• Tidak ada hasil yang ditemukan

Transformasi Fasade Ruko (Studi Kasus di Koridor Mayjend Sutoyo Siswomihardjo, Medan)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "Transformasi Fasade Ruko (Studi Kasus di Koridor Mayjend Sutoyo Siswomihardjo, Medan)"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

75

DAFTAR NARASUMBER

Nama : Ahong

Umur : 36

Alamat : Jl. Mayjend Sutoyo Siswomihardjo (Jl. Perdana)

Pekerjaan: Pedagang

Nama : Cicik

Umur : 28

Alamat : Jl. Mayjend Sutoyo Siswomihardjo (Jl. Perdana)

Pekerjaan: Pedagang

Nama : Ahmad Helmi

Umur : 45

Alamat : Jl. Mayjend Sutoyo Siswomihardjo (Jl. Perdana)

Pekerjaan: Wiraswasta

Nama : Ahun

Umur : 33

Alamat : Jl. Mayjend Sutoyo Siswomihardjo (Jl. Perdana)

Pekerjaan: Pedagang

Nama : Linawaty

Umur : 41

(3)
(4)
(5)
(6)

TRANSFORMASI FASADE RUKO

STUDI KASUS DI KORIDOR MAYJEND SUTOYO, MEDAN

Rifqi Sudrajat, Imam Faisal Pane

Departemen Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara

[email protected]

ABSTRACT

The existence of shophouse is identical to Chinese Culture. In Indonesia , the emergence of shophouse has started since the arrival of the Chinese community. In its development in Indonesia the shophouse which is inhabitated by the Chinese began to adopt other cultures such as Malay and European. The shophouse facade has undergone changes over time. The aim of this study is to determine the transformation of shophouse facade as well as things that cause the change in context with cultural transformation. Three shophouse in Mayjend Sutoyo Street are used as sample. These three shophouse are different in style and appearance, and were built in different period. The researcher gathered primary data through the observation of shophouse facade element, and an interview with the owner or the occupant of the shophouse. The secondary data was obtained through literature studies that related to the history and life of the Chinese community in Medan. The finding of this research found that the changes of shophouse facade caused by the changes in the Chinese culture. The source of the changs comes from within the culture (evolution) and outer culture (diffusion). The diffusion in this study caused by the technological development and the changing trends which comes from the western culture. The evolution caused by the changing in needs and preferences of the inhabitant culture. The finding of this study may recommend that the design of the facade shophouse must be compatible with the inhabitant culture.

Keywords: transformation, culture, facade, shophouse. PENDAHULUAN

Pada akhir abad ke-19 sampai awal abad ke-20 terjadi gelombang

migrasi besar ke kota Medan.

Orang Cina dan Jawa didatangkan

sebagai kuli kontrak akibat kurangnya tenaga kerja di perkebunan. Lingkungan perkebunan yang buruk mengakibatkan kuli dari Cina kabur dan mengakhiri kontrak kerjanya Setelah itu, sebagian dari kuli-kuli Cina ini pulang kembali ke negaranya dan sebagian lagi menetap di Medan. Mereka yang menetap kemudian diberi hak istimewa dan dipercaya untuk

mengembangkan perdagangan di

Medan.

Perkembangan pesat di Kota Medan pada masa itu dapat ditandai dengan berkembangnya kawasan perdagangan

di kota Medan yang pada umumnya dihuni oleh etnis Cina. Masyarakat yang tinggal di kawasan perdagangan ini menjalankan usaha di rumah mereka. Kawasan inilah yang disebut sebagai

pecinan. Salah satu kawasan

perdagangan yang berkembang dengan pesat saat itu adalah Kesawan . Kesawan yang dulunya merupakan perkampungan telah berubah menjadi menjadi salah satu pusat perdagangan di Kota Medan.

Di kawasan Kesawan terdapat suatu pasar, pasar ini adalah pasar tertua di

Kota Medan, bangsa Belanda

menjulukinya sebagai Oude Markt.

(7)

Belanda.Di koridor Mayjend Sutoyo dapat pula kita temukan sejumlah ruko modern yang menggantikan ruko-ruko lama.

Setiap tipe ruko memiliki gaya arsitektur yang berbeda, serta elemen fasade yang berbeda pula. Perbedaan pada fasade ruko-ruko inilah yang menjadi salah satu dasar penelitian ini. Hal apa yang menyebabkan perbedaan fasade pada ruko-ruko tersebut ?. Mengapa fasade ruko terus berubah ? tentunya hal ini menjadi pertanyaan. Menurut Krier (2002) fasade bangunan menyampaikan fenomena budaya pada masa bangunan itu dibangun (Krier, 2001). Menurut Rapoport dalam Loebis (2002) arsitektur ditentukan berdasarkan budaya. Dengan demikian transformasi dalam arsitektur dan prosesnya juga ditentukan oleh budaya.

Apakah perubahan fasade ruko juga diakibatkan oleh perubahan budaya ?. Untuk itu, penelitian ini dilakukan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas dengan cara menelusuri fasade ruko di koridor Jalan Mayjend Sutoyo serta kaitannya dengan transformasi budaya. TINJAUAN PUSTAKA

Budaya dalam Arsitektur

Budaya adalah suatu hal yang

menceritakan tentang sekelompok orang yang memiliki nilai, kepercayaan dan pandangan hidup yang sama, serta suatu sistem simbol yang dipelajari dan disebarkan. Budaya menciptakan suatu sistem aturan dan kebiasaan, yang

merefleksikan idealisme dan

menciptakan gaya hidup, tata cara

hidup, peran, kelakuan, makanan,

bahkan suatu bentuk buatan misalnya arsitektur, Parson dan Shils, Rapoport dalam Loebis (2002).

Transformasi

Transformasi adalah salah satu insting dasar manusia yang dapat didefinisikan

sebagai serangkaian transisi pada

masyarakat dalam usahanya untuk

melakukan adaptasi dalam perubahan di dunia, Loebis (2002).

Sumber Perubahan

Perubahan dapat didefinisikan sebagai serangkaian kejadian yang terjadi dalam suatu kurun waktu yang melahirkan suatu modifikasi atau pergantian suatu elemen dari pola budaya yang mengarah pada pergerakan pola dalam waktu dan ruang yang menghasilkan pola budaya lain (Loebis, 2002). Perubahan budaya berkaitan dengan

waktu. Perubahan budaya bersifat

historis dan berhubungan dengan urutan kejadian dan pergerakan dalam ruang dan waktu dan hanya bisa dipelajari melalui catatan historis.

Perubahan Budaya Melalui Evolusi Menuruth Smith dalam Loebis (2002), perubahan disebabkan oleh tiga faktor. Faktor yang pertama adalah kumpulan minat materi masyarakat, yang kedua adalah ideologi yang menanamkan pandangan hidup, dan yang ketiga adalah ketertarikan suatu kelompok budaya.

Perubahan Budaya Melalui Difusi

Difusi dapat diartikan sebagai

perpindahan elemen budaya dari satu budaya ke budaya lainnya (Loebis, 2002). Paham difusionisme meyakini

bahwa perubahan terbesar berasal

dari luar budaya penerima, dan tugas

para peneliti adalah untuk mencari

keanehan, pengulangan yang terjadi

dimana

perubahan

mendesak

pengaruhnya pada kultur penerima.

Perpaduan Pertukaran Internal dan Eksternal

Dalam paham difusionisme efek

pertukaran internal dalam proses

perubahan dan transformasi tidak

diperhitungkan. Dalam Paham

evolusionisme perubahan yang

dihasilkan akibat faktor eksternal

diabaikan. Pertukaran budaya internal terjadi karena pertukaran elemen budaya

dalam suatu kebudayaan (difusi

(8)

eksternal terjadi karena pertukaran elemen budaya dengan budaya lain (evolusi eksternal), (Loebis, 2002). Fasade

Menurut Krier (2001), fasade

merupakan elemen arsitektur terpenting yang dapat mengekspresikan fungsi serta makna suatu bangunan. Fasade menyampaikan fenomena budaya pada masa bangunan itu dibangun. Fasade suatu bangunan dapat mencerminkan

penghuni bangunannya dan pada

akhirnya fasade menjadi representasi suatu komunitas kepada publik (Krier, 2001).

Elemen-elemen pembentuk fasade

bangunan, antara lain adalah sebagai berikut (Krier, 2001):

Menurut Wicaksono (2007) ruko adalah sebutan untuk bangunan-bangunan di Indonesia yang pada umumnya memiliki ketinggian dua hingga lima lantai dan memiliki fungsi ganda yaitu sebagai hunian dan komersial. Lantai bawah biasanya dipergunakan sebagai tempat usaha atau kantor, sedangkan lantai atas dimanfaatkan sebagai tempat tinggal.

Istilah ruko diperkirakan berasal dari

bahasa Hokkian ,

tiam chu

yang

berarti "rumah" dan "toko". Etnis

Hokkian yang mendominasi populasi Cina perantauan di kota-kota Asia

Tenggara mempunyai kebiasaan

menetap dan melakukan aktivitas

perdagangan dan rumah tangga di ruko (Wicaksono, 2007).

METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian ini tergolong ke dalam jenis

penelitian kualitatif.

Penelitian-penelitian yang biasanya menunjang penggunaan pengumpulan data dengan

metode kualitatif adalah penelitian historis dan penelitian deskriptif.

Sampel dalam penelitian ini dipilih

melalui metode purpossive sampling.

Objek pada penelitian ini adalah tiga tipe ruko yaitu ruko tipe 2 (1910-an), tipe 9 (1950-an), tipe 13 (2000-an). Ruko-ruko tersebut dipilih dikarenakan memiliki fasade dan gaya arsitektur yang berbeda dan rentang waktu yang cukup jauh sehingga perubahannya lebih mudah diamati.

Data primer diperoleh melalui survey visual, penggambaran dan pemetaan

serta interview. Sedangkan data

sekunder diperoleh melalui studi

literatur. Setelah data dikumpulkan

selanjutnya dilakukan analisis

transformasi fasade dengan metode deskriptif dan penyebab perubahan fasade dengan metode historis.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Analisis Transformasi Fasade Ruko

Entrance dan Pintu

Ruko Tipe 2

Pada tipe ruko ini, elemen pintu mendominasi fasade lantai 1 ruko. Model pintunya berupa panel lipat berbahan kayu yang dilengkapi dengan gerbang tambahan.

Gambar 1. Transformasi Entrance dan Pintu pada Ruko Tipe 2

Ruko Tipe 9

Gerbang Tambahan Ruko di Kesawan dengan

Entrance yang Serupa dengan Ruko di Penang

Ruko di Penang dalam periode yang sama

Entrance Ruko Sekarang Perkiraan Tampilan

(9)

Pintu masuk utama pada tipe ruko ini berupa pintu lipat yang dilengkapi dengan kaca. Terkadang dilengkapi dengan gerbang tambahan.

Gambar 2. Entrance dan Pintu pada Ruko Tipe 9

Ruko Tipe 13

Pada tipe ruko ini pintu utama yang digunakan berupa pintu panel lipat berbahan metal.

Gambar 3. Entrance dan Pintu pada Ruko Tipe 13

Berdasarkan gambar-gambar atas, maka dapat diketahui bahwa ruko tipe 2 menggunakan pintu dengan material

kayu, ruko tipe 13 tidak hanya

menggunakan pintu kayu tetapi juga material lain seperti metal, aluminium. Ruko 9 dan 13 juga banyak yang dilengkapi dengan pintu atau jerjak tambahan. Dengan demikian, maka dapat diketahui bahwa perubahan fisik yang terjadi pada pintu ruko adalah perubahan material pintu dari kayu menjadi metal, perubahan dari pintu tanpa jerjak menjadi pintu dengan jerjak. Adapun perubahan fisik yang terjadi pada entrance dan pinturuko diakibatkan oleh difusi dan evolusi. Difusi disini

akibatkan oleh pergantian tren,

sedangkan evolusi diakibatkan oleh fungsi dan kebutuhan serta kemanan penghuni ruko.

Jendela

Ruko Tipe 2

Ruko tipe ini menggunakan jendela bermodel ganda dengan kisi-kisi. Di atas jendela dapat dijumpai fanlight.

Gambar 4. Jendela Ruko Tipe 2

Ruko Tipe 9

Pada ruko tipe 9 ini jendela yang digunakan adalah jendela mati dengan

kaca berwarna gelap dan kusen

aluminium.

Gambar 5. Jendela Ruko Tipe 9

Ruko Tipe 13

Pada fasade depan tipe ruko ini jendela yang digunakan adalah jendela mati berupa kaca-kaca pada fasade depan, kusen aluminium .

Gambar 6. Jendela Ruko Tipe 13

Berdasarkan gambar-gambar di atas, maka dapat diketahui bahwa pada ruko tipe 2 ditemukan jendela dengan

kisi-kisi kayu, penggunan kaca pada

jendelanya sangat minimal, skala

jendelanya cukup besar sehingga

memenuhi fasade lantai dua bangunan. Pada ruko tipe 9 dan 13 ditemukan ruko dengan jendela mati pada fasade depannya. Kusen pada ruko modern tidak hanya menggunakan kayu saja, ada juga yang menggunakan material seperti aluminium.

Pintu Lipat Kayu Gerbang Tambahan

Pintu Lipat Metal

Fanlight

Kisi-kisi

Jendela dengan Frame Aluminium dan Kaca Mati dan Teralis

Detail Ventilasi

(10)

Adapun perubahan fisik yang terjadi pada jendela ruko yaitu perubahan dari penggunaan jendela yang dapat dibuka menjadi jendela mati, penggunaan kaca yang minimal pada desain jendela menjadi jendela yang didominasi oleh elemen kaca, perubahan kusen kayu menjadi kusen aluminium. Perubahan

pada jendela ruko ini ternyata

diakibatkan oleh difusi dan evolusi.

Keduanya disebabkan oleh

perkembangan teknologi.  Dinding

Ruko Tipe 2

Pada tipe ruko ini digunakan dinding bata dengan plasteran polos bertekstur halus.

Gambar 7. Dinding Ruko Tipe 2

Ruko Tipe 9

Tipe ruko ini menggunakan material

beton sebagai dindingnya dengan

plasteran polos bertekstur halus.

Gambar 8. Dinding Ruko Tipe 9

Ruko Tipe 13

Pada tipe ruko ini dindingnya dilapisi

dengan material seperti panel

alucobond.

Gambar 9. Dinding Ruko Tipe 13

Berdasarkan gambar-gambar di atas, maka dapat diketahui bahwa fasade ruko-ruko di Jalan Mayjend Sutoyo menggunakan dinding bertekstur dan dinding polos. Pada ruko tipe 3dapat diamati dindingnya merupakan dinding polos dengan plasteran. Pada ruko tipe 9 dijumpai dinding dengan tekstur dan finishing polos. Namun, pada tipe 13

digunakan panel-panel alucobond.

Terjadi perubahan elemen dinding dari elemen dinding plasteran polos menjadi dinding yang dilapisi dengan alucobond.

Perubahan pada elemen dinding

tentunya sangat terkait dengan

konstruksi dan teknologi bangunan. Teknologi dan konstruksi dari luar banyak berpengaruh ke dalam arsitektur di Indonesia salah satunya yaitu ruko.

Jadi dapat disimpulkan bahwa

perubahan dinding ruko diakibatkan oleh difusi.

Ornamen

Ruko Tipe 2

Pada tipe ruko ini dapat dijumpai ornamen lengkungan di atas jendela, dan di atas lengkungan tersebut terdapat suatu keystone. Selain itu terdapat pula ukiran-ukiran

Gambar 10. Ornamen Ruko tipe 2

Ruko Tipe 9

Pada ruko tipe ini ornamentasinya sangat minim, hanya terdapat detail lengkungan pada ventilasi bangunan.

(11)

Gambar 11. Ornamen Ruko tipe 8

Ruko Tipe 13

Ornamen pada tipe ruko ini berupa berupa bidang persegi panjang , yang terbuat dari alucobond.

Gambar 12. Ornamen Ruko tipe 12

Berdasarkan gambar-gambar di atas, maka dapat diketahui bahwa terdapat

ornamen pada fasade

bangunan-bangunan ruko di Jalan Mayjend Sutoyo. Melalui observasi, dapat kita amati bahwa pada fasade ruko kolonial (tipe 2) terdapat ornamen dan ukiran yang sangat kental akan gaya Eropa dengan jenis yang cukup beragam mulai dari kolom, pilaster, ventilasi, keystone dan detail-detail lainnya. Keberadaan ornamen ini memberikan karakter yang khas dan kesan megah pada fasade ruko tersebut. Berlawanan dengan fasade ruko tipe 2, pada ruko tipe 9 dan tipe 13 jarang ditemukan ornamen.

Perubahan yang terjadi pada ornamen ruko yaitu berkurangnya penggunaan ornamen, perubahan ornamen dengan bentuk yang rumit menjadi ornamen dengan bentuk sederhana. Perubahan ornamen pada fasade ruko terjadi akibat difusi, dan dari evolusi. Difusi disini diakibatkan oleh pergantian tren dalam arsitektur yang menyebabkan naik dan

turunnya penggunaan ornamen.

Sedangkan evolusi disini diakibatkan oleh keinginan, serta kebutuhan pemilik ruko. aslinya menggunakan penutup atap genteng yang terbuat dari tanah liat dan

bentuk atapnya diperkirakan

menggunakan atap Ngang Shan (lihat gambar di bawah).

Gambar 13. Atap Ruko tipe 2

Ruko Tipe 9

Ruko tipe ini menggunakan atap berbentuk perisai sedangkan material penutup atap yang digunakan adalah seng.

Gambar 14. Atap Ruko tipe 9

Ruko Tipe 13

Pada tipe ruko ini digunakan atap berbentuk datar yang terbuat dari cor beton. Selain itu pada sisi depan ruko

terdapat semacam mahkota yang

berfungsi sebagai elemen dekoratif.

Berdasarkan gambar di atas, maka dapat kita amati perubahan bentuk atap dari bentuk atap miring menjadi bentuk atap

Atap Ngang Shan

Ornamen di Ujung Atap Salah Satu Ruko di Jl. Masjid

dengan Atap Ngang Shan Perkiraan Bentuk Atap

Seng Atap Saat ini

Atap Perisai Material Seng

Atap Datar Beton

(12)

datar. Selain itu juga terjadi perubahan material penutup atap dari atap genteng yang terbuat dari tanah liat menjadi atap seng dan atap dak beton. Perubahan pada atap ruko ini terjadi akibat adanya faktor dari dalam (evolusi) dan faktor dari luar (difusi). Evolusi disini yaitu

penggunaan bentuk atap sebagai

identitas budaya sedangkan difusi disini diakibatkan oleh ten arsitektur serta

perkembangan teknologi yang

mengakibatkan perubahan pada bentuk atap serta material penutupnya.

KESIMPULAN

Berdasarkan temuan pada analisis

transformasi fasade, maka dapat

disimpulkan bahwa fasade ruko di koridor Mayjend Sutoyo mengalami perubahan seiring dengan perubahan zaman. Perubahan fisik pada fasade ruko

dapat dilihat berdasarkan elemen

penyusun fasadenya baik itu entrance, pintu, jendela, dinding, ornamen, dan atap. Selanjutnya, terjadinya perubahan pada elemen fasade ruko ini ternyata diakibatkan oleh perubahan budaya. Dalam penelitian ini , perubahan fasade ruko terjadi akibat terjadinya perubahan budaya pada masyarakat Cina sebagai

penghuni ruko di kota Medan.

Perubahan budaya pada etnis Cina ini diakibatkan oleh dua faktor yaitu faktor dari dalam budaya (evolusi) dan faktor dari luar budaya itu sendiri (difusi). Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan oleh Loebis (2002) yang menyatakan bahwa mekanisme perubahan budaya terjadi akibat difusi dan evolusi. Perubahan budaya akibat proses difusi

pada kasus ini terjadi akibat

perkembangan teknologi dan perubahan tren arsitektur. Perubahan budaya akibat proses evolusi terjadi akibat identitas diri suatu kelompok masyarakat , perubahan pola pikir dan preferensi masyarakat mengenai gaya tampilan fasade serta gaya arsitektur pada ruko. Perubahan akibat proses difusi dan evolusi ini nantinya akan berakibat pada perubahan budaya suatu masyarakat.

Arsitektur sebagai salah satu unsur ataupun materi budaya akan berubah sesuai dengan perubahan yang terjadi pada masyarakat. Perubahan dalam arsitektur tentunya akan berdampak pada perubahan tampilan fasade bangunan. Hal ini juga sejalan dengan pendapat Krier (2001) bahwa fasade suatu bangunan mewakili fenomena

budaya pada bangunan tersebut

dibangun. Dalam penelitian ini fasade suatu ruko berubah seiring dengan fenomena budaya yang terjadi pada etnis Cina di kota Medan.

DAFTAR PUSTAKA

Akmal, Imelda, (2009). Ruko dan

Rukan, Jakarta, PT Gramedia Pustaka Utama

Buiskool, Dirk A, (2009). The Chinese Commercial Elite of Medan 1890-1942:

The Penang Connection, JMBRAS, Vol.

82, Part, pp. 113–129

Hamdani, Nasrul, (2006). Menulis

Sejarah Kelompok Minoritas, untuk Siapa : ‘Cina Medan’ 1930-1960?, disajikan pada Konferensi Nasional Sejarah VIII, Jakarta

Handinoto, (1999). Lingkungan

“Pecinan” dalam Tata Ruang Kota di

Kurniawan, Stefanus, (2010).

Pemaknaan Ruko Sebagai Hunian Bagi Masyarakat Tionghoa di Indonesia. Depok, Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Indonesia

Loebis, Nawawiy, (2002). Architecture

in Transformation, The Case of Batak Toba, Universiti Sains Malaysia

(13)

Nas, P, (2009). Masa Lalu dalam Masa Kini Arsitektur di Indonesia, Jakarta, Penerbit Gramedia

Ong, Henry, (2004). Kajian Genius Loci dengan Pendekatan Fenomenologi Arsitektur Studi Kasus : Kawasan Kesawan, Medan. Program Pasca Sarjana Magister Teknik Arsitektur Universitas Sumatera Utara.

Pradityo, R, (2013). Parijs Van

Soematra. Medan, Departemen

Arsitektur Fakultas Teknik USU.

Sinar, T, (1996). Sejarah Medan

Tempoe Doeloe, Medan Penerbit Perwira

Singapore Urban Redevelopment

Authority, (2004) . Singapore

Architectural Heritage.Singapura, Urban Redevelopment Authority

Sinulingga, S, (2011). Metode

Penelitian, Medan, Penerbit Usupress

Tambunan, M. (2013).

Pertanggungjawaban Penyewa Ruko Apabila Terjadi Kerusakan Pada Saat Perjanjian Sewa Menyewa Berakhir, Medan, Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

Teuling, M, (2009). Rebirth of the

Malacca Shophouse a Typological Research. Faculty of Architecture, Delft University of Technology.

Wahid, Alamsyah, (2013). Teori

Gambar

Gambar 1. Transformasi Entrance dan Pintu pada Ruko Tipe 2
Gambar 4. Jendela Ruko Tipe 2
Gambar 10. Ornamen Ruko tipe 2
Gambar 13. Atap Ruko tipe 2

Referensi

Dokumen terkait

Some behaviors automatically execute complex code to modify objects within the scenegraph, so take care to ensure that behavior processing does not bog down application

Pertama : Membentuk Tim Nagari Sadar Gizi Puskesmas Koto Baru sebagaimana dalam lampiran Keputusan ini. Kedua : Tim Nagari Sadar Gizi Puskesmas Koto Baru8.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari pengumpulan data dengan melakukan wawancara kepada pihak klinik pada unit farmasi dan penyakit dalam,

TIK: Selesai mengambil materi ini mahasiswa diharapkan mampu dan terampil dalam mengaplikasikan hal-hal yang berkaitan dengan Pasar Barang dan Uang dalam

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah library research (studi kepustakaan). Hasil penelitian sebagai berikut; latarbelakang pengiriman surat sebagai media

Aktivitas Dalam Memprediksi Perubahan Laba Pada Perusahaan Metal And Allied Products Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia”.. Skripsi ini diajukan untuk memenuhi sebagian

Rajamala, Susarmo, Rupakenca menari-nari sambil minum arak, kemudian Sarindri datang memberikan minuman pada Kencaka, iringan sirep dilanjutkan dialog. Kencaka : Lhoh

Dalam penelitian ini angket digunakan untuk memperoleh data, yaitu pengaruh sumber belajar (guru, buku paket, lingkungan, dan internet) terhadap motivasi belajar