• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENERAPAN PROSEDUR TEKNIK MENGHARDIK PAD

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENERAPAN PROSEDUR TEKNIK MENGHARDIK PAD"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

PENERAPAN PROSEDUR TEKNIK MENGHARDIK PADA PASIEN DENGAN HALUSINASI PENDENGARAN

PROPOSAL KARYA TULIS ILMIAH

Oleh:

RETNO MIFTAHUL JANNAH NIM: P3.73.20.1.14.039

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES JAKARTA III JURUSAN KEPERAWATAN

(2)

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Salam sejahtera bagi kita semua. Puji syukur saya ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas Rahmat dan karuniaNya saya masih diberikan kesehatan sehingga dapat menyelesaikan tugas ini. Dalam tugas ini saya berkesempatan dalam membuat Proposal KTI yang terfokuskan pada Keperawatan Jiwa dengan judul “Penerpan Prosedur Teknik Menghardik Pada Pasien Dengan Halusinasi Pendengaran. Pada kesempatan ini saya menyampaikan terimakasih atas bimbingan, bantuan, dan dukungan yang diberikan selama saya menyusun proposal ini, kepada yang terhormat:

1. Dra. Maryanah, M.Kes. Selaku Direktur Poltekkes Kemenkes Jakrta III

2. Yeti Resnayeti, SKp., Mkes. Selaku Ketua Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Jakarta III

3. Ns. Ulty Desmarnita, SKp.,Mkes.,SpMat. Selaku Ketua Prodi DIII Keperawatan Poltekkes Kemenkes Jakarta III

4. Endang Banon, SPd.,Mkep,Ns.,Sp.Kep.J selaku pembimbing Karya Tulis Ilmiah. 5. Seluruh civitas akademika yang telah membantu dalam penyusunan Proposal KTI

serta seluruh teman-teman yang sudah mendukung dan membantu dalam penyusunan proposal.

Saya menyadari bahwa dalam penulisan proposal ini masih terdapat beberapa kekurangan dan keterbatasan. Oleh karena itu saya meminta kesediaan para pembimbing untuk dapat memberikan kritik maupun saran untuk menjadikan proposal KTI ini menjadi lebih baik lagi. Terima kasih.

Bekasi, 16 Maret 2017

(3)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL...i

KATA PENGANTAR ...ii

DAFTAR ISI ...iii

BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang ...1

2. Rumusan Masalah ...3

3. Tujuan Studi Kasus ...3

4. Manfaat Studi Kasus...3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Asuhan Keperawatan Pasien Gangguan Persepsi Sensori: Halusinasi 1. Konsep Dasar a. Pengertian Gangguan Persepsi Sensori: Halusinasi...4

b. Faktor Predisposisi...4

c. Faktor Presipitasi ...5

d. Manisfestasi Perilaku...6

e. Mekanisme Koping ...8

f. Sumber Koping ...8

2. Asuhan Keperawatan a. Pengkajian ...8

b. Diagnosa...8

c. Perencanaan ...8

d. Pelaksanaan ...10

e. Evaluasi ...10

B. Prosedur Teknik Mengontrol Halusinasi Dengan Cara Menghardik. a. Pengertian ...11

b. Tujuan ...11

c. Pentingnya Teknik Menghardik ...11

d. Cara Melakukan Teknik Menghardik Halusinasi ...11

(4)

BAB III METODE PENULISAN

1. Rancangan Studi Kasus ...13

2. Subjek Studi Kasus ...13

3. Fokus Studi Kasus ...14

4. Definisi Operasional ...14

5. Instrumen Studi Kasus...15

6. Prosedur Pengumpulan Data ...16

7. Tempat Dan Waktu Studi Kasus ...16

8. Analisis Data Dan Penyajian Data ...16

9. Etika Studi Kasus ...16

(5)

BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Masalah kesehatan jiwa di Indonesia masih menjadi suatu masalah kesehatan yang tergolong serius. Salah satu gangguan yang banyak terjadi yakni gangguan persepsi sensori: halusinasi. Halusinasi adalah salah satu gejala gangguan jiwa dimana pasien mengalami perubahan sensori persepsi, merasakan sensasi palsu berupa suara, pengelihatan, pengecapan, perabaan atau penghiduan. Pasien merasakan stimulus yang sebetulnya tidak ada (Damayanti dalam Yosep 2010). Gangguan persepsi sensori sendiri menjadi salah satu fokus penting dalam proses keperawatan karena dalam hal ini masalah persepsi pasien terganggu sehingga menyebabkan ketidakseimbangan pola perilaku pada diri pasien.

Pasien yang mengalami masalah gangguan persepsi sensori: halusinasi biasanya muncul dari beberapa faktor pemicu yang berasal dari dalam dan atau luar diri pasien sendiri. Pasien dengan gangguan seperti ini juga mengalami hal yang berawal dari masalah kehidupan pasien sebelum sakit, ditandai dengan lebih seringnya pasien menyendiri atau menarik diri yang kemudian muncul suatu sensorik yang mengakibatkan halusinasi. Bila masalah gangguan persepsi sensori: halusinasi ini tidak dilakukan secara benar maka akan menyebabkan resiko perilaku kekerasan akibat tidak efektifnya latihan prosedur. Hal ini diakibatkan karena banyaknya isi dari halusinasi tersebut bersifat memerintah penderita untuk melakukan tindakan yang membahayakan orang lain. Oleh karena itu intervensi keperawatan pada pasien halusinasi sangat perlu dilakukan dengan mengidentifikasi masalah halusinasi (isi, jenis, waktu, frekuensi, respon) menggunakan teknik menghardik, mengkonsumsi obat, bercakap-cakap, dan melakukan kegiatan.

(6)

Desember 2015 adalah sebagai berikut: total pasien di rawat per har 400 orang dari 440 kapasitas tempat tidur yang tersedia. Dari jumlah tersebut sekitar 65%mengalami masalah halusinasi dan 90% nya mengalami jenis halusinasi pendengaran. Efektifitas teknik menghardik sebagai cara mengontrol halusinasi pada pasien didapatkan hasil yang berbeda-beda. Penggunaan teknik ini selalu diajarkan pada pasien halusinasi pendengaran sehingga informasi keberhasilan bisa mudah diperoleh (Perbedaan Efektifitas Cara Kontrol Halusinasi Menggunakan Teknik Menghardik Dengan Teknik Berdzikir Terhadap Intensitas Tanda Dan Gejala Halusinasi Pada Pasien Dengan Halusinasi Pendengaran Di RSJ Prof. Dr. Soerojo Magelang tahun 2015).

Perawat sebagai sumber daya manusia yang memberikan pelayanan di rumah sakit diharapkan mampu meningkatkan aspek pelayanan pada pasien. Diharapkan perawat mampu mendampingi pasien dalam proses penyembuhan penyakitnya. Pelayanan kesehatan jiwa akan menunjukkan hasil yang maksimal bila didukung dengan kemampuan perawat yang berkompeten dalam menjalankan asuhan keperawatan jiwa. Untuk mendukung hal tersebut maka perlu dilakukan beberapa proses untuk meningkatkan asuhan keperawatan salah satunya dengan melakukan studi kasus pada pasien dengan masalah kesehatan jiwa. Selain itu diperlukan pula pelatihan serta pendidikan lanjutan demi tercapainya asuhan keperawatan yang maksimal. Dengan melakukan kegiatan tersebut nantinya perawat akan mampu membandingkan keefektifan metode tindakan asuhan keperawatan yang akan dilakukan pada pasien.

(7)

2. Rumusan Masalah

Bagaimanakah penerapan tindakan keperawatan mengontrol halusinasi pendengaran: menghardik halusinasi dapat menurunkan tingkat munculnya stressor halusinasi pendengaran?

3. Tujuan Studi Kasus

Mengidentifikasi pengaruh prosedur tingkat keberhasilan tindakan keperawatan dengan mengontrol halusinasi pendengaran: menghardik pada klien dengan gangguan persepsi sensori: halusinasi pendengaran di RSCM.

4. Manfaat Studi Kasus

a. Sebagai gambaran dalam memberikan tindakan asuhan keperawatan pada klien dengan gangguan persepsi sensori: halusinasi.

b. Sebagai gambaran dalam tingkat keberhasilan proses tindakan mengontrol halusinasi pendengaran: menghardik berdasarkan kesesuaian jadwal kegiatan untuk mengontrol halusinasi pada klien yang berbeda.

c. Sebagai referensi dalam penerapan keefektifan tindakan mengontrol halusinasi. d. Sebagai pengalaman dalam mengimplementasikan prosedur mengontrol halusinasi

(8)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Persepsi Sensori: Halusinasi Pendengaran.

1. Konsep Dasar

a. Pengertian Gangguan Persepsi Sensori: Halusinasi Pendengaran

Halusinasi adalah persepsi yang tanpa dijumpai adanya rangsangan dari luar. Walau tampak sebagai sesuatu yang “khayal”, halusinasi sebenarnya menerapkan bagaian dari kehidupan mental penderita yang “teresepsi” (Yosep, 2010). Halusinasi adalah perubahan dalam jumlah atau pola stimulus yang datang disertai gangguan respon yang kurang, berlebih, atau distorsi terhadap stimulus tersebut (Nanda-I, 2012). Halusinasi adalah gangguan persepsi sensori dari suatu obyek tanpa adanya rangsangan dari luar, gangguan persepsi sensori ini meliputi seluruh pancaindra. Halusinasi merupakan salah satu gejala gangguan jiwa yang pasien mengalami perubahan sensori persepsi, serta merasakan sensasi palsu berupa suara, penglihatan, pengecapan perabaan, atau penciuman. Pasien merasakan stimulus yang sebetulnya tidak ada (Yusuf dkk, 2015).

b. Faktor Predisposisi

Menurut Yosep (2010) faktor predisposisi klien dengan halusinasi adalah: 1) Faktor Perkembangan

Tugas perkembangan pasien terganggu misalnya rendahnya kontrol dan kehangatan keluarga menyebabkan pasien tidak mampu mandiri sejak kecil, mudah frustasi, hilangnya percaya diri dan lebih rentan terhadap stress. 2) Faktor Sosiokultural

(9)

3) Faktor Biologis

Mempunyai pengaruh terhadap terjadinya gangguan jiwa. Adanya stress yang berlebihan dialami seseorang maka di dalam tubuh akan dihasilkan suatu zat yang dapat bersifat halusinogenik neurokimia. Akibatnya stress berkepanjangan menyebabkan teraktivitasnya neurotransmitter otak.

4) Faktor Psikologis

Tipe kepribadian lemah dan tidak bertanggung jawab mudah terjerumus pada penyalahgunaan zat adiktif. Hal ini berpengaruh pada ketidakmampuan pasien dalam mengambil keputusan yang tepat demi masa depannya. Pasien lebih memiliki kesenangan sesaat dan lari dari alam nyata menuju alam khayal.

5) Faktor Genetik dan Pola Asuh

Penelitian menunjukkan bahwa anak sehat yang di asuh oleh orang tua yang schizofrenia cenderung mengalami schizofrenia.

c. Faktor Presipitasi 1) Perilaku

Respon pasien terhadap halusinasi dapat beurpa curiga, ketakutan, perasaan tidak aman, gelisah dan bingung, perilaku menarik diri, kurang perhatian, tidak mampu mengambil keputusan, serta tidak dapat membedakan keadaan nyata dan tidak nyata. halusigenik diduga berkaitan dengan gangguan orientasi realitas termasuk halusinasi.

4) Faktor psikologis

(10)

d. Manisfestasi Halusinasi

Manifestasi klinik dari halusinasi dengar (Auditory-hearing voices or sounds) meliputi beberapa fase menurut (Keliat, 2009):

1) Fase I: Sleep Disorder

Fase awal seseorang sebelum muncul halusinasi. Pasien merasa banyak masalah, ingin menghindar dari lingkungan, takut diketahui orang lain bahwa dirinya banyak masalah. Sulit tidur berlangsung terus menerus, sehingga biasa menghayal. Pasien menanggap lamunan-lamunan awal tersebut terhadap pemecahan masalah.

2) Fase II: Comforting Moderate level of anxiety

Halusinasi secara umum ia terima sebagai sesuatu yang alami. Pasien yang emosi secara berlanjut seperti adanya perasaan cemas, kesepian, perasaan berdosa, ketakutan dan mencoba memusatkan pemikiran pada timbulnya kecemasan. Ia beranggapan bahwa pengalaman pikiran dan sensorinya dapat ia kontrol bila kecemasannya diatur, dalam tahap ini ada kecenderungan pasien merasa nyaman dengan halusinasinya.

3) Fase III: Condemning Severe level of anxiety

Secara umum halusinasi sering mendatangi pasien. Pengalaman sensori pasien menjadi sering datang dan mengalami bias. Pasien merasa tidak mampu lagi mengontrolnya dan mulai berupaya menjaga jarak antara dirinya dengan objek yang dipersepsikan pasien mulai menarik diri dari orang lain dengan intensitas waktu yang lama.

4) Fase IV: Controlling Severe level of anxiety

Fungsi sensori menjadi tidak relevan dengan kenyataan. Pasien mencoba melawan suara-suara atau sensory abnormal yang datang. Pasien dapat merasakan kesepian bila halusinasinya berakhir. Dari sinilah dimulai fase gangguan Psychotic.

5) Fase V: Conquering Panic level of anxiety

(11)

Selain fase pada halusinasi, terdapat manifestasi klinik lain dalam bentuk tahap menurut Keliat (2009):

a) Tahap 1: Halusinasi bersifat tidak menyenangkan. Gejala Klinis: a. Menyeringai/tertawa tidak sesuai

b. Menggerakkan bibir tanpa bicara c. Gerakan mata cepat

d. Bicara lambat

e. Diam dan pikiran dipenuhi sesuatu yang mengasikkan b) Tahap 2 : Halusinasi bersifat menjijikan. Gejala klinis :

a. Cemas

b. Konsentrasi menurun

c. Ketidakmampuan membedakan nyata dan tidak nyata c) Tahap 3 : Halusinasi bersifat mengendalikan. Gejala klinis :

a. Cenderung mengikuti halusinasi

b. Kesulitan berhubungan dengan orang lain

c. Perhatian atau konsentrasi menurun dan cepat berubah

d. Kecemasan berat (berkeringat, gemetar, tidak mampu mengikuti petunjuk).

d) Tahap 4 : Halusinasi bersifat menaklukkan. Gejala klinis : a. Pasien mengikuti halusinasi

b. Tidak mampu mengendalikan diri c. Tidak mampu mengikuti perintah nyata

d. Beresiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan. e. Mekanisme Koping

Mekanisme koping adalah beberapa usaha yang secara langsung dilakukan individu untuk management stress yang dihadapi. Ada 3 tipe mekanisme koping menurut Stuart (2009):

1) Koping mekanisme yang berfokus pada masalah, dimana melibatkan usaha langsung untuk melakukan koping dengan diri sendiri.

2) Mekanisme koping yang berfokus pada kognitif, individu dicoba untuk mengontrol maksud atau makna dari masalah dan berusaha untuk menetralisirnya sendiri.

(12)

f. Sumber Koping

Menurut Stuart dan Laraia (2005; 2009) sumber koping terdiri atas kemampuan yang dimilki oleh individu dalam pemecahan masalah, dukungan sosial baik dari keluarga, kelompok, teman, dan orang-orang disekitarnya, aset ekonomi, dan keyakinan serta nilai-nilai positif yang dimilki oleh pasien. Sumber koping yang adekuat akan mampu membuat individu beradaptasi dengan stressor yang dihadapi dan mengatasi masalah yang ditemui. Keluarga merupakan salah satu sumber pendukung utama dalam penyembuhan klien dengan schizofrenia (Videbeck, 2008). Pengetahuan dan intelegensi adalah sumber koping lainnya yang akan menuntun individu untuk melihat cara lain dalam menghadapi stress. Dengan demikian sumber koping juga termasuk identitas ego yang kuat, system nilai dan keyakinan yang stabil dan orientasi pencegahan untuk kesehatan (Stuart, 2009).

2. Asuhan Keperawatan a. Pengkajian

a) Perubahan sensori perseptual : halusinasi pendengaran a. Data Subjektif :

Pasien mengatakan mendengar bunyi yang tidak berhubungan dengan stimulus nyata. Pasien takut pada suara/bunyi/gambar yang dilihat dan didengar. Pasien mengatakan bahawa ingin memukul/melempar barang-barang ketika suara muncul. Maka dapat disimpulkan bahwa pasien mengalami gangguan perubahan sensori perseptual: halusinasi. (Keliat, 2009).

b. Data Objektif :

Pasien terlihat sering berbicara dan tertawa sendiri. Pasien kerap bersikap seperti mendengar/melihat sesuatu yang ada disekitarnya. Setelah itu pasien akan berhenti bicara ditengah kalimat untuk mendengarkan sesuatu yang muncul. Respon yang akan muncul adalah pasien marah – marah tanpa sebab, lalu menutup telinga, dan ada gerakan tangan atau anggota tubuh lainnya (Yosep, 2009).

(13)

d. Perencanaan

Rencana keperawatan yang akan dilakukan adalah dengan cara membantu pasien untuk mengenali halusinasi yang muncul. Tujuannya adalah agar mengetahui jenis halusinasi dan mengetahui respon terhadap jenis halusinasi yang muncul. Untuk membantu pasien mengenali halusinasi, tindakan yang dapat di lakukan dengan cara berdiskusi dengan pasien tentang isi halusinasi (apa yang di dengar dan dilihat), waktu terjadinya halusinasi, frekuensi terjadinya halusinasi, situasi yang menyebabkan halusinasi muncul dan perasaan pasien saat halusinasi muncul. Setelah mengenali halusinasi yang muncul di diri pasien maka selanjutnya adalah dengan cara melatih mengontrol halusinasi. Tujuannya adalah agar pasien mampu mengontrol berbagai hal yang muncul dalam halusinasinya, Melatih pasien mengontrol halusinasi dapat dikakukan dengan empat cara. Keempat cara tersebut adalah: Menghardik halusinasi, bercakap-cakap dengan orang lain, melakukan aktifitas terjadwal, menggunakan obat secara teratur.

e. Pelaksanaan

Tindakan keperawatan dengan pendekatan strategi pelaksanaan (SP): a) SP 1 P : membantu pasien mengenal halusinasi, menjelaskan

cara mengontrol halusinasi, mengajarkan pasien mengontrol halusinasi.

b) SP 2 P : melatih pasien mengontrol halusinasi dengan cara bercakap-cakap dengan orang lain.

c) SP 3 P : melatih pasien mengontrol halusinasi melaksanakan aktivitas terjadwal.

d) SP 4 P : melatih pasien menggunakan obat secara teratur. f. Evaluasi

(14)

dilaksanakan. O = respon objektif klien terhadap tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan A = analisa ulang atas data subjektif dan objektif untuk menyimpulkan apakah masalah masih tetap atau muncul masalah baru atau ada data yang kontradiksi dengan masalah yang ada. P = perencanaan atau tindak lanjut berdasarkan hasil analisa pada respon klien.

B. Prosedur Teknik Menghardik pada Pasien Gangguan Persepsi Sensori: Halusinasi Pendengaran.

Pada klien dengan halusinasi pendengaran ada beberapa tindakan keperawatan yang dilakukan, salah satunya adalah dengan teknik menghardik yang akan diterapkan pada Karya Tulis Ilmiah.

a. Pengertian Teknik Menghardik

Menghardik halusinasi adalah upaya mengendalikan diri terhadap halusinasi dengan cara menolak halusinasi yang muncul. Pasien dilatih untuk mengatakan tidak terhadap halusinasi yang muncul atau tidak mempedulikan halusinasinya. Kalau ini bisa dilakukan, pasien akan mampu mengendalikan diri dan tidak mengikuti halusinasi yang muncul. Mungkin halusinasi tetap ada namun dengan kemampuan ini pasien tidak akan larut untuk menuruti apa yang ada dalam halusinasinya.

b. Tujuan

Tujuan diberikan teknik menghardik adalah agar pasien mampu mengenali jenis halusinasi yang terjadi dan dapat mengontrol setiap kali pemicu halusinasi muncul dan pada akhirnya pasien mampu melakukan aktivitasnya secara optimal.

c. Pentingnya teknik menghardik yang dilakukan pada pasien dengan halusinasi pendengaran.

(15)

d. Cara melakukan teknik menghardik pada halusinasi pendegaran:

a) Bina hubungan saling percaya dengan menggunakan prinsip komunikasi terapeutik :

b) Observasi tingkah laku klien terkait dengan halusinasinya dan diskusikan dengan klien mengenai isi, waktu, frekuensi halusinasi, situasi yang menimbulkan halusinasi, hal yang dirasakan jika berhalusinasi, hal yang dilakukan untuk mengatasi, serta dampak yang dialaminya.

c) Identifikasi bersama klien cara atau tindakan yang dilakukan jika terjadi halusinasi.

d) Diskusikan cara baru untuk memutus/mengontrol timbulnya halusinasi. e) Bantu klien memilih satu cara yang sudah dianjurkan dan latih untuk

mencobanya.

e. Hal yang harus diperhatikan.

(16)

BAB III

Metode Studi Kasus

1. Rancangan Studi Kasus

Dalam penulisan studi kasus menggunakan teknik deskriptif dengan bentuk case study atau studi kasus. Teknik deskriptif ini sendiri adalah teknik penulisan penelitian dengan tujuan memberikan kejadian secara objektif. Desain penelitian ini digunakan untuk menjawab atau memecahkan masalah yang sedang dihadapi saat ini. Selain itu penelitian deskriptif merupakan cara untuk menemukan makna baru, menjelaskan sebuah kondisi yang sedang akan diteliti. Rancangan penelitian deskriptif bertujuan untuk menerangkan atau menggambarkan masalah penelitian yang terjadi berdasarkan karakteristik orang, tempat dan waktu. Rancangan dalam penulisan kali ini adalah dengan menggunakan metode kualitatif. Bersifat mencari informasi faktual dan dilakukan secara mendetail. Studi kasus deskriptif ini sifatnya adalah mengidentifikasi masalah atau untuk mendapatkan justifikasi keadaan yang aktual terhadap subjek yang diteliti. Metode ini bercirikan nonnumerik dan lebih kepada model naratif (Nursalam, 2008).

2. Subjek Studi Kasus

(17)

pendengaran saja. Sehingga data yang diperoleh lebih valid. Dalam studi kasus kali ini penulis hanya menekankan pada pasien dengan kriteria inklusi. Namun apabila di lapangan terdapat kriteria ekslusi, maka penulis akan menerapkannya dengan memilih pasien dengan masalah kesehatan lain selain gangguan kejiwaan.

3. Fokus Studi

Fokus studi yang diambil adalah penerapan prosedur teknik mengontrol halusinasi dengan menghardik. Fokus studi dipilih berdasarkan studi kasus terdahulu mengenai jenis gangguan kejiwaan. Dengan pasien terbanyak adalah dengan masalah gangguan persepsi sensori: halusinasi. Teknik mengontrol yang dipilih dalam studi kasus ini yakni menghardik dengan alasan bahwa teknik SP pertama pada pasien gangguan persepsi sensori: halusinasi penengaran ini terkadang masih mendapatkan kesulitan dalam keberhasilannya. Hal ini menyebabkan pasien masih kerap mengalami gangguan suara dari luar sehingga halusinasi muncul. Teknik menghardik ini juga masih mendapatkan kendala dari ketidakjujuran pasien ketika suara muncul, pasien juga kurang terbuka kepada perawat sehingga terkadang banyak pasien yang justru jatuh dan terbawa kedalam halusinasi hingga terkadang perilaku yang muncul membahayakan pasien dan orang sekitar.

4. Definisi Operasional

Studi kasus penerapan prosedur keperawatan yakni fokus pada teknik mengontrol dengan menghardik halusinasi. Gangguan persepsi sensori: halusinasi pendengaran adalah masalah gangguan kejiwaan dimana pasien mengalami masalah atau persepsi sensori (pengindraan) muncul dari luar tubuh yang sebenarnya bersifat palsu/khayal yang jika di dalami akan membahayakan pasien serta lingkungan. Gangguan pengindraan yang muncul dapat berupa pendengaran, pengelihatan, penghinduan, penciuman, dan perabaan. Dalam studi kasus kali ini pasien mengalami gangguan persepsi sensori: pendengaran yang berasal dari luar yang sifatnya membawa pasien kedalam kondisi khayal sehingga perilaku atau respon yang muncul dapat membahayakan bila tidak dengan segera di lakukan tindakan keperawatan.

(18)

5. Instrumen Studi Kasus

Jenis instrumen yang digunakan yakni;

a. Biofisiologis; dalam studi kasus menggunakan pengukuran yang berorientasi pada dimensi fisiologis pasien. Studi kasus ini menggunakan pengukuran dengan mengukur fisiologis aktual pasien halusinasi pendengaran.

b. Observasi

Observasi yang dilakukan dapat menggunakan beberapa model instrumen antara lain;

a) Catatan anecdotal, yaitu dengan mencatat gejala-gejala khusus yang muncul selama studi kasus dengan pasien. Selain mencatat kejadian khusus, anecdotal juga dapat mencatat kejadian luar biasa berdasarkan urutan kejadian yang terjadi selama proses studi kasus.

b) Catatan berkala, yaitu mencatat setiap kegiatan atau gelaja secara urut dengan waktu yang tidak terus menerus namun berkala.

c) Daftar ceklist, yaitu menggunakan daftar yang membuat nama observer disetai jenis gejala yang diamati. Contoh dari daftar ceklist adalah daftar kegiatan harian yang disetujui oleh pasien dan perawat (peneliti).

c. Wawancara

Dalam studi kasus dapat dilakukan wawancara secara struktur dan tidak terstruktur yang dilakukan oleh pasien dan peneliti. Dalam studi kasus kali ini menggunakan wawancara terstrukur.

d. Kuesioner

Pengumpulan data yang dilakukan secara formal untuk menjawab pertanyaan yang diberikan penulis secara tertulis.

e. Skala penilaian

Skala penilaian digunakan guna mengetahui tingkat keberhasilan dari studi kasus yang dilakukan oleh penelti.

6. Prosedur Pengumpulan Data

(19)

7. Tempat dan Waktu Studi Kasus

Tempat yang digunakan selama studi kasus bertempat di RSCM dan dilakukan dalam waktu 8 hari terhitung dari tanggal 17-21 April 2017.

8. Analisis Data dan Penyajian Data

Data riset kualitatif biasanya berbentuk teks naratif yang berasal dari wawancara tertulis. Dalam studi kasus kali ini digunakan jenis fenomenologi yang merupakan riset tentang pengalaman. Teknik analisis data yang digunakan dalam riset fenomenologi meliputi data hasil wawancara dengan subjek studi untuk menemukan tema atau kategori pengalaman yang dipandang dari perspektif subjek.

9. Etika Studi Kasus

Etika keperawatan adalah nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang diyakini oleh profesi keperawatan dalam melaksanakan tugasnya yang berhubungan dengan pasien, masyarakat, teman sejawat, maupun bagian organisasi profesi, serta pengaturan dalam praktik keperawatan itu sendiri. Critical ethical analysis (pengambilan keputusan sesuai etik) (Yosep, 2009);

a. Meliputi pengumpulan informasi untuk mengklarifikasi latar belakang issue tersebut,

b. Mengidentifikasi komponen etik atau keadaan dilema yang terjadi, seperti adakah faktor kebebasannya (dilihat dari sudut pandang pemaksaan) atau adakah faktor ancaman (dilihat dari sudut hak untuk dapat menolak layanan)

c. Mengklarifikasi hak dan tanggung jawab yang ada pada seluruh pihak. Ini meliputi pasien, perawat, dan mungkin juga pihak lain seperti keluarga pasien. Hal ini alternatif eliminasi agar tidak terjadi pelanggaran hak atau tampak membahayakan. Karena fungsi primer keperawatan jiwa berhubungan dengan manusia, maka sengat penting untuk mengulas kembali bagaimana filosofi merawat pasien agar membantu perawat untuk membedakan pendekatan mana yang akan digunakan. Untuk itu ada 4 pendekatan, yakni:

(20)

d. Yang terakhir adalah solusi yang diimplementasikan kedalam tindakan. Dalam konteks memenuhi harapan sosial dan sesuai dengan hukum yang berlaku, perawat memutuskan kedalam tujuan dan metode implementasi.

(21)

Daftar Pustaka

http://digilib.stikeskusumahusada.ac.id/files/disk1/5/01-gdl-devianggra-250-1-p10013-d-i.pdf (diperoleh pada 15 Maret 2017)

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/24963/4/Chapter%20II.pdf (diperoleh pada 15 Maret 2017)

Keliat, BA., dkk. 2007. Keperawatan Kesehatan Jiwa Komunitas:CMHN (Basic Courese). Jakarta: EGC.

Keliat, BA., dkk. 2010. Model Praktik Keperawatan Profesional Jiwa. Jakarta: EGC. Nasir Abdul. 2011. Dasar-Dasar Keperawatan Jiwa: Pengantar dan Teori. Jakarta:

Penerbit Salemba Medika.

Nursalam. 2008. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan.

Jakarta: Penerbit Salemba Medika.

Stuart Gail W. 2007. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Jakarta;EGC.

Tirto Jiwo. 2015. Pusat Pemulihan dan Pelatihan bagi Penderita Gangguan Jiwa: Cara Mengatasi Halusinasi. Diperoleh 16 Maret 2017. mengatasi%20halusinasi %20_%20Tirto%20Jiwo.html.

Videbeck. 2008. Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta: EGC.

Watik Ahmad. 2007. Dasar-Dasar Metodologi Penelitian dan Kesehatan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Yosep Iyus. 2010. Keperawatan Jiwa. Bandung:PT. Refika Aditama Edisi Ketiga. Yusuf. 2015. Buku Ajar Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta: Penerbit Salemba

Referensi

Dokumen terkait

J Dengan Diagnosa Masalah Gangguan Persepsi Sensori: Halusinasi Pendengaran Di Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Sumatera Utara , Disusun sebagai persyaratan dalam menyelesaikan

Keperawatan pada klien dengan gangguan persepsi sensori halusinasi. pendengaran di Rumah Sakit Jiwa

Kesimpulan : Secara umum hasil akhir dari asuhan keperawatan yang diberikan pada klien Tn.T dengan gangguan sensori persepsi: halusinasi pendengaran semua masalah keperawatan

ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY.S DENGAN GANGGUAN SENSORI PERSEPSI HALUSINASI PENDENGARAN.. DI RUANG NAKULA

Asuhan keperawatan pada Ny.S dengan Gangguan persepsi sensori :. halusinasi pendengaran dilakukan di Ruang NAKULA RSUD

Pada laporan kasus ini penulis melakukan pengkajian pada klien dengan gangguan persepsi sensori: halusinasi pendengaran pada skizofrenia simplek, pada gangguan

ii PENERAPAN TERAPI MUSIK KLASIK TERHADAP PENURUNAN TANDA DAN GEJALA PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN PERSEPSI SENSORI: HALUSINASI PENDENGARAN DI PUSKESMAS CIKONENG KARYA TULIS

Klien M 1 Pengkajian terhadap klien skizofrenia dengan masalah keperawatan gangguan persepsi sensori: halusinasi pendengaran diperoleh faktor presipitasi dari klien M yaitu klien