LATAR BELAKANG MASALAH
Perubahan sosial merupakan suatu proses social yang dialami masyarakat untuk meninggalkan unsur-unsur budaya dan sistem sosial yang lama menjadi yang baru terjadi akibat sifat budaya massa yang kontemporer. Munculnya kebudayaan secara instan sesuai dengan minat yang diinginkan oleh masyarakat pada waktu tertentu dengan mengikuti gelombang perubahan yang tengah terjadi di dalam masyarakat yang melingkupinya. Oleh sebab itu, perubahan sosial yang terjadi dapat memberikan perubahan pola pikir masyarakat, perilaku masyarakat, dan budaya materi yang digunakan masyarakat. Perbedaan antara perubahan sosial dengan perubahan budaya tergantung dari adanya perbedaan atas pengertian tentang masyarakat dan kebudayaan itu sendiri.
Menurut koentjraningrat (2008: 26), kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, milik diri manusia dengan belajar. Menurut Selo soemardjan dan soelaiman soemardi, mengatakan bahwa kebudayaan adalah semua hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat, Sedangkan menurut Tylor (2008: 27), budaya adalah suatu keseluruhan kompleks yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, keilmuan, hukum, adat istiadat, dan kemampuan yang lain serta kebiasaan yang didapat oleh manusia sebagai anggota masyarakat.
setiap perubahan-perubahan kebudayaan merupakan perubahan dari unsur-unsur tersebut. Di dalam kehidupan sehari-hari, perubahan-perubahan masyarakat antara perubahan-perubahan sosial dengan perubahan-perubahan kebudayaan sangat sulit dipisahkan. Tidak ada masyarakat di dunia yang tidak memiliki kebudayaan, sebaliknya tidak mungkin ada kebudayaan yang tidak terjelma dalam kehidupan masyarakat. Kebudayaan itu mencakup segenap cara berpikir dan bertingkah laku, yang timbul karena interaksi yang bersifat komunikatif seperti menyampaikan buah pikiran secara simbolis dan bukan karena warisan yang
Menurut Bungin,Burhan. (2006 ;17) . Sosiologi Komunikasi. Jakarta: Prenada, bahwa asal mula kajian komunikasi dalam sosiologi bermula dari akar tradisi pemikiran Karl Marx, dimana Marx sendiri termasuk pendiri sosiologi yang beraliran Jerman. Gagasan-gagasan awal Marx tidak pernah lepas dari pemikiran Hegel. Sementara Hegel memiliki pengaruh yang kuat terhadap Marx. Dan massa merupakan kumpulan orang banyak yang mengabaikan keberadaan individualitas/kesadaran diri, tidak terorganisir, komposisi dan batas wilayah senantiasa berubah, heterogen, serta dapat dikooptasi untuk melakukan satu tindakan (Bungin, 2006).
keuntungan sebesar-besarnya untuk kaum konglomerat media. Budaya massa juga diartikan sebagai perilaku konsumerisme. Konsumerisme yang berwujud kesenangan universal ini bersifat sementara yang mengacu pada produk budaya seperti trend dan mode yang sedang diminati oleh pasar. Dalam pembentukan budaya massa, komunikasi massa memiliki peranan yang penting dan efektif untuk mempengaruhi perilaku dan homogenitas budaya di dalam masyarakat. Komunikasi massa tersebut dijadikan sebagai wadah untuk pemasaran dan sasaran iklan. Selain itu, produk budaya semakin dikembangkan dan direkontruksi sesuai dengan selera dan citra rasa agar memunculkan minat masyarakat terhadapnya.
Pada awalnya, budaya massa mengartikan bahwa kebudayaan milik kaum mayoritas yang tidak berbudaya dan tidak berpendidikan, seperti kelas pekerja dan kaum miskin yang disebut juga mass atau masse.
Dahulu budaya massa dikatakan sebagai simbol kedaulatan cultural dari orang-orang yang tidak berpendidikan. Namun, ada istilah lain yang berlawanan dengan istilah masse kultur yaitu istilah high-mass culture yang berarti kebudayaan tinggi atau kebudayaan elit. Disebut kebudayaan elit karena istilah ini digunakan untuk menyebut atau mengacu kepada kaum terpelajar dan kelas menengah ke atas. Kaum elit tersebut memilih produk kesenian dan segala sesuatu yang berkaitan dengan pikiran dan perasaan mereka kepada pilihan jenis produk simbolik yang bernilai tinggi. Contohnya kendaraan pribadi yang mewah, fashion, dan gaya hidup kelas tinggi.
massif demi kepentingan pasar. Budaya massa lebih bersifat massal, terstandarisasi dalam sistem pasar yang anonim, praktis, dan heterogen.
Budaya massa ini sebagai akibat dari kritik atas budaya tradisional, dimana budaya tradisional ini muncul dan berasal dari masyarakat itu sendiri dan tidak terikat atau tergantung pada media massa. Budaya tradisional itu sendiri terbangun dari proses adaptasi dari interaksi kelas elit masyarakat dalam hal estetika yang sangat mengagungkan kesusatraan dan tradisi keilmuan.
Ciri-ciri dari budaya massa (Burhan Bungin,2009: 77-78):
1. Nontradisional, yaitu umumnya komunikasi massa berkaitan erat dengan budaya populer. acara-acara infotainment atau hiburan. 2. Budaya massa juga bersifat merakyat, tersebar di basis massa
sehingga tidak merucut di tingkat elite, namun apabila ada elite yang terlibat dalam proses ini maka itu bagian dari basis massa itu sendiri.
3. Budaya massa juga memproduksi seperti infotainment yang merupakan produk pemberitaan yang diperuntukan kepada massa secara meluas. Semua orang dapat memanfaatkannya sebagai hiburan umum.
4. Budaya massa sangat berhubungan dengan budaya popular sebagai sumber budaya massa. Budaya tradisional dapat menjadi budaya popular apabila menjadi budaya massa.
5. Budaya massa yang diproduksi oleh media massa membutuhkan biaya cukup besar karena dana yang besar harus menghasilkan keuntungan untuk kontinuitas budaya massa itu sendiri. Oleh karena itu, budaya massa diproduksi secara komersial agar tidak saja menjadi jaminan keberlangsungan sebuah kegiatan budaya massa namun juga menghasilkan keuntungan bagi modal yang diinvestasikan pada kegiatan tersebut.
Hal-hal penting dalam perubahan sosial menyangkut aspek-aspek sebagai berikut perubahan pola pikir masyarakat, perubahan perilaku masyarakat, perubahan budaya materi.