• Tidak ada hasil yang ditemukan

GROWTH RATES OF SHELLFISH BLOOD (Anadara Granosa) AT DIFFERENT STOCKING DENSITY ABSTRACT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "GROWTH RATES OF SHELLFISH BLOOD (Anadara Granosa) AT DIFFERENT STOCKING DENSITY ABSTRACT"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

GROWTH RATES OF SHELLFISH BLOOD (Anadara Granosa) AT DIFFERENT STOCKING DENSITY

By

Ferta Praja1), Rusliadi 2) and Mulyadi 2)

ABSTRACT

Information about stocking densities that are ideal for the cultivation of shellfish blood is still very limited. The aim of the study was to determine the stocking density in the rearing of blood clams. The benefits of this research was to provide information about the best stocking density for the growth of the blood clam and can be used as reference in the cultivation and further research. This study was conducted over 60 days from March to May 2013, in the village of Commander King, District Concong Affairs, Indragiri Hilir District, Riau Province. The method used was an experimental method with a completely randomized design (RAL) with three levels of the factor treatment. Treatment 1 (stocking density of 50 animals), treatment 2 (stocking density of 100 fish), Treatment 3 (stocking density of 150 fish) . Each treatment had 3 replication. Extensive research with size of each treatment area size was 50 x 50 cm (2500 cm2) fenced round with polyethylene net size of 0,5 inches. Seeds obtained from the blood clam catches directly in nature by local fishermen. Seeds stocked with as many as 900 tail with 2,33 cm and in length an average weight of 2,72 grams. The result showed that the growth length of the shellfish blood was 3,21 cm and the growth rates of 5,18 grams.

Keywords: Shellfish blood, stocking density, seed, growth

1)

Student of the Fisheries and Marine Science Faculty, Riau University

2)

(2)

PENDAHULUAN

Kerang darah (Anadara

granosa) adalah jenis bivalva termasuk dalam Famili Arcidae yang hidup pada kawasan pasang surut (intertidal zone) dengan substrat lumpur berpasir dan merupakan hewan asli penghuni dataran lumpur

di kawasan Asia Tenggara

khususnya Indonesia, Malaysia dan Thailand. Di Indonesia kerang darah banyak ditemukan hidup di daerah pesisir Sumatera Barat, Selatan Jawa, Selat Malaka, pantai utara Jawa, pantai timur Jawa, Bali, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Selatan dan Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Maluku dan Papua (Tang et al, 2009).

Kerang darah banyak

ditemukan pada topografi pantai yang landai sampai kedalaman 20 m.

Bobot daging dapat mencapai

sebesar 22,70-24,30% dari total

bobot tubuhnya. Kerang darah

bersifat infauna yaitu hidup dengan cara membenamkan diri di bawah

permukaan lumpur di perairan

dangkal (Latifah, 2011).

Kerang darah dewasa dapat mencapai ukuran panjang 5 sampai 6 cm dan lebar 4 sampai 5 cm, membenamkan tubuhnya beberapa sentimeter (3-10 cm) di bawah permukaan substrat (Tang et al, 2009).

Kerang darah (A. granosa)

merupakan makanan laut yang

sangat digemari dikalangan

masyarakat Asia Tenggara (Ibrahim, 1994). Kerang darah di Kabupaten Indragiri Hilir, khususnya di Desa Panglima Raja, Kecamatan Concong Luar, Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau merupakan salah satu komoditi hasil laut populer yang

sangat digemari dikalangan

masyarakat tersebut hingga di luar Kabupaten Indragiri Hilir.

Permintaan akan konsumsi

kerang darah di pasaran lokal maupun di luar Kabupaten Indragiri Hilir terus meningkat tiap tahunnya sehingga menyebabkan eksploitasi terhadap kerang darah cenderung meningkat pula. Selain itu, semakin meningkatnya aktivitas masyarakat di kawasan pesisir, dapat menambah

tekanan terhadap kelestarian

sumberdaya kerang darah di daerah tersebut.

Eksploitasi besar-besaran

terhadap kerang darah (A. granosa) terus dilakukan untuk mencukupi tingginya permintaan dari konsumen. Hal ini jika dibiarkan terus menerus akan berdampak sangat buruk pada populasi kerang darah di habitat aslinya. Dampak dari eksploitasi ini dapat dilihat dari ukuran kerang darah yang dijual dipasaran lokal

maupun diluar Indragiri Hilir.

Kerang darah yang dijual di pasaran saat ini didominasi oleh kerang darah dengan ukuran rata-rata dibawah 3 cm. Sudah semakin sulit untuk

mendapatkan kerang darah

berukuran besar atau dewasa di daerah tersebut.

Fenomena tersebut

dikhawatirkan akan berdampak

semakin buruk terhadap

kelangsungan hidup dan kelestarian kerang darah (A. granosa) di daerah tersebut jika tidak ditanggapi secara cepat dan tepat.

Saat ini Kerang darah

merupakan salah satu komoditas perikanan yang perlu diperhatikan

kelangsungan hidupnya. Agar

kelestarian kerang darah dapat

dipertahankan, langkah strategis

yang layak ditempuh adalah dengan melakukan usaha budidaya.

(3)

Perkembangan teknologi terhadap budidaya kerang darah saat ini masih dalam tahap percobaan.

Kurangnya informasi tentang

budidaya kerang darah menyebabkan penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang budidaya kerang

darah yang terfokus pada

pertumbuhan kerang darah pada padat tebar yang berbeda. Penulis menilai padat tebar begitu penting dalam usaha budidaya dan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap pertumbuhan komoditas budidaya.

Padat tebar yang ideal untuk budidaya kerang darah saat ini masih

belum diketahui secara pasti.

Penelitian ini bertujuan untuk

mengetahui padat tebar yang baik dalam pemeliharaan kerang darah. Manfaat dari penelitian ini yaitu memberikan informasi tentang padat tebar yang baik untuk pertumbuhan kerang darah serta dapat dijadikan acuan untuk penelitian berikutnya.

BAHAN DAN METODE

Penelitian ini dilaksanakan

selama 60 hari yaitu dari bulan Maret sampai bulan Mei 2013 yang bertempat di Desa Panglima Raja,

Kecamatan Concong Luar,

Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau.

Bahan yang digunakan untuk penelitian adalah benih kerang darah

hasil tangkapan nelayan Desa

Panglima Raja yang berukuran

panjang dengan kisaran 2,28-2,36 cm dan bobot dengan kisaran 2,71-2,74 gram sebanyak 900 ekor, jaring berukuran 0,5 inchi sebagai pagar keliling area pemeliharaan, kayu berdiameter 3-5 cm sebagai tonggak untuk pagar jaring serta tali dan paku yang digunakan untuk mengikat serta menyatukan jaring dan kayu.

Metode yang digunakan dalam

penelitian ini adalah metode

eksperimen dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) satu faktor dengan 3 taraf perlakuan.

Untuk memperkecil kekeliruan,

setiap perlakuan menggunakan 3 kali ulangan sehingga diperoleh 9 unit percobaan. Perlakuan 1 (padat tebar 50 ekor), perlakuan 2 (padat tebar 100 ekor), perlakuan 3 (padat tebar 150 ekor) dengan luas wadah yang digunakan pada setiap perlakuan sebesar 50 x 50 cm.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Penelitian ini dilaksanakan

selama 60 hari di Desa Panglima Raja, Kecamatan Concong Luar. Secara geografis Desa Panglima Raja

terletak pada posisi 1030 20’ BT –

1030 40’ BT dan 00 10’ LS – 00 20’

LS yang termasuk dalam Kecamatan Kuala Indragiri, sekitar 44 km dari ibu kota Kabupaten Indragiri Hilir

(Tembilahan), Riau (Nasution,

2009).

Gambar 1. Peta Lokasi Penelitian Pengamatan terhadap setiap parameter dilakukan selama 60 hari sebanyak 5 kali yaitu setiap 15 hari sekali. Parameter yang diukur pada penelitian yaitu pertumbuhan mutlak,

laju pertumbuhan harian,

kelulushidupan, parameter kualitas perairan dan parameter sifat kimia tanah.

(4)

1. Pertumbuhan Bobot Rata-Rata Individu Kerang Darah

Setelah melakukan penelitian selama 60 hari, maka didapat nilai

bobot kerang darah selama

penelitian. Data yang didapat dari

setiap perlakuan merupakan hasil sampling terhadap 10 ekor kerang darah. Data hasil penimbangan kerang darah dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1.Bobot Rata-Rata Individu Kerang Darah Selama Penelitian

Perlakuan Pengamatan hari ke- (g)

0 15 30 45 60

Padat Tebar 50 2.72 3.33 3.92 4.53 5.18

Padat Tebar 100 2.72 3.32 3.90 4.46 5.06

Padat Tebar 150 2.72 3.29 3.85 4.39 4.95

Dari Tabel 1 dapat diketahui bahwa bobot awal kerang darah sama, kemudian dipelihara dengan perlakuan padat tebar yang berbeda,

sehingga menyebabkan terjadinya pertambahan bobot rata-rata yang berbeda. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 2 : Grafik Bobot Rata-Rata Individu Kerang Darah

Pertumbuhan mutlak

merupakan perubahan/pertambahan bobot atau ukuran badan yang

dipelihara dalam satuan waktu

(Effendie, 2004). Setelah bobot rata-rata individu diketahui, maka dapat

ditentukan pertumbuhan bobot

mutlak individu kerang darah dari tiap-tiap perlakuan selama penelitian. Data pertumbuhan bobot mutlak tersebut dapat dilihat pada Tabel 2.

0.00 0.50 1.00 1.50 2.00 2.50 3.00 3.50 4.00 4.50 5.00 5.50 0 15 30 45 60 B o b o t R at a-R at a (gra m) Hari ke-Padat Tebar 50 Padat Tebar 100 Padat Tebar 150

(5)

Tabel 2. Pertumbuhan Bobot Mutlak Kerang Darah Selama Penelitian

Perlakuan Pertumbuhan Bobot Mutlak (gram)

Padat Tebar 50 2,46±0,116

Padat Tebar 100 2,34±0,120

Padat Tebar 150 2,23±0,110

Dari Tabel 2 dapat dilihat bahwa pertumbuhan bobot mutlak kerang darah yang tertinggi terjadi pada padat tebar 50 ekor yaitu sebesar 2,46 gram dan yang terendah terjadi pada padat tebar 150 ekor yaitu sebesar 2,23 gram, sedangkan pertumbuhan bobot mutlak kerang darah padat tebar 100 ekor sebesar 2,34 gram.

Hasil analisis variansi

(ANAVA) menunjukkan bahwa

padat tebar yang berbeda selama

penelitian tidak memperlihatkan

pengaruh yang nyata terhadap

pertumbuhan bobot mutlak kerang darah dimana P > 0,05.

Pillay (1993) menyatakan

bahwa petani kerang Taiwan

menabur benih berukuran 5000 ekor/kg dan memeliharanya sampai berukuran 500-600 ekor/kg selama kurang lebih 1 tahun atau rata-rata

0,2 gram/ekor menjadi 1,6-2

gram/ekor selama kurang lebih 1 tahun.

Hasil percobaan budidaya

kerang darah di kawasan pantai Desa Anak Setatah, Kabupaten Bengkalis dengan luas area 100 x 40 m (4000 m2) menghasilkan pertambahan

bobot rata-rata sebesar 0,74

gram/ekor dari penebaran bobot awal 770 ekor/kg menjadi 490 ekor/kg atau rata-rata 1,3 gram/ekor menjadi 2,04 gram/ekor yang dipelihara selama 1,5 bulan (Tang et al, 2009).

Hasil dari penelitian

menunjukan bahwa pertambahan

bobot kerang darah pada penelitian

ini lebih baik dibandingkan

percobaan Pillay dan Tang et al. Penelitian yang dilakukan pada kerang darah di Desa Panglima Raja dengan luas area 50 x 50 cm pada

setiap perlakuan menghasilkan

pertambahan bobot rata-rata sebesar 2,23-2,46 gram/ekor yang dipelihara selama 2 bulan.

Pemilihan lokasi yang baik

merupakan faktor utama untuk

mendapatkan hasil budidaya yang baik. Dasar perairan berlumpur lunak dan memiliki hutan bakau di sekitar pantai sebagai sumber unsur hara perairan pesisir merupakan salah satu

faktor yang dapat mendukung

kelangsungan hidup kerang darah. Tang et al (2009) menyatakan

waktu yang diperlukan untuk

membesarkan kerang darah

bervariasi tergantung pada

kondisi/umur lahan budidaya serta pertumbuhan semakin menurun pada lokasi yang sudah tua atau lama dipakai.

2. Pertumbuhan Panjang, Lebar dan Tinggi Cangkang Kerang Darah

Pengukuran panjang, lebar dan tinggi cangkang dilakukan setiap 15 hari sekali. Data yang didapat dari setiap perlakuan merupakan hasil sampling terhadap 10 ekor kerang darah. Data dari hasil pengukuran panjang, lebar dan tinggi cangkang dapat dilihat pada Tabel 3.

(6)

Tabel 3. Panjang, Lebar dan Tinggi Cangkang Rata-Rata Kerang Darah Selama Penelitian

Parameter Perlakuan Pengamatan hari ke- (cm)

0 15 30 45 60 Panjang Cangkang Padat Tebar 50 2.33 2.47 2.74 2.98 3.21 Padat Tebar 100 2.33 2.45 2.66 2.90 3.13 Padat Tebar 150 2.32 2.45 2.66 2.88 3.11 Lebar Cangkang Padat Tebar 50 1.79 1.92 2.15 2.39 2.62 Padat Tebar 100 1.78 1.91 2.12 2.35 2.58 Padat Tebar 150 1.78 1.90 2.13 2.33 2.56 Tinggi Cangkang Padat Tebar 50 1.48 1.63 1.87 2.10 2.35 Padat Tebar 100 1.50 1.62 1.84 2.07 2.32 Padat Tebar 150 1.49 1.62 1.83 2.06 2.30

Dari Tabel 3 dapat diketahui bahwa hasil pengukuran panjang, lebar dan tinggi cangkang kerang darah dengan perlakuan padat tebar

yang berbeda, menyebabkan

terjadinya pertambahan pertumbuhan cangkang dengan rata-rata yang berbeda. Hasil data dari Tabel 3 dapat dilihat pada Gambar 3, 4 dan 5.

Gambar 3 : Grafik Panjang Cangkang Rata-Rata Kerang Darah

0.00 0.50 1.00 1.50 2.00 2.50 3.00 3.50 0 15 30 45 60 P an ja n g C an gka n g R at a -R at a (c m ) Hari Ke-Padat Tebar 50 Padat Tebar 100 Padat Tebar 150

(7)

Gambar 4 : Grafik Lebar Cangkang Rata-Rata Kerang Darah

Gambar 5. Grafik Tinggi Cangkang Rata-Rata Kerang Darah Setelah panjang, lebar dan

tinggi cangkang rata-rata individu kerang darah diketahui, maka dapat

ditentukan pertambahan

pertumbuhan panjang, lebar dan

tinggi cangkang individu kerang darah tiap-tiap perlakuan. Data pertumbuhan panjang, lebar dan tinggi cangkang selama penelitian dapat dilihat pada Tabel 4.

0.00 0.50 1.00 1.50 2.00 2.50 3.00 3.50 0 15 30 45 60 Le b ar C an gka n g R at a -R at a (c m ) Hari Ke-Padat Tebar 50 Padat Tebar 100 Padat Tebar 150 0.00 0.50 1.00 1.50 2.00 2.50 0 15 30 45 60 Ti n gg i C an gka n g R at a -R at a (c m ) Hari Ke-Padat Tebar 50 Padat Tebar 100 Padat Tebar 150

(8)

Tabel 4. Rata-Rata Pertumbuhan Panjang, Lebar dan Tinggi Cangkang Kerang darah Selama Penelitian

Perlakuan Pertumbuhan Panjang (cm) Pertumbuhan Lebar (cm) Pertumbuhan Tinggi (cm) Padat Tebar 50 0,88±0,080 0,83±0,031 0,86±0,047 Padat Tebar 100 0,81±0,058 0,80±0,040 0,82±0,035 Padat Tebar 150 0,78±0,025 0,78±0,045 0,81±0,040

Dari Tabel 4 dapat dilihat

bahwa pertumbuhan panjang

cangkang mutlak kerang darah yang tertinggi terjadi pada padat tebar 50 ekor yaitu sebesar 0,88 cm dan yang terendah terjadi pada padat tebar 150

ekor yaitu sebesar 0,78 cm,

sedangkan pertumbuhan panjang

cangkang kerang darah pada padat tebar 100 ekor sebesar 0,81 cm.

Pertumbuhan lebar cangkang kerang darah yang tertinggi terjadi pada padat tebar 50 ekor yaitu sebesar 0,83 cm dan yang terendah terjadi pada padat tebar 150 ekor yaitu sebesar 0,78 cm, sedangkan pertumbuhan lebar cangkang kerang pada darah padat tebar 100 ekor sebesar 0,80 cm.

Pertumbuhan tinggi cangkang kerang darah yang tertinggi terjadi pada padat tebar 50 ekor yaitu sebesar 0,86 cm dan yang terendah terjadi pada padat tebar 150 ekor yaitu sebesar 0,81 cm, sedangkan pertumbuhan tinggi cangkang kerang darah pada padat tebar 100 ekor sebesar 0,82 cm.

Hasil analisis variansi

(ANAVA) menunjukkan bahwa

padat tebar yang berbeda selama

penelitian tidak memperlihatkan

pengaruh yang nyata terhadap

pertambahan pertumbuhan panjang, lebar dan tinggi cangkang kerang darah dimana P > 0,05.

Pillay (1993) menyatakan

percobaan budidaya kerang darah

yang dilakukan di Malaysia

menghasilkan pertambahan

pertumbuhan panjang dengan rata-rata sebesar 1,5-2,1 cm/ekor yang ditebar pada ukuran 0,4-1 cm tumbuh mencapai ukuran panjang 2,5 cm dalam waktu pemeliharaan 6-12 bulan.

Sementara dari hasil percobaan budidaya kerang darah di kawasan

pantai Desa Anak Setatah,

Kabupaten Bengkalis dengan luas

area 100 x 40 m (4000 m2)

menghasilkan pertambahan

pertumbuhan panjang rata-rata

sebesar 1,69 cm/ekor dari panjang awal dengan rata-rata 1,35 cm/ekor

menjadi 3,04 cm/ekor yang

dipelihara selama 1,5 bulan (Tang et al, 2009).

Hasil Penelitian yang dilakukan pada kerang darah di Desa Panglima Raja dengan luas area 50 x 50 cm pada setiap perlakuan menghasilkan pertambahan pertumbuhan panjang cangkang dengan rata-rata sebesar

0,78-0,88 cm/ekor, pertambahan

pertumbuhan lebar cangkang dengan rata-rata sebesar 0,78-0,83 cm/ekor dan pertambahan pertumbuhan tinggi cangkang dengan rata-rata sebesar 0,81-0,86 cm/ekor yang dipelihara selama 2 bulan.

Hasil rata-rata pertambahan pertumbuhan panjang, lebar dan tinggi cangkang kerang darah dari penelitian ini menunjukan nilai yang cukup baik. Setiap lokasi penebaran kerang darah menunjukan hasil pertumbuhan yang berbeda-beda.

(9)

Perbedaan ini disebabkan karena kondisi lingkungan tempat kerang itu berada.

3. Laju Pertumbuhan Harian

Setelah bobot rata-rata individu diketahui, maka dapat ditentukan laju

pertumbuhan harian individu kerang darah dari tiap-tiap perlakuan selama penelitian. Data laju pertumbuhan harian tersebut dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5. Laju Pertumbuhan Harian Kerang Darah Selama Penelitian

Perlakuan Laju Pertumbuhan Harian (%)

Padat Tebar 50 1,07±0,040

Padat Tebar 100 1,03±0,040

Padat Tebar 150 0,99±0,035

Dari Tabel 5 dapat dilihat bahwa laju pertumbuhan bobot harian kerang darah yang tertinggi terjadi pada padat tebar 50 ekor yaitu sebesar 1,07 % dan yang terendah terjadi pada padat tebar 150 ekor yaitu sebesar 0,99%, sedangkan laju pertumbuhan harian kerang darah padat tebar 100 ekor sebesar 1,03%.

Laju pertumbuhan harian

kerang darah dipengaruhi oleh

kandungan bahan organik pada subtrat, kondisi pasang surut air laut,

dan suhu. Nasution (2009)

menyatakan, kondisi kerang darah yang selalu terendam air pada waktu surut memiliki biomassa yang lebih tinggi dibandingkan dengan lainnya

sehingga kerang terhindar dari

kekeringan dan kenaikan suhu yang ekstrim. Selain itu penumpukan nutrisi berupa bahan organik yang

dibutuhkan oleh kerang darah baik yang berasal dari darat maupun dari laut juga mempengaruhi biomassa kerang darah (Einsele, 1992).

Hasil analisis variansi

(ANAVA) menunjukkan bahwa

padat tebar yang berbeda selama

penelitian tidak memperlihatkan

pengaruh yang nyata terhadap laju pertumbuhan harian kerang darah dimana P > 0,05.

4. Kelulushidupan

Kelulushidupan merupakan hal

yang penting dalam budidaya.

Banyak faktor yang mempengaruhi tingkat kelulushidupan kerang darah seperti kualitas air, pasang surut dan padat tebar. Data kelulushidupan kerang darah yang diperoleh selama penelitian dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6. Kelulushidupan Kerang darah Selama Penelitian

Perlakuan Kelulushidupan (%)

Padat Tebar 50 98.67±2,309

Padat Tebar 100 98.00±2,645

Padat Tebar 150 97.11±2,525

Dari Tabel 6 dapat dilihat bahwa kelulushidupan kerang darah yang tertinggi terjadi pada padat tebar 50 ekor yaitu sebesar 98,67% dan yang terendah terjadi pada padat

tebar 150 ekor yaitu sebesar 97,11%, sedangkan kelulushidupan kerang darah padat tebar 100 ekor sebesar 98,00%.

(10)

Hasil analisis variansi

(ANAVA) menunjukkan bahwa

padat tebar yang berbeda selama

penelitian tidak memperlihatkan

pengaruh yang nyata terhadap

kelulushidupan kerang darah dimana P > 0,05.

Tinggi dan rendahnya nilai

kelulushidupan juga dipengaruhi

oleh kondisi suatu perairan atau faktor lainya. Tang et al (2009)

menyatakan mortalitas atau

berkurangnya biomassa (populasi) dapat disebabkan karena dua faktor, yaitu karena faktor alam (natural mortality) dan faktor penangkapan (fishing mortality). Beberapa faktor

alam yang menyebabkan

kematian/kehilangan adalah karena

penyakit, lepas dari areal

pemeliharaan, pemangsaan dan

faktor perubahan lingkungan,

sedangkan faktor penangkapan, jelas karena ditangkap oleh manusia.

Tanda-tanda awal kematian kerang darah yang terjadi di habitat

aslinya masih sulit diketahui. Namun

apabila kematian terjadi dalam

jumlah banyak, dapat ditandai

dengan aroma yang semakin

membusuk pada kerang darah.

Kerang darah yang sudah lama mengalami kematian dapat dilihat langsung dari cangkang yang kosong

dan terbuka. Seiring dengan

berjalannya waktu, cangkang pada kerang darah akan berubah warna semakin memutih.

5. Kualitas Perairan

Parameter kualitas air diukur sebanyak 3 kali yaitu diawal, tengah

dan akhir penelitian. Kualitas

perairan sangat berpengaruh terhadap kelulushidupan dan pertumbuhan kerang darah. Parameter kualitas air yang diukur antara lain adalah pH, suhu, oksigen terlarut (DO), dan salinitas. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 7.

Tabel 7. Parameter Kualitas Air Selama Penelitian Waktu

Pengukuran

Kisaran Parameter Kualitas Air

Suhu (ºC) pH DO (mg/L) Salinitas (‰)

Awal 28-32 7-8 3,9-5,0 28-30

Tengah 28-32 7-8 4,0-4,8 28-30

Akhir 28-32 7-8 4,3-5,2 28-30

Parameter kualitas perairan

selama penelitian dikategorikan baik dan mendukung kehidupan kerang darah. Parameter kualitas perairan selama penelitian ini yaitu suhu

perairan berkisar antara 28-32 0C, pH

berkisar antara 7-8, oksigen terlarut berkisar antara 3,9-5,2 ppm dan salinitas berkisar antara 28-30 ppt.

Menurut Broom (1985) suhu optimal bagi kehidupan kerang darah (Anadara granosa) adalah sekitar

25-32 0C.

Kisaran pH air laut optimum bagi organisme perairan laut yakni 6-9 (KEP-02/MENKLH/I/16-988).

Berdasarkan kandungan

oksigen terlarut, kualitas air dapat digolongkan menjadi empat, yaitu kandungan lebih atau sama dengan 8

mg/l digolongkan sangat baik,

kurang dari 6 mg/l digolongkan baik, kurang dari 4 mg/l digolongkan kritis serta 2 mg/l digolongkan sangat buruk (Sedana et al, 2001).

Poernomo & Hanafi dalam Nasution (2009) menyatakan bahwa

(11)

kadar oksigen terlarut minimum 3,0

ppm sudah cukup mendukung

kehidupan organisme perairan secara

normal asalkan tidak terdapat

senyawa beracun di perairan

tersebut.

kerang-kerangan tidak

menyukai perairan yang salinitasnya kurang dari 18 ppt. Fluktuasi salinitas tergantung pasang surut air, musim hujan/kemarau dan suhu air (Bardach et al, 1972).

Fluktuasi salinitas di perairan Desa Panglima Raja tidak pernah kurang dari 28 ppt. Tang et al (2009)

menyatakan bila kerang darah

terendam dalam waktu lama pada salinitas rendah akan menyebabkan

kematian pada kerang darah.

Salinitas yang ideal untuk kerang darah adalah 22-30 ppt.

6. Sifat Kimia Tanah

Parameter kimia tanah sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan kerang darah. Selain sebagai media hidup juga sebagi sumber makanan bagi kerang darah berupa bahan organik. Parameter kimia tanah yang diukur antara lain adalah pH tanah dan C-organik.

Pengukuran pH tanah pada subtrat penelitian tergolong baik untuk kehidupan organisme perairan yaitu 6,5. Hardjowigeno (2003) menyatakan, Reaksi tanah yang netral yaitu pH 6,5-7,5 maka unsur hara tersedia dalam jumlah yang cukup banyak atau optimal.

Pengukuran C-organik pada

penelitian tergolong baik yaitu

sebesar 1,73-2,19%. Sutanto (2005)

menyatakan nilai kelayakan

kandungan bahan organik <0,5 % berarti kandungan bahan organik pada tanah sangat rendah, 0,5-1 % kandungan bahan organik rendah, 1-2 % kandungan bahan organik

sedang, 2-4% kandungan bahan organik tinggi, 4-8% kandungan bahan organik berlebihan, 8-15 % kandungan bahan organik sangat berlebihan dan >15 % tanah gambut.

KESIMPULAN DAN SARAN

Dari semua data penelitian

yang diperoleh memperlihatkan

bahwa perlakuan 1 dengan padat tebar 50 ekor menghasilkan nilai rata-rata pertumbuhan yang lebih baik. Namun perlakuan 3 dengan

padat tebar 150 ekor lebih

menguntungkan untuk dilakukan

usaha budidaya dibanding perlakuan lainnya. Hal ini diperkuat dengan hasil analisis variansi (ANAVA) yang tidak memperlihatkan pengaruh

nyata terhadap masing-masing

perlakuan.

Setiap perlakuan menggunakan luas wadah (50 x 50 cm) dan waktu pemeliharaan (60 hari) yang sama. Perlakuan 3 dengan padat tebar yang lebih tinggi menghasilkan kerang

darah lebih banyak dibanding

perlakuan lainnya. Selain

pemanfaatan wadah yang lebih maksimal, waktu yang digunakan juga lebih efisien.

Data dari pertambahan

pertumbuhan kerang darah pada perlakuan 3 dengan padat tebar 150

ekor yaitu ; (1) pertumbuhan bobot

mutlak dengan rata-rata 2,23

gram/ekor, (2) pertumbuhan panjang cangkang mutlak dengan rata-rata 0,78 cm/ekor, (3) pertumbuhan lebar cangkang dengan rata-rata 0,78 cm/ekor, (4) pertumbuhan tinggi cangkang dengan rata-rata 0,81 cm/ekor, (5) laju pertumbuhan harian

sebesar 0,99%, dan (6)

kelulushidupan sebesar 97,11%.

Habitat asli kerang darah

adalah di wilayah pasang surut (interdal zone), untuk itu dapat

(12)

dilakukan penelitian lanjutan terhadap penentuan lokasi yang baik bagi pertumbuhan kerang darah yaitu lebih dekat kearah daratan atau lebih dekat kearah laut yang tentunya lebih lama terendam oleh air pasang surut.

DAFTAR PUSTAKA

Bardach, J.E., J.H. Ryther dan

W.O.McLarney, 1972.

Aquaculture: The Farming and Husbandary of Freshwater and Marine Organisms. John Wiley & Sons. New York.

Broom, M.J. 1985. The Biology and Culture of Marine Bivalva Mollusc of the Genus Anadara. International Centre for Living

Aquatic Resources

Management. Manila. 37. Effendie, M. I., 2004. Pengantar

Akuakultur.Penerbit Penebar

Swadaya.Bogor Indonesia,187 hal.

Hardjowigeno, S. 1984. Ilmu Tanah

Umum. Jurusan PLPT

Perkebunan. Fakultas

Politeknik Pertanian. IPB.

Bogor. 97 hal.

Ibrahim, N. 1994. Determination of

trace elements in cockle

Anadara granosa (L) using

INAA. Aplied radiationand

isotopes, Vol. 45: 897-898.

Latifah, Asti. 2011. Karakteristik

Morfologi Kerang Darah

(Anadara granosa. Departemen

Teknologi Hasil Perairan,

Fakultas Perikanan dan Ilmu

Kelautan, Institut Pertanian

Bogor. Jurnal Karakteristik dan Morfologi Kerang Darah. Keputusan Menteri KLH No. 02.

1988. Pedoman Penetapan

Baku Mutu Lingkungan.

Sekretariat Menteri KLH.

Jakarta. 51.

Nasution, S. 2009. Jurnal Natur Indonesia “Biomassa Kerang Anadara granosa pada Perairan

Pantai Kabupaten Indragiri

Hilir. Fakultas Perikanan dan Kelautan, Universitas Riau, Kampus Bina Widya Jl. HR Subrantas KM 12,5 Pekanbaru. Pillay, T.V.R., 1993. Aquaculture:

Princple and Practices. Fishing News Books. London.

Sedana. I. P., Syafriadiman., S. Hasibuan dan N. A. Pamukas.

2001. Penuntun Praktikum

Pengelolaan Kualitas Air.

Fakultas Perikanan dan Ilmu

Kelautan Universitas Riau.

Pekanbaru. 52 hal (tidak

diterbitkan).

Sutanto, R. 2005. Dasar-Dasar Ilmu

Tanah ”Konsep dan

kenyataan”. Kanisius.

Yogyakarta. 208 hal.

Tang, U. M, P. Rengi, D Erianto, dan

Sumarto. 2009. Jurnal

Prosiding Seminar Nasional Moluska 2 “Budidaya Kerang

(Anadara granosa) Di

Gambar

Gambar 1. Peta Lokasi Penelitian  Pengamatan  terhadap  setiap  parameter  dilakukan  selama  60  hari  sebanyak  5  kali  yaitu  setiap  15  hari  sekali
Tabel 1. Bobot Rata-Rata Individu Kerang Darah Selama Penelitian
Gambar 3 : Grafik Panjang Cangkang Rata-Rata Kerang Darah
Gambar 4 : Grafik Lebar Cangkang Rata-Rata Kerang Darah

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan dari hasil penelitian yang telah dilakukan penulis yaitu Perancangan Kapal wisata, yang mana difungsikan sebagai sarana penunjang pariwisata Menjangan Besar,

Jika Anda dengan berani terus menerus hidup dalam ketidak-percayaan, dan dengan gegabah menolak apa yang saya sampaikan, jika Allah meninggalkan Anda sendirian, atau jika

diatas motivasi itu sendiri dalam islam sangat terkait dengan masalah niat. Karena niat merupakan sebuah pendorong dalam melakukan sebuah kegiatan. Seperti dalam sebuah

Runutan nukleotida yang telah diedit, disejajarkan dengan urutan baku nukleotida dari GenBank yang satu famili dengan Unionidae (ingroup) dengan kode akses DQ340804.1

Kemudian dalam aktivitas keberanian anak saat menceritakan kembali isi cerita juga mengalami peningkatan dikarenakan dengan pemberian motivasi dan pujian kepada anak

Pada bab ini penulis akan menjelaskan teori-teori yang akan digunakan untuk membantu analisis penulis terhadap makna simbol kadomatsu, penulis menggunakan beberapa teori seperti

Pengadilan Negeri Pangkalpinang dalam memeriksa dan mengadili perkara atas nama Terdakwa Terdakwa I Andi Rozano bin Bastian dan Terdakwa II Rudi Burnama bin Nurdin

Kelimpahan perifiton fitoplankton di rawa Bangkau Jenis ini yang paling banyak ditemukan karena merupakan epifit utama, terbanyak ditemukan pada setiap bagian