• Tidak ada hasil yang ditemukan

PUSAT KESENIAN LUDRUK DI SURABAYA.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PUSAT KESENIAN LUDRUK DI SURABAYA."

Copied!
92
0
0

Teks penuh

(1)

TUGAS AKHIR

PUSAT KESENIAN LUDRUK

DI SURABAYA

Untuk memenuhi persyaratan dalam menyelesaikan Tugas Akhir (Strata = 1)

Diajukan oleh:

Indah Rahmawati

0851010006

JURUSAN TEKNIK ARSITEKTUR

FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”

JAWA TIMUR

2 0 1 2

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(2)

TUGAS AKHIR

PUSAT KESENIAN LUDRUK DI

SURABAYA

Dipersiapkan dan Disusun Oleh:

INDAH RAHMAWATI

0851010006

Telah dipertahankan di depan Tim Penguji Pada Tanggal : 30 Juli 2012

Pembimbing Utama : Penguji I :

Ir. Eva Elviana, MT. Ir. Sri Suryani Y. Winasih, MT. NPT. 3 6705 94 0033 1

Pembimbing Pendamping : Penguji II

Ami Arfianti,ST, MT. Dr. Ir. Pancawati Dewi, MT NPT. 3 6911 97 0158 1 NPT. 3 6705 94 0033 1

Penguji III

Heru Subiyantoro NPT. 3 7102 96 0061 1

Tugas Akhir ini telah diterima sebagai salah satu persyaratan Untuk memperoleh gelar Sarjana Teknik (S-1)

Tanggal : 17 September 2012

Dekan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan

Ir. Naniek Ratni JAR., M.Kes. NIP. 19590729 198603 2 00 1

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(3)

iii

PUSAT KESENIAN LUDRUK DI SURABAYA

INDAH RAHMAWATI

0851010006

ABSTRAKSI

Ludruk adalah kesenian drama tradisional dari Jawa Timur yang merupakan drama tradisonal yang mengangkat kehidupan rakyat sehari-hari. Kesenian rakyat yang berasal dari Jombang ini, menjadi maskot budaya khas Surabaya. Dan menjadi sangat populer di Surabaya sejak zaman revolusi. Eksistensi Ludruk tergeser oleh kebudayaan modern, yang semakin berkembang pesat. Dan juga akibat pengaruh fasilitas gedung pagelaran di Surabaya yang tidak representative.

Pusat Kesenian Ludruk Di Surabaya adalah suatu tempat ataupun sarana dimana suatu bentuk nilai keindahan dari kesenian Ludruk yang berasal dari ekspresi manusia dapat ditampilkan di tempat ini, Pusat Kesenian Ludruk Surabaya digunakan untuk melakukan pagelaran dan pengembangan pada seniman yang berbakat dan masyarakat yang berminat dengan kesenian Ludruk.

Pada proyek objek perancangan Pusat Kesenian Ludruk Surabaya ini memiliki jenis bangunan hiburan sehingga dalam prencanaan pada kawasan kota termasuk dalam peruntukkan fasilitas umum. Ludruk merupakan suatu budaya yang sangat erat hubungannya dengan Surabaya, maka dari itu peletakan proyek objek rancang berada di kawasan Surabaya yang memiliki nilai histories Surabaya.

Tampilan pada proyek Pusat Kesenian Ludruk Surabaya menggunakan tampilan bangunan kolonial. Tampilan bangunan disesuaikan dengan filosofi dari kesenian ludruk dan juga lpengaruh letak site yang dekat dengan bangunan yang bergaya kolonial, serta objek rancang sendiri memiliki unsur tradisional karena kembali dengan fungsi semula yang merupakan fasilitas umum yang lebih condong ke arah budaya.

Kata Kunci : Pengembangan, Pagelaran, Ludr uk

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(4)

iv

KATA PENGANTAR

Segala puji syukur ditujukan kehadirat Allah SWT, yang mana atas

rahmat dan ridho-Nya, sehingga penyusunan Proposal Tugas Akhir yang berjudul

“PUSAT KESENIAN LUDRUK DI SURABAYA” ini dapat terselesaikan

dengan baik, untuk memenuhi sebagian persyaratan dalam memperoleh Gelar

Sarjana Teknik (S-1) Jurusan Teknik Arsitektur, Fakultas Teknik Sipil dan

Perencanaan, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran“ Jawa Timur di

Surabaya.

Bersama ini penyusun juga mengucapkan terimakasih kepada:

1. Ir. Naniek Ratni. JAR, M.Kes. Selaku Dekan Fakultas Tekni Sipil dan

Perencanaan (FTSP), Universitas Pembangunan Nasional (UPN), Jawa

Timur.

2. Dr. Ir. Pancawati Dewi, MT. selaku Ketua Progdi Arsitektur, Fakultas Teknik

Sipil dan Perencanaan (FTSP), Universitas Pembangunan Nasional (UPN),

Jawa Timur.

3. Ir. Eva Elviana, MT. selaku dosen pengampu mata kuliah Seminar.

4. Dyan Agustin, ST., MT dosen pengampu Tugas Akhir, terima kasih banyak

atas bimbingannya.

5. Ir. Niniek Anggriani, MTP. selaku dosen wali.

6. Ir. Eva Elviana, MT. selaku dosen pembimbing utama, terima kasih banyak

atas bimbingannya serta membantu saya dari awal penyusunan dari seminar

sampai masa tugas akhir.

7. Ami Arfianti, ST., MT. selaku dosen pembimbing pedamping, yang

membimbing tugas akhir, Terima kasih atas bimbingannya.

8. Heru Subiyantoro, ST., MT ; Dr. Ir. Pancawati Dewi, MT ; Ir. Sri Suryani,

MT, Selaku dosen penguji. Terima kasih atas semua kritik dan sarannya.

9. Segenap dosen jurusan Arsitektur UPN Veteran Jawa Timur, atas segala

macam ilmu yang sudah diberikan kepada saya.

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(5)

v

10. Kedua orang tua saya, Bapak Mudjayadi dan Ibu Sulastri yang selalu

mendukung, menyemangati dan selalu mendoakan dalam penyusunan tugas

akhir saya. Terima kasih atas segalanya. Serta Adik saya Rahma Nilam, dan

juga terima kasih untuk Agung Tri Prakoso yang telah banyak mendukung

saya, dari masalah hati yang tak terselesaikan, hehe.. dan masalah yang

lain-lain.

13. Special thanks part III for Umar Djafar Albaar, terimakasih umar, telah

banyak membantu saya, meminjamkan laptop selama Tugas Akhir sampai

revisi, banyak mendengarkan keluh kesah saya, terima kasih telah mengerti

keadaan saya.

14. Special thanks part IV for Lili Indah Aryani dan Syahfitri teman seperjuangan

begadang di dalam kos (begadang sambil gossip)

15. Special thanks part V for sopo yo (garuk-garuk, tengok-tengok), terima kasih

telah membuat cerita indah di kampus.

16. Teman-teman angkatan 2008 dan teman-teman penghuni studio tugas akhir,

serta teman-teman DKV yang selalu mendukung saya, Vitri, Bila, Umar,

Kiki, Achi, Adhe, Aryani, Syah, Reza, Lucky, Eka, Chris, Rama. Mas Reza

Baskoro, Syahreal, Yan Ardhi, Saughi, Tama, Syarief, Asro, mbak Novi, mas

Yanuar, Fajrul, Mbak Erna, Mas Negro, Mas Buyung, Sinyo, Bendot, Kemal,

Tika, Isa, Jhon, dan saya tidak bisa menyebutkan satu-satu, terima kasih telah

memberi semangat dan membantu menyelesaikan Tugas Akhir saya.

17. Teman-teman diluaran sana, khususnya buat mbak Ikawati terimaksih buat

supportnya.

18. Semua pihak yang telah membantu dalam pengerjaan Tugas Akhir ini.

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(6)

vi

Akhir kata, penulis ucapkan terimakasih dan mohon maaf jika terdapat

banyak kesalahan dalam penyusunan proposal tugas akhir ini. Semoga Proposal

Tugas Akhir ini bisa bermanfaat bagi semua pihak, dan bisa didapatkan hasil yang

maksimal nantinya.

Surabaya, 27 Juli 2011

Penyusun

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(7)

vii

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(8)

viii

2.2.3 Aktifitas dan Kebutuhan Ruang ... 21

2.2.4 Perhitungan Luas Ruang ... 23

2.2.5 Program Ruang ... 26

BAB III TINJAUAN LOKASI PERANCANGAN ... 28

3.1 Latar Belakang Pemilihan Lokasi ... 28

3.3.5 Peraturan Bangunan Setempat... 33

BAB IV ANALISA PERANCANGAN ... 34

4.1 Analisa Site ... 34

4.1.1 Analisa Aksesibilitas... 34

4.1.2 Analisa Iklim ... 36

4.1.2.1 Analisa Pergerakan Matahari... 36

4.1.2.2 Analisa Angin ... 37

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(9)

ix

5.2.2 Konsep bentuk Tatanan Massa Bangunan ... 52

5.2.3 Konsep Tampilan Bangunan ... 53

5.2.8.3 Konsep Sistem Transportasi Vertikal ... 60

5.2.8.4 Konsep Audio dan Sound ... 60

5.2.8.5 Konsep Pencegahan Bahaya Kebakaran ... 61

5.2.8.6 Konsep Jaringan Listrik dan Genset ... 62

5.2.8.7 Konsep Jaringan Telekominikasi dan PABX ... 63

5.2.8.9 Konsep Sistem Akustik/Peredam Bunyi ... 63

BAB VI APLIKASI RANCANGAN ... 64

6.1 Aplikasi Tapak ... 64

6.1.1 Aplikasi Zonning ... 64

6.1.2 Aplikasi Tatanan Massa ... 65

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(10)

x

6.1.2 Aplikasi Entrance ... 66

6.2 Aplikasi Bentuk dan Tampilan ... 67

6.2.1 Aplikasi Bentuk ... 67

6.2.2 Aplikasi Tampilan Bangunan ... 68

6.2.3 Aplikasi Ruang Luar ... 70

6.2.4 Aplikasi Ruang Dalam ... 72

DAFTAR PUSTAKA ... 76

LAMPIRAN ... 78

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(11)

xi

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 1.1 Jumlah Penonton Ludruk Irama Budaya Tahun 2011 ... 2

Tabel 2.1 Analisa Hasil Studi Kasus ... 19

Tabel 2.2 Aktifitas Pemakai Bangunan dan Kebutuhan... 23

Tabel 2.3 Perhitungan Ruangan Aktifitas Pengguna Bangunan ... 24

Tabel 2.4 Perhitungan Ruangan Aktifitas Pengguna Bangunan ... 25

Tabel 2.5 Perhitungan Ruangan Aktifitas Pengguna Bangunan ... 25

Tabel 2.6 Perhitungan Ruangan Aktifitas Pengguna Bangunan ... 26

Tabel 2.7 Program Ruang ... 27

Tabel 3.1 Penilaian Lokasi Objek ... 29

Tabel 4.1 Penilaian Pemilihan ME ... 35

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(12)

xii

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Skema 1.1 Metode Perancangan ... 4

Gambar 2.1 Tatanan Ruang Pertunjukkan ... 9

Gambar 2.2 Pengukuran di dalam Gedung Pertunjukkan ... 10

Gambar 2.3 Lokasi Taman Budaya Cak Durasim Surabaya ... 11

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(13)

xiii

Gambar 6.5 Apilkasi Pendekatan Tangible Methapore ... 67

Gambar 6.6 Apilkasi Tampak Gd. Pagelaran ... 68

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(14)

xiv

Gambar 6.14 Interior Panggung ... 73

Gambar 6.15 Zoning Gedung Pengembangan ... 74

Gambar 6.16 Interior Ruang latihan ... 74

Gambar 6.17 Interior Ruang Tidur Wisma Seniman ... 75

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(15)

xv

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Berita Acara Sidang Lisan

Lampiran 2 Gambar Rancangan 2D dan 3D

Lampiran 3 Foto

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(16)

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kehidupan berkesenian Kota Surabaya tumbuh dengan baik. Kesenian

tradisional tumbuh karena perjalanan sejarah melawan penjajahan zaman dahulu

sampai saat ini tetap dilestarikan. Bentuk kesenian tradisional banyak ragamnya.

Dan Ludruk merupakan salah satu kesenian Jawa Timur, Sudah sangat dikenal

kalau Ludruk adalah kesenian rakyat asli Jawa Timur. Kesenian rakyat yang

berasal dari Jombang ini, menjadi maskot budaya khas Surabaya. Ludruk

merupakan suatu drama tradisional yang diperagakan oleh sebuah grup kesenian

yang digelarkan di sebuah panggung dengan mengambil cerita tentang kehidupan

rakyat sehari-hari, cerita perjuangan dan lain sebagainya yang diselingi dengan

lawakan dan diiringi dengan gamelan sebagai musik. Dialog/monolog dalam

ludruk bersifat menghibur dan membuat penontonnya tertawa, menggunakan

bahasa khas Surabaya.

Ludruk sudah ada sejak jaman penjajahan Belanda. Dan menjadi sangat

populer di Surabaya sejak zaman revolusi. Saat ini walaupun kesenian ludruk

sudah terkenal di Surabaya, namun keberadaan kesenian ludruk saat ini sudah

sangat memprihatinkan, karena generasi muda sudah mengabaikan kesenian yang

telah lama berkembang di Surabaya ini. Hal ini disebabkan oleh masyarakat lebih

memperhatikan kesenian modern yang lebih berkembang pesat saat ini. Hal

tersebut dapat dilihat pada tayangan televisi yang sering menampilkan acara

pertujukkan yang barbau budaya barat.

Lambat laun eksistensi Ludruk tergeser. Hampir tiap malam, kursi

penonton kosong. Kadang pula pagelaran ludruk batal. Hanya pada akhir pekan,

gedung pagelaran ramai oleh penonton. Masyarakat yang menonton pagelaran

itupun mayoritas orang tua yang masih setia menonton pagelaran Ludruk. Secara

lebih jelas untuk jumlah penonton yang menyaksikan pagelaran kesenian Ludruk

Irama Budaya dapat di lihat pada tabel 1.1

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(17)

2

Tabel 1.1 jumlah penonton Ludruk Irama Budaya Tahun 2011

Sumber : http://puspekaverroes.blogspot.com

Gedung-gedung Ludruk yang ada di Surabaya bukan merupakan gedung

yang diperuntukkan untuk sebuah pagelaran kesenian Ludruk, selama ini yang

digunakan untuk pagelaran adalah bangunan yang disewa para pemain Ludruk itu

sendiri, kurangnya bantuan dari pemerintah menjadikan para pemain Ludrukpun

menyewa sebuah bangunan untuk sebuah pagelaran. Minimnya wadah untuk

kesenian Ludruk menjadikan para pemain Ludruk harus berpindah-pindah tempat.

Kondisi gedung Ludruk saat ini masih sangat memeprihatinkan, walaupun

gedung kurang layak untuk sebuah pagelaran, tetapi masih tetap digunakan. Para

pemain ludruk menjadikan kolong stage sebagai kamar. Hal ini juga yang

menjadikan bertambah buruknya gedung Ludruk yang ada di Surabaya.

Gedung Pusat kesenian ludruk Surabaya dibangun sebagai tempat pusat

pengembangan kesenian Ludruk Surabaya. Dan juga ingin mengembalikan

eksistensi kesenian Ludruk yang mulai tergeser dengan kesenian modern,

mengingat kesenian ini merupakan kesenian tradisional kota Surabaya. Maka dari

itu perlu adanya penggerak sekaligus sarana pendukung yang akan memperbaiki

kesenian ludruk Surabaya. Hal ini menjadikan objek pemikiran dan menjadikan

salah satu potensi yang dapat dikembangkan untuk keberlangsungan kesenian

ludruk Surabaya.

1.2 Tujuan Dan Sasaran

Berdasarkan uraian kajian latar belakang, Pusat Kesenian Ludruk

Surabaya ini memiliki tujuan:

• Mempopulerkan kesenian Ludruk pada generasi muda di Surabaya. Waktu Pagelar an J umlah Penonton

Hari kerja (weekday) 15-20 orang

Hari libur (weekend) 30-40 orang

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(18)

3

• Melestarikan kesenian Ludruk Surabaya yang merupakan kesenian tradisonal, dan juga icon Surabaya.

• Memasyarakatkan kesenian Ludruk dengan memberikan pembelajaran kepada masyarakat yang berminat dan berbakat agar diperoleh

seniman-seniman muda yang berbakat.

Serta sasaran yang ingin di capai dari Pusat Kesenian Ludruk Surabaya

adalah sebagai berikut:.

• Memberikan tampilan arsitektural yang dapat menarik perhatian masyarakat.

• Memberikan wadah untuk menggelar pagelaran Ludruk.

• Menyediakan tempat studi untuk mengembangkan pengetahuan tentang kesenian Ludruk.

1.3 Batasan dan Asumsi

Pada pusat Kesenian Ludruk Surabaya ini memliki batasan sebagai berikut:

• Pusat Kesenian Ludruk Surabaya ini diperuntukkan kepada seluruh lapisan masyarakat yang menggemari seni Ludruk baik dengan strata sosial ekonomi

rendah sampai tinggi

• Pusat Kesenian Ludruk Surabaya ini di buka untuk umum pukul 09:00 WIB dan tutup pukul 23:00 WIB.

Pada pusat kesenian ludruk Surabaya ini memiliki asumsi sebagai berikut:

• Sistem kepemilikan proyek pusat Kesenian Ludruk Surabaya adalah milik pemerintah.

• Daya tampung pada Gedung pagelaran adalah ± 300 orang.

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(19)

4

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(20)

5

Metode pembahasan yang akan digunakan dalam proyek perencanaan

Pusat Kesenian Ludruk Surabaya ini adalah :

• Studi Literatur

Dilakukan guna mendapatkan data-data yang berhubungan dengan Pusat

Kesenian Surabaya yang menyangkut dengan seni pertunjukkan, persyaratan

dan peraturan dalam segi perencanaan dan perancangan fasilitas serupa.

• Internet

Mencari informasi dan data dari situs intertnet yang berhubungan dengan seni

pertunjukkan Ludruk yang dapat digunakan sebagai referensi maupun bukti

tertulis yang telah diinformasikan melalui layanan internet.

• Metode Survey dan Pengamatan Langsung

Dengan metode ini digunakan untuk mencermati data yang terbukti secara

nyata di lapangan. Melakukan studi lapangan pada site yang telah dipilih

guna mengenali karakter site.

• Pengolahan dan Penyusunan Data

Data yang telah diperoleh kemudian disusun, dievaluasi untuk kemudian

hasilnya dijadikan pedoman dalam perencanaan Pusat Kesenian Surabaya

1.5 Sistematika Laporan

• Bab I Pendahuluan

Bab ini merupakan pembuka laporan, yang merupakan uraian tentang latar

belakang perancangan, maksud dan tujuan perancangan, lingkup

perancangan, metode perancangan, dan sistematika laporan.

• Bab II Tinjauan Objek Perancangan

Pada bab ini diuraikan tentang alasan pemilihan judul, secara teruarai antara

lain meliputi :

a. Tinjauan umum

Pada bab ini berisi tentang pendekatan terhadap proyek / judul

pembahasan dengan mengadakan pengenalan terhadap lingkup wilayah

perencanaan serta pengenalan objek. Studi kasus sebagai referensi dan

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(21)

6

lebih memahami judul proyek yang akan direncanakan, memperoleh

gambaran objek dengan jelas melalui studi kasus objek yang sama.

b. Tinjauan khusus

Merencanakan sebenarnya judul tugas akhir dengan batasan yang

dibuat sebelum merancang. Lingkup pelayanan yang akan dilayani serta

aktifitas berupa studi gerak dan perletakkan perabot yang akandi lakukan

pada perancangan. Sehingga akan muncul besaran ruang dan fasilitas yang

dibutuhkan.

• Bab III Tinjauan Lokasi Perancangan

Pada bab ini merupakan penjelasan mengenai lokasi proyek yang akan

dipilih. Berdasarkan kriteria pemilihan lokasi terutama potensi site,

pencapaian, dan keadaan lingkungan sekitar site.

• Bab IV Analisa Perancangan

Pada bab IV diuraikan mengenai konsep perancangan proyek yang akan

dibangun berdasarkan kekayaan kebudayaan setempat dan disesuaikan

dengan tema rancangan yaitu Pusat Kesenian Ludruk Surabaya. Konsep

rancangan lebih dominan arsitektural jawa.

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(22)

7

BAB II

TINJ AUAN OBYEK PERANCANGAN

2.1 Tinjauan Umum Perancangan

Tinjauan umum obyek rancangan berisi tentang hal-hal yang bersifat

umum, dalam hal ini bisa menjelaskan tentang pengertian judul obyek yang di

ambil dari beberapa studi kasus dan literature. Hasil akhir yang diperoleh

merupakan gambaran umum dari permasalahan dan penyelesaian obyek yang

akan dirancang.

2.1.1 Pengertian J udul

• Pusat :

Menurut Poerwadarminto,( 1976 ) pusat adalah pokok pangkal atau yang

menjadi pumpunan (berbagai urusan, hal, dan sebagainya).

• Seni :

Menurut Langer ( 1967 ) seni itu kita dapat berefleksi atasnya dan

memahaminya. praktek dan pengetahuan akrab tentang seni apa saja

meneyediakan bentuk-bentuk bagi rasa sebenarnya yang diungkapkan, dan

seni itu untuk melihat alam dalam bentuk ekspresif

• Kesenian :

Menurut Wikipedia ( 2011 ) Kesenian mengacu pada nilai keindahan

(estetika) yang berasal dari ekspresi hasrat manusia akan keindahan yang

dinikmati dengan mata ataupun telinga.

• Pusat kesenian :

Pusat kesenian adalah suatu tempat ataupun sarana dimana suatu bentuk

nilai keindahan yang berasal dari ekspresi manusia dapat ditampilkan di

tempat ini.

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(23)

8

• Ludruk :

Menurut Wikipedia ( 2010 ) Ludruk adalah kesenian drama tradisional

dari Jawa Timur. Ludruk merupakan suatu drama tradisional yang

diperagakan oleh sebuah grup kesenian yang digelarkan di sebuah

panggung dengan mengambil cerita tentang kehidupan rakyat sehari-hari,

cerita perjuangan dan lain sebagainya yang diselingi dengan lawakan dan

diiringi dengan gamelan sebagai musik.

• Sur abaya :

Menurut Poerwadarminto ( 1976 ) bahwa, Surabaya adalah ibu kota

propinsi Jawa Timur sekaligus kota terbesar kedua di Indonesia.

Pengertian Pusat Kesenian Ludruk Sur abaya :

Pusat Kesenian Ludruk Surabaya adalah suatu tempat ataupun sarana

dimana suatu bentuk nilai keindahan dari kesenian Ludruk yang berasal dari

ekspresi manusia dapat ditampilkan di tempat ini, Ludruk sendiri adalah kesenian

dari Jawa Timur yang merupakan drama tradisonal yang mengangkat kehidupan

rakyat sehari-hari dan Surabaya merupakan kota yang memilki icon kota Ludruk.

2.1.2 Studi Literatur

Studi literature berkaitan dengan obyek rancang, memberikan dan

menerangkan maksud dari obyek rancang melalui narasumber dan referensi dari

buku maupun internet.

• Pengguna Bangunan Pusat Kesenian Ludruk Surabaya

Menurut jurnal seni pertunjukkan Pengguna bangunan gedung Pusat

Kesenian Ludruk Surabaya ini adalah para seniman ataupun masyarakat penikmat

dan yang berminat pada seni pertunjukkan Ludruk. Menurut Wikipedia

Seniman adalah istilah subyektif yang merujuk kepada seseorang yang kreatif,

atau inovatif, atau mahir dalam bidang seni. Kelompok seniman Ludruk di

Surabaya yang masih eksis adalah Ludruk Irama Budaya ada juga kelompok

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(24)

9

ludruk yang lain tetapi keberadaan mereka sudah tidak eksis lagi, misalnya

Ludruk Tjap Toegoe yang berasal dari ITS.

• Persyaratan-persyaratan bangunan untuk gedung pagelaran.

Hal-hal yang menjadi syarat dari bangunan yang digunakan untuk gedung

pertunjukkan adalah system bangunan bentang lebar, hal ini dimaksudkan untuk

menghindari peggunaan kolom. Karena diharapkan pengguna bangunan

khususnya penonton dapat menikmati pertunjukkan Ludruk tanpa dihalangi oleh

adanya kolom di tengah bangunan. Selain itu jika menggunakan bentang lebar

dapat menampung penonton lebih banyak. Perhitungan desain ruang panggung

pertunjukkan yang baik dan sesuai dengan kebutuhan ada pada gambar 2.1.

Tidak hanya batasan pada gedung pertunjukkan, pengukuran pada gedung

pertunjukkkan juga di lakukan pada tempat duduk penonton dan ukuran jarak

antara tempat duduk penonton ke stage. Hal tersebut dimaksudkan untuk

kenyamanan. Hal tersebut dapat dilihat pada gambar 2.2. Gambar 2.1 Tatanan Ruang Pertunjukkan

Sumber : Laporan Tugas Akhir

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(25)

10 2.1.3 Studi Kasus

Tujuan studi kasus adalah memahami judul proyek yang akan di rancang

dan memperoleh gambaran objek dengan jelas. Dengan adanya studi kasus dapat

di peroleh kegiatan/perilaku dan aktivitas orang yang terdapat di dalam obyek

kasus. Dalam pemilihan objek kasus di tekankan pada obyek yang hampir

memiliki kesamaan fungsi dengan objek rancang.

Gambar 2.2 Pengukuran di dalam Gedung Pertunjukkan 8.00

Sumber : Laporan Tugas Akhir

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(26)

11

2.1.3.1 Taman Budaya Cak Durasim Di Sur abaya

• Lokasi Gedung pagelaran Taman Budaya Cak Durasim Surabaya.

Studi kasus yang diambil sebagai referensi gedung pagelaran adalah

gedung pagelaran Taman Budaya Cak Durasim Surabaya, yang berlokasi di Jl.

Gentengkali No.85 Surabaya, yang berada di pusat kota Surabaya. Studi kasus

pada tempat ini adalah tempat pertunjukkan pagelaran kesenian yang ada di

Surabaya. Lokasi Taman Budaya Cak Durasim dapat dilihat pada gambar 2.3.

Gambar 2.3 Lokasi Taman Budaya Cak Durasim Surabaya

Sumber : http://maps.google.com

• Fasilitas

Adanya gedung kesenian yang ada di Surabaya ini akan memberikan

sebuah pusat apresiasi yang digunakan masyarakat, khususnya masyarakat yang

mempunyai rasa lebih untuk berkesenian. Kelompok kesenian atau para seniman

dapat memanfaatkan gedung kesenian yang telah ada. Fasilitas-fasilitas yang ada

pada gedung pagelaran Taman Budaya Cak Durasim Surabaya, ialah:

− Pendopo

Digunakan senagai latihan tari, latihan pagelaran serta acara umum

lainnya. Pendopo pada Taman Budaya Cak Durasim surabaya dapat

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(27)

12

digunakan untuk kegiatan lainnya, maka dari itu pendopo Cak Durasim

bersifat fleksibel. Pendopo ini mempunyai luasan ± 400 m².

− Gedung pagelaran

Gedung kesenian indoor yang berfungsi untuk menampilkan pagelaran

kegiatan seni dan biasanya disewakan untuk acara drama teater serta

kegiatan seni musik. Memiliki kapasitas kursi penonton 500 kursi.

− Teater terbuka

Digunakan untuk latihan drama serta pementasan outdoor memiliki luasan

± 180 m².

− Ruang administratif

Digunakan untuk keperluan administratif serta digunakan untuk para

pengelola gedung yang memilki luasan ±200 m².

− Studio

Sebagai sarana latihan/edukasi yang digunakan bagi para seniman.

− Perpustakaan

Digunakan sebagai tempat untuk buku-buku kesenian Jawa Timur dan

Memiliki luasan ± 25 m2.

− Sanggar dan Galeri

Digunakan sebagai sanggar latihan tari dan juga tempat ini difunsikan

sebagai tempat untuk pameran lukisan yang memilki luasan ±176 m².

− Wisma Seniman

Penginapan sementara untuk para seniman yang sedang melakukan

kegiatan pentas seni. Wisma seniman ini dibagi atas 6 ruang yang dibagi

lagi menjadi 4 kamar. Tiap-tiap kamarnya berukuran 7 m x 4 m. Memiliki

luasan ± 168 m2.

− Mushola

Digunakan sebagai tempat beribadah, terletak pada bagian belakang

Memiliki luasan 28 m2.

− Pos jaga

Tempat yang digunakan untuk melakukan pengamanan.

− Parkir

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(28)

13

• Tatanan massa

Area ini memiliki lebih dari satu massa bangunan. Hal ini disebabkan

fungsi ruang yang berbeda-beda dan dikelompokkan berdasarkan aktifitas dan

kegiatan pelaku yang ada di dalamnya, sehingga terbentuk massa yang sesuai

dengan pengelompokkannya. Pada Taman Budaya menggunakan pola grid.

Bentuk tatanan massa pada Taman Budaya Cak Durasim dapat dilihat pada

gambar 2.4.

Pada area pendopo berada di depan site karena adat jawa selalu

meletakkan sebuah pendopo di depan sebuah bangunan utama, karena sifat

pendopo yang bisa di gunakan bale-bale yang berfungsi untuk pertemuan dan juga

bersifat menerima tamu. Prinsip inilah digunakan pada peletakkan pendopo pada

gedung pagelaran ini. Setelah berada didaerah public selanjutnya bangunan massa

yang bersifat service yang digunakan untuk kantor. Dan setelah berada di daerah

service terdapat ruang pagelaran terbuka yang bersifat public, dan di darerah tepi

site terdapat gedung pagelaran yang tertutup yang bersifat public juga, serta di

samping area public terdapat wisma yang bersifat privat. Gambar 2.4 Bentuk tatanan massa

parkir

Sumber : Hasil Pengamatan Lapangan ( 2011 )

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(29)

14

• Tampilan

Tampilan façade gedung pagelaran ini adalah tampilan façade yang

menggunakan gaya arsitektur Jawa serta tatanan rumah jawa, hal ini dapat di

ketahui dari adanya pendopo yang di letakkan di depan. hal ini merupakan ciri-ciri

dari bangunan yang bergaya arsitektur Jawa. Dan pada bentuk atap menggunakan

tipikal atap joglo yang telah diberi sentuhan lain pada atapnya. Misalnya

pemberian patahan pada bentuk atap bagian bawah dengan atap bagian atas.

Kesan arsitektur jawa dapat dilihat pada hiasan pada atap yang menunjukan ciri

dari arsitekktur jawa. tampilan façade gedung pagelaran Cak Durasim dapat

dilihat pada gambar 2.5.

Gambar 2.5 Tampak luar gedung pagelaran

Sumber : Hasil Pengamatan Lapangan ( 2011 )

Kolom-kolom pada gedung Cak Durasim tidak menggunakan kolom kayu

tetapi menggunakan kolom beton. Walaupun menggunakan kolom bangunan

permanen tetapi pada bagian bawah kolom bentuknya sedikit besar dari kolom

bagian atas dan hal ini yang menjadikan bentuk tersebut menyerupai umpak.

Arsitektur Jawa yang diaplikasikan pada gedung kesenian ini banyak terlihat pada

detail banguan, mulai dari kolom, bentuk atap serta facade gedung sendiri.

Penggunaan arsitektur jawa juga disesuaikan dengan fungsi bangunan, yaitu

gedung kesenian dan pagelaran kesenian yang banyak menampilkan budaya dari

Jawa.

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(30)

15

Pada pendopo di Taman Budaya Cak Durasim menggunakan bentuk

Arsitektural jawa karena masih memegang pakem-pakem dari rumah adat Jawa

yaitu masih menggunakan kolom yang di sebut soko guru dan soko penanggap,

umpak dan pakem-pakem yang lain. Pendopo di sini berfungsi sebagai wadah

pagelaran terbuka ataupun tempat latihan terbuka. Banyak pagelaran tari daerah di

tampilkan di pendopo ini. Selain di fungsikan sebagai wadah pagelaran terbuka

pendopo ini sering di jadikan sebagai tempat diskusi antar seniman ataupun

seniman dengan para pengunjung.

• Ruang dalam

Ruang dalam pada pada gedung pagelaran tidak jauh berbeda dengan

gedung-gedung pagelaran yang telah ada. Terdapat panggung (stage) yang di

gunakan untuk mempagelarkan pertunjukkan seni, dan juga ada tempat duduk

penonton. Pada gedung pagelaran ini menggunakan system bentang lebar, karena

di lihat dari fungsinya, karena jika di dalam bangunan menggunakan kolom akan

menganggu kenyamanan untuk menikmati sebuah pertunjukkan seni. Dapat

dilihat pada gambar 2.6

Gambar 2.6 Gambar stage pada ruang dalamgedung

Sumber : Hasil Pengamatan Lapangan ( 2011 )

• Ruang luar

Ruang luar yang tercipta pada gedung pagelaran ini jika melihat suasana

yang di timbulkan dari tampak luar bangunan yang berkesan Jawa. Hal ini dapat

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(31)

16

dilihat dari kesan yang sangat tradisional karena mengingat fungsi bangunan ini

adalah bangunan yang mempagelarkan pagelaran seni. Banyak masa juga

menimbulkan kesan tersendiri pada ruang luar. Tatanan ruang luar pada bangunan

ini juga menciptakan kesan tatanan rumah Jawa yang memiliki banyak massa.

Tatanan masa pada Gedung Cak Durasim masih memegang tatanan keraton. Hal

ini dapat dilihat pada pendopo yang di letakkan didepan, peletakan pendopo di

depan dapat difungsikan sebagai gedung penerima serta dapat difungsikan untuk

pagelaran sendratari di dalam keraton. sama halnya dengan gedung ini pendopo

disini di fungsikan sebagai gedung penerima dan wadah untuk pagelaran terbuka.

2.1.3.2 Taman Chandr a Wilwatikta Pasuruan

• Lokasi Taman Chandra Wilwatikta.

Chandra Wilwatikta terletak di prigen, Kabupaten Pasuruan di sepanjang

jalan menuju Tretes. Chandra Wilwatikta dirancang seperti panggung budaya

untuk pertunjukkan teater kebudayaaan Jawa. Tempat multifungsi ini diadopsi

oleh teater Jawa di Yogyakarta. Di Yogya stage memiliki latar belakang Candi

Prambanan, sedangkan pada stage pada Taman Chandra Wilwatikta memiliki latar

belakang Gunung Penangunggan. Untuk mengetahui lokasi taman Chandra

wilwatikta lihat gambar 2.7, dan untuk latar belakang panggung dapat dilihat pada

gambar 2.8.

Gambar 2.7 Lokasi Taman Chandra Wilwatikta

Sumber : http://wikimapia.org

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(32)

17

Gambar 2.8 latar belakang stage G.penanggungan

Sumber : www.pasuruantourism.com

Pada Taman Chandra Wilwatikta para seniman menggelar pertunjukkan

pada stage yang dirancang dengan konsep outdoor. Hal ini bisa dilihat dari

konsep rancangan yang tidak menggunakan ruang dalam sebagai bangunan utama,

ruang luarlah yang dominan pada Taman pertunjukkan ini. Pada area stage

terdapat tempat duduk penonton yang terbuat dari batu buatan yang di tata

sehingga tempat duduk penonton mengelilingi bagian depan stage. Stage yang

outdoor yang biasa digunakan untuk mempagelarkan teater. Untuk lebih jelas

dapat dilihat pada gambar 2.9.

Gambar 2.9 area tempat duduk penonton

Sumber : www.pasuruantourism.com

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(33)

18

Selain difungsikan sebagai panggung budaya Jawa, Chandra Wilwatikta

juga difasilitasi dengan ruang untuk diadakan upacara beberapa atau dapat dipesan

oleh mereka yang ingin mengadakan pameran budaya. Suasana yang dapat dirasa

di Taman Chandra Wilwatikta adalah udara yang sejuk yang dipengaruhi oleh

udara Tretes yang berada di daerah pegunungan. Taman hijau, pohon beringin

teduh, rusa-rusa yang ada di sekitar taman yang menambah suasana taman

pertunjukkan ini menjadi lebih nature.

• Fasilitas

Sebagai tempat atau wadah apresiasi seni fasilitas yang ada pada Taman

Chandra Wilwatikta banayak yang berhubungan dengan kebutuhan para seniman

yang akan tampil di taman ini. Di Taman Chandra Wilwatikta terdapat beberapa

faslitas, yaitu :

− Stage atau panggung

− Ruang ganti

− Ruang make up

− Ruang suara ( sound centre )

− Tempat penyimpanan alat music

− Lapangan sepak bola

− Penginapan

• Daya tampung

Sebagai tempat taman pertunjukkan, Taman Chandra Wilwatikta memiliki

daya tampung penonton 500 orang yang dapat di tempatkan pada tempat duduk

beton yang berada di depan stage.

2.1.4 Analisa Hasil Studi

Dari hasil studi pada dua obyek bangunan, didapatkan hasil kajian dari

kedua obyek tersebut, yaitu pada tabel 2.1

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(34)

19

Tabel 2.1 Analisa Hasil Studi Kasus

Sumber : Analisa penulis, 2011

Setelah mengetahui analisa hasil studi proyek rancangan yaitu gedung

Pusat Kesenian Ludruk Surabaya akan berlokasi di area kota, hal ini dimaksudkan

agar masyarakat kota dapat lebih mengetahui tentang kesenian Ludruk. Tampilan

bangunan mengadopsi dari gaya arsitektural Jawa, yang menggunakan banyak

massa untuk konsep rancangannya dan juga interior khas Jawa akan digunakan

Aspek Taman Budaya

Cak Durasim

Taman Chandra

Wilwatikta

Lokasi Pusat kota Surabaya Pinggiran kota Pasuruan

Pengguna Bangunan Seniman, pengunjung Seniman, pengunjung

Aktifitas Pagelaran, pusat pelatihan Pagelaran, wisata

Fasilitas / Program

Tampilan Bangunan Mengadopsi arsitektural Jawa

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(35)

20

pada gedung Pusat Kesenian Ludruk ini serta bangunan pendopo juga ada pada

proyek rancangan yang memiliki fungsi tidak jauh dari gedung Taman Budaya

Cak Durasim yaitu sebagai gedung pertunjukkan terbuka. proyek rancangan juga

memilki wisma yang digunakan untuk seniman luar kota yang sedang

mengadakan pertunjukkan.

2.2 Tinjauan Khusus Perancangan

2.2.1. Penekanan Perancangan

Penekanan perancangan pada bangunan objek rancang yang akan

digunakan sebagai gedung Pusat Kesenian Ludruk Surabaya adalah penekanan

perancangan secara tatanan massa (massa bangunan kompleks), hal ini

dimaksudkan karena bangunan yang akan dibangun menggunakan konsep

bangunan Jawa, yang memiliki banyak massa dengan berbagai fungsi.

Agar pembahasan lebih terarah dan teratur. maka perlu diterapkan suatu

penekanan rancangan yang membatasi proyek perancangan yaitu :

a. Desain perancangan diselesaikan dengan penyelesaiaan tatanan massa

b. Pembagian dan penataan ruang yang disesuaikan dengan kebutuhan akan

aktivitas yang dilakukan pada masing – masing ruang.

c. Penataan dan perencanaan sirkulasi yang sesuai dengan standarisasi.

d. Penciptaan suasana ruang melalui pengolahan lantai. dinding. plafon. sistem

pencahayaan. serta sistem penghawaan.

2.2.2. Lingkup Pelayanan

Lingkup pelayanan yang lebih difokuskan mengarah pada kegiatan

pengembangan kesenian Ludruk, serta memberi wadah dan fasilitas bagi

orang-orang yang berminat dan berbakat pada dunia seni Ludruk. Di gedung Pusat

Kesenian Ludruk ini memiliki daya tampung 300 kursi, pertimbangan daya

tampung bangunan diambil dari jumlah penduduk Surabaya yang lebih dari 1 juta

penduduk, standart yang ada adalah > 1 juta = ±300 kursi.

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(36)

21 2.2.3. Aktifitas Dan Kebutuhan Ruang

Berdasarkan aktifitas yang dibutuhkan akan diperoleh kebutuhan ruang

dan terbagi dalam beberapa jenis kegiatan, antara lain sebagai berikut :

a. Aktifitas Utama

Aktifitas utama merupakan salah satu unit sarana utama dalam proyek ini

dengan fungsi sebagai pusat pengembangan dan pagelaran, ruang-ruang yang

terdapat unit sarana ini adalah :

1. Gedung pengembangan

§ Ruang pengembangan

− Ruang latihan tari

− Ruang latihan musik

− Ruang latuhan drama § Ruang baca & Pusat informasi

§ Ruang musyawarah

§ Tempat untuk organisasi seniman

§ Toilet

§ Tempat penyimpanan alat auditorium

§ Ruang ganti

§ Ruang make up

§ Ruang tunggu pemain

§ Pantry

§ Ruang baca

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(37)

22

§ Pusat aksesories dan cinderamata

c. Aktifitas Service

§ Parkir sepeda motor pengunjung

§ Parkir bus

§ Parkir mobil karyawan

§ Parkir sepeda motor karyawan

Dengan diketahuinya para pengguna bangunan, maka aktifitas-aktifitas

yang dilakukan oleh para pengguna bangunan tersebut dapat dijabarkan dalam

tabel 2.2 berikut ini.

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(38)

23

Tabel 2.2 Aktifitas Pemakai Bangunan dan Kebutuhan

Sumber : Analisa penulis, 2011

2.2.4. Perhitungan Luas Ruang

Perhitungan luas ruang disusun berdasarkan jumlah dan standar satuan

terkecil dari masing-masing aktifitas, serta prasarana yang dibutuhkan pada

masing-masing ruang tersebut. Dan secara jelas diuraikan dan dihitung pada tabel

2.3, 2.4, 2.5 berikut ini.

No Pemakai

bangunan Aktifitas Nama Ruang fasilitas 1 Seniman § Melakukan pagelaran

§ Melakukan

§ Rg. Untuk latihan tari

§ Rg. Untuk latihan

2 Pengunjung § Menonton pagelaran

§ Mencari informasi

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(39)

24 a. Fasiltas pengembangan

Tabel 2.3 Perhitungan Ruangan Aktifitas Pengguna Bangunan

Sumber : Analisa penulis, 2011

NO FASLITAS NAMA RUANGAN KAPASITAS LUASAN TOTAL

(m²)

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(40)

25 b. Fasilitas Pagelaran

Tabel 2.4 Perhitungan Ruangan Aktifitas Pengguna Bangunan

NO NAMA

RUANGAN NAMA RUANGAN KAPASITAS LUASAN

TOTAL

Sumber : Analisa penulis, 2011

c. Fasilitas pendukung

Tabel 2.5 Perhitungan Ruangan Aktifitas Pengguna Bangunan

NO FASILITAS NAMA

RUANGAN KAPASITAS LUASAN TOTAL (m²)

1 Ruang administrasi

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(41)

26

Sumber : Analisa penulis, 2011

d. Fasilitas service

Tabel 2.6 Perhitungan Ruangan Aktifitas Pengguna Bangunan

NO FASILITAS NAMA RUANGAN KAPASITAS LUASAN TOTAL

(m²)

Sumber : Analisa penulis, 2011

2.2.5. Pr ogram Ruang

Perhitungan luas ruangan disusun berdasarkan jumlah dan standar satuan

terkecil dari masing-masing aktifitas, serta prasarana yang dibutuhkan pada

masing-masing ruang tersebut. Dan secara jelas diuraikan dan dihitung pada tabel

2.7.

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(42)

27

Tabel 2.7 Program Ruang

Sumber : Analisa Penulis, 2011

No Kebutuhan r uang Fasilitas ruang Luas

1 Fas. Pengembangan §Rg. Latihan

§Rg. Baca & Pusat Informasi

§Rg. Musyawarah/Diskusi

3 Fas. Pendukung §Rg. Administrasi

§Wisma Seniman

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(43)

28

BAB III

TINJ AUAN LOKASI PERANCANGAN

3.1 Latar Belakang Pemilihan Lokasi

Pada proyek objek perancangan Pusat Kesenian Ludruk Surabaya ini

memiliki jenis bangunan hiburan sehingga dalam prencanaan pada kawasan kota

termasuk dalam peruntukkan fasilitas umum. Dengan jenis bangunan yang seperti

itu maka pemilihan lokasi ditempatkan pada area yang memiliki akses yang

mudah dilalui oleh kendaraan umum ataupun pribadi. Karena fasilitas ini adalah

fasilitas umum yang lebih condong kearah budaya dan diperuntukkan masyarakat

umum, maka pencapaian lokasi menjadi salah satu pertimbangan yang cukup

penting karena objek rancang merupakan area hiburan dengan segmentasi untuk

umum.

Ludruk merupakan suatu budaya yang sangat erat hubungannya dengan

Surabaya, maka dari itu peletakan proyek objek rancang berada di kawasan

Surabaya yang memiliki nilai histories. Hal ini di maksudkan agar kesan

“Surabaya” dapat tercipta pada bangunan kesenian Ludruk, serta dapat menjadi

pelengkap suatu bangunan di sekitarnya. Dan juga Pusat Kesenian Ludruk

Surabaya diharapkan mampu menunjang bangunan menjadi sebuah icon bagi

sekitarnya karena fungsi dan sifat bangunan adalah menjadi pusat pengembangan

dan pagelaran kesenian Ludruk. Serta diharapkan mampu menunjang kesenian

Ludruk Surabaya, mengingat Ludruk besar di kota Surabaya.

3.2 Penetapan Lokasi

Penetapan lokasi perencanaan ditentukan berdasarkan pemilihan site yang

berada di sekitar daerah-daerah yang belum memliki gedung kesenian. Hal ini

dikarenakan agar potensi seni yang belum ada di daerah tersebut menjadi lebih

berkembang. Dan juga lokasi objek rancang diletakkan di daerah yang memilki

nilai histories, dikarenakan masih adanya benang merah antara kebudayaan

Surabaya dan sejarah Surabaya.

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(44)

29

Daerah Surabaya selatan jika dilihat lebih lanjut belum memiliki gedung

kesenian, maka dari itu penetapan lokasi diletakkan di Surabaya Selatan. Objek

rancang yang seperti ini sudah terdapat di daerah Surabaya pusat, walaupun sudah

ada bangunan yang sejenis dengan proyek objek rancang ini tetapi objek rancang

memiliki fungsi yang lebih spesifik jika dibandingkan dengan bangunan kesenian

yang telah ada di Surabaya pusat. Untuk melihat perbandingan penilaian lokasi

objek dapat dilihat pada tabel 3.1

Tabel 3.1 Penilaian Lokasi Objek

No. Aspek/Kriteria J l. Tunjungan J l. Basuki

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(45)

30

Sumber : Analisa Penulis, 2011

Keterangan:

3: Sangat baik

2: Cukup baik

1: Kurang

Pada uraian tabel 3.1, dapat ditentukan bahwa dari ketiga alternatif lokasi

tersebut yang memenuhi aspek kriteria obyek rancang adalah Jalan Jagir, hal ini

dapat dilihat dengan belum adanya fasilitas untuk kesenian di daerah ini yang

menjadikan gedung kesenian menjadi pelengkap pada daerah yang sedang

berkembang. Dan juga lokasi juga berdekatan dengan bangunan yang memilki

nilai histories, misalnya Pintu Air Jagir, dan Stasiun Wonokromo, sehingga objek

rancang masih memilki korelasi dengan bangunan sekitar. Jalan Adityawarman

berada pada lokasi yang berdekatan dengan Jalan raya, sehingga lokasi ini

memiliki tingkat kebisingan yang tinggi. Selain itu, lokasi ini mudah dicapai

karena berada pada jalan utama sehingga dapat dengan mudah dilihat oleh para

pengendara. Lokasi yang telah ditetapkan ini merupakan lokasi yang strategis

untuk obyek rancang Pusat Kesenian Ludruk Surabaya, lokasi objek rancang

dapat di lihat pada gambar 3.1

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(46)

31

Gambar 3.1 Lokasi Objek Rancang

Sumber : Analisa Penulis, 2011

3.3 Kondisi Fisik Lokasi

3.3.1 Existing Site

Site yang memiliki luas ±10.000m² dengan kondisi site yang ditumbuhi

rumput-rumput liar dan pohon-pohon besar yang tumbuh di depan site. Sifat tanah

di wilayah ini mempunyai daya resap besar dan daya dukung kecil. Tanah pada

site ini memiliki kondisi yang sedikit memiliki kemiringan. Untuk ketinggian

tanah pada site secara umum merupakan dataran rendah.

• Batas-batas wilayah site

Sebelah utara :Sungai Jagir

Sebelah Timur :Gedung Pertamina

Sebelah selatan :Lahan Kosong

Sebelah barat :Pemukiman Penduduk site

J l. J agir

Sungai J agir

Pemukiman Warga

Gedung Pertamina

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(47)

32 3.3.2 Aksesbilitas

Jalur pencapaian yang jelas dengan berbagai jenis jalan, yaitu:

• Jalan Jagir (jalan primer), merupakan akses utama regional yang dapat menghubungkan lokasi perencanaan dengan kawasan Surabaya Timur dan

Barat.

• Jika dari wilayah Surabaya selatan dapat melalui jalan protokol (Jl. Achmad. Yani ).

• Jika dari wilayah Surabaya timur dapat melalui Jl. Panjang Jiwo

• Dari wilayah Surabaya barat dapat dilalui melalui Jl. Darmo

3.3.3 Potensi Lingkungan

Pengaruh lingkungan sekitar terhadap site adalah:

Site berhadapan dengan dua path, dimana pada jalan dengan lajur dua arah. Dengan kondisi jalan yang ramai tapi tidak mengalami kemacetan pada tiap

harinya.

• Kondisi site yang berhadapan langsung dengan jalan raya, mengharuskan massa dengan fasilitas umum diletakkan dekat dengan area jalan raya, hal ini

menjadikan sesuatu yang menarik pengunjung.

• Dengan berada di area jalan primer maka pencapaian pada objek rancang mudah, karena dapat di lalui oleh kendaraan umum maupun kendaraan

pribadi.

Site berada pada area Histories yang merupakan nilai tambah untuk objek rancang mengingat bangunan masih ada benang merah dengan sejarah jaman

penjajahan Belanda.

• Dari arah utara memilki view pintu air sungai Jagir.

3.3.4 Infrastruktur Kota

• Air Bersih

Untuk memenuhi kebutuhan air bersih pada kawasan lokasi perancangan,

saat ini telah menggunakan jasa pelayanan PDAM yang berasal dari tandon air

daerah sekitar.

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(48)

33

• Jaringan Listrik

Sama halnya dengan fasilitas PLN yang ditangani oleh perusahaan Negara

dan akan disalurkan sesuai dengan kebutuhan kegiatan nantinya.

• Jaringan Telepon

Pada sekitar kawasan site telah terdapat beberapa tiang jaringan telepon

dengan dilengkapi tower BTS.

• Saluran Drainase

Pada lokasi site, saluran drainasenya sudah cukup baik, hal ini karena

terstrukturnya jaringan drainase serta tingginya kualitas dan kuantitas yang

ada untuk mengalirkan debit air yang tercurah. Saluran yang adapun sudah

terpelihara dengan baik, yang mempengaruhi akan kondisi inlet dan outlet

pada saluran kawasan.

Saluran drainase pada site berada pada drainase daerah Gunung Sari, yang

merupakan system pematusan primer. Dengan lebar system 12 m dan

kedalamannya 3 m. Saluran ini sudah sepenuhnya dapat dipakai sebagai

outlet dari saluran-saluran yang ada pada kawasan perencanaan. Jalan-jalan

yang ada pada sekitar kawasan perencanaan, sebagian sudah memiliki saluran

tepi jalan. Sehingga, ketika hujan, air dapat mengalir dengan baik dan tidak

menimbulkan genangan di sekitar jalan tersebut. Hal ini sangat

mempengaruhi dalam hal perawatan jalan yang ada.

3.3.5 Peraturan Bangunan

Peraturan yang berlaku pada tapak yang mempengaruhi perencanaan pada

wilayah Jalan Jagir adalah:

• Koefisien Dasar Bangunan (KDB) : 60 % ( untuk fasilitas umum )

• Koefisien Lantai Bangunan (KLB) : 3 - 4 Lantai

Garis Sempadan Bangunan (GSB) : 12 m

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(49)

34

BAB IV

ANALISA PERANCANGAN

4.1 Analisa Site

4.1.1 Analisa Aksesbilitas

Analisa ini menguraikan tentang proses pencapaian (aksesibilitas) yang

menentukan letak pintu masuk akibat analisa pencapaian tersebut. Dalam hal ini

Pencapaian site lokasi dari daerah sekitarnya ditentukan berdasarkan

pertimbangan terhadap :

- Keleluasaan pengamatan untuk berorientasi terhadap obyek

- Ruang yang memiliki potensi sebagai titik pandang pengamat untuk

mengenali obyek.

- Sudut pandang

- Kecepatan maksimum kendaraan pada lalu lintas yang ada.

Jalan Jagir memiliki akses jalan dua arah, dengan lebar jalan 15m, yang

menghubungkan antara Jalan Wonokromo dengan Jalan Jagir. Aksesbilitas pada

site ini bisa dicapai menggunakan kendaraan umum dan kendaraan pribadi, karena

letak site yang sangat srategis karena dilalui oleh jalan utama yang

menghubungkan beberapa fasilitas umum di sekitar site. Analisa aksesbilitas

dapat pada gambar 4.1.

Gambar 4.1 Aksesbilitas Lokasi Sumber : Hasil Pengamatan Lapangan, 2011

J alan J agir

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(50)

35

Untuk dapat menuju ke lokasi proyek terdapat beberapa entrance yang

menghubungkan beberapa jalan diskitar site, Sehingga untuk penempatan main

entrance dapat dilakukan pada beberapa titik pada site. Main entrance dapat

Keleluasaan pengamatan terhadap

obyek

pada lalu lintas yang ada. (keamanan)

2 2

Sumber : Analisa Penulis, 2012

Keterangan :

3 : baik, 2 : cukup, 1 : kurang

Aksesbilitas yang diperuntukkan untuk pengelola dan maintance dapat

melewati main entrance, walaupun melewati pintu masuk yang sama dengan

pengunjung tetapi masih memiliki jalur khusus yang dapat difungsikan untuk

pengelola dan maintance. Hal ini di rancang agar ada pembeda antara pengunjung

dan pengelola. Dapat dilihat pada gambar 4.2.

Gambar 4.2 Peletakan Pintu Main Entrance Sumber : Hasil Pengamatan Lapangan, 2012

U

A B

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(51)

36 4.1.2 Analisa Iklim

Analisa ini menjelaskan serta menetapkan secara grafis proses analisa

iklim baik dari segi orientasi matahari, arah mata angin dan curah hujan. Analisa

iklim sangat mempengaruhi suatu perancangan proyek karena cuaca tiap daerah

tidaklah sama dan juga tergantung pada bagaimana letak serta orientasi bangunan

sekitar.

arah utara, jadi bukaan-bukaan pada bangunan dapat dimaksimalkan. Arah hadap

bangunan yang mengarah kerah utara merupakan suatu keuntungan untuk thermal

bangunan objek rancang. Sehingga objek rancang tidak mendapat panas matahari

langsung dari arah barat-timur, pada arah hadap barat-timur masih bisa diberi

bukaan tetapi harus diberikan shading ataupun sosoran yang agak panjang, agar

dapat mereduksi sinar matahari langsung serta sinar matahari tidak masuk ke

dalam ruangan, tetapi hanya pembayangannya saja. Tapi hal ini juga dapat

ditanggulangi dengan pemberian vegetasi yang dapat menghalangi matahari

langsung. Arah site yang seperti ini dapat memaksimalkan pencahayaan alami,

selain mendapat kondisi thermal bangunan yang bagus, arah site yang menghadap

ke utara juga dapat menghemat pengeluaran untuk kepentingan penerangan di

dalam ruangan, karena perbandingan panas matahari dengan cahaya matahari

lebih banyak cahaya yang masuk ke dalam ruangan, daripada panas yang masuk

ke dalam ruangan. Untuk dapat mengetahui arah pergerakan matahari pada site

dapat dilihat pada gambar 4.3.

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(52)

37

• Analisa Angin

Lokasi site memiliki kecenderungan angin berhembus kencang dari arah

utara, karena pada arah utara hanya terdapat sungai jagir yang memilki kualitas

hembusan angin yang lebih kencang karena tidak ada bangunan. Di sekitar site

terdapat bangunan dengan lantai tinggi dan pemukiman penduduk, sedangkan dari

arah timur angin tidak berhembus terlalu kencang karena terhalang oleh bangunan

tinggi. Pada dasarnya gerak angin dibedakan menjadi

1. Angin musim : angin benua dan samudra (musim kemarau dan

musim hujan) arah timur - tenggara

2. Angin lokal : angin setempat (cepat berubah, dan mempunyai

waktu pendek)

Dengan memperhatikan angin lokal yang berada pada site adalah angin

yang berhembus kencang pada arah-arah tertentu, serta angin yang berhembus

pada site dipengaruhi oleh angin musim. Hal ini dikarenakan letak site yang tidak

terlalu dihimpit oleh bangunan tinggi, sehingga angin lokal yang berhembus tidak

terlalu bebenturan dengan bangunan sekitar. Utuk lebih mengetahui prgrrsksn

sngin dspst dilihst pada gambar 4.4.

Gambar 4.3 Arah Pergerakan Matahari Sumber : Hasil Pengamatan Lapangan, 2011

U

site

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(53)

38

Gambar 4.4 Arah Pergerakan Angin

Sumber : Hasil Pengamatan Lapangan, 2011

Keterangan :

: Angin musim dari arah Timur-Tenggara

: Angin lokal dari sekitar site

• Analisa Curah Hujan

Curah hujan yang ada pada site Rata-rata pertahun 181 mm. Wilayah kota

Surabaya masih memilki curah hujan yang normal yang tidak berlebih ataupun

kurang. Curah hujan pada site menjadikan pertimbangan untuk saluran drainase

pada site dan akan di alirkan pada saluran drainase yang akan di buat pada site

sebelah barat, adapun saluran drainase telah ada yang letaknya berada di depan

site. Jadi air hujan yang masuk dapat langsung mengalir langsung pada saluran

drainase di depan maupun di samping site, Saluran drainase tersebut dapat dilihat

pada gambar 4.5.

U

site

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(54)

39

Gambar 4.5 Peletakan Saluran Drainase

Sumber : Hasil Pengamatan Lapangan, 2011

4.1.3 Analisa Lingkungan Sekitar

Site pada objek rancang ini terletak di selatan kota Surabaya yang banyak

memiliki fasilitas umum di sekelilingnya. Lingkungan sekitar site memliki tingkat

kebisingan yang tinggi karena letak site yang berada di kota dengan kapasitas

kepadatan transportasi yang padat. Serta site objek rancang merupakan daerah

yang sedang berkembang. Analisa lingkungan sekitar dapat dilihat pada gambar

4.6.

Gambar 4.6 Tampilan Bangunan Sekitar Sumber : Hasil Pengamatan Lapangan, 2012

U

U

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(55)

40

Di area lingkungan site terdapat pemukiman penduduk yang berbatasan

langsung dengan rel kereta api, mengingat letak site yang dekat dengan stasiun

wonokromo. Penetepan lokasi objek rancang selain karena unsure sejarah, juga

mementingkan area yang dekat dengan pemukiman penduduk, karena tidak

dipungkiri, bahwa kesenian ludruk merupakan kesenian untuk rakyat. Maka dari

itu peletakan site yang dekat dengan pemukiman penduduk memiliki alasan agar

masyarakat lebih dekat dengan ludruk.

Dari utara site terdapat pintu air sungai Jagir yang dapat dijadikan acuan

rancangan untuk Pusat Kesenian Ludruk Di Surabaya, karakteristik bangunan

kolonial akan banyak memepengaruhi objek rancang.

Dari sebelah timur site terdapat gedung Pertamina yang karakteristik

bangunannya merupakan bangunan modern, hal tersebut dapat dilihat dari fasad

bangunan yang cenderung memilki garis tegas vertical maupun horizontal.

• Analisa Kebisingan

Objek rancang yang memiliki fungsi sebagai tempat pengembangan dan

pagelaran tidak terlalu memperhatikan tingkat kebisingan yang bersumber pada

lingkungan sekitar site, karena objek rancang juga merupakan bangunan yang

akan menghasilkan kebisingan. Tetapi tingkat kebisingan juga perlu di perhatikan

sedikit untuk area-area tertentu, misalnya pada area tempat pelatihan yang

merupakan area edukasi pada objek rancang ini dan juga tempat pagelaran terbuka

juga perlu di perhatikan tingkat kebisingan yang bersumber dari luar site, karena

mengingat pagelaran terbuka terletak dekat dengan jalan raya, untuk

menanggulangi masalah kebisingan dapat diminimalisir dengan pemberian barier

di sekeliling tempat pagelaran terbuka.

Pada area – area yang memiliki tigkat kebisingan rendah di manfaatkan

untuk area yang memang memerlukan ketenangan, dalam objek rancang

bangunan yang memerlukan tingkat kebisingan rendah yaitu area wisma seniman.

Karena wisma seniman merupakan area transit istirahat sementara bagi seniman

yang mengadakan pagelaran, jadi area ini memerlukan tingkat kebisingan rendah,

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(56)

41

letak area kebisingan rendah yaitu pada area bagian belakang site. Untuk dapat

mengetahui perbedaan tingkat kebisingan pada site lihat gambar 4.7.

Keterangan :

: Tingkat Kebisingan Tinggi

• Analisa View

View yang dapat dilihat dari site adalah hamparan sungai jagir yang

berada di depan site, dan juga terdapat bangunan yang memliki nilai histories

yaitu Pintu Air jagir. Selain bangunan yang memilki nilai histories terdapat juga

Gedung Pertamina yang berada di sebelah timur site, pada sebelah barat site

terdapat pemukiman penduduk yang berada di daerah sekitar rel kereta api.

Peletakan gedung pagelaran di area depan site dapat memanfaatkan view pintu air

sungai Jagir yang memiliki karakteristik bangunan kolonial, karena pintu air Jagir

merupakan peninggalan jaman pemerintahan Belanda. View yang berada di

sekitar site dapat dilihat pada gambar 4.8.

U

Gambar 4.7 Analisa Kebisingan

Sumber : Hasil Pengamatan Lapangan, 2012

: Tingkat Kebisingan Rendah

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(57)

42

Gambar 4.8 Penilaian View Sekitar

Sumber : Hasil Pengamatan Lapangan, 2012

4.1.4 Analia Zoning

Orientasi zoning bangunan selalu dari public ke private, dimana public

terletak di dekat area ME, Sedangkan private terletak pada site bagian belakang.

Apabila disesuaikan dengan fungsi bangunan hiburan masyarakat, maka zoning

tapak dirancang public secara keseluruhan. Namun, dalam suatu bangunan pasti

ada area yang merupakan area private walaupun secara keseluruhan bangunan

tersebut merupakan bangunan hiburan. Area public bangunan ini ialah parkir,

gedung pagelaran, pagelaran terbuka, gedung pengembangan, gazebo. Area semi

public berada di dalam gedung yang bersifat public, area semi pulic di sini

merupakan tempat atau ruangan interaksi antar seniman dan pengunjung. Ruang

musyawarah seniman dan ruang organisasi seniman Ludruk merupakan area-area

semi public . Sedangkan area private terletak di belakang bangunan utama dan

penunjang, yaitu wisma seniman.

Pembagian zoning pada site untuk memperuntukkan fungsi

masing-masing bangunan. fasilitas utama pada objek rancang di letakkan area depan site

yang memiliki kecenderungan arah hadap menghadap kearah pintu air, semakin

kedalam peletakan bangunan menurut fungsi semakin bersifat private. Analisa

zonning dapat dilihat pada gambar 4.9.

U

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(58)

43

Keterangan : : Area public (R.Pengembangan dan Pagelaran)

: Area parkir (public)

: Area Private

: ME

: Exit

4.2 Analisa Ruang

4.2.1 Organisasi Ruang

Organisasi ruang dalam proyek Pusat Kesenian Ludruk Surabaya ini

dibagi dalam bagian yaitu :

1. Gedung pengembangan

§ Ruang pengembangan

− Ruang latihan tari

− Ruang latihan musik

− Ruang latuhan drama § Ruang baca & Pusat informasi

§ Ruang musyawarah

§ Tempat untuk organisasi seniman

Gambar 4.9 Analisa Zonning Bangunan

Sumber : Analisa Penulis, 2012

U

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(59)

44

§ Tempat penyimpanan alat auditorium

§ Ruang ganti

§ Pusat Aksesories dan Cinderamata

6 Wisma seniman

§ Parkir sepeda motor karyawan

Pembedaan bangunan ataupun fasilitas pada objek rancang bertujuan

untuk pengorganisasian massa, Organisasi massa dapat dilihat pada gambar 4.10.

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(60)

45 4.2.2 Hubungan Ruang Dan Sir kulasi

Hubungan ruang dan sirkulasi dalam pembangunan proyek Pusat Kesenian

Ludruk Surabaya ini merupakan langkah awal dalam proses perancangan. Dan hal

ini berfungsi untuk memudahkan dalam proses pencapaian pengunjung antara satu

ruangan ke ruangan yang lain. Dan berikut adalah diagram hubungan ruangan

yang ada didalam proyek berdasarkan pengunjung dan pengelola

1. Seniman dan Pengunjung

• Ruang Pengembangan

Gambar 4.10 Organisasi massa

Sumber : Analisa Penulis, 2012

Keteranagan:

: Dekat

: Sedang

: Jarang ME

Café Wisma

Parkir Gd. Pagelaran Gd. Pengembangan

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(61)

46 2. Pengunjung

• Ruang Pertunjukkan

3. Pengelola

• Ruang Administrasi & Maintance

4.2.3 Diagram Abstrak

Analisa Diagram Abstrak merupakan analisa penggambaran secara

diagramatis/grafis mengenai hubungan block-block massa bangunan dan sirkulasi

bangunan. Penggambaran ini dilakukan dengan tujuan agar dapat diketahui secara

dini bagaimana zoning bangunan secara makro. Untuk dpat mengetahi diagram

abstrak dapat dilihat pada gambar 4.11.

Keteranagan:

: Dekat

: Sedang

: Jarang

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(62)

47

Gambar 4.11 Diagram Abstrak Sumber : Analisa Penulis, 2012

4.3 Analisa Bentuk dan Tampilan

Pada bentuk dari gedung pagelaran mengambil tipologi bentuk tapal kuda

dengan penyelesaian bentuk yang memanjang. Bentukan seperti ini untuk ruang

auditorium, dapat memiliki kelebihan pada sudut pandang para penonton sampai

belakang. Selain itu kemiringan dari bentuk tipologi tapal kuda dapat member

kenyamanan bagi pengunjung untuk menonton pagelaran yang sedang

berlangsung. Selain itu bentuk tipologi ini memberikan bentuk yang berbeda pada

gedung pagelaran.

Gambar 4.12 Bentuk Dasar dan Tipologi

Sumber : Analisa Penulis, 2012

Panggung Outdoor

ME exit

Pagelaran caffe

parkir

pengembang wisma

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(63)

48

Bentuk bangunan-bangunan yang lain pada site akan menggunakan

bentukan yang cenderung kotak persegi dengan ukuran yang melebar, karena

untuk obyek rancang akan ditampilkannya sebuah tampilan bangunan kolonial.

Diambilnya sebuah ide dasar kolonial seperti ini didapat dari kondisi site yang

ada, yang berdekatan dengan obyek yang memiliki nilai histories bagi kota

Surabaya. Selain itu, juga sesuai dengan fasilitas pada obyek rancang, yaitu

Ludruk, yang juga memiliki ciri tersendiri bagi kota Surabaya.

Unsur kolonial bangunan selain dari bentuknya yang kotak persegi

melebar, juga dapat diambil dari tampilan atapnya yang tinggi dengan sistem

gevel, jendela serta pintu yang cukup lebar dan tinggi. Seperti pada bangunan

utamanya, akan diberikan tampilan yang memberikan kesan monumental

bangunan fasilitas lainnya pada site. Tampilan monumental tersebut didapat dari

kolom-kolom besar yang berada di teras bangunan, serta adanya tangga yang

cukup lebar sebelum memasuki area dalam bangunan. Tampilan tersebut dapat

dilihat pada gambar 4.13

Gambar 4.13 Tampilan Bangunan Kolonial

Sumber : www.google.com

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

Gambar

Tabel 2.1 Analisa Hasil Studi Kasus
Tabel 2.2 Aktifitas Pemakai Bangunan dan Kebutuhan
Tabel 2.4 Perhitungan Ruangan Aktifitas Pengguna Bangunan
Tabel 2.7 Program Ruang
+7

Referensi

Dokumen terkait