• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

LANDASAN TEORI

2.1 Definisi

Marketing

2.1.1 Barang Konsumsi

Barang konsumsi (consumer goods) adalah produk yang ditujukan untuk

pengguna akhir. Dasar klasifikasi barang konsumsi yang biasa digunakan adalah

kebiasaan pembelian konsumen (consumer buying habit), yaitu:

1. Kebutuhan sehari-hari (Convenience goods), produk yang sering dibeli,

dibutuhkan dalam waktu singkat (segera), dan dapat diperoleh dengan usaha yang

minimum. Beberapa jenis barang ini sering dibeli tanpa perencanaan terlebih

dahulu (impulse goods). Contohnya adalah makanan, majalah, pasta gigi, daln

lain-lain.

2. Shopping goods, barang yang biasanya dibeli hanya setelah konsumen membuat

perbandingan dengan produk pesaingnya, baik harga, kualitas, model, ataupun

warna dari beberapa lokasi penjualan. Contohnya adalah pakaian, sepatu, dan

furnitur.

3. Specialty goods, yaitu barang yang memiliki karakteristik tertentu sehingga

pembeli mau membayar lebih untuk merek tertentu dan bersedia untuk melakukan

usaha khusus untuk memperolehnya. Sebagai contohnya yaitu kamera dan

kendaraan bermotor. (Beckman, Kurtz, Boone, 1986, p.187-189)

(2)

2.1.2 Promosi

2.1.2.1 Bauran Promosi

Bauran promosi (promotion mix) melibatkan kombinasi berbagai variabel

untuk memenuhi kebutuhan sasaran pasar perusahaan dan mencapai tujuan

organisasi. Bauran promosi merupakan bagian dari bauran pemasaran (marketing

mix).

Komponen dari bauran promosi terdiri dari penjualan pribadi (personal

selling) dan penjualan non-personal (nonpersonal selling) yang meliputi.periklanan,

promosi penjualan, dan hubungan masyarakat.

Faktor-faktor yang mempengaruhi bauran promosi adalah karakteristik pasar,

karakteristik produk, posisi pada siklus hidup produk, harga dan dana yang tersedia

untuk promosi. (Beckman, Kurtz, Boone, 1986, p.395)

2.1.2.2 Penjualan Personal

Penjualan personal (personal selling) didefinisikan sebagai presentasi promosi

yang dilakukan oleh seorang penjual secara temu-langsung kepada pembeli.

Penjualan pribadi memiliki biaya per kontak (cost per contact) yang relatif

lebih tinggi daripada bentuk promosi lainnya. Namun metode ini memungkinkan

penyampaian informasi dengan lebih fleksibel sesuai dengan kebutuhan konsumen

dan dapat memperoleh tanggapan dengan segera termasuk untuk mendorong

(3)

Keunggulan lain dari penjualan personal adalah dalam hal bentuk komunikasi

yang berlangsung dua arah sehingga calon pembeli dapat berinteraksi langsung

dengan wiraniaga untuk memperoleh informasi langsung tentang barang/jasa yang

ditawarkan. (McDonald dan Keegan, 1997, p.105)

2.1.2.3 Tujuan Promosi

Beberapa tujuan perusahaan melakukan kegiatan promosi adalah memberi

informasi tentang suatu produk, meningkatkan permintaan pasar, melakukan

diferensiasi produk, menunjukkan nilai lebih suatu produk, dan menstabilkan

penjualan. (Beckman, Kurtz, Boone, 1986, p.400)

2.1.2.4 Strategi Promosi

Pada dasarnya terdapat dua kebijakan promosi yang dapat ditempuh, yaitu

strategi menarik (pull strategy) dan strategi mendorong (push strategy). Strategi

menarik adalah usaha pemasaran oleh penjual untuk mendorong permintaan dari

pengguna akhir (final-user demand). Strategi ini digunakan bila sudah tercipta

kesetiaan pada merek yang tinggi, pembeli melihat perbedaan antarmerek yang jelas,

dan konsumen memutuskan untuk memilih merek sebelum datang ke outlet.

Sebaliknya, strategi mendorong adalah promosi produk yang lebih diarahkan kepada

saluran pemasaran untuk mendorong mereka memasarkan produk ke pengguna akhir.

(4)

pemilihan merek terjadi saat pembeli di outlet, pembelian produk sering dilakukan

secara impulsif dan manfaat produk telah diketahui oleh konsumen dengan baik.

(Kotler, 2003, p.511) Biasanya perusahaan akan menggunakan campuran antara

kedua strategi di atas untuk mempromosikan produknya.

2.1.3 Perilaku Konsumen

Bidang ilmu Perilaku Konsumen mempelajari bagaimana inividual,

kelompok, dan organisasi memilih, membeli, menggunakan, dan membuang barang,

jasa, ide, atau pengalaman untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan mereka.

2.2 Konsep

Marketing

2.2.1 Proses Pembuatan Keputusan Pembelian

2.2.1.1 Peran dalam Pembelian

Menurut Kotler (Kotler, 2003, p.200), di dalam pasar barang/jasa konsumsi

terdapat lima peran yang dapat dimainkan oleh seseorang dalam membuat keputusan

pembelian, yaitu:

1. Initiator, orang yang pertama kali menyarankan ide untuk membeli produk atau

jasa.

(5)

3. Decider, orang yang memutuskan komponen keputusan untuk membeli (apakah

akan benar-benar membeli, apa yang dibeli, bagaimana membelinya, atau di mana

membelinya).

4. Buyer, orang yang melakukan pembelian sebenarnya.

5. User, orang yang menggunakan atau mengkonsumsi produk atau jasa yang dibeli.

Tidak jarang seseorang dapat menempati lebih dari satu peran dalam proses

pembelian produk atau jasa.

2.2.1.2 Model Tahapan Proses Pembelian

Prilaku konsumen dapat dilihat sebagai sebuah proses membuat keputusan di

mana tindakan untuk melakukan pembelian hanya merupakan salah satu bagian dari

proses tersebut (Beckman, Kurtz, Boone, 1986, p.164). Tahapan-tahapan yang

terdapat pada proses pembuatan keputusan konsumen seperti tampak pada Gambar

2.1 meliputi:

1. Pengenalan masalah atau peluang

2. Pencarian solusi

3. Evaluasi alternatif solusi yang tersedia

4. Keputusan pembelian

5. Tindakan pembelian

(6)

Gambar 2.1 Langkah-Langkah dalam Proses Pembuatan Keputusan Konsumen Tampak pula dalam gambar 2.1 bahwa seorang pelanggan akan memperoleh

pengaruh dalam mengenali permasalahan dari luar dirinya melalui hubungannya

dengan orang lain (interpersonal influences). Namun pada akhirnya dirinya sendiri

yang akan melalui tahapan-tahapan selanjutnya.

Dalam model tersebut terkesan bahwa seorang konsumen akan melalui

tahapan-tahapan tersebut secara berurutan, tetapi sebenarnya mereka dapat tidak

melalui satu tahapan atau membalik urutannya. Sebagai contoh, seseorang yang telah

terbiasa menggunakan merek pasta gigi tertentu akan langsung melompat dari

tahapan pengenalan kebutuhan akan pasta gigi baru (sebagai pengganti pasta gigi

yang telah habis dipakai di rumah) langsung ke tahapan keputusan pembelian.

(7)

2.2.2 Komunikasi Marketing

2.2.2.1 Proses Komunikasi

Elemen dasar dari komunikasi yang efektif digambarkan dengan model yang

terdiri dari 9 elemen pada Gambar 2.2.

Gambar 2.2 Model Proses Komunikasi

Pengirim (sender) pesan harus mengetahui sasaran penerima (receiver) yang

ingin diraih dan tanggapan yang ingin diperoleh. Mereka juga harus mengemas

(encode) pesan mereka sehingga sasaran penerimanya dapat mengerti pesan yang

disampaikan (decode). Mereka harus mengirim pesan melalui media yang dapat

mencapai sasaran penerima dan mengembangkan saluran umpan balik (feedback)

untuk memantau tanggapan (response) penerima. Pengirim juga harus dapat

mengatasi berbagai pesan lain (noise) yang dapat mengganggu proses komunikasi

yang diinginkan. (Kotler, 2003, p.565)

Fiske dan Hartley (Kotler, 2003, p.566) mengungkapkan beberapa faktor

(8)

1. Semakin besar pengaruh sumber komunikasi terhadap penerima pesan, semakin

besar perubahan atau efek pada pihak penerima sesuai dengan keinginan sumber

komunikasi.

2. Efek terbesar komunikasi terjadi bila pesan sejalan dengan pendapat,

kepercayaan, dan karakter penerima pesan.

3. Komunikasi akan lebih efektif jika sumbernya dipercaya memiliki keahlian, status

yang tinggi, objektifitas, atau disukai oleh penerima, tetapi lebih kuat lagi jika

sumber memiliki kekuatan tertentu.

4. Konteks sosial, kelompok atau kelompok acuan akan menjembatani komunikasi

dan pengaruh.

2.2.2.2 Anggaran Promosi

Sebuah model sederhana dari John C. Narver dan Ronald Savitt

memperlihatkan produktifitas biaya promosi ditunjukkan pada Gambar 2.3. Pada

awalnya, pengeluaran untuk promosi biasanya akan meningkatkan penerimaan dari

penjualan. Tampaknya semakin besar pengeluaran untuk promosi akan menghasilkan

penjualan yang lebih besar pula. Hubungan ini merupakan hasil dari beberapa faktor

seperti efek kumulatif dari promosi dan pembelian ulang (repeat sales). Namun pada

suatu ketika, tidak lagi terjadi peningkatan penjualan yang sebanding atau bahkan

terjadi penurunan jumlah penjualan saat pengeluaran untuk promosi ditingkatkan

(area of diminishing returns). Seiring dengan kompetisi yang semakin ketat, kondisi

(9)

gangguan (noise) pada saluran komunikasi. (Beckman, Kurtz, Boone, 1986,

p.403-404)

Gambar 2.3 Kurva Promosi-Penjualan

Salah satu metode yang umum digunakan untuk menyusun anggaran

pemasaran adalah metode persentase-penjualan (percentage-of-sales method).

Melalui metode ini, perusahaan menetapkan pengeluaran promosi suatu persentase

tertentu dari penjualan (saat ini atau perkiraannya) atau persentase dari harga

penjualan. Keunggulan dari metode ini adalah pengeluaran sangat terkait dengan

pergerakan penjualan perusahaan dalam siklus bisnis. Cara ini juga mendorong

manajemen untuk mempertimbangkan hubungan antara biaya promosi, harga

penjualan dan keuntungan per unit. Kelebihan lainnya adalah metode ini mendorong

stabilitas saat pesaing juga mengeluarkan persentase penjualan yang kira-kira sama

dengan perusahaan untuk promosi mereka.

Terlepas dari berbagai kelebihan dari metode tersebut, metode ini lebih

(10)

Pandangan ini mendorong perusahaan untuk menetapkan anggaran berdasarkan

kemampuan dana untuk promosi daripada peluang pasar. Hal ini tidak mendorong

eksperimen dengan promosi yang melawan siklus atau pengeluaran yang agresif.

Selain itu, ketergantungan pada fluktuasi penjualan tahunan mengganggu

perencanaan jangka panjang. Tidak ada dasar logis untuk menentukan besarnya

persentase selain berdasarkan apa yang telah dilakukan sebelumnya atau dengan cara

membandingkannya dengan pesaing. Terutama sekali, metode ini tidak mendorong

penetapan anggaran promosi dengan menentukan pontensi produk dan daerah yang

sebenarnya. (Kotler, 2003, p.577)

Metode yang lebih disarankan untuk menetapkan anggaran promosi adalah

metode tujuan-dan-tugas (objective-and-task method). Metode ini diawali dengan menentukan tujuan spesifik, menentukan tugas-tugas yang perlu dilakukan untuk

mencapai tujuan yang telah ditentukan, dan memperkirakan biaya untuk

melaksanakan tugas tersebut. (Kotler, 2003, p.578)

Tujuan yang dibuat harus dapat dinyatakan secara kuantitatif, dan selanjutnya

menjadi bagian integral dari rencana promosi. Produktifitas dari tiap kegiatan harus

dapat diukur secara finansial sebagai bagian dari anggaran promosi. (Beckman,

(11)

2.2.3 Menjual ke Pasar Anak-Anak

2.2.3.1 Klasifikasi Pasar Anak-Anak

McNeal mengklasifikasikan pasar anak-anak menjadi 3 kategori, yaitu

primary market, influence market, dan future market. Disebut primary market, jika

seluruh elemen pembelian murni dilakukan oleh si anak sendiri. Uang, kebutuhan,

keinginan, serta kewenangan untuk membeli produk adalah dari anak yang

bersangkutan. Sedangkan influence market terjadi jika pembelian secara langsung

atau tidak langsung dipengaruhi oleh si anak, dan future market terbentuk ketika si

anak beranjak dewasa.

Situasi di mana seorang ibu tergerak untuk membeli suatu produk karena

dipengaruhi oleh keinginan untuk menyenangkan anaknya disebut dengan influence

market. Pengaruh anak dapat bersifat langsung maupun tak langsung. Pengaruh

bersifat langsung bila inisiatif datang dari si anak dengan cara meminta, memilih atau

menyarankan. Sebaliknya, pengaruh yang bersifat tak langsung terjadi bila preferensi

si anak secara tak langsung ikut mempengaruhi proses pembelian. Pembeli berasumsi

bahwa produk yang dibelinya sesuai dengan selera anak dan dapat memenuhi

kebutuhan dan keinginannya.

Di sebagian besar negara di belahan Timur, primary market tergolong kecil

karena kultur pendidikan yang mengutamakan kepatuhan kepada orang tua. Berbeda

dengan pola pendidikan di Barat yang lebih demokratis dan kadang-kadang bercorak

laissez-faire hingga memungkinkan si anak untuk melakukan sendiri seluruh proses

(12)

Pendekatan terhadap influence market dilakukan dengan komunikasi

pemasaran yang ditujukan kepada anak sebagai konsumen, kepada orang tua atau

kepada keduanya.

Future market tercipta seiring dengan pertumbuhan anak menjadi dewasa.

Masa kanak-kanak sangat penting karena pada saat ini diletakkan dasar-dasar

pengembangan kemampuan kognitif. Perkenalan dengan suatu merek akan tersimpan

dalam memori dan akan mempengaruhi persepsinya sampai ia menginjak dewasa.

(Susanto, 1997, p.115-117)

2.2.3.2 Unit Pengambil Keputusan

Keputusan untuk membeli produk konsumsi yang dipakai oleh seluruh

keluarga biasanya melibatkan seluruh anggota keluarga. Walaupun tidak seformal

pada proses pembelian produk industrial, terdapat semacam unit pengambil

keputusan yang terdiri dari user, buyer, decider, influencer dan gate-keeper.

User adalah pengguna yang belum tentu sama dengan pembeli (buyer) atau

pengambil keputusan (decider). Influencer adalah anggota keluarga yang biasanya

dianggap tahu secara teknis tentang suatu kategori produk dan sarannya hampir selalu

didengar oleh anggota keluarga lainnya. Sedangkan Gate-keeper adalah seseorang

dalam keluarga yang lebih dulu menyaring semua rencana pembelian. (Kartajaya,

1996, p.504)

Anak-anak dapat mengambil peran di seluruh unit pengambilan keputusan

(13)

pembeli dan pemberi pengaruh semakin meningkat dan bertambah powerful dalam

suatu pasar tertentu. Oleh karena itu, para pemasar produk konsumsi mulai gencar

melakukan kids marketing yang meletakkan anak sebagai pusat kegiatan pemasaran,

walaupun mungkin saja produknya ditujukan bagi seluruh anggota keluarga.

(Kartajaya, 1996, p.504-505)

Kartajaya berpendapat bahwa pemberian gimmick dalam kids marketing sulit

untuk berdampak jangka panjang, walaupun sering mengingkatkan penjualan secara

langsung. Sebaiknya, selain menawarkan gimmick yang serasi dengan identitas merek

yang dimaksud, produsen harus terus berkonsentrasi mengembangkan produk baru

yang dapat menempatkan peran anak sebagai user, decider dan buyer – bukan hanya

sebagai influencer atau gate-keeper. (Kartajaya, 1996, p.506-507)

Menurut Dan S. Acuff dalam What Kids Buy and Why, dalam memilih suatu

produk anak-anak mencari keseluruhan gestalt, segala yang mereka dengar dan lihat

tentang produk tersebut, sedangkan apa yang ada di dalam kemasan hanya merupakan

satu bagian produk yang menarik bagi mereka. Oleh karena itu, biasanya yang paling

menarik bagi anak-anak, paling tidak untuk pertama kalinya, adalah benda-benda

premium yang ada di dalam kemasan atau karakter yang menyenangkan yang ada

pada kemasan produk. (Kartajaya, 2001, p.447)

Bagi anak-anak sebuah karakter yang diasosiasikan pada suatu produk

memegang peranan penting, karena selain menimbulkan daya tarik, juga menciptakan

keterlibatan pada produk tersebut. Karakter yang dapat menarik anak-anak

bermacam-macam. Mereka menghubungkan atau mengidentikkan diri dengan

(14)

yang mengasuh anak-anak atau mereka yang mengasuh karakter. Kedua, anak-anak

dapat juga mengidentifikasi beberapa aspek karakter yang dianggap sama dengan

yang ada pada dirinya. Ketiga, mereka berusaha menyamai seperti karakter dalam

sejumlah hal. Keempat, disidentifikasi, di mana anak-anak tertarik pada sisi gelap

suatu karakter karena merasa dihibur oleh kekerasannya, sisi negatifnya, atau sisi

jahatnya. (Kartajaya, 2001, p.448)

Mengacu pada YMS criteria, terdapat 7 kriteria agar suatu produk bisa sukses

membidik pasar anak-anak, yaitu attention, comprehension, involvement, yield,

action, reaction, dan communication. (Kartajaya, 2001, p.449)

2.3 Metode

Segmentasi

Segmentasi pada dasarnya adalah suatu strategi untuk memahami struktur

pasar. (Kasali, 1998, p.49) Secara formal, segmentasi didefinisikan sebagai proses

mengkotak-kotakkan pasar (yang heterogen) ke dalam kelompok-kelompok

“potential customers” yang memiliki kesamaan kebutuhan dan/atau kesamaan

karakter – yang memiliki respons yang sama dalam membelanjakan uangnya. (Kasali,

1998, p.119-120)

2.3.1 Demografi

Menurut Kasali, segmentasi berdasarkan demografi pada dasarnya adalah

(15)

digunakan dalam metode ini adalah usia, jenis kelamin, besarnya anggota keluarga,

daur hidup keluarga, pendidikan tertinggi yang dicapai, tingkat penghasilan, agama,

jenis pekerjaan, suku, dan sebagainya. (Kasali, 1998, p.153-154)

2.3.2 Psikografi

Kasali mendefinisikan psikografis sebagai segmentasi berdasarkan gaya hidup

dan kepribadian manusia. Sedangkan gaya hidup mencerminkan bagaimana

seseorang menghabiskan waktu dan uangnya yang dinyatakan dalam

aktifitas-aktifitas, minat, dan opini-opininya. (Kasali, 1998, p.91)

Menurut Susanto, segmentasi demografis tidak dapat memberikan jawaban

yang memadai terhadap siapa pembeli potensial suatu produk. Oleh karena itu, studi

mengenai gaya hidup sering dipakai sebagai sarana segmentasi pasar karena

dipercaya dapat memperkaya pemahaman mengenai konsumen sebagai pelengkap

pendekatan demografis. Sebenarnya pengertian gaya hidup sering dipakai

bersandingan dengan istilah psikografis dan AIO (Activities, Interest, dan Opinion).

Psikografis bermuara dari pendekatan psikologis dan lebih dekat pada ciri

kepribadian. Sedangkan AIO lebih bersifat teoritik yang merupakan operasionalisasi

dari gaya hidup. Dalam aplikasinya, ketiga hal tersebut berkaitan dengan nilai yang

dianut oleh konsumen.

Sebenarnya segmentasi gaya hidup, psikografis dan sejenisnya bermaksud

untuk mengenali nilai-nilai konsumen, menggolongkannya, dan menjodohkannya

(16)

pemasaran, pemahaman nilai konsumen akan sangat bermanfaat dalam positioning

produk kepada sasaran konsumen yang diinginkan. (Susanto, 1997, p.85)

2.3.3 Kohort (Cohort)

A.B. Susanto mendefinisikan kohort sebagai sekelompok manusia yang

sama-sama mengalami berbagai kejadian dan peristiwa di dalam interval waktu atau zaman

yang sama. Analisa kohort adalah suatu pendekatan yang amat bermakna dalam

melakukan program riset dan pemasaran, khususnya untuk kepentingan segmentasi

dan positioning selain metode segmentasi lainnya seperti pemilahan berdasarkan

demografi, psikografi ataupun manfaat.

Anggota kohort dapat berbeda dalam menjalani kehidupannya, baik karena

latar belakang sosio-ekonominya, maupun karena garis keturunan. Walaupun

demikian, anggota-anggota dalam kohort mereka memiliki memori, persepsi, dan

emosi yang mirip atau bahkan sama atas suatu peristiwa atau perubahan tertentu, atau

dalam arti yang lebih sempit terhadap suatu penawaran atau informasi tertentu.

Beberapa pengelompokan yang dapat digunakan sebagai acuan untuk

melakukan segmentasi berdasarkan kohort pada pasar Indonesia (tahun kelahiran)

disampaikan oleh The Jakarta Consulting Group dan Rhenald Kasali ditampilkan

(17)

Tabel 2.1 Perbandingan Pembagian Kohort

The Jakarta Consulting Group Rhenald Kasali < 1927 Kolonialisasi 1900 – 1920 Perintis

1928 – 1937 Revolusi 1921 – 1935 Kemerdekaan

1948 – 1952 Devaluasi 1936 – 1950 Tritura

1953 – 1967 Industrialisasi 1951 – 1960 Perang Dingin

1968 – 1977 Informasi 1961 – 1970 Komputer

> 1977 Globalisasi > 1970 Internet

Secara luas, analisis ini akan memberikan masukan yang cukup berarti untuk

menentukan bentuk komunikasi pemasaran. Di samping itu, analisis ini juga dapat

memberikan penjelasan yang masuk akal apabila identifikasi maupun prediksi yang

berdasarkan segmentasi tradisional ternyata menunjukkan penyimpangan.

Susanto juga mengingatkan bahwa penentuan kelompok kohort tidak identik

dengan apa yang dikenal dengan “generasi”. Inti dari analisis kohort dalam dunia

pemasaran tidak hanya didasarkan pada jarak tahun kelahirannya, melainkan juga

pada “peristiwa-peristiwa kritikal” yang dialaminya bersama-sama. Oleh karena itu,

fokus analisa harus difokuskan pada masa pembentukan (formative years) di mana

hal ini dialami pada masa konsumen memasuki era coming of age menjadi dewasa.

(18)

2.4 Targeting dan Positioning

Targeting adalah proses memilih, menyeleksi, dan menjangkau pasar

sebagiamana dilihat melalui segmentasi yang telah dilakukan. Setelah pasar sasaran

dipilih, maka selanjutnya dilakukan positioning yang pada dasarnya adalah suatu

strategi untuk memasuki jendela otak konsumen. (Kasali, 1998, p.49)

2.5 Definisi

Statistik

2.5.1 Populasi

Populasi adalah kumpulan pengukuran yang diamati oleh pengamat.

Populasi juga disebut universe. (Aczel, 2002, p.17)

2.5.2 Sample

Sample adalah kumpulan pengukuran yang diambil dari populasi. Sampling

dari populasi biasanya dilakukan secara acak, sehingga setiap elemen dari

populasi mempunyai kemungkinan untuk terpilih. Sample yang terpilih

dengan menggunakan cara ini disebut simple random sample, atau random

sample. (Aczel, 2002, p.17)

2.5.3 Hipotesis Null

Hipotesis null adalah dugaan terhadap nilai dari parameter yang ada di

populasi. Ini adalah dugaan yang dianggap benar sampai dapat dibuktikan

(19)

2.5.4 Hipotesis Alternatif

Hipotesis alternatif adalah kebalikan dari hipotesis null. (Aczel, 2002,

Gambar

Gambar 2.1 Langkah-Langkah dalam Proses Pembuatan Keputusan Konsumen
Gambar 2.2 Model Proses Komunikasi
Gambar 2.3 Kurva Promosi-Penjualan
Tabel 2.1 Perbandingan Pembagian Kohort

Referensi

Dokumen terkait

Sesuai dengan tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui efektivitas penerapan e-government kelurahan dan faktor-faktor yang mendukung dan menghambat penerapan

2 Dimensi yang diperoleh setelah direduksi dengan PCA 10 3 Akurasi organisme dikenal menggunakan k=3 pada KNN (dalam %) 11 4 Akurasi organisme dikenal menggunakan k=5 pada KNN

NAMA PEGAWAI N.I.P / N.R.K STAPEG/KOJAB/GOL STW JUAN JIWA GAPOK TUNRI TUNAK T.J.U T.P.P PENGHASILAN TUNJAB TUNFUNG BULAT TUNRAS TUNPPH JUMKOT POTONGAN POTRAS IURAN WAJIB POTPPH

Tidak dilakukan proses hardening sama sekali, dengan kata lain material berada dalam kondisi as anneal karena AISI 4140 bila sudah di (Hardening dan Tempering) disuplai dengan

Jika buffer piece memiliki edge yang sudah benar dan semua edge belum pada posisinya, tukar buffer dengan edge lain yang belum pada posisinya.. Tahap ini membawa

Setiap individu dalam populasi akan mengalami perubahan genetik melalui mutasi dan kawin silang untuk membentuk individu baru dengan nilai ketahanan yang baru

Perbedaan pendapat mengenai praktik akuntansi kreatif ini dapat dipengaruhi oleh kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual sebagai bagian

Perbedaannya hanya terletak pada proses interaksi antarpribadi yang lebih luas dalam dinamika kelompok pada bimbingan kelompok.” (Prayitno 1995:78).. Teknik dalam