Koruptor Jangan
Diberi Peluang Lari
Koruptor adalah pengkhianat bangsa yang pantas dihukum berat dan dimiskinkan. Penegak hukum, khususnya KPK jangan memberi peluang untuk melarikan diri dari tanggung jawabnya. Koruptor ti-dak layak dikasihani dan dilin-dungi.
Saya sangat setuju dengan langkah KPK yang pada 20 De-sember 2013, menetapkan Guber-nur Banten Ratu Atut Chosiyah sebagai tersangka penyuapan ter-hadap mantan Ketua MK Akil Mochtar dan langsung menahan-nya di Rutan Pondok Bambu, Ja-karta Timur. KPK akan menjerat Atut dengan sejumlah kasus ko-rupsi lain di luar dugaan koko-rupsi penanganan sengketa Pemilihan Kepala Daerah Kabupaten Lebak, Banten, di MK.
Juru Bicara KPK Johan Budi mengatakan dalam gelar perkara kasus dugaan korupsi pengadaan alat kesehatan di Provinsi Banten, KPK menyimpulkan telah terjadi tindak pidana korupsi dan kasus-nya layak dinaikkan ke tahap pe-nyidikan. Dalam kasus dugaan ko-rupsi penyaluran dana bantuan so-sial Pemerintah Provinsi Banten, penanganan kasusnya telah dilim-pahkan dari bagian pengaduan masyarakat ke tahap penyelidikan. Terkait penahanan Atut yang dilakukan KPK setelah yang ber-sangkutan diperiksa untuk perta-ma kali sebagai tersangka, hal ter-sebut merupakan kewenangan pe-nyidik. Alasan subyektif penyidik KPK adalah dikhawatirkan ter-sangka bisa memengaruhi saksi-saksi lain. Tersangka juga dikha-watirkan menghilangkan barang bukti dan melarikan diri. Untuk alasan obyektif, Atut disangka melanggar Pasal 6 Ayat 1 Huruf a UU Tipikor dengan ancaman hu-kuman di atas lima tahun, maka terhadap seorang tersangka bisa dilakukan penahanan.
Pribadi Santoso Utomo
Perumahan Taman Pagelaran Desa Padasuka, Ciomas,
Bogor, Jawa Barat
Suara pembaca dikirim melalui email atau Faks ke redaksi, disertai alamat lengkap dan fotocopy
identitas yang masih berlaku
SUARA PEMBACA
H
ari Ibu dirayakan di banyak negara se-bagai tanda rasa terima kasih kepada para ibu. Tradisi itu dimulai di Amerika oleh Anna Jarvis satu setengah abad yang lalu (1860). Hari Ibu biasanya dipilih pa-da hari Minggu, hari libur bagi para ibu pa-dan anggota keluarganya agar dapat dilakukan s-esuatu yang istimewa bagi sang ibu.Cukup banyak negara yang merayakan Hari Bapak juga, misalnya di benua Amerika, Eropa, Australia, Selandia Baru, Asia (India, Pakistan dan Singapura), bahkan di Afrika Selatan. Hari Bapak juga dipilih pada hari Minggu. Thailand merayakan Hari Bapak pada 5 Desember, bertepatan dengan hari lahir Raja Thailand.
Peringatan Hari Ibu di Indonesia berbeda dengan negara-negara lain. Sebagai peringatan Kongres Perempuan pertama tahun 1928, peringatan Hari Ibu di Indonesia lebih dikaitkan dengan emansipasi perem-puan. Namun tidak ada Hari Bapak di Indonesia. Apakah hal ini dipandang tidak perlu karena para bapak selalu menerima perhatian dari istri dan anak-anaknya sepan-jang tahun?
Setiap perempuan ingin menjadi ibu. Keinginan itu diperkuat (atau justru diham-bat) oleh budaya, agama dan bahkan pemer-intah. Di negara-negara Islam Timur Tengah menjadi ibu adalah kewajiban bagi setiap perempuan dewasa. Upaya mencegah, me-nunda apalagi menggugurkan kehamilan adalah tabu. Tidaklah heran jika di Yaman para ibu rata-rata memiliki 8 anak (banyak gadis yang menikah pada usia 15-16 tahun). Kurangnya pelayanan kesehatan reproduktif dan buruknya gizi kaum perempuan mengak-ibatkan tingginya angka kematian ibu di Yaman (1400/100.000 kelahiran hidup). Akan tetapi hal itu tidaklah merisaukan para ibu maupun pemerintah, karena perempuan yang meninggal dunia karena kehamilan/per-salinan dianggap mati sahid.
Sebaliknya, perempuan di Tiongkok di-haruskan membatasi jumlah anaknya, satu anak saja, mengikuti kebijakan satu anak yang diterapkan oleh pemerintah Tiongkok sejak 1979 untuk mengurangi laju pertamba-han penduduk. Guna melaksanakan kebi-jakan tersebut berbagai cara pengendalian
kelahiran, termasuk aborsi, diberikan oleh pemerintah Tiongkok dengan cuma-cuma. Perempuan yang telah memiliki satu anak di-awasi secara ketat. Kehamilan kedua harus digugurkan. Jika si ibu menolak, maka dia akan dipecat dari pekerjaannya. Perusahaan lain pun tidak mau menerima perempuan yang mempunyai dua anak. Karena tidak bekerja, perempuan itu akhirnya menjadi be-ban keluarga dan masyarakat.
Pilihan Jenis Kelamin
Mudah diterka bahwa dengan pembatasan jumlah anak itu keluarga di Tiongkok memil-ih punya anak laki-laki untuk meneruskan na-ma keluarganya. Janin perempuan digugurkan atau jika sudah terlanjur lahir, akan dibunuh. Praktek pemusnahan janin/bayi perempuan ini menurut peneliti Amerika Joni Seager dalam bukunya The State of Women in the World Atlas menyebabkan hilangnya 30 juta bayi perempuan di Tiongkok. Setelah menerapkan kebijakan ini selama tiga dasa warsa, terasa dampak negatifnya: Tiongkok kekurangan perempuan muda. Kaum laki-laki terpaksa mengimpor pengantin perempuan dari negara-negara tetangga. Ini menyebabkan penamba-han jumlah penduduk. Melihat dampak kebi-jakan satu anak terhadap perkembangan pen-duduk tersebut maka sejak tahun lalu pemer-intah Tiongkok membolehkan warganya memiliki dua anak.
Anak perempuan juga tidak diharapkan di India, terutama di kalangan penduduk miskin dari kasta yang rendah. Penyebabnya adalah tingginya mahar yang diminta oleh keluarga pengantin laki-laki. Seringkali kelu-arga pegantin perempuan tidak dapat mem-bayar mahar itu sehingga mereka berhutang kepada keluarga pengantin laki-laki. Dengan adanya hutang ini sang suami (beserta kelu-arganya) merasa mempunyai hak untuk memperlakukan istri dengan semena-mena. KDRT sering terjadi bahkan dianggap nor-mal dalam budaya India dan dianggap meru-pakan hak suami, sehingga para istri korban KDRT tidak akan mendapat bantuan hukum jika melaporkan perlakuan suaminya yang tidak jarang sampai di luar batas kemanusi-aan itu. Agar nasib serupa tidak terulang pa-da anaknya, ibu-ibu pa-dari kasta renpa-dah pa-dan tidak mampu tidak segan-segan mengakhiri nyawa bayi perempuannya, justru karena rasa kasihnya terhadap si bayi. Tindakan ini menyebabkan hilangnya 23 juta bayi perem-puan India selama setahun.
Perempuan Belanda dan di negara-negara Barat lainnya bebas menentukan hak repro-duktifnya. Mereka bebas menentukan usia kapan mereka menjadi ibu, berapa jumlah anak yang diinginkan atau sama sekali tidak mau punya anak. Melahirkan dan
membe-sarkan anak tidak harus dilakukan dalam ikatan pernikahan. Banyak anak dilahirkan oleh pasangan yang hidup bersama tanpa menikah, atau oleh ibu tunggal. Faktor yang menentukan keputusan untuk mempunyai anak antara lain adalah kondisi ekonomi, rencana karir, perumahan, kualitas hubungan antara pasangan itu dan usia si perempuan. Faktor agama hanya sedikit perannya. Agama Katolik sebetulnya melarang peng-gunaan alat kontrasepsi dan mendorong pembentukan keluarga. Namun sedikit sekali warga Belanda yang menganut dan mengiku-ti ajaran agama Katolik secara ketat.
Yang lebih diutamakan dalam pembuatan keputusan untuk mempunyai anak adalah kesediaan pasangan/partnernya, karena per-awatan dan pengasuhan anak bukan hanya tanggung jawab sang ibu, melainkan tang-gung jawab bersama dengan ayah si bayi. Peningkatan taraf pendidikan perempuan di Belanda dan keinginan untuk berkarir se-belum berkeluarga membuat banyak perem-puan muda menunda kelahiran bayi perta-manya sampai usia 28-29 tahun, yang meru-pakan usia tertinggi di dunia untuk kelahiran anak pertama. Perbedaan budaya mem-berikan warna dan penekanan yang berlainan terhadap hubungan laki-laki dan perempuan. Kaum perempuan Indonesia beruntung tidak hidup dalam lingkungan budaya yang ek-strim. Memang agama, tradisi dan tekanan sosial masih menuntut perempuan Indonesia untuk menikah dan menjadi ibu, namun mereka masih dapat menentukan kapan mereka akan menikah, kapan punya anak dan berapa jumlah anaknya, karena boleh meng-gunakan alat KB. Dengan kebebasan ini perempuan dapat mengatur hidupnya, kese-hatannya dan mempunyai peluang untuk mengikuti pendidikan dan membina karir.
Perempuan Indonesia tidak harus tinggal di rumah saja dan boleh mengikuti pen-didikan setinggi mungkin (jika ada dana un-tuk itu). Mereka dapat bekerja di berbagai bidang pada semua tingkat, mulai dari berda-gang sayuran di pasar sampai menjadi Profesor, Menteri, bahkan Presiden. Kita harus bangga dan bersyukur untuk itu. Walaupun demikian, kita tidak boleh melu-pakan fakta bahwa ada puluhan juta ibu Indonesia yang masih buta aksara, harus bek-erja keras sampai tua, atau tidak punya pekerjaan, namun masih harus memberi makan dan membesarkan anak-cucu mereka. Para ibu ini tidak pernah menerima ucapan ‘selamat Hari Ibu’ dari anak-anaknya, apala-gi memperoleh penghargaan pada Hari Ibu.
PENULIS ADALAH PSIKOLOG, SOSIOLOG, AHLI KESEHATAN MASYARAKAT, SPESIALIS GENDER
YANG BERMUKIM DINEGERIBELANDA
Makna Hari Ibu di Berbagai Budaya
S
OLITAS
ARWONOSuara Pembaruan
Senin, 23 Desember 2013O
PINI
& E
DITORIAL
A 11
Harian Umum Sore
S
UARA
P
EMBARUAN
Mulai terbit 4 Februari 1987 sebagai kelanjutan dari harian umum sore SINAR HARAPAN yang terbit pertama 27 April 1961.
Penerbit: PT Media Interaksi Utama SK Menpen RI Nomor 224/SK/MENPEN/SIUPP/A.7/1987
Presiden Direktur:Theo L Sambuaga, Direktur:Randolph Latumahina, Drs Lukman Djaja MBA
Alamat Redaksi: BeritaSatu Plaza, lantai 11
Jl Jend Gatot Subroto Kav 35-36 Jakarta-12950, Telepon (021) 2995 7500, Fax (021) 5277 981
BERITA SATU MEDIA HOLDINGS: President Director:Theo L Sambuaga, Chief Executive Officer:Sachin Gopalan, Director of Digital Media: John Riady,
General Affairs & Finance Director:Lukman Djaja, Marketing & Communications Director:Sari Kusumaningrum,
Dewan Redaksi: Sabam Siagian (Ketua), James T Riady, Tanri Abeng, Markus Parmadi, Soetikno Soedarjo, Baktinendra Prawiro MSc, Dr Anugerah Pekerti, Ir Jonathan L Parapak MSc, Bondan Winarno Penasihat Senior: Samuel Tahir
Redaktur Pelaksana:Aditya L Djono, Dwi Argo Santosa, Asisten Redaktur Pelaksana: Anselmus Bata, Asni Ovier Dengen Paluin, Redaktur:Alexander Madji, Bernadus Wijayaka, Gatot Eko Cahyono, Marselius Rombe Baan, Marthin Brahmanto, M Zainuri, Noinsen Rumapea, Syafrul Mardhy Pasaribu, Surya Lesmana, Yuliantino Situmorang, Unggul Wirawan, Asisten Redaktur:Agustinus Lesek, Heri S Soba, Irawati Diah Astuti, Jeis Montesori, Jeany A Aipassa, Kurniadi, Sumedi Tjahja Purnama, Steven Setiabudi Musa, Willy Masaharu Staf Redaksi:Ari Supriyanti Rikin, Carlos KY Paath, Daurina L Sinurat, Dina Manafe, Elvira Anna Siahaan, Erwin C Sihombing, Fana FS Putra, Gardi Gazarin, Haikal Pasya, Hendro D Situmorang, Hotman Siregar, Joanito De Saojoao, Lona Olavia, Miko Napitupulu, Natasia Christy Wahyuni, Novianti Setuningsih, Robertus Wardi, Ruht Semiono, Siprianus Edi Hardum, Yeremia Sukoyo, Yohannes Harry D Sirait, Dewi Gustiana (Tangerang), Laurensius Dami (Serang), Stefy Thenu (Semarang), Muhammad Hamzah (Banda Aceh), Henry Sitinjak, Arnold H Sianturi (Medan), Bangun Paruhuman Lubis (Palembang), Radesman Saragih (Jambi), Usmin (Bengkulu), Margaretha Feybe Lumanauw (Batam), I Nyoman Mardika (Denpasar), Sahat Oloan Saragih (Pontianak), Barthel B Usin (Palangkaraya), M. Kiblat Said (Makassar), Fanny Waworundeng (Manado), Adi Marsiela (Bandung), Fuska Sani Evani (Yogyakarta), Robert Isidorus Vanwi (Papua), Vonny Litamahuputty (Ambon), Pjs Kepala Sekretariat Redaksi: Rully Satriadi, Koordinator Tata Letak: Robert Prihatin, Koordinator Grafis: Antonius Budi Nurcahyo.
GM Iklan: Sri Rejeki Listyorini, GM Sirkulasi: Dahlan Hutabarat, GM Marketing&Communications: Enot Indarnoto, Alamat Iklan:BeritaSatu Plaza, lantai 9, Jl Jend Gatot Subroto Kav 35-36 Jakarta-12950,Rekening: Bank Mandiri Cabang Jakarta Kota, Rek Giro: A/C.115.008600.2559, BCA Cabang Plaza Sentral Rek. Giro No. 441.30.40.755 (iklan), BCA Cabang Plaza Sentral Rek. Giro No. 441.30.40.747 (Sirkulasi), Harga Langganan:Rp 68.000/ bulan,
Terbit 6 kali seminggu. Luar Kota Per Pos minimum langganan 3 bulan bayar di muka ditambah ongkos kirim.
Alamat Sirkulasi:Hotel Aryaduta Semanggi, Tower A First Floor, Jl Garnisun Dalam No. 8 Karet Semanggi, Jakarta 12930, Telp:29957555 - 29957500 ext 3206 Percetakan:PT Gramedia http://www.suarapembaruan.com e-mail: [email protected]
Wartawan Suara Pembaruandilengkapi dengan identitas diri.