• Tidak ada hasil yang ditemukan

Askep Pada Pasien dengan Ketuban Pecah D

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Askep Pada Pasien dengan Ketuban Pecah D"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

ASUHAN KEPERAWATAN MATERNITAS I

PADA PASIEN DENGAN KETUBAN PECAH DINI

Disusun Oleh

:

1. Omi Shobrina (8933171488) 2. Febianti Wulansari (8933171426) 3. Galuh Septiani (8933171428) 4. Hesti Kurniasari (8933171430) 5. Ica Nur Hidayati (8933171432) 6. Ismi Nurul Insani (8933171434) 7. Khalimatus Sa’diyah (8933171436)

PRODI D3 KEPERAWATAN

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN

UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG

SEMARANG

(2)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...iii

BAB I... 1

PENDAHULUAN...1

A. Latar belakang...1

B. Tujuan... 2

1. Tujuan Umum...2

2. Tujuan Khusus...2

BAB II... 3

KONSEP DASAR...3

A. Definisi... 3

B. Etiologi... 3

C. Patofisiologis (Pathways)...5

D. Manifestasi Klinik...7

E. Pemeriksaan Penunjang...7

F. Penatalaksanaan...8

BAB III... 10

KONSEP DASAR KEPERAWATAN...10

A. Pengkajian...10

B. Diagnose keperawatan...13

C. Intervensi...14

D. Implementasi...16

E. Evaluasi...17

BAB IV... 18

PENUTUP... 18

A. Kesimpulan...18

B. Saran... 18

(3)

KATA PENGANTAR

Alhamdulilahirrabbil’alamin kami panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan nikmat jasmani dan rohani kepada kami sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah Keperawatan Maternitas 1 yang berjudul “Asuhan Keperawatan Ketuban Pecah Dini ”. Makalah ini bertujuan untuk membantu dan menjelaskan tentang ketuban pecah dini pada masa kehamilan.

Kami menyadari dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangan dan kesalahan dalam pengetikan kata maupun muatan materi. Oleh karena itu, kami sangat berharap masukan berupa kritik dan saran dari dosen pembimbing agar makalah ini menjadi lebih baik.

(4)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Ketuban pecah dini (KPD) merupakan masalah penting dalam obstetri berkaitan dengan penyulit kelahiran prematur terjadinya infeksi korioamnionitis sampai sepsis, yang meningkatkan morbiditas dan mortalitas perinatal dan menyebabkan infeksi pada ibu. Ketuban pecah dini (KPD) didefinisikan sebagai pecahnya selaput ketuban sebelum persalinan. Hal ini dapat terjadi pada akhir kehamilan maupun jauh sebelum waktunya melahirkan, pada keadaan normal 8-10% perempuan hamil aterm akan mengalami ketuban pecah dini (Prawirohardjo, 2008).

Ketuban pecah dini (KPD) di Indonesia secara global menyebabkan 80% kematian ibu. Pola penyebab langsung dimana-mana yaitu perdarahan (25%) biasanya perdarahan pasca persalinan, sepsis (15%) hipertensi dalam kehamilan (12%), partus macet (8%) komplikasi abortus tidak aman (13%), ketuban pecah dini (4%) dan sebab-sebab lainnya (8%) (Wikjosastro, 2008).

(5)

B. Tujuan

1. Tujuan Umum

Agar mahasiswa dapat mengetahui tentang ketuban pecah sebelum waktunya pada masa kehamilan.

2. Tujuan Khusus

Agar mahasiswa dapat mengetahui tentang ketuban pecah sebelum waktunya pada masa kehamilan, seperti :

a. Definisi ketuban pecah dini b. Etiologi ketuban pecah dni c. Patofisiologis

d. Manifestasi klinik e. Pemeriksaan penunjang f. Penatalaksanaan

(6)

BAB II

KONSEP DASAR

A. Definisi

Ketuban Pecah Dini adalah pecahnya selaput ketuban sebelum terjadi proses persalinan yang dapat terjadi pada usia kehamilan cukup waktu atau kurang waktu (Cunningham, McDonald, Gant, 2003). Ketuban Pecah Dini adalah rupturnya membran ketuban sebelum persalinan berlangsung (Manuaba, 2003). Ketuban pecah dinyatakan dini jika terjadi sebelum usia kehamilan 37 minggu. Suatu proses infeksi dan peradangan dimulai di ruangan yang berada diantara amnion korion (Constance Sinclair, 2010).

Dari beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa ketuban pecah dini (KPD) adalah pecahnya ketuban sebelum waktunya melahirkan. Hal ini dapat terjadi pada akhir kehamilan maupun jauh sebelum waktunya melahirkan. KPD preterm adalah KPD sebelum usia kehamilan 37 minggu. KPD yang memanjang adalah KPD yang terjadi lebih dari 12 jam sebelum waktunya melahirkan.

B. Etiologi

Penyebab ketuban pecah dini tidak diketahui atau masih belum jelas, maka preventif tidak dapat dilakukan, kecuali dalam usaha menekan infeksi(Mochtar, 2002).

Penyebab ketuban pecah dini karena berkurangnya kekuatan membran atau meningkatnya tekanan intra uterin atau kedua faktor tersebut. Berkurangnya kekuatan membran disebabkan adanya infeksi yang dapat berasal dari vagina dan servik(Saifudin, 2000).

(7)

1. Servik inkompeten yaitu kelainan pada servik uteri dimana kanalis servikalis selalu terbuka.

2. Ketegangan uterus yang berlebihan, misalnya pada kehamilan ganda dan hidroamnion karena adanya peningkatan tekanan pada kulit ketuban di atas ostium uteri internum pada servik atau peningkatan intra uterin secara mendadak.

3. Faktor keturunan (ion Cu serum rendah, vitamin C rendah, kelainan genetik) 4. Masa interval sejak ketuban pecah sampai terjadi kontraksi disebut fase laten.

a. Makin panjang fase laten, makin tinggi kemungkinan infeksi

b. Makin muda kehamilan, makin sulit upaya pemecahannya tanpa menimbulkan morbiditas janin

c. Komplikasi ketuban pecah dini makin meningkat

5. Kelainan letak janin dalam rahim, misalnya pada letak sunsang dan letak lintang, karena tidak ada bagan terendah yang menutupi pintu atas panggul yang dapat menghalangi tekanan terhadap membrane bagian bawah. kemungkinan kesempitan panggul, perut gantung, sepalopelvik, disproporsi. 6. Infeksi, yang terjadi secara langsung pada selaput ketuban maupun asenden

dari vagina atau infeksi pada cairan ketuban bisa menyebabkan terjadinya ketuban pecah dini.

Menurut Departemen Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran UI RSCM (2012), penyebab terjadinya ketuban pecah dini meliputi hal-hal berikut: 1. Serviks inkompeten

2. Ketegangan rahim berlebihan seperti pada kehamilan ganda, hidramnion 3. Kelainan letak janin dalam rahim seperti letak sungsang, letak lintang

4. Kemungkinan kesempitan panggul seperti perut gantung, bagian terendah belum masuk PAP (pintu atas panggul), disproporsi sefalopelvik

5. Kelainan bawaan dari selaput ketuban

6. Infeksi yang menyebabkan terjadi proses biomekanik pada selaput ketuban dalam bentuk proteolitik sehingga memudahkan ketuban pecah.

(8)

1. Selaput ketuban tidak kuat sebagai akibat kurangnya jaringan ikat dan vaskularisasi.

2. Jika terjadi pembukaan servik, selaput ketuban sangat lemah dan mudah pecah dengan mengeluarkan air ketuban.

Penyebab umum ketuban pecah dini adalah grandemulti, overdistensi (hidramnion, kehamilan ganda), disproporsi sevalopervik, kehamilan letak lintang, sunsang, atau pendular abdomen(Manuaba, 2009).

C. Patofisiologis (Pathways)

Menurut Taylor (2009), ketuban pecah dini ada hubungannya dengan hal-hal berikut:

1. Adanya hipermotilitas rahim yang sudah lama terjadi sebelum ketuban pecah. Penyakit-penyakit seperti pieronetritis, sistitis,servisitis terdapat bersama-sama dengan hipermotilitas Rahim

2. Selaput ketuban terlalu tipis (kelainan ketuban) 3. Infeksi (amniotitis atau korioamnionitis)

4. Faktor-faktor lain yang menyerupai predisposisi ialah: multipara-malposisi disproprosi servik incompeten

5. Ketuban pecah dini artitisial (amniotomi) dimana ketuban pecah terlalu dini.

(9)

D. Manifestasi Klinik

Manifestasi klinik KPD menurut Mansjoer (2002) antara lain :

1. Keluar air ketuban berwarna putih keruh, jernih, kuning, hijau atau kecoklatan, sedikit-sedikit atau sekaligus banyak.

(10)

3. Janin mudah diraba

4. Pada periksa dalam selaput ketuban tidak ada, air ketuban sudah kering 5. Inspekulo : tampak air ketuban mengalir atau selaput ketuban tidak ada dan

air ketuban sudah kering.

Menurut Manuaba (2009) mekanisme klinik ketuban pecah dini, antara lain: 1. Terjadi pembukaan prematur servik

2. Membran terkait dengan pembukaan terjadi: a. Devaskularisasi

b. Nekrosis dan dapat diikuti pecah spontan

c. Jaringan ikat yang menyangga membran ketuban, makin berkurang

d. Melemahnya daya tahan ketuban dipercepat denga infeksi yang mengeluarkan enzim preteolitik dan kolagenase.

E. Pemeriksaan Penunjang

Diagnosis ketuban pecah dini tidak sulit ditegakkan dengan keterangan terjadi pengeluaran cairan mendadak disertai bau yang khas. Selain keterangan yang disampaikan pasien dapat dilakukan beberapa pemeriksaan yang menetapkan bahwa cairan yang keluar adalah air ketuban, diantaranya tes ferning dan nitrazine tes.

Langkah pemeriksaan untuk menegakkan diagnosis ketuban pecah dini dapat dilakukan:

1. Pemeriksaan spekulum, untuk mengambil sampel cairan ketuban di froniks posterior dan mengambil sampel cairan untuk kultur dan pemeriksaan bakteriologis.

2. Melakukan pemeriksaan dalam dengan hati-hati, sehingga tidak banyak manipulasi daerah pelvis untuk mengurangi kemungkinan kemungkinan infeksi asenden dan persalinan prematuritas.

(Manuaba, 1998)

(11)

1. Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk melihat jumlah cairan ketuban dalam kavum uteri.

2. Pada kasus KPD terlihat jumlah cairan ketuban yang sedikit. Namun sering terjadi kesalahan pada penderita oligohidramnion.

F. Penatalaksanaan

Ketuban pecah dini merupakan sumber persalinan prematuritas, infeksi dalam rahim terhadap ibu maupun janin yang cukup besar dan potensiil. Oleh karena itu, tatalaksana ketuban pecah dini memerlukan tindakan yang rinci sehingga dapat menurunkan kejadian persalinan prematuritas dan infeksi dalam rahim.

Memberikan profilaksis antibiotika dan membatasi pemeriksaan dalam merupakan tindakan yang perlu diperhatikan. Di samping itu makin kecil umur kehamilan, makin besar peluang terjadi infeksi dalam rahim yang dapat memacu terjadinya persalinan prematuritas bahkan berat janin kurang dari 1 kg.

Sebagai gambabaran umum untuk tatalaksana ketuban pecah dini dapat dijabarkan sebagai berikut:

1. Mempertahankan kehamilan sampai cukup matur khususnya maturitas paru sehingga mengurangi kejadian kegagalan perkembangan paru yang sehat. 2. Terjadi infeksi dalam rahim, yaitu korioamnionitis yang menjadi peicu

sepsis, meningitis janin, dan persalinan prematuritas.

3. Dengan perkiraan janin sudah cukup besar dan persalinan diharapkan berlangsung dalam waktu 72 jam dapat diberikan kortikosteroid, sehingga kematangan paru janin dapat terjamin(Manuaba, 2009).

(12)

(Manuaba, 2009)

Ketuban Pecah Dini

Masuk Rumah Sakit : -Antibiotik

-Batasi pemeriksaan dalam

-Pemeriksaan air ketuban, kultur dan bakteri -Observasi tanda infeksi dan distres janin -Bidan merujuk ke RS/puskesmas

HAMIL PREMATUR

- Distres janin - Letak sunsang - Letak lintang - CPD

- Bed obtetic hyst - Infertilitas

 Reaksi uterus tidak ada

 Kelainan letkep

 Fase laten dan aktif dan memanjang

 Distres janin

 Ruptur uteri imminens

SEKSIO SESAREA

BERHASIL

(13)

BAB III

KONSEP DASAR KEPERAWATAN

A. Pengkajian

Dokumentasi pengkajian merupakan catatan hasil pengkajian yang dilaksanakan untuk mengumpulkan informasi dari pasien, membuat data dasar tentang klien dan membuat catatan tentang respon kesehatan klien( Hidayat, 2000 ).

1. Identitas atau biodata klien

Meliputi, nama, umur, agama, jenis kelamin, alamat, suku bangsa, status perkawinan, pekerjaan, pendidikan, tanggal masuk rumah sakit nomor register, dan diagnosa keperawatan.

2. Riwayat kesehatan

a. Riwayat kesehatan dahulu

Penyakit kronis atau menular dan menurun seperti jantung, hipertensi, DM, TBC, hepatitis, penyakit kelamin atau abortus.

b. Riwayat kesehatan sekarang

Riwayat pada saat sebelun inpartus didapatkan cairan ketuban yang keluar pervagina secara spontan kemudian tidak diikuti tanda-tanda persalinan. c. Riwayat kesehatan keluarga

Adakah penyakit keturunan dalam keluarga seperti jantung, DM, HT, TBC, penyakit kelamin, abortus, yang mungkin penyakit tersebut diturunkan kepada klien

d. Riwayat psikososial

Riwayat klien nifas biasanya cemas bagaimana cara merawat bayinya, berat badan yang semakin meningkat dan membuat harga diri rendah.

( Depkes RI, 1993:66)

(14)

a. pola persepsi dan tata leksana hidup sehat

Karena kurangnya pengetahuan klien tentang ketuban pecah dini, dan cara pencegahan, penanganan, dan perawatan serta kurangnya mrnjaga kebersihan tubuhnya akan menimbulkan masalah dalam perawatan dirinya. b. Pola nutrisi dan metabolisme

Pada klien nifas biasanaya terjadi peningkatan nafsu makan karena dari keinginan untuk menyusui bayinya.

c. Pola aktifitas

Pada pasien pos partum klien dapat melakukan aktivitas seperti biasanya, terbatas pada aktifitas ringan, tidak membutuhkan tenaga banyak, cepat lelah, pada klien nifas didapatkan keterbatasan aktivitas karena mengalami kelemahan dan nyeri.

d. Pola eleminasi

Pada pasien pos partum sering terjadi adanya perasaan sering /susah kencing selama masa nifas yang ditimbulkan karena terjadinya odema dari trigono, yang menimbulkan inveksi dari uretra sehingga sering terjadi konstipasi karena penderita takut untuk melakukan BAB.

e. Pola istirahat dan tidur

Pada klien nifas terjadi perubagan pada pola istirahat dan tidur karena adanya kehadiran sang bayi dan nyeri epis setelah persalinan

f. Pola hubungan dan peran

Peran klien dalam keluarga meliputi hubungan klien dengan keluarga dan orang lain.

g. Pola penagulangan sters

Biasanya klien sering melamun dan merasa cemas. h. Pola sensori dan kognitif

Pola sensori klien merasakan nyeri pada prineum akibat luka janhitan dan nyeri perut akibat involusi uteri, pada pola kognitif klien nifas primipara terjadi kurangnya pengetahuan merawat bayinya

(15)

Biasanya terjadi kecemasan terhadap keadaan kehamilanya, lebih-lebih menjelang persalinan dampak psikologis klien terjadi perubahan konsep diri antara lain dan body image dan ideal diri

j. Pola reproduksi dan sosial

Terjadi disfungsi seksual yaitu perubahan dalam hubungan seksual atau fungsi dari seksual yang tidak adekuat karena adanya proses persalinan dan nifas.

k. Pola tata nilai dan kepercayaan

Biasanya pada saat menjelang persalinan dan sesudah persalinan klien akan terganggu dalam hal ibadahnya karena harus bedres total setelah partus sehingga aktifitas klien dibantu oleh keluarganya.

( Sharon J. Reeder, 1997:285) 4. Pemeriksaan fisik

a. Kepala

Bagaimana bentuk kepala, kebersihan kepala, kadang-kadang terdapat adanya cloasma gravidarum, dan apakah ada benjolan

b. Leher

Kadang-kadang ditemukan adanya penbesaran kelenjar tiroid, karena adanya proses menerang yang salah.

c. Mata

Terkadang adanya pembengkakan pada kelopak mata, konjungtiva, dan kadang-kadang keadaan selaput mata pucat (anemia) karena proses persalinan yang mengalami perdarahan, sklera kuning.

d. Telinga

Biasanya bentuk telinga simetris atau tidak, bagaimana kebersihanya, adakah cairan yang keluar dari telinga.

e. Hidung

Adanya polip atau tidak dan apabila pada pos partum kadang-kadang ditemukan pernapasan cuping hidung

f. Dada

(16)

g. Abdomen

Pada klien nifas abdomen kendor kadang-kadang striae masih terasa nyeri. Fundus uteri 3 jari dibawa pusat.

h. Genitaliua

Pengeluaran darah campur lendir, pengeluaran air ketuban, bila terdapat pengeluaran mekomium yaitu feses yang dibentuk anak dalam kandungan menandakan adanya kelainan letak anak.

i. Anus

Kadang-kadang pada klien nifas ada luka pada anus karena ruptur. j. Ekstermitas

Pemeriksaan odema untuk melihat kelainan-kelainan karena membesarnya uterus, karena preeklamsia atau karena penyakit jantung atau ginjal.

k. Muskulis skeleta

Pada klien post partum biasanya terjadi keterbatasan gerak karena adanya luka episiotomi.

l. Tanda-tanda vital

Apabila terjadi perdarahan pada pos partum tekanan darah turun, nadi cepat, pernafasan meningkat, suhu tubuh turun.

(Ibrahim christina, 1993: 50)

B. Diagnose keperawatan

1. Risiko infeksi berhubungan dengan ketuban pecah dini.

2. Gangguan rasa nyaman: nyeri berhubungan dengan ketegangan otot rahim. 3. Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan pengakuan persalinan

premature.

4. Ansietas berhubungan dengan persalinan premature dan neonatus berpotensi lahir premature.

(17)

C. Intervensi No. Diagnosa

Keperawatan

Tujuan & Kriteria Hasil Intervensi Rasional

1. Risiko infeksi berhubungan diharapkan pasien tidak menunjukan tanda-tanda infeksi dengan kriteria hasil :

1. Tanda-tanda infeksi tidak tidak ada. 2. Tidak ada lagi cairan

ketuban yang keluar dari pervaginaan. 3. DJJ normal 4. Leukosit kembali

normal

5. Suhu tubuh normal (36,5-37,5ºC)

2. Untuk melihat perkembangan 4. Agar istirahat

pasien terpenuhi 5. Untuk proses

penyembuhan harapkan nyeri berkurang atau nyeri hilang dengan kriteria hasil :

(18)

N: 60-120 X/ menit. 2. Pasien tampak tenang

dan rileks

3. Pasien mengatakan nyeri pada perut berkurang pasien dan pasien dapat beristirahat dengan criteria hasil :

1. Pasien terlihat tidak bingung lagi

(19)

persalinan harapkan ansietas pasien teratasi dengan kriteria hasil :

1.Pasien tidak cemas lagi 2.Pasien sudah

(20)

E. Evaluasi

Evaluasi adalah tahapan akhir dari proses keperawatan. Evaluasi menyediakan nilai informasi mengenai pengaruh intervensi yang telah direncanakan dan merupakan perbandingan dari hasil yang diamati dengan kriteria hasil yang telah dibuat pada tahap perencanaan(Hidayat, 2002).

Menurut Rohman dan Walid (2009), evaluasi keperawatan ada 2 yaitu:

1. Evaluasi proses (formatif) yaitu valuasi yang dilakukan setiap selesai tindakan. Berorientasi pada etiologi dan dilakukan secara terus-menerus sampai tujuan yang telah ditentukan tercapai.

(21)

BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

Penyebab ketuban pecah dini karena berkurangnya kekuatan membran atau meningkatnya tekanan intra uterin atau kedua faktor tersebut. Berkurangnya kekuatan membran disebabkan adanya infeksi yang dapat berasal dari vagina dan serviks(Saifudin, 2000).

Ketuban pecah dini merupakan sumber persalinan prematuritas, infeksi dalam rahim terhadap ibu maupun janin yang cukup besar dan potensiil. Oleh karena itu, tatalaksana ketuban pecah dini memerlukan tindakan yang rinci sehingga dapat menurunkan kejadian persalinan prematuritas dan infeksi dalam rahim.

Pemeriksaan dalam dengan jari meningkatkan resiko infeksi dan tidak perlu dilakukan pada wanita dengan pecah ketuban dini, karena ia akan diurussesuai kebutuhan persalinan sampai persalinan terjadi atau timbul tanda dan gejala korioamninitis. Jika timbul tanda dan gejala korioamnionitis, diindikasikan untuk segera berkonsultasi dengan dokter yang menanganiwanita guna menginduksi persalinan dan kelahiran. Pilihan metode persalinan(melalui vagina atau SC) bergantung pada usia gestasi, presentasi dan berat korioamnionitis.

B. Saran

(22)

DAFTAR PUSTAKA

Manuaba, I.B.G. (2009). Buku Ajar Patologi Obstetri. Jakarta: EGC

Manuaba, I.B.G.(1998). Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan & Keluarga Berencana Untuk Pendidikan Bidan. Jakarta: EGC

www.obgyn-rscm fkui.com, di unduh pada tanggal 27 Maret 2014, Pukul 14.26 WIB Prawirohardjo, Sarwono.(2008).Ilmu Kebidanan. Jakarta: PT.Bina Pustaka

Saifuddin, A.B.(2006). Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal.Jakarta: YBP-SP

Asrining, Surasmi., Handayani, Siti., Kusuma, Nur,.(2003), Perawatan Bayi Risiko Tinggi. Jakarta : EGC

Mansjoer, Arif.(2008).Kapita Selekta Kedokteran edisi ketiga jilid I. Jakarta : Media Aesculapius

Saifudin, A.B. SPOG, MPHD (2003).Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Material & Neonatal. Jakarta : EGC.

Hidayat, A.A.A. (2000).Ketrampilan Dasar Praktik Klinik Kebidanan ed.2. Jakarta:Salemba Medika

Referensi

Dokumen terkait

Wajibnya hakim, mediator dan para pihak untuk menempuh penyelesaian sengketa melalui mediasi telah diatur dalam Pasal 2 ayat (2) Peraturan Mahkamah Agung RI Nomor 1 Tahun

Metode apa yang digunakan dalam mencatat investasi pada Anak Perusahaan dalam laporan keuangan

Adapun variabel yang juga memiliki dampak pengaruh terhadap kinerja karyawan yaitu faktor kesepakatan termasuk interpersonal bahwa seseorang dapat bekerjasama dan bergaul

Semakin banyak reaksi dari tumpuan yang melawan gaya dari beban maka defleksi yang terjadi pada tumpuan rol lebih besar dari dari beban maka defleksi yang

 Diberitahukan kepada seluruh Koordinator Sektor & Wakil Koordinator sektor, Pengurus ke 6 Pelkat dan Koordinator Komisi GPIB Jemaat Petra, jika ingin memberikan

Teknologi Penyimpanan Rebung Betung (Dendro calamus asper) Segar Dengan Pengendalian Atmos- fer

1) Perbaikan kurikulum dan sistem pengelolaan kuliah kerja sibermas (KKS) berbasis keterlibatan dan pemberdayaan masyarakat. KKS-Pengabdian Revolusi Mental ini

Sesungguhnya Allah subhaanahu wata'ala menutup penglihatan manusia dari hal tersebut, tujuaannya adalah sebagai ujian bagi mereka agar menjadi jelas siapakah yang beriman kepada