78 BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
Pada bab ini akan dijabarkan simpulan penelitian yaitu tingkat kinerja bongkar muat curah cair berdasarkan indikator kinerja pelabuhan, hasil pengukuran kualitas kinerja bongkar muat curah cair berdasarkan Importance Performance Analysis, rumusan peningkatan kualitas kinerja bongkar muat curah cair yang dapat
dilakukan oleh pelabuhan, dan saran bagi penelitian selanjutnya.
Simpulan penelitian didapat dari hasil analisis di bab sebelumnya. Rumusan peningkatan kualitas kinerja bongkar muat curah cair dijabarkan agar hasil penelitian ini dapat menjadi bahan pertimbangan dan ditindaklanjuti oleh manajemen pelabuhan selaku obyek dari penelitian ini sehingga diharapkan dapat meningkatkan kualitas kinerja bongkar muat curah cair di pelabuhan berdasarkan hasil penelitian. Saran yang disebutkan dalam bab ini adalah saran yang ditujukan untuk kalangan akademisi yang akan melakukan penelitian yang berkaitan dengan penelitian ini.
5.1. Simpulan I : Tingkat Kinerja Bongkar Muat Curah Cair Berdasarkan Indikator Kinerja Pelabuhan
Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan di bab sebelumnya, maka penelitian ini memberikan beberapa simpulan terkait dengan pengukuran kualitas kinerja bongkar muat curah cair di pelabuhan Tanjung Emas Semarang. Simpulan pertama adalah mengenai tingkat kinerja bongkar muat curah cair di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang menggunakan 5 indikator kinerja pelabuhan yang dapat mengindikasikan baik tidaknya kualitas kinerja pelabuhan.
79 Ada 3 indikator kinerja pelabuhan yang mencapai tingkat kinerja BAIK, yaitu indikator waktu tunggu kapal, indikator waktu pemanduan kapal, dan indikator tingkat penggunaan dermaga. Indikator waktu tunggu kapal mencapai tingkat kinerja BAIK karena keseluruhan rata-rata waktu tunggu kapal selama kurun waktu 5 tahun tidak melebihi standar nilai yang ditetapkan oleh SK DJPL yaitu berada di bawah 1 jam. Tingkat kinerja BAIK dari indikator waktu tunggu kapal mengindikasikan baiknya kinerja divisi operasional curah cair dalam penjadwalan kedatangan kapal, kesiapan petugas pandu, dan terselesaikannya proses bongkar muat curah cair untuk kapal sebelumnya dalam batas waktu toleransi.
Indikator kedua yang memiliki tingkat kinerja BAIK adalah indikator waktu pemanduan kapal. Indikator ini memiliki tingkat kinerja BAIK karena keseluruhan rata-rata waktu tunggu kapal selama kurun waktu 5 tahun tidak melebihi standar nilai yang ditetapkan oleh SK DJPL yaitu berada di bawah 1 jam. Indikator waktu pemanduan kapal berhubungan dengan baiknya kesiapan petugas pandu pelabuhan dalam melakukan pemanduan kapal, sehingga kapal dapat segera tambat di dermaga dan memulai aktivitas bongkar muat.
Indikator tingkat penggunaan dermaga juga termasuk dalam tingkat kinerja BAIK. Berdasarkan hasil analisis data, keseluruhan rasio tingkat penggunaan dermaga dalam kurun waktu 5 tahun belum melebihi standar SK DJPL yang sebesar 70%. Tingkat kinerja BAIK dari tingkat penggunaan dermaga mengindikasikan bahwa penggunaan dermaga masih mencukupi untuk digunakan dan belum memerlukan tambahan dermaga.
80 Terdapat 2 indikator kinerja pelabuhan yang berada di tingkat kinerja KURANG BAIK, yaitu indikator waktu efektif dan indikator produktivitas kerja.
Berdasarkan hasil perhitungan, indikator waktu efektif berada di tingkat kinerja KURANG BAIK karena keseluruhan hasil rasio selama kurun waktu 5 tahun belum mencapai target yang ditetapkan SK DJPL, yaitu sebesar 80%. Hal ini dipengaruhi oleh tingginya nilai berth time yang disebabkan oleh nilai idle time, yaitu waktu yang tidak terpakai selama kapal berada di tambatan yang disebabkan adanya gangguan operasional atau hal hal yang lain yang tidak direncanakan.
Indikator produktivitas kerja memiliki tingkat kinerja KURANG BAIK karena keseluruhan nilai rata rata produktivitas kerja selama kurun waktu 5 tahun masih berada di bawah standar yang ditetapkan SK DJPL sebesar 150 t/g/h. Tingkat kinerja KURANG BAIK disebabkan oleh lamanya waktu proses bongkar muat dikarenakan beberapa hal seperti keterbatasan peralatan bongkar muat, muatan yang beku, atau lamanya proses pembersihan sisa muatan yang masih dilakukan secara manual.
5.2. Simpulan II : Hasil Pengukuran Kualitas Kinerja Bongkar Muat Curah Cair Berdasarkan Importance Performance Analysis
Metode Importance Performance Analysis membagi seluruh faktor yang berkaitan dengan kinerja bongkar muat curah cair berdasarkan 5 dimensi kualitas jasa ke dalam 4 kuadran yang berbeda di dalam diagram kartesius. Sebaran faktor tersebut dilakukan berdasarkan hasil kuesioner yang disebarkan kepada konsumen bongkar muat curah cair di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang. Berdasarkan hasil analisis tersebut, diketahui bahwa ada 5 faktor pelayanan kinerja bongkar muat curah cair yang harus ditingkatkan kualitas pelayanannya karena kelima faktor
81 tersebut dianggap penting oleh konsumen namun masih belum memuaskan dalam pelaksanaannya. Kelima faktor tersebut adalah kebersihan dermaga dan ketersediaan fasilitas penunjang dermaga yang termasuk dalam dimensi penampilan fisik, ketepatan berth time yang termasuk dalam dimensi kehandalan, kesigapan petugas dalam mengatasi gangguan operasional yang termasuk dalam dimensi daya tanggap, dan jaminan keselamatan kapal selama berada di dermaga yang termasuk dalam dimensi jaminan.
5.3. Rumusan Peningkatan Kualitas Kinerja Bongkar Muat Curah Cair
Rumusan peningkatan kualitas kinerja bongkar muat curah cair didasarkan pada hasil analisis kualitas kinerja bongkar muat curah cair di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang berdasarkan 5 indikator kinerja pelabuhan dan Importance Performance Analysis. Ada 2 indikator kinerja pelabuhan yang masih memiliki
tingkat kinerja KURANG BAIK yaitu indikator waktu efektif dan indikator produktivitas kerja.
Peningkatan kinerja indikator waktu efektif dapat dilakukan oleh pelabuhan dengan cara memperbesar effective time kapal yaitu waktu yang benar benar digunakan untuk proses bongkar muat selama di dermaga dan memperkecil komponen lain dari berth time kapal yaitu idle time dan not operating time.
Besarnya nilai idle time dan not operating time dapat ditekan dengan cara menyiapkan hal hal untuk menanggulangi gangguan operasional dan melengkapi sarana prasarana yang mendukung kelancaran proses bongkar muat di dermaga.
Indikator produktivitas kerja berkaitan dengan kecepatan bongkar muat yang dapat dilakukan oleh setiap kelompok pekerja pada periode waktu tertentu.
82 Indikator ini dapat ditingkatkan dengan memperhatikan beberapa faktor, antara lain kesiapan dan keamanan pipa sambungan, kesiapan pompa, kesiapan muatan untuk dipompa, kesiapan operator pompa dan tangki, serta kesiapan pekerja dan alat pembersih sisa muatan. Perbaikan sarana prasarana pendukung kelancaran proses bongkar muat dan membuat langkah langkah antisipasi dalam menghadapi hal hal yang menggangu proses bongkar muat dapat meningkatkan kinerja indikator produktivitas kerja.
Berdasarkan hasil analisis kuesioner dengan menggunakan metode Importance Performance Analysis, ada 5 faktor kualitas kinerja dalam kuadran
pertama yang mengindikasikan faktor-faktor yang dianggap penting oleh konsumen namun belum baik dalam pelaksanaannya. Faktor yang pertama dalah faktor kebersihan dermaga termasuk kebersihan permukaan air laut di sekitar dermaga.
Faktor kebersihan dermaga yang termasuk dalam dimensi fisik dapat dikaitkan dengan metode 5S yang merupakan metode penataan dan pemeliharaan wilayah kerja secara intensif yang berasal dari Jepang yang terdiri dari Seiri (Ringkas), Seiton (Rapi), Seiso (Resik), Seiketsu (Rawat), dan Shitsuke (Rajin) (Heizer, Render,
2014). Manajemen pelabuhan dapat menggunakan metode 5S sebagai dasar untuk melakukan perbaikan kebersihan dermaga.
Faktor kedua adalah ketersediaan fasilitas penunjang dermaga yang mendukung kelancaran proses pelaksanaan bongkar muat curah cair seperti sanitasi, alat pemadam kebakaran, alat pembersih tumpahan, dan tangki tambahan untuk menampung sisa bongkaran sewaktu proses pembersihan tangki kapal. Konsep HSE dapat dijadikan pedoman dalam melakukan perancangan tata letak lingkungan kerja dan kelengkapan fasilitas penunjang kerja yang juga termasuk dalam 10
83 keputusan manajemen operasi. Perancangan fasilitas pendukung sesuai dengan konsep HSE diharapkan dapat meningkatkan kelancaran proses bongkar muat, keselamatan pekerja, dan kepuasan konsumen sendiri.
Ketepatan berth time merupakan faktor ketiga yang perlu dilakukan perbaikan. Langkah perbaikan dapat dilakukan oleh pelabuhan dengan mengacu pada Total Quality Management (TQM) yaitu dengan menggunakan metode P-D- C-A (Plan Do Check Act) yang merupakan empat langkah iteratif yaitu perencanaan (plan), pelaksanaan (do), pengecekan (check), dan tindakan (act) (Heizer, Render, 2014). P-D-C-A dapat membantu pelabuhan untuk mengendalikan kualitas ketepatan berth time.
Faktor selanjutnya yang harus diperbaiki adalah faktor kesigapan petugas dalam mengatasi gangguan operasional. Langkah perbaikan yang dapat dilakukan oleh divisi terminal non peti kemas pelabuhan adalah dengan penggunaan Control Chart yang dapat memberikan gambaran tentang perilaku sebuah proses (Myerson,
2012). Control chart dapat memberikan panduan dalam melakukan perbaikan pada proses dan mengontrol penanganan suatu ganggugan operasional.
Jaminan keamanan kapal selama berada di dermaga merupakan faktor terakhir yang memerlukan tindakan perbaikan. Pelatihan SDM dan rancangan aturan keamanan lingkungan dermaga yang tepat dapat mengendalikan dan menjaga keamanan kapal di dermaga agar proses bongkar muat barang berjalan dengan lancar.
84 5.4. Saran untuk Penelitian Selanjutnya
Kuesioner yang digunakan dalam metode Importance Performance Analysis merupakan kuesioner yang telah diadaptasi. Penelitian selanjutnya dapat menganalisis faktor faktor akan yang digunakan dalam kuesioner terlebih dahulu agar saat digunakan untuk mengukur tingkat kinerja bongkar muat curah cair dapat ditemukan temuan baru dan menjadi lebih baik lagi hasilnya.
Selain itu penelitian selanjutnya juga disarankan untuk memperbanyak jumlah responden. Jumlah responden penelitian dapat ditambah dengan melibatkan perusahaan curah cair lain yang masih berada di wilayah Jawa Tengah dan sekitarnya yang belum memakai jasa pelabuhan secara berkelanjutan.