• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan daerah tumbukan tiga lempeng tektonik besar, yaitu

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan daerah tumbukan tiga lempeng tektonik besar, yaitu"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Indonesia merupakan daerah tumbukan tiga lempeng tektonik besar, yaitu Lempeng Australia, Eurasia, dan Pasifik. Lempeng Eurasia dan Hindia-Australia bertumbukan di lepas pantai barat Pulau Sumatera, lepas pantai selatan Pulau Jawa, lepas pantai selatan Kepulauan Nusa Tenggara, dan berbelok ke arah utara ke Perairan Maluku sebelah selatan. Antara Lempeng Hindia-Australia dan Pasifik terjadi tumbukan di sekitar Pulau Papua. Di sekitar lokasi tumbukan lempeng tektonik tersebut terakumulasi energi elektromagnetik sampai pada suatu saat ketika lapisan Bumi tidak lagi sanggup menahan tumpukan energi sehingga lepas berupa gempabumi. Selanjutnya jika gempabumi terjadi di bawah laut dan ada dislokasi vertikal di dasar laut, maka akan mengakibatkan tsunami (Sunarto, 2010).

Zona subduksi dilepas pantai selatan Pulau Jawa merupakan wilayah yang berpotensi terjadi gempa-gempa besar yang dapat menyebabkan terjadinya tsunami. Gempa-gempa tersebut merupakan dampak dari pergerakan Lempeng Hindia-Australia yang relatif bergerak ke utara dengan kecepatan sekitar 70 mm / tahun menunjam ke bawah Lempeng Eurasia yang relatif diam (Hadi, 2012). Dalam kurun waktu 17 tahun telah terjadi dua kali tsunami yang cukup besar di Selatan Jawa, yaitu tsunami Banyuwangi 1994 dengan kekuatan gempa 7,8 SR ketinggian gelombang 13,9 meter dan tsunami Pangandaran 2006 dengan

(2)

2

kekuatan gempa 7,7 SR ketinggian gelombang 10 meter. Berdasarkan simulasi BNPB, wilayah ini memiliki potensi untuk terlanda tsunami dengan momen magnitude 7,5–8,0 SR mempunyai tinggi maksimum tsunami antara 5–15 meter dan waktu tiba sekitar 30–45 menit serta periode ulang antara 120–150 tahunan. Untuk kondisi ekstrem lokasi dapat dilanda tsunami dengan tinggi 25 meter kekuatan gempabumi 8,5 SR dengan periode ulang 250 tahun (BNPB, 2012).

Oleh karena itu, bahaya geologis berupa gempabumi dan tsunami menjadi salah satu ancaman bencana yang nyata di pesisir pantai selatan Jawa salah satunya di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kejadian bencana ini tidak terlalu sering terjadi dibandingkan dengan bencana hidrometeorologis. Akan tetapi, dampak yang ditimbulkannya sangat merusak dan menimbulkan korban jiwa yang banyak. Korban dan kerusakan yang timbul pada umumnya disebabkan karena kurangnya kesiapsiagaan dalam menghadapi bahaya. Kurangnya kemampuan dalam mengantisipasi bencana salah satunya terlihat dari belum optimalnya perencanaan tata ruang dan perencanaan pembangunan yang kurang memperhatikan risiko bencana. Minimnya fasilitas jalur dan tempat evakuasi warga juga merupakan contoh lain kurangnya kemampuan dalam menghadapi bencana.

Jaringan jalan memiliki fungsi sebagai katalisator dalam pertumbuhan dan perkembangan di suatu wilayah. Jaringan jalan secara fisik mendukung dan mempermudah kegiatan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya baik sosial maupun ekonomi. Jaringan jalan akan berkembang mengikuti perubahan kebutuhan sosial ekonomi manusia tersebut (Munawar, 2007). Terjadinya bencana

(3)

3

alam di suatu daerah mengharuskan adanya jaringan jalan khusus yang dikembangkan sebagai upaya mitigasi dalam menghadapi potensi bencana yang terdapat di daerah tersebut. Pengembangan jaringan jalan sebagai upaya mitigasi bencana dapat berupa penataan jaringan jalan yang memungkinkan pergerakan efisien, lancar, aman, teratur dan menuju ke tempat evakuasi yang dianggap aman dari bencana. Dengan demikian, korban jiwa dan kerugian materi yang diakibatkan oleh bencana dapat diminimalkan.

Karakter pesisir Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta cenderung landai, datar dan sebagian sedikit berbukit terutama di sepanjang pesisir pantai dengan elevasi ketinggian rata-rata 2-8 meter di atas permukaan laut. Beberapa daerah ditemukan mempunyai elevasi curam, akibat kuatnya arus air laut selatan Yogyakarta. Pada 17 Juli 2006 gempa tektonik berkekuatan 7,7 Skala Richter yang terjadi di selatan Pantai Pangandaran Jawa Barat menghasilkan gelombang tsunami. Kawasan Pesisir Pantai Kabupaten Bantul terkena dampak tsunami dengan run-up ketinggian 3,4 meter dan terjadi kurang dari satu menit (Mardiyanto et al., 2013). Sebagian besar daerah tidak terbangun dan beberapa daerah yang terletak di bagian elevasi paling rendah tergenang tsunami karena gelombang tsunami dapat mencapai langsung dan bukit pasir yang memiliki peran penting sebagai penghalang alami dan bertindak sebagai pemutus air telah berkurang (Santosa et al., 2010).

Di wilayah Kabupaten Bantul yang rawan akan bencana tsunami, terdapat rencana pembangunan Jalan Jalur Lintas Selatan (JJLS) memanjang dari barat ke timur sejajar dengan garis pantai Samudra Hindia di Daerah Istimewa

(4)

4

Yogyakarta. JJLS direncanakan akan melewati Kabupaten Bantul sepanjang 21 km. Pembangunan JLSS dilatarbelakangi oleh kondisi jalan lingkar selatan yang sudah tidak feasible lagi untuk digunakan mengingat ruas jalan yang ada sudah tidak sebanding dengan volume kendaraan yang melintas tiap harinya serta ketimpangan pertumbuhan wilayah di Daerah Istimewa Yogyakarta. Kecenderungan perkembangan Daerah Istimewa Yogyakarta ke arah utara dan timur laut, sedangkan perkembangan ke arah selatan relatif sedikit. Kesenjangan ini terjadi karena kawasan selatan memiliki keterbatasan aksesibilitas, minimnya dukungan prasarana dan sarana seperti jaringan jalan, telekomunikasi, listrik, serta belum memadainya sumber daya manusia di samping karena keadaan topografis dan geografis di wilayah pesisir Selatan Jawa yang mengakibatkan rendahnya perkembangan tingkat perekonomian di pesisir selatan. Diharapkan dengan adanya pembangunan jalan dapat memperlancar akses masyarakat guna menciptakan kesejahtaraan serta meningkatkan pemerataan pembangunan (Listyawati, 2011).

Pola jaringan jalan yang sejajar dengan pantai menyulitkan evakuasi bencana tsunami karena sejauh apapun usaha penduduk berjalan untuk menyelamatkan diri, mereka tidak semakin menjauhi pantai. Selain itu saat terjadi bencana, terdapat titik-titik kemacetan lalulintas karena volume jalan melebihi kapasitasnya. Kelebihan kapasitas ini diakibatkan seluruh masyarakat bergerak bersamaan secara tidak teratur dari tempatnya berada menuju lokasi yang dianggap lebih aman pada saat terjadi tsunami. Pada JJLS yang merupakan jalan nasional dengan status jalan kolektor primer (RTRW Kabupaten Bantul

(5)

2010-5

2030) akan dilewati kendaraan besar jarak jauh seperti bus dan truk. Saat terjadi bencana tsunami, kendaraan besar tersebut tidak dapat langsung menjauhi pesisir melewati jalan desa atau jalan lingkungan yang tegak lurus dengan JJLS karena lebar dan kondisi jalan tidak memenuhi. Oleh karena itu, JJLS perlu dilengkapi dengan jalan koridor yang memiliki lebar serta kondisi jalan yang memenuhi untuk dilewati kendaraan besar jarak jauh seperti bus dan truk untuk mempermudah pergerakan pengguna jalan JJLS pada saat bencana tsunami. Dengan adanya jalan koridor tersebut maka pergerakan akan menjadi divergen atau menyebar sehingga mengurangi titik-titik kemacetan dan semakin sedikit waktu yang diperlukan untuk upaya evakuasi.

Jaringan jalan yang baik pada wilayah yang rawan bencana tsunami harus mampu mengkomodasi upaya mitigasi untuk meminimalkan korban jiwa dan kerugian bila terjadi bencana tsunami. Salah satu upaya mitigasi tersebut berupa pengembangan jaringan jalan yang sudah ada agar dapat digunakan saat evakuasi bila terjadi bencana tsunami. Menyadari pentingnya hal tersebut, penelitian ini mencoba melakukan evaluasi jaringan jalan evakuasi dari bencana tsunami di sekitar Jalan Jalur Lintas Selatan di Kabupaten Bantul.

1.2 Permasalahan Penelitian

Karakter pesisir dari Kabupaten Bantul cenderung landai, datar dan sebagian sedikit berbukit terutama di sepanjang pesisir pantai dengan elevasi ketinggian rata-rata 2-8 meter di atas permukaan laut. Kondisi topografi tersebut menyebabkan kawasan tersebut menjadi sangat rentan terhadap ancaman tsunami.

(6)

6

Terdapat rencana pembangunan JJLS di kawasan pesisir Kabupaten Bantul yang sejajar garis pantai. Pola jaringan jalan tersebut akan menyulitkan evakuasi karena sejauh apapun usaha pengguna jalan menyelamatkan diri dari tsunami, mereka tidak semakin menjauhi pantai. JJLS yang merupakan jalan nasional dengan status jalan kolektor primer akan dilewati kendaraan besar jarak jauh seperti bus dan truk. Saat terjadi bencana tsunami, kendaraan besar tersebut tidak dapat langsung menjauhi pesisir melewati jalan desa atau jalan lingkungan yang tegak lurus dengan JJLS karena lebar dan kondisi jalan tidak memenuhi.

Dengan demikian rumusan permasalahan utama dalam penelitian ini adalah Jalan Jalur Lintas Selatan Kabupaten Bantul belum mendukung upaya mitigasi bencana tsunami. Dari rumusan masalah tersebut pertanyaan penelitian (research

question) adalah bagaimana perencanaan jaringan jalan berdasarkan mitigasi

bencana tsunami di sekitar Jalan Jalur Lintas Selatan Kabupaten Bantul?

1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian 1.3.1 Maksud Penelitian

Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah yang telah diuraikan di atas maka penelitian ini memiliki maksud mengevaluasi jaringan jalan di sekitar (JJLS) Kabupaten Bantul sebagai salah satu upaya mitigasi bencana tsunami untuk meminimalkan korban jiwa dan kerugian materi.

1.3.2 Tujuan Penelitian

1. Mengidentifikasi Jalan Jalur Lintas Selatan dan jaringan jalan eksisting di sekitar Jalan Jalur Lintas Selatan Kabupaten Bantul.

(7)

7

2. Membuat simulasi model pengembangan Jalan Jalur Lintas Selatan Kabupaten Bantul yang dapat mendukung upaya mitigasi bencana tsunami dengan menggunakan NetWork Analyst ArcView GIS.

3. Memilih skenario terbaik dan merumuskan kebutuhan pengembangan Jalan Jalur Lintas Selatan Kabupaten Bantul yang dapat mendukung upaya mitigasi bencana tsunami.

Kerangka pikir dalam penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 1.1

1.4 Manfaat Penelitian

Hasil penelitian dengan judul Perencanaan Jaringan Jalan sebagai Salah Satu Upaya Mitigasi Bencana Tsunami di (JJLS) Kabupaten Bantul diharapkan memiliki manfaat sebagai berikut.

1. Pemahaman kepada masyarakat mengenai peran jaringan jalan sebagai jalur evakuasi saat terjadi bencana alam dapat meminimalkan dampak kerugian. 2. Pengembangan ilmu pengetahuan dalam hal mitigasi bencana non fisik atau

non struktural salah satunya berupa perencanaan jaringan jalan sebagai jalur evakuasi saat terjadi bencana alam.

3. Sebagai masukan kepada pemerintah untuk penyusunan perencanaan jaringan jalan kawasan pesisir yang rawan terhadap bencana tsunami di Indonesia.

4. Sebagai masukan kepada pemerintah Kabupaten Bantul dalam menyusun rencana jaringan jalan evakuasi kendaraan besar dari ancaman bencana tsunami di Jalur Jalan Lintas Selatan.

(8)

8 Gambar 1.1. Kerangka Penelitian

3. Memilih skenario terbaik dan merumuskan kebutuhan pengembangan Jalan Jalur Lintas Selatan Kabupaten Bantul yang dapat mendukung upaya mitigasi bencana tsunami.

a. Jalur evakuasi menjauhi garis pantai dan menjauhi aliran sungai. b. Jalur evakuasi tidak melintasi sungai atau jembatan.

c. Jalur evakuasi memerlukan rambu-rambu evakuasi untuk memandu pengungsi menuju tempat aman

Latar Belakang :

1. Potensi bencana tsunami di Bantul

2. Jaringan jalan sebagai salah satu upaya mitigasi bencana 3. Rencana pembangunan JJLS yang sejajar dengan garis pantai

Rumusan Masalah

Rencana Pembangunan JJLS di Kabupaten Bantul yang sejajar dengan garis pantai sehingga menyulitkan evakuasi bencana tsunami

 Identifikasi Jalan Jalur Lintas Selatan Kabupaten Bantul

 Identifikasi jaringan jalan eksisting di sekitar Jalan Jalur Lintas Selatan Kabupaten Bantul berdasarkan status, fungsi, bahan, dan kondisi jalan.

 Analisis simulasi model pengembangan Jalan Jalur Lintas Selatan Kabupaten Bantul yang mengakomodir upaya mitigasi bencana tsunami dengan menggunakan NetWork Analyst

ArcView GIS

Kesimpulan dan Rekomendasi

 Pemilihan skenario terbaik pengembangan Jalan Jalur Lintas Selatan Kabupaten Bantul yang dapat mendukung upaya mitigasi bencana tsunami.

 Perumusan kebutuhan pengembangan Jalan Jalur Lintas Selatan Kabupaten Bantul 1. Mengidentifikasi Jalan Jalur Lintas Selatan dan jaringan jalan eksisting

di sekitar Jalan Jalur Lintas Selatan Kabupaten Bantul

a. Lebar jalan b. Bahan material jalan c. Kondisi jalan d. Kecepatan perjalanan

2. Menganalisis dan simulasi model pengembangan Jalan Jalur Lintas Selatan Kabupaten Bantul yang dapat mendukung upaya mitigasi bencana tsunami dengan menggunakan NetWork Analyst ArcView GIS.

(9)

9 1.5 Keaslian Penelitian

Penelitian yang berisi tentang evaluasi jaringan jalan evakuasi dari ancaman bencana tsunami di sekitar JJLS Kabupaten Bantul belum pernah dilakukan sebelumnya. Berikut ini tujuh dari penelitian sebelumnya yang dikemukakan oleh penulis berkaitan dengan relevansi substasial yaitu tentang pemodelan jalur evakuasi bencana di daerah yang rawan bencana alam tsunami (Tabel 1.1).

Pertama yaitu penelitian yang dilakukan Dewi (2010) di Kota Cilacap yang juga merupakan daerah pesisir Pantai Selatan Jawa. Penelitian berisi tentang penentuan bangunan yang telah ada di Kota Cilacap sebagai tempat evakuasi bencana tsunami berdasarkan kriteria dalam literatur dan pemilihan rute paling efektif berdasarkan waktu tempuh perjalanan untuk evakuasi dari bencana alam tsunami menggunakan network analyst GIS kemudian merumuskan kebutuhan penambahan/pembangunan bangunan shelter untuk evakuasi penduduk.

Kedua yaitu penelitian yang dilakukan oleh Suharyanto (2012) di Kota Pacitan yang juga merupakan daerah pesisir Pantai Selatan Jawa. Penelitian berisi tentang penentuan area evakuasi yang aman dari tsunami. Dari area evakuasi yang aman tersebut kemudian akan dianalisis jalur evakuasi dan lokasi shelter sementara ataupun akhir menggunakan metode skoring. Jalur evakuasi dinilai berdasarkan lebar jalan, kondisi jalan dan jumlah orang yang akan melewatinya. Lokasi shelter dinilai berdasarkan lokasi bangunan dari jalan, jumlah lantai, kapasitas bangunan dan fungsi bangunan tersebut.

Ketiga yaitu penelitian yang dilakukan oleh Pratomo (2013) di Kota Palu. Penelitian berisi tentang risk assesment bencana tsunami berupa penentuan zona

(10)

10

bahaya tsunami, zona kerentanan tsunami, dan zona risiko bencana tsunami berdasarkan pemodelan genangan tsunami yang mungkin akan melanda di Kota Palu yang dihitung dari ketinggian gelombang di pantai menggunakan spatial

analyst GIS. Dari risk assesment tersebut kemudian disusun langkah mitigasinya

berupa penentuan dan jalur evakuasi menggunakan network analyst GIS.

Keempat yaitu penelitian yang dilakukan oleh Kim (2013) di Korea. Penelitian berisi tentang penentuan ancaman bencana tsunami di Korea diikuti oleh prediksi genangan tsunami yang akan melanda menggunakan rumus. Dari prediksi genangan tsunami tersebut kemudian menentukan jalur evakuasi dan lokasi shelter evakuasi berdasarkan kriteria dalam teori atau literatur.

Kelima yaitu penelitian yang dilakukan oleh Peroche (2014) di Martinique, Perancis. Penelitian berisi tentang pemodelan jalur evakuasi berbasis grafik aksesibilitas menggunakan aplikasi RouteFinder GIS.

Keenam yaitu penelitian yang dilakukan oleh Jorge (2014) di Talcahuano, Chili. Penelitian berisi tentang pengaruh perubahan morofologi atau bentuk kota terhadap kemampuan penduduk dalam merespon bencana tsunami. Kemampuan merespon ditunjukkan dalam kecepatan melakukan evakuasi. Waktu tempuh evakuasi dihitung menggunakan pemodelan komputer (agent based model).

Ketujuh yaitu penelitian yang dilakukan oleh Mathew (2015) di Seward, Alaska. Penelitian berisi tentang pengaruh tutupan lahan dan pemilihan jalur evakuasi terhadap waktu tempuh evakuasi. Pengaruh tersebut dihitung menggunakan pendekatan Monte Carlo.

(11)

11

Penelitian yang disusun oleh penulis pada tahun 2015 di Kabupaten Bantul berisi tentang pemilihan jalur evakuasi bencana tsunami dari titik asal sepanjang Jalan Jalur Lintas Selatan (JJLS) Kabupaten Bantul menggunakan network analyst

GIS. Kemudian dari skenario jalur evakuasi terpilih tersebut akan dikembangkan

sesuai kebutuhan yaitu apakah ruas jalan tersebut perlu dilebarkan atau diperbaiki materialnya untuk mendukung kelancaran proses evakuasi dari bencana tsunami.

(12)

12 Tabel 1.1. Penelitian Sebelumnya

No. Peneliti Judul Penelitian Tujuan Penelitian Metode Penelitian Persamaan Perbedaan

1. Ratna Sari Dewi 2010

Gadjah Mada University and Faculty of Geo-Information and Earth Observation – University of Twente

A GIS-Based Approach to the Selection of Evacuation Shelter Building dan Routes for Tsunami Risk Reduction (a Case Study of Cilacap Coastal Area, Indonesia)

Mengembangkan suatu metode pemilihan jalur evakuasi yang paling efektif menggunakan alat

GIS di daerah rawan

bencana tsunami Kabupaten Cilacap.

- Pemodelan jalur evakuasi yang meliputi aksesibilitas, jangkauan dan penambahan shelter bangunan evakuasi menggunakan GIS. - Dalam menentukan jalur evakuasi menggunakan network analyst GIS

- Lokasi penelitian di Cilacap - Merupakan pemodelan mikro

2. Agus Suharyanto et al 2012

Journal of Environmental Science, Toxicology and Food Technology

Predicting Tsunami Inundated Area and Evacuation Road Based on Local Condition Using GIS (a Case Study of Pacitan)

Mengetahui area evakuasi, jalur evakuasi dan lokasi shelter berdasarkan kondisi wilayah dan area genangan tsunami.

- Area genangan tsunami menggunakan prediksi - Analisis pemilihan jalur

evakuasi dan lokasi shelter menggunakan metode kuantitatif yaitu skoring

- Area genangan tsunami menggunakan prediksi

- Lokasi penelitian di Pacitan - Dalam menentukan rute jalur

evakuasi menggunakan skoring dari ruas jalan berupa lebar jalan, kondisi ruas jalan dan jumlah orang yang akan melintas jalan tersebut - Merupakan pemodelan mikro

3. Rahmat Aris Pratomo 2013

Jurnal Pembangunan Wilayah dan Kota

Planologi Undip Volume 9 (2) halaman 174-182

Pemodelan Tsunami dan Implikasinya Terhadap Mitigasi Bencana di Kota Palu

Mengetahui zona genangan tsunami dan implikasinya terhadap kegiatan mitigasi bencana di Kota Palu

- Pemodelan genangan tsunami menggunakan spatial analyst

tools GIS.

- Penentuan lokasi evakuasi serta rute evakuasi menggunakan network analyst GIS - Dalam menentukan jalur evakuasi menggunakan network analyst GIS

- Lokasi penelitian di Palu - Penggenangan tsunami dihitung

menggunakan rumus

- Merupakan pemodelan mikro

4. Dong Seag Kim et al 2013

Journal of Coastal Research, Special Issue

Analysis of Evacuation System on Tsunami Disaster Preventation in Korea

Mengetahui area genangan tsunami, jakur evakuasi serta lokasi shelter di Korea

- Pemodelan genangan tsunami menggunakan rumus

- Penentuan jalur evakuasi dan lokasi shelter menggunakan

- - Lokasi penelitian di Korea - Merupakan pemodelan mikro

(13)

13

No. Peneliti Judul Penelitian Tujuan Penelitian Metode Penelitian Persamaan Perbedaan

No. 65 analisis kualitatif berdasarkan

teori/literatur 5. M. Peroche 2014 Journal Advance in Geoscience An Accessibility Graph-Based Model to Optmize Tsunami Evacuation Sites and Routes In Martinique, France

Mengembangkan aksesibilitas atau jalur evakuasi menuju area aman dari tsunami

- Pemodelan jalur evakuasi menggunakan aplikasi route

finder GIS

- Area genangan tsunami menggunakan prediksi

- Lokasi penelitian di Martinique, Perancis

- Dalam menentukan jalur evakuasi menggunakan aplikasi route finder

GIS

- Merupakan pemodelan mikro

6. Jorge Leon dan Alan March 2014 Journal Habitat International 43 page 250-262 Urban Morphology as a Tool for Supporting Tsunami Rapid Resilience : Case Study of

Talcahuano, Chile

Mengetahui pengaruh perubahan morfologi kota terhadap perubahan waktu tempuh evakuasi bencana tsunami

- Perubahan morfologi kota menggunakan analisis kualitatif

- Mengitung waktu evakuasi tsunami menggunakan pemodelan komputer kuantitatif

- Pemodelan waktu tempuh tsunami

- Lokasi penelitian di Talcahuano, Chili

- Pemilihan jalur evakuasi berdasarkan morfologi kota - Merupakan pemodelan mikro

7. Mathew C. Schimidtlein dan Nathan J. Wood 2015 Journal Applied Geography 56 page 154-163 Sensitivity of Tsunami Evacuation Modelling to Direction and Land Cover Consumption

Mengetahui pengaruh arah jalur evakuasi dan tutupan lahan terhadap waktu tempuh evakuasi bencana tsunami

- Mengitung waktu evakuasi tsunami menggunakan pemodelan Least – Cost –

Distance (LCD)

- Menghitung pengaruh kecepatan evakuasi pada setiap tutupan lahan terhadap waktu evakuasi menggunakan pendekatan Monte Carlo

- Pemilihan jalur evakuasi berdasarkan waktu tempuh evakuasi

- Lokasi penelitian di Seward, Alaska

- Merupakan pemodelan mikro

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil penelitian dapat di tarik kesimpulan Pertama : Kedudukan Peraturan daerah dalam sistem hukum nasional Indonesia adalah bahwa Peraturan Daerah merupakan

Tujuan panduan ini dihasilkan adalah untuk memastikan supaya pelajar kejuruteraan elektrik dapat mempertingkatkan pengetahuan mengenai perkara yang berkaitan dengan amalan

Pada gambar 7.16 adalah pompa ulir (screw) dengan tiga buah ulir, zat cair akan masuk dari sisi isap, kemudian akan ditekan di ulir yang mempunyai bentuk khusus. Dengan bentuk

Hasil penelitian menunjukan bahwa, 1 proses pengembangan dan hasil penilaian terhadap multimedia interaktif berbasis Autoplay pada materi SKI dengan pendekatan saintifik terdiri

Selanjutnya pada contoh kalimat tersebut diakhiri dengan tanda baca seru (!). Bentuk penulisan kalimat perintah yang lain sebagai berikut:. Contoh: Berikan buku

[r]

Data cedera jari tangan yang dialami pasien dengan jumlah total 24 orang terdiri dari 17 laki-laki dan 7 perempuan, sedangkan cedera yang paling sedikit dialami oleh pasien pada

Data yang didapatkan dari pengkajian proyek inovasi sebelumnya oleh Mahasiswa Praktek Residensi Kepera watan dan mahasiswa aplikasi di ruang BCH didapatkan sebanyak 14,29%