• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN"

Copied!
39
0
0

Teks penuh

(1)

BAB III

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pelaksanaan Sertipikasi Hak Atas Tanah Di Kabupaten Boyolali yang Disesuaikan dengan Asas-Asas Pendaftaran Tanah

Objek pendaftaran tanah yang lebih mengarah pada status kepemilikan tanah adalah Hak Milik. Hak Milik adalah hak turun-temurun, terkuah dan terpenuh yang dapat dipunyai orang atas tanah. Dari penjelasan diatas, maka hak turun-temurun itu diperoleh dari kakek neneknya atau orang tuanya. Seringkali perolehan tanah tersebut sampai sekarang masih dalam bentuk Letter C/ Pethuk D/ Girik yang seharusnya dilakukan pendaftaran tanah guna menjadikan tanah sebagai status kepemilikan yang kuat.

Sejak berlakunya UUPA hingga sekarang, pendaftaran tanah belum mencapai hasil seperti yang diharapkan. Hal ini dikarenakan sebagian besar dari pemegang hak atas tanah belum secara teratur melaksanakan kewajibannya untuk mendaftarkan tanahnya pada Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota (Ridwan, 2012:17). Padahal, terselenggaranya pendaftaran tanah memungkinkan bagi para pemegang hak atas tanah untuk dengan mudah membuktikan haknya atas tanah yang dikuasainya dan, bagi para pemegang hak yang berkepentingan seperti calon pembeli dan calon kreditur, untuk memperoleh keterangan yang diperlukan mengenai tanah yang menjadi objek perbuatan hukum yang akan dilakukan, serta bagi pemerintah untuk melaksanakan kebijaksanaan pertanahannya. Sehubungan dengan itu UUPA memerintahkan diselenggarakannya pendaftaran tanah dalam rangka menjamin kepastian hukum (Wisma Teguh Pambudiarta, 2011 : 9).

Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah merupakan bentuk pelaksanaan pendaftaran tanah dalam rangka Recht Kadaster yang bertujuan untuk menjamin tertib hukum dan kepastian atas hak tanah (kepastian hukum) serta perlindungan hukum kepada pemegang hak atas tanah, dengan alat bukti yang dihasilkan pada akhir proses pendaftaran tersebut berupa sertipikat yang terdiri dari salinan buku tanah dan surat ukur. Pelaksanaan pendaftaran tanah meliputi pendaftaran tanah untuk pertama kali dan commit to user

(2)

pemeliharaan data pendaftaran tanah. Pengertian pendaftaran tanah untuk pertama kali adalah kegiatan pendaftaran tanah yang dilakukan secara serentak terhadap objek pendaftaran tanah yang belum didaftar berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 10 Tahun 1961 tentang Pendaftaran Tanah. Pelaksanaan pendaftaran tanah akan menjamin kepastian hukum atas tanah yang dimilikinya. Kepastian hukum yang diberikan oleh pemerintah meliputi atas objek dan subjek hak atas tanah. Kepastian hukum objek mengandung pengertian bahwa bidang tanah yang terdaftar bersifat unik, baik letak, luas maupun batas-batasnya. Keunikan tersebut juga menjamin dapat dilaksanakan pengembalian batas apabila dikemudian hari tanda-tanda batas bidang tanah tersebut hilang. Kepastian hukum subjek bermaksud bahwa hak yang terdaftar dalam Daftar Umum dijamin kebenarannya sebagai pemegang hak yang sah dan sebenarnya pemiliknya didasarkan atas itikad baik.

Pasal 2 Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah menyebutkan bahwa pendaftaran dilaksanakan berdasarkan asas sederhana, aman, terjangkau, mutakhir, dan terbuka. Dalam kelima asas pendaftaran tanah tersebut menjelaskan ketentuan-ketentuan dalam pelaksanaan pendaftaran tanah baik itu dari prosedur, kecermatan dalam pelaksanaan pendaftaran tanah, biaya, pemeliharaan data pendaftaran tanah sampai dengan keterbukaan dalam memperoleh informasi untuk pendaftaran tanah. Jika memahami akan maksud dari asas-asas pendaftaran tanah ini, sebenarnya masyarakat dengan mudah dapat melakukan pendaftaran tanah. Adapun disini, pelaksanaan pendaftaran tanah di Kabupaten Boyolali dengan berdasarkan asas-asas pendaftaran tanah, yaitu :

A. Asas Sederhana

Sebagaimana yang termuat dalam Penjelasan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah, maksud dari asas ini yaitu ketentuan-ketentuan pokoknya maupun prosedurnya dengan mudah dapat dipahami pihak-pihak yang berkepentingan terutama para pemegang hak atas tanah. Adapun ketentuan-ketentuan pokok dan prosedur mengenai permohonan pendaftaran rutin biasa termuat dalam Lampiran II Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia Nomor 1 commit to user

(3)

Tahun 2010 tentang Standar Pelayanan dan Pengaturan Pertanahan, yaitu antara lain :

1. Konversi, Pengakuan dan Penegasan Hak, persyaratannya :

a. Formulir permohonan yang sudah diisi dan ditandatangani pemohon atau kuasanya di atas materai cukup. Formulir permohonan memuat: 1) Identitas diri;

2) Luas, letak dan penggunaan tanah yang dimohon; 3) Pernyataan tanah tidak sengketa;

4) Pernyataan tanah dikuasai secara fisik; b. Surat Kuasa apabila dikuasakan;

c. Fotocopy identitas (KTP, KK) pemohon dan kuasa apabila dikuasakan, yang telah dicocokkan dengan aslinya oleh petugas loket;

d. Bukti pemilikan tanah/alas hak milik adat/bekas milik adat;

e. Fotocopy SPPT PBB Tahun berjalan yang telah dicocokkan dengan aslinya oleh petugas loket dan penyerahan bukti SSB (BPHTB);

f. Melampirkan bukti SSP/PPh sesuai dengan ketentuan.

Dengan kurun waktu 100 hari, dengan biaya yang telah ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 2010 tentang Jenis Dan Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak Yang Berlaku Pada Badan Pertanahan Nasional.

2. Pemberian Hak untuk Hak Milik Perorangan, persyaratannya :

a. Formulir permohonan yang sudah diisi dan ditandatangani pemohon atau kuasanya di atas materai cukup. Formulir permohonan memuat: 1) Identitas diri;

2) Luas, letak dan penggunaan tanah yang dimohon; 3) Pernyataan tanah tidak sengketa;

4) Pernyataan tanah dikuasai secara fisik;

5) Pernyataan menguasai tanah tidak lebih dari 5 (lima) bidang untuk permohonan rumah tinggal;

b. Surat Kuasa apabila dikuasakan; commit to user

(4)

c. Fotocopy identitas (KTP, KK) pemohon dan kuasa apabila dikuasakan, yang telah dicocokkan dengan aslinya oleh petugas loket;

d. Asli Bukti perolehan tanah/Alas Hak;

e. Asli Surat-surat bukti pelepasan hak dan pelunasan tanah dan rumah (Rumah Gol III) atau rumah yang dibeli dari pemerintah;

f. Fotocopy SPPT PBB Tahun berjalan yang telah dicocokkan dengan aslinya oleh petugas loket, penyerahan bukti SSB (BPHTB) dan bukti bayar uang pemasukan (pada saat pendaftaran hak);

g. Melampirkan bukti SSP/PPh sesuai dengan ketentuan. Dengan beberapa kurun waktu yaitu :

a. Waktu 38 hari untuk : tanah pertanian yang luasnya tidak lebih dari 2 ha; tanah non pertanian yang luasnya tidak lebih dari 2000 m2.

b. Waktu 65 hari untuk : tanah pertanian yang luasnya lebih dari 2 ha; tanah non pertanian yang luasnya lebih dari 2000 m2 sd 5000 m2. c. Waktu 110 hari untuk tanah non pertanian yang luasnya lebih dari

5000 m2. Dengan catatan tidak termasuk tenggang waktu pemenuhan kewajiban pembayaran sesuai SK. Ketentuan biaya sama dengan Peraturan Pemerintah diatas.

3. Pemberian Hak untuk Hak Milik Badan Hukum, persyaratannya :

g. Formulir permohonan yang sudah diisi dan ditandatangani pemohon atau kuasanya di atas materai cukup. Formulir permohonan memuat: 1) Identitas diri;

2) Luas, letak dan penggunaan tanah yang dimohon; 3) Pernyataan tanah tidak sengketa;

4) Pernyataan tanah dikuasai secara fisik;

5) Pernyataan menguasai tanah tidak lebih dari 5 (lima) bidang untuk permohonan rumah tinggal;

h. Surat Kuasa apabila dikuasakan;

i. Fotocopy identitas (KTP) pemohon dan kuasa apabila dikuasakan, yang telah dicocokkan dengan aslinya oleh petugas loket;

(5)

j. Fotocopy Akta Pendirian dan Pengesahan Badan Hukum yang telah dicocokkan dengan aslinya oleh petugas loket;

k. Bukti perolehan tanah/Alas Hak;

l. SK Penunjukan badan hukum yang dapat memperoleh Hak Milik dari Kepala Badan Pertanahan Nasional;

m. Surat ijin untuk memperoleh Hak Milik dari Kepala Badan Pertanahan Nasional;

n. Fotocopy SPPT PBB Tahun berjalan yang telah dicocokkan dengan aslinya oleh petugas loket;

o. Melampirkan bukti SSP/PPh sesuai dengan ketentuan. Dengan beberapa kurun waktu yaitu :

d. Waktu 38 hari untuk : tanah pertanian yang luasnya tidak lebih dari 2 ha; tanah non pertanian yang luasnya tidak lebih dari 2000 m2.

e. Waktu 65 hari untuk : tanah pertanian yang luasnya lebih dari 2 ha; tanah non pertanian yang luasnya lebih dari 2000 m2 sd 5000 m2. f. Waktu 110 hari untuk tanah non pertanian yang luasnya lebih dari

5000 m2. Dengan catatan tidak termasuk tenggang waktu pemenuhan kewajiban pembayaran sesuai SK. Ketentuan biaya sama dengan Peraturan Pemerintah diatas.

Ketentuan mengenai proses dan prosedur pendaftaran rutin biasa di Kabupaten Boyolali sama dengan ketentuan yang ada dalam Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional diatas. Hal ini dipertegas dalam pernyataan yang telah disampaikan oleh Bapak Pardjo Wijono selaku Kepala Seksi Hak Tanah dan Pendaftaran Tanah Kantor Pertanahan Kabupaten Boyolali pada tanggal 14 Agustus 2013, bahwa proses dan prosedur pendaftaran tanah di Kabupaten Boyolali sesuai dengan apa yang telah diamanatkan dalam Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional tersebut. Implementasi terhadap proses dan prosedur pendaftaran tanah belum mudah dipahami oleh masyarakat karena masih banyak masyarakat Kabupaten Boyolali yang belum mendaftarkan tanahnya menjadi sertipikat. Pada saat saya diajak penyuluhan tentang commit to user

(6)

Program Nasional Agraria (PRONA) ternyata banyak masyarakat yang menganggap bahwa bukti tanah yang selama ini ia miliki sudah merupakan bukti kepemilikan tanah yang sah. Padahal, bukti yang ia miliki belum cukup dalam memberikan jaminan kepastian hukum terhadap kepemilikan tanah tersebut. Dalam penyuluhan proyek PRONA juga telah dijelaskan tentang persyaratan apa saja yang harus dipenuhi oleh pemohon yang akan mendaftarkan tanahnya, tetapi dalam penerapannya ternyata masih ada masyarakat di satu atau dua desa yang kesulitan dalam melengkapi berkas permohonan sehingga terkadang satu atau dua desa tersebut terlambat dalam penyerahan sertipikat. Berdasarkan uraian tersebut, maka asas sederhana dalam pendaftaran tanah belum sepenuhnya berjalan dengan baik.

B. Asas Aman

Asas ini menunjukkan bahwa pendaftaran tanah perlu diselenggarakan secara teliti dan cermat sehingga hasilnya dapat memberikan jaminan kepastian hukum sesuai dengan tujuan pendaftaran tanah itu sendiri. Maksud pendaftaran tanah diselenggarakan secara teliti dan cermat yaitu mulai dari pemeriksaan dan penerimaan dokumen permohonan pendaftaran sampai dengan penerbitan sertipikat. Pemeriksaan terhadap kelengkapan berkas permohonan pendaftaran merupakan kondisi awal dalam proses pendaftaran tanah yang kemudian dilakukan kegiatan berurutan sehingga keluarlah hasil akhir yang berupa sertipikat hak atas tanah.

Proses pendaftaran tanah sampai dengan penerbitan sertipikat terdapat dua mekanisme yang dilakukan di Kantor Pertanahan yaitu :

1. Mekanisme Pelayanan Front Office, dapat dijelaskan melalui tahapan sebagai berikut :

a. Permohonan pendaftaran tanah oleh masyarakat baik secara individu maupun massal yang ditujukan kepada Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten/ Kota;

b. Asli Bukti perolehan tanah/Alas Hak;

c. Asli Surat-surat bukti pelepasan hak dan pelunasan tanah dan rumah (Rumah Gol III) atau rumah yang dibeli dari pemerintah; commit to user

(7)

d. Fotocopy identitas (KTP, KK) pemohon dan kuasa apabila dikuasakan, yang telah dicocokkan dengan aslinya oleh petugas loket;

e. Fotocopy SPPT PBB Tahun berjalan yang telah dicocokkan dengan aslinya oleh petugas loket;

f. Penyerahan bukti SSB (BPHTB) dan bukti bayar uang pemasukan (pada saat pendaftaran hak);

Dokumen-dokumen yang lengkap akan di proses di bagian Entri Data Permohonan (baik itu permohonan pendaftaran tanah ataupun permohonan pekerjaan pengukuran) kemudian dicetak Surat Permohonan Sertipikat dan Surat Tanda Terima Berkas untuk diserahkan kepada pemohon. Pemohon menerima surat permohonan sertipikat dan tanda terima berkas kemudian melakukan pembayaran kepada bendahara khusus di loket penerimaan. Pembayaran tersebut digunakan untuk membayar biaya pengukuran bidang tanah yang besarnya sesuai dengan tarif yang telah ditentukan berdasarkan kelas luas tanah.

2. Mekanisme Back Office, melalui tahapan sebagai berikut :

a. Mencari Peta Dasar Pendaftaran Tanah daerah yang akan diukur bidang persilnya. Peta Dasar Pendaftaran Tanah adalah peta yang memuat titik-titik dasar teknik dan unsur-unsur geografis; seperti sungai, jalan, bangunan dan batas fisik bidang-bidang tanah;

b. Spesifikasi Teknis Peta Pendaftaran, meliputi : 1) Sistem proyeksi (TM-3 derajat);

2) Skala peta yang digunakan untuk wilayah perkotaan 1: 1000 sampai dengan skala 1: 2000, untuk wilayah pedesaan 1: 5000, untuk wilayah kehutanan 1: 10000;

3) Sistem penomoran lembar peta; 4) Ukuran muka peta adalah (50x50) cm; 5) Ukuran grid (5 cm);

6) Peta garis, karena akan menentukan batas-batas bidang tanah, mempermudah dalam up dating pada peta pendaftaran misalnya penetapan batas tanah, hitam putih/ tidak berwarna. commit to user

(8)

c. Pengukuran Dan Penetapan Titik-Titik Dasar Teknik

Pengukuran dan pemetaan dilakukan bidang demi bidang dengan satuan wilayah desa/ kelurahan. Sebelum dilaksanakan pengukuran, batas-batas tanah harus dipasang tanda batas dan ditetapkan batas-batasnya melalui asas contraditoir delimitasi. Asas Contraditoir Delimitasi adalah larangan bagi petugas pengumpul data tanah yang mana pada saat acara untuk menentukan batas-batas tanah yang sedang diukur tidak boleh hanya percaya kepada pemohon. Dengan demikian, kegiatan pengukuran dan pemetaan harus dihadiri dan disetujui oleh pemilik tanah yang letaknya berbatasan langsung dengan bidang tanah yang diukur. Tujuannya agar setelah menghasilkan sertipikat tidak terjadi sengketa batas.

Pemeriksaan, penelitian dan pengkajian data fisik maupun data yuridis dilakukan oleh Panitia Pemeriksaan Tanah A. Berdasarkan Pasal 1 Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2007 tentang Panitia Pemeriksaan Tanah, bahwa :

“Panitia Pemeriksaan Tanah A yang selanjutnya disebut Panitia A adalah panitia yang bertugas malaksanakan pemeriksaan, penelitian dan pengkajian data fisik maupun data yuridis baik di lapangan maupun di kantor dalam rangka penyelesaian permohonan pemberian Hak Milik, Hak Guna Bangunan, Hak Pakai atas Tanah Negara, Hak Pengelolaan dan permohonan pengakuan hak atas tanah”.

Menurut Pasal 2 ayat (1) Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2007 tentang Panitia Pemeriksaan Tanah, menjelaskan bahwa pemeriksaan, penelitian dan pengkajian oleh Panitia A dilaksanakan untuk memperoleh kebenaran formal atas data fisik dan data yuridis. Dalam rangka memperoleh kebenaran formal atas data fisik dan data yuridis ini, tugas Panitia A yaitu :

(9)

1) Mengadakan pemeriksaan terhadap kelengkapan berkas permohonan pemberian Hak Milik, Hak Guna Bangunan, Hak Pakai atas Tanah Negara, Hak Pengelolaan dan permohonan pengakuan hak atas tanah;

2) Mengadakan penelitian dan pengkajian mengenai status tanah, riwayat tanah dan hubungan hukum antara tanah yang dimohon dengan pemohon serta kepentingan lainnya;

3) Mengadakan penelitian dan peninjauan fisik atas tanah yang dimohon mengenai penguasaan, penggunaan/ keadaan tanah serta batas-batas bidang tanah yang dimohon;

4) Mengumpulkan keterangan/ penjelasan dari para pemilik tanah yang berbatasan;

5) Meneliti kesesuaian penggunaan tanah yang dimohon dengan Rencana Tata Ruang Wilayah setempat;

6) Membuat hasil laporan dalam bentuk Berita Acara Pemeriksaan Lapang;

7) Melakukan sidang berdasarkan data fisik dan data yuridis hasil pemeriksaan lapang termasuk data pendukung lainnya; dan

8) Memberikan pendapat dan pertimbangan atas permohonan hak atas tanah, yang dituangkan dalam Risalah Panitia Pemeriksaan Tanah yang ditandatangani oleh semua Anggota Panitia A (Pasal 6 ayat (1) Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2007 tentang Panitia Pemeriksaan Tanah).

Setelah proses pengumpulan data fisik tanah (memuat letak tanah; batas-batas tanah; luas tanah; ada atau tidaknya bangunan diatas tanah yang akan didaftarkan) dan data yuridis (memuat status tanah; pemilik tanah; ada atau tidaknya beban-beban hak lain diatas tanah yang akan didaftarkan) selesai, maka akan menghasilkan 1 (satu) alat bukti untuk 1 bidang tanah yaitu sertipikat hak atas tanah yang berisi salinan buku tanah dan surat ukur sebagai

(10)

bukti kepemilikan tanah. Berikut bagan alur proses konvensi, pengakuan dan penegasan hak yaitu :

Pemohon Kantor Pertanahan

Loket Proses Layanan

Loket Pelayanan Loket Pembayaran

Pemohon

Pemohon

Gambar 1 : Bagan Alur Proses Konvensi, Pengakuan dan Penegasan Hak dalam Lampiran III Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2010 tentang Standar Pelayanan Dan Pengaturan Pertanahan.

Berdasarkan hasil konsultasi dengan Bapak Pardjo Wijono selaku Kepala Seksi Hak Tanah dan Pendaftaran Tanah Kantor Pertanahan Kabupaten Boyolali pada tanggal 14 Agustus 2013, maka terkait dengan asas aman dalam permohonan pendaftaran tanah di Kabupaten Boyolali dimulai dari prosedur pemeriksaan dan penerimaan dokumen permohonan sampai dengan penyerahan sertipikat kepada pemilik tanah.

Prosedur pemeriksaan dan penerimaan dokumen permohonan harus diperiksa kesesuaian dan kelengkapan dokumen permohonan. Setelah tahap ini sesuai dan lengkap, maka pemohon dalam konvensi, pengakuan, dan penegasan hak melakukan pembayaran untuk biaya pengukuran, pemeriksaan

Pemeriksaan dan penerimaan dokumen permohonan Penerimaan pembayaran biaya pengukuran, pemeriksaan tanah dan pendaftaran hak Pengukuran dan pemeriksaan tanah Pengumuman Pembukuan hak dan penerbitan sertipikat Penyerahan sertipikat commit to user

(11)

tanah dan pendaftaran tanah di loket pembayaran dengan penerimaan pembayaran tersebut. Tahap selanjutnya yaitu dilakukan pengukuran dan pemeriksaan tanah. Pengukuran disini dilakukan oleh Panitia A beserta pemohon dan dihadiri oleh tetangga yang berbatasan langsung dengan tanah yang dimohonkan. Hal ini berkaitan dengan asas contraditoir delimitasi, artinya larangan bagi petugas pengumpul data tanah saat acara penentuan batas-batas tanah yang sedang diukur hanya percaya pada pemohon saja. Dalam melakukan pengukuran harus melibatkan tetangga/ persetujuan tetangga yang berbatasan langsung dengan tanah tersebut. Hasil dari pengukuran dan pemeriksaan tanah oleh panitia A akan diperoleh kebenaran data fisik tanah dan data yuridis. Tahap berikutnya yaitu pengumuman. Pengumuman dilakukan oleh Kantor Pertanahan Kabupaten Boyolali yang mana pengumuman ditempel di papan pengumuman Kantor Pertanahan Kabupaten Boyolali, Kantor Kelurahan/ Kantor Kepala Desa, dan Surat Kabar setempat selama 2 bulan berturut-turut dengan tujuan apabila ada pihak yang merasa memiliki tanah tersebut dapat mengajukan keberatan sehingga dapat dilakukan penangguhan penerbitan sertipikat. Namun, dalam kurun waktu 2 bulan berturut-turut tidak terjadi keberatan maka dapat dilakukan pembukuan hak dan penerbitan sertipikat. Hasilnya berupa sertipikat yang berisi salinan buku tanah dan surat ukur. Tahap terakhir adalah penyerahan sertipikat kepada pemohon.

Implementasi terhadap asas aman pendaftaran tanah dapat dijelaskan pada saat diajak oleh petugas ukur di Kantor Pertanahan Kabupaten Boyolali dalam melakukan pengukuran di desa Kragilan Kecamatan Mojosongo. Setelah sampai di lokasi dan akan dilakukan pengukuran ternyata terjadi sengketa diantara ahli waris yang belum sepakat mengenai luas tanah masing-masing. Salah satu ahli waris meminta luas tanahnya lebih lebar 2 m dari kanan, kemudian ahli waris yang berbatasan tidak terima jika luas tanahnya diambil 2 m. Petugas pengukur menunggu beberapa lama untuk mencapai kesepakatan ternyata kesepakatan diantara ahli waris itu tidak tercapai. Dan akhirnya oleh petugas ukur memutuskan untuk tidak melakukan pengukuran commit to user

(12)

tanah tersebut. Dari uraian diatas, maka asas aman dalam pendaftaran tanah yang mana memperhatikan ketelitian dan kecermatan telah diimplementasikan oleh petugas ukur di Kantor Pertanahan Kabupaten Boyolali karena disini petugas ukur tidak asal dalam melakukan pengukuran tanah dan mereka memilih menunda pengukuran tanah tersebut.

C. Asas Terjangkau

Dalam asas ini telah mengamanatkan bahwa keterjangkauan bagi pihak-pihak yang memerlukan, khususnya dengan memperhatikan kebutuhan dan kemampuan golongan ekonomi lemah. Pelayanan yang diberikan dalam rangka penyelenggaraan pendaftaran tanah harus bisa terjangkau oleh pihak yang memerlukan. Berdasarkan hasil konsultasi dengan Bapak Yusdhi Hariadhi selaku Kepala Sub Seksi Penetapan Hak Tanah Kantor Pertanahan Kabupaten Boyolali pada tanggal 22 Agustus 2013, biaya pendaftaran tanah telah diatur dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2010 tentang Jenis Dan Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak Yang Berlaku Pada Badan Pertanahan Nasional beserta Lampirannya.

Terhadap permohonan pendaftaran rutin biasa dan program khusus bagi golongan ekonomi lemah, ketentuan mengenai biaya untuk pendaftaran tanah telah diatur dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2010 tentang Jenis Dan Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak Yang Berlaku Pada Badan Pertanahan Nasional. Menurut Pasal 1 Peraturan Pemerintah ini, jenis penerimaan negara bukan pajak yang berlaku pada Badan Pertanahan Nasional adalah penerimaan yang berasal dari : 1. Pelayanan survei, pengukuran, dan pemetaan;

2. Pelayanan pemeriksaan tanah;

3. Pelayanan konsolidasi tanah secara swadaya; 4. Pelayanan pertimbangan teknis pertanahan; 5. Pelayanan pendaftaran tanah;

6. Pelayanan informasi pertanahan; 7. Pelayanan lisensi;

(13)

9. Pelayanan penetapan tanah objek penguasaan benda-benda tetap milik perseorangan warga negara belanda (P3MB)/ peraturan presidium kabinet dwikora nomor 5/Prk/1965; dan

10. Pelayanan di bidang pertanahan yang berasal dari kerja sama dengan pihak lain.

Pasal 2 Peraturan Pemerintah ini menyebutkan bahwa jenis penerimaan negara bukan pajak yang berasal dari pelayanan survei, pengukuran dan pemetaan meliputi :

1. Pelayanan survei, pengukuran batas kawasan atau batas wilayah, dan pemetaan;

2. Pelayanan pengukuran dan pemetaan bidang tanah dalam rangka penetapan batas, meliputi:

a. Pelayanan pengukuran dan pemetaan batas bidang tanah;

b. Pelayanan pengukuran dan pemetaan batas bidang tanah secara massal; c. Pelayanan pengembalian batas; dan

d. Pelayanan legalisasi gambar ukur surveyor berlisensi;

3. Pelayanan pengukuran dan pemetaan batas ruang atas tanah, ruang bawah tanah, atau ruang perairan.

Dalam Pasal 3 menyebutkan bahwa tarif pelayanan survei, pengukuran batas kawasan atau batas wilayah, dan pemetaan sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 2 huruf a, adalah ditetapkan dalam Lampiran Peraturan Pemerintah ini. Mengenai tarif pelayanan pengukuran dan pemetaan batas bidang tanah dihitung berdasarkan kelas luas tanah. Penghitungan tarif pelayanan pengukuran dan pemetaan batas bidang tanah, ada kriteria luas tanah yang telah dirumuskan dalam Pasal 4 Peraturan Pemerintah ini sebagai berikut :

1. Luas tanah sampai dengan 10 hektar T = ( L x HSBK ) + Rp 100.000,00

500

2. Luas tanah lebih dari 10 hektar sampai dengan 1000 hektar T = ( L x HSBK ) + Rp 14.000.000,00 commit to user

(14)

4000

3. Luas tanah lebih dari 1000 hektar

T = ( L x HSBK ) + Rp 134.000.000,00 10.000

Sedangkan, tarif pelayanan pengukuran dan pemetaan batas bidang tanah secara massal adalah sebesar 75% (tujuh puluh lima persen) dari tarif pelayanan sebagaimana dimaksud pada kriteria diatas. Tarif pelayanan pengembalian batas adalah sebesar 150% (seratus lima puluh persen) dari tarif pelayanan tersebut. Tarif pelayanan legalisasi gambar ukur surveyor berlisensi adalah sebesar 30% (tiga puluh persen) dari tarif pelayanan itu. Dan, untuk tarif pelayanan pengukuran dan pemetaan batas ruang atas tanah, ruang bawah tanah, atau ruang perairan adalah 300% dari tarif pelayanan pengukuran dan pemetaan batas bidang tanah.

Menurut Pasal 7 Peraturan Pemerintah ini menyebutkan bahwa tarif pelayanan pemeriksaan tanah oleh Panitia A dihitung berdasarkan rumus :

T = ( L x HSBK) + Rp 350.000,00 500

Tarif pelayanan pemeriksaan tanah oleh Panitia A untuk pemeriksaan tanah secara massal, dihitung berdasarkan rumus :

T = 1/5 x ( L x HSBK) + Rp 350.000,00 500

Berdasarkan ketentuan yang ada pada Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 2010 tentang Jenis Dan Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak Yang Berlaku Pada Badan Pertanahan Nasional, biaya yang dikenakan untuk golongan ekonomi lemah hanya seperlima dari permohonan rutin biasa/ 20 % dari harga umum. Peraturan Pemerintah ini telah mengamanatkan bahwa biaya pendaftaran tanah dapat terjangkau oleh golongan ekonomi lemah, tetapi penerapan asas terjangkau di Boyolali belum berjalan secara optimal. Ini terlihat dalam pernyataan yang disampaikan oleh Bapak Yusdhi Hariadhi selaku Kepala Sub Seksi Penetapan Hak Tanah Kantor Pertanahan Kabupaten Boyolali pada tanggal 22 Agustus 2013, bahwa bagi masyarakat golongan commit to user

(15)

ekonomi lemah yang akan mendaftarkan tanahnya dapat melalui proyek Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). Proyek MBR seharusnya menjadi penolong masyarakat yang akan melakukan pendaftaran tanah, tetapi proyek ini sangat jarang dilakukan oleh masyarakat Boyolali. Hal ini terlihat dari Kantor Pertanahan Kabupaten Boyolali yang sangat jarang menerima permohonan pendaftaran tanah memalui proyek MBR ini. Berdasarkan penjelasan tersebut, maka asas terjangkau belum sepenuhnya terimplementasi dengan baik.

D. Asas Mutakhir

Asas ini memerintahkan untuk kelengkapan yang memadai dalam pelaksanaan dan kesinambungan dalam pemeliharaan datanya. Data yang tersedia harus menunjukkan keadaan yang mutakhir/ keadaan sekarang. Untuk itu perlu diikuti kewajiban mendaftar dan pencatatan perubahan-perubahan yang terjadi di kemudian hari. Asas ini menuntut dipeliharanya data pendaftaran tanah secara terus-menerus dan berkesinambungan sehingga data yang tersimpan di Kantor Pertanahan selalu sesuai dengan keadaan nyata di lapangan.

Berdasarkan hasil konsultasi dengan Bapak Pardjo Wijono selaku Kepala Seksi Hak Tanah dan Pendaftaran Tanah Kantor Pertanahan Kabupaten Boyolali pada tanggal 14 Agustus 2013, maka salah satu contoh yang terkait dengan pemeliharaan data oleh pemohon di Kantor Pertanahan Kabupaten Boyolali yaitu pengecekan sertipikat. Ketentuan waktu dalam pengecekan sertipikat yaitu 1 hari. Dalam konsultasi dengan Bapak Pardjo Wijono, beliau memaparkan bahwa ketentuan waktu 1 hari bisa 1 hari selesai, tetapi terkadang bisa lebih dari 1 hari. Waktu yang lebih dari 1 hari dalam pengecekan sertipikat dapat dikarenakan antara lain :

1. Dari Pemohon, seperti keterlambatan pemohon dalam mengajukan permohonan. Hal ini berkaitan dengan waktu kerja pegawai Kantor Pertanahan Kabupaten Boyolali yang dalam 1 hari yaitu 8-9 jam. Apabila pemohon mengajukan permohonan pengecekan sertipikat pada pagi hari/ sesaat setelah Kantor Pertanahan itu buka, maka waktu 1 hari pengecekan commit to user

(16)

sertipikat dapat selesai. Namun, jika pemohon baru mengajukan permohonan pengecekan sertipikat pada siang hari, maka waktu 1 hari belum selesai. Hal ini dikarenakan waktu yang diajukan dengan waktu kerja terlalu singkat sehingga pengecekan sertipikat baru selesai pada hari berikutnya.

2. Dari Kantor Pertanahan Kabupaten Boyolali, seperti buku tanah belum bisa ditemukan. Karena proses pencarian buku tanah terkadang memakan waktu yang lama, maka keadaan ini dapat membuat suatu permohonan yang diajukan tidak dapat selesai sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Sama dengan penjelasan diatas, apabila buku tanah belum ditemukan maka permohonan yang diajukan baru bisa selesai pada hari berikutnya.

E. Asas Terbuka

Asas ini berkaitan dengan masyarakat dalam memperoleh keterangan mengenai data yang benar setiap saat di Kantor Pertanahan Kabupaten/ Kota. Keterbukaan Kantor Pertanahan Kabupaten Boyolali dalam memberikan informasi kepada masyarakat, dapat melalui :

1. Datang langsung ke Kantor Pertanahan Kabupaten Boyolali di Jalan Anggrek No. 1 Boyolali

2. Website BPN : www.bpn.go.id 3. Telp/ Fax : (0276) 321063

4. Email : [email protected]

Pada saat saya melakukan penelitian, saya melihat ada seorang bapak yang menanyakan Sertipikat Hak Milik (SHM) No…..untuk sesuatu hal. Pegawai Kantor Pertanahan Kabupaten Boyolali mencatat No SHM tersebut kemudian mencarikannya. SHM itu diperlihatkan kepada bapak itu dan setelah selesai SHM itu dikembalikan ke tempat semula. Berdasarkan pengalaman tersebut, maka Kantor Pertanahan Kabupaten Boyolali terbuka kepada setiap orang yang ingin memperoleh informasi dengan pengecualian terhadap hal-hal yang penting tidak dapat diinformasikan.

(17)

Berdasarkan uraian dari kelima asas-asas pendaftaran tanah tersebut, maka asas-asas tersebut mempunyai kendala masing-masing. Terhadap asas sederhana kendalanya yaitu masyarakat Kabupaten Boyolali kurang memahami tentang pentingnya pendaftaran tanah karena masih banyak bukti kepemilikan tanah yang belum bersertipikat. Asas aman mempunyai kendala yaitu lamanya jangka waktu pelaksanaan pendaftaran tanah dari persyaratan dokumen sampai dengan penyerahan sertipikat. Misalnya dalam melakukan pengukuran terjadi sengketa diantara ahli waris dalam menentukan pembagian luas tanah untuk masing-masing ahli waris tersebut. Hal ini dapat mengakibatkan petugas ukur batal melakukan pengukuran yang memungkinkan petugas ukur melakukan pengukuran dikemudian hari. Asas terjangkau kendalanya yaitu biaya. Biaya ini yang membuat para pemilik tanah tidak mau dalam mendaftarkan tanahnya. Padahal, bagi pemilik tanah yang kesulitan dalam biaya telah ada kemudahan baik yang telah dijamin dalam Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 2010 tentang Jenis Dan Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak Yang Berlaku Pada Badan Pertanahan Nasional maupun proyek MBR. Pada kenyataannya, masih banyak masyarakat yang enggan mendaftarkan tanahnya melalui proyek tersebut. Kendala dalam asas muktahir seperti yang telah diuraikan diatas yaitu keterlambatan pemohon dalam mengajukan permohonan dan sulit ditemukannya buku tanah di Kantor Pertanahan Kabupaten Boyolali. Dan, asas terbuka kendalanya yaitu belum adanya website khusus Kantor Pertanahan Kabupaten Boyolali sehingga masih sulit bagi pencari informasi dalam memperoleh data yang akurat setiap saat.

Berdasarkan uraian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa kendala yang paling menghambat yaitu mengenai waktu dan biaya. Sehingga sering kali muncul anggapan bahwa proses administrasi dalam pendaftaran tanah cukup rumit dan memakan waktu yang lama serta biaya tinggi. Padahal, kendala tersebut dapat timbul dari 2 sisi yaitu :

1. Dari sisi masyarakat

(18)

a. Masyarakat belum paham hukum akan arti pentingnya pendaftaran tanah untuk memperoleh sertipikat hak atas tanah.

b. Bagi masyarakat yang sudah paham hukum, tetapi dalam pendaftaran tanahnya mereka melalui notaris yang terkadang tarif yang diajukan notaris terlalu tinggi, sehingga masyarakat beranggapan bahwa pendaftaran tanah memerlukan biaya tinggi.

2. Dari sisi Kantor Pertanahan Kabupaten Boyolali, yaitu Kantor Pertanahan belum meningkatkan sosialisasi/ penyuluhan pendaftaran tanah.

G. Upaya Mengatasi Asas-Asas Pendaftaran Tanah

Kendala yang paling menghambat dalam pendaftaran tanah yaitu masalah waktu dan biaya. Masalah waktu sebenarnya dalam setiap Peraturan Pemerintah sudah ditentukan. Masalah waktu secara perlahan dapat diatasi melalui peningkatan kinerja dan ketepatan dalam berbagai tahapan pendaftaran tanah sehingga proses kepemilikan hak atas tanah dapat sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Masalah biaya merupakan masalah yang paling krusial, karena ini berkaitan dengan pendapatan masyarakat. Maka dalam hal ini, Pemerintah telah mencanangkan beberapa program dan kebijakan dalam rangka peningkatan status kepemilikan hak atas tanah bagi masyarakat melalui BPN RI yang akan dijalankan oleh Kantor Pertanahan Kabupaten/ Kota. Salah satu Kantor Pertanahan yang akan menjalankan beberapa program dan kebijakan peningkatan status kepemilikan hak atas tanah yaitu Kantor Pertanahan Kabupaten Boyolali. Program dan kebijakan dalam rangka peningkatan status kepemilikan hak atas tanah yaitu :

1. Program Temporer, artinya program ini tidak setiap tahun ada/ setiap tahun rutin diadakan, tetapi program ini ada didasarkan pada kebutuhan masyarakat. Program temporer ini meliputi :

a. Usaha Kecil Menengah (UKM); b. Nelayan tangkap kementrian kelautan; c. Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR); d. Pasca bencana.

(19)

Berdasarkan hasil konsultasi dengan Bapak Moch. Herdiyanto, selaku Kepala Seksi Pengendalian dan Pemberdayaan Kantor Pertanahan Kabupaten Boyolali pada tanggal 21 Agustus 2013, program yang bersifat temporer pada tahun 2013 yang dilakukan di Kabupaten Boyolali yaitu Program Pasca Bencana Merapi yang terdiri dari 3 Kecamatan, 11 Desa, dengan jumlah 2.300 bidang. Berikut laporan berdasarkan data diatas, yaitu

Tabel 2 : Program Sertipikasi Tanah Pasca Bencana Merapi di Kabupaten Boyolali Tahun Anggaran 2013

No. Kecamatan Desa Jumlah

Bidang Keterangan 1. Musuk a. Mriyan b. Sumur 130 160 2. Cepogo a. Gedangan b. Wonodoyo 380 200 3. Selo a. Selo b. Suroteleng c. Taru Batang d. Senden e. Jeruk f. Samiran g. Lencoh 300 370 100 60 250 150 200 Jml 3 Kecamatan 11 Desa 2.300 Sumber : data di Kantor Pertanahan Kabupaten Boyolali

2. Program Rutin, artinya program yang selalu ada setiap tahunnya/ rutin diadakan yang mana penentuan jumlah sertipikat ditentukan dari Badan Pertanahan Nasional RI di Pusat, sedangkan Kantor Pertanahan Kabupaten/ Kota yang harus menjalankan. Program rutin di Kantor Pertanahan Kabupaten Boyolali meliputi :

a. Program Nasional Agraria (PRONA); b. Redistribusi Tanah; commit to user

(20)

c. Layanan Rakyat Sertipikasi Tanah (LARASITA).

Penjelasan terhadap program rutin di Kantor Pertanahan Kabupaten Boyolali, yaitu :

1. Program Nasional Agraria (PRONA)

Program Nasional Agraria (PRONA) merupakan salah satu Program Prioritas Nasional legalisasi asset yang ditetapkan di dalam Rencana Strategis BPN-RI Tahun 2010-2014 dengan Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2010. Kegiatan PRONA pada prinsipnya merupakan kegiatan pendaftaran tanah pertama kali dalam rangka penerbitan sertipikat hak atas tanah terutama bagi masyarakat golongan ekonomi lemah sampai menengah. Peserta kegiatan PRONA diutamakan bagi masyarakat golongan ekonomi lemah sampai menengah sebagai bentuk keberpihakan Pemerintah dalam hal ini BPN RI terhadap masyarakat yang berpenghasilan rendah sampai menengah. Masyarakat berpenghasilan rendah perlu mendapat perlindungan, perhatian dan bantuan pemerintah untuk meningkatkan taraf hidupnya. Masyarakat berpenghasilan menengah masih membutuhkan bantuan permodalan perlu didorong pemerintah untuk dapat mandiri dalam menjalankan dan meningkatkan kegiatan usahanya. Keberpihakan pemerintah kepada golongan ekonomi lemah sampai menengah dengan memberikan bantuan sertipikat tanah miliknya.

Dengan diberikan tanda bukti hak (sertipikat) atas bidang tanah yang dimiliki/ dikuasai, akan memberikan rasa ketenangan dan ketentraman dalam menjalankan kegiatan dalam upaya memperbaiki dan meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan. Tujuan penyelenggaraan kegiatan PRONA adalah memberikan pelayanan pendaftaran tanah pertama kali dengan proses yang sederhana, mudah dan cepat dalam rangka percepatan pendaftaran tanah di seluruh Indonesia. Adapun mengenai petunjuk teknis kegiatan PRONA adalah sebagai berikut : a. Perencanaan

(21)

Dalam rangka perencanaan penetapan subjek dan objek program legalisasi asset masyarakat melalui kegiatan PRONA agar dapat memenuhi target penyelesaian yang tepat waktu dan tepat sasaran, maka Kepala Kantor Wilayah BPN Provinsi/ Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten/ Kota membuat perencanaan secara sistematis dengan melakukan pra inventarisasi calon lokasi dan calon peserta sebelum tahun berjalan pelaksanaan kegiatan (T-1); membentuk Tim Koordinasi Kegiatan PRONA; dan membuat jadwal pelaksanaan kegiatan pada tahun berjalan (T 0).

b. Prosedur Pelaksanaan

Penyelenggaraan pendaftaran tanah pertama kali melalui kegiatan PRONA, dilaksanakan melalui pendekatan pendaftaran tanah secara sporadik. Mengingat sistem pembukuan hak yang berlaku (Hak Milik, Hak Guna Bangunan, Hak Pakai dan Tanah Wakaf) pembukuan haknya desa demi desa (kelurahan). Untuk tertib administrasi dalam pelaksanaannya agar diupayakan dalam satu cluster (kelompok) dalam lokasi desa/ kelurahan yang ditetapkan sebagai lokasi kegiatan PRONA, minimal 10 bidang tanah.

Proses pendaftaran tanah kegiatan PRONA dilakukan sebagai berikut : 1) Pembuktian hak lama yang alat bukti tertulisnya lengkap, tidak lengkap atau tidak ada sama sekali. Berdasarkan ketentuan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 jo. Peraturan Menteri Negara Agraria/ Kepala BPN Nomor 3 Tahun 1997, pendaftaran tanahnya dilakukan melalui proses penegasan konversi atau pengakuan hak;

2) Pembuktian hak baru atas tanah negara, berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 jo. Peraturan Menteri Negara Agraria/ Kepala BPN Nomor 3 Tahun 1997 dan Peraturan Menteri Negara Agraria/ Kepala BPN Nomor 9 Tahun 1999, pendaftaran tanahnya dilakukan melalui proses surat keputusan pemberian hak atas tanah. commit to user

(22)

c. Penetapan Lokasi

Di dalam penetapan lokasi perlu memperhatikan kondisi wilayah dan infrastruktur pertanahan yang tersedia.

1) Kondisi Wilayah

Untuk ditetapkan sebagai lokasi kegiatan PRONA diarahkan pada wilayah-wilayah sebagai berikut :

a) Desa miskin/ tertinggal;

b) Daerah pertanian subur atau berkembang;

c) Daerah penyangga kota, pinggiran kota atau daerah miskin kota;

d) Daerah pengembangan ekonomi rakyat; e) Daerah lokasi bencana alam;

f) Daerah pemukiman padat penduduk serta mempunyai potensi cukup besar untuk dikembangkan;

g) Daerah diluar sekeliling transmigrasi; h) Daerah penyangga daerah Taman Nasional;

i) Daerah pemukiman baru yang terkena pengembangan prasarana umum atau relokasi akibat bencana alam.

2) Infrastruktur Pertanahan

Penetapan lokasi wilayah desa/ kelurahan dengan memperhatikan infrastruktur pertanahan yang tersedia, antara lain : a) Rencana Umum Tata Ruang Wilayah;

b) Inventarisasi Pengaturan, Pemilikan, Penggunaan dan Pemanfaatan Tanah (IP4T);

c) Peta Penatagunaan Tanah;

d) Peta Pengukuran dan Pendaftaran Tanah (Fotogrametis); e) Infrastruktur Titik Dasar Teknik dan Peta Dasar Pendaftaran; f) Teknologi Informasi dan Komunikasi;

g) Mobil dan peralatan Larasita; dan h) Infrastruktur lainnya.

(23)

a) Penunjukan lokasi kecamatan ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Kepala Kantor Wilayah BPN Provinsi dengan memperhatikan usulan yang diajukan oleh Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten/ Kota;

b) Penunjukan lokasi desa/ kelurahan ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten/ Kota. d. Peserta

Peserta (subjek) kegiatan PRONA adalah orang (individu) atau badan hukum yang dapat mempunyai hak atas tanah. Peserta kegiatan PRONA perorangan (individu) diutamakan pemilik tanah dari masyarakat golongan ekonomi lemah sampai menengah. Kriteria golongan ekonomi lemah sampai menengah dengan pendekatan seseorang (subjek hak) dalam pemenuhan kebutuhan hidup minimum, penghasilan atau karena jasa dan pengabdian kepada negara, serta pendekatan penggunaan dan peruntukan tanah, yaitu sebagai berikut : 1) Perorangan (individu)

Perorangan (individu) yang dapat menjadi peserta kegiatan PRONA adalah perorangan dari golongan ekonomi lemah sampai dengan menengah, dengan kriteria :

a) Pekerja dengan penghasilan tidak tetap per bulan sama atau di bawah Standar Kelayakan Hidup Minimum dari Biro Pusat Statistik (pengeluaran per kapita per bulan) masing-masing Kabupaten/ Kota, antara lain petani, nelayan, pedagang, peternak, pengrajin, pelukis jalanan, buruh musiman dan lain-lain;

b) Pekerja dengan penghasilan tetap meliputi :

(1) Pegawai perusahaan baik swasta maupun BUMN/ BUMD dengan penghasilan per bulan sama atau di bawah Upah Minimum Regional (UMR) yang ditetapkan oleh masing-masing Kabupaten/ Kota, yang dibuktikan dengan

(24)

penetapan Upah Minimum Kabupaten/ Kota (UMK) dan surat keterangan penghasilan dari perusahaan;

(2) Veteran, Pegawai Negeri Sipil pangkat sampai dengan Penata Tk.I (III/d), prajurit Tentara Nasional Indonesia pangkat sampai dengan Kapten dan anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia pangkat sampai dengan Komisaris Polisi, dibuktikan dengan fotocopy Surat Keputusan pangkat terakhir;

(3) Istri/ suami veteran, istri/ suami Pegawai Negeri Sipil,istri/ suami prajurit Tentara Nasional Indonesia dan istri/ suami anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia, dibuktikan dengan fotocopy Surat Keputusan pangkat terakhir dan akta nikah;

(4) Pensiunan Pegawai Negeri Sipil, pensiunan Tentara Nasional Indonesia dan pensiunan anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia, dibuktikan dengan fotocopy Surat Keputusan pensiun;

(5) Janda/ duda pensiunan Pegawai Negeri Sipil, janda/ duda pensiunan Tentara Nasional Indonesia, janda/ duda pensiunan anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia, dibuktikan dengan fotocopy Surat Keputusan pension janda/ duda dan akta nikah.

2) Nahzir, nahzir tanah wakaf baik perorangan atau badan hukum. 3) Badan Hukum

Badan hukum yang dapat menjadi peserta kegiatan PRONA adalah badan hukum yang bergerak di bidang keagamaan dan sosial yang tidak melakukan kegiatan usaha untuk mencari keuntungan dan peruntukan serta penggunaan tanah yang dimohon digunakan untuk keperluan peribadatan, panti asuhan, dan panti jompo.

(25)

Kewenangan penetapan peserta ditetapkan dengan Surat Keputusan Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten/ Kota dengan memperhatikan penetapan lokasi dan hasil pendataan yuridis. e. Luas dan Jumlah Bidang Tanah

Bidang tanah yang ditetapkan menjadi objek kegiatan PRONA, seluruh atau sebagian bidang tanah di dalam satu cluster (kelompok) di dalam satu desa/ kelurahan, minimal 10 bidang, yakni :

1) Berupa tanah non pertanian dan/ atau tanah pertanian;

2) Seseorang atau 1 (satu) peserta paling banyak 2 (dua) bidang; 3) Luas tanah :

a) Surat Keputusan Pemberian hak atas tanah negara:

(1) Tanah non pertanian dengan luas sampai dengan 2.000 m2 (dua ribu meter persegi), kecuali objek kegiatan PRONA yang berlokasi wilayah Kabupaten/ Kota Kantor Pertanahan tipe A sampai dengan luas 500 m2 (lima ratus meter persegi); dan

(2) Tanah pertanian dengan luas sampai dengan 2 ha (dua hektar).

b) Penegasan konversi/ pengakuan hak:

(1) Tanah non pertanian dengan luas sampai dengan 5.000 m2 (lima ribu meter persegi), kecuali objek kegiatan PRONA yang berlokasi wilayah Kabupaten/ Kota Kantor Pertanahan tipe A sampai dengan luas 1.000 m2 (seribu meter persegi); dan

(2) Tanah pertanian dengan luas sampai dengan 5 ha (lima hektar).

(3) Luas tanah yang dapat ditetapkan sebagai objek adalah luas tanah hasil pengukuran kadasteral.

f. Kesinambungan IP4-Kegiatan PRONA

Hasil Program Inventarisasi Pengaturan, Pemilikan, Penggunaan dan Pemanfaatan Tanah (IP4T) antara lain adalah data-data pemilik commit to user

(26)

tanah (subjek), penggunaan dan pemanfaatan tanah kepemilikan tanah (subjek), Peta Bidang Tanah/ Peta Dasar Pendaftaran dan Gambar Ukur pengukuran bidang tanah (objek). Data-data subjek dan objek Kegiatan Program IP4T dapat langsung dimanfaatkan/ dipergunakan untuk mempercepat kegiatan legasisasi asset pertanahan baik yang dibiayai oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) maupun Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Guna kesinambungan kegiatan PRONA-IP4T dan mempercepat pelaksanaan kegiatan PRONA, maka kepada Kepala Kantor Wilayah BPN Provinsi dan Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten/ Kota serta para Koordinator Kegiatan PRONA diminta agar :

1) Penetapan lokasi diarahkan pada lokasi Program IP4T pada tahun sebelumnya;

2) Menyeleksi hasil IP4T yang bisa dilanjutkan menjadi subjek dan objek kegiatan PRONA;

3) Terhadap objek IP4T, yang pengukurannya telah dilaksanakan secara kadasteral hasilnya Peta Bidang Tanah/ Peta Dasar Pendaftaran dan Gambar Ukur dapat langsung dimanfaatkan/ dipergunakan untuk kegiatan PRONA, tidak perlu dilakukan pengukuran bidang tanah;

4) Alokasi biaya pengukuran bidang tanah dalam rangka kegiatan PRONA dapat digunakan untuk menambah jumlah output bidang sesuai dengan satuan biaya setiap bidang tanah yang ditetapkan DIPA berkenaan, namun terlebih dahulu dilakukan revisi POK. g. Biaya

Kegiatan pendaftaran tanah pertama kali melalui kegiatan PRONA dibiayai oleh Pemerintah melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) (DIPA-BPN RI), meliputi biaya kegiatan :

1) Penyuluhan;

2) Pengumpulan data (alat bukti/ alas hak); 3) Pengukuran bidang tanah; commit to user

(27)

4) Pemeriksaan tanah;

5) Penerbitan SK Hak/ Pengesahan data fisik dan data yuridis; 6) Penerbitan sertipikat;

7) Supervise dan pelaporan.

Untuk memastikan bahwa kegiatan PRONA dibiayai oleh APBN, maka Kepala Kantor Wilayah BPN Provinsi, Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten/ Kota dan para Koordinator serta para pelaksana kegiatan PRONA dilarang meminta, memungut dan/atau menerima biaya apapun dalam rangka melaksanakan pendaftaran tanah. Sedangkan biaya materai dan patok tanda batas, Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) dan Pajak Penghasilan dari Pengalihan Hak Atas Tanah dan Bangunan (PPh) bagi yang terkena ketentuan perpajakan menjadi beban kewajiban peserta program. Persyaratan yang menjadi kewajiban peserta kegiatan PRONA, tersebut yaitu antara lain :

1) Menyediakan/ menyiapkan alas hak/ alat bukti perolehan tanah yang akan dijadikan dasar pendaftaran tanah sesuai ketentuan yang berlaku;

2) Menunjukkan letak dan batas-batas tanah yang dimohon; 3) Memasang patok tanda batas tanah;

4) Menyerahkan bukti setor bagi peserta yang terkena ketentuan tersebut.

Pengenaan BPHTB bagi golongan masyarakat ekonomi lemah sampai menengah dalam kegiatan PRONA yang dilakukan secara massal, dapat mengajukan pengurangan pengenaan BPHTB yang diajukan secara kolektif oleh wagra masyarakat melalui Kepala Desa kepada Bupati/ Walikota dengan melampirkan surat keterangan tidak mampu yang dikeluarkan oleh Kepala Desa/ Kelurahan sesuai dengan ketentuan (BPN-RI Petunjuk Teknis Kegiatan Prona, 2013 : 5-10).

Berdasarkan Surat Keputusan Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi Jawa Tengah Nomor 0098/8-commit to user

(28)

33.300/I/2013 tanggal 07 Januari 2013 tentang Penetapan Lokasi Kegiatan Prona Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi Jawa Tengah Tahun Anggaran 2013 dan Surat Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi Jawa Tengah Tanggal 17 Januari 2013 Nomor 0259/17-500.33/I/2013 perihal Penunjukan Lokasi Kegiatan Sertipikat Hak Atas Tanah Lintas Sektoral dan Pasca Bencana Merapi Tahun Anggaran 2013, bahwa Kabupaten Boyolali mendapatkan alokasi kegiatan Program PRONA sebanyak 4.000 bidang dan Sertipikasi Pasca Bencana Merapi sebanyak 2.300 bidang. Berkaitan dengan pelaksana kegiatan program dimaksud, bersama dengan ini kami sampaikan hal-hal sebagai berikut:

1) Penetapan Hak/ Penerbitan Sertipikat

Seluruh biaya yang terkait dengan pelaksanaan sertipikasi PRONA dan Pasca Bencana Merapi yang dibebankan kepada APBN ditetapkan oleh Pemerintah dalam rangka Penetapan Hak Atas Tanah dikenakan biaya sebesar Rp 0,- (nol rupiah), kecuali pelunasan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) dan Pajak Penghasilan dari Pengalihan Tanah dan/atau Bangunan (PPh) bagi peserta yang terkena ketentuan tersebut.

2) Uang Pemasukan dalam rangka Penetapan Hak Atas Tanah

Peserta Program Sertipikasi PRONA dan Pasca Bencana Merapi tidak dibebani kewajiban pembayaran semua biaya pelayanan pertanahan sebagai dimaksud dalam Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 2010 tentang Jenis dan Tarif atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang berlaku pada Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia. Biaya tersebut seluruhnya dibebankan pada Pemerintah melalui APBN tahun berjalan.

3) Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB)

Bea Perolehan hak atas tanah dan/ atau bangunan (BPHTB) dikenakan sesuai ketantuan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Restribusi Daerah dan Peraturan commit to user

(29)

Daerah Kabupaten Boyolali Nomor 2 Tahun 2011 tentang Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan/ atau Bangunan (BPHTB) bagi peserta yang terkena ketentuan tersebut.

4) Pajak Penghasilan dari Pengalihan Tanah dan/ atau Bangunan (PPh)

Pajak Penghasilan dari Pengalihan hak atas tanah dan/ atau bangunan agar berpedoman pada Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan dan Petaruran Direktur Jenderal Pajak Nomor Per.26/PJ/2010 tentang Tata Cara Penelitian Surat Setoran Pajak atas Penghasilan dari Pengalihan Hak Atas Tanah dan/ atau Bangunan, serta Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor 30/PJ/2009 tentang Tata Cara Pengecualian dari Kewajiban Pembayaran atau Pemungutan Pajak Penghasilan atas Penghasilan dari Pengalihan Hak Atas Tanah dan/ atau Bangunan.

5) Biaya yang timbul dalam rangka Pra sertipikasi

Biaya yang timbul dalam rangka pelaksanaan Program Sertipikasi PRONA dan Pasca Bencana Merapi yang ditetapkan atau dipungut oleh Kepanitiaan Desa dalam rangka Pra sertipikasi/ persiapan pelaksanaan kegiatan bukan merupakan tanggung jawab dari Kantor Pertanahan Kabupaten Boyolali (Surat Kantor Pertanahan Kabupaten Boyolali perihal Pemberitahuan Kegiatan Program PRONA dan Sertipikasi Pasca Bencana Merapi Tahun Anggaran 2013).

h. Jadwal Pelaksanaan Kegiatan

Untuk dapat memenuhi target penyelesaian yang tepat waktu, maka perlu disusun perencanaan jadwal pelaksanaan kegiatan PRONA dan sub kegiatan yang terinci dengan mempedomani pada Standar Prosedur Kegiatan PRONA yang terlampir dalam Petunjuk

(30)

Operasional Kegiatan PRONA, yang meliputi tahapan-tahapan sebagai berikut :

1) Penyerahan DIPA; 2) Penetapan lokasi; 3) Penyuluhan;

4) Pengumpulan data (alat bukti/ alas hak); 5) Pengukuran bidang tanah;

6) Pemeriksaan tanah; 7) Pengumuman;

8) Penerbitan SK Hak/ Pengesahan data fisik dan data yuridis; 9) Penerbitan Sertipikat;

10) Supervise dan pelaporan/ Penyerahan Sertipikat. i. Pembinaan, Pengolahan Data dan Pelaporan

Pembinaan, monitoring, evaluasi kegiatan PRONA dan pendataan serta pelaporan kegiatan secara berjenjang dengan melibatkan Koordinator Kantor Wilayah BPN Provinsi dan Koordinator Kantor Pertanahan Kabupaten/ Kota, maka dibentuk Tim Koordinator Kegiatan PRONA BPN RI dengan Surat Keputusan Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia, Tim Koordinator Kegiatan PRONA Kantor Wilayah BPN Provinsi dengan Surat Keputusan Kepala Kantor Wilayah BPN Provinsi dan Tim Koordinator Kegiatan PRONA Kantor Pertanahan Kabupaten/ Kota dengan susunan, tugas dan keanggotaan.

Semua data dalam rangka Kegiatan PRONA diolah secara digital sesuai dengan standar aplikasi yang ditetapkan oleh Badan Pertanahan Nasional RI, yaitu :

1) Data fisik dan data yuridis di entri pada aplikasi Komputerisasi Kantor Pertanahan (KKP);

2) Melakukan integrasi data spasial (peta bidang tanah) dengan data tekstual (buku tanah dan surat ukur) pada aplikasi Geo-KKP;

(31)

3) Melakukan rekonsiliasi data keuangan pada aplikasi Sistem Akuntasi Instansi (SAI);

4) Melakukan rekonsiliasi data asset pada aplikasi SIMAK BMN; 5) Melakukan entri data target fisik dan keuangan pada aplikasi

SKMPP;

6) Melakukan secara rutin (mingguan) rekonsiliasi data anggaran/ target mencakup realisasi fisik serta keuangan untuk diperolehnya data laporan SKMPP yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan (BPN RI Petunjuk Teknis Kegiatan Prona, 2013 : 10-11).

Sebagaimana yang telah diuraikan dalam Petunjuk Teknis Kegiatan PRONA, adapun alur proses pendaftaran tanah melalui PRONA di Kantor Pertanahan Kabupaten Boyolali, yaitu :

BPN Pusat Kanwil BPN Kantor Pertanahan Kabupaten Boyolali Kantor Kelurahan Masyarakat/ Pemohon Kantor Pertanahan Kabupaten Boyolali Kantor Pertanahan Kabupaten Boyolali memberikan penyuluhan

kepada masyarakat dan mengidentifikasi para

peserta PRONA Penelitian berkas oleh

Kantor Pertanahan Kabupaten Boyolali

Proses Sertipikasi Sertipikasi

(32)

Gambar 2: Alur Skema Proses Pendaftaran Tanah melalui PRONA Penjelasan :

BPN Pusat membuat dan mengeluarkan Surat Keputusan mengenai anggaran untuk PRONA dan menentukan jenis pekerjaan proyek yang didalamnya memuat tentang jumlah target fisik dan total anggaran untuk biaya PRONA. Anggaran tersebut bersumber dari APBN. Kantor Wilayah BPN Provinsi bertugas menerima wewenang dari BPN Pusat sebagai koordinator dan mengawasi jalannya proyek di setiap Kabupaten serta berhak menerima laporan tentang status kegiatan PRONA selama 4 bulan berturut-turut. Kantor Pertanahan Kabupaten menerima Surat Keputusan mengenai jumlah anggaran dan jumlah target fisik untuk pelaksanaan PRONA di Kabupaten tersebut. Kantor Kelurahan setelah menerima surat pengumuman tentang program PRONA, langsung memberikan pengumuman kepada semua masyarakat yang berada di wilayah tersebut untuk ikut dalam pendaftaran tanah pertama kali. Masyarakat/ pemohon mengajukan permohonan ke Kantor Pertanahan Kabupaten melalui Kantor Kelurahan setempat untuk dapat menjadi peserta PRONA.

Pihak Kantor Pertanahan setempat melakukan survey apakah kelurahan tersebut layak untuk diadakan PRONA atau pensertipikatan massal. Selanjutnya dari Kantor Pertanahan Kabupaten memeriksa data-data tersebut dan jika sudah layak atau perlu diadakannya PRONA, maka Kantor Pertanahan Kabupaten mengeluarkan Keputusan mengenai target fisik serta lokasi kegiatan. Kemudian Kantor Pertanahan Kabupaten melakukan pembentukan Tim Pelaksana. Kantor Pertanahan melakukan

Surat Keputusan Kepala Kantor Pertanahan dalam menetukan lokasi proyek dan penetapan nama-nama peserta

PRONA Kantor Pertanahan Kabupaten Boyolali membentuk Tim Pelaksana Proyek PRONA commit to user

(33)

penyuluhan kepada masyarakat setempat yang kelurahannya terpilih menjadi tempat dilaksanakannya proyek PRONA. Kantor Pertanahan melakukan penelitian atas berkas-berkas yang diterima dari masyarakat yang akan mengikuti PRONA. Setelah dilakukan penelitian atas berkas-berkas, maka Kantor Pertanahan mendaftar dan mendata para peserta PRONA. Kemudian dilakukan pengukuran. Setelah selesai, Kantor Pertanahan mengeluarkan pengumuman yang isinya nama pemilik, bentuk bidang tanah, batas-batas kepemilikan dengan alamat. Sebelum diterbitkannya sertipikat oleh bidang tugas pendaftaran tanah, terlebih dahulu harus diteliti dengan seksama apakah ada atau tidak pelanggaran terhadap ketentuan-ketentuan mengenai Tata Guna Tanah maupun Pengurusan Hak Tanah. Jika pengumuman tersebut tidak ada komplain atau kesalahan, maka Kantor Pertanahan akan menerbitkan Sertipikat.

Pelaksanaan Program PRONA telah dilakukan di berbagai desa dan kecamatan yang ada di Kabupaten Boyolali. Berikut data Program PRONA di Kabupaten Boyolali pada tahun 2011-2013, yaitu :

Tabel 3. Penetapan Lokasi Desa/ Kelurahan Program Prona Kantor Pertanahan Kabupaten Boyolali Tahun Anggaran 2011 sampai 2013

No. Tahun Kecamatan Desa Jumlah Bidang

1. 2011 8 Kecamatan 30 Desa 10.000 bidang 2. 2012 10 Kecamatan 37 Desa 10.000 bidang 3. 2013 8 Kecamatan 17 Desa 4.000 bidang Sumber : data di Kantor Pertanahan Kabupaten Boyolali dengan rincian terlampir

Berdasarkan data Program PRONA diatas, maka dapat di tarik kesimpulan bahwa pelaksanaan Program PRONA khususnya di Kabupaten Boyolali mengalami peningkatan dalam status kepemilikan tanah oleh warga masyarakat Boyolali. Hal ini juga dipertegas dengan pernyataan Bapak Moch. Herdiyanto, S.H. selaku Kepala Seksi Pengendalian dan Pemberdayaan bahwa dalam setiap tahun anggaran, program PRONA di Kabupaten Boyolali selalu sesuai dengan target yang diberikan. Untuk itu commit to user

(34)

beliau juga menegaskan bahwa untuk tahun 2014, Kantor Pertanahan Boyolali siap menerima Program PRONA ini.

2. Redistribusi Tanah

Program redistribusi tanah dalam pelaksanaan landreform mempunyai arti pokok yang berbuhungan dengan suatu perubahan yang disengaja dalam sistem land tenure (penguasaan dan pemilikan tanah) yaitu penyusunan kembali sistem land tenure, pengawasan hak-hak atas tanah dan lain-lain yang berhubungan dengan tanah. Redistribusi tanah dilatarbelakangi oleh keadaan dimana terdapat sebagian besar tanah pertanian yang luas dimiliki oleh beberapa orang saja. Di lain pihak adanya bagian-bagian tanah pertanian yang kecil (tidak luas) yang dimiliki oleh sebagian besar rakyat, khususnya para petani yang sangat menggantungkan kehidupannya dari usaha pertanian yang dikelolanya dan dengan sungguh-sungguh memanfaatkannya. Hal tersebut seperti yang dikemukakan Russel King :

“Redistribusi tanah pada dasarnya merupakan pengambilalihan sebagian atau seluruh tanah dan pembagian kembali kepada petani-petani yang telah memiliki tanah atau petani yang mempunyai tanah yang sangat sempit, biasanya diberikan dalam bentuk ladang-ladang kecil yang dimiliki secara pribadi tetapi ada kalanya seperti Ejido di Mexico, diberikan dalam bentuk kepunyaan bersama (Arie Sukanti Hutagalung, 1985: 25)”.

Redistribusi tanah adalah pembagian tanah-tanah yang dikuasai oleh negara dan telah ditegaskan menjadi objek landreform yang diberikan kepada petani penggarap yang telah memenuhi syarat ketentuan Peraturan Pemerintah Nomor 224 Tahun 1961 yang bertujuan untuk perbaikan keadaan sosial ekonomi rakyat dengan cara mengadakan pembagian tanah yang adil dan merata atas sumber penghidupan rakyat tani berupa tanah, sehingga dengan pembagian tersebut dapat dicapai pembagian hasil yang adil dan merata.

Hal yang berbeda terjadi di negara-negara berkembang yang mana tidak dapat meningkatkan produksi di bidang pertanian karena tidak dapat commit to user

(35)

terwujud hubungan antara pendaftaran tanah dengan sektor pertanian, meskipun oleh para peneliti telah melihat terdapat hubungan antara pendaftaran tanah dengan sektor pertanian (Daniel Domeher, 2012:v). Padahal di Indonesia, secara tidak langsung redistribusi tanah dapat mengakibatkan terjadinya suatu peningkatan produksi di bidang pertanian secara tetap dan terus-menerus, dengan cara mengakhiri sistem penguasaan tanah secara tidak terbatas dan besar-besaran oleh beberapa orang yang tidak mengerjakan tanahnya secara insentif atau bahkan menelantarkan tanahnya serta mempekerjakan buruh tani secara kurang wajar. Tujuan dari pelaksanaan redistribusi tanah di Indonesia adalah untuk lebih meningkatkan penghasilan dan taraf hidup petani sebagai landasan atau prasyarat untuk menyelenggarakan pembangunan ekonomi menuju masyarakat adil dan makmur.

Berdasarkan Buku Petunjuk Pelaksanaan Kegiatan Redistribusi Tanah Objek Landreform yang dibuat oleh Direktorat Landreform Deputi Bidang Pengaturan dan Penataan Pertanahan, tanah-tanah yang dialokasikan untuk kegiatan redistribusi tanah objek landreform, meliputi: a. Tanah objek landreform yang belum pernah diredistribusi, meliputi :

1) Tanah-tanah yang terkena ketentuan land reform yang berasal dari kelebihan maksimum, absentee dan bekas swapraja;

2) Tanah-tanah yang telah ditegaskan menjadi objek landreform. b. Tanah objek landreform yang telah diredistribusi, namun penerima

manfaatnya tidak memenuhi kewajibannya sebagai penerima redistribusi dan Surat Keputusan (SK) redistribusinya telah berusia 15 tahun, sebagaimana diatur dalam Keputusan Menteri Agraria/ Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 11 Tahun 1997 tentang Penertiban Tanah-tanah Objek Redistribusi Landreform.

c. Tanah-tanah yang dikuasai langsung oleh negara yang akan ditegaskan oleh Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia yaitu : 1) Menurut Keputusan Menteri Pertanian dan Agraria Nomor

(36)

Dibagikan Dalam Rangka Pelaksanaan Landreform sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 huruf d Peraturan Pemerintah Nomor 224 Tahun 1961 tentang Pelaksanaan Pembagian Tanah dan Pemberian Ganti Kerugian :

a) Bagian-bagian dari tanah partikelir/ eigendom yang terkena Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1958:

(1) Yang merupakan tanah pertanian;

(2) Yang tidak diberikan kembali bekas pemilik sebagai ganti rugi; dan

(3) Yang tidak dapat diberikan dengan Hak Milik berdasarkan Pasal 5 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1958.

b) Tanah bekas hak erfpacht/ Hak Guna Usaha (HGU): (1) Yang merupakan tanah pertanian;

(2) Yang sekarang sudah dikuasai langsung oleh negara. 2) Menurut Keputusan Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 25

Tahun 2002 tentang Pedoman Pelaksanaan Permohonan Penegasan Tanah Negara Menjadi Objek Pengaturan Penguasaan Tanah/ Landreform :

a) Tanah Negara bebas; b) Tanah bekas erfpacht;

c) Tanah bekas HGU yang telah berakhir jangka waktunya dan tidak diperpanjang oleh pemegang hak atau telah dicabut/ dibatalkan oleh pemerintah;

d) Tanah kehutanan yang telah digarap/ dikerjakan oleh rakyat dan telah dilepaskan haknya oleh instansi yang bersangkutan; e) Tanah bekas gogolan; tanah bekas hak adat/ ulayat.

d. Tanah di lokasi hasil kegiatan Inventarisasi Penguasaan, Pemilikan, Penggunaan dan Pemanfaatan Tanah (IP4T), yang berpotensi untuk ditindaklanjuti dalam redistribusi tanah (http://redistribusitanah .blogspot.com/).

(37)

Program redistribusi tanah telah dilaksanakan diberbagai daerah di Indonesia termasuk di Kabupaten Boyolali. Dari uraian diatas dapat diketahui bahwa redistribusi tanah pada hakekatnya adalah untuk memberikan akses kepemilikan tanah bagi para petani dalam rangka meningkatkan taraf hidupnya. Berdasarkan hasil konsultasi dengan Bapak Sudarsono, selaku Kepala Sub Seksi Landreform dan Konsolidasi Tanah Kantor Pertanahan Kabupaten Boyolali pada tanggal 20 Agustus 2013, pelaksanaan program redistribusi diadakan di daerah-daerah tertentu di Kabupaten Boyolali karena program ini hanya ditujukan bagi petani. Pelaksanaan program redistribusi di Kabupaten Boyolali bukan program redistribusi tetapi Program Re-redistribusi. Re-redistribusi tanah yaitu tanah-tanah yang sudah dilakukan redistribusi tanah tetapi penerima manfaatnya tidak memenuhi kewajiban sebagai penerima redistribusi atau belum melakukan pendaftaran tanah sehingga tanah tersebut kembali menjadi tanah negara. Berikut program redistribusi tanah di Kabupaten Boyolali, yaitu :

Tabel 4 : Data Rekapitulasi Program Redistribusi Tanah Kabupaten Boyolali Tahun 2011-2013

No. Tahun Kecamatan Desa Jumlah Bidang 1. 2011 6 Kecamatan 7 Desa 825 bidang 2. 2012 5 Kecamatan 7 Desa 501 bidang 3. 2013 1 Kecamatan 1 Desa 100 bidang

Sumber : data di Kantor Pertanahan Kabupaten Boyolali dengan rincian terlampir

3. Layanan Rakyat Sertipikasi Tanah (LARASITA)

Berdasarkan Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2009 tentang Layanan Rakyat Sertipikasi Tanah (LARASITA), maka secara resmi LARASITA diterapkan di seluruh Kantor Pertanahan Kabupaten/ Kota. Larasita merupakan sebuah program baru/ suatu inovasi dalam pelaksanaan pendaftaran tanah yang proses pelaksanaannya diselenggarakan dengan commit to user

(38)

menggunakan teknologi informasi. Fokus dari program ini adalah memberikan kepastian hukum dalam proses serta memudahkan bagi masyarakat yang hendak melakukan sertipikasi tanah, sekaligus memotong mata rantai pengurusan sertipikat tanah dan meminimalisir biaya pengurusan.

Pengembangan LARASITA berangkat dari kehendak dan motivasi untuk mendekatkan pelayanan BPN-RI dengan masyarakat. Sekaligus merubah paradigma pelaksanaan tugas pokok dan fungsi BPN-RI dalam hal pendaftaran tanah, dari menunggu/ pasif menjadi aktif, dengan kata lain dari menunggu bola menjadi menjemput bola yaitu mendatangi masyarakat secara langsung. Larasita ditujukan untuk penyempurnaan dari cara pendaftaran tanah secara sporadik dan asas-asas pendaftaran tanah yang ada dalam Pasal 2 Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997, yaitu pendaftaran tanah dilaksanakan berdasarkan asas sederhana, aman, terjangkau, mutakhir, dan terbuka.

Berdasarkan hasil konsultasi dengan Bapak Pardjo Wijono, selaku Kepala Seksi Hak Tanah dan Pendaftaran Tanah Kantor Pertanahan Kabupaten Boyolali pada tanggal 14 Agustus 2013, jadwal pelaksanaan LARASITA di Kantor Pertanahan Kabupaten Boyolali tidak sesuai dengan apa yang seharusnya dilakukan. Seharusnya, jadwal LARASITA dilaksanakan setiap hari dalam 5 hari kerja. Namun, praktek pelaksanaan program LARASITA di Kantor Pertanahan Boyolali hanya dilaksanakan satu atau dua kali dalam seminggu jika ada permohonan langsung dari masyarakat. Pelaksanaannya itupun, bukan mengenai pendaftaran tanah guna memperoleh sertipikat tanah tetapi lebih kepada permohonan biasa. Salah satu contoh kegiatan LARASITA di Kabupaten Boyolali yaitu pengecekan sertipikat. Terkadang, apabila Tim LARASITA datang ke daerah tertentu di Boyolali, partisipasi masyarakat sangat minim yaitu mereka hanya sebatas menanyakan saja syarat-syarat pendaftaran tanah, tidak diikuti pengajuan permohonan pendaftaran tanah. Kendala lain dalam Program LARASITA yaitu buruknya sistem informasi yang commit to user

(39)

menghubungkan mobile office dengan Kantor Pertanahan Kabupaten Boyolali yang mana sering terjadi gangguan koneksi ataupun diperangkan komputerisasi LARASITA.

Gambar

Gambar 1 : Bagan Alur Proses Konvensi, Pengakuan dan Penegasan Hak  dalam  Lampiran  III  Peraturan  Kepala  Badan  Pertanahan  Nasional  Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2010 tentang Standar Pelayanan Dan  Pengaturan Pertanahan
Tabel 2 : Program Sertipikasi Tanah Pasca Bencana Merapi di Kabupaten  Boyolali Tahun Anggaran 2013
Gambar 2: Alur Skema Proses Pendaftaran Tanah melalui PRONA  Penjelasan :
Tabel 3. Penetapan Lokasi Desa/ Kelurahan Program Prona Kantor  Pertanahan Kabupaten Boyolali Tahun Anggaran 2011 sampai 2013
+2

Referensi

Dokumen terkait

adalah satuan biaya berupa harga satuan, tarif, dan indeks yang digunakan untuk menyusun biaya komponen masukan kegiatan;.. Standar Biaya

Berdasarkan analisa yang dilakukan, distribusi spasial kawasan terhadap rekonstruksi Kerajaan Mataram Islam di Pleret dapat dilihat dengan menggunakan pendekatan sistem

Sedangkan untuk kelas kontrol yang tidak diajar dengan bantuan Lembar Kerja Siswa pembelajarannya lebih bersifat monoton karena dalam proses pembelajaran

Marilah kemari kepada kalimat yang sama di antara kami dan kalian, yaitu janganlah kita menyembah melainkan kepada Allah, dan janganlah kita menyekutukan sesuatu

Pelecehan seksual merupakan perilaku atau tindakan yang menganggu melecehkan yang dilakukan oleh seseorang atau kelompok orang terhadap pihak lain yang

Lebih jauh akan membuat kinerja guru akan menurun karena merasa tidak mungkin lagi untuk berkarir (Mayang Risqi Putriani, Sri Wahyuni, 2016).. Gugus III Kecamatan

Mesin ini dirancang menggunakan sistem pemakanan tiga pisau yang dipasang sejajar dan diletakkan di rumah pisau dengan cara dibaut sehingga mudah dalam pemasangan apabila

4. Mengenai pelaksanaan komunikasi dalam bauran pemasaran yang terdiri beberapa aspek, yang pertama adalah Product. Jasa yang ditawarkan PT Grahawita Santika