• Tidak ada hasil yang ditemukan

PT Andalan Artha Advisindo Sekuritas

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "PT Andalan Artha Advisindo Sekuritas"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

Struktur Penawaran

Jumlah Rp 1 triliun

Jangka Waktu 370 hari - 5 tahun

Pembayaran bunga Triwulanan

PT General Electric Service 47,00% PT Astra International Tbk. 44,28% PT Sedaya Multi Investama 8,72%

Penawaran Obligasi

–

ASF merupakan perusahaan pembiayaan otomotif terbesar di Indonesia dengan pangsa saldo pembiayaan konsumen mencapai 13,2% terhadap industri perusahaan pembiayaan konsumen non bank per September 2004.

–

Posisi sebagai market leader di industri pembiayaan otomotif sangat didukung oleh jaringan operasional yang luas, strategi pemasaran yang tepat, basis konsumen yang kuat dan penerapan manajemen risiko yang prudent.

–

Strategi untuk tidak memfokuskan pembiayaan hanya kepada jenis, merek atau produsen otomotif tertentu telah memberikan keleluasaan bagi ASF dalam menangkap peluang bisnis yang ada. Kegiatan pembiayaan ASF tetap tumbuh meski beberapa merek kendaraan mengalami penurunan dalam penjualan atau pangsa pasar akibat tingginya persaingan di industri otomotif.

–

Kegiatan pembiayaan otomotif ASF selama 9 bulan pertama tahun 2004 telah melampaui kegiatan pembiayaan selama tahun 2003, baik secara nilai maupun unit kendaraan yang dibiayai.

–

Akses ke sumber pendanaan yang luas sangat mendukung ASF meningkatkan kegiatan pembiayaan otomotifnya dan memperoleh cost of fund yang efisien.

–

Leverage yang meningkat diperkirakan tidak akan membebankan neraca perusahaan, mengingat ASF memiliki kemampuan yang tinggi dalam menyalurkan pembiayaan dan menjaga kualitas aktivanya untuk tetap baik.

–

Kualitas yang baik dengan delinquency rate dan NPL yang rendah merupakan karakteristik utama aktiva ASF. Kemampuan meningkatkan aktiva produktif dengan mempertahankan kualitas aktiva tetap baik tidak terlepas dari praktek manajemen risiko yang handal, yang diadopsi dari sistem manajemen risiko perusahaan dengan rating AAA dari General Elec-tric.

–

Strategi interest maturity gap yang telah diterapkan ASF selama ini diperkirakan mampu melindungi profitabilitas perusahaan yang berasal dari portofolio pembiayaan saat ini terhadap potensi kenaikan suku bunga.

–

Risiko bisnis akibat ketergantungan pada sektor otomotif yang sangat terkait dengan kinerja perekonomian diperkirakan masih tetap ada, meski industri otomotif merupakan industri yang sangat berkembang di Indonesia.

(Rp miliar) 2000 2001 2002 2003 Sep-04

Kas 43,4 69,9 80,5 76,9 63,6

Piutang pembiayaan 1.008,9 1.375,9 1.659,9 3.018,7 4.183,3

Total aktiva 1.223,6 1.635,1 1.893,3 3.299,4 4.582,4

Total hutang 664,7 876,0 981,6 2.281,2 3.284,5

Total ekuitas 437,4 590,9 713,8 874,7 1.003,1

Pendapatan usaha 354,8 571,3 670,1 891,5 1.048,8

Pendapatan pembiayaan 281,9 490,5 578,4 762,5 914,7

Laba usaha 116,4 235,8 292,7 341,9 323,8

Laba bersih 83,6 168,3 207,1 245,8 226,8

Marjin laba usaha (%) 32,8 41,3 43,7 38,3 30,9

Marjin laba bersih (%) 29,6 34,3 35,8 32,2 24,8

Imbal hasil atas aktiva (%) 9,6 11,8 11,7 9,5 9,3

Imbal hasil atas ekuitas (%) 19,7 32,7 31,8 30,9 29,3

Net interest margin (%) 28,7 26,1 26,3 22,2 21,8

Ekuitas/Aktiva (%) 35,7 36,1 37,7 26,5 21,9

Hutang/ekuitas (x) 1,5 1,5 1,4 2,6 3,3

IKHTISAR KEUANGAN

Sumber: ASF, diolah AAA Sekuritas

ASTRA SEDAYA FINANCE

(2)

Kekuatan Perusahaan

Perusahaan pembiayaan otomotif terbesar di Indonesia

Kemampuan meningkatkan tingkat pertumbuhan pembiayaan konsumen yang lebih tinggi dari industri, mendorong pangsa pembiayaan konsumen ASF terhadap nasional terus tumbuh. Perolehan pangsa pasar yang mencapai sekitar 9,4% di tahun 1999 terus mengalami kenaikan hingga mencapai 13,2% terhadap industri perusahaan pembiayaan konsumen non bank di bulan September 2004. Pada periode yang sama, saldo pembiayaan konsumen ASF tumbuh dengan CAGR 62,7%, sementara industri tumbuh dengan CAGR 51,6%.

Jaringan operasional yang luas dengan basis nasabah yang kuat

Posisi sebagai market leader sangat didukung oleh jaringan pemasaran ASF yang tersebar luas di seluruh Indonesia. Tidak kurang dari 28 jaringan operasional dan 7 point of sales yang terjalin bersama dengan lebih dari 1.900 dealer otomotif dimiliki oleh ASF. Belum lagi jaringan pemasaran yang disediakan oleh Astra International melalui showroom-showroom mobilnya yang dapat digunakan oleh ASF untuk menyalurkan pembiayaan otomotif. Dengan luasnya jaringan pemasaran ini, kemampuan ASF dalam melakukan penetrasi pasar semakin baik. Saat ini, ASF sudah melayani lebih dari 600 ribu nasabah.

Kemampuan menghasilkan pembiayaan yang cukup tinggi dengan kualitas yang tetap terjaga

ASF memiliki kemampuan menghasilkan pembiayaan yang cukup tinggi. Selama periode Januari-September 2004, rata-rata nilai pembiayaan baru yang diproduksi ASF per bulan mencapai Rp 718,2 miliar. Jumlah ini meningkat dari tahun 2003 yang mencapai rata-rata Rp 433,0 miliar per bulan. Meski pertumbuhan pembiayaan baru cukup tinggi, ASF tetap memiliki kemampuan menjaga kualitasnya tetap baik dengan delinquency rate dan non performing loan yang rendah. Rasio keterlambatan saldo piutang lebih dari 30 hari terhadap piutang pembiayaan kotor relatif kecil dan stabil pada kisaran 1% selama tahun 2004.

Akses ke sumber pendanaan yang luas

ASF memiliki akses ke sumber dana yang luas. Hal ini tidak terlepas dari reputasi ASF sebagai perusahaan pembiayaan yang prudent sehingga selalu mendapat kepercayaan dari lembaga perbankan dan non bank untuk memperoleh pendanaan. Pendanaan tersebut antara lain pinjaman bank, skema pembiayaan bersama dan anjak piutang. ASF juga memiliki track record yang baik dalam setiap penerbitan obligasinya dengan selalu melunasi hutang-hutangnya secara tepat waktu tanpa harus direstrukturisasi. Akses ke sumber pendanaan yang luas ini sangat dibutuhkan untuk menjaga kelangsungan usaha ASF dan juga untuk memperoleh cost of fund yang efisien.

Permodalan yang memadai

(3)

Potensi Risiko

Kinerja penjualan otomotif yang sangat terkait dengan kinerja perekonomian Bisnis pembiayaan otomotif memiliki hubungan yang berbanding lurus dengan industri otomotif. Jika industri otomotif mengalami perkembangan yang negatif seperti yang terjadi di tahun 1998 ketika krisis ekonomi melanda Indonesia, maka industri pembiayaan otomotif juga akan mengalami hal yang sama. Sementara jika industri otomotif tumbuh positif, maka industri pembiayaan juga akan berkembang seperti yang terjadi sejak tahun 1999. Dengan melihat kondisi ekonomi Indonesia yang semakin membaik saat ini serta sifat industri otomotif yang cepat berkembang, industri pembiayaan otomotif masih memiliki prospek yang cerah. Selain itu, mobil bekas yang juga menjadi objek pembiayaan ASF dapat menjadi penyeimbang jika bisnis mobil baru mengalami perkembangan yang kurang baik.

Tingkat persaingan yang semakin tinggi

(4)

Tentang Perusahaan

Perusahaan pembiayaan otomotif terbesar di Indonesia

PT Astra Sedaya Finance (ASF) merupakan perusahaan pembiayaan otomotif terbesar di Indonesia. Kemampuan meningkatkan tingkat pertumbuhan pembiayaan konsumen yang lebih tinggi dari industri, mendorong pangsa pembiayaan konsumen ASF terhadap nasional terus tumbuh. Perolehan pangsa pasar yang mencapai sekitar 9,4% di tahun 1999 terus mengalami kenaikan hingga mencapai 13,2% terhadap industri perusahaan pembiayaan konsumen non bank di bulan September 2004. Pada periode yang sama, saldo pembiayaan konsumen ASF tumbuh dengan CAGR 62,7%, sementara industri tumbuh dengan CAGR 51,6%.

Objek pembiayaan yang terdiversifikasi

Objek pembiayaan otomotif ASF cukup luas, tidak hanya mobil-mobil yang diproduksi maupun yang didistribusikan oleh PT Astra International Tbk. (sebagai pemegang langsung maupun tidak langsung 53% saham ASF), tetapi juga merek-merek mobil yang diproduksi dan didistribusikan oleh perusahaan selain Astra. Aktifitas pembiayaannya pun tidak terbatas untuk mobil-mobil baru, tetapi juga mobil bekas, baik mobil Astra maupun non Astra. Sejak tahun 2003, ASF juga memasuki bisnis pembiayaan sepeda motor non Honda. Namun hal ini tidak menghadapkan ASF kepada risiko bisnis yang lebih besar mengingat perusahaan ini memiliki sistem manajemen risiko yang handal. Pengalaman selama 23 tahun di bisnis pembiayaan, membuat ASF sangat mengenal pasar pembiayaan di Indonesia.

Selain pembiayaan otomotif, ASF juga melakukan pembiayaan sewa guna usaha untuk alat-alat berat, seperti yang biasa digunakan di industri perkebunan, pertambangan dan konstruksi. Namun kontribusi bisnis yang sempat terhenti kegiatannya pada tahun 1999 akibat krisis ekonomi dan dilanjutkan kembali pada tahun 2002 ini masih relatif kecil terhadap total portofolio pembiayaan ASF. Sampai dengan bulan September 2004, rasio piutang pembiayaan sewa guna usaha terhadap total piutang pembiayaan ASF mencapai 1,9%.

(dalam Rp miliar) 1999 2000 2001 2002 2003 Sep-04 CAGR

Sumber : ASF, Bank Indonesia, diolah AAA Sekuritas Pembiayaan Konsumen

Industri 4.323 8.515 12.361 16.594 22.666 31.199 51,6% ASF 406 1.009 1.376 1.660 2.976 4.105 62,7% Pangsa Pasar 9,4% 11,8% 11,1% 10,0% 13,1% 13,2%

Sewa Guna Usaha

Industri 10.928 13.731 14.133 12.576 11.594 13.499 4,5%

ASF - - - 0 43 78 n.a.

Pangsa Pasar - - - 0% 0,4% 0,6%

Tabel 1. Perkembangan Kegiatan Usaha ASF Relatif Terhadap Industri

Memiliki keleluasaan dalam menangkap peluang bisnis di industri otomotif Dengan tidak memfokuskan pembiayaan hanya kepada jenis, merek atau produsen otomotif tertentu telah memberikan keleluasaan bagi ASF dalam menangkap peluang bisnis yang ada. Ini bisa dilihat pada terus tumbuhnya kegiatan pembiayaan ASF, meski beberapa merek kendaraan mengalami penurunan dalam penjualan atau pangsa pasar akibat tingginya persaingan di industri otomotif.

Industri otomotif nasional terus menunjukkan perkembangan yang menggembirakan selama tahun 2004. Penjualan mobil nasional mencapai 483 ribu unit yang berarti jauh melampaui penjualan sebelum krisis yang mencapai 340 ribu unit. Bahkan angka penjualan ini telah melampaui prediksi penjualan tahun 2004 yang awalnya diperkirakan mencapai hanya 380 ribu unit. Penjualan yang cukup tinggi menempatkan Indonesia di urutan kedua setelah China sebagai negara dengan tingkat pertumbuhan penjualan mobil terbesar di dunia (Sumber: Bisnis Indonesia, 05/01/05 dan 14/01/05).

(5)

Gambar 1. Perkembangan Penjualan Otomotif Nasional

Sumber : Diolah dari data GAIKINDO dan AISI

Berlanjutnya pertumbuhan penjualan otomotif di tahun 2004 ini banyak dipengaruhi oleh berbagai faktor. Di antaranya adalah:

–

Perkembangan ekonomi Indonesia yang terus menunjukkan pertumbuhan yang positif sampai dengan tahun 2004 ditambah dengan kondisi keamanan yang tetap stabil, telah memberikan keyakinan para pelaku usaha terhadap kelanjutan pemulihan ekonomi yang sedang berjalan.

–

Munculnya varian-varian mobil baru dengan harga di bawah Rp 100 juta.

–

Tingkat suku bunga pasar yang relatif rendah menambah daya beli masyarakat.

–

Adanya dukungan dari industri perbankan dan lembaga pembiayaan konsumen yang memberikan pembiayaan kepemilikan kendaraan bermotor dengan bunga menarik.

Kegiatan usaha yang tetap fokus pada pembiayaan otomotif telah memberikan manfaat yang sangat besar bagi ASF dari tumbuh pesatnya penjualan mobil dan sepeda motor secara kredit di Indonesia. Meski strategi untuk tetap fokus pada pembiayaan otomotif telah memberikan keuntungan yang signifikan, namun keterkaitan yang sangat erat dengan industri otomotif masih memberikan risiko akibat konsentrasi. Risiko ini terkait dengan kinerja industri otomotif yang cenderung fluktuatif, terpengaruh oleh kinerja ekonomi secara keseluruhan. Meski risiko yang berkaitan dengan kinerja perekonomian berada di luar kendali perusahaan, namun ASF tetap berusaha meminimalisir risiko tersebut dengan melakukan diversifikasi terutama berkaitan dengan objek pembiayaan dan wilayah kegiatan usaha.

Jaringan pemasaran yang luas

Selain karena kondisi pasar otomotif yang membaik, terus meningkatnya kegiatan usaha ASF juga didukung oleh jaringan pemasaran yang luas. Sampai dengan bulan September 2004, jaringan pemasaran ASF telah mencapai 28 jaringan operasional dan 7 point of sales yang terjalin bersama dengan lebih dari 1.900 dealer otomotif yang tersebar di seluruh Indonesia. Dealer-dealer tersebut memiliki peranan yang sangat penting untuk meningkatkan kegiatan pembiayaan ASF. Untuk itu, ASF terus berusaha memperkuat hubungan kerja samanya dengan memberikan kemudahan-kemudahan pemrosesan aplikasi pembiayaan, produk-produk pembiayaan yang inovatif serta program reward yang menarik bagi para dealer. Kemampuan ASF dalam menetapkan strategi pemasaran dan menjalin hubungan yang sangat baik dengan para dealer telah mendorong pertumbuhan pembiayaan ASF yang lebih cepat dan pangsa pasar yang terus meningkat. Strategi pemasaran yang tepat dan jaringan operasi yang luas ini mampu memperkuat basis nasabah ASF hingga mencapai lebih dari 600.000 nasabah.

Akses ke sumber pandanaan yang luas

Dukungan sumber dana yang kuat juga menjadi keunggulan ASF sebagai lembaga pembiayaan terkemuka di Indonesia. Akses yang luas ke dana perbankan, lembaga keuangan dan pasar modal mendukung ASF untuk mampu mengelola sumber pendanaannya dengan baik guna memperoleh cost of fund yang efisien. Sumber pendanaan yang kuat sangat dibutuhkan menunjang kegiatan

(6)

usaha ASF, mengingat sebagai lembaga keuangan non bank, ASF tidak diperkenankan menghimpun dana masyarakat secara langsung.

(7)

Fokus 9M04

Kinerja operasional dan keuangan ASF selama 9 bulan pertama tahun 2004 dinilai sangat baik. Omzet pembiayaan ASF sampai dengan bulan September berhasil melampaui total omzet selama tahun 2003. Pendapatan bunga dan laba ASF juga mengalami peningkatan, meski tingkat persaingan di industri pembiayaan otomotif masih cukup tinggi. Posisi pasar yang kuat dengan brand image yang baik serta strategi pemasaran yang tepat dengan kemampuan mengelola sumber pendanaan yang efisien merupakan kunci sukses meningkatnya kinerja perusahaan di tahun ini.

Kinerja Operasional

Omzet 9 bulan pertama 2004 sudah melampaui omzet selama tahun 2003

Nilai pembiayaan baru selama 9 bulan pertama tahun 2004 berhasil melampaui nilai pembiayaan baru selama tahun 2003. Sampai dengan bulan September, total omzet ASF mencapai Rp 6,5 triliun dengan rata-rata nilai pembiayaan baru per bulan mencapai Rp 718,2 miliar. Jumlah ini meningkat dibanding tahun sebelumnya yang mencapai Rp 5,2 triliun dengan rata-rata pembiayaan baru per bulan mencapai Rp 433,0 miliar.

Gambar 2. Pertumbuhan Nilai Pembiayaan Yang Disalurkan

Sumber : ASF, diolah AAA Sekuritas 3,4

2000 2001 2002 2003 Sep-04

Rp triliun

Tumbuhnya nilai pembiayaan baru ini dipicu oleh meningkatnya permintaan masyarakat terhadap pembiayaan kepemilikan kendaraan bermotor. Selama tahun 2004 sampai dengan bulan September, jumlah mobil baru yang dibiayai ASF mencapai 42.859 unit. Jumlah ini meningkat 36,3% dari tahun 2003 yang mencapai 31.450 unit. Sementara itu, porsi pembiayaan mobil baru ASF terhadap penjualan mobil baru nasional juga mengalami peningkatan dari 8,9% di tahun 2003 menjadi 12,3% selama 9 bulan pertama tahun 2004.

Selain pembiayaan mobil baru, pembiayaan mobil bekas juga terus menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Selama 9 bulan pertama 2004, jumlah mobil bekas yang dibiayai ASF sudah melampaui volume pembiayaan selama tahun 2003. Terus meningkatnya jumlah unit mobil bekas yang dibiayai ini sejalan dengan strategi ASF menuju ke pembiayaan yang lebih terdiversifikasi. Selain untuk meminimalisir risiko akibat konsentrasi, tujuan dari strategi ini adalah untuk menangkap peluang pasar yang ada dan yield pembiayaan yang lebih tinggi. Untuk ke depannya, diharapkan pembiayaan mobil bekas akan mengambil porsi yang cukup signifikan terhadap total portofolio pembiayaan ASF, baik secara nilai maupun unit yang dibiayai.

2000 2001 2002 2003 Sep-04

Sumber : ASF, GAIKINDO

Volume pembiayaan otomotif ASF

Mobil baru (unit) 30.320 33.615 29.688 31.450 42.859 Mobil bekas (unit) 15.096 15.420 14.560 24.222 24.287 Motor (unit) - - - 10.796 29.806

Volume penjualan mobil nasional

Astra (unit) 150.575 138.192 135.773 147.074 154.514 Non Astra (unit) 148.090 161.437 182.021 207.260 194.222 Total (unit) 298.665 299.629 317.794 354.334 348.736

(8)

Kinerja Keuangan

Laba sebelum pajak naik 37,2%

Seiring dengan meningkatnya kegiatan pembiayaan tersebut, aktiva pembiayaan ASF tercatat mengalami peningkatan sebesar 38,6% dari tahun 2003. Aktiva produktif yang 98,1% merupakan piutang pembiayaan konsumen ini tumbuh dari Rp 3,0 triliun di tahun 2003 menjadi Rp 4,2 triliun per September 2004. Ini berarti aktiva produktif ASF sudah mengalami pertumbuhan sebesar CAGR 46,1% sejak tahun 2000. Dengan terus tumbuhnya aktiva pembiayaan, kinerja pendapatan ASF juga terus mengalami kenaikan. Selama 9 bulan pertama tahun 2004, laba sebelum pajak tumbuh 39,2% dari periode yang sama tahun sebelumnya. Hal ini didorong oleh kenaikan pendapatan bunga bersih sebesar 82,0%. Bottom line ASF juga mengalami peningkatan sebesar 36,3% di periode yang sama.

(dalam Rp miliar) 2Q04 3Q04 QoQ (%) 9M03 9M04 YoY (%)

Sumber : ASF, diolah AAA Sekuritas

Pendapatan bunga 331,2 346,3 4,6 509,2 914,7 79,6 Beban bunga (111,5) (102,4) (8,1) (160,8) (280,5) 74,5 Pendapatan bunga bersih 219,7 243,8 11,0 348,4 634,1 82,0 Pendapatan non bunga 37,8 54,1 43,2 89,6 134,1 49,7 Pendapatan operasi 257,5 298,0 15,7 438,0 768,3 75,4 Beban operasional (75,9) (102,3) 34,7 (136,0) (238,8) 75,6 Laba usaha sebelum beban penyisihan 181,6 195,6 7,8 302,0 529,5 75,3 Beban penyisihan (75,9) (73,2) (3,5) (69,3) (205,6) 196,6 Laba sebelum pajak 105,7 122,4 15,8 232,7 323,8 39,2 Beban pajak (32,5) (35,9) 10,5 (66,3) (97,0) 46,4 Laba bersih 73,2 86,5 18,2 166,4 226,8 36,3

Tabel 3. Ikhtisar Laba Rugi

Kinerja profitabilitas yang relatif stabil

Kinerja ASF dari sisi profitabilitas dinilai cukup stabil. Rasio laba usaha sebelum beban penyisihan terhadap total pendapatan berada pada kisaran 50%. Hal ini tidak terlepas dari kemampuan ASF mengendalikan beban operasionalnya di mana rasio beban operasi terhadap pendapatan bertahan pada kisaran 22%. Selain itu, struktur profitabilitas ASF saat ini juga dinilai masih memberikan perlindungan yang cukup bagi ekuitas perusahaan terhadap potensi kerugian akibat tak tertagihnya piutang pembiayaan. Hal ini ditunjukkan oleh rasio laba usaha sebelum beban penyisihan terhadap beban penyisihan yang mencapai 2,6 kali di bulan September 2004.

9M03 FY03 3M04 6M04 9M04

Sumber : ASF, diolah AAA Sekuritas

Laba usaha sebelum beban penyisihan/

total pendapatan (%) 50,4 51,2 54,5 51,0 50,5 Laba sebelum pajak/total pendapatan (%) 38,9 38,3 34,3 31,1 30,9 Laba bersih/total pendapatan (%) 27,8 27,6 24,0 21,6 21,6 Laba bersih/rata-rata aktiva (%) 9,3 9,5 7,4 7,5 7,7 Laba bersih/rata-rata ekuitas (%) 29,3 30,9 29,5 32,6 32,2 Beban operasional/pendapatan bersih (%) 22,7 21,6 21,7 20,9 22,8 Laba usaha sebelum beban penyisihan/

beban penyisihan (x) 4,4 4,0 2,7 2,5 2,6

(9)

Profil Keuangan

Kualitas yang baik dengan delinquency rate dan non performing loan yang rendah merupakan karakteristik utama dari aktiva ASF. Meningkatnya delinquency rate menjelang akhir tahun lebih disebabkan oleh faktor musiman daripada karakteristik nasabah yang memburuk. Meningkatnya komponen hutang di dalam struktur permodalan masih dapat dikelola dengan baik dan diperkirakan tidak akan membebankan neraca ASF mengingat perusahaan ini memiliki kemampuan menyalurkan pembiayaan yang sangat tinggi dan manajemen risiko yang prudent.

Kualitas Aktiva

Kualitas yang baik merupakan karakteristik aktiva ASF

Kualitas yang baik dengan delinquency rate dan non performing loan yang rendah merupakan karakteristik utama dari aktiva ASF. Meski aktiva produktif mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi dalam beberapa tahun terakhir, namun ASF tetap mampu menjaga kualitas aktivanya dengan baik. Hal ini tidak terlepas dari dukungan praktek manajemen risiko yang handal, yang diadopsi dari sistem manajemen risiko perusahaan dengan rating AAA dari General Electric. Penerapan provisi yang konservatif dan proses underwriting pembiayaan dan koleksi yang cermat menyebabkan risiko kerugian akibat tak tertagihnya piutang dapat diminimalisir.

Provisi konservatif untuk memberikan perlindungan bagi ekuitas

Meski secara historis deliquency rate ASF cukup rendah, namun manajemen tetap konservatif dalam mengelola portofolio pembiayaannya. Hal ini bisa dilihat pada rasio saldo penyisihan piutang ragu-ragu yang dibentuk terhadap pokok piutang pembiayaan yang dikelola ASF (termasuk piutang joint financing yang risikonya ditanggung ASF) selalu dijaga sebesar 3%. Saldo penyisihan ini mampu meng-cover saldo piutang pembiayaan kotor yang terlambat lebih dari 60 hari sebanyak lebih dari 8 kali per September 2004. Sementara kerugian aktual yang diwakili oleh net write off hanya mencapai rata-rata 0,7% terhadap pokok piutang selama 5 tahun terakhir. Praktek penyisihan piutang ragu-ragu yang konservatif ini diperlukan untuk memberikan perlindungan bagi permodalan ASF dari risiko kerugian akibat tak tertagihnya piutang.

2000 2001 2002 2003 Sep-04

Sumber : ASF, diolah AAA Sekuritas

Piutang pembiayaan - kotor (Rp miliar) 3.378,7 5.061,7 5.630,7 7.197,6 10.411,5 Piutang pembiayaan - bersih (Rp miliar) 1.008,9 1.375,9 1.660,0 3.018,7 4.183,3 Pokok piutang pembiayaan (Rp miliar) 1.078,4 1.473,2 1.770,1 3.162,8 4.417,9

Penyisihan piutang pembiayaan yang diragukan

Saldo awal (Rp miliar) 15,0 69,5 97,4 110,1 144,1 Penyisihan tahun berjalan (Rp miliar) 56,4 33,4 28,2 108,1 191,6 Penghapusan (Rp miliar) (1,8) (5,6) (15,5) (74,1) (101,1) Saldo akhir (Rp miliar) 69,5 97,4 110,1 144,1 234,6

Rasio-rasio

Saldo penyisihan/piutang kotor (%) 2,1 1,9 2,0 2,0 2,3 Saldo penyisihan/pokok piutang (%) 6,4 6,6 6,2 4,6 5,3 Penyisihan tahun berjalan/penghapusan (x) 30,6 6,0 1,8 1,5 1,9 Penghapusan/pokok piutang (%) 0,2 0,4 0,9 2,3 2,3 Saldo penyisihan/keterlambatan > 30 hari (x) 86,2 41,4 19,7 1,6 21,4

Tabel 5. Indikator Kualitas Aktiva

Permodalan

Permodalan yang memadai dengan leverage yang terkendali

(10)

Ke depan diperkirakan ASF akan tetap menjalankan strategi pendanaan melalui pasar modal, lembaga perbankan, dan lembaga non bank, selain menggunakan modalnya sendiri. Ke depannya belum ada rencana dari para pemegang saham untuk melakukan penambahan modal. Nampaknya ASF saat ini lebih mengutamakan pembentukan ekuitas secara internal dengan mengandalkan kemampuannya menghasilkan profitabilitas yang tinggi. Dengan rasio imbal hasil atas ekuitas mencapai rata-rata 31,9% dalam 4 tahun terakhir, total ekuitas ASF tumbuh dengan CAGR 21,2% dalam periode yang sama.

2000 2001 2002 2003 Sep-04

Sumber : ASF, diolah AAA Sekuritas

Aktiva produktif 1.052,2 1.445,7 1.740,4 3.095,7 4.246,9 Penyertaan 38,7 43,3 43,0 58,5 56,7 Aktiva tetap 10,8 9,0 10,5 16,1 21,7 Aktiva lain-lain 121,9 137,1 99,4 129,2 257,1 Total aktiva 1.223,6 1.635,1 1.893,3 3.299,4 4.582,4 Hutang + anjak piutang 664,7 876,0 981,6 2.281,2 3.284,5 Kewajiban lain-lain 121,5 168,2 197,9 143,5 294,8 Ekuitas 437,4 590,9 713,8 874,7 1.003,1 Total kewajiban dan ekuitas 1.223,6 1.635,1 1.893,3 3.299,4 4.582,4

Rasio Kecukupan Modal

Ekuitas/aktiva (%) 35,7 36,1 37,7 26,5 21,9 Hutang/aktiva (%) 54,3 53,6 51,8 69,1 71,7 Hutang/ekuitas (x) 1,5 1,5 1,4 2,6 3,3 Rasio proteksi permodalan (%) 3,1 8,0 11,4 4,0 3,4

Tabel 6. Ringkasan Neraca

Likuiditas

Likuiditas yang sangat baik didukung oleh akses yang luas ke sumber dana Sebagai lembaga keuangan non bank yang tidak diperkenankan menghimpun dana masyarakat secara langsung, ASF dinilai memiliki kondisi likuiditas yang sangat baik. Berkat reputasinya sebagai lembaga pembiayaan terkemuka di Indonesia dengan pengalaman selama 23 tahun, ASF telah mendapat kepercayaan dari institusi perbankan dan non bank, baik lokal maupun asing, untuk memperoleh pendanaan baik berupa pinjaman langsung maupun dalam skema pembiayaan bersama (joint financing). Tidak kurang dari Rp 8,3 triliun komitmen telah diberikan oleh sektor perbankan dan institusi keuangan dalam bentuk joint financing sampai dengan bulan September 2004.

Selain itu, ASF juga memperoleh fasilitas pinjaman bank yang digunakan untuk membiayai modal kerja perusahaan termasuk di dalamnya membiayai kegiatan pembiayaan, dimana jumlahnya mencapai Rp 1,2 triliun. Sampai dengan bulan September 2004, fasilitas tersebut baru dimanfaatkan sebesar 79,3%.

Memiliki track record yang baik dalam setiap penerbitan obligasi

Selain memperoleh dana dari bank, ASF juga memiliki akses pendanaan yang kuat ke pasar modal. Didukung dengan kemampuan melunasi pokok hutang dan beban bunga tepat waktu bahkan di saat krisis tahun 1998, ASF memiliki reputasi sebagai perusahaan pembiayaan yang prudent. Sampai dengan bulan September 2004, posisi hutang obligasi ASF yang belum jatuh tempo mencapai Rp 1,85 triliun yang terdiri dari obligasi ASF II berjumlah Rp 119,8 miliar (jatuh tempo Mei 2005), ASF III berjumlah Rp 581,6 miliar (jatuh temponya bervariasi yaitu Mei 2005 dan Mei 2007), obligasi IV berjumlah Rp 1,15 triliun (jatuh tempo antara bulan Maret 2005 dan Maret 2008), dan obligasi V berjumlah Rp 1,5 triliun (jatuh tempo pada Oktober 2008).

(11)

Nama Bank/Lembaga Keuangan Pinjaman Bank Joint Financing Anjak Piutang

Sumber : ASF

Bank Bumiputera - 475

-BCA 350 -

-BNI - 2.000

-Bank Permata - 800

-Citibank 150 -

-DBS 100 -

-GE Finance Indonesia - 5.000 1.000

JP Morgan 90 -

-NISP 150 -

-Mizuho 30 -

-HSBC 193 -

-Stanchart 100 -

-Total 1.163 8.275 1.000

(12)

Prospek Usaha

Meski pada tahun 2004, kegiatan pembiayaan ASF telah mencatat nilai pembiayaan tertinggi dalam sejarah berdirinya perusahaan ini, namun prospek bisnis pembiayaan ASF dan prospek industri ke depan diperkirakan masih cukup bagus. Permintaan terhadap pembiayaan kepemilikan kendaraan bermotor diperkirakan masih tinggi. Beberapa faktor pendukung pertumbuhan ini adalah:

–

Proyeksi perkembangan ekonomi tahun 2005 yang tetap baik, terutama dari sisi makro yang didukung oleh situasi global yang solid, stabilitas ekonomi makro yang terjaga serta membaiknya kondisi sosial ekonomi dalam negeri. Diperkirakan pada tahun 2005, ekonomi Indonesia akan tumbuh pada kisaran 5 – 5,5%. Dengan terus tumbuhnya pertumbuhan ekonomi ini berdampak pada meningkatkan pendapatan per kapita penduduk Indonesia yang pada akhirnya akan meningkatkan daya beli termasuk terhadap kendaraan bermotor.

–

Suku bunga pinjaman diperkirakan tetap rendah, meski ada potensi mengalami sedikit kenaikan. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal.

ƒ Dampak kenaikan harga BBM yang kemungkinan besar terjadi di tahun 2005 terhadap inflasi diperkirakan masih dapat dikompensasi oleh relatif terjaganya nilai tukar rupiah, kembali stabilnya harga minyak dunia dan kondisi sosial politik dalam negeri yang kondusif. Hal ini menyebabkan inflasi di tahun 2005 masih relatif terkendali.

ƒ Kebijakan suku bunga rendah diperkirakan masih akan dipertahankan oleh Bank Indonesia, selain masih lemahnya stimulus fiskal, juga diharapkan dapat segera memulihkan fungsi intermediasi perbankan.

ƒ Spread suku bunga simpanan dan pinjaman masih cukup lebar, di mana dengan tingkat persaingan perbankan yang cukup ketat, suku bunga pinjaman diperkirakan tidak akan naik terlalu tinggi.

Selain dapat meningkatkan daya beli masyarakat, rendahnya suku bunga pinjaman ini juga berdampak pada kinerja profitabilitas perusahaan pembiayaan mengingat dana perbankan merupakan salah satu sumber pendanaan yang sangat penting dalam menunjang kegiatan usaha perusahaan pembiayaan. Andaikata kenaikan suku bunga terjadi, dengan menerapkan strategi interest maturity gap, diperkirakan profitabilitas ASF yang berasal dari portofolio pembiayaan saat ini tidak terganggu.

–

Dari sisi penawaran, meningkatnya penjualan otomotif di masa depan juga dipengaruhi oleh beberapa hal.

ƒ Terus diproduksinya jenis mobil dengan harga dibawah Rp 100 juta. Di tahun 2004, jenis mobil dengan harga jual yang cukup terjangkau ini mendominasi penjualan otomotif secara nasional.

ƒ Hadirnya pemain-pemain baru di industri otomotif seperti China, Malaysia, Italia dan India diperkirakan akan menambah tekanan pada persaingan yang sudah cukup tinggi di Indonesia. Hal ini tentu berdampak pada strategi harga masing-masing produsen yang pada akhirnya akan memberikan keuntungan bagi masyarakat.

(13)

Gambar 3. Pertumbuhan Base Lending Rate

Sumber : Bloomberg, diolah AAA Sekuritas 0%

Gambar 4. Spread Suku Bunga Pinjaman dan Simpanan Perbankan

Sumber : Statistik Ekonomi Keuangan Indonesia - Bank Indonesia, diolah AAA Sekuritas

0,0

SBI 1 Bln (LHS) Deposito 1 Bln (LHS) Tabungan (LHS)

(14)

PT Astra Sedaya Finance Proyeksi Laporan Neraca

(dalam Rp miliar) 2003 2004E 2005P 2006P 2007P 2008P 2009P

Sumber : Estimasi AAA Sekuritas

Kas 76,9 79,2 351,2 2.304,9 2.651,5 3.100,6 3.542,9 Piutang pembiayaan bersih 2.976,1 5.088,9 5.897,2 7.045,9 8.021,2 9.223,8 10.530,3 Piutang lain-lain 94,7 94,7 94,7 94,7 94,7 94,7 94,7 Aktiva pajak tangguhan 41,6 41,6 41,6 41,6 41,6 41,6 41,6 Beban dibayar di muka 35,1 35,1 35,1 35,1 35,1 35,1 35,1 Aktiva tetap 16,1 19,7 19,2 22,8 22,3 25,9 25,4 Aktiva lain-lain 0,3 0,3 0,3 0,3 0,3 0,3 0,3 Investasi 58,5 58,5 58,5 58,5 58,5 58,5 58,5

Total aktiva 3.299,4 5.418,0 6.497,8 9.603,8 10.925,3 12.580,6 14.328,8

Pinjaman 1.911,0 3.665,9 4.366,8 7.081,3 8.053,3 9.284,3 10.583,5 Hutang lain-lain 431,5 431,5 431,5 431,5 431,5 431,5 431,5 Beban yang harus dibayar 54,4 54,4 54,4 54,4 54,4 54,4 54,4 Hutang pajak 27,8 27,8 27,8 27,8 27,8 27,8 27,8 Total kewajiban 2.424,7 4.179,6 4.880,5 7.595,0 8.567,0 9.798,0 11.097,2 Ekuitas 874,7 1.238,5 1.617,3 2.008,9 2.358,2 2.782,6 3.231,6

Total kewajiban dan ekuitas 3.299,4 5.418,0 6.497,8 9.603,8 10.925,3 12.580,6 14.328,8

PT Astra Sedaya Finance Proyeksi Laporan Laba Rugi

(dalam Rp miliar) 2003 2004E 2005P 2006P 2007P 2008P 2009P

Sumber : Estimasi AAA Sekuritas

Pendapatan

Pendapatan dari pembiayaan 759,3 1.254,7 1.491,3 1.740,1 1.924,4 2.222,7 2.472,7 Pendapatan bunga 10,5 2,3 6,5 39,8 74,3 86,3 99,7 Pendapatan lain-lain 121,8 138,0 149,1 156,6 154,0 177,8 197,8 Total pendapatan 891,5 1.395,0 1.646,9 1.936,6 2.152,7 2.486,7 2.770,1 Beban usaha

Beban keuangan 242,7 362,5 522,1 744,1 983,7 1.126,9 1.291,4 Beban operasional 192,8 295,8 341,8 411,3 461,2 522,1 587,6 Beban penyisihan piutang ragu-ragu 114,2 177,1 200,2 178,7 170,3 184,8 200,4 Total beban usaha 549,7 835,3 1.064,1 1.334,2 1.615,2 1.833,8 2.079,4 Laba sebelum pajak 341,9 559,7 582,9 602,4 537,5 653,0 690,7 Beban pajak (96,0) (195,9) (204,0) (210,8) (188,1) (228,5) (241,8) Laba bersih 245,8 363,8 378,9 391,5 349,4 424,4 449,0

PT Astra Sedaya Finance Rasio Proyeksi Keuangan

2003 2004E 2005P 2006P 2007P 2008P 2009P

Asumsi

Pertumbuhan pembiayaan baru 10,0% 10,0% 10,0% 10,0% 10,0% Rata-rata cost of fund 13,0% 13,0% 13,0% 13,0% 13,0%

Income tax 35,0% 35,0% 35,0% 35,0% 35,0%

Rasio keuangan

Marjin laba usaha (%) 38,3 40,1 35,4 31,1 25,0 26,3 24,9 Marjin laba bersih (%) 27,6 26,1 23,0 20,2 16,2 17,1 16,2 Imbal hasil atas aktiva (%) 9,6 8,3 6,4 4,9 3,4 3,6 3,3 Imbal hasil atas ekuitas (%) 19,7 34,4 26,5 21,6 16,0 16,5 14,9 Imbal hasil atas rata-rata piutang (%) 11,8 9,0 6,9 6,1 4,6 4,9 4,5 Beban operasional/rata-rata aktiva (%) 7,4 6,8 5,7 5,1 4,5 4,4 4,4 Beban operasional/pendapatan bersih (%) 21,6 21,2 20,8 21,2 21,4 21,0 21,2

Interest coverage (x) 2,4 2,5 2,1 1,8 1,5 1,6 1,5

Rata-rata assets yield (%) 32,6 31,1 27,1 26,9 25,5 25,8 25,0 Rata-rata beban pendanaan (%) 16,8 13,0 13,0 13,0 13,0 13,0 13,0

Net Interest Margin (%) 22,2 22,1 17,6 15,4 12,5 12,7 12,0

(15)
(16)

Disclaimer : The information contained herein has been compiled from sources that we believe to be reliable.No warranty (express or implied) is made to the accuracy or completeness of the information.All opinions and estimates included in this report constitute our judgement as of this date, without regards to its fairness, and are subject to change without notice.This document has been prepared for general information only, without regards to the specific objectives, financial situation and needs of any particular person who may receive it. No responsibility or liability whatsoever or howsoever arising is accepted in relation to the contents hereof by any company mentioned herein, or any their respective directors, officers or employees.This document is not an offer to sell or a solicitation to buy any securities.This firms and its affiliates and their officers and employees may have a position, make markets, act as principal or engage in transaction in securities or related investments of any company mentioned herein, may perform services for or solicit business from any company mentioned herein, and may have acted upon

ƒGeneral :+62-21-5152640

ƒFixed Income Dealing :+62-21-5153747

ƒInvestment Banking : +62-21-5155415 26/F Artha Graha Building Jalan Jenderal Sudirman Kav. 52-53

Jakarta 12190, Indonesia Facsimile:+62-21-5152644

Gambar

Tabel 1. Perkembangan Kegiatan Usaha ASF Relatif Terhadap Industri
Gambar 1. Perkembangan Penjualan Otomotif Nasional
Gambar 2. Pertumbuhan Nilai Pembiayaan Yang Disalurkan
Tabel 3. Ikhtisar Laba Rugi
+5

Referensi

Dokumen terkait

Pemecahan emulsi yang dibentuk dari air yang salinitasnya 20 permil menggunakan oven gelombang mikro pada daya listrik 432 Watt emulsi terpisah paling cepat dengan

Hasil uji Anava 3 jalur pada tabel 1 didapatkan hasil terdapat perbedaan bermakna kekuatan tarik elastik ortodontik dalam jenis bahan elastik ortodontik dengan nilai p :

Konsentrasi hambat minimum ekstrak etanol daun kecipir terhadap pertumbuhan Escherichia coli yaitu 20% dengan rata-rata zona hambat sebesar 4,83 mm, sedangkan pada

ICC hanya dapat mengeluarkan surat perintah penangkapan kepada individu yang dianggap bersalah melalui hasil penyelidikan sesuai dengan Pasal 58 Statuta Roma yang berisi

Dan juga bila terdapat gangguan di suatu jalur kabel maka gangguan hanya akan terjadi dalam komunikasi antara workstation yang bersangkutan dengan server,

Dalam penelitian ini bahan hukum primer diperoleh melalui Undang-undang Dasar 1945 Pasca amandemen, khususnya pasal 27 yang mengatur tentang hak setiap warga Negara untuk

Dengan dilatar belakangi oleh beberapa teori, penelitian sebelumnya dan fenomena masalah tersebut, maka dilakukan penelitian untuk menganalisis pengaruh kualitas pelayanan

And then there’s a Massive Multiplayer Online Role Playing Games, the Massively multiplayer online role-playing games or also known as the MMORPGs