• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penguatan Nilai-Nilai Pluralisme dalam Pola Relasi Sosial

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Penguatan Nilai-Nilai Pluralisme dalam Pola Relasi Sosial"

Copied!
99
0
0

Teks penuh

(1)

ISSN 1907- 0993 E ISSN 2442-8264 Volume 13 Nomor 1 Juni 2016

Halaman 90 - 103 http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/fa

Penguatan Nilai-Nilai Pluralisme

dalam Pola Relasi Sosial

Oleh: Hayat Universitas Islam Malang

Email: [email protected]. HP. 081333841083

Abstract

Indonesia is a pluralistic and multicultural nation. Mutliculturalism in Indonesia is characterized by the recognition of religious diversity. Therefore,

differences are owned by Indonesia is a realistic conception that should continue in the wake and be empowered, as a reinforcement to the life and

well-being for the people of Indonesia are harmonious and dynamic. The purpose of this study was to describe the strengthening of the values of pluralism and

describe and understand the relationship pattern social conducted by the government, religious and community leaders in the prevention of the onset of horizontal conflict. This research was conducted with qualitative research using describtive approach, which describes the results of research appropriate to the

purpose of research and followed by data analysis to obtain relevant and accurate data. Techniques of data collection are done by using literature review

that support in answering this research problem. Horizontal conflict handling quite restrained and well. Aspects of tolerance have an important role of cooperation between the government and the religious leaders to support the acceleration of meaning and substance tolerance transformed into social life, so

that conflicts can be avoided with a pattern horizontally comprehensively realization.

Indonesia adalah bangsa yang majemuk dan multikultural. Mutlikulturalisme bangsa Indonesia ditandai oleh diakuinya keberagaman agama di Indonesia.

Oleh karena itu, berbagai perbedaan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia merupakan konsepsi realistis yang harus terus dibangun dan diberdayakan,

sebagai penguatan terhadap kehidupan dan kesejahteraan bagi rakyat Indonesia yang harmonis dan dinamis. Tujuan artikel ini adalah untuk mendeskripsikan penguatan nilai-nilai pluralisme dan mendeskripsikan serta memahami pola relasi sosial yang dilakukan oleh pemerintah, tokoh agama dan

(2)

masyarakat dalam melakukan pencegahan terhadap timbulnya konflik horizontal. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan penelitian kualitatif

dengan pendekatan deskriptif, yaitu mendeskripsikan hasil penelitian sesuai dengan tujuan penelitian dan diikuti oleh analisis data untuk mendapat data

yang relevan dan akurat. Teknik pengambilan data dilakukan dengan menggunakan kajian pustaka.Penanganan konflik horizontal cukup terkendali dan baik. Aspek toleransi mempunyai peran penting dari kerjasama pemerintah

dan para tokoh agama untuk mendukung akselerasi dari makna dan substansi toleransi yang ditransformasikan ke kehidupan sosial kemasyarakatan, sehingga konflik secara horizontal dapat dihindarkan dengan pola relasi secara

komprehensif. Keywords:

Pluralism; social relations; horizontal conflicts; tolerance

Pendahuluan

Multikulturalisme menjadi sesuatu yang khas bagi Indonesia. Dengan keragaman suku, budaya, bahasa, dan agama Indonesia menjadi bangsa yang sejak awal mula lahir dengan sifat multikultural. Kesadaran pada realitas inilah yang kemudian membuat para pendiri bangsa (the founding fathers) merumuskan sebuah semboyan yang coba mengayomi semua tumpah darah Indonesia.

Bhinneka Tunggal Ika menjadi semboyan yang sejak awal pendirian republik menjadi nafas pembangunan bangsa. Dengan pegangan inilah arah pembangunan bangsa perlu memperhatikan kekhasan dan perbedaan yang ada. Pun demikian, dalam pola relasi sosial telah tercipta kesadaran untuk saling menghormati, menghargai, dan tolong menolong di antara elemen bangsa yang berbeda.

Semangat inilah yang kemudian mampu menjaga Indonesia tetap berdiri tegak dari Sabang sampai Merauke. Meski demikian, perjalanan mempertahankan Indonesia yang multikultural tidak pernah sepi dan riak dan gelombang. Berbagai kasus intoleransi sering mewarnai perjalanan bangsa. Namun dengan kedewasaan bersikap dan kesadaran untuk terus

(3)

hidup bersama dalam harmoni membuat riak-riak itu relatif bisa diselesaikan dengan baik.

Tulisan ini mencoba mengungkapkan realitas keberagaman sosial di Indonesia dengan segala problematika dan upaya perawatannya. Dengan pendekatan kualitatif-deskriptif tulisan ini mengkaji pola-pola relasi yang tercipta di masyarakat dalam menjaga kehidupan sosial multikultural yang harmonis.

Konflik SARA di Indonesia

Meski Bangsa Indonesia memiliki karakter tolong menolong, saling menghormati, dan menjunjung prinsip Bhinneka Tunggal Ika, namun Toha dkk mencatat, pada tahun 1996 terjadi beberapa kali peristiwa konflik yang bernuansa sosial maupun agama, seperti kerusuhan di Situbondo tanggal 10 Oktober 1996, di Tasikmalaya 26 Desember 1996, di Karawang tahun 1997 dan Tragedi Mei pada tanggal 13-15 Mei 1998, yang terjadi di Jakarta, Solo, Surabaya, Palembang, Medan, beserta peristiwa-peristiwa kerusuhan lainnya.1 Sementara itu, data dari Kemenag menambahkan peristiwa Jalan Ketapang Jakarta, kerusuhan di Kupang yang menyebar ke Ambon (Januari 1999), Ujung Pandang (1 April 1999), disusul konflik antar-etnis di Sambas Kalimantan Barat 1999, konflik Poso, dan Maluku Utara. 2

Kasus pembakaran gereja di Halmahera pada 14-15 Agustus 2002, konflik Poso pada Desember 2003, penyerangan terhadap Huriah Kristen Batak Protestan (H.K.B.P) dan penyerangan terhadap rumah-rumah pengikut Ahmadiyah di Lombok pada September 2002, adalah bagian dari kasus-kasus konflik yang melibatkan unsur agama di dalamnya.3

Zuhairi Misrawi, menyatakan bahwa lembaganya (Moderate Muslim Society/MMS) pada Desember 2010 telah mencatat terjadi 81 kasus

1 Suhermanto Toha, dkk. “Eksistensi Surat Keputusan Bersama Dalam Penyelesaian Konflik Antar Dan Intern Agama.” Laporan Akhir Penelitian Hukum. Jakarta: Badan Pembinaan Hukum Nasional Kementerian Hukum dan HAM RI, 2011. h. 1-2

2 Kementerian Agama RI. Potret Kerukunan Umat Beragama DI Provinsi Jawa

Timur. (Jakarta: Badan Litbang dan Diklat Puslitbang Keagamaan Kementerian Agama

RI, 2011), h. 2

(4)

intoleransi, meningkat 30 persen dari laporan tahun 2009 yang mencatat 59 kasus. Lebih lanjut dikatakan, dari 81 kasus tersebut, jenis kasus yang paling sering terjadi adalah 24 kasus penyerangan dan perusakan, 24 kasus penutupan dan penolakan rumah ibadah, 15 kasus ancaman, tuntutan dan intimidasi. Kemudian 6 kasus penghalangan kegiatan ibadah, 4 kasus diskriminasi karena keyakinan, 3 kasus pembubaran kegiatan atas nama agama, 3 kasus kriminalisasi paham keagamaan, dan 2 kasus pengusiran. Dari segi wilayah atau tempat, sepanjang tahun 2010 tindakan intoleransi paling banyak terjadi di wilayah Jawa Barat dengan 49 kasus, Jawa Timur dengan 6 kasus, DKI dengan 4 kasus, dan Sulawesi Selatan dengan 4 kasus.4

Sedangkan menurut Tedi, Direktur Lembaga Studi Sosial dan Agama Semarang (eLSA), pada semester pertama tahun 2014 ada 6 kasus kekerasan bernuansa agama atau intoleransi yang terjadi di Jawa Tengah. Keenam kasus tersebut adalah perusakan tempat sembahyang umat Hindu di Sragen, bentrok warga dengan FPI di Wonosobo, pembubaran Pengajian Majelis Tafsir Alquran (MTA) di Demak, penolakan kedatangan Habib Rizieq di Demak, permasalahan pengajian Jantiko Mantab oleh Camat Grobogan, dan penangkapan terduga teroris di Klaten. Menurut eLSA, enam kasus itu patut dicermati. Sebab secara substansi, kasus intoleransi jenis itu bukan hal baru, seperti konflik yang melibatkan FPI yang mirip dengan yang terjadi di Kendal. Hanya motivasinya yang berbeda.5

Dari berbagai data diatas, ada beberapa faktor yang menjadi pemicu konflik atau menghambat kerukunan umat beragama, menurut Agus Saputera6 antara lain: (1) pendirian rumah ibadah yang tidak memperhatikan situasi dan kondisi secara sosial dan budaya lokal; (2) penyiaran agama yang bersifat agitasi dan memaksakan kehendak bahwa

4 “Tindakan intoleransi naik 30%,” dalam

http://www.menkokesra.go.id/content/tindakan-intoleransi-naik-30-persen%20. (Diakses tanggal 9 Juni 2014).

5 Anggi Kusumadewi dan Ryan Dwi, “2014, Ada Enam Kasus Intoleransi di Jawa Tengah,” dalam http://nasional.news.viva.co.id/news/read/509782-2014--ada-enam-kasus-intoleransi-di-jawa-tengah (Diakses tanggal 9 Juni 2014)

6Agus Saputera,“Aktualisasi Kerukunan Umat Beragama,” dalam

(5)

agamanya sendirilah yang paling benar dan tidak mau memahami kebenaran agama lain; (3) bantuan luar negeri. Bantuan tersebut dapat juga memicu konflik baik intern maupun antar agama, karena biasanya menitipkan misi tertentu yang harus dilaksanakan; (4) perkawinan beda agama akan mengakibatkan hubungan yang tidak harmonis, terutama menyangkut hukum perkawinan, warisan, harta benda, dan akidah; (5) perayaan hari besar keagamaan yang dilaksanakan tanpa mempertimbangkan situasi, kondisi, dan lokasi masyarakat sekitar; (6) penodaan agama yang bersifat melecehkan atau menodai doktrin suatu agama tertentu, baik yang dilakukan oleh perorangan maupun kelompok; (7) kegiatan aliran yang menyimpang dari doktrin agama yang sudah diyakini kebenarannya ataupun kegiatan tersebut merupakan suatu aliran baru.

Faktor yang mempengaruhi konflik agama tersebut dinilai karena pola relasi yang dilakukan oleh tokoh agama kurang maksimal dijalankan, sehingga konflik semakin tidak terkendali, bahkan semakin meningkat, seperti yang ditunjukkan oleh data-data di atas. Oleh karena itu, untuk mengatasinya, diperlukan pola relasi sosial pemimpin agama atau tokoh agama sebagai panutan bagi kelompok yang berkonflik. Peran relasi sosial yang sinergi dan seimbang berdampak terhadap minimalisir adanya konflik yang berkepanjangan. Tokoh agama sebagai pengayom bagi pengikutnya, menjadi alternatif penting untuk mengatasi disharmoni antar umat beragama.

Pola Relasi Sosial dalam Konflik Horizontal

Penelitian ini berangkat dari teori konflik yang berkembang melalui teori struktural fungsional yang berkaitan dengan pencegahan, penanganan dan penyelesaian berbagai problematika kehidupan masyarakat. Goerge Ritzer dan Douglas J Goodman7, mengutip dari pemikiran Marxian tentang pemikiran konflik sosial yang tidak pernah berhasil memisahkan dirinya dari akar struktural fungsionalnya. Lebih lanjut, teori fungsional, menurut Robert Nisbet yang dikutip dari Turner dan Maryanski menyatakan bahwa

7 George Ritzer dan Douglas J Goodman, Teori Sosiologi Modern (Jakarta: Prenada Media, 2004), h. 153

(6)

fungsionalisme struktural adalah suatu bangunan teori yang paling besar pengaruhnya dalam ilmu sosial di abad sekarang.8

Pada saat ini, teori fungsional struktural menjadi bagian terpenting dalam meningkatkan stabilitas masyarakat dalam menjaga dan mencegah konflik yang berkembang. Keberadaan struktural fungsional harus dikembangkan ke dalam kehidupan masyarakat yang multikultural untuk menciptakan kualitas hidup masyarakat yang lebih baik. Konflik yang berkembang di masyarakat, terjadi karena perbedaan yang tidak dinetralisir oleh fungsional struktur yang ada di dalam lingkungan masyarakat itu sendiri. Kingsley Davis dan Wilbert Moore berpandangan bahwa masalah fungsional utama dalam kehidupan bermasyarakat adalah bagaimana cara masyarakat memotivasi dan menempatkan individu pada posisi mereka yang tepat.9 Individu yang dimaksud adalah menempatkan tokoh masyarakat di dalam kehidupan sosial kemasyarakatan untuk menjadi panutan dalam berbagai aspek karakter sosial.

Penempatan individu menjadi bagian dalam pencegahan, penanganan dan pengelolaan konflik yang ada, sehingga dapat dicapai sebuah kerangka sosial yang aman, adil, baik dan toleran. Terutama dalam kehidupan umat beragama yang sering terjadi gesekan karena perbedaan ideologi dan keyakinan. Hal ini menjadi tujuan utama dari konsep struktrural fungsionalisme bagi tokoh agama untuk menciptakan kondisi yang lebih baik, yaitu melalui pola relasi sosial yang dilakukan.

Sementara itu, menurut pandangan Hayat,10 merupakan sebuah dogma masyarakat terhadap struktural fungsional yang semakin luas dengan pelbagai perbedaan secara substantif yang mengikutinya, serta adanya perubahan dan perkembangan di dalam kehidupan masyarakat. Keberadaan sebuah konflik ditimbulkan oleh adanya sebuah perbedaan dalam kehidupan masyarakat. Perbedaan itu tidak dipersepsikan sebagai

8 Ibid,. h. 117 9 Ibid. h. 118

10 Hayat, “Teori Konflik dalam Perspektif Hukum Islam: Interkoneksi Islam dan Sosial.” Jurnal Hunafa, vol 10, no 2, h. 271.

(7)

sebuah kemanfaatan di dalam kehidupannya, namun dipersepsikan sebagai bentuk penolakan terhadap perbedaan itu sendiri.

Seyogyanya, perbedaan mempunyai aktualisasi yang membawa kemanfaatan bagi kehidupan sosial masyarakat, misalnya tolong menolong antar sesama, bekerjasama dalam berbagai kebutuhan, menciptakan stabilitas saling menghargai satu sama lain, dan menciptakan kondisi lingkungan kehidupan sosial yang lebih baik dan berkualitas, untuk kemaslahatan dan kesejahteraan bagi seluruh warga negara.

Menurut penelitian Ramadhanita Mustika Sari, seperti yang dikutip Hayat,11 mengungkapkan bahwa dalam menyikapi konflik dalam kaitan perbedaan identitas menurut sudut pandang kelompok adalah sebagai berikut:

a. Kelompok Primordialis, yang menilai bahwa perbedaan genetika seperti suku, ras, dan agama menjadi sumber utama dari sebuah gesekan antar kelompok yang mempunyai tujuan dan kepentingan di dalamnya. Sehingga benturan-benturan menjadikan konflik tidak dapat dihindari, dengan keinginan untuk mempertahankan eksistensi dari suatu kelompok itu sendiri. Perspektifnya adalah ketika kelompok merasa dirugikan, maka hal itu menjadi penentu timbulnya konflik. b. Kelompok Instrumentalis. Bagi kelompok ini suku, agama, dan ras

merupakan media untuk mencapai tujuan dari kelompok itu sendiri, secara material maupun non material. Tujuan dan harapan dari kelompok tersebut menjadi keharusan untuk dicapai, baik secara individu ataupun kelompok di dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Persinggungannya adalah jika beberapa kelompok dengan tujuan yang berbeda sesuai dengan capaiannya, maka konflik tidak dapat terhindarkan jika capaian itu tidak sesuai dengan harapan, dan menyalahkan kelompok lain sebagai penghambat dari tujuan kelompoknya.

c. Kelompok Kontruktivis, yang beranggapan bahwa identitas kelompok tidak kaku dan dapat diolah menjadi bentuk jaringan relasi sosial yang bagus. Setiap kelompok dalam kehidupan masyarakat sebagai

(8)

konektivitas untuk mencapai tujuan secara bersama-sama. Jaringan yang dibangun adalah dengan pola relasi yang seimbang dengan saling menguntungkan satu sama lain, sehingga capaian tujuan kelompok akan membantu kelompok lain.

Peran Tokoh Agama dalam Pencegahan Konflik

Setiap agama mempunyai peran penting dalam kehidupan sosial. Agama sebagai ideologi dan keyakinan umat beragama mempunyai tata aturan dan

norma dalam bermasyarakat. Bangsa Indonesia dengan

multikulturalitasnya memberikan kebebasan kepada warga negaranya untuk memeluk agamanya sesuai dengan keyakinan masing-masing, memberikan implikasi terhadap toleransi yang sangat tinggi dalam kebersamaan dan ke-Bhinneka Tunggal Ika-an di bawah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Namun, semakin meningkatnya pola hidup masyarakat saat ini, toleransi semakin terancam dan terkikis, banyaknya kepentingan pribadi dan golongan, politik, sosial, budaya, ekonomi, dan etnis yang mengatasnamakan agama menjadi konflik berbau SARA (suku, ras, dan agama) semakin meningkat. Konflik meluas dengan berbagai paradigma dan perspektif yang ditimbulkan. Kelompok mayoritas seolah-olah menjadi penguasa di dalam dominasi keyakinannya, semantara minoritas bersikukuh mempertahankan keberadaan konflik sebagai jalan menuju tujuan dan kepentingan sesaat.

Anis Malik Toha dalam bukunya yang berjudul “Tren Pluralisme Agama”, seperti yang dikutip Agusni Yahya,12 menuturkan bahwa pluralisme agama adalah keadaan kondisi hidup yang bersamaan (koeksistensi) dalam satu lingkungan antar umat beragama yang berbeda-beda dengan mempertahankan sifat, prinsip, ciri-ciri spesifik atau ajaran masing-masing agama.

12 Agus Yahya, “Fiqh Al-Hadits Ibn Taimiyah Tentang Pluralisme Agama”.

(9)

Menurut Abu Hapsin, Komarudin, M. Arja Imroni13 bahwa Konflik antar umat beragama akan terus berlangsung, hal itu dikarenakan antara lain: (1) menguatnya radikalisme, fundamentalisme dan terorisme; (2) belum optimalnya kedewasaan masyarakat dalam beragama. Ditambah peran serta masyarakat yang rendah dalam menjaga toleransi agama; (3) belum adanya pelaksanaan dari UUD Negara Republik Indonesia pasal 29; (4) penegakan hukum yang mengalami kegamangan jika terjadi konflik keagamaan.

Sementara itu, peran tokoh agama menjadi terabaikan ketika konflik melanda. Para tokoh agama membela pada kelompoknya masing-masing, sehingga menghilangkan peran ketokohannya sebagai pengayom dan pelindung bagi seluruh masyarakat.

Perlu dilakukan sebuah relasi sosial antar tokoh agama di dalam kehidupan berwarganegara dan bermasyarakat. Pola relasi sosial antar tokoh agama dapat dilakukan pada agenda-agenda penting kemasyarakatan untuk memperkokoh toleransi dalam kehidupan masyarakat yang lebih bermartabat, dan meminimalisir saling kecurigaan antar kelompok agama. Pun demikian, pola relasi antar tokoh agama menjadi media pencegah timbulnya konflik antar umat beragama, sehingga relasi harmoni dalam berbangsa dan bernegara dapat dicapai untuk kebaikan dan kesejahteraan masyarakat.

Peningkatan Toleransi Agama dalam Kajian Agama dan Sains Penelitian dan kajian tentang pola relasi sosial keagamaan untuk penguatan terhadap toleransi agama telah banyak dilakukan oleh para akedemisi dan peneliti. Penelitian yang dilakukan oleh Center fo Religious and Cross-culture Studies (CRCS) UGM tentang Laporan Tahunan Kehidupan Beragama di Indonesia, mengungkapkan bahwa penting bagi kelompok mayoritas untuk meningkatkan etika toleransi bagi setiap umat beragama dalam peningkatan terhadap kehidupan masyarakat yang lebih baik.

13 Abu Hapsin, Komarudin, M. Arja Imroni. “Urgensi Regulasi Penyelesaian Konflik Umat Beragama: Perspektif Tokoh Lintas Agama”. Jurnal Walisongo, vol. 22. no. 2 Tahun 2014, h. 352.

(10)

Sementara bagi minoritas penting untuk memperhatikan kearifan dalam berkomunikasi dengan kelompok lain. Bagi kelompok keagamaan yang ingin mendirikan rumah ibadah, diharapkan untuk menyelesaikan surat izinnya, kerap ada keluhan dalam perizinan, tapi adanya izin menghilangkan alasan untuk tidak terpenuhinya hak beribadah. Tanpa semangat toleransi dan kearifan, konflik antar agama semakin sulit dihindari.14

Sedangkan untuk masalah konflik penodaan dan penistaan agama, harus mementingkan hak-hak sipil, politik, dan ekonomi warga pengungsi Ahmadiyah di Mataram oleh negara. Satu hal yang penting untuk dilakukan adalah menciptakan situasi yang kondusif tanpa intimidasi, kekerasan, dan situasi aman. Sedangkan yang menjadi catatan dari berbagai kasus di atas adalah peran pemerintah daerah yang kerap tunduk pada desakan massa, bahkan melanggar hukum dan putusan peradilan sekalipun.

Kajian lain terkait dengan relasi sosial antar umat bergama juga dilakukan oleh Ahmad Munjin Nasih dan Dewa Agung Gede Agung, yang menitikberatkan pada pola relasi umat Islam dan umat Hindu dalam kerangka penguatan terhadap toleransi agama di Malang Raya. Umat Hindu di Malang Raya merupakan komunitas minoritas, di mana secara umum mereka tinggal di kawasan pedesaan yang terletak di pinggiran kota. Selama ini relasi umat Hindu dengan umat Muslim sebagai umat mayoritas terjalin dengan baik dan harmonis. Salah satu indikatornya adalah dalam kurun waktu yang sangat lama hampir tidak pernah terdengar ada benturan horizontal antarumat sehingga mengganggu hubungan keduanya.

Hal mendasar yang menjadi penyebab keharmonisan hubungan keduanya adalah adanya saling pengertian dan toleransi, serta dibentuknya sistem sosial yang disepakati bersama tanpa mengorbankan akidah masing-masing. Setidaknya terdapat empat kegiatan yang dilakukan oleh umat Muslim dan Hindu secara turun temurun yang menyebabkan mereka bisa

14 Lihat Bagir, Zainal Abidin, dkk., Laporan Tahunan Kehidupan Beragama Di

(11)

hidup rukun dan harmonis yaitu: 1) kegiatan desa, 2) kegiatan kenegaraan; 3) kegiatan keagamaan; dan 4) kegiatan pelestarian budaya lokal.15

Berdasarkan hasil penelitian Ebin E. Danius,16 yang membahas tentang hubungan Kristen-Islam pasca konflik di Tobelo Halmahera Utara, menunjukkan bahwa relasi Kristen-Islam telah mengalami proses kemunduran sebagai akibat dari beberapa kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah terkait dengan hubungan antar agama. Kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah dalam hal ini hanya merupakan faktor pemicu yang memberikan legitimasi bagi pembatasan hubungan antar agama. Faktor yang paling menentukan sebenarnya adalah berkembangnya ajaran-ajaran agama yang berdampak pada kecurigaan tertentu dari masing-masing pihak. Dengan kecurigaan yang demikian maka semua hal yang dilakukan oleh pihak lain dianggap sebagai sebuah upaya untuk mempengaruhi keyakinan agama yang dipegang oleh mereka. Upaya untuk menjalin relasi kembali sesudah konflik dilakukan dengan pendekatan kekerabatan dan ikatan kesukuan. Dalam beberapa hal pendekatan seperti ini cukup berhasil dalam menjembatani hubungan dua komunitas yang pernah berhadapan dalam konflik. Namun juga tidak bisa disangkal bahwa pengalaman konflik mendatangkan trauma tertentu yang berdampak pada kecurigaan-kecurigaan dari masing-masing pihak. Agama masing-masing komunitas dalam hal ini tetap menjadi sandaran utama dalam berhadapan dengan pihak lain yang berbeda agama.

Kurang berhasilnya proses rekonsiliasi dan pendekatan-pendekatan yang dilakukan dalam menjalin kembali relasi yang telah rusak berdampak pada ketegangan tertentu yang ada dalam masyarakat menyangkut isu-isu tertentu yang muncul. Perhatian besar diberikan pada birokrasi pemerintahan dan pada bidang politik praktis membuat masyarakat seringkali terkotak-kotak dalam sekat-sekat agama ketika proses tertentu terjadi dalam dua hal tersebut. Tingkat kecurigaan masyarakat masih begitu tinggi. Kecurigaan ini melahirkan sikap mendua dalam upaya untuk membangun kembali hubungan antar masyarakat yang rusak akibat

15 Ahmad Munjin Nasih dan Dewa Agung Gede Agung, “Harmoni Relasi Sosial Umat Muslim dengan Hindu di Malang Raya”. Jurnal Masyarakat, Kebudayaan dan

Politik, vol 24 no 2 tahun 2011.

16 Ebin E Danius, “Hubungan Kristen-Islam Pasca Konflik di Tobelo Halmahera Utara.” Jurnal Uniera, vol 1 no 1, Tahun 2012.

(12)

konflik. Pendekatan keluarga dan suku tidak menjamin secara baik bahwa relasi tersebut pulih.

Dalam banyak hal sikap dan tindakan komunitas Kristen pada Islam merupakan sebuah sikap penolakan pada hegemoni umat Islam dalam konstelasi politik Maluku Utara. Identitas Kristen dalam hal ini muncul sebagai pembeda yang mempersatukan umat Kristen di Halut dalam berhadapan dengan pengaruh kepentingan penguasa Provinsi dan umat Islam.

Penutup

Berdasarkan pembahasan di atas, maka dapat ditarik kesimpulan, bahwa toleransi agama di Indonesia masih dapat terjaga secara baik dan komprehensif, karena korelasi dan konektifitas antara tokoh-tokoh agama di Indonesia mendukung pola pencegahan dini terhadap timbulnya konflik. Hal ini juga diperkuat oleh sistem dan tatanan serta dukungan pemerintah dalam membangun kerjasama dengan para tokoh agama serta memperkuat aspek kehidupan sosial di masyarakat.

Penguatan nilai-nilai pluralisme melalui pola relasi sosial antar tokoh agama dan pemerintah serta masyarakat mempunyai implikasi sangat besar bagi kehidupan keagamaan masyarakat. Di samping saling menjaga keharmonisan antar umat beragama, hal itu dapat menjaga dan mengkonter hal-hal yang dapat ditimbulkan dari gejala-gejala yang muncul dengan menerapkan komunikasi, koordinasi dan koreksi dapat membantu pemerintah mencegah keberadaan konflik horizontal antar umat beragama. Di samping kedewasaan pemikiran masyarakat atas upaya toleransi dapat dikatakan berhasil. Semua stakeholder bekerjasama membangun kepercayaan melalui pemahaman secara toleran terhadap dinamika kehidupan masyarakat, sebagai simbol utamanya adalah regulasi tempat ibadah sebagai ekspektasi kekuatan toleransi sudah melembaga dalam kehidupan masyarakat Kota malang. Semoga menjadi pembelajar bagi kita semua, bahwa toleransi agama itu penting untuk penguatan kehidupan masyarakat yang lebih baik, serta membangun harmonisasi yang seimbang dan setara antar umat beragama dalam membangun peradaban bangsa.

(13)

DAFTAR PUSTAKA

Abidin, Bagir, Zainal., dkk. Laporan Tahunan Kehidupan Beragama Di Indonesia. Yogyakarta: Program Studi Agama dan Lintas Budaya, 2010.

Danius, Ebin E. “Hubungan Kristen-Islam Pasca Konflik di Tobelo Halmahera Utara.” Jurnal Uniera, vol 1 no 1, Tahun 2012. Hapsin, Abu., Komarudin, dan Imroni, M. Arja. “Urgensi Regulasi

Penyelesaian Konflik Umat Beragama: Perspektif Tokoh Lintas Agama”. Jurnal Walisongo, vol. 22. no. 2 Tahun 2014.

Hayat. “Teori Konflik dalam Perspektif Hukum Islam: Interkoneksi Islam dan Sosial.” Jurnal Hunafa, vol 10, no 2, h. 271. Kantor Departemen Agama. Kota Malang dalam Malang Angka

2011. Malang: Kandepag, 2011.

Kementerian Agama RI. Potret Kerukunan Umat Beragama DI Provinsi Jawa Timur. Jakarta: Badan Litbang dan Diklat Puslitbang Keagamaan Kementerian Agama RI, 2011. Kusumadewi, Anggi dan Dwi, Ryan. “2014, Ada Enam Kasus

Intoleransi di Jawa Tengah,” dalam

http://nasional.news.viva.co.id/news/read/509782-2014--ada-enam-kasus-intoleransi-di-jawa-tengah (Diakses tanggal 9 Juni 2014)

Nasih, Ahmad Munjin dan Agung, Dewa Agung Gede. “Harmoni Relasi Sosial Umat Muslim dengan Hindu di Malang Raya”. Jurnal Masyarakat, Kebudayaan dan Politik, vol 24 no 2 tahun 2011.

Ritzer, George dan Goodman, Douglas J. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Prenada Media, 2004.

Saputera, Agus.“Aktualisasi Kerukunan Umat Beragama,” dalam http://riau1.kemenag.go.id/index.php?a=artikel&id=262 . (Diakses tanggal 9 Juni 2014)

Toha, Suhermanto., dkk. “Eksistensi Surat Keputusan Bersama Dalam Penyelesaian Konflik Antar Dan Intern Agama.” Laporan Akhir Penelitian Hukum. Jakarta: Badan Pembinaan Hukum Nasional Kementerian Hukum dan HAM RI, 2011.

(14)

Yahya, Agus. “Fiqh Al-Hadits Ibn Taimiyah Tentang Pluralisme Agama”. Jurnal Substantia, vol. 12 no. 1 Tahun 2011. “Tindakan intoleransi naik 30%,” dalam

http://www.menkokesra.go.id/content/tindakan-intoleransi-naik-30-persen%20. (Diakses tanggal 9 Juni 2014).

(15)

ISSN 1907- 0993 E ISSN 2442-8264 Volume 13 Nomor 1 Juni 2016

Halaman 104 - 121 http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/fa

Filsafat Eksistensialisme dan Format Epistemologi Kajian Islam Oleh: Arfan Nusi

Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amai Gorontalo Email: [email protected]

Abstract

Existentialism philosophy of looking at things based on the existence or how humans are in the world . Etymologically derived from the word existentialism

copies, meaning outside, andand a meaningful existence stand or place , so widespread existence can be interpreted as a stand alone as himself as well as out of him .In general meaning , humans in existence it was aware that he was there and everything is determined by the existence he admits. Islam is not a religion of one-dimensional. Nor is religion based solely on human institutions and limited to the relationship between man and God. Up to understand it is not

enough just to a single method .Rather it requires human freedom in view of other methods. Departing from these freedoms least epistemology format Islamic studies as a form of independence awoke thinking.Because, for freedom

of thought is a study which occupies an important position . Islam in this case have a clear concept , universal and tested . Islam's relationship with the

independence of thinking.

Filsafat eksistensialisme memandang segala sesuatu berdasarkan eksistensinya atau bagaimana manusia berada dalam dunia. Secara etimologi

eksistensialisme berasal dari kata eks yang artinya luar, dan sistensi yang berarti berdiri atau menempatkan, jadi secara luas eksistensi dapat diartikan

sebagai berdiri sendiri sebagai dirinya sekaligus keluar dari dirinya. Secara umum berarti, manusia dalam keberadaannya itu sadar bahwa dirinya ada dan segala sesuatu keberadaanya di tentukan oleh akunya. Islam bukan merupakan

agama satu dimensi. Bukan pula agama yang semata-mata berdasarkan institusi manusia dan terbatas pada hubungan antara manusia dan Tuhan saja.

Hingga untuk memahaminya tidak cukup hanya dengan sebuah metode saja. Melainkan membutuhkan kebebasan manusia dalam melihat metode yang lain. Berangkat dari kebebasan tersebut setidaknya format epistemologi kajian Islam terbangun sebagai wujud kemerdekaan berfikir. Sebab, selama ini kemerdekaan berfikir merupakan kajian yang menempati posisi penting. Islam dalam hal ini

(16)

kemerdekaan berfikir berlangsung dalam bentuk yang khas. Islam memberi tempat dan al-Qur'an sebagai sumber ajaran menegakkan kemerdekaan

berfikir. Keywords:

Existensialism; Islamic Studies; Freedom of Thought Pendahuluan

Kajian ilmu pengetahuan1 yang berkembang sekarang ini banyak berhutang budi terhadap logika filsafat yang pernah memuncaki perjalanan kehidupan manusia. Dalam catatan sejarah kemunculan filsafat di masa Yunani kuno dapat dikatakan sebagai langkah awal untuk membebaskan akal manusia dari kungkungan mistis yang membelenggu potensi-potensi rasional manusia. Ketika akal rasional manusia menemukan momentum dalam konteks kultural kemanusiaan maka otomatis manusia tersebut telah merdeka. Merdeka dalam arti ia dapat menggunakan akal rasional untuk menciptakan kreasi dalam rangka mendukung kelangsungan kehidupannya. Thales mencoba keluar dari penjara mistis, ia bisa dikatakan orang pertama yang menggunakan pikiran gelisahnya terhadap alam semesta yang membentang di depan mata kepalanya. Kegelisahan Thales itu berawal dari sebuah pertanyaan, what is the nature of the word stuff (apa sebenarnya bahan alam semesta ini)?

Jika pertanyaan itu diajukan Thales di zaman sekarang, maka dipastikan akan mendapatkan cibiran bahwa pertanyaan tersebut sudah kuno. Karena seluruh ilmu pengetahuan telah mapan dan dapat menjawab sesuai perspektifnya. Tetapi pertanyaan Thales tersebut diajukan pada tahun 624 SM. Tahun dimana manusia belum mampu berfikir secara rasional. Tetapi pertanyaan itu di zaman Thales telah menggegerkan seperangkat masyarakat kala itu. Pertanyaan itu dianggap sudah modern di zamannya bahkan telah melampaui historisitas kehidupan manusia waktu itu. Di sisi lain pertanyaan itu menjadi batu loncatan kemunculan ilmu logika atau filsafat di kemudian hari.

1 Ilmu pengetahuan yang dimaksud itu adalah, ilmu Biologi, Fisika, Kimia, Astronomi, Kedokteran dan lain-lain. Sebenarnya ilmu pengetahuan yang disebut di atas itu adalah bagian dari filsafat, tapi seiring perkembangan zaman, ilmu pengetahuan tersebut berdiri secara mandiri dan tidak lagi bergabung dengan filsafat.

(17)

Seiring perkembangan waktu filsafat menjadi ramai dikaji oleh masyarakat dunia dan Yunani sebagai pusat Ilmu Filsafat, pesona filsafat pun menembus batas-batas teritorial geografis. Filsafat pun menggelinding dibawa arus perjalanan waktu, hingga puncaknya berada di tangan Socrates, Plato dan Aristoteles. Di tangan tiga orang filosof itu filsafat tampak menjadi seksi. Daya tarik Ilmu Filsafat dari ketiga filosof itu diakui telah membangun proyek ilmu pengtahuan, sehingga mendapatkan identitas.2 Hal ini menandai bahwa kemerdekaan manusia atas kungkungan penyempitan akal rasional dari alam benar-benar dibuktikan oleh Ilmu Filsafat.

Perkembangan filsafat selajutnya melahirkan aliran keilmuan tersendiri, salah satunya adalah filsafat eksistensialisme. Penggagas filsafat eksistensialisme adalah Kierkegaard, Martin Heidegger, Camus, Paul Sartre dan Karl Jaspers. Eksistensialisme muncul karena dilatarbelakangi adanya ketidakpuasan beberapa filsuf yang memandang bahwa filsafat pada masa Yunani ketika itu seperti protes terhadap rasionalisme Yunani, khususnya kemampuan sistem, rasa tidak puas terhadap filsafat tradisional yang bersifat dangkal dan primitif.

Selain itu, aliran ini lahir karena adanya kesadaran beberapa filsuf bahwa manusia mulai terbelenggu dalam aktifitas teknologi yang membuat mereka kehilangan hakekat hidupnya sebagai manusia atau makhluk yang berinteraksi dengan alam dan lingkungan sekitar bukan hanya dengan semua serba instant.3 Adapun pendapat lain mengatakan bahwa lahirnya aliran eksistensialisme karena adanya krisis yang terjadi atau merupakan reaksi atas aliran filsafat yang telah ada sebelumnya atau situasi dan kondisi dunia.4

Secara sederhana makna eksistensialisme yaitu membuat yang ada dan bersosok jelas bentuknya, mampu berada, eksis. Dari sisi filsafat eksistensialis ini, epistemologi kajian Islam menemukan ruang berbenah diri. Manusia menurut Muhammad Iqbal sebagaimana dikutip Ishrat Hasan Enver, sebagai makhluk eksistensial dituntut untuk memenuhi

2 Donny Gahral Adian, Menyoal Objektivisme Ilmu Pengetahuan (Bandung: Teraju, 2002), h. 2.

3Endang Saefuddin Anshari, Ilmu Filsafat dan Agama, (Surabaya: PT. Bina Ilmu, 2009), h. 98.

4Vincent Martin, Filsafat Eksistensialisme, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003), h. 23.

(18)

eksistensi dirinya, bersifat aktif, dinamis, dan kuat.5 Manusia tidak seharusnya pasif, statis, bahkan menarik diri dari kepentingan duniawi dan tunduk secara buta pada ajaran tertentu. Materialisme Barat Modern telah menghilangkan metafisika dan mengakibatkan timbulnya krisis eksistensial manusia, alienasi, dan dehumanisasi.6 Eksistensialisme menuntun manusia berfikir progresif, inklusif dan universal agar manusia benar-benar merdeka dalam berfikir. Bahkan, agama Islam diturunkan ke muka bumi sebagai faktor pembebas bukan mengungkung kebebasan eksistensi kemanusiaan. Dengan telaah yang cukup mendalam, artikel ini mencoba mendeskripsikan filsafat eksistensialisme dan relevansinya dengan Islamic Studies saat ini.

Pengertian Eksistensialisme

Eksistensialisme adalah aliran yang memandang segala sesuatu berdasarkan eksistensinya atau bagaimana manusia berada dalam dunia. Secara etimologi eksistensialisme berasal dari kata “eks” yang artinya “luar”, dan “sistensi” yang berarti “berdiri atau menempatkan”, jadi secara luas eksistensi dapat diartikan sebagai “berdiri sendiri sebagai dirinya sekaligus keluar dari dirinya.” Secara umum berarti, manusia dalam keberadaannya itu sadar bahwa dirinya ada dan segala sesuatu keberadaanya ditentukan oleh akunya. Karena manusia selalu terlihat di sekelilingnya, sekaligus sebagai miliknya.7 Menurut pengertian terminologi adalah “suatu aliran dalam Ilmu Filsafat yang menekankan segala sesuatu terhadap manusia dan segala sesuatu yang mengiringinya dan dipandang bahwa manusia adalah makhluk yang harus selalu aktif dengan sesuatu yang ada di sekelilingnya serta mengkaji cara kerja manusia ketika berada di dunia dengan kesadaran.”8

Pendapat lain mengatakan eksistensialisme merupakan aliran yang menekankan pada manusia yang bertanggungjawab atas kemauannya yang bebas tanpa memikirkan secara mendalam yang benar dan yang

5Ishrat Hasan Enver, Metafisika Iqbal, Terj. Fauzi Arifin, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004), h. viii.

6Ibid., h. ix.

7Muzairi, Filsafat Umum (Yogyakarta: Teras, 2009), h. 143.

8Ahmad Tafsir, Filsafat Umum, Akal dan Hati Sejak Thales Sampai Capra (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2009), h. 217.

(19)

tidak. Sebenarnya bukan tidak mengetahui tentang yang benar dan tidak, namun seorang eksistensialis sadar bahwa kebenaran filsafati itu relatif, dan masing-masing bebas menentukan sesuatu yang menurutnya benar. Sehingga dapat dikatakan pusat renungan eksistensialisme adalah manusia konkret.9

Eksistensialisme sangat berhubungan dengan pendidikan karena pusat pembicaraan eksistensialisme adalah keberadaan manusia sedangkan pendidikan hanya dilakukan oleh manusia. Eksistensialisme merupakan keadaan tertentu yang lebih khusus dari sesuatu. Apapun yang bereksistesi tentu nyata ada. Sesuatu dikatakan bereksistensi jika sesuatu itu bersifat publik yang artinya objek itu sendiri harus dialami oleh banyak orang yang melakukan pengamatan.10

Seperti juga halnya, perasaan yang tertekan tidak bereksistensi, meskipun perasaan itu nyata ada dan terjadi dalam diri. Apa yang bersifat publik kiranya selalu menempati ruang dan terjadi dalam waktu. Oleh karena itu eksistensi sering dikatakan berkenaan dengan objek-objek yang merupakan kenyataan dalam ruang dan waktu.11

Eksistensialisme berarti filsafat mengenai aku, mengenai bagaimana aku hidup. Dengan demikian eksistensialisme adalah filsafat subjektif mengenai diri sendiri. Manusia disini di pandang sebagai makhluk yang harus aktif. Eksistensialisme di definisikan sebagai usaha untuk memfilsafatkan sesuatu dari sudut pandang pelakunya. Dan memberi perhatian terhadap masalah manusia modern.12 Ciri-ciri aliran eksistensialisme yaitu:

1. Eksistensialisme adalah pemberontakan dan protes terhadap rasionalisme dan masyarakat modern, khususnya idealisme Hegel. 2. Eksistensialisme adalah suatu proses atas nama individualisme terhadap konsep – konsep, filsafat akademis yang jauh dari kehidupan konkret.

9 Ibid., h. 218.

10 Louis O.Katsof, Pengantar Filsafat (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2004), h. 20. 11 Ibid., h. 21.

(20)

3. Eksistensialisme juga merupakan pemberontakan terhadap alam yang impersonal (tanpa kepribadian) dari zaman industri modern dan teknologi serta gerakan masa.

4. Eksistensialisme merupakan protes terhadap gerakan totaliter baik gerakan fasis, komunis yang cenderung menghancurkan atau menenggelamkan perorangan di dalam kolektif atau massa. 5. Eksistensialisme menekankan situasi manusia dan prospek

manusia di dunia.

6. Eksistensialisme menentukan keunikan dan kedudukan pertama eksistensi, pengalaman kesadaran yang dalam dan langsung.13 Sejarah Eksistensialisme

Eksistensialisme pertama kali dirumuskan oleh ahli filsafat Jerman yaitu Martin Heidegger (1889-1976). Akar metodelogi eksistensialisme ini berasal dari fenomenologi yang dikembangkan oleh Edmund Husserl (1859-1938).14 Eksistensialisme muncul dari 2 orang ahli filsafat, yaitu Soren Kierkegaard dan Neitzsche. Kierkegaard seorang filsafat Jerman (1813-1855) filsafatnya untuk menjawab pertannyaan mengenai pertannyaan “Bagaimanakah aku menjadi seorang individu?” Ia juga menerima prinsip Socrates yang mengatakan bahwa pengetahuan akan diri adalah pengetahuan akan Tuhan. Hal ini terjadi karena pada saat itu terjadi krisis eksistensialisme (manusia melupakan individualitasnya), sehingga manusia bisa menjadi manusia yang autentik jika memiliki gairah, keterlibatan dan komitmen pribadi dalam kehidupan.15 Neitzsche, juga filsuf Jerman (1844-1900), yang tujuan filsafatnya menjawab pertanyaan “Bagaimana menjadi manusia unggul?”. Menurut Neitzsche jawabannya adalah manusia bisa menjadi manusia unggul jika mempunyai keberaniaan untuk merealisasikan diri secara jujur dan berani.16

13 Zuhaifini, Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), h. 31. 14 Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat II (Yogyakarta: Kanisius, 1980), h. 65

15 Basuki As'adi dan Miftakul Ulum, Pengantar Filsafat Pendidikan (Ponorogo: STAIN Ponorogo Press, 2010), h. 29-30.

(21)

Kedua tokoh di atas muncul karena adanya perang dunia pertama dan situasi Eropa pada saat itu, sehingga mereka tampil untuk menjawab pandangan tentang manusia seperti yang sudah dijelaskan di atas.

Di samping itu penyebab munculnya filsafat eksistensialisme ini yaitu adanya reaksi terhadap filsafat materialisme Karl Marx yang berpedoman bahwa eksistensi manusia bukan sesuatu yang primer dan idealisme Hegel yang bertolak bahwa eksistensi manusia sebagai yang konkret dan subjektif karena mereka hanya memandang manusia menurut materi atau ide dalam rumusan dan sistem-sistem umum (kolektivitas sosial).

Pengaruh lahirnya filsafat eksistensialisme berasal dari filsafat hidup Henri Bergson dan metafisika modern. Filsafat ini muncul pada paruh pertengahan abad ke-20. Tokoh-tokoh Eksistensialisme yaitun Soren Aabye Kiekegaard, Karl Jaspers, Martin Heidegger, Jean Paul Sartre, Frederidch Nietzshe. Berikut sekelumit biografi dan pemikiran tokoh-tokoh Eksistensialisme:

Kierkegaard lahir di Kopenhagen, Denmark pada 5 Mei 1813, sebagai anak bungsu dari tujuh bersaudara. Ayahnya, Michael Pedersen Kierkegaard, merupakan pedagang grosir yang menjual kain, pakaian, dan makanan. Setelah mengenyam pendidikan di sekolah putra yang prestisius di Borgerdydskolen, ia melanjutkan pendidikan tingginya di Universitas Kopenhagen. Di sini pria yang bernama lengkap Soren Aabye Kierkegaard ini mempelajari filsafat dan teologi. Sejumlah tokoh seperti F.C. Sibbern, Poul Martin Moller, dan H.L. Martensen menjadi gurunya di sana.

Karya-karya Kierkegaard dapat dikelompokkan dalam dua periode. Periode pertama ditulis antara 1841 dan 1845. Sebagian besar bernuansa filosofis dan estetis, beberapa ditulis dalam nama samaran, Johannes Climacus. Karya-karya dalam periode ini ialah The Conceptof Irony with Constant Reference to Socrates (1841), Either/Or (1843), Fear and Trembling (1842), The Conceptof Dread (1844), Stageson Life's Way (1844), Philosophical Fragments (1844), Concluding Unscientific Postscript to the Philosophical Fragments (1846).17

(22)

Pemikiran Kierkegaard yang cukup terkenal adalah ketika ia keberatan kepada Hegel yang meremehkan eksistensi yang konkrit, karena Hegel mengutamakan idea yang sifatnya umum. Menurut Kierkegaard, manusia tidak pernah hidup sebagai suatu “aku umum” tetapi sebagai “aku individu” yang sama sekali unik dan tidak dapat dijabarkan ke dalam sesuatu yang lain. Dengan demikian, Kierkegaard memperkenalkan istilah eksistensi dalam suatu arti yang mempunyai peran besar pada abad ke-20. Bereksistensi berarti bertindak. Tidak ada orang lain yang menggantikan tempat seseorang untuk bereksistensi.18

Karl Jaspers lahir di kota Oldenburg, Jerman Utara, pada tahun 1883. Sejak sekolah menengah, ia sudah tertarik pada filsafat, tetapi baru pada usia 38 tahun ia dapat sepenuhnya memenuhi panggilan filosofisnya.19Selama tiga semester ia belajar hukum di Universitas Heidelberg dan Munchen, tetapi ubah haluan dengan memilih studi kedokteran yang dijalankan di Berlin, Gottingen dan Heidelberg. Di Universitas Heidelberg ia mengambil spesialiasi psikiatri. Tetapi ia tetap tertarik dengan filsafat, antara lain melalui Max Weber, ahli ekonomi, sejarawan dan sosiolog terkenal yang dikaguminya.

Jaspers menulis buku Allgemeine Psychopathologie (Psikologi umum) pada tahun 1910. Di buku ini, ia tidak melukiskan penyakit-penyakit, tetapi menyoroti manusia yang sakit. Ia menggunakan metode deskripsi fenomenologis Edmund Husserl. Pada 1916 ia menjadi Profesor Psikologi di Heidelberg. Lalu pada 1919 ia menulis buku Psychologie der Weltanschauungen (Psikologi Tentang Pandangan-pandangan Dunia). Di buku ini, ia melukiskan berbagai sikap yang diambil manusia terhadap kehidupan. Dua buku ini ditulis berdasarkan pengalamannya sebagai psikiater dan menunjukkan betapa kentalnya ketertarikan Karl Jaspers pada filsafat.20 Jaspers mencurahkan seluruh perhatiannya pada filsafat mulai tahun 1921, setelah ia menerima gelar profesorat filsafat di Heidelberg. Ada yang tak setuju dengan pemberian gelar ini, sebab ia dianggap bukan filsuf profesional. Namun, setelah menerima gelar penghargaan itu, ia menulis banyak sekali karya, antara lain karya besar yang terdiri dari tiga jilid, Philosophie (1932). Jilid I berjudul Weltori enti

18Ibid., h. 20.

19 Adian, Menyoal..., h. 177. 20Ibid., h. 178.

(23)

er ung (Orientasi Dalam Dunia), jilid II berjudul E xi st enz er hell ung (Penerangan Eksistensi), dan jilid III Met aphy sik (Metafisika).21

Martin Hiedegger. Lahir di Mebkirch, Jerman, 26 September 1889 ± meninggal 26 Mei 1976 pada umur 86 tahun. Merupakan pemikir yang ekstrim, hanya beberapa filsuf saja yang mengerti pemikiran Heidegger. Pemikiran Heidegger selalu tersusun secara sistematis. Tujuan dari pemikiran Heidegger pada dasarnya berusaha untuk menjawab pengertian dari being. Heidegger berpendapat bahwa ‘Das Wesen des Daseins liegtinseiner Existenz´, “adanya keberadaan itu terletak pada eksistensinya.” Di dalam realitasnya being (sein) tidak sama sebagai being ada pada umumnya, sesuatu yang mempunyai ada dan di dalam ada, dan hal tersebut sangat bertolak belakang dengan ada sebagai pengada. Heidegger menyebut being sebagai eksistensi manusia, dan sejauh ini analisis tentang being biasa disebut sebagai eksistensi manusia (Dasein). Dasein tersusun dari Dans ei n. Da: di sana (there), sein berarti berada (to be/being). Artinya manusia sadar dengan tempatnya.22

Jean-Paul Sartre lahir di Paris, Perancis, 21 Juni 1905 dan meninggal pada 15 April 1980 pada umur 74 tahun. Ia adalah seorang filsuf dan penulis Perancis yang dianggap mengembangkan aliran eksistensialisme. Sartre menyatakan, eksistensi lebih dulu ada dibanding esensi (L'existence précède l'essence). Manusia tidak memiliki apa-apa saat dilahirkan dan selama hidupnya ia tidak lebih hasil kalkulasi dari komitmen- komitmennya di masa lalu. Karena itu, menurut Sartre selanjutnya, satu-satunya landasan nilai adalah kebebasan manusia (L'homme est condamné à être libre).23

Eksistensi mendahului esensi, begitulah selalu filosof-filosof eksistensialis berkata, dan cara manusia bereksistensi berbeda dengan cara beradanya benda-benda. Karenanya masalah ada merupakan salah satu tema terpenting dalam tradisi eksistensialisme. Bagi Sartre, manusia menyadari ada-nya dengan meniadakan (mengobjekkan) yang lainnya. Dari Edmund Husserl ia belajar tentang intensionalitas, yakni kesadaran manusia yang tidak pernah timbul dengan sendirinya, namun selalu merupakan

21Ibid., h. 179.

22Tafsir, Filsafat Umum..., h. 220. 23Ibid., h. 221.

(24)

kesadaran akan sesuatu. Begitulah kira-kira titik tolak filsafat Sartre.24 Untuk memperjelas masalah ini, ia menciptakan dua buah istilah; être-en-soi, danêtre-pour-soi. Dengan ini pula ia membedakan cara ber-adanya manusia dengan cara beradanya benda-benda.25

Eksistensi yang mendahului esensi selalu punya kapasitas untuk melampaui dirinya saat ini, dan menyadari ada-nya. Misalnya seorang yang esensinya kita identifikasi sebagai pelajar, ketika ia lulus, maka esensinya sebagai pelajar menjadi tidak relevan lagi. Atau bisa jadi, esok hari ia kedapatan mencuri, maka ia kembali didefinisikan sebagai pencuri. Begitu seterusnya, sampai ia mati.

Salah satu keinginan manusia adalah meng-ada sebagaimana keberadaan benda- benda. Mempunyai identitas dan esensi yang pasti. Celakanya, manusia memiliki kesadaran yang tak dimiliki benda-benda, karenanya mustahil bagi manusia untuk mempertahankan esensinya terus menerus. Cara beradanya benda tak punya kaitan dengan cara ber-ada manusia. Sementara manusia sebaliknya, karena sifatnya meniadakan terhadap hal lain, maka ia senantiasa berusaha untuk meniadakan orang dan benda lain.26

Friedrich Nietzsche lahir di Rohen Jerman pada tanggal 15 Oktober tahun 1844, di lingkungan keluarga Kristen yang taat. Ayahnya seorang pendeta Lutheran terkemuka dengan garis kependetaan yang terwaris dari turun temurun dari keluarga ayahnya. Kakeknya adalah pedeta Gereja Lutheran yang menduduki jabatan cukup tinggi, sementara ibunya juga seorang penganut Kristen yang taat.27 Nietzcshe berpendapat bahwa kebenaran adalah hasil konstruksi atau ciptaan manusia sendiri, yang berjiwa bagi mereka untuk melestarikan diri sebagai spesies. Pengetahuan dan kebenaran sebagai perangkat yang efektif untuk mencapai tujuan bukan entitas yang trasenden dari manusia. Kebenaran ilmiah tidak

24Ibid., h. 222.

25Muzairi, Eksistensialisme Jean Paul Sartre (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002), h. 89.

26 Ibid., h. 90.

(25)

mungkin efektif karena hasil konstruksi manusia dan upaya melayani kepentingan dan tujuan tertentu manusia.28

Filsafat Eksistensialisme dan Format Epistemologi Kajian Islam Dalam konsep Filsafat Islam, obyek kajian ilmu itu adalah ayat-ayat Tuhan sendiri, yaitu ayat-ayat Tuhan yang tersurat dalam kitab suci yang berisi firman-firman-Nya, dan ayat-ayat Tuhan yang tersirat dan terkandung dalam ciptaan-Nya yaitu alam semesta dan diri manusia sendiri.29 Kajian terhadap kitab suci dan kembali melahirkan ilmu agama, sedangkan kajian terhadap alam semesta, dalam dimensi fisik atau materi, melahirkan ilmu alam dan ilmu pasti, termasuk di dalamnya kajian terhadap manusia dalam kaitannya dengan dimensi fisiknya, akan tetapi kajiannya pada dimensi non fisiknya, yaitu perilaku, watak dan eksistensinya dalam berbagai aspek kehidupan, melahirkan Ilmu Humaniora, sedangkan kajian terhadap ketiga ayat-ayat Tuhan itu yang dilakukan pada tingkatan makna, yang berusaha untuk mencari hakikatnya, melahirkan Ilmu Filsafat.30

Oleh karena itu, wawasan epistemologi Islam pada hakikatnya bercorak tauhid. Tauhid dalam konsep Islam tidak hanya berkaitan dengan konsep teologi saja, tetapi juga dalam konsep antropologi dan epistemologi. Epistemologi Islam sesungguhnya tidak mengenal prinsip dikotomi keilmuan, seperti yang sekarang banyak dilakukan di kalangan umat Islam Indonesia, yang membagi ilmu agama dan ilmu umum, atau syariah dan

28 Ibid., h. 71.

29 Para filosof Muslim sejak Kindi, Farabi, Ibnu Sina, Razi, Ibnu al-Rawandi, dll, meski begitu simpatik terhadap filsafat Hellenistik, semuanya menyatakan bahwa yang mereka lakukan dengan filsafat itu adalah untuk mempelajari konsep-konsep al-Qur’an baik menyangkut penciptaan dunia, validitas nubuwat, kebangkitan, dan lain-lain. Di pihak lain, para filosof itu juga mempelajari ayat-ayat Tuhan yang terkait dengan eksplorasi ilmiah eksperimental. Lihat Majid Fakhri,”Philoshopy and History,” dalam John S. Badeau & Majid Fakhri, The Genius of Arab Civilization (Canada: MIT. Pres, 1983), h. 58.

30 Sebagai perbandingan, al-Farabi mengklasifikasikan ilmu sebagai berikut: 1. Ilmu Bahasa, 2. Logika (’Ilm al-Manthiq), 3. Ilmu Matematika (‘Ulum al-Ta’lim) terdiri: a) Aritmatika, b) Geometri, c) Optika, d) Ilmu Perbintangan, e) Musik, f) ilmu tentang Berat, g) Ilmu Pembuatan Alat, 4. Fisika atau Ilmu Kealaman, 5. Metafisika; 6. Ilmu Politik terdiri: a) Ilmu Politik, b) Yurisprudensi, c) Teologi Dialektis. Lihat Osman Bakar,

Hierarki Ilmu; Membangun Rangka-Pikir Islamisasi Ilmu, terj. Purwanto, (Bandung :

(26)

non-syariah,31 yang secara institusional dipisahkan penyelenggaraannya, yang ilmu agama penyelenggaraan pendidikan di bawah Kementrian Agama, dan yang umum penyelenggaraan pendidikannya di bawah Kementerian Pendidikan.

Kajian Islam bukan merupakan agama satu dimensi. Bukan pula agama yang semata-mata berdasarkan intuisi manusia dan terbatas pada hubungan antara manusia dan Tuhan saja. Hingga untuk memahaminya tidak cukup hanya dengan sebuah metode saja. Ali Syariati mengatakan, jika hanya melihat Islam dari satu sudut pandang, maka yang akan terlihat hanya satu dimensi dari gejalanya yang bersegi banyak. Mungkin berhasil melihatnya secara tepat, namun tidak cukup bila ingin memahaminya secara keseluruhan. Buktinya adalah al-Qur’an sendiri. al-Qur’an merupakan sebuah kitab yang memiliki banyak dimensi, sebagiannya telah dipelajari oleh sarjana-sarjana ternama sepanjang sejarah. Contohnya, satu dimensi mengandung aspek-aspek linguistik dan sastra al-Qur’an. Dimensi lain terdiri atas tema-tema filosofis dan keimanan al-Qur’an yang menjadi bahan pemikiran bagi para filosof serta teolog hari ini. Dimensi al-Qur’an yang belum dikenal adalah dimensi manusiawinya, yang mengandung persoalan historis, sosiologi dan psikologis. Dimensi ini belum banyak dikenal, karena sosiologi, psikologi dan ilmu-ilmu manusia memang jauh lebih muda dibandingkan ilmu-ilmu yang ada.32

M. Amin Abdullah yang menaruh perhatian terhadap Islamic Studies mempertegas kembali bahwa mengkaji Islam tidak hanya sekadar berangkat dari satu perspektif tetapi harus dimulai dari multi perspektif.33 Khazanah kajian Islam menyentuh spektrum yang luas, termasuk di dalamnya eksistensialisme. Di dunia Islam tidak mengenal filsafat eksistensialisme, karena filsafat eksistensialisme ini lahir dari gagasan

31Dikotomi keilmuan dalam sistem pendidikan Islam, khususnya di Indonesia, dapat juga dilihat secara politis dari kebijaksanaan pendidikan bisa masa kolonial. Penggabungan sistem pendidikan umum dengan sistem pendidikan Islam tidak terlaksana sebagai akibat konsekuensi logis dari kebijaksanaan pemerintah kolonial Belanda yang tidak mau ikut campur tangan dalam persoalan Islam.

32 Nur A. Fadhil Lubis, Introductory Reading Islamic Studies (Medan: IAIN Press, 2000), h. 75.

33 M. Amin Abdullah, dkk, Metodologi Penelitian Agama: Pendekatan

(27)

orang Barat. Bahkan Doktrin keagamaan ekslusif menolak perangkat eksistensialisme.

Memang sebelumnya telah disinggung di atas bahwa eksistensialisme adalah aliran filsafat yang fahamnya berpusat pada manusia atau individu yang bertanggung jawab atas kemauannya yang bebas tanpa memikirkan secara mendalam mana yang benar dan mana yang tidak benar. Sebenarnya bukannya tidak mengetahui mana yang benar dan mana yang tidak benar, tetapi seorang eksistensialis sadar bahwa kebenaran bersifat relatif, karena masing-masing individu bebas menentukan sesuatu yang menurutnya benar.34

Konsep di atas jika ditarik dalam kajian keislaman, maka setiap individu memiliki kebebasan menafsirkan Islam sesuai ukuran kebenaran dan landasan keilmuan individu masing-masing, sama halnya para ulama, fuqaha, mutakallimun, filosof, dan sufi terdahulu, di mana karya-karya mereka menghiasi khazanah keilmuan Islam. Tetapi tidak jarang di antara keilmuan dan karya tokoh terdahulu tersebut saling menyerang bahkan sampai saling sesat-menyesatkan. Itu artinya, masing-masing individu punya standar kebenaran.

Lewat Jean-Paul Sartre, yang terkenal dengan diktumnya Human is condemned to be free, manusia dikutuk untuk bebas, maka dengan kebebasannya itulah kemudian manusia bertindak. Pertanyaan yang sering muncul sebagai derivasi kebebasan eksistensialis adalah sejauh mana kebebasan para pengkaji Islam tersebut bebas? atau dalam istilah Orde Baru, apakah eksistensialisme mengenal kebebasan yang bertanggung jawab? Bagi eksistensialis, ketika kebebasan adalah satu-satunya universalitas manusia, maka batasan dari kebebasan dari setiap individu adalah kebebasan individu lain. Begitu juga interpretasi Islam yang menurut individu benar belum tentu dibenarkan oleh individu yang lain. Di sinilah letak kebenaran yang diperjuangkan setiap orang itu bersifat relatif.35

Namun, menjadi eksistensialis bukan berarti harus menjadi seorang yang lain-dari pada yang lain. Intinya adalah sadar bahwa keberadaan dunia

34 Kutipan artikel tentang “Pemikiran Filsafat Eksistensialisme” dalam

http://id.wikipedia.org/ wiki/Eksistensialisme. Di akses pada tanggal 16/6/2016. 35Muzairi, Eksistensialisme..., h. 33.

(28)

merupakan sesuatu yang berada di luar kendali manusia, tetapi bukan membuat sesuatu yang unik ataupun yang baru yang menjadi esensi dari eksistensialisme. Membuat sebuah pilihan atas dasar keinginan sendiri, dan sadar akan tanggung jawabnya di masa depan adalah inti dari eksistensialisme. Sebagai contoh, mau tidak mau dalam kajian Islam perlu tampil orang-orang yang ahli dibidang Tafsir, Fiqih, Filsafat, Tasawuf dan sebagainya, tetapi yang dipersoalkan oleh eksistensialisme adalah apakah individu yang menjadi ahli di bidangnya atas keinginan orangtua, atau keinginan individu sendiri.36

Basis Kemerdekaan Berfikir dalam Kajian Islam

Islam sangat memperhatikan kedudukan akal sebagai instrumen berfikir setiap manusia. Dalam sejarah pemikiran Islam, tema kemerdekaan berfikir merupakan kajian yang menempati posisi penting. Fenomena ini nampaknya didukung oleh sejumlah alasan. Sebagian bahwa Islam adalah agama wahyu, maka perlu bagaimana posisi akal sebagai pusat kerja berfikir, dalam wahyu tersebut. Alasan lain karena berfikir merupakan dimensi intern manusia yang memiliki pengaruh besar. Formula bahwa pemikiran mempengaruhi kehidupan adalah hal yang sangat terkenal dan merupakan dalil yang kebenarannya diterima umum.37

Secara etimologis, kalimat kemerdekaan berfikir terdiri dari dua kata yang masing-masing memiliki kandungan makna yang berbeda. Secara sederhana “kemerdekaan” mengandalkan sebuah situasi tanpa terbelenggu, sepadan dengan kata “ kebebasan”. Sementara “berfikir” adalah proses kerja otak secara biologis yang kemudian menghasilkan output berupa “pemikiran”. Keduanya merupakan hak pasti manusia tetapi dengan pasti pula keduanya menghendaki batasan-batasan dalam proses interaksi.38

Islam dalam hal ini memiliki konsep yang jelas, universal dan teruji. Hubungan Islam dengan kemerdekaan berfikir berlangsung dalam bentuk

36 Ibid., 34.

37Nurcholis Madjid, Islam Agama Kemanusiaan (Jakarta: Paramadina, 1995), h. 41.

38

(29)

yang khas. Islam memberi tempat dan al-Qur'an sebagai sumber ajaran menegakkan kemerdekaan berfikir, dan juga Islam pada saat yang sama memberi batasan-batasan terhadap penggunaan setiap hasil pemikiran, wilayah kemerdekaannya dan seterusnya.

Kemerdekaan berpikir, telah membebaskan kaum Muslim dari kekakuan berpikir yang membekukan otak dan telah melenyapkan kemalasan berpikir dari masyarakat Muslim. Sebagai contoh kemerdekaan berpikir telah melahirkan seorang yang bernama Washil bin Atho’ yang telah berani menentang arus dan berani berijtihad memisahkan diri dari mazhab gurunya Imam Hasan al-Basri. Kemerdekaan berpikir telah memunculkan Abu Huzhail Al’Allaf dan para pemikir-pemikir lainnya yang pada akhirnya mereka melahirkan sebuah aliran atau mazhab baru dalam Islam, yaitu mazhab Mu’tazilah, sebuah mazhab yang berkaitan dengan teologi. Di sini para ahli memandang Islam dengan pikiran rasionalis sehingga mereka berpendapat bahwa al-Qur’an merupakan makhluk ciptaan Allah.39

Kebebasan berfikir dalam ruang sejarah perjalanan manusia menemukan momentum pada pertengahan abad ke-20 sampai awal abad ke-21. Kehidupan keagamaan menemukan kebangkitannya kembali yang ditandai dengan kemunculan semangat baru berupa paham-paham dan kelompok-kelompok keagamaan baru, di samping paham-paham dan kelompok-kelompok lama yang terus melakukan revitalisasi. Kenyataan ini tentu semakin memperkokoh eksistensialisme religius dalam ruang keberagamaan setiap manusia.

Sayangnya, di balik kebangkitan religius muncul berbagai perilaku keagamaan yang mengarah pada kekerasan keagamaan dengan menggunakan kekuatan massa. Kebebasan beragama secara individual dalam kaitan ini bisa terdeterminasi oleh keagamaan kolektif. Oleh karena itu, hubungan antara keberagamaan individual dan keberagamaan kelompok menjadi masalah kontemporer yang krusial. Dalam buku karya Ishrat Hasan Enver menjelaskan bahwa Muhammad Iqbal melihat keberagamaan otentik yang bisa dipahami di balik eksistensialisme religius, hubungan antara keberagamaan individual dan kolektif yang bisa

39 Harun Nasution, Teologi Islam: Aliran-Aliran Sejarah Analisa Perbandingan (Jakarta: UI Press, 2011), h. 40

(30)

dikonstruksi dari keberagamaan otentik, dan implikasi-implikasinya bagi keberagamaan kontemporer. Kajian ini dipandang penting karena memiliki nilai kontribusi pada pemecahan persoalan keberagamaan dewasa ini yang terkesan masih belum secara maksimal menyadari bahwa ruang keberagamaan pribadi adalah hal mendasar, pertama dan utama sehingga dari sini keberagamaan setiap orang dimulai. Keberadaannya mendahului determinasi-determinasi keberagamaan dari luar termasuk kelompok-kelompok keagamaan kolektif.40

Memahami eksistensi manusia tidak bisa dilepaskan dari eksistensi Tuhan yang dimengerti sebagai suatu individualitas murni, menurut Muhammad Iqbal, keberadaan Tuhan justru menjamin suatu kebebasan yang sesungguhnya, karena Dia mengajarkan bahwa untuk menjadi diri, manusia dengan selalu mengaktualisasikan individualitasnya. Manusia dipandang bebas manakala individualitasnya diasah dan diteguhkan terus menerus, hingga menjadi kekuatan diri yang tumbuh dari dalam, bukan dari luar atau dari orang lain atau sekelompok orang. Penemuan diri, keduanya sepakat, dihasilkan dari proses perkembangan eksistensial manusia.41

Eksistensi manusia otentik menjadi penting dan ditekankan dalam eksistensialisme religius, dan menjadi dasar ontologisme bagi pembangunan keberagamaan otentik. Penekanan keberagamaan otentik yang dicirikan keberagamaan dari dalam dengan prinsip kebebasan yang terus memberikan ruang keberagamaan pribadi bagi orang lain membawa keduanya pada penolakan esensialisme keberagamaan yang dinilai memasung keberagamaan individu dan menghentikan dinamika keberagamaan. Bagi keduanya, keberagamaan selalu dalam proses pengembangan dan aktualisasi diri, bukan penegasian diri dan penyeragaman keberagamaan.

Penutup

Filsafat eksistensialisme telah mempengaruhi filsafat Eropa dalam berbagai bentuknya, baik filsafat Neo-Eksistensialisme dna Neo-Realisme dan Neo-Positivisme, tidak terkecuali di dalamnya adalah kajian Islam. Di

40 Enver, Metafisika Iqbal..., h. 7. 41Ibid., h. 8.

(31)

era sekarang tidak dapat dinafikan bahwa eksistensialisme telah membentuk epistemologi Islam, sehingga eksistensialisme menjadi semacam ruh yang menghidupi tubuh ide-ide dalam melahirkan kebebasan berfikir dalam kajian Islam.

Atas dasar kebebasan berfikir, maka ruang kebebasan dalam menafsirkan agama juga terseret pada ruang bebas, sehingga dalam kajian keislaman tidak sedikit yang melahirkan aliran, mazhab, pola pikir, serta kecenderungan. Inilah yang dimaksud dengan kemerdekaan berfikir, setiap individu bebas menghiasi khazanah keilmuan Islam sesuai dengan perspektifnya tanpa dibayang-bayang oleh tendensi dari pihak luar.

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, M. Amin, dkk. Metodologi Penelitian Agama, Pendekatan Multidisipliner. Yogyakarta: LEMLIT UIN Sunan Kalijaga, 2006

Adian, Donny Gahral. Menyoal Objektivisme Ilmu Pengetahuan. Bandung: Teraju, 2001.

Anshari, Endang Saefuddin. Ilmu, Filsafat dan Agama. Surabaya: PT. Bina Ilmu, 2009

As'adi, Basuki dan Ulum, Miftakul. Pengantar Filsafat Pendidikan. Ponorogo: STAIN Ponorogo Press, 2010

Bakar, Osman. Hierarki Ilmu ; Membangun Rangka-Pikir Islamisasi Ilmu, terj. Purwanto. Bandung: Mizan, 1998

Enver, Ishrat Hasan. Metafisika Iqbal, terj. Fauzi Arifin. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004

Hadiwijono, Harun. Sari Sejarah Filsafat II Yogyakarta: Kanisius, 1980 Katsof, Louis O. Pengantar Filsafat. Yogyakarta: Tiara Wacana, 2004 Lubis, Nur A. Fadhil. Introductory Reading Islamic Studies. Medan: IAIN

(32)

Madjid, Nurcholis. Islam Agama Kemanusiaan. Jakarta: Paramadina, 1995

Martin, Vincent. Filsafat Eksistensialisme. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003

Muzairi. Eksistensialisme Jean Paul Sartre. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002

_______. Filsafat Umum. Yogyakarta: Teras, 2009

Nasution, Harun. Teologi Islam, Aliran-Aliran Sejarah Analisa Perbandingan. Jakarta: UI Press, 2011

Sunardi, St. Nietzsche. Yogyakarta: LkiS, 2011

Tafsir,Ahmad. Filsafat Umum: Akal dan Hati Sejak Thales Sampai Capra. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2009

Zuhaifini. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara, 2008

“Pemikiran Filsafat Eksistensialisme” dalam http://id.wikipedia.org/ wiki/Eksistensialisme.

http://wijayadia.blogspot.co.id/2011/01/islam-dan-kemerdekaan-berfikir.html.

(33)

ISSN 1907- 0993 E ISSN 2442-8264 Volume 13 Nomor 1 Juni 2016

Halaman 122- 135 http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/fa

Mendamaikan Logika Normativitas dan Historisitas dalam Studi Agama

Oleh: Nella Lucky

Universitas Abdurrab Pekanbaru Riau Email: [email protected]

Abstract

The dissent among the internal and external of religious communities essentially not because the divergence of religious concept. It appears because

different methodology and logical thinking among the intellectuals that influence the people in vast dimensions. The differences of logical thingking will

impact the different product of thought and religious activities. Among others is the different of normativity and historicity methods and logical thinking. Throughout the course of history, both logic collide each other. So the effort to

integrate this both logic absolutely necessary for the advancement of development of religious studies in the future

Perbedaan antara intra dan umat beraama secara esensi tidak disebabkan oleh perbedaan konsep keagamaan. Hal itu terjadi karena perbedaan metodologi dan logika berfikir di antara intelektualnya yang memperngaruhi masyarakat

luas. Perbedaan cara berfikir akan berdampak pada perbedaan produk pemikiran dan aktivitas keagamaan, di antaranya adalah perbedaan antara

metode normativitas dan historiritas dan logika pemikiran. Melalui kajian historis, keduanya saling bertabrakan. Karenanya upaya untuk

mengintegrasikan kedua pemikiran itu mutlak dibutuhkan untuk pengembangan lebih lanjut kajian keagamaan di masa depan.

(34)

Pendahuluan

Kajian studi agama di era digital ditandai dengan semakin menjamurnya berbagai macam perspektif dalam memahami agama. Hal ini dimulai sejak adanya diferensiasi yang tegas antara agama dan studi agama. Agama sebagai din menyangkut ajaran-ajaran yang berisikan formalitas syariat yang terdiri dari lima rambu-rambu dasar yang tidak akan pernah berubah: haram, makruh, sunnah, mubah, wajib. Sementara menurut beberapa perspektif, persoalan studi agama menyangkut berbagai aspek terlepas dari batasan dan ketentuan formalitas syariat. Tidak mengherankan jika muncul puluhan perspektif dalam memahami agama dalam studi agama. Hal ini ditandai dengan banyaknya upaya me-reform dan meredefenisi term keagamaan.

Banyak kalangan yang melepaskan sayap kebebasan perspektifnya dengan memahami agama dalam frame studi agama. Ditambah lagi dengan neo paradigm bahwa agama kini tidak hanya sebagai ritual serta hubungan antara hamba dan Sang Khalik saja, melainkan agama diletakkan pada satu nalar baru, yaitu agama sebagai sebuah diskursus. Implikasi dari neo paradgim1 ini adalah peletakan agama pada posisi setara dengan ilmu-ilmu

sosial dan humaniora, tanpa memarginalkan agama sebagai ritualitas yang senantiasa berlangsung. Walaupun dalam beberapa dekade terakhir ini upaya penyetaraan ini mengakibatkan hilangnya esensi agama sebagai sebuah ajaran dan ritual.

Upaya mengartikulasikan agama menjadi sebuah diskursus yang debatable dan argueble sering kali menimbulkan phobia psikologis di berbagai kalangan, baik kalangan intelektual, maupun masyarakat secara umum. Upaya mendobrak formalitas agama melalui ekstremisme nalar lama yang rigid, kaku dan cenderung skripturalis tentu perlu dilakukan dengan syarat tidak mengeliminir ke-saklar-an sebuah agama. Implikasinya, tidak dapat dipungkiri adanya perbedaan cara pandang dalam memahami agama sebagai sebuah diskursus. Di antara nalar studi agama itu adalah nalar normativitas dan historisitas.

1 Kuhn berpendapat bahwa paradgima adalah sesuatu yang tidak dapat diukur, dinilai dan diperbadingkan secara rasional. Dalam bahasa lakatos, bahwa kita dapat secara objektif mempelajari kemajuaan-kemajuan dari tradisi dan memformulasikannnya. Lihat, Amin Abdullah, Islamic Studies di Perguruan Tinggi:

Referensi

Dokumen terkait

 Berakal. Dengan syarat tersebut maka anak kecil yang belum berakal tidak boleh melakukan transaksi jual beli, dan jika telah terjadi transaksinya tidak

Bagian A ini leitmotif Ayah sering muncul menandakan berkisah tentang rasa sakit dan perasaan sedih Ayah ketika mengalami sakit hingga pada birama 19–22 pola ritme yang

Cuci tangan menggunakan sabun adalah salah satu cara yang paling efektif dan murah untuk mencegah penyakit diare yang sebagian besar menyebabkan kematian pada anak...

usaha kecil.. zakat, infak dan shadaqah kepada masyarakat; kedua yaitu menerima dan menyalurkan dana yang dihimpun dari masyarakat atau pihak ketiga dengan untuk

Berdasarkan uraian pemikiran yang telah disampaikan diatas memberikan landasan dan arah untuk menuju pada penyusunan kerangka pemikiran teoritis, berikut ini kerangka

Berdasarkan observasi penulis dalam pemilihan buku dongeng yang layak dikonsumsi menjadi bahan bacaan maupun pembelajaran untuk usia anak-anak, penulis datang

3 Siswayanti, “Dimensi Edukatif pada Kisah-kisah Al-Quran,” 75.. baik yang terkait dengan kata abdan, rahmatan maupun kata laduni, atau yang biasa disebut dengan ilmu laduni.

Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan faktor praktik pencegahan dan kondisi lingkungan rumah dengan kejadian malaria di Desa Jatirejo Kecamatan