• Tidak ada hasil yang ditemukan

Burhanudin, S.Pd Guru SDN 13 Banyuasin III

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Burhanudin, S.Pd Guru SDN 13 Banyuasin III"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

MENINGKATKAN KEMAMPUAN DAN KETERAMPILAN GURU DALAM MENETAPKAN KRITERIA KETUNTASAN MINIMAL (KKM) DI SD NEGERI 13

BANYUASIN III MELALUI MULTI MEDOTE 2018/2019

Burhanudin, S.Pd Guru SDN 13 Banyuasin III

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses penetapan kriteria ketuntasan minimal melalui multi medote, serta meningkatkan Keterampilan guru dalam menetapkan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) melalui multi medote di SD Negeri 13 Banyuasin III. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk mendeskripsikan respon guru terhadap kegiatan yang dilakukan. Penelitian ini tergolong penelitian tindakan kepengawasan dengan melibatkan 11 orang guru. Penelitian dilakukan dengan dua siklus dan masing-masing siklus terdiri atas 4 tahapan, yakni : perencanaan, pelaksanaan, observasi dan repleksi. Indikator kinerja yang ditetapkan adalah : bila minimal 85% guru tergolong sangat baik dan baik dalam aspek penilaian penetepan kriteria ketuntasan minimal, maka sudah dapat dikatakan tindakan yang diterapkan berhasil. Aspek yang diukur dalam menilai keberhasilan tindakan adalah kesiapan guru mengikuti multi medote dan hasil pelaksanaan multi medote.

Dari analisis diperoleh bahwa terjadi peningkatan kesiapan dan Kinerja guru dalam menetapkan kriteria ketuntasan minimal dari Siklus I ke Siklus II. Ketercapaian indikator kinerja terdapat pada tindakan II. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa melalui multi medote dapat meningkatkan Keterampilan guru dalam menetapkan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) di SD Negeri 13 Banyuasin III. Dengan demikian dapat disarankan kepada pengawas atau peneliti yang lain bahwa kegiatan multi medote dapat dipakai sebagai salah satu alternatif dalam meningkatkan keterampilan guru dalam menetapkan kriteria ketuntasan minimal.

Kata Kunci : Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM), Multi Metode

(2)

1. PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah PTS

Pendidikan merupakan hal yang penting dan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia dalam kehidupan, baik dalam kehidupan individu, keluarga, maupun berbangsa dan bernegara.

Majunya sebuah bangsa sangat ditentukan oleh berkembangkan tidaknya pendidikan dinegara tersebut. Pendidikan merupakan hak setiap manusia sesuai dengan Undang-undang Sistem pendidikan Nasional No. 20 tahun 2003 menyatakan bahwa “setiap warga negara berhak atas kesempatan yang seluas-luasnya untuk mengikuti pendidikan agar memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang sekurang-kurangnya setara dengan pengetahuan, kemampuan dan keterampilan tamatan pendidikan dasar”.

Rendahnya mutu pendidikan kita secara hipotesis, penulis nilai sebagai akibat lemahnya penataan kegiatan akademik institusional, lemahnya hal tersebut sekaligus terlihhat dalam kondisi pembelajaran di kelas khususnya, dan proses pembelajaran pada umumnya. Lemahnya mutu pembelajaran antara lain disebabkan oleh karena subsistem yang turut membangun proses itu masih lemah. Usaha kearah perbaikan kualitas pembelajaran sudah dilakukan oleh pihah pemerintahan yaitu Depdiknas, dengan peningkatan kualitas tenaga pengajar, penyedian sarana dan prasarana serta perbaikan kurikulum.

Pencapaian tujuan pendidikan perlu didukung dengan penyediaan prasarana serta perbaikan kurikulum, dimana kurilukum merupakan pedoman dalam pelaksanaan pengajaran pada semua jenis dan tingkat sekolah. Kurikulum mendasar dan mencerminkan falsafah sebagai pandangan hidup bangsa. Kearah mana dan bagaimana bentuk bangsa itu, sangat ditentukan dan akan tergambar dalam kurikulum sekarang, mulai dari kurikulum kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah lanjutan dan perguruan tinggi. Kurikulum harus bersifat dinamis lebih menyusuaikan dengan berbagai perkembangan dan lebih memantapkan hasilnya sesuai dengan yang diharapkan.

Namun demikian kenyataanya bahwa saat ini pelaksanaan kurikulum belum efektif, hal ini disebabkan kurang efesienya pelaksanaan dari lima komponen kurikulum. Diantaranya komponen tujuan, perumusannya belum spesifik atau dan belum operasional, sehingga mempengaruhi dalam pilihan dan penggunaan strategi atau metode pembelajaran. Komponen isi, pengembangannya sering terlalu seperti apa adanya, karena guru-guru harus tidak pernah mengembangkan isi buku-buku mata pelajaran dan mengaitkan dengan persoalan yang sedang terjadi sekarang ini, sehingga siswa tidak proaktif dengan perkembangan yang terjadi disekitarnya. Metode kegiatan belajar mengajar, dalam pembelajaran bahwa metode yang digunakan hanya terpaku pada ceramah dan tanya jawab saja.

Artinya guru tidak pernah menggunakan metode yang lain misalnya metode karya wisata dalam materi keindahan, kalau ini dilaksanakan oleh guru memungkin anak-anak akan lebih paham akannya keindahan dan bagaimana menjaganya. Sedangkan komponen evaluasi, pelaksanaannya belum efektif dilaksanakan. Hal ini disebabkan waktunya cukup banyak digunakan untuk kegiatan pembelajaran, sedangkan evaluasi porsi waktunya hampir tidak tersisa.

Dalam pembelajaran guru tidak menggunakan alat bantu pembelajaran. Hal inilah yang diduga menyebabkan lemahnya siswa dalam memahami konsep-konsep dasar, hal ini bisa dilihat dari hasil belajar yang rendah. Pengalaman peneliti sebagai sekaligus sebagai guru di SD Negeri 13 Banyuasin III sebelum melaksanakan pembelajaran sudah berusaha maksimal, mulai dari persiapan RPP, media hingga strategi pembelajaran dan pengelolaan kelas. Namun disisi lain peneliti sebagai guru memang masih cenderung menggunakan metode mengajar yang monoton yaitu metode ceramah, kondisi ini ternyata membuat siswa menjadi bosan, jemu dan tidak tertarik untuk belajar. Guru kurang mampu mengelola kelas dengan baik, sehingga banyak diantara siswa yang acuh tak acuh terhadap pembelajaran yang sedang dilakukan oleh guru bahkan sebagian diantaranya lebih sering mengerjakan tugas lain.

Untuk mengatasi hal tersebut perlu diupayakan langkah-langkah yang dapat dilaksanakan baik oleh siswa maupun guru. Guru hendaknya mengemas proses belajar mengajar dengan metode yang tepat dan menarik dalam penyajiannya. Salah satu langkahnya adalah menggunakan metode variasi dan bantuan alat peraga. Menurut Holstein (1986:67) media akan memperjelas dan membuat pelajaran menjadi lebih konkrit dan jelas bagi siswa.

Dari ulasan diatas sudah jelas bahwa belum efektifnya pengembangan dan pelaksanaan kurikulum disebabkan oleh beberapa persoalan yang telah penulis sebutkan. Observasi ini penulis

(3)

lakukan untuk menjawab permasalahan tersebut, dengan harapan ditemukan pengembangan dan pelaksanaan kurikulum Sekolah Dasar (SD) yang lebih baik dan bermanfaat.

Berdasarkan Permasalahan diatas penulis menarik Judul “Meningkatkan Kemampuan Dan Keterampilan Guru Dalam Menetapkan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) Di SD Negeri 13 Banyuasin III Melalui Multi Medote”.

2. KAJIAN TEORI Definisi Kurikulum

Kurikulum diartikan berbeda-beda oleh beberapa pakar, bagi kebanyakan orang, kurikulum adalah seperangkat mata pelajaran yang harus dipelajari siswa. Bagi siswa, kurikulum diartikan sebagai tugas-tugas pelajaran, latihan-latihan atau isi buku tes yang harus mereka baca, hafalkan, atau pelajari. Bagi guru, kurikulum diasosiasikan dengan dokumen yang berisi keterangan atau pedoman tentang materi pelajaran yang harus diajarkan, metode serta teknik-teknik mengajar, atau buku teks yang harus mereka ajarkan.

Ditinjau dari bahasa, kurikulum dari bahasa Yunani yang mula-mula digunakan dalam bidang oleh raga, yaitu kata Currrere, yang berarti jarak tempuh lari. Dalam kegiatan berlari tentu saja ada jarak yang harus ditempuh dari start sampai dengan finish. Jarak dari start sampai dengan finish ini disebut currere. Atas dasar tersebut pengertian kurikulum diterapkan dalam bidang pendidikan.

Kemudian para ahli pendidikan dan ahli kurikulum membuat macam-macam batasan tentang kurikulum tersebut, mulai dari pengertian tradisional sampai pengertian modern, dan dari yang sederhana sampai dengan yang kompleks. Tentunya setiap ahli mempunyai pengertian atau versi batasan yang berbeda pula.

Paham pragmatis difinisi kurikulum adalah suatu pandangan filsafat yang memandang realita selalu berada dalam pemulihan, realivitas nilai-nilai dan pemakaian inteligensi yang kritis (Kneller dalam Ansyar, 1989). Menurut paham ini, pendidikan adalah proses untuk menumbuhkan pengalaman pelajar. Pendidikan dilihat sebagai alat untuk mencapai kembali, mengontrol, dan mengarahkan, pengalaman bagi pencapaian tujuan pendidikan yaitu membantu pelajar memecahkan masalah yang dihadapinya. Dengan demikian bukanlah suatu proses persiapan anak untuk menghadapi kehidupan, tetapi merupakan bagian integral dari kehidupan itu sendiri. (Zais dalam Ansyar,1989)

Peranan utama guru, menurut kaum pragmatis, adalah menyiapkan suasana atau lingkungan belajar yang memungkinkan bagi siswa untuk memperoleh pengalaman dalam mengindetifikasi masalah-masalah dan mencarikan jalan keluar dari masalah-masalah itu. (Johnson dalam Ansyar, 1989)

Selain itu kurikulum tidak difokuskan pada mata pelajaran yang harus dipelajari oleh siswa, tetapi diarahkan kepada seperangkat kegiatan-kegiatan belajar yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk memperoleh pengalaman. Sehingga siswa dapat mengkonstruksi sendiri kenyataan yang ada. (Zais dalam Ansyar,1989)

Dari penjelasan daiatas dapat dipahami bahwa kurikulum menurut pragmatisme lebih memetingkan proses dari pada “status”. Sehingga kurikulum yang sesuai dengan pragmatisme adalah kurikulum berpusat pada siswa (student-centered), berorientasi pada proses, dan lebih mengutamakan pengalaman belajar. Pengalaman belajar hanya dapat diperoleh dengan jalan berasosiasi dengan orang lain, oleh karena itu siswa harus tinggal di masyarakat, bekerjasama dengan mengadaptasikan diri secara logis terhadap kebutuhan dan aspirasi sosial dengan mereka dan mendapatkan diri secara logis terhadap kebutuhan dan aspirasi sosial. (Kneller dalam Ansyar,1989)

Taba (1962) mengatakan semua kurikulum tersusun dari unsur-unsur tertentu. Suatu kurikulum biasanya terdiri dari pernyataan-pernyataan mengenai tujuan (umum dan spesifik), seleksi dan organisasi bahan, strategi belajar maupun mengajar dan akhirnya suatu program evaluasi.

Namun Tyler (1970) mengatakan, kurikulum identik dengan pembelajaran, pengembangan kurikulum sama dengan merencanakan pembelajaran. Perencanaan kurikulum tidak dapat dilakukan tanpa memperhatikan teori pembelajaran, demikian pula pembelajaran tidak dapat dilakukan tanpa mengetahui gambaran menyeluruh isi kurikulum yang harus dicakup dalam program pembelajaran.

Oleh karena itu, kegiatan pengembangan kurikulum dan pembelajaran merupakan suatu kegiatan yang sama, tetapi pada tingkat yang berbeda. Pengembangan kurikulum mencakup ruang lingkup yang lebih luas, sedangkan rancangan pembelajaran mempunyai ruang lingkup yang sempit.

(4)

Seperti halnya pengembangan kurikulum, pengembangan rancangan pembelajaran dapat dikembangkan pada tingkat satuan pelajaran, bidang studi, dan lembaga. Pengembangan rancangan pembelajaran yang setingkat dengan pengembangan kurikulum yaitu rancangan yang berfokus pada tingkat sistem.

Komponen-komponen Kurikulum

Pengembangan kurikulum pada berbagai tingkat mengandung komponen-komponen inti yang sama. Komponen-komponen tersebut yaitu :

1. Tujuan, tujuan kurikulum berisikan perangkat asumsi landasan progaram, perangkat kemampuan lulusan yang merupakan sasaran pembentukan, serta garis-garis besar struktur kurikulum dengan perian eskplisit mengenai misi yang dibawanya. Dengan demikian kurikulum merupakan perangkat pengalaman belajar yang dilakukan peserta didik sesuai dengan misi/tujuan yang diembannya. Ada beberapa hirarki dalam tujuan kurikulum meliputi : (1) tujan pendidikan nasional, (2) tujuan institusional, (3) tujuan kurikuler, dan (4) tujuan pembelajaran.

2. Isi,isi kurikulum terdiri dari bidang-bidang mata pelejaran yang secara keseluruhan akan mendukung tercapainya seluruh tujuan : (1) bidang-bidang pembelajaran yang secara khusus dapat mendukung tercapainya tujuan pendidikan nasional, (2) bidang-bidang pembelajaran yang secara khusus dapat mendukung tercapainya tujuan instutional, (3) bidang-bidang pembelajaran yang secara khusus dapat dimanfaatkan untuk mempermudah tercapainya semua tujuan tersebut. Isi merupakan bidang kajian utama kurikulum.

3. Kriteria yang digunakan untuk menentukan isi kurikulum antara lain dikemukakan oleh Tyler (1970), ia menyebutkan lima prinsip umum dalam memilih pengalaman belajar yang akan dijadikan isi kurikulum, yaitu : pengalaman yang diberikan kepada pebelajar harus memberikan kesempatan untuk dapat dipraktikkan sesuai dengan tujuan, pemberian pengalaman atau penampilan prilaku seperti yang dikehendaki, pengalaman belajar masih dalam batas kemungkinan pebelajar terlibat secara aktif dalam proses pemorelahannya. Pengalaman belajar yang akan diberikan diseleksi sehingga cocok untuk mendukung tujuan, dan pengalaman belajar bukan untuk mencapai suatu jenis prilaku sesuai tujuan saja, melainkan dapat memberikan kemungkinan mengembangkan kemampuan.

Doll (1978) mengatakan tujuh kreteria yang digunakan untuk menetukan isi kurikulum, yaitu ketetapan dengan bahan ajar, keseimbangan antara bahan untukpengenalan dengan pendalaman, kesesuaian bahan/isi dengan minat dan kebutuhan pebelajar, hubungan isi dengan konsep, kemampuan pebelajar dalam mempelajari isi, dan integrasi dengan isi disiplin lain.

Prat (1980) mengajukan delapan kriteria untuk menentukan isi kurikulum, yaitu : (1) relevan antara isi dengan tujuan (2) ketetapan antara isi dengan tujuan (3) konsistensi dan kualitas, (4)urutannya logis (5) sesuai perkembangan mutakhir (6) cocok untuk program pengajaran di sekolah (7) menghindari diri dari kontroversial (8) keseimbangan cara memperlakukan kaum minoritas, agama, politik, dan wanita.

Winecoff (1989) mengatakan ada tiga pertanyaan yang perlu di jawab untuk isi kurikulum. Isi kurikulum itu untuk tujuan apa? Untuk mengajarkan pengetahuan, ketrampilan dasar, persiapan karir masa depan, membantu memecahkan masalah, membantu mengembangkan konsep diri, mengembangkan hubungan dan sikap positif, mengembangkan pemberantas buta huruf, mengembangkan kebudayaan, rasa kebangsaan, nasionalisme dan sebagainya. Isi kurikulum untuk siapa? Siapa pebelajarnya, pengalaman apa yang sudah dimiliki, pengembangan untuk tingkat yang mana, kepribadian, motivasi dan sebagainya. Bagaimana mengorganisasi kurikulum

? berdasarkan konsep, logika, disiplin ilmu dan sebagainya.

4. Strategi, untuk dapat mencapai semua tujuan yang dalam pelaksanaannya berjenjang mulai terciptanya tujuan pembelajaran sampai tujuan pendidikan nasional, perlu disusun suatu strategi.

Strategi ini berupa proses pemilihan pengalaman belajar bagi kepentingan peserta didik dengan memperhatikan : (1) sampai seberapa jauh peserta didik dapat menerima isi pembelajaran yang disajikan, dan (2) melihat sampai seberapa jauh proses pembalajaran dapat dilaksanakan.

Dalam hal ini pemikiran lebih diarahkan pada apa yang dilakukan oleh peserta didik dalam belajar dan usaha untuk mencapai hasil yang telah ditetapkan sesuai dengan tujuan pembelajaran.

Pengembangan kurikulum akan selalu membawa konsekuensi pada pemilihan strategi pelaksanaan praktik di dalam kelas sesuai tujuan yang telah ditetapkan. Kurikulum dan

(5)

pembelajaran adalah suatu proses yang saling berinteraksi. Pembelajaran menaruh perhatian pada

“bagaimana membelajarkan pebelajar”,sedangkan kurikulum lebih menekankan pada deskripsi tentang “apa isi pembelajaran” yang harus dipelajari pebelajar. (Reigeluth,1983)

Dengan demikian kajian mengenai bagaimana membelajarkan pebelajaran merupakan suatu proses interaktif yang melibatkan perilaku pebelajar dengan berbagai karakteristik dalam belajar dengan lingkungan belajarnya.

5. Evaluasi, evaluasi kurikulum dalam pengembangan dan pelaksanaannya dapat dibagi menjadi dua kegiatan, yaitu formatif dan evaluasi sumatif. Evaluasi formatif bertujuan untuk menentukan apa yang harus ditingkatkan atau diperbaiki agar kurikulumm tersebut lebih efektif dan efisien. Secara ekstrim dapat dikatakan betapapun kurang efektif atau sangat efektif kurikulum itu, evaluator masih harus mencari apa yang perlu dilakukan untuk meningkatkan efektifnya, sehingga kualitasnya lebih tinggi daripada sebelumnya. Dalam pengembangan produk kurikulum, pelaksanaan evaluasi formatif merupakan keharusan. Hanya dengan cara itulah pengembangaan kurikulum dapat merasa yakin bahwa sistem kurikulum yang dikembangkan akan efektif dan efisien dilapangan sesungguhnya nanti. Dengan demikian evaluasi formatif diartikan sebagai proses menyediakan dan menggunakan informasi untuk dijadikan dasar pengambilan keputusan dalam rangka meningkatkan kualitas produk kurikulum.

Evaluasi sumatif merupakan keputusan tentang efektif atau tidaknya suatu produk kurikulum.

Membandingkan efektivitas beberapa jenis produk kurikulum untuk memilih salah satu yang terbaik dan menyingkirkan yang lainya merupakan suatu proses yang menetukan mana produk yang boleh digunakan terus dan mana yang harus dihentikan atau tidak boleh digunakan. Jenis evaluasi ini tidak menghasilkan petunjuk bagi orang yang mengevaluasi tentang bagian mananya dari kurikulum atau program pembelajaran yang harus diperbaiki. Evaluasi seperti ini tidak pula menghasilkan petunjuk bagaimana cara memperbaiki agar kualitasnya lebih baik.

Jenis-jenis Kurikulum

Dalam pendidikan kita juga mengenal beberapa jenis kurikulum, misalnya kurikulum yang tertulis, kurikulum yang direncanakan, kurikulum yang dilaksanakan, kurikulum formal dan informal.

Goodlad (1979) membedakan lima jenis kurikulum yaitu :

1. Kurikulum ideal (ideological curriculum) yaitu kurikulum sebagaimana diharapkan oleh ahli dan guru yang mencerminkan pengetahuan yang diakumulasikan sepanjang jaman.

2. Kurikulum formal yaitu kurikulum yang disetujui dan disahkan oleh pemerintah.

3. Kurikulum “bayangan” (perceived curriculum) yaitu kurikulum yang ada dalam pikiran, yang diinginkan oleh orang tua dan guru.

4. Kurikulum operasional yaitu kurikulum yang dilaksanakan didalam kelas.

5. Kurikulum pengalaman yaitu kurikulum yang dialami oleh murid.

Galtthorn (1987) mengatakan kurikulum diklasifikasikan dalam tujuh jenis yaitu : 1. Kurikulum tertulis (Written Curriculum)

Kurikulum tertulis merupakan kurikulum yang sudah disetujui oleh pemerintah. Kurikulum ini merupakan pengendali untuk menjamin tujuan pendidikan. Kurikulum tertulis lebih komprehensif, konseptual, direncanakan dengan baik dan mudah dipraktekkan spesifik, biasanya memuat dasar-dasar pertimbangan yang mendukung kurikulum, tujuan yang harus dicapai, sasaran yang harus diakui, konsekuen terhadap kegiatan belajar mengajar yang harus dilakukan dan bagaimana evaluasinya. Fungsinya kurikulum ini adalah sebagai pengantar (mediating) pengendali dan standar.

Sebagai pengantar kurikulum ini menghubungkan ide-ide dalam kurikulum rekomendasi dengan realitas dalam kelas. Artinya merupakan perpaduan antara apa yang diinginkan para ahli, akademika untuk diajarkan dengan yang dalam praktek dilakukan guru. Sebagai pengendali kurikulum ini merupakan alat untuk mengontrol apa yang diajarkan guru. Selanjutnya sebagai pembukuan menunjukkan apa yang harus diajarkan minggu demi minggu didalam kelas sehingga terjadi persamaan pemerataan dan kesatuan pendidikan.

2. Kurikulum Rekomendasi

Kurikulum rekomendasi yaitu kurikulum yang direkomendasikan oleh para ahli, asosiasi profesional, komisi pembaharuan pendidikan dan juga yang berdasarkan kebijakan pemerintah.

Sejalan dengan kurikulum ideal, kurikulum menekankan keharusan mempelajari konsep,

(6)

ketrampilan yang akan dikembangkan menurut persepsi dan system nilai sumber atau sponsor.

Kurikulum ini bersifat umum berisikan sejumlah kebijakan yang disarankan, sejumlah tujuan, syarat-sayarat kelulusan, rekomendasi tentang bahan, dan urutan-urutan bahan. Kurikulum ini mempunyai kebaikan karena memuat kebijaksanaan, sayarat-sayarat dan aspek yang perlu diperhatikan dalam perencanaan kurikulum. Misalnya semua siswa Sekolah Dasar (SD) harus belajar menguasai komputer. Kebaikan kebaikan kedua kurikulum ini mencoba menyerap apa yang terjadi di dalam masyarakat,dan akan terlihat hasilnya secara cepat. Kelemahan kurikulum ini berhubungan dengan kurang sensitif terhadap realitas yang terjadi didalam kelas, bagaimana guru merencanakan pelajaran. Biasanya rekomendasi bersifat umum sedangkan guru membutuhkan pedoman, bimbingan yang lebih komprehensip.

3. Kurikulum dukungan (supported curriculum)

Kurikulum ini terbentuk dari sumber-sumber yang dialokasikan untuk menunjang kurikulum,ada beberapa macam sumber atau bentuk dukungan yaitu:

a. Alokasi waktu yang dipergunakan untuk mata pelajaran tertentu.

b. Alokasi waktu yang dipergunakan guru untuk aspek tertentu.

c. Alokasi personel, banyaknya guru yang diperlukan.

d. Bahan, alat dan buku teks yang disediakan.

4. Kurikulum yang diajarkan

Kurikulum ini tidak berbeda dengan apa yang diajarkan guru di dalam kelas, dan tentunya berdasarkan kurikulum yang tertulis walaupun sering terjadi penyimpangan. Guru datang keruang kelas dengan latar belakang pengetahuan pribadi yang berbeda. Mereka dipengaruhi oleh situasi, teori-teori yang mereka pelajari, kondisi sosial dan pengalaman setiap kelas berbeda. Dan faktor lain yang mempengaruhi guru, sperti pengetahuan dalam mata pelajaran, persepsi guru terhadap siswa, kurikulum yang tertulis, buku teks, proses sdministrasi, ujian dan persepsi masyarakat. Karena itu keputusan guru tentang kurikulum yang diajarkan adalah produk interaksi berbagai variabel.

5. Kurikulum yang diuji (the tested curriculum)

Kurikulum jenis ini adalah serangkaian bahan pelajaran/kegiatan belajar yang dinilai melalui tes, baik yang dibuat oleh guru maupun tes yang baku, atau tes yang disusun oleh panitia wilayah. Bagaimana hubungan kurikulum ini dengan kurikulum yang diajarkan. Sering sekali tes yang dibuat oleh guru tidak sejalan dengan apa yang diajarkannya. Guru tidak mampu menyusun tes yang baik dan kebanyakan tes berorientasikan pada kemampuan mengerti dan mengingat. Tes yang dibuat penitia wilayah juga sering ,mengukur tingkat tujuan yang rendah. Selanjutnya tes baku sering tidak serasi dengan apa yang diajarkan.

Kurikulum yang tertulis, kurikulum yang diajarkan, dan kurikulum yang diuji merupakan kurikulum yang diinginkan, yaitu sejumlah belajar yang dikehendaki dalam suatu sistem pendidikan.

6. Kurikulum yang dipelajari

Kurikulum ini merupakan hasil belajar, yaitu perubahan nilai, persepsi dan tingkah laku yang terjadi dari pengalaman belajar. Kurikulum ini merupakan apa yang telah dimengerti, dipelajari, diingat siswa baik dari kurikulum yang diinginkan maupun dari kurikulum yang tersembunyi.

7. Kurikulum yang tersembunyi

Kurikulum yang tersembunyi sering disebut kurikulum implisit, kurikulum yang tidak dipelajari, dapat dirumuskan sebagai aspek dari sekolah yang lain dari kurikulum yang direncanakan namun berpengaruh terhadap perobahan tingkah laku siswa. Glatthorn menyatakan kurikulum tersembunyi terdiri dari dua aspek yaitu aspek yang realatif tetap dan aspek yang dapat berubah-rubah. Salah satu aspek yang tetap adalah ideology, kenyakinan, nilai budaya masyarakat yang mempengaruhi sekolah. Budaya masyarakat menetapkan pengetahuan mana yang perlu diwariskan dan mana yang tidak perlu diwariskan. Sistem pengelolaan sekolah, ruang kelas, aturan yang ditetapkan, pola pengelompokan siswa, ekspektasi guru juga berpengaruh terhadap anak.

Aspek yang dapat berubah meliputi variabel organisasi, sistem sosial dan budaya.

Variabel organisasi meliputi bagaimana guru mengelola kelas, bagaimana pelajaran diberikan, bagaimana sistem promosi. Variabel sitem sosial berkaitan dengan pola hubungan sosial dalam kelas dan sekolah, bagaimana hubungan murid dan guru, murid dengan murid, hubungan kepala

(7)

sekolah dengan guru dan staf administrasi. Pada umumnya dapat digolongkan dua jenis iklim sekolah: yang menekankan prosedur, otoritas dan ketaatan, dan yang lainnya mengutamakan prosedur demokratis, partisipasi dan self disiplin. Variabel kebudayaan bersangkutan dengan sistem kenyakinan, struktur kognitif dan nilai yang didukung oleh masyarakat dan sekolah.

Dengan demikian kurikulum tersembunyi merupakan sumber yang luas pengaruhnya maka perlu dipertimbangkan dalam setiap perencanaann kurikulum, karena akan menimbulkan berbagai pertanyaan.

Pelaksanaan di Sekolah Dasar Negeri

Proses kegiatan belajar mengajar pada Sekolah Dasar Negeri, dengan menggunakan pedoman Kurikulum 2013 (K13) tersebut menuntut 9 (sembilan) Mata pelajaran yang harus diajarkan, dari kelas satu samapai kelas enam.

Adapun mata pelajaran yang diajarkan yaitu; Pendidikan Agama Islam (PAI), Matematika, Bahasa Indonesia, Pendidikan Kewarganegaraan (PKn), Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), Kerajinan Tangan, Kesenian, Pendidikan Jasmani (Penjas).

Ansyar (2001) mengatakan bahwa kurikulum adalah semua kegiatan yang direncanakan tentang apa-apa yang diajarakan dan dengan cara bagaimana cara hal itu dapat diajarkan. Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa proses belajar berlangsung dengan baik sangat tergantung pada guru.

Proses belajar mengajar pada Sekolah Dasar sebagaimana Setiap mata pelajaran tersebut dibebankan dan diajarkan oleh guru kelas dan guru bidang studi.

Kompetensi Guru

Kompetensi merupakan spesifikasi dari kemampuan, keterampilan dan sikap yang dimiliki seseorang serta penerapannya di dalam pekerjaan, sesuai dengan standar kinerja yang dibutuhkan oleh lapangan (Ditjen Dikdasmen, 2004:4). Berdasarkan pendapat tersebut seorang yang bekerja sebagai guru, yang pekerjaan itu menurut Undang-Undang Guru tahun 2006 merupakan pekerjaan profesional maka guru harus memenuhi standar-standar minimal yang dibutuhkan oleh Depdiknas.

Guru yang setiap hari selalu berhadapan dengan anak tentu menghadapi berbagai problema, baik yang berkaitan dengan anak tersebut maupun dengan lingkungan pendidikan, yang notabene mempunyai berbagai karakter, berbagai kemampuan dan motivasi, yang semuanya perlu strategi- strategi khusus yang harus dipersiapkan oleh guru maka guru tersebut harus mempersiapkan diri baik yang berkaitan dengan materi yang akan dikuasai siswa, sikap siswa, strategi yang dapat memudahkan siswa dalam memahami materi tersebut. Berdasarkan itu Depdiknas menentukan bagian-bagian yang harus dikuasai oleh guru dalam rangka memenuhi Standar Kompetensi Guru. Komponen-komponen stantar kompetensi guru antara lain : (1) Komponen-kompetensi Pengelolaan Pembelajaran dan Wawasan Kependidikan, (2) Komponen Kompetensi Akademik/Vokasional sesuai materi pembelajaran, (3) Pengembangan profesi. Selain ketiga komponen tersebut, seorang guru harus memiliki sikap dan kepribadian yang positif, di mana sikap dan kepribadian tersebut senantiasa melekat pada setiap komponen yang menunjang profesi guru.

Seorang guru yang profesional akan kelihatan sikap dan kinerjanya dalam kehidupan sehari- hari. Semua hasil kerjanya harus dapat diukur oleh indikator. Oleh sebab itu, Ditjen Dikdasmen (2004:10) merumuskan indikator kompetensi, yang masing-masing komponen tersebut, di antaranya adalah :

1. Komponen Kompetensi Pengelolaan Pembelajaran

Kompetensi ini merupakan komponen awal yang harus dilakukan oleh guru karena bagian inilah seorang yang profesional dalam melaksanakan tugasnya harus berdasarkan program-program yang disiapkan. Dengan adanya program itu semuanya akan dapat dinilai, diukur dan dievaluasi. Dalam dunia pendidikan penentuan keberhasilan dapat dilihat dari indikatornya. Oleh sebab itu, Indikator dalam kompetensi ini menurut Ditjen Dikmenum sebagai berikut :

a. Kompetensi menyusun rencana pembelajaran, dengan indikator : 1) Mendeskripsikan tujuan pembelajaran

2) Menentukan materi sesuai dengan kompetensi yang telah ditentukan 3) Mengorganisasikan materi berdasarkan urutan dan kelompok

(8)

4) Mengalokasikan waktu

5) Menentukan metode pembelajaran yang sesuai 6) Merancang prosedur pembelajaran

7) Menentukan media pembelajaran/peralatan praktikum (dan bahan) yang akan digunakan 8) Menentukan sumber belajar yang sesuai (berupa buku, modul, program komputer dan

sejenisnya)

9) Menentukan teknik penilaian

Berdasarkan indikator yang telah ditetapkan oleh Ditjen Dikmenum tersebut maka seorang guru harus mampu membuat Persiapan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang pada dasarnya sama dengan indikator di atas. Guru tidak akan mampu membuat RPP tersebut jika guru tidak banyak belajar tentang materi, metode, strategi, media, dan penilaian pembelajaran.

Oleh sebab itu, guru harus banyak membaca atau belajar.

b. Kompetensi melaksanakan pembelajaran, dengan indikator : 1) Membuka pelajaran dengan metode yang sesuai

2) Menyajikan materi pelajaran secara otomatis

3) Menerapkan metode dan prosedur pembelajaran yang telah ditentukan 4) Mengatur kegiatan siswa di kelas

5) Menggunakan media pembelajaran/peralatan praktikum (dan bahan) yang telah ditentukan 6) Menggunakan sumber belajar yang telah dipilih (berupa buku, modul, program komputer

dan sejenisnya)

7) Memotivasi siswa dengan berbagai cara yang positif

8) Melakukan interaksi dengan siswa menggunakan bahasa yang komunikatif

9) Memberikan pertanyaan dan umpan balik, untuk mengetahui dan memperkuat penerimaan siswa dalam proses belajar

10) Menyimpulkan pembelajaran

11) Menggunakan waktu secara efektif dan efisien

Berdasarkan indikator di atas, guru harus mampu mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai siswa dalam belajar. Indikator-indikator di atas berkaitan dengan tindakan guru dalam melaksanakan pembelajaran (KBM). Oleh sebab itu, guru yang mampu melaksankan indikator di atas akan dapat menghasilkan pendidikan yang bermutu.

c. Kompetensi menilai prestasi belajar, dengan indikator :

1) Menyusun soal/perangkat penilaian sesuai dengan indikator/kriteria unjuk kerja yang telah ditentukan

2) Melaksanakan penilaian

3) Memeriksa jawaban/memberikan skor tes hasil belajar berdasarkan indikator/kriteria unjuk kerja yang telah ditentukan

4) Mengolah hasil penilaian

5) Menganalisis hasil penilaian (berdasarkan tingkat kesukaran, daya pembeda, validitas dan reabilitas)

6) Menyimpulkan hasil penilaian secara jelas dan logis (misalnya: interpretasi kecenderungan hasil penilaian, tingkat pencapaian siswa, dll.)

7) Menyusun laporan hasil penilaian 8) Memperbaiki soal/perangkat penilaian

Berdasarkan indikator kompetensi penilaian, guru harus mampu menyusun kisi-kisi, butir soal, pedoman penilaian, melaksanakan, mengolah nilai, melaporkan nilai dan analisis soal tersebut.

d. Melaksanakan tindak lanjut hasil penilaian prestasi belajar peserta didik, dengan indikator :

1) Mengidentifikasi kebutuhan tindak lanjut hasil penilaian 2) Menyusun program tindak lanjut hasil penilaian

3) Melaksanakan tindak lanjut 4) Mengevaluasi hasil tindak lanjut

5) Menganalisis hasil evaluasi program tindak lanjut penilaian

(9)

Dengan adanya indikator-indikator yang berkaitan dengan kompetensi pengelolaan belajar di atas, guru, kepala sekolah, pengawas akan dapat menilai sejauh mana kompetensi seorang guru dalam mengelola pembelajaran

2. Komponen Kompetensi Wawasan Pendidikan

Kompetensi wawasan pendidikan merupakan bagian yang harus dikuasai guru sebelum action di depan anak. Guru harus memahami landasan pendidikan, kebijakan pendidikan, perkembangan siswa, pendekatan pembelajaran, menerapkan bekerja sama dalam pekerjaan, dan memanfaatkan kemajuan IPTEK dalam pendidikan. Untuk memehami tersebut, guru wajib belajar perkembangan ilmu pendidikan dan pengetahuan karena ilmu pendididkan sekarang berkembang dengan pesat. Dahulu pembelajaran, dengan sistem teacher center sangat tepat, tetapi pembelajaran itu sekarang ternyata kurang tepat karena siswa setelah pembelajaran tidak bisa memecahkan persoalan, bahkan siswa diberi soal yang berbeda walaupun sama temanya tetap tidak bisa. Oleh sebab itu, pembelajaran yang berbasis CTL, CL, PAKEM, Pembelajaran model quantum teaching perlu dibaca oleh guru agar wawasan pendidikan terus bertambah. Bahkan dalam buku-buku pendidikan modern, pembelajaran selalu dikaitkan dengan usia dan motivasi.

Berdasarkan uraian di atas, guru perlu mengetahui dan menguasai indikator-indikator yang berkaitan dengan kompetensi wawasan Pendidikan, Ditjen Dikmenum (2004:12) menyebutkan indikatornya sebagai berikut :

a. Memahami landasan kependidikan, dengan indikator : 1) Menjelaskan tujuan dan hakekat pendidikan 2) Menjelaskan tujuan dan hakekat pembelajaran 3) Menjelaskan konsep dasar pengembangan kurikulum b. Memahami kebijakan pendidikan, dengan indikator :

1) Menjelaskan visi, misi dan tujuan pendidikan

2) Menjelaskan tujuan pendidikan tiap satuan pendidikan sesuai tempat bekerjanya 3) Menjelaskan sistem dan struktur standar kompetensi guru

4) Memanfaatkan standar kompetensi siswa

5) Menjelaskan konsep pengembangan pengelolaan pembelajaran yang diperlakukan (Misalnya: life skill, BBE/Broad Based Educatioan, CC/Community College, CBET/Competency-Based Education and Training dan lain-lain)

6) Menjelaskan konsep pengembangan manajemen pendidikan yang diberlakukan (Misalnya : MBS/Manajemen Berbasis Sekolah, Dewan Pendidikan, Komite Sekolah, dan lain-lain) 7) Menjelaskan konsep dan struktur kurikulum yang diberlakukan (Misal: Kurikulum Berbasis

Kompetensi)

c. Memahami tingkat perkembangan siswa, dengan indikator :

1) Menjelaskan psikologi pendidikan yang mendasari perkembangan siswa 2) Menjelaskan tingkat-tingkat perkembangan mental siswa

3) Mengidentifikasi tingkat perkembangan siswa yang dididik

d. Memahami pendekatan pembelajaran yang sesuai materi pembelajarannya, dengan indikator :

1) Menjelaskan teori belajar yang sesuai materi pembelajarannya

2) Menjelaskan strategi dan pendekatan pembelajaran yang sesuai materi pembelajarannya 3) Menjelaskan metode pembelajaran yang sesuai materi pembelajarannya

e. Menerapkan kerja sama dalam pekerjaan, dengan indikator : 1) Menjelaskan arti dan fungsi kerja sama dalam pekerjaan 2) Menerapkan kerjasama dalam pekerjaan

f. Memanfaatkan kemajuan IPTEK dalam pembelajaran, dengan indikator :

1) Menggunakan berbagai fungsi internet, terutama menggunakan e-mail dan mencari informasi

2) Menggunakan komputer terutama untuk Word Processor dan spead sheet (Contoh : Microsoft Word dan Exel)

3) Menerapkan bahasa Inggris untuk memahami literatur asing/memperluas wawasan kependidikan

3. Komponen Kompetensi Akademik/Vokasional

(10)

Kompetensi akademik ini berkaitan dengan penguasaan materi pelajaran yang akan dipelajari/dipahami/dikuasai siswa. Guru harus menguasai materi yang akan diajarkan. Oleh sebab itu, kompetensi bidang akademik ini berkaitan dengan penguasaan keterampilan sesuai dengan materi pembelajaran. Menurut Ditjen Dikmenum(2004:14) hanya ada satu kompetensi di bidang ini, yaitu :

a. menguasai keilmuan dan keterampilan sesuai materi pembelajaran, dengan indikator : 1) Menguasai materi pembelajaran di bidangnya

4. Komponen Kompetensi Pengembangan Profesi

Komponen ini sangat berkaitan dengan kemampuan guru dalam mengembangkan dirinya sebagai guru yang profesional. Guru harus bisa mengembangkan dirinya melalui penelitian-penelitian pendidikan demi kemajuan peserta didik dan kemajuan dirinya sendiri.

Hal ini jika dilakukan oleh semua guru maka pendidikan akan bermutu. Oleh sebab itu, penelitian tindakan sangat cocok untuk pengembangan pendidikan. Guru melaksanakan penelitian tindakan sekolah, kepala sekolah melaksanakan penelitian tindakan sekolah. Untuk itu Ditjen Dikmenum (2004:15) menentukan kompetensi dan indikatornya, yakni :

a. Mengembangkan profesi, dengan indikatornya :

1. Menulis karya ilmiah hasil penelitian/pengkajian/survei di bidang pendidikan

2. Menulis karya tulis berupa tinjauan atau ulasan ilmiah hasil gagasan sendiri di bidang pendidikan sekolah

3. Menulis tulisan ilmiah populer di bidang pendidikan sekolah pada media masa

4. Menulis prasaran/makalah berupa tinjauan, gagasan atau ulasan ilmiah yang disampaikan pada pertemuan ilmiah.

5. Menulis buku pelajaran/modul/diktat 6. Menulis diktat pelajaran

7. Menemukan teknologi tepat guna

8. Membuat alat pelajaran/alat peraga atau alat bimbingan 9. Menciptakan karya seni monumental/seni pertunjukan 10. Mengikuti kegiatan pengembangan kurikulum

Dengan adanya indikator-indikator seperti di atas, kepala sekolah akan mudah menentukan guru yang berprestasi maupun yang belum berprestasi.

3. METODOLOGI PENELITIAN TINDAKAN Setting Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri 13 Banyuasin III Tahun Pelajaran 2018/2019.

Peneliti mengambil tempat penelitian di SD Negeri 13 Banyuasin III karena sekolah tersebut adalah binaan peneliti. Guru-guru di SD tersebut ada yang GTT, GB, PNS, dan ijazahnya pun beragam, yakni ada yang berijazah diploma, sarjana, dan pascasarjana.

Waktu penelitian adalah pada bulan September sampai Desember 2018. Selama penelitian tersebut peneliti mengumpulkan data awal, menyusun program supervisi, pelaksanaan supervisi, analisis dan tindak lanjut.

Tabel : Alokasi waktu Penelitian Tindakan Sekolah

No Waktu Tempat Kegiatan Kegiatan

1 Oktober 2018 SD Negeri 13 Banyuasin

III Pelaksanaan Siklus I

2 November 2018 SD Negeri 13 Banyuasin

III Pelaksanaan Siklus II

3 Desember 2018 SD Negeri 13 Banyuasin III

Penyusunan Laporan Hasil PTS

Faktor yang Diselidiki

Untuk menjawab permasalahan, ada beberapa faktor yang diselidiki sebagai berikut :

(11)

1. Guru, melihat peningkatan kemampuan guru dalam membuat rencana pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, menilai prestasi belajar, dan melaksanakan tindak lanjut hasil penilaian prestasi belajar siswa sebelum penelitian dan dalam penelitian tindakan.

2. Pembelajaran, memperhatikan keefektifan pelaksanaan kurikulum dalam pengajaran di kelas SD Negeri 13 Banyuasin III yang dikelola oleh guru dengan menerapkan strategi pembelajaran yang sesuai dengan materi pembelajaran.

Prosedur Penelitian Tindakan

Karena penelitian ini merupakan penelitian tindakan maka pelaksanakan ini dilaksanakan secara siklus. Pelaksanaannya selama dua siklus. Siklus-siklus itu merupakan rangkaian yang saling berkelanjutan, maksudnya siklus kedua merupakan kelanjutan dari siklus pertama. Setiap siklusnya selalu ada persiapan tindakan, pelaksanaan tindakan, pemantauan dan evaluasi, dan refleksi.

Gambaran penelitan tindakan itu sebagai berikut.

1. Persiapan Tindakan

Siklus pertama dilaksanakan selama 2 bulan penuh yaitu pada semester I tahun pelajaran 2018/2019 dengan kegiatan sebagai berikut :

1) Pengumpulan data awal diambil dari daftar keadaan guru untuk mengetahui pendidikan terakhir, pelatihan yang pernah diikuti guru, serta lamanya guru bertugas. Data awal kerja guru dan efektivitas pembelajaran dilihat dari hasil supervisi kunjungan kelas masing-masing guru sebelum dilaksanakan penelitian.

2) Mengadakan pertemuan guru-guru sebagai mitra penelitian membahas pelaksanaan kurikulum atas pengajaran dan langkah-langkah pemecahan masalah pembelajaran dari aspek guru, dan supervisor.

2. Pelaksanaan Tindakan

Pelaksanakan tindakan ini dilakukan oleh peneliti dan supervisor selama kegiatan belajar mengajar berlangsung dengan tindakan sebagai berikut :

1) Mengadakan penelitian guru selama membuat program pembelajaran melalui peninjauan pelaksanaan kurikulum.

2) Melaksanakan supervisi edukatif selama pembelajaran secara periodik terhadap perkembangan dan pelaksaan kurikulum.

3) Pemberian reward dari kegiatan-kegiatan dalam bentuk penilaian angka kridit jabatan fungsional guru sebagai syarat kenaikan pangkat.

3. Pemantauan dan Evaluasi

Pada prinsipnya pemantauan dilaksanakan selama penelitian berlangsung, dengan sasaran utama untuk melihat peningkatan kemampuan guru serta efektivitas pengajaran yang dilaksanakan oleh guru serta tindakan-tindakan supervisor dalam mensupervisi guru tersebut sesuai dengan tujuan khusus pelaksanaan kurikulum.

Adapun instrumen yang digunakan untuk memantau tindakan guru selama proses belajar mengajar berupa :

1) Tindakan supervisor dalam pelaksanaan supervisi terhadap pelaksanaan kurikulum di SD Negeri 13 Banyuasin III Aktivitas guru selama proses belajar mengajar di kelas SD Negeri 13 Banyuasin III

4. Refleksi

Refleksi merupakan kegiatan yang meliputi analisis, sintesis, memaknai, menerangkan, dan akhirnya menyimpulkan semua informasi yang diperoleh pada saat persiapan dan tindakan.

Hasil refleksi dimanfaatkan untuk perbaikan pada siklus berikutnya.

Guru dan peneliti pada tahap ini mendiskusikan pelaksanaan proses tindakan yang dilakukan berdasarkan hasil pengamatan selama guru melaksanakan pengajaran, menilai prestasi belajar, melaksanakan tindak lanjut hasil penilaian prestasi belajar siswa terutama pada mata pelajaran dan supervisor melakukan tindakan.

Teknik Pengumpulan data

(12)

Teknik pengumpulan data pada penelitian ini terdiri atas beberapa kegiatan pokok yakni pengumpulan data awal, data hasil analisis setiap akhir siklus, serta tanggapan lain dari guru terhadap perkembangan dan pelaksanaan kurikulum di SD Negeri 13 Banyuasin III.

Teknik Analisis Data

Data yang telah dikumpulkan dianalisis dengan menggunakan analisis kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif digunakan untuk menjelaskan guru selama melakukan kegiatan belajar mengajar di kelas dan supervisor melaksanakan supervisi terhadap tindakan guru. Adapun analisis kuantitatif digunakan untuk mengetahui keberhasilan guru dan siswa berdasarkan standar kompetensi guru yang telah ditetapkan oleh Depdiknas sebagai berikut :

5. Nilai 91-100 = Amat baik (A) berhasil 6. Nilai 76-90 = Baik (B) berhasil

7. Nilai 55-75 = Cukup (C) belum berhasil 8. Nilai 0 – 54 = Kurang (D) belum berhasil Indikator Kinerja

Keseluruhan data yang terkumpul selanjutnya dipergunakan untuk menilai keberhasilan tindakan yang diberikan dengan indikator keberhasilan sebagai berikut :

a. Terjadi peningkatan kinerja guru dalam pelaksanaan KBM.

b. Terjadinya perkembangaan pembelajaran terhadap pelaksanaan kurikulum yang terjadi di Kelas.

c. Terjadinya peningkatan kinerja guru dalam menilai prestasi belajar siswa.

4. HASIL PELAKSANAAN TINDAKAN DAN PEMBAHASAN.

Hasil Penelitian Tindakan

Kegiatan pembinaan oleh peneliti terhadap perkembangan dan pelaksanaan kurikulum yang dilakukan di SD Negeri 13 Banyuasin III pada bulan September sampai dengan Desember dilakukan beberapa kali.

1. Deskripsi Hasil Tindakan Siklus I

Dari hasil observasi tentang pelaksaaan kurikulum yang diajarkan oleh guru di kelas SD Negeri 13 Banyuasin III pada Siklus I sebelum dilakukan arahan oleh peneliti selaku supervisor kependidikan disajikan pada tabel 4.1

Tabel 4.1

Analisis Hasil Observasi Terhadap Pelaksanaan Kurikulum Pengajaran di SD Negeri 13 Banyuasin III

No Nama Guru Skor Aspek Yang Di Observasi

Jumlah Skor Keterangan

1 2 3 4 5

1 Burhanudin, S.Pd 0 1 2 1 2 6 KA

2 M. Nawir,S.Pd.I 2 3 1 2 1 9 CA

3 Barno,S.Pd.SD 3 2 1 2 1 9 CA

4 Musirah,S.Pd.SD 2 1 1 1 3 8 KA

5 Sunarti,S.Pd.SD 2 1 1 1 1 6 KA

6 Sardal,S.Pd.SD 2 1 1 1 1 6 KA

7 Sadiyah,S.Pd.SD 1 1 1 1 1 5 KA

8 Tri Anita,S.Pd.SD 1 1 1 1 1 5 KA

9 Sri Murni,S.Ag 2 1 1 1 3 8 KA

10 Suprayogi,S.Pd.SD 2 1 1 1 1 6 KA

11 Azis Afandi,S.Pd.SD 1 1 1 1 1 5 KA

12 Nila Fatmawati,S.Pd 2 3 1 2 1 9 CA

Keterangan

1. Skor masing-masing aspek adalah 4

(13)

2. Skor masing-masing option adalah 2 3. Skor maksimal 20

4. Tabel Konvensi skor adalah a) 17 – 20 = Sangat Aktif (SA) b) 13 – 16 = Aktif (A)

c) 9 – 12 = Cukup Aktif (CA) d) 5 – 8 = Kurang Aktif (KA) e) 1 – 4 = Tidak Aktif (TA)

Berdasarkan skor pada tabel 4.1 guru yang tergolong kurang aktif berdasarkan hasil observasi pada Siklus I. Sehingga didapati guru kurang menguasai materi pengajaran dan tidak adanya keselarasan dengan tujuan instruksi umum pada petunjuk kurikulum pengajaran.

2. Deskripsi Hasil Tindakan Siklus II

Dari hasil observasi tentang Pelaksanaan kurikulum dalam pengajaran di kelas SD Negeri 13 Banyuasin III pada siklus II setelah diberikan arahan oleh peneliti selaku supervisor kependidikan disajikan pada tabel 4.2.

Tabel 4.2

Analisis Hasil Observasi Terhadap Pelaksanaan Kurikulum Pengajaran di SD Negeri 13 Banyuasin III

No

Nama Guru Skor Aspek Yang Di Observasi

Jumlah Skor Ket

1 2 3 4 5

1 Burhanudin, S.Pd 4 4 2 2 2 14 A

2 M. Nawir,S.Pd.I 4 4 4 4 3 19 SA

3 Barno,S.Pd.SD 3 3 4 3 2 15 A

4 Musirah,S.Pd.SD 4 3 4 3 3 17 SA

5 Sunarti,S.Pd.SD 3 3 3 4 1 14 A

6 Sardal,S.Pd.SD 3 3 4 3 2 15 A

7 Sadiyah,S.Pd.SD 3 4 3 4 3 17 SA

8 Tri Anita,S.Pd.SD 3 4 3 3 4 17 SA

9 Sri Murni,S.Ag 3 3 4 3 2 15 A

10 Suprayogi,S.Pd.SD 4 3 4 3 3 17 SA

11 Azis Afandi,S.Pd.SD 3 4 3 4 3 17 SA

12 Nila Fatmawati,S.Pd 3 4 3 3 4 17 SA

Keterangan

1. Skor masing-masing aspek adalah 4 2. Skor masing-masing option adalah 2 3. Skor maksimal 20

4. Tabel Konvensi skor adalah : a) 17–20 = Sangat Aktif (SA)) b) 13 – 16 = Aktif (A)

c) 9 – 12 = Cukup Aktif (CA) d) 5 – 8 = Kurang Aktif (KA e) 1 – 4 = Tidak Aktif (TA)

Berdasarkan skor pada tabel 4.2, guru yang tergolong sangat aktif 1 orang dan tergolong aktif 1 orang, berdasarkan hasil observasi pada Siklus II Guru di SD Negeri 13 Banyuasin III sudah kreatif dalam membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang sesuai dengan petunjuk dan instruksi supervisor kependidikan, sehingga didapati perkembangan kurikulum pengajaran di SD Negeri 13 Banyuasin III meningkat.

Pembahasan Atas Hasil Tindakan Pengamatan

(14)

Keberhasilan tindakan ini disebabkan oleh pemahaman menyeluruh tentang indikator pengajaran yang sesuai dengan petunjuk dan pelaksaaan kurikulum di SD Negeri 13 Banyuasin III.

Dengan pemahaman yang baik, maka Model Pembinaan yang diterapkan oleh peneliti selaku pengajar di SD Negeri 13 Banyuasin III kepada guru kelas di SD Negeri 13 Banyuasin III dapat mengoptimalkan pemahaman guru terhadap perkembangan pengajaran melalui pembinaan intensif.

Aktivitas ini akan sangat membantu mereka dalam memahami konsep konsep dasar materi pengajaran serta pada akhirnya nanti mampu menyusun RPP dengan baik dan benar.

Dengan demikian Pembinaan yang dilakukan sebagai kontrol pelaksanaan kurikulum dalam penelitian ini adalah pola usaha, tindakan dan kegiatan yang dilakukan secara efesien dan efektif untuk memperoleh hasil yang lebih baik untuk ditiru dari hasil latihan dalam pengawasan sehingga dalam melakukan sesuatu tidak bergantung pada orang lain ”...adalah suatu wadah pembinaan profesional bagi para guru yang tergabung dalam organisasi gugus sekolah dalam rangka peningkatan mutu pendidikan (Anonim, 1997:37).

Bagi para guru SD yang anggotanya semua guru didalam gugus, yang bersangkutan dimaksudkan sebagai wadah pembinaan profesional bagi para guru dalam upaya meningkatkan kemampuan profesional guru khususnya dalam melaksanakan dan mengelola pembelajaran di SD.

(Anonim, 1996:14)

Secara operasional guru SD dapat dibagi lebih lanjut menjadi kelompok yang lebih kecil berdasarkan jenjang kelas (misalnya kelompok guru kelas V dan seterusnya) dan berdasarkan mata pelajaran.

Selanjutnya dalam sistem gugus I dan II dan seterusnya, selain mendapatkan pembinaan secara langsung oleh Kepala Sekolah dan Pengawas Sekolah juga dari para tutor dan guru pemandu mata pelajaran mekanisme pembinaan profesional guru secara terus menerus dan berkesinambungan.

Mengingat setiap guru kelas mempunyai permasalahan tentang mata pelajaran maupun metode mengajar menurut jenjang kelas masing-masing, maka materi tataran/latihan atau diskusi yang disiapkan oleh tutor dan guru pemandu, perlu ditanggapi dan dikaji secara aktif oleh guru kelas agar segala yang diperoleh lewat kegiatan benar-benar aplikatif dan memenuhi kebutuhan perbaikan KBM/PBM di sekolah.

Penulis sekaligus pengawas TK/SD berorientasi kepada peningkatan kualitas pengetahuan, penguasaan materi, teknik mengajar, interaksi guru yang berfokus pada penciptaan kegiatan belajar mengajar yang aktif.

1. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

Dari hasil penelitian dan analisa data tentang hubungan antara prestasi belajar di sekolah dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

1. Bahwa dengan tingginya intensitas pembinaan terhadap pelaksanaan kurikulum pengajaran maka akan mempunyai pengaruh yang tinggi pula terhadap pembelajaran dan pengajaran oleh guru di SD Negeri 13 Banyuasin III Tahun Pelajaran 2018/2019.

2. Terjadi peningkatan kualitas dalam pemberian materi pengajaran yang sesuai dengan petunjuk dan pelaksanaan kurikulum yang dibina oleh peneliti selaku pengajar di SD Negeri 13 Banyuasin III.

Saran

1. Di dalam mengembangkan ilmu pengetahuan hendaknya senantiasa diiringi dengan kedisiplinan.

2. Bagi lembaga pendidikan dasar dan menengah penulis menyarankan hendaknya hal yang baik ini dapat dipertahankan dan lebih ditingkatkan mutu pendidikan.

DAFTAR PUSTAKA

Anas Sudjono, ( 2004), Pengantar Statistik Pendidikan, Rajawali : Bandung.

A, Tabrani Rusyani dkk, (1989), Pendekatan Dalam Proses Belajar Mengajar, CV. Remaja Karya : Bandung.

(15)

Arif Furchon, ( 2001), Pengantar Penelitian Dalam Pendidikan, Usaha Nasional : Surabaya.

Dakir, (1976), Didaktik Umum, IKIP Yogyakarta, Yogyakarta.

Eddy Soewardi Kartawijaya, (1987), Pengukuran dan Hasil Evaluasi, Sinar Baru : Bandung.

Herman Hudoy, (1990), Strategi Belajar Mengajar, IKIP Malang : Malang.

Imam, (1981), Penyusunan dan Pengolahan Hasil Test Dalam Rangka Penilaian Hasil Belajar, CV.

Pepara : Jakarta.

M. Chabib Toha, (1990), Teknik Evaluasi Pendidikan, Rajawali : Jakarta.

Muchtar Buchori, (1980), Teknik-Teknik Evaluasi Dalam Pendidikan, Jemare : Bandung.

Muhammad Ali, (1987), Penelitian Kependidikan Prosedur Dan Strategi, Angkasa : Bandung.

Ngalim Purwanto, (1986), Prinsip dan Teknologi Evaluasi Pengajaran, Remaja Karya : Bandung.

Nana Sudjana, (1990), Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, Rosda Karya : Bandung.

Sudirman, N, dkk, (1991), Ilmu Pendidikan, Remaja Rosdakarya : Bandung.

Gambar

Tabel : Alokasi waktu Penelitian Tindakan Sekolah

Referensi

Dokumen terkait

Penyelesaian akar permasalahan menggunakan tools lean manufacturing yaitu dengan pengklasifikasian bahan baku, perbaikan layout gudang dan pembuatan display pada gudang

Media yang digunakan adalah TSA (Tryptic Soy Agar), dibuat dengan cara: 45,7 g serbuk TSA dituangkan ke dalam 1 L aquades mendidih pada labu Erlenmeyer, kemudian

Masalah yang dibahas dalam penelitian ini, yaitu sapaan dan sebutan khusus apa saja yang digunakan dalam bahasa Minangkabau di Sicincin, faktor-faktor yang mempengaruhi

Dari hasil pengujian independent samples T-Test yang dilakukan pada karakteristik jenis kelamin responden, menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan derajat antara

Perbedaan metode ekstraksi maserasi, perkolasi, sokletasi dan refluks dapat menghasilkan kadar flavonoid total yang berbeda dari ekstrak metanol daun kersen (Muntingia

Dalam rangka memperkuat kelembagaan KASN maka perlu dilakukan beberapa upaya sebagai berikut: (1) Memperjelas dan memperkuat kewenangan KASN dalam melaksanakan pengawasan

Puri merupakan tempat tinggal untuk kasta Ksatria yang memegang pemerintahan Umumnya menempati bagian kaja kangin di sudut pempatan agung di pusat desa.. Puri umumnya