MATERI 1.1 CITA CITA YANG TINGGI DALAM

21 

Teks penuh

(1)

CITA CITA YANG TINGGI DALAM MENUNTUT ILMU

Di antara akhlak Islam adalah berhias diri dengan cita-cita tinggi, yang menjadi titik sentral alam

dirimu, baik untuk maju ataupun mundur, juga yang mengawasi gerak-gerik badanmu. Cita-cita yang tinggi bisa mendatangkan kebaikan yang tiada terputus dengan izin Allah, agar engkau bisa mencapai derajat yang sempurna, sehingga cita-cita itu akan mengalirkan darah kesatriaan dalam urat nadimu dan mengayunkan langkah untuk menjalani dunia ilmu dan amal. Orang lain tidak akan pernah melihatmu kecuali berada di tempat yang mulia, engkau tidak akan membentangkan tangan kecuali untuk menyelesaikan perkara-perkara yang penting

Cita-cita yang tinggi akan menghindarkanmu dari angan-angan dan perbuatan yang rendah dan akan memangkas habis batang kehinaan darimu seperti sikap suka menjilat dan basa-basi. Orang yang mempunyai cita-cita yang tinggi akan tegar, dia tidak akan gentar menghadapi masa- masa sulit. Sebaliknya, orang yang bercita-cita rendah akan menjadi penakut, pengecut, dan terbungkam mulutnya hanya oleh sedikit kelelahan.

Termasuk cita-cita yang tinggi adalah jangan sampai engkau mengharap milik orang lain. Karena, jika engkau menginginkan kepunyaan orang lain, lalu mereka memberikannya kepadamu, maka mereka akan memilikimu, karena perbuatan itu sebenarnya akan mengikatmu. Seandainya ada seseorang yang memberimu satu keping uang, maka tangannya akan lebih tinggi daripada tanganmu, sebagaimana digambarkan dalam sebuah hadits: "Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah." (HR Bukhari dan Muslim).

Jika engkau tahu sebuah kalimat yang iucapkan oleh Khalifah Ali bin Abu Thalib: "Nilai setiap orang tergantung pada apa yang dia kuasai." (Lihat Faidhul Qadiir [IV/110]). Ada yang mengatakan: "Tidaklah ada satu kalimat pun yang lebih bisa memberikan semangat bagi penuntut ilmu daripada kalimat ini." Maka, waspadalah terhadap kesalahan orang yang berkata: "Generasi awal tidaklah meninggalkan apa pun untuk yang sesudahnya," akan tetapi lafazh yang benar adalah: "Berapa banyak yang ditinggalkan oleh generasi pertama untuk generasi berikutnya." Maka, kewajibanmu adalah memperbanyak belajar Sunnah Nabawiyah, dan curahkan kemampuanmu dalam menuntut, menimba, serta meneliti ilmu. Karena, setinggi apa pun ilmumu, engkau harus tetap ingat bahwa: "Berapa banyak yang masih ditinggalkan oleh generasi pertama untuk generasi selanjutnya."]

(2)

dan mengajar mempunyai banyak tulisan, karangan-karangan ilmiah, dan pengalaman-pengalaman yang sulit ditemukan di dalam kitab.

. Curahkan kemampuanmu untuk menjaga ilmu dengan mencatatnya, karena dengan mencatat akan aman dari hilangnya ilmu itu, juga bisa mempersingkat waktu kalau ingin membahasnya saat dibutuhkan, terutama beberapa masalah ilmiah yang terdapat bukan pada tempat yang selayaknya. Dan di antara faidahnya yang paling besar adalah saat sudah berusia lanjut dan kekuatan badan sudah melemah, maka engkau masih mempunyai ilmu yang masih bisa ditulis tanpa harus membahas dan menelaahnya kembali.

MATERI 1.2

ANJURAN MENUNTUT ILMU DALAM ISLAM

Manusia dilahirkan dan datang ke dunia ini dalam keadaan polos, telanjang, buta ilmu pengetahuan, walaupun ia dibekali dengan kekuatan dan pancaindera yang dapat menyiapkannya untuk mengetahui dan belajar.

Allah swt.berfirman:

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam Keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran,penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” (An-Nahl 78).

(3)

sebagai pembentuk kepribadian manusia. Allah swt.berfirman:

“Dan Sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai.” (Al-A’raaf 179)

“Katakanlah: "Perhatikanlah apa yaag ada di langit dan di bumi. tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan Rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman". (Yunus 101).

“Dan Apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan Allah.” (Al-A’raaf 185).

“Katakanlah: "Sesungguhnya aku hendak memperingatkan kepadamu suatu hal saja, Yaitu supaya kamu menghadap Allah (dengan ikhlas) berdua- dua atau sendiri-sendiri; kemudian kamu fikirkan (tentang ciptaan Allah) .” (Saba’ 46).

:

اهب ىضقي وهف ةمكحلا هللا هاتأ لجرو ققحلا ىف هتكله ىلع هطلقسف لام هللا هاتأ لجر نيتنثا ىف لقا دسح ل ) .

ملسمو ىراخبلا اهملقعيو

“Tiada iri hati (hasad) yang dibolehkan kecuali terhadap dua sasaran; terhadap orang yang dikaruniai Allah harta kekayaan dan digunakan untuk menegakkan hak dan kebenaran dan terhadap orang yang dikarunniai Allah ilmu dan hikmah yang diajarkannya lain orang dan dijadikannya pedoman putusan hukumannya”.

Al-Qur’an menetapkan bahwa Rasul yang diutus oleh Allah ditugaskan membaca ayat-ayat untuk manusia, mensucikan mereka dengan ajaran akhlak yang luhur dan peradaban yang tinggi dan mengajar mereka kitab Allah dan hikmah (ilmu pengetahuan). Allah berfirman: “Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta? hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran,”(Arra’d 19).

Orang yang tidak memberi penghargaan kepada para ulama, tidaklah patut mengaku dirinya pengikut Muhammad dan penganut agama Islam, sebagaimana sabda Rasulullah saw.:

هققح انملاعل فرعيو انريبك رققوي ملو انريغص محري مل نم انقم سيل

“Tidak termasuk golongan kita barangsiapa tidak mengasihi yang kecil-kecil dan muda usia di antara kita dan menghormati yang besar-besar dan lanjut usia serta tidak memberi penghargaan kepada para ulama kita.”

Allah swt., memberi penilaian sama tinggi kepada kesaksian para ulama dan dengan kesaksian para malaikat tentang kebenaran keesaan-Nya, bahkan menggabungkan kesaksian para ulama kepada kesaksian-Nya!

(4)

“Berkatalah orang-orang kafir: "Kamu bukan seorang yang dijadikan Rasul". Katakanlah: "Cukuplah Allah menjadi saksi antaraku dan kamu, dan antara orang yang mempunyai ilmu Al Kitab". (Ar-Ra’d 43).

Dan untuk mengetahui betapa tinggi penilaian agama Islam terhadap ilmu pengetahuan, terhadap ulamanya, terhadap pengajaranya dan terhadap penuntutnya, maka dapat dibuktikan dengan beberapa hadits Rasulullah saw. sebagai berikut:

امب اضر ملعلا بلاطل اهتحنجأ عضتل ةكئلملا نقإو ،ةنقجلا ىلإ اقيرط هل هللا لهقس املع هيف بلطي اقيرط كلس نم

) .

هاور رفاو ظقحب ذخأ هذخأ نمف ملعلا اوثرقوامنقإو امهرد لو ارانيد اوثرقوي مل ءايبنلا نقإو ،ءايبنلا ةثرو ءاملعلا نقإو ،عنصي ىذمرتلا)

“Barangsiapa melalui jalan untuk menuntut ilmu, Allah menggampangkan baginya jalan ke syurga, dan bahwa para malaikat meletakkan sayap-sayapnya bagi orang yang menuntut ilmu sebagai tanda rela dan simpati bagi orang itu. Dan bahwa para ulama itu adalah pewaris para nabi, karena pada nabi tidak mewariskan harta, tetapi mewariskan ilmu, maka barangsiapa menangkapnya hendaklah menangkap bahagian yang banyak.” (rw. Attermidzi).

) .

ىذمرتلا هاور عجري ىتقح هللا ليبس ىف وهف ملعلا نم اباب بلطيل جرخ نم

“barangsiapa keluar mencari ilmu maka selama ia belum kembali, ia berkedudukan sebagai seorang mijahid di jalan Allah.” (rw. Attermidzi).

.ريخلا سانقلا ملقعم ىلع نولقصيل توحلا ىحقو اهرجح ىف ةلمنقلا ىتقح ضرلاو تاومسلا لهأو هتكئلمو هللا نقإ )

ىذمرتلا هاور)

“Sesunggunya Allah swt., para malaikat-Nya dan para penghuni langit dan bumi, sampai-sampai semut di dalam lobangnya dan ikan (di laut) sama-sama bershalawat (berdo’a) bagi orang yang mengajar kebaikan kepada sesama manusia.” Rw. Attermidzi).

: :

ىدعب نوتأي نيذلقا ئافلخ امنقإو ،ىباحصأ متنأ لاق ؟هللا لسراي كءافلخ انسلأ ةباحصقلا تلاق ،ئافلخ هللا محر

عماس نم ىعوأ غلبقم بقرف اهعمس امكاه ادقأ ثق اهاعوف ىتلاقم عمس اءرما هللارضقن سانقلا اهن وملقعوىتنقس نوملقعتي. “Bersabda Rasulullah: “Semoga Allah memberi rahmat kepada khalifah-khalifahku”. Lalu bertanya para sahabat: “Bukankah kita semua adalah khalifah-khalifahmu, ya Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “Kamu adalah sahabat-sahabatku sedang khalifah-khalifahku adalah mereka yang datang sesudah aku, mempelajari sunnatku dan mengajarkannya kepada orang lain.”

“Semoga Allah memberi cahaya bagi orang yang telah mendengar ceritaku dan mengingatnya kemudian menyampaikannya kepada orang lain tepat sebagaimana ia telah mendengarnya dari aku. Karena kadang kala orang yang ditabligi (dida’wahi) lebih ingat dan teliti daripada orang yang mendengarnya langsung.”

(5)

BATASAN PERGAULAN ANTARA PRIA DAN WANITA

MENURUT SYARIAT ISLAM

Islam menetapkan beberapa kriteria syar’i pergaulan antara laki-laki dan perempuan untuk menjaga kehormatan, melindungi harga diri dan kesuciannya. Kriteria syar’i itu juga berfungsi untuk mencegah perzinahan dan sebagai tindakan prefentif terjadinya kerusakan masal. Di antaranya, Islam mengharamkan ikhtilath (bercampur laki-laki dan perempuan dalam satu tempat) dan khalwat (berduaan antara laki-laki dan perempuan), memerintahkan adanya sutrah (pembatas) yang syar’i dan menundukkan pandangan, meminimalisir pembicaraan dengan lawan jenis sesuai dengan kebutuhan, tidak memerdukukan dan menghaluskan perkataan ketika bercakap dengan mereka, dan keriteria lainnya. Perkara-perkara ini, menjadi kaidah yang penting untuk kebaikan semuanya. Tidak seperti ocehan para penyeru ikhtilath, sesunguhnya perkara ini berbeda antara satu dengan lainnya, atau satu kebudayaan dengan lainnya, dan pengakuan lainnya yang tidak sesuai dengan kenyataan dan realita.

Barangsiapa yang tidak memiliki hajat untuk berinteraksi dengan lawan jenis, maka menjauhinya lebih baik dan selamat. Jika ada kebutuhan, wajib bagi semua kaum muslimin untuk menetapi ketentuan syar’i, di antaranya:

1. Ghadlul Bashar (menundukkan pandangan) berdasarkan firman Allah Ta’ala:

ننوععننصصين امنبب رريببخن هنلقنلا نقنإب مصهعلن ىكنزصأن كنلبذن مصهعجنورعفع اوظعفنحصينون مصهبرباصنبصأن نصمب اوضقعغعين ننينبمبؤصمعلصلب لصقع

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (QS. An-Nuur: 30)

2. Tidak berduaan dengan wanita asing (bukan mahram dan bukan istrinya).

(6)

مرحمن وذ اهعمو لإ ةةأرماب لجر نقنونلخي ل

“Tidak boleh seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita kecuali dia (wanita tadi) ditemani mahramnya.”

3. Berusaha agar tidak ikhtilath dengan gadis yang bisa menyebabkan fitnah.

Dari Abu Sa’id bin Musayyib’d al-Khudri radliyallah ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

ءاسنقبلا اوقتقناو ايندقعلا اوقتقنا ،نولمعت فيك رظعنيف ،اهيف مكفلبخصتسم ىلاعت هللا نقنإو ،ةررضخ ةرولح ايندقعلا نقنإ

“Sesungguhnya dunia itu manis dan indah. Allah menjadikan kalian berkuasa atasnya, untuk melihat apa yang kalian perbuat. Bertakwalah terhadap dunia dan wanita.” (HR. Muslim).

Dalam Shahihain, dari Usamah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

ءاسنقبلا نم لاجرقبلا ىلع رقنضأ ةةنتف يدعب تعكرت ام

“Tidak lah aku tinggalkan suatu fitnah yang lebih berbahaya bagi laki-laki daripada fitnah wanita.”

4. Tidak bersalaman dengan wanita yang bukan mahram, karena diharamkan.

Dalam Al-Mu’jam Al-Kabir milik Imam Ath-Thabrani, dari Ma’qil bin Yasar berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersbda:

هعلن لقعحبتن لن ةةأنرنمصا سقنمنين نصأن نصمب هعلن رريصخن دةيصدبحن نصمب طةينخصمببب مصكعدبحنأن سبأصرنيصفب نععنطصيع نصأنلن

(7)

MARI BELAJAR BERETIKA DAN BERSOPAN SANTUN

KEPADA ORANGTUA

Dalam kehidupan modern ini perilaku anak tampaknya sekarang cenderung kehilangan etika dan sopan santun kepada orang tua. Berbagai faktor dapat mempengaruhi hal ini. Paparan negatif media televisi, internet dan media elektronika lainnya ternyata dapat meningkatkan kekerasan dan agresifitas anak. Sikap lingkungan orangtua sendiri yang mengabaikan nilai edukasi dan sering mencontohkan kebohongan dan kekerasan baik verbal maupun non verbal berpengaruh pada perilaku anak.

Berbagai kejadian buruk sering dilaporkan bahwa anak membentak orangtua atau anak kandung menyumpahi orangtuanya. Bahkan kejadian tragis sering terjadi anak memukul orangtua bahkan yang lebih miris anak membunuh orangtua.

Dalam budaya leluhur kita dahulu bahkan berjalan melewati orangtua saja harus membungkuk, membantah atau berkata keras saja sudah merupakan tindakan buruk. Memang, untuk hormat kepada orangtua tidak harus menyembah atau membungkuk terlalu dalam, tetapi paling tidak etika dan kesopanan terhadap orangtua harus tetap dijunjung tinggi.

Komunikasi dan pembelajaran moral dan disiplin kepada anak sering menghadapi kesulitan karena anak sekarang jauh lebih berani dan kasar dalam bersikap.

Anak menjadi lebih kritis tapi sering tidak pada tempatnya serta lebih emosional. Anak-anak juga cenderung kurang menghargai teman, orangtua bahkan gurunya di sekolah.

Beberapa orang tua sekarang juga mengalami kesulitan di rumah dalam mendidik anak-anaknya dalam hal tata krama dan menanamkan nilai kesantunan.

Agama dan budaya Indonesia mewajibkan taat, menyuruh berbakti, dan berbuat baik kepada keduanya. Ajaran agama juga mengajarkan agar anak harus berbuat mulia pada ibu-bapak dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaan anak, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan sinis, kasar dan janganlah kamu membentak dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.

(8)

orang akan menyangka bahwa orang tuanya tak becus mendidiknya. Begitupula jika anak itu tumbuh sopan dan cerdas, orang tua bisa dibikin bangga olehnya.

ETIKA DAN SOPAN SANTUN KEPADA ORANGTUA

Etika dasar dalam berkomunikasi dengan orangtua harus diketahui dan dilakukan sejak dini. Sehingga diharapkan etika ini akan menjadi kebiasaan dan dibawa dalam pergaulan hingga dewasa nantinya.

Sikap dan perilaku yang sopan atau beretika terhadap orangtua adalah :

1. Bersikap hormat apapun keadaan emosi apapun

2. Jangan pernah membantah, bila ada pendapat yang berbeda harus disampaikan dengan halus dan sopan, bukan dengan keras kepala.

3. Bagaimanapun perasaan anak saat itu jangan pernah berteriak, membentak, bersuara dan bernada keras dalam berbicara dengan orangtua

4. Pamit dan salaman sebelum bepergian atau setelah bepergian. Pamit dan mencium tangan orang tua sebelum berangkat ke sekolah adalah hal yang sudah wajar dilakukan. Kita menerapkan hal ini juga berdasar dari apa yang orang tua kita ajarkan sewaktu kita masih kecil dulu. Anda sudah pasti bisa merasakan dampak positif dari kebiasaan ini.

5. Jangan pernah sekalipun memarahi orangtua, kalau ada yang dirasakan tidak benar pada orangtua harus disampaikan secara sopan.

6. Jangan pernah mengajari, menasehati atau mengkuliahi orangtua. Bila ingin memberi masukan atau pendapat harus dengan sopan atau bila orangtua minta pendapat kita. 7. Jangan sekalipun menyela pembicaraan orangtua

8. Tatakrama lain adalah sikap sehari-hari harus menomor satukan atau mendahulukan orangtua untuk melakukan aktifitas seperti mendapatkan tempat duduk, memulai makan, memulai perjamuan minum.

9. Jangan sekalipun menyentuh kepala orangtua bila sedang berhadapan atau berkomunikasi, kecuali untuk tindakan tertentu seperti memotong rambut.

10. Bila berhadapan dan berbicara dengan orangtua harus dalam sikap sopan, jangan berkacak pinggang, jangan dengan kaki di atas kursi, jangan melotot, jangan dengan suara keras dan membentak.

11. Bila melihat orangtua sedang kesulitan seperti mengangkat beban berat, sedang mengerjakan pekerjaan berat lainnya tanpa diminta kita harus segera membantu.

Berbagai budaya baik dari suku Batak, Jawa, Maluku, Madura atau bahkan budaya barat atau budaya modern di dunia ini mengajarkan penghormatan dan sopan santun terhadap orangtua adalah yang paling utama. Bahkan selama ini budaya barat yang dianggap budaya modernpun tetap mempunyai budaya menghormati dan sopan santun terhadap orang tua.

Berbagai sikap dan perilaku di atas hendaknya harus dilakukan sejak dini sampai kapanpun kita hidup dan berkomunikasi dengan orangtua.

(9)

SENYUM, SAPA, SALAM, SOPAN, DAN SANTUN

PENCERAH HARI PESERTA DIDIK

“Selamat pagi, Pak! Selamat pagi, Bu!” para murid berlarian menghampiri. Dengan seberkas senyuman lebar di bibir mereka, mereka mengucapkan salam hangat. “Selamat pagi!” ucap mereka. Matahari tak kunjung menunjukkan sinar hangatnya, masih sejuk dan angin pagi masih berhembus sepoi-sepoi.

Entahlah, mendengar sapaan dan melihat senyuman lebar mereka membuat suasana lebih hangat, menghiraukan dinginnya angin pagi. Tanpa menunggu lama, terdengar jawaban yang dinanti-nanti: “Selamat pagi juga!” diiringi senyuman lebar.

“Suka. Aku begitu menyukai dan menikmati kegiatan ini,” ucap Pak Ferry, karyawan Tata Usaha di SMA MUHAMMADIYAH 3 TULANGAN, “Karena 5S merupakan langkah menjalani aktivitas.”

Pertukaran sapaan terus diulang dan diulang, sampai seorang siswa lelaki yang memakai pakaian sedikit kumuh dan berkerut, tanpa mengenakan dasi datang dan menghampiri para guru. “Rapikan dulu bajumu!” ucap sang guru sedikit tegas. Anak itu hanya mengangguk dan bergegas ke toilet terdekat. Setelah beberapa saat, ia menghampiri guru tersebut, “Bu,” ia merendahkan tatapannya, “maafkan saya.” Guru tersebut menatap matanya, penuh dengan keseriusan. Ia menghela napas, “Baiklah,” sekilas terlihat senyum kecil di bibirnya. Anak lelaki itu berlari girang, tanpa sadar akan guru yang terus menatap punggung kecilnya. Cahaya sang surya melewati sela-sela pepohonan hijau, memberikan suasana hangat ke seluruh sudut ruangan. Dari kejauhan, sudah terdengar canda tawa diiringi suara gemersik angin pagi. Jam yang sudah berdentang 6 kali sejak fajar sekali lagi menunjukan suaranya. Sudah tujuh kali ia berdentang hari ini, setiap 60 menit sekali.

(10)

Keesokan harinya, hal yang serupa terjadi. Perbedaannya hanya jumlah murid dan guru. “Selamat pagi, Pak!” “Selamat pagi, Bu!” mereka tersenyum lebar sambil menyodorkan tangan mungil mereka. Tanpa pikir panjang, sang guru menjawab mereka dengan jawaban serupa. Sudah menjadi suatu ciri khas dan adat bagi keluarga besar SMA MUHAMMADIYAH 3 TULANGAN untuk melakukan kegiatan rutin ini.

Ah, betapa bodohnya aku! Aku lupa untuk memberi tahu teman-teman pembaca tentang kegiatan ini! Kegiatan ini bernama 5S. Hmmm… terdengar tak asing? Sudah banyak poster dalam bermacam gambar, ukuran dan tulisan yang menjelaskan tentang 5S ini, loh!

Senyum, Sapa, Salam, Sopan dan Santun atau biasa disingkat 5S ini sangat populer dan rutin dilaksanakan di kalangan pelajar. Sudah ada berbagai penerapan yang beragam di sekolah-sekolah. Tanpa disadari atau tidak, ternyata kita sudah secara spontan melakukan 5S ini loh! Kita sering sekali menyapa teman-teman sebaya kita, atau mungkin menyapa guru yang lewat.

Sayang, belakangan ini, budaya 5S ini mulai dilupakan penerus bangsa Indonesia. “Karena hal itu semua hanya hal sepele, tidak penting”.

“Merepotkan banget! Kenapa harus nyapa sih? Kan nggak kenal!” “Kan malu-maluin banget kalo nyapa tapi nggak dijawab!”

Banyak sekali alasan serupa yang menyebabkan hilangnya budaya 5S secara perlahan, namun pasti. Banyak siswa yang menghiraukan guru, tidak menyapa mereka. Ada pula siswa yang hanya mau menyapa teman sebayanya, tidak menyapa orang yang lebih muda maupun lebih tua.

Oleh karena itu, sudah banyak sekolah yang berusaha untuk menerapkan 5S, untuk melestarikan 5S ini. Salah satu sekolah tersebut adalah SMA MUHAMMADIYAH 3 TULANGAN. SMA MUHAMMADIYAH 3 TULANGAN berinisiatif untuk melestarikan budaya 5S dan mengenalkan budaya tersebut pada para peserta didik. Tak ingin kalah dengan pesatnya pertumbuhan pergaulan bebas di kalangan pemuda Indonesia.

“Halo, Pak!” ucap seorang siswa. Guru itu terhenti dari perjalanannya saat ia mendengar suara itu. Ia memutar tubuhnya dan melihat seorang siswa membawa tas jinjing yang tampak sangat berat itu. Hati-hati agar tidak menjatuhkan buku-buku yang ia bawa, ia berkata,

“Halo, Irfan,” ia tersenyum sebelum ia bertanya lagi.

“Kenapa tasmu terlihat berat sekali? Mau bapak bantu?” Irfan menggelengkan-gelengkan kepalanya, tanda menolak tawaran baiknya tersebut. Setelah memberi tahu alasan mengapa tasnya sangat berat, ia segera berjalan cepat menuju ruang kelasnya.

Lalu guru itu melanjutkan lagi perjalanannya. Saat tiba di lantai dua, ia berpapasan dengan seorang murid bertubuh besar -lebih besar dari guru itu sendiri-. Siswa tersebut tidak berkata apapun, ia hanya lewat, bermuka masam. Entah disengaja atau tidak, murid itu menjatuhkan semua buku yang dibawa guru itu.

“…” tidak ada sepatah kata pun dari pelajar itu, ia hanya berjalan menjauhi sang guru malang itu.

“Kamu! Kemarilah!”

“Hah? Aku? Apa pula salahku? Kan kamu yang salah. Tidak lihat-lihat jalan”. Ia terlihat malas, tak memperhatikan guru yang geram. Ia tidak tahu, bahwa orang dihadapannya adalah seorang guru. Ia hanya beranggapan orang yang di depannya sebagai seseorang yang lebih kecil darinya.

(11)

negatif tentang 5S ini. Mereka berpikir bahwa 5S merepotkan, “Saya kurang suka. Sedikit memalukan. Saya harus bersalaman dengan lawan jenis dan itu membuat saya malu” ucap Patrick, seorang senior kelas 9C.

Ada pula pendapat lain, “Kadang merepotkan! Saat sedang buru-buru harus salaman, bisa-bisa telat masuk kelas, nih!” ucap Irene.

Tak sedikit siswa yang berkata demikian. Namun banyak pula yang berkata kebalikannya. “Bisa sosialisasi, jadi enak aja” ucap Christine kelas 7A. Dibalik semua keberhasilan dan ketekunan guru-guru, tetap saja ada siswa yang tidak mentaati dan memberontak dari peraturan yang sudah dibuat.

Ada banyak siswa yang tidak datang sebagai panitia 5S, kadang disengaja atau tidak. Itu membuat kegiatan 5S tertunda dan terhambat. Itu membuat usaha yang sudah dilaksanakan terbuang cuma-cuma. Sampai saat ini, para pelanggar diberi sanksi yang cukup berat, agar memberi efek jera. Namun tetap saja, ada beberapa siswa yang melanggar.

“Kau mungkin dapat melakukannya jika mencoba. Tapi kamu tidak akan pernah bisa jika tidak mencoba” pernah ada pepatah yang berkata demikian. Kita tentu harus mencoba dan berusaha agar dapat melakukan sesuatu. Sama halnya dengan kegiatan 5S ini. Mungkin memang terlihat menyebalkan dan merepotkan. Namun menyembunyikan sesuatu yang lebih besar dan istimewa dari apa yang kau bayangkan.

MATERI (3.2)

PADANAN 5S DALAM BAHASA INDONESIA DAN

BAHASA INGGRIS

Padanan 5S dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris

JEPANG INDONESIA INGGRIS

5S 5R 5S 5P 5K 5S

1S Seiri Ringkas Sortir Sisih Pemilahan Ketertiban Sort

2S Seiton Rapi Susun Susun Penataan Kerapihan Set in Order

3S Seiso Resik Sapu Sasap Pembersihan Kebersihan Shine

4S Seiketsu Rawat Standarisasi Sosoh Penjagaan Kelestarian Standardize

5S Shitsuke Rajin

Swa-disiplin

Suluh Penyadaran Kedisiplinan Sustain

Suksesnya 5S terletak pada sejauhmana orang melakukan 5S sebagai suatu kebiasaan (habit) bukan paksaan sehingga inisiatif perbaikan akan muncul dengan sendirinya. Di bawah ini saya telah merangkum hal-hal penting untuk pelaksanaan program 5S berdasarkan beberapa literatur dan juga perspektif pribadi saat menyaksikan langsung aktivitas 5S di tempat kerja.

(12)

 Membutuhkan komitmen manajemen untuk memastikan kegiatan 5S dilakukan setiap hari dan dianggap sebagai prioritas.

 Merubah perspektif semua orang dalam organisasi bahwa 5S lebih dari sekedar program kebersihan maupun housekeeping management.

 Menerapkan 5S secara konsisten untuk perubahan budaya.

 Menggunakan sistem visual display untuk mengkomunikasikan aktivitas 5S secara efektif.

 Melakukan audit 5S secara teratur (mingguan, bulanan, dan surprise audit) untuk menilai performance.

 Membutuhkan edukasi tentang konsep dan keuntungan aktivitas 5S.

Sebagai penutup saya mau mengutip salah satu paragraf dari artikel yang disusun Utomo (2011).

5S tidak sulit untuk dipahami, tapi 5S sangat sulit untuk dilaksanakan dengan benar. 5S memerlukan kegigihan, kebulatan tekad, dan memerlukan usaha yang terus menerus. 5S mungkin tidak akan memberikan hasil yang dramatis. Namun 5S membuat pekerjaan lebih mudah. 5S akan mengurangi pemborosan waktu kerja kita. 5S akan membuat kita bangga atas pekerjaan kita. 5S akan meningkatkan produktifitas kerja dan mutu yang lebih baik, sedikit demi sidikit, namun terus menerus.

MATERI 4.1

POLA HIDUP SEHAT ALA RASULULLAH

Kesehatan merupakan nikmat Allah SWT yang tak terkira yang diberikan kepada hamba-Nya sebagai salah satu tanda kasih sayangNya demi memenuhi kebutuhan hidup manusia. Jika kondisi fisiknya tidak sehat, seseorang akan menghadapi hambatan yang lebih banyak dalam melakukan segenap aktivitas keseharian.Pada jaman modern yang serba cepat dan sibuk ini, nikmat sehat makin terasa dibutuhkan seiring dengan makin bertambah banyaknya tugas dan kesibukan seseorang. Agar mampu beribadah dan bekerja dalam kondisi yang serba sibuk ini, selayaknya seorang muslim memandang penting masaahkesehatan.Bagi seorang muslim, contoh terbaik dalam menjaga kesehatan adalah contoh diberikan oleh Rasulullah SAW. Rasulullah sangat jarang mengalami sakit meskipun mempunyai banyak aktivitas seperti berdakwah, beribadah, dan bahkan terjun langsung dalam peperangan, serta sering menghadapi hal-hal yang sangat menekan perasaan. Menurut beberapa sirah, selama hidupnya Rasulullah hanya sakit dua kali. Yaitu saat menerima wahyu pertama, ketika itu beliau mengalami ketakutan yang sangat sehingga menimbulkan demam hebat, dan yang satunya lagi menjelang beliau wafat. Saat itu beliau mengalami sakit yang cukup parah, hingga akhirnya wafat.

Tidur Sehat Ala Rasul

(13)

yang telah menghidupkan kami setelah Ia mematikan kami. Dan kepadaNyakita semua berkumpul” (HR Bukhari)

Rasulullah tidur lebih awal dan bangun lebih awal. Rasulullah selalu mengajak umatnya agar selalu bangun sebelum waktu subuh serta melaksanakan sholat shubuh di masjid. Selain mendapat pahala, dengan berjalan ke masjid, kita akan menghirup udara subuh yang segar dan mengandung oksigen. Karena itu orang yang suka bangun pagi dan menghirup udara pagi mempunyai paru-paru yang lebih kuat dan sehat. Disamping itu, udara subuh dapat memperkuat pikiran dan menyehatkan perasaan. Keuntungan yang akan diperoleh adalah badan sehat, otak cerdas, penghidupan lapang dan mendapatkan kebaikan di dunia akhirat

Ketika tidur beliau memiringkan badannya kesebelah kiri sebentar,untuk kemudian kembali ke sebelah kanan. Tidur seperti ini merupakan tidur paling efisien.

Tiga manfaat yang dapat diambil dari posisi tidur miring ke kanan, yaitu: a. Menjaga saluran pernafasan

b. Menjaga kesehatan jantung c. Menjaga kesehatan paru-paru

Makan Sehat Ala Rasul

Allah berfirman dalam Al Qur’an surat Al A’raf ayat 31:

“Hai anak Adam, kenakan pakaianmu yang indah disetiap memasuki masjid, makan dan minumlah dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya allah tidak menyukai orang-orang yang belebih-lebihan.”

Olahraga Sehat Ala Rasul

(14)

MATERI 4.2

MENJAGA KEJERNIHAN HATI

Tidak Marah Ala Rasulullah

Suatu riwayat menceritakan bahwa seorang untusan dari Bani Nadhir menemui Rasulullah untuk minta nasehat yang pendek dan dengan melaksanakan nasehat pendek itu, ia ingin masuk surga sehingga terlepas dari siksa neraka. Nabi memberi nasehat pendek.

“Jangan Marah”

“Ulangi nasehatmu ya Rasulullah!”

“Jangan Marah”

“Sekali lagi ya Rasulullah!”

“Jangan Marah”

Siapa yang tidak pemarah hatinya aka tenteram, jika rasa marah tumbuh segeralah dihilangkan dengan :

(15)

Tak Pernah Iri Hati Ala Rasulullah

Iri hati adalah saudara kandung dari buruk sangka. Misal, timbul kecemasan dan kegelisahan dalam diri seseorang jika temannya memperoleh kehidupan yang lebih baik atau pangkat yang lebih tinggi. Hati Rasulullah selalu tenteram dan tak pernah membenci siapapun. Beliau bersabda:

“Tak kan masuk surga siapa pun yang gemar memburuk-burukan nama orang lain”.(HR. Abu Dawud)

Hanya dalam dua hal unmat Islam boleh bersikap iri. Sabda Rasulullah:

“Tak boleh bersikap iri kecuali dalam dua hal. Pertama terhadap orang yang memiliki kekayaan dan mempergunakannya untuk menegakkan yang haq. Kedua terhadap orang yang memiliki pengetahuan dan rajin menyebarkannya pengetahuannya itu kepada orang banyak” (HR.Bukhari)

Adanya keimanan dalam diri seseorang akan memiliki sikap hidup ikhlas dan sabar. Kedua sikap hidup tersebut merupakan kunci kebahagiaan. Hilangnya rasa ikhlas dan sabar. Kedua sikap hidup tersebut merupakan kunci kebahagiaan. Hilangnya rasa ikhlas dan sabar akan menyebabkan penyakit yang kita kenal dengan sebutan stres. Apabila stres telah menghinggapi seseorang maka dia akan menjadi lemah yang akhirnya mudah terserang penyakit. Wallahu a’lam bishawab.

Bersyukur atas pemberian dan karunia Alloh :

MATERI 5.1

SOSIAL BUDAYA MENURUT PANDANGAN ISLAM

PENGERTIAN KEBUDAYAAN

Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah. Merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal), diartikan sebagai hal-hal berkaitan dengan budi dan akal manusia.

Dalam Islam, istilah ini disebut dengan adab. Islam telah menggariskan adab-adab Islami yang mengatur etika dan norma-norma pemeluknya.

HUBUNGAN ISLAM DAN BUDAYA

(16)

KONSEP KEBUDAYAAN DALAM ISLAM

Sesudah Nabi Muhammad SAW hijrah ke Medinah, dipersaudarakannya orang-orang Muhajirin dengan Anshar, sehingga mereka berada dalam status saudara sedarah. Persaudaraan sesama orang-orang beriman secara umum itu adalah persaudaraan kasih-sayang untuk membangun suatu sendi kebudayaan. Yang memperkuat persaudaraan ini ialah keimanan yang sungguh-sungguh kepada Allah.

PRINSIP KEBUDAYAAN ISLAM

Islam, datang untuk mengatur dan membimbing masyarakat menuju kepada kehidupan yang baik dan seimbang. Dengan demikian Islam tidaklah datang untuk menghancurkan budaya yang telah dianut suatu masyarakat, akan tetapi dalam waktu yang bersamaan Islam menginginkan agar umat manusia ini jauh dan terhindar dari hal-hal yang tidak bermanfaat dan membawa madlarat di dalam kehidupannya.

PENETRASI BUDAYA

Yang dimaksud dengan penetrasi kebudayaan, ialah masuknya pengaruh suatu kebudayaan ke dalam kebudayaan lainnya.

Penetrasi budaya dapat terjadi dengan dua cara : 1. Secara Damai

2. Kekerasan

PANDANGAN ISLAM TERHADAP KEBUDAYAAN MANUSIA

Islam membiarkan beberapa adat kebiasaan manusia yang tidak bertentangan dengan syariat dan adab-adab Islam atau sejalan dengannya. Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak menghapus seluruh adat dan budaya masyarakat Arab yang ada sebelum datangnya Islam. Akan tetapi Rasulullah SAW melarang budaya-budaya yang mengandung unsur syirik, seperti pemujaan terhadap leluhur dan nenek moyang, dan budaya-budaya yang bertentangan dengan adab-adab Islami.

SOSIAL BUDAYA MENURUT PANDANGAN ISLAM

Akibat penyebaran kebudayaan secara damai : 1. Akulturasi,

2. Asimilasi, 3. Sintesis.

Kesimpulan

1. Istilah budaya dalam islam disebut dengan adab.

2. Islam menganjurkan manusia untuk berbudaya dengan cara selalu beramal dan berkarya.

(17)

RASULULLAH SAW NEGARAWAN YANG PEDULI

LINGKUNGAN

(مةيربكن جةوصزن لقبكع نصمب اهنيفب اننتصبننصأن مصكن ضبرصأنلصا ىلنإب اوصرنين مصلنونأن ) (Q.S. As-Syuara’(26): 7)

(مةيربكن جةوصزن لقبكع نصمب اهنيفب اننتصبننصأنفن ءةامن ءبامنسقنلا ننمب اننلصزننصأنون ) (Q.S. Luqman (31): 10)

(نناكن هعنقنإب مصهعحنيببسصتن ننوهعقنفصتن الن نصكبلنون هبدبمصحنبب حعبقبسنيع القنإب ءةيصشن نصمب نصإبون نقنهبيفب نصمنون ضعرصأنلصاون ععبصسقنلا تعاونامنسقنلا هعلن حعبقبسنتع ارةوفعغن امةيلبحن) (Q.S. Al-Isra’ (17): 44)

(ننينبسبحصمعلصا ننمب بريربقن هبلقنلا ةنمنحصرن نقنإب اعةمنطنون افةوصخن هعوععدصاون اهنحبالنصصإب دنعصبن ضبرصأنلصا يفب اودعسبفصتع النون ) (Q.S. Al-A’raf (7): 56)

(18)

terhadap lingkungan sehingga terjadi keseimbangan kosmos antara manusia, hewan, tumbuhan, dan sumber-sumber alam.

Al-Quran sendiri menyifati tumbuh-tumbuhan sebagai makhluk mulia yang punya peran sama dengan manusia dalam memamerkan keindahan kreasi Allah SWT yang tidak tertandingi seperti yang dimuat Q.S. As-Syuara’ (26): 7 dan Q.S. Luqman (31): 10. Mereka kreasi mulia yang ikut serta dengan manusia menyuguhkan tasbih sesuai fitrah penciptaan mereka seperti yang disuarakan Q.S. Al-Isra’ (17): 44. Olehnya itu, Q.S. Al-A’raf (7): 56 sangat mencela orang-orang yang merusak ekosistem hidup tanpa membangun kepedulian melestarikan unsur-unsur alam. Merusak alam berarti merusak diri sendiri yang menjanjikan kehancuran mutlak dan menyeluruh terhadap semua makhluk bumi.

Rasulullah Saw sebagai hadiah terbesar Allah SWT terhadap makhluk bumi yang membawa rahmat universal menjadi penafsir dan pelaksana garis depan terhadap ajakan teks-teks Al-Quran di atas dalam melestarikan dan menjaga keseimbangan alam. Dari hadits-hadits Rasulullah Saw yang menyinggung kepedulian lingkungan, penulis menyimpulkan pilar-pilar kepedulian lingkungan seperti berikut:

1. Hemat dan efisien dalam menggunakan sumber daya alam

Terlalu berlebihan menggunakan sumber daya alam dapat merugikan komunitas makhluk bumi. Yang berlebihan menggunakan air tidak memikirkan kesinambungan hidup manusia yang senantiasa butuh air. Boleh jadi hari ini Anda dibanjiri air, tetapi siapa tahu besok Anda kehausan berteriak-berteriak meminta belas kasihan orang dari seteguk air. Boleh jadi di tempat Anda tidak mengalami krisis air, tetapi siapa tahu di belahan dunia sana tanah lagi kering mematikan, hewan-hewan berjatuhan mati, dan manusia mengangkat senjata hanya karena merebutkan air minum bersih. Sekarang, bukan hanya tanah yang kering, tetapi sungai pun ikut kering. Ini menandakan kesadaran pemakai air terhadap keurgensian hemat air hilang dari praktek keseharian. Olehnya itu, Rasulullah Saw memberikan keteladanan mendidik yang membimbing umat untuk hemat dan efisien dalam memberdayakan sumber daya alam.

Rasulullah Saw melarang mematahkan tangkai pohon atau menebang batangnya dan penggundulan hutan meskipun dalam kondisi perang. Rahmat kenabian ini lampu merah terhadap pihak yang suka melakukan penebangan liar demi memenuhi maslahat mereka. Menebang pohon tanpa mengikuti prosedur yang benar mengancam kesinambungan hidup makhluk-makhluk bumi yang telah memerankan tugas penting mempercantik wajah dunia dalam menyuguhkan ayat-ayat ketauhidan yang tersirat. Pesan kenabian ini pun diikuti Khalifah Abu bakar di saat mengingatkan pesan kenabian tersebut kepada bala tentaranya yang akan dilepas berjihad ke Syam.

(19)

mereka dengan baik dan benar.

3. Tidak melakukan pencemaran lingkungan

Contoh terdekat yang diteladankan Rasulullah Saw di sesi ini larangannya membuang air kecil di air yang tergenang. Karena jika dipakai orang lain berwudhu atau mandi, maka itu dapat menyebabkan penyakit akut yang berbahaya. Bahkan Rasulullah Saw melarang umat buang air kecil di bawah pohon karena itu dapat meninggalkan bau dan kesan yang tidak enak terhadap siapa saja yang berteduh di bawah daunnya yang rindang.

هبلقنلا لبوسعرن نصعن رةبباجن نصعن r .3]) دبكبارقنلا ءبامنلصا ىفب لنابنيع نصأن ىهننن هعنقنأن ])

ةنرنيصرنهع ىببأن نصعن t ىقبببنقنلا نبعن r .(4]) هعنصمب لعسبتنغصين مقنثع ،مبئبادقنلا ءبامنلصا ىفب مصكعدعحنأن نقنلنوبعين لن لناقن ) : ])

لةبنجن نببص ذباعنمع نصعن t هبلقنلا لعوسعرن لناقن لناقن : r: ( .(5]) لقبظقبلاون قبيربطقنلا ةبعنرباقنون ،دبرباونمنلصا ىفب زنارنبنلصا ثنلنثقنلا ننعبلنمنلصا اوقعتقنا : ])

Contoh kecil ini menyiratkan makna besar dalam mencegah pencemaran lingkungan dalam skala besar dan terencana oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab, seperti limbah industri yang tidak mempedulikan keselamatan masyarakat setempat dan lingkungan, asap pabrik dengan gumpalan menggulung yang menyemprotkan udara kotor yang cukup mengganggu pernafasan, suara mesin-mesin menderu yang memekikkan telinga dan mengusik ketenangan makhluk. Yang mengancam hidup manusia adalah perilaku bodoh mereka sendiri yang tidak memikirkan akibat mendatang dari perbuatan mereka hari ini. Jadi hadits di atas seperti mengingatkan umat keurgensian mengetahui segala dampak positif-negatif setiap perilaku konsumtif sebelum melakukan sesuatu.

4. Tidak membunuh hewan atau menyiksanya

Hewan makhluk Allah SWT yang banyak membantu dan meringankan pekerjaan manusia. Olehnya itu, Rasulullah Saw mengingatkan umat kisah seorang perempuan yang masuk neraka hanya karena mengurung seekor kucing dan tidak memberinya makan hingga ia mati. menghancurkan satu kampung serangga hanya karena digigit seekor dari mereka. Allah SWT menegurnya dan tidak membenarkan perbuatan itu: “Anda telah membumihanguskan satu umat semut dari pelbagai umat yang senantiasa bertasbih”. Seandainya ia hanya membunuh semut yang menggigitnya, ia tidak ditegur dan dicela, tetapi ia telah dikuasai oleh amarah, sebab dari celaan tersebut.

(20)

Di samping itu, Rasulullah Saw menganjurkan umat memelihara kuda sebagai hewan piaraan yang punya fungsi ganda. Selain meringankan beban kerja manusia, ia juga alternatif pertama dalam berjihad.

Rasulullah Saw mengajak para pemeduli lingkungan untuk melakukan penghijauan yang berorientasi akhirat. Banyak yang tidak tahu bahwa upaya penghijauan yang digerakkan selama ini untuk menyelamatkan bumi dari polusi ternyata terhitung sebagai saldo ukhrawi yang menjanjikan pahala. Tidak ada tanaman atau pohon yang dimakan burung, manusia atau hewan kecuali itu menjadi sedekah bagi pemilik tanaman atau pohon. Demikian halnya dengan pohon yang memberi teduh terhadap manusia dari terik sinar matahari. Semua bentuk penghijauan ini punya nilai sedekah yang sepatutnya memotivasi umat untuk menghijaukan kota-kota Islam mereka. Penghijauan yang islami ini mengingatkan penulis hikmah ulama dulu yang mengatakan: “lihatlah daun-daun yang hijau dan air yang mengalir. Sesungguhnya keduanya melambangkan kesegaran, semangat hidup, kerendahan diri (melihat air yang senantiasa mencari tempat yang rendah, begitu pula dengan daun yang melambai-lambai mengikuti hembusan angin) dan penyucian hati.” Gerakan menanam ini dianjurkan Islam tanpa mengenal usia dan waktu. Abu Darda’ Ra tidak mempedulikan orang yang menegurnya menanam pohon, meski ia telah lanjut usia. Dia memahami bahwa menuai tanaman bukan tujuan utama, dia sendiri yang menuainya atau orang lain, ia tetap dapat pahala. Olehnya itu, gerakan menanam pohon tidak dibatasi waktu, meski kiamat telah dekat.

(21)

berencana dari pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Jika jalan saja punya hak, terlebih lagi keselamatan jiwa, kehormatan, harta dan keselamatan anggota keluarga. Kepedulian lingkungan ini yang menanamkan makna besar disuarakan hadits berikut:

ىقبربدصخعلصا دةيعبسن ىببأن نصعن t: هبلقنلا لنوسعرن نقنأن r نصمب اننلن دقربع امن ،هبلقنلا لنوسعرن اين اولعاقنفن تباقنرعطقعلابب سنولعجعلصاون مصكعايقنإب لناقن : .(! ) : .

هبلقنلا لعوسعرن لناقنفن اهنيفب ثعدقنحنتننن اننسبلباجنمن r: (،هبلقنلا لنوسعرن اين قبيربطقنلا ققعحن امنون اولعاقن هعققنحن قنيربطقنلا اوطععصأنفن مصتعيصبنأن نصإب : .(! .( ربكننصمعلصا نبعن ىعهصنقنلاون فبورععصمنلصابب رعمصلناون ،مبلنسقنلا دقعرنون ،ىذنلنا فقعكنون ، ربصنبنلصا ضقعغن لناقن ) :

) ]

15 ])

Di penghujung tulisan ini, saya mengajak pemerhati lingkungan menyuarakan kesimpulan berikut:

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...