• Tidak ada hasil yang ditemukan

BUDAYA KONTEMPORER DAN PERAN PARIWISATA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "BUDAYA KONTEMPORER DAN PERAN PARIWISATA"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

TINJAUAN

BUDAYA KONTEMPORER DAN PERAN PARIWISATA BERKELANJUTAN Roby Ardiwidjaja

GAMBARAN UMUM

Di era globalisasi yang menuntut daya saing tinggi, dampak langsung globalisasi yang mencairkan batas-batas geopolitik suatu negara telah nyata membawa perubahan modernisasi yang besar dalam berbagai aspek kehidupan politik, ekonomi, sosial dan budaya (John Naisbitt, 1994). Prediksi itu secara gradual juga melanda Indonesia yang ditandai oleh internalisasi paham global seperti universalisme, humanisme, ideologi politik, sistem ekonomi, dan ekologi, sebagai akibat logis dari interaksi bahkan invasi antar budaya oleh negara maju . Pada aspek sosial budaya, pengaruh globalisasi memuculkan budaya masa kini yaitu budaya kontemporer. Budaya pop atau budaya kontemporer, adalah proses penyatuan yang saling terkait dan saling berhubungan satu budaya dengan budaya lainnya secara masiv. Adapun beberapa pengaruh budaya kontemporer adalah, untuk mengubah pola pikir (Mindset) serta mengubah karakteristis budaya lokal: orisinalitas budaya tergeser. Pengaruh dari luar tersebut diperparah lagi dengan timbulnya berbagai konflik kepentingan, perbedaan ideologi, serta ketidak seimbangan eksploitasi ekonomi, politik, sosial, dan budaya (Setyaningrum, 2002).

Globalisasi memunculkan kolonisasi budaya oleh negara-negara maju (kapitalis) sebagai produsen budaya kontemporer atas negara-negara berkembang termasuk Indonesia.Pengaruh globalisasi dapat dikatakan sebagai penyebab turunnnya moral bangsa Indonesia saat ini. Pesatnya perkembangan teknologi saat di era informasi, yang memudahkan orang mendapatkan informasi dari luar, merupakan salah satu pemicu tumbuh suburnya budaya kontemporer disertai doktrin-doktrin barat masuk dalam tatanan kehidupan sosial dan budaya masyarakat Indonesia. Timbulnya Trend perubahan mendasar pada gaya hidup di negara berkembang yang berorientasi pada konsumerisme, yang bahkan dikaitkan dengan faktor simbolik untuk menandai kelas, status, atau simbol sosial tertentu. Materialisme dan individualisme tumbuh dengan subur dalam budaya kontemporer, terlihat dari banyaknya orang lebih tertarik pada gaya hidup mewah tanpa memperdulikan nilai dan norma yang ada. Hal ini juga disebabkan antara lain karena kurangnya kepedulian dan apresiasi terhadap jati diri bangsa, serta kurangnya kemampuan masyarakat kita dalam menyaring hal-hal yang baik untuk memperkuat budayanya. Terbukti ketika kebudayaan kita diakui oleh bangsa lain, menyebabkan bangsa Indonesia panik.

(2)

TINJAUAN/PENGERTIAN

1. Kebudayaan. Merupakan hasil karya manusia dalam mempertahankan dan meningkatkan taraf hidup dan sebagai proses adaptasi dengan lingkungan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, budaya berarti pikiran, akal budi, hasil dan juga kebiasaan. Di sini budaya dibedakan dengan kebudayaan. Kebudayaan adalah hasil kegiatan penciptaan batin (akal budi) manusia seperti kepercayaan, kesenian, dan adat istiadat, yang erat kaitannya dengan masyarakat dan adat istiadat dari generasi ke generasi. Sebagai sebuah sistem, kebudayaan perlu dilihat dari perwujudan kehidupan manusia yang terkait dengan ide, perilaku dan material. Budaya manusia pada dasarnya memiliki ciri-ciri bawaan yang dapat dikelompokkan secara terstruktur, meliputi komponen living culture (sosial, ekonomi, politik, bahasa, religi, estetika dan mata pencaharian), wisdom and technology (mata pencaharian, kedamaian, kesenangan, bahasa, pendidikan, pengetahuan,dan teknologi), serta culture heritage (artifak, monumen, manuskrip, tradisi, dan seni). Warisan budaya pada dasarnya mengacu pada beberapa ciri khas suatu masyarakat dan ini mengarah pada bentuk-bentuk:

a. Pola hidup (peradaban/civilization). SDB bentuk ini akan menyangkut lingkungan alam, sosial dan binaan, yang terintegrasi secara menyeluruh sebagai satuan pola hidup beserta isinya. b. Benda-benda budaya (artifact). Pada SDB bentuk ini, adalah peninggalan sejarah (bangunan

kuno, kompleks bangunan kuno, kota tua, candi yang sudah tidak dimanfaatkan untuk ibadah, kereta api, museum dsb.) yang ada pada masyarakat.

c. Kesukubangsaan dan tradisi (custom and ethnic group). Pada bentuk SDB ini adalah kebudayaan masyarakat yang pada dasarnya sudah menjadi bagian dari pranata seni.

Dari hal tersebutr jelas bahwa budaya tidak hanya kesenian atau hal-hal yang berkaitan dengan intelektual, namun mencakup seluruh pola kehidupan tatanan masyarakat. Contohnya, cara berbicara, cara makan, atau kebiasaan berpikir dan lainnya (Rika, 2009).

2. Budaya Kontemporer. Adalah budaya yang terpengaruh oleh dampak perkembangan teknologi yang pesat. Kontemporer itu artinya kekinian, modern atau lebih tepatnya adalah sesuatu yang sama dengan kondisi waktu yang sama atau saat ini; jadi budaya kontemporer adalah budaya yang tidak terikat oleh aturan-aturan zaman dulu dan berkembang sesuai zaman sekarang. Lukisan kontemporer adalah karya yang secara tematik merefleksikan situasi waktu yang sedang dilalui. Misalnya lukisan yang tidak lagi terikat pada Rennaissance, serta tarian kreatif dan modern (Irwan, 2009).

Budaya kontemporer adalah karya yang secara tematik merefleksikan situasi waktu yang sedang dilalui (Setyaningrum, 2002). Lebih jauh dapat dijelaskan bahwa budaya kontemporer yang lebih mencerminkan berasal dari, untuk semua yang disukai oleh kalangan bawah. Jadi, secara lebih simplifikatif, budaya kontemporer yang bersifat spontanitas, kasar, serta dianggap berselera rendah, adalah hasil budaya yang berasal dari, untuk dan oleh kalangan kelas bawah misalnya kaum buruh, golongan marginal, serta siapa pun yang termasuk dalam strata atau kelas bawah (lower class). Ciri budaya sebenarnya tidak jauh berbeda dengan folk culture. Namun folk culture yang lebih kepada produk budaya tradisional dengan konsep yang sederhana dan sopan namun mencirikan selera budaya kalangan atas (kerajaan, bangsawan).

(3)

Sebenamya budaya massa terbentuk oleh kebutuhan masyarakat akan hiburan. Melalui industrialisasi dan perkembangan teknologi, produsen budaya pop menciptakan produk-produk untuk memenuhi kebutuhan yang sifatnya meruntut keefektifan (percepatan) dan keefisienan (kemudahan). Negara maju sebagai produsen budaya kontemporer berupaya menanamkan produk budaya populer di negara berkembang hingga memunculkan komoditas budaya populer yang diminati. Beberapa Pemahaman Budaya kontemporer atau budaya pop atau budaya populer:

a. Budaya Kontemporer adalah budaya masa kini yang dikenal dan diakui oleh banyak massa. Umumnya sesuatu yang populer menjadi budaya pada saat ini, sehingga budaya populer atau budaya pop selalu dihubungkan dengan budaya kontemporer.

b. Budaya yang berasal dari rakyat, oleh rakyat, serta semua hal yang disukai oleh rakyat (low culture).

c. Budaya pop dianggap karya kultural yang rendah (pseudo art) karena lemahnya dalam nilai estetik

d. Budaya pop diciptakan dalam rangka melepas dari dominasi budaya penguasa (high culture) e. Budaya dianggap karya kultural yang rendah (pseudo art) karena lemahnya dalam nilai

estetik

f. Budaya pop adalah karya kultural bersifat masal karena adanya komersialisasi industri budaya

3. Pariwisata berkelanjutan. Didasarkan hasil rumusan di Yohannesburg tahun 2002, pariwisata berkelanjutan dicirikan oleh terciptanya social wellfare, economic dan environment sustainability melalui pemberdayaan penduduk lokal. Konsep ini telah dijadikan landasan pariwisata budaya dan ekowisata yang bukan lagi dipahami dalam konteks kegiatan massal, terstandar dan terorganisir, melainkan berpusat pada fleksibilitas, segmentasi, dan integrasi diagonal guna menfasilitasi pengalaman akan warisan asli bagi para wisatawan. Deklarasi Piagam Pariwisata berkelanjutan menjelaskan: “Pengembangan pariwisata didasarkan pada kriteria keberlanjutan yang secara ekologis harus dikelola dalam jangka panjang, dengan tetap memperhatikan aspek ekonomi, etika dan sosial masyarakat.” (1995).

Kepariwisataan itu sendiri sering diasosiasikan dengan suatu kegiatan usaha melayani serta memenuhi keinginan dan kebutuhan orang yang sedang melakukan perjalanan. Wujudnya berupa penyediaan dan pelayanan sejumlah fasilitas promosi, perencanaan perjalanan, transportasi dan penyediaan daerah tujuan wisata yang menarik dan menyenangkan. Kepariwisataan juga merupakan sarana pembelajaran mandiri, pengembangan sikap toleransi, dan menumbuhkan sikap untuk memahami hakekat perbedaan masyarakat, kebudayaan serta kebhinekaannya. Pariwisata pada dasarnya merupakan fenomena budaya yang menggambarkan perilaku melakukan perjalanan untuk kesenangan/hiburan di tempat yang berbeda dari tempat asalnya baik dalam cakupan antar kota hingga antar Negara. Sebagai suatu system yang multi sektor dan disiplin, pariwisata tidak terlepas keterkaitannya dengan sub system pelaku dalam menjual pariwisata seperti menjual impian atau fantasi kepada wisatawan yang masing-masing menginginkan untuk memperoleh pengalaman dan harapan yang berbeda (Christie dan Morrison, 1985). Beberapa pengertian terkait dengan kepariwisataan

(4)

b. ‘’Tourism is the temporary moment of people to destinations outside their normal place of work and residence, the activities undertaken during their stay in those destinations and the facilities created to cater to their needs.’’ (Gunn, 1993 : 5)

c. Mc.Intosh/Goeldner (1990), melihat tourism sebagai industri yang harus dilihat dari 4 perspektif yaitu dari segi wisatawan yang mencari pengalaman dan kepuasan psikis dan fisik; dari segi usaha/pengusaha yang menyediakan barang dan jasa untuk konsumsi wisatawan; dari segi pemerintah yang biasanya melihat sebagai unsur/faktor kekayaan dalam wilayahnya; serta dari segi masyarakat tuan rumah yang melihatnya sebagai faktor budaya dan lapangan kerja

d. Menurut Cooper dan kawan-kawan (1996), sifat alamiah dari pariwisata adalah mencakup pergerakan manusia dari tempat tinggalnya ke tempat lain dan kembali lagi tempat tinggalnya, perjalanan bersifat sementara dan dilakukan untuk berbagai tujuan kecuali menetap dan bekerja.

e. Menurut World Tourism Organization (WTO, 1984) Wisatawan adalah orang yang bepergian ke luar dari tempat tinggalnya menuju suatu tempat dengan tujuan tertentu dan bersifat sementara kecuali untuk menetap dan mencari nafkah.

PERKEMBANGAN BUDAYA KONTEMPORER

Banyak orang bicara tentang kebudayaan, tetapi pengertian yang digunakannya hanya mengacu pada hasil karya manusia yang indah-indah atau kesenian disamping untuk menyatakan tingkat kemajuan teknologi yang didukung tradisi tertentu. Kebudayaan merupakan hasil karya manusia mempertahankan dan meningkatkan taraf hidup dalam beradaptasi dengan lingkungan. Sebagai sebuah sistem, kebudayaan perlu dilihat dari perwujudan kehidupan manusia yang terkait dengan ide, perilaku dan material dengan ciri-ciri bawaan yang dapat dikelompokkan secara terstruktur, meliputi komponen living culture (sosial, ekonomi, politik, bahasa, religi, estetika dan mata pencaharian), wisdom and technology (mata pencaharian, kedamaian, kesenangan, bahasa, pendidikan, pengetahuan,dan teknologi), serta culture heritage (artifak, monumen, manuskrip, tradisi, dan seni)

Mengacu pada kondisi di era globalisasi saat ini, identitas budaya Indonesia yang cenderung memudar berada pada kondisi mengkhawatirkan dan perlu segera diselamatkan. Tumbuh kembangnya ketidak pastian jati diri dan karakter bangsa yang berawal dari minimnya penghayatan filosofi dan nilai-nilai esensi ideologi bangsa, dikhawatirkan menyebabkan di satu sisi tumbuhnya budaya kontemporer dan disisi lain semakin bergesernya nilai etika dan nilai budaya dalam kehidupan berbangsa, melemahnya kreatifitas dan kemandirian bangsa, dan paling ekstrim adalah disintegrasi bangsa. Budaya kontemporer memunculkan gaya hidup yang sudah tidak jelas lagi batas-batasnya karena mudah ditiru, dijiplak, dipakai sesuka hati dan sudah tidak dimonopoli oleh satu kelas (Chaney,1996). Artinya sesorang dinilai bukan dari kepribadiannya, tetapi oleh kemampuannya mencontoh gaya hidup.

(5)

memberikan inspirasi semangat dan kerja keras kepada bangsa untuk maju di bidang ekonomi, kesenian dan sebagainya.

Oleh karena itu dalam memperkuat kehidupan politik, ekonomi, sosial dan budaya ke depan, sebagai warga negara Indonesia harus bertanggung jawab menjaga dan melestarikan karakter dan jati diri bangsa Indonesia, serta menanggapi dengan arif pengaruh nilai-nilai budaya kontemporer sebagai peluang mengembangkan dan memperkaya kebudayaan nasional. Dalam kondisi kemajemukan di Indonesia, seharusnya budaya lokal memiliki posisi, peran, sekaligus objek yang sangat kuat dalam menjaga dinamika pengaruh modernisasi. Dengan budaya lokal, kemajemukan dapat menjadi ukuran sebagai identitas bangsa yang mampu memilah dan memilih setiap pengaruh budaya masa kini khususnya dari luar untuk menuju lebih baik. Salah satu upaya pelestarian nilai-nilai luhur budaya tradisi Indonesia baik dalam skala nasional maupun regional dari pengaruh budaya kontemporer, adalah dengan menggunakan pendekatan pariwisata berkelanjutan.

PERAN PARIWISATA

Di satu sisi Pariwisata Budaya adalah perpaduan dua unsur baik sebagai industri maupun sebagai sistem berkelanjutan yang memberikan peluang bagi Indonesia dalam pembangunan ke depan. Pariwisata sangat tergantung terhadap sumberdaya alam dan budaya sebagai atraksi. Pariwisata ada hanya bila ada atraksi yang saratnya adalah unik. Keunikan suatu atraksi pariwisata pada dasarnya hanya bisa diperoleh dari sumberdaya budaya (tradisional maupun kontemporer) serta sumberdaya alam seperti bentang dan gejala alam serta flora fauna endemik. Mengingat bahwa atraksi tersebut adalah aset sumber daya utama pariwisata khususnya sumber daya budaya, maka peran pariwisata adalah mempertahankan keberadaan aset dimaksud, sekaligus menjadikannya sebagai daya tarik yang diminati wisatawan melalui pariwisata budaya. Artinya, Sebagai aset bangsa yang menggambarkan kesejarahan dan peradaban budaya bangsa di satu sisi, dan disisi lain sebagai daya tarik pariwisata, keanekaragaman sumberdaya tersebut perlu dikelola dengan baik agar tetap memberikan manfaat secara berkelanjutan.

Globalisasi merupakan perkembangan kontemporer yangmempunyai pengaruh dalam mendorong munculnya berbagai kemungkinan tentang perubahan dunia yang akan berlangsung. Pengaruh globalisasi dapat menghilangkan berbagai halangan di rintangan menjadikan dunia semakin terbuka dan saling bergantung satu sama lain. Berkembangnya atus globalisasi jelas memberikan dampak pada kebudayaan manusia. Banyak yang terlihat jelas dalam perubahan dan pegeseran pola hidup masyarakat Indonesia, yaitu:

1. Pengaruh globalisasi berdampak positip

a. Kehidupan yang bergantung apda alam menjadi kehidupan yang menguasai alam b. Kehidupan lamban menjadi kehidupan serba cepat;

c. Tumbuh kembangnya inovasi dan kreatifitas 2. Pengaruh Globalisasi berdampak negatip

a. Dari masyarakat agraris tradisional menjadi masyarakat industri moderen b. Kehidupan berasaskan kebersamaan menjadi kehidupan individualis c. Kehidupan berasaskan nilai sosial menjadi konsumeris menjadi materialis d. Masuknya Pola gaya Hidup budaya barat

(6)

Dalam kondisi demikian, salah satu solusi adalah dengan menggunakan pendekatan konsep pembangunan pariwisata budaya. Konsep ini memiliki peran strategis sebagai alat dalam melestarikan keanekaragaman budaya yang ada dimasyarakat dengan cara mengatur penyediaan, pengembangan, pemanfaatan dan pemiliharaan sumber daya tarik budaya sebagai atraksi wisata secara berkelanjutan. Menurut Inskeep (1991), atraksi dapat dikelompokkan dalam atraksi wisata berbasis pada lingkungan alam, atraksi wisata berbasis pada aktifitas manusia dan warisan budaya, serta atraksi wisata berbasis pada lingkungan buatan/binaan (artificial). Lebih jauh lagi terkait warisan budaya, Fletcher (1996) melaui konsep pariwisata budaya (Cultural Tourism), mengelompokkan pada atraksi non benda (intangible) meliputi kehidupan sosial budaya, adat istiadat, kesenian dan lingkungannya (lansekap Budaya) seperti Kampung Naga dan Suku Baduy; serta atraksi kebendaan (tangible) meliputi benda arkeologi atau purbakala seperti bangunan bersejarah Candi Borobudur dan Gedung Perjuangan, situs Arkeologi seperti Kota Tua Jakarta dan Situs Trowulan.

Kesenian sebagai satu contoh kekayaan dan keanekaragaman dari lebih dari 700 suku bangsa di Indonesia, adalah yang lebih mudah dipengaruhi oleh berbagai budaya dari negeri tetangga di Asia bahkan pengaruh barat yang diserap melalui kolonialisasi. Setiap suku bangsa di Indonesia memiliki berbagai kesenian tradisional khasnya sendiri. Tradisi kesenian tersebut dilestarikan (dilindungi, dikembangkan, dan dimanfaatkan) di berbagai sanggar dan sekolah seni tari yang dilindungi oleh

(7)

Jawa, Kalimantan, hingga Papua dengan berbagai special effect, atraksi akrobatic, dan tari tradisional, kostum dan musik dari Indonesia. Semuanya berkolaborasi menjadi sebuah atraksi pertunjukan kontemporer.

Pariwisata adalah pergerakan manusia bersifat sementara dari satu tempat (wilayah rutinitas) ke tempat lain (wilayah baru) untuk berbagai tujuan mulai dari rekreasi, edukasi, bisnis hingga spiritual, yang melibatkan berbagai aktivitas ekonomi. Globalisasi saat ini telah menyebabkan perubahan paradigma dan trend pariwisata saat ini yaitu dari yang bersifat eksploitasi ke keberlanjutan, dari yang bersifat masal ke minat khusus, dari industrialisasi ke pemberdayaan masyarakat, dari hiburan ke komersialisasi pengalaman, serta dari artificial ke keunikan yang otentik. Demikian juga trend motivasi wisatawan untuk berkunjung ke suatu destinasi wisata adalah untuk mendapatkan pengalaman, pemahaman, pengetahuan serta ide dan gagasan yang terinspirasi dari suatu yang dilihat, diamati, dirasakan dan dilakukan di destinasi wisata.

Dalam hal ini pariwisata sangat dimungkinkan untuk di posisikan melindungi dampak negatif mordernisasi terhadap gaya hidup ke Indonesiaan (timur), dan sekaligus memanfaatkan dampak positif budaya masa kini terhadap perkembangan berbagai unsur budaya termasuk kesenian kontemporer yang tetap berbasis pada keseharian akar budaya masyarakat Indonesia. Posisi tersebut tentunya akan membuka peran pariwisata dalam berbagai upaya yang diperlukan dalam memanfaatkan budaya kontemporer sebagai bagian dari pariwisata budaya mencakup:

1. Pelestarian. Pelestarian dengan tiga pilarnya yaitu perlindungan, pengembangan dan pemanfaatan, memiliki lingkup yang luas. Pelestarian mencakup upaya-upaya pengelolaan dan mengangkat nilai-nilai penting warisan budaya. Nilai-nilai penting warisan budaya meliputi nilai penting bagi ilmu pengetahuan, edukasi, kebudayaan, sejarah dan nilai ekonomi yang terkandung dalam warisan budaya. Oleh karena itu pengelolaan warisan budaya tidak pernah lepas dari pelestarian. Dengan kata lain, pelestarian adalah kata kunci utama dalam melakukan pengelolaan warisan budaya melalui konsep kekinian.

Pengelolaan warisan budaya pada hakekatnya adalah melestarikan warisan budaya agar tetap ada dalam konteks system yang berguna bagi kehidupan masyarakat sekarang. Pelestarian warisan budaya bertujuan untuk merekonstruksi nilai-nilai kesejarahan warisan budaya itu, apakah sebagai identitas atau jatidiri, ilmu pengetahuan ataupun untuk daya tarik wisata. Oleh karena itu jika pemaknaan nilai tidak dapat dirasakan oleh masyarakat sekarang, upaya pengelolaan warisan budaya akan terasa sulit atau bahkan tidak akan mencapai sasaran (Tanudirjo 2006: 14).

(8)

warisan budaya sebagai sumber kreatifitas dan melalui proses kekinian menjadi produk budaya kontemporer yang berbasis akar budaya.

3. Edukasi dan Interpretasi. Dalam upaya meningkatkan kepedulian, pemahaman dan kesadaran stakeholder khususnya pengunjung maupun masyarakat termasuk para pelaku industri setempat terhadap keberlanjutan warisan budaya, diperlukan program edukasi melalui berbagai kegiatan seperti interpretasi (story telling), pelatihan, pameran, seminar dan sebagainya. Untuk memahami terhadap upaya pelestarian warisan budaya, interpretasi nilai-nilai yang terkandung pada benda warisan budaya massa lalu menjadi media edukasi penting dalam memudahkan penggambaran pengetahuan budaya yang tercermin pada benda warisan budaya sebagai atraksi pariwisata budaya.

Interpretasi pengetahuan budaya disini menjadi penting dalam mengkomunikasikan norma, moral, nilai dan aturan sebagai bentuk kearifan lokal (etika) menjalankan kehidupan yang masih berlaku pada masyarakat . Artinya dari kearifan lokal, dimungkinkan untuk melihat adanya hubungan pengetahuan budaya masyarakat masa lalu dengan pengetahuan budaya masyarakat sekarang.

Walaupun etika serta sanksi-sanksi sosial yang berlaku di masyarakat lokal pada dasarnya tidak mengikat untuk para pendatang (wisatawan), peran edukasi melalui interpretasi menjadi sangat penting dalam kehidupan di era globalisasi. Terutama dalam mengkomunikasikan pemahaman bahwa kearifan lokal dalam kehidupan masyarakat setempat dan hubungannya dengan nilai yang terkandung pada warisan budaya masa lalu, menjadi satu prinsip yang tetap harus dihormati dan dijaga agar degradasi terhadap etika yang sudah mapan dapat dicegah. Tujuan edukasi dan interpretasi adalah:

1. Mendorong tumbuh kembangnya pemahaman dan pengetahuan dari para pemangku dalam melakukan perlindungan, pengembangan dan pemanfaatan secara bijak warisan budaya.

2. meningkatkan kepedulian, kesadaran dan apresiasi khususnya wisatawan dan masyarakat setempat tentang pentingnya warisan budaya sebagai bagian dari jati diri dan identitas masyarkat setempat

3. merubah pola perilaku dari pengunjung dan masyarakat lokal yang dapat membawa dampak terhadap keberadaan dan keberlanjutan dinamika perubahan warisan budaya secara alamiah.

(9)

a. kebudayaan suatu masyarakat dapat berubah tergantung dari bagaimana masyarakatnya mengelola pengaruh globalisasikarena. Demikian juga dengan pariwisata yang berorientasi pada bentuk pola hidup masyarakat, dapat berperan menggeser atau memperkuat pengetahuan dan pola pikir masyarakat terhadap pengaruh budaya wisatawan yang berkunjung.

b. Pariwisata bila mengacu pada sumberdayanya adalah sumberdaya umum (common resources). Pariwisata dalam hal ini memiliki peran untuk mengelola berbagai kepentingan yang mungkin dapat saling bertentangan dan menimbulkan konflik satu sama lain terhadap tiga bentuk kepemilikan sumber daya umum yang meliputi :

a. pemerintah (state property) yang dalam perwujudannya bisa berupa taman nasional, dimana komunitas setempat tidak dapat mewujudkan akses mereka di dalamnya meskipun daerah tersebut adalah bagian dari wilayah komunitas lokal yang bersangkutan;

b. swasta (private property) yang dalam perwujudannya bisa berupa Hak Pengelolaan Hutan, Kepemilikan Daerah Wisata dsb.;

c. komunitas (common property) berupa hak ulayat,.

PENUTUP

Budaya adalah pikiran, akal budi, hasil dan juga kebiasaan manusia seperti kepercayaan, kesenian, dan adat istiadat. Dengan demikian, budaya erat kaitannya dengan masyarakat dan adat istiadat dari generasi ke generasi. Budaya tidak hanya kesenian atau hal-hal yang berkaitan dengan intelektual, namun mencakup seluruh pola kehidupan tatanan masyarakat.

Budaya kontemporer pada masa sekarang ini muncul karena adanya perkembangan yang hebat dalam bidang teknologi informasi, seperti televisi, telepon,dan internet yang menggeser konsepsi ruang dan waktu yang seharusnya serempak menjadi tidak lagi sistematis. Kata kontemporer mempunyai arti bersifat kekinian atau merefleksikan situasi waktu yang sedang dilalui. Maka, dapat dikatakan, bahwa budaya kontemporer merupakan budaya di masa moderen, yang sering disebut juga sebagai budaya populer atau budaya pop. Budaya kontemporer tidak bersifat tetap dan cenderung mengalami perubahan namun tidak lepas dari pengaruh budaya masa lalu.

Budaya kontemporer yang diproduksi dan dibawa oleh negara maju memiliki dampak baik positip seperti meningkatkan kreativitas dan inovasi di setiap sendi kehidupan masyarakatnya, juga dampak negatip seperti berubahnya gaya hidup yang lebih berorientasi pada sifat individualistis dan materialistis, serta menyebabkan degradasi identitas budaya setempat.

Salah satu upaya dalam mengantisipasi dampak budaya kontemporer dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang pluralisme, perlu menggunakan cara salah satunya melalui pendekatan pembangunan pariwisata berkelanjutan dengan konsep pariwisata budaya. Dengan memposisikan pariwisata sebagai alat, cara atau wahana, dimungkinkan melindungi dampak negatif mordernisasi terhadap gaya hidup ke Indonesiaan (timur), dan sekaligus memanfaatkan dampak positif budaya masa kini terhadap perkembangan berbagai unsur budaya termasuk kesenian kontemporer yang tetap berbasis pada keseharian akar budaya masyarakat Indonesia. Posisi tersebut tentunya akan membuka peran pariwisata dalam berbagai upaya yang diperlukan dalam memanfaatkan budaya kontemporer sebagai bagian dari pariwisata budaya.

(10)

AHC (Arizona Humanities Council) 2000, Cultural Heritage Tourism: Practical Application, Phoenic, Arizona,

Alan Ewert, 1997. Resource-based tourism: an emerging trend in tourism experiences, Parks & Recreation Look Smart, Sept, 1997

Arie Setyaningrum, 2002. Kajian Budaya Kontemporer. Jurna Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Volume 6, Nomor 2, November 2002 (229-244)

Cabrini Luigi, Trend of International Tourism, 13th Central European Trade Fair, WTO, 2004

Chris Cooper, John Fletcher, David Gilbert and Stephen Wanhill. 1996. Tourism Principles and Practice. Longman Group Limited, Malaysia,

Clare A. Gunn, 1998. Tourism Planning, Basic Concepts Cases.

Cleere, H. F. (1989). Archaeological Heritage Management in the Modern World. London : Unwin Hyman.

Fakultas Ilmu Budaya, 2006. Pengantar Pengelolaan Sumberdaya Budaya: Bahan Diskusi untuk Pelatihan Pengelolaan Sumberdaya Budaya di Yogyakarta. Universitas Gajah Mada. Yogyakarta.. http://kiteklik.blogspot.com/2011/01/dampak-globalisasi-terhadap-bangsa-dan.html#sthash.

WTPnGTVH.dpu. diunduh tanggal 1 Maret 2014

Inskeep. Edward, Tourism Planning: An Integrated and Sustainable Development Approach, Van Nostrand Reinhold, New York, USA. 1991.

Irwan Abdulah dan Wening Udasmoro, 2009. Dinamika Masyarakat dan Kebudayaan Kontemporer John Naisbitt, 1994. Global Paradox: Semakin Besar Ekonomi Dunia, Semakin Kuat Perusahaan Kecil KLH, 2001, Indicators of Sustainable Development: Guidebook for Sustainable Development

Planning. Sectoral Agenda 21 Project

LORD Cultural Planning and Management, Knoxville Cultural Heritage Tourism Initiative Phase 1 Report, East Tennessee 2003

M. Amir Sutaarga, Pedoman Penyelenggaraan dan Pengelolaan Benda warisan budaya masa lalu , Cetakan ke empat, DEPDIKBUD, 1998.

Penerbit: Binarupa Aksara, Jakarta, Tahun: Cetakan Pertama, 1994 Pustaka Pelajar Daerah Istimewa Yogyakarta kode pos 55167

Rika Ristinawati 2009. Identitas manusia Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, Roby Ardiwidjaja. Pengembangan Pariwisata Budaya : Satu Upaya Menggapai Indonesia Ultimete

Diversity. JKP. Jurnal Kebudayaan dan Pariwisata Volume XII Tahun 2005. ISSN 1410-2463. Roby Ardiwijaya. (2005). Pemberdayaan Masyarakat : Satu model dalam Pembangunan Pariwisata

Berkelanjutan. JKP. Jurnal Kebudyaaan dan Pariwisata Volume XI 2005. ISSN 1410-2463. Pusat Riset dan pengembangan Kebudayaan dan Pariwisata.

Swarbrooke. John, The Development & Management of Visitor Attraction, Butterworth-Heinemann, Oxford, 1995Keller Peter, Prof, Management of Cultural Change in Tourism Regions and Communities, 2001

Gambar

Gambar 1: Sistem Unsur Kebudayaan

Referensi

Dokumen terkait

Perkembangan pariwisata di Indonesia tidak terlepas dari beragam keunikan dan kekayaan sumberdaya alam yang dimiliki Indonesia dimana salah satunya adalah sumberdaya laut

Kesimpulan teoritik dari hasil penelitian bahwa aplikasi teori interaksionisme simbolik terhadap eksistensi perhiasan tradisional Karo bagi pengembangan pariwisata

• kekayaan sumberdaya alam seperti minyak bumi, perkebunan dan pariwisata bahari serta potensi perikanan dari perairan kepulauan Anambas. • Budaya masyarakat lokal

york kota besar new dapat dilihat sebagai satu contoh pariwisata perkotaan pariwisata budaya ini mendasari meliputi dan angka luas dan divesity dari restaourants,

‘Pasukan Perang’ membuat karya musik Dangdut Kontemporer yang dibalut dengan adaptasi serta kolaborasi Budaya lokal atau tradisional yang dapat disukai dan dinikmati oleh

Tema hiburan dan rekreasi diwujudkan dalam perencanaan atraksi-atraksi yang mengapresiasi baik potensi keindahan alam maupun potensi keindahan pertunjukan seni budaya sebagai daya

Pariwisata dapat diterjemahkan sebagai sistem yang mengaitkan an- tara lingkungan fisik, ekonomi, dan sosial budaya, dan in- dustri dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan perjalanan