1 DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL LUAR ... i
HALAMAN SAMPUL DALAM ... ii
HALAMAN PRASYARAT GELAR SARJANA HUKUM ... iii
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iv
LEMBAR PENGESAHAN PANITIA PENGUJI SKRIPSI ... v
KATA PENGANTAR ... vi
DAFTAR ISI ... x
SURAT PERNYATAAN KEASLIAN ... xiv
ABSTRAKSI ... xv
ABSTRACT ... xvi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 8
1.3 Ruang Lingkup Masalah ... 8
1.4 Orisinalitas ... 9 1.5 Tujuan Penelitian ... 11 1.5.1 Tujuan umum ... 11 1.5.2 Tujuan Khusus ... 11 1.6 Manfaat Penelitian ... 11 1.6.1 Manfaat teoritis ... 11
2
1.6.2 Manfaat praktis ... 12
1.7 Landasan Teoritis ... 12
1.7.1 Teori efektivitas hukum ... 12
1.7.2 Perlindungan tenaga kerja ... 13
1.7.3 Teori penegakan hukum ... 14
1.8. Hipotesis ... 15
1.9. Metode Penelitian... 16
1.9.1 Jenis penelitian ... 16
1.9.2 Jenis pendekatan ... 16
1.9.3 Sifat penelitian ... 17
1.9.4 Data dan sumber data ... 18
1.9.5 Teknik pengumpulan data ... 20
1.9.6 Teknik penentuan sampel penelitian ... 21
1.9.7 Teknik pengolahan dan analisis data ... 21
BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG PERLINDUNGAN TERHADAP FASILITAS KERJA BAGI PEKERJA DISABILITAS FISIK 2.1. Tinjauan Umum Tentang Tenaga Kerja dan Pekerja ... 23
2.1.1 Pengertian tenaga kerja ... 24
2.1.2 Pengertian pekerja ... 26
2.2 Pekerja Disabilitas Fisik ... 27
2.2.1 Pengertian disabilitas fisik ... 28
3
2.3 Perlindungan Tenaga Kerja ... 31 2.3.1 Bentuk-bentuk perlindungan tenaga kerja ... 33 2.3.2 Perlindungan fasilitas kerja dan fasilitas fisik bagi
pekerja... 34 BAB III PERLINDUNGAN TERHADAP FASILITAS KERJA BAGI
PEKERJA DISABILITAS FISIK PADA HOTEL BELMOND JIMBARAN PURI
3.1. Profil Hotel Belmond Jimbaran Puri ... 38 3.2. Hak dan Kewajiban Pengusaha dan Pekerja Dalam Mewujudkan
Pelaksanaan Perlindungan Pekerja Disabilitas Fisik ... 41 3.2.1 Pelaksanaan perlindungan terhadap fasilitas kerja bagi
pekerja disabilitas fisik ... 47 3.2.2 Pelaksanaan perlindungan terhadap fasilitas kerja bagi
pekerja disabilitas fisik pada Hotel Belmond Jimbaran Puri 51
BAB IV KENDALA DAN UPAYA DALAM PELAKSANAAN
PERLINDUNGAN FASILITAS KERJA BERUPA FASILITAS FISIK BAGI PEKERJA DISABILITAS FISIK PADA HOTEL BELMOND JIMBARAN PURI
4.1 Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) ... 61 4.2. Kendala Dalam Pelaksanaan Perlindungan Fasilitas Kerja Berupa
Fasilitas Fisik Bagi Pekerja Disabilitas Fisik Pada Hotel Belmond Jimbaran Puri ... 64
4
4.3. Upaya Yang Ditempuh Dalam Menangani Kendala-Kendala Terhadap Pelaksanaan Perlindungan Fasilitas Kerja Berupa Fasilitas Fisik Bagi Pekerja Disabilitas Fisik Pada Hotel Belmond Jimbaran Puri ... 68 4.3.1 Pengawasan perburuhan/ketenagakerjaan ... 68 4.3.2 Upaya yang ditempuh dalam menangani kendala-kendala
terhadap pelaksanaan perlindungan fasilitas fisik pekerja bagi pekerja disabilitas fisik pada Hotel Belmond Jimbaran Puri ... 70 BAB V PENUTUP 5.1. Kesimpulan ... 74 5.2. Saran-Saran ... 75 DAFTAR PUSTAKA RINGKASAN SKRIPSI DAFTAR RESPONDEN LAMPIRAN
5
ABSTRAK
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh Hotel Belmond Jimbaran Puri yang belum tentu telah melaksanakan Pasal 67 ayat (1) Undang – Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan dan Pasal 31 dan Pasal 32 Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perlindungan dan Pemenuhan Hak Penyandang Disabilitas. Sebagian kelompok masyarakat yang memiliki kebutuhan khusus atau disebut penyandang disabilitas berhak mendapatkan perlakuan yang sama, terutama di bidang profesi dan pekerjaan. Mereka juga memiliki kesempatan untuk memperoleh prestasi dan jabatan di bidang pekerjaan yang mereka geluti. Jadi hukum dalam melindungi kepentingan masyarakat akan selalu mengarah kepada kedamaian.
Jenis penelitian yang digunakan penulis adalah jenis penelitian Yuridis-Empiris. Salah satu cara yang dapat ditempuh untuk mendapatkan kebenaran adalah penelitian yang bersifat yuridis-empiris. Yuridis empiris adalah suatu penelitian yang beranjak dari kesenjangan-kesenjangan das solen (teori) dengan das sein (praktek atau kenyataan). Fasilitas kerja bagi pekerja disabilitas fisik harus dipenuhi guna mengoptimalkan kemampuan dari pekerja disabilitas fisik tersebut. Pekerja disabilitas fisik dalam kesehariannya bekerja pada lingkungan kerja yang tidak menyediakan fasilitas kerja sesuai dengan kebutuhan dari pekerja disabilitas fisik tersebut akan merasakan kesulitan dalam melakukan aktifitas pekerjaannya.
Dengan demikian pengusaha haruslah menyediakan fasilitas kerja yang sesuai dengan derajat kecacatan dari pekerja disabilitas fisik tersebut. Kendala yang dihadapi dan upaya yang ditempuh dalam pelaksanaan perlindungan fasilitas kerja bagi pekerja disabilitas fisik pada Hotel Belmond Jimbaran Puri yaitu kurangnya sosialisasi dari instansi pemerintah terkait dalam mensosialisasikan perundangan terkait, kurangnya kesadaran pengusaha dalam memberikan alat bantu fasilitas fisik sehingga tidak tercapainya hasil kerja yang maksimal dari pekerja disabilitas fisik tersebut. Terhadap kendala-kendala tersebut disarankan agar Pemerintah Daerah dapat lebih meningkatkan sosialisi terkait perlindungan pekerja disabilitas fisik dan melakukan pengawasan lebih lanjut kepada perusahaan yang mempekerjakan pekerja disabilitas fisik, sehingga fasilitas kerja yang sesuai bagi pekerja disabilitas fisik dapat terpenuhi.
Kata kunci : Perlindungan Fasilitas Kerja, Pekerja Disabilitas Fisik, Perusahaan
6
The background of this research is The Belmond Jimbaran Puri Hotel is have not done Article 67 (1) Act Number 13 Of 2003 On Employment and Article 31 and 32 Bali Province Regional Regulation Number 9 Of 2015 On Protection and Fulfillment Disability Right. Some community goups who have special needs, or called person with disabilities, deserve the same treatment, especially in the field od profession and occupation. They also have the opportunity to gain achievements and positions in the field of work they are in. So the law in protecting the interest of society will always lead to peace.
This type of research is the author of Juridical-Empirical research types. One way that can be taken to get the truth is a juridical research-empirical. Juridical empirical research is a move from das solen (theory) with sein (practice or reality). Work facilities for physical disability workers must be met to optimize the capabilities of the physical disability workers. Physical disability workers in their daily work in a work environment that does not provide work facilities in accordance with the needs of the physical disability workers will find it difficult to work.
Thus the entrepreneur must provide appropriate work facilities with the degree of the physical disability workers. Constraints faced and efforts taken in the implementation of the protection of work facilities for physical disability workers at Belmond Hotel Jimbaran Puri is the lack of socialization of relevant government agencies in socializing related legislation, the lack of awareness of entrepreneurs in providing tools of physical facilities so as not to achieve maximum results of work The physical disability workers. With respect to these constraints it is suggested that the Local Government can further improve the socialization related to the protection of physical disability workers and conduct further supervision to companies employing physical disability workers, so that suitable work facilities for physical disability workers can be met.
7
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Indonesia adalah Negara hukum dimana segala aspek kehidupan yang berlaku haruslah dilandasi oleh hukum itu sendiri. Negara hukum juga menjamin semua orang diperlakukan sama di depan hukum. Oleh sebab itu negara hukum juga berkewajiban melindungi seluruh masyarakat di dalamnya. Dengan demikian tidak boleh terjadinya diskriminasi terhadap sebagian kelompok masyarakat yang ada. Sebagian kelompok masyarakat yang memiliki kebutuhan khusus atau disebut penyandang disabilitas berhak mendapatkan perlakuan yang sama, terutama di bidang profesi dan pekerjaan. Mereka juga memiliki kesempatan untuk memperoleh prestasi dan jabatan di bidang pekerjaan yang mereka geluti. Jadi hukum dalam melindungi kepentingan masyarakat akan selalu mengarah kepada kedamaian.1
Berdasarkan ketentuan Pasal 1 angka 2 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, tenaga kerja adalah setiap orang yang melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan/atau jasa, baik untuk untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat. Pekerja yang memiliki posisi sangat penting guna terjaminnya hasil produksi atau layanan dari sebuah perusahaan atau hotel merupakan aset yang sangat berharga yang dimiliki oleh perusahaan atau hotel tersebut, sehingga dalam perekrutannya mereka sangat mempertimbangkan
1 I Ketut Artadi, 2006, Hukum Dalam Perspektif Kebudayaan, Pustaka Bali Post, Denpasar, (selanjutnya disebut dengan I Ketut Artadi I), h. 12
8
kompetensi yang dimiliki oleh orang-orang yang akan bekerja di tempat mereka. Hal ini mempersempit ruang gerak para penyandang disabilitas dalam memperoleh pekerjaan yang layak bagi mereka. Kenyataan sangat disayangkan, mengingat manusia diciptakan saling berbeda-beda. Pada dasarnya penyandang disabilitas juga tidak pernah menginginkan mereka memiliki perbedaan tersebut sejak lahir. Semua berbeda tapi saling melengkapi sehingga perbedaan adalah kesempurnaan bagi kehidupan.2
Penyandang disabilitas menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2016 Tentang Penyandang Disabilitas adalah setiap orang yang mengalami keterbatasan fisik, intelektual, mental, dan/atau sensorik dalam jangka waktu lama yang dalam berinteraksi dengan lingkungan dapat mengalami hambatan dan kesulitan untuk berpartisipasi secara penuh dan efektif dengan warga negara lainnya berdasarkan kesamaan hak.
Sedangkan Penyandang disabilitas menurut Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 9 Tahun 2015 Tentang Perlindungan dan Pemenuhan Hak Penyandang Disabilitas adalah setiap orang yang memiliki gangguan, kelainan, kerusakan, dan/atau kehilangan fungsi organ fisik, mental, intelektual atau sensorik dalam jangka waktu lama, yang dapat menghalangi partisipasi penuh dan efektif dalam masyarakat berdasarkan kesetaraan dengan yang lainnya.
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2016 Tentang Penyandang Disabilitas, ragam penyandang disabilitas dibagi menjadi empat yaitu penyandang disabilitas fisik, penyandang disabilitas intelektual, penyandang disabilitas mental dan penyandang disabilitas sensorik. Sesuai dengan judul penelitian ini, penulis memilih jenis penyandang disabilitas fisik sebagai objek penelitian yang akan diteliti. Penyandang disabilitas fisik meliputi tunanetra yaitu buta atau kesulitan untuk melihat, tunarungu yaitu tuli atau kesulitan untuk
2 I Ketut Artadi, 2011, Kebudayaan Spiritualis Nilai Makna dan Martabat Kebudayaan
Dimensi Tubuh Akal Roh dan Jiwa, Pustaka Bali Post, Denpasar, (selanjutnya disebut dengan I
9
mendengar, tunawicara yaitu bisu atau kesulitan untuk berbicara dengan orang lain, dan tunadaksa yaitu cacat fisik atau orang yang memiliki kecacatan tubuh atau kelainan atau kecelakaan.
Penjelasan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2016 Tentang Penyandang Disabilitas Pasal 4 ayat (1) huruf a menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan penyandang disabilitas fisik adalah terganggunya fungsi gerak, antara lain amputasi, lumpuh layu atau kaku, paraplegi, celebral palsy (SP), akibat stroke, akibat kusta dan orang kecil, sedangkan pekerja disabilitas fisik yang dimaksud adalah setiap orang yang memiliki keterbatasan secara fisik pada anggota tubuhnya, yang melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan/atau jasa, baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat.
Pasal 27 ayat (2) UUD 1945 menyatakan “tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan.” Hak atas pekerjaan bukan saja hanya untuk masyarakat biasa, namun juga diperuntukkan bagi masyarakat penyandang disabilitas. Penyandang disabilitas juga memiliki hak yang sama atas pekerjaan tanpa dipandang sebelah mata, dimana pada dasarnya penyandang disabilitas juga ingin diperlakukan sebagai individu yang setara dan mandiri, tanpa harus mengundang belas kasihan yang berlebihan. Hal ini kembali dipertegas di dalam amandemen UUD 1945 Pasal 28 ayat (2) tentang ketenagakerjaan. Dengan demikian, tidak ada ruang untuk menutup peluang lapangan kerja bagi masyarakat penyandang disabilitas.
Istilah Disabilitas merupakan kata bahasa Indonesia yang berasal dari serapan kata bahasa Inggris disability yang berarti cacat atau ketidakmampuan.
10
Disabilitas atau difabel adalah orang yang meliputi gangguan, keterbatasan aktivitas, dan pembatasan partisipasi. Dengan demikian, pekerja disabilitas fisik haruslah mendapat perhatian yang lebih, baik oleh pemerintah maupun para pengusaha tempat mereka bekerja. Hal tersebut dikarenakan kebutuhan mereka yang berbeda dibandingkan tenaga kerja non disabilitas lainnya.
Pasal 67 ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan menyatakan bahwa pengusaha yang mempekerjakan tenaga kerja penyandang cacat wajib memberikan perlindungan sesuai dengan jenis dan derajat kecacatannya. Perlindungan yang sesuai dengan derajat kecacatan penyandang disabilitas sebagaimana misalnya penyediaan aksesibilitas, pemberian alat kerja, dan alat pelindung diri yang disesuaikan dengan jenis dan derajat kecacatannya.
Hal ini sangat mendasar, dikarenakan setiap tenaga kerja penyandang cacat memiliki macam-macam kecacatan yang berbeda-beda, sehingga pandangan terhadap tenaga kerja disabilitas fisik tidak hanya pada satu bentuk kecacatan saja. Perlindungan yang diberikan pun haruslah sesuai, tergantung daripada apa yang mereka butuhkan.
Secara yuridis hubungan antara pekerja dan pengusaha dalam pelaksanaan hubungan kerja mempunyai kedudukan yang sama, dalam pengertian mereka dapat melaksanakan secara bebas, akan tetapi secara sosial ekonomi kedudukan antara pekerja dan pengusaha tidak sama, dalam pengertian tidak bebas di mana pekerja merupakan pihak yang membutuhkan pekerjaan untuk memperoleh penghasilan hidup bagi dirinya dan keluarganya, sehingga pekerja dapat menerima syarat-syarat kerja yang ditentukan oleh pengusaha.3
Hal ini sesuai dengan apa yang telah diamanatkan oleh Pancasila, dimana tujuan dari Pancasila itu sendiri adalah untuk menyeimbangkan kehidupan bernegara. Hal ini terbukti dengan masih relevan nya Pancasila digunakan sampai
3 I Made Udiana, 2016, Kedudukan Dan Kewenangan Pengadilan Hubungan Industrial, cet. II, Udayana University Press, Denpasar, h. 30
11
sekarang ini. Di tengah zaman yang semakin modern, Pancasila masih dapat diterima dari semua lini kehidupan bermasyarakat di Indonesia.
Perlindungan disabilitas menurut Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas adalah “upaya yang dilakukan secara sadar untuk melindungi, mengayomi, dan memperkuat hak Penyandang Disabilitas”. Dengan demikian perlindungan tersebut haruslah dilakukan dengan sungguh-sungguh agar hak dari para Penyandang Disabilitas dapat tercapai dengan baik.
Menurut Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 9 Tahun 2015 Tentang Perlindungan dan Pemenuhan Hak Penyandang Disabilitas, tujuan Perlindungan dan Pemenuhan Hak Penyandang Disabilitas meliputi:
a. Meningkatkan taraf kesejahteraan, kualitas serta kelangsungan hidup dan kemandirian penyandang disabilitas
b. Meningkatkan ketahanan sosial dan ekonomi penyandang disabilitas
c. Meningkatkan kemampuan, kepedulian dan tanggung jawab Pemerintah Propinsi, dunia usaha dan masyarakat dalam perlindungan dan pemenuhan hak penyandang disabilitas secara melembaga dan berkelanjutan; dan
d. Meningkatkan kualitas kehidupan dan penghidupan penyandang disabilitas Perlindungan buruh dari kekuasaan majikan terlaksana apabila peraturan perundang-undangan dalam bidang ketenagakerjaan yang mengharuskan atau memaksa majikan bertindak seperti dalam perundang-undangan tersebut benar-benar dilaksanakan semua pihak karena keberlakuan hukum tidak dapat diukur secara yuridis saja, tetapi dari sosiologis dan filosofis.4
Berdasarkan pada Pasal 1 ayat (9) Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perlindungan dan Pemenuhan Hak Penyandang Disabilitas menyatakan bahwa “Pemenuhan dan Perlindungan Hak Penyandang Disabilitas adalah segala tindakan dan/atau kegiatan untuk menjamin dan melindungi hak konstitusional para penyandang disabilitas sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan serta terhindar dari tindak kekerasan dan diskriminasi.”
4 Zainal Asikin, et. al., 1993, Dasar-dasar Hukum Perburuhan, RajaGrafindo Persada, Jakarta, h. 5
12
Dengan demikian, sangat dibutuhkan kerjasama yang baik antara pemerintah dan pemberi lapangan pekerjaan, guna tercapainya pemenuhan dan perlindungan hak-hak dari penyandang disabilitas tersebut. Dengan kerja sama yang baik antara pemerintah dan pemberi lapangan pekerjaan atau pengusaha, maka pemenuhan dan perlindungan hak-hak dari penyandang disabilitas tersebut akan terwujud.
Pasal 1 ayat (8) Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perlindungan dan Pemenuhan Hak Penyandang Disabilitas yang mengartikan “Hak Penyandang Disabilitas adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan Penyandang Disabilitas sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan Anugerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh Negara, Hukum, Pemerintah, dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia.”
Sebagai bagian dari warga negara Indoesia, sudah seharusnya para penyandang disabilitas fisik mendapatkan perlakuan yang lebih dari masyarakat normal lainnya, yang dimaksudkan sebagai upaya perlindungan dari segala bentuk tindakan diskriminasi dan terutama perlindungan dari berbagai pelanggaran hak asasi manusia, yang akan sangat mungkin terjadi pada penyandang disabilitas. Hal ini tentunya akan semakin terlihat di perusahaan atau kantor dimana masyarakat disabilitas fisik ini memilih untuk bekerja. Semakin seringnya bersentuhan dengan masyarakat non disabilitas fisik lainnya, juga semakin membuat mereka menjadi rentan untuk mendapatkan perlakuan diskriminasi. Hal tersebut sesuai dengan Pasal 13 Peraturan Daerah Provinsi Bali nomor 9 Tahun 2015 tentang Perlindungan dan Pemenuhan Hak Penyandang Disabilitas yang menyebutkan bahwa setiap penyandang disabilitas mempunyai kesamaan hak dan kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan dan/atau melakukan pekerjaan yang layak sesuai dengan jenis dan derajat kedisabilitasannya.
13
Setiap tenaga kerja disabilitas berhak atas perlindungan hak-hak nya. Hak-hak tersebut diatur dalam Paragraf 6 Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perlindungan dan Pemenuhan Hak Penyandang Disabilitas. Fasilitas kerja yang diatur dalam Paragraf 7 Pasal 31 dan 32 mewajibkan perusahaan untuk memberikan fasilitas kerja sesuai dengan kebutuhan para tenaga kerja disabilitas yang bekerja pada perusahaan tersebut. Perusahaan juga wajib menjamin perlindungan tenaga kerja dengan fasilitas kesehatan, keselamatan kerja, dan jaminan sosial tenaga kerja.
Berdasarkan berita dari website infopublik.id pada 31 Oktober tahun 2014 bahwa Hotel Belmond Jimbaran Puri merupakan salah satu hotel di Indonesia yang mempekerjakan pekerja disabilitas.5 Hotel Belmond Jimbaran Puri memberikan kesempatan bagi mereka para penyandang disabilitas untuk dapat bekerja di hotel tersebut. Akan tetapi, Hotel Belmond Jimbaran Puri belum dapat untuk memenuhi perlindungan tersebut. Salah satu contohnya adalah salah satu pekerja disabilitas fisik tunadaksa di hotel tersebut tidak diberikan fasilitas kerja sesuai derajat kedisabilitasannya dalam bekerja sehari-hari. Dengan demikian hotel tersebut haruslah memenuhi fasilitas kerja bagi pekerja disabilitas fisiknya tersebut. Hal ini dikarenakan perlindungan bagi penyandang disabilitas fisik haruslah benar-benar sesuai dengan jenis dan derajat kecacatan yang ada pada penyandang disabilitas fisik tersebut.
5 Gusti Andry, 2014, “Pemerintah Beri Penghargaan 10 Perusahaan Peduli Pekerja
Disabilitas”, Info Publik, URL :
14
Berdasarkan dari permasalahan di atas, maka penulis tertarik untuk mengkaji lebih dalam permasalahan ini dengan menyusun skripsi dengan judul “Pelaksanaan Perlindungan Terhadap Fasilitas Kerja bagi Pekerja Disabilitas Fisik Pada Hotel Belmond Jimbaran Puri.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas, dalam penelitian ini dirumuskan beberapa permasalahan yaitu:
1. Bagaimanakah pelaksanaan perlindungan terhadap fasilitas kerja bagi pekerja disabilitas fisik pada Hotel Belmond Jimbaran Puri ?
2. Apakah kendala yang dihadapi dan upaya yang ditempuh dalam pelaksanaan perlindungan fasilitas kerja berupa fasilitas fisik bagi pekerja disabilitas fisik pada Hotel Belmond Jimbaran Puri ?
1.3 Ruang Lingkup Masalah
Secara umum Ruang Lingkup Masalah merupakan hal yang sangat penting untuk ditentukan terlebih dahulu sebelum sampai pada tahap pembahasan selanjutnya. Agar penelitian ini lebih fokus dan tidak meluas dari pembahasan yang dimaksud, dalam skripsi ini penulis membatasinya pada ruang lingkup penelitian. Maka batasan ruang lingkup permasalahannya adalah pelaksanaan perlindungan terhadap fasilitas kerja berupa fasilitas fisik bagi pekerja disabilitas fisik pada Hotel Belmond Jimbaran Puri dan kendala-kendala yang dihadapi dan juga upaya-upaya yang ditempuh dalam pelaksanaan perlindungan fasilitas pekerja disabilitas fisik pada Hotel Belmond Jimbaran Puri
15
1.4 Orisinalitas
Dalam melakukan suatu penelitian skripsi, mahasiswa diwajibkan untuk membuat suatu orisinalitas penelitian sebagai pembanding. Terdapat 2 (dua) skripsi yang penulis gunakan sebagai pembanding yaitu:
1. Penelitian yang dilakukan oleh Nyoman Arista Wirdiantara, mahasiswa program sarjana Universitas Udayana, Denpasar pada tahun 2016 dengan judul Implementasi Peraturan Walikota Denpasar Nomor 35 Tahun 2011 Terkait Aksesibilitas Bagi Penyandang Disabilitas (Tunanetra) Di Kota Denpasar
2. Penelitian yang dilakukan oleh Lastika Pebriana, mahasiswa program sarjana Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta pada tahun 2014, dengan judul Peranan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Yogyakarta bidang Pengawasan Ketenagakerjaan Terhadap Pemberian Kesempatan Kerja Bagi Pekerja Penyandang Cacat di Hotel Grand Quality Yogyakarta.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
No Peneliti Judul Rumusan Masalah
1 Nyoman Arista Wirdiantara Implementasi Peraturan Walikota Denpasar Nomor 35 Tahun 2011 Terkait Aksesibilitas Bagi Penyandang Disabilitas (Tunanetra) Di Kota Denpasar 1. Bagaimanakah Penerapan Peraturan Walikota Nomor 35 Tahun 2011 Tentang Upaya Peningkatan Aksesibilitas Penyandang Cacat di Kota Denpasar?
16
2. Apakah yang menjadi kendala serta upaya dari pemerintah kota Denpasar dalam penyediaan aksesibilitas bagi penyandang Disabilitas (Tunanetra) di kota Denpasar? 2. Lastika Pebriana Peranan Dinas Tenaga
Kerja dan Transmigrasi Yogyakarta bidang Pengawasan Ketenagakerjaan Terhadap Pemberian Kesempatan Kerja Bagi Pekerja Penyandang Cacat di Hotel Grand Quality Yogyakarta.
1. Faktor-faktor apa saja yang menyebabkan peranan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Yogyakarta Bidang Pengawasan
Ketenagakerjaan
terhadap Pelaksanaan Pemberian Kesempatan Kerja bagi Pekerja Penyandang Cacat di Hotel Grand Quality Yogyakarta belum berjalan dengan baik? 2. Hambatan - hambatan
apa saja yang
menyebabkan
penyediaan aksesibilitas
bagi Pekerja
Penyandang Cacat di Hotel Grand Quality Yogyakarta belum tersedia ?
17
1.5 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian dapat dibedakan menjadi tujuan umum dan tujuan khusus sebagai berikut:
1.5.1. Tujuan umum
a. Untuk mengetahui pelaksanaan perlindungan terhadap fasilitas kerja bagi pekerja disabilitas fisik pada hotel
b. Untuk mengetahui kendala yang dihadapi dan upaya yang ditempuh dalam pelaksanaan pemberian fasilitas fisik bagi pekerja disabilitas fisik pada hotel
1.5.2. Tujuan khusus
a. Untuk memahami pelaksanaan perlindungan terhadap fasilitas kerja bagi pekerja disabilitas fisik pada Hotel Belmond Jimbaran Puri; b. Untuk memahami kendala yang dihadapi dan upaya yang ditempuh
dalam pelaksanaan pemberian fasilitas fisik bagi pekerja disabilitas fisik pada Hotel Belmond Jimbaran Puri.
1.6 Manfaat Penelitian
Maksud dari suatu penulisan ditentukan oleh besarnya manfaat yang dapat diambil dari suatu penulisan tersebut. Berikut manfaat yang diharapkan penulis dari penulisan ini adalah sebagai berikut:
1.6.1 Manfaat teoritis
18
1. Bagi penulis sendiri untuk menambah pengetahuan bagaimana perlindungan terhadap fasilitas kerja bagi pekerja disabilitas fisik di Hotel Belmond Jimbaran Puri
2. Sebagai sebuah dasar dan wacana bagi Fakultas Hukum guna pengembangan ilmu hukum khususnya hukum ketenagakerjaan
1.6.2 Manfaat praktis
1. Hasil penelitian ini dapat digunakan dan dapat dimanfaatkan oleh pemerintah dan pengusaha disaat menghadapi permasalahan mengenai perlindungan pekerja disabilitas fisik.
2. Terlindunginya pekerja disabilitas fisik dalam melaksanakan tugas dan tanggungjawab yang dibebankan kepada pekerja disabilitas fisik.
1.7 Landasan Teoritis 1.7.1 Teori efektivitas hukum
Landasan teoritis pertama yang penulis ambil adalah teori efektivitas hukum. Efektivitas hukum merupakan bagian dari materi bahasan sosiologi hukum. Oleh karena efektivitas hukum juga berkaitan erat dengan kesadaran hukum dan ketaatan hukum warga masyarakat, maka wajar timbul pertanyaan-pertanyaan tentang apa arti kesadaran hukum.6 Efektivitas hukum juga mengarah kepada suatu persepsi tentang wujud hukum perlu untuk mengujinya, sejauh mana hal tersebut efektif atau tidak, sehingga hukum itu benar-benar efektif untuk diterapkan.
6 Achmad Ali dan Wiwie Heryani, 2012, Menjelajahi Kajian Empiris Terhadap Hukum, Kencana Prenada Media Group, Jakarta, h. 131
19
Bagi Malinowski, hukum dilaksanakan oleh suatu mesin sosial yang nyata dan didukung oleh suatu kekuatan komunitas yang didasarkan pada ketergantungan secara timbal balik, sehingga Malinowski mendefinisikan hukum sebagai suatu badan dari kewajiban-kewajiban yang mengikat, yang dihormati sebagai hak dari satu pihak dan diakui sebagai kewajiban bagi pihak lain, penggunaan kekuasaan melalui mekanisme yang spesifik yang bersifat timbal balik dan publisitas yang melekat di dalam struktur masyarakat.7
1.7.2 Perlindungan tenaga kerja
Menurut I Made Udiana, mengenai hal perlindungan hukum pemerintah wajib melindungi hak asasi warganya berdasarkan prinsip persamaan hak, demokrasi keadilan sosial setara dan anti diskriminasi.8 Hubungan yang baik haruslah terjalin antara pelaku usaha dan tenaga kerja. Hal ini akan sangat berpengaruh demi terwujudnya produktivitas yang baik dan kinerja yang yang baik dari suatu perusahaan/hotel. Pengaturan akan hak dan kewajiban masing-masing juga sangat dibutuhkan satu sama lainnya, guna terwujudnya suatu keseimbangan yang baik.
Hubungan Industrial di Indonesia berlandaskan Pancasila dalam usaha-usaha untuk mencapai tujuannya mendasarkan diri pada asas-asas pembangunan nasional, yakni asas manfaat, asas usaha bersama, asas demokrasi, asas adil dan merata, dan asas keseimbangan, hal asas kerjasama yang ditempuh9 adalah:
1. Pekerja dan pengusaha adalah sama-sama para pejuang dalam mengembangkan perusahaan. Perusahaan itu menjadi alat pembangunan ekonomi, pekerja dan pengusaha teman seperjuangan dalam proses produksi, dengan demikian pekerja dan pengusaha wajib bekerja sama, bantu membantu dalam kelancaran usaha dengan meningkatkan kesejahteraan dan meningkatkan produksi.
2. Pekerja dan pengusaha dalam keadaan keterpaduan mensukseskan hasil produksi yang harus dipersembahkan kepada masyarakat dan negara sehingga
7 Ibid, h. 133
8 I Made Udiana, op.cit, h. 58 9 I Made Udiana, op.cit, h. 35
20
peran sertanya tetap dipertahankan dengan mencegah terjadinya kemacetan-kemacetan dalam perusahaannya.
3. Pekerja dan pengusaha secara bersama-sama merupakan penopang perusahaan, karena perusahaan merupakan pengelola sedang para pekerja merupakan pelaksananya, karena itulah pendapatan bersih dari hasil usahanya selayaknya dinikmati secara bersama dengan bagian yang layak, adil, dalam keserasian.
4. Pekerja dan pengusaha merupakan satu kekuatan dalam wadah perusahaan, untuk itu akan dipertanggungjawabkan secara bersama, baik bertanggung jawab kepada : Tuhan Yang Maha Esa, bangsa dan negara, masyarakat di sekitarnya, pengusaha beserta keluarganya, dan pekerja dan keluarganya agar terlaksana dan terwujud menjadi kenyataan, maka diperlukan sikap sosial yang mencerminkan persatuan dan kesatuan nasional, sifat gotong royong, harga menghargai, tenggang rasa, keterbukaan, bantu membantu dan kemampuan untuk mengendalikan diri para pelaku hubungan industrial yang berlandaskan nilai-nilai Pancasila, masing-masing akan menunjukkan perilaku yang positif, saling mengerti dengan kedudukan dan perannya, sama-sama memahami hak dan kewajiban dalam proses produksi.
1.7.3 Teori penegakan hukum
Secara konsepsional, maka inti dan arti penegakan hukum terletak pada kegiatan menyerasikan hubungan nilai-nilai yang terjabarkan di dalam kaidah-kaidah yang mantap dan mengejawantah dan sikap tindak sebagai rangkaian penjabaran nilai tahap akhir, untuk menciptakan, memelihara, dan mempertahankan kedamaian pergaulan hidup.10
Faktor faktor yang mempengaruhi penegakan hukum menurut Soerjono Soekanto adalah :
1. Faktor hukumnya sendiri
2. Faktor penegak hukum, yakni pihak-pihak yang membentuk maupun menerapkan hukum
3. Faktor sarana atau fasilitas yang mendukung penegakan hukum
4. Faktor masyarakat, yakni lingkungan di mana hukum tersebut berlaku atau diterapkan
5. Faktor kebudayaan, yakni sebagai hasil karya, cipta, dan rasa yang didasarkan pada karsa manusia di dalam pergaulan hidup11
10Soerjono Soekanto, 1983, Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Penegakan Hukum, RajaGrafindo Persada, Jakarta, h. 5
21
Kelima faktor tersebut saling berkaitan dengan eratnya, oleh karena merupakan esensi dari penegakan hukum, juga merupakan tolak ukur daripada efektivitas penegakan hukum.12 Dengan demikian kelima hal tersebut tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya.
1.8 Hipotesis
Hipotesis berasal dari dua suku kata yaitu hypo (lemah) dan tesis (pernyataan). Hipotesis adalah suatu keadaan atau peristiwa yang diharapkan dan dilandasi oleh generalisasi dan biasanya menyangkut hubungan di antara variabel-variabel penelitian.13 Hipotesis yang dapat diambil berdasarkan pengamatan awal di lapangan yaitu pihak Hotel Belmond Jimbaran Puri belum dapat dikatakan memenuhi perlindungan terhadap pekerja disabilitas. Salah satu contohnya adalah salah satu pekerja disabilitas fisik tunadaksa di hotel tersebut tidak diberikan fasilitas kerja sesuai derajat kedisabilitasannya dalam bekerja sehari-hari. Pihak Hotel Belmond Jimbaran Puri haruslah memenuhi fasilitas kerja berupa fasilitas fisik para pekerja disabilitas fisik tersebut, dengan menyediakan fasilitas kerja berupa fasilitas fisik yang tidak menyulitkan lagi bagi pekerja disabilitas fisik dalam melakukan aktifitas pekerjaannya sehari-hari. Hal ini dikarenakan perlindungan bagi penyandang disabilitas fisik haruslah benar-benar sesuai dengan jenis dan derajat kecacatan yang ada pada penyandang disabilitas fisik tersebut.
12 Ibid, h. 9
13 Punaji Setyosari, 2010, Metode penelitian Pendidikan dan Pengembangan, Kencana Prenada Media Group, Jakarta, h. 109
22
1.9 Metode Penelitian 1.9.1 Jenis penelitian
Sesuai dengan maksud dan judul dari penelitian ini, maka jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian empiris. Penelitian empiris adalah penelitian yang memiliki suatu acuan yang berdasarkan kepada realitas (a reality-reference).14 Penelitian ini dimulai dengan peninjauan lapangan yang menandai penelitian sebagai suatu proses empiris.
1.9.2 Jenis pendekatan
Di dalam suatu penelitian hukum terdapat beberapa macam pendekatan yang digunakan untuk mendapatkan informasi mengenai suatu isu yang diteliti. Penelitian hukum yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis pendekatan: a. Pendekatan perundang-undangan (the statute approach);
b. Pendekatan fakta (the fact approach);
Dalam penelitian ini, untuk membedah permasalahan dipergunakan 2 (dua) jenis pendekatan masalah. Pendekatan tersebut adalah pendekatan perundang – undangan (the statute approach), dan pendekatan fakta (the fact approach).
1. Pendekatan perundang – undangan (the statute approach).
Pendekatan perundang-undangan adalah suatu pendekatan dengan menelaah dan menganalisa semua undang – undang dan regulasi yang bersangkut paut dengan isu hukum yang ditangani.15
14 Ibid, h. 16
23
2. Pendekatan fakta (the fact approach).
Pendekatan fakta adalah adalah suatu pendekatan yang menelaah kepada fakta – fakta dari pelanggaran hukum yang terjadi. Dalam penelitian ini, penulis melihat fakta – fakta yang ada dalam Hotel Belmond Jimbaran Puri berkaitan dengan pelaksanaan perlindungan terhadap fasilitas kerja bagi pekerja disabilitas fisik pada Hotel Belmond Jimbaran Puri dan kendala yang dihadapi dan upaya yang ditempuh dalam pelaksanaan perlindungan terhadap fasilitas fisik bagi pekerja disabilitas fisik pada Hotel Belmond Jimbaran Puri. 1.9.3 Sifat penelitian
Penelitian hukum empiris menurut sifatnya16 dibedakan menjadi: a) Penelitian eksploratif (penjajakan atau penjelajahan).
Penelitian eksploratif umumnya dilakukan terhadap pengetahuan yang masih baru, masih belum adanya teori-teori, atau belum adanya informasi tentang norma-norma atau ketentuan yang mengatur tentang hal tersebut, atau kalaupun sudah ada masih relatif sedikit, begitu juga masih belum adanya dan/atau sedikitnya literatur atau karya ilmiah lainnya yang menulis tentang hal tersebut. Terkait dengan hal ini, si peneliti melakukan penelitian eksplorasi yaitu mengeksplorasi secara mendalam sesuatu hal yang masih belum terungkap, serta ingin mendalami pengetahuan mengenai suatu gejala tertentu. Pada penelitian eksploratif tidak ada hipotesis, karena secara logika, hiotesis lahir dari kajian pustaka yang berasal dari teori-teori, azas-azas hukum, ketentuan peraturan maupun tulisan-tulisan ilmiah lainnya, sementara hal-hal tersebut masih belum ada atau kalaupun ada masih sangat sedikit. Contoh penelitian ini misalnya penelitian identifikasi hukum.
b) Penelitian deskriptif
Penelitian deskriptif pada penelitian secara umum, termasuk pula di dalamnya penelitian ilmu hukum, bertujuan menggambarkan secara tepat sifat-sifat suatu individu, keadaan, gejala atau kelompok tertentu, atau untuk menentukan penyebaran suatu gejala, atau untuk 15 Peter Mahmud Marzuki, 2005, Penelitian Hukum, Kencana Prenada Media Group, Jakarta, h. 142
16 Fakultas Hukum Universitas Udayana, 2013, Pedoman Pendidikan Fakultas Hukum
24
menentukan ada tidaknya hubungan antara suatu gejala dengan gejala lain dalam masyarakat. Dalam penelitian ini, teori-teori, ketentuan peraturan, norma-norma hukum, karya tulis yang dimuat baik dalam literatur maupun jurnal, doktrin, serta laporan penelitian terdahulu sudah mulai ada dan bahkan jumlahnya cukup memadai, sehingga dalam penelitian ini hipotesis boleh ada atau boleh juga tidak. Hal tersebut sangat tergantung dari si peneliti, dengan kata lain, keberadaan hipotesis tidak mutlak diperlukan. Namun demikian, jika peneliti mencoba merumuskan hipotesis itu akan sangat berguna dan lebih baik karena dapat digunakan sebagai pegangan dalam melangkah lebih jauh dalam penelitian seterusnya. Penelitian deskriptif dapat membentuk teori-teori baru atau dapat memperkuat teori yang sudah ada. Contoh penelitian ini misalnya tentang pandangan mengenai berfungsinya hukum dalam masyarakat.
c) Penelitian eksplanatoris
Penelitian eksplanatoris menguji hipotesis yaitu penelitian yang ingin mengetahui pengaruh atau dampak suatu variabel terhadap variabel lainnya atau penelitian tentang hubungan atau korelasi suatu variabel, pada penelitian ini hipotesis mutlak harus ada.
d) Penelitian verifikatif
Penelitian yang bertujuan untuk menguji teori.
Penelitian hukum empiris yang digunakan oleh peneliti untuk memecahkan masalah dalam penelitian ini adalah penelitian hukum empiris yang bersifat deskriptif, yaitu penelitian yang bertujuan untuk menggambarkan secara tepat sifat – sifat suatu individu, keadaan, gejala atau kelompok tertentu, atau ada untuk menentukan ada tidaknya hubungan antar suatu gejala dengan gejala lain dalam masyarakat. Penelitian ini menggambarkan pelaksanaan perlindungan terhadap fasilitas kerja bagi pekerja disabilitas fisik pada Hotel Belmond Jimbaran Puri
1.9.4 Data dan sumber data 1. Data primer
Data primer yang digunakan dalam penelitian ini bersumber dari penelitian di lapangan yang dilakukan dengan menggunakan metode wawancara yang
25
dilaksanakan dengan mempersiapkan terlebih dahulu pertanyaan sebagai pedoman dan pertanyaan – pertanyaan lain sesuai dengan wawancara ketika wawancara dilakukan.
2. Data sekunder
Data sekunder diperoleh melalui penelitian kepustakaan. Data sekunder terdiri dari bahan hukum primer, bahan hukum sekunder, dan bahan hukum tersier yang berhubungan dengan permasalahan penelitian.
1. Bahan hukum primer adalah bahan hukum yang isinya memiliki kekuatan mengikat karena dikeluarkan oleh pemerintah. Dalam penelitian ini menggunakan bahan hukum primer yang terdiri atas: a. Undang – Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; b. Undang – Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan; c. Undang - Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandnag
Disabilitas
d. Undang – Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia;
e. Undang – Undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja;
f. Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perlindungan dan Pemenuhan Hak Penyandang Disabilitas;
g. Keputusan Menteri Tenaga Kerja Repubik Indonesia Nomor : KEP205/MEN/1999 tentang Pelatihan Kerja dan Penempatan Tenaga Kerja Penyandang Cacat;
26
h. Kitab Undang – Undang Hukum Perdata.
2. Bahan hukum sekunder adalah bahan hukum yang memberikan penjelasan terhadap bahan hukum primer seperti buku – buku, makalah, internet, skripsi, tesis, dan bahan – bahan tertulis yang lain yang berkaitan dengan pelaksanaan perlindungan hukum teknis terhadap pekerja disabilitas fisik.
3. Bahan hukum tersier adalah bahan hukum dipergunakan untuk menjelaskan terkait bahan hukum primer maupun sekunder, bahan hukum tersier dapat berupa kamus hukum dan ensiklopedia.
1.9.5 Teknik pengumpulan data
1. Teknik pengumpulan data dengan menggunakan teknik studi dokumen. Studi dokumen terdiri atas bahan hukum dan perundang –undangan yang berkaitan dengan hukum ketenagakerjaan dan dalam hal melakukan penelitian ini dengan cara mengumpulkan data berdasarkan bentuk bahan hukum sesuai dengan permasalahan yang ada yang peraturan relevansinya dengan masalah yang diteliti berupa pelaksanaan perlindungan hukum teknis pekerja disabilitas fisik.
2. Teknik pengumpulan data dengan menggunakan teknik wawancara. Wawancara adalah proses interaksi dan komunikasi serta cara untuk memperoleh informasi dengan cara bertanya secara langsung kepada narasumber. Wawancara dilakukan dengan teknik tanya jawab dan berlangsung terarah, sehingga tanya jawab harus dikembangkan dalam pokok permasalahan. Dalam penelitian ini, wawancara dilakukan untuk mendukung data – data yang diperoleh melalui studi dokumen. Penelitian yang dilakukan di Hotel Belmond Jimbaran
27
Puri, Dinas Tenaga Kerja dan Energi Sumber Daya Mineral Provinsi Bali, Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja Kabupaten Badung, dan Serikat Pekerja Pariwisata Bali Unit Belmond Jimbaran Puri
1.9.6 Teknik penentuan sampel penelitian
Dalam penelitian ini, teknik penentuan sampel penelitian yang digunakan adalah teknik Non Probability Sampling. Teknik ini digunakan memperoleh subyek – subyek yang ditunjuk sesuai dengan tujuan penelitian. Tidak semua populasi memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi sampel. Teknik pengumpulan sampel dengan teknik Non Probability Sampling yang digunakan dalam penelitian ini memfokuskan kepada Purposive Sampling. Purposive Sampling adalah salah satu bentuk dari Non Probability Sampling yang penarikan sampel dilakukan berdasarkan tujuan tertentu yakni sampel dipilih oleh peneliti. Penunjukan dan pemilihan sampel didasarkan kepada pertimbangan bahwa sampel telah memenuhi kriteria dan karakteristik tertentu yang merupakan ciri utama dari populasi.
1.9.7 Teknik pengolahan dan analisis data
Setelah data yang diperlukan dalam penelitian ini terkumpul, tahap selanjutnya adalah tahap pengolahan data. Data yang telah terkumpul secara lengkap selanjutnya diolah secara kualitatif yang artinya memilih bahan hukum yang relevan dan berkaitan dengan permasalahan yang diangkat. Tahap selanjutnya adalah mengkualifikasikan dan mengumpulkan data berdasarkan kerangka penulisan secara menyeluruh yang selanjutnya data yang diklasifikasikan tersebut dianalisis secara deskriptif kualitatif. Deskriptif kualitatif
28
adalah cara menggambarkan secara tepat tentang hal – hal yang berkaitan dengan permasalahan yang diteliti.
Setelah data diolah dan dianalisa, maka hasilnya akan mendapatkan suatu kebenaran yang mempunyai hubungan dengan permasalahan yang diangkat oleh penulis dalam penelitian ini yang akan disusun secara sistematis untuk mendapatkan suatu kesimpulan.