https://e-journal.sdn195pinangmerah.com/index.php/jkb
e-ISSN : 2722-0052
p-ISSN : 2722-029X
J . K . B
Jurnal Kependidikan BetaraSitasi: Asnaini. (2020). Peningkatan Pemahaman Konsep Energi: Studi Tindakan Kelas dengan Pembelajaran Kontekstual Berbantuan LKS. Jurnal Kependidikan Betara, 1(3), 86-91.
Peningkatan Pemahaman Konsep Energi: Studi Tindakan
Kelas dengan Pembelajaran Kontekstual
Asnaini
SDN 04/V Kuala Tungkal, Jl. Syarif Hidayatullah 77, Kec. Tungkal Ilir, Kab. Tanjung Jabung Barat, Jambi, Indonesia
*E-mail: [email protected]
1. Pendahuluan
IPA pada hakikatnya adalah salah satu mata pelajaran yang berkaitan dengan proses, sikap, dan produk ilmiah. IPA sebagai ilmu pengetahuan terangkai secara sistematis dengan scope keberlakukan yang universal. Sebagai salah satu mata pelajaran yang diajarkan mulai dari jenjang sekolah dasar, IPA memegang peranan penting dalam perkembangan pengetahuan siswa. Hal tersebut menuntut pelajar untuk dapat menguasai konsep-konsep IPA sejak dini (Faizah, 2016; Sukowati, 2014).
Pentingnya penguasaan konsep karena keterampilan berpikir tersebut merupakan dasar dari pengembangan keterampilan berpikir pada tingkat tinggi. Siswa yang mengalami permasalahan dalam memahami konsep maka kemampuan-kemampuan lain seperti berpikir kritis, berpikir kreatif,
Received
April 2020
Revised
Mei 2020
Accepted for Publication
Mei 2020
Published
Mei 2020 Abstract
This study aims to improve students' ability to understand the concept of Energy. This research is a classroom action research conducted in two cycles. The action is carried out by applying contextual learning. The study was conducted at SDN 144 / V Betara Kiri on 29 students. The type of data in this research is quantitative data and qualitative data. Quantitative data were obtained from tests at the end of each learning cycle and qualitative data were obtained from observations in the implementation of actions. Quantitative data analysis is performed by determining the average score of students' understanding of business and energy concepts. Qualitative data were analyzed with the aim of improving the implementation of actions. Learning results show that the ability of students to understand the concept of Energy has increased with the application of contextual learning. This is indicated from the increase in concept comprehension ability, from 70.20 in the first cycle to 79.06 in the second cycle.
Keywords: Conceptual understanding; energy
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam memahami konsep Energi. Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang dilakukan dalam dua siklus. Pelaksanaan tindakan dilakukan dengan menerapkan pembelajaran kontekstual. Penelitian dilakukan di SDN 144/V Betara Kiri pada 29 siswa. Jenis data dalam penelitian ini adalah data kuantitatif dan data kualitatif. Data kuantitatif diperoleh dari tes disetiap akhir pembelajaran pada tiap siklus dan data kualitatif diperoleh dari hasil observasi dalam pelaksanaan tindakan. Analisis data kuantitatif dilakukan dengan menentukan skor rata-rata pemahaman konsep usaha dan energi siswa. Data kualitatif dianalisis dengan tujuan untuk perbaikan pelaksanaan tindakan.Hasil pembelajaran menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam memahami konsep Energi mengalami peningkatan dengan diterapkannya pembelajaran kontekstual. Hal tersebut diindikasikan dari peningkatan kemampuan pemahaman konsep yakni dari 70,20 pada siklus I menjadi 79,06 pada siklus II.
87 kemampuan pemecahan masalah, dan kemampuan lainnya akan mengalami permasalahan pula. Sebaliknya, dengan pemahaman konsep yang kuat, utuh, dan komprehensif maka siswa akan mampu mengembangkan kemampuan berpikir mereka dengan baik pula. Hal tersebut sesuai dengan hasil penelitian dari beberapa peneliti yang telah dilakukan. Misalnya hasil penelitian Alatas (2014) dan Wulandari (2018) yang menunjukkan adanya korelasi positi antara pemahaman konsep dengan kemampuan berpikir kritis siswa. Pada ranah berpikir kreatif juga memerlukan pemahaman konsep yang baik. Hal tersebut sesuai dengan hasil penelitan Gunawan, Suraya, & Tryanasari (2016) yang menunjukkan bahwa mahasiswa yang memiliki kemampuan berpikir kreatif baik akan memperoleh prestasi belajar yang baik pula. Selain itu, dalam pembelajaran sains, keberhasilan siswa dalam memecahkan masalah juga berkaitan dengan pengaman konsep yang baik. Siswa yang memahami konsep yang relevan dengan permasalahan yang harus dipecahkan dan mampu memanggil pemahaman konsep tersebut akan lebih baik dalam memecahkan persoalan yang dihadapi (Rivaldo et
al., 2018; Saputri et al., 2019; Taqwa et al., 2019; Taqwa & Pilendia, 2018; Taqwa & Rivaldo, 2019).
Pentingnya pemahaman konsep ini justru kontras dengan hasil temuan yang ada di lapangan. Siswa justru banyak mengalami kesulitan dalam memahami konsep dengan benar terutama pada konsep-konsep yang ada pada pelajaran IPA. Pemahaman konsep siswa pada topik-topik IPA masih cenderung rendah (Sadiqin et al., 2017). Rendahnya pemahaman konsep tersebut dipicu oleh beberapa penyebab.
Salah satu penyebab rendahnya pemahaman konsep IPA siswa adalah adanya miskonsepsi pada siswa (Barniol & Zavala, 2012; Başer, 2006; Bektaşli & Çakmakci, 2011). Miskonsepsi lebih banyak terjadi pada pelajaran IPA karena umumnya fenomena IPA banyak dijumpai dalam kehidupan sehari-hari (Kikas, 2004). Dari pengamatan fenomena yang dilakukan oleh siswa, sering kali mereka memaknai suatu kejadian sehingga terbangun sebuah pengetahuan. Pengetahuan yang mereka bangun terkadang memiliki kebenaran dalam scope yang sempit namun sering kali digeneralisasikan dalam konteks-konteks lain yang tidak relevan. Pemahaman yang keliru namun dibangun sendiri oleh siswa biasanya lebih bersifat retensi untuk diubah (Berek et al., 2016).
Agar pemahaman konsep siswa pada pembelajaran IPA dapat dikuasai dengan baik maka siswa harus membangun pemahaman dari permasalahan yang ada di kehidupan sehar-hari namun harus dengan arahan dari guru agar pengetahuan yang dibangun benar secara konsep. Salah satu pembelajaran yang cocok untuk tujuan tersebut adalah pembelajaran kontekstual. Pembelajaran kontekstual merupakan pembelajaran yang menekankan pada keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran serta menuntut siswa untuk mampu mengaitkan setiap pengetahuan yang dikonstruk dari permasalahan yang ada dikehidupan nyata (Putri et al., 2014). Pembelajaran kontekstual ini masih jarang dilakukan oleh guru dalam praktik pembelajaran. Padahal pembelajaran kontekstual ini memberikan pengaruh positif terhadap capaian hasil belajar siswa. Oleh karenanya dalam penelitian ini, upaya reduksi permasalahan yang ada dikelas dilakukan dengan menerapkan pembelajaran kontekstual.
2. Metode Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian ini mengikuti langkah-langkah sesuai dengan metode yang dikembangkan oleh Kemmis (2014). Setiap siklus terdiri dari kegiatan perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi.
Penelitian ini dilakukan di SDN 144/V Betara Kiri. Penelitian dilakukan pada siswa kelas VI dengan jumlah siswa sebanyak 29 yang terdiri dari 16 siswa laki-laki dan 13 siswa perempuan. Jenis data dalam penelitian ini adalah data kuantitatif dan data kualitatif. Data kuantitatif diperoleh dari tes disetiap akhir pembelajaran pada tiap siklus. Jumlah soal terdiri dari 14 soal pilihan berganda untuk masing-masing siklus. Adapun data kualitatif diperoleh dari hasil observasi dalam pelaksanaan tindakan.
Analisis data kuantitatif dilakukan dengan menentukan skor rata-rata pemahaman konsep usaha dan energi siswa. Hal tersebut bertujuan untuk melihat perubahan kemampuan siswa dalam memahami konsep. Untuk data kualitatif yang diperoleh dari hasil observasi pembelajaran, dianalisis dengan tujuan untuk perbaikan pelaksanaan tindakan. Indikasi keberhasilan pelaksanaan tidakan adalah jika rata-rata hasil belajar siswa adalah diatas 70 dan lebih dari 70% siswa tuntas dalam belajar. Jika hal tersebut belum tercapai makan perbaikan proses pembelajaran akan terus diupayakan.
88 3. Hasil dan Pembahasan
Pelaksanaan Tindakan pada Tiap Siklus
Pada siklus I pelaksanaan tindakan sudah dilaksanakan dengan baik. Sebanyak 29 siswa hadir dalam proses pembelajaran. Pelaksanaan pembelajaran pada siklus I sudah dilakukan sesuai dengan rancangan RPP yang ada. Sebelum pembelajaran guru menjelaskan pada siswa terkait tujuan pembelajaran yang harus dicapai oleh siswa dan langkah pembelajaran yang harus dilewati. Pembelajaran kontekstual dilakukan dengan mendemonstrasikan, memaparkan dengan video maupun gambar terkait problematika maupun kejadian yang relevan dengan topik pembelajaran. Pada konsep energi misalkan, siswa diajak untuk mengidentifikasi bentuk-bentuk energi apa saja yang ada di sekitar setelah mereka memahami konsep energi. Siswa tidak dijelaskan dengan membaca buku, melainkan mengamati lingkungan sekitar untuk bisa mengamati bentuk-bentuk energi secara langsung.
Permasalahan yang terjadi pada siklus I yang paling tampak adalah adanya beberapa siswa yang terlihat kurang aktif dan antusias sehingga pada siklus II siswa-siswa tersebut mendapatkan perhatian lebih selama proses pembelajaran. Pada siklus II guru juga lebih sering menggiring siswa pada konsep-konsep esensial melalui pertanyaan-pertanyaan. Hal tersebut bertujuan agar siswa dapat memahami konsep secara lebih mendalam. Dengan mengamati secara langsung kejadian alam akan membuat pembelajaran lebih bermakna dan dengan menggiring siswa melalui pertanyaan dapat membangun konsep siswa agar lebih tertata. Hal ini penting mengingat bahwa usaha energi merupakan konsep yang abstrak (Rivaldo, Taqwa, & Faizah, 2019).
Dalam penerapan pembelajaran proses evaluasi ini penting untuk kegiatan refleksi pembelajaran. Dengan mengamati proses pemebelajaran, guru akan mengetahui kekurangan dan kekuatannya dengan baik. Hal tersebut penting untuk memaksimalkan proses pembelajaran berikutnya. Dalam organisasi lebih luas dikenal sebagai sistem penjamin mutu (Taqwa et al., 2020), namun hal tersebut dapat diadaptasi dalam proses pembelajaran di dalam kelas.
Hasil Pemahaman Konsep Siswa
Hasil pembelajaran dalam penelitian tindakan kelas ini diwakilkan oleh nilai rata-rata. Berikut adalah nilai rata-rata siswa pada pembelajaran siklus I dan siklus II.
Siklus I Siklus II
70,20
79,06
Gambar 1. Nilai Rata-Rata Siswa pada Siklus I dan II
Berdasarkan data pada Gambar 1 tampak bahwa kemampuan pemahaman konsep siswa pada topik energi mengalami peningkatan yakni dari 70,20 pada siklus I menjadi 79,06 pada siklus II. Berdasarkan data tersebut mengindikasikan bahwa kemampuan siswa dalam memahami konspe mengalami peningkatan dengan pembelajaran kontekstual. Selain dari peningkatan nilai rata-rata, kemampuan siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran ditunjukkan dari persentase siswa yang mencapai nilai minimal yakni 70. Data perubahan persentase siswa yang memperoleh nilai minimal tersebut seperti yang ditunjukkan Gambar 2.
89
(a) (b)
Gambar 2. Persentase Siswa yang Mencapai Skor Minimal
Berdasarkan Gambar 2 terlihat bahwa upaya dalam meningkatkan pemahaman konsep Energi siswa menunjukkan hasil yang positif. Persentase siswa yang tuntas mengalami peningkatan dari 48% menjadi 79%. Hal tersebut mengindikasikan keberhasilan pelaksanaan tidakan. Oleh karena hasil persentasi siswa yang tuntas sudah mencukupi lebih dari 70% dan rata-rata skor pemahaman konsep siswa sudah diatas 70 maka pelaksanaan tindakan cukup pada siklus II saja.
Telah disebutkan sebelumnya bahwa Energi merupakan bahasan yang bersifat abstrak dan tidak dapat dilihat secara langsung oleh siswa. Meskipun wujud energi tidak dapat dilihat, namun pemikiran siswa dapat diarahkan untuk mengamati gejala-gejalanya. Lagi pula, Energi merupakan materi yang aplikasinya dekat dengan kehidupan siswa sehari-hari (Winata, 2017). Disinilah peran pembelajaran kontekstual ini. Dengan mengamati kejadian langsung maka siswa dapat memahami materi lebih baik sehingga pemahamannya akan menjadi lebih utuh. Jika pemahaman siswa tidak utuh, maka siswa akan mengalami kesulitan dalam memahami konsep secara baik (Taqwa, Hidayat, & Supoto, 2017).
Di sisi lain, pembelajaran kontekstual ini berguna untuk merubah pemahaman siswa terkait konsep fisika yang keliru. Pada dasarnya siswa hadir ke dalam pembelajaran di kelas sudah membawa pengetahuan yang sering kali tidak sesuai dengan konsep ilmiah (Taqwa, 2017; Taqwa, Hidayat, & Sutopo, 2017; Taqwa, Rivaldo, & Faizah, 2019). Hal tersebut harus diatasi dengan segera mungkin. Karena siswa membangun pengetahuan dari pengamatan fenomena alam maka upaya perubahan konseptual siswa juga sebaiknya dilakukan dengan hal serupa, sehingga pembelajaran kontekstual ini cocok dalam mereduksi permasalahan tersebut agar pemahaman konsep siswa menjadi lebih baik. Pada dasarnya goal pembelajaran sains ini agar siswa mampu memecahkan beragam permasalahan yang ada dan juga menjelaskan bermacam fenomena alam. Untuk mencapai hal tersebut siswa perlu memiliki pemahaman konsep yang baik. Hal tersebut menggiring pada keadaan dimana pemahaman konsep juga menjadi salah satu tujuan pembelajaran yang harus dicapai oleh siswa (Taqwa, 2016; Taqwa & Faizah, 2016; Taqwa, Faizah, & Rivaldo, 2019; Taqwa, Priyadi, & Rivaldo, 2019; Taqwa & Rivaldo, 2018).
Dalam penerapan pembelajaran kontekstual ini siswa terlihat belum terbiasa. Namun tampak bahwa siswa lebih antusias dalam mengikuti pembelajaran. Hal tersebut dikarenakan selama ini pembelajaran dilaksanakan dengan metode ceramah. Dengan pembelajaran kontekstual siswa menjadi lebih tertarik untuk ingin tahu. Hal ini penting karena sesuai dengan tujuan pendidikan yang mengarahkan agar pembelajaran mampu menciptakan perubahan sikap maupun pengetahuan pada siswa (Taqwa, Astalini, & Darmaji, 2015).
4. Kesimpulan dan Saran
Hasil pembelajaran menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam memahami konsep Energi mengalami peningkatan dengan diterapkannya pembelajaran kontekstual. Hal tersebut diindikasikan dari peningkatan kemampuan pemahaman konsep yakni dari 70,20 pada siklus I menjadi 79,06 pada
90 siklus II. Selain itu, persentase siswa yang tuntas mengalami peningkatan dari 48% menjadi 79% dan ebih dari 70% dan rata-rata skor pemahaman konsep siswa sudah diatas 70.
Dalam implementasi pembelajaran kontekstual ini siswa terlihat belum terbiasa karena pembelajaran lebih sering dilakukan dengan metode ceramah. Namun demikian, pembelajaran kontekstual ini disarankan untuk digunakan dalam pembelajaran terutama topik-topik sains agar siswa lebih terbiasa dalam hal-hal baru. Selain itu pembelajaran kontekstual ini juga efektif dalam meningkatkan kemampuan siswa pada beberapa aspek.
Daftar Rujukan
Alatas, F. (2014). Hubungan pemahaman konsep dengan keterampilan berpikir kritis melalui model pembelajaran treffinger pada mata kuliah fisika dasar. Edusains, 6(1), 88–96. Retrieved from http://103.229.202.68/dspace/handle/123456789/31211
Barniol, P., & Zavala, G. (2012). Students’ difficulties with unit vectors and scalar multiplication of a vector. AIP Conference Proceedings, 1413, 115–118. https://doi.org/10.1063/1.3680007
Başer, M. (2006). Effect of conceptual change oriented instruction on remediation of students ’ misconceptions related to heat and temperature concepts. Journal of Maltese Education
Research, 4(1), 64–79. https://doi.org/10.1061/(ASCE)0733-9410(1991)117
Bektaşli, B., & Çakmakci, G. (2011). Consistency of students’ ideas about the concept of rate across different contexts. Egitim ve Bilim, 36(162), 273–287.
Berek, F. X., Sutopo, S., & Munzil, M. (2016). Concept enhancement of junior high school students in hydrostatic pressure and archimedes law by predict-observe-explain strategy. Jurnal
Pendidikan IPA Indonesia, 5(2), 230–238. https://doi.org/10.15294/jpii.v5i2.6038
Faizah, K. (2016). Miskonsepsi dalam Pembelajaran IPA. Jurnal Darussalam: Jurnal Pendidikan,
Komunikasi Dan Pemikiran Hukum Islam, 8(1), 115–128.
Gunawan, I., Suraya, S. N., & Tryanasari, D. (2016). Hubungan kemampuan berpikir kreatif dan kritis dengan prestasi belajar mahasiswa pada mata kuliah konsep sains II prodi PGSD IKIP PGRI Madiun. Premiere Educandum : Jurnal Pendidikan Dasar Dan Pembelajaran, 4(01). https://doi.org/10.25273/pe.v4i01.304
Kemmis, S., McTaggart, R., & Nixon, R. (2014). The Action Research Planner_ Doing Critica -
Stephen Kemmis (Springer). New York.
Kikas, E. (2004). Teachers’ conceptions and misconceptions concerning three natural phenomena.
Journal of Research in Science Teaching, 41(5), 432–448. https://doi.org/10.1002/tea.20012
Putri, A. M., Khanafiyah, S., & Susanto, H. (2014). Penerapan model pembelajaran kontekstual dengan pendekatan Snoball Throwing untuk mengembangkan karakter komunikatif dan rasa ingin tahu siswa SMP. Unnes Physics Education Journal, 3(3), 54–60.
Rivaldo, L., Taqwa, M. R. A., & Faizah, R. (2019). Identifikasi Pemahaman Konsep Usaha dan Energi Calon Guru Fisika. Jurnal Pendidikan Sains (JPS), 7(2), 157–163. https://doi.org/10.26714/jps.7.2.2019.157-163
Rivaldo, L., Taqwa, M. R. A., & Taurusi, T. (2018). Resources Siswa SMA tentang Konsep Gaya Archimedes. Jurnal Pendidikan Fisika Universitas Muhammadiyah Makassar, 6(3), 251–258. https://doi.org/http://dx.doi.org/10.26618/jpf.v6i3.1438
Sadiqin, I. K., Santoso, U. T., & Sholahuddin, A. (2017). Pemahaman konsep IPA siswa SMP melalui pembelajaran problem solving pada topik perubahan benda-benda di sekitar kita. Jurnal Inovasi
Pendidikan IPA, 3(1), 52. https://doi.org/10.21831/jipi.v3i1.12554
Saputri, D. E., Taqwa, M. R. A., Aini, F. N., Shodiqin, I., & Rivaldo, L. (2019). Pemahaman konsep mekanika: menentukan arah percepatan pendulum, sulitkah? Jurnal Pendidikan Fisika Dan
Teknologi, 5(1), 110–117. https://doi.org/10.29303/jpft.v5i1.1134
Sukowati, K. (2014). Meningkatkan Hasil Belajar Mata Pelajaran IPA Materi Gaya dan Gerak Menggunakan Metode Demonstrasi Pada Siswa Kelas VI A SDN Darungan 01 Kecamatan Tanggul Kabupaten Bogor. Jurnal Pancaran, 3(4), 69–78.
Taqwa, M R A, Faizah, R., Rivaldo, L., Safitri, D. E., Aini, F. N., & Sodiqin, M. I. (2019). Students’ Problem-Solving Ability in Temperature and Heat Concepts. Journal of Physics: Conference
Series, 1339, 1–4. https://doi.org/10.1088/1742-6596/1339/1/012132
Taqwa, M R A, & Rivaldo, L. (2019). Pembelajaran Problem Solving Terintegrasi PhET: Membangun Pemahaman Konsep Listrik Dinamis. Kwangsan: Jurnal Teknologi Pendidikan,
91
7(1), 45–56. https://doi.org/10.31800/jtp.kw.v7n1.p45--56
Taqwa, M. R. A. (2016). Perlunya Program Resitasi untuk Meningkatkan Kemampuan Mahasiswa dalam Memahami Konsep Gaya dan Gerak. In Pros. Semnas Pend. IPA Pascasarjana UM (Vol. 1, pp. 365–372).
Taqwa, M. R. A. (2017). Profil Pemahaman Konsep Mahasiswa dalam Menentukan Arah Resultan Gaya. In Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Sains (pp. 79–87).
Taqwa, M. R. A., Astalini, & Darmaji. (2015). Hubungan Gaya Belajar Visual, Auditorial, Dan Kinestetik Dengan Hasil Belajar Siswa Pada Materi Dinamika Rotasi Dan Kesetimbangan Benda Tegar Kelas XI IPA SMAN Se-Kota Jambi. Prosiding Seminar Nasional Sains Dan
Pendidikan Sains, (2009), 220–227.
Taqwa, M. R. A., & Faizah, R. (2016). Perlunya Program Resitasi untuk Meningkatkan Kemampuan Mahasiswa dalam Memahami Konsep Gaya dan Gerak. Pros. Semnas Pend. IPA Pascasarjana
UM, 12(1), 365–372.
Taqwa, M. R. A., Faizah, R., & Rivaldo, L. (2019). Pengembangan Lembar Kerja Mahasiswa Berbasis POE dan Kemampuan Berpikir Kritis Mahasiswa pada Topik Fluida Statis. Edufisika:
Jurnal Pendidikan Fisika, 4(1), 6–13.
Taqwa, M. R. A., Hidayat, A., & Supoto. (2017). Konsistensi Pemahaman Konsep Kecepatan dalam Berbagai Representasi. Jurnal Riset & Kajian Pendidikan Fisika, 4(1), 31–39. https://doi.org/http://dx.doi.org/10.12928/jrkpf.v4i1.6469
Taqwa, M. R. A., Hidayat, A., & Sutopo. (2017). Deskripsi Penggunaan Program Resitasi dalam Meningkatkan Kemampuan Membangun Free-Body Diagrams ( FBDs ). Jurnal Pendidikan
Fisika Tadulako, 5(1), 52–58. https://doi.org/10.22487/j25805924.2017.v5.i1.8411
Taqwa, M. R. A., & Pilendia, D. (2018). Kekeliruan Memahami Konsep Gaya , Apakah Pasti Miskonsepsi ? Jurnal Inovasi Pendidikan Fisika Dan Integrasinya, 01(02), 1–12.
Taqwa, M. R. A., Priyadi, R., & Rivaldo, L. (2019). Pemahaman Konsep Suhu dan Kalor Mahasiswa Calon Guru. Jurnal Pendidikan Fisika, 7(1), 56–67.
Taqwa, M. R. A., & Rivaldo, L. (2018). Kinematics Conceptual Understanding : Interpretation of Position Equations as A Function of Time. Jurnal Pendidikan Sains, 6(4), 120–127. https://doi.org/http://dx.doi.org/10.17977/jps.v6i4.11274
Taqwa, M. R. A., Rivaldo, L., & Faizah, R. (2019). Problem Based Learning Implementation to Increase The Students’ Conceptual Understanding of Elasticity. Formatif: Jurnal Ilmiah
Pendidikan MIPA, 9(2), 107–116. https://doi.org/10.30998/formatif.v9i2.3339
Taqwa, M. R. A., Yasrina, A., Darmawan, A., Kurniawan, F., & Pramudia, R. P. (2020). Monitoring dan Evaluasi Perkuliahan di Jurusan Fisika Universitas Negeri Malang. Briliant: Jurnal Riset
Dan Konseptual, 5(1), 61–68. https://doi.org/10.28926/briliant.v5i1.425
Winata, A. (2017). Penerapan Model PBL (Problem Based Learning) Untuk Meningkatkan Aktivitas Dan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran IPA Materi Energi Bunyi Kelas IV Semester II di SDN I Sedayulawas Brondong Lamongan Tahun Pelajaran 2015/2016. JTIEE (Journal of
Teaching in Elementary Education), 1(1), 21–36. https://doi.org/10.30587/jtiee.v1i1.109
Wulandari, A. Y. R. (2018). Correlation between critical thinking and conceptual understanding of student’s learning outcome in mechanics concept. AIP Conference Proceedings,