28
Universitas Kristen Petra
4. ANALISA DAN PEMBAHASAN
4.1. Gambaran Umum Obyek Penelitian
Saham kapitalisasi besar merupakan saham umumnya didominasi oleh saham-saham perusahaan besar yang telah mapan dengan risiko yang relatif lebih rendah dibanding dengan saham-saham small cap, dan harga sahamnya juga tak mudah dipermainkan (Kontan, 2008). Selain itu saham kapitalisasi besar menjadi penyumbang paling besar terhadap Indeks Harga Saham Gabungan, sedangkan saham kapitalisasi kecil nyaris tidak berdampak terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (Darmadji & Fakhrukdin, 2001). Saham kapitalisasi besar terdiri dari 118 saham yang tergabung di dalam Bursa Efek Indonesia sepanjang tahun 2009- 2012.
Saham-saham yang tergabung dalam penelitian ini harus memenuhi persyaratan yaitu kapitalisasi pasar di atas 1 trilyun dan tercatat di dalam Bursa Efek Indonesia sepanjang tahun 2009-2012, dan memiliki harga saham tahunan yang lengkap selama tahun 2009-2012. Adapun saham yang memenuhi persyaratan sebagai berikut:
Tabel 4.1. Proses Pemilihan Sampel
Keterangan Jumlah Emiten
Saham kapitalisasi besar yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2009-2012.
Perusahaan yang tidak mempunyai harga saham secara lengkap selama tahun 2009-2012.
118
(9) Perusahaan yang terpilih sebagai sampel 109
Berikut adalah detail saham yang termasuk kapitalisasi pasar besar:
Tabel 4.2. Daftar Saham Kapitalisasi Besar No Kode
Saham Emiten Sektor
1 AALI Astra Agro Lestari Tbk Pertanian
2 ACES Ace Hardware Indonesia Tbk Perdagangan dan Jasa 3 ADMF Adira Dinamika Mutifinance Tbk Keuangan
29
Universitas Kristen Petra
Tabel 4.2. Daftar Saham Kapitalisasi Besar (sambungan) No Kode
Saham Emiten Sektor
4 ADRO Adaro Energi Tbk Pertambangan
5 AKRA AKR Corporindo Tbk Perdagangan dan Jasa
6 ANTM Aneka Tambang Tbk Pertambangan
7 ASII Astra Internasional Tbk Aneka Industri
8 ASRI Alam Sutera Realty Tbk Properti dan Real Estate 9 AUTO Astra Otoparts Tbk Aneka Industri
10 BAEK Bank Ekonomi Raharja Tbk Keuangan 11 BBCA Bank Central Asia Tbk Keuangan
12 BBKP Bank Bukopin Tbk Keuangan
13 BBNI Bank Negara Indonesia Persero
Tbk Keuangan
14 BBRI Bank Rakyat Indonesia Keuangan
15 BCIC Bank Century Tbk Keuangan
16 BDMN Bank Danamon Tbk Keuangan
17 BFIN BFI Finance Indonesia Tbk Keuangan
18 BHIT Bhakti Ivestama Tbk Perdagangan dan Jasa 19 BISI Bisi Internasional Pertanian
20 BLTA Berlian Laju Tanker Tbk Infrastruktur
21 BMTR Global Mediacom Tbk Perdagangan dan Jasa 22 BNGA Bank CIMB Niaga Tbk Keuangan
23 BNII Bank Internasional Indonesia Tbk Keuangan
24 BNLI Bank Permata Tbk Keuangan
25 BRPT Barito Pasific Tbk Industri Dasar dan Kimia 26 BSDE Bumi Serpong Damai Tbk Properti dan Real Estate
27 BTEL Bakrie Telecom Infrastruktur
28 BTPN Bank Tabungan Pensiunan
Nasional Tbk Keuangan
29 BUMI Bumi Resourses Tbk Pertambangan 30 CMNP Citra Marga Nusphala Persada
Tbk Infrastruktur
31 CPIN Charoen Pokphan Indonesia Tbk Industri Dasar dan Kimia 32 CPRO Central Proteinaprima Tbk Pertanian
33 CTRA Ciputra Development Tbk Properti dan Real Estate 34 CTRP Ciputra Property Tbk Properti dan Real Estate 35 CTRS Ciputra Surya Tbk Properti dan Real Estate
36 DEWA Darma Henwa Tbk Pertambangan
37 DILD Intiland Development Tbk Properti dan Real Estate 38 DOID Delta Dunia Petraindo Tbk Pertambangan
39 DUTI Duta Pertiwi Tbk Properti dan Real Estate
30
Universitas Kristen Petra
Tabel 4.2. Daftar Saham Kapitalisasi Besar (sambungan) No Kode
Saham Emiten Sektor
40 ELSA Elnusa Pertambangan
41 ELTY Bakrie Land Development Tbk Properti dan Real Estate 42 ENRG Energi Mega Persada Tbk Pertambangan
43 EPMT Enseval Putra Megatrading Tbk Perdagangan dan Jasa 44 FAST Fastfood Indonesia Tbk Perdagangan dan Jasa 45 FASW Fajar Surya Wisesa Tbk Industri Dasar dan Kimia
46 GGRM Gudang Garam Tbk Barang Konsumsi
47 GJTL Gajah Tunggal Tbk Aneka Industri 48 GZCO Gozco Plantations Tbk Pertanian
49 HERO Hero Supermarket Tbk Perdagangan dan Jasa 50 HEXA Hexindo Adiperkasa Tbk Perdagangan dan Jasa 51 HITS Humpuss Intermode Transportasi
Tbk Infrastruktur
52 HMSP HM Sampoerna Tbk Barang Konsumsi
53 IIKP Inti Agri Resources Tbk Pertanian 54 INCO International Nickel Indonesia Tbk Pertambangan 55 INDF Indofood Sukses Makmur Tbk Barang Konsumsi 56 INDY Indika Energi Tbk Infrastruktur
57 INKP Indah Kiat Pulp and Paper Tbk Industri Dasar dan Kimia 58 INTP Indocement Tunggal Prakarsa Tbk Industri Dasar dan Kimia
59 ISAT Indosat Tbk Infrastruktur
60 ITMG Indo Tambangraya Megah Pertambangan 61 JIHD Jakarta International Hotel and
Development Properti dan Real Estate
62 JKON Jaya Konstruksi Manggala
Pratama Tbk Properti dan Real Estate
63 JPFA Japfa Comfeed Indonesia Tbk Industri Dasar dan Kimia 64 JRPT Jaya Real Property Tbk Properti dan Real Estate
65 JSMR Jasa Marga Infrastruktur
66 KIJA Kawasan Industri Jababeka Tbk Properti dan Real Estate
67 KLBF Kalbe Farma Tbk Barang Konsumsi
68 LPKR Lippo Karawaci Tbk Properti dan Real Estate 69 LSIP Perusahaan Perkebunan London
Sumatra Ind Pertanian
70 MAPI Mitra Adiperkasa Tbk Perdagangan dan Jasa 71 MASA Multistrada Arah Sarana Tbk Aneka Industri
72 MAYA Bank Mayapada International Tbk Keuangan 73 MEDC Medco Energi Internasional Tbk Pertambangan
74 MERK Merck Tbk Barang Konsumsi
31
Universitas Kristen Petra
Tabel 4.2. Daftar Saham Kapitalisasi Besar (sambungan) No Kode
Saham Emiten Sektor
75 META Nusantara Infrastructure Tbk Infrastruktur 76 MLBI Multi Bintang Indonesia Tbk Barang Konsumsi 77 MNCN Media Nusantara Cirtra MNC Perdagangan dan Jasa 78 MPPA Matahari Putra Prima Tbk Perdagangan dan Jasa
79 MYOR Mayora Indah Tbk Barang Konsumsi
80 NISP Bank NISP Tbk Keuangan
81 PGAS Perusahaan Gas Negara Infrastruktur
82 PLAS Redland Asia Capital Tbk Perdagangan dan Jasa 83 PLIN Plaza Indonesia Realty Tbk Properti dan Real Estate
84 PNBN Bank Pan Indonesia Keuangan
85 PNLF Panin Life Tbk Keuangan
86 PTBA Tambang Batu Bara Bukit Asam
Tbk Pertambangan
87 PTRO Petrosea Tbk Pertambangan
88 PWON Pakuwon Jati Tbk Properti dan Real Estate 89 RALS Ramayana Lestari Sentosa Tbk Perdagangan dan Jasa 90 RMBA Bentoel Internasional Investama
Tbk Barang Konsumsi
91 SCMA Surya Citra Media Tbk Perdagangan dan Jasa
92 SGRO Sampoerna Agro Pertanian
93 SMAR Sinar Mas Agro Resources and
Technology Pertanian
94 SMCB Holcim Indonesia Tbk Industri Dasar dan Kimia 95 SMGR Semen Gresik Persero Tbk Industri Dasar dan Kimia 96 SMRA Summarecon Agung Tbk Properti dan Real Estate 97 TBLA Tunas Baaru Lampung Tbk Pertanian
98 TCID Mandom Indonesia Tbk Barang Konsumsi
99 TKIM Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk Industri Dasar dan Kimia 100 TLKM Telekomunikasi Indonesia Tbk Infrastruktur
101 TPIA Tri Polyta Indonesia Tbk Industri Dasar dan Kimia 102 TRAM Trada Manlime Tbk Infrastruktur
103 TSPC Tempo Scan Pasific Tbk Barang Konsumsi 104 TURI Tunas Ridean Tbk Perdagangan dan Jasa 105 ULTJ Ultrajaya Milk Industry & Trading
Co Tbk Barang Konsumsi
106 UNSP Bakrie Sumatera Plantatios Tbk Pertanian
107 UNTR United Tractors Tbk Perdagangan dan Jasa
32
Universitas Kristen Petra
Tabel 4.2. Daftar Saham Kapitalisasi Besar (sambungan) No Kode
Saham Emiten Sektor
108 UNVR Unilever Indonesia Tbk Barang Konsumsi 109 WIKA Wiajaya Karya Properti dan Real Estate Sumber: Galerisaham.com; Sahamok.com
Dibawah ini adalah gambaran sampel penelitian berdasarkan persentase jumlah saham yang termasuk dalam saham kapitalisasi pasar besar tiap sektor:
Gambar 4.1. Persentase Saham Kapitalisasi Besar berdasarkan Sektor
Dari keseluruhan populasi, yang terpilih memenuhi persyaratan adalah sebanyak 109 saham yang akan diteliti. Saham tersebut paling banyak berasal dari sektor properti dan real estate, sebanyak 17 perusahaan dengan persentase 16%, sedangkan paling sedikit berasal dari sektor aneka industri, sebanyak 4 perusahaan dengan persentase 4%.
33
Universitas Kristen Petra
Dibawah ini adalah gambaran sampel penelitian berdasarkan nilai rata-rata saham kapitalisasi pasar besar tiap sektor.
Gambar 4.2. Rata-Rata perSektor Saham Kapitalisasi Besar Sumber: Lampiran 1
Dari keseluruhan populasi yang terpilih, nilai rata-rata kapitalisasi pasar terbesar berasal dari sektor aneka industri, dengan nilai rata-rata sebesar 65.056.801.655.803 rupiah, yakni 27,16% dari total. Nilai rata-rata terkecil berasal dari sektor properti dan real estate, dengan nilai rata-rata sebesar 5.937.596.887.114 rupiah, yakni 2,48% dari total. Sektor aneka industri terdiri dari subsektor otomotif dan komponennya, sedangkan sektor properti dan real estate terdiri dari subsektor properti dan real estate dan konstruksi bangunan.
4.2. Hasil Penelitian
Menurut Studenmund (2001), dalam melakukan penelitian, khususnya yang mencoba melihat pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat melalui hubungan linear, banyak peneliti pemula melakukan kesalahan dalam menentukan variabel bebas dengan cara instan, yaitu menggunakan variabel bebas dan variabel terikat dari periode yang sama. Pada kenyataannya tidak semua situasi ekonomi atau situasi bisnis memiliki hubungan instan antara variabel bebas dan variabel terikatnya. Dalam beberapa kasus, ada waktu yang diperlukan untuk variabel
34
Universitas Kristen Petra
bebas mempengaruhi variabel terikat. Jarak dari waktu yang mengindikasi hubungan sebab akibat disebut dengan lag. Karena penelitian ini akan mengindikasi pengaruh beberapa variabel bebas terhadap variabel terikat, maka penting dicermati ukuran jeda yang mungkin ada di tiap variabel bebas dalam mempengaruhi variabel terikat.
4.2.1 Lag
4.2.1.1 Pembentukan Lag secara Grafis a) Respon Return akibat pergerakan Inflasi
Lag ini ditentukan untuk menganalisa jeda waktu yang mungkin terjadi antar variabel bebas terhadap variabel terikat. Penentuan lag dilakukan agar dapat menjelaskan secara jelas hubungan kedua variabel secara linear. Untuk menentukan lag, penelitian ini menggunakan grafik sebagai dasar. Berikut gambar grafik yang menjelaskan hubungan inflasi dan keputusan investasi investor terhadap return saham kapitalisasi besar:
Gambar 4.3. Respon Return Saham Kapitalisasi Besar akibat pergerakan Inflasi
Sesuai dengan gambar 4.3. dapat dilihat perubahan inflasi mengakibatkan perubahan return saham kapitalisasi besar. Apabila inflasi meningkat, maka akan berdampak terhadap penurunan return saham, demikian pula sebaliknya.
35
Universitas Kristen Petra
Peningkatan inflasi pada bulan September 2009 mengakibatkan penurunan return saham kapitalisasi besar pada bulan Oktober 2009. Peningkatan inflasi pada bulan Januari 2010 mengakibatkan penurunan return saham kapitalisasi besar pada bulan Febuari 2010. Peningkatan inflasi pada bulan Juli 2010 mengakibatkan penurunan return saham kapitalisasi besar pada bulan Juni 2010. Peningkatan inflasi pada bulan Desember 2010 mengakibatkan penurunan return saham kapitalisasi besar pada bulan Januari 2011. Jadi dapat disimpulkan bahwa pergerakan inflasi akan direspon oleh investor untuk berinvestasi pada saham kapitalisasi besar 1 bulan berikutnya. Oleh karena itu lag variabel inflasi terhadap return saham kapitalisasi besar adalah 1.
b) Respon Return akibat pergerakan BI rate
Berikut gambar grafik yang menjelaskan hubungan BI rate dan keputusan investasi investor terhadap return saham kapitalisasi besar :
Gambar 4.4. Respon Return Saham Kapitalisasi Besar akibat pergerakan BI rate
Sesuai dengan gambar 4.4 dapat dilihat perubahan BI rate mengakibatkan perubahan return saham kapitalisasi besar. Apabila BI rate menurun, maka akan mengakibatkan peningkatan return saham, demikian pula
36
Universitas Kristen Petra
sebaliknya. Penurunan BI rate bulan Maret 2009 mengakibatkan peningkatan return saham kapitalisasi besar bulan April 2009. Penurunan BI rate bulan November 2011 mengakibatkan peningkatan return saham kapitalisasi besar bulan Desember 2011. Jadi dapat disimpulkan bahwa pergerakan BI rate akan direspon oleh investor untuk berinvestasi pada saham kapitalisasi besar 1 bulan berikutnya. Oleh karena itu lag variabel BI rate terhadap return saham kapitalisasi besar adalah 1.
c) Respon Return akibat pergerakan Jumlah Uang Beredar (M2)
Berikut gambar grafik yang menjelaskan hubungan jumlah uang beredar dan keputusan investasi investor terhadap return saham kapitalisasi besar :
Gambar 4.5. Respon Return Saham Kapitalisasi Besar akibat pergerakan Jumlah Uang Beredar
Sesuai dengan gambar 4.5 dapat dilihat bahwa perubahan jumlah uang beredar mengakibatkan perubahan return saham kapitalisasi besar. Peningkatan jumlah uang beredar akan berdampak terhadap peningkatan return. Peningkatan jumlah uang beredar pada Desember 2009 mengakibatkan peningkatan return saham kapitalisasi besar pada bulan yang sama. Peningkatan jumlah uang beredar
37
Universitas Kristen Petra
pada Desember 2010 mengakibatkan peningkatan return saham kapitalisasi besar pada bulan yang sama. Peningkatan jumlah uang beredar pada Desember 2011 mengakibatkan peningkatan return saham kapitalisasi besar pada bulan yang sama. Jadi dapat disimpulkan bahwa pergerakan jumlah uang beredar akan direspon investor untuk berinvestasi pada saham kapitalisasi besar pada bulan yang sama. Oleh karena itu lag variabel jumlah uang beredar terhadap return saham kapitalisasi besar adalah 0.
d) Respon Return akibat pergerakan Nilai Tukar
Berikut gambar grafik yang menjelaskan hubungan nilai tukar dan keputusan investasi investor terhadap return saham kapitalisasi besar :
Gambar 4.6.
Respon Return Saham Kapitalisasi Besar akibat pergerakan Nilai Tukar
Sesuai gambar 4.6. dapat dilihat perubahan nilai tukar mengakibatkan perubahan return saham kapitalisasi besar. Nilai tukar yang menguat berdampak pada peningkatan return saham, demikian pula sebaliknya. Nilai tukar yang menguat pada Maret 2009 mengakibatkan peningkatan return saham kapitalisasi besar pada bulan April 2009. Nilai tukar yang menguat pada Juni 2009 mengakibatkan peningkatan return saham kapitalisasi besar pada bulan Juli 2009.
38
Universitas Kristen Petra
Nilai tukar yang menguat pada Maret 2010 mengakibatkan peningkatan return saham kapitalisasi besar pada bulan April 2010. Pergerakan nilai tukar akan direspon investor untuk berinvestasi pada saham kapitalisasi besar pada 1 bulan berikutnya. Oleh karena itu lag variabel nilai tukar terhadap return saham kapitalisasi besar adalah 1.
4.2.1.2. Pembuktian Lag secara Statistik
Untuk memastikan jeda waktu yang diperoleh berdasarkan grafik di atas adalah jedah waktu yang paling tepat, maka akan dilakukan pembuktian secara statistik. Berikut merupakan hasil random pola data untuk pembuktian secara statistik:
Tabel 4.3. Lag 1 (INF), 1(BIR), 0(JUB), 1(NT)
Sumber: lampiran 3
Tabel 4.4. Lag 0
Variabel Beta Sig
Konstanta 0,283 0,219
Inflasi -0,036 0,137
BI rate -2,305 0,381
JUB -0.000000075 0,032
Nilai Tukar 0.0000105 0,516
F 0,057
Adj. R. Square 0,113
Sumber: lampiran 4
Variabel Beta Sig
Konstanta 0,109 0,609
Inflasi -0,026 0,286
BI rate -3,162 0,152
JUB -0.000000071 0,036 Nilai Tukar 0.0000334 0,032
F 0,014
Adj. R. Square 0,176
39
Universitas Kristen Petra
Tabel 4.5. Lag 1
Variabel Beta Sig
Konstanta 0,102 0,628
Inflasi -0,024 0,318
BI rate -3,086 0,159
JUB -0.000000072 0,037
Nilai Tukar 0.0000336 0,032
F 0,015
Adj. R. Square 0,176
Sumber: lampiran 4
Tabel 4.6. Lag 2
Variabel Beta Sig
Konstanta 0,081 0,669
Inflasi -0,031 0,191
BI rate -1,403 0,485
JUB -0.00000005 0,134
Nilai Tukar 0.0000335 0,033
F 0,016
Adj. R. Square 0,171
Sumber: lampiran 4
Tabel 4.7. Lag 2 (INF), 0(BIR), 1(JUB), 3(NT)
Variabel Beta Sig
Konstanta -0,009 0,969
Inflasi 0,032 0,174
BI rate -2,101 0,383
JUB -0.000000051 0,156
Nilai Tukar 0.0000308 0,026
F 0,016
Adj. R. Square 0,173
Sumber: lampiran 4
40
Universitas Kristen Petra
Tabel 4.3, 4.4, 4.5, 4.6 dan 4.7 merupakan hasil random pola acak dari lag, berdasarkan hasil tersebut didapatkan signifikansi dan adjusted R square yang berbeda-beda. Hasil yang tepat adalah yang memberikan adjusted R square paling besar dan memberikan variabel bebas yang semakin signifikan dengan variabel terikat. Jeda waktu yang paling tepat ternyata sesuai dengan jeda waktu yang diperoleh berdasarkan grafik. Berdasarkan penjelasan lag di atas, maka didapatkan model persamaan:
R (t) = β0 - β1. INF(t-1) - β2. BIR(t-1) + β3. JUB(t-0) + β4. NT(t-1) + e
4.2.2. Analisa Regresi Berganda
Setelah menentukan jeda yang mungkin terjadi antara variabel bebas dan variabel terikat, maka akan dilakukan analisa regresi berganda dengan model persamaan:
R (t) = β0 - β1. INF(t-1) - β2. BIR(t-1) + β3. JUB(t-0) + β4. NT(t-1) + e Berikut hasil output ketika regresi dijalankan:
Tabel 4.8. Uji Statistik t
Model
Unstandardized Coefficients
Standardized Coefficients
t Sig.
B Std. Error Beta
1 (Constant) .109 .212 ,516 .609
Inflasi BI rate JUB
-.026 -3.162 -0.000000071
.024 2.170 .000
-.151 -.336 -.433
-1.081 -1,457 -2,167
.286 .152 .036
NilaiTukar 0.0000334 .000 -.377 2,211 .032
Dari hasil output pada tabel 4.8, didapatkan model dari persamaan regresi pada return saham kapitalisasi besar sebagai berikut:
R (t) = 0,109 – 0,026. INF(t-1) – 3,162. BIR(t-1) -0,000000071. JUB(t-0) + 0,0000334. NT(t-1) + e
Artinya, koefisien regresi JUB sebesar -0,000000071 menyatakan bahwa kenaikan jumlah uang beredar satu milyar akan menurunkan rasio return saham kapitalisasi besar sebesar 0,000000071 persen. Sedangkan koefisien regresi nilai
41
Universitas Kristen Petra
tukar sebesar 0,0000334 menyatakan bahwa kenaikan nilai tukar satu rupiah akan menaikan rasio return saham kapitalisasi besar sebesar 0,0000334 persen.
Dari empat variabel independen yang dimasukkan dalam model ternyata Ho1, Ho2, Ha3 dan Ha4 yang diterima. Hal ini terlihat dari nilai signifikansinya sebesar 0,036 untuk JUB dan nilai sigifikansi sebesar 0,032 untuk NilaiTukar, yang lebih kecil dari α = 5%, sehingga Ha diterima. Sedangkan inflasi dan BI rate, nilai signifikansinya lebih besar dari α = 5%, sehingga Ho1, danHo2 diterima. Jadi dapat disimpulkan bahwa jumlah uang beredar dan nilai tukar berpengaruh signifikan terhadap return saham kapitalisasi besar sedangkan inflasi dan BI rate tidak berpengaruh signifikan terhadap return saham kapitalisasi besar. Hal ini disebabkan karena dalam penelitian ini sebagian dari saham kapitalisasi besar ada kalanya tidak diperdagangkan sama sekali dalam 1 bulan selama periode penelitian. Selain itu model persamaan simultan diduga lebih dapat menjelaskan hubungan antara variabel makro ekonomi yang digunakan terhadap return saham daripada model persamaan regresi.
Berikut adalah hasil uji Anova untuk melihat pengaruh serempak variabel bebas terhadap return saham kapitalisasi besar.
Tabel 4.9. Uji Signifikansi Simultan (Uji Statistik F) ANOVAa
Model
Sum of
Squares df
Mean
Square F Sig.
1 Regression ,056 4 ,014 3,512 ,014(a)
Residual ,172 43 ,004
Total ,228 47
a Predictors: (Constant), NilaiTukar, Inflasi, JUB, BI rate b Dependent Variable: return_kapbesar
Berdasar tabel uji ANOVA diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,014.
Nilai signifikansi lebih kecil dari α = 5%, maka Ha diterima. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa inflasi, BI rate, jumlah uang beredar dan nilai tukar secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap return saham kapitalisasi besar.
42
Universitas Kristen Petra
Berikut adalah hasil koefisien determinasi untuk melihat seberapa kuat pengaruh variabel bebas menjelaskan variabel terikat.
Tabel 4.10. Koefisien Determinasi
Model R R Square Adjusted R Square
1 .496a .246 .176
a. Predictors: (Constant), Nilai_Tukar, Inflasi, JUB, BI rate
Dari tabel 4.10. terlihat bahwa nilai koefisien determinasi sebesar 0,176 berarti sebanyak 17,6% variasi atau perubahan dalam return saham kapitalisasi besar bisa dijelaskan oleh variasi atau perubahan inflasi, BI rate, jumlah uang beredar dan nilai tukar sedangkan 82,4% disebabkan oleh hal-hal yang lain di luar model. Hal ini berarti return saham kapitalisasi besar memiliki hubungan yang lemah dengan inflasi, BI rate, jumlah uang beredar dan nilai tukar.
Dari tabel di atas terlihat bahwa hanya dua variabel bebas yang signifikan, sedangkan secara uji serempak menunjukan pengaruh yang berarti.
Oleh karena itu, untuk memastikan bahwa model ini dapat digunakan untuk menduga pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat, maka perlu dilakukan uji Asumsi Klasik sebagai syarat penggunaan regresi berganda dalam pendugaan.
4.2.3. Uji Asumsi Klasik
Persamaan regresi linear berganda harus memenuhi persyaratan Best Linear Unbias Estimator (BLUE), yaitu pengaruh keputusan menguji uji F dan uji t tidak boleh bias. Untuk mendapatkan hasil yang BLUE, maka harus dilakukan uji asumsi klasik. Berikut uji asumsi klasik yang akan dilakukan:
a) Uji Normalitas
Dari hasil uji asumsi normalitas, dapat dilihat bahwa tampilan grafik PP Plots sudah lolos dalam uji asumsi normalitas ini. Nilai PP Plots terletak di sekitar garis diagonal.
43
Universitas Kristen Petra
1.0 0.8 0.6 0.4 0.2 0.0
Observed Cum Prob
1.0
0.8
0.6
0.4
0.2
0.0
Expected Cum Prob
Dependent Variable: residual
Normal P-P Plot of Regression Standardized Residual
Gambar 4.7. PP Plots
Analisa grafik sudah menunjukkan bahwa nilai PP Plots memenuhi asumsi normalitas. Histogram juga dapat digunakan untuk melihat data sudah terdistribusi normal atau belum. Berikut gambar Histogram:
3 2 1 0 -1 -2 -3
Regression Standardized Residual 12
10
8
6
4
2
0
Frequency
Mean = 8.72E-16 Std. Dev. = 0.957 N = 48
Dependent Variable: ReturnKapBesar Histogram
Gambar 4.8. Histogram
Dengan menggunakan histogram terlihat bahwa tampilan histogram sesuai dengan standar sehingga dapat disimpulkan grafik histogram memberikan pola distribusi yang normal. Untuk pembuktian berikutnya dapat
44
Universitas Kristen Petra
kita lihat dengan analisa statistik yaitu menggunakan uji Kolmogorov- Smirnov. Berikut hasil uji Kolmogorov-Smirnov:
Tabel 4.11. Uji Kolmogorov-Smirnov One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
residual
N 48
Normal
Parameters(a,b)
Mean ,0000
Std. Deviation ,06046
Most Extreme Differences
Absolute ,123
Positive ,123
Negative -,070
Kolmogorov-Smirnov Z ,852
Asymp. Sig. (2-tailed) ,463
Dapat dilihat melalui analisa statistik, data ini memenuhi uji asumsi normalitas. Dengan menggunakan nilai α = 5%, nilai asymp Sig (2- tailed) adalah sebesar 0,463, sehingga p > α, maka Ho ditolak. Jadi dapat disimpulkan hasil data mengikuti distribusi normal.
b) Uji Multikolinieritas
Berdasarkan pada nilai tolerance dan VIF. Nilai tolerance tidak ada yang nilainya kurang dari 0.10, begitu juga dengan nilai VIF tidak ada yang di atas 10 maka Ho ditolak, yang berarti tidak terjadi multikolinieritas. Gujarati (2004) juga menambahkan cara lain yaitu dengan melihat R2, bila R2 besar tetapi hanya sedikit ratio uji t yang signifikan maka dipastikan ada gejala multikolinearitas. Jadi sudah terbukti bahwa tidak terdapat multikolinieritas.
45
Universitas Kristen Petra
Tabel 4.12. Nilai tolerance dan VIF
Model
Collinearity Statistics Tolerance VIF
(Constant)
Inflasi .899 1.113
BI rate JUB NilaiTukar
.329 .439 .603
3.036 2.274 1.659 a. Dependent Variable: return_kapbesar
Sumber: Lampiran 3
c) Uji Autokorelasi
Untuk mendeteksi gejala autokorelasi, digunakan uji Durbin Watson (DW). Menurut Gujarati (2004), kriteria penerimaan uji Durbin Watson adalah sebagai berikut :
0 < d < dL = ada kolerasi negatif
dL ≤ d ≤ dU = tidak dapat ditarik kesimpulan 4 - dL < d < 4 = ada korelasi positif
4- dU ≤ d ≤ 4 - dL = tidak dapat ditarik kesimpulan dU ≤ d ≤ 4 – dU = tidak ada korelasi positif atau negatif
Tabel 4.13. Uji Durbin Watson Model Summary(b)
Mode
l R R Square
Adjusted R Square
Std. Error of the Estimate
Durbin- Watson
1 ,000(a) ,000 -,093 ,06321 1,617
a Dependent Variable: residual
Dapat dilihat nilai DW adalah sebesar 1,617 sehingga nilai ini berada diantara dL dan dU, maka tidak dapat ditarik kesimpulan ada tidaknya autokorelasi
46
Universitas Kristen Petra
dalam model ini. Dalam hal ini maka perlu dilakukan uji lainnya untuk memastikan ada tidaknya autokorelasi (Supranto, 1984). Oleh karena itu dilakukan uji Uji Statitsik Q, berikut hasil Uji Statitsik Q:
Tabel 4.14. Uji Statistik Q
Lag AC PAC Q-Stat Prob
1 0.175 0.175 1.5716 0.210
2 -0.093 -0.128 2.0211 0.364
3 -0.054 -0.014 2.1768 0.537
4 -0.388 -0.406 10.405 0.034
5 -0.141 0.000 11.520 0.062
6 -0.001 -0.095 11.520 0.074
7 0.074 0.085 11.838 0.106
8 0.188 -0.002 13.958 0.083
9 0.088 0.029 14.435 0.108
10 -0.098 -0.155 15.044 0.130 11 -0.117 -0.028 15.932 0.144 12 -0.135 -0.093 17.141 0.144 13 -0.223 -0.195 20.539 0.083 14 -0.046 -0.108 20.691 0.110
15 0.228 0.152 24.480 0.057
16 0.323 0.224 32.289 0.009
Hasil statistik Q jelas bahwa enam belas lag (16) ternyata hanya 2 yang signifikan, yaitu pada lag 4 dengan signifikansi 0,034 dan lag 16 dengan signifikansi 0,009. Kriteria ada tidaknya autokorelasi adalah jika jumlah lag yang signifikan lebih dari dua, maka dikatakan terjadi autokorelasi. Jika lag yang signifikan dua atau kurang dari dua, maka dikatakan tidak ada autokorelasi (Ghozali, 2001). Jadi dapat disimpulkan dalam model ini tidak terjadi autokorelasi. Untuk lebih memastikan ada tidaknya autokorelasi maka dilakukan uji Breusch Godfrey LM (BLGM).
Hasil dari uji Breusch Godfrey LM (BLGM) adalah sebagai berikut:
Tabel 4.15. Uji Breusch Godfrey LM (BLGM) Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test:
F-statistic 0.670376 Prob. F(3,40) 0.5752 Obs*R-squared 2.297822 Prob. Chi-Square(3) 0.5129
Sumber: Lampiran 3
47
Universitas Kristen Petra
Dari tabel 4.15. Terlihat dari probability/p-value > 0,05, sebesar 0,5129 maka menunjukan tidak adanya autokorelasi. Hal ini sesuai dengan uji Statitsik Q yang membuktikan dalam model ini tidak terjadi autokorelasi.
d) Uji Heteroskedastisitas
3 2
1 0 -1 -2 -3
Regression Studentized Residual 3
2
1
0
-1
-2
Regression Standardized Predicted Value
Dependent Variable: ReturnKapBesar Scatterplot
Gambar 4.9. Scatterplot
Terlihat pada tampilan grafik scatterplot bahwa titik-titik menyebar secara acak baik di atas maupun di bawah angka 0 pada sumbu Y. Hal ini dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi heteroskedastisitas pada model regresi. Untuk membuktikan secara statistik, maka digunakan uji gletjser dengan hasil sebagai berikut:
Tabel 4.16. Uji Gletjser
Model
Unstandardized Coefficients
Standardized Coefficients
t Sig.
B Std. Error Beta
1 (Constant) -.030 .130 -,232 .818
Inflasi BI rate JUB
.021 1,015 -0.0000000095
.015 1.334 .000
.223 .190 -.102
1,473 .762 -.472
.148 .451 .639
NilaiTukar 0.00000259 .000 .052 .279 .782
a. Dependent Variable: absResi
48
Universitas Kristen Petra
Dapat dilihat dari tabel 4.16. bahwa variabel independen tidak signifikan pada 0,05 sehingga Ho ditolak, yang berarti tidak terdapat heteroskedastisitas.
Dari uji asumsi klasik yang telah dilakukan, dapat dilihat bahwa variabel bebas dalam model regresi linear berganda sudah dapat digunakan untuk menduga variabel terikatnya. Karena model regresi berganda ini bebas dari pelanggaran asumsi klasik, sehingga model akhir yang digunakan sama dengan model regresi awal (tabel 4.3).
Berdasaran tabel 4.3. (tabel uji t) dapat disimpulkan dari empat variabel independen yang dimasukkan dalam model ternyata ada dua Ho yang diterima dan dua Ha yang diterima. Hal ini terlihat dari nilai signifikansinya sebesar 0,036 untuk JUB dan nilai sigifikansi sebesar 0,032 untuk Nilai Tukar, yang lebih kecil dari α = 5%, sehingga Ha
diterima. Sedangkan inflasi dan BIR, nilai signifikansinya lebih besar dari α = 5%, sehingga Ho diterima. Jadi dapat disimpulkan bahwa jumlah uang beredar dan nilai tukar berpengaruh signifikan terhadap return saham kapitalisasi besar sedangkan inflasi dan BI rate tidak berpengaruh signifikan terhadap return saham kapitalisasi besar.
Berdasarkan tabel 4.4. (tabel Uji Signifikansi Simultan) diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,014. Nilai signifikansi lebih kecil dari α = 5%, maka Ha diterima. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa inflasi, BI rate, jumlah uang beredar dan nilai tukar secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap return saham kapitalisasi besar.
4.3. Pembahasan Hasil
Analisa terhadap variabel bahwa inflasi, BI rate, jumlah uang beredar, dan nilai tukar memberikan kesimpulan yang mendukung bahwa makro ekonomi berpengaruh terhadap return saham, terutama pada saham kapitalisasi besar.
Pengujian statistik membuktikan bahwa inflasi, BI rate, jumlah uang beredar, dan nilai tukar secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap return saham kapitalisasi besar. Hal ini disebabkan karena pergerakan saham sebagian besar dipengaruhi berbagai faktor, diantaranya keadaan ekonomi makro, kinerja
49
Universitas Kristen Petra
perusahaan, aksi korporasi hingga rumor yang beredar di pasar (Kontan, 2013).
Kondisi makro ekonomi seperti inflasi, BI rate, jumlah uang beredar dan nilai tukar menjadi bahan pertimbangan bagi investor ketika berinvestasi dalam pasar modal. Dengan kata lain, investor dapat memperhatikan analisa fundamental dalam berinvestasi. Analisa fundamental merupakan salah satu analisa yang paling penting untuk dilakukan sebelum memutuskan untuk membeli saham.
Analisis fundamental merupakan salah satu cara melakukan penilaian saham dengan mepelajari atau mengamati berbagai indikator terkait kondisi makro ekonomi dan kondisi industri suatu perusahaan, termasuk berbagai indikator keuangan dan manajemen perusahaan di masa mendatang (Darmadji &
Fakhruddin, 2006). Dengan melakukan analisis fundamental, para investor dapat memperkirakan harga saham di masa yang akan datang.
Secara parsial dalam uji statistik jumlah uang beredar dan nilai tukar berpengaruh signifikan terhadap return saham kapitalisasi besar. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Nugroho (2008) yang menyatakan jumlah uang beredar mempengaruhi indeks LQ45. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah uang beredar di Indonesia sangat mempengaruhi kinerja pasar saham terutama pada saham kapitalisasi besar pada periode tahun 2009 – 2012. Jumlah uang beredar meningkat terjadi seiring dengan peningkatan konsumsi masyarakat. Data menunjukan rata-rata konsumsi perbulan perkapita untuk selain makanan pada tahun 2011 meningkat 38% dari tahun 2009. Peningkatan paling besar adalah untuk barang tahan lama, seperti kendaraan maupun barang elektronik, sebesar 76,46% (BPS, 2012). Data ini berhubungan dengan diagram batang pada gambar 4.2. yang menjelaskan rata-rata kapitalisasi pasar terbesar ternyata berasal dari sektor aneka industri, tepatnya subsektor otomotif dan komponennya. Untuk menjelaskan fenomena ini maka berikut informasi yang menunjukan besaran konsumsi yang mendongkrak peredaraan uang beredar lewat data penjualan Kendaraan di Indonesia.
50
Universitas Kristen Petra
Berikut merupakan data penjualan kendaraan tahun 2009-2011:
Tabel 4.12. Data Penjualan Kendaraan
2009 (unit) 2010 (unit) 2011 (unit) Peningkatan tahun 2009-2011 (%) Roda empat 487.294 764.710 894.164 83,5%
Roda dua 5.851.962 7.369.255 8.043.535 37,47%
Sumber: kemenperin.go.id
Dari data tersebut terlihat bahwa, makro ekonomi yang stabil lewat peningkatan rata-rata GDP per tahun sebesar 5,9% (Koran Jakarta, 2013) banyak dialokasikan ke sektor otomotif. Hal ini pula yang membuat hasil regresi menunjukkan hubungan negatif antara jumlah uang beredar dan return saham, padahal secara teori seharusnya jumlah uang beredar dan return saham memiliki hubungan positif. Pada kenyataannya peningkatan uang beredar tidak dibelanjakan di pasar modal. Kecendrungan perilaku masyarakat Indonesia adalah membeli kendaraan baru jika memiliki dana lebih dan bukan berinvestasi di pasar saham. Berdasarkan hasil survei Nielsen, hanya 30% konsumen yang disurvei mengindikasikan bahwa mereka akan menginvestasikan dana cadangannya dalam bentuk saham atau reksa dana (Koran Sindo, 2013).
Nilai tukar juga berpengaruh signifikan terhadap return saham kapitalisasi besar. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Menike (2006), yang menemukan nilai tukar berpengaruh terhadap harga saham di Colombo Stock Exchange. Nugroho (2008) juga menemukan kurs mempengaruhi indeks LQ45. Kewal (2012) juga menemukan kurs berpengaruh terhadap IHSG.
Berdasarkan data yang ada, dominasi investor asing di Bursa Efek Indonesia pada akhir tahun 2012 mencapai 59,12% dari total saham yang diperdagangkan dalam negeri. Sementara kepemilikan investor domestik hanya sebesar 40,85%
(Investor, 2013). Hal ini tentu saja membuat nilai tukar berpengaruh terhadap return saham. Pada penelitian ini terbukti bahwa variabel nilai tukar mempengaruhi return saham kapitalisasi besar, karena mempunyai tingkat signifikansi sebesar 0.032, sehingga lebih kecil dari 5 persen. Oleh karena itu hipotesa variabel nilai tukar berpengaruh signifikan terhadap return saham kapitalisasi besar diterima.
51
Universitas Kristen Petra
Inflasi tidak berpengaruh signifikan terhadap return saham kapitalisasi besar. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Nugroho (2008) dan Kewal (2012) yang menyatakan bahwa inflasi tidak berpengaruh signifikan terhadap indeks LQ45 maupun IHSG. Namun, hasil penelitian yang diperoleh berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Li (2002) yang menemukan bahwa inflasi berpengaruh terhadap return saham. Adam & Tweneboah (2008) juga menemukan bahwa tingkat inflasi berpengaruh signifikan terhadap harga saham. Bedasarkan data, rata-rata tingkat inflasi selama 2009-2012 sebesar 4,45%
(Kemendag, 2013), menunjukan bahwa inflasi selalu menjadi target pemerintah agar mampu menjamin kestabilan perekonomian. Pemerintah dan Bank Indonesia mencapai sasaran inflasi yang ditetapkan tersebut melalui koordinasi kebijakan yang konsisten dengan sasaran inflasi tersebut. Salah satu upaya pengendalian inflasi menuju inflasi yang rendah dan stabil adalah dengan membentuk dan mengarahkan ekspektasi inflasi masyarakat agar mengacu pada sasaran inflasi yang telah ditetapkan (Bank Indonesia, 2012).
Pasar masih bisa menerima jika tingkat inflasi di bawah 10 persen.
Namun, bila inflasi menembus angka 10 persen, maka pasar modal bisa saja terganggu. Bila inflasi menembus angka 10 persen maka pemerintah dapat melakukan kebijakan yang berhubungan dengan suku bunga, yaitu meningkatkan suku bunga, sehingga menyebabkan minat investor terhadap pasar modal berkurang (Kewal, 2012). Berdasarkan teori, pengaruh inflasi terhadap return saham adalah negatif. Artinya semakin tinggi laju inflasi akan membuat kinerja saham akan memburuk. Pada penelitian ini terbukti bahwa variabel inflasi tidak signifikan terhadap return saham kapitalisasi besar, karena mempunyai tingkat signifikansi sebesar 0.286, sehingga lebih besar dari 5 persen. Oleh karena itu hipotesa variabel inflasi berpengaruh signifikan terhadap return saham kapitalisasi besar di tolak.
BI rate juga tidak berpengaruh signifikan terhadap return saham kapitalisasi besar. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Kewal (2012) yang menyatakan bahwa suku bunga sertifikat bank Indonesia tidak berpengaruh terhadap IHSG. Namun, hasil penelitian yang diperoleh berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan Li (2002), yang menyatakan tingkat bunga
52
Universitas Kristen Petra
real cenderung meningkatkan pergerakan return saham. Hasil yang berbeda juga dikemukakan oleh Adam & Tweneboah (2008), yang menenmukan bahwa suku bunga berpengaruh signifikan terhadap harga saham. Nugroho (2008), dalam penelitiannya juga menemukan suku bunga deposito mempengaruhi indeks LQ45.
BI rate tidak berpengaruh signifikan terhadap return saham dapat disebabkan oleh pergerakan BI rate memiliki kemiripan dengan inflasi yakni cukup stabil, sehingga tidak terlalu mempengaruhi perilaku investasi. Berdasarkan teori, pengaruh suku bunga terhadap return saham adalah negatif, artinya semakin rendah suku bunga maka tingkat investasi di pasar saham akan semakin meningkat. Pada penelitian ini terbukti bahwa variabel BI rate mempengaruhi secara negatif return saham kapitalisasi besar namun tidak signifikan karena mempunyai tingkat signifikansi sebesar 0.152, sehingga lebih besar dari 5 persen.
Oleh karena itu hipotesa variabel BI rate berpengaruh signifikan terhadap return saham kapitalisasi besar di tolak.