• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pandangan MGB mengenai Kegurubesaran dan Guru Besar ITB

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Pandangan MGB mengenai Kegurubesaran dan Guru Besar ITB"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

Pandangan MGB mengenai Kegurubesaran dan Guru Besar ITB

Dokumen ini merupakan hasil kerja Satuan Tugas Penyusunan Pedoman Kegurubesaran, yang kemudian dikukuhkan sebagai pandangan resmi MGB mengenai kegurubesaran dan Guru Besar ITB.

New Page 1 Menuju Jabatan Guru Besar   I    Latar Belakang

1. Sebagai salah satu

perguruan tinggi terkemuka di Indonesia, ITB telah dikenal dan diperhitungkan oleh perguruan tinggi lainnya di dunia. Dengan memperhatikan berbagai tantangan yang ada, ITB perlu meninjau kembali semua tatanan untuk menunjang perwujudan visinya menjadi universitas riset kelas dunia. Salah satu tatanan yang perlu

dikaji ulang adalah tatatan masyarakat akademiknya, di mana Guru Besar berperan sebagai pemimpin akademik yang memandu perubahan ITB.

2. Pada Sarasehan yang

diselenggarakan oleh Komisi Kegurubesaran Majelis Guru Besar pada 17 dan 23 Maret 2007, telah dibahas berbagai aspek mengenai Guru Besar dan kegurubesaran. Beberapa butir penting hasil Sarasehan antara lain:

- Keunggulan, identitas,

serta martabat dari perguruan tinggi sangat bergantung kepada para Guru Besar yang ada di dalamnya (M.T. Zen);

- Jabatan Guru Besar

merupakan pengakuan masyarakat akademik dari lingkungan disiplin keilmuan yang bersangkutan berasal (Imam Buchori Z.);

- Kehadiran Guru Besar

yang bermutu dan diakui bukan saja merupakan ciri, tetapi juga merupakan prasyarat terwujudnya sebuah world class university (Harijono A.

Tjokronegoro);

- Guru Besar memimpin

perubahan konstruktif dalam meningkatkan reputasi dan mutu ITB secara berkelanjutan (Djoko Santoso, Rektor ITB);

- Guru Besar berperan

sebagai pelopor dalam pengembangan pendidikan, ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya, serta memiliki otoritas keilmuan dalam bidangnya (Asis Djajadiningrat alm., Ketua MGB);

- Keunggulan dalam

kompetensi ipteks merupakan syarat perlu bagi seorang Guru Besar. Selain itu, ia

(2)

harus menunjukkan keunggulan dalam kepemimpinan ilmiah/akademiknya (Tjia May On).

Â

IIÂ Â Â Â Sosok dan Peran Guru Besar 1. Guru Besar sebagai

penghela ITB ke depan haruslah merupakan sosok pemimpin akademik yang bermutu, seorang guru, yang mempunyai ciri nilai ITB: keunggulan, kepeloporan, kejuangan, dan pengabdian, sebagai penjamin terwujudnya tujuan ITB. Sosok pemimpin akademik yang bermutu seyogia-nya memiliki:

a.    Â

kompetensi & kontribusi keilmuan yang diakui oleh komunitas yang sangat luas pada bidang keilmuannya,

b.    Â

kepemimpinan akademik yang membangun pada lingkungan masyarakat keilmuannya, dan

c.     Â

kemanfaatan yang sangat bermakna pada kehadirannya maupun dari bidang keilmuannya, bagi pencapaian tujuan Institut.

Ketiga atribut tersebut

tidak dapat dipisahkan satu terhadap yang lainnya. 2. Bila kriteria Guru

Besar sekarang ditentukan oleh Pemerintah (yang berlaku sama untuk seluruh perguruan tinggi di Indonesia), maka kriteria Guru Besar ITB ke depan harus

ditentukan oleh kebutuhan (berdasarkan Rencana Induk Pengembangan atau Renip ITB 2025) dan visi serta misi ITB sebagai universitas riset. Untuk itu, perlu

dimungkinkan ITB memiliki kriteria tersendiri untuk Guru Besar ITB. Untuk menuju ke sana, kultur baru harus dibangun, antara lain (1) sinergi pendidikan dan riset serta pengabdian kepada masyarakat berbasis riset, (2) kolaborasi kepakaran serumpun pada tingkat regional dan internasional, dan (3) orientasi peningkatan mutu secara berkelanjutan.

3. Guru Besar ITB

berfungsi sebagai pemimpin akademik yang memimpin suatu komunitas keilmuan untuk menjalankan fungsi tridarma. Guru Besar ITB sebagai pemimpin kelompok keilmuan atau kelompok riset tertentu selayaknya mempunyai target capaian tertentu.

Kinerja Guru Besar ITB dalam hal ini harus terukur dalam pengakuan akademik (academic recognition), kepemimpinan akademik (academic leadership) dan

pembinaan lingkungan/komunitas akademik, dan potensi atas keberadaannya ke depannya.

Â

IIIÂ Â Â Menuju Jabatan Guru Besar 1. Semua dosen ITB yang

potensial dapat menjadi bagian dari masyarakat skolar ITB termasuk

menjadi pemimpin akademik ITB, yang akan membawa ITB kepada pengakuan kelas dunia. Bagi Fakultas/Sekolah dan Institut, kehadiran sosok Guru Besar bagi pengembangan institusi akademik ke depan tentunya mempunyai makna yang sangat penting. Mengingat

sosok dan martabat Guru Besar adalah juga sosok dan martabat Institut, hendaknya jabatan Guru Besar ITB dibangun dengan suatu rancangan untuk keunggulan Institut.

2. Untuk semua itu,

perjalanan menuju jabatan Guru Besar selalu menjadi perhatian, baik oleh

yang bersangkutan, oleh komunitas, maupun oleh Institut yang juga sebagai pihak yang sangat berkepentigan atas kehadiran sosok Guru Besar yang membangun

(3)

institusi.

3. Berikut adalah

suatu proses yang semestinya ditempuh

baik oleh calon GB maupun oleh pihak lain yang berkepentingan, untuk

mempersiapkan evaluasi calon Guru Besar ITB oleh Majelis Guru Besar ITB (MGB). Proses yang diusulkan pada hakekatnya didasarkan pada evaluasi diri, baik oleh yang bersangkutan (calon Guru Besar) maupun oleh ”lembaga” yang mengusulkannya (ITB). Jadi, proses yang dimaksud bukanlah sekadar prosedur yang harus

dijalani, tapi bagaimana tiap pihak berperan agar komunitas skolar di ITB dengan semangat berprestasi untuk menjadi skolar yang bermutu (Guru Besar), dapat terbentuk, sehingga dapat memperkuat perwujudan pengakuan ITB kelas dunia. Â

IVÂ Â Tujuan, Goal, dan Sasaran

1.    Â

Tujuan dari proses adalah untuk evaluasi potensi dan ”kepantasan” seorang dosen untuk mendapatkan jabatan Guru Besar ITB. Adapun goal yang

dikehendaki oleh proses adalah mendapatkan sosok Guru Besar yang mendekati ideal, yaitu sebagai pemimpin akademik yang bermutu seorang guru, yang mempunyai ciri nilai ITB: keunggulan, kepeloporan, kejuangan, dan pengabdian, sebagai

penjamin terwujudnya tujuan ITB. Sedangkan sasaran dari proses, selain terdapatnya semangat evaluasi diri dari yang bersangkutan (calon GB), juga merupakan tantangan bagi yang lainnya, yaitu semua dosen ITB yang potensial, untuk mempersiapkan dirinya menjadi pemimpin akademik ITB. Selain itu, dengan proses tersebut diharapkan, akan terbentuk masyarakat skolar ITB yang ideal, yang akan membawa ITB kepada pengakuan kelas dunia.

2.    Â

Terdapat 4 (empat) unsur/pihak yang secara aktif terlibat dalam membawa ”usulan jabatan Guru Besar” ke MGB (untuk dievaluasi), yaitu: (a) yang bersangkutan (calon Guru Besar), (b) Dekan atas nama fakultas/sekolah atau komunitas akademik dimana yang bersangkutan sedang dan akan berkarya sebagai seorang Guru Besar, (c) Rektor atas nama Institut, dan (d) MGB. Pihak (b) dan

(c) adalah pihak-pihak yang menghendaki kehadiran yang bersangkutan sebagai Guru Besar ITB dalam kaitannya dengan pengembangan institusi (institution building). Sedangkan pihak (d), yakni MGB, adalah yang bertanggungjawab ”membangun” kepemimpinan dalam mewujudkan pembinaan kehidupan akademik, menjaga nilai-nilai universal perguruan tingi, serta bertanggungjawab atas tegaknya integritas moral dan etika profesional serta kukuhnya kesarjanaan di ITB.

Â

V  Calon Guru Besar 1.    Â

Dalam proses pengusulan untuk jabatan Guru Besar, selain mengisi

borang-borang baku yang diperlukan oleh sistem administrasi kenaikan jabatan akademik, yang bersangkutan perlu menuliskan pula ”promosi diri” untuk menjabat Guru Besar. Di dalam ”promosi diri” tersebut, intinya, dituliskan evaluasi serta pernyataan diri tentang 3 (tiga) hal, yaitu: (a) kompetensi & kontribusi

keilmuan yang diakui oleh komunitas yang sangat luas pada bidang keilmuannya (academic achievement & recognition), (b) ke-pemimpinan akademik yang membangun pada

lingkungan masyarakat keilmuannya (academic leadership), dan (c)

kemanfaatan yang sangat ber-makna dari bidang keilmuannya bagi pencapaian tujuan Institut (academic potencies), yang ketiganya tidak dapat dipisahkan satu

terhadap yang lainnya. Bukti-bukti yang mendukung track record terdokumentasi masing-masing dari ketiga hal di atas semestinya terdapat (dirujuk) pada borang administrasi kenaikan jabatan akademik yang telah dipersiapkan.

2.    Â

Perlu tampak dengan menyakinkan pada

(4)

”promosi diri”, selain track record terdokumentasi selama meniti karier

akademiknya pada ketiga hal di atas, adalah potensi diri yang bersangkutan untuk dapat berprestasi lebih baik lagi (sebagai Guru Besar) dalam mewujudkan ketiga unsur di atas di kemudian hari. Untuk itu, sekaligus sebagai penguat dari

”promosi diri”, yang bersangkutan perlu pula

menuliskan di dalamnya suatu roadmap yang memuat komitmennya ke depan dalam menjalankan fungsi dan tanggung-jawabnya sebagai seorang Guru Besar, khususnya yang berkenaan dengan 3 (tiga) unsur yang disebutkan pada butir V.1. 3.    Â

Secara komprehensif, track-record yang tercermin di dalam dokumen

”promosi diri” menuju jabatan Guru Besar ITB diisi dengan berbagai pengalaman dan rancangan (roadmap) yang sangat bermakna dalam membangun ke depan baik untuk diri, lingkungan, maupun Institut. Adapun perwujudan dari karya yang diungkapkannya haruslah mampu merepresentasikan unsur-unsur universal dengan pengakuan atas: integritas moral, integritas akademik, serta etika dan tanggung jawab dalam melakukan pembinaan akademik serta tata krama kehidupan pada masyarakatnya.

4.    Â

Guna melengkapi pengakuan serta dukungan dari komunitas Guru Besar, calon Guru Besar perlu pula mempunyai rekomendasi/dukungan (dengan promosi) dari sedikitnya 2 (dua) Guru Besar di lingkungan komunitasnya (Fakultas/Sekolah), dan dari 2 (dua) Guru Besar di luar lingkungan komunitasnya, dari dua

Fakultas/Sekolah yang berbeda di ITB. Di balik ini adalah petunjuk pengakuan yang bersangkutan oleh komunitas akademik yang luas di dalam lingkungan ITB. Pengakuan yang dimaksud, selain terhadap prestasi penting yang telah dicapai oleh yang bersangkutan, juga terhadap potensi sangat bermakna dari yang

bersangkutan, baik dalam pengembangan keilmuan, pengembangan komunitas keilmuan, maupun pada kemajuan institusi sebagai pusat pengembangan ilmu. Rekomendasi sebagai bentuk pengakuan dari Guru Besar dari luar ITB (nasional,

internasional), dalam bidang ilmunya, dinilai sangat positif, yang sekaligus menunjukan luasnya pengakuan scholarship atas calon Guru Besar yang bersangkutan.

Â

VI  Dekan dan Rektor 1.    Â

Pada langkah berikutnya, institusi (secara berjenjang: Dekan atas nama fakultas/sekolah, dan kemudian Rektor atas nama institut), sebagai pihak yang berkepentingan dengan pengangkatan yang bersangkutan sebagai Guru Besar Baru, menyusun pula ”promosi” a.n. lembaga masing-masing untuk memperkuat ”promosi diri” yang telah disiapkan oleh yang bersangkutan. Promosi yang disiapkan Dekan ditujukan kepada Rektor, sedangkan promosi yang disiapkan Rektor ditujukan kepada Senat Akademik dan MGB.

2.    Â

Isi masing-masing promosi disesuaikan dengan tujuan serta kepentingan yang berhubungan dengan institution building masing-masing. Pada

prinsip-nya, di dalam ”promosi” tersebut, Fakultas/Sekolah dan Institut (Rektor)

akan menjawab pertanyaan mengenai makna sangat penting dari kehadiran sosok Guru Besar yang bersangkutan bagi pengembangan institusi akademik ke depan.

 Â

VII Majelis Guru Besar 1.    Â

Atas dasar dari 5 (lima) dokumen: (a) borang administrasi kenaikan

jabatan akademik beserta lampirannya, (b) ”promosi diri” dari calon Guru Besar, (c) promosi dari Fakultas/Sekolah yang bersangkutan, (d) promosi dari Institut, dan (e) rekomendasi dari Guru Besar, selanjutnya Komisi Kegurubesaran yang ditugasi oleh MGB akan melaksanakan evaluasi

(5)

komprehensif terhadap potensi serta values yang bersangkutan guna

menduduki jabatan Guru Besar pada bidang yang diusulkan. Untuk tujuan evaluasi atas usulan calon Guru Besar, MGB menetapkan cara-cara evaluasi yang “terukur” atas 3 (tiga) unsur di atas (butir V.1).

2.    Â

Kompetensi dan Kontribusi Keilmuan (academic achievement & recognition): Komisi Kegurubesaran (a.n. MGB), memeriksa dan menilai track-record serta potensi calon Guru Besar yang bersangkutan dalam menunjukan komitmen serta konsistensinya yang sangat tinggi dalam pengembangan dan penguasaan atas bidang keilmuan yang diklaim, yang didasarkan atas scientific vison serta

research roadmap yang bersangkutan. Keberhasilan dari ini antara lain ditunjukan oleh rekaman kontribusinya yang signifikan dalam penguasaan,

pengembangan, maupun penyebarluasan keilmuan yang ditekuninya, dalam berbagai bentuk pengakuan terdokumentasi dari masyarakat akademik dalam keilmuan yang bersangkutan, baik nasional, regional maupun internasional. Kontribusi

penyebarluasan yang dimaksud bukan saja terbatas pada karya serta publikasi yang diakui atas keilmuan yang diklaim, tetapi juga meliputi kemanfaatan aplikasi

dari karyanya bagi stake-holder yang sangat luas. Sesuai dengan lingkup disiplin keilmuanya, karya yang dimaksud dapat meliputi karya keilmuan, karya teknologi & engineering, atau karya seni, yang bernilai: original, aktual

dan kontributif, serta bermutu dan monumental.

3.    Â

Kepemimpinan Akademik (academic leadership): Komisi Kegurubesaran (a.n. MGB) memeriksa dan menilai track-record maupun potensi calon Guru

Besar yang bersangkutan dalam membangun kariernya, dalam pe-ngembangan diri menuju seorang pemimpin akademik, dalam penguasaan, pengembangan, dan penyebarluasan kemanfaatan keilmuannya. Prestasi ini ditunjukan oleh

keterlibatannya dalam berbagai aktivitas bersama (team work) yang

membangun keunggulan dalam riset, pendidikan, maupun keprofesian. Prestasi ini antara lain dapat ditunjukan oleh:

a.    Â

Keterlibatan mahasiswa dan/atau staf akademik junior dalam

penelitian-penelitian atau pengembangan keilmuan yang dilaku-kannya; b.    Â

Keterlibatan dalam ’pembangunan/pengembangan’ institusi keilmuan yang terkait dengan keilmuannya (laboratorium, studio, kelompok

riset/pendidikan/pelatihan, dan lain-lain); c.     Â

Keterlibatan/kontribusi pada tugas & tanggung jawab pada pe-nyelengaraan Institut, baik sendiri maupun dengan melibatkan berbagai unsur masyarakat internal dan eksternal kampus, baik dalam penyelenggaraan pendidikan, penelitian, maupun pengabdian kepada masyarakat;

d.    Â

Keterlibatan dalam asosiasi/masyarakat profesi (nasional, inter-nasional)

dalam pengembangan/pemanfaatan keilmuan yang menjadi perhatiannya (bidang ilmu yang diklaim).

4.    Â

Kemanfaatan dan Kepentingan Institut (academic potencies): Komisi Kegurubesaran (a.n. MGB) memeriksa dan menilai track record maupun

potensi calon Guru Besar yang bersangkutan dalam keikutsertaannya mewujudkan secara aktif pengakuan keunggulan institut oleh stake holder yang sangat

luas. Keikutsertaan calon Guru Besar yang bersangkutan dalam mewujudkan pengakuan Institut diartikan sebagai pengakuan oleh Institut atas potensi kemanfaatan keilmuan yang diklaim dan dikembangkannya bagi kepentingan terwujudnya tujuan serta cita-cita Institut. Juga diperiksa dan dinilai apakah institusi kegurubesaran yang menjadi tanggungjawabnya, termasuk masyarakat akademik di dalamnya, mempunyai potensi akan memberikan sumbangan pada

(6)

perwujudan bangunan mozaik keilmuan pada Institut. Unsur ini dapat ditunjukan oleh kontribusi calon Guru Besar yang bersangkutan pada komitmen pengembangan keilmuan maupun masyarakat keilmuan yang menjadi komitmen Institut, baik pada saat yang berjalan maupun ke depan. Ini menjawab pertanyaan apakah keilmuan maupun masyarakat keilmuan yang diklaim dan dikembangkan adalah menjadi bagian dari visi, misi, serta tujuan Institut. Lebih jauh, apakah bidang keilmuan serta

masyarakat keilmuan yang diklaim dan dikembangkan merupakan kebutuhan yang dipandang penting oleh Institut untuk terwujudnya tujuan Institut.

5.    Â

Dalam tahapan evaluasi di atas, MGB mengundang pula penjelasan dari para Guru Besar pemberi rekomendasi, dan jika dipandang perlu mengundang pula pendapat dari yang lain (peer), dari dalam maupun luar ITB, yang

dipandang dapat mengungkapkan makna positif dari segala sesuatu yang tersurat di dalam dokumen yang diterima oleh MGB, yang berhubungan dengan kenaikan jabatan Guru Besar dari yang bersangkutan. Menjadi perhatian sangat penting dalam

evaluasi adalah value yang bersangkutan sebagai pemimpin akademik ITB yang dihormati, yang mencerminkan kekuatan karakter yang bersangkutan dalam nilai-nilai ITB: keunggulan, kepeloporan, kejuangan, dan pengabdian.

6.    Â

Jika hasil evaluasi sangat positif, maka Komisi mengusulkannya untuk

mendapatkan rekomendasi dengan mufakat bulat pada Sidang Pleno MGB. Jika dinilai perlu, demi kemajuan Institut maupun kegurubesaran yang besangkutan,

MGB akan memberi feedback atau harapan untuk disampaikan kepada

calon Guru Besar dan/atau Institut. Namun, jika masih diperlukan berkas tambahan untuk melengkapi dokumen yang ada, MGB akan mengembalikan seluruh dokumen yang diterimanya kepada Senat Akademik dan/atau Rektor guna mendapatkan perbaikan semestinya.

Â

VIII Penutup 1.    Â

Dalam proses evaluasi kegurubesaran, hendaknya dijunjung sangat tinggi prinsip-prinsip kebenaran dan keadilan. Hendaknya pula dihormati dan dijaga nilai-nilai individu maupun institusi. Diasumsikan bahwa komunitas (sosial &

keilmuan) dari calon Guru Besar adalah yang paling mengetahui dan berkepentingan dengan sosok calon Guru Besar yang bersangkutan. Semangat yang hendak dibangun di balik proses yang diusulkan adalah membangun keunggulan dan martabat institut beserta semua unsur pelaku di dalamnya, termasuk calon Guru Besar serta para pemimpin akademik (Guru Besar) pada institut.

2.    Â

Mengingat sosok dan martabat Guru Besar adalah juga sosok dan martabat Institut Teknologi Bandung, hendaknya jabatan Guru Besar ITB dibangun dengan suatu rancangan untuk keunggulan Institut. Hendaknya pula jabatan Guru Besar diperoleh dengan kemufakatan yang sangat bulat dari Sidang Pleno MGB yang diselenggarakan khusus untuk itu. Dihindari ”kegagalan” dalam Sidang Pleno, sebaliknya, jikalaupun terdapat ”penundaan” bukanlah berarti ”kegagalan”, namun suatu langkah untuk menempatkan calon Guru Besar yang bersangkutan pada posisi jabatan Guru Besar yang lebih terhormat dan pada saat yang tepat pula. Kehadiran seorang Guru Besar Baru harus membanggakan yang bersangkutan, lingkungannya, dan MGB. Kehadiran Guru Besar Baru juga merupakan karya tanggung jawab yang

membanggakan dari Institut bagi masyarakat. Â

IX Ucapan Terima Kasih    Â

Dokumen ini merupakan hasil kerja

Satuan Tugas Penyusunan Pedoman Kegurubesaran di ITB (Satgas Kegurubesaran), yang beranggotakan Prof. Deny Juanda Puradimaja (merangkap sebagai Ketua), Prof.

(7)

Hendra Gunawan, Prof. Ofyar Z. Tamin, Prof. Rudy Sayoga Gautama, dan Prof. Tjandra Setiadi.

Satgas Kegurubesaran mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Prof. Harijono A. Tjokronegoro, Prof. Benjamin Soenarko, Prof. Yahdi Zaim, Prof. Edy

Soewono, Prof. Indratmo Soekarno, dan Dr. Satria Bijaksana yang telah memberi masukan dan mempertajam hasil kajian Satgas. Laporan ini juga merupakan penyempurnaan setelah mendapat masukan dari Sidang Pleno 24 April 2009.f Â

Referensi

Dokumen terkait

merupakan bidang kajian filsafat yang secara spesifik menyoroti hakikat atau esensi manusia yang pada dasarnya sama dengan disiplin ilmu yang lain seperti antropologi,

Radio dikatakan sebagai sahabat masyarakat dari berbagai lapisan dikarenakan radio dapat digunakan dari beragam orang dengan latar pendidikan dan adat istiadat yang berbeda

Program Pengalaman Lapangan (PPL) Sebagai salah satu program wajib bagi mahasiswa UNY program studi pendidikan merupakan kegiatan yang memiliki fungsi serta tujuan

Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa efek dispersi sangat berpengaruh terhadap perambatan pulsa, dengan dispersi kurang dari 1 ps/nm.km seperti pada DFF Triple

Bagaimana Pemahaman Mengenai Filsafat Ilmu Kesejahteraan Sosial Pentin g Bagi Mahasiswa.. Diskusi

Setiap organ pernapasan tersebut bekerja sesuai dengan tugasnya masing-masing dalam mensirkulasikan udara masuk dan keluar dari tubuh sehingga melengkapi

keagamaa, kepemudaan dan olahraga Sekitar wilayah Cicurug dan Cidahu - Bantuan material bangunan Sekitar wilayah Cicurug dan Cidahu - Bantuan Air Bersih untuk korban kekeringan

Selain itu, terlihat bahwa kualitas akrual meningkat sesudah konvergensi IFRS.Hipotesis kedua yang menyatakan bahwa adanya perbedaan persistensi laba antara periode