RENCANA PROGRAM KEGIATAN PEMBELAJARAN SEMESTER
(RPKPS)
MODUL
TECHNOLOGY OF PHARMACEUTICAL HERBS
PROGRAM STUDI FARMASI
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG SEMARANG
2015
PERENCANAAN PEMBELAJARAN
1. Nama Modul : Technology Pharmaceutical Herbs 2. Kode : FR. 3520
3. SKS : 4
4. Sifat : WAJIB
5. Semester : IV
6. Perkiraan banyaknya peserta : 101 Mahasiswa
7. Deskripsi singkat Modul : Modul berisi materi tentang:
Modul ini meliputi materi Biosintesis dan assay metabolit sekunder, Pemisahan dan pemurnian senyawa bahan alam, Standarisasi senyawa bahan alam dan penetapan marker, Design and formulation of phytopharmaceutical dosage form
Keseluruhan modul Technology Pharmaceutical Herbs dibagi menjadi 4 LBM yang diberikan masing-masing 16 jam (setara dengan 1 sks) setiap LBM nya.
A. RPS MATA KULIAH MODUL TECHNOLOGY OF PHARMACEUTICAL HERBS
SATUAN ACARA PENGAJARAN
MODUL TECHNOLOGY OF
PHARMACEUTICAL HERBS
SEMESTER POKOK BAHASAN
.V
Modul ini membahas Biosintesis dan assay metabolit sekunder, Pemisahan dan pemurnian senyawa bahan alam, Standarisasi senyawa bahan alam dan penetapan marker, Design and formulation of phytopharmaceutical dosage form MATERI KULIAH MODUL KOMPONEN Waktu (jam/menit ) Tujuan Instruksional Umum
Sasaran Belajar Spesifik/ learning outcomes
Sub Pokok Bahasan
Media Referensi Evalu asi Kontributor LBM 1 Biosintesis dan assay metabolit sekunder 16 jam/
800 menit Agar mahasiswa mampu menjelaskan Biosintesis dan assay metabolit sekunder
Memahami fenomena vikariasi metabolit di dalam suatu tanaman Memahami prinsip dasar
keanekaragaman golongan metabolit ditinjau dari aspek biosintesis Memahami jalur
biosintesis dan assay kandungan tumbuhan golongan poliketida (asam lemak, poliketida
aromatik, lipid dan lipid tak tersabunkan,
asetogenin) ( Memahami jalur
biosintesis dan assay kandungan tumbuhan golongan fenol Memahami jalur
biosintesis dan assay
1. Biosint esis dan assay poliketida 2. Biosintesis dan assay senyawa fenol 3. Biosintesis dan assay terpenoid 4. Biosintesis dan assay flavonoid 5. Biosintesis dan assay alkaloid 6. Biosintesis dan assay glikosida Multimedi a/ Laptop, LCD/ proyektor 1. Anonim, Materia Medika, semua jilid, Departemen Kesehatan RI 2. Anonim, 1985, Cara Pembuatan Simplisia, Departemen Kesehatan Republik SGD, Ujian MID Modul, Ujian Akhir Modul, OSPI Tugas Core Disiplin: Suplement ary disiplin:
kandungan tumbuhan golongan terpenoid melalui jalur mevalonat (hemiterpen, monoterpen, monoterpen irregular, aneka minyak atsiri, seskuiterpena, diterpena, triterpena, tetraterpena) Memahami jalur
biosintesis dan assay kandungan tumbuhan golongan flavonoid (flavanon, flavanol, flavon, flavonol, isoflavon, antosianidin, kalkon, auron)
Memahami jalur biosintesis dan assay kandungan tumbuhan golongan alkaloid dan aromatik (asam benzoat dan derivatnya, asam sinamat dan derivatnya, lignan dan lignin,
fenilpropana, senyawa C3-C6 asam benzoat, kumarin dankromon)
Memahami jalur biosintesis dan assay kandungan tumbuhan golongan glikosida (glikosida sederhana (fenolik), glikosida triterpena/saponin, glukosinolat) Indonesia, Jakarta 3. Anonim, 2003, WHO Guidelines On Good Agricultural And Collection Practices (GACP) For Medicinal Plants, WHO, Geneva- 4. Anonim, 1998, Quality Control Methods for Medicinal Plant Materials, WHO Library Cataloguing in Publication Data, Geneva
LBM 2 Proses pengeringan dan alat-alat pengeringan 16 jam/ 800 menit
Agar mahasiswa mampu memahami Proses pengeringan dan alat-alat pengeringan
Memahami cara panen tanaman obat
Memahami pengelolaan pasca panen tanaman obat Memahami metode
dan cara-cara ekstraksi senyawa bahan alam Memahami tentang
cairan penyari dan cara-cara penyarian Memahami perbedaan
dan keunggulan cara-cara penyarian Memahami proses
penguapan dan jenis alat-alat penguapan Memahami cara penyarian dingin (maserasi, perkolasi, reperkolasi bertingkat) Memahami tentang
cara penyarian panas (infundasi, dekoktasi, destilasi untuk minyak atsiri, penyarian berkesinambungan) Memahami metode dan cara-cara fraksinasi senyawa bahan alam Memahami cara
isolasi senyawa dari
1. Cara panen dan pengelolaan pasca panen 2. Proses ekstraksi senyawa bahan alam I 3. Proses ekstraksi senyawa bahan alam II (metode ekstraksi) 4.Fraksinasi senyawa bahan alam Multi media/ Laptop , LCD/ proyek tor 5. Anonim, 2000, Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat, Dep Kes
RI,Jakarta 6. Anonim, 1985, Medicinal Herbs Index in Indonesia, Jilid I, PT Eisai Indonesia, Jakarta 7. Anonim, 1985, Tanaman Obat Indonesia,
Jilid I, Dep. Kes. RI, Jakarta 8. Anonim, 1995, Medicinal Herbs Index in Indonesia, Jilid II, PT Eisai SGD, Ujian MID Modul , Ujian Akhir Modul , OSPI
bahan alam dengan penunjuk bioassay Memahami cara
pemisahan dan
pemurnian hasil isolasi senyawa dari bahan alam Memahami peran metabolit sebagai penemuan dan pengembangan obat baru Indonesia, Jakarta 9. Aulton, M.E., 1994, Pharmaceutics, The Science of Dosage Forms Design, ELBS., Edinburg 10. Ansel, H.C., Popovich, N.G. and Allen Jr., L.V., 1999, Pharmaceutical Dosage Forms and Drug Delivery System, William & Wilkins, Parkway PA. LBM III Proses saintifikasi jamu 16 jam/ 800 menit
Agar mahasiswa mampu memahami Proses saintifikasi jamu
Memahami karakterisasi senyawa bahan alam secara spesifik dan non spesifik Memahami cara deteksi
dengan reaksi warna, reaksi pengendapan maupun kromatografi kertas/ KLT Memahami pentingnya
melakukan standarisasi simplisia, ekstrak, dan produk herbal
Memahami teknik standari sasi simplisia, ekstrak dan produk herbal
Memahami prinsip melaksa
nakan standarisasi simplisia, ekstrak, dan produk herbal Memahami dan menjelas
kan metabolit profiling pada tumbuhan
Memahami dan menjelaskan penentuan struktur metabolit sekunder dengan metode spektroskopi
Memahami prinsip penentu an senyawa marker metabo lit sekunder
Memahami dan menjelas
1.Karakterisas i dan standarisasi senyawa bahan alam (spesifik, non spesifik) 2. Penetapan senyawa marker, analisis sidik jari dan metabolic profiling Multi media/ Laptop , LCD/ proyek tor SGD, Ujian MID Modul , Ujian Akhir Modul , OSPI
kan teknik analisis kuantitatif pada penetapan kadar senyawa marker dalam tumbuhan
Memahami prinsip kehalal an pada produk-produk herbal
Memahami kontroversi- kontroversi seputar kehalal an pembuatan produk herbal Memahami cara notifikasi
produk halal dari bahan herbal 3. IDI : Kehalalan produk herbal LBM IV Desain formulasi bahan alam sediaan semi solid 16 jam/ 800 menit
Agar mahasiswa mampu menjelaskan Desain formulasi bahan alam sediaan semi solid
Memahami desain formulasi fitofarmasi sediaan solid, likuid, semi solid
Memahami tentang aspek dasar pembuatan obat tradisional yang baik. Memahami teknologi yang digunakan pada produksi produk herbal di industri
Memahami proses produksi obat tradisional yang baik.
Memahami persyaratan personalia dalam pembuatan obat tradisional yang baik. Memahami persyaratan
bangunan dalam pembuatan obat tradisional yang baik.
1. Formulasi dan teknologi sediaan bahan alam 2. CPOTB 3.Bioteknolgi tanaman obat 4.Etnofarmasi dan nutrasetikal Multi media/ Laptop , LCD/ proyek tor SGD, Ujian MID Modul , Ujian Akhir Modul , OSPI
Memahami persyaratan peralatan dalam pembuatan obat tradisional yang baik. Memahami persyaratan
sanitasi dan hygiene dalam industri obat tradisional
Memahami sistem pengawasan mutu dalam pembuatan obat tradisional yang baik. Memahami tahapan
verifikasi pembuatan obat tradisional yang baik.
Memahami proses inspeksi diri yang dilakukan dalam pembuatan obat tradisional yang baik. Memahami tentang
dokumentasi dalam pembuatan obat tradisional yang baik dan dapat melaksanakan penyusunan Dokumen Induk Industri Obat Tradisional (DI-IOT) dengan baik. Memahami proses penanganan terhadap hasil pengamatan produk jadi di peredaran.
Memahami aspek pemastian mutu dalam pembuatan obat tradisional yang baik. Memahami kerusakan fisik, perubahan warna dan penurunan kadar zat aktif dari sediaan cream ekstrak herbal Memahami jenis-jenis bioteknologi di bidang farmasi Memahami metode-metode bioteknologi di bidang farmasi Menjelaskan dan memahami etnofarmasi dan pengembangannya Menjelaskan dan memahami nutrasetikal (pengertian, manfaat, keamanan dan contohnya) Menjelaskan dan memahami perbedaan nutrasetikal dengan health supplement
B. Metode Pembelajaran dan Bentuk kegiatan:
Metode pembelajaran PBL (Problem based learning) terdiri dari: 1. Tutorial
Tutorial merupakan pembimbingan kelas oleh seorang pengajar (tutor) untuk seorang mahasiswa atau sekelompok kecil (10-12) mahasiswa. Proses ini merupakan proses interaksi saling bertukar pendapat, dan atau saling mempertahankan pendapat dalam pemecahan masalah sehingga didapatkan kesepakatan diantara mereka. Pembelajaran yang menggunakan metode tutorial merupakan pembelajaran yang bersifat interaktif.
2. Kuliah Pakar
Kuliah merupakan proses pemberian informasi edukatif dari seorang ahli kepada mahasiswa yang diharapkan akan membentuk fondasi akademik bagi mahasiswa.
3. Praktikum/Skill lab
Metode praktikum adalah metode mengajar dimana mahasiswa melakukan kegiatan percobaan untuk membuktikan teori yang telah dipelajari memang memiliki kebenaran.
4. Belajar mandiri
Kegiatan ini adalah kegiatan aktif dari mahasiswa untuk menjawab issues-issue yang telah diberikan selama perkuliahan, termasuk tugas-tugas dari dosen ataupun dari praktikum. 5. Journal Reading
Pada metode ini, mahasiswa diajarkan untuk mereview, menganalisa journal-journal pilihan farmasi dan mengevaluasinya sesuai dengan kebutuhan perkuliahan.
C. PERENCANAAN EVALUASI PEMBELAJARAN 1. Hasil Pembelajaran
Hasil pembelajaran dapat diukur dari evaluasi kemampuan mahasiswa yang diperoleh selama proses pembelajaran. Komponen evaluasi meliputi Tutorial (Kemampuan menganalisa dan memecahkan permasalahan kefarmasian, keaktifan bertanya, menjawab serta penguasaan materi), tugas, ujian MID modul, ujian akhir modul dan OSPI. Disamping itu monitoring dan umpan balik dari mahasiswa diharapkan dapat memantau selama proses pembelajaran (berupa kuesioner dan kritik saran dari mahasiswa)
2. Penilaian (student assessment) Bobot penilaian:
Tutorial : 15 %
Ujian MID Modul : 20 % Ujian Akhir Modul : 35 % Praktikum/Skill Lab : 30 %
3. Penetuan Kelulusan dan Penetapan Nilai Kedalam Huruf
a. Nilai Huruf mahasiswa yang dinyatakan “LULUS” adalah di mulai dari BC, B, AB, A. b. Nilai Huruf Mahasiswa yang dinyatakan “TIDAK LULUS” adalah dimulai dari C, D, E
dan berhak untuk mengikuti program remedial.
D. DAFTAR PUSTAKA
1. Anonim, Materia Medika, semua jilid, Departemen Kesehatan RI
2. Anonim, 1985, Cara Pembuatan Simplisia, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta
3. Anonim, 2003, WHO Guidelines On Good Agricultural And Collection Practices (GACP) For Medicinal Plants, WHO, Geneva-
4. Anonim, 1998, Quality Control Methods for Medicinal Plant Materials, WHO Library Cataloguing in Publication Data, Geneva
5. Anonim, 2000, Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat, Dep Kes RI,Jakarta
6. Anonim, 1985, Medicinal Herbs Index in Indonesia, Jilid I, PT Eisai Indonesia, Jakarta
7. Anonim, 1985, Tanaman Obat Indonesia, Jilid I, Dep. Kes. RI, Jakarta
8. Anonim, 1995, Medicinal Herbs Index in Indonesia, Jilid II, PT Eisai Indonesia, Jakarta
9. Aulton, M.E., 1994, Pharmaceutics, The Science of Dosage Forms Design, ELBS., Edinburg
10. Ansel, H.C., Popovich, N.G. and Allen Jr., L.V., 1999, Pharmaceutical Dosage Forms and Drug Delivery System, William & Wilkins, Parkway PA.
11. Banker, G.S. and Rhodes, C.T., 2002, Modern Pharmaceutics, 4th Ed., Marcel Dekker Inc., New York.
12. Bisset, N.G., 1994, Herbal and Phytopharmaceutical, Medpharm Scientific Publ, Stutgart
13. Brunnteon, J., 1999, Pharmacognosy, Phytochemestry, Medicinal Plants, Intercept Ltd.
14. Dewick, P.M., 1997, Natural Products in Medicines, John Wiley & Sons.
15. Dewick, P.M., 2002, Medicinal Natural Products – A Biosynthetic Approach, John Wiley & Sons, Chicester-New York-Weinheim-Brisbane-Singapore-Toronto
16. Gaedcke F., Steinhoff B., Blasius H., 2003, Herbal Medicinal Products, Medpharm Scientific Publisher, Stuttgart
17. Harborne J.B., 1993, Phytochemical Methods, Chapmann & Hall, London
18. Houghton P.J., 1998, Laboratory Handbook for Fractionation of Natural Extracts, Thomson, Science, New York
19. Jork H., Funk W., Fischer W., Wimmer H., 1990, Thin Layer Chromatography, Reagents and Detection Methods, VCH Verlagsgesellschaft, Weinheim
20. List, P.H., Schmidt, P.C., 1989, Phytopharmaceutical Technology, CRC Press.Boston
21. Mann, J. 1992, Secondary Metabolism, Clarendon Press, Oxford
22. Markham K.R., 1982, Techniques of Flavonoid Identification, Academic Press Inc., Lond
23. Robinson T., 1991, The Organic Constituents of Higher Plants, Chapmann and Hall, London
24. Samuelson, G., 1998, Drugs of Natural Origin, 4th revised ed., Apotekarsocietten, Sweden
25. Syamsuhidayat, S.S., dan Hutapea, J.R., Inventaris Tanaman Obat Indonesia I, Dep. Kes. RI, Jakarta
26. Sudarsono, Didik Gunawan, Subagus Wayuono, Imono Argo Donatus, dan Purnomo, 2002, Tumbuhan Obat I dan II, PPOT-UGM, Yogyakarta.
27. Swarbrick, J. and Boylan, J. C., 1990, Encyclopedia of Pharmaceutical Technology, Marcel Dekker Inc., New York
28. Youngken, H.W., Pharmaceutical Botany, The last Ed., Blackiston Co., Philadelphia
29. Watt, J.M., and Breyer-Brandwijk, R., 1962, The Medicinal and Poisonous Plants of Southern and EasternAfrica, 2nd. Ed., Livingstone Ltd., London.
Dibuat oleh Diperiksa oleh Disetujui oleh
Nama : Rina W, MSc,
Apt Nama : Rina W, M.Sc, Apt
Nama: Arifin S, M.Sc, Apt