SKRIPSI
Diajukan Oleh:
NURUL LATIFAH NIM: 1012016077
Program Studi Pendidikan Agama Islam
KEMENTRIAN AGAMA REPUBLIK INDONESIA FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI LANGSA
2021 M / 1442 H
Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan taufik dan hidayah- Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi yang berjudul
“Persepsi Siswa Terhadap Keterampilan Mengajar Guru PPL Dalam Bidang Studi PAI Di SMAN 3 Langsa”. Shalawat serta salam penulis sampaikan kepada semoga Nabi besar Muhammad SAW yang telah membawa dan menyampaikan kebenaran Islam kepada seluruh umat manusia.
Skripsi ini ditulis dalam rangka memenuhi salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar sarjana pendidikan pada Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) IAIN Langsa.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini dapat diselesaikan berkat dukungan dan bantuan dari berbagai pihak, oleh sebab itu penulis berterima kasih kepada semua pihak, oleh sebab itu penulis berterima kasih kepada semua pihak yang secara langsung maupun tidak langsung memberikan kontribusi dalam penyelesaian skripsi ini. Penulis menyampaikan terima kasih secara khusus kepada :
1. Bapak Dr. Basri, MA selaku Rektor IAIN Langsa.
2. Bapak Dr. Iqbal, M.Pd selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) dan seluruh karyawan yang bertugas di Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) yang telah membantu kelancaran penelitian ini.
3. Ibu Nazliati, M.Ed selaku Ketua Program Studi Pendidikan Agama Islam
(PAI) FTIK IAIN Langsa. Sekaligus selaku Pembimbing I yang telah
meluangkan waktu serta memberikan ilmu pengetahuan, wawasan dan bimbingan dalam menyelesaikan penulisan skripsi.
5. Seluruh Dosen program Pendidikan Agama Islam Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Langsa yang telah memberikan ilmu pengetahuan, wawasan dan bimbingan.
6. Bapak Drs. Suhafrinal, M.Pd selaku kepala sekolah SMAN 3 Langsa yang telah memberi izin kepada penulis untuk melaksanakan penelitian di sekolah tersebut.
7. Ibu Halimah dan Ibu Yusra selaku guru pemdamping penelitian di SMAN 3 Langsa yang telah membantu penelitian dalam penyelesaian penyusunan skripsi.
8. Siswa/i SMAN 3 Langsa khususnya kelas XI dan siswa/i kelas XII yang telah bersedia terlibat dalam penelitian ini sebagai responden yang telah membantu penulis dalam melaksanakan penyelesaian penyusunan skripsi.
9. Kedua orang tua tercinta, (Ibnu Abas dan Ponijem), beserta (Abdul Aziz dan
Dewi Surbakti) serta Adik (Abdul Rosit, Dani, Samsinar) serta seluruh
keluarga yang selalu memberikan dukungan, do’a, motivasi dan semangat
tiada hentinya dalam menyelesaikan penyusunan skripsi program studi
Pendidikan Agama Islam FTIK IAIN Langsa.
11. Sahabat-sahabat Sinta Febriani, Suci Cahyati Sitty Hanum, Nurul Aulia, Sudariyana, Putri Desriani, Nia Bustami, Rizky Syahputra yang selalu setia mendengari curahan hati, serta selalu memberikan semangat tiada henti, dan selalu setia di saat suka maupun duka sehingga peneliti dapat menyelesaikan penyusunan skripsi ini, semoga semuanya tetap bisa bersama-sama melangkah menuju kesuksesan berikutnya
12. Teman seperjuangan kos bapak Khairunnisa Nasution, Cici Wulandari, Nia Bustami, Nadya Auliza dan Khayunda Gusti Khairunnisa yang telah menghibur serta memberi semangat kepada penulis
13. Terimakasih atas semua pihak dan rekan-rekan yang tidak dapat penulis cantumkan namanya sekiranya yang telah membantu penulis dalam penyelesaian skripsi ini.
14. Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan skipsi ini, untuk itu penulis mengharapkan saran dan kritik dari pembaca untuk kesempurnaan skripsi ini,
Langsa, Januari 2021 Penulis
Nurul Latifah
NIM 1012016077
iv LEMBAR PERNYATAAN KARYA ILMIAH
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ... iv
DAFTAR TABEL... vi
ABSTRAK ... vii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Rumusan Masalah ... 7
C. Tujuan Penelitian ... 8
D. Manfaat Penelitian ... 8
E. Penjelasan Istilah ... 9
F. Kajian Terdahulu ... 11
BAB II LANDASAN TEORI ... 15
A. Persepsi ... 15
1. Pengertian Persepsi ... 15
2. Faktor-faktor Mempengaruhi Persepsi ... 16
B. Keterampilan Mengajar ... 19
1. Pengertian Keterampilan Mengajar... 19
2. Macam-macam Keterampilan Mengajar ... 20
a) Keterampilan Bertanya . ... 24
b) Keterampilan Memberi Penguatan ... 27
c) Keterampilan Mengadakan Variasi ... 31
d) Keterampilan Menjelaskan ... 33
e) Keterampilan Membuka dan Menutup Pelajaran ... 36
f) Keterampilan Membimbing Diskusi Kelompok ... 38
g) Keterampilan Mengelola Kelas ... 41
h) Keterampilan Mengajar Kelompok Kecil dan Perseorangan ... 43
C. Guru Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) ... 44
BAB III METODE PENELITIAN ... 47
A. Jenis Penelitian dan Metode Penelitian ... 47
B. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 47
C. Variabel Penelitian ... 47
D. Populasi dan Sampel ... 48
v
G. Teknik Analisis Data ... 53
H. Prosedur Penelitian ... 54
I. Uji Coba Instrumen Penelitian ... 56
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 57
A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 57
1. Sejarah Singkat SMAN 3 Langsa ... 57
2. Identitas Sekolah ... 58
3. Visi dan Misi SMAN 3 Langsa ... 59
B. Hasil Penelitian ... 60
1. Demografi Informasi ... 60
2. Respon Siswa Terhadap Keterampilan Mengajar Guru PPL Dalam Bidang Studi PAI ... 61
C. Pembahasan ... 64
BAB V PENUTUP ... 68
A. Kesimpulan ... 68
B. Saran ... 68
DAFTAR PUSTAKA ... 69 LAMPIRAN-LAMPIRAN
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
vi
Tabel 3.1 Jumlah Populasi Siswa Kelas XI dan XII SMAN 3 Langsa ... 48
Tabel 3.2 Alternatif Jawaban Skala Likert ... 51
Tabel 3.3 Kisi-kisi Instrumen Keterampilan Mengajar ... 51
Tabel 3.4 Nilai Kriteria Presentasi ... 54
Tabel 4.1 Visi Misi SMAN 3 Langsa ... 59
Tabel 4.2 Hasil Klasifikasi Responden Berdasarkan Jenis Kelasnya ... 60
Tabel 4.3 Hasil Rekapitulasi Respon Siswa Terhadap Keterampilan Mengajar
Guru PPL FTIK IAIN Langsa Dalam Bidang Studi PAI ... 61
vii
Abstrak
Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) merupakan mata kuliah wajib yang harus dipenuhi oleh mahasiswa PAI FTIK IAIN Langsa yang bertujuan untuk mempersiapkan calon tenaga pendidik yang profesional. Oleh karenanya keterampilan mengajar merupakan bagian penting yanga harus dikuasai oleh calon guru (mahasiswa ppl). Namun kenyataan guru PPL FTIK IAIN Langsa di SMAN 3 Langsa kurang mampu dalam penguasaan materi pelajaran, kemudian guru PPL juga kurang bervariasi dalam menyampaikan materi pelajaran begitu juga dalam mengkondisikan suasana didalam kelas ketika berlangsungnya pembelajaran.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Persepsi Siswa Terhadap Keterampilan Mengajar Guru PPL Dalam Bidang Studi PAI di SMAN 3 Langsa. Teknik Pengumpulan data yang digunakan berupa kuesioner melalui google form dan dokumentasi. Statistik deskriptif berupa persentase dengan menggunakan Software IBM SPSS Version 23 dipilih untuk menganalisis data respon siswa terhadap keterampilan mengajar guru PPL FTIK IAIN Langsa di sekolah SMAN 3 Langsa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa respon yang diberikan siswa adalah baik (56,5%) pada komponen keterampilan bertanya, (52,9%) pada keterampilan memberi penguatan, (61,2%) pada keterampilan mengadakan variasi, , (55,3%) pada keterampilan membuka dan menutup pelajaran, (49,4%) pada keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil, (51,8%) pada keterampilan mengelola kelas. Adapun hasil responden yang menunjukkan bahwa respon yang diberikan siswa dalam kategori sangat baik (62,4%) adalah pada keterampilan mengajar kelompok kecil dan perseorangan, (52,9%) keterampilan dalam menjelaskan.
Kata Kunci: Praktik Pengalaman Lapangan, Persepsi, Keterampilan
Mengajar
1 A. Latar Belakang
Pendidikan merupakan peranan penting dalam kehidupan manusia untuk menciptakan peserta didik yang berkualitas dan berkarakter sehingga mempunyai tujuan dan cita-cita yang akan dicapai. Salah satu konsep pendidikan adalah sebagai sarana motivasi diri untuk menjadi dewasa. Pendidikan tidak sepenuhnya didapat secara formal melainkan dari lingkungan dan keluarga manusia yang pertama kali menempuh pendidikan. 1
Mengajar pada prinsipnya membimbing siswa dalam kegiatan belajar mengajar atau mengandung arti bahwa mengajar merupakan suatu usaha mengorganisasi lingkungan dalam hubungannya dengan peserta didik dan bahan pengajaran yang menimbulkan proses belajar mengajar bahwa guru dituntut untuk dapat berperan sebagai organisator kegiatan belajar mengajar siswa dan juga hendaknya mampu memanfaatkan lingkungan, baik yang ada di kelas maupun yang ada di luar kelas, yang menunjang kegiatan belajar mengajar. 2
Kegiatan belajar mengajar juga merupakan paduan kegiatan antara guru dan siswa yang memerlukan perencanaan dan persiapan yang matang baik itu dari guru maupun dari siswa. Kegiatan yang tersistem dari sebuah lingkungan yang terdiri dari pendidik dan peserta didik untuk saling berinteraksi demi berlangsungnya tujuan pendidikan. Sehingga untuk dapat melaksanakan tugasnya
1
Purwanto, Evaluasi Hasil Belajar, (Surakarta:Pustaka Pelajar, 2011), hal. 32.
2
Ibid, hal. 35.
dengan baik, seorang calon guru profesional harus mengetahui hal-hal apa saja yang harus dipersiapkan dan dikuasai mulai dari kompetensi apa saja yang harus dimiliki, persiapan sebelum proses belajar mengajar sampai dengan tahap evaluasi.
Untuk menjadi guru yang profesional tidaklah mudah, dibutuhkan pengalaman belajar mengajar untuk bekal pengajaran di sekolah. Untuk itu calon guru harus diberi pengalaman-pengalaman praktik mengajar di Institut tempat ia belajar. Ada banyak Institut di Indonesia, salah satunya adalah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Langsa.
IAIN Langsa merupakan satu-satunya perguruan tinggi keagamaan Islam Negeri yang ada di Kota Langsa, yang mempunyai visi “Menjadi Pusat Kajian Keislaman yang Berkarakter Rahmatan Lil ‘Alamin”, didalam IAIN Langsa terdapat beberapa fakultas, salah satunya adalah Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) di fakultas tersebut, mahasiswa lebih banyak belajar mengenai ilmu keguruan, salah satu ilmu keguruan tersebut adalah Praktik Pengalaman Lapangan (PPL).
Pengembangan standar kompetensi Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) pada dasarnya dirumuskan dengan mengacu pada empat dasar kompetensi guru dalam konteks pembelajaran maupun dalam konteks kehidupan masyarakat.
Empat kompetensi dasar guru yang dimaksud adalah kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional dan kompetensi sosial. 3
3
Rusman, Pembelajaran Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi, (Jakarta:
Rajawali Pers, 2012), hal. 17
Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) adalah kegiatan akademik pada Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan yang dilakukan mahasiswa/i yang bertujuan untuk membentuk mahasiswa praktikan agar menjadi calon tenaga kependidikan yang profesional, sesuai dengan prinsip-prinsip pendidikan berdasarkan kompetensi, yang meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial dan kompetensi profesional yang mencangkup pengetahuan, keterampilan, sikap dan perilaku keguruan dengan segala aspeknya yang dialami mahasiswi secara nyata di sekolah sehingga dapat menghasilkan tenaga pendidik yang handal dan kompeten di bidangnya. 4
Dalam kaitan dengan lembaga pendidikan. Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) dapat diartikan sebagai suatu program dalam pendidikan prajabatan guru yang dirancang khusus untuk menyiapkan para calon guru menguasai kemampuan keguruan yang terintegrasi, sehingga setelah menyelesaikan pendidikannya dan diangkat menjadi guru, mereka siap mengembangkan tugas dan tanggung jawabnya sebagai guru dan sudah selayaknya praktik pengalaman lapangan (PPL) dijadikan sebagai satu pegangan sentral oleh semua pengasuh mata kuliah pada lembaga pendidikan guru. Artinya, setiap pengasuh mata kuliah hendaknya memikirkan dan selanjutnya merencanakan sumbangan yang dapat diberikan oleh mata kuliah terhadap pembentukan kemampuan profesional mahasiswa calon guru, sesuai dengan bidangnya (Pendidikan Agama Islam). 5
Sebelum masuk ke sekolah mahasiswa praktikan mendapatkan bekal agar memiliki kesiapan untuk melaksanakan tugasnya sebagai calon tenaga pendidik
4
Zainal Asril, Micro Teaching, (Jakarta: Rajawali Pers, 2017), hal. 74.
5
Ibid, hal. 76.
yang profesional dan berkompeten. Kegiatan yang dilakukan sebelum PPL dilaksanakan yaitu mahasiswa praktikan wajib mengikuti micro teaching, yaitu suatu kegiatan praktek latihan mengajar yang dilingkupnya lebih kecil dari praktik latihan disekolah, karena dalam micro teaching ini mahasiswa praktikan melakukan latihan mengajar di depan teman-temannya sesama mahasiswa praktikan yang sudah terbagi ke dalam kelompok. 6
Dalam pelaksanaan praktik pengalaman lapangan (PPL) di SMAN 3 Langsa, mahasiswa mengajar mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di kelas XI dan XII. Dalam diri siswa SMAN 3 Langsa ada keraguan pada guru praktik pengalaman lapangan (PPL) yang sebelum pelaksanaan PPL berlangsung, mereka ragu akan kemampuan mengajar mahasiswa PPL yang belum tentu sebaik ketika guru mereka mengajar.
Tingkat kemampuan yang dikuasai oleh mahasiswa praktikan dalam proses pelaksanaan belajar mengajar akan sangat mempengaruhi penilaian yang akan diberikan oleh guru pamong. Guru pamong ini adalah orang yang membimbing, memantau, dan menilai kemajuan mahasiswa praktikan mulai dari awal PPL sampai tahap akhir pelaksanaan PPL. Penilaian dan pelaksanaan PPL ini dimaksudkan untuk menilai tingkat penguasaan materi yang telah diperoleh di perkuliahan. Selain penilaian dari guru juga akan ada persepsi-persepsi yang muncul dari siswa terhadap mahasiswa praktikan.
Selama pelaksanaan tugas dan kegiatan praktik pengalaman lapangan (PPL) di sekolah mahasiswa praktikan akan berinteraksi dan berkomunikasi
6
Ibid, hal. 77.
dengan guru, siswa, dan masyarakat sekolah. Siswa merupakan salah satu unsur pokok dalam interaksi antara guru dengan siswa sehingga tindakan-tindakan guru harus berorientasi pada kemampuan dan kebutuhan siswa. Oleh karena itu sudah sepatutnya apabila pembelajaran seorang guru tidak hanya ditinjau dari sudut guru itu sendiri, tetapi juga dari sudut kepentingan siswa. Melihat dari realitas diatas agar program PPL yang disekolah berjalan lebih efektif, maka dipandang perlu melihat kemampuan mahasiswa praktikan yang paling sesuai dengan persepsi siswa yang di bimbingnya. 7
Mahasiswa praktik pengalaman lapangan (PPL) seharusnya juga sudah menguasai aspek utama yang dimiliki oleh seorang guru maupun calon guru yang mana 4 aspek tersebut yaitu kompetensi itu meliputi kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial dan profesional. 8 Mahasiswa praktik pengalaman lapangan (PPL) juga harus mampu mempersiapkan diri ketika berada di lingkungan sekolah maupun didalam kelas terlebih dalam proses pembelajaran berlangsung, mempersiapkan mental agar ketika berada didalam ruangan kelas guru tidak merasa gugup merasa tidak percaya diri atau malu kepada anak didiknya, kemudian harus mampu menguasai bahan ajar yang akan disampaikan selama proses pembelajaran berlangsung, tegas dalam mengajar, selain itu guru PPL juga mampu menguasi keterampilan mengajar.
Namun melihat kenyatan ini, dalam kegiatan belajar mengajar masih ada mahasiswa praktik pengalaman lapangan (PPL) yang kurang terampil dalam menyampaikan materi pelajaran. Hal ini di buktikan dari tanggapan siswa yang
7
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, (Jakarta: Rineka Cipta, 2014), hal. 32.
8
Ibid, hal. 35.
menilai bahwa masih terdapat kekurangan mahasiswa PPL dalam mengajar.
Sebagian siswa memiliki persepsi bahwa mahasiswa kurang mampu mengkondisikan suasana kelas, misalnya saat siswa ramai. Mahasiswa dinilai kurang tegas dan enggan memberi peringatan atau teguran kepada siswa.
Mahasiswa PPL masih kurang dalam penguasaan materi, sehingga mahasiswa belum dapat mengembangkan materi yang diajarkan kepada siswa dengan kata- kata yang mudah dipahami oleh siswa dan belum dapat mengaitkan materi dengan kehidupan umum. Hal ini tentunya tidak sesuai dengan keterampilan yang harus dimiliki guru.
Mahasiswa PPL dinilai kurang bisa memberikan pemahaman kepada siswa terkait dengan materi pembelajaran yang diajarkan. Mahasiswa dinilai mengajar terlalu cepat dan menjelaskan dengan bahasa yang sulit dipahami, serta susunan kata yang kurang tepat. Mahasiswa hanya terpaku pada buku, sehingga siswa kurang tertarik karena merasa pembelajaran monoton dan kurang bervariasi.
Mahasiswa PPL juga dinilai belum memiliki kesiapan mengajar, karena mahasiswa PPL terkadang belum menyiapkan materi yang akan diajarkan.
Mahasiswa PPL kurang memperhatikan siswa saat memberikan tugas diskusi, bahkan mahasiswa kurang tegas dalam menegur siswa yang berbicara sendiri karena terkadang saat siswa sedang diskusi mahasiswa hanya duduk di meja guru dan menunggu siswa bertanya
Peran mahasiswa PPL dalam kegiatan diskusi sangat penting, karena pada
saat proses pembelajaran berlangsung mahasiswa harus bisa mengontrol suasana
kelas agar tetap kondusif, sehingga diskusi dapat berjalan dengan lancar.
Mahasiswa PPL juga dinilai masih kurang dalam manajemen waktu. Hal tersebut ditunjukkan saat materi yang diajarkan sudah selesai tetapi masih banyak waktu yang tersisa, disini mahasiswa kebingungan untuk mengisi waktu yang tersisa tersebut, sehingga terkadang video yang tidak ada hubungan dengan materi ajar pun menjadi solusi utama untuk mengisi waktu yang masih tersisa. Mahasiswa juga terkesan menunggu siswa yang sedang makan sampai selesai ketika bel masuk setelah istirahat berbunyi.
Melihat kenyataan ini sudah seharusnya mahasiswa praktik pengalaman lapangan (PPL) lebih mempersiapkan diri baik dari segi penguasaan materi maupun kemampuan mereka dalam mengajar, menuntut kesiapan mental yang sangat kuat bagi mahasiswa praktikan (PPL) untuk menyikapi segala bentuk kelakuan yang dilakukan siswa. Terutama dalam menghadapi siswa yang terkadang menganggap remeh mahasiswa praktikan, karena setiap siswa memiliki persepsi sendiri-sendiri terhadap mahasiswa praktikan.
Berdasarkan hasil pengamatan yang peneliti lakukan dengan beberapa siswa dalam rangka menelusuri keberhasilan dari pelaksanaan PPL yang telah dilaksanakan oleh mahasiswa maka peneliti tertarik untuk mengangkat tema tersebut dengan judul
“Persepsi Siswa Terhadap Keterampilan Mengajar Guru PPL Dalam Bidang Studi PAI di SMAN 3 Langsa”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan dari latar belakang masalah yang telah di uraikan di atas,
maka peneliti menentukan rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
Bagaimana persepsi siswa terhadap keterampilan mengajar guru PPL dalam bidang studi PAI di SMAN 3 Langsa ?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas maka tujuan penelitian ini adalah:
Untuk mengetahui persepsi siswa terhadap keterampilan mengajar guru PPL dalam bidang studi PAI di SMAN 3 Langsa.
D. Manfaat Penelitian
Manfaat atau kegunaan yang dapat diperoleh dari penelitian ini dapat berupa manfaat teoritis dan manfaat praktis:
1. Manfaat Teoritis
Melalui penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan bagi perkembangan keterampilan mengajar guru PPL dalam mengajar dalam bidang studi PAI di SMAN 3 Langsa. 9
2. Secara Praktis
a) Bagi peserta didik
Diharapkan siswa dapat mencontoh dan meledani kepribadian, akhlak dan sikap guru mata pelajaran PAI maupun guru PPL dalam proses belajar mengajar maupun dalam kegiatan diluar jam pelajaran, serta diharapkan siswa dapat memahami materi yang telah diberikan oleh guru. 10
b) Bagi guru
Sebagai bahan masukan dan evaluasi bagi guru, maupun guru PPL untuk meningkatkan keterampilan dasar mengajar agar dapat menciptakan suasana
9
Halid Hanafi, Profesionalisme Guru Dalam Pengelolaan Kegiatan Pembelajaran di Sekolah, (Yogyakarta: Hak Cipta, 2018), hal. 23.
10
Ibid, hal. 45.
kegiatan belajar mengajar yang efektif dan efisien. Serta dapat menjaga kepribadian di hadapan peserta didik agar dapat menjadi contoh yang baik untuk anak didiknya.
c) Bagi sekolah
Sebagai bahan masukan serta informasi bagi sekolah untuk selalu mengawasi keterampilam mengajar guru dan segala sikap, akhlak maupun tingkah laku guru PPL maupun guru lainnya terutama dalam belajar mengajar di sekolah. 11
d) Bagi Peneliti
Dapat menambah wawasan ilmu pengetahuan sebagai hasil pengamatan langsung serta dapat memahami keterampilan dasar mengajar guru PPL dan dapat menjadi sumbangan pemikiran bagi mahasiswa PPL lainnya.
E. Penjelasan Istilah
Untuk menghindari kesalahan dalam penafsiran terhadap judul skripsi, peneliti memberikan batasan terhadap istilah yang dipergunakan sebagai berikut:
1. Persepsi
Persepsi menurut bahasa adalah tanggapan (penerimaan) langsung dari penerima. 12 Menurut Slameto Persepsi dalah proses masuknya pesan atau informasi kedalam otak manusia, melalui persepsi manusia terus-menerus mengadakan hubungan dengan lingkungannya.
11
Salhah Abdullah, Guru Sebagai Fasilitator, (Batu Caver Selangor: 2010), hal. 200.
12
Slameto, Pengantar Metodologi Penelitian, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2010),
hal. 23.
Persepsi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah siswa yang mengamati cara mengajar guru PPL pada saat proses pembelajaran berlangsung di dalam kelas.
2. Keterampilan Mengajar
Keterampilan mengajar menurut bahasa kecakapan untuk menyelesaikan tugas yang menanamkan pengetahuan seseorang dengan singkat. 13 Menurut Turney keterampilan mengajar merupakan keterampilan yang harus dimiliki oleh guru untuk mentransfer pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai kepada siswa dalam proses pembelajaran. 14
Keterampilan mengajar yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kemampuan yang harus dimiliki seorang guru dalam menyajikan materi pelajaran, mentrasfer ilmu pengetahuan dan penguasaan materi pelajaran dengan memilih metode yang tepat.
3. Guru PPL
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia praktik adalah pelaksanaan secara nyata apa yang disebut dalam teori. Sedangkan menurut Komaruddin Praktik merupakan cara melaksanakan dalam keadaan nyata apa yang dikemukakan dalam teori. 15
Guru PPL yang dimaksud dalam penelitian ini adalah mahasiswa semester VII yang mengambil mata kuliah Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) dengan
13
Budiono, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia Masa Kini, (Jakarta: Bintang Indonesia, tanpa tahun), hal. 76.
14
Turney, Guru Sebagai Fasilitator, (Batu Caver Selangor: 2010), hal. 200.
15
Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus Bahasa Indonesia, (Jakarta: Pusat Bahasa
Departemen Pendidikan Nasional, 2012), hal. 252.
bobot 4 sks dan sudah ditempatkan kesekolah masing-masing yang ditetukan oleh pihak kampus IAIN Langsa.
F. Kajian Terdahulu
Berdasarkan telaah pustaka terhadap penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, bahwasanya Penelitian ini bukanlah penelitian yang pertama, namun masih banyak peneliti yang membahas terkait persepsi siswa terhadap keterampilan mengajar guru PPL diantaranya :
1. Rusiyanti (2013) dalam skripsinya yang berjudul “Persepsi Siswa MTs.
SMIP 1946 Barjarmasin Terhadap Keterampilan Mengajar Mahasiswa Praktikan Angkatan 2009 Jurusan PAI Fakultas Tarbiyah IAIN Antasari”. Menyimpulkan bahwa, mahasiswa praktikan PAI dikatakan cukup terampil dalam mengaplikasikan teori beberapa keterampilan dalam mengajar, karena hampir semua memberikan persepsi yang baik. Hal ini dilihat dari mereka memberi tanggapan yang baik mengenai 7 keterampilan mengajar yang diaplikasikan oleh mahasiswa praktikan meski ada yang kurang sedikit dalam hal variasi media, mereka selalu menggunakan karton dikarenakan tidak adanya LCD di sekolah tersebut. 16
2. Puput Nugraheni (2015) dalam skripsinya yang berjudul “Persepsi Siswa Tentang Kemampuan Mengajar Mahasiswa PPL UNNES Program Studi Pendidikan Sosiologi dan Antropologi di SMA N 11 Semarang
16
Rusiyanti, Persepsi Siswa MTs. SMIP 1946 Barjarmasin Terhadap Keterampilan
Mengajar Mahasiswa Praktikan Angkatan 2009 Jurusan PAI Fakultas Tarbiyah IAIN Antasari,
Skripsi S1 Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Jurusan Pendidikan Agama Islam, (Institut Agama
Islam Negeri Antasari, 2013), hal. vii
Tahun 2010/2011” menyimpulkan bahwa, persepsi siswa tentang kemampuan mengajar mahasiswa PPL UNNES program studi Pendidikan Sosiologi dan Antropologi di SMA N 11 Semarang termasuk dalam kategori baik dengan empat kompetensi, yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional.
Namun masih ada beberapa indikator yang kurang dikuasi oleh mahasiswa PPL. Kemudian diharapakan mahasiswa PPL lebih meningkatkan pengetahuam dan pengalaman kompetensi melalui micro teaching sehingga agar dapat menunjang keberhasilan PPL. 17
3. Fajar Okta Widarta (2020) dalam skripsinya yang berjudul “Persepsi Siswa Terhadap Keterampilan Dasar Mengajar Mahasiswa Program PLP II Program Studi Pendidikan Biologi PSDKU Universitas Syiah Kuala Gayo Lues di SMP Negeri 1 Blangjerango” menyimpulkan bahwa, mahasiswa mahasiswa PLP II Program Studi Pendidikan Biologi PSDKU terampil dalam menguasi komponen keterampilan mengajar guru.
Hal ini dilihat dari mereka memberi tanggapan sangat baik mengenai 5 keterampilan dasar mengajar yang diaplikasikan oleh mahasiswa PLP II meskipun masih ada yang kurang dalam hal keterampilan menjelaskan masih kurang dikarenakan mahasiswa PLP II terlalu cepat ketika menjelaskan materi pelajaran serta keterampilan membimbing diskusi
17
Puput Nugraheni, Persepsi Siswa Tentang Kemampuan Mengajar Mahasiswa PPL
UNNES Program Studi Pendidikan Sosiologi dan Antropologi di SMA N 11 Semarang Tahun
2010/1011, Skripsi S1 Fakultas Ilmu Sosial Jurusan Sosiologi dan Antropologi, (Universitas
Negeri Semarang, 2011), hal. viii.
kelompok kecil mahasiswa PLP II kurang mampu membimbing maupun mengkondisikan suasana kelas ketika diskusi berlangsung. 18
4. Fitri Wijayanti (2018) dalam skripsinya yang berjudul “Persepsi Siswa Terhadap Keterampilan Mengajar Guru Biologi Praktek Lapangan (PL) di SMAN 4 Bukit Tinggi” menyimpulkan bahwa guru Biologi Praktek Lapangan (PL) dikatakan cukup terampil dalam mengaplikasikan teori beberapa keterampilan dalam mengajar, karena hampir semua memberikan persepsi yang baik. Hal ini dilihat dari mereka memberi tanggapan yang baik mengenai 10 keterampilan mengajar yang diaplikasikan oleh guru Biologi Praktek Lapangan (PL). Kemudian diharapkan guru Biologi Praktek Lapangan (PL) lebih kreatif dalam menyampaikan pelajaran dengan menggunakan media maupun model pembelajaran. 19
Persamaan penelitian yang peneliti lakukan dengan penelitian sebelumnya terletak pada metodologi yang digunakan yaitu dengan menggunakan metode penelitian kuantitatif. Sedangkan perbedaan penelitian yang peneliti lakukan dengan penelitian sebelumnya terletak pada objek kajiannya. Pada penelitian yang pertama objek kajiannya yaitu persepsi siswa MTs. SMIP 1946 Barjarmasin terhadap keterampilan mengajar mahasiswa praktikan. Pada penelitian kedua, objek kajiannya yaitu
18
Fajar Okta Widarta, Persepsi Siswa Terhadap Keterampilan Dasar Mengajar Mahasiswa Program PLP II Program Studi Pendidikan Biologi PSDKU Universitas Syiah Kuala Gayo Lues di SMP Negeri 1 Blangjerango, Skripsi S1 Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Program Studi Pendidikan Biologi, (Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh, 2020), hal. vii.
19
Fitri Wijayanti, Persepsi Siswa Terhadap Keterampilan Mengajar Guru Biologi
Praktek Lapangan (PL) di SMAN 4 Bukit Tinggi, Skripsi S1 Fakultas MIPA Jurusan Biologi,
(STKIP Ahlusunnah, 2018), hal. vii.
persepsi siswa tentang kemampuan mengajar mahasiswa PPL, sedangkan
objek kajian peneliti yaitu persepsi siswa dan guru terhadap keterampilan
mengajar guru PPL dalam bidang studi PAI. Pada penelitian ketiga objek
kajiannya yaitu Persepsi siswa terhadap keterampilan dasar mengajar
mahasiswa PLP II. Pada penelitian keempat objek kajiannya yaitu persepsi
siswa terhadap keterampilan mengajar guru biologi praktek lapangan (PL).
15 A. Persepsi
1. Pengertian Persepsi
Persepsi secara bahasa dapat diartikan sebagai tanggapan atau pandangan.
Sebenarnya istilah ini berasal dari bahasa inggris “Perception yang diambil dari bahasa latin “Perception yang berarti menerima dan mengambil. 1 Dalam kamus Besar Bahasa Indonesia, “Perception diartikan dengan penglihatan atau tanggapan daya memahami atau menanggapi.
Persepsi menurut Mulyana merupakan salah satu aspek psikologis yang penting bagi manusia dalam merespon kehadiran berbagai gejala yang ada disekitarnya.Persepsi merupakan pengalaman objek, peristiwa, atau hubungan- hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan dan menafsirkan pesan. 2
Berdasarkan penjelasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa persepsi sangat berkaitan dengan sudut pandang seseorang atau rangsangan pengalaman selama proses pembelajaran yang diterima melalui penginderaan disaring, ditata dan ditafsirkan melalui pola fikir, pola sikap dan tingkah laku. Dalam penelitian ini akan dilihat dari sudut pandang siswa terhadap keterampilan mengajar guru PPL dalam pembelajaran PAI.
1
Hassan Shadily, Kamus Inggris-Indonesia, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2010), hal. 424.
2
Mulyana, Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar, (Jakarta: Rosdakarya 2010), hal. 23.
2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Persepsi
Setiap manusia tidak pernah lepas dari interaksi, dalam kegiatan interaksi pasti akan muncul persepsi terhadap lawan bicara. Persepsi dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain:
a. Faktor Internal
Faktor internal meliputi perasaan, sikap dan kepribadian individu, prasangka, keinginan atau harapan, perhatian, proses belajar, keadaan fisik, gangguan kejiwaan, nilai dan kebutuhan juga minat dan motivasi.
b. Faktor Eksternal
Faktor eksternal meliputi latar belakang keluarga, informasi yang diperoleh, pengetahuan sekitar, pengulangan gerak dan hal-hal yang baru familiar ketidakasingan suatu objek. 3
Menurut pendapat Miftah Toha Persepsi adalah faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi dibedakan menjadi dua yaitu: faktor internal dan faktor eksternal. Adapun faktor internal yang terdiri dari pengalaman, perasaan, sikap, perhatian dan motivasi. Sedangkan faktor eksternal terdiri dari lingkungan, budaya, latar belakang keluarga, informasi yang diperoleh, pengetahuan dan mental seseorang. Berikut adalah penjabaran dari faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi. 4
3
Suharsimi Arikunto, Faktor-Faktor Belajar Mengajar, (Bandung: Angkasa, 2010), hal.
34.
4
Miftah Toha, Perilaku Organisasi Konsep Dasar dan Aplikasinya, (Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada, 2010), hal. 28.
a. Faktor Internal 1) Perhatian
Perhatian adalah kegiatan yang dilakukan seseorang dalam hubungannya dengan pemilihan rangsangan yang datang dari lingkungannya. Perhatian juga merupakan salah satu faktor psikologis yang mempunyai sifat-sifat yang menonjol baik dari dalam maupun dari luar yang dapat membantu interaksi belajar mengajar. 5
2) Minat
Menurut Slameto minat adalah suatu rasa lebih yang suka dan rasa keterikatan pada suatu hal maupun aktivitas tanpa ada yang menyuruh.
Minat pada dasarnya adalah penerimaan suatu hubungan antara diri sendiri dengan suatu dari luar. Minat juga merupakan kecenderungan seseorang terhadap suatu kegitan yang disukai dan disertai dengan perasaan senang, adanya perhatian dan keaktifan yang dibuat
3) Pengalaman
Sesuatu yang pernah dijalani, dirasai dan ditanggung. Pengalaman yang baik akan menimbulkan persepsi yang baik pula begitu juga sebaliknya, pengalaman yang kurang baik akan menimbulkan persepsi yang kurang baik pula. 6
b. Faktor Eksternal 1) Guru
Menurut Slameto hubungan yang baik antara guru dengan siswa akan berdampak baik pula dalam proses pembelajaran. Jika siswa
5
Ibid, hal. 29.
6
Ibid, hal. 30-31.
menyukai guru maka siswa akan mengikuti proses pembelajaran dengan sungguh-sungguh. Guru adalah orang yang sangat berwenang dan bertanggung jawab terhadap pendidikan murid baik secara individual maupun klasikal, baik disekolah maupun diluar sekolah. Berdasarkan uraian diatas maka dapat dipahami bahwa kompetensi guru merupakan suatu kemampuasn yang mutlak dimiliki oleh seorang guru, baik dari segi pemahaman, pengetahuan, kemampuan serta tanggung jawab terhadap peserta didik yang di asuhnya sehingga tugas pendidik dapat terlaksana dengan baik. 7
2) Metode Pembelajaran
Teknik penyajian yang harus dikuasi seorang guru untuk mengajar bahan pelajaran kepada siswa didalam kelas baik individual maupun kelompok agar pembelajaran dapat dipahami dan dimanfaatkan oleh siswa dengan baik. Metode pembelajaran ini sangat penting dilakukan agar proses pembelajaran tidak jenuh dan siswa mudah untuk memahami ilmu yang disampaikan guru. 8
3) Lingkungan Sekolah
Merupakan situasi yang kondusif yang mencangkup segala material untuk kelangsungan proses pembelajaran serta mempengaruhi kegiatan belajar mengajar peserta didik baik di dalam kelas maupun diluar kelas. Lingkungan sekolah yang kondusif akan memotivasi guru untuk melaksanakan proses pembelajaran yang optimal, karena dengan adanya
7
Slameto, Pengantar Metodologi Penelitian, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2010), hal. 23.
8
Ibid, hal. 25.
rasa nyaman, tentram dan damai di lingkungaan sekitar peserta didik juga akan merasa nyaman sehingga memiliki semangat yang tinggi untuk belajar.
4) Teman
Teman adalah individu yang memiliki hubungan dan saling berinteraksi satu sama lain pada setiap lingkungan. Agar siswa dapat belajar dengan baik maka perlu diusahakan supaya siswa bergaul dengan teman yang baik serta pengawasan dari orang tua dan pendidik yang bijaksana.
B. Keterampilan Mengajar
1. Pengertian Keterampilan Mengajar
Setiap guru maupun calon guru harus memiliki keterampilan mengajar, dan harus mampu menguasi bahan ajar dalam kegiatan mengajar. Seorang guru yang profesional harus memiliki keterampilan mengajar yang baik. Menurut Kusnadi keterampilan mengajar merupakan kemampuan yang dimiliki oleh seseorang yang diperoleh dari berbagai latihan pembelajaran yang merupakan suatu kemampuan bagi seorang guru agar lebih profesional. 9
Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa keterampilan mengajar merupakan kemampuan maupun kecakapan guru dalam melatih, membimbing siswa agar dapat memahami materi pelajaran yang diajarkan serta untuk mencapai tujuan pembelajaran yang akan dicapai.
Menurut M. Ali yang dimaksud dengan keterampilan mengajar adalah
9
Kusnadi, Strategi Pembelajaran Ilmu Pengetahuan, (Pekanbaru : Yayasan Pusaka Riau,
2010), hal. 56.
segala upaya yang disengaja daalam rangka memberi kemungkinan untuk siswa untuk terjadinya proses belajar dengan tujuan dan keterampilan yang sudah dirumuskan. 10
Menurut E. Mulyasa yang dimaksud dengan keterampilan mengajar merupakan keterampilan yang diperlukan bagi seorang seorang guru, sebab keterampilan mengajar adalah syarat multak agar guru bisa menjalani proses pembelajaran secara efektif dan efisien. Keterampilan mengajar juga merupakan kompetensi profesional yang cukup kompleks sebagai integrasi dari berbagai kompetensi guru secara utuh dan menyeluruh. 11
Berdasarkan penjelasan diatas maka dapat disimpulkan bahwa keterampilan mengajar adalah keterampilan yang berkaitan dengan semua aspek kemampuan guru yang berkaitan erat dengan berbagai tugas guru yang berbentuk keterampilan dalam memberi rangsangan dan motivasi kepada siswa.
2. Macam-macam Keterampilan Mengajar
Kedudukan guru mempunyai arti penting dalam dunia pendidikan, karena guru dianggap sebagai kreativitas siswa dalam mengembangkan segala bentuk potensi dan aktivitas mereka. Maka dari itu guru dituntut harus mempunyai keterampilan dasar mengajar untuk menjalanlan tugasnya, sehingga guru dapat mengoptimalkan perannya di dalam kelas pada proses pembelajaran di dalam kelas maupun diluar kelas.
Guru menempati kedudukan yang terhormat dikalangan masyarakat, kedudukannya sebagai seorang gurulah yang membuat guru dihormati sehingga
10
M. Ali, Guru Dalam Proses Belajar Mengajar, (Bandung : Sinar Baru, 2010), hal. 74.
11
E. Mulyasa, Menjadi guru Profesional Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan
Menyenangkan, (Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2016), hal. 70.
masyarakat tidak meragukannya lagi. Islam sendiri sangat menghargai orang- orang yang berilmu pengetahuan. Maka Allah swt telah menjanjikan terhadap orang-orang yang diberinya ilmu telah memberikan kebaikannya dan karunia yang banyak serta akan mendapat pahala dikemudian di dunia dan di akhirat.
Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 269:
يِت ْؤُي
ََةَمْك ِحْلا
َُءاَشَيْنَم
ََةَمْك ِحْلاَت ْؤُيْنَم َو (ِباَبْللأاوُلوُألاِإ ُرَّكَّذَياَم َوا ًريِثَكا ًرْيَخَيِتوُأْدَقَف
٢٦٩ )
Artinya: Dia memberikan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa
diberi hikmah, sesungguhnya dia telah diberi kebaikan yang banyak, dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang mempunyai akal sehat. (Q.S. Al Baqarah: 269).
Hikmah di ambil dari kata hakama yang berarti menghalangi. Hikmah dapat dipahami dalam arti pengetahuan tentang baik dan buruk, serta kemampuan yang baik agar terhindar dari perbuatan buruk. Ayat ini menjelaskan tentang dua jalan yaitu memilih jalan terbaik dan menghindari jalan keburukan dia telah di anugerahi hikmah maka ia benar-benar diberi.
Allah akan memberikan hikmah kepada siapa saja yang menghendaki.
Maksudnya, bahwa Allah mengaruniakan hikmah kebijaksanaan serta ilmu
pengetahuan kepada siapa yang dikehendakinya kepada hambanya sehingga
dengan ilmu dan dengan hikmah itu dia dapat membedakan antara yang benar dan
yang salah, antara kejahatan setan atau ilham dari Allah swt. Alat untuk
memperoleh hikmah ialah akal yang sehat dan cerdas, yang dapat mengenal
sesuatu berdasarkan dalil-dalil dan bukti-bukti, dan dapat mengetahui sesuatu
menurut hakikat yang sebenarnya. Barangsiapa yang telah mencapai hikmah dan
pengetahuan yang demikian itu berarti dia telah dapat membedakan antara janji Allah dan bisikan setan, lalu janji Allah diyakini dan bisikan setan dijauhi dan ditinggalkan. Allah menegaskan bahwa siapa saja yang telah memperoleh hikmah dan pengetahuan semacam itu, berarti dia telah memperoleh kebaikan yang baik.
Adapun beberapa jenis keterampilan mengajar yang harus dikuasi bagi guru maupun calon guru yang dikemukakan oleh Moh. Uzer Usman keterampilan mengajar terbagi menjadi 8 yaitu :
a. Keterampilan bertanya (questioning skills).
b. Keterampilan memberi penguatan (reirfoncement skills).
c. Keterampilan mengadakan variasi (variation skills).
d. Keterampilan menjelaskan (explaining skills).
e. Keterampilan membuka dan menutup pelajaran (set induction and clo- sure).
f. Keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil.
g. Keterampilan mengelola kelas.
h. Keterampilan mengajar kelompok kecil dan perseorangan.
12Senada dengan pendapat yang di atas terdapat 9 (sembilan) keterampilan mengajar yang harus dikuasi oleh seorang guru yaitu :
a. Keterampilan bertanya dasar b. Keterampilan bertanya Lanjut
c. Keterampilan memberi penguatan (reirfoncement) d. Keterampilan mengadakan variasi
12
Moh. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional, (Bandung : PT Remaja Rosdakarya,
2017), hal. 74.
e. Keterampilan menjelaskan
f. Keterampilan membuka dan penutup pelajaran g. Keterampilan mengola kelas
h. Keterampilan memimpin diskusi kelompok kecil
i. Keterampilan mengajar kelompok kecil dan perseorangan.
13Pendapat Syaiful Bahri Djarmarah diperinci lagi oleh Zainal Asril, beliau menjelaskan bahwa ada 7 (tujuh) dasar keterampilan mengajar yang dapat diterapkan oleh guru untuk melaksanakan tugasnya sebagai pendidik yaitu :
a. Keterampilan membuka dan menutup pelajaran b. Keterampilan mengelola kelas
c. Keterampilan memberi penguatan
d. Keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil e. Keterampilan bertanya
f. Keterampilan menjelaskan pelajaran g. Keterampilan mengadakan variasi.
14Pendapat Zainal Asril diperinci lagi oleh E. Mulyasa, beliau menjelaskan bahwa ada 8 (delapan) dasar keterampilan mengajar yang dapat diterapkan oleh guru untuk melaksanakan tugasnya sebagai pendidik yaitu :
a. Menggunakan keterampilan bertanya b. Memberi penguatan
c. Mengadakan variasi d. Menjelaskan
13
Syaiful Bahri Djarmarah, Guru dan Anak Didik Dalam Interaksi Edukatif, (Jakarta : PT Rineka Cipta, 2010), hal. 99.
14
Zainal Asril, Micro Teaching, (Jakarta: Rajawali Pers, 2017), hal. 69-86.
e. Membuka dan menutup pelajaran f. Membimbing diskusi kelompok kecil g. Mengelola kelas
h. Mengajar kelompok kecil dan perseorangan.
15Berdasarkan teori diatas dapat dilihat kesamaan dari ketiga teori tersebut tentang persepsi siswa dan guru terhadap keterampilan mengajar mahasiswa PPL ada 8 yaitu: (1) keterampilan membuka dan menutup pelajaran, (2) keterampilan menjelaskan, (3) keterampilan bertanya, (4) keterampilan memberikan penguatan, (5) keterampilan mengadakan variasi, (6) keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil, (7) keterampilan mengelola kelas, (8) keterampilan mengajar kelompok kecil dan perseorangan.
Dalam rangka untuk meningkatkan kemampuan siswa, guru sebagai salah satu komponen serta prinsip dalam proses pembelajaran sangat berperan penting dalam menentukan arah dan tujuan dari suatu pembelajaran. Berikut uraian 8 (delapan) keterampilan dasar mengajar dan cara menggunakannya agar tercipta pembelajaran yang kreatif, profesional dan menyenangkan. Urutan penyajian keterampilan mengajar dilakukan sesuai dengan teori Moh. Uzer Usman yaitu :
a) Keterampilan Bertanya
Keterampilan bertanya sangat perlu dikuasi oleh guru untuk terciptanya pembelajaran yang efektif dan efisien, sebab dalam setiap proses pembelajaran guru dapat menentukan kualitas jawaban dari peserta didik. Cara mengajukan pertanyaan berpengaruh positif bagi kegiatan belajar siswa merupakana suatu hal
15
E. Mulyasa, Menjadi ..., hal. 70-92.
yang tidak mudah, oleh sebab itu seorang guru hendaknya agar memahami dan menguasai keterampilan mengajar guru dalam bertanya.
16Dalam proses belajar mengajar keterampilan bertanya memainkan peranan penting. Sebab pertanyaan yang tersusun dengan baik akan memberikan dampak positif terhadap siswa yaitu :
a. Meningkatkan partisipasi siswa dalam kegiatan belajar mengajar
b. Membangkitkan minat dan rasa ingin tahu siswa terhadap suatu masalah yang sedang dihadapi atau dibicarakan
c. Mengembangkan pola dan cara belajar aktif dari siswa itu sendiri
d. Menuntut proses berfikir siswa sebab pertanyaan yang baik akan membantu siswa dapat menentukan jawaban yang baik
e. Memusatkan perhatian siswa terhadap masalah yang sedang dibahas oleh guru.
Keterampilan dan kelancaran bertanya dari calon guru maupun dari guru perlu dilatih dan ditingkatkan baik pertanyaan maupun teknik bertanya. Adapun dasar-dasar pertanyaan yang baik yaitu:
1. Jelas dan mudah dimengerti oleh siswa
2. Berikan informasi yang cukup untuk menjawab pertanyaan 3. Difokuskan pada suatu masalah atau tugas tertentu
4. Berikan waktu yang cukup kepada anak didik untuk berfikir sebelum menjawab pertanyaan
5. Bagikanlah semua pertanyaan kepada murid secara merata 6. Berikan respons yang ramah dan menyenangkan
16
Moh. Uzer Usman, Menjadi ..., hal. 74.
7. Tuntunlah jawaban siswa sehingga mereka dapat menemukan sendiri jawaban yang benar.
17Adapun komponen-komponen yang termasuk dalam keterampilan bertanya menurut Moh. Uzer Usman yaitu :
a. Penggunaan pertanyaan secara jelas dan singkat
Pertanyaan guru harus diungkapkan secara jelas dan singkat dan menggunakan kata-kata yang mudah dipahami oleh siswa sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.
18b. Pemberian acuan
Sebelum memberi pertanyaan guru perlu memberikan acuan yang berupa pertanyaan yang berisi informasi yang relevan dengan jawaban yang diharapkan oleh siswa.
c. Pemindahan giliran
Satu pertanyaan yang harus dijawab oleh siswa atau lebih dari seorang siswa karena jawaban siswa yang kurang tepat.
d. Penyebaran
Untuk melibatkan siswa sebanyak-banyaknya pada saat proses pembelajaran, guru menyebarkan pertanyaan secara acak.
e. Pemberian waktu berfikir
Setelah mengajukan pertanyaan kepada seluruh siswa, guru memberi waktu beberapa menit untuk berfikir dan menjawab pertanyaan dengan benar sebelum guru menunjuk siswa yang lain.
17
Ibid, hal. 75.
18
Ibid, hal. 78.
f. Pemberian tuntunan
Jika siswa menjawab pertanyaan dengan jawaban yang salah atau tidak dapat menjawab pertanyaan, guru hendaknya memberi tuntutan kepada siswa agar dapat menemukan sendiri jawaban yang benar dan tepat.
Keterampilan bertanya sangat perlu dikuasi guru untuk menciptakan pembelajaran yang efektif sebab itu guru di tuntut untuk memberi pertanyaan.
Adapun menurut E. Mulyasa, komponen-komponen dalam keterampilan bertanya yaitu :
a. Pertanyaan yang jelas dan singkat b. Memberi acuan
c. Memusatkan perhatian
d. Memberi giliran dan menyebarkan pertanyaan e. Pemberian kesempatan berfikir
f. Pemberian tuntunan.
19b) Keterampilan Memberi Penguatan
Penguatan (reinforcement) adalah segala bentuk respons yang bersifat verbal dan non verbal yang merupakan bagian dari modifikasi tingkah laku guru terhadap tingkah laku siswa yang bertujuan untuk memberikan informasi atau umpan balik (feedback) bagi si penerima (siswa) atas perbuatan sebagai suatu tindak dorongan.
20Pemberian penguatan kepada peserta didik pada proses pembelajaran sangat penting, karena dengan pemberian penguatan diharapkan dapat membuat
19
E. Mulyasa, Menjadi ..., hal. 77.
20
Moh. Uzer Usman, Menjadi ..., hal. 80-81.
peserta didik makin semangat untuk belajar dan mendorong munculnya respon positif. Adapun tujuan pemberian penguatan yaitu:
a. Meningkatkan perhatian siswa terhadap pelajaran b. Merangsang dan meningkatkan motivasi belajar
c. Meningkatkan kegiatan belajar dan membina tingkah laku siswa yang produktif.
21Adapun komponen-komponen yang termasuk dalam keterampilan memberi penguatan menurut Moh. Uzer Usman yaitu :
a. Penguatan verbal: Biasanya diungkapkan atau diutarakan dengan menggunakan kata-kata pujian, penghargaan, persetujuan, dan sebagainya, misalnya bagus, bagus sekali, pintar, ya seratus buat kamu.
b. Penguatan nonverbal
1) Penguatan gerak isyarat: misalnya anggukan atau gelengkan kepala, senyuman, kerut kening, acungan jempol, wajah mendung, wajah cerah, sorok mata yang sejuk atau tajam memandang
2) Penguatan pendekatan guru mendekati siswa untuk menyatakan perhatian dan kesenangannya terhadap pelajaran, tingkah laku atau penampilan siswa. Misalnya guru berdiri disampingnya atau berjalan mendekati siswa atau duduk bersama sekelompok siswa. Penguatan ini berfungsi menambah penguatann verbal
3) Penguatan dengan sentuhan (contact): guru dapat menyatakan persetujuan dan penghargaan terhadap usaha dan penampilan siswa
21
Ibid, hal. 81..
dengan cara menepuk-nepuk bahu atau pundak siswa, berjabat tangan, mengangkat tangan siswa yang menang dalam pertandingan.
4) Penguatan dengan kegiatan yang menyenangkan: guru dapat menggunakan berbagai kegiatan atau tugas yang disenangi siswa.
5) Penguatan berupa simbol atau benda: penguatan ini dilakukan dengan cara menggunakan simbol berupa benda seperti kartu bergambar, bintang plastik atau komentar tertulis pada buku siswa, hal ini tidak diperkenankan digunakan sering-sering bisa menjadi kebiasaan.
6) Jika siswa memberikan jawaban yang hanya sebagian saja yang benar guru hendaknya tidak langsung menyalahkan siswa. Guru sebaiknya menggunakan atau memberikan penguatan tak sepenuhnya.
22Sedangkan menurut Syaiful Bahri Djarmarah dalam pemberian penguatan diperlukan pengunaan komponen-komponnen keterampilan pemberian penguatan yaitu:
a. Penguatan verbal
Pujian dan dorongan yang diucapkan oleh guru untuk respon atau tingkah laku siswa. Ucapan tersebut dapat berupa kata-kata; bagus, baik, betul, benar, tepat dan lainnya. Misalnya hasil pekerjaanmu baik sekali atau sesuai
22
Ibid, hal. 81-82.
b. Penguatan gestural
Pemberian penguatan gestural sangat erat sekali dengan pemberian penguatan verbal. Ucapan atau komentar yang diberikan guru terhadap respon, tingkah laku, pikiran siswa dapat dilakukan dengan mimik yang cerah, dengan senyuman, mengangguk, acungan jempol, tepuk tangan dan lainnya. Dalam hal ini guru dapat mengembangkan sendiri sesuai dengan kebiasaan yang berlaku sehingga dapat memperbaiki interaksi siswa dan guru.
23c. Penguatan kegiatan
Guru menggunakan suatu kegiatan atau tugas sehingga siswa dapat memilih sebagai suatu hadiah atas suatu pekerjaan atau penampilan sebelumnya.
d. Penguatan mendekati
Perhatian guru kepada siswa, menunjukkan bahwa guru tertarik, dapat dikatakan penguatan mendekati siswa secara fisik dipergunakan untuk memperkuat penguatan verbal, penguatan tanda dan penguatan sentuhan
e. Penguatan sentuhan
Penguatan sentuhan merupakan penguatan yang terjadi bila guru menyentuh siswa, misalnya menepuk bahu, berjabat tangan, merangkul, menaikkan tangan semuanya ditujukan untuk penghargaan penampilan tingkah laku atau kerja siswa.
2423
Syaiful Bahri Djarmarah, Guru dan Anak Didik ..., hal. 121.
24
Ibid, hal. 81-82.
f. Penguatan tanda
Penguatan tanda berbentuk tulisan, misalnya komentar tertulis terhadap pekerjaan siswa tanda penghargaan dan lain-lain.
c) Keterampilan Mengadakan Variasi
Keterampilan menggunakan variasi atau variasi stimulus adalah suatu kegiatan guru dalam konteks proses interaksi belajar mengajar yang ditujukan untuk mengatasi kebosanan murid sehingga, dalam situasi belajar mengajar murid senantiasa menunjukkan ketekunan, antusiasme, serta penuh partisipasi. Untuk itu seorang guru maupun calon guru perlu melatih diri untuk menguasi hal tersebut.
Menurut Zainal Asri mengadakan variasi atau variasi stimulus ialah suatu kegiatan guru dalam konteks proses interaksi pembelajaran yang ditunjukkan untuk mengatasi kebosanan peserta didik, sehingga dalam proses pembelajaran senantiasa menunjukkan ketekunan dan penuh partisipasi, inti tujuan adalah menumbuh kembangkan perhatian dan minat peserta didik agar belajar lebih baik.
25Terdapat beberapa komponen-komponen keterampilan mengadakan variasi dalam pembelajaran menurut Moh. Uzer Usman yaitu:
a. Variasi cara mengajar guru
1) Penggunaan variasi suara (teacher vidio): variasi suara adalah perubahan suara dari keras menjadi lembut, dari tinggi menjadi rendah, dari cepat menjadi lambat, dari gembira menjadi sedih, atau pada suatu saat memberikan tekanan pada kata-kata tertentu
25
Zainal Asril, Micro ..., hal. 86.
2) Pemusatan perhatian siswa (focusing): memusatkan perhatian siswa pada hal-hal yang dianggap penting dapat dilakukan oleh guru, misalnya dengan perkataan “perhatikan baik-baik” atau “nah ini penting sekali” dan lain-lain.
263) Kesenyapan atau kebisuan guru (teacher silence): adanya kesenyapan, kebisuan, atau diam yang tiba-tiba disengaja ketika guru menerangkan sesuatu, merupakan alat yang baik untuk menarik perhatian siswa. Perubahan dari adanya suara menjadi tidak ada suara akan menjadi stimulus untuk menimbulkan perhatian siswa kepada guru.
4) Mengadakan kontak pandang dan gerak (eye contact an movement):
Bila guru sedang berbicara atau berinteraksi dengan siswa, sebaiknya pandangannya keseluruh kelas dan melihat ke mata murid-muridnya untuk menunjukkann rasa perhatian kepada siswa dan untuk mengetahui perhatian maupun pemahaman siswa.
5) Gerakan badan mimik: variasi dalam ekspresi wajah guru, gerakan kepala dan gerakan badan adalah aspek yang sangat penting dalam berkomunikasi. Gunanya untuk menarik perhatian siswa dan untuk menyampaikan arti dari pesan lisan yang dimaksudkan. Ekspresi wajah misalnya tersenyum, mengerutkan dahi, cemberut, menaikkan alis mata, untuk menunjukkan rasa kagum atau heran. Jari dapat digunakan untuk menunjukkan ukuran, jarak arah ataupun menjentik untuk menarik perhatian. Menggoyangkan tangan dapat berarti tidak.
26
Moh. Uzer Usman, Menjadi ..., hal. 85-87.
6) Pergantian posisi guru di dalam kelas dan gerak guru (teachers movement): pergantian posisi guru di dalam kelas dapat digunakan
untuk mempertahankan perhatian siswa. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan: Biasakan bergerak bebas saat berada didalam kelas, jangan membiasakan menerangkan sambil menulis menghadap ke papan tulis, jangan membiasakan menerangkan dengan arah pandangan ke langit-langit, keluar, tetapi arahkan keseluruh kelas
b. Variasi dalam penggunaan media dan alat pengajaran
Media dan alat pengajaran dapat digolongkan menjadi tiga bagian yakni dapat di dengar, dilihat dan diraba.
c. Variasi pola interaksi dan kegiatan siswa
Pola interaksi guru dan murid dalam kegiatan belajar mengajar sangat beraneka ragam coraknya, mulai dari kegiatan yang didominasi oleh guru sampai kegiatan sendiri yang dilakukan siswa. Penggunaan variasi pada pola interaksi yang dimaksudkan agar tidak ada menimbulkan kebosanan pada murid serta dapat menghidupkan suasana kelas guna mencapai keberhasilan siswa.
27d) Keterampilan Menjelaskan
Keterampilan menjelaskan dalam pengajaran yang dimaksud disini ialah penyajian informasi secara lisan yang diorganisasi secara sistematik untuk menunjukkan adanya hubungan yang satu dengan yang lainnya. Menjelaskan merupakan suatu aspek penting yang harus dimiliki guru. Penyampaian informasi
27
Ibid, hal. 89.
yang terencana dengan baik dan disajikan dengan urutan yang cocok merupakan ciri utama kegiatan menjelaskan. Pemberian penjelasan merupakan salah satu askpek yang sangat penting dari kegiatan guru dalam interaksi dengan siswa didalam kelas.
28Menurut E. Mulyasa menjelaskan adalah mendeskripsikan secara lisan tentang suatu benda, keadaan, fakta dan data sesuai dengan waktu dan hukum- hukum yang berlaku.
29Adapun tujuan dalam keterampilan memberikan penjelasan menurut Moh.
Uzer Usman ialah :
1. Membimbing siswa untuk memahami fakta, dan prinsip onjektif dan bernalar
2. Melibatkan siswa untuk berfikir dengan memecahkan masalah atau pertanyaan.
3. Untuk mendapatkan balikan dari siswa mengenai tingkat pemahaman dan mengatasi kesalahan mereka.
4. Membimbing siswa untuk menghayati dan mendapat proses penalaran dan menggunakan bukti-bukti dalam memecahkan masalah.
Agar tujuan tersebut dapat tercapai dengan baik maka komponen- komponen dalam keterampilan menjelaskan harus dapat dipahami. Berikut keterampilan mejelaskan menurut Moh. Uzer Usman yaitu:
28
Ibid, hal. 90-91.
29
E. Mulyasa, Menjadi ..., hal. 80.
a. Merencanakan
Dalam memberikan penjelasan yang diberikan oleh guru perlu direncanakan dengan baik terutama yang berkenaan dengan isi pesan (materi) dan penerimaan pesan (siswa). Mengenai yang berhubungan dengan penerimaan pesan hendaknya diperhatikan perbedaan pada setiap anak yang akan menerima pesan seperti usia, jenis kelamin, kemampuan, latar belakang sosial, bakat, minat serta lingkungan belajar anak.
b. Penyajian suatu penjelasan
Penyajian suau penjelasan dapat ditingkatkan hasilnya dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1) Kejelasan: penjelasan hendaknya diberikan dengan menggunakan bahasa yang mudah dimengerti oleh siswa, menghindari penggunaan ucapan seperti “e”, “aa”, “mm”, “kira-kira”, “umumnya”, “biasanya”
dan istilah-istilah yang tidak dapat dimengerti oleh siswa.
2) Penggunaan contoh dan ilustrasi: dalam memberikan penjelasan sebaiknya guru menggunakan contoh-contoh yang ada hubungannya dengan sesuatu yang dapat ditemui oleh siswa dalam kehidupan sehari-hari.
3) Pemberian tekanan: dalam memberikan penjelasan guru harus memusatkan perhatian siswa pada masalah pokok dan mengurangi informasi yang tidak begitu penting. Dalam hal ini guru dapat menggunakan tanda isyarat lisan sepertii “yang terpenting adalah”,
“perhatikan baik-baik konsep ini”.
4) Penggunaan balikan: guru hendaknya memberi kesempatan kepada siswa untuk menunjukan pemahaman, keraguan atau tidak mengerti ketika penjelasan diberi guru. Hal ini dapat dilakukan dengan mengajukan pertanyaan seperti “apakah kalian mengerti dengan penjelasan tadi”, “apakah penjelasan tadi bermakna bagi kalian”, dan sebagainya.
e) Keterampilan Membuka dan Menutup Pelajaran
Set induction usaha atau kegiatan yang dilakukan oleh guru dalam
kegiatan belajar mengajar untuk menciptakan kondisi bagi siswa agar mental maupun perhatian terpusat pada apa yang akan dipelajari. Kegiatan membuka pelajaran tidak hanya dilakukan pada guru diawal jam pelajaran, tetapi juga pada awal setiap penggal kegiatan inti pelajaran yang diberikan selama jam pelajaran.
Tujuan pokok siasat membuka pembelajaran adalah kesiapan mental siswa agar siap memasuki persoalan yang akan dipelajari.
30Adapun siasat menutup pelajaran (clossure) ialah kegiatan yang dilakukan oleh guru untuk mengakhiri pelajaran atau kegiatan belajar mengajar. Bentuk usaha guru dalam mengakhiri kegiatan belajar mengajar ialah merangkum atau membuat garis-garis besar pada persoalan atau pelajaran yang baru dibahas, mengkondisikan perhatian siswa terhadap hal-hal pokok dalam pelajaran yang bersangkutan agar informasi yang diterima dapat dikembangkan lagi dan memberikan tindak lanjut atau saran yang sudah dipelajari.
30
Moh. Uzer Usman, Menjadi ..., hal. 91.
Menurut Zainal Asril Keterampilan membuka pelajaran merupakan kunci dari seluruh proses pembelajaran yang harus dilalui. Kegiatan membuka pelajaran tidak hanya dilakukan oleh guru pada awal pelajaran tetapi pada setiap kegiatan inti pelajaran dapat dilakukan dengan dengan mengemukakan tujuan yang akan dicapai.
31Sedangkan keterampilan menutup pelajaran (clossure) yaitu kegiatan yang dilakukan oleh guru dalam mengakhiri pelajaran dengan mengemukakan kembali pokok-pokok pelajaran.
Adapun komponen-komponen keterampilan membuka dan menutup pelajaran menurut Moh.Uzer Usman yaitu:
a. Membuka pelajaran
Komponen keterampilan membuka pelajaran meliputi:
1) Menarik perhatian siswa: gaya mengajar guru, penggunaan alat bantu pelajaran dan pola interaksi
2) Menimbulkan motivasi dengan cara: disertai kehangatan dan keantusiasan, menimbulkan rasa ingin tahu, mengemukakan ide, dan memperhatikan minat siswa.
3) Memberi acuan melalui berbagai cara seperti: mengemukakan tujuan dan batas-batas tugas, menyarankan langkah-langkah yang akan dilakukan, mengingatkan masalah pokok yang akan dibahas, dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan.
4) Membuat kaitan atau hubungan tentang materi yang akan dipelajari dengan pengalaman dan pengetahuan yang telah dikuasi siswa.
3231
Zainal Asril, Micro ..., hal. 70-71.
32
Ibid, hal. 92.
b. Menutup pelajaran
1) Meninjau kembali penguasaan inti pelajaran dengan merangkum inti pelajaran dan membuat ringkasan.
2) Mengevaluasi dalam bentuk evaluasi yang dapat dilakukan guru antaralain: mendemonstrasikan keterampilan, mengapliksikan ide baru pada situasi lain, mengekplorasi pendapat siswa sendiri dan memberikan soal-soal tertulis.
f) Keterampilan Membimbing Diskusi Kelompok Kecil
Keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil ialah merupakan suatu proses yang teratur yang melibatkan sekelompok orang dalam interaksi tatap muka secara kooperatif yang bertujuan membagi informasi, membuat keputusan dan memecahkan masalah. Dalam kata lain keterampilan kelompok kecil merupakan kemampuan guru dalam membimbing diskusi kelompok agar siswa lebih aktif dan saling bertukar informasi atau pengalaman untuk memecahkan masalah.
33Menurut Zainal Asril keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil ialah peserta didik berdiskusi dalam kelompok-kelompok kecil dibawah pembinaan guru dan temannya untuk berbagai informasi pemecahan masalah atau pengambilan keputusan dilaksanakan dalam suasana terbuka.
34Adapun empat karakteristik diskusi kelompok kecil menurut Moh.Uzer Usman yaitu:
1. Melibatkan setiap individu
33
Zainal Asril, Micro ..., hal. 93.
34