KEBERLAKUAN HUKUM AGAMA DI INDONESIA
Almitra Indira, 1306393774
Keberlakuan Hukum Agama Islam
Keberlakuan hukum Islam dalam sistem hukum nasional Indonesia adalah suatu hal yang tidak bisa kita pungkiri, mengingat Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki populasi tertinggi penduduk beragama Islam. Sejatinya, Islam telah diterima oleh bangsa Indonesia jauh sebelum penjajah datang ke Indonesia, meskipun belum ada kesepakatan para ahli sejarah Indonesia mengenai ketetapan masuknya Islam ke Indonesia. Terdapat pendapat yang mengatakan Islam masuk pada abad ke-1 Hijriah atau abad ke-7 Masehi, ada yang pula mengatakan pada abad ke-7 Hijriah atau abad ke-13 Masehi.1
Berlakunya hukum Islam bagi sebagian besar penduduk Hindia Belanda berkaitan dengan munculnya kerajaan-kerajaan Islam setelah runtuhnya Kerajaan Majapahit pada sekitar tahun 1518 M. Menurut C. Snouck Hurgronje sendiri, bahwa pada abad ke 16 di Hindia Belanda sudah muncul kerajaan-kerajaan Islam, seperti Mataram, Banten dan Cirebon, yang berangsur-angsur mengislamkan seluruh penduduknya.2
Namun, sebelum kedatangan Islam ke Indonesia, masyarakat sendiri telah hidup dalam suasana hukum adat. Hubungan antara hukum Islam dengan hukum adat banyak diungkapkan oleh beberapa teori, yaitu :
a. Teori reception in complexu
Van den Berg dalam teori nya reception in complexu mengatakan : “Selama bukan sebaliknya dapat dibuktikan, menurut ajaran ini hukum pribumi ikut agamanya, karena jika memeluk agama harus juga mengikuti hukum agama itu dengan setia.”3 Dengan demikian, menurut teori ini bagi setiap penduduk berlaku hukum agamanya masing-masing, dengan mana
1 Mohammad Daud Ali, Hukum Islam : Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Islam di Indonesia,
Rajawali Press, Jakarta, 1990. Hlm. 209
2 C. Snouck Hurgronje, De Islam in Nederlandsch Indie, alih bahasa S. Gunawan, Islam di Hindia Belanda, (Cet. II; Jakarta: Bhratara, 1983), hlm.10
dapat dikatan bahwa sesungguhnya hukum adat itu juga merupakan bagian hukum agamanya karena merupakan karena merupakan hasil resepsi dari agama. Menurut Soebardi, juga menunjukkan bahwa terdapat bukti-bukti yang menunjukkan bahwa Islam berakar dalam kesadaran penduduk kepulauan nusantara dan mempunyai pengaruh yang bersifat normatif dalam kebudayaan Indonesia.4
Materi teori reception in complexu ini kemudian dimuat dalam Pasal 75 RR (Regeeringsreglement) tahun 1855. Pasal 75 ayat (3) RR berbunyi : “Oleh hakim Indonesia itu hendaklah diberlakukan undang-undang agama (godsdienstigewetten) dan kebiasaan penduduk Indonesia”. Jadi, pada masa teori ini hukum Islam berlaku bagi orang Islam. Pada masa teori inilah dikeluarkannya stbl. 1882 no. 152 tentang pembentukan pengadilan agama (Priesterraad) disamping pengadilan negeri, yang sebelumnya didahului dengan penyusunan kitab yang berisi himpunan hukum Islam, pegangan para hakim, seperti Mogharrer Code pada tahun 1747, Compendium van Clootwijk pada tahun 1795, dan Compendium Freijer pada tahun 1761.5
b. Teori Receptie
Selanjutnya, muncul teori yang menentang teori Receptio in Complexu tersebut yaitu Teori Receptie (Resepsi). Menurut teori Resepsi, hukum Islam tidak otomatis berlaku bagi orang Islam. Hukum islam berlaku bagi orang Islam, jika ia sudah diterima (diresepsi) oleh dan telah menjadi hukum adat mereka. Jadi, yang berlaku bagi mereka bukanlah hukum Islam, melainkan hukum adat. Teori ini dikemukakan oleh Cornelis van Vollenhoven dan Cristian Snouck Hurgronje.6 Penerapan teori Resepsi ini dimuat dalam Pasal 134 ayat 2 IS (Indische
Staatsregeling), stbl. 221 tahun 1929, sebagai berikut : “Dalam hal terjadi perkara perdata antara sesame orang Islam akan diselesaikan oleh hakim agama Islam, apabila hukum adat mereka menghendakinya dan sejauh tidak ditentukan lain dengan suatu ordonansi”. Pemikiran Snouck Hurgronje tentang Teori Resepsi ini, sejalan dengan pendapatnya tentang pemisahan antara agama dan politik. Pandangannya itu sesuai pula dengan sarannya kepada pemerintah Hindia Belanda tentang politik Islam Hindia Belanda. Snouck Hurgronje menyarankan agar
4Mohammad Daud Ali, Op.Cit., hlm. 235
pemerintah Hindia Belanda bersifat netral terhadap ibadah agama dan bertindak tegas terhadap setiap kemungkinan perlawanan orang Islam fanatik. Islam dipandangnya sebagai ancaman yang harus dikekang dan ditempatkan di bawah pengawasan yang ketat.
c. Teori Receptie Exit
Sejalan dengan hal tersebut, ternyata banyak pemimpin-pemimpin Indonesia yang beragama Islam khususnya, menentang pemikiran Snouck Hurgronje tersebut yang menyandarkan keberlakuan hukum Islam pada hukum adat. Diantaranya perdebatan ini berlangsung pada saat penyusunan Piagam Jakarta. Terdapat dua pandangan yaitu pandangan yang menginginkan Indonesia didirikan sebagai negara Islam (dipelopori oleh Supomo) dan pandangan lain yang dikemukakan oleh Moh. Hatta yaitu negara sebagai negara persatuan nasional yang memisahkan urusan negara dan urusan Islam.
Hazairin berpendapat bahwasanya hukum agama itu bagi rakyat Islam dirasakannya sebagai
bagian dari perkara imannya.7 Pada akhirnya tentang keberadaan dan berlakunya teori resepsi
ini setelah Indonesia merdeka, Hazairin mengemukakan sebagai berikut: “Bahwa teori resepsi, baik sebagai teori maupun sebagai ketetapan dalam pasal 134 ayat 2 Indisch Staatsregeling sebagai konstitusi Belanda telah lama modar (mati), yaitu terhapus dengan berlakunya UUD 1945, sebagai konstitusi Negara Republik Indonesia”.8Jadi, menurut Hazairin,
teori Resepsi, yang menyatakan bahwa hukum Islam baru berlaku bagi orang Islam jika sudah diterima dan menjadi bagian dari hukum adatnya, sebagaimana dikemukakan oleh C.Snouck Hurgronje telah hapus atau harus dinyatakan hapus dengan berlakunya UUD 1945. Pemahaman inilah yang dimaksud dengan teori Receptie exit.9
Menurut teori Resepsi Exit, pemberlakuan hukum Islam tidak harus didasarkan atau ada ketergantungan kepada hukum adat. Pemahaman demikian lebih dipertegas lagi antara lain dengan berlakunya UU No. 1 tahun 1974, tentang perkawinan, yang memberlakukan hukum Islam bagi orang Islam (pasal 2 ayat 1),UU No. 7 tahun 1989 tentang peradilan Agama Instruksi Presiden No. 1 Tahun 1991 tentang Kompilasi Hukum Islam di Indonesia (KHI).
7Hazairin, Hukum Kekeluargaan Nasional, (Cet.III: Jakarta:Tintamas, 1982), hlm.7-8
8 Hazairin, Tinjauan Mengenai Undang-Undang Perkawinan No.1 Tahun 1974, (Cet:I; Jakarta:Tintamas, 1975), hlm. 8
d. Teori Receptio A Contrario
Menurut teori Resepsi Exit, pemberlakuan hukum Islam tidak harus didasarkan atau ada ketergantungan kepada hukum adat. Pemahaman demikian lebih dipertegas lagi antara lain dengan berlakunya UU No. 1 tahun 1974, tentang perkawinan, yang memberlakukan hukum Islam bagi orang Islam (pasal 2 ayat 1),UU No. 7 tahun 1989 tentang peradilan Agama Instruksi Presiden No. 1 Tahun 1991 tentang Kompilasi Hukum Islam di Indonesia (KHI).
Dalam perkembangan selanjutnya menurut Sayuti Thalib,10 ternyata dalam masyarakat telah berkembang lebih jauh dari pendapat Hazairin di atas. Di beberapa daerah yang dianggap sangat kuat adatnya, terlihat ada kecenderungan teori resepsi dari Snouck Hurgronje itu dibalik.
Umpama di Aceh, masyarakatnya menghendaki agar sosl-soal perkawinan dan soal warisan diatur menurut hukum Islam. Apabila ada ketentuan adat di dalamnya, boleh saja dilakukan atau dipakai, tetapi dengan satu ukuran, yaitu tidak boleh bertentangan dengan hukum Islam. Dengan demikian yang ada sekarang adalah kebalikan dari teori Resepsi yaitu hukum adat baru berlaku kalau tidak bertentangan dengan hukum Islam. Inilah yang disebut oleh Satyuti Thalib dengan teori Reseptio A Contrario.11
Keberlakuan Hukum Agama Kristen
Belanda dan Protugis merupakan dua negara yang memperkenalkan agama Kristen, yaitu Kristen Protestan dan Kristen Katolik di Indonesia. Sebagaimana kita ketahui bahwa Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya alam, komoditi utama yang menguntungkan serta melimpahnya rempah-rempah membuat bangsa barat tertarik datang ke Indonesia. Melalui bangsa Portugis yang datang ke Indonesia itu lah, agama Kristen Katolik tersebar ke Indonesia. Begitu pula dengan Kristen protestan yang tersebar hingga ke Indonesia melalui bangsa Belanda yang datang kemudian.12
Sebelum bangsa-bangsa Eropa tiba di Indonesia, pada umumnya rakyat telah memeluk agama Hindu, Buddha dan Islam. Keberadaan agama-agama itu didukung dengan berdirinya kerajaan-kerajaan bercorak Hindu-Buddha dan Islam. Dalam beberapa abad lamanya
10 Sayuti Thalib, Receptio A Contario, (Cet: III; Jakarta: Bina Aksara, 1982), jlm. 67 11 Ibid., hlm. 69
kebudayaan Hindu, buddha, atau Islam telah melekat di hati sebagian besar masyarakat Indonesia. Munculnya upaya perluasan kekuasaan kaum kolonial diikuti oleh upaya penyebaran agama kristen, namun pada tahap awal sulit untuk berkembang. Faktor-faktor penyebab sulit berkembangnya agama Kristen di Indonesia, yaitu sebagai berikut:
1. Pada umumnya agama Kristen dianggap identik dengan agama penjajah. 2. Pemerintahan kolonial tidak menghargai prinsip persamaan derajat manusia. 3. Sebagian besar rakyat Indonesia telah menganut agama Islam, Hindu, dan Buddha.
Menyadari akan kelemahan-kelemahan itu, para misionaris, biarawan, pendeta, aTaupun pekabar Injil menerapkan upaya lain yang dapat menarik simpati masyarakat. Upaya-upaya itu antara lain menyebarkan agama di daerah-daerah yang belum tersentuh Islam dan agama lain, mendirikan sekolah-sekolah, membangun rumah sakit, memberi santunan kepada rakyat miskin, membela kepentingan rakyat akibat penindasan kaum kolonial, dan sebagainya. Berkat kerja keras, akhirnya agama Kristen mulai berkembang di Indonesia.
Agama Kristen kemudian lebih berkembang di daerah-daerah yang tidak tersentuh Islam dan agama-agama lainnya. Dengan demikian, tidak pernah terjadi perang melawan Portugis atau Belanda yang dilatarbelakangi persoalan agama. Timbulnya reaksi masyarakat Indonesia terhadap kaum kolonialis/imperialis lebih disebabkan oleh sikap kesewenang-wenangan, ketidakadilan, dan penginjakan rasa kemanusiaan.
Keberlakuan Hukum Agama Hindu dan Budha
Masuknya agama Hindu dan Budha ke Indonesia dijelaskan oleh beberapa teori, yaitu:13
1. Teori Waisya
Menyatakan bahwa penyebaran agama Hindu ke Indonesia dibawa oleh orang-orang India berkasta Waisya, karena mereka terdiri atas para pedagang yang datang dan kemudian menetap di salah satu wilayah di Indonesia. Bahkan banyak di antara pedagang itu yang menikah dengan wanita setempat.
2. Teori Ksatria
Menyatakan bahwa penyebaran agama Hindu ke Indonesia dibawa oleh orang-orang India berkasta Ksatria. Hal ini disebabkan terjadi kekacauan politik di India, sehingga para ksatria yang kalah melarikan diri ke Indonesia. Mereka lalu mendirikan kerajaan-kerajaan dan menyebarkan agama Hindu.
3. Teori Brahmana
Menyatakan bahwa penyebaran agama Hindu dilakukan oleh kaum Brahmana. Kedatangan mereka ke Indonesia untuk memenuhi undangan kepala suku yang tertarik dengan agama Hindu. Kaum Brah¬mana yang datang ke Indonesia inilah yang mengajarkan agama Hindu kepada masyarakat.
4. Teori Arus Balik
Menyatakan bahwa penyebaran agama Hindu-Budha dilakukan oleh masyarakat pribumi. Masyarakat pribumi banyak yang dikirim ke negeri India untuk menuntut ilmu disana. Sekembalinya pelajar tersebut membawa ajaran Hindu-Budha kemudian menyebarkannya di Bumi Nusantara.
Agama Hindu-Budha terinternalisasi ke dalam kehidupan masyarakat di Indonesia melalui berdirinya kerajaan-kerajaan. Pada waktu itu, terbentuknya kerajaan Hindu-Budha seolah malah menjadi elemen terbentuknya beberapa kebudayaan/adat di masyarakat. Sehingga
banyaknya perpecahan bukanlah karena perbenturan antara agama dengan adat, melainkan antar kepentingan kerajaan itu sendiri.
Kesimpulan
Kembali kepada pertanyaan keberlakuan hukum agama di Indonesia, penting untuk menarik mundur melihat dari awal masuk serta keberlakuan agama tersebut di Indonesia. Sebagaimana pemaparan teori di atas dan apabila dihubungkan dengan situasi sekarang , keberlakuan hukum agama sekarang bagi masing-masing orang ada yang merupakan urusan privat, ada pula yang menjadi urusan publik dalam hal pemerintah berhak campur tangan.