MAKALAH PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN
“Upaya Penanggulangan Permasalahan Penyalahgunaan Media Sosial Dalam Pembentukan Karakter Remaja”
Oleh:
Nama : Helena Patrisia Thondort Kelas : IX C
No. Abs : 14
SEKOLAH MENENGAH PERTAMA NEGERI 1 BORBUDUR
2021
ii LEMBAR PENGESAHAN
Makalah ini dibuat dalam rangka ujian praktik mata pelajaran Pendidikan Pancasiladan Kewarganegaraan (PPKn).
Disahkan pada :……….
Hari : ………
Tanggal : ……….
Penguji Ujian Praktik Mata Pelajaran PPKn
Penguji I. Penguji II
Supardi, S.Pd Padma Lalita Nur Priyani
NIP. 119620203 198403 1 006 NIP. -
DAFTAR ISI
A. JUDUL HALAMAN ... i
B. LEMBAR PENGESAHAN ... ii
C. DAFTAR ISI ... iii
D. KATA PENGANTAR ... iv
E. BAB I PENDAHULUAN ... 1
a. Latar Belakang ... 1
b. Rumusan Masalah ... 2
c. Tujuan... 2
F. BAB II PEMBAHASAN ... 3
a. Permasalahan Dalam Keberagaman Penggunaan Media Sosial Di Kalangan Remaja ... 3
b. Dampak Negatif Dan Positif Penggunaan Media Sosial Di Kalangan Remaja ... 6
c. Upaya Penyelesaian Masalah Penyalahgunaan Media Sosial Di Kalangan Remaja ... 7
G. BAB III PENUTUP ... 9
a. Kesimpulan... 9
b. Saran ... 9
H. DAFTAR PUSTAKA ... 11
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis haturkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan penyertaan-Nya, penulis dapat mneyelesaikan makalah ini dengan baik sesuai dengan yang diharapkan. Makalah ini merupakan salah satu mata pelajaran dalam ujian praktik. Dalam makalah ini, penulis mengulas topik permasalahan mengenai media sosial di kalangan remaja dengan tema utama permasalahan dalam keberagaman dalam sosial budaya.
Pengulasan topik media sosial di kalangan remaja merupakan bentuk keprihatinan penulis sebagai generasi muda yang salah menggunakan media sosial. Apalagi, hampir setiap anak memiliki akses yang mudah dalam penggunaan mdia sosial di tengah situasi pandemic seperti sekarang ini. berbagai permasalahan seperti lalai mengerjakan tugas, kesehatan yang buruk, serta kecenderungan anak untuk tidak berinteraksi dengan orang di rumah. Hal ini tentu menjadi masalah jika dibiarkan terus menerus terjadi di tengah masyarakat.
Tentunya, dalam penulisan makalah ini, penulis mendapat banyak uluran tangan, baik langsung maupun tidak langsung. Untuk itu, izinkan penulis mengucaplkan limpah terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan makalah ini dnegan caranya masing-masing. Akhirnya, penulis mengucapkan selamat membaca kepada semua pembaca budiman.
Borobudur, 28 Februari 2021
E. BAB I PENDAHULUAN a. Latar Belakang
Fenomena media sosial banyak dibicarakan. Pembicaraan ini dikaitkan dengan berbagai kasus yang melibatkan peran media sosial dalam masyarakat, khususnya kalangan remaja. Secara parsial, media sosial dianggap sebagai penghubung yang baik, tetapi membawa konflik baru jika tidak dimanfaatkan dengan baik.
Penggunaan alat komunikasi seperti handphone, laptop, computer personal yang terhubung dalam jaringan internet ternyata membuka peluang untuk mengakses media sosial dengan mudah. Hal ini juga mendukung penyebaran informasi dalam berkomunikasi dengan cepat tanpa mempertimbangkan waktu dan jarak pengguna lainnya. Penggunaan media sosial yang salah tentu mengakibatkan munculnya masalah terkait penyalahgunaan media sosial sebagai sarana penipuan publik.
Berdasarkan data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia ( APJII ) pada tahun 2016 mencatat bahwa dari 132,7 juta penduduk Indonesia yang aktif berinternet, sebanyak 129,2 juta orang atau sekitar 97,4% menjadikan media sosial sebagai konten yang paling banyak diakses.1 Hal ini memungkinkan para pengguna internet untuk mengakses informasi lebih banyak dibandingkan membaca di perpustakaan.
Pada dasarnya, penggunaan media sosial ditujukan untuk kepentingan mencari informasi dengan lebih mudah dan menjalin komunikasi yang tidak terbatas pada ruang dan waktu.2 Namun, seiring perkembangannya, tidak sedikit orang menjadikan media sosial sebagai media kejahatan dengan tidak menggunakannya secara bertanggung jawab, misalnya penyebaran informasi yang bertujuan menipu publik, atau sarana komersialisme yang tidak perlu.
Data Direktorat Reserse Kriminal khusus Polda Metro jaya mencatat sebanyak 785 kasus kejahatan siber yang dilakukan pada tahun 2014 , sebanyak 404 kasus di antaranya adalah kasus penipuan termasuk melalui SMS ( Kompas,9/11/2017;hlm.11 ).
Tidak hanya itu, berdasarkan data Direktur Reserse Kriminal khusus Polda Kombespol,
1 Randi Nogo, dkk, “ Makalah Budaya Membaca Sebagai salah satu Upaya mengidentifikasi Hoaks di Media Sosial ” ( Dalam seminar ilmiah yang dilakukan di Labuan Bajo, 11 November 2017); hlm. 2.
2 Dalam hal ini, penulis menyempitkan arti pernyataan tidak terbatas pada ruang dan waktu sebagai proses berkomunikasi dan mencari informasi yang dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja selama pengguna masih terhubung dalam jaringan internet. Hal ini dapat dilakukan dalam situasi apapun, selama pengguna masih mengakses situs-situs yang disediakan para penyedia layanan internet.
Antonius Pujianto menjelaskan bahwa media sosial saat ini digunakan sebagai media penyebaran isu PSK, khsusunya FB yang dikenal dengan bisnis PSK online. Beliau mengatakan,” Melalui patroli siber yang dilakukan, pihaknya mencatat bahwa banyak FB bersifat group rahasia. Proses pemesanan PSK dilakuakn melalui pesan inbox.
Mereka menggunakan motif memasang foto-foto seksi pada accountnya agar menarik para pelanggan. Kebanyakan pelanggan yang terjerat kasus PSK ini berusia 25-30 tahun” ( Jawa Pos, 30/08/2017; hlm. 10 ).
Berkaca pada realita yang ada, sebagai pelajar, penulis merasa tertarik untuk membahas lebih jauh tentang kasus-kasus penyalahgunaan media sosial, sehingga menemukan solusi terbaik untuk mencegah kasus penipuan melalui media sosial yantg merajalela di sekitar kita.
b. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam penulisan makalah ini adalah bagaimana upaya solutif penyalah gunaan media sosial di kalangan remaja.
c. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini adalah:
1. Menambah wawasan pembaca mengenai solusi permassalahan media sosial di kalangan remaja.
2. Memupuk rasa bertanggungjawab dalam diri seorang remaja saat menggunakan media sosial.
3. Menyelesaikan salah satu persyaratan ujian praktik mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan.
F. BAB II PEMBAHASAN
a. Permasalahan Dalam Keberagaman Penggunaan Media Sosial Di Kalangan Remaja
Berbicara mengenai kasus penipuan melalui media sosial dapat diartikan secara sempit sebagai hoaks. Menurut Robert Nares ( 1753-1829 ), kata hoaks mulai ditemukan pada abad ke-18 sebagai perubahan kata hocus yang berarti menipu, menjatuhkan, dan membingungkan. Emercy ( 2004 ) mendefinisikan hoaks sebagai tindakan, dokumen atau peninggalan dengan maksud untuk menipu publik. Adapun hal- hal yang disebarkan melalui media sosial biasanya berupa informasi yang tidak dapat diklarifikasi kebenarannya. Informasi-informasi tersebut meliputi informasi politik, ekonomi, sosial, religius, dan etnis yang menyerang pribadi atau sekelompok orang. Hal ini tentu sangat meresahkan karena menimbulkan konflik di tengah masyarakat3.
Beberapa waktu lalu, salah seorang ASN, Javid Janubasi menjadi korban hoaks di FB. Berita mengenai viralnya video di FB saat dirinya sedang melakukan pertemuan bersama walikota Kupang merupakan modus seseorang yang tidak bertanggung jawab.
Berita disebarkan untuk menjatuhkan popularitasnya sebagai pejabat. Pihaknya dituduh meminta uang kepada walikota dan beberapa kepada kepala dinas untuk menyelesaikan proyek di beberapa daerah di kota Kupang. Beradasarkan hasil wawancara kepada pihak kepolisian ( 2/11/2017 ), Jovid mengatakan,” Saya tidak tahu seluk beluk masalah ini.
Setahu saya, waktu itu saya sedang sibuk berbicara dengan Walikota Kupang. Untuk itu, hari ini saya menemui bapak walikota Kupang agar dapat membantu saya mengklarifikasi masalah ini ” ( Pos Kupang,4/11/2017; hlm. 11 ).
Selain itu, kasus serupa juga pernah terjadi beberapa bulan lau. Seorang ulama di Pakistan, Mufti Abdul Qavi dituduh membunuh seorang wanita. Hal ini dipicu setelah dirinya mengunggah foto di FB bersama dengan korban. Akibatnya Qavi dipecat dari pekerjaannya sebagai pendakwa ( Pos Kupang, 22/10/2017; hlm. 3 ). Akhir-akhir ini juga remaja digegerkan dengan permasalahan unfollow massal yang diakukan penyikut Dayana di Instagram, bahkan menjadi trending twitter beberaoa waktu lalu. Sebagian besar alasan merujuk pada pernyataaan Dayana yang dapat tenar tanpa bantuan followers Indonesia.
3 Ibid. hlm.4
Dari dua kasus di atas, penulis dapat menarik kesimpulan sederhana bahwa cyber bullying menyebabkan kerugian bagi para korban. Kerugian dirasakan secara pribadi maupun kelompok. Secara perorangan siber mengakibatkan terganggunya mental korban karena kehilangan kepercayaan masyarakat, tercemarnya nama baik, hancurnya reputasi, dan kerugian bisnis. Sedangkan, dampak negatif yang dirasakan bersama di antaranya adalah timbulnya perasaan gelisah karena suatu informasi yang tidak memiliki sumber yang jelas. Hal ini dapat dirasakan ketika hoaks disebarkan dalam bentuk pesan berantai. Misalnya, pesan tentang keadaan orang tua yang sedang sekarat, fenomena kiamat pada tahun 2012 lalu, dan berbagai kasus percintaan yang tragis.
Bahkan, tidak jarang para penyebar hoaks menggunakan informasi keagamaan yang menyebabkan konflik antar agama.
Menurut David Harley dalam bukunya yang berjudul Common Hoaxes And Chain Letter (2008), menyebutkan bahwa hoaks memiliki beberapa ciri-ciri khusus. Pertama, memiliki kharakteristik pesan berantai dengan menyertakan kalimat ajakan untuk menyebarkan informasi. Kedua, informasi biasanya tidak disertai dengan waktu dan tempat terjadinya suatu pristiwa. Ketiga, hoaks biasanya tidak menyertakan batasan informasi diberlakukan. Keempat, organisasi yang memberikan informasi tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, atau dengan kata lain adanya kerancuan sumber.4
Hal ini tentu harus segera diatasi dengan solusi yang tepat. Pater Yerem, SVD dalam Sarasehan Dalam Rangka Hari Pahlawan RI dengan tema Memperkokoh Semangat Persatuan Dalam Membangun Negeri ( 20/11/2017 ) berpendapat bahwa menyelesaikan masalah bukan berarti menghilangkan masalah, tetapi berusaha membentengi diri dengan pengetahuan mengenai sesuatu. Pemberian informasi sebaiknya dilakukan secara bertahap agar generasi muda dapat memahami sesuatu dengan baik. Hal ini juga dapat dipadankan dengan kasus penyalahgunaan media sosial.
Pencarian solusi untuk memberantas kasus penipuan media sosial perlu dilakukan, tetapi bukan dengan cara kita harus menyarankan para pengguna media sosial untuk
4 Berkaitan dengan hal kerancuan sumber, Fr. Aldo dalam Seminar Ilmiah ( 11/11/2017 ) bertemakan hoaks menjelaskan bahwa salah satu cara agar dapat memperhatikan kejelasan sumber informasi pada SMS hoaks adalah melihat alamat website yang disertakan. Salah satu di antaranya tertera blog.org. dapat dipastikan hal ini adalah hoaks, karena mengacu pada alamat pribadi. Hal ini secara tidak langsung menarik minat pengguna handphone untuk menelusurui alamat website tersebut.
Akibatnya, hacker dapat dengan mudah menyebarkan virus pada handphone kita.
berhenti menggunakan media sosial sebagai sarana komunikasi dan pencari indormasi yang efektif. Sejalan dengan hal ini, berdasarkan proyeksi Kementerian Komunikasi Dan Informatika, Ahmad Ramli, menjelaskan bahwa pada tahun 2020 penghasilan yang diperoleh dari para pengguna jejaring sosial mencapai Rp 1700 trilyiun. Hal ini hampir setara dengan 20% dari total PDB ( Pendapatan Domestik Bruto ) Indonesia ( Kompas, 9/11;11 ). Proyeksi ini, secara implisit menjelaskan bahwa kehadiran media sosial ternyata memiliki kontribusi yang besar bagi pendapatan negara. Akibatnya, peran media sosial sangat dibutuhkan dan tidak dapat dihilangkan dari masyarakat Indonesia sendiri.
Berdasarkan data Asosiasi Penyelenggara Komunikasi Seluruh Indonesia mencatat Indonesia menggunakan 360 juta nomor telepon seluler porabayar dari 260 juta penduduk Indonesia. Hal ini berarti, diperkirakan pengguna memiliki lebih dari satu nomor telepon aktif. Hal ini kemudian didukung dengan pernyataan Direktur Jenderal Penyelenggara POS dan informasi Kementerian Telekomunikasi Indonesia dalam wawancara yang dilakukan di Jakarta ( 7/11 ), mengungkapkan bahwa tingkat antusiasme publik setiaphari semakin meningkat. Hingga hari ini, pada pukul 12.00 WIB tercatat jumlah kartu yang teregistrasi mencapai 46.559.400 nomor. Kebanyakan di antaranya mengisi data registrasi sesuka hati, sehingga mempermudah virus hoaks masuk tanpa proses penyaringan oleh pihak berwenang ( Kompas, 9/11; 11 ).
b. Dampak Positif dan Negatif Penggunaan Media Sosial Di Kalangan Remaja Media sosial memiliki dmpak positif dan negatif. Dampak positif di antaranya adalah:
1. Kita dapat berkomunikasi dan memperoleh informasi dengan mudah tanpa mengenal batas waktu dan tempat. Hal ini ddidukung dengan kemampuan internet yang dapat mengakses selama masih terhubung denga jaringan internet. Misalnya melakukan panggilan video dengan teman, atau sanak saudara yang berada di luar daerah, bahkan di luar negeri sekalipun. Selain itu, informasi yang kita peroleh merupakan informasi yang terbaru karena selalu di update sehingga menambah pengetahuan baru. Misalnya saat belajar kita menggunakan aplikasi youtube.
2. Kita dapat menggunakan media sosial sebagai sarana untuk mengungkapkan rasa empati dan mendapatkan banyak teman baru. Hal ini dapat membantu kita dalam berkomunikasi yang baik, dengan tata keramah yang santun sehingga memperoleh banyak teman.
3. Sarana promosi dan bisnis di kalangan remaja. Hal ini biasanya dilakukan dengan membuka iklan pada akun Instagram para influenser remaja. Dengan demikian, akun media sosial dapat digunakan sebagai tempat pekerjaan bagi para remaja selama di rumah karena mudah dilakukan.
Sementara, dampak negatif yang diperoleh remaja melalui media sosial di antaranya:
1. Sebagian besar remaja bersikap introvert. Hal ini dibuktikan dengan kebiasaan remaja yang sedang berjejaring dapat menghabiskan waktu berja-jam tanpa berkomunikasi dengan orang-orang di sekitarnya. Dengan kata lain, media sosial membentuk komunitas virtual baru yang dekat dan menjauhkan orang- orang di sekitar kita.
2. Cyber Bullying dan hoaks merupakan permasalahan yang marak dilakukan remaja saat berjejaring. Hal ini dikarenakan media sosial memberikan fasilitas memposting sesuatu baik foto, video, atau kalimat dalam bentuk kolom komentar dan status. Misalnya pada facebook terdapat kolom “apa yang anda pikirkan” sebagai kolom status yang akan diposting. Temperame remaja yang cenderung kurang stabil dapat memicu remaja untuk mengunggah postingan
yang berdasarkan pada subjektivitasnya terhadap sesuatu, menyebarkan hoaks, atau melakuka pembulian, dan mengumbar permasalahan pribadi.
3. Kasus pornografi sekalipun terdapat syarat pembatasan usia. Hal ini dikarenakan, remaja saat ini memiliki rasa ingin tahu yang besar sehingga salah memanfaatkan internet untuk kepuasan yang salah. Akibatnya, secara tidak langsung pelajar dapat melakukan kekerasan sejak dibi terhadap sesame maupun lawan jenis.
4. Perilaku komsumtif yang terpengaruhi iklan. Kita tentu menjadi mudah terpengaruh untuk memiliki barang-barang yang diiklankan oleh idola remaja sehingga memiliki keinginan untuk mendapatkannya. Selain itu, barang dengan harga yang murah dan terjangkau biasanya lebih memikat para remaja.
c. Upaya Penyelesaian Masalah Penyalahgunaan Media Sosial Di Kalangan Remaja
Berdasarkan data Peneliti Institute For Development Of Economics And Finance, Bhima Yudhistira Adhinegara ( 7/5 ) mengatakan bahwa Indonesia merupakan negara dengan tingkat keamanan sibernya terkategori medium. Dalam statistik penggunaan siber 2016 yang dimuat Kaspersky Scurity, Indonesia berada di peringkat ke-19. Total pengguna internet di Indonesia sebanyak 32,3% rawan mengalamai kejahatan siber.
Hal ini menunjukan bahwa sektor yang paling rentan terkena serangan siber adalah sektor jasa keuangan ( 47,48% ), sektor toko online ( 25,76% ), dan sistem pembayaran elektronik ( 10,17% ), sisanya tergolong aman ( Kompas, Senin, 8 Mei 2017; hlm. 20 ).
Direktur Kebijakan Publik Asosiasi Fintech ( Aftech ) Indonesia, Aji Satria Sulaiman mengemukan bahwa, “Siber memang marak diperbincangkan. Untuk mengatasinya perlu ada standardisasi sistem keamanan secara berkala. Tujuannya agar memperkecil kemungkinan media sosial ditembusi aplikasi perusak ( walware )”.
Dalam buku The Global Achievement Grap, Tony Weger ( 2008 ) menjelaskan bahwa peserta haru memiliki kecakapan untuk berpikir kritis dalam penyelesaian masalah. Ada 3 batasan mencari solusi permasalahan yaitu membuat keputusan di bawah tekanan atau masalah yang terjadi, mengevaluasi dan memberi rangsangan tertentu untuk situasi tertentu, serta memiliki kemampuan mengatasi masalah segera
ketika pekerjaan tidak berjalan dengan baik. Kemudian, bagaimana cara kita sebagai pelajar untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis?5
Pertama, kita harus mengedepankan nilai kedisiplinan dalam penggunaan media sosial. Kedisiplinan dapat dicapai jika pelajar mampu membagi waktu penggunaan alat komunikasi. Pelajar dapat menggunakan handphone, laptop sebagai media belajar yang kreatif. Kedua, mewujudkan sikap berani. Pepatah bahasa Indonesia mengatakan bahwa tidak berani bertanya berarti sesat di jalan. Secara sempit penulis menafsirkan bahwa pelajar dapat bertanya kepada orang tua atau orang yang lebih tahu jika terjadi kebingungan saat menggunakan media sosial. Misalnya ketika terdapat konten sara, segeralah meminta penjelasan kepada orang tua.
Ketiga, menerapkan nilai kerja keras dalam diri. Hal oini dapat dicapai melalui sikap gemar membaca. Kemampuan membaca siswa doigunakan agar siswa mampu menemukan dan mengetahui informasi secara tepat, sehingga mampu menghindari diri dari hoaks. Selai itu, membaca juga menumbuhkan sikap kritis ketika pelajar berusaha membandingkan sumber-sumber tertentu mengenai suatu masalah. Keempat, adanya sikap jujur dan bertanggung jawab. Dalam hal ini, pelajar diharapkan mampu membuka diri terhadap orang lain mengenai masalah yang tengah dihadapi, sehingga pelajar menemukan solusi permasalahan melalui pertimbangan orang lain. Jika masalah itu diciptakan sendiri, maka berlatihlah untuk bertanggungjawab. Misalnya, tidak mengerjakan pr. Berkatalah jujur kepada guru mengenai alasan mengapa kita tidak mengerjakan pr. Kelima, memiliki prinsip mandiri. Bagi pelajar, menumbuhkan prinsip mandiri dapat dilakukan dengan pedoman pertanyaan reflektif berikut: Sampai kapan kita bergantung pada orang lain? Bagaimana cara terbaik saya untuk mengaktualisasikan kemampuan saya tanpa menyusahkan orang lain? Jika bukan saya, siapa lagi? Jika bukan sekarang, kapan lagi? Dan perlu disadari bahwa tidak ada kata terlambat untuk memulai suatu perubahan jika diimbangi dengan usaha.
5 Mengenai solusi berpikir kritis, penulis mengutip point-point umum penjelasan Pater Yerem tentang upaya penanaman budaya berpikir kritis bagi siswa di sekolah, dalam sarasehan yang dilakukan pada Senin, 20 November 2017 di Hotekl Pelangi, Labuan Bajo.
G. PENUTUP a. Kesimpulan
Penggunaan media sosial ternyata dapat membentuk komunitas virtual baru. Hal ini dimungkinkan dengan banyaknya pengguna media sosial di kalangan remaja yang saling berinteraksi secara daring. Maka dari itu sebagai remaja pengguna media sosial, sebaiknya dapat menjadikan sarana untuk mencari informasi karena kini kemajuan teknologi semakin berkembang dengan tidak mengesampingkannya perannyasebagai pelajar. Sebagai pelajar “komponen dasar lembaga pendidikan” sudah seharusnya menyadari fenomena ini sejak dini. Hal ini didukung dengan berkembangnya kemajuan di era globalisasi. Dunia pendidikan juga ikut berkembang luas tanpa batas. Di sisi lain, kebutuhan tenaga berkompeten meningkat dan setiap tahun membuat batas sesuai tingkat sumber daya manusianya. Berdasarkan UU No. 12 tahun 2013 pasal 50 menjelaskan tentang kerjasama internasional pendidikan tinggi merupakan proses interaksi kegiatan akademik yang berperan dalam pergaulan internasional tanpa kehilangan nilai keindonesiaan. Harapannya, sekolah mampu membentuk masyarakat Indonesia yang berintelektual, mandiri, mengerti perubahan, dan kemajuan internasional dengan penerapan nilai budaya Indonesia dalam hubungan internasional. Hal ini harus disadari bahwa lembaga pendidikan memiliki peran penting untuk membekali pelajar dengan pengetahuan akan media sosial dengan nilai-nilai kearifan yang ada.
b. Saran
Kita sebagai masyarakat harus bijak dalam bermain media sosial, khususnya di kalangan remaja sebagai penyumbang terbesar penggunaan media sosial kita harus berhati – hati dan sopan dalam berbahasa di media sosial agar tidak menyinggung atau merugikan orang lain maupun pihak lain. Artinya setiap remaja (baca pelajar) tentu memiliki media sosial sekurang-kurangnya satu akun dapat dimanfaatkan dengan baik untuk menunjang proses belajar. Rasa ingin tahu yang ada dalam diri seorang remaja sebaiknya diarahkan ke hal-hal yang positif, sehingga seorang remaja dapat berkembang menjadi pribadi yang lebih baik.
Komunitas virtual sejatinya baik digunakan sebagai sarana komunikasi kebudayaan dengan memperhatikan perbedaan yang ada, misalnya budaya mereka dalam bertutur kata, sharing pengalaman, atau melatih kemampuan berbahasa jika
lawan bicaranya berasal dari luar negeri. Hal penting yang perlu diingat adalah kita hidup di dunia nyata dengan komunitas dan lingkungan yang dekat dengan kita, dimulai dari keluarga, lingkungan sepermainan, dan masyarakat umum. Untuk itu, partisipasi aktif dalam hidup bermasyarakat dapat menjadi pembelajaran yang ideal bagi remaja karena dapat berinteraksi secara langsung. Misalnya, ungkapan perasaan pada kolom unggahan facebook yang menyatakan kebijakan dalam belajar, dapat diaplikasikan di tengah masyarakat dengan aksi yang baik.
H. DAFTAR PUSTAKA
1. Randi Nogo, dkk, “ Makalah Budaya Membaca Sebagai salah satu Upaya mengidentifikasi Hoaks di Media Sosial ” ( Dalam seminar ilmiah yang dilakukan di Labuan Bajo, 11 November 2017); hlm. 2.
2. Makalah Pater Yerem tentang upaya penanaman budaya berpikir kritis bagi siswa di sekolah, dalam sarasehan yang dilakukan pada Senin, 20 November 2017 di Hotekl Pelangi, Labuan Bajo.
3. Dampak positif dan negatif penggunaan media sosial (online), https://www.kompasiana.com/jonathanputeraperdana8420/5d4518aa0d82303a391 ed523/dampak-media-sosial-terhadap-remaja?page=2, diunduh pada Minggu, 28 Februari 2021.