• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TELAAH PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS. a. Pembangunan Ekonomi Daerah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II TELAAH PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS. a. Pembangunan Ekonomi Daerah"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TELAAH PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS

A. Telaah Pustaka

1. Tinjauan pustaka

a. Pembangunan Ekonomi Daerah

Pembangunan ekonomi daerah adalah suatu proses yang mencakup pembentukan institusi-institusi baru, pembangunan industri-industri alternatif, perbaikan kapasitas tenaga kerja yang ada untuk menghasilkan produk dan jasa yang lebih baik, mengidentifikasi pasar-pasar baru, alih ilmu pengetahuan, dan pengembangan perusahaan-perusahaan baru (Arsyad, 2010:374). Salah satu upaya pembangunan ekonomi daerah bertujuan untuk meningkatkan jumlah dan jenis peluang kerja untuk masyarakat daerah atau peningkatan kesejahtraan masyarakat daerah. Oleh karena itu dalam pembangunan ekonomi yang efisien membutuhkan suatu proses perencanaan yang teliti mengenai penggunaan sumberdaya publik dan sektor-sektor swasta saling bersinergi membangun daerahnya ke arah yang lebih maju.

Sedangkan menurut Todaro (2006) dalam Umami (2014:39) proses pembangunan di semua masyarakat paling tidak harus memiliki tiga tujuan inti sebagai berikut:

(2)

1) Peningkatan ketersediaan serta perluasan distribusi berbagai barang kebutuhan hidup yang pokok, seperti pangan, sandang, papan, kesehatan dan perlindungan keamanan.

2) Peningkatan standar hidup yang tidak hanya berupa peningkatan pendapatan, tetapi juga meliputi penambahan penyediaan lapangan kerja, perbaikan kualitas pendidikan, serta peningkatan perhatian atas nilai-nilai kultural dan kemanusiaan, yang semuanya itu tidak hanya bertujuan untuk memperbaiki kesejahtraan materiil, melainkan juga menumbuhkan harga diri pada pribadi dan bangsa yang bersangkutan.

3) Perluasan pilihan-pilihan ekonomis dan sosial bagi setiap individu serta bangsa secara keseluruhan, yakni dengan membebaskan mereka dari belitan sikap penghambat dan ketergantungan.

b. Pertumbuhan ekonomi daerah

Pertumbuhan ekonomi daerah adalah pertambahan pendapatan masyarakat secara keseluruhan yang terjadi di wilayah tersebut, yaitu kenaikan seluruh nilai tambah (added value) yang terjadi (Tarigan, 2005:46). Sedangkan menurut Boediono dalam Tarigan (2005:6) menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi adalah proses kenaikan output per kapita dalam jangka panjang. Dilihat secara umum dalam perhitungan pertumbuhan ekonomi daerah dari satu periode ke

(3)

periode berikutnya dapat dilihat dari hasil perhitungan PDRB atas harga konstan. Dari perhitungan tersebut secara kasar berarti pendapatan suatu daerah menggambarkan kemakmuran daerah tersebut.

c. Teori pertumbuhan ekonomi daerah 1) Teori ekonomi klasik

Menurut Smith dalam pertumbuhan ekonomi, hal yang perlu dilakukan oleh pemerintah daerah adalah memberi kebebasan kepada setiap orang/badan untuk berusaha (pada lokasi yang diperkenankan), tidak mengeluarkan peraturan yang menghambat pergerakan orang dan barang, tidak membuat tarif pajak daerah yang lebih tinggi dari daerah lain sehingga pengusaha enggan berusaha di daerah tersebut, menjaga keamanan dan ketertiban sehingga relatif aman untuk berusaha, menyediakan berbagai fasilitas dan prasarana sehingga pengusaha dapat beroperasi dengan efisien serta tidak membuat prosedur penanaman modal yang rumit, berusaha menciptakan iklim yang kondusif sehingga investor akan tertarik menanamkan modalnya di daerah tersebut (Tarigan, 2005:48-49).

2) Teori Harrod-Domar

Menurut Harrod-Domar pertumbuhan ekonomi adalah pertumbuhan jangka panjang yang mantap, hanya bisa tercapai apabila tiga hal ini dapat terpenuhi yaitu tingkat pertumbuhan

(4)

output, tingkat pertumbuhan modal, dan tingkat pertumbuhan

angkatan kerja (Tarigan, 2005:49). Dalam teori ini, dijelaskan dimana kondisi barang modal yang langka akan sulit untuk melakukan konversi antara barang modal dan tenaga kerja di daerah yang masih terbelakang. Sehingga untuk meningkatkan pertumbuhan ekonominya lebih baik mengatur pertumbuhan di berbagai sektor secara seimbang. Dengan demikian, pertambahan produksi di satu sektor dapat diserap oleh sektor lain yang tumbuh secara seimbang.

3) Teori pertumbuhan Neoklasik

Menurut Solow dan Swan, tingkat pertumbuhan ekonomi berasal dari tiga sumber yaitu akumulasi modal, bertambahnya penawaran tenaga kerja, dan peningkatan teknologi (Tarigan, 2005:52). Dalam teori ini, pertumbuhan ekonomi daerah perlu diimbangi dengan peranan kemajuan teknologi/inovasi. Dengan demikian, pemerintah perlu mendorong terciptanya kreativitas dalam kehidupan masyarakat, agar produktivitas setiap tenaga kerja terus meningkat. Kemudian untuk menunjukkan terciptanya pertumbuhan yang mantap (steady growth), diperlukan tingkat tabungan yang pas dan seluruh keuntungan pengusaha diinvestasikan kembali di wilayah tersebut.

(5)

4) Teori pertumbuhan jalur cepat yang disinergikan (Turnpike) Menurut Samuelson, setiap daerah perlu melihat sektor/komoditi apa yang memiliki potensi besar dan dapat dikembangkan dengan cepat, baik karena potensi alam maupun karena sektor itu memiliki copetitive advantage untuk dikembangkan (Tarigan, 2005:54-55). Kemudian mesinergikan sektor-sektor agar saling terkait dan saling mendukung, misalnya usaha perkebunan yang bersinergi dengan usaha peternakan.

Dengan demikian, pertumbuhan sektor yang satu mendorong pertumbuhan sektor yang lain, begitu sebaliknya. Hal tersebut merupakan salah satu upaya menggabungkan kebijakan jalur cepat (turnpike) dan mensinergikannya dengan sektor lain yang terkait akan mampu membuat perekonomian tumbuh cepat.

Sedangkan menurut Schumpeter, kemajuan ekonomi sangat ditentukan oleh jiwa usaha (enterpreneurship) dalam masyarakat. Artinya pembukaan usaha baru dan perluasan lapangan kerja baru untuk menyerap angkatan kerja yang bertambah setiap tahunnya, akan terbuka secara luas karena pemilik modal mulai melihat peluang dan berani mengambil risiko membuka usaha baru dan memperluas usaha yang telah ada.

(6)

d. Sektor unggulan daerah

Sektor unggulan menurut Tumanggung dalam Miroah (2015) adalah sektor yang memiliki keunggulan komperatif dan keunggulan kompetitif dengan produk sektor sejenis dari daerah lain serta memberikan nilai manfaat yang besar. Keunggulan komparatif suatu komoditi bagi suatu negara atau daerah adalah bahwa komoditi itu lebih unggul secara relatif dengan komoditi lain di daerahnya (Tarigan, 2005:79). Sektor unggulan sudah dipastikan memiliki potensi lebih besar untuk tumbuh lebih cepat dibandingkan sektor lainnya dalam daerah tersebut.

Dalam pembangunan daerah untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerahnya, salah satu kebijakan yang dapat diambil adalah menentukan sektor unggulan untuk mendongkarak pendapatan daerah. Sektor unggulan di suatu daerah berhubungan erat dengan data PDRB dari daerah bersangkutan. Kemudian dari data tersebut dapat dianalisis serta dapat diketahui mana saja sektor unggulan daerah tersebut dan mana sektor-sektor yang belum bisa berkontribusi secara maksimal. Dengan seperti itu pemerintah dalam pengambilan kebijakan pembangunan dapat mempertimbangkan sektor-sektor yang perlu di fokuskan untuk meningkatkan potensi dan kemakmuran daerahnya menunju kemajuan nasional.

(7)

e. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan nilai tambah bruto seluruh barang dan jasa yang tercipta atau dihasilkan di wilayah domestik suatu negara yang timbul akibat berbagai aktivitas ekonomi dalam suatu periode tertentu tanpa memperhatikan apakah faktor produksi yang dimiliki residen atau non-residen. Dalam penyusunan PDRB dapat dilakukan melalui 3 (tiga) pendekatan yaitu pendekatan produksi, pengeluaran, dan pendapatan yang disajikan atas dasar harga berlaku dan harga konstan (BPS, 2018:4).

PDRB atas dasar berlaku (PDRB nominal) disusun berdasarkan harga yang berlaku pada periode perhitungan, dan bertujuan untuk melihat struktur perekonomian. Sedangkan PDRB atas dasar harga konstan disusun berdasarkan harga pada tahun dasar dan bertujuan untuk mengukur pertumbuhan ekonomi.

Penghitungan PDRB saat ini menggunakan tahun 2010 sebagai harga dasar. Untuk klasifikasi lapangan usaha berdasarkan tahun 2010 terbagi menjadi 17 sektor pembentuk PDRB yaitu sebagai berikut.

1) Pertanian, kehutanan dan perikanan 2) Pertambangan dan penggalian 3) Industri pengolahan

4) Pengadaan listrik dan gas

5) Pengadaan air, pengolahan sampah, limbah dan daur ulang 6) Konstruksi

(8)

7) Perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor

8) Transportasi dan pergudangan

9) Penyediaan akomodasi dan makan minum 10) Informasi dan komunikasi

11) Jasa keuangan dan asuransi 12) Real Estat

13) Jasa Perusahaan

14) Administrasi pemerintah, pertahanan dan jaminan sosial wajib 15) Jasa pendidikan

16) Jasa kesehatan dan kegiatan sosial 17) Jasa lainnya

f. Kebijakan Pembangunan Daerah

Kebijakan pembangunan daerah merupakan hasil keputusan dan intervensi pemerintah, baik nasional maupun regional untuk mendorong proses pembangunan daerah secara keseluruhan (Sjafrizal, 2012:163). Analisis ini dapat digunakan dalam rangka menerapkan teori dan konsep guna mempercepat pertumbuhan ekonomi daerah, meningkatkan penyediaan lapangan kerja dan penanggulangan kemiskinan pada daerah-daerah terbelakang.

Kebijakan pembangunan daerah sangat diperlukan karena kondisi dan permasalahan di setiap daerah pada umumnya berbeda, sehingga kebijakan yang diperlukan juga tidak sama seperti kebijakan

(9)

yang diperlukan masyarakat pesisir pantai berbeda dengan masyarakat daerah pegunungan yang memiliki perbedaan dalam pemenuhan kebutuhan ekonominya.

Jika ditinjau dari pemberlakuan kebijakan pemerintah daerah saat ini yang bersifat desentralisasi, artinya urgensi dan peranan kebijakan pembangunan daerah menjadi lebih besar dan penting.

Dalam kondisi ini, masing-masing daerah dapat menetapkan kebijakan pembangunan berbeda sesuai dengan kondisi, permasalahan dan potensi daerahnya.

Kebijakan pembangunan pada tingkat daerah dapat dilakukan dalam bentuk kebijakan fiskal dan kebijakan moneter. Secara umum, kebijakan fiskal lebih dapat diaplikasikan pada tingkat daerah karena dapat dikendalikan pada batas daerah bersangkutan dibandingkan dengan kebijakan moneter yang lebih bersifat makro dan sulit dikendalikan pada batas daerah tertentu (Sjafrizal, 2012:170).

2. Penelitian terdahulu

Keseluruhan hasil-hasil penelitian yang pernah dilakukan oleh peneliti terdahulu yang dapat digunakan peneliti sebagai acuan dan bahan pertimbangan dalam kegiatan penelitian ini.

Ainul Yaqin (2018), menganalisis tentang “Analisis Sektor Basis Non Migas Dan Potensial Sebagai Prioritas Pembangunan Daerah Kabupaten Cilacap”. Variabel yang digunakan: Sektor-sektor ekonomi basis non migas Kabupaten Cilacap, PDRB Kabupaten Cilacap dan PDRB

(10)

Propinsi Jawa Tengah, Hasil analisis LQ: sektor industri pengolahan, sektor pertambangan dan penggalian dan lima belas lainnya masuk ke sektor non basis, Hasil analisis Tipologi Klassen : sektor pertambangan dan penggalian, sektor kontruksi, serta sektor perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor, sektor maju; sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan serta sektor industri pengolahan, sektor berkembang pesat; sektor pengadaan listrik dan gas, transportasi dan perdagangan, penyediaan akomodasi dan makan minum, informasi dan komunikasi, jasa keuangan dan asuransi, real estate, jasa perusahaan, jasa pendiidkan, jasa kesehatan dan kegiatan sosial, jasa lainnya, Sektor relatif tertinggal; pengadaan air, pengolahan sampah, limbah dan daur ulang, serta administrasi pemerintah, pertahanan dan jaminan sosial wajib.

Reza Rosyida Umami (2014), menganalisis tentang “Analisis Sektor Potensial Pengembangan Wilayah Guna Mendorong Pembangunan Daerah Di Kabupaten Pacitan”. Variabel yang digunakan: PDRB Kabupaten Pacitan, PDRB per kapita Propinsi Jawa Timur dan jumlah penduduk per kecamatan di Kabupaten Cilacap. Hasil analisis dengan menggunakan analisis deskriptif, LQ, metode langsung dan tidak langsung menyimpulkan bahwa masing-masing kecamatan di Kabupaten Pacitan menyimpan potensi-potensi wilayah yang dapat dijadikan sebagai sektor basis. Sektor-sektor basis tersebut terdiri subsektor pertanian tanaman pangan, subsektor perikanan, subsektor perkebunan, subsektor kehutanan, dan subsektor pertambangan. Selain itu juga sektor kontruksi, keuangan,

(11)

real estate, jasa perusahaan, dan jasa lain-lain. Sedangkan untuk komoditas unggulannya terdiri dari batu akik, hasil perkebunan, berbagai hasil laut, wisata pantai dan goa, serta PLTU Bawur.

Hasriadi (2014), menganalisis tentang “Analisis Sektor Ekonomi Unggulan Kabupaten Kolaka Utara”. Variabel yang digunakan: PDRB Kabupaten Kolaka Utara dan PDRB Propinsi Sulawesi Tenggara. Hasil analisis LQ: sektor pertanian menjadi sektor basis di Kabupaten Kolaka Utara, Hasil analisis Shift Share: sektor pertambangan, sektor industri pengolahan, sektor listrik, gas dan air bersih, sektor konstruksi/bangunan, dan sektor perdagangan, hotel dan restoran merupakan sektor kompetitif yang memiliki pertumbuhan cepat dan daya saing tinggi serta komoditi unggulan wilayah Kabupaten Kolaka Utara ada pada subsektor perkebunan meliputi komoditi kakao, cengkeh dan nilam.

Riris Ersita Widya Fadina (2014), menganalisis tentang “ Analisis Potensi Ekonomi Sektoral di Kabupaten Trenggalek”. Variabel yang digunakan: PDRB Kabupaten Trenggalek dan PDRB Propinsi Jawa Timur. Hasil analisis LQ: sektor pertanian dan sektor jasa-jasa sebagai sektor unggulan, Hasil analisis MRP: sektor perdagangan, hotel dan restoran serta sektor keuangan , persewaan dan jasa perusahaan, Hasil analisis overlay tidak terdapat sektor ekonomi yang termasuk kriteria yang sangat dominan baik atau mempunyai daya saing sangat baik dari pertumbuhan maupun kontribusi pada sektor ekonomi di Kabupaten Trenggalek, Hasil shift share: pertumbuhan ekonomi di Propinsi Jawa

(12)

Timur berpengaruh positif terhadap pertumbuhan sektor ekonomi di Kabupaten Trenggalek.

3. Kerangka berfikir

Pembangunan ekonomi adalah suatu proses kenaikan pendapatan riil per kapita dalam jangka panjang yang disertai oleh perbaikan sistem kelembagaan (Arsyad, 2010:11). Setiap pembangunan daerah pasti diarahkan pada peningkatan pertumbuhan ekonomi dan pemerataan secara optimal. Dalam pelaksanaan pembangunan ekonomi, pemerintah daerah perlu merumuskan kebijakan pembangunan untuk menentukan sektor- sektor unggulan yang berpotensi meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah tersebut.

Produk Domestik Regional Bruto adalah salah satu indikator untuk mengukur kinerja dan kontribusi sektor-sektor pembentuk perekonomian daerah. Oleh karena itu, perencanaan dan strategi pembangunan harus sesuai dengan potensi sumberdaya yang ada pada daerah tersebut.

Diharapkan dapat memacu pertumbuhan ekonomi dan pembangunan daerah.

Penelitian ini menggunakan data dan informasi yang terkandung dalam PDRB, maka dapat dilakukan beberapa analisis untuk memperoleh informasi tentang sektor-sektor yang berpotensi dan menjadi sektor unggulan pada perekonomian daerah yang bersangkutan. Selain itu juga dapat diketahui sektor-sektor apa saja yang tetap unggul di masa yang akan datang dalam segala kondisi tantangan perekonomian.

(13)

Hasil analisis tersebut dapat menggambarkan keberhasilan suatu pembangunan yang dilihat dari kontribusi sektor-sektor pembentuk PDRB dari tahun ke tahun. Sehingga dapat diketahui sektor-sektor yang berkembang lebih cepat dari sektor lain yang menjadi sektor unggulan daerah tersebut.

Penentuan sektor unggulan tersebut dapat digunakan sebagai dasar pertimbangan untuk mengambil kebijakan pembangunan untuk memfokuskan pada sektor yang menjadi unggulan pada daerah tersebut.

Tujuan analisis ini untuk mendorong percepatan pembangunan daerah melalui peningkatan lapangan kerja dan tingkat pendapatan masyarakat di Kabupaten Cilacap. Alur pemikiran penelitian dapat dilihat pada gambar 2.1 sebagai berikut :

Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran Analisis Penentuan Sektor Unggulan

Perekonomian Kabupaten Cilacap

PDRB

Analisis DLQ Analisis

LQ Analisis

Shift Share Analisis Tipologi

Klassen

Sektor Unggulan

Kebijakan pemerintah daerah

(14)

B. Pengembangan Hipotesis

Berdasarkan telaah pustaka, penelitian terdahulu dan kerangka berpikir, maka penulis memberikan hipotesis sebagai berikut:

1. Diduga sektor industri pengolahan dan penggalian pertambangan merupakan sektor yang berpotensi dan menjadi unggulan di Kabupaten Cilacap berdasarkan analisis Tipologi Klassen, analisis Shift Share, dan analisis LQ.

2. Diduga dari tujuh belas sektor perekonomian di Kabupaten Cilacap masih terdapat sembilan sektor (Pertanian, Kehutanan dan Perikanan;

Pengadaan Listrik dan Gas; Konstruksi; Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan Sepeda Motor; Informasi dan Komunikasi; Jasa Keuangan dan Asuransi; Real Estat; Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib; Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial) yang menjadi sektor unggulan di masa yang akan datang berdasarkan Analisis DLQ.

3. Diduga pemerintah Kabupaten Cilacap harus konsentrasi pada sektor unggulan yang akan dianalisis untuk mendorong percepatan pembangunan daerah melalui peningkatan lapangan kerja dan tingkat pendapatan masyarakat di Kabupaten Cilacap .

Referensi

Dokumen terkait

Seperti yang terjadi pada masyarakat Indonesia selama lima tahun terakhir periode 2011 hingga 2016 sesuai dengan paparan temuan data peneltian di atas tentang tren

apabila variabel laten perilaku kekasaran dihubungkan dengan variabel laten kenakalan pelajar (Gambar 7), didapatkan hasil bahwa hubungan perilaku kekasaran ibu dan

kapal ikan yang akan dirancang menggunakan metode kapal pemb<mding, yaitu kapal tradisional yang sudah ada di Kecamatan Sepulu£ Alat tangkap yang digunakan

Proses coloring atau pewarnaan dalam pembuatan iklan Sedekah Buku dilakukan secara digital menggunakan CorelDraw X5, karena semua gambar dalam animasi ini berbasis

Sedangkan kelompok komoditas yang memberikan sumbangan terjadinya deflasi adalah: kelompok sandang sebesar 0,01 persen dan kelompok transport, komunikasi, dan jasa keuangan

Perjalanan kerja dengan pola ini dimulai pada dini hari pedagang berangkat dari rumah dengan kendaraan angkutan umum atau motor menuju Pasar Ungaran untuk mendapatkan

Dari hasil analisa dan grafik yang telah dibuat, maka dapat disimpulkan bahwa modul tipe 9 dengan 9 lubang adalah modul yang paling efisien.. Hal ini dikarenakan modul tipe

Struktur organisasi perangkat kerja daerah yang menangani kegaiatn bidang cipta karya sudah sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.Tugas serta fungsi