• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS MODEL PERKEMBANGAN WILAYAH DAN KONSISTENSI PERENCANAAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "ANALISIS MODEL PERKEMBANGAN WILAYAH DAN KONSISTENSI PERENCANAAN"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS MODEL PERKEMBANGAN WILAYAH DAN KONSISTENSI PERENCANAANINTER-REGIONAL CONTEXT DALAM TATA RUANG KOTA

BANDAR LAMPUNG Endang Wahyuni

Dosen Fakultas Teknik Universitas USBRJ ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsistensi mekanisme penataan spasial di Kota Bandar Lampung dan dampaknya terhadap perkembangan daerah perkotaan. Penelitian ini menghasilkan adanya inkonsistensi dalam penataan ruang yang mengakibatkan degradasi perkembangan wilayah. Padahal perkembangan suatu wilayah itu ditandai dengan adanya ketersediaan infrastruktur dasar (seperti jalan, penyedia telekomunikasi dan air domestik) dan kondisi fisik tanah yang bagus yang menjamin ketersediaan air tanah. Perkembangan suatu wilayah tergantung dari perkembangan wilayah-wilayah sekitarnya, yang secara langsung berbatasan, bahkan juga dengan wilayah yang ada di dalam perbatasan, sehingga kerjasama dan usaha untuk mensinergikan perkembangan suatu wilayah dengan wilayah sekitarnya (Inter-Regional Context) menjadi sangat penting untuk tercapainya tujuan pembangunan.

Keywords: konsistensi penataan spasial, kerjasama antar wilayah, perkembangan wilayah

PENDAHULUAN

Pembangunan daerah

seyogyanya dilakukan melalui penataan ruang secara lebih terpadu dan terarah, agar sumberdaya yang terbatas dapat dimanfaatkan secara efektif dan efisien. Salah satu upaya untuk mencapainya adalah melalui keterpaduan dan keserasian pembangunan dalam matra ruang yang tertata secara baik. Penataan ruang bertujuan untuk mewujudkan pemanfaatan ruang yang berkualitas, berdaya guna dan berhasil guna untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan melalui upaya-upaya optimalisasi dan efisiensi dalam penggunaan ruang, kenyamanan bagi penghuninya, peningkatan produktivitas kota, sehingga mampu mendorong sektor perekonomian wilayah dengan tetap memperhatikan aspek kesinergian,

keberlanjutan dan berwawasan lingkungan.

Kota Bandar Lampung

(2)

sejak tahun 1994 dan disusun kembali pada tahun 2003, pada kenyataannya RTRW tersebut kurang mampu memberikan kontribusi penyelesaian terhadap berbagai permasalahan kota, yaitu berupa kesemrawutan, kekumuhan, konversi kawasan lindung dan keterbatasanopenspace.

Berbagai permasalahan tersebut menyebabkan terjadinya inefisiensi dalam pemanfaatan ruang kota. Salah satu contoh adalah akibat kemacetan akan terjadi inefisiensi bagi pengguna jalan dari sisi waktu, biaya (kendaraan menjadi cepat rusak), psikologis, penurunan kualitas lingkungan akibat polusi bahan bakar dan sebagainya, yang pada akhirnya akan menimbulkan berbagai kerugian, baik kerugian finansial maupun non finansial. Jika permasalahan tersebut tidak segera dicarikan alternatif solusi terbaik, maka kota akan semakin tidak efisien, terjadi penurunan kualitas lingkungan serta bukan lagi menjadi hunian yang nyaman. Dalam jangka panjang inefisiensi akan menurunkan kinerja perkembangan wilayah. Penurunan kinerja yang terjadi secara terus menerus akan mengarah pada kehancuran dan kematian wilayah tersebut.

Berbagai permasalahan tersebut menunjukkan bahwa tujuan penataan ruang di Kota Bandar Lampung belum tercapai secara optimal. Kemungkinan permasalahan tersebut disebabkan karena terjadi inkonsistensi dalam penataan ruang, baik dalam aspek perencanaan, pemanfaatan maupun pengendalian pemanfaatan ruang. Kajian analisis dalam penelitian ini difokuskan pada

konsistensi perencanaan, khususnya terkait dengan prosedur teknis

penyusunan RTRW. Dampak

inkonsistensi tercermin dalam berbagai permasalahan pemanfaatan ruang yang pada akhirnya akan menurunkan kinerja perkembangan wilayah. Perkembangan wilayah dalam hal ini diidentifikasikan dengan kondisi fisik ruang, ekonomi, sosial

dan budaya yang dalam

kenyataannya sangat dipengaruhi oleh faktor karakteristik fisik wilayah dan konfigurasi ruang infrastruktur dasar kota. Infrastruktur dasar kota merupakan urat nadi kehidupan suatu wilayah dan keberadaannya sangat diperlukan untuk memacu dan mendorong perkembangan wilayah.

Adapun yang menjadi tujuan penelitian ini adalah :

1. Menganalisis konsistensi rencana tata ruang Kota Bandar Lampung ditinjau dari aspek keserasian tata ruang dengan wilayah sekitarnya (konsistensi perencanaan Inter-Regional Context).

2. Menganalisis implikasi konsistensi penataan ruang terhadap kinerja perkembangan wilayah serta faktor-faktor pendorong perkembangan wilayah.

METODE PENELITIAN Penelitian dilaksanakan Bulan Juni sampai September 2006 di Kota Bandar Lampung yang secara administratif terdiri dari 98 kelurahan.

(3)

Pusat), dokumen RTRW (Bappeda Kota Bandar Lampung) dan Peta Geologi dan Rawan Bencana (P3G) serta beberapa peta dari dinas teknis terkait. Untuk melihat konsistensi Inter-Regional Context digunakan peta recana penggunaan lahan dalam RTRW Provinsi Lampung (Bappeda Provinsi Lampung) dan RTRW Kabupaten Lampung Selatan (Bappeda Kabupaten Lampung Selatan). Semua peta diolah dan disajikan dalam format yang sama dengan menggunakan perangkat lunak (software)ArcView GIS 3.3.

Penelitian dilaksanakan dengan pendekatan metode analisis kuantitatif, analisis diskriptif dan analisis Map GIS. Untuk melihat konsistensi penyusunan RTRW dengan pedoman (UU Nomor 24 Tahun 19921; PP Nomor 47 Tahun

19972, Kepmen Kimpraswil Nomor

327/Tahun 20023; Perda Nomor 5

Tahun 20014) dilakukan dengan

analisis tabel perbandingan. Dampak inkonsistensi dianalisis dengan menggunakan analisis logika verbal.

Untuk mengetahui apakah

penyusunan RTRW sudah

memperhatikan kesinergian dengan wilayah sekitarnya (Inter-Regional Context) dilakukan analisismap overlay yang dilanjutkan dengan analisis

1)Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1992

Tentang Penataan Ruang

2)Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 1997

Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN)

3)Tentang Pedoman Penyusunan Tata Ruang

Wilayah

4)Tentang Penataan Ruang Wilayah Provinsi

Lampung

logika verbal. Untuk memodel kinerja perkembangan wilayah dilakukan dua analisis, yaituPrincipal Component Analysis (PCA) untuk memperoleh indeks komposit yang akan digunakan dalam analisis kedua, yaitu analisis Spatial Durbin Model. Metode ini merupakan bentuk pengembangan dari regresi sederhana yang mengakomodasikan fenomena interaksi spasial. Representasi faktor interaksi spasial pada Spatial Durbin Model adalah dengan matriks kedekatan (ketetanggaan dan jarak sentroid) yang disebut dengan contiguity matrix. Kedua analisis ini menggunakan Software Statistica. Untuk mengetahui keterkaitan antara konsistensi, permasalahan tata ruang dan perkembangan wilayah dilakukan dengan menggunakan analisis logika verbal.

HASIL DAN PEMBAHASAN KonsistensiInter-Regional Context

(4)

konflik pada masa yang akan datang. Wilayah overlap tersebut terdapat di Kelurahan-kelurahan Sumber Agung, Kemiling Permai, Rajabasa Raya dan Harapan Jaya. Selain wilayah overlap juga terdapat wilayah ’tidak bertuan’, yang terdapat di Kelurahan-kelurahan Rajabasa Jaya, Harapan Jaya, Sukarame dan Campang Raya.

Dalam konteks ini terlihat bahwa proses penyusunan RTRW Kota Bandar Lampung kurang memperhatikan kesinergian dengan wilayah sekitarnya. Hal ini disebabkan karena dalam proses penyusunan RTRW Kota Bandar Lampung kurang memperhatikan RTRW pada hirarki yang lebih tinggi (Provinsi Lampung) dan RTRW Kabupaten Lampung Selatan. Dipihak lain sampai saat ini belum ada Rencana Tata Ruang Kawasan yang memiliki kekuatan hukum untuk mengatur kesinergian ruang Kota Bandar Lampung dengan wilayah sekitarnya. Kondisi ini menyebabkan beberapa wilayah yang berbatasan langsung dengan wilayah tetangga menjadi wilayah yang terpinggirkan dan kurang mendapat prioritas dalam pembangunan, sehingga mengalami kinerja pembangunan dengan kategori kurang, walaupun wilayah tersebut berpotensi untuk berkembang. Wilayah tersebut meliputi Kelurahan-kelurahan Sukamaju, Keteguhan, Pinang Jaya, Rajabasa Raya, Way Laga dan Srengsem. Akibat selanjutnya adalah terjadi kesenjangan pembangunan yang semakin lebar antara pusat kota dengan wilayah tersebut. Menurut Hukum Minimum Leibig, kinerja

perkembangan yang buruk pada satu wilayah akan menjadi kendala dalam perkembangan wilayah secara keseluruhan. Dalam jangka panjang ketertinggalan satu wilayah akan mengancam eksistensi wilayah lain yang memiliki kinerja perkembangan baik. Untuk itu keberimbangan pembangunan sangat penting diperhatikan agar pencapaian kinerja pembangunan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat dapat lebih optimal (Saefulhakim, 2006). Keberimbangan dapat dicapai melalui kerjasama, koodinasi dan memperhatikan kesinergian ruang kawasan sekitarnya (Inter-Regional Cooperation).

Konsistensi Pemanfaatan Ruang

Inkonsistensi dalam

(5)

Contoh lain adalah kasus penambangan batu kapur di Gunung Kunyit oleh swasta dan masyarakat lokal serta pengerukan tanah di Gunung Camang yang dilakukan oleh swasta (Jaringan advokasi tambang, 2004). Selain menyebabkan kerusakan lingkungan, aktivitas tersebut mendapatkan protes keras dari berbagai elemen masyarakat. Berdasarkan hasil penelitian,

wilayah-wilayah yang mengalami

inkonsistensi dalam pemanfaatan

ruang memiliki kategori

perkembangan wilayah sedang dan kurang.

Konsistensi Pengendalian Pemanfaatan Ruang

Inkonsistensi dalam peman-faatan ruang menunjukkan lemahnya aspek pengendalian dalam penataan ruang di Kota Bandar Lampung. Menurut Kepmen Kimpraswil No 327/KPTS/M/2002 pengendalian pemanfaatan ruang diselenggarakan melalui kegiatan pengawasan dan penertiban terhadap pemanfaatan ruang berdasarkan mekanisme perijinan, pemberian insentif dan disinsentif, pemberian kompensasi, mekanisme pelaporan, mekanisme pemantauan, mekanisme evaluasi dan mekanisme pengenaan sanksi. Permasalahan dalam pengendalian antara lain disebabkan karena: pemberian ijin (IMB, SITU, ijin prinsip, ijin lokasi & IPB) tidak sesuai RTRW; kurangnya sosialisasi RTRW; sistem informasi spasial belum memadai (tidak jelas batas-batas koordinat setiap peruntukan lahan), didukung minimnya jumlah

benchmark, sehingga sulit untuk mengetahui kesesuaian ketepatan lokasi di lapangan dengan peta; RTRW tidak dibreakdown kedalam rencana yang lebih detail; serta lemahnya koordinasi antar institusi maupun kinerja BKPRD (Badan Koordinasi Penataan Ruang Daerah). Tingkat konsistensi dalam pengendalian belum dapat diukur karena sampai saat ini belum disusun dokumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang Kota Bandar Lampung.

Model Perkembangan Wilayah Dengan menggunakan kriteria [Factor Loadings] > 0,65, hasil PCA dari 38 variabel perkembangan wilayah, 15 variabel prasarana dasar dan 17 variabel kondisi fisik wilayah dapat dirumuskan delapan indeks komposit sebagai berikut:

1. Indeks perkembangan aktifitas ekonomi & transportasi wilayah (F1PW), dengan penciri utama variabel warung, restoran, bank, hotel dan stasiun. Semua variabel berkorelasi positif, artinya peningkatan jumlah unit pada satu variabel akan menyebabkan peningkatan jumlah unit pada variabel lainnya.

2. Indeks perkembangan fisik ruang wilayah (F2PW), dengan penciri

utama variabel kawasan

terbangun.

3. Indeks perkembangan aktifitas pendidikan wilayah (F3PW), dengan penciri utama variabel SLTP dan SLTA yang berkorelasi positif.

(6)

& telepon) (F1PD), dengan penciri utama variabel rasio jalan kota terhadap luas wilayah, jumlah pelanggan PDAM pada kelompok pertama dan ketiga serta jumlah pelanggan telepon. Semua variabel berkorelasi positif.

5. Indeks perkembangan jalan nasional wilayah (F2PD), dengan penciri utama rasio jalan nasional terhadap luas wilayah dan terhadap jumlah penduduk. 6. Indeks keterjalan & kelangkaan air

tanah (F1FW), dengan penciri utama kondisi hidrologi air tanah langka, formasi geologi alluvium dan formasi campang dengan kelerengan lebih dari 40%. Semua variabel penciri berkorelasi positif. 7. Indeks kelandaian & persebaran

air tanah produktivitas sedang (F2FW), dengan penciri utama hidrologi akuifer produktivitas sedang dan menyebar luas, formasi endapan gunung api muda serta kelerengan 2-20%. 8. Indeks air tanah produktifitas

rendah (F3FW), dengan penciri utama hidrologi akuifer produktivitas rendah, dengan formasi batuan granit tak terpisahkan dan formasi tarahan. Ketiga variable penciri tersebut berkorelasi positif.

Model Perkembangan Aktifitas Ekonomi Wilayah

Ln[F1PW] = -3,877 - 10,399 W2Ln[F1PW] + 5,526 W2Ln[F1PD] - 3,259 W2Ln[F3FW] + 1,678 W1Ln[F1PW] + 1,312

W2Ln[F2FW] + 0,536 W1Ln[F3FW] + 0,449 Ln[F1FW]

Urutan penting faktor penentu perkembangan aktivitas ekonomi di suatu wilayah

Variabel nyata dan elastis

1. W2Ln[F1PW] adalah perkembangan aktifitas ekonomi dalam radius tertentu dengan tingkat kepastian 100% dan elastisitas 10,399%, artinya jika perkembangan aktifitas ekonomi dalam radius tertentu meningkat

1% akan menyebabkan

peningkatan perkembangan aktivitas ekonomi di wilayah tersebut sebesar 10,399%. Koefisien bernilai negatif, artinya jika perkembangan aktifitas ekonomi dalam radius tertentu lebih baik dari wilayah tersebut, maka aktifitas ekonomi akan bergeser ke wilayah dalam radius tertentu.

2. W2Ln[F1PD] adalah ketersediaan prasarana dasar jalan, air bersih dan telepon dalam radius tertentu dengan tingkat kepastian 99,4% dengan elastisitas 5,526%. Koefisien bernilai positif, artinya peningkatan ketersediaan

prasarana dasar akan

menyebabkan peningkatan perkembangan aktifitas ekonomi di wilayah tersebut. Hal ini cukup logis karena kelengkapan prasarana dasar di wilayah sekitar akan mempengaruhi percepatan perkembangan suatu wilayah. 3. W2Ln[F3FW] adalah ketersediaan

(7)

dalam radius tertentu dengan tingkat kepastian 100%, elastisitas 3,259% dan koefisien bernilai negatif.

4. W1Ln[F1PW] adalah perkembangan aktifitas ekonomi di wilayah tetangga dengan tingkat kepastian 100%, elastisitas 1,678% dan koefisien positif. Hal ini dapat dimengerti karena perkembangan aktivitas ekonomi di suatu wilayah akan dapat ‘merangsang’ kawasan-kawasan disekitarnya untuk turut berkembang.

5. W2Ln[F2FW] adalah kelandaian dan ketersediaan air tanah produktifitas sedang di wilayah dalam radius tertentu dengan tingkat kepastian 97,7%, elastisitas 1,312% dengan koefisien positif. Variabel nyata dan tidak elastis 1. W1Ln[F3FW] adalah karakteristik

kondisi air tanah produktifitas rendah pada wilayah tetangga dengan tingkat kepastian 98,6% dan koefisien bernilai positif. 2. Ln[F1FW] adalah kondisi fisik

wilayah dengan karakteristik terjal dan kelangkaan air tanah dengan tingkat kepastian 97,7% dan koefisien positif.

Variabel tidak nyata dan tidak elastis

 Faktor-faktor lain yang menentukan perkembangan aktifitas ekonomi dalam suatu wilayah cukup banyak, tetapi 54% dapat diterangkan oleh model ini.

Model Perkembangan Fisik Ruang Wilayah

Ln[F2PW] = 8,915 - 7,012 W2Ln[F2PW] + 3,449 W2Ln[F1PD] - 1,671 W2Ln[F2FW] + 1,53 W1Ln[F2PW] - 0,858 W1Ln[F1PD] + 0,457 W1Ln[F1PW] + 0,365 Ln[F1PD] - 0,264 Ln[F3FW] - 0,253 Ln[F1FW] + 0,175 Ln[F2FW]

Urutan penting faktor penentu perkembangan fisik ruang di suatu wilayah

Variabel nyata dan elastis

1. W2Ln[F2PW] adalah perkembangan fisik ruang terbangun dalam radius tertentu dengan tingkat kepastian 99,8%, elastisitas 7,012 dan koefisien bernilai negatif.

2. W2Ln[F1PD] adalah perkembangan prasarana dasar (jalan, air bersih dan telepon) dalam radius tertentu dengan tingkat kepastian 93,6%, elastisitas 3,449% dan koefisien bernilai positif.

3. W2Ln[F2FW] adalah kelandaian dan ketersediaan air tanah produktifitas sedang dan menyebar luas dalam radius tertentu dengan tingkat kepastian 99,1%, elastisitas 1,671 dan koefisien bernilai negatif.

(8)

Variabel nyata dan tidak elastis 1. W1Ln[F1PD] adalah

perkembangan prasarana dasar (jalan, telepon dan air bersih) wilayah tetangga dengan tingkat kepastian 94,2% dan koefisien bernilai negatif.

2. W1Ln[F1PW] adalah perkembangan aktifitas ekonomi wilayah tetangga dengan tingkat kepastian 97,3% dan koefisien bernilai positif.

3. Ln[F1PD] adalah ketersediaan prasarana dasar wilayah (jalan, air bersih dan telepon) dengan tingkat kepastian 99,8% dan koefisien positif. Artinya ketersediaan prasarana dasar merupakan pemicu peningkatan ruang terbangun dalam suatu wilayah. Hal senada diungkapkan McGill bahwa pengujian proses manajemen kota harus dilihat sebagai provision infrastructur, karena keberadaan infrastruktur

tidak hanya mendukung

perkembangan wilayah, tetapi juga distribusi spasial dari perkembangan kota (McGill, 1998).

4. Ln[F3FW] adalah kondisi fisik dengan karakter air tanah produktifitas rendah dengan tingkat kepastian 96,7% dan koefisien negatif. Artinya kawasan dengan karakteristik tersebut menjadi penghambat pelaksanaan fisik ruang terbangun.

5. Ln[F1FW]adalah kawasan dengan karakter terjal dan kelangkaan air tanah dengan tingkat kepastian

98,9% dan koefisien bernilai negatif.

6. Ln[F2FW] adalah kondisi fisik wilayah dengan karakteristik landai dan persebaran air tanah produktifitas sedang dengan tingkat kepastian 95,1% dan koefisien positif. Hal ini cukup logis mengingat pembangunan fisik ruang akan lebih mudah dan murah serta memiliki resiko yang lebih kecil jika di bangun pada wilayah dengan topografi yang relatif landai dan ketersediaan airnya mudah.

Variabel tidak nyata dan tidak elastis 1. Faktor-faktor yang tidak disebutkan diatas mempunyai pengaruh yang tidak nyata terhadap perkembangan fisik ruang di suatu wilayah.

2. Faktor-faktor lain yang menentukan perkembangan fisik ruang dalam suatu wilayah cukup banyak, tetapi 54% masih dapat diterangkan oleh model ini.

Model Perkembangan Aktifitas Pendidikan Wilayah

Ln[F3PW] = 22,291 - 8,34 W2Ln[F3PW] - 4,884 W2Ln[F1PD] - 2,802 W2Ln[F3FW] + 2,801 W2Ln[F1FW] + 1,343 W1Ln[F3PW] - 0,208 Ln[F2PD] + 0,142 Ln[F2FW]

(9)

Variabel nyata dan elastis

1. W2Ln [F3PW] adalah

perkembangan aktifitas

pendidikan dalam satu radius dengan tingkat kepastian 100%, elastisitas 8,34% dan koefisien bernilai negatif.

2. W2Ln[F1PD] adalah ketersediaan prasarana jalan, air bersih dan telepon dalam radius tertentu dengan tingkat kepastian 99,6%, elastisitas 4,884% dan koefisien negatif.

3. W2Ln[F3FW] adalah kondisi wilayah dengan karakteristik air tanah produktifitas rendah di wilayah dalam radius tertentu dengan tingkat kepastian 100%, elastisitas 2,802% dan koefisien bernilai negatif.

4. W2Ln[F1FW] adalah kondisi wilayah dengan karakteristik terjal dan kelangkaan air tanah di wilayah dalam radius tertentu dengan tingkat kepastian 96,9%, elastisitas 2,801% dan koefisien bernilai positif.

5. W1Ln[F3PW] adalah

perkembangan aktivitas

pendidikan di wilayah tetangga dengan tingkat kepastian 100%, elastisitas 1,343% dan koefisien bernilai positif.

Variabel nyata dan tidak elastis 1. Ln[F2PD]adalah keberadaan jalan

nasional dengan tingkat kepastian 96,5% dan koefisien bernilai negatif, artinya bahwa keberadaan jalan nasional menjadi penghambat dalam perkembangan aktivitas pendidikan di suatu wilayah.

2. Ln[F2FW] adalah kondisi wilayah dengan karakteristik landai dan persebaran air tanah produktifitas sedang dengan tingkat kepastian 98,2% dan koefisien positif.

Variabel tidak nyata dan tidak elastis 1. Faktor-faktor selain tersebut diatas tidak memiliki pengaruh nyata

terhadap perkembangan

pendidikan disuatu wilayah. 2. Faktor-faktor lain yang

menentukan perkembangan aktifitas pendidikan dalam suatu wilayah cukup banyak, tetapi 35% dapat diterangkan oleh model ini.

Hasil analisis PCA

perkembangan wilayah menunjukkan bahwa wilayah dengan kinerja perkembang baik adalah Kelurahan-kelurahan Gedung Meneng (pusat pendidikan), Pesawahan, Rawa Laut, Palapa dan Tanjung Karang (pusat kota). Wilayah dengan kinerja perkembangan rendah didominasi oleh wilayah yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Lampung Selatan, yaitu Kelurahan-kelurahan Sukamaju, Keteguhan, Pinang Jaya, Rajabasa Raya, Way Laga dan Srengsem.

(10)

pembangunan. Temuan tersebut juga mengindikasikan pentingnya Inter-Regional Cooperationdalam skala yang lebih luas, misalnya antar Kabupaten/Kota, khususnya Kota Bandar Lampung terkait dengan perannya sebagai pusat pelayanan primer bagi wilayah di sekitarnya serta PKN. Pentingnya kerjasama merupakan salah satu amanat UU Nomor 32 Tahun 2004 yang bertujuan untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas penyelenggaraan Pemerintahan. Menurut ketentuan tersebut, kerjasama yang bersifat lintas kabupaten/kota merupakan kewenangan Pemerintah Provinsi dengan melibatkan seluruh kabupaten

yang bersangkutan. Untuk

membuktikan pentingnya kerjasama antar kabupaten maupun antar provinsi secara empirik diperlukan penelitian lebih lanjut.

SIMPULANDAN SARAN Simpulan

1. Penataan ruang seharusnya konsisten dengan pedoman yang berlaku, hal ini berlaku umum, bukan hanya di Bandar Lampung, sebab inkonsistensi dalam penataan ruang menyebabkan inefisiensi yang mengarah pada degradasi/kelumpuhan suatu wilayah.

2. Wilayah yang berbatasan dengan Kabupaten Lampung Selatan termasuk dalam kategori kurang

perkembangan (relative

tertinggal), walaupun berpotensi berkembang. Untuk memacu perkembangan wilayah-wilayah

tersebut diperlukan upaya kerjasama serta mensinergikan program-program pembangunan dengan wilayah sekitarnya ( Inter-Regional Cooperation).

3. Terdapat beberapa syarat untuk

mendorong perkembangan

wilayah, yaitu:

a) Ketersediaan prasarana dasar (jalan kota/lokal, air bersih dan telepon), variabel significan, sehingga lebih efisien. Hal ini berimplikasi pada mekanisme anggaran, bahwa ketiga sektor tersebut dapat digunakan sebagai alat untuk mempercepat atau mengendalikan perkembangan suatu wilayah.

b) Kondisi fisik wilayah dengan karakteristik landai dan air tanah produktivitas sedang akan mendukung percepatan perkembangan wilayah.

c) Hal yang sangat diperlukan untuk mencapai optimalisasi tujuan penataan ruang adalah kerjasama dengan wilayah sekitarnya (Inter-Regional Cooperation).

Saran

1. Penataan ruang memiliki implikasi terhadap perkembangan wilayah, sehingga konsistensi dalam penataan ruang menjadi

sangat penting untuk

diperhatikan.

(11)

3. Pemerintah Kota Bandar Lampung perlu segera menyusun dokumen

pendamping RTRW untuk

melengkapi aspek-aspek yang belum diatur secara jelas serta

dokumen Pengendalian

Pemanfaatan Ruang Kota Bandar Lampung.

4. RTRW perlu dibreakdown dalam rencana yang lebih rinci, yaitu Rencana Detail Tata Ruang (RDTR), Rencana Teknik Ruang (RTR) dan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBK) dengan tetap memperhatikan efisiensi dalam pemanfataan ruang.

5. RTRW harus menjadi dokumen yang memiliki kekuatan untuk mengikat secara eksternal (pedoman bagi masyarakat dalam pemanfaatan ruang kota) dan internal. (pengendali bagi setiap

kebijakan program

pembangunan).

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2002. Pedoman Penyusunan Penataan Ruang. Jakarta. Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah.

Aronoff, S. 1989. Geografic Information System: Management Perspective. Ottawa, Canada. WDL Publications.

Budiharjo, Eko. 1997. Tata Ruang Perkotaan. Bandung. PT Alumni.

Budiharjo, Eko. 1995. Pendekatan Sistem dalam Tata Ruang dan Pembangunan Daerah untuk Meningkatkan Ketahanan Nasional. Yogyakarta. Gajahmada University Press.

LeSage, James P (1999).The Theory and Practice of Spatial Econometrics. http://www.econ.utoledo.edu

Marquez LO and Maheepala S. 1996. An Object-Oriented Approach to the Integrated Planning of Urban Development and Utility Services. Environ. and Urban Systems Vol. 20 No 4/5:pp.303-312.

McGill, R. 1998. Urban Management in Developing Countries. Cities Vol 13 No 6:pp.405-471.

Saefulhakim, S. 2006. Arah dan Isyu Strategis Perencanaan dan Pengembangan Wilayah Dalam Perspektif Ekonomi Wilayah: Bogor. Fakultas Pertanian IPB.

Saefulhakim, S. 2005. Principal Components Analysis (PCA) dan Factor Analysis (FA): Bogor. Fakultas Pertanian IPB.

Referensi

Dokumen terkait

Analisis Perencanaan Pembangunan Wilayah Jawa Timur : Pendekatan Konvergensi dan Disparitas Wilayah; Rozy Khadafi; 07082020211; 2011; 86 halaman; Program Studi Ilmu

Karakteristik yang terdapat pada setiap wilayah tentunya berbeda antara satu dengan yang lainnya, sehingga muncul banyak keragaman potensi sumber daya alam, letak

Salah satu data statistik yang sangat diperlukan untuk mengetahui kondisi ekonomi suatu wilayah dalam suatu periode tertentu ditunjukkan oleh data

Berdasarkan survey yang dilakukan dari 100 responden terdapat 69 orang memiliki penghasilan Rp. artinya wilayah penelitian didominasi oleh masyarakat berpenghasilan rendah. Jika

Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kerentanan bencana tanah longsor di wilayah Desa Citengah, Kecamatan Sumedang Selatan berada dalam kelas sedang, dengan skor sebesar

Judul Tesis : Kajian Struktur Kepemilikan Tanah serta Keterkaitan antara Karakteristik Tanah dan Pernilik Tanah dengan Penggunaan Tanah di Wilayah Suburban.. Nama :

Hukum internasional adanya suatu wilayah tertentu mutlak bagi pembentukan suatu negara karena wilayah termasuk dalam salah satu karakteristik terbentuknya suatu negara yang diatur dalam

“Hukum tanah nasional adalah hukum tanah Indonesia yang tunggal yang tersusun dalam suatu sistem berdasarkan alam pemikiran hukum adat tertentu”1 Pengendalian tata ruang wilayah