63 4.1 Profil Perusahaan
4.1.1 Sejarah Singkat Perusahaan
PT Asuransi AIA Indonesia adalah suatu perusahaan yang bergerak di dalam bidang industri Asuransi Jiwa, pada awalnya didirikan dengan nama PT ASURANSI JIWA IKRAR ABADI dan didirikan pada tahun 1975 oleh usahawan-usahawan terkemuka Indonesia. Seiring berjalannya waktu maka perusahaan menjalin kerjasama Joint Venture dengan American International Assurance Co., Ltd (AIA) dan merupakan perusahaan asuransi patungan pertama di Indonesia. PT Asuransi AIA Indonesia mempunyai kantor pusat di Gedung Bank Panin Senayan Lt. 7 & 8, Jl. Jend. Sudirman No. 1, Jakarta 10270.
Usaha patungan ini telah menyatukan keunggulan dari berbagai jaringan dan pengetahuan global AIA maupun pengetahuan yang luas mengenai kebudayaan dan lingkungan bisnis yang diberikan oleh rekan patungan dari Indonesia. Pada tahun 1991 perusahaan PT Asuransi Jiwa Ikrar Abadi mengganti namanya menjadi PT Asuransi AIA Indonesia untuk lebih mencerminkan identitas rekannya yang lebih senior, yaitu AIA. Sampai akhir 2005 lalu, AIA Indonesia mengelola aset kurang lebih senilai Rp. 3,575 triliun, dengan tingkat Risk Based Capital (RBC) 258 %.
Mitra asing PT Asuransi AIA Indonesia, American International Assurance Co., Ltd.
(AIA) adalah merupakan perusahaan asuransi multi bidang usaha terbesar di Asia yang pada tahun 2002 yang lalu, "Time & Fortune Global Financial Images" menganugerahi AIA gelar
"No#1 Life Insurance Company" dalam berbagai aspek penilaian, dan sampai sekarang telah melayani wilayah dunia ini lebih dari 70 tahun sejak lahirnya tahun 1931 di Shanghai, China.
Berkantor pusat di Hongkong, AIA memiliki kantor-kantor cabang dan perusahaan-
perusahaan patungan di Hongkong, China, Macau, Malaysia, Thailand, Singapura, Brunei, Guam, Indonesia, Taiwan, Filipina, Australia, Selandia Baru, Jepang, Korea, dan Kanada.
AIA adalah salah satu anggota perusahaan dari American International Group, Inc. (AIG), yaitu suatu perusahaan jasa keuangan dan penilai risiko terbesar dalam perlindungan komersil dan industri di Amerika, yang menjadi pemimpin di industrinya. AIG berkantor pusat di New York, Amerika dan anggota-anggota perusahaannya bergerak dalam bidang asuransi jiwa, kecelakaan, harta benda, pelayaran dan pelayanan permodalan dihampir 130 negara dan wilayah hukum di seluruh dunia. Perusahaan anggota AIG melayani nasabah perorangan, institusi, maupun perdagangan melalui jaringan asuransi jiwa dan kerugian paling luas dan mendunia. Selain itu AIG juga merupakan penyelenggara terbesar di bidang dana pensiun, jasa keuangan dan pengelolaan asset di dunia. Bisnis pelayanan jasa keuangan AIG juga bergerak di bidang leasing pesawat terbang, produk jasa keuangan, perdagangan dan penciptaan pasar saham. Bisnis keuangan AIG yang terus mendunia dan dijalankan oleh American General Finance telah menjadi pemimpin pasar di Amerika Serikat.
AIG juga memiliki satu dari perusahaan dana pensiun terbesar lewat AIG SunAmerica dan AIG VALIC, serta merupakan pemimpin pasar dalam pengelolaan aset individu maupun institusi, dengan spesialisasi dalam mengelola investasi pada saham, instrumen berpendapatan tetap, investasi alternatif dan real estat. Saham AIG terdaftar di Amerika Serikat, yaitu di New York Stock Exchange dan ArcaEx serta tercatat pula di bursa saham di London, Paris, Swiss dan Tokyo. AIG memperoleh peringkat tertinggi AAA dari Standard &
Poor’s, Aaa dari Moody’s dan A++ (Domestic Property Casualty Companies) dari A.M. Best Co., untuk kekuatan keuangan, kepercayaan, pelayanan pelanggan dan pangsa pasarnya.
Adapun susunan badan pengurus PT Asuransi AIA Indonesia adalah sebagai berikut : DEWAN KOMISARIS
Presiden Komisaris : Edmund Sje Wing Tse
Wakil Presiden Komisaris : Melinda Chairyah Diah Komisaris : Greg R. S. Crichton DIREKSI
Presiden Direktur : Harry Harmain Diah Wakil Presiden Direktur : Gerald Walter Wyndorf
Direktur : Supardi Suparman
Direktur : Daniel Michael Jensen Direktur : Stephen Anthony Appleyard
Pemilik PT Asuransi AIA Indonesia adalah American International Assurance Co, Ltd.
Hong Kong 60% dan PT Bina Asetanusa 40%.
4.1.2 Manajemen dan Organisasi
Pada dasarnya setiap jenjang pimpinan dalam perusahaan mempunyai batas-batas tanggung jawab terhadap pengendalian intern. Adapun bentuk organisasi pada PT Asuransi AIA Indonesia ini adalah jenis Organisasi Garis. Pada jenis organisasi ini, garis bersama dari kekuasaan dan tanggung jawab bercabang pada setiap pimpinan dari yang teratas sampai yang terbawah. (lihat lampiran)
Setiap atasan mempunyai sejumlah bawahan tertentu dan masing-masing memberi pertanggung-jawaban tugasnya kepada atasan tersebut. Di sini seseorang bertanggung jawab kepada satu orang atasan saja. Oleh karena itu setiap atasan dituntut untuk berpengetahuan serba guna.
Secara skematis, uraian tugas dan tanggung jawab daripada PT Asuransi AIA Indonesia dapat dijabarkan sebagai berikut :
1. President Director
Bertugas dan bertanggung jawab paling akhir untuk pengawasan umum dan pengawasan manajemen, tanpa terlalu banyak terlibat dalam seluk beluk atau hal-hal kecil perusahaan. Untuk itu, President Director harus melakukan hal-hal sebagai berikut : memahami secara umum bagaimana sistem pencatatan akuntansi, melalui pemeriksaan dapat meyakinkan diri bahwa terdapat sistem pengendalian intern yang baik, adanya kepastian bahwa sistem pengendalian intern cukup efektif dan mantap untuk memberikan perlindungan terhadap aktiva perusahaan, adanya suatu kode etik yang disusun secara teliti untuk mengatur perilaku para staf dan karyawan perusahaan dan memikul tanggung jawab terakhir untuk mengawasi ketaatan pimpinan dan para karyawan lainnya sesuai aturan-aturan yang berlaku.
2. Senior Vice President (SVP), General Manager (GM) & Director
Bertugas dan Bertanggung jawab terhadap pengendalian intern akuntansi yang efektif.
Adapun kegiatan yang harus dilakukan adalah sebagai berikut : bertanggung jawab atas seluruh fungsi manajemen dari perusahaan, menetapkan kebijakan operasional dan pedoman interaksi perusahaan dengan lingkungannya, memberikan motivasi, bimbingan dan nasihat kepada bawahan, mengambil tindakan perbaikan bila perusahaan menghadapi kesulitan, membuat keputusan atau persetujuan atas segala keputusan penting dalam perusahaan, memecahkan masalah dengan cara-cara tertentu yang dapat memberikan keuntungan dan manfaat bagi perusahaan, serta melakukan perundingan dengan serikat pekerja, klien, mitra bisnis dan pihak lainnya.
3. Legal
Bertanggung jawab seputar masalah hukum, penyelesaian arbitrase/perselisihan, dan permasalahan hak dan kewajiban perusahaan, juga berhubungan dengan hal kepatuhan (compliance).
4.a. Assistant Vice President – Director of Agency Region I (West Zone)
Bertugas dan bertanggung jawab untuk melakukan fungsi manajemen dan pengelolaan kantor penjualan di wilayah barat Indonesia, antara lain : Jakarta, Medan, Pekanbaru, Jambi, Bengkulu, Palembang, Lampung, Bogor, Batam, Padang, Belitung.
Tujuannya untuk meningkatkan penjualan jasa dan produk serta pengembangan usaha lebih lanjut di wilayah barat Indonesia.
4.b. Assistant Vice President – Director of Agency Region II (Central Zone & East Zone)
Bertugas dan bertanggung jawab untuk melakukan fungsi manajemen dan pengelolaan kantor penjualan di wilayah tengah dan timur Indonesia, antara lain : Surabaya, Pontianak, Yogyakarta, Semarang, Bandung, Bali, Cirebon, Kediri, Solo, Singkawang, Balikpapan, Makassar, Manado, Palu, Tarakan. Tujuannya untuk meningkatkan penjualan jasa dan produk serta pengembangan usaha lebih lanjut di wilayah tengah dan timur Indonesia.
4.c. Agency Training
Melakukan kegiatan pelatihan untuk para agen baru yaitu Foundation Class (FC), pelatihan agency forces yang lama yaitu Unit Link Training untuk investasi, Market Conduct untuk praktek etika agen & leader yang baik, Know Your Costumer (KYC) untuk Anti Money Laundering dan workshop seperti Selling Process untuk cara menjual, Cross Road Training pelatihan untuk calon Leader yaitu Unit Manager (UM) &
Agency Manager (AM) Training, disamping itu ada juga Revitalization Class untuk
motivasi dan pemulihan kembali para agen lama yang sudah tidak aktif. Semua pelatihan dan workshop ini diselenggarakan oleh American International Training (AIT), dimana AIT ini juga melakukan pelatihan dan workshop kepada perusahaan AIG Lippo, yang merupakan salah satu sister company AIA Indonesia.
4.d. Career Agency Program (CAP)
Bertugas dan bertanggung jawab dalam hal perekrutan para agen dan leader baru yang diselenggarakan melalui kegiatan Career Opportunity Presentation (COP), serta pembinaan karier dari agency forces yang telah ada.
5.a. Marketing & Product Development
Bertugas dan bertanggung jawab dalam strategi pemasaran dan pengembangan produk, melakukan diversifikasi produk dengan mengeluarkan produk baru yang lebih baik dan kompetitif sesuai permintaan pasar, serta di sisi lain menghilangkan produk lama yang sudah tidak sesuai lagi dengan keadaan pasar. Disamping itu tugas ini juga berhubungan erat dengan pengambilan keputusan melalui strategi pemasaran untuk memberikan incentive, bonus dan motivasi kepada para agen dan leader untuk meningkatkan target penjualannya melalui produk baru yang lebih baik dan bersaing.
5.b. Agency Record
Bertugas dan bertanggung jawab dalam pengelolaan, pencatatan, pendataan dan pengarsipan record – record para agen dan leader. Data yang ada dimanipulasi sedemikian rupa untuk berbagai keperluan perusahaan, misalnya untuk menentukan target penjualan yang harus dicapai oleh para agen dan leader, total produksi yang telah dihasilkan sampai dengan periode waktu tertentu, dan informasi penting untuk menentukan tambahan komisi, bonus, ataupun incentive lainnya sesuai dengan prestasi para agen dan leader.
5.c. Actuarial
Menangani teori-teori kemungkinan akan risiko yang dihadapi dan fungsi statistik dalam hubungannya dengan industri asuransi. Tugasnya dapat meluas kepada masalah penghitungan premi, hasil usaha dalam jangka pendek maupun panjang, juga terlibat dalam tugas eksekutip perusahaan.
5.d. Corporate Communication & Promotion
Bertugas dan bertanggung jawab dalam hal promosi melalui berbagai media seperti media cetak koran dan majalah, media televisi, media internet/website, iklan billboard / papan reklame, brosur, spanduk, leaflet, dan lain sebagainya, lewat berbagai kegiatan promosi baik yang sifatnya komersil seperti business dinner, maupun sosial seperti acara amal atau bakti sosial menyantuni anak panti asuhan, anak jalanan, korban bencana alam, dan lain-lain. Gunanya adalah untuk lebih mempublikasikan dan mempromosikan perusahaan kepada masyarakat luas. Disamping itu juga melakukan tugas hubungan masyarakat (humas) yaitu komunikasi atau penyampaian pesan, kesan, dan pernyataan ataupun berita informasi kepada khalayak ramai, baik untuk kalangan intern maupun ekstern perusahaan, yaitu mengenai isu-isu yang sedang berkembang di pasar asuransi ataupun isu yang beredar di dalam perusahaan dan memberikan klarifikasi apabila diperlukan, gunanya adalah untuk menjaga kredibilitas perusahaan sehingga kepercayaan dan citra, serta nama baik perusahaan tetap terjaga.
6. Assistant Vice President – Information Technology and Data Center (AVP IT
& DC)
Bertugas dan bertanggung jawab dalam pengawasan pusat data dan manajemen sistem informasi, pemeliharaan website www.aia.co.id, kelancaran komunikasi via
jaringan internet untuk akses keluar perusahaan dan jaringan intranet untuk akses kedalam perusahaan, dengan pemakaian fasilitas email, teleconference, dll.
6.a. Data Center
Bertugas dan bertanggung jawab dalam masalah penerapan teknologi informasi (TI) dan mengelola pusat data perusahaan yaitu dengan cara memperbarui (update) data, penyediaan, dan pendistribusian data di pusat komputer dengan cepat dan dapat diandalkan (reliable), pemeliharaan dan pengelolaan jaringan intranet perusahaan.
6.b. Management Information System
Menangani manajemen sistem informasi teknologi dalam pendistribusian data informasi di perusahaan. Tugas-tugasnya antara lain adalah instalasi jaringan, pemeliharaan jaringan dengan menjaga kelancaran komunikasi data antar komputer workstation dengan pusat komputer (server) perusahaan atau dengan komputer workstation lainnya, baik di pusat AIA jakarta, maupun dengan jaringan komputer di seluruh kantor-kantor AIA lainnya di Indonesia dan di seluruh dunia melalui koneksi internet. Dengan lancarnya pemrosesan dan komunikasi data maka jarak kantor- kantor yang saling berjauhan tidak menjadi masalah, dan memudahkan dalam pengambilan keputusan.
7. Assistant Vice President – Operations
Bertugas dan bertanggung jawab dalam hal pengawasan operasional bagian-bagian yaitu sebagai berikut : bagian Underwriting & Inforce (U&I), bagian Policy Owner Services (POS), bagian Claim dan bagian Accident & Health, agar semua bagian-bagian tersebut dapat menjalankan fungsi manajemen dengan efektif dan efisien demi mencapai tujuan perusahaan. Di samping itu departemen ini juga bekerja sama dengan bagian Customer Service untuk memberikan asistensi pelayanan yang terbaik setelah perusahaan melakukan penjualan suatu polis kepada para nasabah.
7.a. Underwriting & Inforce (U & I)
Bertugas dan bertanggung jawab untuk menentukan diterima atau tidaknya risiko untuk penutupan asuransi (closing) atas permohonan asuransi yang diajukan oleh calon tertanggung. Bertugas menyeleksi risiko untuk kepentingan asuransi dan sekalian menentukan berapa nilai dan persyaratan apa saja yang harus dikenakan kepada risiko tertentu, misalnya apakah calon tertanggung perlu dilakukan pemeriksaan medis terlebih dahulu, baik oleh dokter AIA ataupun bekerjasama dengan rumah sakit / klinik yang ditunjuk, juga pengisian kuesioner dari calon tertanggung untuk menyeleksi risiko yang dihadapi.
Kegiatan lainnya adalah menangani polis yang inforce, yaitu polis yang akan segera jatuh tempo pembayarannya pada tanggal tertentu setiap tahun sekali, atau enam bulanan sekali atau triwulanan sekali. Disamping itu U&I juga melakukan penilaian kembali apakah seseorang dapat diproteksi ulang atau dilanjutkan proteksinya khusus hanya untuk asuransi kesehatan dan asuransi kecelakaannya kalau ada, yaitu menyesuaikan premi yang dibayar dengan risiko yang dihadapi, misalnya usia yang makin bertambah tua, penyakit yang pernah diklaim, kecelakaan yang pernah dialami, dan lain sebagainya. Apabila risiko yang dihadapi semakin besar maka perusahaan berhak menolak perpanjangan polis. Sedangkan untuk asuransi jiwa umumnya tidak ada penyesuaian premi lagi dari sejak pembayaran pertama karena sudah terikat kontrak perjanjian di dalam polis.
7.b. Policy Owner Services (POS)
Bertugas dan bertanggung jawab untuk melayani semua polis asuransi yang telah diterbitkan oleh AIA Indonesia, secara fisik yaitu polis hilang, rusak, perubahan- perubahan, antara lain alamat, tanda tangan, nama tertanggung, ahli waris, jenis
pembayaran, jenis mata uang, penambahan/pengurangan uang pertanggungan, penambahan/pengurangan faedah tambahan, dan perubahan jenis pertanggungan.
Pelayanan secara substansi/isi perjanjian kontrak dalam polis adalah POS memberikan pelayanan antara lain yaitu review deskripsi atas produk yang telah dibeli, melakukan penghitungan kupon (coupon), deposit, bonus-bonus yaitu bonus jatuh tempo, bonus putus kontrak, bonus tahunan, deviden, nilait tunai, Faedah Polis Ekstra (FPE), Enhanced Cash Value (ECV), atas polis yang telah berjalan, melakukan penghitungan jumlah rupiah yang dibayarkan kepada ahli waris apabila terdapat klaim meninggal ataupun yang dibayarkan kepada tertanggung apabila polis sudah selesai dibayar dan jatuh tempo atau selesai masa kontraknya (maturity). Disamping itu POS juga melakukan penghitungan jumlah denda yang harus dibayar oleh tertanggung apabila polis dalam status dibekukan (lapse) karena telat membayar premi, serta apabila ingin dipulihkan kembali menjadi aktif (reinstate), juga apabila terdapat pemutusan kontrak (surrender) karena tidak sanggup melunasi pembayaran premi lagi.
7.c. Claim
Bertugas dan bertanggung jawab untuk memproses klaim yang diajukan oleh ahli waris dari keluarga tertanggung yang telah meninggal. Sebelum didapat keputusan apakah klaim diterima ataupun ditolak, maka bagian claim diperbolehkan dan diberikan kuasa untuk melakukan pencarian data dan fakta yang telah terjadi sehubungan dengan klaim tersebut, misalnya pengecekan ke rumah sakit, rumah duka, Tempat Kejadian Peristiwa (TKP) apabila meninggal dalam kecelakaan/kejahatan, dokter yang merawat tertanggung sebelum meninggal, dan lain sebagainya. Apabila ditemukan itikad yang kurang baik dan tidak sahnya dokumen- dokumen yang diperlukan, maka bagian claim berhak menolak klaim yang diajukan dengan memberikan pernyataan secara tertulis, dilampiri dengan fakta-fakta yang ada
dan ditemukan di lapangan. Bekerjasama dengan bagian legal (hukum) perusahaan apabila upaya mencari mufakat tidak ditemui dan dilanjutkan dengan sengketa di pengadilan. Umumnya proses klaim di AIA Indonesia, targetnya adalah sekitar 2 minggu (kerja) dapat diselesaikan, yaitu terhitung dari diterimanya semua dokumen secara lengkap.
7.d. Accident & Health (A&H) Operation
Bertugas dan bertanggung jawab dalam pengelolaan polis asuransi kecelakaan dan kesehatan, membantu bagian claim untuk kelancaran proses klaim kecelakaan dan kesehatan, penghitungan penggantian biaya medis (reimburse/provider) yang akan dibayarkan kepada tertanggung/ahli waris untuk kecelakaan biasa, maupun kecelakaan yang mengakibatkan cacat total, cacat tetap ataupun meninggal dunia.
Demikian juga untuk penggantian biaya medis terhadap asuransi kesehatan yaitu penggantian biaya rawat inap dan pelayanan rumah sakit lainnya selama tertanggung/pasien tersebut menjalani perawatan.
8. Vice President - Comptroller
Bertugas dan bertanggung jawab dalam melakukan pengawasan atas kebijakan keuangan, kebijakan akuntansi dan kebijakan fiskal perusahaan.
8.a. Operations Tax, Pension, Local Reporting
Bertugas dan bertanggung jawab dalam pengelolaan pajak perusahaan, dana pensiun pegawai, menangani masalah hutang-piutang perusahaan dan bekerja sama dengan bagian akuntansi untuk melakukan pencatatan data kegiatan atau transaksi harian perusahaan, menyajikan laporan keuangan dalam perusahaan yang digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan-keputusan finansial yang diperiksa oleh President Director untuk kemudian dibahas dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).
8.b. Budget & Head Office (HO) Reporting Collection
Bertugas dan bertanggung jawab dalam pengaturan anggaran belanja perusahaan, serta melakukan pencatatan dan pelaporan data kegiatan penting, melakukan analisis laporan keuangan yang dikonsultasikan dengan kantor pusat seluruh AIA yang bermarkas di Hongkong, untuk pemecahan masalah-masalah yang sangat penting dan masukan-masukan penting untuk pengambilan keputusan perusahaan.
9. Vice President – Administration
Bertugas dan bertanggung jawab antara lain dalam hal tugas-tugas administrasi dan akuntansi seperti menangani dan mencatat pengeluaran dan penerimaan kas kecil, memeriksa, menggolongkan dan mencatat bon-bon pengeluaran, menangani voucher pembelian, melakukan pembayaran transaksi dalam jumlah kecil, misalnya : akomodasi kantor/penyewaan gedung, pembayaran tagihan-tagihan rutin bulanan seperti telepon, listrik, air dan pembelian alat-alat kantor, serta membayar gaji pegawai setiap bulannya.
9.a. Human Resources & General Service (HR & GS) 9.a.i. Human Resources
Melakukan perekrutan staf dan karyawan baru, pembinaan sumber daya manusia para staf dan karyawan melalui pelatihan dan seminar, bekerja sama dengan bagian training untuk melakukan pelatihan dan motivasi semangat kerja karyawan, bekerja sama dengan bagian administrasi/keuangan misalnya untuk pembayaran gaji pegawai setiap bulan.
9.a.ii. General Service
Melakukan tugas-tugas kesekretariatan, pengarsipan dan filling dokumen-dokumen penting, menangani urusan pembelian barang-barang untuk keperluan perusahaan, menangani hal-hal yang berkenaan dengan urusan intern perusahaan seperti absensi,
penerimaan pegawai baru (recruitment) bekerjasama dengan departemen sumber daya manusia.
9.b. Property
Bertugas dan bertanggung jawab dalam hal pengelolaan property atau kekayaan milik perusahaan. Misalnya melakukan pencatatan dan pendataan atas kekayaan perusahaan yang telah ada, pembelian dan penjualan asset-asset milik perusahaan.
9.c. Administration Training
Melakukan pelatihan untuk hal-hal yang berhubungan dengan tugas-tugas administrasi perusahaan, dengan memakai trainer baik dari dalam maupun dari luar perusahaan.
10. Vice President - Agency General Manager (VP - AGM)
Bertugas dan bertanggung jawab dalam hal pengawasan departemen-departemen agency yaitu sebagai berikut : Departemen Group, Pension, Accident & Health, Investasi, Bancassurance dan Credit Life, agar semua departemen tersebut dapat menjalankan fungsi manajemen dengan efektif dan efisien demi mencapai tujuan perusahaan.
10.a. Assistant Vice President – Group & Work Site Marketing (AVP – Group &
WSM)
Menangani penjualan produk dan pelayanan asuransi untuk para nasabah dengan status pekerjaan staf/karyawan/direksi maupun buruh tenaga kerja yang tergabung sekaligus dan bekerja di suatu perusahaan/organisasi (Asuransi Group / Kelompok).
Untuk saat ini AIA Indonesia menangani proteksi atas ratusan ribu karyawan yang bekerja di ribuan perusahaan/organisasi baik besar maupun kecil, contoh : asuransi karyawan Group Life, Hospital & Surgical, dan Accident dari perusahaan McDonald’s, Toshiba, Sharp, dll.
10.b. Pension
Menangani penjualan produk dan pelayanan asuransi untuk para nasabah dengan status pekerjaan staf/karyawan/direksi melalui Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK), yaitu asuransi dana pensiun bagi para nasabah yang terdiri atas staf/karyawan/direksi yang bekerja di suatu perusahaan/organisasi. Setelah membayar premi jaminan hari tua (JHT) selama si nasabah bekerja dalam masa produktif, maka pada saat masa pensiunnya dan di hari tuanya nasabah dapat menikmati dana pensiun yang telah jatuh tempo (maturity).
10.c. Accident & Health
Menangani penjualan produk dan layanan asuransi kecelakaan dan kesehatan bagi para nasabah yang membutuhkan proteksi atas kecelakaan diri baik penggantian biaya medis untuk kecelakaan biasa, maupun kecelakaan yang mengakibatkan cacat total, cacat tetap ataupun meninggal. Demikian juga untuk proteksi terhadap kesehatan diri yaitu penggantian biaya rawat inap di suatu rumah sakit, baik sakit biasa maupun sakit kritis, ataupun karena menjalani pembedahan dan perawatan rumah sakit, seperti biaya kamar, ICU, obat-obatan, anestesi, kunjungan dokter, maupun pelayanan rumah sakit lainnya, yaitu dengan cara mengganti biaya-biaya pengobatan atas kecelakaan / penyakit yang diderita.
10.d. Investment
Menangani penjualan produk dan layanan asuransi investasi, terutama pada produk yang berkaitan dengan Unit Link, yaitu hampir sama seperti produk reksadana yang ada di perbankan. Portofolio investasi yang didapatkan dari cara pooling atas semua setoran premi nasabah, dialokasikan di berbagai instrumen-instrumen investasi yang terkait, misalnya deposito, obligasi, pasar uang/valas, maupun saham, yang didiversifikasikan sedemikian rupa untuk meminimalkan risiko-risiko yang mungkin
muncul, dengan catatan memperhatikan toleransi setiap nasabah yang bersangkutan atas risiko yang mungkin dihadapi oleh nasabah tersebut.
10.e. Bancassurance
Menangani penjualan produk dan pelayanan atas produk-produk asuransi yang dipasarkan melalui bank-bank yang ada di Indonesia dan ditawarkan khususnya hanya kepada para nasabah-nasabah dari bank yang bersangkutan. Saat ini AIA Indonesia bekerjasama dengan Citibank, ABN Amro, dan HSBC untuk memasarkan produk dan layanan dalam jumlah varian yang terbatas, terutama adalah produk investasi yang sering ditawarkan kepada bank koresponden tersebut dengan ketentuan-ketentuan khusus.
10.f. Credit Life
Menangani penjualan produk dan pelayanan asuransi jiwa kredit dengan bekerjasama melalui berbagai perusahaan keuangan dan perbankan yang ada. Produk yang ditawarkan umumnya adalah proteksi terhadap jiwa seseorang (life insurance), dimana orang yang bersangkutan sedang mengadakan perjanjian kredit dengan lembaga keuangan seperti perusahaan leasing, ataupun perbankan, misalnya kredit untuk pembelian rumah. Apabila di tengah jalan dalam pembayaran cicilan kredit, nasabah meninggal dunia, maka uang klaim yang diterima dapat digunakan untuk melunasi semua kredit yang harus dibayar.
4.1.3. Bidang Usaha
Dengan pertumbuhan pasar di masa mendatang yang semakin berkembang, maka perusahaan AIA Indonesia didukung dengan manajemen dan teknologi yang kuat memasarkan berbagai macam produk handal dan pelayanan terbaik antara lain :
Asuransi Jiwa Perorangan (Prime Shield, Prime Protector, Prime Future, dll)
Asuransi Pendidikan / Bea Siswa (AIA Education)
Asuransi Investasi (AIA Invest dan AIA Link Plus)
Asuransi Jiwa dan Kesehatan Kelompok (Group Hospital & Surgical)
Asuransi Kecelakaan dan Kesehatan (Basic Guard, Safety Guard, Cross Guard, dll)
Asuransi Jiwa Kredit (Term)
Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK)
Melalui sejumlah kantor penjualan yang sedang berkembang pesat di seluruh Indonesia seperti Jakarta (6), Surabaya, Medan, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Pontianak, Balikpapan, Jambi, Pekanbaru, Bengkulu, Padang, Palembang, Lampung, Batam, Makassar, Solo, Denpasar, Manado, Cirebon, Palu, Kediri dan Bogor, didukung oleh 400 karyawan dan sejumlah 3.000 agen profesional yang berdedikasi, serta fasilitas pelatihan bermutu dan pelayanan nasabah terbaik telah membuat AIA Indonesia sering meraih berbagai penghargaan baik nasional maupun internasional, seperti penghargaan dari Majalah InfoBank, Majalah Investor, dan Bisnis Indonesia, serta dari Time dan Fortune Global Financial Images.
Klaim-klaim polis AIA Indonesia dapat juga diserahkan dan diproses di banyak tempat di dunia. Di Singapura, Malaysia, Hong Kong, Australia, dan Selandia Baru, nasabah akan memperoleh pelayanan penuh seperti yang mereka dapatkan di negara asal, termasuk pembayaran klaim, pembayaran premi, peminjaman dan putus kontrak. Ini berarti nasabah dapat memproses polis mereka melalui kantor-kantor AIA di luar negeri.
Kemampuan untuk bertahan dan mengembangkan diri dalam jangka waktu lama membuat PT Asuransi AIA Indonesia dipercaya oleh lebih dari 220.000 nasabahnya. Dalam hal pembayaran klaim dan manfaat maka AIA Indonesia selalu menjunjung tinggi kepentingan nasabah, karena selalu dapat menepati janji sehingga menumbuhkan kepercayaan masyarakat. AIA terbukti memiliki kredibilitas dan reputasi yang sangat baik
dalam mengelola dana secara profesional dan memperlakukan setiap pengajuan klaim (yang sah dan berdasarkan itikad baik) sebagai tanggung jawab utama yang harus dipenuhi. Jika seluruh perusahaan asuransi melakukan hal yang sama, tentu kepercayaan masyarakat terhadap asuransi akan semakin mendalam.
4.1.4 Lingkungan Bisnis Perusahaan - Model Lima Kekuatan dari Porter
Lingkungan bisnis PT Asuransi AIA Indonesia jika ditinjau dari analisis persaingan menurut Porter, hanya ada tiga dari lima kekuatan persaingan yang dapat dikaji antara lain : 1. Perseteruan di antara perusahaan yang bersaing
Di Indonesia banyak perusahaan asuransi yang berkembang dan memiliki keunggulan bersaing masing-masing. Menurut majalah InfoBank Juli 2006, PT Asuransi AIA Indonesia termasuk dalam kelompok perusahaan asuransi jiwa besar (dengan premi bruto Rp 500 miliar ke atas). Di Indonesia ada 10 perusahaan asuransi jiwa besar yang mampu menguasai 71,45% pasar asuransi jiwa Indonesia termasuk PT Asuransi AIA Indonesia.
Perusahaan asuransi jiwa besar lainnya, yang sekaligus menjadi pesaing PT Asuransi AIA Indonesia, antara lain AIG Life, AJB Bumiputera 1912, Prudential Life Assurance, Asuransi Jiwa Manulife Indonesia, Asuransi Jiwasraya, Indolife Pensiontama, AXA Mandiri Financial Services, Asuransi Jiwa Sequis Life, dan Asuransi Aliianz Life Indonesia (Djalil, 2006, p58).
Perusahaan-perusahaan asuransi jiwa penguasa pasar ini mempunyai strategi masing-masing dalam membidik segmen pasarnya.
Dari kesepuluh perusahaan asuransi jiwa besar tersebut, berdasarkan pangsa pasarnya, PT Asuransi AIA Indonesia berada di urutan keenam dengan pangsa pasar sebanyak 5,02%. Pangsa pasar tersebut dihitung berdasarkan jumlah premi bruto yang diterima sampai Desember 2005. Berikut adalah tabel Pangsa Premi Bruto Asuransi Jiwa,
yang akan menyajikan data fakta Biro Riset InfoBank mengenai besar
pangsa pasar yang dikuasai oleh masing-masing perusahaan asuransi jiwa besar di pasar asuransi jiwa Indonesia.
Tabel 4.1
Pangsa Premi Bruto Asuransi Jiwa Premi Bruto (Rp Juta)
No. Nama Perusahaan Desember
2004 Desember
2005 (%) Pangsa (%)
1 AIG Life 2.051.576 3.064.331 49,36 13,75
2 AJB Bumiputera 1912 3.035.440 2.982.926 -1,73 13,39 3 Prudential Life Assurance 1.561.393 2.145.896 37,43 9,63 4 Asuransi Jiwa Manulife Indonesia 1.045.684 1.476.323 41,18 6,63 5 Asuransi Jiwasraya 1.527.648 1.255.397 -17,82 5,63
6 Indolife Pensiontama 761.167 1.232.218 61,89 5,53
7 Asuransi AIA Indonesia 1.077.840 1.119.415 3,86 5,02 8 AXA Mandiri Financial Services 432.356 977.319 126,04 4,39 9 Asuransi Jiwa Sequis Life 696.271 834.829 19,90 3,75 10 Asuransi Allianz Life Indonesia 674.686 829.659 28,10 3,72 Total 10 perusahaan asuransi jiwa 12.837.061 15.918.312 24,00 71,45 Rata-rata 10 perusahaan asuransi jiwa 1.283.706 1.591.831 Total 34 perusahaan asuransi jiwa lainnya 5.265.341 6.361.272 20,81 28,55 Rata-rata 34 perusahaan asuransi jiwa lainnya 154.863 192.766 Total 44 perusahaan asuransi jiwa 18.102.402 22.279.584 23,08 100,00
Rata-rata 44 perusahaan asuransi jiwa 411.418 518.130
Sumber : Djalil, 2006, p59
AIG Life mencetak sekitar 60% preminya dari kegiatan bancassurance, yaitu kerja sama bisnis antara bank dan asuransi. Sedangkan 60% pendapatan premi AJB Bumiputera 1912 berasal dari produk asuransi pendidikan. Dan Prudential Life Assurance preminya sebagian besar dari produk-produk unitlink, yaitu produk proteksi risiko dan investasi.
Persaingan asuransi jiwa besar dalam kelompok 10 besar Indonesia, berdasarkan premi brutonya, memang sangat ketat. Perusahaan-perusahaan asuransi jiwa patungan dengan kekuatan teknologi, sumber daya manusia, dan modal besar serta citra yang terus menerus ditanamkan ke pasar Indonesia tampaknya akan terus bekerja keras merebut pasar dan memperketat persaingan dalam industri asuransi jiwa di Indonesia.
2. Entri potensial dari pendatang baru.
Pendatang baru yang potensial untuk memasuki persaingan antara kelompok perusahaan asuransi jiwa besar adalah kelompok perusahaan asuransi jiwa menengah (dengan premi bruto Rp 150 miliar sampai di bawah Rp 500 miliar) yang di mana berdasarkan jumlah premi bruto per Desember 2005, menurut majalah InfoBank, berjumlah 10 perusahaan, antara lain sebagai berikut :
(1) Asuransi Jiwa Eka Life (2) Asuransi Cigna (3) Asuransi Jiwa Bakrie
(4) Asuransi Winterthur Life Indonesia (5) Equity Financial Solution
(6) Asuransi Jiwa Bumi Asih Jaya (7) Astra CMG Life
(8) Asuransi Jiwa Adisarana Wanaartha (9) MLC Life Indonesia
(10) AXA Life Indonesia
Perusahaan asuransi jiwa kelompok menengah ini berpotensi untuk menjadi pendatang baru di kelompok perusahaan asuransi jiwa besar karena perusahaan – perusahaan tersebut dapat memperkuat posisi dan keunggulan bersaingnya melalui beberapa strategi seperti melakukan akuisisi atau merjer, atau membentuk joint venture (perusahaan patungan) dengan perusahaan asuransi atau keuangan asing.
3. Pengembangan potensial dari produk pengganti.
Asuransi memiliki berbagai manfaat, namun manfaat yang paling utama adalah proteksi/perlindungan terhadap risiko keuangan melalui pengalihan risiko tersebut ke perusahaan asuransi. Mengingat risiko yang hendak diantisipasi adalah risiko keuangan, maka jika keadaan keuangan calon nasabah diperkuat sebelumnya, secara tidak langsung risiko keuangan juga dapat diantisipasi atau diminimalisasi.
Oleh karena itu, produk pengganti yang potensial bagi asuransi adalah produk keuangan atau investasi yang memungkinkan konsumen untuk memperkuat kondisi keuangannya. Contoh produk pengganti yang potensial dan sedang banyak diminati oleh masyarakat secara umum antara lain tabungan, sertifikat deposito (Certificate of Deposits) dan reksadana (mutual fund).
Tabungan adalah produk keuangan yang sudah pasti dikenal oleh masyarakat secara umum, tabungan yang dimaksud di sini adalah sejumlah uang yang disimpan di dalam bank dan memperoleh sejumlah bunga secara berkala atas dana yang tersimpan di bank tersebut.
Dengan bunga bank yang diberikan, jumlah uang milik konsumen berkembang dan kondisi keuangan mereka dapat diperkuat. Tabungan dapat digunakan sebagai dana likuid yang sewaktu-waktu dapat digunakan untuk membayar biaya berobat yang harus dikeluarkan apabila terjadi kecelakaan.
Sertifikat deposito dikenal sebagai surat bukti utang yang diterbitkan oleh bank umum (Karvof, 2004, p4). Sertifikat deposito merupakan surat berharga atas unjuk di mana pembayaran bunga dapat dibayar di belakang (ad on) atau di muka (discount). Dengan sertifikat deposito, nasabah dapat memperkuat kondisi keuangannya dengan membuat jumlah uang yang dimiliki bertambah / berkembang dengan adanya bunga yang ditawarkan oleh bank yang bersangkutan. Deposito yang menawarkan bunga harian, yang berarti dapat
diambil sewaktu-waktu, dapat menjadi pilihan sumber dana untuk membayar biaya berobat yang harus dikeluarkan akibat kecelakaan, yang tidak dapat diduga kapan terjadinya.
Sedangkan reksa dana adalah wadah yang dipergunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal untuk selanjutnya diinvestasikan dalam portofolio efek oleh manajer investasi (Karvof, 2004, p7). Reksadana memberikan kesempatan kepada nasabah untuk melakukan investasi dengan lebih aman karena pengolahan dana diserahkan kepada manajer investasi yang memang ahli dalam bidangnya. Reksa dana memiliki kemudahan investasi dengan memberikan pilihan strategi investasi yang beragam, investasi awal minimum berkisar Rp 250.000,00 sampai Rp 500.000,00, dan pemodal dapat melakukan investasi secara tidak langsung di pasar modal dan pasar uang, tanpa melalui prosedur dan persyaratan yang rumit. Dengan investasi seperti ini, tentu saja kondisi keuangan nasabah dapat diperkuat karena uang yang dimiliki nasabah diolah agar terus berkembang. Reksa dana memberikan manfaat likuiditas di mana pemegang unit penyertaan reksa dana yang memerlukan uang tunai dapat menjual kembali unit penyertaan kepada manajer investasi dengan harga yang ditetapkan berdasarkan Nilai Aktiva Bersih per unit penyertaan pada akhir hari bursa yang bersangkutan. Pembayaran atas penjualan kembali unit penyertaan akan dilakukan selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari setelah tanggal transaksi penjualan disetujui oleh manajer investasi. Umumnya pembayaran atas penjualan kembali unit penyertaan dilakukan 1 – 2 hari setelah tanggal transaksi pembayaran disetujui oleh manajer investasi. Manfaat likuiditas ini mempermudah konsumen untuk menggunakan dana dalam reksa dana sewaktu-waktu, apabila terjadi kecelakaan, untuk membayar biaya pengobatan
Namun, produk keuangan atau investasi pasti akan selalu memiliki risiko investasi, misalnya risiko fluktuasi harga, fluktuasi suku bunga, fluktuasi nilai tukar, atau risiko karena perubahan kondisi makro ekonomi, moneter, fiskal, dan kebijakan pemerintah lainnya yang tidak mendukung perkembangan investasi. Hal ini menandakan bahwa investasi memiliki
risiko pengembalian yang tidak sesuai dengan harapan atau bahkan menimbulkan kerugian.
Jika hal tersebut terjadi, kondisi keuangan nasabah tidak dapat diperkuat atau bahkan melemah, dan nasabah tidak dapat menghadapi risiko keuangan yang mungkin akan terjadi.
Asuransi memiliki kemampuan pengalihan risiko keuangan yang kuat karena dalam asuransi tertuang perjanjian yang mengikat, dimana penanggung (perusahaan asuransi) akan memberikan proteksi kepada tertanggung (nasabah). Jumlah uang pertanggungan yang disetujui sifatnya pasti akan diberikan (tidak berkurang jumlahnya) jika semua persyaratan dan ketentuan dalam polis asuransi telah ditaati.
Meskipun demikian, tidak menutup kemungkinan bahwa nasabah akan lebih memilih produk keuangan atau investasi lainnya daripada asuransi untuk alasan-alasan tertentu.
Selain itu, juga selalu ada kemungkinan akan munculnya produk investasi baru atau modifikasi dari produk investasi yang akan lebih bagus dalam memperkuat kondisi keuangan calon nasabah dan menjadi produk pengganti yang dapat memperketat kondisi persaingan industri asuransi, khususnya asuransi jiwa.
Dua kekuatan persaingan lainnya tidak dapat dianalisis (yaitu kekuatan menawar dari pemasok dan kekuatan menawar dari pembeli) karena dalam industri asuransi tidak ada pemasok dan pembeli tidak dapat melakukan tawar menawar dikarenakan jumlah premi yang harus dibayarkan telah disesuaikan dengan jumlah pertanggungan yang ditetapkan dan merupakan harga yang tidak dapat ditawar (fixed price).
4.2 Profil Responden
Dalam penelitian ini, telah diambil data awal dari 200 responden untuk mengetahui berapa responden yang tidak memiliki asuransi kecelakaan pribadi. 200 responden tersebut dalam survei awal diminta untuk menjawab kuesioner sederhana yang hanya terdiri dari 2 pertanyaan yaitu :
1. NIM :
2. Apakah Anda memiliki Asuransi Kecelakaan Pribadi ? a. Punya
b. Tidak punya
Dan dari data awal, jawaban kuesioner sederhana di atas, telah diketahui bahwa dari 200 responden :
53 responden (26.5%) menjawab Punya, yang berarti mereka memiliki asuransi kecelakaan pribadi
147 responden (73.5%) menjawab Tidak Punya, yang berarti mereka tidak memiliki asuransi kecelakaan pribadi
147 responden yang tidak memiliki asuransi kecelakaan pribadi inilah yang akan diberi edukasi pasar, untuk selanjutnya dianalisis bagaimana peran edukasi pasar dalam mengubah keputusan mereka dalam membeli asuransi kecelakaan pribadi yang tadinya tidak memiliki asuransi menjadi minimal ingin atau sadar untuk memiliki, dan apakah perubahan tersebut (dilihat dari jumlah orang yang berubah keputusannya) signifikan atau tidak.
Punya, 26.50%
Tidak punya, 73.50%
Gambar 4.1 Proporsi Kepemilikan Asuransi Kecelakaan Pribadi Responden Sumber : Hasil pengolahan data awal penelitian
Untuk memastikan bahwa 147 responden yang diberi edukasi pasar sama dengan 147 responden awal yang telah diketahui tidak memiliki asuransi kecelakaan pribadi, maka peneliti telah mencatat NIM (Nomor Induk Mahasiswa) dari 147 responden pada saat survei awal dan selanjutnya mencocokkan NIM tersebut dengan daftar hadir (absensi) kelas, yang di mana kelas tersebut akan digunakan sebagai sarana untuk melakukan edukasi pasar. NIM yang dicocokkan ini menjadi panduan bagi peneliti untuk memastikan bahwa 147 responden yang diberi edukasi pasar sesuai dengan responden pada saat survei awal dan memastikan jawaban pada kuesioner A (sebelum edukasi pasar) dan kuesioner B (sesudah edukasi pasar) diisi oleh responden yang sama.
Responden dalam penelitian ini termasuk dalam kelompok populasi yang cukup spesifik sehingga memiliki sebagian profil yang homogen, antara lain sebagai berikut:
Responden merupakan mahasiswa Universitas Bina Nusantara.
Responden sedang melakukan studi Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi (di tahun ajaran 2006/2007, saat penelitian ini dilaksanakan)
Responden merupakan mahasiswa angkatan 2003 (mulai melaksanakan studi di universitas sejak September 2003) dan secara umum akan lulus di tahun 2007.
Dan profil responden menurut jenis kelamin adalah sebagai berikut : Tabel 4.2 Profil Responden Menurut Jenis Kelamin
Frekuensi Persen Persen
Kumulatif
Pria 63 42,86 42,86
Wanita 84 57,14 100,00
Total 147 100,00
Sumber : Hasil pengolahan data penelitian
Pria, 63, 42.86%
Wanita, 84,
57.14% Pria
Wanita
Gambar 4.2 Profil Responden Menurut Jenis Kelamin Sumber : Hasil pengolahan data penelitian
Dari data yang terkumpul, diperoleh hasil bahwa dari 147 responden yang mengisi kuesioner, sebanyak 63 reponden (42,86%) yang berjenis kelamin pria dan 84 responden (57,14%) yang berjenis kelamin wanita.
4.3 Analisis Pengetahuan Produk Konsumen Sebelum Edukasi Pasar
Bagaimana pengetahuan produk konsumen (mahasiswa) mengenai produk asuransi kecelakaan pribadi sebelum edukasi pasar akan dijelaskan secara deskriptif melalui data yang diperoleh penulis dari jawaban responden mengenai variabel ini dalam kuesioner A (kuesioner yang dibagikan sebelum edukasi pasar). Variabel pengetahuan produk konsumen terbagi ke dalam 6 (enam) subvariabel yang diketahui melalui jawaban dari 6 (enam) pertanyaan pertama dalam kuesioner A dimulai dari ciri fisik sampai nilai terminal yang akan dicapai dengan memiliki produk asuransi kecelakaan pribadi (pertanyaan no. 1 sampai no. 6 dalam kuesioner A).
Dalam pengisian kuesioner A, dari 147 responden terdapat 16 responden yang memiliki pemahaman yang kurang tepat dimana mereka menganggap asuransi kecelakaan pribadi adalah asuransi kerugian kendaraan bermotor (otomotif). Kedua asuransi tersebut merupakan dua jenis produk asuransi yang sangat berbeda dimana dalam asuransi
kecelakaan pribadi, objek yang diberi proteksi adalah pribadinya (individu pemilik polis), sedangkan dalam asuransi kerugian kendaraan bermotor, objek utama yang diberi proteksi adalah kendaraan bermotor, bukan individu pemilik kendaraan tersebut.
Pengetahuan 16 responden yang kurang tepat ini diketahui melalui jawaban mereka atas pertanyaan dalam kuesioner A nomor 3 mengenai konsekuensi fungsional, di mana mereka menjawab bahwa manfaat asuransi kecelakaan pribadi adalah untuk mengganti biaya kerusakan kendaraan bermotor mereka dan jawaban ini kurang tepat karena dalam asuransi kecelakaan pribadi yang diberi proteksi adalah individu pemilik polis, bukan kendaraan bermotor yang dimilikinya.
Oleh karena itu, data dari 16 responden tersebut, yang memiliki pemahaman yang kurang tepat mengenai produk asuransi kecelakaan pribadi, tidak dapat diikutsertakan dalam analisis pengetahuan produk konsumen sebelum edukasi pasar karena produk dalam pemikiran personal mereka tidak sama dengan 131 responden lainnya. Walaupun demikian, data dari 16 responden ini tidak berarti tidak dapat digunakan seluruhnya dalam penelitian ini, karena pengetahuan produk konsumen berada dalam pemikiran konteks personal, dimana pemahaman mereka kurang tepat dan diharapkan setelah edukasi pasar pengetahuan produk mereka mengenai produk asuransi kecelakaan pribadi akan berubah menjadi lebih baik.
Dengan demikian penulis memutuskan untuk hanya menggunakan data dari 131 responden lainnya, di luar 16 responden yang memiliki pemahaman yang kurang tepat tersebut, untuk analisis pengetahuan produk konsumen sebelum edukasi pasar.
Berikut adalah analisis secara deskriptif untuk masing-masing subvariabel pengetahuan produk konsumen (mahasiswa) akan produk asuransi kecelakaan pribadi sebelum edukasi pasar, yang dimana terdiri dari daftar pertanyaan dalam kuesioner A untuk masing-masing
subvariabel dan hasil jawaban responden dari masing-masing pertanyaan tersebut, antara lain sebagai berikut :
1. Subvariabel Ciri Fisik : Pengetahuan mahasiswa mengenai bentuk fisik asuransi kecelakaan pribadi yang berupa harga premi yang harus dibayarkan untuk mendapatkan proteksi
Pertanyaan A – 1 (pertanyaan dalam kuesioner A, nomor 1)
Apakah menurut Anda asuransi kecelakaan pribadi relatif mahal harganya (tidak sesuai dengan kemampuan ekonomi Anda sebagai mahasiswa) ?
a. Ya b. Tidak
Dari data yang terkumpul, diperoleh hasil bahwa dari 131 responden yang mengisi kuesioner, yang menjawab Ya sebanyak 95 responden (72,52%), dimana mereka menganggap premi yang harus dibayar untuk memiliki asuransi kecelakaan pribadi relatif mahal dan tidak sesuai dengan kemampuan mereka sebagai mahasiswa. Dan sebaliknya, yang menjawab Tidak sebanyak 36 responden (27,48%), mereka menganggap premi yang harus dibayar untuk memiliki asuransi kecelakaan pribadi masih relatif terjangkau dan sesuai dengan kemampuan ekonomi mereka sebagai mahasiswa.
Ya (Mahal), 95 responden
(72.52%) Tidak
(Terjangkau), 36 responden
(27.48%)
Ya (Mahal)
Tidak (Terjangkau)
Gambar 4.3 Ciri Fisik Produk Menurut Responden Sebelum Edukasi Pasar Sumber : Hasil pengolahan data penelitian
Mayoritas responden (75,52%) yang menganggap premi yang harus dibayar memiliki asuransi kecelakaan pribadi relatif mahal menunjukkan bahwa sebenarnya mereka tidak mengetahui jumlah premi asuransi kecelakaan pribadi, yang dimana jika di dalam penelitian ini menggunakan contoh produk Safety Guard plan 4 dari PT Asuransi AIA Indonesia, premi yang harus dibayar hanya sebesar Rp 208.500,00 pertahunnya untuk Uang Pertanggungan sebesar Rp 40.000.000,00 untuk santunan jika meninggal karena kecelakaan dan atau maksimal Rp 4.000.000,00 untuk penggantian biaya medis (reimbursement) per kecelakaan.
2. Subvariabel Ciri Abstrak : Pengetahuan mahasiswa mengenai ciri abstrak asuransi kecelakaan pribadi yang berupa perjanjian yang mengikat dalam polis asuransi.
Pertanyaan A – 2 (pertanyaan dalam kuesioner A, nomor 2)
Apakah Anda setuju dengan pernyataan berikut: Asuransi merupakan perjanjian ? a. Setuju
b. Tidak Setuju
Dari data yang terkumpul, diperoleh hasil bahwa dari 131 responden yang mengisi kuesioner, yang menjawab Setuju sebanyak 117 responden (89,31%), dimana mereka menyetujui bahwa asuransi merupakan perjanjian antara tertanggung (pemilik polis) dengan penanggung (perusahaan asuransi) untuk mengalihkan risiko dengan membayar sejumlah premi. Sedangkan yang menjawab Tidak Setuju sebanyak 14 responden (10,69%), mereka menganggap bahwa asuransi bukan merupakan perjanjian.
Setuju, 117 responden
(89.31%) Tidak Setuju,
14 responden (10.69%)
Setuju (Asuransi merupakan perjanjian)
Tidak Setuju (Asuransi bukan merupakan perjanjian)
Gambar 4.4 Ciri Abstrak Produk Menurut Responden Sebelum Edukasi Pasar Sumber : Hasil pengolahan data penelitian
3. Subvariabel Konsekuensi Fungsional : Pengetahuan mahasiswa mengenai manfaat utama asuransi kecelakaan pribadi.
Pertanyaan A – 3 (pertanyaan dalam kuesioner A, nomor 3) Menurut Anda, apa manfaat dari memiliki asuransi kecelakaan pribadi ?
Dari data yang terkumpul, diperoleh hasil bahwa dari 131 responden yang mengisi kuesioner, jawaban atas manfaat dari memiliki asuransi kecelakaan pribadi cukup bervariasi antara lain sebagai berikut :
53 responden (40,46%) menjawab untuk mengganti biaya-biaya berobat karena kecelakaan.
24 responden (18,32%) menjawab agar merasa aman.
19 responden (14,50%) menjawab untuk mengantisipasi kemungkinan pengeluaran biaya akibat kecelakaan (berjaga-jaga).
14 responden (10,69%) menjawab untuk proteksi finansial.
11 responden (8,40%) menjawab untuk menjamin keselamatan diri.
6 responden (4,58%) menjawab sebagai investasi.
4 responden (3,05%) menjawab tidak tahu apa manfaatnya.
Antisipasi, 19 responden
(14.50%) Proteksi Finansial, 14 responden (10.69%)
Menjamin Keselamatan Diri,
11 responden (8.40%)
Investasi, 6 responden
(4.58%)
Tidak Tahu, 4 responden
(3.05%)
Mengganti Biaya Berobat Akibat
Kecelakaan, 53 responden
(40.46%)
Merasa Aman, 24 responden
(18.32%)
Gambar 4.5 Konsekuensi Fungsional Produk Menurut Responden Sebelum Edukasi Pasar Sumber : Hasil pengolahan data penelitian
Mayoritas responden (83,97%) mengetahui konsekuensi fungsional produk asuransi kecelakaan pribadi, yang berbeda-beda dalam konteks pemikiran personal masing-masing, yaitu untuk mengganti biaya berobat (40,46%), agar merasa aman
(18,32%), antisipasi (14,50%), dan proteksi finansial (10,69%). Sedangkan manfaat untuk menjamin keselamatan diri (8,40%), sebenarnya kurang tepat karena dengan memiliki asuransi kecelakaan pribadi bukan berarti pemegang polis akan terhindar dari kecelakaan. Dan manfaat untuk investasi (4,58%) juga sebenarnya kurang tepat karena dengan memiliki asuransi kecelakaan pribadi, pemegang polis bukan mengharapkan keuntungan, tetapi mengharapkan penggantian biaya-biaya berobat akibat kecelakaan.
Biaya-biaya berobat akibat kecelakaan yang ditanggung hanya sebesar biaya yang dikeluarkan sesuai kwitansi atau bukti pembayaran yang dilampirkan, dengan nilai maksimal sebesar jumlah penggantian yang telah ditentukan sebelumnya dan tercantum dalam kontrak polis.
4. Subvariabel Konsekuensi Psikososial : Pengetahuan mahasiswa mengenai keadaan perasaan yang dapat diterima pada saat memiliki polis asuransi kecelakaan pribadi
Pertanyaan A – 4 (pertanyaan dalam kuesioner A, nomor 4)
Menurut Anda, dengan manfaat asuransi kecelakaan pribadi demikian (sesuai jawaban Anda di no. 3), bagaimana perasaan Anda jika Anda memiliki asuransi kecelakaan pribadi?
Dari data yang terkumpul, diperoleh hasil bahwa dari 131 responden yang mengisi kuesioner, jawaban atas bagaimana perasaan mereka jika memiliki asuransi kecelakaan pribadi juga cukup bervariasi antara lain sebagai berikut :
47 responden (35,88%) menjawab merasa lebih tenang.
39 responden (29,77%) menjawab merasa lebih aman.
17 responden (12,98%) menjawab merasa biasa saja.
14 responden (10,69%) menjawab merasa senang.
10 responden (7,63%) menjawab merasa baik.
4 responden (3,05%) memberi jawaban lainnya di mana 3 responden menjawab tidak tahu dan 1 responden menjawab merasa terbebani premi.
Biasa, 17 responden
(12.98%) Senang,
14 responden (10.69%)
Baik, 10 responden
(7.63%)
Dll, 4 responden (3.05%)
Lebih Tenang, 47 responden
(35.88%)
Lebih Aman, 39 responden
(29.77%)
Gambar 4.6 Konsekuensi Psikososial Produk Menurut Responden Sebelum Edukasi Pasar Sumber : Hasil pengolahan data penelitian
Data menunjukkan bahwa mayoritas responden (83,97%) memiliki perasaan yang positif jika memiliki asuransi kecelakaan pribadi, yaitu perasaan lebih tenang (35,88%), lebih aman (29,77%), senang (10,69%), dan baik (7,63%). Sebagian responden memiliki perasaan yang netral, yaitu biasa saja (12,98%), 3 (tiga) responden menjawab tidak tahu, dan ada 1 (satu) responden lainnya yang memiliki jawaban khusus yaitu perasaan yang negatif terbebani premi jika memiliki asuransi kecelakaan pribadi.
5. Subvariabel Nilai Instrumental : Pengetahuan mahasiswa mengenai bagaimana tanggapan orang lain terhadap mereka apabila memiliki polis asuransi kecelakaan pribadi
Pertanyaan A – 5 (pertanyaan dalam kuesioner A, nomor 5)
Menurut Anda, bagaimana tanggapan orang lain kepada mereka yang memiliki asuransi kecelakaan pribadi ?
Dari data yang terkumpul, diperoleh hasil bahwa dari 131 responden yang mengisi kuesioner, jawaban atas bagaimana tanggapan orang lain kepada mereka yang memiliki asuransi kecelakaan pribadi juga relatif beragam antara lain sebagai berikut :
40 responden (30,53%) menjawab orang lain menganggap bagus.
32 responden (24,43%) menjawab orang lain menganggap biasa saja.
31 responden (23,66%) menjawab tidak tahu.
11 responden (8,40%) menjawab orang lain menganggap mereka lebih aman.
10 responden (7,63%) menjawab orang lain menganggap mereka memiliki banyak uang lebih yang dapat disisihkan untuk membeli asuransi.
4 responden (3,05%) menjawab orang lain dapat saja bersikap pro (mendukung) atau kontra (menentang) kepemilikan asuransi.
3 responden (2,29%) menjawab orang lain menganggap mereka bodoh karena dengan memiliki asuransi berarti mereka setuju didoakan untuk cepat meninggal dunia.
Tidak Tahu, 31 responden
(23.66%) Lebih Aman,
11 responden (8.40%) Memiliki Uang Lebih,
10 responden (7.63%)
Pro & Kontra, 4 responden (3.05%)
Bodoh, 3 responden (2.29%)
Bagus, 40 responden
(30.53%)
Biasa, 32 responden
(24.43%)
Gambar 4.7 Nilai Instrumental Produk Menurut Responden Sebelum Edukasi Pasar Sumber : Hasil pengolahan data penelitian
Sebagian responden (46,56%) menjawab tanggapan orang lain kepada mereka yang memiliki asuransi kecelakaan pribadi adalah positif, yaitu bagus (30,53%), lebih aman (8,40%), dan memiliki kelebihan uang yang dapat disisihkan untuk membeli asuransi (7,63%). Dan sebagian responden lainnya (27,48%) menjawab orang lain memiliki tanggapan yang netral yaitu biasa saja (24,43%) dan ada kemungkinan pro (mendukung) atau kontra (menentang) (3,05%). Sebagian menjawab tidak tahu (23,66%) dan sisanya menjawab orang lain memiliki tanggapan negatif yaitu bodoh (2,29%).
6. Subvariabel Nilai Terminal : Pengetahuan mahasiswa mengenai keadaan yang diharapkan, yang dapat tercapai, dengan memiliki polis asuransi kecelakaan pribadi.
Pertanyaan A – 6 (pertanyaan dalam kuesioner A, nomor 6)
Menurut Anda, tujuan akhir apa yang ingin dicapai dengan memiliki asuransi kecelakaan pribadi ?
Dari data yang terkumpul, diperoleh hasil bahwa dari 131 responden yang mengisi kuesioner, jawaban atas tujuan akhir apa yang ingin dicapai dengan memiliki asuransi kecelakaan pribadi relatif beragam antara lain sebagai berikut :
35 responden (30,53%) menjawab agar ada pertanggungan biaya berobat akibat kecelakaan.
27 responden (24,43%) menjawab agar merasa lebih aman dalam hidup.
15 responden (23,66%) menjawab untuk mengantisipasi kemungkinan kecelakaan yang sifatnya tidak bisa diduga.
14 responden (8,40%) menjawab tidak tahu.
12 responden (7,63%) menjawab untuk keselamatan dan keamanan diri.
12 responden (3,05%) menjawab untuk mendapatkan uang hasil pengembalian (seperti hasil dari investasi).
9 responden (2,29%) menjawab untuk proteksi finansial.
7 responden (%) menjawab untuk perencanaan keuangan demi masa depan.
Perencanaan Keuangan Masa Depan,7 responden
(5.34%)
Antisipasi, 15 responden
(11.45%) Tidak Tahu,
14 responden (10.69%) Keselamatan &
Keamanan Diri, 12 responden
(9.16%) Mendapat Uang,
12 responden (9.16%)
Proteksi Finansial, 9 responden (6.87%)
Pertanggungan Biaya Berobat Akibat
Kecelakaan, 35 responden
(26.72%)
Lebih Aman, 27 responden (20.61%)
Gambar 4.8 Nilai Terminal Produk Menurut Responden Sebelum Edukasi Pasar Sumber : Hasil pengolahan data penelitian
Mayoritas responden (70,99%) mengetahui nilai terminal yang tepat dalam memiliki asuransi kecelakaan pribadi, disesuaikan dengan manfaatnya, yaitu pertanggungan biaya berobat akibat kecelakaan (26,72%), agar lebih aman (20,61%), untuk antisipasi (11,45%), proteksi finansial (6,87%), dan perencanaan keuangan masa depan (5,34%). Sebagian responden lainnya menjawab tidak tahu (10,69%). Dan sebagian responden lainnya (18,32%) memiliki pengetahuan yang kurang tepat untuk nilai terminal yaitu keselamatan dan keamanan diri (9,16%) karena dengan memiliki asuransi kecelakaan pribadi bukan berarti kita terhindar dari risiko kecelakaan, dan nilai terminal untuk mendapat uang (9,16%) juga kurang tepat karena sebenarnya uang klaim yang diperoleh adalah untuk menggantikan biaya berobat akibat kecelakaan, bukan keuntungan.
4.4 Analisis Pengetahuan Produk Konsumen Sesudah Edukasi Pasar
Bagaimana pengetahuan produk konsumen (mahasiswa) mengenai produk asuransi kecelakaan pribadi sesudah edukasi pasar akan dideskripsikan melalui data yang diperoleh penulis dari jawaban responden mengenai variabel ini dalam kuesioner B (kuesioner yang dibagikan sesudah edukasi pasar). Variabel pengetahuan produk konsumen terbagi ke dalam 6 (enam) subvariabel yang akan diketahui melalui jawaban dari 6 (enam) pertanyaan pertama dalam kuesioner B dimulai dari ciri fisik sampai nilai terminal yang akan dicapai dengan memiliki produk asuransi kecelakaan pribadi (pertanyaan no. 1 sampai no. 6 dalam kuesioner B).
16 responden yang pada awalnya (pada analisis pengetahuan produk konsumen sebelum edukasi pasar) tidak diikutsertakan datanya, pada bagian analisis ini akan diikutsertakan karena diharapkan melalui edukasi pasar, pengetahuan mereka akan produk asuransi kecelakaan pribadi akan berubah menjadi lebih baik. Oleh karena itu, pada bagian