3 1
PENGARUH
OVERREACTION
TERHADAP HARGA SAHAM
Umi Murtini Yonathan K Widyatmadja
Fakultas Bisnis Universitas Kristen Duta Wacana Jl. Dr. Wihidin Sudiro Husodo 5 - 25, Yogyakarta, 55224
ABSTRACT
This research aims to test the impact of market over reaction toward share prices on winner portfolio and loser portfolio. This is done using market adjusted model. The result indicates that there is an impact on over reaction toward share prices for loser portfolio and winner portfolio shares. This indicates that capital market efficiency in Indonesia is not yet strong. Overreaction happening on winner portfolio differs from loser portfolio.
Keywords: overreaction, winner portfolio, loser portfolio, market adjusted model
PENDAHULUAN
Salah satu motivasi investor melaku-kan investasi di pasar modal adalah untuk
memperoleh return. Untuk mendapatkan
return investor memerlukan informasi
yang relevan dalam pengambilan keputu-san investasi. Dengan informasi yang cukup investor akan membentuk portofolio untuk memaksimalkan return pada resiko yang mampu ditanggungnya.
Peristiwa yang dianggap dramatis oleh investor, dapat menyebabkan investor
bereaksi secara berlebihan (overreaction).
Reaksi berlebihan oleh investor di pasar modal dapat dilihat dengan adanya tran-saksi yang besar dan perubahan harga saham yang cukup signifikan. De Bondt dan Thaler (1985) menyatakan bahwa
overreaction yang dilakukan investor
me-nyebabkan saham yang sebelumnya
berki-nerja buruk (loser) menjadi membaik dan
sebaliknya saham yang sebelumnya
berki-nerja baik (winner) menjadi memburuk
setelah 36 bulan setelah ada informasi masuk ke pasar. Fenomena harga saham
yang tidak normal ini sebagai bukti bahwa pasar bereaksi secara berlebihan dalam merespon informasi. Fenomena reaksi berlebihan ini menyimpulkan bahwa pasar tidak efisien. Biasanya informasi bagus
(good news) dapat menyebabkan kenaikan
IHSG, sedangkan Informasi kurang bagus
(bad news)akan menyebabkan penurunan
IHSG.
Overreaction akan menyebabkan
perubahan kelompok saham loser menjadi
winner dan sebaliknya. Fenomena
overreaction dapat digunakan untuk
menguji efficient market hypotesis pasar
modal Indonesia. Dari beberapa event
study yang dilakukan oleh peneliti di
Indonesia menemukan bahwa efisiensi pasar modal di Indonesia termasuk setengah kuat. Penelitian ini bertujuan menguji efisiensi pasar modal Indonesia
dari sisi overreaction. Hal ini masih perlu
3 2
KAJIAN LITERATUR DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS
Efisiensi Pasar Modal
Pasar modal dikatakan efisien apabila pasar bereaksi dengan cepat dan akurat untuk mencapai harga keseimbangan baru yang sepenuhnya mencerminkan informasi yang tersedia, sehingga pasar modal yang efisien adalah suatu pasar dimana harga mencerminkan semua informasi (Sartono, 2000). Pasar efisien yang ditinjau dari sudut informasi saja disebut dengan efi-siensi pasar secara informasi. Sedang pasar efisiensi yang ditinjau dari sudut ke-canggihan pelaku pasar dalam mengambil
keputusan (sophisticated investor)
berda-sarkan informasi yang tersedia disebut dengan efisiensi pasar secara keputusan
(dicisionally efficient market). Fama
(1970) menyajikan bentuk efisiensi pasar
berdasarkan informasi menjadi weak form,
semi strong form dan strong.
Portofolio
Portofolio berarti sekumpulan inves-tasi. Portofolio dapat dikelompokkan
men-jadi portofolio winner dan portofolio loser.
Portofolio winner merupakan kelompok
saham yang konsisten mengalami kenaikan
harga, sedang portofolio loser merupakan
kelompok saham yang konsisten mengala-mi penurunan harga (Rahmawati dan Suryani, 2005).
Overreaction (Reaksi berlebihan)
Overreaction pada dasarnya
menya-takan bahwa pasar telah bereaksi secara berlebihan terhadap suatu informasi (De Bond and Thaler, 1985). Investor cende-rung menetapkan harga saham terlalu tinggi terhadap informasi yang dianggap bagus dan sebaliknya, cenderung menetap-kan harga terlalu rendah terhadap informa-si buruk. Korekinforma-si terhadap informainforma-si pada periode berikutnya yang terjadi secara berlebihan, signifikan dan berulang. Inilah
yang dikatakan overreaction. Beberapa
event yang tidak diantisipasi dapat
mempe-ngaruhi seluruh ekonomi yang ada dan harga saham secara signifika (naik atau turun). Ketika para pelaku pasar bereaksi berlebihan terhadap informasi tak terduga sebelumnya, maka saham-saham yang
go-longan loser akan mengungguli winner.
Beberapa peneltitian di Indonesia
telah dilakukan terhadap fenomena
overre-action. Penelitian Wibowo dan Sukarno
(2004) menguji saham harian selama tahun 2000 di Bursa Efek Jakarta. Hasil dari penelitian tersebut tidak ditemukan bahwa reaksi berlebihan berhubungan dengan ukuran perusahan, baik perusahaan kecil maupun perusahaan besar. Dalam
peneliti-annya juga ditemukan bahwa saham loser
mempunyai kecenderungan untuk menjadi
winner, tetapi winner tidak mempunyai
kecenderungan untuk menjadi loser.Hasil
penelitian ini sejalan dengan hasil peneli-tian Iswandari (2001).
Sukmawati dan Hermawan (2003)
melakukan penelitian mengenai
Overre-action Hypotesis dengan cara
pembentu-kan portofolio yang dijadipembentu-kan enam porto-folio, dimana portofolio tersebut terdiri
dari tiga portofolio golongan loser dan tiga
portofolio golongan winner. Pengujian
ke-beradaan reaksi berlebihan digunakan
un-tuk memprediksikan pola portofolio loser
mengungguli pola portofolio winner.Hasil
pengujian menunjukkan bahwa portofolio
loser terbukti mengungguli portofolio
winner, dan terjadi secara separatis dan
terpisah-pisah selama beberapa waktu. Fenomena pembalikan harga jangka pendek oleh Iswandari (2001) dengan menggunakan data harga saham harian selama tahun 1998 dan ditemukan bahwa reaksi berlebihan hanya terjadi pada
saham-saham loser dan bukan pada saham
winner dengan menggunakan model
mar-ket dan model disesuaikan rata-rata. Reaksi berlebihan yang terjadi pada saham
loser diduga karena periode data yang
3 3 1998 dimana pada tahun tersebut Indonesia
sedang mengalami krisis berat, sehingga para pelaku pasar ragu bahwa informasi yang diterimanya adalah informasi bagus. Sebagian peneliti menduga bahwa pem-balikan harga bukan karena reaksi
berle-bihan tapi karena pengaruh bid-ask spread.
Iswandari (2001) melakukan pengujian
juga pada pengaruh bid-ask spread
ter-hadap pembalikan harga saham loser tidak
pada saham winner karena saham yang
bereaksi berlebihan adalah saham loser
bukan pada saham winner.
Rahmawati dan Suryani (2005) melakukan penelitian menyimpulkan bah-wa terdapat indikasi reaksi berlebihan
(overreaction) yang ditandai dengan
porto-folio loser mengungguli portofolio winner.
Efek reaksi berlebihan ini terjadi tidak dalam kurun waktu yang konstan lama, tetapi terjadi secara terpisah-pisah atau se-paratis. Penelitian ini dapat juga mem-berikan penjelasan bahwa pasar modal di Indonesia, khususnya sektor manufaktur dalam kondisi efisiensi pasar dalam bentuk
lemah (weak form). Hasil penelitian ini
mendukung penelitian yang dilakukan oleh De Bondt dan Thaler dalam penelitian Sukmawati dan Hermawan (2003).
Di pasar modal terdapat informasi yang disediakan untuk para investor atau disebut dengan informasi publik, dan juga ada informasi yang tidak disediakan untuk para investor atau informasi privat. Harga saham dipengaruhi oleh informasi yang disediakan untuk investor. Berdasarkan kedua informasi ini menjadikan dua bias
psychology yang menyebabkan pasar
over-reaction dan underreaction. Bias tersebut
yaitu investor terlalu percaya diri terhadap
kebenaran dari informasi prifat (
over-confidence) dan bias self attribution yaitu
sifat dasar dari pribadi para investor.
Pengembangan Hipotesis
Overreaction Hyphotesis pada
dasar-nya medasar-nyatakan bahwa pasar telah reaksi
berlebihan terhadap suatu informasi.Secara psikologis, pelaku pasar cenderung mem-berkan reaksi dramatik terhadap berita yang kurang baik.De Bondt dan Thaler membagi portofolio dalam kelompok
portofolio winner loser. Rahmawati dan
Suryani (2005) menemukan indikasi
ove-rreaction yang ditandai dengan portofolio
loser mengungguli portofolio winner.
Ber-dasarkan penjelasan diatas maka, hipotesis penelitian ini adalah :
Ha : Overreaction berpengaruh terhadap
harga saham (portofolio loser
maupun winer)
METODA PENELITIAN
Pengambilan sampel penelitian
dila-kukan dengan metode purposive sampling,
dengan kriteria bahwa sahamnya selalu aktif diperdagangkan (minimal 200 hari dalam setahun) selama Januari 2004 sampai dengan 2008.Data yang digunakan
closing price harian diperoleh dari Pojok
BEI Universitas Kristen Duta Wacana.
Abnormal return dihitung dengan
menggunakan adjusted market model
dengan beberapa langkah penghitungan (Jogiyanto, 2008). Pertama, menghitung
abnormal return dari closing price masing
-masing saham. Rumusnya sebagai beri-kut :
ARi,t = Ri,t - ERi,t
Keterangan: ARi,t = Abnormal Return
Saham i pada periode t. Ri,t = return
sesungguhnya terjadi saham i pada periode
t. ERi,t = expected return (return yang
diharapkan) saham i padaperiode t.
Return sesungguhnya merupakan
re-turn yang terjadi pada periode t yang
merupakan selisih dari harga sekarang relatif terhadap harga sebelumnya. Rumus-nya adalah :
Ri,t =
Pi,t-1
3 4
Keterangan: Pi,t = harga saham sekarang.
Ri,t = yaitu harga penutupan hari itu. Pi,t-1
= Harga saham sebelumnya.
Dalam penelitian ini untuk
menentu-kan Expected Return menggunakan Market
Adjusted Model. Asumsi yang digunakan:
ERi,t= Rm,t , expected return = market
return (return pasar), maka rumus
abnor-mal return-nya:
ARi,t = Ri,t - Rm,t
Keterangan, ARi,t = abnormal return
sa-ham i pada periode t. Ri,t = return
sesungguhnya terjadi saham i pada periode t.
Gabungan (composite index) saham pada
waktu t. IHSGt-1 = IHSG (composite
index) saham pada waktu t-1
Average abnormal return untuk hari
ke t dapat dihitung berdasarkan rata-rata aritmetika sebagai berikut :
AARt =
Keterangan, AARt adalah Average
Ab-normal Return pada periode t. ARi,t
adalah Abnormal Return saham i pada
periode t. K = jumlah saham.
Pendeteksian overreaction dilakukan
dengan beberapa ketentuan. Jika, AR = 0
berarti return harga sesungguhnya sama
dengan return IHSG maka tidak terjadi
overreaction. Jika, AR = positif berarti
terjadi overreaction positif. Jika, AR =
negatif berarti terjadi overreaction negatif.
Dalam penelitian ini apabila ternyata
diketahui terjadi overreaction maka akan
dibandingkan antara AR positif dan AR negatif. Perbandingan ini dilakukan untuk menguji perbedaan antara AR positif dan AR negatif. Alat uji beda yang digunakan
adalah Independent Sample T Test.
HASIL PENELITIAN
Data yang digunakan dalam pene-litian ini berasal dari 80 perusahaan manu-faktur dengan jumlah data 97.937, yang
tergolong dalam portofolio winner 44.553
dan loser53.384 data. Overreaction yang
terjadi adalah overreaction positif dan
negatif. Dalam penelitian untuk
menunju-kan adanya overreaction dilihat dari AR
(Abnormal Return) yang terbagi dalam tiga
bagian yang ditunjukkan dari tabel di bawah ini :
Tabel 1
Ringkasan Hasil Overreaction Keterangan Jumlah
Data
Tidak terjadi
overreaction
Dari tabel 1 dapat dilihat bahwa
ada tiga kelompok dari Abnormal Return
yang dapat membuktikan terjadinya
over-reaction. Ketiga kelompok tersebut adalah
AR positif, AR negatif dan AR netral = 0
(tidak terjadi overreaction). Hasil data
tersebut digunakan untuk mengetahui jum-lah masing-masing kelompok yang memi-liki pengertian berbeda. AR positif
memili-ki pengertian bahwa Abnormal Return
memiliki kenaikan harga dari harga saham, AR negatif memiliki pengertian bahwa
Abnormal Return memiliki penurunan
har-ga dan menunjukan terjadinya
over-reaction negatif. Selain itu terdapat
∑ ARi,t k
3 5
Abnormal Return netral yang berarti tidak
terjadi kenaikan atau penurunan harga
sehingga tidak terjadi overreaction.
Uji t yang digunakan dalam
peneli-tian ini menggunakan Independent Sample
t Test yang bertujuan membandingkan
rata-rata dua grup yang tidak berhubungan satu dengan yang lain, apakah kedua grup tersebut mempunyai rata-rata yang sama.
Rata-rata abnormal return dapat dilihat
dalam table 2 di bawah
Tabel 2
Rata – rata Abnormal Return
Portofolio N Mean
Dari tabel 2 hasil overreaction
pasar terhadap harga saham manufaktur menunjukkan bahwa seluruh saham
golo-ngan loser memiliki mean sebesar –0.0203
dan saham golongan winner memiliki
mean sebesar 0.0247. Ini menunjukkan adanya perbedaan antara kedua kelompok
tersebut. Perbedaan rata-rata kelompok
winner dan loserakan di uji dengan uji
beda one sample T test untuk menguji
apakah perbedaan rata-rata tersebut berbe-da secara statistik. Hasil uji beberbe-da berbe-dapat dilihat dari tabel di bawah ini :
Tabel 3 Hasil Uji Beda
Keterangan F Sig. T df
Sig.(2 tailed)
AAR Periode 2004-2008
Equal Variances
Assumed 14147 .000 -7.991 1460 .000
Equal Variances not
Assumed -7.991 1.131.086 .000
Dari tabel 3 uji Independent
Samples Test dalam kolom Sig. (2-tailed)
darit-test for Equalityof Means adalah
0.00.Hal ini menunjukkan terdapat
over-reaction pasar terhadap harga saham
manufaktur. Perbedaan yang terjadi antara
overreaction winner dan overreaction
loser dapat dilihat dari hasil meandari
Hasil Uji Bedayaitu –0.0203 untuk saham
loser dan 0.0247 untuk saham winner.
PEMBAHASAN
Dengan melihat hasil dari uji statistik diatas dapat dikatakan bahwa terjadi reaksi
berlebihan yang ditandai dengan adanya
perbedaan mean antara Average Abnormal
Winnerdan Average Abnormal Loser. Hal
ini menunjukkan pasar telah bereaksi berlebihan terhadap suatu informasi. Inves-tor cenderung menetapkan harga saham terlalu tinggi terhadap informasi yang dianggap bagus dan sebaliknya, cenderung menetapkan harga terlalu rendah terhadap informasi buruk. Hal ini dapat diperkuat dengan hasil uji beda yang menghasilkan standar deviasi lebih besar kelompok
winner sebesar 0.00936 dari pada
kelom-pok loser sebesar 0.00586 yang
3 6
menunjukan reaksi yang berlebih para
investor dari pada loser meskipun kedua
bagian sama-sama menunjukan
overreac-tion. Karena overreaction terdeteksi baik
untuk loser maupun winner maka menun-jukkan bahwa pasar modal Indonesia
dalam keadaan lemah (weak form).
Terjadinya overreaction dapat
dise-babkan oleh perilaku investor yang
berusa-ha mendapatkan Abnormal Return atau
terpengaruh oleh informasi yang mereka dapat sehingga investor berperilaku irasional dan dilakukan secara emosio-nal karena investor khawatir jika informasi yang didapatkan adalah berita kurang baik yang dianggap dapat menyebabkan harga turun dan investor mengalami kerugian dan sebaliknya jika investor mendapatkan informasi yang baik investor juga akan segera membeli saham tersebut karena
investor mengharapkan return yang
mung-kin terjadi karena pengaruh dari informasi
tersebut. Jadi, overreaction investor dapat
mempengaruhi harga saham.
Overreaction yang terjadi dapat juga
memberikan pengaruh kepada perusahaan yang bersangkutan, ada yang mendapatkan pengaruh positif dan juga negatif.
Perusa-haan yang mengalami imbas dari
over-reaction yang negatif jika para investor
terpengaruh oleh suatu informasi yang dianggap informasi buruk menimbulkan perilaku irasional dan secara cepat akan menjual sahamnya sehingga nilai perusa-haan yang tercermin dari harga saham perusahaan turun dan secara tidak lang-sung perusahaan dianggap berkinerja buruk.Perusahaan yang mengalami imbas
positif dari overreactionini jika investor
terpengaruh oleh informasi baik sehingga investor beli saham perusahaan tersebut yang menyebabkan nilai perusahaan bertambah baik yang tercermin dari harga saham yang meningkat.
Dari hasil penelitian ini menunjukan
overreaction yang terjadi dapat
menimbul-kan pengaruh positif dan negatif yang sesuai dengan penelitan sebelumnya yang
telah dilakukan oleh De Bond and Thaler dalam Rahmawati dan Suryani (2005)
me-nyebutkan terjadinya overreaction dapat
menimbulkan portofolio loser
mengung-guli portofolio winner karena saham yang
memiliki harga saham rendah akan dicari olehinvestor yang memiliki asumsi untuk
mendapatkan Abnormal Returndan
porto-folio winner memiliki nilai dibawah
por-tofolio loser.
KESIMPULAN DAN SARAN
Hasil pengujian hipotesis yang me-nguji keberadaaan reaksi berlebihan terha-dap harga saham yang terjadi selama tahun pengujian menyimpulkan bahwa terdapat indikasi reaksi berlebihan dari portofolio
loserdan portofolio winner. Overreaction
dapat terjadi karena adanya suatu infor-masi yang dapat mempengaruhi investor dalam berinvestasi. Investor dapat terpe-ngaruh karena adanya berita baik berita
baik maupun berita buruk yang dapat
mempengaruhi harga saham sehingga
ter-jadi overreaction pasar.
Hasil pengujian perbedaan rata-rata
overreaction antara saham golongan loser
dan saham golongan winner dengan
meng-gunakan uji independent sample t-test,
menyatakan bahwa penghitungan
meng-gunakan Market Adjusted Model
meng-hasilkan adanya perbedaan yang signifikan
antara rata-rata overreaction seluruh
sa-ham golongan loser dengan seluruh saham
golongan winner. Hal ini menunjukkan
bahwa overreaction yang terjadi pada
saham winner berbeda dengan
overreac-tion yang terjadi pada saham loser.
Dalam penelitian ini penggunaan
penghitungan expected return
mengguna-kan market adjusted model yang diwakili
dengan indeks pasar dan model disesuai-kan rata-rata. Penelitian selanjutnya
hen-daknya dalam penghitungan expected
return sebaiknya menggunakan market
model, mean adjusted model dan market
3 7 terjadinya reaksi. Perlu juga dilakukan
pengujian harga saham triwulanan atau
tahunan pada Overreaction Hypothesis ini
supaya mendapatkan gambaran yang leng-kap tentang gejolak harga saham, apakah pasar efisien atau tidak efisien dan melengkapi periode-periode yang pernah dipakai penelitian tentang over reaksi.
Saran bagi investor jika mendapatkan informasi mengenai berita buruk maupun berita baik hendaknya jangan terburu-buru untuk bertindak dan berpikiran secara irasional dan emosional karena berita atau informasi yang didapat belum tentu kebenarannya. Maka diperlukan analisis lebih dalam mengenai efek atau dampak dari informasi tersebut lebih dalam.
DAFTAR REFERENSI
De Bond, W. dan Thaler, R. 1985. “Does Security Analysts Overreact?”, The American Economic Review. Volume 80.52-57.
Fama, F. E. 1997. “Market Efficiency, Long-Term Return and Behavioral
Finance”. Journal Of Financial
Economics, 49: 283-306.
Iswandari, L. 2001. “Pembalikan Harga di
Bursa Efek Jakarta”. Kompak, 3.
Jogianto, H. 2008. Teori Portofolio dan
Analisis Investasi, Edisi 5.
Yogya-karta: BPFE.
Rahmawati dan Suryani, S. 2005. Over Reaksi Pasar Terhadap Harga Saham Perusahaan Manufaktur Di Bursa Efek
Jakarta. Seminar Nasional Akuntansi
ke 8, Solo, 15-16 Sepetember.
Sartono, A. 2000. “Overreaction Of The
Indonesian Capital Market”. Gajah
Mada International Jurnal Of
Business, 2.
Sukmawati dan Daniel, H. 2003. “Over-react Hipothesis dan Price Earning Ratio Anomaly Saham-saham Sektor Manufaktur di Bursa Efek Jakarta”.