• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGGUNAAN SALEP MINYAK ATSIRI KULIT BUAH JERUK NIPIS (Citrus aurantifolia L.) SEBAGAI ANTIBAKTERI INFEKSI KULIT OLEH Staphylococcus aureus PADA TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus) The antibacterial effect of Lime peel (Citrus aurantifolia L.) essential oil o

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "PENGGUNAAN SALEP MINYAK ATSIRI KULIT BUAH JERUK NIPIS (Citrus aurantifolia L.) SEBAGAI ANTIBAKTERI INFEKSI KULIT OLEH Staphylococcus aureus PADA TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus) The antibacterial effect of Lime peel (Citrus aurantifolia L.) essential oil o"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

aureus

PADA TIKUS PUTIH

(Rattus norvegicus)

The antibacterial effect of Lime peel

(

Citrus aurantifolia

L.)

essential oil ointment

on Staphylococcus aureus infected rats

Setyo Sri Raharjo, Maryani, Kisrini

Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret

Jl. Ir. Sutami 36 A, Surakarta

ABSTRAK

Kulit buah jeruk nipis (Citrus aurantifolia) mengandung minyak atsiri dengan berbagai komponen seperti limonena, linalool, dan mirsen yang diduga bermanfaat sebagai antibakteri. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui efek antibakteri salep minyak atsiri kulit buah jeruk nipis terhadap Staphylococcus aureusin vivo.

Sebanyak 30 ekor tikus putih jantan (Rattus norvegicus) dengan usia 2-3 bulan, berat badan 150-200 g dibagi

5 kelompok secara random. Setelah adaptasi lingkungan semua tikus diberi perlukaan dengan cara punggung tikus dicukur bulunya kemudian disemprot dengan chloretyl spray, selanjutnya luka dibuat dengan membuat luka bakar diameter 2 cm. Inokulasi bakteri S. aureus isolate klinik dengan konsentrasi 10-3 sebanyak 0,1

mL. Pada hari ke 4 setelah inokulasi, kelompok I (kontrol negatif) diberi vaselin pada luka infeksi. Kelompok II (kontrol positif) diolesi salep kloramfenikol. Kelompok III, IV, dan V berturut-turut diolesi salep minyak atsiri kulit buah jeruk nipis konsentrasi 20%, 40%, 80%. Semua perlakuan dilakukan setiap hari selama 21 hari. Pemberian salep masing-masing sebanyak 100 mg sekali pemberian dengan menggunakan solet plastik. Setelah disalep luka ditutup dengan kassa steril. Pengamatan luas luka dilakukan pada hari ke1, 3, 7, 14 dan 21. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji ANAVA dilanjutkan dengan Post Hoc test.Hasil penelitian pada hari 3, 7, 14 dan 21 menunjukkan ada perbedaan bermakna pada kelima kelompok perlakuan masing-masing didapat p=0,00 (p<0,005), p=0,007 (p<0,05), p=0,007 (p<0,05), dan p=0,007 (p<0,05). Salep minyak atsiri kulit buah jeruk nipis berpengaruh sebagai antibakteri infeksi kulit oleh S. aureus pada tikus putih.

Kata kunci: kulit buah jeruk nipis (Citrus aurantifolia), minyak atsiri, luka bakar

ABSTRACT

The peel of Lime (Citrus aurantifolia) contains essential oil which might be consisting of various components such as limonena, linalool, and mirsen. Those chemical compound have been used as antibacterial properties. This

research aimed to find out the antibacterial effect of the essential oil ointment of lime peel against Staphylococcus

aureus by in vivo technique. A total of 30 male rats (Rattus norvegicus) aged 2-3 months, weight 150 to 200 g were randomly divided into 5 groups. After being adapted all rats were assigned burn injury 2 cm in diameter. Staphylococcus aureus isolate 0,1 ml were inoculated with a concentration of 10-3. On day 4 after inoculation,

group I (negative control) was lubricated by vaselin album on the wound infection. Group II (positive control) was lubricated by chloramphenicol ointment. Essential oils ointment of lime pell at concentration 20%, 40%, and 80% respectively. All the treatments were given daily for up to 21 days. Administration of 100 mg ointments was given by using plastic solet. Wound size was observed on day 1, 3, 7, 14 and 21. The data were analyzed using ANAVA

test followed by post hoc test. Result on day 3, 7, 14 and 21 showed significant differences among five groups p= 0.00 (p <0.005), p= 0.007 (p <0.05), p= 0.007 (p <0.05), and p= 0.007 (p<0.05), respectively. Ointment of essential

oil of lime peel has antibacterial effect on skin infection in rats.

(2)

PENDAHULUAN

Penyakit infeksi merupakan masalah kesehatan utama di negara berkembang,

walaupun insidensinya menurun dengan

ditemukannya antimikroba (Rendra, 2004).

Namun efek samping yang tidak dikehendaki tidak jarang mengiringi penggunaan antimikroba seperti alergi dan toksik yang menyulitkan bahkan kadang-kadang berakibat fatal (Baierre dan Jacobs, 1998). Penggunaan secara berlebihan dan tidak rasional menimbulkan masalah

resistensi (Anantharayan, 2000). Walaupun

terdapat efek tak diinginkan dari antimikroba, namun penggunaannya tak dapat dielakkan, sementara itu alam telah menyediakan bahan-bahan yang dapat digunakan untuk melawan

mikroba (Katno, 2004).

Penggunaan bahan alam, baik sebagai obat maupun tujuan lain cenderung meningkat. Berbagai keuntungan yang dimiliki bahan alam, antara lain: relatif mudah didapat, murah, efek sampingnya relatif rendah, dalam suatu ramuan dengan komponen berbeda memiliki efek saling mendukung, pada satu tanaman memiliki lebih dari satu efek farmakologi, serta lebih sesuai untuk penyakit-penyakit metabolik dan degeneratif. Namun selain berbagai keuntungan, bahan alam juga memiliki beberapa kelemahan yang juga merupakan kendala dalam pengembangan obat bahan alam. Kelemahan obat bahan alam antara lain: efek farmakologisnya yang lemah, bahan baku belum terstandar, belum dilakukan uji klinik, dan mudah tercemar berbagai jenis

mikroorganisme (Katno, 2004).

Tanaman jeruk nipis mempunyai beberapa kandungan seperti asam sitrat, damar, lemak,

vitamin C, vitamin B1 (Tampubolon, 1995),

asam amino triptofan, lisin (Mursito, 2002) dan

mineral seperti besi, kalsium, fosfor, synephrine dan N-methyltyramine terdapat pada buah masak. Selain itu, jeruk nipis juga mengandung

flavonoid seperti poncirin, hesperidin, rhoifolin, dan naringin (Dalimartha, 2000), saponin dan

minyak atsiri (DepKes RI, 1991).

Kandungan-kandungan tersebut berkhasiat sebagai

antiinflamasi, antibakteri, antifungi (Pertiwi,

1992), obat pelangsing, menetralkan bau amis, menghilangkan nikotin yang menempel pada gigi, memperlunak daging, mengobati wasir (Mursito,

2002), mengatasi terkilir, membersihkan lemak

di kulit wajah, menambah stamina, mukolitik, diuretik, peluruh keringat, dan membantu proses

pencernaan (Dalimartha, 2000).

Pada jeruk nipis, khususnya di bagian kulit buah, terdapat kandungan minyak atsiri yang terdiri dari berbagai komponen seperti terpen, sesquiterpen, aldehida, ester, dan sterol. Rincian komponen minyak atsiri kulit jeruk nipis adalah

sebagai berikut: limonena (82,06%), β pinene (7,29%), β mirsena (4,59%), β linalool (1,61%), α pinena (1,59%), terpineol (0,30%), α elemena (0,21%) (Agusta, 2000), fellandren, lemon

kamfer, dan linalin asetat (Tampubolon, 1995). Keterangan dari berbagai pustaka menyebutkan bahwa minyak atsiri jeruk nipis, bermanfaat

sebagai antibakteri (Dalimartha, 2000; Mursito, 2002; Cvetnic dan Knezevic, 2004). Yang

diduga merupakan senyawa antibakteri adalah limonena, linalool, dan mirsen dimana bekerja dengan menghancurkan membran sel bakteri (Pasqua et al., 2007).

(3)

untuk membuktikan efek antibakteri, antara lain: minyak atsiri daun jeruk nipis mempunyai aktivitas hambatan terhadap pertumbuhan

Staphylococcus aureus dan Escherichia coli

secara in vitro (Dalimartha, 2000), minyak atsiri

yang diekstrak dari kulit pohon jeruk nipis juga terbukti dapat menghambat pertumbuhan

Staphylococcus aureus secara in vitro (Quintero

et al., 2004), disamping itu air perasan jeruk nipis mempunyai kemampuan menghambat pertumbuhan bakteri S. aureus, Eschericia coli, dan Streptococcus haemolyticus (Mursito, 2002).

Sehubungan dengan adanya indikasi

minyak atsiri kulit buah jeruk nipis sebagai antibakteri, maka perlu dilakukan penelitian tentang efek antibakteri minyak atsiri kulit buah jeruk nipis terhadap beberapa kuman, salah satu diantaranya terhadap S. aureus secara in vivo yang belum pernah dilakukan. Kuman ini merupakan kuman patogen yang menyebabkan pernanahan, abses, bahkan septikemia yang fatal. S. aureus

menghemolisa darah, mengkoagulase plasma dan menghasilkan enzim dan toksin. Beberapa spesies menyebabkan keracunan makanan dengan memproduksi enterotoksin yang bersifat tahan panas. Staphylococcus cepat resisten terhadap banyak antimikroba dan menyebabkan kesulitan dalam pengobatan (Jawetz et al., 1996).

Dari penjelasan diatas muncul pertanyaan, apakah salep minyak atsiri kulit buah jeruk nipis mempunyai efek anti bakteri terhadap infeksi kulit oleh Staphylococcus aureus secara

in vivo? Sedangkan tujuan penelitian ini untuk mengetahui efek antibakteri salep minyak atsiri kulit buah jeruk nipis terhadap Staphylococcus aureus secara in vivo.

METODE PENELITIAN

Penelitian bersifat analitik eksperimental dengan rancangan post test only control group design yang dilakukan di Laboratorium Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Bahan

Salep minyak atsiri kulit buah jeruk nipis

(Citrus aurantifolia) isolat lokal, berasal dari hasil destilasi kulit buah jeruk nipis segar. Setiap

300 gram kulit buah jeruk nipis yang didestilasi akan diperoleh 0,48 ml minyak atsiri. Kemudian

minyak atsiri yang diperoleh dibuat salep dengan mencampur vaselin album yang dibuat secara aseptis dengan dosis untuk memperoleh

konsentrasi 20%, 40% dan 80%. Minyak atsiri

kulit buah jeruk nipis segar didapatkan dari BPTO Tawangmangu. Bakteri Staphylococcus aureus isolate klinik yang didapatkan dari RS dr. Muwardi Surakarta. Tikus Putih (Rattus norvegicus) sebanyak 30 ekor dengan usia 2-3 bulan, berat badan 150-200 g diperoleh dari Unit

Pengembangan Hewan Percobaan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Cara Kerja

Tikus putih jantan (Rattus norvegicus)

sebanyak 30 ekor dengan usia 2-3 bulan, berat badan 150-200 g diadaptasikan dengan

lingkungan selama 3 hari, kemudian dibagi menjadi 5 kelompok secara random. Pada hari ke 4 semua tikus diberi perlukaan dengan cara punggung tikus dicukur bulunya kemudian disemprot dengan chloretyl spray, selanjutnya dibuat luka bakar dengan diameter 2 cm, selanjutnya diinokulasi dengan bakteri

(4)

konsentrasi 10-3 sebanyak 0,1 ml. Isolat S. aureus

klinik didapatkan dari isolas S. aureus asal sampel

usap luka pasien, identifikasi dilakukan dengan

pemeriksaan morfologi (pemeriksaan GRAM) dan pemeriksaan koloni/ sifat biokimia kuman. Perbanyakan kuman klinik dengan penyuburan dalam medium nutrien broth. Pemeliharaan isolat kuman dilakukan dengan penanaman pada medium nutrien agar. Isolat yang akan dipakai untuk penelitian distandarisasi dengan standar

Mc. Farland yang setara dengan 105 kuman /ml

suspensi.

Pada hari ke 4 setelah inokulasi kuman, kelompok I sebagai kontrol negatif diolesi vaselin pada luka infeksi setiap hari selama 21 hari. Kelompok II sebagai kontrol positif diolesi salep kloramfenicol selama 21 hari. Kelompok III diolesi salep minyak atsiri kulit buah jeruk nipis

konsentrasi 20% selama 21 hari. Kelompok IV

diolesi salep minyak atsiri kulit buah jeruk nipis

konsentrasi 40% selama 21 hari. Kelompok V

diolesi salep minyak atsiri kulit buah jeruk nipis

konsentrasi 80% selama 21 hari. Pemberian salep masing-masing sebanyak 100 mg sekali

pemberian dengan menggunakan solet plastik. Setelah disalep luka ditutup dengan kassa steril.

Pengamatan luas luka dilakukan pada hari ke1, 3, 7, 14 dan 21 pada semua kelompok untuk mengetahui proses penyembuhan luka. Data yang diperoleh dianalisis ini menggunakan uji Anava dilanjutkan dengan Post Hoc test.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Penelitian ini menggunakan minyak atsiri dari kulit buah jeruk nipis. Jeruk nipis memiliki kandungan kimia asam sitrat, vitamin C, vitamin

B1, damar, lemak, mineral, flavonoid, saponin,

minyak atsiri. Dipilihnya minyak atsiri karena beberapa minyak atsiri tumbuhan memberikan aktivitas antibakteri dan cara pemisahan minyak atsiri mudah yaitu dengan cara distilasi. Kulit buah (segar) mengandung sekitar 1,25% minyak

atsiri dengan komposisi: -pinena (0,60), -pinena (0,72), -mirsena (2,70), limonena (85,25), osimena (0,68), -linalool (0,97), sitronelal (0,11), cis-verbenol (0,08), 1-sikloheksil-2-buten-1-ol (0,11), 2-pinen-4-1-sikloheksil-2-buten-1-ol (0,22), linalil propanoat (0,21), dekanal (0,25), sitronelol (0,25), sitral B (3,66), linalool asetat (0,14), sitral C (3,80), -bergamotena (0,14), –famesena (0,10) (Fang dan Jun, 2001). Dari penelitian didapatkan hasil

yang dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Rata-rata Luas Luka Bakar masing masing kelompok (mm2)

KLP Perlakuan Jumlah

47,65 186,82 ±36,52 175,16 ±97,61

(5)

Dari data pada Tabel 1 dapat digambarkan

melalui grafik seperti pada Gambar 1 berikut.

0

Gambar 1. Rata-rata Luas Luka Bakar Masing-masing Kelompok (mm2)

Dari Tabel 1 terlihat bahwa sejak hari ke 3 perlakuan rata-rata luas luka bakar mengalami penurunan pada semua kelompok, penurunan ini berlanjut sampai pada hari ke 7, 14 dan 21 untuk semua kelompok. Hal ini akan

lebih jelas dilihat pada Gambar1. Grafik

Rata-rata Luas Luka Bakar Masing-masing Kelompok (mm2), disini terlihat semua kelompok perlakuan

sejak hari ke 1 grafiknya mengalami penurunan

sampai hari ke 21. Jika dilihat masing-masing kelompok perlakuan sampai pada hari ke 21,

luas luka bakar dari yang paling besar (175,16 ± 97,61 mm2) terjadi pada kelompok I (kontrol

negatif) kemudian berturut-turut kelompok V (salep minyak atsiri kulit buah jeruk nipis

konsentrasi 80%) sebesar 85,30 ± 52,04 mm2,

kelompok IV (salep minyak atsiri kulit buah

jeruk nipis konsentrasi 40%) sebesar 23,06 ± 20,61 mm2, kelompok II/kontrol negatif (8,72 ±

10,33 mm2) dan yang terkecil luas lukanya terjadi

pada kelompok III (salep minyak atsiri kulit buah

jeruk nipis konsentrasi 20%) sebesar 8,72 ±

10,33 mm2. Dari data ini, kelompok III ternyata

mengalami penyembuhan luka bakar paling besar dibanding kelompok lain, ini terlihat sejak pengamatan di hari ke 3 sampai ke 21 dimana letak kelompok III selalu berada di paling bawah (Gambar 1). Sehingga dapat dikatakan salep minyak atsiri kulit buah jeruk nipis konsentrasi

20% memberikan efek penyembuhan luka bakar

paling baik pada seluruh hari pengamatan, bahkan dibanding kelompok kontrol positif sekalipun.

Hasil penelitian baik pada perlakuan hari ke

7,14 dan 21 didapatkan p<0,05 ini menunjukkan

ada perbedaan bermakna pada kelima kelompok perlakuan sehingga dapat disimpulkan bahwa salep minyak atsiri kulit buah jeruk nipis berpengaruh sebagai antibakteri infeksi kulit oleh S. aureus. Hal ini sesuai dengan apa yang

dikatakan oleh Dalimarta (2000) yaitu minyak

atsiri daun jeruk nipis mempunyai aktivitas hambatan terhadap pertumbuhan S. aureus

dan Escherichia coli secara in vitro. Selain itu penelitian lain menyimpulkan minyak atsiri yang diekstrak dari kulit pohon jeruk nipis terbukti dapat menghambat pertumbuhan S. aureus secara in vitro (Quintero et al., 2004). Hasil penelitian

lain lagi menyatakan komponen minyak atsiri yang diduga sebagai senyawa antibakteri adalah limonena, linalool, dan mirsen yang bekerja membunuh bakteri dengan mengahancurkan membran sel bakteri (Pasqua et al., 2007). Untuk

pengurangan luas luka bakar pada hari ke 3 tidak

ada perbedaan yang bermakna p=0,069 (p>0,05)

(6)

kelompok mengalami pengurangan luas luka bakar. Keadaan ini kemungkinan disebabkan obat maupun minyak atsiri belum bekerja secara maksimal pada hari ke 3. Dari data luas luka

Tabel 2. Pengurangan luas luka bakar pada hari ke 3, 7, 14 dan 21 terhadap hari ke 1 (mm2)

KLP Perlakuan Jumlah

Subyek

Pengurangan Luas Luka Bakar (mm2)

Hari 3 Hari 7 Hari 14 Hari 21

I K negatif 6 98,44 ±

25,64 150,52 ±34,11

193,27 ± 25,49

204,93 ± 97,73

II K positif 6 86,20 ±

26,72 127,29 ±60,17 294,81 ±36,47 309,47 ±40,76 III J. Nipis 20% 6 174,38 ±

58,01 302,78 ±32,06 354,71 ±17,76 372,87 ±31,76 IV J. Nipis 40% 6 56,86 ±

165,15 159,43 ±155,17

266,78 ±

155,01 272,74 ±148,22 V J. Nipis 80% 6 24,25 ±

77,50 135,99 ±93,56 205,26 ±13,49

214,93 ± 25,21

bakar bila kita hitung pengurangan luas luka bakarnya pada hari 3, 7, 14, 21 terhadap hari ke 1 akan terlihat pada Tabel 2 berikut.

Dari Tabel 2 terlihat bahwa pengurangan luas luka bakar (mm2) terbesar terjadi pada

kelompok III baik untuk hari ke 3, 7, 14 dan

21 masing-masing sebesar (174,38 ± 58,01, 302,78 ± 32,06, 354,71 ± 17,76 dan 372,87 ± 31,76) sedangkan yang paling kecil pada hari ke 3 kelompok V sebesar 24,25 ± 77,50, pada hari ke 7 justru kelompok II sebesar 127,29 ± 60,17,

sedangkan mulai hari ke 14 dan 21 kelompok I mengalami pengurangan luas luka bakar terkecil

sebesar 127,29 ± 60,17 dan 214,93 ± 25,21.

Ini meninjukkan bahwa kelompok III (salep minyak atsiri kulit buah jeruk nipis konsentrasi

20%) mempunyai kemampuan terbesar sebagai

antibakteri.

Dari data diatas juga terlihat bahwa semua kelompok untuk semua hari perlakuan mengalami pengurangan luas luka bakar yang meningkat. Sedangkan kalau dilihat hanya pada perlakuan hari ke 21 (terakhir) untuk semua perlakuan, maka pengurangan luas luka bakar

berturut-turut dari yang besar ke kecil adalah kelompok

III, II, IV, V dan I masing-masing sebesar 372,87 ± 31,76; 309,47 ± 40,76; 272,74 ± 148,22; 214,93 ± 25,21 dan 204,93 ± 97,73. Ini menunjukkan

bahwa pada akhir perlakuan semua kelompok mengalami proses penyembuhan, tetapi paling besar proses penyembuhannya adalah kelopok III (salep minyak atsiri kulit buah jeruk nipis

konsentrasi 20%), kemudian kelompok II

(kontrol positif), kelompok IV (salep minyak

atsiri kulit buah jeruk nipis konsentrasi 40%),

kelompok V (salep minyak atsiri kulit buah jeruk

nipis konsentrasi 80%) dan terakhir kelompok I

(kontrol negatif).

Hasil pengobatan pada kelompok kontrol negatif memberikan angka penyembuhan luka yang paling kecil. Lesi yang terinfeksi pada kelompok ini hanya diberikan salep yang berisi

vaselin saja tanpa obat maupun minyak atsiri;

(7)

Kelompok ini membuktikan bahwa vaselin tidak mempengaruhi penyembuhan luka.

Pada akhir perlakuan hasil pengobatan salep yang mengandung minyak atsiri paling

kecil (20%) justru memberikan prosentase

penyembuhan luka bakar paling besar (98,17%) dibanding dengan salep yang konsentrasi minyak

atsirinya lebih banyak yaitu konsentrasi 40%

memberikan prosentase penyembuhan 93,32%

dan konsentrasi 80% memberikan prosentase

penyembuhan 78,35%. Hal ini kemungkinan

disebabkan salep terdiri dari minyak atsiri 20 % dan vaselin album 80%, ini mengakibatkan semua

minyak atsiri dapat tercampurkan dalam bahan tambahan salep, sehingga konsistensinya lunak dan mudah dioleskan (Ansel, 1989). Salep dengan minyak atsiri ini dapat menempel cukup lama pada lesi yang terinfeksi, pengobatan menjadi efektif maka luka lebih cepat sembuh. Berbeda dengan konsentrasi minyak atsiri yang lebih tinggi, hasil pengobatan salep yang mengandung

minyak atsiri 40% maupun 80% prosentase

penyembuhan luka lebih kecil dibandingkan salep

minyak atsiri 20%. Perbedaan ini kemunkinan

disebabkan komposisi kedua konsentrasi salep ini minyak atsirinya lebih banyak dibandingkan dengan vaselin album sebagai bahan tambahan untuk membuat salep, sehingga konsistensinya menjadi cair seperti obat gosok atau linimen. Konsistensi cair ini apabila dioleskan tipis pada lesi yang dengan diameter tertentu memberi kesempatan pada minyak atsiri untuk menguap karena minyak atsiri adalah minyak yang mudah

menguap (Agusta , 2000; Zaman-Joenus , 1990).

Dengan demikian minyak atsiri menempel pada lesi yang terinfeksi relatif singkat dan sedikit,

yang selanjutnya berakibat kurang efetif bekerja, keadaan ini berpengaruh terhadap penyembuhan luka.

Dari data yang diperoleh jika dianalisis menggunakan uji Anova menunjukkan bahwa pengurangan luas luka bakar pada hari ke 3

tidak ada perbedaan yang bermakna p=0,069 (p>0,05) antara kelima kelompok perlakuan.

Hasil ini menunjukkan bahwa secara statistik pengurangan luas luka bakar tidak bermakna

walaupun semua kelompok mengalami

pengurangan luas luka bakar. Keadaan ini kemungkinan disebabkan obat maupun minyak atsiri belum bekerja secara maksimal pada hari ke 3. Sehingga untuk hari ke 3 dapat disimpulkan salep minyak atsiri kulit buah jeruk nipis tidak berpengaruh sebagai antibakteri infeksi kulit oleh S. aureus pada tikus putih. Selanjutnya untuk hari ke 7 didapat ada perbedaan yang bermakna

p=0,012 (p<0,05) sehingga dapat disimpulkan

salep minyak atsiri kulit buah jeruk nipis berpengaruh sebagai antibakteri infeksi kulit oleh S. aureus pada tikus putih, untuk hari ke 14 dan 21 pun didapat perbedaan yang bermakna

yaitu p=0,022 (p<0,05) dan p=0,039 (p<0,05).

Sehingga dapat disimpulkan untuk hari ke 7, 14 dan 21 salep minyak atsiri kulit buah jeruk nipis berpengaruh sebagai antibakteri infeksi kulit oleh S. aureus pada tikus putih.

Dari hasil uji Anova bila dilanjutkan post hoct test akan terlihat bahwa untuk hari ke 7 tidak semua hasil bermakna, untuk kelompok I dengan

kelompok II (p=653 atau p>0,05), kelompok I dengan kelompok IV (p=0,861), kelompok I dengan kelompok V (p=0,779). Sedangkan

(8)

III (p=0,187), kelompok II dengan kelompok IV (p=0,531), kelompok II dengan kelompok V (p= 0,916). Untuk hari ke 21 kelompok II dengan kelompok III (p=0,220), kelompok II dengan kelompok IV (p=0,470), kelompok II dengan kelompok V (p= 0,980).

Dari tabel 1 dan 2 serta Gambar 1 terlihat bahwa baik dengan perlakuan maupun tanpa perlakuan tenyata pada semua kelompok

mengalami perbaikan luka, tetapi yang

mengherankan adalah pada kelompok perlakuan III, IV dan V. Seharusnya dengan penambahan konsentrasi minyak atsiri pada salep akan memperbesar penyembuhan luka pada hewan percobaan, tetapi kenyataannya justru terbalik. Pada salep minyak atsiri kulit buah jeruk

nipis konsentrasi 20% (kelompok III) malah

menyembuhkan luka lebih besar dibanding dengan salep minyak atsiri kulit buah jeruk

nipis konsentrasi 40% (kelompokIV) dan salep

minyak atsiri kulit buah jeruk nipis konsentrasi

80% yang paling kecil.

Pada akhir perlakuan hasil pengobatan kelompok kontrol positip, lesi pada tikus dioles dengan salep kloramfenikol (salep apabila tidak dikatakan lain, bahan tambahaannya adalah vaselin) memberikan prosentase penyembuhan

besar pula (97,26%) walaupun masih kalah dibanding dengan salep minyak atsiri 20 %

(98,17 %). S. aureus yang diperoleh dari isolat klinik telah diuji mikrobiologi dan memberikan hasil sensitif terhadap kloramfenikol. Hasil

sensitifitas ini terbukti pada kelompok kontrol

positif, karena memberikan angka kesembuhan besar dan seharusnya angka kesembuhannya

adalah 100 %. Hasil ini menunujukkan bahwa

salep minyak atsiri kulit buah jeruk nipis dapat menyembuhkan luka infeksi yang disebabkan S. aureus isolat klinik pada kulit tikus putih. Minyak atsiri kulit buah jeruk nipis dapat menghambat pertumbuhan S. aureus yang ditandai dengan hilangnya pus dan luka di kulit mengering.

KESIMPULAN

Salep minyak atsiri kulit buah jeruk nipis berpengaruh sebagai antibakteri infeksi kulit oleh Staphylococcus aureus pada tikus putih. Pengaruh sebagai antibakteri paling baik pada salep minyak atsiri kulit buah jeruk nipis

konsentrasi 20% kemudian 40% dan 80%.

DAFTAR PUSTAKA

Anantharayan, and Paniker CKJ. 2000. Text Book of Microbiology, Orient Longman Ltd

Agusta, A. 2000. Minyak Atsiri Tumbuhan Tropika Indonesia. Penerbit ITB Bandung, hal. 18-23, 89.

Ansel, HC. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, ed. IV, terjemahan Ibrahim, UI

Press, Jakarta, hal. 502-6

Barriere, SL., Jacobs RA. 1998. Penggunaan Klinik Antimikroba, Dalam: Katzung, B.G., Basic and Clinical Microbiology, Penerbit EGC, Jakarta

Cvetric, Z. and Knezevic SV. 2004. Antimicrobial

Activity of Grapefruit Seed and Pulp

Ethanolic Extract. Acta Pharm.,

54(3):243-50

Dalimartha, S. 2000. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia Jilid 2. Jakarta: Trubus Agriwidya.

(9)

Indonesia Jilid I. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.

Jawetz, Melnick, Joseph L., Adelberg. 1996. Mikrobiologi Kedokteran Edisi 22. Penerbit EGC. Jakarta.

Katno. 2004. Tingkat Manfaat dan Keamanan Tanaman Obat dan Obat Tradisional.

http://www.litbang.depkes.go.id/bpto/ keamanan_TO.pdf (1 Maret 2007).

Mursito, Bambang. 2002. Ramuan Tradisional untuk Penyakit Malaria. Penebar Swadaya. Jakarta.

Pasqua, RD., Hoskins N., Betts G. 2007. Membrane Toxicity of Antimicrobial Compounds

from Essential Oils. J Agric Food Chem.,

55(12):4863-70

Pertiwi, RD. 1992. Aktivitas Hambatan

Minyak Atsiri Daun Jeruk Nipis terhadap Pertumbuhan Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Yogyakarta, Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada. Skripsi

Quintero A., Gonzales CN., Sanchez F. 2003.

Constituents and Biological Activity of Citrus aurantium amara L. Essential Oil.

Proc. Int. Conf. on MAP, Acta Hort., 597: 115-117

Rendra. 2004. Infeksi Tulang Anak Usia Sampai 19 Tahun, http://www.indomedia.com (10

September 2007)

Tampubolon, O. 1995. Tumbuhan Obat Bagi Pecinta Alam. Jakarta: Bhatara.

Gambar

Tabel 1. Rata-rata Luas Luka Bakar masing masing kelompok (mm2Perlakuan)JumlahLuas Luka Bakar (mm2)
Gambar 1. Rata-rata Luas Luka Bakar Masing-masing Kelompok (mm2)
Tabel 2. Pengurangan luas luka bakar pada hari ke 3, 7, 14 dan 21 terhadap hari ke 1 (mm2)

Referensi

Dokumen terkait

Basis yang digunakan dalam formulasi salep minyak atsiri daun jeruk nipis.. ini adalah basis Polietilen glikol 400 (PEG 400) dan Polietilen glikol

Jenis basis krim minyak atsiri daun jeruk nipis tipe apakah yang efektif.. digunakan sebagai antibakteri

Penambahan minyak atsiri jeruk nipis dalam sediaan sabun mandi cair sebagai agen antibakteri dapat meningkatkan efektivitas sabun dalam fungsinya sebagai pembersih

Penelitian ini menggunakan metode mikrodilusi untuk mengetahui Kadar Hambat Minimum (KHM) dan Kadar Bunuh Minimum (KBM) minyak atsiri kulit buah jeruk nipis

Hasil dari uji pendahuluan terbukti bahwa minyak atsiri kulit buah jeruk nipis (Citrus aurantifolia S) merk “X” pada konsentrasi 100% dengan metode difusi

Telah dilakukan penelitian tentang pengaruh lama penyimpanan minyak atsiri kulit buah jeruk nipis (Citrus aurantlfolia Swingle) sesudah difonnulasi dengan basis krim

menyatakan dengan sesungguhnya bahwa karya ilmiah yang berjudul “Uji Aktivitas Antibakteri Minyak Atsiri Daun Jeruk Nipis (Citrus aurantifolia (Christm. &amp; Panz.) Swingle)

Berdasarkan hasil dari pengamatan mortalitas rayap selama 7 hari dan pengamatan pengurangan berat kertas uji dari minyak atsiri kulit buah jeruk dan insektisida