• Tidak ada hasil yang ditemukan

BULETIN VETERINER UDAYANA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BULETIN VETERINER UDAYANA"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

Volume 9 No.1 Agustus 2017 p-ISSN: 2085-2495; e-ISSN: 2477-2712 Online pada : http//ojs.unud.ac.id/index.php/buletinvet Terbit mulai 1 Pebruari 2009

p-ISSN: 2085-2495, e-ISSN: 2477-2712

BULETIN VETERINER UDAYANA

➢ Infeksi Coccidia dan Strongyloides pada Sapi Bali Pasca Pemberian Mineral

➢ Karakteristik Fisik Daging Sapi Bali dan Wagyu

➢ Aktivitas Enzim Tikus Putih yang Diberi Buah Pinang

➢ Bakteri Non-Coliform pada Feses Sapi Bali

➢ Total Bakteri pada Air minum di Peternakan Ayam Pedaging

➢ Sonogram Organ Mata Kucing Liar Indonesia

➢ Nilai Gizi dan Kualitas Fisik Daging Sapi Bali

➢ Respon Imun Primer Ayam Petelur Pasca Vaksinasi Egg Drop Syndrome

➢ Efek Pemberian Viusid

©

Pet Terhadap Aktivitas dan Kapasitas Makrofag

➢ Pola Pertumbuhan Dimensi Panjang Alat Gerak Tubuh Itik Bali Betina

➢ Vitamin E terhadap Efek Samping Deksametason pada Paru-Paru Tikus

➢ Prevalensi Nematoda Gastrointestinal Bibit Sapi Bali di Nusa Penida

➢ Efektivitas Ekstrak Ethanol, Partisi N-Heksana dan Fraksi Kromatografi

Momordica charantia Dalam Menurunkan Glukosa Darah

➢ Karakteristik Fisikokimia Bakteriosin Asal Bakteri Asam Laktat Enterococcus

durans

DITERBITKAN OLEH FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN UNIVERSITAS UDAYANA

VOL 9 NO. 2 AGUSTUS 2017

(2)

Publikasi Ilmiah Ini Diterbitkan

Dua Kali Setahun Setiap Bulan Pebruari dan

Agustus Yang Bekerjasama Antara

Fakultas Kedokteran Hewan

Universitas Udayana

Asosiasi Dokter Hewan Praktisi

Hewan Kecil Indonesia (ADHPHKI)

Persatuan Dokter Hewan Indonesia (PDHI)

Cabang Bali

(3)

Trenggiling adalah mamalia dari ordo Pholidota, mempunyai empat spesies yang hidup di Asia. Trenggiling memakan serangga atau semut dengan cara menjulurkan lidah untuk menangkap mangsanya.

Redaksi:

Penanggung Jawab : Dekan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana. Ketua : Ni Ketut Suwiti, Sekretaris: I Wayan Sudira, Penyunting/editor: I Nengah Kerta Besung, Iwan Harjono Utama, Wayan Bebas, Kadek Karang Agustina Luh Gde Sri Surya Heryani, I Gusti Ayu Agung Suartini, Ida Ayu Pasti Apsari, Ida Bagus Ngurah Swacita, I Nyoman Suartha, Ni Nyoman Werdi Susari, Desak Nyoman Dewi Indira Laksmi, Ida Bagus Oka Winaya, I Gusti Made Krisna Erawan. Copy Editor: I Made Merdana, I Wayan Sudira, Putu Suastika. Layout Editor: I Wayan Nico Fajar Gunawan, Made Kardena, Luh Made Sudimartini. Sekretariat: Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana. Jl. PB Sudirman Denpasar Telp. (0361) 223791. Email:[email protected]. Web: http//www.ojs.unud.ac.id/index,php/buletinvet.

Naskah yang dikirim ke redaksi Buletin Veteriner Udayana tidak

diperkenankan dipublikasikan lagi secara keseluruhan atau

sebagian tanpa seijin Buletin Veteriner Udayana

(4)

Prof. Dr. drh. Fedik Abdul Rantam, DVM Imunologi Molekuler dan Seluler. Lab. Virologi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga

Prof. Dr. Ir. I Gst Nyoman Gde Bidura, MS

Bioteknologi Pakan Fakultas Peternakan Universitas Udayana Ir. Dahlanuddin, M.Rur.Sc., Ph.D

Lab. Nutrisi dan Makanan Ternak/Herbivora Fakultas Peternakan Universitas Mataram

drh. Made Sriasih, M. Agr. Sc., Ph.D

Lab. Biotechnology and Immunology Fakultas Peternakan, Universitas Mataram.

Dr. Drh. Tyas Rini Saraswati,M,Kes

Lab. Ilmu Faal dan Kasiat Obat Jurusan Biologi Fakultas MIPA Universitas Diponegoro

Ir. I Nengah Sujaya , M.Agr.Sc Ph.D

Intestinal Microbiology, Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

dr. Ni Nengah Dwi Fatmawati, S.Ked., SpMK, Ph.D

Medicine, Dentistry, and Pharmaceutical. Bag. Mikrobiologi Klinik, Fakultas Kedokteran, Univesitas Udayana

Prof. Ir. I Made Anom S. Wijaya, M.App.Sc., Ph.D Jurusan Teknik Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian

Universitas Udayana

Prof. Dr. drh I Gusti Ngurah Kade Mahardika Lab. Virologi Veteriner Universitas Udayana

Dr. Drh I Wayan Suardana, MSi

Dairy Sciences Lab. Kesmavet, Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana

(5)

Buletin Veteriner Udayana

Terbit sejak: 1 Pebruari 2009 Naskah asli

Original article

Infeksi Coccidia dan Strongyloides Pada Sapi Bali Pasca Pemberian Mineral

(THE INFECTION OF COCCIDIA AND STRONGYLOIDES IN BALI CATTLE POST-MINERAL ADMINISTRATION)

Komang Yogie Suryana Putra, Ida Ayu Pasti Apsari, Ni Ketut Suwiti ... 117 Karakteristik Fisik Daging Sapi Bali dan Wagyu

(BEEF PHYSICAL CHARACTERISTICS OF BALI AND WAGYU CATTLE)

Ni Ketut Suwiti, Ni Nyoman Citra Susilawati, Ida Bagus Ngurah Swacita ... 125 Aktivitas Enzim Alanine-Aminotransferase dan Aspartate Aminotransferase pada Tikus Putih Jantan yang Diberi Ekstrak Buah Pinang

(THE ACTIVITIES OF ALANINE AMINOTRANSFERASE AND ASPARTATE

AMINOTRANSFERASE ENZYMES IN MALE WHITE RATS TREATED WITH EXTRACT ARECA NUT TREATMENT)

Anak Agung Sagung Kendran, Anak Agung Gde Arjana, Anak Agung Sagung Istri

Pradnyantari ... 132 Perbandingan Jumlah Bakteri Non-Coliform pada Feses Sapi Bali Berdasarkan Tingkat Kedewasaan dan Tipe Pemeliharan

(COMPARISON OF NON-COLIFORM BACTERIA IN BALI CATTLE FAECES BASED ON LEVEL OF MATURITY AND MAINTENANCE PATTERN)

Kadek Andre Sulaksana, I Gusti Ketut Suarjana, I Nengah Kerta Besung ... 139 Total Bakteri pada Air minum di Peternakan Ayam Pedaging Desa Mengesta Kecamatan Penebel Kabupaten Tabanan

(TOTAL BACTERIA IN BROILER FARMING WATER IN MENGESTA VILLAGE, PENEBEL DISTRICT, TABANAN REGENCY)

I Nengah Kerta Besung, I Putu Yasmanta Primarta Putra, I Gusti Ketut Suarjana ... 145 Sonogram Organ Mata Kucing Liar Indonesia

(OCULAR SONOGRAM OF INDONESIAN STRAY CAT EYES)

Mokhamad Fakhrul Ulum, Deni Noviana ... 150 Nilai Gizi dan Kualitas Fisik Daging Sapi Bali berdasarkan Jenis Kelamin dan Umur

(NUTRITION LEVEL AND PHYSICAL QUALITY OF BALI BEEF ACCORDING TO THE SEX AND AGE OF CATTLE)

Mas Kadek Karang Agustina, I Made Ricky Dwi Cahya, Gusti Made Widyantara, Ida Bagus Ngurah Swacita, Anak Agung Gde Oka Dharmayudha, Mas Djoko Rudyanto ... 156

(6)

Respon Imun Primer Ayam Petelur Pasca Vaksinasi Egg Drop Syndrome

(PRIMARY IMUNE RESPON OF LAYER POST VACCINATED WITH THE EGG DROPS SYNDOME VACCINE)

Gusti Ayu Yuniati Kencana, I Nyoman Suartha,I Putu Wira Adi Wibawa ... 164 Efek Pemberian Viusid© Pet Terhadap Aktivitas Dan Kapasitas Makrofag Pada Mencit

(THE EFFECT OF VIUSID© PET TO ACTIVITY AND CAPASITY OF MACROPHAGES IN MICE)

Yoga Pratama Nuradi, I Nyoman Suartha, Ida Bagus Komang Ardana ... 171 Pola Pertumbuhan Dimensi Panjang Alat Gerak Tubuh Itik Bali Betina

(GROWTH PATTERNS OF THE LOCOMOTOR LENGTH DIMENSIONS THE FEMALE BALI DUCKS)

I Made Edi Suryawan, I Putu Sampurna, I Ketut Suatha ... 178 Pengaruh Suplementasi Vitamin E terhadap Efek Samping Deksametason pada

Paru-Paru Tikus Putih Jantan (Rattus norvegicus)

(THE EFFECT OF VITAMIN E SUPPLEMENTATION TO THE SIDE EFFECT OF DEXAMETHASONE ON THE LUNG OF MALE WHITE RATS)

Bina Ichsantya, I Ketut Berata, Samsuri, I Made Merdana ... 188 Prevalensi Nematoda Gastrointestinal bibit Sapi Bali Di Nusa Penida

(THE PREVALENCE OF GASTROINTESTINAL NEMATODES OF BALI CATTLE BREEDERS IN NUSA PENIDA)

I Putu Agus Trisna Kusuma Antara, Ni Ketut Suwiti, Ida Ayu Pasti Apsari ... 195 Efektivitas Ekstrak Ethanol, Partisi N-Heksana dan Fraksi Kromatografi Momordica

charantia Dalam Menurunkan Glukosa Darah

(THE EFFECTIVENES OF ETANOL EXTRACT, PARTITION N-HEKSANA, AND

CROMATHOGRAPHY FRACTION OF MOMORDICA CHARANTIA L. TO LOWER BLOOD GLUCOSE LEVEL)

Ni Luh Putu Kusuma Clara Dewinda, I Nyoman Suartha, Luh Made Sudimartini ... 202 Karakteristik Fisikokimia Bakteriosin Asal Bakteri Asam Laktat Enterococcus durans Hasil Isolasi Kolon Sapi Bali

(PHYSICHOCHEMICAL CHACTERIZATION OF BACTERIOCIN PRODUCING ENTEROCOCCUS DURANS ISOLATED FROM COLON’S BALI CATTLE)

(7)

Dr. Sagung Chandra Yowani,S.Si.,Apt.,M.Si

Lab. Mikrobiologi Program Studi Farmasi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Udayana.

Dr. dra. Tyas Rini Saraswati,M.Kes

Lab. Ilmu Faal dan Khasiat Obat Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Diponegoro.

Dra. Ni Luh Watiniasih, M.Sc., Ph.D.

Lab. Ekofisiologi Hewan Program Studi Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Udayana.

Dr. drh. I Nyoman Suartha, MSi.

Lab. Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana

Prof. Dr. drh. Gusti Ayu Yuniati Kencana, MP.

Lab. Virologi Veteriner Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana

Dr. drh I Nengah Kerta Besung, MSi

Lab. Bakteriologi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana

Dr.drh. I Gusti Ayu Agung Suartini, MSi.

Lab. Biokimia, Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana

Dr. drh. I Gusti Made Krisna Erawan, MSi.

Lab. Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana

Drh. Kadek Karang Agustina, MP.

Lab. Kesmavet, Fakutas Kedokteran Hewan Universitas Udayana

Drh. Made Sudimartini, MP

Farmakologi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana

Drh. Wayan Nico Fajar, M.Si

Lab. Radiologi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana

Dra. Ni Made Pharmawati, MSc. PhD.

Lab. Bioteknologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Udayana

Dr. drh. Maxs U E Sanam.

Lab. Mikrobiologi, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Cendana.

Prof. Dr. drh. Pudji Astuti

Lab. Fisiologi Veteriner Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gajah Mada.

Prof. Dr.drh. I Nyoman Suarsana, MSi.

Lab. Biokimia Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana

Prof. Dr. drh Ni Ketut Suwiti, MKes,

Lab. Histologi, Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana

Dr.drh. Michael Haryadi, MP.

Lab. Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gajah Mada

Drh. Ni Luh Putu Agustini, MP.

Lab. Bioteknologi Balai Besar Veteriner Denpasar.

Drh. Ni Made Restiati, Mphil.

Klinisi Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia Cabang Bali

Dr.drh. AETH Wahyuni, MSi.

Lab. Mikrobiologi, Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gajah Mada

Drh. Siti Komariah

Klinisi Asosiasi Dokter Hewan Praktisi Hewan Kecil Indonesia

(8)

Buletin Veteriner Udayana

Vol. 9 No.1- 2 Tahun 2017

Air Minum 145 ALT 132 Ampisilin, 60 Antioksidan 9,47,94 Antiulkus, 94 AST 132 Ayam Pedaging 60 Ayam Pedaging 145 Ayam Petelur 164 Babi Landrace 1, 67 Bakteri 73

Bakteri Asam Laktat 209 Bakteriosin 209 Burung Puyuh 54 Coccidia 117 Coliform, 81 Daging 156 Daging Babi 34 Daging Sapi Bali 125 Daging Sapi Wagyu 125 Daging Sapi, 16

Daun Salam, 34 Daya Ikat Air 16 Daya Tahan 34 Deksametason 47,187 Dermatofitosis, 106 Diabetes mellitus 202

E. coli 60

Eceng Gondok, Timbal (Pb) 1, 67

Egg Drop Syndrome 164 Escherichia Coli, 81

Esktrak Buah Pinang 132 Feses 139 Fisikokimia 209 Fraksi kromatografi 202 Gastrointestinal 195 Ginjal. 1,9 Glukosa darah 202 Hati (Hepar) 1,87 Hiperglikemia, 22 Histopatologi 1, 47, 187 Isolasi 73 Itik 178 Jenis Kelamin 156 Kadar Hemoglobin, 67 Karakteristik Fisik 125 Karakteristik Semen 54 Kerbau Lumpur, 100 Koliseptikemia 60 Konsumsi Pakan, 29 Konversi Pakan, 29 Kualitas 134, 156 Kualitas Air, 81 Kualitas Daging, 16 Kucing Liar Indonesia 150 Lambung 94 Leukosit 106 Makrofag 171 Mastitis Klinis 73 Mata kucing 150 Mencit 171 Mineral 117 Momordica Charantia, 22 Morfometri, 100 Nematoda 195 Nilai Hematocrit 67 Nilai Ph, 16 Non Coliform 139 Nusa Penida 195

Nusa Tenggara Barat, 42 Nutrisi 156 Oksitetrasiklin, 60 Orgacid™ 29 Parasetamol 9, 87, 94 Pare 202 partisi n-heksana 202 Paru-Paru 187 Pemeriksaan Makroskopik, 54 Pemeriksaan Mikroskopik 54 Pencemaran 145

Pertambahan Bobot Badan, 29 Peternakan Ayam 145

Peternakan Ayam Broiler. 81 Pola Pertumbuhan 178 Prevalensi 195 Propolis 9,87,94 Radikal Bebas 9 Rattus Norvegicus 22 Respon Primer 164 Sapi 42 Sapi bali 106, 117, 139, 156, 195 Septicaemia Epizootica, 42 Somatometri 100 Sonogram 150 Strongyloides 117 Sulfametoksasol 60 Tikus Putih Jantan 132 Titer 164 Titik Infleksi 178 Toksisitas 132 Total Eritrosit, 67 TPA Suwung 139 Umur 156 Usus Halus 47 Vaksinasi 164 Vitamin E 147, 187 Viusid© Pet 171 INDEKS SUBJEK

(9)

Buletin Veteriner Udayana

Vol. 9 No.1- 2 Tahun 2017

Agung IGMSSN 29 Agustina KK 34, 156 Antara PATK 195 Anthara SM 22 Apsari IAP 117, 195 Ardana IBK 29, 171 Arjana AAG 132 Arjentinia IPGY 106 Bebas W 54 Berata IK 9,47,87,94, 187 Besung INK 42, 139, 145 Budaarsa K 67 Cahya IMRD 156 Dewi NKNL 1 Dewinda NLPKC 202 Dharmawan NS 1, 67 Dharmayudha AAGO 22, 156 Febilani E 9 Ichsantya B 187 Isnan MH 73 Kardena IM 94 Kencana GAY 164 Kendran AAS 132 Lesmono DSA 54 Luhung YGA 60 Lusandika EH 81 Manurung DSB 100 Maria N 94 Merdana IM 9, 87, 187 Noviana D 150 Nuradi YP 171 Nurani NN 106 Pakpahan YPC 22 Pradnyantari AASI 132 Putra IPYP 145 Putra KYG 117 Putri PVC 67 Putriningsih PAS 106 Rudyanto MD 156 Sampurna IP 178 Samsuri 9,47,87,94, 187 Sari PH 34 Septiara HKA 209 Setiawan SY 16 Suada IK 16,29,34,81 Suardana IW 209 Suarjana IGK 42,60,73,81, 139, 145 Suarsana IN 209 Suartha IN 22, 164, 171, 202 Suatha IK 100, 178 Sudimartini LM 9, 22, 202 Sudira IW 47 Sulaksana KA 139 Suryawan IME 178 Susilawati NYC 125 Suwiti NK 42, 117, 125, 195 Swacita IBN 16, 125, 156 Tono PG 42, 60, 73 Trilaksana IGNB 54 Ulum MH 150 Utami AR 87 Wandia IN 100 Wibawa IPWA 164 Widyantara GM 156 Wijayanthi KKD 47 Winaya IBO 1 INDEKS PENULIS

(10)

1. Ketentuan Umum

a. BuletinVeteriner Udayana memuat tulisan ilmiah dalam bidang Kedoteran Hewan dan Peternakan, berupa hasil penelitian, artikel ulas balik (review).

b. Naskah/makalah harus orisinal dan belum pernah diterbitkan. Apabila diterima untuk dimuat dalam Buletin Veteriner Udayana, maka tidak boleh diterbitkan dalam majalah atau media yang lain.

2. Naskah ilmiah dicetak dengan kertas ukuran A4. Naskah diketik dengan spasi menggunakan program olah kata word for windows, huruf Times New Roman ukuran huruf 12.

3. Tata cara penulisan naskah hasil penelitian hendaknya disusun menurut urutan sebagai berikut: Judul, Identitas penulis, Abstrak, Abstract, Pendahuluan, Metode Penelitian, Hasil dan Pembahasan, Simpulan dan Saran, Ucapan terimakasih dan Daftar Pustaka. Upayakan dicetak hitam putih, dan keseluruhan naskah tidak lebih tidak kurang dari 10-15 halaman.

a. Judul: Singkat dan jelas.

b. Identitas penulis: Nama ditulis lengkap (tidak disingkat) tanpa gelar. Bila penulis lebih dari seorang, dengan alamat, instansi yang berbeda, maka di belakang setiap nama diberi indeks atas angka arab. Alamat penulis ditulis di bawah nama penulis

mencakup laboratorium, lembaga, dan alamat lengkap dengan nomer

telepon/faksimili dan Email. Indeks tambahan diberikan pada penulis yang dapat diajak berkorespondensi (corresponding author).

c. Abstrak: Ditulis dalam bahasa Indonesia terlebih dahulu dan bahasa Inggris bila naskah dalam bahasa Indonesia, begitu pula sebaliknya. Abstrak dilengkapi kata kunci (keywords) yang diurut berdasarkan kepentingannya. Abstrak memuat ringkasan naskah, mencakup seluruh tulisan tanpa mencoba merinci setiap bagiannya. Hindari menggunakan singkatan.

d. Pendahuluan: Memuat tentang ruang lingkup, latar belakang tujuan dan manfaat penelitian. Bagian ini hendaknya memberikan latar belakang agar pembaca dapat memahami dan menilai hasil penelitian tanpa membaca laporan-laporan sebelumnya yang berkaitan dengan topik. Manfaatkanlah pustaka yang dapat mendukung pembahasan.

e. Metode Penelitian: Hendaknya diuraikan secara rinci dan jelas mengenai bahan yang digunakan dan cara kerja yang dilaksanakan, termasuk metode statistika. Cara kerja yang disampaikan hendaknya memuat informasi yang memadai sehingga memungkinkan penelitian dapat diulang dengan berhasil.

f. Hasil dan Pembahasan: Disajikan secara bersama dan membahas dengan jelas hasil-hasil penelitian. Hasil penelitian dapat disajikan dalam bentuk tertulis di dalam naskah, tabel, atau gambar. Kurangi penggunaan grafik jika hal tersebut dapat dijelaskan naskah. Batasi pemakaian foto, sajikan foto yang jelas menggambarkan hasil yang diperoleh. Gambar dan tabel harus diberi nomor dan dikutip dalam naskah. Pembahasan yang disajikan hendaknya memuat tafsir atas hasil yang diperoleh dan bahasan yang berkaitan dengan laporan-laporan sebelumnya. Hindari mengulang pernyataan yang telah disampaikan pada metode, hasil dan informasi lain yang telah disajikan pada pendahuluan.

g. Simpulan dan Saran: Disajikan secara terpisah dari hasil dan pembahasan.

(11)

h. Ucapan Terimakasih: Dapat disajikan bila dipandang perlu. Ditujukan kepada yang mendanai penelitian dan untuk memberikan penghargaan kepada Lembaga maupun perseorangan yang telah membantu penelitian atau proses penulisan.

i. DaftarPustaka: Disusun secara alfabetis menurut nama dan tahun terbit. Singkatan majalah/jurnal berdasarkan tata cara yang dapat dipakai oleh masing-masing jurnal. Proporsi daftar pustaka jurnal/majalah ilmiah sedikitnya 60%, dan teks book 40%. Contoh penulisan daftar pustaka:

Jurnal/majalah

Cowle SM, Horae S, Mosselman S, Parker MG.1997. Estrogen receptor alpha and beta for heterodimeson DNA. J Biol Chem, 272(1):158-162.

Buku

Gordon I. 1997. Controlled reproduction in sheep and goats. Controlled

reproductionin farm animal series. 2nd Ed. Cab. Internationa. Ireland

Bab dalam Buku

Lukert PD, Saif YM. 1997. Infectious bursal disease. In: Diesease of Pultry. 10th Ed. Calnek BW, Barness HJ, Beard CW, McDaugrad LR, Saif YM. (eds). Iowa State University Press, Ames, Iowa, USA. Pp. 721-738.

Prosiding

Muzzarelli R. 1990. Chitin and chitosan: Unique cationic polysaccharides, In: Proceeding Sympotium Towards a Carbohydrate Based Chemistry. Ames, France, 23-26 Oct. 1989. Pp. 199-231.

Disertasi/Tesis

Said S. 2003.Studies on Fertilization of rat soocytes by intra cytoplasmic sperm injection. (Disertation). Okayama: Okayama University.

Website

Gorman C. 1997. The new Hongkong Flue. http://www.pathfinder.com/time/ magazine/1997/dom/971229/heatlh.thenewhong_html

4. Pengiriman naskah dapat dilakukan setiap saat dalam bentuk cetakan (printout) sebanyak dua eksemplar dan satu softcopy kepada:

Redaksi BuletinVeteriner Udayana

Alamat: Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana Jl.PB Sudirman Denpasar

Telp. (0361) 223791; Fax.(0361) 223791 Email:[email protected]/[email protected]

5. Terhadap naskah/makalah yang dikirim, redaksi berhak untuk: memuat naskah/makalah tanpa perbaikan, memuat naskah/makalah dengan perbaikan, menolak naskah/makalah. Semua keputusan redaksi tidak dapat diganggu gugat dan tidak diadakan surat menyurat untuk keperluan itu.

6. Setiap naskah yang dikirim ke redaksi untuk dipublikasikan dalam Buletin Veteriner Udayana akan dipandang sebagai karya asli penulis dan bila diterima, naskah tersebut tidak diperkenankan dipublikasikan lagi secara keseluruhan ataupun sebagian tanpa seijin Buletin Veteriner Udayana.

(12)

Alamat Redaksi Fakultas Kedokteran Hewan

Jl. PB Sudirman Denpasar, Telp (0361)223791

(13)

164

Respon Imun Primer Ayam Petelur Pasca Vaksinasi Egg Drop Syndrome

(PRIMARY IMUNE RESPON OF LAYER POST VACCINATED WITH THE EGG DROPS SYNDOME VACCINE)

Gusti Ayu Yuniati Kencana1, I Nyoman Suartha2,I Putu Wira Adi Wibawa3

1Laboratorium Virologi Veteriner, 2Laboratorium Penyakit Dalam Veteriner, 3Praktisi Dokter Hewan di Denpasar

Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana Jl. PB. Sudirman, Denpasar, Bali.

*E-mail: [email protected]

ABSTRAK

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui respon imun primer ayam petelur pasca vaksinasi

Egg drop syndrome. Sampel penelitian adalah ayam petelur jenis Isa Brown yang dipelihara di Desa

Tiga, Kabupaten Bangli, Provinsi Bali. Sebanyak 25 ekor ayam petelur umur 14 minggu divaksin dengan vaksin EDS inaktif polivalen (mengandung antigen virus Newcastle disease, infectious

bronchitis dan egg drop syndrome). Vaksinasi dilakukan secara intramuskuler pada otot dada.

Pemeriksaan titer antibodi EDS dengan uji serologi Hambatan Hemaglutinasi (HI). Titer antibodi egg

drop syndrome diperiksa sebanyak empat kali yaitu satu kali sebelum vaksinasi dan tiga kali pasca

vaksinasi. Rataan titer antibodi setiap minggu dianalisis menggunakan sidik ragam dilanjutkan dengan uji beda nyata terkecil, dan analisis regresi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan titer antibodi yang signifikan setiap minggunya pada ayam petelur pasca divaksinasi EDS. Titer antibodi satu minggu pasca vaksinasi sebesar 22,6 HI unit, pada dua minggu pasca vaksinasi sebesar

25,04 HI unit, dan tiga minggu pasca vaksinasi sebesar 26,4 HI unit.

Kata kunci: vaksinasi; Egg drop syndrome; respon primer; titer; ayam petelur ABSTRACT

This study was conducted to determine the primary immune response post vaccination using EDS inactivated vaccine polyvalent. The sample used was a commercial layer farm in the village of Tiga, regency of Bangli, Bali. A total of 25 layer which were14 weeks old vaccinated using EDS-76 inactivated vaccine containing polyvalent Newcastle disease antigen virus, infectious bronchitis and egg drop syndrome by intramuscularly injection. Examination of EDS antibody titer using serologic test by Hemagglutination Inhibition (HI) test. Egg drops syndrome antibody titer checked four times, once before vaccination, and every week for three weeks post-vaccination to see the immune responses. The average antibody titer then analyzed using an univariate of variance test followed by a test of Least Significant Difference, Duncan test and regression analysis. The result showed an increase antibody of EDS was significantly every week post vaccination. The average antibody titers of EDS are 22,6 HI unit at one weeks post vaccination, about 25,04 HI unit at two weeks post

vaccination and 26,4 HI unit at three weeks post vaccination.

Keywords: vaccination; Egg drop syndrome; primary immune responses; titre; layer PENDAHULUAN

Ayam petelur banyak dikembangkan di beberapa daerah di Indonesia baik sebagai peternakan industri maupun

peternakan rakyat. Perkembangan

penduduk yang pesat serta diikuti dengan

peningkatan kebutuhan akan telur

mendorong peternak untuk terus

membudidayakan ayam petelur. Data

Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2014 menunjukkan terjadi peningkatan populasi ternak ayam petelur setiap tahunnya dari total 69.366 ekor pada tahun 2000 hingga mencapai 153.657 ekor pada tahun 2014.

Penyakit EDS dapat menyebabkan

penurunan produksi telur yang dapat mencapai 40% (Suresh et al., 2013) serta berlangsung selama 4 sampai 10 minggu

(14)

165 yang mengakibatkan kerugian ekonomi cukup tinggi pada peternakan unggas.

Pada saat ini ayam petelur yang banyak dibudidayakan umumnya adalah

breed unggul yang memiliki tingkat

produksi telur tinggi. Pada fase bertelur (layer, mulai umur 22 minggu) ayam petelur mampu memproduksi telur secara optimal sedangkan pada fase afkir produksi telur telah menurun. Manajemen pemeliharaan dan manajemen kesehatan yang baik mutlak diperlukan untuk optimalisasi produksi ayam petelur. Berbagai gangguan kesehatan pada ayam petelur dapat mengakibatkan penurunan produksi telur. Salah satu penyakit yang dapat mengakibatkan penurunan produksi pada ayam petelur adalah penyakit

egg-drop syndrome (EDS) (Kencana, 2012). Egg drop syndrome adalah penyakit

unggas yang disebabkan oleh Adenovirus dari familia Adenoviridae. Virus EDS termasuk ke dalam group III Avian Adenovirus (Dhinakar et al., 2001). Pada infeksi virus EDS bereplikasi di dalam inti sel oleh karena itu transkripsinya analog dengan sel (Rantam, 2005). Penyakit EDS pertama kali dilaporkan tahun 1976 sehingga disebut juga dengan egg-drop

syndrome-76 (EDS-76) (Kencana,2012).

Penyakit EDS tersebar luas diseluruh dunia dan dapat menyerang berbagai spesies unggas. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Bartha et al., (1981), menunjukkan adanya antibodi terhadap EDS pada serum unggas liar yang diambil sebelum tahun 1975. Antibodi terhadap EDS pernah ditemukan pada ayam broiler yang tidak menunjukkan gejala klinis

(Meulemans,1979). Jingliang (2011)

melaporkan bahwa egg drop syndrome yang terjadi pada bebek di China juga disebabkan oleh Barley Yellow Dwarf (BYD) virus yang merupakan genus dari Flavivirus.

Penyakit EDS menyerang ayam petelur umur 25-32 minggu dengan gejala klinis yang menonjol berupa penurunan produksi telur yang bervariasi mulai 5% sampai 50% yang berlangsung selama 6-7

minggu (Murtidjo, 1992). Abnormalitas telur juga tampak yang ditandai dengan kerabang telur lunak, terjadi perubahan warna telur menjadi lebih pucat, lembek atau kasar sehingga telur berubah bentuk dengan ukuran yang tidak seragam atau ukurannya menjadi lebih kecil. Gejala

klinis EDS bentuk ringan adalah

hilangnya warna atau pigmen cangkang telur terutama ditemukan pada telur yang berwarna coklat diikuti dengan menipisnya cangkang telur (Tabbu, 2000). Penularan penyakit EDS terjadi secara horizontal yakni melalui kontak langsung antara ayam yang terinfeksi EDS dengan ayam yang sehat. Virus EDS menular lewat droplet dan feses ayam terinfeksi (Kencana, 2012). Pada keadaan tertentu penularan EDS dapat pula terjadi secara horizontal melalui telur tetas yang terinfeksi (Smyth dan Adair, 1987). Apabila ketika masih embrio atau ayam yang terinfeksi sebelum mencapai dewasa kelamin, maka virus EDS akan bersifat laten, virus EDS ditemukan sampai ayam mencapai dewasa kelamin (McFerran dan Smyth, 2000). Berbeda halnya dengan

ayam, infeksi EDS pada angsa

menyebabkan trakeitis dan bronchitis (Ivanics et al.,2001). Dewasa ini penyakit EDS masih juga dijumpai pada ayam petelur di Indonesia. Enam isolat lapang EDS telah berhasil dikarakterisasi dari sampel ayam yang dicurigai kena EDS, berasal dari Bogor, Medan dan Surabaya (Kencana et al., 2017).

Tidak ada pengobatan yang efektif untuk penyakit EDS. Salah satu cara untuk mencegah penyakit EDS adalah dengan melakukan vaksinasi ayam sebelum masa bertelur (umur 14-16 minggu) dengan menggunakan vaksin inaktif (Kencana,

2012). Vaksinasi bertujuan untuk

membentuk antibodi spesifik terhadap virus EDS. Intensitas dari respon imun

humoral dapat ditunjukan oleh

peningkatan titer antibodi (Radji, 2010). Vaksin inaktif kovensional EDS pertama kali dikembangkan pada tahun 1977 (Baxendale et al., 1980). Produksi vaksin

(15)

166 EDS umumnya menggunakan telur bebek berembrio, karena virus EDS tumbuh dengan baik pada telur bebek berembrio sedangkan pada telur ayam berembrio virus EDS tidak mau tumbuh (Gutter et al., 2008).

Kasus EDS terkadang dapat

ditemukan juga pada ayam petelur yang telah divaksinasi ditandai dengan gejala penurunan produksi telur. Hal ini

kemungkinan karena vaksin yang

digunakan tidak bagus. Pada umumnya vaksinasi EDS dilakukan pada ayam petelur sebelum masa berproduksi yakni pada umur 14-16 minggu tanpa diikuti dengan vaksinasi ulangan atau booster. Dengan demikian, titer antibodi yang terbentuk merupakan respon imun primer yang sangat menentukan tingkat kekebalan ayam petelur terhadap penyakit EDS. Respon imun primer akan merangsang terbentuknya sel memori yang berperan dalam reaksi imunitas ketika tubuh kembali terpapar oleh antigen yang sama atau sering disebut dengan respon imun sekunder (Day dan Schultz, 2014). Titer antibodi EDS dapat diperiksa dengan uji

Hemaglutinasi dan uji Hambatan

Hemaglutinasi (HA/HI). Rasool et al (2005) menyatakan bahwa virus EDS hanya mengaglutinasi sel darah merah unggas tetapi tidak mengagglutinasi sel darah merah mamalia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui respon imun ayam petelur pasca vaksinasi EDS inaktif polivalen dengan uji serologi HI.

METODE PENELITIAN Sampel

Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah serum ayam petelur pasca vaksinasi EDS yang diambil dari peternakan ayam petelur komersil di Desa Tiga, Kabupaten Bangli. Total populasi ayam adalah sebanyak 3000 ekor, strain

Isa Brown, sebanyak 25 ekor diambil

secara acak untuk sampel penelitian. Vaksin yang digunakan adalah vaksin

EDS-76 inaktif polivalen komersil

produksi PT Sanbio yang mengandung antigen virus Newcastle disease (ND),

infectious bronchitis (IB) dan egg drop syndrome (EDS). Untuk kontrol positif

virus EDS 76 diperoleh dari PT Sanbio Laboratories, Bogor.

Perlakuan

Sebanyak 25 ekor ayam petelur umur 14 minggu divaksin dengan menggunakan vaksin EDS inaktif polivalen. Vaksinasi

ayam petelur dilakukan secara

intramuskuler dengan cara menyuntikkan vaksin sebanyak 0,3 ml/ekor pada otot dada. Titer virus EDS yang terkandung dalam vaksin adalah ≥ 107.0 EID

50.

Pengambilan Sampel

Pemeriksaan serum dilakukan guna mengetahui titer antibodi ayam sebagai indikasi terjadinya respon imun ayam pasca divaksinasi. Pengambilan sampel darah dilakukan sebanyak empat kali yaitu satu minggu sebelum vaksinasi EDS (minggu ke-0) dan diulang setiap minggu sebanyak tiga kali pasca vaksinasi (minggu ke-1, 2, 3 pasca vaksinasi). Pengambilan darah dilakukan pada vena sayap (vena

brachialis) dengan menggunakan spuit 3

ml, dengan ukuran jarum 23 Gauge. Kulit dipermukaan vena brachialis didesinfeksi dengan kapas beralkohol 70% untuk mencegah terjadinya kontaminasi bakteri. Disisakan ruang kosong pada spuit untuk memungkinkan serum terpisah dari darah. Darah dalam spuit ditempatkan pada posisi datar dan didiamkan dalam suhu ruangan selama 30 menit-1 jam sampai serum keluar. Serum yang telah terbentuk selanjutnya dipisahkan lalu ditampung dengan tabung mikro dan disimpan pada

freezer suhu -20˚C. Uji hemaglutinasi/HA

Uji Hemaglutinasi (HA) dilakukan untuk mengetahui adanya virus yang

mampu menghemagutinasi sel darah

merah 1%. Sifat virus yang demikian dimiliki pula oleh virus EDS sehingga uji HA diguankan untuk mendeteksi virus

(16)

167 EDS. Uji EDS yang digunakan pada penelitian ini merupakan adaptasi dari prosedur baku OIE tahun 2009 untuk

mendeteksi Avian Influenza dengan

menggunakan mikrotiter plat U. Sebanyak 0,025 ml PBS ditambahkan pada setiap sumuran plat mikrotiter menggunakan

mikropipet. Cara kerjanya adalah sebagai

berikut: Sebanyak 0,025 ml suspensi virus EDS ditambahkan pada sumuran pertama.

Pengenceran seri berkelipatan dua

dilakukan mulai dari sumuran ke-1 sampai sumuran ke-11 lalu dari sumuran ke-11 suspensi dibuang sebanyak 0,025 ml. Selanjutnya sebanyak 0,025 ml PBS ditambahkan mulai sumuran plat mikro ke 1 sampai ke 11. Sebanyak 0,05 ml eritosit 1% ditambahkan ke dalam setiap sumuran plat mikro lalu diayak menggunakan pengayak mikro (mikroshaker) selama30 detik. Plat mikro dibiarkan selama 1 jam pada suhu ruangan dan diamati setiap 15 menit. Reaksi positif ditandai dengan adanya endapan sel darah merah berupa butiran berpasir pada dasar sumuran plat mikro. Pembacaan titer HA dilakukan dengan memiringkan plat mikro≥ 45° dan

penentuan titer HA dibaca dari

pengenceran antigen tertinggi yang masih dapat menghemaglutinasi eritrosit secara sempurna. Titer antigen EDS yang diperoleh selanjutnya diencerkan menjadi 4 unit HA untuk digunakan pada uji HI.

Uji Hambatan Hemaglutinasi/HI

Uji HI yang digunakan untuk mengkonfirmasi antibodi EDS merupakan adaptasi dari prosedur baku dari OIE tahun 2009 terhadap Avian Influenza dengan teknik mikrotiter plat U. Serum yang akan diuji HI diencerkan secara berseri kelipatan 2 (dua) yaitu 2, 4, 8, 16, 32, 64

sampai pengenceran 2048. Untuk

menghilangkan faktor penghambat yang

terkandung pada serum, dilakukan

inaktivasi serum dengan pemanasan pada suhu 56˚C selama 30 menit. Masing-masing sumuran 1sampai sumuran ke-12 pada plat mikro diisi dengan PBS sebanyak 0,025 ml. Pada sumuran ke-1

dan sumuran ke-2 ditambahkan serum yang akan diuji kemudian dilakukan pengenceran berseri kelipatan dua yang

dimulai dari sumuran ke-2 sampai

sumuran ke-10 pada plat mikro.

Selanjunya ditambahkan masing-masing 0,025 ml suspensi antigen EDS 4 HA unit ke dalam sumuran ke1 sampai sumuran ke-11, sedangkan pada sumuran ke-12 hanya ditambahkan dengan 0,025 ml PBS. Sumuran ke-1 digunakan sebagai kontrol positif, sumuran ke-11 sebagai kontrol negatif sedangkan sumuran ke 12 sebagai kontrol sel darah merah. Plat mikro selanjutnya diayak dengan menggunakan

microshaker selama 30 detik kemudian

didiamkan pada suhu ruangan selama 30 menit. Setelah 30 menit, ditambahkan ke dalam setiap sumuran masing-masing 0,05 ml suspensi sel darah merah 0,5% dan diayak kembali selama 30 detik. Plat mikro selanjutnya diinkubasikan pada suhu ruangan selama 1 jam sambil diamati setiap 15 menit. Titer antibodi EDS dinyatakan dengan kelipatan 2 atau (2n )

yang dihitung mulai dari sumuran ke-1.

Analisis Data

Data titer antibodi yang diperoleh dianalisis menggunakan sidik ragam dilanjutkan dengan uji beda nyata terkecil (BNT), dan uji regresi. Analisis data dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak SPSS (statistical package for the

social sciences).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil pemeriksaan titer antibodi terhadap penyakit egg drop syndrome-76 pada ayam petelur di Desa Tiga, Kabupaten Bangli, Bali dimuat pada Gambar 1. Rata-rata titer antibodi EDS

yang terbentuk setiap minggunya

dinyatakan dalam satuan HI unit log 2. Hasil pemeriksaan titer antibodi EDS ayam petelur pada minggu ke-0 (sebelum vaksinasi), rata-ratanya adalah 0 HI log 2. Pada minggu ke-1 pascavaksinasi EDS rata-rata titer antibodinya adalah 2,60 HI

(17)

168 pascavaksinasi rata-rata titer antibodi EDS adalah 5,04 HI unit log 2. Pada minggu ke-3 pascavaksinasi rata-rata titer antibodi terhadap EDS adalah 6,04 HI unit log 2.

Gambar 1. Grafik peningkatan titer antibodi EDS

Hasil analisis ragam menunjukkan

bahwa waktu pengambilan sampel

berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap rata-rata titer antibodi EDS ayam petelur yang terbentuk pascavaksinasi pada pengambilan darah setiap minggunya. Hasil uji beda nyata terkecil (BNT) menunjukkan terjadi peningkatan titer antibodi EDS yang sangat nyata ( P<0,01) sejak minggu ke-1 sampai dengan minggu ke-3.

Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa garis regresi dari persamaan Y= 3,185P – 0,383P2 sangat nyata. Hal ini dapat dilihat dari nilai R yaitu 0,981 (mendekati 1) yang berarti pengamatan titer antibodi EDS setiap minggu memiliki hubungan erat terhadap peningkatan titer antibodi EDS pascavaksinasi. Nilai Y dalam persamaan di atas merupakan rata-rata titer antibodi EDS, sedangkan P

merupakan variabel regresi yang

menyatakan waktu (minggu) sebelum dan setelah vaksinasi.

Hasil uji HI terhadap EDS ayam petelur yang diambil pada minggu-ke1 pascavaksinasi menunjukkan titer antibodi EDS yang rendah. Titer antibodi yang rendah pada minggu pertama disebabkan oleh penggunaan adjuvan pada vaksin EDS inaktif yang digunakan untuk

vaksinasi. Oil adjuvant berfungsi untuk melepaskan vaksin EDS secara perlahan-lahan sehingga peningkatan titer antibodi juga terjadi secara perlahan. Vaksin inaktif

akan menjadi lebih baik dengan

ditambahkan adjuvan/iscom yang

berfungsi sebagai depot antigen. Adjuvan pada vaksin inaktif memiliki fungsi untuk melindungi antigen dari perusakan yang disebabkan oleh respon imun. Adanya adjuvan dalam vaksin inaktif membuat vaksin membutuhkan waktu yang relatif

lama untuk memicu pembentukan

antibodi, namun respon kekebalan yang terbentuk juga akan bertahan lebih lama didalam tubuh ayam (Tabbu, 2000).

Hasil pemeriksaan titer antibodi pada

minggu ke-2 menunjukkan terjadi

peningkatan rata-rata titer antibodi EDS yang signifikan. Vaksin EDS inaktif dinyatakan protektif apabila dalam tiga atau empat minggu titer antibodi terhadap EDS yang terbentuk minimal atau lebih dari 1:16 HI Unit (atau 4 HI log 2 ) (ACFAF, 2012). Pada minggu ke-2 pemberaian vaksin inaktif polivalen EDS yang digunakan telah mampu merangsang terbentuknya titer antibodi protektif terhadap penyakit EDS pada ayam petelur dengan rata-rata titer 5,04 HI unit log2. Hal ini menunjukkan bahwa antigen yang terkandung dalam vaksin EDS inaktif

polivalen telah mampu merangsang

diferensiasi sel limfositt B menjadi sel plasma yang selanjutnya menjadi antibodi

dengan jumlah yang memadai dan

berperan untuk melindungi ayam dari kasus penyakit EDS di lapangan.

Sampai minggu ke-3, titer antibodi

EDS masih mengalami peningkatan

meskipun tidak sebesar peningkatan antibodi pada minggu ke 2. Hal ini menunjukkan mulai minggu ke-3 laju peningkatan antibodi mulai menurun yang diakibatkan oleh degradasi antigen yang lebih intensif dalam tubuh ayam.

Secara umum penggunaan vaksin

EDS-76 inaktif polivalen yang

(18)

169

ayam petelur umur 14 minggu

berpengaruh sangat nyata pada respon

imun primer terhadap EDS. Hasil

penelitian menunjukkan bahwa antibodi EDS dapat terdeteksi sejak minggu ke-1 walaupun titternya masih rendah. Titer antibodi EDS secara serologi bersifat protektif yang tercapai pada minggu ke-2 pascavaksinasi dengan rataan titer antibodi 5,4 HI unit log 2 (atau 25,4 HI unit). Titer antibodi terhadap EDS masih mengalami peningkatan sampai minggu ke-3 pascavaksinasi dengan rataan titer sebesar 6,4 HI unit log 2 (atau 26,4 HI unit).

SIMPULAN DAN SARAN Simpulan

Hasil penelitian ini disimpulkan bahwa pemberian vaksin EDS inaktif polivalen pada ayam petelur umur 14 minggu mampu memicu peningkatan respon imun primer yang ditandai dengan peningkatan titer antibodi terhadap EDS yang terjadi setiap minggu. Titer antibodi pada periode minggu ke-1 pascavaksinasi adalah sebesar 22,6 HI unit, pada minggu ke-2 pascavaksinasi sebesar 25,04 HI unit, dan pada minggu ke-3 pascavaksinasi sebesar 26,4 HI unit.

Saran

Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan rentang waktu yang lebih

lama pascavaksinasi EDS untuk

mengetahui durasi dari daya proteksi vaksin EDS inaktif polivalen pada ayam petelur.

UCAPAN TERIMA KASIH

Penulis mengucapkan terimakasih kepada PT Sanbio Laboratories Cabang Bali beserta mitranya atas kerjasama penelitian.

DAFTAR PUSTAKA

ACFAF (ASEAN Cooperation in Food, Agriculture and Foresty). 2012.

ASEAN Standards fir Animal

Vaccines, Second Edition.

Livestock Publication Series. http:/www.asean.org/communities/a sean-economic-community/category /publication-3. Diakses pada 09-07-2015.

Badan Pusat Statistk (BPS). 2014. Jumlah Rumah Tangga Usaha Peternakan Menurut Wilayah dan Jenis Ternak. Data sensus Pertanian 2013 . http://bps.go.id diakses pada: 4 Maret 2015.

Bartha A, Mészáros J, and Tanyi J. 1982. Antibodies Against EDS‐76 Avian Adenovirus In Bird Species Before 1975. J Avian Pathol 11:511-513. Baxendale W, Lutticken D, Hein R, Mc

Pherson I. (1980). The Results Of Field Trials Conducted With An Inactivated Vaccine Against The Egg Drop Syndrome 76 (EDS 76).

J.Avian Pathology 9:77-91.

Day MD, dan Schultz RD. Veterinary Immunology Pinciples and Practice. Second Edition. Taylor and Francis Group. USA: 18-26.

Dhinakar R, Sivakumar GS, Sudharsan S, Mohan AC, Nachimuthu K. 2001. Genomic Characterization Of Indian Isolates Of Egg Drop Syndrome 1976 Virus. J Avian Pathol 30: 21-26.

Gutter B, Fingerut E, Gallili G, Eliahu D, Perelman B, Finger A, Pitcovski J.

2008. Recombinant Egg Drop

Syndrome Subunit Vaccine Offers

An Alternative To Virus

Propagation In Duck Eggs. J Avian

Pathol 37(1): 33-37.

Ivanics E, Vilmos P, Robert G, Adam D, Vilmos P, Tamas R, Maria B. 2001. The Role Of Egg Drop Syndrome Virus In Acute Respiratory Disease Of Goslings.

J Avian Pathol 30: 201-208.

Jingliang S, Shuang L, Xudong H, Xiuling Y, Yongyue W, Peipei L, Xishan L, Guozhong Z, Xueying H, Di L,

(19)

170 Xiaoxia L, Wenliang S, Hao L, Ngai SM, Peiyi W, Ming W, Kegong T, George FG. 2011. Duck Egg-Drop Syndrome Caused by BYD Virus, a New Tembusu-Related Flavivirus. J

Plos ONE 6(3): e18106.

Kencana GAY. 2012. Penyakit Virus Unggas. Udayana University Press. Denpasar. ISBN. 978-602-7776-01-2. Cetakan pertama Pp: 110-118. Kencana GAY. 2017. The Characteristic

of Egg Drop Syndrome Virus of Medan Isolate. J Vet Med Anim Sci 1(1): 15-19.

Mc Ferran JB, Smyth JA. 2000. Avian Adenovirus. Office International des Epizooties(OIE). Rev Sci Tech Int

Epiz 19(2).

Meulemans G, Frqyman R dan Halen P. 1979. Haemagglutination‐Inhibition Antibodies Against EDS 76 Virus In Broilers. J Avian Pathol 8:483-485. Murtidjo BA. 1992. Pengendalian Hama

dan Penyakit Ayam. Kanisius. Yogyakarta: 31-34.

Office International des Epizooties(OIE).

2009. Terrestrial Manual:

Chapter2.3.4.Avian Influenza.

http://www.oie.int/filedadmin/Home/

eng/Helth_standars/tahm/2.03.04_AI .pdf

Radji. 2010. Imunologi & Virologi. PT.ISFI Penerbitan. Jakarta. Pp: 1-20.

Rantam. 2005. Virologi. Airlangga

University Press. Surabaya. pp: 229-239.

Rasool, M. H., Rahman, S. U., and Mansoor, M. K. (2005). Isolation Of Egg Drop Syndrome Virus And Its Molecular Characterization Using Sodium Dodecyl Sulphate

Polyacrylamide Gel

Electrophoresis. Pakistan Vet J 25(4): 155-158.

Smyth JA, dan Adair BM. 1988. Lateral

Transmission Of Egg Drop

Syndrome‐76 Virus By The Egg. J

Avian Pathol 17:193-200.

Suresh P, Shoba K and Rajeswar JJ. (2013). Incidence of egg drop syndrome –1976 in Namakkal district, Tamil Nadu, India. Vet

World 6(6): 350-353.

Tabbu CR. 2000. Penyakit Ayam dan

Penanggulangannya.Volume 1.

Gambar

Gambar  1.  Grafik  peningkatan  titer  antibodi EDS

Referensi

Dokumen terkait

Dokter (C1) merupakan seorang tenaga kesehatan yang menjadi tempat kontak pertama pasien untuk menyelesaikan semua masalah kesehatan yang dihadapi.Petugas

Hasil analisis tersebut diharapkan dapat digunakan PT SUCOFINDO maupun Perusahaan BUMN lainnya dalam melakukan evalusi terhadap kebijakan penyaluran pinjaman program

Budući da se realno zavarivanje provodilo na konstrukcijskom čeliku S355, potrebno je komponentama osnovnog materijala, „SHEET1_COMPO“ i „SHEET2_COMPO“ , pridodati

Mata pelajaran teknikal seperti Teknologi Kejuruteraan merupakan matapelajaran yang sukar bagi pelajar sekiranya mereka hanya bergantung pada pengajaran dan

Ketika mempelajari prinsip pembagian, maka terjadi proses pengintegrasian antara prinsip pengurangan yang sudah dikuasainya dengan prinsip pembagian (informasi

Untuk mendukung rencana perusahaan dalam melakukan pendirian kantor cabang baru di Provinsi Kalimantan Timur membutuhkan investasi yang cukup besar untuk

akuntansi baik pada saat input, proses sampai dengan output mengingat brainware dibidang auditor yang mengenal teknologi informasi masih relatif

,enar! tentu berbeda. 2rang akan lebih merasa terpuaskan dengan kenyang karena sepiring nasi dan lauk dibanding kenyang karena segelas air putih. Disitulah letak unsur atau