• Tidak ada hasil yang ditemukan

Model pengembangan wilayah dengan pendekatan agropolitan (Studi Kasus Kabupaten Banyumas)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Model pengembangan wilayah dengan pendekatan agropolitan (Studi Kasus Kabupaten Banyumas)"

Copied!
255
0
0

Teks penuh

(1)

MODEL PENGEMBANGAN WILAYAH DENGAN

PENDEKATAN AGROPOLITAN

(STUDI KASUS KABUPATEN BANYUMAS )

SULISTIONO

SEKOLAH PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)

PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN

SUMBER INFORMASI

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis Model Pengembangan Wilayah dengan Pendekatan Agropolitan (Studi Kasus Kabupaten Banyumas) adalah karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.

Bogor, Februari 2008

SULISTIONO

(3)

ABSTRACT

SULISTIONO. Regional Development Model Through Agropolitan Approach (Case Study Kabupaten Banyumas). Under the direction of H.R. SUNSUN SAEFULHAKIM and DIDIT OKTA PRIBADI.

For the agenda of reaching purpose of development prioritizing to generalization, growth, interrelationship, proportional, independence, and continueing aspect is required reorientation of development to agricultural sector, where orientation of development will shift to rural region causing plays more in regional development. One of development model expected able to reach purpose of is regional development model through agropolitan approach. In this research, agropolitan is one of approach systems of regional rural development through activity bases on agriculture, conservation natural resource and development of regional potency through environmental development of causing can minimize difference between regions. The result of cluster analysis based on development of agropolitan system and development of regional economic to districs (kecamatan-kecamatan) in Banyumas region is clustered to become 3 group, where every group is having certain characteristics applied as regional development base. The result of analysis spasial durbin indicates that development of districts (kecamatan) in Banyumas region many influenced by interrelationship between regions based on reverse of distance and region verging on direct. Concentration of government required in implementing policy about : commerce and invesment aspect, improvement of industrial competitiveness, space exploiting, marketing systems, government budget, development of small and medium industry, development of transportation, management of natural resource, man resource and social resource.

(4)

RINGKASAN

SULISTIONO. Model Pengembangan Wilayah dengan Pendekatan Agropolitan (Studi Kasus Kabupaten Banyumas). Dibawah bimbingan H.R. SUNSUN SAEFULHAKIM dan DIDIT OKTA PRIBADI.

Pembangunan wilayah adalah suatu proses perubahan terencana ke arah semakin tersedianya alternatif-alternatif bagi setiap orang untuk memenuhi tujuan-tujuan yang paling humanistik sesuai dengan perkembangan tata nilai dan norma-norma yang dijunjung tinggi di dalam masyarakat.Tolok ukur kinerja pembangunan wilayah : a. Pemerataan, b.Pertumbuhan, c. keterkaitan, d. keberimbangan, e. kemandirian, dan f. keberlanjutan. Konsep Pembangunan wilayah dengan basis pengembangan kota-kota pertanian atau yang lebih dikenal dengan agropolitan, menjadi pilihan utama Pemerintah Daerah, dalam melaksanakan otonominya.

Sebagai konsep pembangunan perdesaan yang relatif baru dikembangkan di Indonesia, model agropolitan perlu dikembangkan sesuai dengan kondisi sosial budaya masyarakat yang ada sehingga dapat mengurangi kesenjangan pembangunan desa – kota, memperkuat keterkaitan kegiatan ekonomi antara perkotaan dan perdesaan, memperluas alternatif lapangan pekerjaan berkualitas di perdesaan, meningkatkan kualitas sumberdaya manusia di perdesaan, mengurangi penelantaran sumberdaya lokal akibat sistim yang terganggu.

Metode analisis data kuantitatif, dengan tahapan-tahapan sebagai berikut : (1) analisis identifikasi variabel kinerja sistim agropolitan dan kinerja pembangunan ekonomi daerah dengan menggunakan : persentase, rasio, pangsa,location quotient

(untuk menunjukkan lokasi pemusatan/basis aktivitas dan tingkat kecukupan barang/jasa dari produksi lokal suatu wilayah), indeks diversitas entropy (untuk mengetahui tingkat perkembangan suatu wilayah) dan analisis kesesuaian dan ketersediaan lahan (untuk mengetahui luas lahan yang sesuai dan tersedia untuk pengembangan produk unggulan), (2) menyusun indeks-indeks komposit kinerja sistim agropolitan dan kinerja pembangunan ekonomi daerah, dengan mengguna-kan : principal components analysis untuk menentukan variabel baru yang dapat mewakili variabel - variabel pembangunan yang merupakan variabel asal dan menghindari multicollinearity yang dapat menyebabkan struktur data yang dihasilkan menjadi bias, (3) pewilayah dan tipologi wilayah kinerja sistim agropolitan dan kinerja pembangunan ekonomi daerah, dengan menggunakan analisis kelompok (cluster analysis) berdasarkan faktor utama (factor score) yang diperoleh dari analisis komponen utama dan menggunakan metode K-mean

untuk meminimumkan keragaman di dalam kelompok dan memaksimumkan keragaman antar kelompok, dan (4) mengetahui struktur keterkaitan antara kinerja sistim agropolitan dan kinerja pembangunan ekonomi daerah, di analisis dengan menggunakan Spatial D u r b i n Model untuk melihat peran keterkaitan antara ukuran kinerja pembangunan ekonomi dan ukuran kinerja sistim agropolitan. Dalam menganalisis interaksi spasial antar kecamatan di Kabupaten Banyumas di dasarkan pada beberapa hal yaitu : letak masing-masing kecamatan yang berbatasan langsung dengan kecamatan lainnya dan jarak antar masing-masing kecamatan /W2.

(5)

utama : sektor industri dan keuangan tinggi, mata pencaharian utama penduduk di subsektor peternakan dominan, areal lahan berdasarkan kedalaman air 11 m – 20 m (dalam) : dominan dan disisi lain angkatan kerja menganggur tinggi . Hal ini secara logis menginformasikan bahwa di wilayah tersebut peningkatan sektor industri dan sektor keuangan belum mampu memberdayakan sumberdaya manusia yang ada disekitar wilayah tersebut . Kondisi tersebut dikarenakan industri yang berkembang membutuhkan tenaga kerja yang tidak sesuai dengan tenaga kerja yang tersedia atau tenaga kerja setempat kalah bersaing dengan pendatang dari luar wilayah. Demikian juga dengan masyarakatnya yang melakukan usaha di bidang peternakan kurang begitu menguntungkan atau hanya bisa untuk menambah penghasilan saja sehingga tidak banyak menyerap tenaga kerja yang ada.

Kecamatan-kecamatan yang terdapat di wilayah tipologi II merupakan wilayah dengan karakteristik: keberadaan institusi sosial tinggi, disisi lain mata pencaharian utama penduduk di sektor pertanian tanaman pangan,peternakan, perkebunan dan kehutanan tidak dominan, sumbangan sektor industri, keuangan dan persewaan terhadap PDRB rendah. Hal ini menginformasikan bahwa institusi sosial petani kurang bisa mendukung perkembangan sektor pertanian tanaman pangan,peternakan, perkebunan dan kehutanan sehingga sektor industri di wilayah tersebut tidak berkembang.

Kecamatan-kecamatan yang terdapat di wilayah tipologi III merupakan wilayah dengan karakteristik: keberadaan penyuluh pertanian dan taruna tani tinggi, berada di daerah dataran rendah disisi lain intensitas populasi ternak dan ikan rendah, sumbangan sektor industri, keuangan dan persewaan terhadap PDRB rendah, keberadaan institusi sosial petani rendah, kepemilikan lahan rendah dan intensitas pertanam tanaman pangan rendah, dan angkatan kerja menganggur rendah. Hal ini menginformasikan bahwa di wilayah tipologi III masyarakatnya mata pencaharian utamanya dominan di luar sektor pertanian karena kepemilikan lahan yang sempit dan banyak alternatif pekerjaan diluar sektor pertanian, seperti Kecamatan Purwokerto Timur dan Kecamatan Purwokerto Selatan yang merupakan daerah perkotaan. Disisi lain keberadaan penyuluh pertanian di 3 kecamatan, seperti: Kecamatan Purwojati, Kecamatan Somagede dan Kecamatan Gumelar kurang mampu mendorong berkembangnya sektor pertanian .

Indeks komposit yang dihasilkan dari olah PCA selanjutnya digunakan sebagai variabel dalam analisis Spatial Durbin Model dan menghasilkan 5 model untuk mengukur kinerja pembangunan ekonomi daerah Kabupaten Banyumas: 1. Model I ( sektor pertanian dan perdagangan ), dimana variabel nyata dan

elastis : (a) produktifitas orang sektor pertanian di wilayahnya sendiri menjadi faktor penentu dalam peningkatan PDRB sektor pertanian dan perdagangan di wilayah tersebut dengan elastisitas 1,151, (b) peningkatan areal yang berelevasi tinggi di wilayah tetangga pada radius tertentu akan menghambat sektor pertanian dan perdagangan di suatu wilayah dengan elastisitas 1,789, (c) keberadaan institusi sosial di kecamatan tetangga pada radius tertentu dapat menghambat PDRB sektor pertanian dan perdagangan suatu wilayah dengan elastisitas 1,708.

(6)

3. Model III ( sektor industri ), dimana variabel nyata dan elastis : (a) sektor industri di wilayah tetangga pada radius tertentu menjadi faktor pendorong dalam peningkatan sektor keuangan dan persewaan di suatu wilayah dengan elastisitas 6,87, (b) angkatan kerja menganggur di wilayah tetangga pada radius tertentu memberikan dampak positif terhadap pangsa sektor keuangan dan persewaan dengan elastisitas 4,78, (c) keberadaan jembatan dan jalan antar desa yang bisa dilewati kendaraan roda 4 di wilayah tetangga pada radius tertentu dapat mendorong sektor keuangan dan persewaan di suatu wilayah dengan elastisitas 4,69

4. Model IV (sektor keuangan dan persewaan), dimana variabel nyata dan elastis : keberadaan infrastruktur jembatan dan jalan antar desa yang bisa dilewati kendaraan roda 4 di wilayah tetangga yang berbatasan langsung dapat mendorong peningkatan sektor industri di suatu wilayah dengan elastisitas 1,222.

5. Model V (angkatan kerja menganggur), dimana variabel nyata dan elastis : (a) pengeluaran anggaran rutin di wilayah tetangga pada radius tertentu memberikan dampak positif terhadap pangsa angkatan kerja menganggur di suatu wilayah dengan elastisitas 3,331, (b) rataan per kapita total anggaran belanja kecamatan di wilayah tetangga pada radius tertentu dapat menghambat angkatan kerja menganggur di suatu wilayah dengan elastisitas 2,636.

Dari kelima model keterkaitan antara kinerja pembangunan ekonomi daerah menunjukkan bahwa variabel-variabel yang berpengaruh signifikan (nyata) dan elastis terhadap variabel tujuan (kinerja pembangunan ekonomi daerah) didominasi oleh variabel yang terkait dengan kondisi sekitarnya, baik yang berbatasan langsung (W1) maupun jarak dalam radius tertentu (W2).

Kondisi ini berimplikasi dalam mekanisme untuk meningkatkan kinerja pembangunan ekonomi daerah maka harus memperhatikan faktor pendorong dan penghambat terutama dalam meningkatkan kerjasama dengan wilayah sekitarnya.

Konsep kerjasama dan koordinasi dengan wilayah sekitarnya (Inter-Regional Cooperation) menjadi faktor yang sangat penting untuk diperhatikan dalam setiap kegiatan pembangunan dalam rangka optimasi pencapaian tujuan pembangunan dan peningkatan kinerja pembangunan ekonomi daerah. Temuan tersebut juga mengindikasikan pentingnya Inter-Regional Cooperation dalam skala yang lebih luas.

(7)

©Hak cipta milik IPB, tahun 2008 Hak cipta dilindungi

Dilarang m engutip dan m em perbany ak tanpa izin tertulis dari Institut Pertanian Bogor, sebagian atau seluruhny a

(8)

MODEL PENGEMBANGAN WILAYAH DENGAN

PENDEKATAN AGROPOLITAN

(STUDI KASUS KABUPATEN BANYUMAS )

SULISTIONO

Tesis

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada

Program Studi Ilmu Perencanaan Wilayah

SEKOLAH PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(9)
(10)

Judul Tesis : Model Pengembangan Wilayah dengan Pendekatan Agropolitan (Studi Kasus Kabupaten Banyumas)

Nama : Sulistiono

NIM : A. 353 060 324

Disetujui

Komisi Pembimbing

Dr. Ir. H.R. Sunsun Saefulhakim, M.Agr Didit Okta Pribadi, SP, MSi

Ketua Anggota

Diketahui

Ketua Program Studi Dekan Sekolah Pascasarjana IPB Ilmu Perencanaan Wilayah

Dr. Ir. Ernan Rustiadi, M.Agr Prof. Dr. Ir. Khairil A. Notodiputro, MS

Tanggal Lulus : 14 Maret 2008 Tanggal Ujian : 12 Februari 2008

(11)

PERSEMBAHAN

Tu lis a n in i k u p e r s e m b a h k a n u n t u k y a n g k u c in t a i d a n k u h o r m a t i...

is t r ik u ( Tr ia n a S e t ia w a r d a n i, S P t , M P ) y a n g t e la h t a b a h & s a b a r m e r a w a t b u a h h a t i k a m i d e n g a n p e n u h s u k a d u k a ,

a n a k -a n a k k u ( S h a fir a A y u P e r m a t a s a r i, A y u n d a Ta s y a H a p s a r i, Fa u z i S u lis t io N u g r a h a n t o ) y a n g k u r a n g b a n y a k

m e n d a p a t k a s ih s a y a n g s e la m a p r o s e s s t u d y , y a n g k u h o r m a t i ib u n d a Le ly S u s t ija h & a y a h m e r t u a

P r o f. D R . H . Is w a n t o , S .H

s e r t a k a k a k k u Ir . S u lis t y o r i n i, M S i y a n g t e la h b a n y a k m e m b e r ik a n d u k u n g a n n a s e h a t & d o a ,

a lm a m a t e r k u s e r t a s a h a b a t -s a h a b a t k u , r e k a n -r e k a n m a h a s is w a P W L 2 0 0 6

t e r im a k a s ih a t a s s e m u a d u k u n g a n d a n k e b e r s a m a a n k it a

(12)

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Tema penelitian yang dilaksanakan sejak bulan Juni 2007 ini adalah pengembangan wilayah perdesaan di Kabupaten Banyumas, dengan judul Model Pengembangan Wilayah dengan Pendekatan Agropolitan (Studi Kasus Kabupaten Banyumas).

Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada:

1. Dr. Ir. Sunsun Saefulhakim, M.Agr, dan Didit Okta Pribadi, S.P, M.Si, sebagai Komisi Pembimbing yang telah melakukan pembimbingan dan pengarahan dengan penuh tanggung jawab.

2. Dr. Ir. Muntoha Selari, M.S selaku Penguji Luar Komisi, terima kasih atas segala masukan dan saran dalam penyempurnaan tesis ini.

3. Dr. Ir. Ernan Rustiadi, M.Agr selaku Ketua Program Studi dan seluruh staf pengajar dan pengelola Program Studi Ilmu Perencanaan Wilayah.

4. Pusbindiklatren Bappenas selaku sponsor yang memberikan beasiswa untuk tugas belajar S-2 13 bulan.

5. Pemerintah Daerah Kabupaten Banyumas yang telah memberikan ijin dan dukungan moral untuk mengikuti tugas belajar.

6. Teman-teman kelas khusus dan reguler Program Studi Ilmu Perencanaan Wilayah tahun 2006.

7. Semua pihak yang telah memberikan bantuan dalam proses penulisan karya ilmiah ini yang tidak dapat disebutkan satu persatu.

Penulis menghaturkan rasa hormat dan terima kasih tak terhingga kepada ibunda yang selalu memberikan dukungan doa, Istri dan anak-anak tercinta, serta seluruh keluarga, terima kasih atas segala pengorbanan, doa, kasih sayang, dan semangat yang telah diberikan selama ini.

Semoga karya ilmiah ini bermanfaat. Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Bogor, Februari 2008

SULISTIONO

(13)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Kota Tulungagung Propinsi Jawa Timur pada tanggal 28 Februari 1968, putra kedua dari dua bersaudara pasangan alm Suprijono dan Lely sustijah. Pendidikan Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah Atas diselesaikan penulis di Kota Madiun Jawa Timur. Gelar Sarjana Peternakan diperoleh penulis dari Universitas Soedirman Purwokerto Jawa Tengah, jurusan Produksi Ternak pada tahun 1993. Pada tahun 1994 penulis diterima sebagai Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Departemen Pertanian dan ditugaskan di Dinas Peternakan Propinsi Jawa Timur. Pada tahun 1995 penulis di tugaskan di Dinas Peternakan Kabupaten Pacitan Propinsi Jawa Timur sampai tahun 2000. Tahun 2000 sampai saat ini tercatat sebagai pegawai Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Banyumas Propinsi Jawa Tengah.

(14)

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR TABEL ... xv

DAFTAR GAMBAR ... xviii

DAFTAR LAMPIRAN ... xx

PENDAHULUAN Latar Belakang ………... 1

Perumusan Masalah ………... 6

Tujuan Penelitian ……….. 12

Manfaat Penelitiaan ………. 12

TINJAUAAN PUSTAKA Konsep Wilayah dan Pusat Pertumbuhan ……… 14

Konsep Wilayah dan Pengembangan Wilayah ……… 14

Teori Lokasi dan Pusat Pertumbuhan ... 16

Pembangunan Berkelanjutan ………. 18

Konsep Pembangunan Berkelanjutan ... 18

Dimensi Pembangunan Berkelanjutan ... 21

Pembangunan Pertanian Perdesaan yang Berkelanjutan ……... 23

Agropolitan ... 26

Pengertian Agropolitan ... 27

Batas Kawasan Agropolitan ... 28

Penggunaan Model ... 30

METODOLOGI PENELITIAAN Kerangka Berpikir ………... 32

Pembangunan Pertanian dan Perdesaan ... 32

Agropolitan Sebagai Pendekatan Lintas Sektoral ... 33

Keterpaduan Subsistim dalam Agropolitan ... 34

Lokasi dan Waktu Penelitian ……….. 37

Metode Pengumpulan Data ………... 37

Metode Analisis ………... 39 Analisis Identifikasi Variabel Indikator Kinerja Sistim Agropolitan dan Kinerja Pembangunan Ekonomi Daerah ...

(15)

Indeks-Indeks Komposit Kinerja Sistim Agropolitan dan Kinerja Pembangunan Ekonomi Daerah dengan Principal Componen Analysis (PCA) ...

44

Pewilayahan dan Tipologi Wilayah Sistim Agropolitan dan Kinerja

Pembangunan Ekonomi Daerah dengan Cluster Analisis ... 46

Struktur Keterkaitan antara Kinerja Sistim Agropolitan dan Kinerja Pembangunan Ekonomi Daerah ... 48

GAMBARAN UMUM KONDISI WILAYAH KABUPATEN BANYUMAS Keadaan Geografis ………... 54

Pemerintahan ………... 55

Penduduk dan Tenaga Kerja ……….. 56

Sosial ……….. 58

Pertanian ……… 59

Industri dan Energi ……… 63

Perdagangan ………. 64

Transportasi dan Komunikasi ………. 66

Keuangan dan Harga-Harga ………... 67

Pendapatan Regional ………... 68

HASIL DAN PEMBAHASAN Konfigurasi Spasial Karakteristik Wilayah ………. 70

Pewilayahan dan Tipologi Wilayah Kinerja Pembangunan Ekonomi Daerah ………... 70

Pewilayahan dan Tipologi Wilayah Kinerja Sistim Agropolitan ………… 77

Pewilayahan dan Tipologi Wilayah Kinerja Sumberdaya Manusia dan Sosial ………... 77

Pewilayahan dan Tipologi Kinerja Pengendalian Ruang ... 84

Pewilayahan dan Tipologi Kinerja Sumberdaya Alam ….. …………. 89

Pewilayahan dan Tipologi Kinerja Penganggaran Belanja ... 96

Pewilayahan dan Tipologi Kinerja Infrastruktur dan Fasilitas Publik . 101 Pewilayahan dan Tipologi Kinerja Aktifitas Ekonomi ... 109

(16)

Model Kinerja Pembangunan Ekonomi Daerah Berdasarkan Pangsa

Sektor Pertanian dan Perdagangan ... 122

Model Kinerja Pembangunan Ekonomi Daerah : Laju Pertumbuhan Ekonomi,Rataan Produktifitas Penduduk dan Rataan Produktifitas Lahan ... 126

Model Kinerja Pembangunan Ekonomi Daerah : Pangsa Sektor Keuangan dan Persewaan ... 130

Model Kinerja Pembangunan Ekonomi Daerah : Pangsa Sektor Industri Terhadap PDRB ... 134

Model Kinerja Pembangunan Ekonomi Daerah : Pangsa Angkatan

Kerja Menganggur ...

137

PEMBAHASAN UMUM DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN PENGEMBANGAN WILAYAH DENGAN PENDEKATAN AGROPOLITAN ... 146

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan ... 165

Saran ... 169

DAFTAR PUSTAKA ... 170

(17)

DAFTAR TABEL

Nomor Halaman

1. PDRB dan PDRB per Kapita Atas Dasar Harga Berlaku dari keca-

matan Dominan di Kabupaten Banyumas Tahun 2005 ... 9

2.

Tujuan, Metode Analisis, Data, Sumber Data dan Output ...

38

3. Laju Pertumbuhan Penduduk Menurut Kecamatan Akhir Tahun 2005 57

4. Banyaknya Murid, Sekolahan dan Guru SD, SLTP dan SLTA Menurut Kecamatan ... 58

5. Jumlah FasilitasKesehatan dan KB ... 59

6. Produksi Tanaman Perkebunan yang Dominan ……….. 60

7. Populasi Ternak Besar, Kecil dan Unggas ... 61

8. Luas Panen dan Produksi Sayur-Sayuran ……… 62

9. Luas Areal Tempat Penangkapan dan Produksi Ikan ………. 63

10. Banyaknya Perusahaan Industri, Tenaga Kerja, Nilai Produksi dan Investasi ……….. 63

11. Banyaknya Air Minum yang Disalurkan oleh PDAM ... 64

12. Panjang Jalan Kabupaten Menurut Jenis Permukaannya ... 66

13. Banyaknya Pengunjung Obyek Wisata ……….. 67

14. PDRB per Sektor ………... 68

15. Laju Pertumbuhan PDRB Menurut Sektor ………. 69

16. Nilai Eigenvalue Tiap Faktor Hasil Analisis Komponen Utama Terha- dap Variabel – Variabel Indikator Kinerja Pembangunan Ekonomi Daerah ... 71

17. Nilai Factor loading Tiap Variabel Indikator Kinerja Pembangunan Ekonomi Daerah ... 72

18. Kelompok Kecamatan Hasil Analisis Tipologi Kinerja Pembangunan Ekonomi Daerah ... 76

19. Nilai Eigenvalue Tiap Faktor Hasil Analisis Komponen Utama terha- dap Variabel – Variabel Indikator Sumberdaya Manusia dan Sosial ... 77

(18)

21. Kelompok Kecamatan Hasil Analisis Tipologi Kinerja Sumberdaya

Manusia dan sosial di Kabupaten Banyumas ... 83 22. Nilai Eigenvalue Tiap Faktor Hasil Analisis Komponen Utama Terha-

dap Variabel – Variabel Indikator Kinerja Pengendalian Ruang ... 84

23. Nilai Factor Loading Tiap Variabel Indikator Kinerja Pengendalian Ruang

85

24. Kelompok Kecamatan Hasil Analisis Tipologi Kinerja Pengendalian

Ruang ... 88 25. Nilai Eigenvalue Tiap Faktor Hasil Analisis Komponen Utama terha-

dap Variabel – Variabel Indikator Kinerja Sumberdaya Alam ... 89 26. Nilai Factor Loading Tiap Variabel Indikator Kinerja Sumberdaya

Alam ... 90 27. Kelompok Kecamatan Hasil Analisis Tipologi Wilayah Kinerja

Sumberdaya Alam... 95 28. Nilai Eigenvalue Tiap Faktor Hasil Analisis Komponen Utama Terha-

dap Variabel – Variabel Indikator Kinerja Penganggaran Belanja ... 96 29. Nilai Factor Loading Tiap Variabel Indikator Kinerja Penganggaran

Belanja ... 96 30. Kelompok Kecamatan Hasil Analisis Tipologi Wilayah Kinerja

Penganggaran Belanja ... 100 31. Nilai Eigenvalue Tiap Faktor Hasil Analisis Komponen Utama terha-

dap Variabel – Variabel Indikator Kinerja Infrastruktur dan Fasilitas Publik ...

101 32. Nilai Factor Loading Tiap Variabel Indikator Kinerja Infrastruktur dan

Fasilitas Publik ... 102 33. Kelompok Kecamatan Hasil Analisis Tipologi Wilayah Kinerja

Infrastruktur dan Fasilitas Publik ... 108 34. Nilai Eigenvalue Tiap Faktor Hasil Analisis Komponen Utama Terha-

dap Variabel – Variabel Indikator Kinerja Aktifitas Ekonomi

109 35. Nilai Faktor Loading Tiap Variabel Indikator Kinerja Aktifitas Ekonomi 109 36. Kelompok Kecamatan Hasil Analisis Tipologi Wilayah Kinerja Aktifitas

Ekonomi ... 114 37. Nilai Eigenvalue Tiap Faktor Hasil Analisis Komponen Utama Terha-

dap Variabel – Variabel Indikator Kinerja Sistim Agropolitan dan Kinerja Pembangunan Ekonomi Daerah ...

115 38. Nilai Faktor Loading Tiap Variabel Indikator Kinerja Sistim Agropolitan

(19)

Agropolitan dan Kinerja Pembangunan Ekonomi Daerah ... 121 40. Hasil Pengujian Model Kinerja Pembangunan Ekonomi Daerah: Varia

bel Nyata yang Mempengaruhi Sektor Pertanian dan Perdagangan ... 123 41. Hasil Pengujian Model Kinerja Pembangunan Ekonomi Daerah: Varia

bel Nyata yang Mempengaruhi Laju Pertumbuhan Ekonomi, Rataan Produktifitas Lahan dan Produktifitas Penduduk ...

126

42. Hasil Pengujian Model Kinerja Pembangunan Ekonomi Daerah: Varia bel Nyata yang Mempengaruhi Sektor Keuangan dan Persewaan ...

130 43. Hasil Pengujian Model Kinerja Pembangunan Ekonomi Daerah: Varia

bel Nyata yang Mempengaruhi Sektor Industri ... 134

44. Hasil Pengujian Model Kinerja

Pe

mbangunan Ekonomi Daerah: Varia bel Nyata yang Mempengaruhi Angkatan Kerja Menganggur ...

137

45. Hirarki Kecamatan Berdasarkan Jangkauan Pelayanan Infrastruktur dan Fasilitas Publik ...

148

46. Implikasi Kebijakan Pengembangan Wilayah dengan Pendekatan

(20)

DAFTAR GAMBAR

Nomor Halaman

1. Kerangka Permasalahan ... 11

2. Tiga Pilar Pembangunan Berkelanjutan ... 20

3. Diagram Keterkaitan Agropolitan dalam Pengembangan Wilayah ... 35

4. Kerang Pemikiran Model Pengembangan Wilayah dengan Pendekatan Agropolitan ... 36

5. Kerangka Proses Pembuatan Peta Kesesuaian Lahan Tanaman Pangan dan Hortikultural ………. 43

6. Kerangka Proses Membangun Variabel Indikator ... 44

7. Kerangka Proses Pembentukan Indeks - Indeks Komposit Kinerja Sistim Sistim Agropolitan dan Kinerja Pembangunan Ekonomi Daerah ... 45

8. Kerangka Proses Pewilayah dan Tipologi Wilayah Kinerja Sistim Agropolitan dan Kinerja Pembangunan Ekonomi Daerah ... 47

9. Kerangka Proses Struktur Keterkaitan antara Kinerja Sistim Agropo- litan dan Kinerja Pembangunan Ekonomi Daerah ... 52

10. Kerangka Penelitian ... 53

11. Peta Batas Administrasi Kabupaten Banyumas ... 55

12. Peta Kepadatan Penduduk Kabupaten Banyumas Tahun 2005 ... 58

13. Grafik Nilai Tengah Kelompok Variabel Tipologi Kinerja Pembangun- an Kinerja Pembangunan Ekonomi Daerah ... 74

14. Peta Konfigurasi Spasial Tipologi Kinerja Pembangunan Ekonomi Daerah ... 76

15. Grafik Nilai Tengah Kelompok Variabel Tipologi Kinerja Sumbedaya Manusia dan Sosial ... 82

16. Peta Konfigurasi Spasial Tipologi Kinerja Sumberdaya Manusia dan Sosial ... 84

17. Grafik Nilai Tengah Kelompok Variabel Tipologi Kinerja Pengendali- an Ruang ... 87

18. Peta Konfigurasi Spasial Tipologi Kinerja Pengendalian Ruang ... 89

19. Grafik Nilai Tengah Kelompok Variabel Tipologi Kinerja Sumberdaya Alam ... 94

(21)

21. Grafik Nilai Tengah Kelompok Variabel Tipologi Kinerja Penganggar-

an Belanja ... 99 22. Peta Konfigurasi Spasial Tipologi Kinerja Penganggaran Belanja ... 100 23. Grafik Nilai Tengah Kelompok Variabel Tipologi Kinerja Infrastruktur

dan Fasilitas Publik ... 106 24. Peta Konfigurasi Spasial Tipologi Kinerja Infrastruktur dan Fasilitas

Publik

...

108 25. Grafik Nilai Tengah Kelompok Variabel Tipologi Kinerja Aktifitas

Ekonomi ... 112 26. Peta Konfigurasi Spasial Tipologi Kinerja Aktifitas Ekonomi ... 113 27. Grafik Nilai Tengah Kelompok Variabel Tipologi Kinerja Sistim Agro-

politan dan Kinerja Pembangunan Ekonomi Daerah ... 119 28. Peta Konfigurasi Spasial Tipologi Kinerja Sistim Agropolitan dan

Kinerja Pembangunan Ekonomi Daerah ... 120 29. Model Kinerja Pembangunan Ekonomi Daerah Berdasarkan Sektor

Pertanian dan Perdagangan ... 123 30. Model Kinerja Pembangunan Ekonomi Daerah Berdasarkan Laju Per

tumbuhan Ekonomi, Produktifitas Penduduk dan Produktifitas Lahan 127 31. Model Kinerja Pembangunan Ekonomi Daerah Berdasarkan Sektor

Keuangan dan Persewaan ... 132 32. Model Kinerja Pembangunan Ekonomi Daerah Berdasarkan Sektor

Industri ... 135 33. Model Kinerja Pembangunan Ekonomi Daerah Berdasarkan

Angkatan Kerja Menganggur ... 138 34. Peta Konfigurasi Spasial Pengembangan Wilayah dengan Pendekat

(22)

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Halaman

1. Diskribsi Variabel yang Digunakan dalam Mengukur Kinerja Pembangunan Ekonomi Daerah dan Kinerja Sistim Agropolitan ... 174 2. Keterkaitan Variabel yang Digunakan dalam Mengukur Kinerja

Pembangunan Ekonomi Daerah dan Kinerja Sistim Agropolitan ... 179 3. Factor Scores Kinerja Pembangunan Ekonomi Daerah ... 184 4. Factor Scores Kinerja Pengendalian Ruang ……… 185 5. Factor Scores Kinerja Sumberdaya Manusia dan Sosial ……….. 186 6. Factor Scores Kinerja Sumberdaya Alam ……… 187 7. Factor Scores Kinerja Penganggaran Belanja ……… 188 8. Factor Scores Kinerja Infrastruktur dan Fasilitas Publik ……… 189 9. Factor Scores Kinerja Aktifitas Ekonomi ……….. 190 10. Lahan yang Sesuai Untuk Tanaman Padi, Umbi-Umbian,

Sayur-Sayuran, Kacang-Kacangan dan Buah-Buahan ... 191 11. Peta RTRW Kabupaten Banyumas ……… 192 12. Peta Penutupan Lahan Kabupaten Banyumas ... 192 13. Peta Kelas Lereng Kabupaten Banyumas ... 193 14. Peta Kesesuaian Lahan Untuk Tanaman Padi di Kabupaten

Banyumas ... 193 15. Peta Kesesuaian Lahan Untuk Tanaman Umbi-Umbian (Ubi Kayu)

di Kabupaten Banyumas ……….. 194 16. Peta Kesesuaian Lahan Untuk Tanaman Kacang-Kacangan (Kacang

Tanah) di Kabupaten Banyumas ……… 194 17. Peta Kesesuaian Lahan Untuk Tanaman Sayur-Sayuran (Kacang

Panjang) di Kabupaten Banyumas ... 195 18. Peta Kesesuaian Lahan Untuk Tanaman Buah – Buahan (Rambutan)

(23)

Daerah di Wilayah Tetangga yang Berbatasan Langsung (W1) dan

Kinerja Pembangunan Ekonomi Daerah di Wilayah Sekitar dalam Satu Kawasan ( W2 ) ... 204

25. Variabel – Variabel Penjelas (X) Kinerja Sumberdaya Alam di

Wilayah Sendiri ... 206 26. Variabel – Variabel Penjelas (X) Kinerja Sumberdaya Alam di

Wilayah Tetangga yang Berbatasan Langsung (W1) dan Kinerja

Sumberdaya Alam di Wilayah Sekitar dalam Satu Kawasan (W2 ) ... 207

27. Variabel – Variabel Penjelas (X) Kinerja Sumberdaya Manusia dan Sosial di Wilayah Sendiri ... 208 28. Variabel – Variabel Penjelas (X) Kinerja Sumberdaya Manusia dan

Sosial di Wilayah Tetangga yang Berbatasan Langsung (W1) dan

Kinerja Sumberdaya Manusia dan Sosial di Wilayah Sekitar dalam Satu Kawasan (W2 ) ... 209

29. Variabel – Variabel Penjelas (X) Kinerja Pengendalian Ruang di Wilayah Sendiri ... 210 30. Variabel – Variabel Penjelas (X) Kinerja Pengendalian Ruang di

Wilayah Tetangga yang Berbatasan Langsung (W1) dan Kinerja

Pengendalian Ruang di Wilayah Sekitar dalam Satu Kawasan (W2) 211

31. Variabel – Variabel Penjelas (X) Kinerja Penganggaran Belanja di Wilayah Sendiri ... 212 32. Variabel – Variabel Penjelas (X) Kinerja Penganggaran Belanja di

Wilayah Tetangga yang Berbatasan Langsung (W1) dan Kinerja

Penganggaran Belanja di Wilayah Sekitar dalam Satu Kawasan (W2) 213

33. Variabel – Varabel Penjelas (X) Kinerja Aktifitas Ekonomi di Wilayah Sendiri ... 214 34. Variabel – Variabel Penjelas (X) Kinerja Aktifitas Ekonomi di Wilayah

Tetangga yang Berbatasan Langsung (W1) dan Kinerja Aktifitas

Ekonomi di Wilayah Sekitar dalam Satu Kawasan (W2) ... 214

35. Variabel – Variabel Penjelas (X) Kinerja Infrastruktur dan Fasilitas Publik di Wilayah Sendiri ... 215 36. Variabel – Variabel Penjelas (X) Kinerja Infrastruktur dan Fasilitas

Publik di Wilayah Tetangga yang Berbatasan Langsung (W1) dan

Kinerja Infrastruktur dan Fasilitas Publik di Wilayah Sekitar dalam Satu Kawasan (W2 ) ... 216

37. Variabel-Variabel Indikator Penyusun Kebijakan Strategis Pengembangan Wilayah dengan Pendekatan Agropolitan ……… 217 38. Eugenvalues dari Variabel-Variabel Penyusun Kebijakan Strategis

(24)

Pengembangan Wilayah Dengan Pendekatan Agropolitan ………….. 222 40. Factor Score dari Variabel-Variabel Penyusun Kebijakan Strategis

Pengembangan Wilayah Dengan Pendekatan Agropolitan ………….. 223 41. Grafik Nilai Tengah Kelompok variabel Penyusun Hirarki Pusat-Pusat

(25)

1

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Penekanan pembangunan pada sektor modern perkotaan telah terbukti

meningkatkan pertumbuhan di sektor dan lokasi yang hanya memiliki tingkat

produktifitas tinggi. Laju pertumbuhan investasi dan akumulasi modal hanya

terpusat di sektor modern tersebut. Konsep tersebut menginspirasikan

terbentuknya pusat-pusat pertumbuhan di perkotaan (growth pole economy).

Diharapkan dengan terbentuknya pusat-pusat pertumbuhan tersebut akan terjadi

proses penetesan pembangunan ke daerah-daerah belakang (trickle down

process) dan pemerataan akan terjadi secara "otomatis" dari kutub-kutub

pertumbuhan ke daerah belakang tersebut (hinterland). Namun pada

kenyataannya penetesan pembangunan itu tidak terjadi, dan yang terjadi adalah

pengurasan sumberdaya yang dimiliki daerah oleh pusat secara besar-besaran

(massive backwash effect). Paradigma pembangunan yang urban biased tersebut

telah menimbulkan berbagai persoalan seperti terjadinya urbanisasi yang

berlebihan (over urbanization) karena akumulasi kapital yang berada di perkotaan.

Urbanisasi yang berlebihan tersebut pada akhimya menimbulkan berbagai

persoalan di kota dan yang terjadi bukan lagi economies of scale (economies of

agglomeration) namun justru diseconomies of scale. Kota-kota besar tumbuh

dengan cepat sebagai pusat pertumbuhan wilayah yang sering mengabaikan

fungsinya untuk memberikan

pelayanan kepada daerah hinterland

Di lain pihak, daerah-daerah belakang menjadi kekurangan sumberdaya

akibat pengurasan yang dilakukan oleh kota, baik itu sumberdaya alam,

sumberdaya manusia dan sumberdaya modal yang merupakan penentu

kemajuan dan pembangunan. Akibatnya kesenjangan spasial antara perkotaan

dan perdesaan terjadi dan terakumulasi dari waktu ke waktu. Selain itu

kegagalan pemerintah di masa lalu disebabkan karena begitu kuatnya dominasi

pemerintah pusat yang mengarah kepada terjadinya kerusakan moral (moral

hazard). Kebijakan yang ditempuh bersifat top down dan seringkali tidak sesuai

dengan kebutuhan daerah (lokal). Kebijakan yang sentralistik dan adanya

(26)

2

tidak efisien,dan seringkali merusak tatanilai yang dianut oleh masyarakat,

sehingga kemampuan dan daya kreasi masyarakat menjadi lumpuh, masyarakat

menjadi tidak memiliki inovasi dalam mengembangkan diri dan daerahnya.

Pemerintahan yang sentralistik dengan kekuasaan dan kewenangan yang sangat

luas telah memberikan kesempatan kepada oknum pemerintah yang

tidak bertanggung jawab dengan berperilaku yang mendahulukan kepentingan

dirinya sendiri dari pada kepentingan masyarakat luas. Mereka berusaha selalu

mengejar keuntungan yang sebesar-besarnya (rent seeking), sehingga

menyebabkan terjadinya kegagalan pasar (market failure) dan juga dapat

menyebabkan terjadinya kegagalan pemerintah (government failure). Perilaku

tersebut telah menghambat terjadinya perubahan dinamik guna melakukan

penyesuaian penyesuaian ekonomi (economic adjustment) yang diperlukan dan

pada akhirnya perilaku para pencari rente (rent seekers) akan merugikan

kepentingan masyarakat keseluruhan. Berdasarkan pengalaman berbagai

kegagalan tersebut, maka diperlukan perubahan paradigma pembangunan

wilayah yang lebih membatasi kekuasaan pemerintah hanya kepada

bidang-bidang yang disebut "public good" .

Secara definisi pembangunan wilayah adalah suatu proses perubahan

terencana ke arah semakin tersedianya alternatif-alternatif bagi setiap orang untuk

memenuhi tujuan-tujuan yang paling humanistik sesuai dengan perkembangan tata

nilai dan norma-norma yang dijunjung tinggi di dalam masyarakat. Jadi

Pembangunan yang dilaksanakan disuatu wilayah / daerah harus lebih

didasarkan pada pencapaian tujuan-tujuan pembangunan secara optimal (sesuai

dengan harapan dan kebutuhan stakeholder dan tolak ukur pembangunan

menjadi penting dalam penentuan tingkat keberhasilan/perkembangan proses

pembangunan.

Tolok ukur kinerja pembangunan daerah :

a. Pemerataan

b. Pertumbuhan : pertambahan jumlah, jenis, besaran jenis, dan magnitut

c. Keterkaitan : semakin luas dan kuatnya bentuk-bentuk keterkaitan baik antar

lokasi, antar sektor, antar stakeholder dan sebagainya di dalam proses

(27)

3

d. Keberimbangan : struktur keterkaitan yang semakin simetris atau saling

memperkuat, semakin berkurangnya kesenjangan baik antar wilayah, antar

sektor maupun antar pihak (sesuai dengan kebutuhan, kapasitas, fungsi sifat)

e. Kemandirian : semakin meningkat dan berkembangnya kapasitas

masing-masing subsistim di suatu wilayah yang muncul dari dalam, akan semakin kuat

berkembangnya kapasitas atau daya tumbuh internal

f. Keberlanjutan : proses perubahan untuk pemenuhan saat ini tidak

mengorbankan kapasitas tujuan jangka panjang.

Paradigma baru pembangunan yang lebih menitikberatkan kepada

pemerataan dan peran serta aktif masyarakat dimulai dengan diberlakukannya

Undang-Undang No. 22 tahun 1999 mengenai Pemerintahan Daerah dan UU No

25 tahun 1999 mengenai Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah. Dengan

Undang-undang yang baru ini maka pembangunan akan lebih menitikberatkan

kepada aspek desentralisasi. Dalam hubungannya dengan desentralisasi

tersebut otonomi daerah menurut Undang-Undang nomor 22 tahun 1999 adalah

kewenangan daerah otonom untuk mengatur dan mengurus kepentingan

masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat

lokal. Secara harfiah otonomi daerah berarti hak wewenang serta kewajiban

daerah untuk mengatur rumah tangganya sendiri sesuai dengan

perundang-undangan yang berlaku.

Seluruh urusan pemerintahan akan didesentralisasikan kepada

daerah-daerah kecuali yang menyangkut urusan keuangan negara, peradilan, hubungan

luar negeri serta pertahanan dan keamanan. Dengan otonomi daerah maka

wewenang pemerintah pusat menjadi berkurang dan perencanaan, pelaksanaan

serta pembiayaan pembangunan diserahkan kepada Daerah (Kabupaten/Kota).

Tugas pemerintah pusat akan lebih terbatas, khususnya yang menyangkut

kebijaksanaan dan penentuan norma-norma, penetapan standarisasi,

penyusunan prosedur dan pengembangan human capital dan social capital.

Daerah menjadi memiliki kewenangan yang lebih luas dalam pengelolaan

sumberdaya yang dimilikinya, baik itu sumberdaya alam (natural capital),

sumberdaya manusia (human capital),sumberdaya buatan (man made capital)

(28)

4

Kewenangan yang lebih luas, nyata dan bertanggungawab tersebut diberikan

kepada daerah secara proporsional yang diwujudkan dengan pengaturan,

pembagian dan pemanfaatan sumberdaya nasional, serta perimbangan

keuangan antara pusat dan daerah, sesuai dengan prinsip demokrasi, peran

serta masyarakat, pemerataan dan keadilan, serta potensi dan keanekaragaman

daerah.

Berkurangnya kewenangan pemerintah pusat terutama dalam pembiayaan

pembangunan menuntut daerah untuk mandiri dan lebih kreatif dalam menggali

potensi sumberdaya lokal. Ciri utama yang menunjukkan bahwa suatu daerah

otonom mampu berotonomi terletak kepada kemampuannya untuk menggali

sumber-sumber keuangannya sendiri, mengelola dan menggunakannya untuk

membiayai pemerintahan daerahnya. Sehingga kondisi yang ideal adalah bahwa

ketergantungan kepada bantuan pusat haruslah seminimal mungkin dan

pendapatan asli daerah (PAD) harus menjadi bagian dari sumber keuangan

terbesar yang didukung oleh kebijaksanaan perimbangan keuangan pusat dan

daerah. PAD sebagai salah satu sumber keuangan daerah merupakan sumber

pendapatan yang berasal dari potensi ekonomi daerah itu sendiri. Untuk itu

penggalian potensi dan sumberdaya lokal mempunyai peran penting. Sehingga

harus terdapat usaha atau upaya untuk menciptakan berbagai peluang yang dapat

meningkatkan penerimaan daerah baik secara langsung maupun tidak langsung

dengan menggali potensi sumberdaya yang dimiliki. Penggalian potensi sumberdaya

wilayah merupakan prioritas utama, dengan tujuan untuk meningkatkan pendapatan

daerah yang berdasar kepada prinsip-prinsip keadilan dan kemandirian sehingga

pada akhimya akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Upaya tersebut dapat

dilakukan dengan memadukan kemampuan sumberdaya manusia (human capital)

dan pemanfaatan sumberdaya alam (natural capital) dengan meningkatkan nilai

tambahnya maupun sumberdaya buatan (man made capital) dan social capital

sehingga akan meningkatkan kemampuan daerah dalam pelaksanaan

pembangunan. Keempat aspek sumberdaya tersebut akan dapat dioptimalkan

dengan memperhatikan usaha-usaha ke arah pemberdayaan (empowerment)

terhadap masyarakat lokal (local community) dengan dukungan pasar finansial di

perdesaan (rural market financial) menuju ke arah penguatan institusi perdesaan

(29)

5

Pembangunan sektor pertanian merupakan bagian dari pembangunan

ekonomi nasional yang bertumpu pada upaya mewujudkan masyarakat Indonesia

yang sejahtera, adil dan makmur seperti yang diamanatkan dalam UUD 1945.

Karena itu pembangunan sektor pertanian sebagaimana pembangunan

perekonomian nasional harus dilakukan dengan memberdayakan potensi

sumberdaya ekonomi dalam negeri yang dimiliki, serta memperhatikan

perkembangan ekonomi dunia yang terus berkembang secara dinamis.

Pembangunan sektor pertanian dalam kerangka pembangunan nasional

dirancang melalui revitalisasi pertanian dan perdesaan yang dijabarkan dengan 7

upaya yaitu : (1) pembangunan infrastruktur pertanian dan perdesaan, (2)

pelaksanaan reforma agraria, (3) peningkatan akses petani terhadap sumberdaya

produktif dan permodalan, (4) peningkatan produktifitas dan kualitas petani dan

pertanian, (5) pengembangan diversifikasi aktifitas ekonomi perdesaan, (6)

pengembangan industrialisasi perdesaan, dan (7) peningkatan kesejahteraan dan

kualitas hidup petani dan rumah tangga petani.

Sektor pertanian mempunyai peranan yang cukup besar baik secara

langsung maupun tidak langsung dalam pembangunan perekonomian nasional.

Secara langsung, sektor pertanian memiliki peranan dalam pembentukan produk

domestik bruto (PDB), penciptaan ketahanan pangan, perolehan devisa melalui

ekspor hasil pertanian, pengentasan kemiskinan, penyediaan lapangan kerja, dan

penampung (reservoar) tenaga kerja yang kembali ke perdesaan sebagai akibat

dampak krisis, menanggulangi kemiskinan masyarakat yang semakin meningkat,

pengendalian inflasi, dan dengan tingkat pertumbuhan yang positif sektor

pertanian berperan dalam menjaga laju pertumbuhan nasional. Secara tidak

langsung, pembangunan sektor pertanian berperan dalam penciptaan iklim

ekonomi makro melalui pengaruhnya terhadap tingkat inflasi yang sebagian besar

dipengaruhi oleh dinamika harga bahan pangan, mendukung pembangunan

industri hulu melalui permintaan sarana produksi pertanian, penyediaan bahan

baku agroindustri, dan pembangunan industri hilir melalui proses pengolahan

bahan pangan dan non pangan produk pertanian yang berkualitas, serta

(30)

6

Perumusan Masalah

Orientasi pembangunan ekonomi Indonesia yang lebih menekankan pada

pertumbuhan (growth) turut memperparah ketimpangan antara desa-kota.

Ekonomi perdesaan tidak memperoleh nilai tambah (value added) yang

proporsional akibat dari wilayah perkotaan hanya sekedar menjadi pipa

pemasaran dari arus komoditas primer dari perdesaan, sehingga sering terjadi

kebocoran wilayah yang merugikan pertumbuhan ekonomi daerah itu sendiri

(Tarigan, 2003).

Dalam konteks pembangunan spasial, terjadi urban bias yang cenderung

mendahulukan pertumbuhan ekonomi melalui kutub-kutub pertumbuhan yang

diharapkan dapat menimbulkan efek penetesan (trickle down effect) ke wilayah

hinterland-nya. Ternyata net-effect-nya menimbulkan pengurasan besar

(massive backwash effect). Dengan perkataan lain, dalam konteks ekonomi

telah terjadi transfer sumberdaya dari wilayah perdesaan ke kawasan perkotaan

secara besar-besaran. Walaupun kawasan perkotaan juga berperan penting

dalam mensuplai barang-barang dan pelayanan untuk pertumbuhan dan

produktifitas pertanian.

Kegagalan pembangunan di wilayah perdesaan selain mengakibatkan

terjadinya backwash effect, juga mengakibatkan penguasaan terhadap pasar,

kapital dan kesejahteraan yang lebih banyak dimiliki oleh masyarakat perkotaan.

Sebagai akibatnya kondisi masyarakat perdesaan semakin terpuruk dalam

kemiskinan dan kebodohan. Keadaan ini juga dinyatakan oleh Yudhoyono

(2004) bahwa pembangunan yang telah berkembang selama ini melahirkan

kemiskinan dan pengangguran struktural di pertanian dan perdesaan. Untuk itu

tantangan pembangunan ke depan adalah mengintegrasikan pembangunan

pertanian dan perdesaan secara berimbang. Melihat kondisi yang demikian,

masyarakat perdesaan secara rasional mulai melakukan migrasi ke wilayah

perkotaan, yang semakin lama semakin deras (speed up proccesses), meskipun

tidak ada jaminan bahwa mereka akan mendapatkan pekerjaan, tetapi bagi

mereka kehidupan di kota lebih memberikan harapan untuk menambah

penghasilan. Keadaan ini selanjutnya menimbulkan persoalan-persoalan

terhadap masyarakat kawasan perkotaan, antara lain timbulnya pemukiman

(31)

7

buruk, menurunnya kesehatan masyarakat dan pada gilirannya akan menurunkan

produktifitas masyarakat di kawasan perkotaan.

Model pengembangan wilayah dengan pendekatan sistim agropolitan sulit

dijadikan model pembangunan yang akan dilaksanakan secara berkelanjutan

apabila tidak melibatkan peran aktif dari semua stakeholder dari awal

perencanaan hingga pasca proyek. Pengembangan wilayah dengan pendekatan

sistim agropolitan harus menyentuh (1) pembangunan fisik wilayah, seperti:

pembangunan jalan, pasar, terminal, dan lain lain , (2) sumberdaya manusia dan

sosial yaitu: koordinasi antar stakeholder dan pemahaman tentang konsep

agropolitan, (3) aspek tehnologi yaitu: pengolahan hasil pertanian dan

peralatannya.

Masalah yang potensi terjadi dalam pelaksanaan agropolitan: (1) aspek

teknologi yaitu pengolahan hasil pertanian dan peralatannya, (2) aspek ekonomi

yaitu modal dan pemasaran hasil produksi, dan (3) aspek sosial yaitu koordinasi

antar stakeholder dan pemahaman mengenai konsep agropolitan (P4W-IPB,

2004).

Berdasarkan latar belakang dan permasalahan tersebut di atas maka

perlu dilakukan kajian model pengembangan wilayah dengan pendekatan

agropolitan yang pada gilirannya dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat

dan mengurangi kemiskinan di daerah perdesaan.

Agropolitan sebagai konsep pengembangan wilayah bukan merupakan hal

baru. Dalam penelitian ini, agropolitan di definisikan sebagai salah satu sistim

pendekatan pengembangan wilayah perdesaan dengan aktifitas berbasis

budidaya pertanian, konservasi sumberdaya alam, dan pengembangan potensi

daerah dengan bingkai pembangunan berwawasan lingkungan sehingga dapat

memperkecil kesenjangan perkembangan wilayah antara perkotaan dan

perdesaan.

Sebagai konsep pendekatan pengembangan wilayah perdesaan yang

lebih mengedepankan pemderdayaan masyarakat, maka agropolitan lebih

bersifat desentralistis Penentuan jenis komoditas unggulan yang dikembangkan

dalam skala agribisnis dan agroindustri di lakukan oleh masyarakat yang

(32)

8

Demikian juga dengan pembangunan infrastruktur dalam mendukung

peningkatan produktifitas pertanian, perekonomian perdesaan dan permukiman.

Sebagai konsep pembangunan perdesaan, pengembangannya harus

disesuaikan dengan kondisi sosial budaya masyarakat yang ada sehingga

pembangunan perdesaan dapat berkelanjutan. Oleh karena itu dalam

pengem-bangan wilayah perdesaan, sistim agropolitan bisa menjadi model yang dapat

mengkaji tentang berbagai aspek, antara lain: aspek sosial, aspek ekonomi,

aspek sarana dan prasarana tehnik budidaya, dan aspek kelembagaan.

Sebagai konsep pengembangan wilayah perdesaan di Indonesia,

permasalahan yang ingin dipecahkan dalam penelitian ini adalah :

a. Masih besarnya kesenjangan pembangunan dan perbedaan kesejahteraan

masyarakat (quality of life) antar desa – kota yang diperkirakan akan

semakin meningkat di era desentralisasi dan otonomi daerah apabila

faktor-faktor penyebabnya tidak segera ditangani secara mendasar.

b. Lemahnya keterkaitan kegiatan ekonomi, baik secara sektoral maupun

spasial, yang tercermin dari kurangnya keterkaitan antar sektor pertanian

(primer) dan sektor industri pengolahan (sekunder) dan jasa penunjangnya

(tersier) di Kabupaten Banyumas

c. Terbatasnya alternatif lapangan pekerjaan berkualitas, yang ditandai dengan

terbatasnya kegiatan ekonomi diluar sektor pertanian, apakah itu pada

industri kecil yang mengolah hasil pertanian, maupun pada industri dan jasa

penunjang lainnya

d. Rendahnya kualitas sumberdaya manusia di perdesaan sehingga akan

memperlemah kelembagaan dan organisasi yang berbasis masyarakat serta

lemahnya koordinasi lintas bidang dalam pengembangan kawasan

perdesaan di Kabupaten Banyumas

e. Terjadinya kerusakan sumberdaya alam sehingga dapat mengancam

kebutuhan generasi sekarang dan generasi masa datang (berkelanjutan).

Hal ini dapat dicerminkan dengan mengetahui produktifitas ekonomi suatu

wilayah dengan melihat PDRB tiap kecamatan dan laju pertumbuhan PDRB per

kapita di tiap kecamatan kabupaten Banyumas. Ada 5 kecamatan yang

memberikan sumbangan cukup dominan terhadap perekonomian Kabupaten

(33)

9

Kecamatan Purwokerto Barat, Kecamatan Ajibarang, dan Kecamatan Wangon

(Tabel 1).

Semakin berkembang dan meluasnya kesenjangan di kabupaten Banyumas

sampai saat ini masih menjadi salah satu permasalahan pembangunan regional dan

daerah yang belum dapat diselesaikan secara baik. Salah satu indikatornya adalah

adanya kesenjangan wilayah dan antardaerah. Kesenjangan ini pada akhirnya dapat

menimbulkan masalah dalam konteks makro. Potensi konflik antar daerah/wilayah

menjadi besar terutama wilayah-wilayah yang dulu kurang tersentuh pembangunan.

Demikian pula hubungan antar wilayah telah membentuk suatu interaksi yang saling

memperlemah. Wilayah-wilayah hinterland menjadi lemah karena eksploitasi sumber

daya yang berlebihan.

Tabel 1: PDRB dan PDRB per kapita atas dasar harga berlaku dari beberapa kecamatan dominan di Kabupaten Banyumas th 2005

No. Kecamatan PDRB atas

dasar harga berlaku

(ribuan rupiah)

Peranan terhadap PDRB Kab.

Banyumas ( % )

PDRB per kapita atas dasar harga

berlaku ( Rp )

1. Purwokerto Timur 687.246.511 12,31 10.739.121

2. Cilongok 373.729.974 6,20 3.377.627

3. Purwokerto Barat 337.966.691 6,06 6.673.916

4. Ajibarang 337.272.812 6,04 3.902.415

5. Wangon 304.764.978 5,46 4.263.938

Keseimbangan pembangunan perkotaan dan perdesaan terganggu sehingga

keterkaitan kegiatan ekonomi antara perkotaan dan perdesaan tidak dapat terwujud.

Akibat lebih lanjut pembangunan perkotaan yang diarahkan agar dapat menjadi

pusat koleksi dan distribusi hasil produksi di wilayah perdesaan tidak terjadi.

Terganggunya sistim hubungan desa-kota mengakibatkan penelantaran

sumberdaya lokal. Hal ini bisa mengakibatkan ketergantungan terhadap luar negeri,

seperti masalah rawan pangan di daerah-daerah. Status rawan pangan tersebut

bukan karena tidak adanya pangan tetapi lebih karena pangannya tergantung dari

(34)

10

akibat dari pertambahan penduduk, semakin rendahnya produktifitas lahan pertanian

serta menurunnya minat petani untuk berproduksi akibat tidak adanya kebijakan

dalam meningkatkan kesejahteraan petani penghasil pangan.

Melihat kondisi yang demikian ini maka sistim agropolitan perlu

dikembangkan sebagai pendekatan pembangunan perdesaan, dengan melakukan:

1. Pengembangan kerjasama antar daerah sehingga tercipta kondisi saling

menguntungkan. Kerjasama antar daerah diarahkan dalam rangka efisiensi

pelayanan publik maupun pembangunan lainnya melalui kerjasama

pembiayaan, ataupun pemeliharaan dan pengelolaan sarana dan prasarana

sehingga dapat berbagi manfaat diantara daerah yang bekerjasama.

2. Mengembangkan ekonomi lokal yang dilakukan dengan memberi dukungan

terhadap pengembangan kawasan perdesaan dengan kegiatan pokok berupa

pembangunan jalan desa, jalan usaha tani, terminal, pasar tradisional/pasar

desa, dan sarana penunjang lainnya; meningkatkan pengembangan usaha

agribisnis.

3. Peningkatan kualitas sumberdaya manusia di perdesaan sehingga

ketergantungannya terhadap input import berkurang dengan melakukan

(35)

(36)

12

Tujuan Penelitian

Dengan memperhatikan permasalahan dan latar belakang, kemudian

dirumuskan beberapa tujuan seperti di bawah ini :

1. Menganalisis dan mengidentifikasi ukuran kinerja sistim agropolitan.

2. Menganalisis kinerja pembangunan ekonomi daerah

3. Menganalisis hubungan antara kinerja sistim agropolitan dan kinerja

pembangunan ekonomi daerah.

4. Merekomendasikan model pengembangan wilayah dengan pendekatan

agropolitan.

Manfaat Penelitian

Dengan tercapainya tujuan dari penelitian ” Model Pengembangan

Wilayah Dengan Pendekatan Agropolitan” diharapakan akan menimbulkan

manfaat bagi:

1. Revitalisasi Pembangunan Perdesaan dengan mencermati permasalahan

dan dinamika perkembangan pembangunan perdesaan, sehingga terjadi:

a. penumbuhan kegiatan ekonomi nonpertanian yang memperkuat

keterkaitan sektoral antara pertanian, industri dan jasa penunjangnya,

serta keterkaitan spasial antara kawasan perdesaan dan perkotaan

b. Peningkatan kapasitas dan keberdayaan masyarakat perdesaan agar

mereka dapat menangkap peluang pengembangan ekonomi serta

memperkuat kelembagaan dan modal sosial masyarakat perdesaan

c. Mendorong pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah di bidang

usaha unggulan daerah yang memiliki keterkaitan kuat dengan usaha ke

depan (forward linkages) dan ke belakang (backward linkages).

d. Peningkatan ketersediaan infrastruktur perdesaan dengan melibatkan

partisipasi dan peran serta masyarakat (community based development)

dalam pembangunan dan/atau pemeliharaannya.

2. Pengurangan Kesenjangan pembangunan perkotaan dan Pedesaan

Berkaitan dengan usaha mengatasi kesenjangan antara perdesaan dan

(37)

13

pembangunan perkotaan dan pembangunan perdesaan sebagai satu kesatuan

integral melalui:

a. Meningkatkan kemampuan pembangunan dan produktivitas kota-kota kecil

dan menengah untuk menggerakkan pembangunan pedesaan.

b. Mengembangkan kawasan agroindustri yang memperkuat hubungan

desa-kota.

c. Mendorong penyediaan infrastruktur dan pelayanan yang memperkuat

usaha tani dan pemasaran di perdesaan.

d. Menumbuhkan kegiatan ekonomi nonpertanian untuk memperkuat

keterkaitan sektoral antara pertanian, industri dan jasa penunjangnya, serta

keterkaitan spasial antara kawasan pedesaan dan perkotaan.

e. Meningkatkan kapasitas dan keberdayaan masyarakat pedesaan agar

dapat menangkap peluang pengembangan ekonomi.

f. Mendorong pengembangan usaha mikro, kecil dan menengah di bidang

usaha unggulan yang memiliki keterkaitan usaha kuat ke depan (forward

linkages) dan ke belakang (backward linkages).

g. Mengelola laju migrasi dari desa ke kota dengan mendorong tumbuhnya

kegiatan ekonomi nonpertanian di perdesaan.

h. Membantu upaya pengendalian pembangunan kotakota besar dan

metropolitan.

i. Kajian dan sosialisasi konsep manajemen dan koordinasi pelayanan lintas

(38)

14

TINJAUAN PUSTAKA

Konsep Wilayah dan Pusat Pertumbuhan

Konsep Wilayah dan Pengembangan Wilayah

Dalam Undang-Undang Nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang,

wilayah adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta segenap unsur

yang terkait kepadanya yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek

administratif dan atau aspek fungsional. Menurut Rustiadi, et al. (2006) wilayah

dapat didefinisikan sebagai unit geografis dengan batas-batas spesifik tertentu

dimana komponen-komponen wilayah tersebut satu sama lain saling berinteraksi

secara fungsional. Sehingga batasan wilayah tidaklah selalu bersifat fisik dan pasti

tetapi seringkali bersifat dinamis. Komponen-komponen wilayah mencakup

komponen biofisik alam, sumberdaya buatan (infrastruktur), manusia serta

bentuk-bentuk kelembagaan. Dengan demikian istilah wilayah menekankan interaksi antar

manusia dengan sumberdaya-sumberdaya lainnya yang ada di dalam suatu batasan

unit geografis tertentu. Konsep wilayah yang paling klasik (Hagget, Cliff dan Frey,

1977 dalam Rustiadi et al., 2006) mengenai tipologi wilayah, mengklasifikasikan

konsep wilayah ke dalam tiga kategori, yaitu: (1) wilayah homogen

(uniform/homogenous region); (2) wilayah nodal (nodal region); dan (3) wilayah

perencanaan (planning region atau programming region). Sejalan dengan klasifikasi

tersebut, (Glason, 1974 dalam Tarigan, 2005) berdasarkan fase kemajuan

perekonomian mengklasifikasikan region/wilayah menjadi : 1). fase pertama yaitu

wilayah formal yang berkenaan dengan keseragaman/homogenitas. Wilayah formal

adalah suatu wilayah geografik yang seragam menurut kriteria tertentu, seperti

keadaan fisik geografi, ekonomi, sosial dan politik. 2). fase kedua yaitu wilayah

fungsional yang berkenaan dengan koherensi dan interdependensi fungsional, saling

hubungan antar bagian-bagian dalam wilayah tersebut. Kadang juga disebut wilayah

nodal atau polarized region dan terdiri dari satuan-satuan yang heterogen, seperti

desa-kota yang secara fungsional saling berkaitan. 3). fase ketiga yaitu wilayah

perencanaan yang memperlihatkan koherensi atau kesatuan keputusan-keputusan

ekonomi.

Menurut Saefulhakim, dkk (2002) wilayah adalah satu kesatuan unit

(39)

15

berasal dari bahasa Arab “wālā-yuwālī-wilāyah” yang mengandung arti dasar “saling

tolong menolong, saling berdekatan baik secara geometris maupun similarity”.

Contohnya: antara supply dan demand, hulu-hilir. Oleh karena itu, yang dimaksud

dengan pewilayahan (penyusunan wilayah) adalah pendelineasian unit geografis

berdasarkan kedekatan, kemiripan, atau intensitas hubungan fungsional (tolong

menolong, bantu membantu, lindung melindungi) antara bagian yang satu dengan

bagian yang lainnya. Wilayah Pengembangan adalah pewilayahan untuk tujuan

pengembangan/pembangunan/development. Tujuan-tujuan pembangunan terkait

dengan lima kata kunci, yaitu: (1) pertumbuhan; (2) penguatan keterkaitan; (3)

keberimbangan; (4) kemandirian; dan (5) keberlanjutan.

Sedangkan konsep wilayah perencanaan adalah wilayah yang dibatasi

berdasarkan kenyataan sifat-sifat tertentu pada wilayah tersebut yang bisa bersifat

alamiah maupun non alamiah yang sedemikian rupa sehingga perlu direncanakan

dalam kesatuan wilayah perencanaan.

Pembangunan merupakan upaya yang sistematik dan berkesinambungan

untuk menciptakan keadaan yang dapat menyediakan berbagai alternatif yang sah

bagi pencapaian aspirasi setiap warga yang paling humanistik. Sedangkan menurut

Anwar (2005), pembangunan wilayah dilakukan untuk mencapai tujuan

pembangunan wilayah yang mencakup aspek-aspek pertumbuhan, pemerataan dan

keberlanjutan yang berdimensi lokasi dalam ruang dan berkaitan dengan aspek

sosial ekonomi wilayah. Pengertian pembangunan dalam sejarah dan strateginya

telah mengalami evolusi perubahan, mulai dari strategi pembangunan yang

menekankan kepada pertumbuhan ekonomi, kemudian pertumbuhan dan

kesempatan kerja, pertumbuhan dan pemerataan, penekanan kepada kebutuhan

dasar (basic need approach), pertumbuhan dan lingkungan hidup, dan

pembangunan yang berkelanjutan (suistainable development).

Pendekatan yang diterapkan dalam pengembangan wilayah di Indonesia

sangat beragam karena dipengaruhi oleh perkembangan teori dan model

pengembangan wilayah serta tatanan sosial-ekonomi, sistim pemerintahan dan

administrasi pembangunan. Pendekatan yang mengutamakan pertumbuhan tanpa

memperhatikan lingkungan, bahkan akan menghambat pertumbuhan itu sendiri

(Direktorat Jenderal Penataan Ruang, 2003). Pengembangan wilayah dengan

(40)

16

ekonomi berkelanjutan melalui penyebaran penduduk lebih rasional, meningkatkan

kesempatan kerja dan produktifitas (Mercado, 2002).

Menurut Direktorat Pengembangan Kawasan Strategis, Ditjen Penataan

Ruang, Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah (2002) prinsip-prinsip

dasar dalam pengembangan wilayah adalah :

1. Sebagai growth center

Pengembangan wilayah tidak hanya bersifat internal wilayah, namun harus

diperhatikan sebaran atau pengaruh (spred effect) pertumbuhan yang dapat

ditimbulkan bagi wilayah sekitarnya, bahkan secara nasional.

2. Pengembangan wilayah memerlukan upaya kerjasama pengembangan antar

daerah dan menjadi persyaratan utama bagi keberhasilan pengembangan

wilayah.

3. Pola pengembangan wilayah bersifat integral yang merupakan integrasi dari

daerah-daerah yang tercakup dalam wilayah melalui pendekatan kesetaraan.

4. Dalam pengembangan wilayah, mekanisme pasar harus juga menjadi prasyarat

bagi perencanaan pengembangan kawasan.

Dalam pemetaan strategic development region, satu wilayah pengembangan

diharapkan mempunyai unsur-unsur strategis antara lain berupa sumberdaya alam,

sumberdaya manusia dan infrastruktur yang saling berkaitan dan melengkapi

sehingga dapat dikembangkan secara optimal dengan memperhatikan sifat

sinergisme di antaranya (Direktorat Pengembangan Wilayah dan Transmigrasi,

2003)

Teori Lokasi dan Pusat Pertumbuhan

Teori tempat pemusatan pertama kali dirumuskan oleh Christaller (1933) dan

dikenal sebagai teori pertumbuhan perkotaan yang pada dasarnya menyatakan

bahwa pertumbuhan kota tergantung spesialisasinya dalam fungsi pelayanan

perkotaan, sedangkan tingkat permintaan akan pelayanan perkotaan oleh daerah

sekitarnya akan menentukan kecepatan pertumbuhan kota (tempat pemusatan)

tersebut. Terdapat tiga faktor yang menyebabkan timbulnya pusat-pusat pelayanan

: (1) faktor lokasi ekonomi, (2) faktor ketersediaan sumberdaya, (3) kekuatan

(41)

17

Menurut Mercado (2002) konsep pusat pertumbuhan diperkenalkan pada

tahun 1949 oleh Fancois Perroux yang mendefinisikan pusat pertumbuhan sebagai

“pusat dari pancaran gaya sentrifugal dan tarikan gaya sentripetal”. Menurut

Rondinelli (1985) dan Unwin (1989) dalam Mercado (2002) bahwa teori pusat

pertumbuhan didasarkan pada keniscayaan bahwa pemerintah di negara

berkembang dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan

dengan melakukan investasi yang besar pada industri padat modal di pusat kota.

Teori pusat pertumbuhan juga ditopang oleh kepercayaan bahwa kekuatan pasar

bebas melengkapi kondisi terjadinya trickle down effect (dampak penetesan ke

bawah) dan menciptakan spread effect (dampak penyebaran) pertumbuhan ekonomi

dari perkotaan ke pedesaan. Menurut Stohr (1981) dalam Mercado (2002), konsep

pusat pertumbuhan mengacu pada pandangan ekonomi neo-klasik. Pembangunan

dapat dimulai hanya dalam beberapa sektor yang dinamis, mampu memberikan

output rasio yang tinggi dan pada wilayah tertentu, yang dapat memberikan dampak

yang luas (spread effect) dan dampak ganda (multiple effect) pada sektor lain dan

wilayah yang lebih luas. Sehingga pembangunan sinonim dengan urbanisasi

(pembangunan di wilayah perkotaan) dan industrialisasi (hanya pada sektor

industri). Pandangan ekonomi neo-klasik berprinsip bahwa kekuatan pasar akan

menjamin ekuilibrium (keseimbangan) dalam distribusi spasial ekonomi dan proses

trickle down effect atau centre down dengan sendirinya akan terjadi ketika

kesejahteraan di perkotaan tercapai dan dimulai dari level yang tinggi seperti

kawasan perkotaan ke kawasan yang lebih rendah seperti kawasan hinterland dan

perdesaan melalui beberapa mekanisme yaitu hirarki perkotaan dan

perusahaan-perusahaan besar.

Namun demikian kegagalan teori pusat pertumbuhan karena trickle down

effect (dampak penetesan ke bawah) dan spread effect (dampak penyebaran) tidak

terjadi yang diakibatkan karena aktivitas industri tidak mempunyai hubungan

dengan basis sumberdaya di wilayah hinterland. Selain itu respon pertumbuhan di

pusat tidak cukup menjangkau wilayah hinterland karena hanya untuk melengkapi

kepentingan hirarki kota (Mercado, 2002).

(42)

18

Pembangunan Berkelanjutan

Konsep Pembangunan Berkelanjutan

Definisi konsep pembangunan berkelanjutan diinteprestasikan oleh beberapa

ahli secara berbeda-beda. Namun demikian pembangunan berkelanjutan

sebenarnya didasarkan kepada kenyataan bahwa kebutuhan manusia terus

meningkat. Kondisi yang demikian ini membutuhkan suatu strategi pemanfaatan

sumberdaya alam yang efesien. Disamping itu perhatian dari konsep pembangunan

yang berkelanjutan adalah adanya tanggungjawab moral untuk memberikan

kesejahteraan bagi generasi yang akan datang, sehingga permasalahan yang

dihadapi dalam pembangunan adalah bagaimana memperlakukan alam dengan

kapasitas yang terbatas namun akan tetap dapat mengalokasikan sumberdaya

secara adil sepanjang waktu dan antar generasi untuk menjamin kesejahteraannya.

Penyusutan yang terjadi akibat pemanfaatan masa kini hendaknya disertai

suatu bentuk usaha mengkompensasi yang dapat dilakukan dengan menggali

kemampuan untuk mensubstitusi semaksimal mungkin sumberdaya yang langka

dan terbatas tersebut sehingga pemanfaatan sumberdaya alam pada saat ini tidak

mengorbankan hak pemenuhan kebutuhan generasi yang akan datang

(intergenerational equity).

Definisi Pembangunan berkelanjutan menurut Bond et al. (2001)

pembangunan berkelanjutan didefinisikan sebagai pembangunan dari kesepakatan

multidimensional untuk mencapai kualitas hidup yang lebih baik untuk semua orang

dimana pembangunan ekonomi, sosial dan proteksi lingkungan saling memperkuat

dalam pembangunan. Bosshard (2000) mendefinisikan pembangunan

berkelanjutan sebagai pembangunan yang harus mempertimbangkan lima prinsip

kriteria yaitu: (1) abiotik lingkungan, (2) biotik lingkungan, (3) nilai-nilai budaya, (4)

sosiologi, dan (5) ekonomi. Marten (2001) mendefinisikan sebagai pemenuhan

kebutuhan sekarang tanpa mengorbankan kecukupan kebutuhan generasi

mendatang. Pembangunan berkelanjutan tidak berarti berlanjutnya pertumbuhan

ekonomi, karena tidak mungkin ekonomi tumbuh jika ia tergantung pada

keterbatasan kapasitas sumberdaya alam yang ada.

Selain itu ada pula beberapa pakar yang memberikan rumusan untuk lebih

menjelaskan makna dari pembangunan yang berkelanjutan, antara lain

(43)

19

1. Emil Salim

Pembangunan berkelanjutan atau suistainable development adalah suatu proses

pembangunan yang mengoptimalkan manfaat dari sumberdaya alam, dan

sumberdaya manusia, dengan menyerasikan sumber alam dengan manusia

dalam pembangunan (Yayasan SPES, 1992 :3)

Ada beberapa asumsi dasar serta ide pokok yang mendasari konsep

pembangunan berlanjut ini, yaitu :

a. Proses pembangunan ini mesti berlangsung secara berlanjut, terus menerus

di topang oleh sumber alam, kualitas lingkungan dan manusia yang

berkembang secara berlanjut.

b. Sumber alam terutama udara, air, dan tanah memiliki ambang batas, diatas

mana penggunaannya akan menciutkan kualitas dan kuantitasnya.

Penciutan ini berarti berkurangnya kemampuan sumber alam tersebut untuk

menopang pembangunan secara berkelanjutan, sehingga menimbulkan

gangguan pada keserasian sumber alam dengan daya manusia.

c. Kualitas lingkungan berkorelasi langsung dengan kualitas hidup. Semakin

baik kualitas lingkungan, semakin positif pengaruhnya pada kualitas hidup,

yang antara lain tercermin pada meningkatnya kualitas fisik, pada harapan

hidup, pada turunnya tingkat kematian dan lain sebagainya.

d. Pembangunan berkelanjutan memungkinkan generasi sekarang untuk

meningkatkan kesejahteraannya, tanpa mengurangi kemungkinan bagi

generasi masa depan untuk meningkatkan kesejahteraannya.

2. Ignas Kleden

Pembangunan berkelanjutan adalah pembangunan yang disatu pihak mengacu

pada pemanfaatan sumber0sumber alam maupun sumberdaya manusia secara

optimal, dan dilain pihak serta p

Gambar

Gambar 2.  Tiga Pilar Pembangunan Berkelanjutan
Gambar 3.  Diagram Keterkaitan Agropolitan dalam Pengembangan
Gambar 4:  Kerangka Pemikiran Model Pengembangan Wilayah               Dengan Pendekatan Agropolitan
Gambar 5 : Kerangka Proses Pembuatan Peta Kesesuaian Lahan Tanaman
+7

Referensi

Dokumen terkait

Memprioritaskan sektor-sektor yang memberikan peluang peningkatan lapangan kerja tinggi seperti sektor industri pengolahan, listrik dan air bersih, sektor konstruksi dan sektor

Berdasarkan pertimbangan ini, maka dalam rangka mempercepat pertumbuhan ekonomi wilayah perlu memprioritaskan sektor pertanian yang menjadi sektor pemimpin seperti sektor buah-

Secara kesuruhan dari analisis Theil Within , dapat disimpulkan bahwa sektor industri pengolahan menjadi penyebab ketimpangan intern kecamatan di 11 kecamatan; sektor

JUMLAH TENAGA KERJA SEKTOR INDUSTRI, JUMLAH INDUSTRI DAN PDRB SEKTOR INDUSTRI TERHADAP PRODUKSI SEKTOR PERTANIAN (Studi pada wilayah Kabupaten Gresik 2006 –

Berikut merupakan tabel hasil analisa Shift Share, dimana jika melihat pertumbuhan proporsional sektor pertanian, 27 kecamatan di Kabupaten Lamongan merupakan wilayah yang

Berikut merupakan tabel hasil analisa Shift Share, dimana jika melihat pertumbuhan proporsional sektor pertanian, 27 kecamatan di Kabupaten Lamongan merupakan wilayah yang

agropolitan merupakan pendekatan wilayah atau tata ruang yang memadukan pembangunan perdesaan dan perkotaan yang saling menguntungkan, berbasis pada potensi pertanian

Dalam upaya mempercepat pertumbuhan dan pengembangan wilayah, pemerintah Provinsi Gorontalo menetapkan tiga program unggulan yang diharapkan dapat memacu perkembangan