• Tidak ada hasil yang ditemukan

Draft Identifikasi Tanaman Teh. pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Draft Identifikasi Tanaman Teh. pdf"

Copied!
77
0
0

Teks penuh

(1)

Laporan

Hasil

Identifikasi

Kebutuhan

Pengembangan

Tanaman Teh

Tahun 2012

Laporan

Hasil

Identifikasi

Kebutuhan

Pengembangan

Tanaman Teh

Tahun 2012

Laporan

Hasil

Identifikasi

Kebutuhan

Pengembangan

Tanaman Teh

(2)

Laporan Hasil 2012

1 Identifikasi Kebutuhan Pengembangan Tanaman Teh di Kabupaten GarutTahun Anggaran 2012

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sektor pertanian merupakan salah satu aktifitas ekonomi yang banyak

diusahakan oleh masyarakat di Kabupaten Garut. Kontribusi sektor ini dapat

dilihat dari sumbangannya bagi aktifitas perkenomian sebesar 45,96% dari

total aktifitas sebesar Rp. 24,844 Triliun Rupiah atas dasar harga berlaku

pada tahun 2010 (BPS Kabupaten Garut, 2011).

Perkebunan merupakan salah satu sub sektor pertanian yang menunjang

aktifitas perekonomian di Kabupaten Garut. Walaupun secara persentase

tidak terlalu besar, namun kontribusinya diharapkan mampu memberikan

nilai tambah yang cukup besar bagi para pelakunya, yang dapat tergambar

berdasarkan Indeks Harga Implisit PDRB Kabupaten Garut tahun 2009

sebesar 211,47 yang merupakan perbandingan antara PDRB atas dasar harga

berlaku (adb) dengan PDRB atas dasar harga konstan (adh)(BPS Kabupaten

Garut, 2010a). Kondisi ini menunjukkan bahwa, perkembangan harga

komoditas perkebunan mengalami peningkatan yang cukup signifikan.

Peningkatan tersebut secara tidak langsung akan memberikan nilai tambah

bagi pendapatan para pekebun.

Secara statistik, terdapat 24 jenis tanaman perkebunan yang saat ini

dibudidayakan dan diusahakan di Kabupaten Garut. Jumlah tersebut terbagi

menjadi 3 (tiga) kelompok besar, yaitu (1) Tanaman perkebunan tahunan, 10

jenis, (2) Tanaman perkebunan semusim, 6 jenis dan (3) Tanaman

perkebunan rempah dan penyegar, 8 jenis. Jenis tanaman perkebunan

tahunan, antara lain Aren, Jambu Mete, Jarak, Kapok/Randu, Karet, Kelapa,

Kelapa Sawit, Kemiri Sunan, Kina dan Pinang. Jenis tanaman perkebunan

semusim antara lain Akarwangi, Haramay, Nilam, Serehwangi, Tembakau

dan Tebu. Adapun yang termasuk kedalam kelompok tanaman perkebunan

rempah dan penyegar adalah Panili, Cengkeh, Kakao, Kayumanis, Kopi,

Lada, Pala dan Teh. Dalam kerangka kebijakan pengembangan, Dinas

(3)

Laporan Hasil 2012

2 Identifikasi Kebutuhan Pengembangan Tanaman Teh di Kabupaten GarutTahun Anggaran 2012

perkebunan sebagai unggulan, antara lain Teh, Akarwangi, Kopi, Tebu, Karet

dan Tembakau.

Keenam jenis komoditas tersebut ditetapkan berdasarkan pertimbangan

bahwa komoditas tersebut memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif

dibanding komoditas lainnya, baik dilihat secara regional wilayah maupun

pada cakupan wilayah yang lebih luas. Grafik perkembangan luasan enam

komoditas unggulan dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Pertumbuhan luasan 6 (enam) komoditas unggulan

Gambar 1 menunjukkan, dari enam komoditas, 3 (tiga) komoditas

menunjukkan kecenderungan pertumbuhan luasan, yaitu Karet, Kopi dan

Tebu. Komoditas Akarwangi dan Tembakau mengalami stagnansi

pertumbuhan sedangkan komoditi Teh justru menunjukkan kecenderungan

penurunan luasan. Kondisi tersebut menjadi bahan pemikiran bersama untuk

tetap mempertahankan perkebunan teh yang ada di Kabupaten Garut sebagai

ciri ikon wilayah ini yang dikenal dengan julukanSwiss van Java.

Penanaman teh di Kabupaten Garut dimulai sejak 1827 melalui

pembangunan kebun percobaan di Cisurupan. Perkembangan selanjutnya

dilakukan melalui pembangunan perkebunan Waspada yang dipimpin oleh

keluarga Holle dengan administratur bernama Karel Frederick Holle. Jenis 0

200 400 600 800 1000 1200

2006 2007 2008 2009 2010 2011

AKARWANGI TEMBAKAU TEBU

(4)

Laporan Hasil 2012

3 Identifikasi Kebutuhan Pengembangan Tanaman Teh di Kabupaten GarutTahun Anggaran 2012

teh yang pertama kali ditanam di Indonesia berasal dari Cina, namun sejak

tahun 1877 jenis ini digantikan oleh tehAssamyang berasal dari Srilanka dan

ditanam di kebun Gambung, Jawa Barat pertama kali oleh R.E. Kerkhoven.

Selain berfungsi sosial dan ekonomi, tanaman ini juga memiliki fungsi

didalam mempertahankan kondisi lingkungan, yaitu mereduksi erosi serta

mampu menyerap gas rumah kaca (CO2) sebanyak 2,5 ton CO2 per

hektar/tahun (Rosyadi, 2001 dalam Ditjenbun, 2007).

Berdasarkan kondisi tersebut, Dinas Perkebunan Kabupaten Garut

melaksanakan kegiatan Identifikasi Kebutuhan Pengembangan Tanaman

Teh sebagai salah satu upaya membangun sinergitas diantara pemangku

kepentingan untuk mempertahankan dan mengembangkan tanaman teh di

Kabupaten Garut.

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian yang tertuang dalam latar belakang, terungkap

beberapa permasalahan yang perlu dicarikan solusi pemecahannya.

Permasalahan utama yang tergambar adanya kecenderungan penurunan

luasan komoditi teh yang diusahakan oleh para pekebun di Kabupaten Garut.

Perlu diperdalam lebih jauh, apakah permasalahan tersebut terkait dengan

pemenuhan aspek sumberdaya yang ada serta rencana tindak lanjut yang

perlu dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut.

C. Maksud dan Tujuan

Maksud dilaksanakan kegiatan Identifikasi Kebutuhan Pengembangan

Tanaman Teh adalah untuk memperoleh gambaran mengenai kondisi

perkebunan teh di Kabupaten Garut, khususnya perkebunan teh rakyat

sebagai salah satu bahan acuan bagi para penentu kebijakan untuk

merumuskan kebijakan pengembangan komoditi teh. Adapun tujuan yang

ingin dicapai melalui kegiatan ini antara lain:

1. Membangun data dasar perkebunan teh yang meliputi aspek sumberdaya

fisik lahan dan iklim, sumberdaya modal, sumberdaya manusia,

(5)

Laporan Hasil 2012

4 Identifikasi Kebutuhan Pengembangan Tanaman Teh di Kabupaten GarutTahun Anggaran 2012

2. Menyusun profil wilayah sebagai sentra produksi, wilayah pengembangan

maupun wilayah perluasan baru, dan

3. Merumuskan rencana kebutuhan pengembangan secara deskriptif maupun

spasial berdasarkan data yang dikumpulkan untuk jangka waktu

(6)

Laporan Hasil 2012

5 Identifikasi Kebutuhan Pengembangan Tanaman Teh di Kabupaten Garut Tahun Anggaran 2012

II.

PENYELENGGARA KEGIATAN

A. Dasar Pelaksanaan

Beberapa landasan hukum yang dijadikan sebagai acuan dalam

pelaksanaan kegiatanIdentifikasi Kebutuhan Pengembangan Tanaman Teh

dapat diuraikan sebagai berikut:

Aspek Kewenangan:

a. Undang-undang Nomor 18 Tahun 2004 tentang Perkebunan;

b. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah

(Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 125 Tambahan Lembaran Negara

Nomor 4421);

c. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan

Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi dan

Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Tahun 2007

Nomor 82 Tambahan Lembaran Negara Nomor 4737);

d. Peraturan Daerah Kabupaten Garut Nomor 14 Tahun 2008 tentang

Urusan Pemerintah Daerah Kabupaten Garut (Lembaran Daerah Tahun

2008 Nomor 27);

e. Peraturan Daerah Kabupaten Garut Nomor 28 Tahun 2008 tentang

Pembentukan dan Susunan Organisasi Dinas Daerah Kabupaten Garut

(Lembaran Daerah Tahun 2008 Nomor 39), dan

f. Peraturan Bupati Nomor 411 Tahun 2008 tentang Tugas Pokok, Fungsi

dan Tata Kerja Dinas Perkebunan Kabupaten Garut.

Aspek Perencanaan:

a. Rencana Strategis Pembangunan Perkebunan Tahun 20092014, dan

b. Rencana Strategis Dinas Perkebunan Tahun 20092014, dan

Aspek Penganggaran:

a. Undang-undang Nomor 22 Tahun 2011 tentang Anggaran Pendapatan

dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2012 (Lembaran Negara Tahun

(7)

Laporan Hasil 2012

6 Identifikasi Kebutuhan Pengembangan Tanaman Teh di Kabupaten Garut Tahun Anggaran 2012

b. Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2008 tentang Dekonsentrasi dan

Tugas Pembantuan (Lembaran Negara Tahun 2008 Nomor 20 Tambahan

Lembaran Negara Nomor 4816), dan

c. Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) Tugas Pembantuan program

Peningkatan Produksi, Produktivitas dan Mutu Tanaman Perkebunan

Berkelanjutan Nomor: 5846/018-05.4.01/12/2012 tanggal 09 Desember

2011.

Aspek Pelaksanaan:

a. Petunjuk Operasional Kegiatan (POK) program Peningkatan Produksi,

Produktivitas dan Mutu Tanaman Perkebunan Berlanjutan Tahun

Anggaran 2012

b. Pedoman Teknis Identifikasi Kebutuhan Pengembangan Tanaman

Rempah dan Penyegar, Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian

Pertanian Tahun 2011, dan

c. Pedoman Identifikasi Kebutuhan Pengembangan Sumberdaya Tanaman

Rempah dan Penyegar, Direktorat Tanaman Rempah dan Penyegar

Direktorat Jenderal Perkebunan Tahun 2011

B. Organisasi Pelaksana

Dilaksanakan oleh Dinas Perkebunan Kabupaten Garut dengan tugas

utama sebagai berikut:

1. Penyiapan Petunjuk Teknis (JUKNIS) pelaksanaan Identifikasi

Kebutuhan Pengembangan Sumberdaya Tanaman Teh;

2. Sosialisasi JUKNIS kegiatan;

3. Bimbingan dan pendampingan pelaksanaan kegiatan identifikasi;

4. Pelaksanaan kegiatan identifikasi;

5. Pengolahan data dan analisis data hasil identifikasi, dan

6. Penyusunan rencana kebutuhan pengembangan tanaman teh sesuai

dengan kerangka penulisan yang terdapat dalam JUKNIS kegiatan;

7. Mendiskusikan rencana kebutuhan pengembangan jangka panjang dan

(8)

Laporan Hasil 2012

7 Identifikasi Kebutuhan Pengembangan Tanaman Teh di Kabupaten Garut Tahun Anggaran 2012

maksud penyempurnaan rencana serta menjalin komitmen bersama dan

dukungan pembiayaan pelaksanaan sesuai kewenangan pihak terkait;

8. Menyampaikan proposal rencana pengembangan tanaman teh kepada

Provinsi, dan

9. Pengurusan fasilitasi anggaran dukungan Pemerintah Daerah

Provinsi/Kabupaten.

Adapun alur kerja kegiatan ini dapat diuraikan seperti terlihat pada

Gambar 2.

Gambar 2. Alur proses Identifkasi Kebutuhan Pengembangan Sumberdaya

(9)

Laporan Hasil 2012

8 Identifikasi Kebutuhan Pengembangan Tanaman Teh di Kabupaten Garut Tahun Anggaran 2012

Rapat persiapan dilaksanakan setelah kegiatan pengumpulan bahan

dilaksanakan. Tujuan pelaksanaan kegiatan ini adalah membahas persiapan

yang telah dilaksanakan serta penjelasan umum terkait teknik dan metode

pengambilan data yang akan dilaksanakan. Peserta yang diundang dalam

kegiatan ini adalah para petugas di tingkat lapangan yang wilayahnya terdapat

tanaman teh.

Tahapan pengumpulan data primer dilaksanakan oleh petugas

kecamatan. Bahan yang dikumpulkan adalah data pada tingkat kelompok

yang meliputi aspek sumberdaya alam, kelembagaan, permodalan dan aspek

lain sebagai pendukung. Alat yang digunakan adalah form kuesioner yang

telah disusun dan digandakan pada tahap sebelumnya.

Data yang telah dikumpulkan, kemudian dikelompokkan agar

mempermudah dalam pengolahan dan analisis. Metode analisis yang

digunakan mengacu kepada analisis yang tertuang dalam pedoman Direktorat

Tanaman Rempah dan Penyegar.

Hasil analisis dan pengolahan data dijadikan sebagai bahan dalam rapat

pembahasan untuk mempertajam hasil analisis dan pengolahan yang telah

dilaksanakan sebelumnya. Peserta yang diundang dalam rapat pembahasan

ini adalah pegawai Dinas Perkebunan Kabupaten Garut pada tingkat

lapangan.

Hasil pembahasan yang dilaksanakan dijadikan sebagai bahan

penyusunan draf naskah identifikasi beserta dengan kelengakapan peta yang

telah diverifikasi pada tingkat lapangan. Pada tahap pembahasan selain

melibatkan unsur Dinas Perkebunan Kabupaten Garut juga melibatkan unsur

lain (narasumber) yang berasal dari luar dinas.

Draf naskah identifikasi yang telah direvisi merupakan naskah laporan

final kegiatan identifikasi kebutuhan pengembangan sumberdaya tanaman

rempah dan penyegar. Selain naskah laporan yang bersifat teks, hasil lainnya

adalah peta kabupaten yang berisi gambaran spasial kondisi tanaman teh di

Kabupaten Garut beserta arahan pengembangan yang akan dilaksanakan pada

(10)

Laporan Hasil 2012

9 Identifikasi Kebutuhan Pengembangan Tanaman Teh di Kabupaten Garut Tahun Anggaran 2012

III.

A. Letak Wilayah

Kabupaten

bagian Selatan de

Lintang Selatan

administratif, ber

Barat, Kabupaten

sebelah Timur da

9 Identifikasi Kebutuhan Pengembangan Tanaman Teh di Kabupaten Garut Tahun Anggaran 2012

I. GAMBARAN UMUM WILAYAH

ayah

en Garut merupakan salah satu wilayah di Provi

n dengan posisi geografis berada pada 6o59’49 an dan 107o25’8” – 108o7’30” Meridian Ti berbatasan dengan Kabupaten Cianjur dan Bandun

ten Sumedang di sebelah Utara, Kabupaten

dan Samudera Hindia di sebelah Selatan seba

3.

Gambar 3. Letak Geografis

kan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor

dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan,

rut adalah 307.407 hektar, yang terbagi menjadi

Laporan Hasil 2012

(11)

Laporan Hasil 2012

10 Identifikasi Kebutuhan Pengembangan Tanaman Teh di Kabupaten Garut Tahun Anggaran 2012

dan terdiri dari 21

wilayah kecamat

dari dataran tingg

besar permukaan

10 Identifikasi Kebutuhan Pengembangan Tanaman Teh di Kabupaten Garut Tahun Anggaran 2012

21 kelurahan serta 403 desa. Kecamatan Cibal

atan dengan luasan terbesar, yaitu 6,99%

dangkan Kecamatan Tarogong Kidul merupa

ngan luasan terkecil, yaitu 0,55% dari tota

oporsi 10 kecamatan dengan luasan terbesar da

r 4. Proporsi 10 kecamatan terluas di Kabupate

istik topografi wilayah Kabupaten Garut sebel

nggi dan pegunungan, sedangkan di bagian S

an memiliki tingkat kecuraman sampai dengan

pat kondisi tanahnya dalam keadaan labil.

nalisis menunjukkan, bahwa sebagian besar w

ketinggian tempat 500–1.500 meter dari permuka

26,8% terletak pada ketinggian < 500 m dpl

erada pada ketinggian > 1.500 m dpl. Se

agian besar (57,47%) merupakan dataran tingg

n 42,52% merupakan dataran rendah (< 700 m dpl). 7%

10 Identifikasi Kebutuhan Pengembangan Tanaman Teh di Kabupaten Garut Tahun Anggaran 2012

balong merupakan

6,99% dari total luas

erupakan wilayah

otal luas wilayah

dapat dilihat pada

paten Garut

belah Utara terdiri

n Selatan sebagian

ngan terjal serta pada

wilayah (> 60%)

ukaan lau (m dpl)

dpl serta 12,1%

Secara kelompok

nggi (> 700 mdpl)

(12)

Laporan Hasil 2012

11 Identifikasi Kebutuhan Pengembangan Tanaman Teh di Kabupaten Garut Tahun Anggaran 2012

Gambar 5 m

besar berada di

Utara, Dataran Re

Di wilayah

lebih dari 1.000 m

Papandayan dan

Garut bagian Se

dibandingkan den

oleh 2 (dua) kela

masing kelas keti

Laporan Hasil 2012

11 Identifikasi Kebutuhan Pengembangan Tanaman Teh di Kabupaten Garut Tahun Anggaran 2012

Gambar 5. Kelompok ketinggian tempat

5 menunjukkan, bahwa letak wilayah Dataran R

di wilayah Selatan Kabupaten Garut, sedangka

n Rendah berada pada wilayah Tengah sampai ke

ah Garut bagian tengah, ketinggian tempat da

1.000 m dpl, dimana pada wilayah ini merupakan kom

n Cikuray yang posisinya berdekatan. Sedang

Selatan, variasi ketinggian dapat dikatakan

dengan wilayah Garut bagian Utara yang ha

kelas ketinggian. Secara terperinci luas dan per

etinggian dapat dilihat pada Tabel 1.

Laporan Hasil 2012

11 Identifikasi Kebutuhan Pengembangan Tanaman Teh di Kabupaten Garut Tahun Anggaran 2012

n Rendah sebagian

ngkan pada bagian

i ke Utara.

t dapat mencapai

n komplek Gunung

dangkan di wilayah

kan lebih beragam

hanya didominasi

(13)

masing-Laporan Hasil 2012

12 Identifikasi Kebutuhan Pengembangan Tanaman Teh di Kabupaten Garut Tahun Anggaran 2012

Tabel 1 Luasan dan Persentase Kabupaten Garut berdasarkan Kelas

Ketinggian

No. Kelas Ketinggian Persentase (%)

1. 0 - 100 Meter 6,60

2. 100 - 500 Meter 20,19

3. 500 - 1.000 Meter 32,23

4. 1.000 - 1.500 Meter 28,92

5. Lebih dari 1.500 Meter 12,06

Jumlah Total 100,00

Data hasil analisis pada Tabel 2, menunjukkan bahwa sebagian besar

wilayah Kabupaten Garut memiliki kelas lereng kurang dari 40%, dimana

kelas lereng 16% - 25% merupakan kelas yang paling dominan meliputi

luasan sebesar 98.828,50 hektar (32,12% dari seluruh wilayah Kabupaten

Garut).

Tabel 2 Luasan dan Persentase Kabupaten Garut berdasarkan Kelas Lereng

No. Kelas Lereng Bentuk Wilayah Persen (%)

1. Kurang dari 8 % Datar 24,13

2. 8 % - 15 % Landai 24,02

3. 16 % - 25 % Agak Curam 32,12

4. 26 % - 40 % Curam 18,83

5. Lebih dari 40 % Sangat Curam 0,90

Jumlah Total 100,00

Dilihat dari penyebarannya, seperti terlihat pada Gambar 6, wilayah

Garut bagian Utara umumnya datar dengan sebagian kecil wilayah

merupakan wilayah agak curam sampai dengan curam yang akan dijumpai

pada wilayah sebelah Barat dan Timur yang berbatasan dengan Kabupaten

(14)

Laporan Hasil 2012

13 Identifikasi Kebutuhan Pengembangan Tanaman Teh di Kabupaten Garut Tahun Anggaran 2012

B. Kondisi Iklim

Secara umum

sebagai daerah

termasuk tipeAfs

data sekunder, ikl

tiga faktor utam

circulation patte

tengah Jawa Bara

harian di sekitar

bulan basah 9 bul

pegunungan menc

Laporan Hasil 2012

13 Identifikasi Kebutuhan Pengembangan Tanaman Teh di Kabupaten Garut Tahun Anggaran 2012

Gambar 6 Peta Kelas Kelerengan

umum iklim di wilayah Kabupaten Garut dapa

h beriklim tropis basah (humid tropical c

AfsampaiAmdari klasifikasi iklimKoppen. Be

, iklim dan cuaca di daerah Kabupaten Garut di

utama, yaitu : pola sirkulasi angin musim

pattern), topografi regional yang bergunung-gunun

arat; dan elevasi topografi di Bandung. Curah

ar Garut berkisar antara 13,6 mm/hari – 27,7 m

bulan dan bulan kering 3 bulan, sedangkan di se

encapai 3.500-4.000 mm sebagaimana terlihat pa

Laporan Hasil 2012

13 Identifikasi Kebutuhan Pengembangan Tanaman Teh di Kabupaten Garut Tahun Anggaran 2012

dapat dikatagorikan

al climate) karena

Berdasarkan studi

(15)

Laporan Hasil 2012

14 Identifikasi Kebutuhan Pengembangan Tanaman Teh di Kabupaten Garut Tahun Anggaran 2012

Selama musi

membawa udara

Pada musim kem

arah Australia yan

Berdasarkan

dibagi menjadi dua

yang bermuara di

14 Identifikasi Kebutuhan Pengembangan Tanaman Teh di Kabupaten Garut Tahun Anggaran 2012

Gambar 7 Peta Curah Hujan

usim hujan, secara tetap bertiup angin dari B

ra basah dari Laut Cina Selatan dan bagian ba

kemarau, bertiup angin kering bertemperatur re

yang terletak di tenggara.

kan arah alirannya, sungai-sungai di wilayah K

di dua daerah aliran sungai (DAS) yaitu Daera

di Laut Jawa dan Daerah Aliran Selatan ya

ndonesia. Daerah aliran selatan pada umumnya

berlembah-lembah dibandingkan dengan daera

n utara merupakan DAS Cimanuk Bagian Ut

n selatan merupakan DAS Cikaengan dan Sungai C

Laporan Hasil 2012

14 Identifikasi Kebutuhan Pengembangan Tanaman Teh di Kabupaten Garut Tahun Anggaran 2012

i Barat Laut yang

n barat Laut Jawa.

relatif tinggi dari

h Kabupaten Garut

erah Aliran Utara

yang bermuara di

ya relatif pendek,

erah aliran utara.

Utara, sedangkan

(16)

Laporan Hasil 2012

15 Identifikasi Kebutuhan Pengembangan Tanaman Teh di Kabupaten Garut Tahun Anggaran 2012

jenis tanah aluvi

asosiasi podsolik,

sifat tertentu ya

pemanfaatan laha

Asosiasi podsol

dominan terdapat

perbatasan bagia

Laporan Hasil 2012

15 Identifikasi Kebutuhan Pengembangan Tanaman Teh di Kabupaten Garut Tahun Anggaran 2012

mbar 8 Peta Wilayah Daerah Aliran Sungai (DA

sungai yang terdapat di wilayah ini adalah seba

a anak sungainya dengan panjang keseluruha

dimana sepanjang 92 Km diantaranya merupaka

nuk dengan anak sungainya.

dari jenis tanahnya, secara garis besar Kabupaten

uvial, asosiasi andosol, asosiasi litosol, asosi

podsolik, dan asosiasi regosol. Jenis tanah tersebut

yang dapat menjadi suatu potensi maupun

han tertentu.

podsolik dan regosol merupakan jenis tana

pat di wilayah ini, menyebar di wilayah Selatan

gian Barat dan Timur Kabupaten Garut sam

Laporan Hasil 2012

15 Identifikasi Kebutuhan Pengembangan Tanaman Teh di Kabupaten Garut Tahun Anggaran 2012

(DAS)

sebanyak 63 buah

luruhan mencapai

kan panjang aliran

ten Garut terdapat

sosiasi mediteran,

but memiliki

sifat-upun kendala dalam

anah yang paling

tan dan sepanjang

(17)

Laporan Hasil 2012

16 Identifikasi Kebutuhan Pengembangan Tanaman Teh di Kabupaten Garut Tahun Anggaran 2012

Utara. Selain itu terdapat tanah andosol yang penyebarannya berada di

wilayah tengah Kabupaten Garut. Jenis tanah ini umumnya berwarna hitam,

memiliki penampang yang berkembang, dengan horizon-A yang tebal,

gembur dan kaya bahan organik.

D. Penggunaan Lahan Aktual

Berdasarkan data statistik, penggunaan lahan di Kabupaten Garut

dikelompokkan menjadi 4 (empat) kelompok penggunaan, yaitu sawah, darat,

perairan darat dan penggunaan tanah lainnya (BPS Kabupaten Garut 2011.

Proporsi penggunaan lahan tersebut secara rinci dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Proporsi penggunaan lahan di Kabupaten Garut 2009 - 2010

Rincian Proporsi (%)

2009 2010

I. Sawah

I.1. Irigasi 12,33 12,33

I.2. Tadah Hujan 2,09 2,09

II. Darat

II.1. Permukiman/Perkampungan 12,91 12,91

II.2. Industri 0,01 0,01

II.3. Pertambangan 0,07 0,07

II.4. Tanah Kering Semusim/Tegalan 16,00 16,00 II.5. Kebun dan Kebun Campuran 17,04 17,04

II.6. Perkebunan 8,60 8,60

II.7. Hutan 23,25 23,25

II.8. Padang Semak 2,14 2,14

II.9. Tanah Rusak Tandus -

-III. Perairan Darat

III.1. Kolam 0,60 0,60

III.2. Situ/Danau 0,05 0,05

III.3. Lainnya 0,02 0,02

IV. Penggunaan Tanah Lainnya 4,90 4,90

(18)

Laporan Hasil 2012

17 Identifikasi Kebutuhan Pengembangan Tanaman Teh di Kabupaten Garut Tahun Anggaran 2012

E. Pemanfaatan Ruang

Secara umum, di dalam revisi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW)

Kabupaten Garut tahun 2010 – 2030, Kabupaten Garut terbagi menjadi 2

(dua) kawasan utama, yaitu kawasan lindung dan kawasan budidaya.

Kawasan lindung, umumnya didominasi oleh hutan lindung, hutan konservasi

dan sempadan sungai/pantai. Kawasan budidaya terbagi menjadi kawasan

budidaya non hutan, yaitu hutan produksi terbatas dan hutan produksi,

perikanan budidaya, perkebunan, permukiman, pertanian lahan basah,

pertanian lahan kering dan peternakan. Secara spasial, pola pemanfaatan

ruang RTRW Kabupaten Garut 2010 – 2030 dapat dilihat pada Gambar 9,

sedangkan luasan dan persentase masing-masing bentuk kawasan dapat

dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4 Luas dan Persentase Rencana Pola Ruang RTRW Kabupaten Garut

2011–2031

No. Kawasan/Pola Ruang Luas (Hektar) Persentase (%)

1. Kawasan Budidaya

a. Hutan Produksi Terbatas 5.416,00 1,76

b. Hutan Produksi 166,00 0,05

c. Kawasan Hutan Rakyat*) 44.010,00 14,32

c. Kawasan Pertanian:*)

- Pertanian Tanaman Pangan 104.818,00 34,10

- Hortikultura 32.108,00 10,44

- Perkebunan 56.940,00 18,52

- Peternakan 42.000,00 13,66

d. Kawasan Perikanan*) 26.645,00 8,67

e. Kawasan Budidaya Laut**) 1.390,00 0,45

f. Kawasan Pertambangan***) -

-g. Kawasan Industri*) 31.100,00 10,12

h. Kawasan Pariwisata*) -

-i. Kawasan Permukiman*) 16.687,00 5,43

j. Kawasan Peruntukan

(19)

Laporan Hasil 2012

18 Identifikasi Kebutuhan Pengembangan Tanaman Teh di Kabupaten Garut Tahun Anggaran 2012

No. Kawasan/Pola Ruang Luas (Hektar) Persentase (%)

2. Kawasan Lindung 261.256,88 84,99

a. Hutan Lindung 75.928,37 24,70

b. Hutan Konservasi 15.746,51 5,12

c. Cagar Budaya -

-d. Kawasan yang Memberikan Perlindungan Terhadap Kawasan Bawahannya

(Resapan Air) 54.922,00 17,87

e. Kawasan Perlindungan

Setempat 18.210,00 5,92

f. Kawasan Rawan Bencana

Alam 96.394,00 31,36

g. Kawasan Lindung Geologi 56,00 0,02

h. Kawasan Lindung Lainnya (Mangrove dan Terumbu

Karang) -

-Keterangan:

*) Kawasan yang tumpang tindih dengan kawasan lainnya;

**) Kawasan yang berada di wilayah perairan;

***) Kawasan yang tumpang tindih dengan kawasan lainnya dan sebagian kawasannya berada di bawah tanah;

****) Kawasan yang tumpang tindih dengan kawasan lainnya;

Tabel 4 menunjukkan, terdapat 10 (sepuluh) kawasan yang

dikelompokkan sebagai kawasan budidaya dan 8 (delapan) kawasan yang

dikelompokkan sebagai kawasan lindung. Hampir semua kawasan budidaya

merupakan wilayah yang saling tumpang tindih dengan kawasan lainnya,

(20)

Laporan Hasil 2012

19 Identifikasi Kebutuhan Pengembangan Tanaman Teh di Kabupaten Garut Tahun Anggaran 2012

(21)

Laporan Hasil 2012

20 Identifikasi Kebutuhan Pengembangan Tanaman Teh di Kabupaten Garut Tahun Anggaran 2012

F. Kependudukan

Jumlah penduduk

1.200.407 jiwa, se

20 Identifikasi Kebutuhan Pengembangan Tanaman Teh di Kabupaten Garut Tahun Anggaran 2012

an

penduduk di Kabupaten Garut, pada tahun

, sedangkan pada tahun 2010 jumlah penduduk

2.407.086 jiwa, atau mengalami peningkatan seba

kurun waktu 39 tahun. Secara grafik, perkem

bupaten Garut pada kurun waktu 1971–2010 da

r 10 Perkembangan jumlah penduduk Kabupate

kurun waktu 1971–2010

kan hal tersebut terdapat rata-rata laju pertum

hun. Dilihat dari proporsi jenis kelamin, da

bahwa, 1.219.234 jiwa (50,65%) penduduk

laki sedangkan 1.187.852 jiwa (49,35%) be

jika dilihat berdasarkan kelompok umur, sebara

bagaimana terlihat pada Gambar 11. 1200407,0

1483035,0

1748634,0

2051092,0

2407086,0

1971 1980 1990 2000

Jumlah Penduduk (Jiwa)

Laporan Hasil 2012

20 Identifikasi Kebutuhan Pengembangan Tanaman Teh di Kabupaten Garut Tahun Anggaran 2012

hun 1971 sebanyak

nduduk di wilayah ini

banyak 1.206.679

embangan jumlah

2010 dapat dilihat pada

upaten Garut

tumbuhan sebesar

n, data tahun 2010

nduduk Garut berjenis

berjenis kelamin

baran penduduknya 2407086,0

(22)

Laporan Hasil 2012

21 Identifikasi Kebutuhan Pengembangan Tanaman Teh di Kabupaten Garut Tahun Anggaran 2012

Gambar 11. S

Gambar 11

Kabupaten Garut

antara 15–65 tahun,

sebesar 33,6% da

Kondisi ini dapat -50000,0 100000,0 150000,0 200000,0 250000,0 300000,0

Laporan Hasil 2012

21 Identifikasi Kebutuhan Pengembangan Tanaman Teh di Kabupaten Garut Tahun Anggaran 2012

bar 11. Sebaran penduduk Kabupaten Garut berda

kelompok umur

11 menunjukkan bahwa, sebagian besar

rut (61,2%) berada dalam masa usia produkti

tahun, sedangkan sisanya merupakan usia sekol

dan usia lansia (> 65 tahun) dengan persentase

pat potensi tenaga kerja cukup tersedia di wilaya Kelompok Umur (Tahun)

Laporan Hasil 2012

21 Identifikasi Kebutuhan Pengembangan Tanaman Teh di Kabupaten Garut Tahun Anggaran 2012

rdasarkan

sar penduduk di

oduktif, yaitu berusia

kolah (< 14 tahun)

ntase sebesar 5,1%.

(23)

Laporan Hasil 2012

22 Identifikasi Kebutuhan Pengembangan Tanaman Teh di Kabupaten Garut Tahun Anggaran 2012

IV. PENETAPAN KOMODITAS PRIORITAS

DAN SENTRA PRODUKSI

A. Komoditas Prioritas

Penetapan komoditas prioritas didasarkan atas kesepakatan yang

dilakukan pada saat pertemuan antara Direktorat Rempah dan Penyegar,

Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat dan Dinas Perkebunan Kabupaten

Garut. Berdasarkan hasil pertemuan disepakati bahwa fokus komoditi

kegiatan identifikasi di Kabupaten Garut adalah tanaman teh.

Pemilihan komoditi ini didasarkan atas pertimbangan, bahwa jenis

tanaman ini dilihat dari aspek sejarah merupakan tanaman yang telah

diusahakan dan dibudidayakan sejak lama, baik dalam skala usaha besar

maupun dilaksanakan oleh pekebun rakyat.

B. Wilayah Sentra Produksi dan Sentra Produksi Utama

Penetapan wilayah sentra produksi, pada skala kabupaten, dilakukan

terhadap tingkat kecamatan sampai dengan desa. Metode yang digunakan,

sesuai dengan pendekatan dalam petunjuk teknis dideskripsikan sebagai

kecamatan yang mempunyai akumulasi luas areal tanaman teh hingga

mencapai 80% dari luas areal kabupaten.

Hasil identifikasi yang dilaksanakan pada tingkat lapangan diperoleh

luasan tanaman teh yang ada di Kabupaten Garut, yaitu 3.195,60 hektar,

dengan jumlah pekebun sebanyak 4.317 orang yang terbagi menjadi 112

kelompok Selain itu terdapat pula, 15 orang pekebun teh, yang memiliki dan

mengelola lahan perkebunan teh rakyat, namun belum tergabung ke dalam

kelembagaan kelompok tani, dengan rincian 7 orang pekebun berada di

Kecamatan Cisewu dan 8 orang pekebun berada di Desa Kramatwangi,

Kecamatan Cikajang. Populasi kelembagaan pekebun teh terbanyak, terdapat

di Kecamatan Cilawu, yaitu sebanyak 25 kelompok dengan jumlah anggota

mencapai 809 pekebun teh, sedangkan populasi terendah terdapat di

(24)

Laporan Hasil 2012

23 Identifikasi Kebutuhan Pengembangan Tanaman Teh di Kabupaten Garut Tahun Anggaran 2012

pekebun sebanyak 23 orang. Rincian hasil pengumpulan data identifikasi

dapat dilihat pada Lampiran 1 sampai dengan Lampiran 4.

Dilihat dari aspek pemilikan lahan, rata-rata pemilikan lahan teh rakyat

untuk setiap pekebun mencapai 0,74 hektar per pekebun. Adapun,

kepemilikan lahan tertinggi terdapat di Kecamatan Cisewu, yaitu 3,57 hektar

per pekebun, sedangkan kepemilikan lahan terendah terdapat di Kecamatan

Bayongbong, yaitu sebesar 0,33 hektar per pekebun.

Penetapan wilayah sentra produksi dan sentra produksi utama, mengacu

kepada kriteria yang terdapat di dalam pedoman teknis identifikasi

pengembangan kebutuhan sumberdaya tanaman rempah dan penyegar. Pada

tahap awal penetapan wilayah sentra produksi, dilakukan dengan

mengurutkan wilayah kecamatan yang memiliki luasan tanaman teh terbesar

sampai dengan terkecil. Tahapan selanjutnya, yaitu dengan menghitung

akumulasi luasan tanaman tersebut hingga mencapai nilai 80% dari total luas

tanaman. Secara terperinci, hasil perhitungan penetapan wilayah sentra

produksi dapat dilihat pada Lampiran 5. Berdasarkan hasil perhitungan

tersebut, diperoleh enam wilayah kecamatan yang merupakan sentra

produksi, yaitu:

1. Singajaya, dengan jumlah areal tanaman teh seluas 751,24 hektar;

2. Cilawu, dengan jumlah areal tanaman teh seluas 615,73 hektar;

3. Banjarwangi, dengan jumlah areal tanaman teh seluas 487,50

hektar;

4. Pakenjeng, dengan jumlah areal tanaman teh seluas 331,00 hektar;

5. Peundeuy, dengan jumlah areal tanaman teh seluas 220,10 hektar,

dan

6. Cisurupan, dengan jumlah areal tanaman teh seluas 218,92 hektar.

Proporsi luasan enam wilyah sentra produksi dapat dilihat pada Gambar 12,

sedangkan penyebaran secara spasial masing wilayah yang merupakan sentra

(25)

Laporan Hasil 2012

24 Identifikasi Kebutuhan Pengembangan Tanaman Teh di Kabupaten Garut Tahun Anggaran 2012

Gam

Gambar 13. S 6,8876

6,8507

SINGAJAYA PEUNDEUY

Laporan Hasil 2012

24 Identifikasi Kebutuhan Pengembangan Tanaman Teh di Kabupaten Garut Tahun Anggaran 2012

ambar 12. Proporsi luasan wilayah tanaman te

13. Sebaran spasial wilayah tanaman teh dan sent 23,5086

19,2681

15,2554 10,3580

6,8507

17,8718

SINGAJAYA CILAWU BANJARWANGI PAKENJENG PEUNDEUY CISURUPAN KECAMATAN LAIN

Laporan Hasil 2012

24 Identifikasi Kebutuhan Pengembangan Tanaman Teh di Kabupaten Garut Tahun Anggaran 2012

n teh

n sentra produksi

(26)

Laporan Hasil 2012

25 Identifikasi Kebutuhan Pengembangan Tanaman Teh di Kabupaten Garut Tahun Anggaran 2012

Gambar 12

teh rakyat yang te

sebesar 82,1% da

terdapat di Kabup

yaitu: (1) Talegon

dan (6) Bayongbon

dari jumlah luasa

Kabupaten Garut.

Berdasarkan

pula wilayah sent

produksi utama,

mencapai 50%

sebagaimana terli

sentra produksi m

bahwa capaian p

meliputi 2 (dua)

jumlah luasan ke

wilayah sentra pr

produksi utama da

25 Identifikasi Kebutuhan Pengembangan Tanaman Teh di Kabupaten Garut Tahun Anggaran 2012

12 menunjukkan bahwa, secara proporsi, lua

g terdapat di 6 (enam) kecamatan tersebut menc

dari total luasan keseluruhan perkebunan t

bupaten Garut, sedangkan proporsi 6 (enam)

gong, (2) Pamulihan, (3) Cikajang, (4) Cigedu

gbong, proporsi luasan keseluruhan hanya me

uasan keseluruhan perkebunan teh rakyat ya

rut.

kan hasil penetapan wilayah sentra produksi, da

sentra produksi utama. Sesuai dengan pedoman,

a, merupakan wilayah yang proporsi akumul

dari luas wilayah sentra produksi. Ha

erlihat pada Lampiran 5, total areal wilayah y

oduksi mencapai 2.624,49 hektar. Pengolahan data

n proporsi luasan 50% dari luas wilayah se

dua) wilayah kecamatan, yaitu Singajaya dan C

n keduanya mencapai 1.366,97 hektar atau 52,1%

produksi. Rincian perhitungan penetapan

a dapat dilihat pada Lampiran 6.

ambar 14. Proporsi luasan wilayah sentra produ 28,6242

SINGAJAYA CILAWU BANJARWANGI PAKENJENG PEUNDEUY CISURUPAN

Laporan Hasil 2012

25 Identifikasi Kebutuhan Pengembangan Tanaman Teh di Kabupaten Garut Tahun Anggaran 2012

luasan perkebunan

encapai persentase

teh rakyat yang

) kecamatan lain

edug, (5) Cisewu

an wilayah sentra

oduksi

(27)

Laporan Hasil 2012

26 Identifikasi Kebutuhan Pengembangan Tanaman Teh di Kabupaten Garut Tahun Anggaran 2012

Gambar 14

produksi utama,

wilayah sentra pr

mencapai 23,5%

wilayah sentra pr

pada Gambar 15.

26 Identifikasi Kebutuhan Pengembangan Tanaman Teh di Kabupaten Garut Tahun Anggaran 2012

14 menunjukkan, bahwa proporsi luasan

a, yaitu Kecamatan Singajaya mencapai 28,6%

produksi. Sedangkan Kecamatan Cilawu, propor

% dari luas wilayah sentra produksi. Secara

produksi utama, sentra produksi dan non sent

15.

15. Sebaran spasial wilayah tanaman teh, sentra

dan sentra produksi utama

mbangan Potensial

pengembangan potensial, didefinisikan sebaga

suk ke dalam sentra produksi, tetapi memiliki produkt

n ambang batas minimal 10% lebih tinggi

pada tingkat kabupaten. Berdasarkan hasil pe

ata-rata kebun teh rakyat di Kabupaten Garut se

Laporan Hasil 2012

26 Identifikasi Kebutuhan Pengembangan Tanaman Teh di Kabupaten Garut Tahun Anggaran 2012

n wilayah sentra

28,6% dari luas

proporsi luasannya

ra spasial, sebaran

sentra dapat dilihat

ntra produksi

gai wilayah yang

produktivitas yang

nggi dari rata-rata

pengolahan data,

(28)

Laporan Hasil 2012

27 Identifikasi Kebutuhan Pengembangan Tanaman Teh di Kabupaten Garut Tahun Anggaran 2012

pucuk basah/hektar/tahun. Produktifitas kebun teh tertinggi terdapat pada

wilayah Kecamatan Cikajang, dengan produktifitas mencapai 8,75 ton pucuk

basah/hektar/tahun, sedangkan produktifitas kebun rakyat terendah terdapat di

Kecamatan Banjarwangi, yaitu sebesar 5,80 ton pucuk basah/hektar/tahun.

Tabel 5 Kriteria Wilayah pada Setiap Kecamatan

KECAMATAN

TBM TM TT/R JUMLAH

SINGAJAYA 5,00 344,10 402,14 751,24 6,01 Sentra Produksi Utama CILAWU 21,50 356,38 237,85 615,73 6,95 Sentra Produksi

Utama BANJARWANGI 4,00 166,70 316,80 487,50 5,80 Sentra Produksi PAKENJENG - 258,00 73,00 331,00 8,36 Sentra Produksi PEUNDEUY - 75,10 145,00 220,10 5,83 Sentra Produksi CISURUPAN 5,50 135,65 77,77 218,92 6,94 Sentra Produksi

TALEGONG 50,00 115,00 - 165,00 8,40

Daerah Pengembangan Potensial PAMULIHAN 13,00 81,00 61,00 155,00 6,72 Non Sentra

CIKAJANG 5,37 84,25 25,89 115,51 8,75

Daerah Pengembangan Potensial

CIGEDUG - 65,95 37,15 103,10 7,46 Non Sentra

CISEWU 12,00 13,00 - 25,00 6,00 Non Sentra

BAYONGBONG - 6,20 1,30 7,50 7,26 Non Sentra

JUMLAH 116,37 1.701,33 1.377,90 3.195,60 7,00

Pada Tabel 5, terlihat, bahwa selain wilayah pengembangan sentra

produksi dan sentra produksi utama, terdapat wilayah yang merupakan daerah

potensial pengembangan. Adapun kriteria penetapannya, selain bukan

termasuk ke dalam wilayah sentra produksi dan sentra produksi utama,

wilayah tersebut mempunyai produktifitas tanaman minimal 10% lebih tinggi

dibandingkan produktifitas rata-rata Kabupaten Garut, atau setara dengan

7,7 ton pucuk basah/hektar/tahun. Wilayah tersebut adalah, Kecamatan

Talegong dan Cikajang, dengan produktifitas masing-masing sebesar 8,40

(29)

Laporan Hasil 2012

28 Identifikasi Kebutuhan Pengembangan Tanaman Teh di Kabupaten Garut Tahun Anggaran 2012 A. Sumberdaya Ala

Kabupaten

tinggi, ditandai

diusahakan oleh pa

28 Identifikasi Kebutuhan Pengembangan Tanaman Teh di Kabupaten Garut Tahun Anggaran 2012

V.

PROFIL SUMBERDAYA

aya Alam

en Garut secara umum memiliki potensi sumber

ndai dengan keragaman jenis varietas yang

h para petani/pekebun. Berdasarkan data statist

as tanaman perkebunan yang diusahakan ol

rut. Data tersebut mengimplikasikan, bahwa sum

di Kabupaten Garut memiliki tingkat kesesua

nggi.

sumberdaya alam, merupakan salah satu pers

budidaya tanaman. Potensi keberhasilan suatu

pengaruhi oleh faktor kesesuaian sumberdaya a

alam sendiri, dalam kegiatan identifika

ini, memiliki indeks bobot nilai yang cukup

poin. Hal ini menunjukkan, bahwa suatu usaha

kan dipengaruhi oleh faktor sumberdaya alam.

bar 16. Grafik indeks nilai profil sumberdaya a

62,233363,40062,9667

BANJARWANGI BAYONGBONG CIGEDUG CIKAJANG CILAWU CISEWU CISURUPAN PAKENJENG PAMULIHAN PEUNDEUY SINGAJAYA TALEGONG

Laporan Hasil 2012

28 Identifikasi Kebutuhan Pengembangan Tanaman Teh di Kabupaten Garut Tahun Anggaran 2012

berdaya alam yang

tu usaha budidaya

a alamnya. Aspek

(30)

Laporan Hasil 2012

29 Identifikasi Kebutuhan Pengembangan Tanaman Teh di Kabupaten Garut Tahun Anggaran 2012

Hasil identifikasi, indeks nilai profil sumberdaya alam, memiliki

kisaran angka 53,8–63,4. Nilai ini menunjukkan, bahwa dalam kondisi yang

ada, persentase pemenuhan yang ada mencapai 53,863,4% terhadap kondisi

yang ideal. Indeks nilai terendah, yaitu 53,8 terdapat pada kecamatan

Cisewu, sedangkan indeks nilai tertinggi, yaitu 63,4 terdapat di kecamatan

Bayongbong dan Pamulihan.

Faktor yang menjadi pembatas utama terhadap rendahnya nilai indeks

profil sumberdaya alam di kecamatan Cisewu, adalah faktor tanah dan air.

Berdasarkan hasil analisis pada peta, kedalaman tanah di wilayah kecamatan

Cisewu kurang dari 76 cm. Adapun faktor air, yang menjadi pembatas adalah

kedalaman air tanah, yang mencapai angka lebih dari 50 cm.

Adapun faktor penunjang, nilai indeks profil sumberdaya alam di

kecamatan Bayongbong dan Pamulihan antara lain, tanah dan status

kepemilikan lahan. Tanah merupakan salah satu sumberdaya alam yang

penting dalam menunjang keberhasilan usaha budidaya. Faktor kedalaman

tanah menjadi aspek yang menunjang, dimana di wiliayah tersebut kedalaman

tanah berada pada angka lebih dari 100 cm. Secara rinci, indeks nilai

sumberdaya alam setiap indikator penunjang pada setiap kecamatan dapat

dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6. Indeks Nilai Profil Sumberdaya Alam Setiap Indikator pada Setiap

Kecamatan

No. Kecamatan Iklim Tanah Air Keragaman Hayati

Peta dan Status Kepemilikan

Lahan

1. Banjarwangi 54,5 89,0 50,0 - 72,0

2. Bayongbong 60,0 75,0 48,4 - 92,0

3. Cigedug 68,0 83,0 34,0 - 75,0

4. Cikajang 58,0 76,0 34,0 - 72,0

5. Cilawu 60,0 82,0 34,0 - 72,0

6. Cisewu 56,0 72,0 27,6 - 68,0

7. Cisurupan 50,0 76,0 34,0 - 72,0

(31)

Laporan Hasil 2012

30 Identifikasi Kebutuhan Pengembangan Tanaman Teh di Kabupaten Garut Tahun Anggaran 2012 No. Kecamatan Iklim Tanah Air Keragaman

Hayati

Peta dan Status Kepemilikan

Lahan

9. Pamulihan 60,0 75,0 48,4 - 92,0

10. Peundeuy 48,0 73,0 43,6 - 72,0

11. Singajaya 56,0 79,0 50,0 - 72,0

12. Talegong 62,0 72,0 27,6 - 72,0

Sumber : Hasil analisis peta serta identifikasi lapangan

Tabel 6 menunjukkan pula bahwa, khusus indikator keragaman hayati,

indeks nilai profil tidak dapat ditampilkan karena tidak tersedianya data untuk

dijadikan sumber penilaian.

B. Sumberdaya Modal (Investasi)

Aspek sumberdaya modal (investasi) secara umum menggambarkan

profil tentang ketersediaan anggaran pembangunan komoditas teh, baik yang

bersumber dari APBN, APBD Provinsi, APBD Kabupaten maupun sumber

anggaran lainnya. Selain itu, aspek ini menggambarkan profil dukungan

kebijakan Pemerintah Daerah yang bersifat keruangan, melalui Rencana Tata

Ruang Wilayah Kabupaten. Profil lainnya yang tergambar dari aspek ini,

ketersediaan dan kebutuhan benih, pupuk, unit pengolahan hasil, akses pasar

serta akses terhadap sumber modal usaha.

Hasil identifikasi terhadap aspek sumberdaya modal (investasi) dapat

dilihat pada Tabel 7 serta Gambar 17.

Tabel 7. Indeks Nilai Profil Sumberdaya Modal Setiap Indikator pada Setiap

Kecamatan

1. Banjarwangi 100,00 62,5 57,5 12,5 17,5 12,5 50,0 30,0

2. Bayongbong 50,0 60,0 55,0 37,5 40,3 18,8 90,0

(32)

Laporan Hasil 2012

31 Identifikasi Kebutuhan Pengembangan Tanaman Teh di Kabupaten Garut Tahun Anggaran 2012 No. Kecamatan

Sumber : Hasil an

Gamba

Hasil ident

Cilawu memiliki

sedangkan kecam

Indeks ini menunj

kecamatan ini se

31 Identifikasi Kebutuhan Pengembangan Tanaman Teh di Kabupaten Garut Tahun Anggaran 2012 tan

il analisis peta serta identifikasi lapangan

bar 16. Grafik indeks nilai profil sumberdaya m

dentifikasi sebagaimana terlihat pada Gambar

liki indeks nilai profil sumberdaya modal t

amatan Peundeuy memiliki indeks nilai profil

enunjukkan, bahwa dilihat dari berbagai

secara relatif lebih baik dibandingkan den

31 Identifikasi Kebutuhan Pengembangan Tanaman Teh di Kabupaten Garut Tahun Anggaran 2012

(33)

Laporan Hasil 2012

32 Identifikasi Kebutuhan Pengembangan Tanaman Teh di Kabupaten Garut Tahun Anggaran 2012

lainnya. Faktor yang cukup memberikan kontribusi indeks nilai profil

sumberdaya modal di kecamatan Cilawu antara lain, (1) Dukungan program

kegiatan, (2) Kemudahan akses pasar dan (3) Akses terhadap pasar serta

ketersediaan Unit Pengolahan Hasil (UPH). Sedangkan faktor lainnya,

berdasarkan hasil identifikasi relatif memiliki indeks nilai yang hampir

seragam dibandingkan dengan kecamatan lain.

Pada wilayah kecamatan Peundeuy, faktor yang memberikan kontribusi

terhadap rendahnya indeks nilai profil sumberdaya modal adalah, (1)

Ketidaksediaan sumber benih unggul dan(2) Ketidaksediaan akses modal.

Selain itu beberapa faktor lain memiliki indeks nilai yang relatif lebih rendah

dibandingkan kecamatan lainnya.

Khusus faktor ketersediaan sumber benih unggul bersertifikasi,

Kabupaten Garut secara umum memang tidak memiliki sumber benih

tanaman teh yang memiliki legalitas sebagaimana tertuang dalam peraturan

perundangan. Penyediaan benih bagi kebutuhan pekebun dilakukan secara

swadaya melalui perbanyakan bahan tanaman teh yang dimiliki oleh

perusahaan besar negara/swasta maupun melalui pembelian langsung kepada

penyedia benih. Namun demikian terdapat paling sedikit 2 (dua) orang

penangkar yang memiliki kapasitas untuk melakukan penangkaran benih

tanaman teh.

C. Sumberdaya Manusia

Aspek sumberdaya manusia meliputi aspek jumlah penduduk dan

ketersediaan tenaga kerja pada sektor pertanian. Adapun angka kebutuhan

tenaga kerja diperoleh berdasarkan standar rasio penggunaan tenaga kerja per

satuan luas per tahun. Menurut Direktorat Jenderal Perkebunan (2006),

standar rasio penggunaan tenaga kerja lapangan tanaman teh adalah

1,5 tenaga kerja/hektar/tahun.

Hasil identifikasi yang dilaksanakan, jumlah penduduk Kabupaten

Garut pada tahun 2010sebanyak 2.407.806 jiwa. Dilihat dari kelompok umur,

sebagian besar penduduk 61,25% berusia diantara 15 64 tahun, 33,64%

(34)

Laporan Hasil 2012

33 Identifikasi Kebutuhan Pengembangan Tanaman Teh di Kabupaten Garut Tahun Anggaran 2012

Berdasarkan analisis terhadap data kependudukan tahun 2003, sebagian

besar penduduk, merupakan keluarga pertanian (74,54%). Sedangkan jumlah

keluarga pekebun sebesar 4.665 KK dengan perkiraan jumlah anggota

keluarga sebanyak 17.456 jiwa yang merupakan potensi tenaga kerja

perkebunan yang ada.

Merujuk kepada data tersebut diatas, dapat diperoleh prediksi jumlah

kebutuhan serta ketersediaan tenaga kerja pertanian/perkebunan di

masing-masing wilayah kecamatan sebagaimana terlihat pada Tabel 8.

Tabel 8. Analisis kebutuhan dan ketersediaan tenaga kerja

pertanian/perkebunan

No. Kecamatan Luas Kebun (Ha)

Kebutuhan TK (Orang)

Potensi Ketersediaan

TK (Orang)

(+/-)

1. Banjarwangi 487,50 731 446 -285

2. Bayongbong 7,50 11 307 296

3. Cigedug 103,10 155 1.881 1.726

4. Cikajang 115,51 173 3.241 3.068

5. Cilawu 615,73 924 432 -492

6. Cisewu 25,00 38 3.334 3.296

7. Cisurupan 218,92 328 174 -154

8. Pakenjeng 331,00 497 3.647 3.151

9. Pamulihan 155,00 233 900 667

10. Peundeuy 220,10 330 575 244

11. Singajaya 751,24 1.127 2.389 1.262

12. Talegong 165,00 248 129 -118

Sumber : Hasil analisis data PODES 2003 serta identifikasi lapangan

Tabel 8 menunjukkan, bahwa secara umum terdapat surplus

ketersediaan tenaga kerja pada wilayah-wilayah penanaman teh. Sedangkan

pada beberapa wilayah terdapat potensi kekurangan ketersediaan tenaga kerja

yang bekerja pada sektor perkebunan, antara lain di kecamatan Banjarwangi,

(35)

Laporan Hasil 2012

34 Identifikasi Kebutuhan Pengembangan Tanaman Teh di Kabupaten Garut Tahun Anggaran 2012

lebih mendalam mengenai kebutuhan dan ketersediaan tenaga berdasarkan

pada data yang terbaru.

Indeks nilai profil sumberdaya manusia, berdasarkan hasil identifikasi

dapat dilihat pada Tabel 9 dan Gambar 17.

Tabel 9. Indeks nilai profil aspek sumberdaya manusia

No. Kecamatan Data Demografi Data Ketenagakerjaan

1. Banjarwangi 53,3 37,1

2. Bayongbong 50,0 35,7

3. Cigedug 53,3 37,1

4. Cikajang 50,0 38,6

5. Cilawu 50,0 40,7

6. Cisewu 50,0 35,7

7. Cisurupan 50,0 37,1

8. Pakenjeng 50,0 38,6

9. Pamulihan 50,0 35,7

10. Peundeuy 50,0 40,1

11. Singajaya 50,0 26,1

12. Talegong 50,0 39,3

Sumber : Hasil identifikasi lapangan

Pada Tabel 9 terlihat, bahwa untuk data kependudukan, hampir semua

kecamatan menunjukkan nilai yang setara, sehingga dapat dikatakan bahwa

antara kondisi suatu wilayah sebagai wilayah agraris didukung oleh jumlah

penduduk yang sebagian besar memiliki ketergantungan hidup dari berusaha

tani. Namun demikian pada faktor data ketenagakerjaan, indeks nilai yang

ditunjukkan lebih rendah dibandingkan dengan indeks nilai pada faktor

demografi. Hal ini berarti, ada faktor lain yang menjadi pertimbangan, yaitu

ketersediaan tenaga kerja yang ada belum tentu dapat terserap seluruhnya

pada sektor pertanian, dimana terdapat perubahan paradigma diantara

angkatan kerja yang ada untuk lebih beroientasi pada lapangan usaha di luar

(36)

Laporan Hasil 2012

35 Identifikasi Kebutuhan Pengembangan Tanaman Teh di Kabupaten Garut Tahun Anggaran 2012

Gambar

D. Sumberdaya Tek

Aspek sumbe

faktor teknologi

meliputi, (1) Pen

secara agregat ba

(100,0). Adapun

faktor pengelolaa

indeks nilai pene

bersertifikat yang

35 Identifikasi Kebutuhan Pengembangan Tanaman Teh di Kabupaten Garut Tahun Anggaran 2012

bar 17. Grafik indeks nilai profil sumberdaya m

aya Teknologi

sumberdaya teknologi, menunjukkan tingkat pene

ogi dalam agribisnis tanaman teh. Faktor-fakt

Penggunaan benih unggul bersertifikat, (2) T

baik dan benar, (3) Tingkat aplikasi teknolog

ngkat aplikasi teknologi pascapanen dan (5) T

limbah. Semakin besar indeks nilai aspe

semakin tinggi tingkat aplikasi masing-masi

nalisis data identifikasi, tingkat aplikasi teknol

t baru mencapai indeks nilai 36,0 dari kondi

pun faktor yang memberikan kontribusi paling

olaan limbah, yaitu sebesar 4,2. Faktor lain

nerapan yang rendah adalah faktor penggunaa

ng disebabkan tidak cukup tersedianya kebun

wilayah. Sedangkan faktor yang cukup

ks nilai cukup besar antara lain, penerapan teknol 42,00

40,0042,00 42,00 43,500

40,00 41,0042,0040,0043,100 33,300

42,500

SUMBERDAYA MANUSIA

Laporan Hasil 2012

35 Identifikasi Kebutuhan Pengembangan Tanaman Teh di Kabupaten Garut Tahun Anggaran 2012

manusia

penerapan beberapa

aktor yang dinilai

) Tingkat aplikasi

knologi pengendalian

) Tingkat aplikasi

aspek teknologi,

asing faktor yang

eknologi rata-rata

kondisi yang ideal

ing rendah adalah

in yang memiliki

unaan benih unggul

bun-kebun benih di

(37)

Laporan Hasil 2012

36 Identifikasi Kebutuhan Pengembangan Tanaman Teh di Kabupaten Garut Tahun Anggaran 2012

pengendalian OP

nilai profil sumbe

Tabel 10. Indeks N

No. Kecamatan

Sumber : Hasil ide

Gambar 18

36 Identifikasi Kebutuhan Pengembangan Tanaman Teh di Kabupaten Garut Tahun Anggaran 2012

PT dan penerapan teknologi pascapanen. Sec

berdata teknologi dapat dilihat pada Tabel 10 da

ks Nilai Profil Aspek Sumberdaya Teknologi

an

bar 18. Grafik indeks nilai profil sumberdaya teknol

24,6500

36 Identifikasi Kebutuhan Pengembangan Tanaman Teh di Kabupaten Garut Tahun Anggaran 2012

(38)

Laporan Hasil 2012

37 Identifikasi Kebutuhan Pengembangan Tanaman Teh di Kabupaten Garut Tahun Anggaran 2012 E. Sumberdaya Sosial Ekonomi

Aspek sumberdaya sosial ekonomi dalam identifikasi sumberdaya

difokuskan kepada kelembagaan yang terlibat dan mendukung pengembangan

tanaman teh. Jenis kelembagaan antara lain kelembagaan kelompok petani,

kelembagaan ekonomi, kelembagaan sosial yang bersifat adat/kearifan lokal,

lembaga swadaya masyarakat, lembaga pemerintah terkait dan kelembagaan

lain yang berbasis komoditas. Indeks nilai profil aspek sumberdaya sosial

ekonomi akan menunjukkan keberadaan serta peran masing-masing

pemangku kepentingan.

Berdasarkan hasil identifikasi, terdapat 2 (dua) faktor yang memiliki

keberadaan dan peran cukup dominan dalam mendukung sumberdaya sosial

ekonomi, yaitu faktor kelembagaan petani dan lembaga pemerintah. Semakin

banyak kelompok petani yang terdapat di suatu wilayah akan memberikan

indeks nilai yang lebih tinggi. Hal ini berkaitan dengan beban pembinaan

yang harus dilaksanakan. Pada aspek lembaga pemerintah, penilaian

dilakukan terhadap personil pada tingkat lapangan terhadap kondisi ideal

yang seharusnya ada. Sebagai ilustrasi, dalam suatu wilayah UPTD

Perkebunan yang memiliki jumlah personil satu orang kepala UPTD, satu

orang kepala TU UPTD dan dua orang pelaksana akan memiliki bobot nilai

80, sedangkan jika hanya memiliki satu orang kepala UPTD tanpa personil

pendukung lainnya akan diberikan bobot nilai 20. Secara rinci indeks nilai

profil sumberdaya sosial ekonomi dapat dilihat pada Tabel 11 dan

Gambar 19.

Tabel 11. Indeks Nilai Profil Aspek Sumberdaya Sosial Ekonomi

(39)

Laporan Hasil 2012

38 Identifikasi Kebutuhan Pengembangan Tanaman Teh di Kabupaten Garut Tahun Anggaran 2012 No. Kecamatan

Sumber : Hasil ide

Gambar 18. G

Faktor lain

sumberdaya sosia

demikian faktor

Cigedug, Cikajan

38 Identifikasi Kebutuhan Pengembangan Tanaman Teh di Kabupaten Garut Tahun Anggaran 2012 n

18. Grafik indeks nilai profil sumberdaya sosia

ain yang memberikan kontribusi terhadap inde

sosial ekonomi adalah faktor kelembagaan ekonom

or ini hanya terdapat di beberapa wilayah, y

jang, Cilawu, Cisurupan dan Pamulihan. Ha

konomi di kecamatan Cilawu memberikan inde

9,6800

16,080014,50014,4200 21,300

9,0800 15,0100

8,590010,59008,67009,9300 4,3400

SUMBERDAYA SOSIAL EKONOMI

Laporan Hasil 2012

38 Identifikasi Kebutuhan Pengembangan Tanaman Teh di Kabupaten Garut Tahun Anggaran 2012

L

indeks nilai profil

ekonomi. Namun

h, yaitu kecamatan

(40)

Laporan Hasil 2012

39 Identifikasi Kebutuhan Pengembangan Tanaman Teh di Kabupaten Garut Tahun Anggaran 2012

lebih tinggi dibandingkan pada wilayah lainnya. Hal ini disebabkan

kelembagaan ekonomi di wilayah ini, yaitu Koperasi PUTRA

MEKARmemiliki nilai tambah yang belum dimiliki oleh kelembagaan

koperasi lain, yaitu pernah memperoleh sertifikasi UTZ untuk kategori

produk tanaman teh berupa pucuk daun basah pada tahun 2010.

Sertifikasi ini memberikan jaminan atas mutu profesionalitas, sosial dan

lingkungan dalam praktek produksi yang diharapkan oleh pemilik merk

(pembeli) dan konsumen. Bagi produsen, sertifikasi ini menunjukkan telah

diterapkannya praktek pertanian yang bertanggungjawab, pengelolaan kebun

yang efisien serta produksi yang bertanggungjawab. Bagi pedagang dan

pengolah, sertifikasi ini merupakan jaminan atas produksi yang

bertanggungjawab yang dapat digunakan sebagai dasar penentuan keputusan

(41)

Laporan Hasil 2012

40 Identifikasi Kebutuhan Pengembangan Tanaman Teh di Kabupaten Garut Tahun Anggaran 2012

VI.

PERMASALAHAN YANG DIHADAPI

Berdasarkan hasil analisis terhadap profil aspek sumberdaya pengembangan

tanaman teh, terlihat beberapa permasalahan sebagai berikut:

1. Produktivitas tanaman yang masih rendah, yaitu sebesar 7,0 ton/hektar/tahun

dibandingkan produktivitas optimal yaitu sebesar 16,1 ton/hektar/tahun;

2. Penerapan teknologi pada tingkat kelompok masih tergolong rendah, yaitu

rata-rata sebesar 48,3% dari tingkat penerapan yang optimal;

3. Aspek kelembagaan, sebagian besar anggota kelompok relatif belum

memahami manfaat kelembagaan baik sebagai suatu organisasi maupun

manajemen pengelolaan kelembagaannya;

4. Petani belum memerankan diri sebagai wirausaha/manajer pada kebunnya

sendiri. Hal ini disebabkan karena orientasi para pekebun kepada kuantitas

hasil tanpa melihat kepada kualitas hasil yang seharusnya;

Berdasarkan identifikasi permasalahan tersebut, dapat dilihat bahwa

terdapat beberapa sumber permasalahan, antara lain:

1. Rendahnya produktivitas kebun disebabkan antara lain oleh populasi tanaman

yang kurang dari populasi optimal, yaitu 10.000 – 12.000 pohon per hektar.

Hal ini secara langsung berdampak terhadap tingkat pendapatan yang

diterima oleh pekebun. Diperkirakan populasi tanaman yang ada saat ini

berada pada kisaran kurang dari 60%. Selain itu faktor usia tanaman yang

telah melewati batas usia produksi diduga turut memberikan andil dalam

rendahnya produktivitas kebun;

2. Rendahnya tingkat aplikasi teknologi disebabkan antara lain oleh faktor

keterbatasan pekebun dalam aspek modal usaha. Penyebab rendahnya faktor

ini masih terkait secara langsung dengan kondisi kebun sebagaimana

dijelaskan dalam poin 1 sebelumnya. Rendahnya populasi serta usia tanaman

yang telah melewati batas usia produksi, menyebabkan tingkat pendapatan

yang diterima oleh pekebun tidak sesuai dengan harapan. Hal ini

menyebabkan sebagian besar pekebun tidak memiliki alternatif bagi

pemupukan modal usaha yang merupakan salah satu aspek penting bagi

(42)

Laporan Hasil 2012

41 Identifikasi Kebutuhan Pengembangan Tanaman Teh di Kabupaten Garut Tahun Anggaran 2012

terjaga. Selain itu, rata-rata usia pekebun teh yang berada pada kelompok

umur lebih > 40 tahun diduga menjadi salah satu faktor yang turut

memberikan andil dalam rendahnya tingkat penerapan teknologi. Pada usia

tersebut, umumnya pekebun akan lebih cenderung menerapkan teknologi

yang biasa dilaksanakan oleh para pekebun dan kurang memiliki respon

positif dalam inovasi teknologi atau dalam penerapan teknologi baru untuk

meningkatkan kualitas kebun yang dimilikinya;

3. Masih belum dirasakannya manfaat dalam berkelompok oleh pekebun teh

antara lain disebabkan faktor pengelolaan serta manajemen kelompok sebagai

suatu organisasi belum berjalan sebagaimana mestinya. Selain itu aspek

sumberdaya manusia juga berpengaruh dalam menjalankan kelembagaan

kelompok sebagai suatu organisasi yang memiliki manajemen pengelolaan

yang terarah dan terukur;

4. Orientasi pasar yang masih bersifat kuantitatif dibandingkan kualitatif

diantaranya disebabkan oleh faktor tidak adanya perbedaan harga yang

signifikan antara harga pembelian pucuk petikan halus dengan petikan kasar.

Pada faktor ini, setiap pemangku yang terlibat perlu memiliki kesepahaman

(43)

Laporan Hasil 2012

42 Identifikasi Kebutuhan Pengembangan Tanaman Teh di Kabupaten Garut Tahun Anggaran 2012

VII. POTENSI DAN PELUANG PENGEMBANGAN

Perkebunan teh rakyat merupakan bagian terbesar perkebunan teh yang

memiliki nilai dan fungsi strategis dalam menunjang aspek kehidupan masyarakat

di Kabupaten Garut. Secara budaya, tanaman ini telah lama menjadi bagian

pekebun di Kabupaten Garut bahkan sejak tanaman ini masuk dan dibudidayakan

pada skala usaha tani. Selain berfungsi ekonomi, pengembangan tanaman ini

akan memberikan dampak lain yang memang hingga saat ini belum dapat dinilai

secara terukur. Kondisi ini menunjukkan gambaran potensi yang cukup besar

bagi pengembangan tanaman ini pada masa mendatang.

Perkebunan teh rakyat di Kabupaten Garut, pada periode tahun 1980-an

pernah mengalami masa keemasan, dimana merupakan tulang punggung dalam

menunjang pangsa ekspor ke Timur Tengah (melalui PT Teh Nusamba). Pada

masa tersebut, budidaya tanaman ini dirasakan mampu memberikan manfaat

ekonomi yang cukup tinggi sehingga secara langsung meningkatkan taraf hidup

para pekebun sebagai pelaku usaha utama. Terjadinya konflik di Timur Tengah

pada periode sesudahnya, secara drastis telah mengurangi pasokan negara-negara

tujuan ekspor sehingga menjadikan usaha komoditas teh mengalami penurunan.

Hal ini berdampak kepada kemerosotan pendapatan yang diterima pekebun teh

yang pada akhirnya berdampak kepada kualitas kebun. Akibat lainnya adalah,

banyak kebun-kebun teh rakyat yang dialihkomoditaskan menjadi jenis tanaman

lain, karena dianggap lebih menguntungkan. Namun demikian seiring dengan

perkembangan tingkat harga yang terus meningkat serta adanya kejenuhan pasar

terhadap komoditas semusim lain yang memerlukan kondisi agroklimat sama

dengan tanaman teh, usaha budidaya ini mulai kembali bergairah.

Dilihat secara agroklimat, Kabupaten Garut memiliki potensi dalam

pengembangan jenis tanaman yang memerlukan kondisi agroklimat khusus.

Tanaman teh memerlukan kondisi udara yang sejuk, yaitu berkisar antara 13

25oC, dengan kelembaban relatif pada siang hari tidak kurang dari 70%. Adapun kondisi curah hujan yang optimal tidak kurang dari 2.000 mm per tahun. Jenis

tanah yang memenuhi syarat untuk pertumbuhan tanaman teh ialah tanah uang

(44)

Laporan Hasil 2012

43 Identifikasi Kebutuhan Pengembangan Tanaman Teh di Kabupaten Garut Tahun Anggaran 2012

keasaman (pH) 4,5

terletak di lereng-ler

(vulkanis muda). Se

serasi bersyarat bagi

Podzolik. Kedua jeni

yang terletak pada ket

1997).

Berdasarkan gam

spasial terhadap data

yang sesuai (S2/S3) ba

yang dilakukan berda

Gambar 19.

Gambar 19

Gambar 19 m

memiliki tingkat kese

Laporan Hasil 2012

43 Identifikasi Kebutuhan Pengembangan Tanaman Teh di Kabupaten Garut Tahun Anggaran 2012

– 5,6. Umumnya tanah yang baik untuk pe

lereng gunung berapi yang biasa dinamakan

Selain Andisol, jenis tanah lain yang dikateg

gi penanaman tanaman teh adalah tanah Lat

enis tanah ini umumnya terdapat di daerah ya

ketinggian dibawah 800 m dpl (Pusat Penelitian

gambaran kondisi tersebut, serta analisa yang di

ta agroklimat yang ada, Kabupaten Garut mer

) bagi pengembangan tanaman teh. Hasil ana

rdasarkan persyaratan tumbuh tanaman teh da

19. Hasil identifikasi kesesuaian lahan tanaman t

menunjukkan, sebagaian besar wilayah Ka

kesesuaian S2 (agak sesuai) bagi pengembanga

Laporan Hasil 2012

43 Identifikasi Kebutuhan Pengembangan Tanaman Teh di Kabupaten Garut Tahun Anggaran 2012

uk pertumbuhan teh,

kan tanah Andisol

tegorikan sebagai

Latosol dan tanah

yang lebih rendah

tian Teh dan Kina,

g dilakukan secara

erupakan wilayah

nalisis kesesuaian

dapat dilihat pada

an teh

Kabupaten Garut

Gambar

Gambar 1. Pertumbuhan luasan 6 (enam) komoditas unggulan
Gambar 2.
Gambar 3. Letak Geografis
Gambar 4.  Pr 4.  Proporsi 10 kecamatan terluas di Kabupatepaten Garut
+7

Referensi

Dokumen terkait

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perkembangan konversi tanaman teh di PTPN IV, untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi produksi usaha tanaman teh

Pada penelitian identifikasi dan inventarisasi yang sudah dilakukan oleh (Sari, 2012) Suatu kajian identifikasi dan inventarisasi tanaman ubi kayu (Manihot esculenta.CRANTZ)

Skripsi yang berjudul “ Identifikasi Potensi Kawasan Pengembangan Budidaya Tanaman Bambu Di Kabupaten Gunung Kidul (Studi Kasus Di Kecamatan Playen )” disusun sebagai

Insektisida nabati suren ( Toona sureni ) merupakan insektisida terbaik dalam mengendalikan ulat jengkal ( Hyposidra talaca ) tanaman teh di Cikalongwetan, Kabupaten

“ANALISIS KEBUTUHAN MODAL USAHA PERKEBUNAN TEH UNTUK MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN PETANI TEH DI DAERAH KECAMATAN SIDAMANIK KABUPATEN SIMALUNGUN”. 1.2

Tujuan yang ingin dicapai dari praktik identifikasi tanaman hutan adalah :4. Mengetahui jenis-jenis tanaman yang berada di Hutan

Pada kisaran tersebut produksi pucuk daun teh optimal tercapai pada saat tanaman berumur tujuh tahun, sedangkan jika ketinggian permukaan lebih dari 1 200 m dpl produksi pucuk daun

Judul Penelitian : Analisis Citra Landsat 8 Untuk Identifikasi Tanaman Cengkeh di Kabupaten Buleleng Bali Peneliti : I Made Yuliara, S.Si., M.T.. JURUSAN FISIKA FAKULTAS MATEMATIKA