PEMETAAN TINGKAT PARTISIPASI ANGKATAN KERJA (TPAK), TINGKAT KESEMPATAN KERJA DAN TINGKAT PENGANGGURAN
PROVINSI JAWA TENGAH TAHUN 2015-2020
Untuk Memenuhi Tugas Matakuliah Sistem Informasi Geografi Terapan Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Ketenagakerjaan
yang di bina Oleh : Purwanto, S.Pd, M.Si
PROPOSAL
=
Disusun Oleh :
Nama : Al Istiqomah
NIM : 130722607356
Off/Minat : H/ Minat 2
JURUSAN GEOGRAFI FAKULTAS ILMU SOSIAL UNIVERSITAS NEGERI MALANG
BAB I PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang
Pembangunan di Indonesia kini telah meningkatkan berbagai aspek kehidupan penduduk. Aspek sosial misalnya, dapat ditunjukkan adanya peningkatan pendidikan masyarakat pada umumnya, kependudukan, angka harapan hidup meningkat seiring dengan menurunnya angka kematian bayi dan fertilitas yang cenderung menurun terus. Sebagai akibat keberhasilannya program Keluarga Berencana dan masih banyak lagi. Namun sejak tahun 1997, Indonesia dan juga kawasan Asia dilanda bencana krisis moneter yang mengakibatkan terjadinya krisis ekonomi. (Pitartono,2012)
Pengalaman pada awal-awal terjadinya krisis ekonomi karena kondisi yang tidak memungkinkan banyak pekerja dan pengusaha yang kehilangan pekerjaan. Hal ini disebabkan karena usahanya yang semakin menciut atau bahkan gulung tikar. Kemudian banyak pekerja yang mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK).
Masalah ketenagakerjaan adalah salah satu masalah pokok yang harus dihadapi oleh negara-negara berkembang seperti halnya Indonesia. Jumlah penduduk yang terus meningkat tanpa diikuti pertambahan lapangan pekerjaan selalu menjadi pemicu menjamurnya pengangguran.
Tingginya tingkat pengangguran dalam suatu negara dapat membawa dampak negatif terhadap perekonomian negara tersebut. Dimana, pengangguran akan menjadi beban tersendiri, tidak hanya bagi pemerintah, namun juga berdampak terhadap keluarga, lingkungan, dan lain sebagainya. Selain itu, tingginya tingkat pengangguran di suatu negara, dapat pula meningkatkan jumlah kriminilatias, menambah keresahan sosial, serta meningkatkan kemiskinan di dalam suatu Negara.
dibandingkan tahun 2012. (BPS Jawa Tengah, 2013). Jika tingkat pertumbuhan angkatan kerja lambat dan pertumbuhan lapangan kerja juga lambat, maka akan menyebabkan masalah pengangguran di Jawa Tengah.
Perencanaan ketenagakerjaan dalam beberapa tahun kedepan penting. Perencanaan mengenai TPAK,tingkat kesempatan kerja serta tingkat pengangguran perlu dilakukan, karena berhubungan dengan kebijakan yang akan diambil dan dengan mengetahui tingkat pengangguran di suatu wilayah, maka pemerintah dapat mengambil kebijakan yang akan diterapkan untuk mengurani masalah ketenagakerjaan tersebut. Untuk mengetahui bagaimana TPAK,tingkat kesempatan kerja serta tingkat pengangguran beberapa tahun kedepan perlu adanya proyeksi ketenagakerjaan kedepan. Selanjutnya dijadikan kebijakan dalam bidang ketenagakerjaan.
Berdasarkan hal tersebut, maka kali ini peneliti akan mengkaji mengenai tingkat pengangguran di Jawa Tengah, dengan menghubungkan antara kesempatan kerja dengan tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) Jawa Tengah pada tahun 2014. Selain itu juga memproyeksikan ketenagakerjaan di Jawa Tengah untuk mengetahui jumlah pengangguran, TPAK dan kesempatan kerja pada tahun 2015-2020.
1.2Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
1.2.1 Bagaimanakah persebaran Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) di Jawa Tengah tahun 2015-2020?
1.2.2 Bagaimanakah persebaran kesempatan kerja di Jawa Tengah tahun 2015-2020?
1.2.3 Bagaimanakah persebaran pengangguran di Jawa Tengah tahun 2015-2020? 1.2.4 Bagaimanakah hubungan antara Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja
1.3Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah tersebut,tujuan penelitian ini adalah:
1.3.1 Untuk mengetahui persebaran Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) di Jawa Tengah tahun 2015-2020
1.3.2 Untuk mengetahui persebaran kesempatan kerja di Jawa Tengah tahun 2015-2020
1.3.3 Untuk mengetahui persebaran pengangguran di Jawa Tengah tahun 2015-2020
1.3.4 Untuk mengetahui hubungan antara Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK),kesemptan kerja dan tingkat pengangguran di Jawa Tengah tahun 2015-2020.
1.4Manfaat
Berdasarkan tujuan dari penelitian tersebut, maka manfaat penelitian ini adalah: 1.4.1 Bagi penulis, penelitian ini bermanfaat sebagai sarana untuk berlatih dalam
melakukan penelitian serta peka terhadap permasalahan-permasalahan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK),kesemptan kerja dan tingkat pengangguran di Jawa Tengah tahun 2015-2020.
1.4.2 Bagi masyarakat, penelitian ini bermanfaat untuk mengetahui bagaimana Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK),kesemptan kerja dan tingkat pengangguran di Jawa Tengah tahun 2015-2020.
1.4.3 Bagi pemerintah, penelitian ini bermanfaat untuk memberikan informasi mengenai Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK),kesemptan kerja dan tingkat pengangguran di Jawa Tengah tahun 2015-2020
1.5Ruang Lingkup
Ruang lingkup pada penelitian ini adalah:
1.5.2 Kesempatan kerja di Jawa Tengah, yang diketahui dari selisih antara jumlah angkatan kerja dengan jumlah pengangguran di Jawa Tengah pada tahun 2015-2020
1.5.3 Tingkat pengangguran, yang diketahui dari perbandingan jumlah
pengangguran dengan jumlah angkatan kerja di Jawa Tengah pada tahun 2015-2020
1.6Definisi Operasional
Definisi Operasional pada penelitian ini adalah: 1.6.1 Pemetaan
Pemetaan adalah pengelompokkan suatu kumpulan wilayah yang berkaitan dengan beberapa letak geografis wilayah yang meliputi dataran tinggi, pegunungan, sumber daya dan potensi penduduk yang berpengaruh terhadap sosial kultural yang memilki ciri khas khusus dalam penggunaan skala yang tepat. (Soekidjo,1994 dalam Sugito, 2013)
1.6.2 Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK)
Tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) adalah perbandingan antara jumlah angkatan kerja dengan penduduk dalam usia kerja. Yang dimaksud dengan penduduk usia kerja adalah penduduk yang telah berusia 15-64 tahun yang berpotensi memproduksi barang dan jasa.
1.6.3 Kesempatan kerja
Kesempatan kerja dapat diartikan sebagai jumlah penduduk yang bekerja atau orang yang sudah memperoleh pekerjaan, semakin banyak orang yang bekerja semakin luas kesempatan kerja. (Esmara,1986 dalam Putu,2008)
1.6.4 Pengangguran
BAB II KAJIAN TEORI 2.1Pemetaan
Pemetaan adalah pengelompokkan suatu kumpulan wilayah yang berkaitan dengan beberapa letak geografis wilayah yang meliputi dataran tinggi, pegunungan, sumber daya dan potensi penduduk yang berpengaruh terhadap sosial kultural yang memilki ciri khas khusus dalam penggunaan skala yang tepat. (Soekidjo,1994 dalam Sugito, 2013).
Pengertian lain tentang pemetaan yaitu sebuah tahapan yang harus dilakukan dalam pembuatan peta. Langkah awal yang dilakukan dalam pembuatan data, dilanjutkan dengan pengolahan data, dan penyajian dalam bentuk peta (Juhadi dan Liesnoor, 2001 dalam Sugito, 2013)
Jadi, dari dua definisi diatas dan disesuaikan dengan penelitian ini maka pemetaan merupakan proses pengumpulan data untuk dijadikan sebagai langkah awal dalam pembuatan peta, dengan menggambarkan penyebaran kondisi alamiah tertentu secara meruang, memindahkan keadaan sesungguhnya kedalam peta dasar, yang dinyatakan dengan penggunaan skala peta.
Proses pemetaan
Proses pemetaan yaitu tahapan yang harus dilakukandengan perancangan sebuah peta. Menurut Intan Pernanasari (2007) dalam Sugito 2013, mengemukakan bahwa: ada 3 tahap proses dalam pemetaan yang harus dilakukan:
a.Tahap pengumpulan data
dikelompokkan dahulu menurut jenisnya seperti kelompok data kualitatif atau data kuantitatif.
Pengenalan sifat data sangat penting untuk simbolisasi atau penentuan dan pemilihan bentuk simbol, sehingga simbol tersebut akan mudah dibaca dan dimengerti. Setelah data dikelompokkan dalam tabel–tabel, sebelum diolah ditentukan dulu jenis simbol yang akan digunakan. Untuk data kuantitatif dapat menggunakan simbol batang, lingkaran, arsir bertingkat dan sebagainya, melakukan perhitungan-perhitungan untuk memperoleh bentuk simbol yang sesuai.
b. Tahap penyajian data
Langkah pemetaan kedua berupa panyajian data. Tahap ini merupakan upaya melukiskan atau menggambarkan data dalam bentuk simbol, supaya data tersebut menarik, mudah dibaca dan dimengerti oleh pengguna (users). Penyajian data pada sebuah peta harus dirancang secara baik dan benar supaya tujuan pemetaan dapat tercapai.
c. Tahap pengumpulan data
Tahap penggunaan peta merupakan tahap penting karena menentukan keberhasilan pembuatan suatu peta. Peta yang dirancang dengan baik akan dapat digunakan/dibaca dengan mudah. Peta merupakan alat untuk melakukan komunikasi, sehingga pada peta harus terjalin interaksi antar pembuat peta (map maker) dengan pengguna peta (map users). Pembuat peta harus dapat merancang peta sedemikian rupa sehingga peta mudah dibaca, diinterpretasi dan dianalisis oleh pengguna peta. Pengguna harus dapat membaca peta dan memperoleh gambaran informasi sebenarnya dilapangan (real world).
2.2Sistem Informasi Geografis (SIG)
menganalisa, dan menampilkan data dalam suatu informasi berbasis geografis. (Sugandi,2009)
SIG mempunyai kemampuan untuk menghubungkan berbagai data pada suatu titik tertentu di bumi, menggabungkannya, menganalisa dan akhirnya memetakan hasilnya. Aplikasi SIG menjawab beberapa pertanyaan seperti: lokasi, kondisi, trend, pola, dan pemodelan. Kemampuan inilah yang membedakan SIG dari sistem informasi lainnya. Dilihat dari definisinya, SIG adalah suatu sistem yang terdiri dari berbagai komponen yang tidak dapat berdiri sendiri-sendiri. (Sugandi,2009)
Jadi secara umum, SIG merupakan suatu sistem komputer yang memiliki empat kemampuan utama dalam menangani data, yakni :
a. memasukan data (Input Data). b. mengeluarkan data / informasi.
c. Manajemen data (penyimpanan dan pemanggilan data). d. Analisis dan manipulasi data.
Komponen Utama
Komponen utama SIG terdiri atas : 1. Hardware
Hardware SIG teridiri dari komputer, GPS, Printer, Plotter, dan lain-lain. Dimana perangkat keras ini berfungsi sebagai media dalam pengolahan/pengerjaan SIG. Mulai dari tahap pengambilan data hingga ke produk akhir baik itu peta cetak, CD, danlain-lain.
2. Software
Software SIG merupakan sekumpulan program applikasi yang dapat memudahkan kita dalam melakukan berbagai macam pengolahan data, penyimpanan, editing, hingga layout, ataupun analisis keruangan.
3. Brainware
mengolah berbagai macam data keruangan (data spasial) untuk suatu tujuan tertentu.
4. Data Spasial
Data dan Informasi spasial atau keruangan merupakan bahan dasar dalam SIG. Data ataupun realitas di dunia/alam akandiolah menjadi suatu informasi yang terangkum dalam suatu sistem berbasis keruangan dengan tujuan-tujuan tertentu. Tingkat keberhasilan dari suatu kegiatan SIG dengan tujuan apapun itu sangat bergantung dari interaksi ke empat faktor ini. Jika salah satunya pincang maka hasilnyapun tidak akan ada gunanya. (Sugandi,2009)
Data Spasial
Data spasial mempunyai dua bagian penting yang membuatnya berbeda dari data lain, yaitu informasi lokasi dan informasi atribut yang dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Informasi lokasi atau informasi spasial. Contoh yang umum adalah informasi lintang dan bujur, termasuk diantaranya informasi datum dan proyeksi. Contoh lain dari informasi spasial yang bisa digunakan untuk mengidentifikasikan lokasi misalnya adalah Kode Pos.
2. Informasi deskriptif (atribut) atau informasi non spasial. Suatu lokalitas bisa mempunyai beberapa atribut atau properti yang berkaitan dengannya ; contohnya jenis bencana, kependudukan, pendapatan per tahun,dan lain-lain. Model Aplikasi SIG
Aplikasi SIG sudah hampir menyentuh seluruh sendi-sendi kehidupan, terutama dalam bidang perencanaan pembangunan, kesehatan, pertanian, militer, sosial budaya, hingga politik. (Sugandi,2009). Dibawah ini disajikan beberapa contoh model aplikasi SIG saat ini:
Bidang Kebencanaan
Bidang Kesehatan
Bidang kesehatan juga telah menggunakan teknologi GIS dalam membantu efektifitas pengambilan kebijakan dalam meningkatkan pelayanan kesehatan ataupun dalam rangka menanggulangi wabah penyakit tertentu. Memetakan sebaran pusat-pusat pelayan kesehatan masyarakat (Rumah sakit, puskesmas, hingga posyandu atau pustu), sebaran kepadatan penduduk, sebaran pemukiman kumuh, dan lain sebagainya.
Bidang Perencanaan Pembangunan
Sektor inilah yang paling giat dalam menggunakan teknologi SIG, dimana hal ini sangat memudahkan para perencana dalam mengelola data dan informasi yang sedemikian banyak dan berseri. Sehingga membantu mereka dalam mengefisienkan biaya, waktu dan tenaga serta memudahkan dalam mengambilk kebijakan-kebijakan yang efektif untuk diterapkan di lingkungan atau daerah perencanaannya. Umumnya mereka menggunakan tenolgi sig untuk membuat peta-peta kondisi eksisting, kemudian peta-peta kesesuaian lahan baik untuk pertanian, penempatan fasilitas tertentu, industri, ataupun perencanaan jaringan jalan.
2.3Kelas Interval
Penentuan kelas Interval didahului oleh penentuan jumlah kelas yang digunakan untuk mengelompokkan data. Oleh karena itu, penentuan jumlah kelasadalah satu hal yang penting dalam pemetaan. Jumlah kelas dapat ditentukan, antaralain dengan menggunakan rumus Sturges, yaitu :
K = 1 + 3,3 log n Dimana :
K = jumlah kelas yang dicari
n = jumlah set data (Bos E.S., 1979)
peta yang kurang mencerminkan persebaran data asli, karena banyak data yang tergeneralisasi. Sebaliknya bila kelas terlalu banyak (lebih dari 15 kelas) maka akan terjadi beberapa kelas yang sama sekali tidak mengandung frekuensi. (Rahman, 2011).
2.4Pengangguran
Pengangguran merupakan suatu ukuran yang dilakukan jika dalam kegiatan produktif yaitu menghasilkan barang dan jasa. Angkatan kerja ini terdiri dari golongan yang bekerja dan golongan yang menganggur. Golongan yang bekerja (employed persons) merupakan sebagian masyarakat yang sudah aktif dalam kegiatan yang menghasilkan barang dan jasa. Sedangkan sebagian masyarakat lainnya yang tergolong siap bekerja dan mencari pekerjaan termasuk dalam golongan menganggur.
Bukan angkatan kerja adalah bagian dari tenaga kerja yang tidak bekerja maupun mencari pekerjaan, atau bisa dikatakan sebagai bagian dari tenaga kerja yang sesungguhnya tidak terlibat atau tidak berusaha terlibat dalam kegiatan produksi. Kelompok bukan angkatan kerja ini terdiri dari golongan yang bersekolah, golongan yang mengurus rumah tangga, dan golongan lain yang menerima pendapatan. Pekerja tidak dibayar adalah seseorang yang bekerja membantu usaha untuk memperoleh penghasilan/keuntungan yang dilakukan oleh salah seorang rumah tangga atau bukan anggota rumah tangga tanpa mendapat upah/gaji seseorang tidak memiliki pekerjaan tetapi mereka sedang melakukan usaha secara aktif dalam empat minggu terakhir untuk mencari pekerjaan (Kaufman dan Hotchkiss,1999).
tetapi belum dapat memperolehnya. Seseorang yang tidak bekerja, tetapi tidak secara aktif mencari pekerjaan tidak tergolongsebagai penganggur.
Faktor utama yang menimbulkan pengangguran adalah kekurangan pengeluaran agregat. Para pengusaha memproduksi barang dan jasa dengan maksud untuk mencari keuntungan. Keuntungan tersebut hanya akan diperoleh apabila para pengusaha dapat menjual barang yang mereka produksikan. Semakin besar permintaan, semakin besar pula barang dan jasa yang akan mereka wujudkan. Kenaikan produksi yang dilakukan akan menambah penggunaaan tenaga kerja. Dengan demikian, terdapat hubungan yang erat diantara tingkat pendapatan nasional yang dicapai (GDP) dengan penggunaan tenga kerja yang dilakukan; semakin tinggi pendapatan nasional (GDP), semakin banyak penggunaan tenaga kerja dalam perekonomian. (Alghofari,2008).
2.5TPAK (Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja)
Menurut Sadono (2004:18), angkatan kerja adalah jumlah tenaga kerja yang terdapat dalam suatu perekonomian pada suatu waktu tertentu. Angkatan kerja terdiri atas golongan yang bekerja, dan golongan yang menganggur yang sedang mencari pekerjaan, Sedangkan yang dimaksud dengan bukan angkatan kerja adalah mereka yang masih sekolah, golongan yang mengurus rumah tangga, dan golongan lain-lain atau penerima pendapatan. Sedangkan, Tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) adalah perbandingan antara jumlah angkatan kerja dengan penduduk dalam usia kerja.
Yang dimaksud dengan penduduk usia kerja adalah penduduk yang telah berusia 15-64 tahun yang berpotensi memproduksi barang dan jasa. Sebelum tahun 2000, Indonesia menggunakan patokan seluruh penduduk berusia 10 tahun ke atas untuk kategori usia kerja (lihat hasil Sensus Penduduk 1971, 1980 dan 1990). Namun sejak Sensus Penduduk 2000 dan sesuai dengan ketentuan internasional, penduduk usia kerja adalah yang telah berusia 15 tahun atau lebih.
penduduk yang termasuk usia kerja ( sepuluh tahun keatas) benar-benar aktif didalam bekerja dan tidak aktif bekerja. Jadi TPAK perbandingan antara angkatan kerja penduduk dalam usia kerja. Semakin besar jumlah penduduk usia kerja akan menyebabkan semakin besarnya angkatan kerja. Untuk menghitung tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) dapat digunakan rumus sebagai berikut :
TPAK = � � � � �
� � � � � %
Semakin besar tingkat partisipasi angkatan kerja merupakan dampak dari semakin besar jumlah angkatan kerja. Begitupun sebaliknya, semakin besar jumlah penduduk yang bukan angkatan kerja (masih bersekolah dan mengurus rumah tangga) semakin kecil jumlah angkatan kerja, yang membuat persentase TPAK juga mengecil.
Selain itu, dapat disimpulkan juga bahwa TPAK adalah salah satu faktor yang mempengaruhi besaran output suatu kegiatan perekonomian, sehingga semakin banyak masyarakat yang produktif, maka akan menghasilkan output yang tinggi pula yang mempengaruhi PDB. Begitu pun pada pendapatan per kapita. meningkatnya TPAK suatu daerah, berarti meningkat pula pendapatan perkapita dan tingkat konsumsi yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi. (Rasydi,2010)
Faktor-faktor yang mempengaruhi tingginya TPAK meliputi :
a. Jumlah penduduk bersekolah dan mengurus rumah tangga hubungan antara TPAK dan jumlah penduduk yang masih berekolah adalah semakin besar jumlah penduduk yang bersekolah, semakin kecil junlah angkatan kerja yang berarti semakin kecil TPAK.Tingkat umur Umur berkaitan dengan TPAK, dengan adanya kenyataan bahwa penduduk berumur muda umumnya mempunyai tanggung jawab yang tidak begitu besar sebagai pencari nafkah untuk keluarga dan mereka umumnya bersekolah.
b. Tingkat upah
c. Tinggi pendidikan
Tingkat pendidikan berhubungan dengan TPAK karena semakin tinggi tingkat pendidikan semakin banyak waktu yang disediakan untuk bekerja.
2.6Kesempatan Kerja
Kesempatan kerja secara umum diartikan sebagai suatu keadaan yang mencerminkan jumlah dari total angkatan kerja yang dapat diserap atau ikut serta aktif dalam kegiatan perekonomian. Kesempatan kerja adalah penduduk usia 15 tahun keatas yang bekera atau disebut pekerja.
Menurut Esmara (1986) dalam Putu,2008, kesempatan kerja dapat diartikan sebagai jumlah penduduk yang bekerja atau orang yang sudah memperoleh pekerjaan, semakin banyak orang yang bekerja semakin luas kesempatan kerja. Sedangkan Sagir (1994:52) dalam Putu,2008, memberi pengertian kesempatan kerja sebagai lapangan usaha atau kesempatan kerja yang sudah tersedia untuk bekerja akibat dari suatu kegiatan ekonomi, dengan demikian kesempatan kerja mencakup lapangan pekerjaan yang sudah diisi dan kesempatan kerja juga dapat diartikan sebagai partisipasi dalam pembangunan.
BAB III METODE
3.1 Rancangan Penelitian
Rancangan penelitian merupakan segala sesuatu yang mencakup tentang pendekatan yang digunakan dalam penelitian. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif, yaitu pengukuran yang cermat terhadap fenomena sosial tersetu. Penggunaan rancangan pendekatan ini diharapkan dapat mengetahui variable-variabel terhadap fenomena yang akan diteliti secara mendalam. Berikut adalah diagram alur dari penelitian ini:
Angkatan
3.2 Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Provinsi Jawa Tengah, yang memiliki 35 Kabupaten.
No Kabupaten No Kabupaten
Alat dan bahan yang digunakan adalah : 3.3.1 Alat
1. Data Jumlah Angkatan Kerja Prov. Jawa Tengah tahun 2014 2. Data jumlah pengangguran Prov. Jawa Tengah tahun 2014
4. Data jumlah tenaga kerja Prov. Jawa Tengah tahun 2014 5. Data penduduk usia kerja Prov. Jawa Tengah tahun 2014
6. Data hasil perhitungan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) Prov. Jawa Tengah tahun 2014
7. Data hasil perhitungan kesempatan kerja Prov. Jawa Tengah tahun 2014 8. Data hasil proyeksi TPAK,Kesempatan kerja dan tingkat pengangguran di
Jawa Tengah tahun 2015-2020
3.4 Jenis dan Sumber Data 3.4.1 Jenis Data
Jenis data dalam penelitian ini adalah data kuantitatif, yaitu data yang dikumpulkan berupa angka-angka yang berhubungan dengan permasalahan yang dibahas. Misalkan, jumlah angkatan kerja, jumlah tenaga kerja, dan lain-lain. 3.4.2 Sumber Data
Sumber data dalam penelitian ini adalah sumber data sekunder,yaitu data yang diperoleh bukan dari pihak pertama melainkan dari pihak-pihak tertentu yang terkait dengan penelitian ini. data berupa dokumentasi terkait dengan peta Jawa Tengah serta data yang berasal dari instansi pemerintah provinsi jawa tengah,yaitu berasal dari Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Tengah.
3.5 Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data berupa teknik dokumentasi/kepustakaan, yaitu teknik memperoleh data dengan mempelajari dokumen-dokumen yang berhubungan dengan permasalahan yang diteliti.
Teknik pengumpulan data dilakukan karena data yang di peroleh berasal dari dokumen-dokumen yang merupakan data sekunder. Data ini diperoleh dari data BPS Provinsi Jawa Tengah tahun 2014.
3.6 Teknik Analisis Data
kesimpulan dalam penelitian yang telah dilakukan. Analisis data yang digunakan dalam pembuatan Pemetaan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK), Tingkat Kesempatan Kerja Dan Tingkat Pengangguran Provinsi Jawa Tengah Tahun 2015-2020 adalah menggunakan rumus-rumus sebagai berikut:
3.6.1 Rumus menghitung tingkat pengangguran adalah sebagai berikut :
Tingkat Pengangguran : �ℎ � �� �� �
�ℎ � � � � � � %
3.6.2 Rumus menghitung Tingkat Partisiapasi Angkatan Kerja:
TPAK = � � � � �
� � � � � %
3.6.3 Rumus menghitung Kesempatan Kerja
Kesempatan kerja = Jumlah Angkatan Kerja − Jumlah Pengangguran (Rusli, Said. 1989)
3.6.4 Proyeksi dengan menggunakan Software Spektrum 3.6.5 Menghitung kelas interval
Dengan menggunakan rumus Sturges, yaitu :
K = 1 + 3,3 log n Dimana :
K = jumlah kelas yang dicari
n = jumlah set data (Bos E.S., 1979) 3.6.6 Pemetaan menggunakan ArcMap
Setelah semua data diperoleh, kemudian dipetakan menggunakan ArcMap. Setelah dipetakan maka dapat diketahui persebaran Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK), Tingkat Kesempatan Kerja Dan Tingkat Pengangguran Provinsi Jawa Tengah Tahun 2015-2020,yang kemudian nantinya dianalisis hasil dari pemetaan tersebut.
DATAR RUJUKAN
Pitartono,Ronny.2012.Analisis Tingkat Pengangguran Di Jawa Tengah Tahun 1997-2012. Semarang: Universitas Diponegoro
Alghofari,Farid.2008. Analisis Tingkat Pengangguran Di Indonesia Tahun 1980-2007. Semarang:Undip
Rasydi,Anwar. 2010. Pengaruh Produk Domestik Bruto (PDB) Dan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (Tpak) Terhadap Kemiskinan Di Indonesia.
Jakarta: Uin Syarif Hidayatullah
Zuardi, Khoirullah. 2015. Proyeksi Kesempatan Kerja Di Kota Medan Pada Tahun 2011-2015. Sumatera Utara: Universitas Sumatera Utara.
Rusli, Said. 1989. Pengantar Ilmu Kependudukan. Jakarta: LP3ES
Sugito, Nanin. 2013. Survey dan Pemetaan. Jakarta: Universitas Pendidikan Inonesia.
Rahman, Abdur. 2011. Inderaja Dan Sistim Informasi Geografis Perairan (Gmkb604). Banjarbaru: Universitas Lambung Mangkurat.
Putu, Ayu. 2008. Analisis Kesempatan Kerja Sektoral Di Kabupaten Bangli dengan Pendekatan Pertumbuhan Berbasis Ekspor. Piramida Vol V No. 1. Bali: Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Udayana. BKKBN. 2011. Aplikasi Program Specktrum. Jakarta
Badan Pusat Statistik, 2008. Jawa Tengah Dalam Angka 2014. Semarang