• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ketahanan dan Kemandirian Pangan Komodit (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Ketahanan dan Kemandirian Pangan Komodit (1)"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

KETAHANAN DAN KEMANDIRIAN PANGAN KOMODITAS DAGING SAPI

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Ketahanan Pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, merata dan terjangkau. Ketersediaan pangan dapat berasal dari hasil produksi dalam negeri dan/atau sumber lain. Menurut Saliem et al. (2003) selain enam hal tersebut, aspek keberlanjutan ketahanan pangan yang identik dengan kebijakan dan strategi peningkatan kemandirian pangan nasional merupakan hal yang harus diperhatikan.Untuk mengukur ketahanan pangan dari sisi kemandirian dapat dilihat dari ketergantungan ketersediaan pangan nasional pada produksi pangan dalam negeri.Dalam operasionalnya, konsep mandiri diskenariokan sebagai kondisi dimana kebutuhan pangan nasional minimal 90 persen dipenuhi dari produksi dalam negeri (Suryana, 2004).Pentingnya kemandirian pangan dilatarbelakangi bahwa pangan merupakan kebutuhan hakiki manusia.

Komoditas daging sapi merupakan salah satu komoditas prioritas dalam program pembangunan nasional dalam upaya mewujudkan ketahanan pangan asal hewani.Untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia tersebut, daging sebagai bahan pangan mempunyai peran yang signifikan. Kalaupun ada kelompok penduduk masih rendah aksesnya terhadap daging, peran subsektor peternakan tidak hanya sebagai penyedia bahan pangan untuk mendukung ketahanan pangan tapi juga berperan tidak langsung sebagai lapangan usaha untuk meningkatkan pendapatan sehingga akan meningkatkan akses peternak terhadap pangan. Upaya meningkatkan ketahanan pangan masyarakat Indonesia khususnya yang berkaitan dengan komoditas daging selain dilihat dari kemampuannya dalam menyediakan produk, juga perlu diperhatikan seberapa jauh usaha yang telah dikembangkan oleh pemerintah dalam meningkatkan daya beli masyarakat (Sudaryanto dan Jamal, 2000).

Produk daging sapi merupakan komoditas kedua setelah unggas (ayam potong). Kontribusi daging sapi terhadap kebutuhan daging nasional sebesar 23% dan diperkirakan akan terus mengalami peningkatan (Direktorat Jenderal Peternakan, 2009). Secara umum kebutuhan daging sapi masih disupply oleh impor daging maupun sapi bakalan.Secara agregat Indonesia adalah merupakan negara pengimpor produk peternakan, termasuk produk daging sapi yang cenderung mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.Kondisi ini menggambarkan kurangnya pasokan secara nasional.Dari kondisi ini maka diperlukan solusi yang dapat menjadi bahan pertimbangan dalam permasalahan tentang komoditas daging, tentunya disertai dengan data-data yang mendukung dan dengan analisis permasalahannya.

Rumusan Masalah

1. Bagaimana data-data produksi, konsumsi, ekspor dan impor dari komoditas daging sapi di Indonesia ?

2. Bagaimana analisis permasalahan yang ada berdasarkan data yang ada ?

(2)

Tujuan

1. Untuk mengetahui kondisi ketahanan dan kemandirian pangan khususnya komoditas daging sapi melalui data-data pendukung.

2. Untuk dapat menganalisa permasalahan tentang komoditas daging sapi dari data-data yang didapat.

3. Untuk menentukan kebijakan atau solusi dari permasalahan yang muncul pada komoditas daging sapi.

Manfaat

1. Dapat menambah wawasan dan pengetahuan tentang kondisi produksi, konsumsi, import dan ekspor untuk komoditas daging di Indonesia

2. Dapat mengetahui apa saja permasalahan pada komoditas daging yang timbul di Indonesia. 3. Dapat mengetahui kebijakan dan solusi atas permasalahan pada komoditas daging yang

(3)

DATA PENUNJANG a. Data Konsumsi Daging Sapi

Tabel 1. Konsumsi dan Defisit Daging Sapi, 2008-2013

Tahun Konsumsi (ton) Produksi (ton)

Defisit

Berdasarkan pada tabel 1 ditunjukkan bahwa dari tahun ke tahun, mulai dari tahun 2008 sampai dengan tahun 2013 terus mengalami peningkatan. Pada tahun 2008 konsumsi masyarakat akan daging sapi mencapai 395.244 ton dan meningkat pada tahun 2009 yang mencapai 413.087 ton. Peningktan terus berlanjut yakni ada tahun 2010 konsumsi daging sapi nasionala mencapai 440.774 ton. Begitu juga pada tahun 2011 yang mencapai 488.931 ton, 2012 mencapai 544.896, dan pada tahun 2013 yang masih menunjukkan peningkatan menjadi 593.706. Akan tetapi konsumsi yang besar dan kian meningkkat di setiap tahunnya tidak dibarengi dengan tingginya produksi dalam negeri (sapi lokal) meskipun disetiap tahunnya produksi daging (sapi lokal) juga menunjukkan peningkatan dar ahun 2008 samapi dengan tahun 2013.

Sedangkan konsumsi masyarakat berdasarkan kategori daging sapi yang dikonsumsi masyarakat yaitu ada tiga jenis produk daging sapi yakni daging sapi segar, daging sapi diawetkan, dan daging sapi dari makanan jadi. Janis produk daging sapi yang paling banyak dikonsumsi yaitu daging sapi dari makanan jadi, hal in disebabkan kepraktisan yang ditawarkan oleh produk daging sapi tersebut. Sedangkan yang paling sedikit dikonsumsi masyarakat yaitu daging sapi yang diawetkan. Untuk pertumbuhannya sendiri, untuk produk daginng sapi segar pertumbuhan dari tahun 2002 sampai dengan tahun 2012 cenderung berfluktuasi dengan rata-rata pertumbuhan yang menunjukkan angka minus yang berarti cenderung mengalami penurunan dalam jumlah yang dikonsumsi masyarakat. Begitu pula dengan prediksi pada tahun 2013 dan 2014 yang juga diprediksi menurun.

(4)

sebelumnya. Sedangkan untuk tahun2013 diprediksikan mengalami penurunan sebesar 90,13%. Sedangkan untuk tahun 2014 justru diprediksi mengalami pertumbuhan sebesar 190%. Selanjutnya untuk produk daging sapi dari makanan jadi juga menunjukkan pertumbuhan yang berfluktuasi mulai dari ahun 2002 sampai dengan taun 2012, dengan tngkat konsumsi rata-rata tertinggi yakni pada tahun 2007 sebesar 16,66 atau tumbuh sebesar 1,9% dari tahun sebelumya.

Tabel 2. Perkembangan konsumsi daging sapi segar, diawetakan dan makanan jadi dalam rumah tangga di Indonesia, 2002 – 2012 dan prediksinya 2013 – 2014

\

Sumber: SUSENNAS, BPS diolah pudatin Keterangan: *) Angka Prediksi Pusdatin

b. Data Produksi Daging Sapi

Tabel 3. Produksi Daging Sapi Nasional, 2008-2013

Tahun Ex Sapi Lokal Ex Sapi Impor Total (ton)

Ton % Ton %

2008 222,656 56.73 169,844 43.27 392,500

2009 213,477 52.16 195,823 47.84 409,300

2010 349,698 80.18 86,485 19.82 436,452

2011 410,698 84.62 74,635 15.38 485,333

(5)

2013 463,778 85.00 81.843 15.00 545,621

Sumber: Badan Pusat Statistik (diolah).

Untuk total produksi daging sapi nasional dari tahun 2008 sampai dengan 2013 terus menunjukkan peningktan dengan puncaknya yang terjadi pada tahun 2013 yaitu sebesar 545.621 ton. Akan tetapi produksi tersebut diperoleh dari sapi lokal dan sapi impor, dimana untuk daging sapi dari sapi lokal terus mengalami peningkatan dari tahun 2008 sampai dengan tahun 2013. Sedangkan untuk daging sapi dari sapi impor cenderung berfluktuasi, dimana pada saat pemberlakuan kuota impor sapi sejak tahun 2010 jumlah sapi yang diimpor mengalami penurunan drastis dari tahun-tahun sebelumnya, yang terlihat dalam jumlah daging sapi yang dihasilkan dari sapi impor yang berkurang dari tahun 2009 sebesar 195.823 ton menjadi 86.485 ton, begitu juga pada tahun 2011 menjadi 74.685ton. Sedangkan pada thun 2012 dan 2013 kembali mengalami peningkatan tipis yaitu sebesar 79.982 ton pada tahun 2012 dan sebesar 81.843 pada thun 2013. Sedangkan untuk populasi sapi lokal dari tahun 2008 sampai dengan tahun 2013 terus menunjukkan peningkatan sebagaimana dapat dilihat pada tabel 4.

Tabel 4. Perkembangan Populasi Sapi Potong di Indonesia, 2008-2013 (ribu ekor)

Tahun Populasi

2008 12,257

2009 12,760

2010 13,582

2011 14,824

2012 16,034

2013 16,606

Sumber: Badan Pusat Statistik (diolah)

c. Data Ekspor dan Impor Daging Sapi

Tabel 5. Volume Ekspor dan Impor Daging Sapi Indonesia, 2008-2013

Tahun Ekspor (ton) Impor (ton) Defisit (ton)

2008 6 2744 2738

2009 4 3787 3783

(6)

2011 0 3598 3598

2012 2 39419 39417

2013 0 48085 48085

Sumber: Badan Pusat Statistik (diolah)

(7)

ANALISIS PERMASALAHAN a. Analisis Permasalahan Konsumsi Daging Sapi

Dari ternak sapi yang merupakan produk utama, adalah daging segar, daging beku dan daging olahan (dendeng, daging giling/ mince, corned, sosis, bakso, dan daging dalam kaleng). Menurut teori ekonomi, salah satu faktor yang mempengaruhi konsumsi daging sapi per kapita adalah pendapatan rumah tangga konsumen. Dapat dikatakan bahwa rata-rata konsumsi daging sapi segar per kapita per tahun masih sangat rendah. Karena itu, ke depan dengan meningkatnya pendapatan masyarakat, maka diperkirakan bahwa konsumsi langsung daging segar akan meningkat. Konsumsi tidak langsung (untuk bahan baku industri pengolahan, bakso, dan lain-lain) juga akan terus meningkat dengan meningkatnya pendapatan masyarakat dan jumlah penduduk.

(8)

Gambar 1. Grafik Perkembangan konsumsi daging sapi segar, diawetakan dan makanan jadi dalam rumah tangga di Indonesia, 2002 – 2012 dan prediksinya 2013 – 2014.

Perkembangan konsumsi total daging sapi di dalam negeri selama 2008-2012 diperlihatkan pada gambar 1. Yang dimaksudkan dengan “konsumsi total” terdiri dari : (1) Konsumsi langsung oleh rumah tangga; (2) Penggunaan untuk industri pengolahan makanan; dan (3) Tercecer. Konsumsi total daging sapi selama kurun waktu tersebut terus meningkat cukup cepat. Pada tahun 2012 merupakan tingkat konsumsi yang paling tinggi yaitu sekitar 2,31 kg dan angka ini dinilai masih sangat rendah. Dari grafik juga ditunjukan diantara jenis konsumsi daging, yang paling banyak dikonsumsi masyarakat adalah jenis daging sapi dari makanan jadi.

Dilihat dari data konsumsi daging sapi di Indonesia, dapat dilihat beberapa permasalahan yang terjadi sebagai berikut:

1. Konsumsi daging sapi di Indonesia masih sangat rendah.

Berdasarkan catatan Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia (ISPI), konsumsi daging sapi di Indonesia hanya 2 Kg/kapita/tahun atau bisa dilihat dari gambar 1 konsumsi tertinggi di Indonesia terjadi pada tahun 2012 yang angka konsumsinya juga hanya sekitar 2,3 kg/kap. Banyak hal yang membuat konsumsi daging di Indonesia sangat rendah, salah satunya harga daging sapi yang semakin meningkat dari waktu ke waktu.Harga daging sapi yang terus melonjak disebabkan karena tidak mencukupinya jumlah sapi potong Indonesia untuk memenuhi kebutuhan konsumsi penduduk Indonesia sehingga impor daging sapi tidak dapat dihindari.Impor daging sapi yang dilakukan pemerintah Indonesia sangat merugikan karena kebijakan terhadap impor dinilai tidak bijaksana. Dalam fokus grup diskusi ISPI, terungkap bahwa kebijakan impor saat ini dilakukan berdasarkan informasi global yang tidak memperhitungkan penyebaran sapi, ongkos transportasi, dan segmentasi pasar, tidak adanya mekanisme dan dasar pembagian kuota yang jelas sehingga berakibat pada terciptanya monopoli pasar yang tidak berkomitmen pada pembangunan industri sapi di Indonesia.Hal ini mengakibatkan de-industrialisasi yang berakibat pada ditutupnya Rumah Potong Hewan (RPH) serta menyusutnya industri feedlot, menguntungkan importir daging sapi dan eksportir daging di Australia, dan rawan terhadap penyimpangan pelaksanaan target swasembada apabila dilakukan tanpa kedisplinan dan konsistensi kebijakan pemerintah.Selain faktor harga yang terus meningkat, factor lainnya disebabkan oleh pola pikir masyarakat akan gizi yang masih rendah sehingga gizi untuk tubuh bukan menjadi prioritas utama.

2. Sebaran Populasi Ternak Sapi dan Konsumsi Daging Sapi yang Tidak Merata.

(9)

besar berada di kawasan Indonesia Timur, seperti di Sulawesi Selatan, NTB, NTT, dan Jawa Timur, yang justru tingkat konsumsinya rendah.

3. Defisit Daging Sapi Sangat Tinggi

Sumber: Badan Pusat Statistik (diolah)

Gambar 2. Grafik Konsumsi dan Defisit Daging Sapi 2008-2013

Berdasarkan gambar diatas, grafik menunjukan bahwa konsumsi akan daging sapi terus mengalami peningkatan setiap tahunnya, namun dari segi produksinya tidak tingkat pertumbuhannya tidak seimbang dengan konsumsi, sehingga Indonesia mengalami defisit. Konsumsi daging sapi akan terus meningkat karena pertumbuhan jumlah penduduk, disamping itu, kenaikan permintaan daging sapi juga disebabkan oleh kenaikan pendapatan riil per kapita, citra produk (gengsi), cita rasa, serta pertumbuhan industri pengolahan daging sapi dan industri pariwisata (hotel dan

0 100.000 200.000 300.000 400.000 500.000 600.000 700.000

2008 2009 2010 2011 2012 2013

(10)

restoran). Defisit daging sapi ini juga disebabkan dengan peningkatan produksi yang masih terkendala oleh lambatnya pertumbuhan populasi sapi potong.

b. Analisis Permasalahan Produksi Daging Sapi

Sumber produksi daging sapi nasional adalah: (1) Sapi lokal, yaitu sapi potong, sapi perah jantan, dan sapi perah betina afkir, yang sebagian besar adalah sapi potong; dan (2) Sapi bakalan (feeder steer) yang diimpor dari Australia dan digemukkan di Indonesia selama sekitar 100 hari. Populasi sapi potong selama 2008-2012 terus meningkat dengan rata-rata 6,87%/ekor, yaitu dari 12,26 juta ekor pada tahun 2008 menjadi 16,03 juta ekor pada tahun 2012.

Sumber: Badan Pusat Statistik (diolah)

Gambar 3. Perkembangan Populasi Sapi Potong di Indonesia

Perkembangan produksi daging sapi nasional selama 2008-2012 meningkat terus selama kurun waktu tersebut dengan rata-rata 6,76%/tahun (dari 392.500 ton pada tahun 2008 menjadi 505.477 ton pada tahun 2012). Berdasarkan literature jurnal, faktor-faktor yang mempengaruhi produksi daging sapi disebabkan oleh perubahan harga input produksi, harga output, dan produksi tahun sebelumnya. Harga input produksi seperti harga sapi bibit, harga dedak, dan harga limbah tanaman pangan sebagai pengganti rumput berpengaruh terhadap produksi daging sapi di wilayah sentra produksi sapi di NTT, NTB, dan Bali. Harga daging sapi berpengaruh positif dan signifikan di semua wilayah, kecuali untuk Jawa Barat yang merupakan rasio dari harga sapi bakalan terhadap harga daging sapi.Produk substitusi maupun komplementer dari daging sapi dapat berupa produk telur dan daging ayam serta ikan tongkol.Pengaruhnya terhadap produksi daging sapi bervariasi antarwilayah, dimana hal ini juga disebabkan oleh ketersediaan dan selera pasar terhadap produk tersebut.

(11)

Sumber: Badan Pusat Statistik (diolah) Gambar 4. Produksi Daging Sapi Nasional

Perkembangan produksi nasional tersebut dipengaruhi oleh perkembangan produksi daging sapi ex sapi lokal dan ex sapi impor.Berdasarkan data tabel 4.Selama 2008-2012 produksi daging sapi lokal cenderung naik sangat cepat dengan rata-rata 19,50%/tahun. Pada tahun 2009 produksi daging ex sapi lokal sempat turun menjadi 213.477 ton atau turun 4,12% dibanding tahun 2008. Penurunan produksi ini disebabkan oleh peningkatan produksi daging ex sapi impor sebesar 15,30%, yaitu dari 169.844 ton pada tahun 2008 menjadi 195.823 ton pada tahun 2009. Peningkatan produksi daging ex sapi impor tahun 2009 ini disebabkan oleh impor sapi bakalan dari Australia dalam jumlah besar. Pemerintah kemudian menetapkan kebijakan pembatasan impor sapi bakalan sehingga pada tahun 2010 produksi daging ex sapi impor menurun drastis menjadi hanya 86.485 ton atau turun 55,84% dibanding tahun 2009, dan penurunan itu terus berlanjut hingga 2011. Penurunan produksi daging ex sapi impor yang sangat drastis pada tahun 2010 tersebut memberikan peluang bagi peningkatan produksi daging ex sapi lokal sebesar 63,84%. Karena itu, pada tahun 2010 pangsa produksi daging ex sapi lokal melonjak dari 52,16% pada tahun 2009 menjadi 80,18% pada tahun 2010. Sebaliknya, pangsa produksi daging ex sapi impor menurun drastis dari 47,84% pada tahun 2009 menjadi hanya 19,92% pada tahun 2010. Pada tahun 2011 produksi daging ex sapi lokal meningkat lagi sehingga pangsanya menjadi 84,62%, sementara produksi daging ex sapi impor turun lagi menjadi hanya 15,38%. Pada tahun 2012, produksi daging ex sapi lokal dan ex sapi impor sama-sama meningkat lagi, namun pangsa produksi daging ex sapi impor sedikit meningkat, sementara pangsa produksi daging ex sapi lokal sedikit menurun.Perlu dicacat bahwa peningkatan produksi daging ex sapi lokal yang sangat cepat bukan berarti suatu prestasi yang bagus.Peningkatan produksi daging ex sapi lokal yang sangat cepat sebagai akibat dari pembatasan impor sapi bakalan (dan juga pembatasan impor daging sapi) dapat mengancam populasi ternak sapi potong di Indonesia, jika peningkatan jumlah kelahiran hidup tidak sebanding dengan peningkatan jumlah pemotongannya. Beberapa permasalahan yang dapat memengaruhi produksi daging sapi adalah:

1. Indikasi terjadinya pengurasan populasi ternak sapi potong antara lain adalah:

(12)

Ternak sapi yang ada tinggal yang berukuran kecil dengan bobot sekitar 250 kg/ekor. Dengan menurunnya pasokan ternak sapi dengan bobot 300 kg atau lebih, maka untuk mendapatkan 1 ton daging diperlukan jumlah sapi lebih banyak.

b. Meningkatnya pemotongan ternak sapi potong betina produktif, yang berarti pemusnahan (extinction) sumberdaya ternak sapi potong. Pemotongan sapi berina produktif berarti mengurangi jumlah ternak sapi yang lahir. Pemerintah tidak berdaya menghadapi masalah pemotongan ternak betian produktif ini. Dengan demikian, maka kebijakan pembatasan impor sapi bakalan dan impor daging sapi harus benar-benar memperhitungkan dua hal, yaitu: (1) Kebutuhan riil daging sapi untuk konsumsi rumah tangga, rumah makan, hotel, catering, industri pengolahan, dan lain-lain; dan (2) Jumlah kelahiran sapi dan jumlah sapi yang tersedia untuk dipotong. Kesalahan dalam menentukan kuota impor akan berdampak fatal, yaitu pengurasan ternak sapi potong lokal.

2. Jumlah Pengiriman Sapi dari Sentra Produksi Ke Sentra Konsumsi

Secara historis sentra sapi potong di Indonesia adalah Kawasan Timur Indonesia yaitu Bali, NTB, NTT, dan Sulawesi.Sapi dari daerah tersebut dipasarkan ke daerah konsumsi di Pulau Jawa, terutama untuk DKI Jakarta dan Jawa Barat.Pintu masuk utama ke Jawa melalui pelabuhan yang ada di Jawa Timur.Selanjutnya dari Jawa Timur diteruskan sampai ke DKI Jakarta dan Jawa Barat.

Hasil penelitian Depdag (2006) melaporkan bahwa pedagang antar pulau dari NTB sudah tidak mampu menjual sapi dan kerbau dengan modal sendiri, mereka saat ini hanya sebagai perpanjangan tangan dari pedagang besar di Jakarta dan Bekasi.Jumlah mereka sudah jauh menurun dari 20 orang menjadi 6 orang. Pada periode yang sama jumlah ternak yang diantarpulaukan juga terus menurun, demikian juga dengan berat badan sapi yang diperdagangkan turun dari rata-rata 300 kg menjadi rata-rata 250 kg per ekor. Fenomena tersebut mengindiksikan kelangkaan sapi di sentra produsen.

(13)

c. Analisis Permasalahan Ekspor Daging Sapi

Sumber: Badan Pusat Statistik

Gambar 5. Volume Ekspor dan Impor Daging Sapi Indonesia, 2008-2013

Untuk memenuhi konsumsi dalam negeri, Indonesia tidak dapat memenuhi sehingga kegiatan impor dilakukan oleh Indonesia. Ekspor indonesia dari tahun 2008 – 2013 sangat memprihatinkan, tidak ada peningkatan secara signifikan yang terjadi pada ekspor daging sapi oleh Indonesia. Pada tahun 2010, 2011 dan 2013 tidak ada kegiatan ekspor daging sapi oleh Indonesia. Dan pada tahun 2008 ekspor daging sapi sebesar 6 ton, pada tahun 2009 ekspor daging sapi sebesar 4 Ton dan tahun 2012 sebesar 2 Ton. Dapat disimpulkan bahwa dari tahun 2008 – 2013 mengalami difisit yang berarti volume dan nilai impor daging sapi selalu lebih besar dibandingkan volume dan nilai ekspornya.Selama kurun waktu tersebut, defisit daging sapi terbesar terjadi pada tahun 2013 yaitu sebesar 48.085 ton.Yang disebabkan oleh rendahnya pasokan dari dalam negeri, harga dalam negeri relatif lebih mahal daripada impor, kualitas daging sapi yang rendah dll.Hal tersebut yang dapat menimbulkan lemahnya ekspor yang dilakukan oleh Indonesia.

d. Analisis Permasalahan Impor Daging Sapi

Indonesia melakukan impor sapi dalam bentuk daging dan ternak bakalan untuk digemukkan.Mayoritas negara asal daging sapi adalah Australia dan New Zealand, sementara asal ternak sapi bakalan hanya Australia.Ekspor daging sapi dari Indonesia sangat kecildan ekspor ternak sapi bahkan tidak ada.Perkembangan volume impor dan ekspor daging sapi oleh Indonesia selama 2008-2013 diperlihatkan pada Tabel 5.Volume impor terus meningkat selama 2008-2010, yaitu dari 2.744 ton pada tahun 2008 menjadi 4.332 ton pada tahun 2010, tetapi kemudian turun pada tahun 2011 menajdi 3.598 ton, karena pasokan daging sapi di dalam negeri sudah berlebihan sebagai akibat impor sapi bakalan yang terlalu banyak. Pada tahun 2012, volume impor daging sapi melonjak tajam mencapai 39.419 ton karena terjadi kekurangan pasokan daging sapi di dalam negeri sebagai akibat penurunan drastis volume impor sapi bakalan.

0

Volume Ekspor dan Impor Daging Sapi Indonesia,

2008-2013

(14)

Permasalahan Impor di Indonesia:

1. Volume Impor Sapi Bakalan

Impor daging sapi yang sudah dilakukan sejak awal zaman Orde Baru, Indonesia juga mengimpor sapi bakalan asal Australia sejak 1991, yaitu setelah mendapatkan izin dari pemerintah.Impor sapi bakalan dilakukan oleh perusahaan besar feedlot yang tergabung ke dalam Asosiasi Produsen Daging dan Feedlot Indonesia (APFINDO). Dasar pertimbangan impor sapi bakalan pada awalnya adalah bahwa pemeliharaan/penggemukan sapi bakalan yang diimpor memberikan manfaat sosial-ekonomi lebih besar dibanding jika mengimpor dalam bentuk daging, yaitu:

a. Menciptakan nilai tambah di dalam negeri;

b. Memanfaatkan limbah pertanian, misalnya ampas nenas dari industri pengolahan nenas PT Great Giant Pineapple di Lampung, sebagai pakan ternak bergizi tinggi sehingga ampas nenas tidak terbuang percuma;

c. Menciptakan lapangan kerja di kandang feedlot dan kantor perusahaan penggemukan sapi;

d. Menciptakan lapangan usaha panangkutan ternak dari pelabuhan ke kandang feedlot dan dari kandang feedlot ke pedagang ternak/RPH; dan

e. Untuk memenuhi kebutuhan daging oleh hotel, restoran dan pasar swalayan.

Sumber: Ditjen Peternakan dan Keseehatan Hewan, diolah.

Gambar 6. Perkembangan Jumlah Impor Sapi Bakalan 1991 – 2012 (ekor)

(15)

mencapai 657.300 ekor. Volume impor tahun 2008 yang mencapai 570.100 ekor tampaknya sudah berlebihan yang menyebabkan terjadinya over supply ternak sapi potong di daerah konsumen utama, yaitu Jabodetabek, sehingga harga ternak sapi hidup turun. Dampak selanjutnya adalah ternak sapi di daerah sentra seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, NTT dan NTB tidak bisa masuk ke daerah Jabodetabek, sehingga terjadi penumpukan ternak di kandang pedagang ternak antar daerah.

2. Harga di Tingkat Petani Menurun

Dampak berikutnya adalah pedagang tidak membeli sapi dari petani sehingga harga ternak di tingkat petani menurun.Pada tahun 2009, kondisi makin parah karena jumlah impor sapi naik lagi menjadi 657.300 ekor, yang menyebabkan harga ternak sapi hidup turun lagi.Hal ini menimbulkan frustasi bagi pedagang ternak dan peternak sapi.Sejumlah pedagang ternak bangkrut dan petani mulai enggan untuk memelihara sapi. Melihat fenomena yang tidak sehat tersebut, pemerintah pada tahun 2010 mengenakan kuota impor sapi bakalan, sehingga volume impor sapi menurun drastis menjadi 290.457 ekor, dan pada tahun 2011 turun lagi menjadi 184.955 ekor. Akibat dari penurunan yang tajam impor sapi bakalan tersebut adalah terjadinya kelangkaan sapi bakalan, sehingga harga ternak dan harga daging sapi meningkat tajam. Untuk menstabilkan harga daging sapi, kuota impor sapi tahun 2012 dinaikkan lagi menjadi 283.000 ekor (bersamaan dengan peningkatan kuota impor daging sapi pada tahun yang sama). Pada tahun 2013 terjadi gejolak pasokan daging sapi yang menyebabkan harga daging sapi di tingkat konsumen di daerah Jabodetabek melebihi Rp 100.000/kg.Harga ini dinilai sangat tidak wajar, sehingga pemerintah ingin menurunkan harganya melalui penetapan kuota impor yang lebih besar.Dalam kondisi demikian, dimana selisih antara harga dalam negeri dan harga impor sangat besar yang bisa mendatangkan keuntungan

sangat besar, makan timbul “permainan gelap” oleh pihak-pihak tertenu untuk memperoleh jatah/kuota impor lebih besar.

3. Sentra Produksi yang Melemah

Akhir-akhir ini, penjualan sapi dari daerah sentra produksi sapi potong yang selama ini menjadi andalan sumber sapi potong nasional yaitu NTT dan NTB ke wilayah sentra konsumsi yaitu Jabodetabek sangat menurun dan beralih ke wilayah Kalimantan. Beberapa alasannya adalah: (1) Pasar di wilayah Jabodetabek sudah cukup jenuh dengan masuknya sapi impor dari Australia; (2) Biaya angkutan dan risiko perjalanan dari NTT dan NTB ke Jabodetabek lebih tinggi dibanding ke Kalimantan karena untuk ke Jakarta menggunakan kapal turun di pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, lalu pindah ke truk untuk angkutan ke Jakarta dengan waktu tempuh yang lama, sementara angkutan ke Kalimantan cukup menggunakan kapal saja dan lebih cepat sampai; (3) Harga jual di Kalimantan lebih lebih tinggi dibanding di Jakarta; (4) Pasokan sapi jantan di NTT dan NTB sudah menipis; dan (5) Pedagang ternak antar pulau NTT dan NTB sering ditipu oleh pedagang ternak/Jagal di Jabodetabek (pembayaran tidak lancar).

4. Impor daging sapi oleh BULOG

(16)

keuntungan besar dengan menimbun ternak sapi di kandangnya dapat melepas sapinya untuk dijual ke pasar sehingga harga daging diharapkan akan kembali ke titik keseimbangan ekonominya.

5. Kebijakan Impor

Kebijakan pembatasan impor sapi bakalan dari Australia dan impor daging telah menyebabkan pasokan daging di dalam negeri menjadi semakin langka sehingga harga daging terangkat naik. Kenaikan harga BBM, ramadhan dan idulfitri menambah energi untuk mengangkat harga sehingga harga daging yang semua sekitar Rp 65 ribu sampai Rp 70 ribu terus merambat naik sehingga menjadi Rp 110 ribu atau lebih dan sulit turun. Pemerintah perlu sangat hati-hati dalam menetapkan kebijakan impornya, baik ternak sapi bakalan maupun daging sapi. Jangan sampai pasar dalam negeri kekurangan pasokan karena salah perhitungan yang justru akan menguras populasi ternak lokal di Indonesia. Perlu disadari bahwa populasi ternak sapi lokal mulai terancam karena:

a. Terjadi pemotongan ternak sapi betina produktif dan Jagal pandai mencari celah untuk tidak melanggar peraturan sementara upaya pemerintah mengatasi pemotongan ternak betina sampai saat ini belum berhasil;

b. Pemotongan ternak sapi jantan di bawah bobot minimal sehingga diperlukan lebih banyak ternak untuk mencapai kuantitas daging tertentu;

(17)

SOLUSI PERMASALAHAN

Dari berbagai masalah yang muncul mengenai Daging Sapi baik dari aspek produksi maupun konsumsi umumnya disebabkan oleh harga daging sapi yang semakin meningkat dengan pendapatan masyarakat yang renndah. Berikut beberapa solusi yang dapat memecahkan masalah tersebut, diantaranya:

1. Membangun rantai pasok nasional

Fenomena kenaikan dan lonjakan harga komoditas, termasuk yang disertai dengan kelangkaan, berulang kali terjadi. Kedua fenomena ini semakin kuat ketika terjadi lonjakan permintaan, misalnya berkaitan hari-hari besar keagamaan.

Fenomena yang berulang kali terjadi tersebut semestinya menjadi pelajaran berharga bagi pemerintah untuk merancang suatu program yang bersifat strategis dan sistematis untuk mengantisipasi kelangkaan dan fluktuasi harga berbagai komoditas penting. Langkah-langkah yang bersifat taktis dan operasional, seperti impor, terbukti tidak bisa mengatasi persoalan tersebut.

Salah satu upaya pemecahan masalah yang bisa dilakukan adalah dengan pendekatan manajemen rantai pasok (supply chain management/SCM). Pemerintah perlu merencanakan, membangun, dan mengintegrasikan aspek-aspek “produksi-distribusi-konsumsi”, antara lain dengan langkah-langkah sebagai berikut:

a. Pemetaan rantai pasok. Pemetaan dilakukan secara nasional dengan mengidentifikasi para pelaku (pemasok/produsen, pelaku distribusi, pengecer/pedagang, dan konsumen), termasuk wilayah dan aliran distribusinya.

b. Pembuatan basis data. Basis data mencakup: pemasok/produsen (jumlah pemasok, jumlah sapi), pelaku distribusi (jenis dan jumlah pelaku), pengecer/pedagang (jumlah), dan konsumen (jumlah, segmen, tingkat konsumsi, wilayah).

c. Perencanaan rantai pasok. Dilakukan terutama untuk mengintegrasikan aspek produksi-distribusi-konsumsi yang selama ini saling terpisah. Para peternak pada tingkat produksi,

misalnya, “terpisah” dengan pelaku distribusi yang dilakukan oleh pihak lain. Pelaku distribusi dan pedagang pun saling “terpisah”. Hubungan antar pihak terjadi secara transaksional, tanpa ada kerja sama jangka panjang yang memberikan manfaat bagi para pihak. Selain mengakibatkan rantai pasok tidak efisien, kondisi ini membuka peluang pihak tertentu dalam rantai pasok itu untuk mengambil keuntungan secara tidak proporsional.

Perencanaan rantai pasok mencakup pula perencanaan produksi sesuai permintaan/kebutuhan konsumen, termasuk mempertimbangkan peningkatan permintaan berkaitan dengan hari besar keagamaan dan sebagainya.

a. Menata dan membangun produksi. Penataan perlu dilakukan terutama agar produksi dilakukan pada skala ekonomis, mengingat pada saat ini para peternak kebanyakan melakukan penggemukan sapi pada jumlah kecil. Skala ekonomis dapat dicapai dengan mengembangkan peternakan sebagai industri besar atau mengintegrasikan para peternak kecil.

(18)

c. Edukasi di tingkat konsumsi. Edukasi diperlukan antara lain agar konsumen melakukan pola pembelian daging secara tepat. Sebagai contoh, pada saat ini masyarakat lebih menyukai membeli daging segar daripada daging beku. Padahal proses pendistribusian sapi potong lebih mahal yang berdampak ke harga daging.

d. Pengembangan infrastruktur dan sarana pengangkutan. Ketersediaan infrastruktur (pelabuhan khusus ternak, terminal ternak berikut fasilitas bongkar muat, cold storage system untuk cold chain) dan sarana pengangkutan (kapal ternak, kereta api khusus ternak) sangat diperlukan untuk efisiensi proses pengiriman ternak. Untuk pengangkutan sapi dari Jawa Timur ke Jakarta, misalnya, penggunaan kapal ternak berkapasitas 400 ekor jauh lebih efisien daripada menggunakan truk.

e. Pengawasan/pemantauan. Dilakukan untuk mengantisipasi pihak-pihak tertentu mengambil keuntungan dengan cara yang tidak dapat dibenarkan. Pengawasan/pemantauan terutama diperlukan pada proses distribusi yang dapat dilakukan dengan melakukan pencatatan arus pengiriman sapi potong antar wilayah, misalnya dengan memanfaatkan jembatan timbang. Di jembatan timbang tidak hanya dilakukan pencatatan berat truk dan muatannya (untuk menghindari beban lebih), namun dilakukan juga pencatatan jumlah sapi potong yang diangkut.

f. Koordinasi antar Instansi. Pembangunan rantai pasok ini memerlukan koordinasi antar instansi/lembaga/kementerian, misalnya: Kementerian Peternakan, Kementerian Perdagangan, Kementerian Perhubungan, dan lain-lain. Koordinasi juga diperlukan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah yang bersangkutan.

2. Peternak Mandiri

Untuk strategi jangka panjang, satu-satunya jalan yang harus ditempuh adalah memperbaiki usaha beternak sapi bagi 6,5 juta peternak berskala kecil. Mereka yang menguasai lebih dari 98 persen populasi sapi di Indonesia harus diajak berbisnis secara benar melalui pendekatan kolektif dengan satu manajemen. Kondisi alam, budaya masyarakat, dan karakter peternak di Indonesia memungkinkan hal itu. Pendekatan ini berbeda dengan pendekatan yang digunakan peternak Australia yang harus bersifat individualis karena kondisi alam, budaya masyarakat, dan karakter peternaknya memang berbeda dengan Indonesia.

Selama ini peternak kecil hanya diajari secara teknis. Itu pun bersifat parsial dan tak berkelanjutan. Jumlah peternak yang diajari juga sangat terbatas dan lokasinya menyebar. Celakanya lagi banyak pihak mengajari mereka dengan pendekatan berbeda-beda. Akibatnya, biaya yang dikeluarkan tinggi, tetapi tingkat keberhasilan rendah dan produktivitas sapi tetap rendah.

Dari diskusi lebih lanjut, ternyata para peternak tahu pemerintah selama ini hanya melaksanakan proyek dan tidak membina mereka untuk dapat mandiri. Pemerintah di sini bukan hanya Kementerian Pertanian, melainkan juga kementerian lain yang menggunakan ternak sebagai komoditas dalam proyeknya.

(19)

Jadi, yang perlu diupayakan ke depan adalah bahwa peternak harus dapat berbisnis secara mandiri melalui usaha kolektif dengan satu manajemen. Jumlah sapi yang diusahakan harus ada minimalnya, misalnya, 1.000 ekor sapi betina dalam satu kawasan padat sapi. Pemerintah harus memfasilitasi usaha kolektif tersebut, baik dari aspek teknis maupun nonteknis, secara terus-menerus sampai akhirnya usaha itu berjalan mandiri.

Dengan demikian, pemerintah tidak lagi menyelenggarakan proyek pengadaan sapi, tetapi harus lebih banyak menyelenggarakan aktivitas berkelanjutan yang berorientasi pada upaya meningkatkan kualitas peternak ataupun memperkuat fasilitas pendukungnya dalam beternak. Untuk jangka pendek, serahkan urusan pemenuhan daging kepada para pelaku bisnis yang memang menguasai pasar dan pemerintah tak perlu ikut bermain di dalamnya. Peran pemerintah sebaiknya tetap sebagai regulator saja.

3. Penetapan kuota impor

Dalam kondisi sekarang, impor sapi bakalan dan impor daging masih tetap diperlukan.Namun kebijakan penetapan kuota impor harus dilakukan secara cermat dengan memperhitungkan kebutuhan daging sapi dan kemampuan sapi lokal dalam menyediakan daging sapi. Dengan demkian, maka kebutuhan daging sapi dapat terpenuhi tanpa berdampak menguras populasi ternak sapi potong di Indonesia dan lemabungnya harga daging sapi di pasar domestik.

4. Mempertahankan peran BULOG

(20)

KESIMPULAN

(21)

DAFTAR PUSTAKA

Ardiyati, Alisa. 2012. Penawaran Daging Sapi Di Indonesia (Analisis Proyeksi Swasembada Daging Sapi 2014). Tesis. Universitas Indonesia. Jakarta.

Arifin, Bustanul. 2012. Momentum Perbaikan Swasembada Daging.http://www.kompas.com. Diakses pada 03 Juni 2014.

Badan Pusat Statistk. Beberapa tahun. Statistik Indonesia, BPS. Jakarta.

Badan Pusat Statistik. Beberapa tahun. Konsumsi Kalori dan Protein Penduduk Indonesia dan Propinsi, BPS. Jakarta.

Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan. 2011. Statistik Peternakan Tahun 2011. Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan. Kementerian Pertanian. Jakarta.

Ilham, Nyak. Kelangkaan Produksi Daging:Indikasi Dan Implikasi Kebijakannya. Jurnal.Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian.

Muladno. 2013. Solusi Daging Sapi.http://www.kompas.com. Diakses pada 03 Juni 2014.

Nurmanaf, A. R., Sumaryanto, S. Wahyuni, E. Ariningsih, Dan Y. Supriyatna. 2007. Analisis Kelayakan dan Perspektif Pengembangan Asuransi Pertanian Pada Usahatani Padi dan Usaha Sapi Potong. Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan pertanian, Badan Litbang Pertanian. Bogor.

Priyanti, Atien. Dinamika Produksi Daging Sapi Di Wilayah Sentra Usaha Sapi Potong Di Indonesia. Jurnal. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan.

Rukmana, Yayan. 2013. Ekonomi Daging dan Strateginya Bank Ternak. http://www.kampoengternak.or.id/. Diakses pada 03 Juni 2014.

Gambar

Tabel 1. Konsumsi dan Defisit Daging Sapi, 2008-2013
Tabel 3. Produksi Daging Sapi Nasional, 2008-2013
Gambar 2. Grafik Konsumsi dan Defisit Daging Sapi 2008-2013
Gambar 6.Pada awalnya (1991), jumlah impor masih kecil yaitu 13.200 ekor.Volume impor tersebut terus meningkat sampai dengan 1997, dengan laju peningkatan sangat cepat sejak 1995, sehingga pada tahun volume impor mencapai 277.000 ekor.Pada

Referensi

Dokumen terkait

Hasil dari pengamatan uji organoleptis meliputi pemeriksaan terhadap warna, bau dan kemungkinan timbulnya endapan sediaan hair tonic kombinasi ekstrak daun seledri

effec size sebagaimana tertera pada Tabel 5 memberikan sejumlah kesimpulan yakni: (1) penerapan model tutorial berbasis komputer memberikan perbedaan yang

Penyedia Barang/Jasa mengikuti proses Penjelasan Dokumen Penawaran (Aanwijzing) jumlah 3 (tiga) Peserta calon penyedia Jasa.. Penjelasan Dokumen Pengadaan (Aanwijzing)

Jadi, dengan mengucapkan “nawim” orang Balim sekaligus (1) menyambut perang itu sebagai bagian yang tak terpisahkan dari hidupnya, miliknya, dan (2) menyambut

(2)Sub Seksi Pusat Tata Usaha yang dipimpin oleh seorang Kepala Sub Seksi, mempunyai tugas membantu dan bertanggungjawab kepada Kepala Seksi Pajak dalam hal :. a.Menerima,

Berdasarkan seluruh penjabaran kompetensi profesional diatas, peneliti sependapat dengan pemaparan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 27 tahun 2008 tentang

sebagai pupuk hijau. Benih tanaman yang digunakan adalah jagung Kultivar Jaya 2. Untuk mencegah serangan hama penyakit digunakan pestisida yang disesuaikan dengan

Semua ini memerlukan suatu kegiatan prakiraan yang ter - program untuk setiap tahun pada setiap Kecamatan dan Ka bupaten dalam rangka memperlancar proses pengadaan. Kedua,