aureus
PADA TIKUS PUTIH
(Rattus norvegicus)
The antibacterial effect of Lime peel
(
Citrus aurantifolia
L.)
essential oil ointment
on Staphylococcus aureus infected rats
Setyo Sri Raharjo, Maryani, Kisrini
Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret
Jl. Ir. Sutami 36 A, Surakarta
ABSTRAK
Kulit buah jeruk nipis (Citrus aurantifolia) mengandung minyak atsiri dengan berbagai komponen seperti limonena, linalool, dan mirsen yang diduga bermanfaat sebagai antibakteri. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui efek antibakteri salep minyak atsiri kulit buah jeruk nipis terhadap Staphylococcus aureusin vivo.
Sebanyak 30 ekor tikus putih jantan (Rattus norvegicus) dengan usia 2-3 bulan, berat badan 150-200 g dibagi
5 kelompok secara random. Setelah adaptasi lingkungan semua tikus diberi perlukaan dengan cara punggung tikus dicukur bulunya kemudian disemprot dengan chloretyl spray, selanjutnya luka dibuat dengan membuat luka bakar diameter 2 cm. Inokulasi bakteri S. aureus isolate klinik dengan konsentrasi 10-3 sebanyak 0,1
mL. Pada hari ke 4 setelah inokulasi, kelompok I (kontrol negatif) diberi vaselin pada luka infeksi. Kelompok II (kontrol positif) diolesi salep kloramfenikol. Kelompok III, IV, dan V berturut-turut diolesi salep minyak atsiri kulit buah jeruk nipis konsentrasi 20%, 40%, 80%. Semua perlakuan dilakukan setiap hari selama 21 hari. Pemberian salep masing-masing sebanyak 100 mg sekali pemberian dengan menggunakan solet plastik. Setelah disalep luka ditutup dengan kassa steril. Pengamatan luas luka dilakukan pada hari ke1, 3, 7, 14 dan 21. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji ANAVA dilanjutkan dengan Post Hoc test.Hasil penelitian pada hari 3, 7, 14 dan 21 menunjukkan ada perbedaan bermakna pada kelima kelompok perlakuan masing-masing didapat p=0,00 (p<0,005), p=0,007 (p<0,05), p=0,007 (p<0,05), dan p=0,007 (p<0,05). Salep minyak atsiri kulit buah jeruk nipis berpengaruh sebagai antibakteri infeksi kulit oleh S. aureus pada tikus putih.
Kata kunci: kulit buah jeruk nipis (Citrus aurantifolia), minyak atsiri, luka bakar
ABSTRACT
The peel of Lime (Citrus aurantifolia) contains essential oil which might be consisting of various components such as limonena, linalool, and mirsen. Those chemical compound have been used as antibacterial properties. This
research aimed to find out the antibacterial effect of the essential oil ointment of lime peel against Staphylococcus
aureus by in vivo technique. A total of 30 male rats (Rattus norvegicus) aged 2-3 months, weight 150 to 200 g were randomly divided into 5 groups. After being adapted all rats were assigned burn injury 2 cm in diameter. Staphylococcus aureus isolate 0,1 ml were inoculated with a concentration of 10-3. On day 4 after inoculation,
group I (negative control) was lubricated by vaselin album on the wound infection. Group II (positive control) was lubricated by chloramphenicol ointment. Essential oils ointment of lime pell at concentration 20%, 40%, and 80% respectively. All the treatments were given daily for up to 21 days. Administration of 100 mg ointments was given by using plastic solet. Wound size was observed on day 1, 3, 7, 14 and 21. The data were analyzed using ANAVA
test followed by post hoc test. Result on day 3, 7, 14 and 21 showed significant differences among five groups p= 0.00 (p <0.005), p= 0.007 (p <0.05), p= 0.007 (p <0.05), and p= 0.007 (p<0.05), respectively. Ointment of essential
oil of lime peel has antibacterial effect on skin infection in rats.
PENDAHULUAN
Penyakit infeksi merupakan masalah kesehatan utama di negara berkembang,
walaupun insidensinya menurun dengan
ditemukannya antimikroba (Rendra, 2004).
Namun efek samping yang tidak dikehendaki tidak jarang mengiringi penggunaan antimikroba seperti alergi dan toksik yang menyulitkan bahkan kadang-kadang berakibat fatal (Baierre dan Jacobs, 1998). Penggunaan secara berlebihan dan tidak rasional menimbulkan masalah
resistensi (Anantharayan, 2000). Walaupun
terdapat efek tak diinginkan dari antimikroba, namun penggunaannya tak dapat dielakkan, sementara itu alam telah menyediakan bahan-bahan yang dapat digunakan untuk melawan
mikroba (Katno, 2004).
Penggunaan bahan alam, baik sebagai obat maupun tujuan lain cenderung meningkat. Berbagai keuntungan yang dimiliki bahan alam, antara lain: relatif mudah didapat, murah, efek sampingnya relatif rendah, dalam suatu ramuan dengan komponen berbeda memiliki efek saling mendukung, pada satu tanaman memiliki lebih dari satu efek farmakologi, serta lebih sesuai untuk penyakit-penyakit metabolik dan degeneratif. Namun selain berbagai keuntungan, bahan alam juga memiliki beberapa kelemahan yang juga merupakan kendala dalam pengembangan obat bahan alam. Kelemahan obat bahan alam antara lain: efek farmakologisnya yang lemah, bahan baku belum terstandar, belum dilakukan uji klinik, dan mudah tercemar berbagai jenis
mikroorganisme (Katno, 2004).
Tanaman jeruk nipis mempunyai beberapa kandungan seperti asam sitrat, damar, lemak,
vitamin C, vitamin B1 (Tampubolon, 1995),
asam amino triptofan, lisin (Mursito, 2002) dan
mineral seperti besi, kalsium, fosfor, synephrine dan N-methyltyramine terdapat pada buah masak. Selain itu, jeruk nipis juga mengandung
flavonoid seperti poncirin, hesperidin, rhoifolin, dan naringin (Dalimartha, 2000), saponin dan
minyak atsiri (DepKes RI, 1991).
Kandungan-kandungan tersebut berkhasiat sebagai
antiinflamasi, antibakteri, antifungi (Pertiwi,
1992), obat pelangsing, menetralkan bau amis, menghilangkan nikotin yang menempel pada gigi, memperlunak daging, mengobati wasir (Mursito,
2002), mengatasi terkilir, membersihkan lemak
di kulit wajah, menambah stamina, mukolitik, diuretik, peluruh keringat, dan membantu proses
pencernaan (Dalimartha, 2000).
Pada jeruk nipis, khususnya di bagian kulit buah, terdapat kandungan minyak atsiri yang terdiri dari berbagai komponen seperti terpen, sesquiterpen, aldehida, ester, dan sterol. Rincian komponen minyak atsiri kulit jeruk nipis adalah
sebagai berikut: limonena (82,06%), β pinene (7,29%), β mirsena (4,59%), β linalool (1,61%), α pinena (1,59%), terpineol (0,30%), α elemena (0,21%) (Agusta, 2000), fellandren, lemon
kamfer, dan linalin asetat (Tampubolon, 1995). Keterangan dari berbagai pustaka menyebutkan bahwa minyak atsiri jeruk nipis, bermanfaat
sebagai antibakteri (Dalimartha, 2000; Mursito, 2002; Cvetnic dan Knezevic, 2004). Yang
diduga merupakan senyawa antibakteri adalah limonena, linalool, dan mirsen dimana bekerja dengan menghancurkan membran sel bakteri (Pasqua et al., 2007).
untuk membuktikan efek antibakteri, antara lain: minyak atsiri daun jeruk nipis mempunyai aktivitas hambatan terhadap pertumbuhan
Staphylococcus aureus dan Escherichia coli
secara in vitro (Dalimartha, 2000), minyak atsiri
yang diekstrak dari kulit pohon jeruk nipis juga terbukti dapat menghambat pertumbuhan
Staphylococcus aureus secara in vitro (Quintero
et al., 2004), disamping itu air perasan jeruk nipis mempunyai kemampuan menghambat pertumbuhan bakteri S. aureus, Eschericia coli, dan Streptococcus haemolyticus (Mursito, 2002).
Sehubungan dengan adanya indikasi
minyak atsiri kulit buah jeruk nipis sebagai antibakteri, maka perlu dilakukan penelitian tentang efek antibakteri minyak atsiri kulit buah jeruk nipis terhadap beberapa kuman, salah satu diantaranya terhadap S. aureus secara in vivo yang belum pernah dilakukan. Kuman ini merupakan kuman patogen yang menyebabkan pernanahan, abses, bahkan septikemia yang fatal. S. aureus
menghemolisa darah, mengkoagulase plasma dan menghasilkan enzim dan toksin. Beberapa spesies menyebabkan keracunan makanan dengan memproduksi enterotoksin yang bersifat tahan panas. Staphylococcus cepat resisten terhadap banyak antimikroba dan menyebabkan kesulitan dalam pengobatan (Jawetz et al., 1996).
Dari penjelasan diatas muncul pertanyaan, apakah salep minyak atsiri kulit buah jeruk nipis mempunyai efek anti bakteri terhadap infeksi kulit oleh Staphylococcus aureus secara
in vivo? Sedangkan tujuan penelitian ini untuk mengetahui efek antibakteri salep minyak atsiri kulit buah jeruk nipis terhadap Staphylococcus aureus secara in vivo.
METODE PENELITIAN
Penelitian bersifat analitik eksperimental dengan rancangan post test only control group design yang dilakukan di Laboratorium Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Bahan
Salep minyak atsiri kulit buah jeruk nipis
(Citrus aurantifolia) isolat lokal, berasal dari hasil destilasi kulit buah jeruk nipis segar. Setiap
300 gram kulit buah jeruk nipis yang didestilasi akan diperoleh 0,48 ml minyak atsiri. Kemudian
minyak atsiri yang diperoleh dibuat salep dengan mencampur vaselin album yang dibuat secara aseptis dengan dosis untuk memperoleh
konsentrasi 20%, 40% dan 80%. Minyak atsiri
kulit buah jeruk nipis segar didapatkan dari BPTO Tawangmangu. Bakteri Staphylococcus aureus isolate klinik yang didapatkan dari RS dr. Muwardi Surakarta. Tikus Putih (Rattus norvegicus) sebanyak 30 ekor dengan usia 2-3 bulan, berat badan 150-200 g diperoleh dari Unit
Pengembangan Hewan Percobaan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Cara Kerja
Tikus putih jantan (Rattus norvegicus)
sebanyak 30 ekor dengan usia 2-3 bulan, berat badan 150-200 g diadaptasikan dengan
lingkungan selama 3 hari, kemudian dibagi menjadi 5 kelompok secara random. Pada hari ke 4 semua tikus diberi perlukaan dengan cara punggung tikus dicukur bulunya kemudian disemprot dengan chloretyl spray, selanjutnya dibuat luka bakar dengan diameter 2 cm, selanjutnya diinokulasi dengan bakteri
konsentrasi 10-3 sebanyak 0,1 ml. Isolat S. aureus
klinik didapatkan dari isolas S. aureus asal sampel
usap luka pasien, identifikasi dilakukan dengan
pemeriksaan morfologi (pemeriksaan GRAM) dan pemeriksaan koloni/ sifat biokimia kuman. Perbanyakan kuman klinik dengan penyuburan dalam medium nutrien broth. Pemeliharaan isolat kuman dilakukan dengan penanaman pada medium nutrien agar. Isolat yang akan dipakai untuk penelitian distandarisasi dengan standar
Mc. Farland yang setara dengan 105 kuman /ml
suspensi.
Pada hari ke 4 setelah inokulasi kuman, kelompok I sebagai kontrol negatif diolesi vaselin pada luka infeksi setiap hari selama 21 hari. Kelompok II sebagai kontrol positif diolesi salep kloramfenicol selama 21 hari. Kelompok III diolesi salep minyak atsiri kulit buah jeruk nipis
konsentrasi 20% selama 21 hari. Kelompok IV
diolesi salep minyak atsiri kulit buah jeruk nipis
konsentrasi 40% selama 21 hari. Kelompok V
diolesi salep minyak atsiri kulit buah jeruk nipis
konsentrasi 80% selama 21 hari. Pemberian salep masing-masing sebanyak 100 mg sekali
pemberian dengan menggunakan solet plastik. Setelah disalep luka ditutup dengan kassa steril.
Pengamatan luas luka dilakukan pada hari ke1, 3, 7, 14 dan 21 pada semua kelompok untuk mengetahui proses penyembuhan luka. Data yang diperoleh dianalisis ini menggunakan uji Anava dilanjutkan dengan Post Hoc test.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Penelitian ini menggunakan minyak atsiri dari kulit buah jeruk nipis. Jeruk nipis memiliki kandungan kimia asam sitrat, vitamin C, vitamin
B1, damar, lemak, mineral, flavonoid, saponin,
minyak atsiri. Dipilihnya minyak atsiri karena beberapa minyak atsiri tumbuhan memberikan aktivitas antibakteri dan cara pemisahan minyak atsiri mudah yaitu dengan cara distilasi. Kulit buah (segar) mengandung sekitar 1,25% minyak
atsiri dengan komposisi: -pinena (0,60), -pinena (0,72), -mirsena (2,70), limonena (85,25), osimena (0,68), -linalool (0,97), sitronelal (0,11), cis-verbenol (0,08), 1-sikloheksil-2-buten-1-ol (0,11), 2-pinen-4-1-sikloheksil-2-buten-1-ol (0,22), linalil propanoat (0,21), dekanal (0,25), sitronelol (0,25), sitral B (3,66), linalool asetat (0,14), sitral C (3,80), -bergamotena (0,14), –famesena (0,10) (Fang dan Jun, 2001). Dari penelitian didapatkan hasil
yang dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Rata-rata Luas Luka Bakar masing masing kelompok (mm2)
KLP Perlakuan Jumlah
47,65 186,82 ±36,52 175,16 ±97,61
Dari data pada Tabel 1 dapat digambarkan
melalui grafik seperti pada Gambar 1 berikut.
0
Gambar 1. Rata-rata Luas Luka Bakar Masing-masing Kelompok (mm2)
Dari Tabel 1 terlihat bahwa sejak hari ke 3 perlakuan rata-rata luas luka bakar mengalami penurunan pada semua kelompok, penurunan ini berlanjut sampai pada hari ke 7, 14 dan 21 untuk semua kelompok. Hal ini akan
lebih jelas dilihat pada Gambar1. Grafik
Rata-rata Luas Luka Bakar Masing-masing Kelompok (mm2), disini terlihat semua kelompok perlakuan
sejak hari ke 1 grafiknya mengalami penurunan
sampai hari ke 21. Jika dilihat masing-masing kelompok perlakuan sampai pada hari ke 21,
luas luka bakar dari yang paling besar (175,16 ± 97,61 mm2) terjadi pada kelompok I (kontrol
negatif) kemudian berturut-turut kelompok V (salep minyak atsiri kulit buah jeruk nipis
konsentrasi 80%) sebesar 85,30 ± 52,04 mm2,
kelompok IV (salep minyak atsiri kulit buah
jeruk nipis konsentrasi 40%) sebesar 23,06 ± 20,61 mm2, kelompok II/kontrol negatif (8,72 ±
10,33 mm2) dan yang terkecil luas lukanya terjadi
pada kelompok III (salep minyak atsiri kulit buah
jeruk nipis konsentrasi 20%) sebesar 8,72 ±
10,33 mm2. Dari data ini, kelompok III ternyata
mengalami penyembuhan luka bakar paling besar dibanding kelompok lain, ini terlihat sejak pengamatan di hari ke 3 sampai ke 21 dimana letak kelompok III selalu berada di paling bawah (Gambar 1). Sehingga dapat dikatakan salep minyak atsiri kulit buah jeruk nipis konsentrasi
20% memberikan efek penyembuhan luka bakar
paling baik pada seluruh hari pengamatan, bahkan dibanding kelompok kontrol positif sekalipun.
Hasil penelitian baik pada perlakuan hari ke
7,14 dan 21 didapatkan p<0,05 ini menunjukkan
ada perbedaan bermakna pada kelima kelompok perlakuan sehingga dapat disimpulkan bahwa salep minyak atsiri kulit buah jeruk nipis berpengaruh sebagai antibakteri infeksi kulit oleh S. aureus. Hal ini sesuai dengan apa yang
dikatakan oleh Dalimarta (2000) yaitu minyak
atsiri daun jeruk nipis mempunyai aktivitas hambatan terhadap pertumbuhan S. aureus
dan Escherichia coli secara in vitro. Selain itu penelitian lain menyimpulkan minyak atsiri yang diekstrak dari kulit pohon jeruk nipis terbukti dapat menghambat pertumbuhan S. aureus secara in vitro (Quintero et al., 2004). Hasil penelitian
lain lagi menyatakan komponen minyak atsiri yang diduga sebagai senyawa antibakteri adalah limonena, linalool, dan mirsen yang bekerja membunuh bakteri dengan mengahancurkan membran sel bakteri (Pasqua et al., 2007). Untuk
pengurangan luas luka bakar pada hari ke 3 tidak
ada perbedaan yang bermakna p=0,069 (p>0,05)
kelompok mengalami pengurangan luas luka bakar. Keadaan ini kemungkinan disebabkan obat maupun minyak atsiri belum bekerja secara maksimal pada hari ke 3. Dari data luas luka
Tabel 2. Pengurangan luas luka bakar pada hari ke 3, 7, 14 dan 21 terhadap hari ke 1 (mm2)
KLP Perlakuan Jumlah
Subyek
Pengurangan Luas Luka Bakar (mm2)
Hari 3 Hari 7 Hari 14 Hari 21
I K negatif 6 98,44 ±
25,64 150,52 ±34,11
193,27 ± 25,49
204,93 ± 97,73
II K positif 6 86,20 ±
26,72 127,29 ±60,17 294,81 ±36,47 309,47 ±40,76 III J. Nipis 20% 6 174,38 ±
58,01 302,78 ±32,06 354,71 ±17,76 372,87 ±31,76 IV J. Nipis 40% 6 56,86 ±
165,15 159,43 ±155,17
266,78 ±
155,01 272,74 ±148,22 V J. Nipis 80% 6 24,25 ±
77,50 135,99 ±93,56 205,26 ±13,49
214,93 ± 25,21
bakar bila kita hitung pengurangan luas luka bakarnya pada hari 3, 7, 14, 21 terhadap hari ke 1 akan terlihat pada Tabel 2 berikut.
Dari Tabel 2 terlihat bahwa pengurangan luas luka bakar (mm2) terbesar terjadi pada
kelompok III baik untuk hari ke 3, 7, 14 dan
21 masing-masing sebesar (174,38 ± 58,01, 302,78 ± 32,06, 354,71 ± 17,76 dan 372,87 ± 31,76) sedangkan yang paling kecil pada hari ke 3 kelompok V sebesar 24,25 ± 77,50, pada hari ke 7 justru kelompok II sebesar 127,29 ± 60,17,
sedangkan mulai hari ke 14 dan 21 kelompok I mengalami pengurangan luas luka bakar terkecil
sebesar 127,29 ± 60,17 dan 214,93 ± 25,21.
Ini meninjukkan bahwa kelompok III (salep minyak atsiri kulit buah jeruk nipis konsentrasi
20%) mempunyai kemampuan terbesar sebagai
antibakteri.
Dari data diatas juga terlihat bahwa semua kelompok untuk semua hari perlakuan mengalami pengurangan luas luka bakar yang meningkat. Sedangkan kalau dilihat hanya pada perlakuan hari ke 21 (terakhir) untuk semua perlakuan, maka pengurangan luas luka bakar
berturut-turut dari yang besar ke kecil adalah kelompok
III, II, IV, V dan I masing-masing sebesar 372,87 ± 31,76; 309,47 ± 40,76; 272,74 ± 148,22; 214,93 ± 25,21 dan 204,93 ± 97,73. Ini menunjukkan
bahwa pada akhir perlakuan semua kelompok mengalami proses penyembuhan, tetapi paling besar proses penyembuhannya adalah kelopok III (salep minyak atsiri kulit buah jeruk nipis
konsentrasi 20%), kemudian kelompok II
(kontrol positif), kelompok IV (salep minyak
atsiri kulit buah jeruk nipis konsentrasi 40%),
kelompok V (salep minyak atsiri kulit buah jeruk
nipis konsentrasi 80%) dan terakhir kelompok I
(kontrol negatif).
Hasil pengobatan pada kelompok kontrol negatif memberikan angka penyembuhan luka yang paling kecil. Lesi yang terinfeksi pada kelompok ini hanya diberikan salep yang berisi
vaselin saja tanpa obat maupun minyak atsiri;
Kelompok ini membuktikan bahwa vaselin tidak mempengaruhi penyembuhan luka.
Pada akhir perlakuan hasil pengobatan salep yang mengandung minyak atsiri paling
kecil (20%) justru memberikan prosentase
penyembuhan luka bakar paling besar (98,17%) dibanding dengan salep yang konsentrasi minyak
atsirinya lebih banyak yaitu konsentrasi 40%
memberikan prosentase penyembuhan 93,32%
dan konsentrasi 80% memberikan prosentase
penyembuhan 78,35%. Hal ini kemungkinan
disebabkan salep terdiri dari minyak atsiri 20 % dan vaselin album 80%, ini mengakibatkan semua
minyak atsiri dapat tercampurkan dalam bahan tambahan salep, sehingga konsistensinya lunak dan mudah dioleskan (Ansel, 1989). Salep dengan minyak atsiri ini dapat menempel cukup lama pada lesi yang terinfeksi, pengobatan menjadi efektif maka luka lebih cepat sembuh. Berbeda dengan konsentrasi minyak atsiri yang lebih tinggi, hasil pengobatan salep yang mengandung
minyak atsiri 40% maupun 80% prosentase
penyembuhan luka lebih kecil dibandingkan salep
minyak atsiri 20%. Perbedaan ini kemunkinan
disebabkan komposisi kedua konsentrasi salep ini minyak atsirinya lebih banyak dibandingkan dengan vaselin album sebagai bahan tambahan untuk membuat salep, sehingga konsistensinya menjadi cair seperti obat gosok atau linimen. Konsistensi cair ini apabila dioleskan tipis pada lesi yang dengan diameter tertentu memberi kesempatan pada minyak atsiri untuk menguap karena minyak atsiri adalah minyak yang mudah
menguap (Agusta , 2000; Zaman-Joenus , 1990).
Dengan demikian minyak atsiri menempel pada lesi yang terinfeksi relatif singkat dan sedikit,
yang selanjutnya berakibat kurang efetif bekerja, keadaan ini berpengaruh terhadap penyembuhan luka.
Dari data yang diperoleh jika dianalisis menggunakan uji Anova menunjukkan bahwa pengurangan luas luka bakar pada hari ke 3
tidak ada perbedaan yang bermakna p=0,069 (p>0,05) antara kelima kelompok perlakuan.
Hasil ini menunjukkan bahwa secara statistik pengurangan luas luka bakar tidak bermakna
walaupun semua kelompok mengalami
pengurangan luas luka bakar. Keadaan ini kemungkinan disebabkan obat maupun minyak atsiri belum bekerja secara maksimal pada hari ke 3. Sehingga untuk hari ke 3 dapat disimpulkan salep minyak atsiri kulit buah jeruk nipis tidak berpengaruh sebagai antibakteri infeksi kulit oleh S. aureus pada tikus putih. Selanjutnya untuk hari ke 7 didapat ada perbedaan yang bermakna
p=0,012 (p<0,05) sehingga dapat disimpulkan
salep minyak atsiri kulit buah jeruk nipis berpengaruh sebagai antibakteri infeksi kulit oleh S. aureus pada tikus putih, untuk hari ke 14 dan 21 pun didapat perbedaan yang bermakna
yaitu p=0,022 (p<0,05) dan p=0,039 (p<0,05).
Sehingga dapat disimpulkan untuk hari ke 7, 14 dan 21 salep minyak atsiri kulit buah jeruk nipis berpengaruh sebagai antibakteri infeksi kulit oleh S. aureus pada tikus putih.
Dari hasil uji Anova bila dilanjutkan post hoct test akan terlihat bahwa untuk hari ke 7 tidak semua hasil bermakna, untuk kelompok I dengan
kelompok II (p=653 atau p>0,05), kelompok I dengan kelompok IV (p=0,861), kelompok I dengan kelompok V (p=0,779). Sedangkan
III (p=0,187), kelompok II dengan kelompok IV (p=0,531), kelompok II dengan kelompok V (p= 0,916). Untuk hari ke 21 kelompok II dengan kelompok III (p=0,220), kelompok II dengan kelompok IV (p=0,470), kelompok II dengan kelompok V (p= 0,980).
Dari tabel 1 dan 2 serta Gambar 1 terlihat bahwa baik dengan perlakuan maupun tanpa perlakuan tenyata pada semua kelompok
mengalami perbaikan luka, tetapi yang
mengherankan adalah pada kelompok perlakuan III, IV dan V. Seharusnya dengan penambahan konsentrasi minyak atsiri pada salep akan memperbesar penyembuhan luka pada hewan percobaan, tetapi kenyataannya justru terbalik. Pada salep minyak atsiri kulit buah jeruk
nipis konsentrasi 20% (kelompok III) malah
menyembuhkan luka lebih besar dibanding dengan salep minyak atsiri kulit buah jeruk
nipis konsentrasi 40% (kelompokIV) dan salep
minyak atsiri kulit buah jeruk nipis konsentrasi
80% yang paling kecil.
Pada akhir perlakuan hasil pengobatan kelompok kontrol positip, lesi pada tikus dioles dengan salep kloramfenikol (salep apabila tidak dikatakan lain, bahan tambahaannya adalah vaselin) memberikan prosentase penyembuhan
besar pula (97,26%) walaupun masih kalah dibanding dengan salep minyak atsiri 20 %
(98,17 %). S. aureus yang diperoleh dari isolat klinik telah diuji mikrobiologi dan memberikan hasil sensitif terhadap kloramfenikol. Hasil
sensitifitas ini terbukti pada kelompok kontrol
positif, karena memberikan angka kesembuhan besar dan seharusnya angka kesembuhannya
adalah 100 %. Hasil ini menunujukkan bahwa
salep minyak atsiri kulit buah jeruk nipis dapat menyembuhkan luka infeksi yang disebabkan S. aureus isolat klinik pada kulit tikus putih. Minyak atsiri kulit buah jeruk nipis dapat menghambat pertumbuhan S. aureus yang ditandai dengan hilangnya pus dan luka di kulit mengering.
KESIMPULAN
Salep minyak atsiri kulit buah jeruk nipis berpengaruh sebagai antibakteri infeksi kulit oleh Staphylococcus aureus pada tikus putih. Pengaruh sebagai antibakteri paling baik pada salep minyak atsiri kulit buah jeruk nipis
konsentrasi 20% kemudian 40% dan 80%.
DAFTAR PUSTAKA
Anantharayan, and Paniker CKJ. 2000. Text Book of Microbiology, Orient Longman Ltd
Agusta, A. 2000. Minyak Atsiri Tumbuhan Tropika Indonesia. Penerbit ITB Bandung, hal. 18-23, 89.
Ansel, HC. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, ed. IV, terjemahan Ibrahim, UI
Press, Jakarta, hal. 502-6
Barriere, SL., Jacobs RA. 1998. Penggunaan Klinik Antimikroba, Dalam: Katzung, B.G., Basic and Clinical Microbiology, Penerbit EGC, Jakarta
Cvetric, Z. and Knezevic SV. 2004. Antimicrobial
Activity of Grapefruit Seed and Pulp
Ethanolic Extract. Acta Pharm.,
54(3):243-50
Dalimartha, S. 2000. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia Jilid 2. Jakarta: Trubus Agriwidya.
Indonesia Jilid I. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.
Jawetz, Melnick, Joseph L., Adelberg. 1996. Mikrobiologi Kedokteran Edisi 22. Penerbit EGC. Jakarta.
Katno. 2004. Tingkat Manfaat dan Keamanan Tanaman Obat dan Obat Tradisional.
http://www.litbang.depkes.go.id/bpto/ keamanan_TO.pdf (1 Maret 2007).
Mursito, Bambang. 2002. Ramuan Tradisional untuk Penyakit Malaria. Penebar Swadaya. Jakarta.
Pasqua, RD., Hoskins N., Betts G. 2007. Membrane Toxicity of Antimicrobial Compounds
from Essential Oils. J Agric Food Chem.,
55(12):4863-70
Pertiwi, RD. 1992. Aktivitas Hambatan
Minyak Atsiri Daun Jeruk Nipis terhadap Pertumbuhan Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Yogyakarta, Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada. Skripsi
Quintero A., Gonzales CN., Sanchez F. 2003.
Constituents and Biological Activity of Citrus aurantium amara L. Essential Oil.
Proc. Int. Conf. on MAP, Acta Hort., 597: 115-117
Rendra. 2004. Infeksi Tulang Anak Usia Sampai 19 Tahun, http://www.indomedia.com (10
September 2007)
Tampubolon, O. 1995. Tumbuhan Obat Bagi Pecinta Alam. Jakarta: Bhatara.