ABSTRAK
Arhadi, Radhitya Indra, 2010. “Onomatope Bahasa Indonesia Dalam Komik Kambing Jantan Karya Raditya Dika” Skripsi Strata 1 (S1). Progam studi Sastra Indonesia. Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma.
Skripsi ini membahas tentang onomatope Bahasa Indonesia dalam Komik Kambing Jantan Karya Raditya Dika. Ada dua masalah yang dibahas. Pertama, apa tipe-tipe onomatope apakah yang ada dalam komik Kambing Jantan Karya Raditya Dika? Kedua, bagaimana pembentukan kata dari onomatope yang ada dalam komik Kambing Jantan Karya Raditya Dika?
Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif, yaitu penelitian yang mendeskripsikan objek penelitian berdasarkan fakta yang ada. Prosedur penelitian terdiri dari tiga tahap, yaitu tahap (i) pengumpulan data, (ii) analisis data, dan pada tahap (iii) penyajian hasil analisis data. Metode yang digunakan dalam mengumpulankan data adalah metode simak. Teknik yang digunakan dalam tahap pengumpulan data adalah teknik nonpartisipan atau teknik simak bebas libat cakap dengan mengamati dan mencatat data berupa kata-kata yang mengandung unsur onomatope Bahasa Indoneisa yang terdapat dalam komik Kambing Jantan Karya Raditya Dika. Setelah data terklasifikasikan, kemudian dianalisis dengan menggunakan metode padan referensial dan metode agih. Metode padan referensial digunakan untuk menganalisis apakah onomatope tersebut dapat dikelompokkan ke dalam jenis tipe onomatope yang ada. Metode agih diterapkan dengan teknik baca markah dan bagi unsur langsung digunakan untuk menunjukkan kejatian onomatope Bahasa Indonesia yang berada dalam komik Kambing Jantan Karya Raditya Dika.
Adapun hasil penelitian ini adalah sebagai berikut. Pertama, mengidentifikasi tipe-tipe onomatope yang terdapat dalam komik Kambing Jantan Karya Raditya Dika. Dalam onomatope terdapat berbagai jenis bunyi, dengan begitu jenis-jenis bunyi itu dapat digolongkan menjadi tipe-tipe onomatope, (i) tipe suara manusia, (ii) tipe suara binatang, (iii) tipe bunyi alam merupakan tiruan bunyi yang dihasilkan oleh alam, (iv) bunyi yang dihasilkan oleh benda, (v) bunyi yang dihasilkan dari kehidupan sehari-hari, dihasilkan dari rutinitas kehidupan manusia, (vi) tipe bunyi yang dihasilkan dari kehidupan sosial ataupun hobi, (vii) bunyi yang dihasilkan dari kealamian bunyi merupakan bunyi-bunyi yang tercipta akibat terjadinya peristiwa secara alami, (viii) bunyi yang dihasilkan dari abstraksi bunyi contoh seperti bunyi yang lenyap dengan tiba-tiba, bunyi yang terjadi sangat cepat. Hasil penelitian kedua, dengan mengidentifikasi onomatope Bahasa Indonesia yang ada dalam komik Kambing Jantan Karya Raditya Dika penulis mencoba mencari onomatope yang dapat membentuk kata.
Arhadi, Radhitya Indra. 2010. “Onomatope Indonesian Language in the Comic Kambing Jantan by Raditya Dika” Undergraduate Thesis of Indonesian Literature Study Program. Department of Literature, Faculty of Literature. Yogyakarta: Sanata Dharma University.
This research discusses onomatope Indonesian Language in the comic Kambing Jantan by Raditya Dika. There were two formulated problems of this result of the research. To collect the data, this research used observation method as the method. Meanwhile, the technique used in this research was non- participants technique or observation without conservation technique. This technique was done by observing and making notes of the words which contained elements of onomatope Indonesian Language in the comic Kambing Jantan by Raditya Dika. After the data were being clasified, the reseracher analyzed it using padan referensial method and agih method. Padan referensial method is used analyze a onomatope whether can be grouped into types of existing onomatope. Agih method is used by applying immediate constituent and markers analyzing technique. The marker analyzing technique and the immediate constituent analyzing technique is used to show the illocutionary meaning of onomatope Indonesian Language in the comic Kambing Jantan by Raditya Dika.
i
ONOMATOPE BAHASA INDONESIA DALAM KOMIK KAMBING
JANTAN KARYA RADITYA DIKA
Skripsi
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat
Memperoleh Gelar Sarjana Sastra Indonesia
Progam Studi Sastra Indonesia
Oleh:
Oleh
Radhitya Indra Arhadi
NIM: 104114015
PROGAM STUDI SASTRA INDONESIA
JURUSAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS SANATA DHARMA
vi
KATA PENGANTAR
Penulis memanjatkan puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas
berkat dan rahmat-Nya yang dilimpahkan kepada penulis sehingga, penulis dapat
menyelesaikan skripsi ini. Skripsi yang berjudul “Onomatope Bahasa Indonesia
Dalam Komik Kambing Jantan Karya Raditya Dika” dibuat untuk memenuhi
salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Sastra pada Progam Studi Sastra
Indonesia, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma.
Skripsi ini tidak akan terwujud tanpa adanya kebaikan, bantuan, dan
dukungan baik secara material maupun spiritual dari berbagai pihak. Kebaikan,
perhatian, bantuan, dan dukungan tersebut selalu hadir dalam setiap langkah
penulis, terutama saat menjalani perkuliahan di Universitas Sanata Dharma.
Dalam kesempatan ini, perkenankan penulis menyampaikan ucapan terima
kasih kepada berbagai pihak yang telah membantu dan memperlancar proses
penulisan skripsi ini.
1. Bapak Prof. Dr. I. Praptomo Baryadi, M.Hum. selaku dosen pembimbing I
yang dengan penuh kesabaran, perhatian, dan ketelitian telah memberikan
bimbingan kepada penulis sehingga skripsi ini dapat diselesaikan.
2. Bapak Dr. P. Ari Subagyo, M.Hum., selaku dosen pembimbing II yang telah
membantu penulis dalam proses penyusunan skripsi ini dan memberikan
petunjuk serta masukan kepada penulis.
3. Seluruh dosen Progam Studi Sastra Indonesia Prof. Dr. I. Praptomo Baryadi,
vii
Rahmanto, M.Hum.; Drs. F.X. Santoso, M.S.; S.E Peni Adji, S.S., M.Hum.;
Dra. Fr. Tjandrasih Adji, M.Hum.; Dr. Yoseph Yapi Taum, M.Hum.; Prof.
Dr. I Dewa Putu Wijana, S.U., M.A. yang telah memberikan bekal kepada
penulis. Segenap karyawan Fakultas Sastra serta secretariat Sastra Indonesia
atas pelayanannya dan perpustakaan Universitas Sanata Dharma yang telah
menjadi sumber kami mencari referensi buku untuk menambah ilmu.
4. Kedua orang tua penulis, serta kakak dan adik tercinta atas dukungan doa dan
kasih sayang yang tiada hentinya.
5. Teman-temanku angkatan 2010 yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu, terima kasih atas kebersamaannya selama di bangku kuliah.
Namun, penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna.
Skripsi ini mengandung banyak kekurangan. Oleh karena itu, penulis
mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari pembaca untuk
perbaikan skripsi ini.
Penulis
viii
Bersyukur setiap hari adalah salah satu syarat untuk mendatangkan
kekayaan. - Wallace Watles
Pandanglah hari ini. Kemarin sudah menjadi mimpi. Dan esok hari
hanyalah sebuah visi. Tetapi, hari ini yang sungguh nyata, menjadikan
kemarin sebagai mimpi kebahagiaan, dan setiap hari esok sebagai visi
harapan. – Alexander Pope
Percayalah pada Yesus dan menerima apa yang Dia katakan, bahkan ketika
itu bertentangan dengan apa yang dikatakan orang lain.
– Paus Yohanes
Paulus II
Kebahagiaan Anda tumbuh berkembang manakala Anda turut membantu
orang lain. Namun, bilamana Anda tidak mencoba membantu sesama,
kebahagiaan akan layu dan mengering. Kebahagiaan bagaikan sebuah
tanaman; harus disirami setiap hari dengan sikap dan tindakan memberi. – J.
Donald Walters
ix
PERSEMBAHAN
Skripsi ini saya persembahkan kepada:
Kepada ayahku yang selalu memberi semangat, motivasi, dan
doa restunya, kepada ibuku yang sudah berada di surga, kepada
kakakku yang selalu memberiku motivasi, serta adikku yang
kadang menemaniku saat-saat menyelesaikan skripsi ini.
Teman-teman angakatan 2010 yang memberi semangat, serta
motivasi dalam proses pembelajaran.
x ABSTRAK
Arhadi, Radhitya Indra, 2010. “Onomatope Bahasa Indonesia Dalam Komik
Kambing Jantan Karya Raditya Dika” Skripsi Strata 1 (S1). Progam
studi Sastra Indonesia. Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma.
Skripsi ini membahas tentang onomatope Bahasa Indonesia dalam Komik Kambing Jantan Karya Raditya Dika. Ada dua masalah yang dibahas. Pertama, apa tipe-tipe onomatope apakah yang ada dalam komik Kambing Jantan Karya Raditya Dika? Kedua, bagaimana pembentukan kata dari onomatope yang ada dalam komik Kambing Jantan Karya Raditya Dika?
Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif, yaitu penelitian yang mendeskripsikan objek penelitian berdasarkan fakta yang ada. Prosedur penelitian terdiri dari tiga tahap, yaitu tahap (i) pengumpulan data, (ii) analisis data, dan pada tahap (iii) penyajian hasil analisis data. Metode yang digunakan dalam mengumpulankan data adalah metode simak. Teknik yang digunakan dalam tahap pengumpulan data adalah teknik nonpartisipan atau teknik simak bebas libat cakap dengan mengamati dan mencatat data berupa kata-kata yang mengandung unsur onomatope Bahasa Indoneisa yang terdapat dalam komik Kambing Jantan Karya Raditya Dika. Setelah data terklasifikasikan, kemudian dianalisis dengan menggunakan metode padan referensial dan metode agih. Metode padan referensial digunakan untuk menganalisis apakah onomatope tersebut dapat dikelompokkan ke dalam jenis tipe onomatope yang ada. Metode agih diterapkan dengan teknik baca markah dan bagi unsur langsung digunakan untuk menunjukkan kejatian onomatope Bahasa Indonesia yang berada dalam komik Kambing Jantan Karya Raditya Dika.
Adapun hasil penelitian ini adalah sebagai berikut. Pertama, mengidentifikasi tipe-tipe onomatope yang terdapat dalam komik Kambing Jantan Karya Raditya Dika. Dalam onomatope terdapat berbagai jenis bunyi, dengan begitu jenis-jenis bunyi itu dapat digolongkan menjadi tipe-tipe onomatope, (i) tipe suara manusia, (ii) tipe suara binatang, (iii) tipe bunyi alam merupakan tiruan bunyi yang dihasilkan oleh alam, (iv) bunyi yang dihasilkan oleh benda, (v) bunyi yang dihasilkan dari kehidupan sehari-hari, dihasilkan dari rutinitas kehidupan manusia, (vi) tipe bunyi yang dihasilkan dari kehidupan sosial ataupun hobi, (vii) bunyi yang dihasilkan dari kealamian bunyi merupakan bunyi-bunyi yang tercipta akibat terjadinya peristiwa secara alami, (viii) bunyi yang dihasilkan dari abstraksi bunyi contoh seperti bunyi yang lenyap dengan tiba-tiba, bunyi yang terjadi sangat cepat. Hasil penelitian kedua, dengan mengidentifikasi onomatope Bahasa Indonesia yang ada dalam komik Kambing Jantan Karya Raditya Dika penulis mencoba mencari onomatope yang dapat membentuk kata.
xi
ABSTRACT
Arhadi, Radhitya Indra. 2010. “Onomatope Indonesian Language in the Comic Kambing Jantan by Raditya Dika” Undergraduate Thesis of Indonesian Literature Study Program. Department of Literature, Faculty of Literature. Yogyakarta: Sanata Dharma University.
This research discusses onomatope Indonesian Language in the comic Kambing Jantan by Raditya Dika. There were two formulated problems of this research. First, What types of onomatope in the comic Kambing Jantan by Raditya Dika? Second, how the word forming of onomatope found in the comic Kambing Jantan by Raditya Dika?
This research was a descriptive research in which described the research object based on the fact. The research procedure of this study consisted of three stages: stage (i) collecting the data, (ii) analyzing the data, and (iii) presenting the result of the research. To collect the data, this research used observation method as the method. Meanwhile, the technique used in this research was non- participants technique or observation without conservation technique. This technique was done by observing and making notes of the words which contained elements of onomatope Indonesian Language in the comic Kambing Jantan by Raditya Dika. After the data were being clasified, the reseracher analyzed it using padan referensial method and agih method. Padan referensial method is used analyze a onomatope whether can be grouped into types of existing onomatope. Agih method is used by applying immediate constituent and markers analyzing technique. The marker analyzing technique and the immediate constituent analyzing technique is used to show the illocutionary meaning of onomatope Indonesian Language in the comic Kambing Jantan by Raditya Dika.
The results of this research presented as following. The first result, the researcher identified the types of onomatope which contained in the comic Kambing Jantan by Raditya Dika. In the onomatope, there were several sounds which can be clasified into several voice types of onomatope; (i) the types are the human sound, (ii) the animal sound, (iii) the sound of nature constituting an imitation of sounds produced by nature, (iv) the sound produced by things, (v) the daily sound resulted from daily activities of the human, (vi) the sound resulting from the social life or hobby, (vii) the voice resulting from naturalness which created due to the occurrence of events naturally, (viii) the sound resulting of the abstraction for instance the sound which come suddenly and very qucikly. The second result, by identifying onomatope Indonesia Language in the comic Kambing Jantan by Raditya Dika, the researcher tried to find out the onomatope as the word forming.
xii DAFTAR GAMBAR
Gambar 1: Onomatope “kriuk”……….. 2
Gambar 2: Onomatope “byurr”……….. 3
Gambar 3: Onomatope “ting tong”……… 4
Gambar 4: Onomatope “shooooshh”……….. 5
Gambar 5: Onomatope ”blp”……… 16
Gambar 6: Onomatope “hahahaha”……….. 17
Gambar 7: Onomatope “huuuupp”……….... 18
Gambar 8: Onomatope “hoooeek”……… 21
Gambar 9: Onomatope “uhok”……….. 21
Gambar 10: Onomatope “mbeek”………. 22
Gambar 11: Onomatope “kurrr”………... 23
Gambar 12: Onomatope “srak”……….... 24
Gambar 13: Onomatope “wooshh”……….. .24
Gambar 14: Onomatope “ckiitt”………... 25
Gambar 15: Onomatope “ptak”……… 26
Gambar 16: Onomatope “hooam”……….... 27
Gambar 17: Onomatope “broot”……….. 28
Gambar 18: Onomatope “srzz”………. 29
Gambar 19: Onomatope “ting”………. 30
Gambar 20: Onomatope “geplak”………. 31
Gambar 21: Onomatope “tik”……….... 32
xiii
Gambar 23: Onomatope “bleeguur”………..…. 33
Gambar 24: Onomatope “braak”……….... 34
Gambar 25: Onomatope “tik”……….. 35
Gambar 26: Onomatope “ting”……….... 36
Gambar 27: Onomatope “mbeek”……….... 37
Gambar 28: Onomatope “buk”………. 38
Gambar 29: Onomatope “kcipak,kcipuk”………. 39
Gambar 30: Onomatope “crek”……… 40
Gambar 31: Onomatope “brak”……… 41
Gambar 32: Onomatope “plok”……… 42
Gambar 33: Onomatope “plung”……….. 42
Gambar 34: Onomatope “kur”……….. 43
Gambar 35: Onomatope “deg”……….. 44
xiv DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PENGESAHAN PEMBIMBING ... ii
HALAMAN PENGESAHAN PENGUJI ... iii
PERYATAAN KEASLIAN KARYA ... iv
HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ... v
xv
1.6.4 Peniruan Bunyi ... 12
1.6.5 Komik ... 13
1.7 Metode dan Teknik Penelitian ... 14
1.7.1 Teknik Pengumpulan Data ... 15
1.7.2 Metode Analisis Data ... 15
1.7.3 Penyajian Hasil Analisis Data ... 18
1.8 Sistematika Penyajian ... 19
BAB II TIPE-TIPE ONOMATOPE DALAM KOMIK KAMBING JANTAN KARYA RADITYA DIKA 2.1 Pengantar ... 20
2.2 Suara Manusia ... 20
2.3 Bunyi Binatang ... 22
2.4 Bunyi Alam ... 23
2.5 Bunyi yang Dihasilkan oleh Benda ... 25
2.6 Bunyi Kehidupan Sehari-hari ... 26
2.7 Kehidupan Sosial dan Hobi ... 29
2.8 Kealamian Bunyi ... 30
2.9 Abstraksi Bunyi ... 32
BAB III PEMBENTUKAN KATA DARI ONOMATOPE DALAM KOMIK KAMBING JANTAN KARYA RADITYA DIKA 3.1 Pengantar ... 34
xvi
3.3 Pembentukan Kata dari Onomatope ”Ting” ... 35
3.4 Pembentukan Kata dari Onomatope”Mbeeeek” ... 35
3.5 Pembentukan Kata dari Onomatope ”Buk” ... 36
3.6 Pembentukan Kata dari Onomatope ”Kcipak & Kcipuk” ... 37
3.7 Pembentukan Kata dari Onomatope ”Crek” ... 38
3.8 Pembentukan Kata dari Onomatope ”Brak” ... 39
3.9 Pembentukan Kata dari Onomatope ”Plok” ... 39
3.10 Pembentukan Kata dari Onomatope ”Plung”... 40
3.11 Pembentukan Kata dari Onomatope ”Kur” ... 41
3.12 Pembentukan Kata dari Onomatope ”Deg” ... 42
3.13 Pembentukan Kata dari Onomatope ”Bruk” ... 43
3.14 Tabel Pembentukan Onomatope Menjadi Kata ... 44
BAB IV PENUTUP 4.1 Kesimpulan ... 47
4.2 Saran ... 48
DAFTAR PUSTAKA ... 49
1 BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Objek penelitian ini adalah onomatope Bahasa Indonesia dalam komik
Kambing Jantan Karya Raditya Dika. Onomatope adalah kata-kata yang dibentuk
berdasarkan tiruan bunyi. Sebagai tiruan bunyi, bentuk onomatope biasanya
terdiri atas satu atau dua perulangan silabel. Silabel merupakan sesuatu yang
berkaitan dengan inti suku kata. Onomatope diciptakan untuk mewakili suatu
bentuk bunyi tertentu.
Dalam interaksi dengan orang lain, manusia dituntut untuk bisa
menyampaikan informasi, baik berupa rangkaian kata-kata yang memiliki tujuan
abstrak maupun tiruan bunyi. Kata-kata tiruan bunyi (onomatope) tersebut bisa
disampaikan kepada lawan bicara secara lisan maupun tertulis. Bentuk onomatope
secara tertulis dapat kita temukan pada novel, cerpen, puisi, dan paling banyak
pada komik.
Namun, wacana komik berbeda dengan wacana novel ataupun cerpen.
Wacana komik hanya sedikit menggunakan bahasa tulisan. Bahasa tulisan hanya
berfungsi untuk mendukung gambar sebagai pokok utama pengarang untuk
menampilkan jalan cerita yang dibuat dan bahasa tulisan dalam komik juga
digunakan sebagai bahasa dialog antar tokoh dan digunakan untuk memberikan
Saat ini komik telah merambah tidak hanya kalangan anak-anak saja,
namun telah menjadi bacaan bagi orang dewasa. Komik merupakan cerita
bergambar sebagai perpaduan antar karya seni atau seni gambar dengan seni
sastra. Bahasa tulisan yang berbentuk tiruan bunyi yang dihasilkan dalam komik
yang dipergunakan untuk memberikan efek imajinasi pembaca dan sebagai
ungkapan perasaan para tokoh disebut dengan onomatope.
Dalam komik, onomatope merupakan bentuk tulis dari bunyi bahasa
yang mampu menghidupkan setiap kejadian di dalamnya, seperti bunyi guntur,
bunyi gonggongan anjing, bunyi suara langkah kaki, bunyi mengerem mobil,
bunyi sepeda motor, dan lain-lain. Tanpa kehadiran onomatope, komik akan
terasa sunyi, peristiwa-peristiwa yang ada di dalamnya terasa hambar dan tidak
hidup. Perhatikan onomatope pada gambar 1 berikut (diambil dari komik
Kambing Jantan Karya Raditya Dika)
Gambar 1 : Onomatope saat memakan keripik
Suara televisi : „Oh em ji Dia menginjak Dewi Perssik sodara sodaraaa... kriuk.‟
Pada gambar 1 terdapat sebuah onomatope, yakni kriuk. Kriuk termasuk
ke dalam tipe suara manusia. Hal tersebut dapat dibuktikan melalui gambar
memakannya. Pada gambar di atas juga terdapat remahan-remahan keripik,
indikator-indikator tersebut merupakan tindakan yang terjadi pada tokoh Dika,
yang merujuk pada aktivitas memakan makanan.
Onomatope juga dapat berfungsi sebagai pembentuk kata, pembentukan
kata dari bunyi “Byuur”
Gambar 2: Onomatope orang kecebur
“Byurr”
Bunyi “byurr” pada gambar 2 membentuk beberapa kata yaitu cebur,
cebar-cebur, mencebur, menceburkan, tercebur. Cebur memiliki arti tiruan bunyi
benda besar yang terjatuh ke dalam air, cebar-cebur mempunyai arti tiruan bunyi
sebuah benda yang jatuh ke dalam air berkali-kali, mencebur memiliki arti terjun
ke dalam air, lalu menceburkan mempunyai arti menjatuhkan sesuatu ke dalam
Contoh lain dari onomatope ditunjukkan oleh kata ting tong
pada gambar 3 berikut (diambil dari komik Kambing Jantan Karya
Raditya Dika).
Gambar 3: Onomatope bel pintu
Yousef : Ting Tong! Tamu yeahh!!!
Onomatope pada gambar 3 ditunjukkan oleh kata ting tong. Kata tersebut
merupakan tiruan bunyi bel pintu. Penentuan ini didasarkan pada konteks, yakni
tamu yang memencet bel pintu. Bila dianalisis berdasarkan tipe onomatope, ting
tong termasuk ke dalam bunyi benda yakni alat elektronik (bel pintu).
Dari beberapa contoh di atas, dapat diketahui bahwa onomatope
memiliki tipe-tipe tertentu. Ada onomatope yang merupakan tiruan suara manusia
dan bunyi benda. Pada kenyataannya onomatope tidaklah sama antara satu dengan
yang lainnya. Padahal bunyi hakikatnya merupakan sesuatu yang universal, sama
dan seragam. Bila di Indonesia suara bebek disimbolkan dengan bunyi kwek-kwek,
namun lain halnya dengan di Inggris yaitu quack-quack. Munculnya
keaneragaman onomatope ini terjadi karena perbedaan daya tangkap manusia dari
masyarakat yang menetap di belahan bumi yang berbeda-beda. Fenomena inilah
Alasan dipilihnya onomatope sebagai objek penelitian ini adalah
sebagai: Pertama, onomatope merupakan sesuatu bentuk kata baru yang unik, jika
dibandingkan dengan bentuk kata yang lain. Keunikan tersebut dapat dilihat dari
gambar 4 berikut (diambil dari komik Kambing Jantan Karya Raditya Dika)
Gambar 4: Onomatope menyembur api
Sharonzilla : Shooooshh..
Kata Shooooshh pada gambar 4 tergolong unik karena dalam gambar
ini mampu menginpretasikan dari bunyi mengeluarkan api yang diwujudkan
dalam bentuk tulisan. Alasan Kedua, onomatope dapat menjadi awal
pembentukan kata, misalnya kata cecak berawal dari suara hewan cecak yang
cak..cak..cak..ce..cak, dari pendengaran daya tangkap manusia khususnya
masyarakat Indonesia itulah, hewan itu disebut cecak.
Dalam penelitian ini, akan dianalisis tentang penggunan
onomatope Bahasa Indonesia dalam komik Kambing Jantan Karya Raditya
Dika. Alasan digunakannya komik ini sebagai sumber data, antara lain komik
Kambing Jantan Karya Raditya Dika merupakan sebuah komik yang bersifat
selama dia menempuh kuliah di Adelaide, Australia, saat dia bersama dengan
Harianto temannya dari Kediri dan Yousef dari Arab. Cerita di dalam komik ini
berlatar belakang tahun 2003, namun mengalami penyesuaian dengan apa yang
berkembang sekarang ini, agar ceritanya tidak terasa usang. Selain itu juga di
dalam komik ini memiliki beraneka ragam onomatope.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dalam butir 1.1, permasalahan yang dibahas
dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.2.1 Tipe-tipe onomatope apakah yang ada dalam komik Kambing Jantan
Karya Raditya Dika?
1.2.2 Bagaimana pembentukan kata dari onomatope yang ada dalam komik
Kambing Jantan Karya Raditya Dika?
1.3 Tujuan Penelitian
Secara umum tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi
penggunaan onomatope dalam komik Kambing Jantan Karya Raditya Dika.
Tujuan dari penilitian ini dapat dirincikan sebagai berikut:
1.3.1 Mengidentifikasi tipe-tipe onomatope yang terdapat dalam komik
Kambing Jantan Karya Raditya Dika.
1.3.2 Mengidentifikasi pembentukan kata dari onomatope yang ada dalam
1.4 Manfaat Hasil Penelitian
Hasil penelitian ini berupa deskripsi tentang tipe-tipe onomatope yang
terdapat dalam komik Kambing Jantan Karya Raditya Dika dan pembentukan
kata dari onomatope yang ada dalam komik Kambing Jantan Karya Raditya
Dika. Hasil penelitian tentang tipe-tipe onomatope yang terdapat dalam komik
Kambing Jantan Karya Raditya Dika, bermanfaat untuk memberikan penjelasan
tentang tipe-tipe onomatope Bahasa Indonesia dalam komik Kambing Jantan
Karya Raditya Dika dapat dikelompokkan dalam berbagai bagian. Hasil penelitian
tentang pembentukan kata dari onomatope Bahasa Indonesia dalam komik
Kambing Jantan Karya Raditya Dika, bermanfaat untuk memberikan identifikasi
tentang bagaimana onomatope dapat menjadi berbagai kata. Selain itu, hasil
penelitian ini dapat memberikan manfaat teoretis yaitu berupa pembentukan kata
melalui onomatope, dari onomatope dapat terbentuk sebuah kata, onomatope
sendiri dianggap sebagai dasar primitif dalam penyebutan atau penamaan suatu
benda. Manfaat praktis dari onomatope yang terdapat dalam komik berfungsi
pedoman cara penamaan atau cara membentuk sebuah kata, terutama kata asal.
1.5 Tinjauan Pustaka
Tulisan ini bukanlah tulisan yang pertama kali membahas onomatope
dalam komik sebagai topik skripsinya. Sebelumnya sudah ada beberapa orang
yang dalam penelitiannya membahas tentang onomatope dalam komik, seperti
Roni Hari adalah orang yang meneliti onomatope, dalam jurnalnya yang
membahas mengenai Analisis Kontrastif Onomatope Suara Hewan dalam Bahasa
Jepang dan Bahasa Indonesia. Roni berpendapat bahwa dari hasil analisis
onomatope suara hewan dalam bahasa Jepang dan bahasa Indonesia tersebut,
ditemukan adanya persamaan dan perbedaan, yaitu terdapat persamaan onomatope
suara hewan dalam bahasa Jepang dan bahasa Indonesia yaitu menunjukkan
sumber suara yang sama dan suara yang ditimbulkan dari hewan tersebut,
misalnya suara kucing yaitu nyaanyaa dan “meong”. Ada juga perbedaan
onomatope suara hewan dalam bahasa Jepang dan bahasa Indonesia yaitu:
sebagian onomatope suara hewan dalam bahasa Jepang merupakan bunyi yang
berkesinambungan atau yang disebut sebagai reduplikasi. Misalnya, suara kucing
yaitu nyaanyaa menunjukkan suara meong kucing yang berkelanjutan. Sedangkan
onomatope suara hewan dalam bahasa Indonesia tidak menunjukkan suara yang
berkelanjutan melainkan menunjukkan suara yang keras. Pada onomatope suara
hewan dalam bahasa Jepang merupakan suatu fungsi adverbia, kategori adverbia
itu wujudnya dalam kategori kelas kata nomina dan verba, yang mana tidak
merubah makna leksikalnya tetapi dapat memberikan bentuk gramatikal.
Sedangkan pada onomatope suara 6 hewan dalam bahasa Indonesia bila terjadi
perubahan dalam kategori kelas katanya dapat merubah makna leksikalnya
1.6 Landasan Teori
Dalam landasan teori ini dipaparkan pengertian onomatope, tipe-tipe
onomatope, dan kategori makna leksikal.
1.6.1 Pengertian Onomatope
Secara etimologi, kata onomatope berasal dari bahasa Yunani
onomapoieo adalah kata atau sekelompok kata yang menirukan bunyi-bunyi dari
sumber yang digambarkannya. Konsep ini berupa sintesis dari kata Yunani
(onoma = nama) dan (poieō, = "saya buat" atau "saya lakukan") sehingga artinya
adalah "pembuatan nama" atau "menamai sebagaimana bunyinya". Bunyi-bunyi
ini mecakup antara lain suara hewan, suara-suara benda, suara-suara manusia
yang bukan merupakan kata, seperti suara orang tertawa, dan berbagai suara-suara
yang lainnya. (https://id.wikipedia.org/wiki/Onomatope)
Onomatope ini secara khusus telah dikemukakan oleh Baryadi (2007:
32-33), Chaer (2009: 44-45), dan Slametmuljana (1964: 11-12). Baryadi (2007:
32-33), dalam bukunya yang berjudul Teori Ikon Bahasa: Salah Satu Pintu Masuk
ke Dunia Semiotika, menjelaskan bahwa Slametmuljana (1964) dalam salah satu
pasal dari bukunya mengenai semantik membahas kesamaan antara bunyi yang
dihasilkan benda tertentu dengan nama bendanya. Ini disebutnya dengan istilah
honomatope atau tiruan bunyi. Honomatope ini dianggap sebagai dasar primitif
dalam penyebutan atau penamaan suatu benda. Uraiannya disertai contoh dalam
Dengan demikian, dapat diketahui dengan jelas bahwa jenis ikon yang
dibicarakan oleh Slametmuljana adalah ikon imagik, khususnya onomatope.
Chaer (2009: 44-45), dalam bukunya yang berjudul Pengantar
Semantik Bahasa Indonesia, menyatakan dalam bahasa Indonesia ada sejumlah
kata yang terbentuk sebagai hasil peniruan bunyi. Maksudnya, nama-nama benda
atau hal tersebut dibentuk berdasarkan bunyi dari benda tersebut atau suara yang
ditimbulkan oleh benda tersebut. Misalnya, binatang sejenis reptil kecil yang
melata di dinding disebut cecak karena bunyinya “cak, cak, cak-,”. Begitu juga
tokek diberi nama seperti itu karena bunyinya “tokek,tokek”. Contoh lain meong
nama untuk kucing, gukguk nama untuk anjing, menurut bahasa kanak-kanak,
adalah karena bunyinya begitu. Kata-kata yang dibentuk berdasarkan tiruan bunyi
ini disebut kata peniru bunyi atau onomatope.
Slametmuljana (1964: 11-12), dalam Semantik: Ilmu Makna,
menjelaskan bahwa tiruan bunyi banyak mendapat perhatian sarjana bahasa dalam
penelitiannya, dan dianggap sebagai dasar primitif dalam penyebutan benda yang
bersangkutan. Nama yang demikian disebut dengan istilah asing honomatope.
Bunyi yang dihasilkannya, itu saja belum berupa kata. Kenaikan tingkat menjadi
kata berlangsung setelah tiruan bunyi itu dihubungkan dengan benda yang
menghasilkannya, untuk menyebut nama benda itu sendiri atau perbuatannya.
Bunyi “cek..cek..cek” yang dihasilkan oleh seekor binatang belum merupakan
kata. Setelah bunyi itu dipakai untuk menyebut nama benda yang menghasilkan
bunyi itu yakni cecak pada saat itu bunyi itu menjadi kata. Kata tiruan bunyi yang
binatang atau manusia yang menirukannya. Alat penghasil bunyi itu berbeda
dengan alat ucap fisiologis manusia.
Onomatope merupakan kosa kata yang berasal dari peniruan bunyi,
suara, keadaan dan tindakan. Dalam masyarakat Indonesia kata-kata yang
termasuk dalam onomatope ini jumlahnya tidak begitu banyak dan kadang-kadang
hanya digunakan dalam bahasa percakapan, terutama bahasa percakapan
anak-anak. Sehingga para ahli bahasa Indonesia merasa enggan menggali kata-kata
yang termasuk dalam onomatope.
Berdasarkan teori di atas, dapat disimpulkan bahwa onomatope
merupakan sebuah fenomena pembentukan kata baru, yang didasarkan atas
bunyi-bunyian yang tertangkap oleh indera pendengar manusia.
1.6.2 Tipe-Tipe Onomatope
Dalam onomatope terdapat berbagai jenis suara, dengan begitu
jenis-jenis suara itu dapat digolongkan menjadi tipe-tipe onomatope. Pertama, tipe
suara manusia merupakan tiruan bunyi yang berasal dari tubuh manusia. Kedua,
tipe suara binatang merupakan tiruan bunyi dari bunyi-bunyi binatang. Ketiga,
tipe bunyi alam merupakan tiruan bunyi yang dihasilkan oleh alam. Keempat,
bunyi yang dihasilkan oleh benda. Kelima, bunyi yang dihasilkan dari kehidupan
sehari-hari, dihasilkan dari rutinitas kehidupan manusia. Keenam, tipe bunyi yang
dihasilkan dari kehidupan sosial ataupun hobi. Ketujuh, bunyi yang dihasilkan
dari kealamian bunyi merupakan bunyi-bunyi yang tercipta akibat terjadinya
contoh seperti bunyi yang lenyap dengan tiba-tiba, bunyi yang terjadi sangat
cepat.
1.6.3 Pembentukan Kata
Samsuri (1988: 10-11) pembentukan kata sendiri adalah penamaan
tradisional. Biarpun berguna, sering tidak dapat merangkum semua macam
pembentukan kata. Tetapi hal itu tidak kami hiraukan di sini, karena kebetulan
Bahasa Indonesia mempunyai cara atau sisem pembentukan kata sendiri, dan
agaknya dapat dipakai untuk menguraikannya. Yang terpenting ialah bahwa
kaidah pembentukan kata tidak sama atau berimpit dengan kaidah pembentukan
kalimat. Dalam Bahasa Indonesia masing-masing menggunakan cara sendiri,
seperti yang pertama memakai afiksasi, reduplikasi, pemaduan, sedangkan yang
kedua memakai pengurutan, penambahan, pengurangan, pemindahan atau
penggantian kata, penyematan, atau perapatan.
1.6.4 Peniruan Bunyi
Abdul Chaer (2009: 44-45) dalam bahasa Indonesia ada sejumlah kata
yang terbentuk sebagai hasil peniruan bunyi. Maksudnya, nama-nama benda atau
hal tersebut dibentuk berdasarkan bunyi dari benda tersebut atau suara yang
ditimbulkan oleh benda tersebut atau suara yang ditimbulkan oleh benda tersebut.
Sejalan dengan itu banyak pula dibentuk kata kerja atau nama perbuatan dari
tiruan bunyi itu. Misalnya, biasa dikatakan anjing menggonggong, ayam
1.6.5 Komik
Dalam disertasinya mengenai komik Panji Tengkorak dari sisi budaya
(2010) Seno Gumiro Ajidarma menyatakan bahwa teori komik mempunyai dua
tujuan, pertama memperkenalkan secara ringkas bahasa media komik, kedua
memperlihatkan perbedaan teknik naratif dalam komik karena dalam perbedaan
itulah pergulatan antarwacana berlangsung.
Agus Dermawan T (1993: 36), “Gambar Komik Indonesia” dalam Seni
Komik Indonesia mengatakan istilah komik berasal dari kata comic yang
makasudnya adalah lucu. Dalam dunia berbahasa Inggris, naratif seperti baris
komik ataupun komik satu panel terdapat pada halaman khusus edisi akhir pekan
yang disebut yang lucu-lucu, sebagai percabangan karikatur yang kelucuannya
khusus untuk mengejek kebijakan para tokoh masyarakat. Tradisi ini terbentuk
sejak 1884 di Inggris, tetapi baru mulai dibukukan di Amerika Serikat pada 1934
dan dijual tersendiri itulah yang kemudian disebut buku komik.
Di Indonesia, buku komik lazim disebut buku komik saja, para komikus
bahkan membuat buku komik sebagai karya mandiri, tanpa harus dimuat surat
kabar atau majalah lebih dulu dan isinya lebih sering tidak bermaksud melucu
sama sekali. Kecenderungan menjadi naratif yang tidak sekadar melucu
melahirkan istilah graphic novel (novel bergambar) pada 1978 bersam dengan
terbitnya A Contract with God karya Will Eisner. Kecenderungan untuk menjadi
serius ini secara tidak langsung bagaikan reaksi terhadap gerakan komik
undergroud di amerika serikat sejak awal 1970-an yang mempermainkan segenap
mereka kemudian disebut comix. Huruf “x” itu dihubungkan dengan
pengungkapan segala hal yang ditabukan termasuk pengungkapan seksualitas
sebagai bentuk bawah sadar yang digambarkan, terutama dalam karya-karya
Robert R. Crumb.
Dengan begitu sudah terdapat tiga istilah sekarang, yakni comic book,
graphic novel, dan comix. Namun, teori paling awal, yang dikenal dari dunia
berbahasa Prancis, justru menyebutkannya sebagai picture-story (cerita gambar),
yang harus segera dibedakan dari cerita yang sekedar berilustrasi (illustrated)
gambar dan istilah picture story ini adalah bagian dari teori komik yang paling
awal. Pengertian itu diolah Rodolphe Topffer yang berasal dari Swiss, dalam esai
yang ditulis pada 1845, tetapi baru dikenal dalam terjemahan bahasa Inggris yang
terbit pada 1965. Dilihat dalam rentang perjalanan teori komik, pendapat Topffer
adalah peletakan suatu dasar, keteika ia mengajukan pandangan tentang seni
visual sebagai sistem tanda. Dalam esainya ia mengolah gagasan tentang seni
(gambar) sebagai bahasa, dalam hal ini bahasa visual tempat bidang gambar,
garis, dan pencintraan tersusun dengan tata bahasanya sendiri, membentuk naratif
visual sebagai bentuk genre komunikasi baru.
1.7 Metode dan Teknik Penelitian
Penelitian ini dilakukan melalui tiga tahap, yakni (i) pengumpulan data,
(ii) analisis data, dan (iii) penyajian hasil analisis data. Berikut akan diuraikan
1.7.1 Metode dan Teknik Pengumpulan Data
Objek penelitian ini adalah onomatope. Objek ini berada dalam data
yang berupa kata. Data diperoleh dari sumber tertulis yaitu komik Kambing
Jantan Karya Raditya Dika. Komik Kambing Jantan: Sebuah Komik Pelajar
Bodoh Book 1 dan 2 merupakan komik yang terbit pada tahun 2008 dan 2011 dan
komik ke-2 mencapai cetakan ke-10 pada tahun 2012. Komik Kambing Jantan:
Sebuah Komik Pelajar Bodoh Book 2 termasuk komik yang laris dan populer di
kalangan remaja hingga dewasa.
Data yang dikumpulkan adalah berupa kata yang mengandung unsur
onomatope atau tiruan bunyi. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan
metode simak. Metode simak adalah metode pengumpulan data yang dilakukan
dengan cara mengamati dan menyimak langsung penggunaan bahasa. Teknik
yang digunakan dalam tahap pengumpulan data adalah teknik nonpartisipan atau
teknik simak bebas libat cakap dengan mengamati dan mencatat data berupa
kata-kata yang mengandung unsur onomatope yang terdapat dalam komik Kambing
Jantan Karya Raditya Dika. Data. yang sudah terkumpul diklasifikasikan
berdasarkan tipe-tipe onomatope dan membuat pembentukan kata baru dari
onomatope.
1.7.2 Metode dan Teknik Analisis Data
Langkah kedua adalah menganalisis data. Setelah data terklasifikasikan,
kemudian dianalisis dengan menggunakan metode padan refern. Metode padan
menjadi bagian dari bahasa (language) yang bersangkutan. Alat penentunya
adalah kenyataan yang ditunjukan oleh bahasa atau referen bahasa
(Sudaryanto,1993: 13-14). Karena onomatope menyangkut tiruan bunyi, maka
metode padan refern dipandang sebagai metode yang tepat.
Metode padan refern digunakan untuk menganalisis apakah onomatope
tersebut dapat dikelompokkan ke dalam jenis tipe onomatope yang ada. Jika
onomatope itu sesuai maka dapat dimasukkan ke dalam jenis tipe onomatopenya.
Gambar 5: Onomatope suara orang tenggelam
Yousef: Tenang saja Vlada! Aku pasti akanmnblb blb!! Blp...
Onomatope pada gambar 5 ditunjukkan oleh kata Blp. Kata tersebut
merupakan tiruan bunyi orang tenggelam. Penentuan ini didasarkan pada konteks,
yakni Yousef yang sedang ingin menyelamatkan orang di pantai, namun dia
sendri yang tenggelam. Bila dianalisis berdasarkan tipe onomatope, Blp termasuk
ke dalam bunyi yang dihasilkan dari kealamian bunyi merupakan bunyi-bunyi
yang tercipta akibat terjadinya peristiwa secara alami.
Gambar 6: Onomatope orang tertawa
Dika: Yousef...
Yousef: Ini epic, Dika! Hahahaha.
Onomatope pada gambar 6 ditunjukkan oleh kata hahahaha. Kata
tersebut merupakan tiruan bunyi orang tertawa. Penentuan ini didasarkan pada
konteks, yakni Yousef yang sedang tertawa karena membaca buku diary Dika.
Bila dianalisis berdasarkan tipe onomatope, hahahaha termasuk ke dalam tipe
suara manusia merupakan tiruan bunyi yang berasal dari tubuh manusia.
Dalam penelitian ini juga digunakan metode agih, yaitu metode yang alat
penentunya merupakan bagian dari bahasa itu sendiri (Sudaryanto, 1993: 13-15).
Teknik yang dipakai dalam metode agih ini adalah teknik baca markah (BM) dan
teknik bagi unsur langsung (BUL). Teknik yang dipakai dalam metode agih ini
adalah teknik baca markah (BM). Teknik baca markah (BM) digunakan untuk
menunjukkan kejatian onomatope yang berada dalam komik Kambing Jantan
Karya Raditya Dika. Dalam penelitian ini teknik BM diterapkan untuk melihat
onomatope yang berada dalam komik Kambing Jantan Karya Raditya Dika secara
teknik perluas digunakan untuk memperluas onomatope menjadi sebuah kata.
Dapat dilihat dari contoh berikut.
Contoh pembentukan kata dari bunyi “Huuup”
Gambar 7: Onomatope menghirup udara
“Huuuup”
Bunyi “Huuuup” merupakan onomatope menghirup udara, “Huuuup”
sendiri membentuk kata baru yaitu hirup, menghirup, penghirupan. Hirup
memiliki arti menghisap, menghirup mempunyai arti menghisap, dan pengirupan
mempunyai arti proses, cara perbuatan menghirup.
1.7.3 Metode Penyajian Hasil Analisis Data
Setelah tahap analisis data, tahap selanjutnya adalah tahap penyajian
hasil analisis data. Analisis data dalam penelitian ini disajikan dengan
menggunakan metode informal dan metode formal. Hasil penelitian ini disajikan
dengan menggunakan metode informal, yaitu menggunakan kata-kata yang biasa
hasil analisis data dalam penelitian ini juga menggunakan metode formal, yaitu
memanfaatkan berbagai lambang, tanda, singkatan, dan sejenisnya (Sudaryanto,
1993: 145).
1.8 Sistematika Penyajian
Laporan hasil penelitian ini disusun dalam empat bab. Bab pertama
pendahuluan. Bab pendahuluan berisi tentang latar belakang, rumusan masalah,
tujuan penelitian, manfaat penelitian, tinjauan pustaka, landasan teori, metode
penelitian, dan sistematika penelitian. Latar belakang menguraikan alasan
mengapa penulis melakukan penelitian ini. Rumusan masalah menjelaskan
masalah-masalah yang ditemukan dalam penelitian ini. Tujuan penelitian
mengidentifikasi tujuan diadakan penelitian ini. Manfaat penelitian ini adalah
untuk memaparkan manfaat yang bisa diambil dari hasil penelitian ini. Tinjauan
pustaka mengemukakan pustaka yang pernah membahas tentang onomatope.
Landasan teori menyampaikan teori yang digunakan sebagai landasan penelitian.
Metode penelitian merincikan teknik pengumpulan data, teknik analisis data, dan
teknik penyampaian hasil analisis data yang digunakan penulis dalam penelitian
ini. Sistematika penyajian menguraikan urutan hasil penelitian dalam skripsi ini.
Bab II berisi tentang jenis-jenis tipe onomatope Bahasa Indonesia dalam komik
Kambing Jantan Karya Raditya Dika. Bab III berisi tentang Pembentukan kata
baru yang diambil dari onomatope Bahasa Indonesia dalam komik Kambing
20 BAB II
TIPE-TIPE ONOMATOPE DALAM KOMIK KAMBING JANTAN KARYA RADITYA DIKA
2.1 Pengantar
Dalam hal ini penulis mengklasifikasikan bahwa dalam onomatope
terdapat berbagai jenis suara, dengan begitu jenis-jenis suara itu dapat
digolongkan menjadi tipe-tipe onomatope. Pertama, tipe suara manusia
merupakan tiruan bunyi yang berasal dari tubuh manusia. Kedua, tipe suara
binatang merupakan tiruan bunyi dari bunyi-bunyi binatang. Ketiga, tipe bunyi
alam merupakan tiruan bunyi yang dihasilkan oleh alam. Keempat, bunyi yang
dihasilkan oleh benda. Kelima, bunyi yang dihasilkan dari kehidupan sehari-hari,
dihasilkan dari rutinitas kehidupan manusia. Keenam, tipe bunyi yang dihasilkan
dari kehidupan sosial ataupun hobi. Ketujuh, bunyi yang dihasilkan dari
kealamian bunyi merupakan bunyi-bunyi yang tercipta akibat terjadinya peristiwa
secara alami. Kedelapan, bunyi yang dihasilkan dari abstraksi bunyi contoh
seperti bunyi yang lenyap dengan tiba-tiba, bunyi yang terjadi sangat cepat.
2.2 Suara Manusia
Tipe suara manusia merupakan tiruan bunyi yang berasal dari tubuh
manusia. Berikut contoh yang diambil dari komik Kambing Jantan Karya Raditya
Gambar 8: Onomatope orang muntah
Ji Hye: Hoeeeek...
Suara manusia pada gambar 8 ditunjukkan pada onomatope Hoeeeek yang
merupakan tiruan bunyi orang sedang muntah. Hal ini didukung oleh konteks
gambar yang melihatkan mulut Jie Hye terbuka dan adanya muntahan di kepala
Dika.
Contoh lain diambil dari dari komik Kambing Jantan Karya Raditya Dika
Gambar 9: Onomatope orang batuk
Pada gambar 9 terdapat sebuah onomatope, yakni
Uhok..uhok..uhuohohok termasuk ke dalam tipe suara manusia, orang yang
sedang batuk, tersedak. Hal tersebut dapat dibuktikan melalui konteks gambar
berupa tindakan orang yang sedang tersedak oleh minumannya. Pada gambar di
atas juga terdapat muncratan air minum dari mulutnya.
2.3 Bunyi Binatang
Tipe bunyi binatang merupakan tiruan bunyi yang berasal dari bunyi-bunyi
binatang. Berikut contoh onomatope binatang yang diambil dari komik Kambing
Jantan Karya Raditya Dika
Gambar 10: Onomatope suara kambing
Seekor kambing: Mbeeeek...
Bunyi binatang pada gambar 10 ditunjukkan oleh onomatope Mbeeeek,
Contoh lain diambil dari dari komik Kambing Jantan Karya Raditya Dika
Gambar 11: Onomatope suara burung terkukur
Dika: Kukur, kirimin surat ini ke pacar gue di Jakarta, ya !
Terkukur…kurrr..
Dika: Sampaikan cintaku padanya!!
Kurrr!!!
Bunyi binatang pada gambar 11 ditunjukkan oleh onomatope Kurrr, yang
merupakan tiruan bunyi burung terkukur.
2.4 Bunyi Alam
Tipe bunyi alam merupakan tiruan bunyi yang dihasilkan oleh alam,
seperti hembusan angin, petir, hujan, dan lain-lain. Berikut contoh onomatope
Gambar 12: Onomatope suara semak-semak
Jie Hye: Aku bebas seperti burung .... SRAK
Pada gambar 12, bunyi alam ditunjukkan oleh onomatope SRAK.
Berdasarkan konteks gambar Jie Hye yang masuk ke dalam semak-semak tak
diragukan lagi SRAK merupakan tiruan bunyi semak-semak.
Gambar 13: Onomatope suara hembusan angin
Woooshhh..
Pada gambar 13, bunyi alam ditunjukkan oleh onomatope Woooshhh.
Berdasarkan konteks gambar terdapat seperti hembusan angin di sekeiling Dika,
yang terjadi karena Dika menggerakan raketnya secara kencang tak diragukan lagi
Woooshhh. merupakan tiruan bunyi hembusan angin.
2.5 Bunyi yang Dihasilkan oleh Benda
Tipe bunyi yang dihasilkan oleh suatu benda, seperti: senjata, alat
transportasi, alat komunikasi, perkakas, alat musik, dan lain-lain. Berikut salah
satu contoh onomatope unyi yang dihasilkan oleh benda yang diambil dari komik
Kambing Jantan Karya Raditya Dika
Gambar 14: Onomatope bunyi gesekan ban mobil dengan aspal
Ckiiit...
Supir taxi: Baiklah, mate. Taxi fare-nya $80.
Dika: Yousef, gue lupa bawa dompet.
Yousef: Ooh!!!
Pada gambar 14, bunyi yang dihasilkan oleh benda ditunjukkan oleh
sehingga terjadi gesekkan ban dengan aspal, dapat dipastikan bahwa onomatope
Ckiiit adalah tiruan bunyi ban mobil.
Contoh lain diambil dari dari komik Kambing Jantan Karya Raditya Dika
Gambar 15: Onomatope bunyi raket yang bersentuhan dengan kok
PTAKK
Pada gambar 15, bunyi yang dihasilkan oleh benda ditunjukkan oleh
onomatope PTAKK. Berdasarkan konteksnya, gambar berupa raket yang
bersentuhan dengan kok, karena raket yang digerakan, dapat dipastikan bahwa
onomatope PTAKK adalah tiruan bunyi raket yang bersentuhan dengan kok.
2.6 Bunyi Kehidupan Sehari-hari
Tipe bunyi kehidupan sehari-hari merupakan tiruan bunyi yang berasal
dari rutinitas manusia sehari-hari, seperti: bunyi-bunyi yang muncul pada aktivitas
manusia saat sedang mandi, memasak, mencuci, serta aktivitas lain yang bersifat
keseharian. Berikut salah satu contoh onomatope bunyi kehidupan sehari-hari
Gambar 16: Onomatope menguap
Dika: HOAAM...
Hoaam pada gambar 16 merupakan tiruan bunyi orang yang sedang
menguap karena mengantuk. Hal tersebut didukung oleh konteks gambar Dika
yang membuka lebar mulutnya dan indakator lainnya yaitu gerakan tangan serta
kakinya.
Gambar 17: Onomatope kentut
Yousef: Ahhh, mekanisme perlindungan dirinya keluar, Dia kentut!
Dika: BROOORTBROBOTOTBROOOT..
Pada gambar 17 terdapat sebuah onomatope kentut, yakni brooortbrobot
termasuk ke dalam tipe bunyi kehidupan sehari-hari, orang biasanya setiap hari
melakukan hal ini. Hal tersebut dapat dibuktikan melalui konteksnya, gambar
berupa tindakan orang yang sedang kentut disertai gas-gas yang keluar, dalam
komik biasanya bunyi kentut digambarkan berupa sebuah gas.
Contoh lain diambil dari dari komik Kambing Jantan Karya Raditya Dika
Gambar 18: Onomatope suara memasak
Srrrrrz
Dika: Hmmm, baunya harum Yousef
Pada gambar 18 terdapat sebuah onomatope memasak, yakni srrrrrz
melakukan hal memasak. Hal tersebut dapat dibuktikan melalui konteks gambar
berupa tindakan sedang memasak sebuah daging di tempat pembakaran.
2.7 Kehidupan Sosial dan Hobi
Tipe bunyi kehidupan sosial dan hobi merupakan tiruan bunyi yang
berasal dari aktivitas sosial (yang melibatkan orang lain) ataupun hobi manusia,
meliputi: permainan, pesta, olahraga, serta hubungan antar sesama manusia.
Berikut salah satu contoh onomatope kehidupan sosial dan hobi yang diambil dari
komik Kambing Jantan Karya Raditya Dika
Gambar 19: Onomatope suara lift terbuka
(Lift terbuka) „Ting‟
Dika: Gue harus bersihin nama gue sebelum Nicole tahu lebih jauh soal ini.
Dalam gambar 19, bunyi kehidupan sosial dan hobi ditunjukkan oleh
disimpulkan bahwa kata Ting tersebut merupakan bunyi pintu lift yang sedang
terbuka.
Contoh lain diambil dari dari komik Kambing Jantan Karya Raditya Dika
Gambar 20: Onomatope menampar pipi orang
Harianto: Sadar, woy. (menampar Dika)
Geplak..
Pada gambar 20 terdapat sebuah onomatope geplak, yakni termasuk ke
dalam tipe bunyi kehidupan sosial dan hobi. Berdasarkan konteksnya gambar
berupa Harianto yang sedang menampar Dika supaya sadar dapat disimpulkan
bahwa kata geplak tersebut merupakan bunyi yang terjadi karena hubungan antar
sesama manusia.
2.8 Kealamian Bunyi
Tipe kealamian bunyi merupakan bunyi-bunyi yang tercipta akibat
peristiwa alami, seperti: bunyi yang ditimbulkan dari gelas pecah, jam berdetik,
tergelincir, sesuatu yang bergetar, benda yang meleleh, derit. Berikut salah satu
contoh onomatope kealamian bunyi yang diambil dari komik Kambing Jantan
Karya Raditya Dika
Gambar 21: Onomatope jam berdetik
Jam: Tik
Pada gambar 21, Tik merupakan bunyi yang dihasilkan dari suara jam
yang berdetik. Tik diidentifikasi sebagai bunyi detikan jam yang sedang bergerak
dan ini termasuk kealamian bunyi.
Gambar 22: Onomatope bara api
Blaar…
Pada gambar 22, Blaar merupakan bunyi yang dihasilkan dari suara bara
api yang menyala. Blaar diidentifikasi sebagai bunyi api yang sedang menyala
karena membakar arang yang ada di pemanggangan dan ini termasuk kealamian
bunyi.
2.9 Abstraksi Bunyi
Abstraksi bunyi merupakan bunyi yang digambarkan seperti bunyi yang
hilang secara tiba-tiba, bunyi keagresifan, bunyi yang tak peduli pada sesuatu,
bunyi yang terjadi dengan cepat dan secara tiba-tiba. Berikut salah satu contoh
onomatope abstraksi bunyi yang diambil dari komik Kambing Jantan Karya
Raditya Dika
Gambar 23: Onomatope gedung hancur
„Dika berkhayal, Sharon seorang yang pemarah pemilik apartemen yang Dika
tinggali berubah menjadi monster dan menghancurkan gedung-gedung,
Bleegguurr! Gedung hancur.
Onomatope Bleegguurr pada gambar 23 merupakan tiruan bunyi gedung
yang hancur. Onomatope Bleegguurr diidentifikasi sebagai tiruan bunyi ledakan,
serta masuk dalam pengelompokkan tipe bunyi terjadi dengan cepat dan secara
tiba-tiba.
Contoh lain diambil dari dari komik Kambing Jantan Karya Raditya Dika
Gambar 24: Onomatope menggebrak meja
Brak..
Dika: Permisi, excuse me..
Pada gambar 24 terdapat sebuah onomatope, yakni brak termasuk ke
dalam tipe abstraksi bunyi, merupakan sebuah onomatope menggebrak meja hal
tersebut dapat dibuktikan melalui konteksnya, gambar berupa tindakan Dika yang
sedang menggebrak meja secara tiba-tiba. Onomatope brak diidentifikasi bunyi
34 BAB III
PEMBENTUKAN KATA DARI ONOMATOPE DALAM KOMIK KAMBING JANTAN KARYA RADITYA DIKA
3.1 Pengantar
Onomatope merupakan kata-kata yang dibentuk berdasarkan tiruan
bunyi. Tiruan bunyi yang dihasilkan yang disebut onomatope dapat membentuk
sebuah awal mula terjadinya kata. Penulis mencoba mencari onomatope yang
dapat membentuk kata yang terdapat dalam komik Kambing Jantan Karya
Raditya Dika. Kata baru yang terbentuk dari onomatope:
3.2 Pembentukan Kata dari Onomatope ”Tik”
Diambil dari dari komik Kambing Jantan Karya Raditya Dika
Gambar 25: Onomatope jam berdetik
Jam: Tik
Onomatope “Tik” membentuk beberapa kata yaitu detik, berdetik,
mendetik, detikan.
Detik mempunyai arti tiruan bunyi arloji, berdetik mempunyai arti berbunyi “tik,
3.3 Pembentukan Kata dari Onomatope “Ting”
Diambil dari dari komik Kambing Jantan Karya Raditya Dika
Gambar 26: Onomatope suara lift terbuka
(Lift terbuka) „Ting‟
Onomatope “Ting” membentuk beberapa kata yaitu denting, berdenting,
mendenting, dentingan. Denting mempunyai arti tiruan bunyi uang logam yang
jatuh, berdenting mempunyai arti berbunyi “ting”, mendenting mempunyai arti
berdenting, dentingan mempunyai arti bunyi denting.
3.4 Pembentukan Kata dari Onomatope “mbeeeek”
Gambar 27: Onomatope suara kambing
“Mbeeeek”
Onomatope “mbeeeek” membentuk beberapa kata yaitu embek. Embek
mempunyai arti yaitu kambing. Istilah “embek” sering dikenalkan pada bahasa
kanak-kanak karena suara kambing seperti itu.
3.5 Pembentukan Kata dari Onomatope “buk”
Diambil dari dari komik Kambing Jantan Karya Raditya Dika
“BUK”
Onomatope “buk” sendiri mempunyai arti bunyi sesuatu buah yang besar
dan masak atau barang yang jatuh ke bawah. Bunyi “buk” membentuk beberapa
kata yaitu debuk, berdebuk, gebuk, menggebuki, gebukan. Debuk mempunyai arti
tiruan bunyi orang meninju atau menendang, berdebuk mempunyai arti berbunyi
“buk”, gebuk mempunyai arti memukul, menggebuki mempunyai arti berkali kali
menggebuk, gebukan berarti pukulan atau hantaman.
3.6 Pembentukan Kata dari Onomatope “kcipak-kcipuk”
Diambil dari dari komik Kambing Jantan Karya Raditya Dika
Gambar 29: Onomatope suara orang berenang
Kcipak..kcipuk
Onomatope “kcipak” sendiri berawal dari kata kecipak yang mempunyai
arti tiruan bunyi permukaan air yang ditampar dengan tapak tangan dan kecipak
kecipak". Bunyi “kcipuk” sendiri membentuk kata kecipuk yang mempunyai arti
tiruan bunyi tepukan tanganpada permukaan air.
3.7 Pembentukan Kata dari Onomatope “crek”
Diambil dari dari komik Kambing Jantan Karya Raditya Dika
Gambar 30: Onomatope suara gunting memotong atau logam yang bersentuhan
Crek..crek..crek..crek..crek..crek
Onomatope “crek” membentuk beberapa kata yaitu kecrek yang
mempunyai arti bilah-bilah dari logam (besi), besarnya kira-kira setelapak tangan
3.8 Pembentukan Kata dari Onomatope “Brak”
Diambil dari dari komik Kambing Jantan Karya Raditya Dika
Gambar 31: Onomatope membanting pintu
“Brak”
Onomatope “brak” membentuk beberapa kata yaitu gebrak, menggebrak,
gebrakan. Gebrak mempunyai arti memukul, membanting sesuatu seperti pintu
atau meja, menggebrak memiliki arti memukul serempak secara keras dengan
pemukul berbidang lebar, dan gebrakan mempunyai arti tindakan keras untuk
menakuti.
3.9 Pembentukan Kata dari Onomatope “Plok”
Gambar 32: Onomatope bunyi “plok”
Onomatope “plok” membentuk kata ceplok, caplok, mencaplok, tercaplok,
pencaplok, pencaplokan. Ceplok memiliki arti bulatan berwarna untuk hiasan.
Caplok memiliki arti menangkap dengan mulut lalu menelannya bulat-bulat,
mencaplok mempunyai arti mengambil milik hak orang, tercaplok artinya sudah
dicaplok, sedangkan pencaplok memiliki arti orang, badan, Negara yang
mengambil hak orang lain, dan pencaplokan berarti proses cara perbuatan
mencaplok.
3.10 Pembentukan Kata dari Onomatope “Plung”
Gambar 33: Onomatope “plung”
Onomatope “plung” merupakan suatu bunyi yang menunjukkan suatu
objek yang terjatuh ke air. Bunyi “plung” membentuk beberapa kata yaitu
cemplung, mencemplung, mencemplungkan, tercemplung, pencemplungan.
Cemplung dan mencemplung memiliki arti yang sama yaitu masuk/terjun ke
air/mencebur, sedangkan mencemplungkan berarti memasukkan ke dalam air,
tercemplung artinya tidak sengaja masuk/jatuh ke dalam air, dan pencemplungan
memiliki arti proses perbuatan mencemplungkan.
3.11 Pembentukan Kata dari Onomatope “kur”
Gambar 34: Onomatope “kur”
Onomatope “kur” merupakan tiruan bunyi burung tekukur dan tiruan
bunyi orang memanggil ayam. Dari bunyi “kur” membentuk beberapa kata
tekukur, dengkur, berdengkur, mendengkur, dengkuran. Tekukur mempunyai arti
burung yang hidup berpasangan, kadang-kadang membentuk kelompok kecil,
bersuara merdu, memiliki suara khas “kur”. Dengkur berarti tiruan bunyi nafas yg
kuat dari orang tidur, berdengkur mempunyai arti mengeluarkan bunyi "kur kur"
(ketika tidur), sedangkan mendengkur artinya berdengkur, dan dengkuran memiiki
arti hasil mendengkur.
3.12 Pembentukan Kata dari Onomatope “deg”
Gambar 35: Onomatope “deg”
Onomatope “deg” membentuk sebuah kata yaitu deg-degan. Deg-degan
mempunyai arti yaitu berdebar-bedar.
3.13 Pembentukan Kata dari Onomatope “bruk”
Diambil dari dari komik Kambing Jantan Karya Raditya Dika
Gambar 36: Onomatope “bruk”
Onomatope “bruk” sendiri mempunyai arti tiruan bunyi barang berat atau
kumpulan barang yang jatuh. Onomatope “bruk” dapat membentuk beberapa kata
ambruk, mengambrukkan, pengambrukan, keambrukan, gabruk, menggabrukkan.
membuat jadi ambruk atau menjadikan runtuh, pengammbrukan adalah
proses/cara perbuatan mengambrukan, keambrukan berarti sebuah keadaan
keruntuhan/kerobohan, selain itu kata gabruk berarti tiruan bunyi barang keras
yang berbenturan, dan kata menggabrukkan mempunyai arti menghempaskan atau
mendorong kuat-kuat atau membanting.
3.14 Tabel Pembentukan Onomatope Menjadi Kata No. Bunyi
ber+detik berdetik berbunyi “tik, tik” me(N)+detik mendetik berdetik denting+an dentingan bunyi denting
3 mbeeeek e+mbek embek embek nama lain dari kambing
me+embek mengembik suara kambing
4 buk de+buk debuk bunyi meninju atau
menendang orang ber+debuk berdebuk berbunyi “buk”
ge+buk gebuk memukul
me+gebuk+i menggebuki berkali-kali menggebuk gebuk+an gebukan pukulan atau
hantaman 5
kcipak-kcipuk
kecipak kecipak bunyi permukaan air yang ditampar dengan tangan
kecipuk kecipuk tiruan bunyi tepukan tangan pada
permukaan air
6. crek ke+crek kecrek bilah-bilah dari logam (besi), besarnya
kira-me+gebrak menggebrak memukul serempak secara keras dengan pemukul berbidang lebar
gebrak+an gebrakan tindakan keras untuk menakuti
8. plok ce+plok ceplok bulatan bewarna
untuk hiasan
ca+plok caplok menangkap dengan
mulut lalu
menelannya bulat-bulat
me(N)+caplok mencaplok mengambil milik hak orang lain
ter+caplok tercaplok sudah dicaplok pen+caplok pencaplok orang/badan/negara
yang mengambil hak milik orang lain pen+caplok+an pencaplokan proses cara perbuatan
mencaplok 9. plung cem+plung cemplung masuk/terjun ke
air/mencebur ter+cemplung tercemplung tidak sengaja
10. kur kur kur tiruan bunyi burung tekukur dan tiruan bunyi memanggil ayam
tekukur tekukur burung yang hidup berpasangan, kadang-kadang membentuk kelompok kecil, bersuara merdu, memiliki suara “kur” deng+kur dengkur tiruan bunyi napas yg
kuat dari orang tidur ber+dengkur berdengkur mengeluarkan bunyi
"kur kur" (ketika tidur)
me(N)+dengkur mendengkur mengeluarkan bunyi berdengkur
dengkur+an dengkuran Hasil dari mendengkur 11. deg deg+degan deg-degan berdebar-debar
12. bruk am+bruk ambruk roboh/runtuh
pe+ambruk+an pengambrukan proses/cara perbuatan mengambrukan ke+ambruk+ an keambrukan sebuah keadaan
keruntuhan/kerobohan ga+bruk gabruk tiruan bunyi barang
keras yng berbenturan me+gabruk+kan menggabrukkan menghempaskan atau
47 BAB IV PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Setelah melakukan pembahasan tentang tipe-tipe onomatope Bahasa
Indonesia dalam komik Kambing Jantan Karya Raditya Dika pada bab II dan
pembentukan kata melalui onomatope dalam bab III, dapat ditarik kesimpulan
bahwa onomatope memiliki beragam jenis tipe dan onomatope dapat menjadi
awal mula terjadinya pembentukan kata.
Dalam komik Kambing Jantan Karya Raditya Dika memiliki ke semua
jenis tipe-tipe onomatope yang dibahas dalam skripsi pada bab II. Pertama, tipe
suara manusia merupakan tiruan bunyi yang berasal dari tubuh manusia misalnya
orang tertawa “hahahaha”. Kedua, tipe suara binatang merupakan tiruan bunyi
dari bunyi-bunyi binatang. Ketiga, tipe bunyi alam merupakan tiruan bunyi yang
dihasilkan oleh alam. Keempat, bunyi yang dihasilkan oleh benda. Kelima, bunyi
yang dihasilkan dari kehidupan sehari-hari, dihasilkan dari rutinitas kehidupan
manusia. Keenam, tipe bunyi yang dihasilkan dari kehidupan sosial ataupun hobi.
Ketujuh, bunyi yang dihasilkan dari kealamian bunyi merupakan bunyi-bunyi
yang tercipta akibat terjadinya peristiwa secara alami. Kedelapan, bunyi yang
dihasilkan dari abstraksi bunyi contoh seperti orang sedang menggebrak meja
“braak” bunyinya terjadi sangat cepat dan lenyap secara tiba-tiba.
Pada bab III onomatope dapat menjadi awal dari pembentukan kata.