas tanah, dan akta pemberian kuasa membebankan hak tanggungan, yang masing-masing bentuknya ditetapkan oleh Menteri Negara Agraria atau Kepala Badan Pertanahan Nasional, dengan demikian akta-akta yang dibuat oleh Pejabat Pembuat Akta Tanah tersebut merupakan akta otentik.19
18 Boedi Harsono, Hukum AgrariaIndonesia : Sejarah Pembentukan Undang-Undang Pokok Agraria, Isi dan Pelaksanaannya, Hukum Tanah Nasional, Jilid I, ( Jakarta: Djambatan, 2003), hlm. 402.
19 Boedi Harsono, Op. Cit. Hlm. 435
Berdasarkan apa yang telah diuraikan secara singkat tersebut, penulis tertarik untuk menelitinya dalam sebuah tesis dengan judul :
PERAN NOTARIS / PPAT DALAM PERJANJIAN PEMBIAYAAN MUSYARAKAH KONSTRUKSI DENGAN JAMINAN HAK TANGGUNGAN ( Studi pada Bank Tabungan Negara Unit Usaha Syariah Batam )
1.2. Pokok Permasalahan
Berdasarkan uraian dan penjelasan pada latar belakang seperti yang telah penulis uraikan diatas, adapun pokok permasalahan yang akan dibahas dalam penulisan tesis ini adalah:
1. Bagaimana pelaksanaan perjanjian pembiayaan musyarakah konstruksi pada PT.
Bank Tabungan Negara, Unit Usaha Syariah, dengan jaminan hak tanggungan ? 2. Bagaimana peran Notaris dan Pejabat Pembuatan Akta Tanah dalam pelaksanaan
perjanjian pembiayaan musyarakah konstruksi dengan jaminan hak tanggungan pada PT. Bank Tabungan Negara, Unit Usaha Syariah di Batam?
1.3. Metode Penelitian
Pengertian dari metodologi adalah suatu kegiatan ilmiah yang seksama, penuh ketentuan dan tuntas terhadap suatu hal tertentu, dengan tujuan untuk mengembangkan pengetahuan manusia. Penelitian juga merupakan sarana mengembangkan ilmu pengetahuan yang menyangkut kegiatan-kegiatan menganalisa dan menggunakan metode yang sistematis dan konsisten terhadap suatu cara tertentu.20
Penelitian Ilmiah yag dilakukan dalam rangka pengungkapan suatu kebenaran memerlukan suatu metode penelitian. Pengertian dari penelitian adalah tiap usaha untuk mencari pengetahuan (ilmiah) baru menurut prosedur yang sistematis dan terkontrol melalui data empiris (pengalaman), yang artinya dapat beberapa kali diuji dengan hasil yang sama.21 Dalam suatu penelitian dan perkembangan ilmu pengetahuan, melakukan penelitian ini, penulis melakukan pengumpulan data kepustakaan yang bersifat yuridis- normatif yang mengacu kepada peraturan-peraturan yang tertulis atau hukum positif serta bahan-bahan hukum lain, yang berkaitan dengan permasalahan.22
20 Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, cet. III, (Jakarta: UI Press, 1986), hlm. 6
21 Rianto Adi, Metodologi Penelitian Hukum, (Jakarta: Fakultas Hukum Unika Atmajaya, 1996), hlm. 2
22 Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif, Cet. 8, (Jakarta : Rajagrafindo Persada, 2004), hlm. 12.
Data yang dipergunakan dalam penyusunan penulisan ini adalah data primer yang diperoleh melalui wawancara dengan pihak-pihak yang bersangkutan dan data sekunder diperoleh melalui literatur-literatur kepustakaan. Adapun alat pengumpulan data yang dipergunakan antara lain:
A. Bahan hukum primer
Yaitu menggunakan bahan-bahan hukum yang mengikat, seperti peraturan perundang undangan, antara lain:
1. Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945);
2. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (BW);
3. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 TentangPerbankan;
4. Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah;
5. Undang-Undang nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan Atas Tanah Berserta Benda-Benda Yang Berkaitan Dengan Tanah (UUHT).
6. Undang-Undang nomor 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris;
7. Peraturan Pemerintah nomor 24 Tahun 1997 Tentang Pendaftaran Tanah.
8. Fatwa Dewan Syariah Nasional-Majelis Ulama Indonesia Nomor: 08/DSN- MUI/IV/2000, Tentang Pembiayaan Musyarakah
9. Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia Nomor. 27/162/KEP/DIR tanggal 31 Maret 1995.
B. Bahan hukum sekunder
Yaitu buku-buku tentang hukum perbankan dan perbankan syariah, Buku-buku tentang Ilmu Hukum, majalah, dan bahan-Bahan hukum lain yang menunjang dan berkaitan dengan pokok permasalahan.
C. Bahan Hukum Tersier
Yaitu bahan-bahan penunjang yang dapat memberikan informasi seperti kamus umum dan ensiklopedia yang memberikan petunjuk dan penjelasan kepada bahan hukum primer dan sekunder.
Selain beberapa metode penelitian diatas, Penulis juga melakukan metode wawancara, yaitu mengadakan tanya jawab untuk memperoleh data primer secara langsung dengan narasumber yang dapat menunjang penelitian dan berhubungan pada lembaga perbankan syariah yaitu dengan melakukan wawancara dengan Bapak Setiadi sebagai Kepala Cabang pada Kantor Bank Tabungan Negara Indonesia Unit Usaha Syariah Batam.
1.4. Sistematika Penulisan BAB I : PENDAHULUAN
Bab ini merupakan pendahuluan yang merupakan pengantar yang berisi mengenai pertimbangan dan alasan penulisan tesis ini yang berkaitan dengan masalah pokok. Bab ini dibagi dalam beberapa sub bab, yaitu Pertama mengenai latar belakang masalah yang menjadi dasar penulis untuk membahasnya, Kedua mengenai pokok permasalahan. Ketiga mengenai metode penelitian. Keempat mengenai sistematika penulisan.
BAB II : PERAN NOTARIS / PPAT DALAM PERJANJIAN PEMBIAYAAN MUSYARAKAH KONSTRUKSI DENGAN JAMINAN HAK TANGGUNGAN ( Studi pada Bank Tabungan Negara, Unit Usaha Syariah Batam)
Merupakan bab yang membahas atau menganalisa mengenai peran dan fungsi Notaris dan Pejabat Pembuat Akta Tanah dalam perjanjian pembiayaan musyarakah Konstruksi pada Perbankan syariah, khususnya pada PT. Bank Tabungan Negara, Unit Usaha Syariah di Batam, juga Tinjauan hukum mengenai Perbankan syariah, hak tanggungan dan pengertian-pengertian yang terkait dalam penulisan thesis ini.
BAB III : PENUTUP
Bab ini berisi penutup dari penulisan tesis ini, dimana akan diuraikan mengenai kesimpulan dari hasil penelitian yang diperoleh dalam menyusun tesis ini, dan memberikan saran-saran terhadap apa yang telah diteliti. kesimpulan dan saran.