TINJAUAN MORFOGENESA DAN MORFOARANSEMEN SESAR
LEMBANG DALAM KONTEKS ANCAMAN BAHAYA SERTA UPAYA
MITIGASI BENCANA
Oleh : Futuha Helen Sara
BAB I
PENDAHULUAN
1.1LATAR BELAKANG
Indonesia merupakan negara yang wilayahnya diapit oleh
beberapa tumbukan lempeng teknotik, diantaranya adalah lempeng
Eurasia, Hindia-Australia dan lempeng Pasifik. Kompleksitas lempeng
tektonik di Indonesia tercermin melalui bentanglahan akibat proses
geomorfik. Keilmuan geomorfologi merupakan salah satu keilmuan
yang memiliki aspek kajian yang sangat kompleks, misalnya adalah
morfogenesa dan morfoaransemen. Kajian geomorfologis dapat
digunakan untuk menganalisa berbagai fenomena di permukaan bumi,
salah satunya adalah Sesar Lembang (Lembang Fault) yang
merupakan hasil dari aktivitas tektonisme masa lalu dan meninggalkan
jejak sampai dengan saat ini.
Sesar atau patahan yang masih dipengaruhi oleh aktivitas
tektonisme, menyebabkan berbagai ancaman bahaya dan bencana.
Kajian morfogenesa dan morfoaransemen berperan dalam analisis
penyebab terjadinya sesar di Lembang, perkembangannya, dinamika,
susunan keruangan serta hubungannya dengan berbagai macam
bentuklahan dan proses yang berkaitan, sehingga dihasilkan upaya
mitigasi bencana baik struktural maupun non struktural untuk
meminimalisir risiko dan dampak atas bahaya yang ditimbulkan.
1.2RUMUSAN MASALAH
1.2.1 Bagaimana morfogenesa Sesar Lembang?
1.2.3 Apa saja potensi bahaya dan ancaman yang ada di sekitar
Sesar Lembang?
1.2.4 Bagaimana upaya mitigasi bencana terhadap risiko yang
ditimbulkan akibat adanya Sesar Lembang?
1.3TUJUAN PENULISAN
1.3.1 Melakukan kajian morfogenesa dan morfoaransemen pada
satuan geomorfologi Sesar Lembang.
1.3.2 Menganalisis potensi ancaman bahaya dan risiko yang
ditimbulkan akibat adanya Sesar Lembang.
1.3.3 Menemukan solusi terpadu mitigasi bencana dalam upaya
meminimalisir dampak akibat risiko yang ditimbulkan oleh
Sesar Lembang.
1.4MANFAAT PENULISAN
1.4.1 Memberikan informasi mengenai Sesar Lembang melalui
tinjauan analisis geomorfologi.
1.4.2 Memberikan saran kepada masyarakat maupun pemangku
kebijakan tentang mitigasi bencana pada sekitar wilayah Sesar
BAB II
ISI DAN PEMBAHASAN
2.1 TINJAUAN LOKASI SESAR LEMBANG
Sesar Lembang terletak di Kecamatan Lembang, Kabupaten
Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat, membentang timur – barat
sepanjang 22 km mulai dari Palasari hingga Cisarua. Sesar aktif ini
bergerak 6 mm/tahun, sisi utaranya turun, dengan gawir sesar
semakin tinggi ke arah timur, dan menurun ke arah barat (Museum
Geologi Bandung, -)
Gambar 2. Lembang dan Daerah Sekitarnya melalui Citra Satelit Sumber : Google Earth
2.2 MORFOGENESA SESAR
2.2.1 Pembentukan Patahan di Pulau Jawa
Pulau Jawa terbentuk 70 – 35 juta tahun sebelum masehi
dengan batuan penyusun berupa batuan metamorf dan batuan beku
(Putrohari, 2006). Seperti yang ditunjukkan oleh gambar 3, Jawa Barat
memiliki usia batuan yang lebih tua jika dibandingkan dengan Jawa
Tengah atau Jawa Timur, hal ini disebabkan karena basement batuan
di Jawa Timur terbentuk pada tahap akhir setelah tumbukan lempeng
Hindia-Australia dan Eurasia.
Tumbukan lempeng Hindia-Australia yang terus - menerus
terjadi dengan gerakan 7cm/tahun mengakibatkan lempeng Eurasia
(khususnya bagian Jawa) terdesak, desakan tersebut mengakibatkan
terbentuknya struktur sesar atau patahan yang melingkupi sebagian
besar wilayah selatan Pulau Jawa seperti pada gambar 4.
Gambar 3. Tectonic Framework yang membentuk
Pulau Jawa
Kompeksitas struktur patahan atau sesar yang ada di Pulau Jawa,
salah satunya terdapat pada Jawa Barat, yakni adanya sesar
Lembang.
2.2.2 Morfogenesa Sesar Lembang
Sesar atau patahan merupakan suatu struktur geologi yang
berupa bidang rekahan atau zona rekahan pada batuan yang sudah
mengalami pergeseran. Pergeseran lapisan ini terjadi akibat gaya –
gaya tertentu terutama gaya tektonik (Tim Olimpiade Ilmu Kebumian
Indonesia, 2010)
Sesar Lembang yang berlokasi 10,7 km ke arah utara dari
pusat kota Bandung, Jawa Barat, memiliki dimensi panjang sekitar 22
km yang membentang dari Cisarua di bagian barat hingga Gunung
Pulusari di bagian timur. Secara geomorfologi, sesar ini terlihat jelas
karena terdapat perbedaan topografi yang sangat signifikan antara
dataran atau blok yang berada di utara dengan yang di selatan. Dilihat
dari citra penginderaan jauh, topografi sepanjang sesar lembang
sangat mencolok (gambar 5). Area timur memiliki karakteristik lereng
yang luas pada ketinggian 400 meter dan tertutupi oleh vegetasi yang
lebat (NDVI > 0,3), Secara geomorfik, sesar lembang berasosiasi
dengan dua sesar lain disekitarnya, yakni sesar Rayamandala dan
Cimandiri seperti yang ditunjukkan oleh gambar 4 (Horspool et all,
2011)
Gambar 5. Sesar Lembang melalui Pengamatan Citra dan Kesan Topografi Sumber : andiyahya.com
Gambar 6. Kompleksitas Geomorfik Sesar di Sekitar Lembang, dari Kanan ke Kiri : Sesar Lembang bagian Timur, Sesar Lembang bagian Barat, Sesar
Terdapat 3 inti pembahasan mengenai morfogenesa sesar
Lembang, yang pertama yakni morfostruktur aktif, yang kedua yakni
morfostruktur pasif dan yang ketiga yakni morfodinamik.
1. Morfostruktur aktif Sesar Lembang
Sesar Lembang sebagai suatu struktur geologi pada zona
rekahan yang mengalami pergeseran, terbentuk akibat
adanya gaya tektonik. Berdasarkan analisis data-data
geologi, baik geomorfologi, stratigrafi, maupun strukturnya,
diketahui bahwa Sesar Lembang bagian timur terbentuk
lebih dulu, yaitu sekitar 200.000 – 180.000 tahun yang lalu,
apabila dibandingkan dengan Sesar Lembang bagian barat yang terbentuk sekitar 24.000 – 62.000 tahun yang lalu.
Mekanisme pembentukan kedua segmen sesar tersebut
kurang lebih sama, yaitu sebagai circumferential dike yang
runtuh pada saat terbentuknya kaldera. Perbedaan antara
keduanya adalah aktivitas vulkanisme yang berkaitan
dengan pembentukannya, yaitu Gunung Sunda untuk
segmen timur dan Gunung Tangkubanparahu untuk segmen
barat. Batas fault line antara kedua segmen tersebut terletak
di antara Sungai Cihideung dan Gunung Batu, dimana
kenampakan morfologinya memperlihatkan adanya
bumbungan pada zona transisi tersebut. Besarnya dip untuk
Sesar Lembang bagian barat dan timur kurang lebih hampir
sama, yaitu berturut-turut 30º - 45º dan 35º - 50º.
Berdasarkan pada analisis kinematik dan karakteristik
pergerakan resen berupa mengiri untuk komponen
horisontalnya, yang diduga sebagai pengaruh dari aktivitas
tektonik saat ini (Rosanawita, 2014).
2. Morfostruktur pasif Sesar Lembang
Morfostruktur pasif diartikan sebagai tipe dan struktur
lithologi dan kaitannya dengan pelapukan dan erosi.
Berdasarkan peta indeks risiko bencana erosi di Indonesia,
wilayah selatan Pulau Jawa, meliputi sebagian besar
Provinsi Jawa Barat dan Daerah Istimewa Yogyakarta
memiliki tingkat risiko yang tinggi terhadap erosi (gambar 7),
sementara itu, sesar Lembang, berdasarkan kajian Nossin
et all., (1992) dalam Verstappen (2014) merupakan sesar
normal dengan arah timur – barat tanpa gerak geser dan
merupakan sebuah batas utara dari suatu depresi atau
cekungan. Kompleksitas wilayah disekitar Sesar Lembang
ditunjukkan dalam peta geomorfologi pada gambar 8.
Gambar 7. Peta Indeks Risiko Bencana Erosi di Indonesia
Potensi erosi yang besar di wilayah Jawa bagian
Barat – Selatan tidak terlepas dari proses geomorfologis dan
morfostruktur pasif di sekitarnya. Peta geomorfologis
kompleksitas sesar, cekungan dan gunungapi di Jawa Barat
(gambar 8) menunjukkan adanya morfogenetik kenampakan
lereng volkanik atas yang tererosi dan lereng volkanik
bawah yang tererosi membentuk kipas aluvial vulkaniklastik
di sebelah selatan Sesar Lembang dan zona kanal asosiasi
dengan Gunung Tangkuban Perahu berada disebelah utara
Sesar Lembang.
3. Morfodinamika Sesar Lembang
Menurut Thornbury (1954), morfodinamika didefinisikan sebagai proses dinamika eksogen dalam kaitannya dengan aktivitas angin, air, es, gerak masa batuan
dan volkanisme. Dinamika sesar lembang yang bergerak sebesar 6 mm/tahun dapat berpotensi terhadap pengaruh
Gambar 8. Peta Geomorfologi Dataran Bandung, Jawa Barat, dalam Dam, Nossin dan Voskuil (1996)
eksogenik diatasnya. Sesar Lembang memiliki dua blok,
kedua blok yang bergeser ini dicirikan dengan adanya tebing terjal atau gawir sesar. Gawir sesar terbentang sepanjang 22
kilometer dari timur ke barat, tingginya gawir sesar yang mencerminkan besarnya pergeseran sesar berubah dari sekitar 450 meter di ujung timur Maribaya hingga 40 meter di
sebelah barat Cisarua.
Di daerah ini terdapat suatu daerah datar sepanjang Jalan Bandung – Lembang. Bagian barat dataran sempit ini
dibatasi Ci Hideung yang menyayat tajam dan dalam, mengalir utara – selatan memotong gawir sesar. Di sebelah
timur, gawir sesar dicirikan oleh tebing sangat terjal dengan beda tinggi relatif dari 75 meter di Lembang sampai lebih dari 450 meter di Gunung Palasari.
Adanya gawir sesar dan sistem aliran sungai memicu
potensi terjadinya erosi maupun gerakan tanah baik karena pengaruh air maupun gravitasi. Endapan akibat proses
deposisional mengasilkan wilayah yang subur sehingga banyak dijumpai tutupan vegetasi lebat. Proses pembentukan Sesar Lembang juga tidak bisa terlepas dari
volkanisme gunungapi – gunungapi disekitarnya, ditunjukkan oleh adanya morfonenetik kenampakan lereng volkanik atas yang terosi dan lereng volkanik bawah yang tererosi (gambar
8).
2.3 MORFOARANSEMEN SESAR LEMBANG
Morfoaransemen dapat diartikan sebagai susunan keruangan dan
hubungan berbagai macam bentuklahan dan proses yang berkaitan
akibat proses geomorfik yakni struktural, sesar lembang sebagai ciri dari
bentanglahan struktural memiliki asosiasi dengan beberapa bentuklahan
disekitarnya. Misalnya, gawir sesar yang membentuk kelurusan dan
sungai – sungai mengalir diantara hanging wall dan footwall seperti yang
ditunjukkan oleh gambar 9, asosiasi volkanik dengan Gunung Sunda dan
Gunung Tangkuban Perahu sebagai kompilasi dari sejarah pembentukan
Sesar Lembang dan deposit sedimen sebagai akibat dari proses erosi
yang mengikis bagian atas permukaan (sesar bagian barat yang lebih
tinggi).
Terdapat kompleksitas proses geomorfik di Sesar Lembang, baik
endogenik maupun eksogenik. Proses endogenik dicirikan oleh adanya
sesar normal dengan tegasan vertikal, yakni sesar yang pergerakan
hanging wall nya relatif turun terhadap foot wall (Tim Pembina OSN
Kebumian SSCIntersolusi, 2010). Beberapa kenampakan yang dapat
digunakan sebagai petunjuk adanya sesar menurut Tim Olimpiade Ilmu
Kebumian Indonesia (2010) diantaranya :
a. Adanya struktur yang tidak menerus.
b. Adanya perulangan lapisan atau hilangnya lapisan batuan.
c. Kenampakan khas pada bidang sesar, seperti cermin sesar,
gores garis dan lain – lain.
d. Kenampakan khas pada zona sesar seperti drag, breksi sesar,
horses/slices, milonit dan lain – lain.
e. Silisifikasi dan mineralisasi sepanjang zona sesar.
f. Perbedaan fasies sedimen.
g. Petunjuk fisiografi seperti gawir (scarp), scarplets/piedmont
scarp, triangular facet dan lain – lain.
Proses endogenik yang terjadi di sekitar area kajian adalah proses – proses pelapukan batuan, erosi, gerak masa (mass movement) dan
sedimentasi. Pelapukan batuan umumnya terjadi pada batuan yang
kurang resisten sehingga mudah lapuk, akibat adanya pelapukan batuan,
pergerakan air maupun angin dapat mengikis dan menjadi proses erosi,
apabila yang bekerja adalah pengaruh gravitasi, maka akan
mengakibatkan proses mass movement, jika agen transportasi (air, angin,
gravitasi) terhenti, maka akan terjadi proses sedimentasi, dimana material
yang berasal dari permukaan lapisan atas terdeposisi di bagian bawah,
sebagai akibatnya, permukaan area lahan dengan material terdeposisi
akan memiliki kandungan atau tingkat kesuburan yang tinggi sehingga
oleh penduduk sekitar area digunakan sebagai area perkebunan.
Tanah yang subur, suhu udara yang sejuk dan ketersediaan air
yang memadai tentu akan menarik minat manusia untuk tinggal dan
memanfaatkan alam disekitarnya. Hal itulah yang menyebabkan di daerah
terhadap alam, seperti membuka lahan untuk aktivitas perkebunan,
permukiman, area wisata dan fasilitas villa serta perhotelan. Adanya
aktivitas manusia dengan kondisi pasif geomorfologis akan menyebabkan
dampak terhadap lingkungan itu sendiri, seperti yang ditunjukkan oleh
gambar 10 mengenai hubungan antara geomorfologi lingkungan dan
manusia yang selanjutnya dapat digunakan sebagai kerangka analisis
ancaman bahaya dan mitigasi bencana pada daerah sekitar Sesar
Lembang.
2.4 ANCAMAN BAHAYA
Ancaman bahaya yang diakibatkan oleh adanya Sesar Lembang
dapat dibagi menjadi dua, yakni ancaman dari proses endogenik dan
ancaman dari proses eksogenik. Ancaman bahaya yang berasal dari
proses endogenik adalah bahaya gempabumi yang sewaktu – waktu
dapat melanda. Konfigurasi struktur patahan yang kompleks dengan area
volkanisme dan deposit Danau Bandung Purba mengakibatkan potensi
Gambar 10. Bagan mengenai Hubungan Geomorfologi Lingkungan dan Manusia.
kegempaan yang cukup besar. Apabila salah satu blok sesar bergerak
akibat gaya tektonisme, maka mengakibatkan penjalaran gelombang
seismik. Gelombang seismik dapat menjalar di permukaan bumi bagian
luar, biasa disebut gelombang permukaan atau surface wave dan
menjalar melalui interior bumi atau disebut sebagai body wave. Body
wave dibagi lagi menjadi dua bagian, yakni gelombang primer (P Wave)
dan gelombang sekunder (S Wave). Berdasarkan model pergerakan
gelombangnya melalui material, gelombang P bersifat kompresional
sehingga bisa melalui semua jenis material karena gelombang tersebut
hanya menekan dan melepas kembali sehingga hanya terdapat
perubahan volume sesaat pada saat terjadi tekanan yang kemudian akan
kembali lagi setelah tekanan tersebut lepas. Gelombang S merubah
bentuk material yang mentransmisikannya.
Gelombang permukaan berjalan secara lebih kompleks.
Gelombang ini dapat bergerak dengan arah naik – turun (Love wave) atau
menyamping (Rayleigh wave), pada kejadian gempa bumi, gelombang
permukaan inilah yang akan merusak bangunan di permukaan. Seperti
yang diketahui, sesar Lembang terletak di Bandung Barat (Bandung
Kulon), berdasarkan data pengamatan yang tersaji pada tabel 1 diketahui
bahwa kerusakan atas bangunan yang ada di wilayah tersebut cukup
parah akibat bencana gempa tektonik (melalui permodelan casualtiez
Selain gempabumi sebagai ancaman bahaya yang ada di area
sesar Lembang, terdapat ancaman bahaya lain yang disebabkan oleh
proses eksogenik yakni erosi dan gerak massa. Erosi yang terjadi
umumnya berada pada wilayah dengan elevasi cukup tinngi. Sementara
gerak massa terjadi secara gravitasional dari wilayah elevasi tinggi ke
elevasi yang rendah. Berdasarkan Peta Indeks Risiko Bencana Erosi di
Indonesia (gambar 7) dan Peta Indeks Risiko Bencana Gerakan Tanah di
Indonesia (gambar 11) diketahui dua permasalahan kebencanaan
tersebut berpotensi besar terjadi di Jawa Barat terutama zonasi selatan
tempat dimana sesar Lembang berada. Hal ini menguatkan suatu garis
besar bahwa potensi ancaman bahaya yang diakibatkan oleh adanya
bentangalam struktural Sesar Lembang melalui kajian morfogenesa dan
morfoaransemen yakni berupa gempa bumi, erosi dan mass movement
atau gerak massa batuan yang berakibat salah satunya sebagai gerakan
tanah.
2.5 MITIGASI BENCANA
Mitigasi bencana merupakan langkah yang sangat perlu dilakukan
sebagai suatu titik tolak utama dari manajemen bencana. Sesuai dengan
tujuan utamanya yaitu mengurangi dan/atau meniadakan korban dan
kerugian yang mungkin timbul, maka titik berat perlu diberikan pada tahap
sebelum terjadinya bencana, yaitu terutama kegiatan
penjinakan/peredaman atau dikenal dengan istilah mitigasi. Mitigasi pada
prinsipnya harus dilakukan untuk segala jenis bencana, baik yang
Gambar 11. Peta Indeks Risiko Bencana Gerakan Tanah di Indonesia
termasuk ke dalam bencana alam (natural disaster) maupun bencana
sebagai akibat dari perbuatan manusia (man-made disaster).
Mitigasi pada umumnya dilakukan dalam rangka mengurangi
kerugian akibat kemungkinan terjadinya bencana, baik itu korban jiwa
dan/atau kerugian harta benda yang akan berpengaruh pada kehidupan
dan kegiatan manusia. Untuk mendefenisikan rencana atau srategi
mitigasi yang tepat dan akurat, perlu dilakukan kajian resiko (risk
assessment). Kegiatan mitigasi bencana hendaknya merupakan kegiatan
yang rutin dan berkelanjutan (sustainable). Hal ini berarti bahwa kegiatan
mitigasi seharusnya sudah dilakukan dalam periode jauh-jauh hari
sebelum kegiatan bencana, yang seringkali datang lebih cepat dari
waktu-waktu yang diperkirakan, dan bahkan memiliki intensitas yang lebih besar
dari yang diperkirakan semula.
Ancaman bahaya yang sewaktu – waktu dapat menimbulkan
bencana, baik itu erosi, mass wasting maupun gempa bumi, tentunya
dalam penanggulangan bencana dapat dilakukan dua jenis mitigasi, yang
pertama yakni mitigasi struktural dan yang kedua adalah mitigasi
nonstruktural. Mitigasi struktural merupakan upaya untuk meminimalkan
bencana melalui berbagai pembangunan prasarana fisik dan
menggunakan pendekatan teknologi, sementara itu mitigasi nonstruktural
dapat dilakukan sebagai upaya pengurangan dampak bencana dengan
cara membuat kebijakan atau peraturan baru terkait Undang – Undang
penanggulangan Bencana. Contoh dari mitigasi struktural dalam kaitannya
dengan potensi ancaman bahaya yang diakibatkan oleh sesar Lembang
adalah membuat sistem peringatan dini (early warning system) atau
merekontruksi bahan pembuat dinding rumah dengan sekat yang dapat
meminimalisir kerusakan akibat gempa dan meningkatkan ketahanan
kontruksi. Sementara itu, mitigasi nonstruktural dapat dilakukan dengan
cara pengelolaan tata ruang yang baik di sekitar area sesar Lembang
sehingga infrastruktur inti penggerak ekonomi, permukiman maupun
fasilitas publik lainnya dapat diminimalisir kerusakan jika terjadi bencana
baik itu erosi, mass wasting maupun gempabumi.
Berdasarkan ancaman bahaya yang ada di sekitar sesar Lembang,
utamanya adalah gempabumi yang berpotensi mengakibatkan kerugian
paling besar, adalah tugas semua elemen untuk melakukan sosialisasi
kepada masyarakat dan menjadikan masyarakat tanggap bencana
sebagai konsekuensi amanat UU No.24 tahun 2007 tentang
penanggulangan bencana, maka PEMDA harus membentuk Badan
Penanggulangan Bencana Daerah yang dapat merealisasikan program
aksi daerah reduksi bencana sebagai penjabaran Hyogo and Beijing
BAB III
KESIMPULAN
Berdasarkan uraian dari BAB II, dapat ditarik kesimpulan antara
lain sebagai berikut :
1. Sesar Lembang merupakan sesar normal aktif, ditinjau dari
morfogenesanya, sesar Lembang terbentuk akibat kompleksitas
tektonisme dan volkanisme sekitar Gunung Tangkuban Perahu dan
tumbukan lempeng samudera – benua. Sesar Lembang berasosiasi
dengan bentuklahan lain seperti sungai dan dataran endapan
material tererosi, sementara itu, Ditinjau dari morfoaransemen,
terdapat kompleksitas keterkaitan antara aktivitas eksogenik di
permukaan menyebabkan adanya proses erosi dan masswasting
terutama pada elevasi yang tinggi dengan bentuklahan disekitarnya.
2. Ancaman bahaya yang terdapat pada sesar Lembang adalah
potensi terjadinya gempabumi, erosi dan gerak masa batuan.
3. Mitigasi yang dapat diterapkan untuk memanajemen risiko bencana
terdiri dari mitigasi struktural dengan cara peningkatan sistem
peringatan dini (early warning system) maupun penerapan
teknologi untuk membuat bangunan tahan gempa; dan mitigasi non
struktural dengan cara pembuatan regulasi kebencanaan dan/atau
pengaturan tata ruang dan tata wilayah di sekitar kawasan yang
DAFTAR PUSTAKA
Horspool, N et all., 2011. An Assessment on the Use of High Resolution
Digital Elevation Models for Mapping Active Faults in Indonesia.
Geoscience Australia : Canberra
Laporan Khusus Kompas, 2011. Bencana Mengancam Indonesia.
Kompas Media Nusantara : Jakarta
Panizza, Mario. 1996. Environmental Geomorphology. Elsevier :
Amsterdam
Putrohari, Rovicky. 2006. Patahan – Patahan yang akan Membelah Jawa.
https://rovicky.wordpress.com/2006/06/20/patahan-patahan-yg-membelah-pulau-jawa/ . Diakses oleh Futuha Helen Sara pada
28 Oktober 2015 pukul 13.00
Rosanawita, Pretty. 2014. Geology and Geomorphological Characteristic
of Lembang Fault West Java (Thesis). Institut Teknologi
Bandung : Bandung
Sudibyakto. 2011. Manajemen Bencana di Indonesia ke mana?. Gadjah
Mada University Press : Yogyakarta
Surahman, Adang. 2000. Earthquake Vulnerability Evaluation of Building
in Bandung Municipality. Proceeding on 12WCEE 2000
Thornburry, H W. 1954. Principles of Geomorphology. John Wilwy & Sons
Inc : New York
Tim Olimpiade Ilmu Kebumian Indonesia. 2010. Pengantar Ilmu Kebumian.
Tim Pembina OSN Kebumian SSCIntersolusi. 2010. Menyongsong OSN
GEOSAINS SMA. Intersolusi Pressindo : Yogyakarta
Verstappen, Herman Th. 2014. Garis Besar Geomorfologi Indonesia.