STUDI PENGARUH DEFORMASI TERHADAP DATA
ADMINISTRASI PERTANAHAN
DI KABUPATEN BADUNG, BALI
STUDY OF DEFORMATION EFFECT ON LAND
ADMINISTRATION DATA
IN BADUNG DISTRICT, BALI
Rudi Herlianto Hapsoro dan Putra Maulida
Kantor Pertanahan Kabupaten Badung, Bali Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Jawa Timur
E-mail : [email protected] dan [email protected]
ABSTRAK
Indonesia tersusun di atas empat lempeng tektonik besar yaitu Lempeng Eurasia, Lempeng Australia, Lempeng Pasifik, dan Lempeng Filipina. Lempeng-lempeng tektonik tersebut saling bergerak secara aktif dan dinamis sehingga mengakibatkan terjadinya deformasi pada kerak bumi. Deformasi menyebabkan terjadinya perubahan bentuk, posisi, maupun dimensi pada objek-objek di atas permukaan tanah, termasuk objek-objek pengukuran dan pemetaan yang dilakukan oleh Kementerian ATR/BPN. Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji perubahan yang terjadi pada objek-objek pengukuran dan pemetaan (data administrasi pertanahan) akibat adanya deformasi pada kerak bumi. Data pertanahan yang digunakan dalam penelitian ini berbentuk data grid dan data hasil pengukuran di lapangan. Data pertanahan tersebut kemudian dimodelkan perubahannya akibat adanya deformasi. Model deformasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah model deformasi yang dibuat oleh Badan Informasi Geospasial (BIG). Selain itu, digunakan pula model potensi gempa bumi di selatan jawa untuk menghitung pergeseran teoritis akibat deformasi koseismik. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa deformasi yang terjadi selama 14 tahun mengakibatkan pergerakan sejauh 40 cm. Selain model linear yang diakomodasi oleh model deformasi yang dibuat oleh BIG, pergerakan tiba-tiba akibat gempa bumi juga berpotensi mengakibatkan pergerakan yang bersifat lokal maupun regional. Tentunya pergerakan ini secara eksplisit berdampak kepada perubahan posisi data pertanahan. Perubahan posisi tersebut berpotensi mengakibatkan terjadinya perubahan luas maupun terjadinya overlap dan gap yang akan menjadi permasalahan tersendiri pada kegiatan pemetaan di BPN.
Kata kunci : Data Pertanahan, Model Deformasi, Pergerakan, Gempa Bumi
ABSTRACT
Indonesia is composed of four large tectonic plates, namely the Eurasian, Australian, Pacific, and Philippine Plate. These tectonic plates move actively and dynamically, causing crustal deformation on the earth. Deformation causes changes in the shape, position, and dimensions of objects above the ground, including the objects of measurement and mapping carried out by the Ministry of ATR / BPN. This research was conducted to study the changes that occur in measuring and mapping objects (land administration data) due to crustal deformations on the earth. The land data which is employed in this study is gridding data and field measurement data. The above mentioned land administration data shape is modelled using the deformation model to characterize its change. The deformation model used in this study is a deformation model established by the Geospatial Information Agency (BIG). In addition, a model of earthquake potential in southern Java is also used to calculate the theoretical displacement due to coseismic deformation. The results of this study indicate that the deformation that occurred during 14 years caused displacement up to 40 cm. In addition to the linear model accommodated by the deformation model made by BIG, sudden movements due to earthquakes also have potential to cause local and regional displacements. Of
course, this displacement has an explicit impact on the changes of the position of land data. This change in position has the potential to cause area changes, overlaps, and gaps which will become a separate problem in mapping activities at BPN. Keywords : Land Data, Deformation Model, Displacement, Earthquake
I. PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Indonesia merupakan negara kepulauan yang tersusun diatas lempeng-lempeng tektonik besar. Lempeng-lempeng tektonik tersebut saling bergerak secara aktif dan dinamis akibat adanya aliran konveksi pada bagian mantel bumi. Bentuk pergerakan antar lempeng sendiri dapat berupa pergerakan secara spreading atau saling menjauh, collision atau saling mendekat, dan transform atau saling geser. Pergerakan antar lempeng akan mengakibatkan munculnya aktifitas tektonik seperti gempa bumi, terutama di daerah interaksi antar lempeng tektonik (http://balai3.denpasar.bmkg.go.id/ tentang-gempa).
Sumber : (https://srgi.big.go.id/page/model-deformasi)
Gambar 1 : Gambar 1 Lempeng Tektonik Penyusun
Indonesia
Sumber : (https://srgi.big.go.id/page/model-deformasi)
Gambar 2 : Peta Seismisitas Indonesia Periode
2009-Pada Gambar 1 terlihat bahwa Indonesia tersusun atas empat lempeng tektonik besar yaitu Lempeng Eurasia, Lempeng Australia, Lempeng Pasifik, dan Lempeng Filipina. Kemudian berdasarkan pada Gambar 2 terlihat bahwa aktifitas kegempaan sebagian besar terjadi pada daerah interaksi antar lempeng.
Pergerakan lempeng-lempeng beserta aktifitas tektoniknya menyebabkan objek-objek di permukaannya juga ikut bergerak. Peristiwa bergeraknya objek-objek tersebut dikenal dengan istilah deformasi. Menurut Kuang (1996), deformasi adalah adanya perubahan baik secara bentuk, posisi, maupun dimensi dari suatu objek dalam skala ruang dan waktu. Perubahan akibat adanya deformasi pada suatu objek sendiri dapat berupa perubahan posisi atau pergeseran tanpa mengalami perubahan bentuk atau disebut translasi, perubahan posisi dengan membentuk suatu sudut tertentu atau disebut rotasi, serta perubahan yang mempengaruhi panjang suatu objek atau disebut regangan (Rino, 2010). Besarnya pergeseran beserta bentuk dari perubahan yang dialami oleh suatu objek kemudian oleh ilmuan dapat dimodelkan dalam model deformasi.
Pemerintah Indonesia melalui Badan Informasi Geospasial (BIG) telah membuat model deformasi untuk wilayah Indonesia. Model deformasi ini dibuat dalam rangka mendefinisikan Sistem Referensi Geospasial Nasional (SRGI 2013) yang bersifat semi-dinamis sebagai sistem referensi tunggal yang berlaku secara nasional. Pemodelan deformasi oleh BIG dibuat dengan melakukan gridding dengan interval 0,1 derajat dengan interpolasi data deformasi menggunakan metode Kriging (https://srgi.big.go.id/ page/model-deformasi). Hasil dari pemodelan ini diharapkan mampu merepresentasikan bagaimana deformasi terjadi di wilayah Indonesia sehingga dapat memberikan informasi perubahan posisi
deformasi oleh BIG dapat dilihat pada Gambar 3.
Dalam gambar tersebut, besar dan arah pergeseran secara horizontal ditampilkan dalam vektor anak panah. Sedangkan untuk perubahan nilai ketinggian ditampilkan dalam gradasi warna.
Sumber : (https://srgi.big.go.id/page/model-deformasi)
Gambar 3 : Model Deformasi Linier Wilayah Indonesia Kegiatan pengukuran dan pemetaan di Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) telah lama dilakukan jauh sebelum Sistem Referensi Geospasial Nasional dibuat. Peraturan mengenai pengukuran dan pemetaan dengan mengikat ke sistem referensi nasional di Kementerian ATR/BPN sendiri telah ada sejak tahun 1997 melalui Permen Agraria/Kepala BPN No. 3 Tahun 1997 tentang Ketentuan Pelaksanaan PP No. 24 Tahun 1997. Peraturan tersebut menyebutkan bahwa dalam pengukuran dan pemetaan di BPN, sistem koordinat yang digunakan adalah sistem proyeksi Transverse Mercator Nasional / TM-3° dengan datum WGS-1984. Kemudian disebutkan pula bahwa jika tidak dimungkinkan menggunakan sistem koordinat nasional, maka dapat menggunakan sistem koordinat lokal.
Seiring dengan berjalannya waktu, objek-objek pengukuran dan pemetaan yang telah dilakukan oleh Kementerian ATR/BPN tentunya mengalami perubahan karena adanya deformasi. Perubahan tersebut tentunya mengakibatkan terjadinya perubahan nilai koordinat pada objek-objek pengukuran dan pemetaan. Berangkat dari
hal tersebut, maka penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana perubahan yang terjadi pada data pertanahan akibat adanya deformasi.
B. TUJUAN PENELITIAN
Tujuan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1) Menghitung perubahan pada data pertanahan akibat adanya deformasi.
2) Mengkaji perubahan pada data pertanahan akibat adanya deformasi.
II. METODE PENELITIAN
A. DESKRIPSI PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang bersifat deskriptif. Data dalam penelitian ini berbentuk angka yang diolah secara matematis. Hasil pengolahan data dalam penelitian ini kemudian ditampilkan secara visual dan kemudian dilakukan analisis.
Studi kasus dalam penelitian ini adalah data pertanahan di Kabupaten Badung, Propinsi Bali. Secara administratif, Kabupaten Badung terletak di bagian tengah Pulau Bali dengan batas administrasi memanjang dari selatan ke utara. Luas wilayah Kabupaten Badung kurang lebih 418 km2.
B. DATA
Data dalam penelitian ini adalah data pertanahan di Kabupaten Badung, Provinsi Bali. Data yang digunakan berupa data primer dan data sekunder. Data primer dalam penelitian ini berupa data titik-titik gridding berjumlah 150 titik dengan interval 2 km yang tersebar pada seluruh wilayah Kabupaten Badung. Titik-titik tersebut dibuat sebagai generalisasi dari data pertanahan di Kabupaten Badung. Adapun data sekunder dalam penelitian ini berupa data hasil pengukuran beberapa bidang tanah yang ada dalam gambar ukur. Data ini digunakan sebagai contoh kasus nyata pada data pertanahan. Model deformasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah model deformasi yang dibuat oleh Badan Informasi Geospasial (BIG). Model
deformasi tersebut diakses melalui situs https://srgi. big.go.id/deformasi-active.
Sumber : https://srgi.big.go.id/deformasi-active
Gambar 4 : Persebaran Titik-Titik Gridding
Sumber: https://srgi.big.go.id/deformasi-active
Gambar 5 : Persebaran Bidang GU
Selain menggunakan model deformasi BIG yang hanya mencakup model linear akibat pergerakan blok, dalam penelitian ini juga digunakan data potensi gempa di selatan Pulau Jawa bagian timur sebagaimana hasil penelitian dari Widiyantoro dkk., (2020). Data ini digunakan karena sumber terjadinya deformasi juga dapat berupa kejadian-kejadian yang cakupannya bersifat lokal maupun regional seperti gempa bumi. Data ini dipilih karena potensi gempanya yang cukup besar serta tidak adanya gempa yang terjadi di sekitar Pulau Bali yang akibat dari pergerakannya dapat ditangkap oleh perangkat geodetik dalam 20 tahun belakangan ini.
C. PENGUMPULAN DATA
Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui dua cara, yaitu pengumpulan data primer dan pengumpulan data sekunder. Pengumpulan data primer merupakan pengumpulan data yang dilakukan langsung oleh peneliti. Adapun pengumpulan data sekunder merupakan pengumpulan data dengan data yang sudah tersedia. Pengumpulan data primer dilakukan dengan membuat titik-titik gridding sebagai generalisasi data pertanahan. Adapun pengumpulan data sekunder dilakukan dengan mengumpulkan data pertanahan dan data model deformasi di Indonesia serta model geometri subduksi di selatan Pulau Jawa bagian timur.
D. PENGOLAHAN DATA
Pengolahan data dalam penelitian ini diawali dengan tahap pra-pengolahan. Dalam tahap ini, data pertanahan baik yang berupa data titik-titik gridding maupun titik-titik batas bidang dalam Gambar Ukur disajikan dalam dua bentuk koordinat terlebih dahulu. Koordinat pertama dalam bentuk TM-3° yang merupakan bentuk sistem koordinat yang dipakai di BPN. Sedangkan koordinat yang kedua dalam bentuk koordinat Geodetik yang digunakan untuk mengecek nilai pergeseran dalam model deformasi milik BIG. Transformasi koordinat dalam penelitian ini, yaitu dari koordinat toposentrik (TM-3°) ke koordinat Geodetik dilakukan menggunakan software ArcGIS. Nilai tinggi beserta pergeseran ketinggian dalam penelitian ini tidak diperhitungkan mengingat pengukuran di BPN dilakukan dalam dua dimensi (horizontal).
Data pertanahan yang telah disajikan dalam dua bentuk koordinat kemudian ditentukan nilai pergeserannya berdasarkan model deformasi milik BIG. Penentuan nilai pergeseran dilakukan dengan cara memasukkan nilai koordinat pada situs https://srgi.big.go.id/deformasi-active kemudian mencatat nilai pergeserannya. Setelah diperoleh nilai pergeseran pada seluruh data yang digunakan,
kemudian dilakukan perhitungan besarnya pergeseran yang terjadi. Besarnya pergeseran dihitung dari epoch pengamatan ke epoch SRGI 2013. Proses perhitungan sendiri dilakukan dalam dua tahap dengan menggunakan software Microsoft Excel. Berikut persamaan matematis yang digunakan dalam perhitungan dengan mengacu pada persamaan matematis metode model deformasi.
Nilai vektor pergeseran dihitung dengan rumus: Keterangan:
Tahap pertama, perhitungan dilakukan pada data titik-titik gridding yang merupakan generalisasi data pertanahan. Epoch pengukuran yang digunakan dalam data ini adalah 1 Januari 1998. Epoch tersebut ditetapkan karena peraturan mengenai pengukuran dan pemetaan dengan mengikat ke sistem referensi nasional di Kementerian ATR/BPN berlaku sejak Permen Agraria/Kepala BPN No. 3 Tahun 1997 ditetapkan, yaitu tanggal 8 Oktober 1997. Jika pengukuran dan pemetaan dilakukan pada tanggal 1 Januari 1998, maka data pengukuran dan pemetaan seharusnya telah mengikat ke sistem referensi nasional. Selain itu, tanggal 1 Januari 1998 ditetapkan sebagai epoch pengukuran agar didapat nilai yang bulat dari selisih antar epoch.
Tahap kedua, perhitungan dilakukan pada data titik-titik batas bidang dalam Gambar Ukur. Gambar Ukur yang dipilih yaitu Gambar Ukur yang terbit setelah tanggal 8 Oktober 1997. Epoch pengukuran
yang digunakan dalam data ini adalah tanggal dilakukannya pengukuran. Daftar Gambar Ukur yang digunakan sebagai data dalam penelitian ini disajikan dalam Tabel 1.
Tabel 1 : Daftar Gambar Ukur
No Nomor GU BidangLuas PengukuranTanggal Desa
1 GU. 00019/1998 2450 m2 26-03-1998 Canggu
2 GU. 00041/1998 11600 m2 10-07-1998 Ungasan
3 GU. 00023/1998 10000 m2 18-08-1998 Ungasan
4 GU.03608/1999 2800 m2 03-07-1999 Penarungan
5 GU.00002/1999 500 m2 31-12-1998 Buduk
6 GU.01806/1999 5950 m2 14-07-1999 Kerobokan Kaja 7 GU.02504/1999 182 m2 25-05-1999 Darmasaba
8 GU.01163/1999 130 m2 26-04-1999 Sembung
9 GU.06683/1999 550 m2 13-10-1999 Tanjung Benoa 10 GU.02069/1999 3920 m2 03-05-1999 Taman
Sumber : (Data Pertanahan Kabupaten Badung)
Tahap ketiga, untuk mengetahui pergerakan akibat potensi sumber gempa di selatan Pulau Jawa, maka dilakukan perhitungan dengan forward calculation (perhitungan ke depan) pada titik-titik gridding. Perhitungan ke depan dapat dilakukan dengan menggunakan fungsi Green yang dapat menghubungan pergeseran pada bidang gempa dengan pergerakan pada titik-titik gridding. Pembuatan fungsi Green menggunakan asumsi model Half-space, dengan geometri bidang gempa sesuai dengan model subduksi selatan Pulau Jawa pada Widiyantoro dkk., (2020). Untuk parameter dari pergeseran, Panjang dan lebar bidang gempa digunakan model empiris sebagai berikut:
Keterangan:
Mw : Magnitudo gempa D : Luas bidang gempa Mo : Magnitudo momen
S : Pergeseran pada bidang gempa L : Panjang bidang gempa
E. METODE ANALISIS DATA
Analisis data dalam penelitian ini dilakukan melalui dua metode yaitu analisis secara statistik dan analisis secara deskriptif kuantitatif. Analisis secara statistik merupakan analisis yang dilakukan pada data yang berupa angka. Adapun analisis secara deskriptif kuantitatif menurut Arikunto dalam Dewa (2016) merupakan suatu prosedur penelitian dengan menganalisis suatu data yang diamati menjadi data deskriptif yang disajikan dalam bentuk tulisan. Pendekatan yang dilakukan dalam tahap analisis yaitu dengan pendekatan induktif. Pendekatan induktif merupakan pendekatan pengambilan kesimpulan dari khusus menjadi umum (Dewa, 2016).
Analisis statistik dalam penelitian ini dilakukan pada data primer dan data sekunder penelitian yang telah dilakukan perhitungan dengan menggunakan software Microsoft Excel. Analisis statistik dilakukan untuk melihat variasi besaran perubahan posisi pada data pertanahan. Variasi besaran perubahan posisi kemudian ditampilkan dalam bentuk diagram atau gambar.
Analisis deskriptif kuantitatif dalam penelitian ini dilakukan pada data sekunder penelitian. Agar analisis dapat dilakukan dengan baik, data pertanahan sebelum dan setelah perhitungan di plot secara bersamaan dengan software ArcGIS dan GMT (Generic Mapping Tool) untuk memvisualisasikan perubahan yang terjadi. Perubahan yang terjadi pada data pertanahan serta pengaruh dari perubahan tersebutlah yang kemudian dianalisis.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Pengaruh Deformasi Pada
Titik Gridding dengan Model
Deformasi BIG
Titik-titik gridding pada penelitian ini digunakan untuk menggambarkan data pertanahan secara keseluruhan. Secara pendekatan induktif, hal yang terjadi pada titik-titik gridding ini juga terjadi pada
data-data pertanahan. Titik-titik gridding yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 150 titik dengan epoch pengukuran pada tanggal 1 Januari 1998 dan epoch acuan 1 Januari 2012 (selisih antar epoch adalah 14 tahun). Perhitungan pengaruh deformasi pada titik-titik gridding dengan model deformasi BIG ditampilkan pada (Lampiran 1). Secara statistik hasil perhitungan ditampilkan dalam Tabel 2 dan Grafik 1.
Tabel 2 : Informasi Statistik Pergeseran Titik
Gridding Akibat Deformasi No Informasi Statistik Pergeseran Akibat Deformasi Nilai Pergeseran (m) Pergeseran
X Pergeseran Y PergeseranTotal
1 Nilai Minimum 0,335 -0,224 0,394 2 Nilai Maksimum 0,354 -0,175 0,405 3 Nilai Rata-rata 0,342 -0,200 0,397 4 Standar Deviasi 0,007 0,016 0,003
Grafik 1 : Statistik Nilai Pergeseran Titik Gridding Berdasarkan Tabel 2, deformasi yang terjadi selama 14 tahun mengakibatkan pergeseran pada titik-titik gridding. Titik-titik gridding tersebut rata-rata bergerak sejauh 40 cm dari posisi sebelumnya. Standar deviasi yang ditunjukkan pada Tabel 2 terlihat sangat kecil. Hal tersebut menunjukkan bahwa pergeseran yang terjadi antar titik cukup seragam. Berdasarkan Grafik 1 terlihat bahwa rentang nilai pergeserannya juga sangat kecil. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa pergeseran yang terjadi akibat deformasi dari model deformasi BIG cukup linear.
deformasi dari model deformasi BIG divisualisasikan pada Gambar 6. Mengingat nilai pergeseran yang terjadi pada titik-titik gridding sangat kecil, maka dalam memvisualisasi, nilai pergeseran diperbesar 1000 kali agar terlihat jelas pergeserannya. Berdasarkan Gambar 6, terlihat bahwa pergeseran titik-titik gridding terjadi ke arah tenggara.
Gambar 6 : Visualisasi Pergeseran pada Titik-titik
Gridding Akibat Deformasi
B. Pengaruh Deformasi Pada Data
Gambar Ukur (GU) dengan
Model Deformasi BIG
Data Gambar Ukur (GU) dalam penelitian ini digunakan sebagai contoh kasus untuk mengetahui pengaruh deformasi pada data pertanahan khususnya bidang tanah. Data gambar ukur yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 10 data. Jumlah tersebut tentunya sangat sedikit jika dibandingkan dengan jumlah bidang tanah yang ada di Kabupaten Badung. Namun hal tersebut dirasa cukup untuk digunakan sebagai studi awal pengaruh deformasi pada data pertanahan khususnya bidang tanah.
Perhitungan pengaruh deformasi pada data gambar ukur dengan model deformasi BIG ditampilkan pada (Lampiran 2). Secara statistik hasil perhitungan ditampilkan dalam Tabel 3 dan beberapa diantaranya divisualisasikan pada Gambar 7-9. Mengingat nilai pergeseran yang terjadi pada data gambar ukur sangat kecil, maka dalam memvisualisasi, nilai pergeseran diperbesar 10 kali agar terlihat jelas pergeserannya.
Tabel 3 : Informasi Statistik Pergeseran Data Gambar Ukur Akibat Deformasi
No No GU Selisih
Epoch (Tahun)
Nilai Pergeseran (m) Perubahan Luas (m2)
Min Mak
Rata-rata Standar Deviasi Luas Awal AkhirLuas Selisih Luas
1 GU.19/1998 CANGGU 13,8 0,3878 0,3885 0,3879 0,0002 2450,0 2449,9 0,1 2 GU.41/1998 UNGASAN 13,5 0,3808 0,3815 0,3813 0,0003 11600,0 11599,8 0,2 3 GU.23/1998 UNGASAN 13,4 0,3778 0,3785 0,3782 0,0003 10000,0 10000,0 0,0 4 GU.3608/1999 PENARUNGAN 12,5 0.3526 0.3526 0.3526 0 2800,0 2800,0 0 5 GU.2/1999 BUDUK 13,0 0.3662 0.3662 0.3662 0 500,0 500,0 0 6 GU.1806/1999 KEROBOKAN KAJA 12,5 0.3518 0.3518 0.3518 0 5950.0 5950.0 0 7 GU.2504/1999 DARMASABA 12,6 0.3557 0.3557 0.3557 0 182,0 182,0 0 8 GU.1163/1999 SEMBUNG 12,7 0.3591 0.3591 0.3591 0 130,0 130,0 0 9 GU.6683/1999 TANJUNG BENOA 12,2 0.3459 0.3459 0.3459 0 550,0 550,0 0 10 GU.2069/1999 TAMAN 12,7 0.3586 0.3586 0.3586 0 3920,0 3920,0 0
Gambar 7 : Pergeseran Data GU.19/1998
Gambar 8 : Pergeseran Data GU.41/1998
Gambar 9 : Pergeseran Data GU.23/1998 Berdasarkan Tabel 3, data gambar ukur rata-rata bergerak sejauh 36 cm dengan standar deviasi yang sangat kecil. Hal ini menunjukkan bahwa pergeseran yang terjadi cukup linear. Disamping itu, berdasarkan Tabel 3 juga terlihat bahwa terjadi perubahan luas pada beberapa bidang gambar ukur. Perubahan luas yang terjadi pada bidang gambar ukur sangat kecil
yaitu pada level dm2. Nilai perubahan luas akibat deformasi tersebut dapat diabaikan karena satuan luas bidang terkecil yang digunakan di BPN adalah m2.
C. Pergerakan dengan Potensi
Gempa di Selatan Jawa Bagian
Timur dan Tengah
Terjadinya gempa bumi tidak dapat diprediksi secara pasti kapan dan berapa akumulasi energi yang dilepaskan. Akumulasi energi yang terjadi selama fase interseismic dapat dilepaskan dalam beberapa mekanisme dalam suatu gempa besar atau rentetan gempa-gempa yang lebih kecil (Hanifa dkk., 2014). Gempa bumi juga dapat dilepaskan dalam mekanisme lainnya seperti slow slip yang ditemukan di wilayah Chili, Jepang, dan New Zealand (Kano dkk., 2018; Klein dkk., 2018).
Besarnya akumulasi gempa dapat dihitung dengan menggunakan slip deficit yang terdeteksi dengan pengamatan GPS di daratan ataupun penggunaan insturmen lepas pantai seperti OBP (Ocean Botton Pressure) (Itoh dkk, 2019). Perhitungan kekurangan slip ini dilakukan oleh Hanifa ddk, (2014) menggunakan data pengamatan GPS di selatan Pulau Jawa bagian barat dan berpotensi menghasilkan gempa hingga magnitudo 8.8. Data pengamatan GPS yang terletak di Pulau Jawa bagian timur juga telah digunakan untuk menghitung besarnya potensi gempa di selatan Pulau Jawa bagian timur dan tengah yang mencapai Mw8.8 jika terjadi gempa sekaligus di Pulau Jawa bagian timur atau mencapai Mw9.1 jika terjadi gempa dengan sumber di seluruh selatan Pulau Jawa meliputi Pulau Jawa bagian barat hingga timur dengan waktu perulangan gempa 400 tahun (Widiyantoro dkk., 2020).
Meskipun potensi gempa ini dapat dihasilkan dalam bentuk gempa dengan magnitudo yang lebih kecil, pada penelitian ini dilakukan perhitungan pergeseran pada titik-titik gridding di Kabupaten Badung dengan potensi gempa yang memiliki
magnitude paling besar yaitu Mw8.8. Dalam melakukan simulasi ini kami menggunakan model empiris bidang gempa terhadap besarnya magnitudo gempa dengan magnitudo gempa sebesar Mw8.8 dan diperoleh bidang gempa dengan ukuran sesuai pada Tabel 4. Besarnya pergeseran gempa di selatan Pulau Jawa bagian timur dan tengah juga dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4 : Pergeseran Gempa di Selatan Pulau
Jawa Bagian Timur dan Tengah Panjang
(km) Lebar (km) Slip (m) Strike Dip Rake
346.796 193.433 10.031 278o 16o 90o
Dengan melakukan forward calculation (perhitungan ke depan), kami melakukan perhitungan besarnya pergeseran akibat potensi gempa pada titik-titik gridding yang kami buat di wilayah Kabupaten Badung. Persamaan matematis yang digunakan dalam perhitungan dapat dilihat pada persamaan di bawah ini:
d (i) = G(i,j) * m(j) (7)
Keterangan:
d = Pergeseran pada titik pengamatan (i)
G = Green’s function yang menghubungkan S dan m M = Slip pergerakan pada sumber gempa (j)
Dengan menggunakan persamaan di atas, kami dapat menghasilkan pergeseran teoritis (model) pada seluruh titik yang berada cukup dekat dengan potensi gempa di selatan Pulau Jawa.
Selanjutnya kami melakukan perhitungan ke depan dengan menggunakan gempa di atas. Besar pergeseran yang diperoleh mencapai 3 meter di selatan Pulau Jawa dan besarnya semakin mengecil sepanjang utara Pulau Jawa. Arah pergeseran ke arah utara dengan pergeseran ke arah selatan konsisten dengan pergerakan model bidang gampa yang memiliki mekanisme murni thrust.
Gambar 10 : Gerakan pada Gridding di Pulau Jawa
Akibat Potensi Gempa di Selatan Jawa
Pergeseran juga ditemukan pada titik-titik gridding yang kami digunakan sebagai gambaran data pertanahan di Kabupaten Badung. Semua titik tersebut menunjukkan pergerakan ke arah barat daya dengan besar pergerakan mencapai 28 cm. Pergerakan ini terlihat memiliki kecenderungan yang sama dengan arah gerakan sumber gempa.
Gambar 11 : Gerakan pada Titik-Titik Gridding di
Kabupaten Badung Akibat Potensi Gempa di Selatan Pulau Jawa
D. Pengaruh Deformasi Pada Data
Pertanahan
Pergeseran data pertanahan akibat adanya deformasi dapat menyebabkan beberapa akibat diantaranya adalah sebagai berikut:
Pertama, pergeseran yang terjadi dapat
mengakibatkan perubahan posisi pada
data-data pertanahan. Dalam kasus data-data pada
gambar ukur, perubahan posisi tersebut akan
berpengaruh pada perbedaan koordinat yang
ada di lapangan dengan koordinat yang tertera
di gambar ukur. Sebagai contoh pada titik 1A
dalam GU.19/1998 CANGGU. Titik tersebut
saat diukur memiliki koordinat TM3 sebesar X:
161419.671 dan Y: 544116.109. Namun setelah
13,8 tahun titik tersebut mengalami deformasi
sebesar 0.336 di sumbu X dan -0.193 di sumbu Y
sehingga koordinatnya menjadi X:
161420.007
dan Y: 544115.915. Adanya perbedaan
koordinat tersebut mengakibatkan koordinat
yang ada dalam gambar ukur tidak lagi dapat
digunakan secara langsung sebagai data untuk
proses stake-out di lapangan. Koordinat yang
ada di gambar ukur harus ditransformasikan
terlebih dahulu dengan memperhitungkan
deformasi yang terjadi jika akan digunakan
untuk proses stake-out di lapangan.
Kedua, pergeseran yang terjadi dapat
mengakibatkan perubahan luas pada bidang
tanah. Bidang tanah yang mengalami
pergeseran akibat deformasi akan sedikit
mengalami perubahan bentuk sehingga
berpengaruh pada luasannya. Namun karena
pergeseran yang terjadi pada suatu area
umumnya cenderung linear, maka perubahan
luas yang terjadi sangatlah kecil sehingga
dapat diabaikan. Sebagai contoh luas bidang
dalam GU.19/1998 CANGGU. Luas bidang
hasil pengukuran dalam GU.19/1998 CANGGU
sebesar 2450,0 m
2, namun setelah 13,8 tahun,
luas bidang tersebut menjadi 2449,9 m
2atau
berubah sebesar 0,1 m
2. Perubahan luas
sebesar 0,1 m
2ini tentunya sangat kecil dan
dapat diabaikan, mengingat satuan terkecil luas
yang di BPN adalah 1 m
2.
Ketiga, pergeseran yang terjadi dapat
mengakibatkan terjadinya overlap (tumpang
tindih) dan gap (celah) antar bidang tanah
pada saat pemetaan. Jika suatu bidang diukur
kemudian hasil ukurannya tidak ditransformasi
terlebih dahulu, maka akan terjadi overlap dan
gap saat melakukan plotting bidang tanah.
Contoh overlap dan gap yang terjadi pada
GU.19/1998 CANGGU dapat dilihat pada
Gambar 12-13. Pada gambar tersebut terlihat
bahwa terdapat perbedaan antara sebelum
dan sesudah terjadinya pergeseran akibat
adanya deformasi yang terjadi selama 13,8
tahun. Akibat dari adanya pergeseran tersebut
menimbulkan overlap dan gap sebesar sebesar
17 m
2. Berdasarkan data tersebut, nilai overlap
dan gap yang terjadi pada gambar ukur
tersebut cukuplah besar. Hal ini tentunya akan
menjadi permasalahan tersendiri pada kegiatan
pemetaan di BPN.
Gambar 12 : Bidang pada GU.19/1998 Sebelum
Mengalami Deformasi
Gambar 13 : Bidang pada GU.19/1998 Setelah
Mengalami Deformasi
Keempat, model deformasi BIG pada dasarnya dibuat untuk mengakomodasi pergerakan akibat aktifitas tektonik pada kerak bumi. Dalam realisasinya, model ini terikat pada epoch 1 januari 2012.0 sehingga diperoleh nilai koordinat yang tetap. Secara lengkap model deformasi termasuk di dalamnya pergerakan linear dan deformasi dari blok, pergerakan akibat gempa bumi, pergerakan akibat
paska gempa bumi, dan pergerakan akibat aktifitas sesar lokal. Sampai saat ini, model deformasi BIG hanya mengakomodasi model linear. Meskipun secara umum model deformasi BIG masih belum mengakomodasi pergerakan non linear, namun secara praktis model ini sudah dapat digunakan dalam kegiatan pemetaan.
Penerapan model deformasi BIG hanya dapat digunakan jika koordinat pengukuran telah diikatkan pada suatu referensi global. Masalah yang terjadi di lapangan, masih dilakukan pengukuran dengan mengikat ke koordinat lokal. Oleh karena itu, perlu dilakukan transformasi dari koordinat lokal ke koordinat global agar dapat mengakomodasi model deformasi BIG.
IV. KESIMPULAN
Kesimpulan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1) Deformasi yang terjadi pada kerak bumi mengakibatkan pergerakan pada data pertanahan. Pergerakan pada data pertanahan menyebabkan terjadinya perubahan koordinat. Deformasi yang terjadi selama 14 tahun dengan menggunakan model deformasi BIG mengakibatkan pergeseran data pertanahan di Kabupaten Badung hingga sejauh 40 cm ke arah tenggara. Selain itu, efek dari pergerakan tiba-tiba akibat gempa bumi menyebabkan terjadinya pergeseran yang arahnya konsisten dengan arah gerakan gempa. Pergerakan ini sangat tergantung pada besarnya pergeseran pada sumber gempa dan posisi relatifnya terhadap data pengamatan.
2) Pergeseran karena deformasi akan mengakibatkan terjadinya perubahan nilai koordinat yang mengakibatkan perubahan luasan suatu bidang tanah serta adanya overlap dan gap pada saat melakukan plotting bidang pertanahan. Perubahan luasan bidang tanah akibat deformasi dapat diabaikan karena perubahannya sangat kecil. Adapun overlap
dan gap memiliki perubahan yang cukup besar sehingga akan menjadi permasalahan tersendiri pada kegiatan pemetaan di BPN.
A. SARAN
Saran dalam penelitian ini adalah sebagai
berikut:
1) Diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai pengaruh deformasi terhadap data administasi pertanahan, khususnya akibat pergerakan non linear seperti gempa bumi yang terjadi di sekitar Pulau Bali.
2) Dengan adanya perubahan pada data pertanahan akibat deformasi, maka seseorang yang melakukan pengukuran dan pemetaan bidang tanah perlu memahami hal tersebut agar nantinya tidak terjadi overlap dan gap pada hasil pengukuran dan pemetaan bidang tanah. 3) Kementerian ATR/BPN perlu merancang
suatu model administrasi pertanahan baru yang bersifat semi dinamis yang mampu mengakomodir adanya deformasi di permukaan bumi.
DAFTAR PUSTAKA
BIG. Model Deformasi. Diperoleh pada 21 Agustus 2020 daripada https://srgi.big.go.id/page/model-deformasi.
BMKG Wilayah III Denpasar. Gempa Bumi. Diperoleh pada 30 Agustus 2020 daripada http:// balai3.denpasar.bmkg.go.id/tentang-gempa.
BPN Kantah Badung. GU.00019/1998 Canggu, GU.00041/1998 Ungasan, GU.00023/1998 Ungasan, GU.03608/1999 Penarungan, GU.00002/1999 Buduk, GU.01806/1999 Kerobokan Kaja, GU.02504/1999 Darmasaba, GU.01163/1999 Sembung, GU.06683/1999 Tanjung Benoa, GU.02069/1999 Taman.
Dewa, C.D, Silviana, A., Triyono. (2016). Jaminan Kebenaran Data Fisik dan Data Yuridis dalam Sertipikat Hak Atas Tanah (Studi Kasus Terhadap Sertipikat Hak Milik yang Objek Fisiknya “Tidak Ada”). Diponegoro Law Journal, Volume 5 (3).
Hanifa, N. R., Sagiya, T., Kimata, F., Efendi, J., Abidin, H. Z., & Meilano, I. (2014). Interplate coupling model off the southwestern coast of Java, Indonesia, based on continuous GPS data in 2008–2010. Earth and Planetary Science Letters, 401, 159-171. Itoh, Y., Nishimura, T., Ariyoshi, K., & Matsumoto, H.
(2019). Interplate slip following the 2003 Tokachi‐oki earthquake from ocean bottom pressure gauge and land GNSS data. Journal of Geophysical Research: Solid Earth, 124(4), 4205-4230.
Kano, M., Fukuda, J. I., Miyazaki, S. I., & Nakamura, M. (2018). Spatiotemporal evolution of recurrent slow slip events along the southern Ryukyu subduction zone, Japan, from 2010 to 2013. Journal of Geophysical Research: Solid Earth, 123(8), 7090-7107. Klein, E., Duputel, Z., Zigone, D., Vigny, C., Boy, J. P.,
Doubre, C., & Meneses, G. (2018). Deep transient slow slip detected by survey GPS in the region of Atacama, Chile. Geophysical research letters, 45(22), 12-263.
Kuang, S. (1996). Geodetic Network Analysis and Optimal Design. Ann Arbor Press, Chelsea, Michigan.
Papazachos, B. C., Scordilis, E. M., Panagiotopoulos, D. G., Papazachos, C. B., & Karakaisis, G. F. (2004). Global relations between seismic fault parameters and moment magnitude of earthquakes. Bulletin of the Geological Society of Greece, 36(3), 1482-1489. Rino. 2010. Regangan Tektonik di Sumatera
berdasarkan Pengamatan Kontinu Sumatran GPS Array (SUGAR) Tahun 2007-2008. Tugas Akhir Program Studi Teknik Geodesi dan Geomatika Institut Teknologi Bandung.
Wells, D. L., & Coppersmith, K. J. (1994). New empirical relationships among magnitude, rupture length, rupture width, rupture area, and surface displacement. Bulletin of the seismological Society of America, 84(4), 974-1002.
Widiyantoro, S., Gunawan, E., Muhari, A., Rawlinson, N., Mori, J., Hanifa, N. R., ... & Putra, H. E. (2020). Implications for megathrust earthquakes and tsunamis from seismic gaps south of Java Indonesia. Scientific Reports, 10(1), 1-11