• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI OLEH : RIZKI ISMAIL HASIBUAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "SKRIPSI OLEH : RIZKI ISMAIL HASIBUAN"

Copied!
78
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH PENDAPATAN ASLI DAERAH, DANA ALOKASI UMUM, DAN DANA ALOKASI KHUSUS TERHADAP BELANJA DAERAH

PEMERINTAHAN KABUPATEN/KOTA DI SUMATERA SELATAN

OLEH :

RIZKI ISMAIL HASIBUAN 170522130

PROGRAM STUDI S-1 AKUNTANSI DEPARTEMEN AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

2019

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)

ABSTRAK

PENDAPATAN ASLI DAERAH, DANA ALOKASI UMUM, DAN DANA ALOKASI KHUSUS TERHADAP

BELANJA DAERAH PEMERINTAHAN KABUPATEN/KOTA DI

SUMATERA SELATAN

Tujuan Penelitan ini dilakukan adalah untuk mengetahui dan menganalisa apakah Pendapatan Asli Daerah, Dana Alokasi Umum dan Dana Alokasi Khusus berpengaruh terhadap Belanja Daerah Pemerintahan Kabupaten/Kota di Sumatera Selatan

Jenis Penelitian yang digunakan adalah Penelitian Asosiatif. Jumlah Populasi Penelitian ini sebanyak 17 Kabupaten/Kota dan dengan menggunakan Sampling Jenuh diperoleh 17 Kabupaten/Kota sebagai sampel dari Tahun 2015- 2017. Variabel Independen dalam Penelitian ini adalah Pendapatan Asli Daerah, Dana Alokasi Umum dan Dana Alokasi Khusus Sedangkan Variabel dependennya adalah Belanja Daerah.

Hasil Penelitian menunjukkan bahwa Secara Simultan Variabel Pendapatan Asli Daerah,Dana Alokasi Umum dan Dana Alokasi Khusus berpengaruh Signifikan Terhadap Belanja Daerah sedangkan secara parsial Dana Alokasi Umum berpengaruh tetapi tidak signifikan terhadap Belanja Daerah.

Kata Kunci: Pendapatan Asli Daerah, Dana Alokasi Umum dan Dana

Alokasi Khusus dan Belanja Daerah

(7)

THE EFFECT OF REGIONAL ORIGINAL REVENUE, GENERAL ALLOCATION FUND, AND SPECIAL ALLOCATION FUND ON

REGIONAL EXPENDITURE REGENCY AND CITY GOVERNMENT IN SOUTHERN SUMATRA

The Purpose of this research is to find out and to analyze Whether.

Regional Original Revenue, General Allocation Fund, and Special Allocation Fund on Regional Expenditur Regency and city Government In Southern Sumatra

Type Of Study is a Research asosiatif . The Population of this research are 17 regencies/cities and by using sampling Jenuh technique.

17 regencies/cities in year 2015 up to 2017. Are chosen samples.. The Independent Variabel used in this research are. Regional Original Revenue,General Allocationd Fund, and Special Allocation Fund, and dependent Variabel is Regional Expenditure

The result showed that Simultan Regional Original Revenue, General Allocation Fund And Special Allocation Fund had a Significant Effect On Regional Expenditure, While General Allocation Fund had a effect But Not Significant On Regional Expenditure.

Keywords: Regional Original Revenue,General Allocationd Fund,

Special Allocation Fund and Regional Expenditure

(8)

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT dan segala rahmat dan karunia-Nya yang telah diberikan-Nya kepada penulis hingga penulis mampu menyelesaikan Skripsi yang berjudul “Pengaruh Pendapatan Asli daerah, Dana Alokasi Umum dan Dana Alokasi Khusus terhadap Belanja Daerah Pemerintahan Kabupaten/Kota di Sumatera Selatan” sebagai syarat dalam rangka memperoleh gelar sarjana Ekonomi dari Program Studi SI Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

Saya Menyadari dalam penyelesaian tugas akhir ini tidak terlepas dari dukungan,bantuan serta bimbingan dari berbagai pihak Oleh karena itu. Saya ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pihak yang berperan penting yaitu.

1. Bapak Prof. Dr. Ramli, SE, MS selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Dr. Syafruddin Ginting Sugihen, MAFIS, Ak., CPA.selaku Ketua Departemen/Program Studi S1 Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara

3. Bapak Drs Rasdianto, M.Si, Ak selaku Dosen Pembimbing yang telah banyak memberikan masukan dan arahan bagi penulis dalam pengerjaan skripsi ini

4. Bapak Abdillah Arif Nasution, SE., M.Si, Ak dan Bapak Drs.

Idhar Yahya, MBA,Ak selaku Dosen Penguji dan Dosen Pembanding yang telah banyak memberikan saran dan masukan bagi penulis.

5. Teristimewa bagi Penulis Seluruh Keluarga saya terutama kepada kedua orang tua saya. Ayahanda Marakali Hasibuan, S.Sos dan Ibunda Dra. Elpi Harahap yang telah memberikan doa,Motivasi,

iv

(9)

Penulis. yang telah banyak membantu dan mendukung saya selama ini. Terima kasih atas doanya.

6. Saudara/I seperjuangan : Khoirul Akhmady, Dicky Sinuhaji, Penansius Sitepu , dan Sonya Purba dan semua mahasiswa akuntansi ekstensi lainnya yang tidak dapat disebutkan seluruhnya terima kasih atas semangat dan bantuannya selama ini.

Saya menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan . Akhir kata saya mengucapkan terima kasih dan semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi para pembaca

Medan, 07 Agustus 2019 Penulis

RIZKI ISMAIL HASIBUAN

170522130

(10)

DAFTAR ISI

Halaman

PERNYATAAN ... i

ABSTRAK ... ii

KATA PENGANTAR ... iv

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR GAMBAR ... viii

DAFTAR TABEL... ix

DAFTAR LAMPIRAN ... x

BAB 1 PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 8

1.3 Tujuan Penelitian ... 9

1.4 Manfaat Penelitian ... 9

BAB IITINJAUAN PUSTAKA ... 11

2.1 Belanja Daerah ... 11

2.2 Pendapatan Asli Daerah ... 14

2.3 Dana Alokasi Umum ... 15

2.4 Dana Alokasi Khusus ... 16

2.5 Penelitian Terdahulu ... 17

2.6 Kerangka Konseptual ... 20

2.7 Hipotesis Penelitian ... 24

BABIIIMETODE PENELITIAN ... 25

3.1. Jenis Penelitian ... 25

3.2. Tempat dan Waktu Penelitian ... 25

3.3. Batasan Operasional ... 25

3.4. Defenisi Operasional dan Pengukuran Variabel ... 26

3.5. Populasi dan Sampel Penelitian ... 29

3.6. Jenis Data 31 3.7. Metode Pengumpulan Data ... 31

3.8. Metode Analisis Data ... 31

3.8.1. Statistik Deskriptif ... 31

3.8.2. Analisis Regresi Linear Berganda ... 32

3.8.3. Uji Asumsi Klasik ... 33

3.8.4. Pengujian Hipotesis ... 37

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 39

4.1 Analisis Statistik Deskriptif ... 39

4.2 Uji Asumsi Klasik ... 40

(11)

4.2.2. Uji Multikolinearitas ... 42

4.2.3. Uji Heterokedastisitas ... 43

4.2.4 Uji Auto Korelasi ... 44

4.3 Analisis Regresi Linear Berganda ... 45

4.4 Uji Hipotesis... 47

4.4.1. Hasil Uji Signifikan Simultan (Uji Statistik F) ... 47

4.4.2. Hasil Uji Parsial (Uji Statistik t) ... 48

4.4.3. Hasil Uji Koefisien Determinasi ... 49

4.5 Pembahasan Hasil Penelitian ... 50

BABVKESIMPULAN DAN SARAN ... 52

5.1 Kesimpulan ... 52

5.2 Saran 52 DAFTAR PUSTAKA ... 54

LAMPIRAN ... 56

(12)

DAFTAR GAMBAR

Nomor Judul Halaman

2.1 Kerangka Konseptual...20

4.1 Uji Normal Probality Plot...41

4.2 Uji Normalitas...42

4.3 Uji Heterokedastisitas...44

(13)

Nomor Judul Halaman

1.1Belanja Daerah Provinsi Sumatera Selatan...5

1.2. Research Gap...7

2.1.Penelitian Terdahulu...19

3.1.Defenisi Operasional dan Skala Pengukuran Variabel...28

3.2. Populasi dan Sampel Penelitian ...30

4.1. Hasil Uji Statistik Deskriptif...39

4.2.Hasil Uji Normalitas...41

4.3Hasil Uji Multikolinearitas...43

4.4 Hasil Uji Auto Korelasi... 44

4.5 Hasil Uji Analisis Regresi Linear Berganda...46

4.6 Hasil Uji Signifikan Simultan (Uji F)...47

4.7 Hasil Uji Parsial (Uji t)...48

4.8 Hasil Uji Koefisien Determinasi ( )...50

(14)

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Judul Halaman

1 Populasi dan Sampel Peneliti ... 56

2 Data Pendapatan Asli Daerah ... 57

3 Data Dana Alokasi Umum... 58

4 Data Dana Alokasi Khusus... 59

5 Data Belanja Daerah ... 60

6 Hasil Uji Statistik Deskriptif... 61

7 Hasil Uji Normalitas ... 61

8 Hasil Uji Multikolinearitas... 62

9 Hasil Uji Heterokedastisitas ... 62

10 Hasil Uji Auto Korelasi... 63

11 Hasil Uji Analisis Regresi Linear Berganda... 63

12 Hasil Uji F tabel dan T tabel... 64

(15)

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Penerapan desentralisasi dan otonomi daerah di Indonesia diyakini akan mampu mendekatkan pelayanan masyarakat, meningkatkan kesejahteraan rakyat dan memupuk demokrasi lokal (Chalid, 2005:5). Dalam upaya peningkatan kesejahteraan rakyat melalui pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkeadilan, maka tantangan utama pembangunan yang harus dihadapi dan diatasi yaitu: (a) penciptaan pertumbuhan ekonomi yang berkualitas yang mampu menciptakan pekerjaan dan mengurangi kemiskinan; (b) pembangunan tata kelola yang baik untuk dapat meningkatkan efektivitas dan efisiensi pengeluaran pemerintah; dan (c) peningkatan sinergi antara pemerintah dan pemerintah daerah (Permendagri no. 37 Tahun 2010 tentang pedoman penyusunan APBD).

Menurut Halim, (2007:194) dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan kepada masyarakat yang didasarkan pada arah desentralisasi daerah diberikan kewenangan untuk memungut pajak dan retribusi (tax assignment).

Otonomi daerah yang berlaku di Indonesia didasarkan pada UU No.9 Tahun2015

dijelaskan bahwa pemerintah daerah memisahkan fungsi eksekutif dengan fungsi

legislatif. Berdasarkan fungsinya, Pemerintah Daerah (eksekutif) dengan Dewan

Perwakilan Rakyat Daerah (legislatif) terjadi hubungan keagenan. (Halim,

2007:205)

(16)

Setiap Belanja Daerah yang akan dikeluarkan harus terlebih dahulu dianggarkan dalam APBD. Di dalam Undang- Undang Nomor 9 Tahun 2015 disebutkan bahwa pengeluaran ridak dapat dibebankan pada anggaran belanja untuk pengeluaran tersebut jika tidak tersedia atau tidak cukup tersedia dalam APBD. PAD, Dana Perimbangan dan Lain-Lain Pendapatan Daerah yang merupakan sumber dari pendapatan daerah maka seharusnya pemerintah daerah menyesuaikan pengeluaran yang akan dianggarkan berdasarkan jumlah Pendapatan Daerah yang didapat.

Pemerintah daerah yang berhasil menjalankan pembangunan daerah dan meningkatkan kesejahteraan rakyat tidak dapat dilepaskan dari keberhasilan mengelola APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah) secara efektif dan efisien. Sebaliknya pengelolaan APBD yang buruk dapat menghambat kinerja pemerintah daerah dalam peningkatan pembangunan daerah dan kesejahteraan rakyat. Persoalan yang muncul adalah saat pemerintah daerah dihadapkan pada jumlah belanja daerah yang kecil tetapi harus menanggung kebutuhan yang besar, sementara pada saat bersamaan pemerintah daerah kurang memiliki kreativitas mengelola APBD sehingga pemerintah pada jenjang diatasnya (Pemerintah provinsi atau pusat) tidak optimal dalam mengelola APBD.

Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011. “belanja daerah

adalah semua pengeluaran dari rekening kas umum daerah yang mengurangi

ekuitas dana dan merupakan kewajiban daerah dalam satu tahun anggaran yang

tidak akan diperoleh pembayarannya kembali oleh daerah” Belanja (Pengeluaran

pemerintah daerah yang oleh pemerintah daerah dilaporkan dalam APBD.

(17)

kegiatan operasi dalam pemerintahan. Belanja yang semakin meningkat maka dibutuhkan dana yang besar pula agar belanja untuk kebutuhan pemerintah daerah dapat terpenuhi.

Pemerintah daerah mengalokasikan dana dalam bentuk anggaran belanja daerah dalam APBD. Alokasi Belanja Daerah ini didasarkan pada kebutuhan daerah akan sarana dan prasarana, baik utnuk kelancaran pelaksanaan tugas pemerintahan maupun untuk fasilitas publik. Oleh karena itu, dalam upaya meningkatkan kualitas publik, pemerintah daerah seharusnya mengubah komposisi belanjanya. Selama ini belanja daerah lebih banyak digunakan untuk belanja rutin yang relatif kurang produktif.

Pemanfaaatan belanja hendaknya dialokasikan untuk hal-hal produktif, misal untuk melakukan aktivitas pembangunan. Dengan demikian, penerimaan pemerintah hendaknya lebih banyak untuk program-program layanan publik.

Kedua pendapat ini mengisyaratkan pentingnya mengalokasikan belanja untuk berbagai kepentingan publik. Beberapa hal yang mempengaruhi peningkatan belanja daerah diantaranya naiknya pendapatan asli daerah, dana alokasi khusus dan dana alokasi umum.

Pendapatan Asli Daerah merupakan semua penerimaan daerah yang

berasal dari sumber ekonomi asli daerah. Dengan ditambahnya infrastruktur dan

perbaikan infrastrukutur yang ada oleh pemerintah daerah, diharapkan akan

memacu pertumbuhan perekonomian di daerah. Pertumbuhan ekonomi daerah

(18)

akan merangsang meningkatnya pendapatan penduduk di daerah yang bersangkutan, seiring dengan meningkatnya pendapatan asli daerah. Semakin besar dana Pendapatan Asli Daerah (PAD) berarti semakin besar belanja daerah yang dilakukan pemerintah daerah untuk pembangunan di daerahnya masing- masing.

Dana Alokasi Umum (DAU) merupakan dana yang berasal dari APBN yang dialokasikan dengan tujuan pemerataan keuangan antar daerah untuk membiayai kebutuhan pengeluarannya di dalam rangka pelaksanaan desentralisasi . Berkaitan dengan perimbangan keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah, hal terseut merupakan konsekuensi adanya penyerahan kewenangn pemerintah pusat kepada pemerintah daerah.

Transfer yang cukup signifikan di dalam APBN dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah, dan pemerintah daerah secara leluasa dapat menggunakan dana ini apakah untuk member pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat atau untuk keperluan lain yang tidak penting. Semakin besar dana alokasi umum ke pemerintah daerah berarti semakin besar belanja daerah yang dilakukan pemerintah daeraah Fenomena umum yang dihadapi oleh sebagian besar pemerintahan daerah d Indonesia di bidang keuangan daerah adalah relatif kecilnya peranan (kontribusi ) PAD di dalam struktur Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

Dibawah ini ditampilkan Realisasi Belanja Daerah pada Pemerintahan

Kabupaten/Kota di Sumatera Selatan.

(19)

Belanja Daerah Kabupaten/Kota di Sumatera Selatan (Jutaan Rupiah)

No Nama Daerah 2015 2016 2017

1 Kabupaten Lahat 1.702.178 1.978.841 1.836.163

2 Kabupaten Musi Banyuasin

2.096.431 3.023.592 2.732.522

3 Kabupaten Musi Rawas 1.409.669 1.745.144 1.488.485 4 Kabupaten Musi Rawas

Utara

2.112.376 2.466.043 2.001.459

5 Kabupaten Ogan Komeling Ilir

1.745.362 2.375.340 2.268.728

6 Kabupaten Ogan Komeling Ulu

602.027 1.323.436 1.198.046

7 Kota Palembang 2.869.744 3.133.778 3.111.304

8 Kota Prambumulih 930.835 1.028.365 917.105

9 Kota Pagar Alam 796.245 922.367 756.011

10 Kota Lubuk Linggau 821.639 859.494 764.384

11 Kabupaten Banyuasin 1.682.192 1.872.738 1.897.387 12 Kabupaten Ogan Ilir 964.153 1.218.280 1.614.152 13 Kabupaten Oku Timur 1.327.372 1.545.716 1.572.819 14 Kabupaten Oku Selatan 975.060 1.271.792 1.147.432 15 Kabupaten Empat

Lawang

957.424 849.796 860.496

16 Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir

292.929 858.710 904.097

17 Kabupaten Musi Rawas Utara

670.724 790.483 797.211

Sumber data:www.djpk.kemenkeu.go.id

(20)

Dari data diatas, Lihat tabel 1.1. dapat diketahui bahwa Setiap

Kabupaten/Kota memiliki Laju Belanja Daerah yang selalu naik turun setiap

tahunnya . Semakin tinggi tingkat Belanja Daerah suatu daerah mencerminkan

semakin makmur dan semakin baik daerah tersebut. Kabupaten/Kota dengan

persentase Belanja Daerah Yang Tinggi mengartikan daerah tersebut memiliki

Sumber dana yang memadai sehingga pemerintah mampu menjalankan

pemerintahannya semaksimal mungkin yang berdampak pada penyediaan

pelayanan publik yang baik . Tersedianya Pelayanan publik yang baik berdampak

pada lancarnya kegiatan perkonomian pada masyarakat Setempat. Hal ini

mendorong kepada peningkatan belanja daerah tersebut. Sebaliknya Pemerintahan

yang Tingkat Belanja Daerah yang rendah mencerminkan daerah tersebut tidak

memiliki dana yang cukup sehingga tidak tersedia pelayanan publik yang

memadai dan hal ini membuat masyarakat setempat dalam menjalankan kegiatan

perekonomian mengalami kendala. Hal inilah yang menyebabkan rendahnya

Tingkat Belanja Daerah Suatu Daerah. Untuk mencapai Belanja Daerah yang

baik,kerja sama antara pemerintah pusat dan daerah harus baik pula. Pemerintah

pusat dan daerah merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dalam

upaya penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan masyarakat

(21)

Research Gap

Research Gap Belanja Daerah

No Variabel Peneliti Hasil

1 Pendapatan Asli Daerah Nahlia (2014) Berpengaruh Positif dan Signifikan Marissa (2014) Tidak

Berpengaruh Signifikan 2 Dana Alokasi Umum Wulansari

(2015)

Berpengaruh Positif dan Signifikan Nahlia (2014) Tidak

Berpengaruh Signifikan 3 Dana Alokasi Khusus Nahlia (2014) Berpengaruh

Positif Nuraina (2014) Tidak

Berpengaruh Signifikan Perbedaan hasil penelitian pengaruh Pendapatan Asli Daerah terhadap Belanja Daerah, yaitu menurut Nahlia (2014) yang menghasilkan bahwa Pendapatan Asli Daerah berpengaruh positif dan signifikan terhadap Belanja Daerah, berbeda dengan hasil penelitian Marissa (2014) bahwa pengaruh Pendapatan Asli Daerah tidak berpengaruh secara signifikan terhadap Belanja Daerah.

Perbedaan hasil penelitian pengaruh Dana Alokasi Umum terhadap

Belanja Daerah yaitu menurut Wulansari (2015) bahwa Dana Alokasi Umum

berengaruh positif dan signifikan terhadap Belanja Daerah, sedangkan hasil

penelitian Nahlia (2014) menghasilkan bahwa Dana Alokasi Umum tidak

berpengaruh signifikan terhadap Belanja Daerah.

(22)

Perbedaan hasil penelitian pengaruh Dana Alokasi Khusus terhadap Belanja Daerah yaitu menurut Wulansari (2015) bahwa Dana Alokasi Khusus berpengaruh Negatif dan Signifikan terhadap Belanja Daerah. Sedangkan Menurut Nuraina (2012) bahwa Dana Alokasi Khusus tidak berpengaruh signifikan terhadap Belanja Daerah.

Berdasarkan fenomena yang ada dan mengacu pada hasil penelitian terdahulu yang tidak konsisten mendorong penulis untuk meneliti kembali faktor- faktor yang mempengaruhi Belanja Daerah dengan judul:

“ Pengaruh Pendapatan Asli Daerah, Dana Alokasi Umum dan Dana Alokasi Khusus terhadap Belanja Daerah Pemerintahan Kabupaten/Kota Di Sumatera Selatan”

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan penjelasan pada latar belakang penilitian, maka rumusan masalah dalam penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut.

Apakah Pendapatan Asli Daerah, Dana Alokasi Umum dan Dana Alokasi Khusus berpengaruh secara simultan maupun parsial terhadap Belanja Daerah Pemerintahan Kabupaten/Kota Di Sumatera Selatan.Periode 2015-2017?

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan dari Penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah Pendapatan

Asli Daerah, Dana Alokasi Umum dan Dana Alokasi Khusus berpengaruh secara

parsial maupun simultan terhadap Belanja Daerah Pemerintahan Kabupaten/Kota

Di Sumatera Selatan Periode 2015-2017?

(23)

a. Bagi Pemerintah daerah

Menyediakan informasi bagi Pemerintah Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Selatan dalam beberapa hal yang berkaitan dengan pengaruh Pendapatan Asli Daerah, Dana Alokasi Umum dan Dana Alokasi Khusus dalam memprediksi Belanja Daerah.

b. Bagi Peneliti

Hasil Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi peneliti untuk menambah wawasan dan lmu pengetahuan tentang Pengaruh Pendapatan Asli Daerah(PAD), Dana Alokasi Umum, Dana Alokasi Khusus terhadap Belanja Daerah

c. Bagi Peneliti Selanjutnya

Hasil Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi peneliti selanjutnya untuk bahan masukan dalam menyempurnakan penelitian yang berkaitan dengan kebijakan belanja daerah dan sejenisnya

d. Memberikan informasi yang dapat dijadikan masukan, terutama bagi

pihak-pihak yang terkait dan berkepentingan dengan masalah yang diteliti

yaitu tentang pengaruh Pendapatan Asli Daerah, Dana Alokasi Umum,

dan Dana Alokasi Khusus dalam memprediksi Belanja Daerah.

(24)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Belanja Daerah

Menurut Erlina, dkk, (2013:169) menyatakan bahwa:

Belanja daerah adalah semua pengeluaran kas daerah dalam periode tahun bersangkutan yang mengurangi kekayaan pemerintah daerah. Dalam struktur anggaran daerah dengan pendekatan kinerja, pengeluaran daerah dirinci menurut organisasi. Fungsi, kelompok dan jenis belanja. Belanja daerah adalah kewajiban pemerintah daerah yang diakui sebagai nilai kekayaan bersih.

Kelompok belanja misalnya belanja administrasi umum, belanja operasi dan biaya pemeliharaan serta belanja investasi. Jenis belanja misalnya belanja pegawai, belanja barang, belanja perjalanan dinas, dan belanja lain-lain

Menurut Erlina, dkk, (2013:169) menyatakan bahwa:

Belanja daerah dibagi menjadi belanja operasi, belanja modal, belanja tidak terduga, dan belanja transfer

a. Belanja Operasi

Belanja Operasi adalah pengeluaran anggaran untuk kegiatan sehari-hari pemerintah daerah yang member manfaat jangka pendek kelompok belana operasi terdiri dari : belanja pegawai, belanja barang, belanja bunga, belanja subsidi, belanja hibah, belanja bantuan sosial

b. Belanja Modal

Belanja modal merupakan pengeluaran anggaran untuk perolehan

aset tetap dan aset lainnya yang memberikan manfaat lebih dari

satu periode akuntansi. Belanja Modal termasuk : belanja tanah,

belanja peralatan dan mesin, belanja modal gedung dan bangunan,

belanja modal jalan, irigasi, dan jaringan belanja aset tetap lainnya,

belanja aset lainnya

(25)

Kelompok belanja lain-lain/tidak terduga adalah pengeluaran anggaran untuk kegiatan yang sifatnya tidak biasa dan tidak diharapkan berulang, seperti penanggulangan bencana alam, bencana sosial, dan pengeluaran tidak terduga lainnya yang sangat diperlukan dalam rangka penyelenggaraan kewenangan pemerintah pusat / daerah.

d. Belanja Transfer

Belanja transfer adalah pengeluaran anggaran dari entitas pelaporan yang lebih tinggi ke entitas pelaporan yang lebih rendah seperti pengeluaran dana perimbangan oleh pemerintah pusat ke pemerinth daerah dan dana bagi hasil oleh pemerintah provinsi ke kabupaten/kota serta dana bagi hasil dai kabupaten/kota ke desa.

Berdasarkan kutipan diatas bahwa Belanja Daerah merupakan semua pengeluaran kas Daerah yang terdiri dari Belanja Operasi, Belanja Modal, Belanja Tidak Terduga dan Belanja Transfer.

Semakin Tinggi Belanja Daerah di suatu Wilayah Semakin tinggi pula tingkat kemakmuran di suatu daerah tersebut.

Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 64 Tahun 2013 Tentang Penerapan Standar Akuntansi Pemerintahan Berbasis Akrual Pada Pemerintah Daerah menjelaskan bahwa Belanja adalah semua pengeluaran dari rekening kas umum daerah yang mengurangi saldo anggaran lebih dalam periode tahun anggaran bersangkutan yang tidak akan diperoleh pembayarannya kembali oleh pemerintah daerah.

Sesuai UU Nomor 9 Tahun 2015, belanja daerah dilaksanakan

untuk mendanai urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah,

(26)

sedangkan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan pemerintah didanai dari atas beban APBN.

Pelaksanaan anggaran belanja dilakukan dengan memperhatikan prinsip- prinsip yang telah ditetapkan, yaitu:

a. Hemat, tidak mewah, efisien, dan sesuai dengan kebutuhan teknis yang diisyaratkan

b. Efektif, terarah, dan terkendali sesuai dengan rencana, program/kegiatan setiap departemen/lembaga pemerintah non departemen

c. Mengutamakan penggunaan produksi dalam negeri dan potensi nasional.

Untuk dapat mensinergikan kebutuhan pelayanan publik masyarakat daerah maka terdapat tiga hal yang dapata mempengaruhi pengambilan keputusan pemerintah daerah dalam mengelola anggaran daerah yang berkaitan dengan pelayanan publik yaitu :

a. Dimensi ekonomi, akan dipengaruhi oleh pemahaman bahwa pelayan publik menjadi leading bagi pelaksanaan pembangunan daerah

b. Dimensi Pemerintahan, akan dipengaruhi oleh peran pemerintah daerah yang semakin kuat dalam penyediaan layanan public c. Dimensi politik, mengarah pada penerapan demokratisasi yang

menerapkan keterwakilan masyarakat sehingga perangkat daerah

(27)

kebijakan sesuai dengan mekanisme demokrasi 2.2. Pendapatan Asli Daerah (PAD)

Menurut Halim (2007:96) menyatakan bahwa :

Pendapatan Asli Daerah merupakan semua penerimaan daerah yang berasal dari sumber ekonomi asli daerah. Kelompok pendapatan asli daerah dipisahkan menjadi empat jenis yaitu:

a. Pajak Daerah

Pajak Daerah merupakan penerimaan daerah yang berasal dari pajak dimana penerimaan ini meliputi pajak kendaraan bermotor, bea balik nama kendaraan bermotor, pajak bahan bakar kendaraan bermotor, pajak kendaraan di atas air , pajak air dibawah tanah, pajak air permukaan.

b. Retribusi Daerah

Retribusi daerah merupakan penerimaan daerah yang berasal dari retribusi daerah. Penerimaan ini meliputi retribusi pelayanan kesehatan, retribusi pemakaian kekayaan daerah , retribusi pasar grosir dan atau pertokoan, retribusi penjualan produksi usaha daerah, retribusi izin trayek kendaraan penumpang, retribusi air, retribusi jembatan timbang. Retribusi kelebihan muatan, dan retribusi perizinan pelayanan dan pengendalian.

c. Hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan

Penerimaan ini antara lain berasal dari BPD, Perusahaan Daerah, Dividen BPR-BKK, dan penyertaan modal daerah kepada pihak ketiga.

d. Lain-lain PAD

Lain-lain PAD merupakan penerimaan daerah yang berasal dari lain-lain milik pemerintah daerah. Penerimaan ini berasal dari hasil penjualan barang milik daerah, contohnya penjualan drum bekas aspal, penjualan pohon ayoman dan penerimaan ini juga berasal dari penerimaan jasa giro.

Berdasarkan Kutipan diatas bahwa Pendapatan Asli Daerah (PAD)

merupakan tolak ukur yang penting untuk menentukan tingkat kemampuan

(28)

daerah dalam melaksanakan otonomi daerah secara nyata dan bertanggungjawab. Otonomi daerah membawa dampak positif bagi daerah yang memiliki potensi sumber daya alamnya. Yang merupakan salah satu masalah yang dihadapi pemerintah daerah kabupaten/kota pada umumnya adalah terbatasnya dana yang berasal dari daerah sendiri.

2.3. Dana Alokasi Umum (DAU)

Menurut Erlina dkk, (2013:29) menyatakan bahwa :

Dana Alokasi Umum (DAU) adalah sejumlah dana yang dialokasikan kepada setiap daerah otonom (Provinsi/Kabupaten/Kota) di Indonesia setiap tahunnya sebagai dana pembangunan. DAU merupakan salah satu komponen belanja pada APBN, dan menjadi salah satu komponen pendapatan pada APBD. Tujuan DAU adalah sebagai pemerataan kemampuan keuangan antar daerah untuk mendanai kebutuhan daerah Otonom dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. Dana Alokasi Umum terdiri dari Dana Alokasi Umum untuk Daerah Provinsi dan Dana Alokasi umum untuk Daerah Kabupaten/Kota.

Berdasarkan Kutipan diatas bahwa DAU merupakan transfer yang

bersifat umum (block grant ) yang diberikan kepada semua kabupaten dan

kota untuk mengisi kesenjangan antara kapasitas dan kebutuhan fiskalnya

dan didistribusikan dengan formula berdasarkan prinsip-prinsp tertentu

yang secara umum mengindikasikan bahwa daerah miskin dan terbelakang

harus menerima lebih banyak dari pada daerah kaya. Dana Alokasi Umum

bersifat tidak memiliki syarat dan penggunaannya sehingga bias

dialokasikan sesuai dengan kebutuhan daerah

(29)

yang menekankan pada aspek pemerataan dan keadilan yang selaras dengan penyelenggaraan urusan pemerintahan yang formula dan perhitungan DAU-nya ditetapkan sesuai Undang-undang (pasal 161).

2.4. Dana Alokasi khusus

Pada Peraturan Pemerintah No. 55 Tahun 2005 pasal 1 ayat 24 tentang dana perimbangan dinyatakan bahwa Dana Alokasi Khusus adalah alokasi dana anggaran Pendapatan dan Belanja Negara kepada provinsi/kabupaten/kota tertentu dengan tujuan untuk mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan pemerintah daerah dan sesuai dengan prioritas nasional” DAK ini diprioritaskan untuk kebutuhan daerah tertinggal perbatasan, terluar, terpencil, kepulauan dan pasca bencana Alokasi DAK per daerah ditetapkan dengan Peraturan Menteri Keuangan.

Penggunaan DAK harus dilakukan sesuai dengan petunjuk Teknis Penggunaan DAK yang dikeluarkan oleh Menteri Dalam Negeri.

Didasarkan pada Permendagri No. 20 Tahun 2009 tentang pedoman Pengelolaan Keuangan Alokasi Khusus di daerah pada pasal 32 ayat (1) s/d (3) yaitu:

1. Daerah penerima DAK wajib mencantumkan alokasi dan penggunaan DAK nya di dalam APBD

2. Kecuali untuk daerah dengan kemampuan keuangan tertentu,

daerah penerima DAK wajib menganggarkan Dana Pendamping

dalam APBD sekurang-kurangnya 10% dari besaran alokasi DAK

yang diterimanya. Dana pendamping tersebut digunakan untuk

menandai kegiatan yang bersifat kegiatan fisik.

(30)

3. Kepala Daerah penerima DAK harus menyampaikan laporan triwulan yang memuat laporan pelaksanaan kegiatan dan penggunaan DAK kepada menteri keuangan, Menteri Teknis , dan Menteri Dalam Negeri. Penyampaian laporan dilakukan selambat- lambatnya 14 hari setelah triwulan yang bersangkutan berakhir.

Menteri Teknis menyampaikan laporan pelaksanaan kegiatan DAK setiap akhir tahun anggaran kepada Menteri Keuangan, Menteri Perancanaan dan Pembangunan Nasional dan Menteri Dalam Negeri.

Berdasarkan Kutipan diatas bahwa DAK merupakan anggaran yang berasal dari APBN kepada daerah tertentu dengan memenuhi kebutuhan khusus dengan mempertimbangkan tersedianya dana dalam APBN

2.5. Penelitian Terdahulu

Beberapa peneliti terdahulu telah banyak melakukan penelitian ini, diantara nya Penelitian yang dilakukan oleh Nuraina (2012) tentang belanja daerah di Pemerintahan Kota Manado dengan variabel pajak daerah, dana alokasi khusus. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa Pajak Daerah berpengaruh Positif dan Signifikan terhadap belanja daerah sedangkan dana alokasi khusus tidak berpengaruh secara signifikan terhadap belanja daerah.

Penekitian lain dilakukan oleh Nahlia (2014) tentang Belanja Daerah di

Provinsi Riau dengan Variabel. Pendapatan Asli Daerah (PAD), Dana Alokasi

Umum (DAU) dan Dana Alokasi Khusus (DAK). Hasil Penelitian menunjukkan

bahwa Pendapatan Asli Daerah (PAD) berpengaruh positif dan signifikan

terhadap Belanja Daerah sedangkan Dana Alokasi umum (DAU) dan Dana

(31)

Daerah.

Penelitian lain dilakukan oleh Marissa (2014) tentang Belanja Daerah di Provinsi Jawa Tengah dengan variabel Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan dana alokasi umum (DAU) hasil penelitian menunjukkan bahwa dana alokasi umum berpengaruh positif dan signifikan terhadap Belanja Daerah sementara Pendapatan Asli Daerah tidak berpengaruh signifikan terhadap Belanja Daerah

Penelitian Lain dilakukan oleh Wulansari (2015) tentang Belanja Daerah

di Provinsi Sumatera Barat dengan Variabel Pendapatan Asli Daerah (PAD),

Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK) dan Dana Bagi Hasil

(DBH). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pendapatan Asli Daerah, Dana

Alokasi Umum, Dana Alokasi Khusus dan Dana Bagi Hasil berpengaruh Positif

dan signifikan terhadap Belanja Daerah.

(32)

Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu

No Peneliti Variabel Penelitian Hasil Penelitian

1 Nuraina (2012)

Independen : 1. Pajak Daerah 2. DAK

Dependen : Belanja Daerah

Pajak daerah berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap belanja daerah . Dana alokasi khusus tidak berpengaruh secara

signifikan terhadap belanja daerah

2 Nahlia (2014)

Independen:

1.PendapatanAsli Daerah 2. Dana Alokasi Umum 3. Dana Alokasi Khusus Dependen :

Belanja Daerah

Hasil Penelitian

menunjukkan bahwa secara parsial Pendapatan asli daerah berpengaruh

signifikan terhadap belanja daerah, dana alokasi umum, dan dana alokasi khusus tidak berpengaruh signifikan terhadap belanja daerah.

3 Marissa (2014)

Independen:

1.Pendapatan Asli daerah 2. Dana Alokasi Umum Dependen:

1. Belanja Daerah

Dana Alokasi Umum berpengaruh signifikan dan positif terhadap belanja daerahPendapatan Asli Daerah (PAD) tidak berpengaruh signifikan terhadap belanja daerah.

4 Wulansari (2015)

Independen:

1. Pendapatan Asli Daerah

Hasil penelitian

menunjukkan bahwa

PAD,DAU,DAK,DBH

(33)

3. Dana Alokasi Khusus 4. Dana Bagi Hasil Dependen :

1. Belanja Daerah.

signifikan terhadap belanja daerah.

2.6. Kerangka Konseptual

Kerangka Konseptual berdasarkan tinjauan teoritis dan penelitian terdahulu dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar 2.1

Kerangka Konseptual

Kerangka konseptual adalah suatu model yang menerangkan bagaimana hubungan teori dengan faktor-faktor yang penting yang telah diketahui dalam suatu masalah tertentu. Penelitian ini menggunakan tiga variabel independen yaitu

Belanja Daerah (Y)

Pendapatan Asli Daerah (X1)

Dana Alokasi Umum (X2)

Dana Alokasi Khusus

(X3)

(34)

pendapatan asli daerah, dana alokasi umum dan dana alokasi khusus serta satu variabel dependen yaitu belanja daerah. Berikut ini uraian konsep variabel- variabel dependen dalam penelitian ini pada gambar 2.1

A. Pendapatan Asli Daerah berpengaruh terhadap belanja daerah.

Pendapatan Asli daerah merupakan semua penerimaan daerah yang berasal dari sumber ekonomi asli daerah. Dengan ditambahnya infrastruktur dan perbaikan infrastruktur yang ada oleh pemerintah daerah. Diharapkan akan memacu pertumbuhan perekonomian di daerah. Pertumbuhan ekonomi daerah akan merangsang meningkatnya pendapatan penduduk di daerah yang bersangkutan, seiring dengan meningkatnya pendapatan asli daerah. Semakin besar dana Pendapatan Asli Daerah berarti semakin besar belanja daerah yang dilakukan pemerintah daerah untuk pembangunannya di daerahnya masing- masing

B.Dana Alokasi Umum berpengaruh terhadap belanja daerah

Dana Alokasi Umum (DAU) adalah dana yang berasal dari APBN yang

dialokasikan dengan tujuan pemerataan keuangan antar daerah untuk membiayai

kebutuhan pengeuarannya di dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. Transfer

yang cukup signifikan didalam APBN dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah

, dan pemerintah daerah secara leluasa dapat menggunakan dana ini apakah untuk

member ipelayanan yang lebih baik kepada masyarakat atau untuk keperluan lain

yang tidak penting. Semakin besar dana alokasi umum ke pemerintah daerah

berarti semakin besar belanja daerah yang dilakukan pemerintah daerah.

(35)

kecilnya bobot masing-masing daerah. Jika bobot suatu daerah besar, maka dana alokasi umum yang akan diterima daerah tersebut akan besar dan alokasi dana yang akan digunakan untuk belanja daerah semakin besar, tetapi sebaliknya, bila suatu bobot suatu daerah kecil, maka Dana Alokasi Umum yang akan diperolehnya juga semakin kecil dan alokasi dana yang akan digunakan untuk belanja daerah semakin kecil.

C.Dana Alokasi Khusus berpengaruh terhadap Belanja Daerah.

DAK merupakan dana yang berasal dari dana perimbangan selain dana alokasi umum dan dan bagi hasil. Tujuan DAK untuk mengurangi beban biaya kegiatan khusus yang harus ditanggung jawab oleh pemerintah daerah.

Pemanfaatan DAK diarahkan kepada kegiatan investasi pembangunan,

pengadaan, peningkatan, perbaikan sarana dan prasarana fisik pelayanan publik

dengan umur ekonomis panjang. DAK digunakan untuk menutup kesenjangan

pelayanan publik antar daerah dengan member prioritas pada bidang

pendidikan,kesehatan,infrastruktur,kelautan dan perikanan,pertanian,prasarana

pemerintah daerah, dan lingkungan hidup. Apabila dikelola dengan baik. DAK

yang secara khusus digunakan untuk pembangunan dan rehabilitasi sarana dan

prasarana fisik ini dapat membantu menanggulangi kemiskinan dan secara umum

dapat digunakan untuk membangun perekonomian nasional . Menurut Undang-

undang No 9 Tahun 2015, Dana Alokasi Khusus adalah dana yang bersumber dai

pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah tertentu dengan tujuan untuk

membantu mandanai kegiatan khusus yang merupakan urusan daerah dan sesuai

(36)

dengan prioritas nasioanal . DAK dialokasikan dalam APBN untuk daerah-daerah tertentu dalam rangka mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan daerah dan termasuk dalam program prioritas nasioanal. DAK diberikan dengan tujuan untuk membiayai kegiatan-kegiatan khusus pada daerah tertentu yang merupakan urusan daerah dan sesuai dengan prioritas nasioanal , khususnya untuk membiayai kebutuhan sarana dan prasarana pelayanan dasar masyarakat yang belum mencapai standar tertentu atau untuk mendorong percepatan pembangunan daerah, maka semakin tinggi DAK maka akan semakin tinggi dana yang diperoleh dari pemerintah pusat . bertambahnya kucuran DAK ke daerah setiap tahun semestinya disertai rancangan lebih terarah dan pemanfaatannya benar-benar untuk kepentingan rakyat dan bukan rancangan yang member peluang terjadinya kebocoran anggaran. Jika kebocoran anggaran itu terjadi menunjukkan tingkat belanja daerah tinggi

D.Pendapatan Asli Daerah, Dana Alokasi Umum, Dana Alokasi Khusus berpengaruh terhadap Belanja Daerah.

Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui apakah semua variabel

independen secara bersama-sama (simultan) dapat berpengaruh terhadap variabel

dependen. Apakah Pendapatan Asli Daerah(PAD), Dana Alokasi Umum (DAU),

Dana Alokasi Khusus (DAK) secara bersama-sama berpengaruh terhadap Belanja

Daerah.

(37)

Berdasarkan tinjauan teoritis dan kerangka konseptual yang telah

diuraikan sebelumnya, maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah

Pendapatan Asli Daerah, Dana Alokasi Umum, Dana Alokasi Khusus

berpengaruh secara simultan maupun parsial terhadap belanja daerah pada

Pemerintahan Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Selatan Peiode 2015-2017?

(38)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang dipakai peneliti di dalam penelitian ini adalah jenis asosiatif kausal.Desain penelitian asosiatif kausal adalah desain penelitian untuk melihat adanya korelasi sebab-akibat antar variabel (Copper dan Emory, 1996:37) Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh antara variabel independen terhadap variabel dependen.Variabel Pendapatan Asli Daerah , Dana Alokasi Umum dan Dana Alokasi Khusus merupakan variabel independen (X), dan Akan dilihat korelasi sebab-akibatnya dengan Belanja Daerah yang merupakan Variabel Dependen.

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada pemerintahan Kabupaten/Kota Di Sumatera Selatan yang melaporkan laporan realisasi anggaran Pendapatan Belanja Daerah pada Direktorat Jenderal Keuangan Kementrian Republik Indonesia . Data yang diperoleh melalui media internet dengan mengakses http:www.djpk.kemenkeu.go.id dan http:www.bps.go.id, berupa data series keuangan tahun 2015-2017.

3.3 Batasan Operasional

Batasan operasional adalah penentuan batasan yang lebih menjelaskan

ciri-ciri spesifik yang lebih substantif dari suatu konsep. Alasan peneliti

(39)

terhadap istilah-istilah dalam judul penelitian.

Tujuan dari batasan operasional adalah agar peneliti dapat mencapai suatu alat ukur yang sesuai dengan hakikat variabel yang sudah didefinisikan konsepnya. Oleh karena itu, batasan operasioanal dalam penelitian ini adalah :

1. Batasan penelitian ini adalah terhadap akuntansi keuangan daerah, berkaitan dengan . Pendapatan Asli Daerah, Dana Alokasi Umum, dan Dana Alokasi Khusus dibandingkan dengan realisasi belanja daerah.

2. Batasan waktu penelitian meliputi tahun 2015-2017

3. Objek Penelitian ini adalah pada Pemerintah Kabupaten/Kota Sumatera Selatan.

3.4 Defenisi Operasional dan Pengukuran Variabel Penelitian

Agar penelitian ini dapat dilaksanakan sesuai dengan yang diharapkan, maka perlu dipahami berbagai unsur-unsur yang menjadi dasar dari suatu penelitian ilmiah yang termuat dalam operasional variabel penelitian. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah variabel independen dan variabel dependen.

3..4.1 Variabel Dependen

Variabel dependen dalam penelitian ini adalah Belanja Daerah .

Belanja Daerah adalah semua pengeluaran kas daerah selama tahun yang

bersangkutan yang mengurangi kekayaan pemerintah daerah. Belanja

Daerah ialah Semua kewajiban daerah yang diakui sebagai nilai kekayaan

(40)

bersih. Besarnya Belanja Daerah dapat dilihat dari Laporan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) pada bagian Belanja Daerah

3.4.2 Variabel Independen

Variabel independen dalam penelitian ini adalah Pendapatan Asli Daerah, Dana Alokasi Umum dan Dana Alokasi Khusus pada Kabupaten dan Kota yang ada di Provinsi Sumatera Selatan pada Tahun 2015-2017.

3.4.2.1 Pendapatan Asli Daerah

Pendapatan Asli Daerah Merupakan semua penerimaan yang berasal dari sumber ekonomi asli daerah seperti Pajak daerah, Retribusi Daerah, Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah Yng Dipisahkan dan Lain-Lain PAD yang sah. Besarnya Pendapatan Asli Daerah dapat dilihat dari Laporan Realiasai Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) pada bagian Pendapatan Asli Daerah

3.4.2.2 Dana Alokasi Umum

Dana Alokasi Umum merupakan Anggaran yang berasal

dari APBN yang di alokasikan dengan tujuan sebagai pemerataan

kemampuan keuangan antar daerah dengan memenuhi kebutuhan

tertentu sebgai tahap pelaksanaan desentralisasi.Besarnya Dana

Alokasi Umum dapat dilihat dari Laporan Realisasi Anggaran

(41)

Alokasi Umum.

3.4.2.3 Dana Alokasi Khusus

Dana Alokasi Khusus merupakan anggaran yang berasal dari APBN kepada daerah tertentu untuk memenuhi kebutuhan khusus dengan mempertimbangkan tersedianya dana dalam APBN.

Besarnya Dana Alokasi Khusus dapat dilihat dari Laporan Realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah pada bagian Dana Alokasi Khusus.

Tabel 3.1

Definisi dan Skala Pengukuran Variabel

Nama Variabel Definisi Parameter Skala

Belanja Daerah Belanja Daerah adalah Semua kewajiban daerah yang diakui sebagai pengurangan nilai kekayaan bersih dalam periode tahun yang bersangkutan

Realisasi Belanja Daerah

Rasio

Pendapatan Asli Daerah

Pendapatan asli daerah adalah pendapatan daerah yang bersumber dari hasil pajak daerah, retribusi daerah, hasil distribusi hasil pengelolaan kekayaan daerah yang

Realisasi

Pendapatan Asli Daerah

Rasio

(42)

dipisahkan dan lain-lain PAD yang sah

Dana Alokasi Umum

Dana Alokasi Umum adalah dana yang bersumber dari APBN yang dialokasikan dengan tujuan pemerataan

kemampuan keuangan antar daerah untuk mendanai kebutuhan dalam rangka pelaksanaan desentralisasi

Realisasi Dana Alokasi Umum

Rasio

Dana Alokasi Khusus

Dana Alokasi Khusus adalah dana yang

dialokasikan dari APBN kepada daerah tertentu untuk membantu

kebutuhan khusus dengan memperhatikan

tersedianya dana dalam APBN

Realisasi Dana Alokasi Khusus

Rasio

3.5 Populasi dan Sampel Penelitian

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Populasi juga bukan sekedar jumlah yang ada pada objek/subjek yang dipelajari, tetapi meliputi seluruh karakteristik/sifat yang dimiliki oleh setiap subjek atau objek yang telah diteliti.

Populasi dalam penelitian ini adalah pemerintah daerah kabupaten/kota di

Provinsi Sumatera Selatan yang berjumlah 17 Kabupaten/Kota. Teknik Sampel

(43)

bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel.

Menurut Sugiyono (2011:62) menyatakan bahwa:

Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi. Bila populasi besar, dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada populasi, misalnya karena keterbatasan dana, tenaga dan waktu, maka peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi itu. Apa yang dipelajari dari sampel kesimpulannya akan dapat diberlakukan untuk populasi. Untuk itu sampel yang diambil dari populasi harus betul-betul representif (mewakili).

Berdasarkan kutipan diatas dapat disumpulkan bahwa sampel ialah jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi.

Menurut Sugiyono (2011:62) menyatakan bahwa:

Sampling jenuh ialah teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel . Hal ini sering dilakukan bila jumlah pupulasi relative kecil . Istilah lain dalam sampel jenuh adalah sensus, dimana semua anggota populasi dijadikan sampel

Berdasarkan kutipan diatas dapat disinpulkan bahwa sampel jenug ialah

semua anggota populasi yang ada di kabupaten.kota di sumatera selatan

dijadikan sampel

(44)

Tabel 3.2

Populasi dan Sampel Penelitian

No Kabupaten/Kota

I Kabupaten 1 Banyuasin 2 Empat Lawang 3 Lahat

4 Muara Enim 5 Musi Banyuasin 6 Musi Rawas 7 Musi Rawas Utara 8 Ogan ilir

9 Ogan Komering ilir 10 Ogan Komering ulu

11 Ogan Komering ulu selatan 12 Ogan Komering ulu timur 13 Penukal Abab Lematang Ilir

II Kota

1. Lubuk Linggau 2 Pagar Alam 3 Palembang 4 Prabumulih

Sumber : www.djpk.kemenkeu.go.id .

(45)

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data sekunder merupakan sumber data penelitian yang diperoleh peneliti secara tidak langsung, yaitu catatan, ataupun laporan historis yang telah tersusun dalam arsip yang dipublikasikan dan yang tidak dipublikasikan.

3.7 Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah melakukan teknik dokumentasi, yaitu peneliti mengumpulkan data sekunder, mencatat dan mengelolah data yang berkaitan dengan penelitian ini.

3.8 Metode Analisis Data

Analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan melakukan uji asumsi klasik dan pengujian hipotesis.

3.8.1 Analisis Statistik Deskriptif

Statistik deskriftif memberikan gambaran atau deskripsi suatu data yang dilihat dari nilai rata-rata (mean), standar deviasi, varian, maksimum, minimum,sum,range,kurtosis dan skewnes (kemencengan distribusi).

3.8.2 Analisis Regresi Linear Berganda

Model regeresi linier berganda adalah model regresi yang

memiliki lebih dari satu variabel independen. Pada penelitian ini

(46)

terdapat tiga variabel independen, yakin Pendapatan Asli Daerah, Dana Alokasi Umum, Dana Alokasi Khusus,. Model regresi linier berganda dikatakan model yang baik jika model tersebut memiliki asumsi normalitas data dan terbebas dari asumsi-asumsi klasik statistik baik multikolinearitas, autokorelasi dan heterokedastisitas, Persamaan regres linier berganda yaitu :

Y= α + β1X1 + β2X2 + β3X3 + β4X4 + ε Keterangan :

Y = Belanja Daerah

X1 = Pendapatan Asli Daerah X2 = Dana Alokasi Umum X3 = Dana Alokasi Khusus α = Konstanta

ε = error

β1, β2, β3, β4 + koefisien regresi yang menunjukkan perubahan variabel dependen berdasarkan variabel independen

3.8.3. Uji Asumsi Klasik

Analisis multivariate telah banyak digunakan untuk memecahkan masalah penelitian. Hal ini disebabkan permasalahan bisnis dan lainnya mempunyai aspek multidimensional. Dalam melaksanakan pengujian dalam analisis Multivariate, penelitian perlu melakukan pengujian atas data yang akan digunakan.

Pengujian tersebut dilakukan untuk menghindari atau mengurangi

(47)

yang paling penting adalah:

1. Memiliki distribusi normal

2. Tidak terjadi multikolinearitas antar variabel independen.

3. Tidak terjadi heterokedastisitas atau varian variabel penganggu yang konstan (homoskedastisitas)

4. Tidak terjadi autokorelasi antar residual setiap variabel independen.

Pengujian Asumsi Klasik meliputi normalitas, multikolinearitas, heterokedastisitas dan autokorelasi, yang penjelasannya sebagai berikut

1. Uji Normalitas

Tujuan uji normalitas adalah mengetahui apakah dalam

model regresi variabel penganggu atau residual memiliki distribusi

normal. Data yang baik dan layak digunakan dalam penelitian

adalah data yang memiliki distribusi normal. Menurut Ghozali

(2011 :160) menyatakan bahwa ada dua cara untuk mendeteksi

apakah residual berdistribus normal atau tidak adalah dengan

analisis grafik dan uji statistic. Uji normalitas data dilakukan

dengan uji kolmogorov Smirnov, distribusi data dikatakan normal

jika signifikan >0,05

(48)

2. Uji Multikolinearitas

Tujuan uji multikolinearitas adalah untuk menguji apakah model regresi ditemukan dengan adanya korelasi antara variabel independen. Suatu model regresi yang baik tidak ditemukannya hubungan atau korelasi di antara variabel independen . Penguji multikolinearitas mengunakan metode Variance Inflasation Factor (VIF), Metode VIF ini menjelaskan hubungan variable inidependen yang mana menjelaskan variabel dependen yang lain. Tolarance mengukur variabilitas variabel independen yang terpilih dan tidak dijelaskan oleh variabel independen lainnya. Menurut Ghozali (2011 : 143) “ Nilai tolerance yang rendah sama dengan nilai VIF yang tinggi (karena VIF= 1/Tolarance) Nilai cutoff yang umum dipakai untuk menunjukkan adanya multikolinearitas adalah nilai tolerance ≤ 0,10 atau sama dengan nilai VIF ≥10”

3. Uji Heterokedastisitas

Tujuan uji heterokedastisitas adalah untuk menguji apakah

dalam model regresi terjadi ketidaksamaan Variance residual satu

pengamatan ke pengamatan yang lain. Jika variance dari residual

satu pengamatan ke pengamatan yang lain tetap, maka disebut

homoskedastisitas dan jika berbeda disebut heterokedastisitas atau

tidak terjadi heterokedastisitas. Beberapa cara untuk mendeteksi

ada tidaknya heterokedastisitas:

(49)

pola tertentu yang teratur (bergelombang menyebar kemudian menyempit) maka mengindikasikan yang telah terjadi heterokedastisitas

2. Jika tidak ada pola yang jelas, serta titik-titik menyebar diatas dan dibawah angka 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi heterokedastisitas.

4. Uji Autokorelasi

Uji autokorelasi ini mempunyai tujuan untuk menguji

apakah dalam suatu model regresi linier ada korelasi antara

kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan adap

periode t- 1 atau sebelumnya. Jika terjadi korelasi, maka

dinamakan ada problem autokorelasi. Autokorelasi muncul karena

observasi yang berurutan sepanjang waktu berkaitan satu sama

lainnya. Pengujian ini dilakukan dengan menggunakan uji Durbin

Watson (Durbin Watson Test), yaitu untuk mengetahui dan

menguji apakah terjadi koreksi serial atau tidak dengan

menghitung nilai d statistic. Salah satu pengujian yang dilakukan

untuk mengetahui adanya autokorelasi dengan memakai uji

statistic Durbin-Watson (DW Test)

(50)

Menurut Santoso (2000:2010 ) menyatakan bahwa

Cara yang dapat digunakan untuk mendeteksi masalah autokorelasi adalah dengan menggunakan nilai uji durbin Watson dengan ketentuan dari singgih Santoso sebagai berikut:

a. Angka D-W dibawah -2 berarti autokorelasi positif.

b. Angka D-W di antara -2 samapai +2 berarti tidak ada autokorelasi

c. Angka D-W di atas + berarti ada autokorelasi negatif Run test sebai bagian dari statistic non parametric dapat pula digunakan untuk menguji apakah antar residual terdapat korelasi yang tinggi. Jika antar residual tidak terdapat hubungan korelasi maka dikatakan bahwa residual adalah acak atau random yaitu dengan melihat probabilitasnya. Bila signifikan > 0.05 dengan α = 5%

berarti residual tidak random H0 ditolak.

3.8.4. Pengujian Hipotesis

1. Uji Koefisien Determinasi ( )

Pengujian koefisien determinasi ( ) digunakan untuk

mengukur proporsi atau persentase sumbangan variabel

independen yang diteliti terhadap variasi naik turunnya variabel

dependen atau dengan kata lain untuk menguji goodness-fit dari

model regresi. Nilai ( ) koefisien determinasi berkisar antara o

sampai 1 (0≤ ≤1) nilai dikatakan baik jika diatas 0.5 karena

nilai berkisar antara 0 sampai 1. Nilai sama dengan nol

(51)

( = 0) menunjukkan tidak adanya pengaruh antara variabel independen terhadap variabel dependen. Bila semakin besar mendekati 1 menunjukkan semakin kuat pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen dan bila semakin besar mendekati 1 menunjukkan semakin kuat pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen dan bila semakin kecil mendekati nol menunjukkan semakin kecil pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen .

2. Uji Regresi Parsial (T-test)

Uji statistik t pada dasarnya menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu variabel independen secara individual dalam menerangkan variabel dependen. Pengujian dilakukan dengan menggunakan Significance Level 0.05 (α=5%)

Penerimaan atau penolakan hipotesis dilakukan dengan kriteria sebagai berikut

1. Jika nilai signifikan >0.05 maka hipotesis ditolak (koefisien regresi tidak signifikan). Hal ini berarti bahwa secara parsial variabel independen tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen.

2. Jika nilai signifikan ≤ 0.05 maka hipotesis diterima

(koefisien regresi ignifikan). Hal ini berarti secara parsial

(52)

variabel independen tersebut mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen

3. Uji Regresi Simultan (F-test)

Pengujian ini dilakukan untuk melihat apakah semua variabel bebas yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel terikat.

Kriteria pengujiannya adalah :

Tingkat signifikansi yang digunakan pada uji F ini digunakan α=

5% artinya kemungkinan kesalahan hanya boleh lebih kecil atau

sama dengan 5%. Jika lebih besar dari 0.05 maka variabel tersebut

tidak layak dipakai

(53)

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Analisis Statistik Deskriptif

Analisis statistik deskriptif digunakan untuk mengetahui deskripsi suatu data yang dilihat dari nilai maksimum, nilai minimum, nilai rata-rata (mean), dan nilai standar deviasi, dari variabel pendapatan asli daerah, dana alokasi umum, dana alokasi khusus dan belanja daerah.

Tabel 4.1 Statistik Deskriptif BerdasarkanVariabel Pendapatan Asli Daerah, Dana Alokasi Umum, Dana Alokasi Khusus Dan Belanja Daerah

Descriptive Statistics

N Minimum Maximum Mean Std. Deviation Pendapatan Asli Daerah (X1) 51 4.24 894.01 143.7545 182.48736 Dana Alokasi Umum (X2) 51 131.03 1292.12 599.7309 266.61953 Dana Alokasi Khusus (X3) 51 1.98 429.36 151.5487 104.19753

Belanja Daerah (Y) 51 292.93 3133.78 1468.3938 718.53698

Valid N (listwise) 51

Diolah Oleh Penulis (2019)

Berdasarkan Tabel 4.1, diketahui nilai minimum dari pendapatan asli daerah

adalah 4,24, sementara nilai maksimum dari pendapatan asli daerah adalah

894,01. Nilai rata-rata dari pendapatan asli daerah adalah 143,7545, sementara

nilai standar deviasi dari pendapatan asli daerah adalah 182.48736.Diketahui nilai

minimum dari dana alokasi umum adalah 131,03, sementara nilai maksimum dari

dana alokasi umum adalah 1292,12. Nilai rata-rata dari dana alokasi umum adalah

599,7309, sementara nilai standar deviasi dari dana alokasi umum adalah

266,61953.Diketahui nilai minimum dari dana alokasi khusus adalah 1,98,

(54)

sementara nilai maksimum dari dana alokasi khusus adalah 429,36. Nilai rata-rata dari dana alokasi khusus adalah 151,5487, sementara nilai standar deviasi dari dana alokasi khusus adalah 104,19753.Diketahui nilai minimum dari belanja daerah adalah 292,93, sementara nilai maksimum dari belanja daerah adalah 3133,78. Nilai rata-rata dari belanja daerah adalah 1468,3938, sementara nilai standar deviasi dari belanja daerah adalah 718,53698.

4.2 Uji Asumsi Klasik 4.2.1 Uji Asumsi Normalitas

Dalam penelitian ini, uji normalitas terhadap residual dengan menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov. Tingkat signifikansi yang digunakan . Dasar pengambilan keputusan adalah melihat angka probabilitas , dengan ketentuan sebagai berikut (Ghozali, 2011).

Jika nilai probabilitas 0,05, maka asumsi normalitas terpenuhi.

Jika probabilitas < 0,05, maka asumsi normalitas tidak terpenuhi.

Tabel 4.2 Uji Normalitas

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

Unstandardized Residual

N 51

Normal Parameters

a,,b

Mean .0000000

Std. Deviation 4.26262792E2

Most Extreme Differences Absolute .146

Positive .146

Negative -.090

Kolmogorov-Smirnov Z 1.042

Asymp. Sig. (2-tailed) .228

a. Test distribution is Normal.

(55)

Perhatikan bahwa berdasarkan Tabel 4.2, diketahui nilai probabilitas atau Asymp. Sig. (2-tailed) sebesar 0,228. Karena nilai probabilitas , yakni 0,228, lebih besar dibandingkan tingkat signifikansi, yakni 0,05. Hal ini berarti asumsi normalitas terpenuhi.

Gambar 4.1 Uji Normalitas Normal Probability Plot

Gambar 4.2 Uji Normalitas Histogram

Gambar 4.1 merupakan pengujian normalitas dengan pendekatan normal

probability plot, sementara pada Gambar 4.2 merupakan pengujian normalitas

dengan pendekatan histogram. Diketahui pada Gambar 4.1, titik-titik menyebar di

(56)

sekitar garis diagonal, sementara pada Gambar 4.2, terlihat kurva berbentuk kurva normal, sehingga data berdistribusi normal.

4.2.2 Uji Multikolinearitas

Untuk memeriksa apakah terjadi multikolinearitas atau tidak dapat dilihat dari nilai variance inflation factor (VIF). Nilai VIF yang lebih dari 10 diindikasi suatu variabel bebas terjadi multikolinearitas.

Tabel 4.3 Uji Multikolinearitas

Model

Collinearity Statistics Tolerance VIF 1 (Constant)

Pendapatan Asli Daerah (X1)

.490 2.039

Dana Alokasi Umum (X2) .419 2.384 Dana Alokasi Khusus (X3) .762 1.313

Berdasarkan Tabel 4.3, nilai VIF dari pendapatan asli daerah adalah 2,039, nilai VIF dari dana alokasi umum adalah 2,384 dan nilai VIF dari dana alokasi khusus adalah 1,313. Diketahui seluruh nilai VIF < 10. Hal ini berarti tidak terjadi multikolinearitas.

4.2.3 Uji Heteroskedastisitas

Deteksi ada tidaknya heteroskedastisitas dapat dilakukan dengan melihat

ada tidaknya pola tertentu pada grafik scatter plot antara SRESID pada sumbu Y,

dan ZPRED pada sumbu X.(Ghozali, 2013). Ghozali (2013) menyatakan dasar

(57)

tertentu yang teratur, maka mengindikasikan telah terjadi heteroskedastisitas. Jika tidak ada pola yang jelas, serta titik-titik menyebar di atas dan di bawah angka 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedastisitas.

Gambar 4.3 Uji Heteroskedastisitas

Perhatikan bahwa berdasarkan Gambar 4.3, tidak terdapat pola yang begitu jelas, serta titik-titik menyebar di atas dan di bawah angka 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedastisitas.

4.2.4 Uji Autokorelasi

Uji autokorelasi dalam penelitian ini digunakan uji Durbin-Watson. Tabel 4.4 disajikan hasil dari uji Durbin-Watson. Aturan pengambilan keputusan untuk uji Durbin-Watson adalah nilai statistik dari uji Durbin-Watson yang lebih kecil dari 1 atau lebih besar dari 3 diindikasi terjadi autokorelasi.

Tabel 4.4 Uji Autokorelasi dengan Uji Durbin-Watson

Model Durbin-Watson

1 1.487

(58)

Berdasarkan Tabel 4.4, nilai dari statistik Durbin-Watson adalah 1,487.

Perhatikan bahwa karena nilai statistik Durbin-Watson terletak di antara 1 dan 3, yakni 1 < 1,487< 3, maka asumsi non-autokorelasi terpenuhi. Dengan kata lain, tidak terjadi gejala autokorelasi.

4.3 Analisis Regresi Linear Berganda

Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan analisis regresi linear berganda (multiple linear regression).

Analisis regresi linear berganda digunakan bila jumlah variabel independennya minimal berjumlah sebanyak 2 variabel independen. Penggunakan analisis regresi linear berganda dimaksudkan untuk menentukan pengaruh variabel bebas yang biasa disebut dengan terhadap variabel tak bebas yang biasa disebut dengan . Adapun model persamaan regresi linear berganda pada penelitian ini adalah sebagai berikut.

Keterangan:

= Belanja daerah = Konstanta

= Pendapatan asli daerah = Dana alokasi umum = Dana alokasi khusus

= Koefisien regresi pendapatan asli daerah

= Koefisien regresi dana alokasi umum

Gambar

Tabel 2.1  Penelitian Terdahulu
Tabel 4.1 Statistik Deskriptif BerdasarkanVariabel Pendapatan Asli  Daerah, Dana Alokasi Umum, Dana Alokasi Khusus Dan Belanja Daerah
Tabel 4.2 Uji Normalitas
Gambar 4.1   Uji Normalitas Normal Probability Plot
+7

Referensi

Dokumen terkait

1) Siswa menyajikan hasil pengendalian server melalui koneksi client-server pada RDBMS dengan teliti sesuai dengan prosedur (STEAM Enggenering, Matematik) di

Hasil penelitian dari beban kerja fisik dengan kelelahan kerja yaitu didapatkan bahwa tidak terdapat hubungan antara beban kerja fisik dengan kelelahan kerja

Aset tetap adalah aset berwujud yang diperoleh dalam bentuk siap pakai atau dengan dibangun terlebih dahulu, yang digunakan dalam operasi perusahaan, tidak dimaksudkan

Kurva Respon Bobot Kering Daun Sampel Tanaman Nilam Pada Umur 9 MST Dengan Berbagai Perlakuan Kompos Limbah Padat Pengolahan Minyak Nilam dan Pupuk Fosfat………... Kurva Respon

Back pressure yang disarankan untuk material ABS yaitu 40 – 80 Bar, akan tetapi pada penelitian yang dilakukan back pressure yang digunakan 10 – 20 Bar, dikarenakan pada

Selanjutnya admin hotel dapat memilih menu view review dan aplikasi akan menampilkan data laporan berupa review yang masuk dari pengguna aplikasi mobile.. Untuk lebih

Berdasarkan uraian diatas, Penulis tertarik untuk melakukan penelitian dalam bentuk Tugas Akhir dengan judul “KORELASI BIAYA PROMOSI DANA PENSIUN LEMBAGA KEUANGAN

Uji heteroskedastisitas adalah suatu keadaan dimana varians dan kesalahan penganggu tidak konstan untuk semua variabel bebas. Cara memprediksi ada tidaknya