REVISI PROSES CONTROLLING DALAM PROSES M

19 

Teks penuh

(1)

FUNGSI CONTROLLING DALAM PROSES MANAJEMEN

A. KONSEP CONTROLLING (PENGENDALIAN/PENGAWASAN)

Pengendalian adalah proses mengawasi (monitoring), membandingkan (comparing), dan mengoreksi (correcting) kinerja. Semua manajer harus tetap mengendalikan, bahkan jika mereka mengira bahwa unitnya telah berjalan sesuai rencana, manjer tidak akan benar-benar mengetahui kinerja unitnya kecuali mereka mengevaluasi kegiatan yang telah dilakukan dan membandingkan kinetja sebenarnya dengan standar yang diinginkan. (Robbins, Stephen P, 2010)

Pengawasan (controlling) sebagai elemen atau fungsi keempat manajemen ialah mengamati dan mengalokasikan dengan tepat penyimpangan-penyimpangan yang terjadi. Dalam praktik, kegagalan suatu rencana atau aktivitas bersumber pada: akibat pengaruh di luar jangkauan manusia (force majeur) dan pelaku yang mengerjakannya tidak memenuhi persyaratan yang diminta. (Herujito 2001)

Membahas pengawasan sebagai fungsi organik manajerial sesungguhnya berarti berusaha menemukan jawaban terhadap pertanyaan mengapa pengawasan mutlak perlu dilaksanakan. Agar kegiatan pengawasan membuahkan hasil yang diharapkan, perhatian serius perlu diberikan kepada berbagai dasar pemkiran yang sifatnya fundamental, beberapa diantaranya dibahas berikut ini, orientasi kerja dalam setiap organisasi adalah efisiensi. Bekerja secara efisien berarti menggunakan sumber-sumber yang tersedia seminimal mungkin untuk membuahkna hasil tertentu yang telah ditetapkan dalam rencana. Dalam praktik kenyataan menunjukkan bahwa sumber-sumber yang tersedia atau mungkin disediakan oleh organisasi apapun untuk mencapai tujuannya selalu memiliki keterbatasan dana, tenaga, sarana, prasarana, waktu. Keterbatasan demikian menuntut penggunaan sehemat-hematnya dari semua dana dan daya yang dimiliki dengan tetap menghasilkan hal-hal yang ditargetkan untuk dihasilkan. (Siagan 2007)

(2)

dalam batas waktu yang telah ditetapkan pula. Berbeda dengan orientasi efisiensi, efektivitas menyoroti tercapainya sasaran tepat pada waktunya untuk disediakan sumber dan sarana kerja tertentu yang memadai. Pengendalian yang efektif memastikan kegiatan telah dilakukan dengan cara yang menghasilkan pencapaian tujuan. Keefektifan pengendalian ditentukan oleh bagaimana pengendallian itu dapat membantu karyawan dan manajer mencapai tujuan mereka. (Siagan, 2007)

Ciri-ciri pengawasan yang efektif ialah, pengawasan harus merefleksikan sifat dari berbagai kegiatan yang diselenggarakan Bahwa teknik pengawasan harus sesuai, antara lain dengan penemuan informasi tentang siapa yang melakukan pengawasan dan kegiatan apa yang menjadi sasaran pengawasan tersebut. Pengawasan juga harus segera memberi petunjuk tentang kemungkinan adanya deviasi dari rencana. Pengawasan juga harus mampu mendeteksi deviasi atau penyimpangan yang mungkin terjadi sebelum penyimpangan itu menjadi kenyataan. Selain itu, pengawasan harus menunjukkan pengecualian pada titik-titik strategis tertentu, objektivitas dalam melakukan pengawasan, dan keluwesan pengawasan. (Siagan, 2007)

Produktivitas merupakan orientasi kerja yang ketiga. Ide yang menonjol dalam membicarakan dan mengusahakan produktivitas ialah maksimalisasi hasil yang harus dicapai berdasarkan dan dengan memanfaatkan sumber daya dan dana yang telah dialokasikan sebelumnya. Pengawasan dilakukan pada waktu berbagai kegiatan sedang berlangsung dan dimaksudkan untuk mencegah jangan sampai terjadi penyimpangan, penyelewengan, dan pemborosan. (Siagan, 2007)

Pengendalian itu penting karena pengendalian membantu manajer mengetahui apakah tujuan perusahaan telah tercapai, atau jika belum apa alasannya. Bilai drai fungsi pegendalian dapat dilihat dalam tiga bagian spesifik : perencanaan, pemberdayaan karyawan, dan perlindungan tenaga kerja.

B. PROSES PENGENDALIAN

(3)

kinerja sudah ada lebih dulu. Standar adalah tujuan-tujuan spesifik yang dibuat selama proses perencanaan. (Robbins, 2010)

Proses Pengendalian

Tahap Penetapan Standar (Abdullah 2013), standar pelaksanaan pengawasan perlu ditetapkan lebih dahulu, karena standar ini akan dijadikan patokan untuk melihat, menilai dan mengawasi proses kegiatan dalam organisasi itu, sehingga dapat diketahui seberapa jauh/banyak tujuan atau sasarn kegiatan organisasi dapat dicapai. Standar itu harus jelas, wajar, objektif sesuai dengan keadaan dan sumber daya yang tersedia. Standar hendaklah merupakan prestasi yang dapat diukur baik bersifat keuangan maupun non-keuangan, misalnya standar perputaran pegawai (labour turnover). Prestasi yang hendak dicapai hendaklah dibandingkan dengan standar. Deviasi antara stndar dan prestasi yang terjadi dengan standar prestasi yang ditetapkan harus menggunakan isyarat akan perlunya koreksi atau perbaikan guna mencegah terjadinya deviasi yang lebih besar di kemudian hari. Standar itu sendiri harus pula dievaluasi secara berkala untuk memungkinkan perbaikannya. Jika perlu dengan membuat standar-standar baru bagi unsur-unsur relevan bagi manajemen yang sebelumnya tidak diukur.

Tahap Pengukuran, dalam pengukurannya biasanya manajer menggunakan 4 pendekatan dalam mengukur dan melaporkan kinerja actual yaitu observasi pribadi, laporan statistik, laporan secara lisan, dan laporan tertulis. Dalam melakukan pengukurannya menggunakan beberapa kriteria, biasanya manajer menggunakan beberapa kriteria pengendalian yang dapat digunakan untuk situasi apapun. Kebanyakan aktivitas kerja dapat diekspresikan dalam satuan kuantitas, tetapi jika tidak, manajer harus menggunakan

SASARAN DAN TUJUAN Mengukur Kinerja

Aktual

Membandingkan Kinerja Aktual dengan

Standarnya

(4)

pengukuran subjektif. Meskipun pengukuran ini memiliki keterbatasa, lebih baik menggunakan pengukuran itu daripada tidak ada standar sama sekali dan tidak melakukan pengendalian. Langkah-langkah dasar dalam prose pengendalian menurut Mochler dalam Stoner James, A.F (1988), menetapkan empat langkah dasar dalam proses pengendalian: menentukan standar dan metode yang digunakan untuk mengukur prestasi, mengukur prestasi kerja, menganalisis apakah prestasi kerja memenuhi syarat, mengambil tindakan korektif.

Tahap Perbandingan, langkah perbandingan menentukan variasi antara kinerja actual dan standar. Meski variasi kinerja sudah dapat diduga dalam semua aktivitas, perlu ditentukan batasan variasi yang dpat diterima. Penyimpangan diluar batasan ini perlu diperhatikan. Tahap ini merupakan tahap kritis dalam proses pengawasan karena memerlukan ketelitian, terutama bila sampai pada menginterprestasikan penyimpangan. (Abdullah 2013). Prestasi pekerjaan harus diberikan penilaian dengan memberikan penafsiran, apakah sesuai dengan standar, sejauh mana penyimpangan dan apa saja faktor-faktor penyebabnya.

tidak

ya

Stoner James, A.F. dan Wankel, Charles (1988) mengelompokakan jenis-jenis

Tahap Mengambil Tindakan Manajerial, Manajer dapat memilih tiga kemungkinan tindakan : tidak melakukan apa-apa, memperbaiki kinerja actual, atau merevisi standar. Dalam melakukan tindakan biasanya manajer akan melakukan mengoreksi kinerja actual yaitu dengan satu keputusan dalam masalah yang dihadapi yaitu dengan mengambil tindakan perbaikan segera (mengoreksi masalah saat itu juga agar segera kembali pada jalurnya, atau dengan tindakan perbaikan dasar (yaitu melihat bagaimana danmnegapa kinerja menyimpang

Standar dan Metode Pengukuran

Prestasi

Mengukur Prestasi Kerja

Ambil tindakan Korektif

Tidak berbuat apa-apa Apakah Prestasi

(5)

sebelum mengoteksi sumber penyimpangan. Hal yang biasa bagi manajer untuk mencari alasan dengan mengatakan mereka tidak punya waktu untuk menemukan masalah (tindakan perbaikan dasar) dan terus-menerus “memadamkan api”dengan tindakan perbaikan segera. Manajer yang efektif menganalisis penyimpangan dan jika manfaatnya lebih banyak, mereka butuh waktu untuk menunjuk dan memperbaiki penyebab penyimpangan. Tindakan selanjutnya yang diambil adalah dengan merevisi standar, yaitu pada beberapa kasus penyimpangan adalah hasil dari standar yang tidak realistis-tujuan yang terlalu rendah atau terlalu tinggi. Jika kinerja secara konsisten melebihi tujuan, maka manajer harus melihat apakah tujuan terlalu mudah dan perlu diingkatkan. Sebaliknya, manajer harus berhati-hati untuk merevisi standar menjadi lebih rendah.

Sementara itu prinsip pengawasan ada tujuh yaitu: mencerminkan sifat dari apa yang diawasi, dapat diketahui dengan segera penyimpangan yang terjadi, luwes, mencerminkan pola organisasi, ekonomis, dapat mudah dipahami, dapat segera diadakan perbaikan. Sedangkan jenis pengawasan, ada tiga yaitu waktu (budget dan laporan) , objek, dan subyek.

C. PENGAWASAN DALAM PANDANGAN ISLAM

Pengawasan dalam pandangan islam dilakukan untuk meluruskan yang tidak lurus, mengoreksi yang salah dan membernarkan yang hak. Dalam persepsi syariah pengawasan itu paling tidak dapat dilihat dari dua sisi. Pertama pengawasan yang berasal dari diri sendiri dan kedua pengawasan dari luar. (Abdullah 2013)

a) Pengawasan dari diri sendiri merupakan pengawasan yang bersumber dari keimanan seseorang kepada Allah SWT. Seseorang yag kuat keimanannnya yakin bahwa Allah pasti mengawasi semua perilaku hambanya, maka ia akan selalu hati-hati ketika ia sediria. Perlunya pengawasan dari diri sendiri ini yang terbangun dari keimanan seseorang kepada Allah SWT dalam Al-Quran (Q.S. Al-Mujaadilah 7) berikut :











































































(6)

Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi? Tiada pembicaraan rahasia anyara tiga oorang, melainkan Dia-lah keempatnya dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah keenamnya, dan tida pula pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia berada bersama mereka dimanapun mereka berdua, kemudian Dia akan memberitahukan kepafda mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Alah Maha Mengethui segala sesuatu”

Dalam ayat ini ditegaskan bahwa kehadiran dan keberadaan Allah. Ayat ini juga menjelaskan bahwa pengawasan dan pemantauan Allah. Penegasan diatas sebagai pengantar bagi ancaman atas orang-orang yang mengadakan pembicaraan rahasia dalam rangka mengatur muslihat untuk memperdaya kaum muslimin, atau membuat mereka bersedih, bingung dan gundah. Allah mengancam bahwa rahasia mereka akan terbongkar. Allah senantiasa melihat mereka. Pembicaraan rahasia mereka tentang dosa, permusuhan dan pembangkangan atas Rasul akan dicatat. Allah melarang kaum muslimin mengadakan pembicaraan kecuali tentang kebaikan, ketakwaan, pembinaan diri dan perbaikan jiwa.

b) Pengawasan dari luar diri yang bersangkutan ini adalah untuk lebih efektifnya kegiatan organisasi dalam kehidupan sehari-hari di dunia dan kenyataannya masih banyak orang yang dikalahkan oleh moral hazardnya. Oleh karena itu pengawasan dari luar diri ini mjtak perlu, dan pengawasan ini lebih dikenal dengan sebutan pengawasan menurut sistem.

c) Filosofi pengawasan dalam Islam adalah koreksi terhadap kesalahan yang dilakukan oleh seseorang dengan sangat persuasuasif dan edukatif. Cara persuasive dan edukatif yang ini dimaksudkan untuk tidak mempermalukan yang bersangkutan. Sebagai orang yang bertakwa kepada Allah, yang bersangkutan kalau sudah diberitahu ada kesalahan hendaknya segera membetulkan kembali kesalahannya dan ia tidak lagi melakukannya. Koreksi yang persuasive dan edukatif ini dapat dilakukan dalam tiga paket yaitu : tawa shaubil haqqi, tawa shaubil shabri, dan tawa shaubil marhamah. Selain itu filosofi pengawasan dalam Islam juga bertumpu pada tanggung jawab individu, amanah dan keadilan. Islam memerintahkan setiap orang bertanggung jawab atas tugas kepemimpinannya. (Abdullah 2014)

(7)

langkah-langkah apa saja yang perlu dilakukan untuk meluruskan kembali, sehingga ada kesesuaian dengan rencana semula (Abdullah 2014)

D. PRAKTEK PENGAWASAN DALAM ISLAM

Praktek pengawasan dalam islam memamng sudah dimulai sejak awal Islam. Hal tersebut dibuktikan oleh tindakan-tindakan Rasulullah SAW yang melakukan pengawasan yang benar-benar menyatu dalam kehidupan bermasyarakat, seperti misalnya : dalam urusan ibadah Rasulullah SAW pernah melihat seseorang yang wudhunya kurang baik beliau langsung menegur dan memberitahu yang betul saat itu juga. Pada zama khulafaur rasyidin ini, khususnya sejak zaman khalifah Umar r.a telah dikembangkan beberapa teknik pengawasan terhadap organisasi pemerinahannya diantaranya : (Abdullah, 2013)

a. Inspeksi yaitu teknik yang dikembangkan karena wilayah kekuasaan Islam semakin luas, sedangkan pusat pemerintahan Madinah. Mekanisme lain dalam pengawasan inspeksi ini oleh khalifah dilakukan pula dengan membentuk sebuah lembaga yang bertugas mengawasi kinerj pemerintah, bagaimana departemen tersebut memberikan pelayanan kepada masyarakat, mendengarkan keluhan rakyat dan bagaimana penyelesaiannya. Dan di zaman modern ini lembaga ini dikenal dengan nama “The Ombudsman” yang sudah banyak dijalankan oleh Negara-negara maju.

b. Membuka diri untuk kepentingan rakyak (open house) yaitu teknik ini dilakukan oleh khalifah Umar r.a untuk memberi contoh bagi pegawai dan pejabatnya untuk membuka diri, mebuka pintu rumahnya bagi rakyat yang membutuhkan pertolongannya. Begitu konsennya khalofah dengan open house ini sampai-sampai beliau berkata kalau ada pejabat atau pegawai yang menutup pintu untuk kepentingan rakyat, maka beliau akan membakar rumah tersebut.

c. Pengawasan Publik yaitu pengawasan ini dilakukan oleh masyarakat yang bersumber dari ayat Al-Qur’an berikut :





























(8)

“Dan hendaklah ada diantara kamu segalanya umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, merekalah orang-orang yang beruntung.” (Q.S. Al-Imran 104)

Ayat ini menjelaskan bahwa adapun tugas kaum muslimin yang berpijak diatas dua pilar ini adalah tugas utama yang harus ereka laksanakan untuk menegakkan manhaj Allah di muka bumi, dan untuk memenangkan kebenaran atas kebatilan, yang ma’ruf atas yang mungkar dan yang baik atas yang buruk. Oleh karena itu, haruslah ada segolongan orang atau satu kekuasaan yang menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar. Ketetapan bahwa harus ada suatu kekuasaan adalah nadlul atau kandungan petunjuk nash Al-quran ini sendiri. Dalam pandangan islam bahWa harus ada kekuasaan untuk memerintah dan melarang, melaksanakan seruan kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran, bersatu pada unsur-unsurnya dan saling terikat dengan tali Allah dan tali

ukhuwah fillah dan berpijak diatas kedua pilar yang saling menopang untuk mengimplementasikan manhaj Allah dalam kehidupan manusia.

Sejarah membuktikan bahwa kepemimpinan seseorang tanpa adanya control akan membuahkan kerusakan. Banyak pemimpin yang ketika mengawasi kepemimpinannya dengan nilai-nilai leadership seperti rendah hati, adil, musyawarah, saling menasehati, dan sebagainya, namun dalam perjalannnanya ia bias saja berubah karena pengaruh kekuasaan yang serba enak, lalu ia berbuat banyak kesalahan. Kritik tidak lagi dihiraukannya lagi, lama-kelamaan ia akan berhadapan dengan kekuatan rakyat. Dalam kehidupan modern pengawasan public ini semakin berkembang peran yang dilakukan oleh DPR pada bidang politik, BPK dalam bidang keuangan dan lainnya.

d. Lembaga hisbah yaitu merupakan badan atau lembaga pengawasan di bidang ekonomi dan perdagangan dengan tugas-tugas sebagai berikut : mencegah tindakan menunda-nunda dalam menunaikan hak dan utang, mencegah tindak kemungkaran dalam muamalah seperti riba, jual beli yang batil, penipuan dalam jual beli, kecurangan dalam harga, timbangan, ukuran, dan takaran, mengawasi transaksi pasar, jalan umum, dan penarikan pajak dan sebagainya.

(9)

1. Ketaqwaan individu. Seluruh personel SDM perusahaan dipastikan dan dibina agar menjadi SDM yang bertaqwa.

2. Kontrol anggota. Dengan suasana organisasi yang mencerminkan formula TEAM, maka proses keberlangsungan organisasi selalu akan mendapatkan pengawalan dari para SDM-nya agar sesuai dengan arah yang telah ditetapkan.

3. Penerapan (supremasi) aturan. Organisasi ditegakkan dengan aturan main yang jelas dan transparan serta-tentu saja-tidak bertentangan dengan syariah.

E. PENGAWASAN BISNIS SYARIAH

Menurut Abdullah (2014) pengawasan bisnis dalam Islam memang sudah dimulai sejak awal Islam. Hal tersebut dibuktikan dalam ajaran Islam itu sendiri.

a) Pengawasan melekat (waskat) dari Allah sebagaimana tercantum dalam Al-quran beikut ini :





















     

“Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka mnakar dan mneimbang untuk orang lain, mereka mnegurangi.” (Q.S Al-Mutaffin 1-3)

b) Pengawasan dari Rasulullah, dalam bidang muamalah dan bisnis, Rasul pernag menegur seorang pedagang makanan yang menaruh makanan yang basah di timbunan makanan yang kering. Rasulullah SAW langsung menjelaskan jangan dilakukan seperti ituu. Pisahkan makanan yang kering sendiri dan yang basah sendiri. Dalam kehidupan modern sekarang ini pengawasann yang dicontohkan Rasulullah itu menjadi tugasnya Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dari versi pemerintah, dan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) versi organisasi masyarakat yang bekerja secara sukarela.

F. PENGENDALIAN BAGI KINERJA ORGANISASI

Menurut Robbins & Coulter (2010) Kinerja adalah hasil akhir dari sebuah aktivitas. Manajer berurusan dengan kinerja organisasi hasil kumulatif dari semua aktivitas kerja dalam perusahaan. Semua manager harus mengukur kinerja perusahaan, pengukuran yang biasanya digunakan meliputi produktivitas organisasi, efektivitas organisasi, dan peringkat industri.

(10)

Produktivitas adalah jumlah barang atau jasa yang diproduksi dibagi input yang dibutuhkan untuk menghasilkan output tersebut. Dalam hal produksi manajermen harus pintar dalam mengendalikan tingkat produksinya dengan cara yang efisien yaitu menurunkan input.

b) Efektivitas Organisasi.

Efektivitas organisasi adalah pengukuran kesesuaian tinjauan organisasi dan bagaimana tujuan tersebut dan bagaimana tujuan tersebut dicapai. Efektivitas itulah keuntungan bagi manajer dan yang mengarahkan keputusan manajer dalam mendesain strategi dan aktivitas kerja, juga dalam mengkoordinasi kerja para karyawan.

c) Peringkat Industri dan Perusahaan

Mempelajari peringkat merupakan cara yang umum bagi manajer untuk mengukur kinerja perusahaan. Peringkat ditentukan oleh pengukuran kinerja secara spesifik yang berbeda setiap daftarnya. Peringkat-peringkat tersebut memberikan indikator bagi manajer dalam menilai kinerja perusahaan dan perbandingannya terhadap perusahaan lain.

G. PERANGKAT PENGUKURAN KINERJA ORGANISASI

Semua manajer membutuhkan perangkat yang tepat untuk mengawasi dan mnegukur kinerja perusahaan. Pengukurannya dengan 3 tipe pengendalian, pengendalian keuangan, pengendalian informasi dan membuat tolak ukur dari praktik terbaik (Robbins & Coulter 2010) :

1) TIPE PENGENDALIAN

a) Pengendalian Feedforward. Jenis pengendalian yang paling diinginkan mencegah masalah karena pengendalian dilakukan sebelum aktivitas sebenarnya. Kunci dari pengendalian feedforward adalah mengambil tindakan manajerial sebelum terjadi masalah. Dengan begitu masalah dapat dicegah dan bukan memperbaiki setelah timbul kerusakan. Namun pengendalian feedforward membutuhkan informasi tepat dan akurat, yang tidak selalu dapat diperoleh dengan mudah.

(11)

dapat mengambil manfaat dari pengendalian ini karena pengendalian ini membantu mereka memperbaiki kesalahan sebelum menjadi lebih memakan biaya.

c) Pengendalian Feedback. Jenis pengendalian ini yang paling populer berganntung pada feedback. Pengendalian ini dilakukan setelah aktivitas dilakukan. Pengendalian feedback memiliki 2 keunggulan. Pertama, feedback memberikan informasi yang berarti bagi manajer mengenai keefektifan usaha perencanaan yang mereka lakukan. Feedback yang menunjukkan sedikit perbedaan antara kinerja standar dan aktual menunjukkan bahwa secara umum perencanaan telah sesuai target. Jika penyimpangan bersifat signifikan, manajer dapat menggunakan informasi tersebut untuk membuat rencana baru. Kedua, feedback dapat meingkatkan motivasi. Orang-orang ingin mengetahui bagaimana kerja mereka, dan feedback memberikan informasi tersebut.

2) PENGENDALIAN KEUANGAN

Setiap bisnis ingin mendapatkan laba. Untuk mencapai tujuan ini, manajer memerlukan pengendalian keuangan. Manajer akan menghitung rasio keuangan untuk menjamin ketersediaan kas dalam membiayai pengeluaran, tingkat utang yang tidak terlalu tinggi atau aset yang digunkaan dengan produktif. Dalam pengendalian keuangan manajer menggunakan metode pengukuran pengendalian keuangan tradisional dan mengelola pendapatan.

3) PENDEKATAN BALANCED SCORE

Manajer dapat menggunakan balanced score untuk mengevaluasi kinerja organisasi lebih dari sekedar perspektif keuangan. Balanced score melihat secara tipikal empat area yang menyumbang kinerja perusahaan : keuangan, pelanggan, proses internal, dan aset.

4) PENGENDALIAN INFORMASI

Dalam mengukur kinerja aktual, manajer memerlukan informasi tentang apa yang terjadi diarea yang mejadi tanggung jawab manajer dan standarnya, agar dapat membandingkan kinerja aktual dengan standarnya. Mereka juga mengandalkan informasi untuk menentukan apakah penyimpangan masih dapat diterima. Kebanyakan perangkat informasi yang digunakan manajer berasal dari sistem informasi manajemen dan mengendalikan informasi.

(12)

Manajer di industri yang beragam baru menemukan apa yang telah lama diketahui oleh manajer manufaktur-manfaat dari tolak ukur (benchmarking), yaitu pencarian oraktik terbaik yang menjadikannya unggul diantara pesaing dan nonpesaing. Tujuan dari benkchmarking ini untuk menentukan tolak ukur yaitu standar kesempurnaan sebagai dasar pengukuran dan perbandingan.

H. IMPLEMENTASI PENGAWASAN DALAM ORGANISASI

a) Good Corporate Governance

Penerapan GCG (Good Corporate Governance) di sebuah bank atau perusahaan/ organisasi yang bergerak di bidang ekonomi Islam juga harus diperhatikan. Perbedaan GCG syariah berbeda dengan GCG konvensional, perbedaan itu terletak pada shariah compliance yaitu kepatuhan pada syariah.

Pengertian GCG menurut World Bank merupakan kumpulan hukum, peraturan, kaidah-kaidah yang wajib dipenuhi yang dapat mendorong kerja sumber-sumber perusahaan bekerja secara efisien, menghasilkan nilai eknomi jangka panjang yang berkesinambungan bagi para pemegang saham maupun masyarakat sekita secara keseluruhan.

Sementara itu GCG dalam Workshop Kantor Meneg PM BUMN Desember 1999,

dirumuskan bahw a GCG berkaitan dengan pengambilan keputusan yang efektif, dan struktur oraganisasi yang bertujuan untuk mendorong dan mendukung pengembangan perusahaan, pengelolaan sumber daya dan risiko secara lebih efektif dan efisien serta pertanggungjawaban perusahaan kepada pemegang saham dan stakeholders lainnya. Menurut Hessel (2001), ada tiga hal pokok yang urgen untuk menciptakan GCG yaitu:

1. Pemberantasan KKN,

2. Disiplin anggaran dan penghapusan dana nonbudgeter,

3. Peningkatan fungsi pengawasan. GCG merujuk pada sistem dan metode bagaimana perusahaan diarahkan, ditata, atau dikendalikan.

(13)

Nasional (BASYARNAS), dan terakhir perluasan kewenangan yang dimiliki oleh Pengadilan Agama dalam hal memeriksa, memutus, dan menyelesaikan sengketa di bidang ekonomi syariah sebagaimana mana diatur dalam Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama. (Muhammad, Manajemen Keuangan Syariah: Analisis Fiqh dan Keuangan, UPP STIM YKPN: Yogyakarta, Cet. Pertama, Edisi Pertama, November 2014).

b) Dewan Syariah Nasional

Dewan Syariah Nasional (DSN) merupakan bagian dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang bertugas menumbuhkembangkan penerapan nilai-nilai syariah dalam kegiatan perekonomian pada umunya dan sektor keuangan pada khususnya , termasuk usaha bank, asuransi dan reksadana. Anggota DSN terdiri dari para ulama, praktisi dan pakar dalam bidang-bidang yang terkait dengan perekonomian dan syariah muamalah. Anggota DSN ditunjuk dan diangkat oleh MUI untuk masa bakti 4 tahun.

DSN merupakan satu-satunya badan yang mempunyai kewenangan mengeluarkan fatwa atau jenis-jenis kegiatan, produk dan jasa keuangan syariah serta mengawasi penerapan fatwa dimaksud oleh lembaga-lembaga keuangan syariah di Indonesia. Disamping itu DSN juga mempunyai kewenangan untuk:

a) Memberikan dan mencabut rekomendasi nama-nama yang akan duduk sebagai anggota DPS (Dewan Pengawas Syariah) pada satu lembaga keuangan syariah. b) Mengeluarkan fatwa yang mengikat DPS di masing-masing lembaga keuangan

syariah dan menjadi dasar tindakan hukum phak terkait.

c) Mengeluarkan fatwa yang menjadi landasan bagi ketentuan yang dikeluarkan oleh instansi yang berwenang, seperti Bank Indonesia dan BAPEPAM.

d) Memberikan peringatan kepada lembaga keuangan syariah untuk menghentikan penyimpangan dari fatwa yang telah dikeluarkan oleh DSN.

e) Mengusulkan kepada pihak yang berwenang untuk mengambil tindakan apabila peringatan tidak diperdulikan. (Muhammad, Manajemen Dana Bank Syariah, Jakarta: Rajawali Press, 2014).

(14)

Sebuah koreksi terhadap suatu kesalahan dalam Islam didasarkan atas tiga dasar. Pertama tawa shaubil haqqi. Kedua tawa shaubis shabri. (Hafidhuddin, 2003)

a) Tawa shaubil haqqi (saling menasehati atas dasar kebenaran dan norma yang jelas) Norma dan etika itu tidak bersifat individual, emalinkan harus disepakati bersama dengan aturan-aturan. Sebagaimana dalam firman Allah SWT Q.S. Al-Ashr : 3





















kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya menataati kebenaran”

Ayat ini menjelaskan bahwa amal shaleh merupakan buah alami bagi iman, dan gerakan yang didorong oleh adanya hakikat iman yang mantap didalam hati. Jadi iman merupakan hakikat yang aktif dan dinamis. Iman bukan sekadar lintasan, dan bukan sesuatu yang pasif yang tersimpan didalam hati. Selama iman itu sebagai ikatan dengan manhaj Rabbani. Manhaj ini adalah gerakan yang konstan dan berkesinambungan didalam wujud semesta, yang bersumber dari suatu perencanaan dan mneuju tujuan. Lantas, saling menasehati dengan nasehat yang dapat membangkitkan semangatnya untuk mengemban amanat terbesar ini. Saling menasehati untuk menaati kebenaran ini adalah sesuatu yang sangat vital. Karena melaksanakan kebenaran itu sulit dan hambatannya banyak, seperti hawa nafsu, logika kepentingan, pola pikir lingkungan, kezaliman penguasa, kezaliman orang-orang yang zalim dan penganiayaan para penyelewengan. Tawaashi adalah mengingatkan, memberi semnagat, menyadarkan betapa dekatnya tujuan dan sasaran yang hendak dicapai dan mengingatkan akan perlunya persaudaraan didalam memikul beban dan mnegemban amanat.

b) Tawa Shaubis Shabri (saling menasehati atas dasar kesabaran). Pada umumnya, seorang manusia sering mengulangi kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan. Oleh karena itu kesabaran itu penting untuk memberikan koreksi yang berulang-ulang. Sebagaimana dalam surat Q.S Al-Ashr : 3

   

(15)

Ayat ini menjelaskan bahwa saling menasehati kebenaran dan menetapi kesabaran ini terlukis dalam keberadaan umat Islam dengan bentuknya yang khas, ikatannya yang istimewa dan arahnya yang sama. Yakni umat yang merasakan kewajibannya. Juga mengerti hakikat sesuatu yang harus diutanakan yang bersumber dari iman dan amal saleh, yang meliputi masalah kepemimpinan manusia dijalan iman dan amal saleh. Saling berpesan untuk menetapi kesabran juga merupakan sesuatu yang sangat vital. Karena menegakkan keimanan dan amal sholeh dna mnejaga kebenaran dan keadilan, merupakan sesuatu yang amat sulit yang dihadapi oleh perorangan dan jamaah. Saling berwasiat untuk bersabar ini akan dapat meningkatkan kekuatan. Karena dapat membangkitkan kesadaran akan kesamaan tujuan, kesatuan arah, dan saling mendukungnya antara yang satu dan yang lain.

c) Tawa Shaubil marhamah (saling menasehati atas dasar kasih saying). Tujuan melakukan pengawasan, pengendalian dan koreksi adalah untuk mencegah seseorang jatuh terjerumus kepada sesuatu yang salah. Tujuan lainnya adalah agar kualitas kehidupan terus meningkat. Inilah yang dimaksud dengan taushiyah. Sebagaimana dalam surat Al-Balad : 17





















...“ dan dia (tidak pula) termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang.

Ayat ini menjelaskan bahwa sabar merupakan unsur yang vital bagi iman secara umum dan untuk menempuh jalan mendaki dan secara khusus. Saling berpesan untuk bersabar menetapkan suatu tingkatan dibalik tingkatan sabar itu sendiri, yaitu tingkat kesatuan dan saling berpesan untuk menerapkan makna sabar dan saling menolong dan bantu-membantu sama lain sebagai konsekuensi iman. Persoalan saling berpesan untuk berkasih sayang bahwa ia memiliki nilai tambah daripada sekedar berkasih sayang didalam barisan kaum muslimin dengan cara saling berpesan untuk berkasih sayang dan saling menganjurkannya.

(16)

menjamin bahwa tujuan-tujuan organiasi dan manjemen tercapai. Pengertian ini menunjukkan adanya hubungan yang erat anatara perencanaan dan pengawasan. Fungsi pengawasan juga berhubungan dengan fungsi-fungsi manjerial lainnya.

Pengawasan manajemen adalah suatu usaha sistematik untuk menetapkan standar pelaksanaan dengan tujuan-tujuan perencanaan, meracang system inforamasi umpan balik, membandingkan kegiatan nyata dengan standar yang ditetapkan sebelumnya, menentukan dan mengukur penyimpangan-penyimpangan serta mengabil tindakan koreksi yang diperlukan untuk menjamin bahwa suber daya perusahaan dipergunakan dengan cara paling efektif dan efisiensi dalam pencapaian tujuan-tujuan perusahaan.

K. PENGAWASAN YANG BAIK MENURUT ISLAM

Pengawasan yang baik adalah pengawasan yang telah buit in ketika menyusun sebuah program. Dalam menyusun program, harus sudah ada control didalamnya. Tujuannya adalah agar seseorang yang melakukan sebuah pekerjaan merasa bahwa pekerjaannya ini diperhatikan oleh atasan, bukan pekerjaan yang tidak diacuhkan atau yang dianggap enteng. Oleh karena itu, pengawasan yang terbaik adalah pengawasan yang dibangun dari dalam diri orang yang diawasi dan dari system pengawasan yang baik.

Sistem pengawasan yang baik tidak bias dilepaskan dari pemberian punishment (hukuman) dan reward (imbalan). Karena hal ini yang dapat mengontrol atau menjaga kestabilan kinerja karyawan. Hal yang sangat penting yang harus dipahami oleh seorang manajer adalah sebuah pengawasan akan berjalan dengan baik jika masing-masing manajer berusaha memberikan contoh terbaik kepada bawahannya.

Berkaca dalam kehidupan Rasulullah SAW, beliau melakukan pengawasan yang benar-benar menyatu dengan kehidupan. Jika ada seseorang yang melakukan kesalahan, maka pada saat itu juga Rasulullah menegurnya sehingga tidak ada kesalahan yang diidiamkan oleh Rasulullah SAW pada saat itu

(17)

melanggar aturan. Hal inilah yang disebut utak atik aturan karena pada umumnya peraturan bukan untuk diikuti tapi untuk dilanggar.

Agar pengawasan terselenggara dengan efektif, dalam arti berhasil menemukan secara faktual hal-hal yang terjadi dalam penyelenggara seluruh kegiatan operasional, baik yang sifatnya positif diperlukan instrumen seperti: (Siagan, 2007)

1. Standar hasil, makna dan hakikat standar hasil yang ingin dicapai merupakan hal yang sangat fundamental, karena terhadap standar itulah penyelenggaraan berbagai kegiatan dibandingkan.

2. Standar fisik, yang sering dikatakan merupakan dasar-dasar penentuan standar lainnya untuk diawasi dan dipenuhi, yang dimaksud dengan standar-standar fisik adalah ukuran-ukuran nonmoneneter dan sangat bermanfaat digunakan bagi pengukuran prestasi kerja pada tingkat operasional karena dalam pelaksanaan kegiatan operasional itulah bahan-bahan digunakan, tenaga kerja dimanfaatkan, jasa-jasa diberikan, dan barang-barang dihasilkan. Artinya, pada umunya standar fisik mencerminkan prestasi kerja yang bersifat kuantitatif.

3. Standar biaya, adalah ukuran yang dikaitkan dengan uang yang digunakan untuk melakukan kegiatan-kegiatan tertentu dan standar ini pun biasanya diberlakukan dalam pengawasan kegiatan operasional.

4. Standar modal, adalah standar yang timbul adalah standar biaya yang timbul sebagai akibat dari penggunaan ukuran uang terhadap hal-hal tertentu yang bersifat fisik, tetapi disoroti dari sudut kekayaan yang ditanamkan dalam perusahaan dikaitkan dengan hasil yang diperoleh dari modal yang ditanam.

5. Standar penerimaan, standar ini digunakan dengan jalan memberikan nilai uang bagi penjualan barang atau jas ayang dihasilka oleh perusahaan yang bersangkutan.

6. Standar waktu, ketentuan inilah yang digunakan dalam pengawasan dengan melihat apakah batas waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan.

7. Standar intangibel.

Sebenarnya ada beberapa kunci pengawasan yang dapat disimpulkan yaitu : Pertama

(18)

berjalan dengan baik jika pemimpinnya memang orang-orang yang pantas untuk menjadi pengawas dan pengontrol. Ketiga dalam mekanisme, sistem harus dibangun dengan baik, sehingga orang itu secara sadar dan sengaja bahwa jika melakukan kesalahan, maka sama saja dengan merusak sistem yang ada. (Hafidhuddin, 2003)

REFERENSI

Abdullah, Ma’ruf. 2013. Manajemen Berbasis Syariah. Yogyakarta : Aswaja Pressindo

Abdullah, Ma’ruf. 2014. Manajemen Bisnis Syariah. Yogyakarta : Aswaja Pressindo

Abdurrahman, Nana. 2013. Manajemen Bisnis Syariah dan Kewirausahaan. Bandung : Pustaka Setia

Brantas. 2009. Dasar-dasar Manajemen. Bandung : Alfabeta

Hasibuan, Malayu SP. 2009. Manajemen : Dasar, Pengertian, dan Masalah. Edisi Revisi. Jakarta : PT Bumi Askara

Herujito. Yayat M. 2009. Dasar-dasar Manajemen. Jakarta : PT Grasindo

Quthb, Sayyid. 2004. Tafsir Fi zhilalil Quran Jilid 11. Jakarta : Gema Insani Press

Quthb, Sayyid. 2004. Tafsir Fi zhilalil Quran Jilid 12. Jakarta : Gema Insani Press

Robbins, Stephen P., Mary Coulter. Manajamenn Jilid 2. Edisi Kesepuluh. Jakarta : Penerbit Erlangga

Siagan, Sondang P. 2007. Fungsi-fungsi Manajemen. Edisi Revisi. Jakarta : PT Bumi Aksara

Hafidhuddin, Didin. 2003. Manajemen Syariah dalam Praktik. Jakarta: Gema Insani

(19)

DALAM MANAJEMEN UMUM ISLAM

Oleh

Riana Afliha Eka Kurnia 091514553002

Siti Nur Mahmudah 091514553005

Irfan Jauhari 091514553008

Ayank Narita Dyatama 091514553013

Ahmad Munir Hamid 091514553014

SEKOLAH PASCASARJANA

MAGISTER EKONOMI ISLAM

UNIVERSITAS AIRLANGGA

SURABAYA

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...