273
Jurnal Ilmiah Administrasi Publik (JIAP)
U R L : h t t p s : / / j i a p . u b . a c . i d / i n d e x . p h p / j i a p
Hubungan Otonomi Daerah dan Kesejahteraan Orang Indonesia
Muhmmad Azka Nurul Fajri
a a
Lembaga Administrasi Negara (LAN), Jakarta, Indonesia
1. Pendahuluan
Bergulirnya reformasi Tahun 1998 dan sejak diberlakukannya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang pemerintahan daerah, menandai Indonesia memasuki babak baru pemerintahan dengan pergantian pemerintahan yang sentralistik menjadi pemerintahan yang terdesentralisasi. Menurut Bank Dunia, kebijakan
———
Corresponding author. Tel.: +62-; e-mail: [email protected]
desentralisasi telah menjadi reformasi pembangunan utama dinegara-negara berkembang untuk mempromosikan kesejahteraan dan kesejahteraan warga negara, termasuk di Indonesia. Kebijakan desentralisasi tersebut kemudian diejawantahkan dalam bentuk otonomi daerah dengan pemberian hak dan kewenangan kepada pemerintah daerah untuk melakukan pengaturan dan pengurusan sendiri baik yang terkait urusan I N F O R M A S I A R T IK E L A B S T R A C T
Article history:
Article history:
Dikirim tanggal: 11 Desember 2020 Revisi pertama tanggal: 17 Juni 2021 Diterima tanggal: 01 Agustus 2021 Tersedia online tanggal: 20 Agustus 2021
In approximately two decades of the implementation of the policies of regional autonomy in Indonesia, there are still debates on whether well-being for Indonesian people is created. The debates revolve around the theoretical and empirical gaps between the field and actual policy implementation. This research examines the relationship between regional autonomy and the Indonesian people well-being. A multilevel analysis method was used to test whether regional autonomy significantly relates to the Indonesian people well-being. The statistical data on regional autonomy were obtained from related Ministries and Institutions. Furthermore, the data on well-being were sourced from the 2017 Happiness Level Measurement Survey (SPTK) in the Central Statistics Agency. The results show that regional autonomy is not significantly related to the Indonesian people well-being.
INTISARI
Selama kurang lebih dua dasawarsa kebijakan otonomi daerah diimplementasikan di Indonesia, masih banyak perdebatan yang terjadi terkait apakah kebijakan otonomi daerah mampu menciptakan kesejahteraan bagi orang Indonesia atau tidak, baik perdebatan secara teoritis (theoretical gap) maupun perbedaan antara implementasi di lapangan dengan apa yang seharusnya (empirical gap).
Berdasarkan hal tersebut, tujuan penelitian ini adalah untuk menelaah hubungan antara otonomi daerah dan kesejahteraan orang Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode analisis multilevel untuk menguji hipotesis apakah otonomi daerah berhubungan signifikan dengan kesejahteraan orang Indonesia atau tidak.
Data otonomi daerah menggunakan data statistik dari Kementerian/Lembaga terkait, sedangkan data kesejahteraan menggunakan Survei Pengukuran Tingkat Kebahagiaan (SPTK) dari Badan Pusat Statistik Tahun 2017. Hasil analisis menunjukkan bahwa otonomi daerah tidak mempunyai hubungan signifikan dengan kesejahteraan orang Indonesia.
2021 FIA UB. All rights reserved.
Keywords: regional autonomy, well-being, Indonesia
JIAP Vol 7, No 2, pp 273-289, 2021
© 2021 FIA UB. All right reserved
ISSN 2302-2698
e-ISSN 2503-2887
274 pemerintahan maupun kepentingan masyarakatnya.
Melalui otonomi daerah tersebut, pemerintah kabupaten/
kota memiliki keleluasaan dan wewenang yang lebih besar untuk memberikan layanan publik kepada masyarakatnya karena sebagian besar tanggung jawab untuk mengelolanya telah diserahkan kepada pemerintah kabupaten/ kota. Hal ini telah didukung oleh transfer keuangan yang substansial, sekitar 30% dari total pengeluaran nasional telah dipindahkan ke kabupaten/
kota membuat DPRD kabupaten/ kota lebih mandiri untuk memulai kebijakan untuk memenuhi permintaan warga setempat (Sujarwoto & Tampubolon, 2015).
Menurut Barzley, pemberian otonomi kepada daerah bertujuan agar manajemen sumber daya daerah lebih efektif dan efisien, meningkatkan kualitas layanan publik dan kesejahteraan masyarakat, serta untuk memberdayakan dan menciptakan ruang bagi masyarakat untuk berpartisipasi dalam proses pembangunan (Priyono et al., 2020). Melalui otonomi daerah, pemerintah daerah akan lebih banyak memainkan peranannya dalam pembangunan karena mereka memiliki keleluasaan, otoritas dan tanggung jawab dalam rangka mengembangkan dan memberdayakan masyarakat diwilayah yurisdiksinya.
Otonomi daerah dapat membuat layanan dan kegiatan pembangunan yang responsif sesuai dengan keinginan dan inisiatif lokal, memfasilitasi pelaksanaan pemerintahan mandiri yang demokratis yang dekat dengan akar rumput masyarakat, mendorong inisiatif dan potensi kepemimpinan, mobilisasi sumber daya manusia melalui keterlibatan anggota masyarakat dalam pembangunan daerah mereka, dan menyediakan saluran komunikasi dua arah antara masyarakat lokal dan pemerintah (Anyebe, 2017).
Pemberian otonomi kepada daerah dilakukan berdasarkan pertimbangan bahwa daerah dinilai lebih mengetahui mengenai apa yang dibutuhkan oleh warga masyarakatnya sehingga kebijakan dan pembangunan yang dilakukan dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan tuntutan dari warga masyarakatnya sehingga pengalokasian sumber daya dapat dilakukan dengan lebih efektif dan efisien dalam rangka mengakomodir kebutuhan masyarakat (Tasrin, 2012).
Dalam implementasinya, masih terdapat beberapa permasalahan mendasar seperti lemahnya kapasitas dan kapabilitas pemerintah daerah dalam pengelolaan elemen-elemen inti desentralisasi dan otonomi daerah, prinsip money follow function belum berjalan secara optimal khususnya yang terkait dengan desentralisasi fiskal, masih adanya tumpang tindih urusan maupun perebutan urusan strategis antar level dalam pemerintahan, dan lemahnya kewenangan pemerintah daerah untuk menentukan kebijakan karena yang lebih menonjol adalah kewenangan pemerintah daerah dalam urusan administrasi/ mengurus, sehingga yang terjadi
bukan pelimpahan urusan, melainkan pembebanan tugas kepada pemerintah daerah (Jaweng, 2015). Lemahnya kewenangan pemerintah daerah tersebut misalnya dalam hal kapasitas perpajakan dan keputusan belanja pemerintah daerah (Nasution, 2017).
Selama kurang lebih dua dasawarsa kebijakan otonomi daerah diimplementasikan, masih banyak problematika yang dihadapi antara lain hubungan pemerintah pusat yang belum sepenuhnya harmonis dengan pemerintah daerah, masih lemahnya koordinasi, kontrol dan bimbingan antarlevel pemerintahan, tingkat ketergantungan daerah terhadap dana perimbangan baik Dana Alokasi Umum maupun Dana Alokasi Khusus serta masalah pengelolaannya, kurang harmonisnya hubungan antara kepala daerah dan DPRD, kerjasama antardaerah yang yang tidak memperhatikan manfaat bagi pembangunan daerah, kurangnya komitmen dan ketidakkonsistenan dalam menjalankan peraturan, persepsi sepihak daerah tentang kewenangannya yang membuat menonjolnya isu kedaerahan dan keindonesiaan kurang berimbang, pengelolaan hubungan kewenangan daerah dan antardaerah yang rumit, dan kerjasama elite dan pengusaha dalam melakukan eksploitasi sumber daya alam daerah untuk mencari keuntungan pribadi dengan tidak mempedulikan dampak negatifnya terhadap masyarakat (Zuhro, 2016).
Berdasarkan aspek regulasi, dengan diterbitkannya paket Undang-Undang Pemerintah Daerah Tahun 2004 dan Undang-Undang Pemerintah Daerah Tahun 2014, menunjukkan bahwa pendulum justru mengarah kembali ketitik sentralisasi (Rahmatunnisa, 2015; Sanjaya, 2015), sebagian urusan yang seharusnya telah diserahkan kepada daerah justru masih ditahan oleh pusat seperti pertanahan, administrasi kependudukan, dan bentuk- bentuk resentralisasi parsial pada urusan lainnya (Jaweng, 2015).
Permasalahan lain setelah digulirkannya kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah justru muncul dinasti politik diberbagai daerah yang ditandai dengan munculnya elit-elit lokal yang berusaha untuk menguasai daerah tersebut, sehingga desentralisasi dan otonomi daerah hanya menguntungkan elite-elite lokal tersebut (Effendi, 2018; Simanjuntak, 2015). Pemilihan kepala daerah secara langsung justru seperti pedang bermata dua karena selain sisi positifnya terdapat sisi negatif yang mengikuti seperti akuntabilitas yang tidak lengkap dan munculnya raja-raja kecil yang tidak tanggap dengan aspirasi dan kebutuhan masyarakat setempat (Rudy et al., 2017).
Selain itu desentralisasi, yang diimplementasikan dengan otonomi daerah juga cenderung menciptakan distribusi peluang terjadinya korupsi (Alfada, 2019;
Fatoni, 2020; Haryanto & Astuti S.A., 2017;
Simanjuntak, 2015; Suprayitno & Pradiptyo, 2017), dan
tujuan kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah
275 dalam rangka untuk meningkatkan pelayanan publik dan demokratisasi di tingkat lokal, ternyata tidak sesuai dengan fakta yang terjadi (Haryanto, 2016).
Perbedaan atau gap baik secara teoritis maupun secara empiris seperti yang telah disebutkan diatas menjadikan penelitian mengenai hubungan antara otonomi daerah dan kesejahteraan warga ini masih relevan untuk dilakukan. Penelitian ini tertarik untuk menjawab pertanyaan “Apakah kebijakan otonomi daerah berhubungan signifikan dengan peningkatan kesejahteraan warga di Indonesia?” dan untuk membuktikan hipotesis bahwa makin baik penyelenggaraan otonomi daerah disuatu kabupaten/
kota, maka akan semakin sejahtera warga pada kabupaten/ kota tersebut.
2. Teori
Dalam negara kesejahteraan, peran negara sangat penting dalam mewujudkan kesejahteraan warga negara/
rakyat. Peran negara tidak bisa dipisahkan dengan welfare state karena negara yang berperan dalam mengelola perekonomian yang yang di dalamnya mencakup tanggung jawab negara untuk menjamin ketersediaan pelayanan kesejahteraan dasar dalam tingkat tertentu. Welfare state tidak menolak keberadaan sistem ekonomi pasar kapitalis tetapi meyakini bahwa ada elemen-elemen dalam tatanan masyarakat yang lebih penting dari tujuan-tujuan pasar dan hanya dapat dicapai dengan mengendalikan dan membatasi bekerjanya mekanisme pasar tersebut (Roselina, 2017).
Terkait peran pemerintah dalam mewujudkan kesejahteraan warga, pemerintah adalah aktor kunci yang dapat menentukan kesejahteraan warga karena mereka memiliki instrumen seperti institusi, sumber daya, dan kebijakan publik yang dapat mempengaruhi kesejahteraan masyarakat. Mereka memiliki kemampuan untuk memobilisasi sumber daya, mengimplementasikan kebijakan, dan membangun institusi, yang semuanya dapat mempengaruhi kualitas hidup dan kesejahteraan warganya (Kim & Kim, 2012), dalam hal ini terutama kebijakan-kebijakan sosial yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Studi membuktikan bahwa negara dengan kebijakan negara kesejahteraan, yang salah satunya dengan pengeluaran pemerintah untuk program-program sosial menunjukkan level kepuasan hidup (life satisfaction) warganya yang lebih tinggi (O’Connor, 2017).
Salah satu kebijakan pemerintah dalam rangka mewujudkan kesejahteraan warga adalah melalui kebijakan desentralisasi. Desentralisasi didefinisikan sebagai transfer wewenang, tanggung jawab, dan sumber daya melalui dekonsentrasi, delegasi, atau devolusi dari pemerintah pusat ke tingkat administrasi yang lebih rendah (G. S. C. & D. A. Rondinelli, 2007). Sejalan dengan Rondinelli, Morozov menyatakan bahwa
desentralisasi adalah pengalihan oleh pemerintah pusat kepada pemerintah daerah (negara bagian, daerah, kota) terkait fungsi-fungsi khusus dengan otoritas administratif dan sumber pendapatan untuk melakukan fungsi-fungsi tersebut, desentralisasi tidak hanya penyerahan kewenangan dan fungsi pemerintahan dari pusat ke daerah tetapi diikuti juga oleh penyerahan sumber pendapatan dalam rangka melaksanakan fungsi-fungsi yang diserahkan tersebut (Morozov, 2016).
Untuk dapat mengimplementasikan penyerahan urusan, fungsi, kewenangan dan tanggung jawab dari pemerintah pusat tersebut, pemerintah daerah diberikan otonomi untuk mengatur urusan pemerintahannya sendiri sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Secara etimologis, istilah otonomi berasal dari kata “auto” yang artinya merdeka, dan “nomos” yang diterjemahkan dengan undang-undang. Berawal dari pemaknaan linguistik ini, maka otonomi dapat diartikan sebagai kebebasan untuk memerintah menurut aturannya sendiri atau dengan kata lain hak atas pemerintahan sendiri.
Otonomi daerah memberi kewenangan yang cukup kepada otoritas administrasi publik daerah untuk bertindak dalam mengelola urusan publik lokal, sekaligus melepaskan otoritas pusat dari masalah yang terkait erat dengan masyarakat lokal, dan menyerahkan tugas penyelesaiannya kepada otoritas lokal (Zaharia &
Bilouseac, 2009).
Otonomi daerah secara konseptual berarti sistem pemerintahan lokal dimana unit-unit pemerintah daerah memiliki peran penting dalam perekonomian dan sistem antar pemerintah, memiliki keleluasaan dalam menentukan apa yang akan mereka lakukan tanpa kendala yang tidak semestinya dari tingkat pemerintahan yang lebih tinggi, dan memiliki sarana atau kapasitas untuk melakukannya (Wolman et al., 2009).
Negara kesejahteraan akan lebih efektif diselenggarakan dalam pemerintahan yang terdesentralisasi, yang didalamnya terdapat hak otonomi yang diberikan kepada daerah untuk mengurus dan mengatur sendiri urusannya. Seller & Lidstrom mengemukakan dua alasan penting tentang desentralisasi welfare state. Pertama, dengan penguatan pemerintah lokal, kebijakan dan tindakan pemerintah lokal menjadi lebih efektif, utamanya dalam pelayanan publik universal, yang mencakup sekolah, perumahan, lingkungan, atau pekerjaan. Kedua, dengan penguatan pemerintah lokal keterlibatan masyarakat sipil akan lebih besar dalam proses politik lokal dan pemerintah pusat akan lebih memiliki alasan kuat untuk mempercayakan elemen-elemen administrasi pusat welfare state kepada pemerintahan lokal, dalam urusan kebijakan dan tindakan yang egalitarian (Egerod & Larsen, 2020).
Tiebout & Musgrave memberikan justifikasi teoritis
mengenai alasan mengapa pemerintah pusat harus
melakukan desentralisasi kepemerintah daerah, dalam
276 bentuk pemberian hak otonomi kepada daerah. Justifikasi tersebut adalah kedekatan pemerintah daerah dengan masyarakat lokal dibandingkan dengan pemerintah pusat.
Pemerintah daerah berada pada posisi terbaik untuk mengakses informasi langsung tentang kebutuhan unik masyarakat setempat (Dauti, 2017), sehingga pemerintah dapat responsif terhadap permintaan dan aspirasi warganya sehingga kebijakan yang diambil dapat disesuaikan dengan preferensi dan kebutuhan warga masyarakat (Karmel, 2017).
Para pendukung desentralisasi seperti Bardhan &
Mookherjee serta Oates berpendapat bahwa pergeseran dari pemerintahan yang terpusat ke desentralisasi dalam bentuk otonomi daerah akan menghasilkan keterlibatan masyarakat yang lebih besar dalam pengambilan keputusan lokal (Sujarwoto & Tampubolon, 2015).
Masyarakat sebagai penerima layanan juga dapat mengevaluasi biaya dan kebutuhan program dan proyek lokal secara lebih efektif, dan mereka dapat langsung memantau pelaksanaannya (Karmel, 2017), sehingga hal ini dapat meningkatkan transparansi dan akuntabilitas dalam penyelenggaraan pemerintahan. Selain itu masyarakat akan lebih mudah menyuarakan pendapat dan aspirasinya termasuk dapat memberikan kritik, saran dan keluhan ketika pelayanan publik yang diberikan tidak sesuai dengan yang mereka harapkan.
Potensi peningkatan keluhan publik ini pada gilirannya memberikan motivasi kepada pegawai pemerintah untuk mengarahkan perilaku mereka ke arah melakukan pekerjaan mereka dengan baik. Semua ini berkontribusi pada pemerintah daerah yang lebih akuntabel dan responsif, dengan peningkatan kepuasan warga yang hasilnya tercermin dalam tingkat kebahagiaan dan kesejahteraan warga yang lebih tinggi (Sujarwoto & Tampubolon, 2015).
Beberapa penelitian mengenai hubungan otonomi daerah dan kesejahteraan juga telah dilakukan sebelumnya, misalnya penelitian dari Badrudin & Siregar yang berjudul “The evaluation of the implementation of regional autonomy in Indonesia” yang salah satu temuannya adalah otonomi daerah mempunyai pengaruh signifikan terhadap kesejahteraan masyarakat (Siregar &
Badrudin, 2015). Selain itu terdapat penelitian dari Iryanti, Pangkey, & Londa mengenai dampak otonomi khusus terhadap kesejahteraan, yang hasil temuannya bahwa otonomi khusus berpengaruh signifikan terhadap kesejahteraan masyarakat (Iryanti, Pangkey, & Londa, 2014).
Penelitian tentang hubungan otonomi daerah dan kesejahteraan juga dilakukan oleh Aminah dkk., dengan
temuannya bahwa pemekaran pemerintah daerah di Indonesia yang merupakan salah satu bentuk otonomi
daerah sebagian besar belum menciptakan kesejahteraan masyarakat. Pelaksanaan pemekaran pemerintah daerah selama 20 tahun belum mempercepat terwujudnya
kesejahteraan masyarakat. Hal ini juga belum memberikan dampak positif pada kabupaten asli atau induk (Aminah et al., 2019).
Selain itu terdapat penelitian dari (Rodríguez-Pose
& Tselios, 2018) yang menunjukkan bahwa tidak ada jaminan bahwa negara yang lebih terdesentralisasi dan daerah yang lebih otonom akan memperoleh kesejahteraan yang lebih tinggi, karena pengaruh desentralisasi dan otonomi daerah dibentuk oleh kualitas pemerintahan. Barang dan layanan publik sebagai dasar kesejahteraan dipengaruhi oleh 'siapa' yang memberikan dan 'seberapa baik' layanan tersebut disampaikan.
Penelitian ini berbeda dari penelitian-penelitian yang telah disebutkan di atas, baik dari sisi variabel, teknik analisis data, maupun cakupan penelitian.
Berdasarkan sisi variabel, variabel otonomi daerah dalam penelitian ini mencakup kemandirian finansial daerah, fungsi pemerintah daerah yang secara efektif terlibat dalam penyampaian layanan, baik melalui sumber daya keuangan sendiri yang resmi dan/ atau melalui staf sendiri, serta penyelenggaraan arena politik lokal secara bebas. Sedangkan untuk variabel kesejahteraan diukur menggunakan indikator kesejahteraan subjektif dan objektif, yang benar-benar dimiliki dan dirasakan oleh masyarakat. Sedangkan teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis multilevel modelling yang jarang ditemukan dalam penelitian sebelumnya dan cakupan penelitian ini mencakup seluruh kabupaten/ kota di Indonesia.
3. Metode Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kuantitatif. Penelitian kuantitatif bertujuan untuk mengetahui hubungan dua variabel atau lebih yang bersifat sebab akibat (kausal), menguji teori dan analisa data dengan menggunakan statistik untuk menguji hipotesis (Sugiyono, 2008). Sedangkan metode atau pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Pendekatan Analisis Data Skunder. Analisis Data Skunder merupakan suatu metode yang memanfaatkan data skunder atau data tersedia sebagai sumber data utama.
Penelitian ini memanfaatkan data Survei Pengukuran Tingkat Kebahagiaan (SPTK) Tahun 2017.
Survey dilaksanakan secara serentak di kabupaten/ kota
sebagai lokasi sampel yang tersebar pada 34 provinsi
diseluruh Indonesia. SPTK 2017 dilaksanakan pada
rentang waktu tanggal 5-30 April Tahun 2017 mengikuti
pelaksanaan Susenas 2017. Selain data tersebut,
penelitian ini juga menggunakan laporan/ database
administratif meliputi data Sistem Informasi Keuangan
Daerah (SIKD) yang dikeluarkan oleh Dirjen
Perimbangan Keuangan Daerah Kementerian Keuangan,
data hasil pemilihan umum DPRD kabupaten/ kota yang
dikeluarkan oleh KPU, data jumlah penduduk, jumlah
277 pegawai negeri sipil setiap kabupaten/ kota, dan data terkait tingkat konflik di setiap kabupaten/ kota yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik, serta data hasil Evaluasi atas penyelenggaraan Sistem Akuntabilitas dan Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) yang dikeluarkan oleh Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi.
Dalam penelitian ini terdapat dua unit analisis dimana masing-masing unit analisis memiliki populasi masing masing. Pertama, unit analisis kabupaten/ kota dengan populasi seluruh kabupaten/ kota di Indonesia dengan jumlah 514 kabupaten/ kota dan 34 provinsi.
Kedua, unit analis rumah tangga dengan populasi rumah tangga yang ada di seluruh Indonesia 89.8 juta keluarga.
Metode sampling (sampling method) yang digunakan untuk memilih sampel adalah two stage one phase sampling. Total sampel rumah tangga yang diperlukan untuk keperluan estimasi tingkat kesejahteraan di Indonesia adalah 75.000 rumah tangga di 34 provinsi.
Variabel dependen dalam penelitian ini adalah kesejahteraan. Indikator untuk mengukur kesejahteraan menggunakan indikator dari Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD, 2015) yang dikombinasikan dengan indikator dari Indeks Kebahagiaan 2017 (Badan Pusat Statistik, 2017).
Kesejahteraan akan diukur menggunakan indikator kesejahteraan subjektif dan kesejahteraan objektif.
Kesejahteraan subjektif sendiri akan diukur menggunakan beberapa sub-indikator antara lain: Status kesehatan yang dirasakan, dukungan jaringan sosial yang dirasakan, kepuasan terhadap keadaan lingkungan, kepuasan terhadap kondisi keamanan, kepuasan terhadap pendidikan dan keterampilan yang dimiliki, kepuasan terhadap pekerjaan, kepuasan terhadap pendapatan rumah tangga, kepuasan terhadap kondisi rumah, dan kepuasan hidup secara keseluruhan. Sedangkan kesejahteraan objektif akan diukur menggunakan sub- indikator Quality of Life: tingkat pendidikan tertinggi dalam rumah tangga dan keadaan materi: rata-rata penghasilan kotor rumah tangga per bulan.
Sedangkan variabel independen dalam penelitian ini adalah otonomi daerah, otonomi daerah akan diukur menggunakan indikator dari Ladner et al., (2016), yaitu sebagai berikut:
a) Financial Self-Reliance (kemandirian finansial), yaitu proporsi pendapatan pemerintah daerah berasal dari sumber sendiri/ lokal (pajak, biaya, retribusi) yang diukur menggunakan persentase Pendapatan Asli Daerah (PAD) terhadap pendapatan total pemerintah daerah baik yang bersumber dari Pendapatan Asli Daerah (PAD) maupun dari dana transfer atau dana perimbangan dari pemerintah pusat.
b) Policy Scope (ruang lingkup kebijakan) yaitu rentang fungsi (tugas) dimana pemerintah daerah berada
secara efektif terlibat dalam penyampaian layanan, baik melalui sumber daya keuangan sendiri yang resmi dan/ atau melalui staf sendiri.
Untuk sumber daya keuangan diukur menggunakan pengeluaran pemerintah daerah dalam hal ini pemerintah kabupaten/ kota untuk kepentingan atau fungsi layanan dasar yang akan dibandingkan dengan pengeluaran pemerintah daerah untuk semua fungsi secara keseluruhan.
Untuk aspek staf/ kepegawaian diukur menggunakan jumlah pegawai atau jumlah PNS yang dimiliki oleh setiap kabupaten/ kota dibandingkan dengan jumlah penduduk disetiap kabupaten/ kota, sehingga akan menghasilkan rasio satu orang PNS melayani sekian jumlah penduduk dan persentase tingkat pendidikan kepala desa/ lurah yang berpendidikan sarjana disetiap kabupaten/ kota.
c) Organizational Autonomy (otonomi organisasi), yaitu penyelenggaraan arena politik lokal secara bebas, yang diukur menggunakan penyelenggaraan pemilihan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) secara langsung yang meliputi tingkat partisipasi masyarakat yang menyalurkan aspirasi atau hak politiknya, dan tingkat kompetisi antar partai politik.
Data dalam penelitian ini dianalisis menggunakan software statistik stata. Analisis data tersebut dilakukan melalui beberapa tahap. Pertama, analisis statistik deskriptif digunakan untuk menggambarkan karakteristik variabel penelitian. Variabel penelitian akan ditampilkan dalam bentuk grafik maupun peta yang menggambarkan distribusi frekuensi masing-masing variabel penelitian.
Kedua, uji hipotesis akan menggunakan analisis multilevel modelling atau hierarchical linear modelling.
Multilevel modelling berbeda dengan regresi linear berganda atau model lainnya yang menggunakan unit analisis tunggal. Untuk memudahkan penjelasan mengenai multilevel modeling maka dijelaskan terlebih dulu formula regresi linear berganda yang pada umumnya menggunakan persamaan matematik berikut:
Y = α + β1 X2 + β2 X2 + βn Xn + e Dimana:
Y adalah variabel terikat atau respons dalam penelitian ini adalah kesejahteraan.
X adalah variabel bebas atau prediktor dalam penelitian ini adalah variabel otonomi daerah dan demokrasi.
α adalah konstanta.
β adalah slope atau koefisien estimate.
e adalah kesalahan prediksi acak.
Karena dalam model multilevel data yang digunakan
lebih dari satu tingkatan, dalam penelitian ini
menggunakan unit analisis kabupaten/kota dan rumah
tangga, maka analisis statistik yang lebih tepat bukan
regresi linear berganda tetapi multilevel model. Dalam
278 hal ini formula matematis multilevel model dapat di rumuskan sebagai berikut:
Dimana:
Yij adalah variabel terikat atau respons untuk masing- masing rumah tangga (i) di kabupaten/ kota (j), dalam penelitian ini adalah skor kesejahteraan rumah tangga
masing-masing rumah tangga (i) di kabupaten/ kota (j)
Xij adalah variabel bebas atau prediktor baik pada level rumah tangga (i) maupun kabupaten/ kota (j) , dalam penelitian ini adalah semua variabel pada level rumah tangga dan variabel kabupaten/ kota meliputi otonomi daerah dan demokrasi.
βij adalah slope yang menunjukkan besar pengaruh variabel bebas atau prediktor baik pada level rumah tangga dan kabupaten/ kota terhadap variabel terikat atau respons.
Β0j adalah intersep variabel terikat atau respons pada level kabupaten/ kota.
еij adalah kesalahan prediksi acak untuk persamaan level kabupaten/ kota.
Model multilevel merupakan teknik statistik yang telah mengalami pengembangan dari regresi klasik/
sederhana. Pengembangan tersebut didasari karena dalam penelitian diberbagai kasus seperti kasus sosial sering dijumpai perbedaan latar belakang pada responden yang diteliti yang disebabkan karena struktur yang bertingkat atau berjenjang (hierarchy) dan berkelompok (cluster).
Misalnya, kesejahteraan warga akan berbeda-beda pada setiap kabupaten/ kota karena sangat tergantung pada kebijakan publik maupun karakteristik kabupaten/ kota lainnya misalnya pertumbuhan ekonomi.
Model regresi hierarki atau multilevel memungkinkan seseorang untuk mendapatkan perkiraan yang lebih akurat dari koefisien regresi dan nilai p terkait, menghasilkan kesimpulan yang lebih valid yang diambil dari data. Model regresi tradisional tidak memungkinkan hubungan regresi untuk bervariasi diseluruh kluster, tetapi mengasumsikan bahwa model regresi seragam.
Model regresi hierarki atau multilevel adalah alat yang ampuh untuk mengungkap hubungan yang mendasari dalam data yang terstruktur secara hierarki. Model multilevel memungkinkan seseorang untuk memasukkan variabel yang diukur pada level hierarki yang berbeda. Ini menghasilkan perkiraan yang lebih akurat dari koefisien regresi dan uji statistik signifikansi, dan memungkinkan seseorang untuk menarik kesimpulan yang lebih kaya dari data (Austin et al., 2001).
4. Hasil Penelitian dan Pembahasan 4.1 Deskripsi Variabel Penelitian
Sebagai gambaran umum mengenai variabel penelitian dapat digambarkan dalam tabel 1 sebagai berikut:
Tabel 1 Deskripsi Umum Variabel Penelitian Variabel Rata-
rata
Standar Deviasi
Mini mal
Maksi mal Kesejahteraan
Subjektif 7.18 1.01 1.36 10.00
Kesejahteraan
Objektif1 2.53 1.39 1.00 5.00
Kesejahteraan
Objektif2 2.52 1.65 0.00 5.00
Rasio total pengeluaran untuk layanan dasar terhadap pengeluaran total Pemerintah Daerah
0.90 0.01 0.88 0.94
Rasio Pendapatan Asli Daerah Terhadap Total Pendapatan Daerah
0.12 0.09 0.03 0.69
Rasio Jumlah PNS Pemerintah Kabupaten/Kota Terhadap Jumlah Penduduk
75.14 33.79 24.78 169.87
Tingkat Pendidikan Kepala Desa/Lurah Sarjana
0.32 0.12 0.06 0.54 Indeks Kompetisi
Partai Politik dalam Pemilihan DPRD Kabupaten/Kota
0.13 0.02 0.10 0.23
Tingkat Partisipasi Pemilih dalam Pemilihan DPRD Kabupaten/Kota
0.76 0.04 0.70 0.86
Responden yang
Berusia Baya 0,33 0 1
Responden yang
Berusia Dewasa 0,45 0 1
Responden yang
Berusia Tua 0,18 0 1
Status Responden
yang Menikah 0,82 0 1
Responden yang
Tinggal di Desa 0,42 0 1
Responden yang
Tinggal di Sumatera 0,29 0 1
Responden yang Tinggal di Bali dan Nusa Tenggara
0,06 0 1
Responden yang Tinggal di Kalimantan
0,10 0 1
Responden yang
Tinggal di Sulawesi 0,13 0 1
Responden yang
Tinggal di Maluku 0,03 0 1
279 Variabel Rata-
rata
Standar Deviasi
Mini mal
Maksi mal Responden yang
Tinggal di Papua 0,05 0 1
Sumber: Hasil analisis, 2020
Berdasarkan hasil kuesioner dan setelah melalui pengolahan data, rata-rata kesejahteraan subjektif responden berada pada level 7,18 dari skala 1 sampai 10, angka 1 menunjukkan masyarakat yang menjadi responden merasa sangat tidak puas dengan tingkat kesejahteraan yang dimiliki, sedangkan angka 10 menunjukkan masyarakat yang menjadi responden sangat puas terhadap tingkat kesejahteraan yang dimiliki. Hasil kuesioner menunjukkan penilaian masyarakat minimal 1,36 (sangat tidak puas) dan penilaian maksimal 10 (sangat puas) dengan rata-rata penilaian 7,18. Dengan rata-rata 7,18 berarti secara umum menunjukkan bahwa masyarakat yang menjadi responden telah merasa “cukup puas” dengan kesejahteraan yang dimiliki.
Kesejahteraan objektif dalam penelitian ini diukur menggunakan 2 (dua) indikator yaitu tingkat penghasilan kotor per bulan (objektif 1) yaitu rata-rata penghasilan kotor perbulan dari semua jenis usaha/pekerjaan yang dilakukan dalam satu tahun terakhir dan tingkat pendidikan (objektif 2).
Berdasarkan hasil kuesioner dan setelah dilakukan analisis regresi deskriptif, terlihat bahwa penghasilan kotor rata-rata per bulan responden berada pada level 2,53 dalam skala 1 sampai 5. Angka 1 menunjukkan penghasilan kotor rata-rata per bulan dalam satu tahun terakhir lebih dari Rp.4.000.000,- (empat juta rupah) dan angka 5 menunjukkan penghasilan kotor rata-rata per bulan dalam satu tahun terakhir kurang dari sama dengan Rp. 1.000.000,- (satu juta rupiah). Dengan penghasilan kotor rata-rata responden berada pada level 2,53 menunjukkan bahwa penghasilan kotor rata-rata per bulan masyarakat yang menjadi responden adalah antara Rp. 1.500.001 sampai dengan Rp. 2.500.000,-. Semakin tinggi penghasilan kotor rata-rata perbulan maka kesejahteraannya semakin baik, demikian pula sebaliknya karena berdasarkan indikator kesejahteraan dari OECD, penghasilan merupakan salah satu sub- indikator dari kondisi materi yang merupakan salah satu indikator dari kesejahteraan (individual well-being) (OECD, 2015).
Selain tingkat penghasilan kotor rata-rata perbulan, kesejahteraan objektif juga diukur menggunakan tingkat pendidikan. Menurut OECD, tingkat pendidikan merupakan salah satu sub-indikator dari kualitas hidup (quality of life) yang merupakan indikator kesejahteraan (individual well-being) (OECD, 2015). Berdasarkan hasil kuesioner, rata-rata tingkat pendidikan masyarakat yang menjadi responden berada pada level 2,52 atau rata-rata berpendidikan SMP.
Sedangkan untuk variabel otonomi daerah diukur menggunakan indikator sebagai berikut:
a) Financial Self-Reliance (Kemandirian Finansial) Kemandirian finansial daerah dalam penelitian ini diukur menggunakan indikator Persentase Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten/Kota terhadap total Pendapatan Pemerintah Kabupaten/Kota. Berdasarkan data penelitian yang bersumber dari Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan Kementerian Keuangan Republik Indonesia, dan telah diolah menggunakan aplikasi stata menunjukkan bahwa rata-rata persentase Pendapatan Asli Daerah (PAD) pemerintah kabupaten/
kota terhadap total pendapatan pemerintah kabupaten/
kota adalah sebesar 12%, dengan persentase terendah sebesar 3% dan persentase tertinggi sebesar 69%.
b) Policy Scope (Ruang Lingkup Kebijakan)
Ruang lingkup kebijakan yang dimaksud dalam penelitian adalah rentang fungsi (tugas) dimana pemerintah daerah berada secara efektif terlibat dalam penyampaian layanan, baik melalui sumber daya keuangan sendiri yang resmi dan/ atau melalui staf sendiri. Untuk sumber daya keuangan diukur menggunakan pengeluaran yang dilakukan oleh pemerintah daerah dalam hal ini pemerintah kabupaten/
kota untuk kepentingan atau fungsi layanan dasar yang akan dibandingkan dengan pengeluaran pemerintah daerah untuk semua fungsi secara keseluruhan.
Sedangkan untuk aspek staf/ kepegawaian diukur menggunakan jumlah pegawai atau jumlah PNS yang dimiliki oleh setiap kabupaten/ kota dibagi dengan jumlah penduduk kabupaten/ kota sehingga akan menghasilkan rasio satu orang PNS melayani sekian jumlah penduduk dan persentase tingkat pendidikan kepala desa/ kelurahan pada setiap kabupaten/ kota yang berpendidikan sarjana.
berdasarkan hasil analisis statistik deskriptif, menunjukkan bahwa rata-rata persentase pengeluaran pemerintah kabupaten/ kota untuk layanan dasar terhadap total pengeluaran pemerintah kabupaten/ kota untuk semua fungsi secara keseluruhan adalah sebesar 90%, dengan persentase terendah sebesar 88% dan persentase tertinggi 94%.
Sedangkan rata-rata rasio jumlah PNS Pemerintah kabupaten/ kota terhadap jumlah penduduk adalah 75,14 yang berarti bahwa satu orang pns melayani sebanyak 75 orang masyarakat. Sedangkan angka minimum rasio jumlah PNS terhadap jumlah penduduk berada pada
angka 24,78 yang berarti satu orang PNS melayani 25 orang masyarakat, dan angka maksimum berada pada
angka 169,87 yang berarti satu orang PNS melayani sebanyak 170 orang masyarakat.
Berdasarkan aspek tingkat pendidikan kepala desa/
lurah, rata-rata kepala desa/ lurah yang mempunyai gelar
sarjana di setiap kabupaten/ kota sebanyak 32% dengan
280 angka minimum sebesar 6% dan angka maksimum sebesar 54%.
c) Organizational Autonomy (Otonomi Organisasi) Otonomi organisasi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah penyelenggaraan arena politik lokal secara bebas, yang diukur menggunakan penyelenggaraan pemilihan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) secara langsung yang meliputi tingkat partisipasi masyarakat yang menyalurkan aspirasi atau hak politiknya, dan tingkat kompetisi antar partai politik.
Berdasarkan hasil analisis deskriptif menggunakan stata, indeks kompetisi antar partai politik atau tingkat konsentrasi partai politik dalam parlemen di setiap Kabupaten/Kota pada pemilihan DPRD Kabupaten/Kota rata-rata berada pada angka 13%, dengan angka minimum 10% dan angka maksimum 23%. Indeks kompetisi partai politik atau tingkat konsentrasi partai politik dalam parlemen DPRD Kabupaten/Kota diukur menggunakan Herfindahl Hirschman Index (HHI) (Sugiyanto et al., 2013). Menurut Sugiyanto et al., (2013), konsentrasi partai politik dalam DPRD kabupaten/ kota dikelompokkan menjadi beberapa kategori, yaitu sebagai berikut :
HHI > 0,25 : konsentrasi yang tinggi;
0,15 < HHI < 0,25 : konsentrasi moderat; dan
HHI < 0,15 : tidak terkonsentrasi.
Nilai dari Herfindahl Hirschman Index (HHI) menunjukkan indikasi tingkat konsentrasi partai politik, dengan nilai maksimum yang mengindikasikan adanya monopoli oleh satu partai dan nilai minimum yang mengindikasikan adanya persaingan sempurna antar partai politik. Semakin tinggi nilai Herfindahl Hirschman Index (HHI) menunjukkan tingkat konsentrasi partai
politik yang semakin tinggi dan terkonsentrasi pada beberapa partai besar saja. Jika dikaitkan dengan kesejahteraan masyarakat, tentunya parlemen atau DPRD kabupaten/ kota yang persaingannya sempurna antar partai politik akan lebih baik dari pada parlemen atau DPRD yang hanya didominasi oleh satu atau beberapa partai besar saja karena masing-masing partai politik akan saling menunjukkan kemampuannya dalam memperjuangkan aspirasi dan kesejahteraan masyarakat.
Sub-indikator untuk mengukur pemilihan DPRD kabupaten/ kota, selain indeks kompetisi antar partai politik atau tingkat konsentrasi partai politik dalam parlemen/ DPRD adalah tingkat partisipasi masyarakat/
pemilih dalam pemilihan anggota DPRD kabupaten/
kota. Semakin tinggi partisipasi masyarakat maka mencerminkan anggota DPRD yang terpilih mewakili sebagian besar pilihan dari masyarakat, sehingga diharapkan dapat mewujudkan harapan-harapan masyarakat terutama dapat meningkatkan kesejahteraan mereka.
Berdasarkan hasil analisis deskriptif melalui stata, rata-rata tingkat partisipasi masyarakat/ pemilih dalam pemilihan anggota DRPD kabupaten/ kota Tahun 2014 adalah sebesar 76% dengan angka minimum 70% dan angka maksimum 86%.
4.2 Hasil Analisis Regresi Multilevel Otonomi Daerah dan Kesejahteraan Subjektif
Setelah dilakukan analisis regresi multilevel untuk mengetahui hubungan otonomi daerah terhadap kesejahteraan subjektif, didapatkan hasil analisis regresi multilevel sebagaimana dapat dilihat dalam Tabel 2 dibawah ini:
Tabel 2 Analisis Regresi Multilevel Otonomi Daerah dan Kesejahteraan Subjektif
Kesejahteraan Subjektif Coef. Std. Err. z P-
value [95% Conf. Interval]
Rasio total pengeluaran untuk layanan dasar terhadap pengeluaran total Pemerintah Daerah
-1.458022 2.831999 -0.51 0.607 -7.008638 4.092594
Rasio Pendapatan Asli Daerah Terhadap Total Pendapatan Daerah
1.558541 1.424834 1.09 0.274 -1.234081 4.351164 Rasio Jumlah PNS Pemerintah
Kabupaten/Kota Terhadap Jumlah Penduduk
-.002387 .001597 -1.49 0.135 -.005517 .0007429
Tingkat Pendidikan Kepala Desa/Lurah Sarjana
-.0385611 .4376459 -0.09 0.930 -.8963313 .819209 Indeks Kompetisi Partai Politik dalam
Pemilihan DPRD Kabupaten/Kota
.1714244 1.537297 0.11 0.911 -2.841622 3.184471 Tingkat Partisipasi Pemilih dalam
Pemilihan DPRD Kabupaten/Kota
.7916617 .9201584 0.86 0.390 -1.011816 2.595139
Responden yang Berusia Baya -.0589647 .0194103 -3.04 0.002 -.0970081 -.0209212
Responden yang Berusia Dewasa -.092347 .019037 -4.85 0.000 -.129659 -.0550351
Responden yang Berusia Tua -.1053362 .0202412 -5.20 0.000 -.1450082 -.0656643
Status Responden yang Menikah .2247624 .0101244 22.20 0.000 .204919 .2446058
Responden yang Tinggal di Desa .243107 .0078962 30.79 0.000 .2276307 .2585833
281
Responden yang Tinggal di Sumatera .1690436 .1610762 1.05 0.294 -.14666 .4847473 Responden yang Tinggal di Bali dan
Nusa Tenggara
.0478635 .219945 0.22 0.828 -.3832207 .4789477 Responden yang Tinggal di Kalimantan .1727305 .1925242 0.90 0.370 -.20461 .5500709 Responden yang Tinggal di Sulawesi .1764963 .2265595 0.78 0.436 -.2675522 .6205448 Responden yang Tinggal di Maluku .4529194 .2783511 1.63 0.104 -.0926387 .9984775 Responden yang Tinggal di Papua -.0041082 .2811165 -0.01 0.988 -.5550864 .5468699
_cons 7.57275 2.588867 2.93 0.003 2.498663 12.64684
Sumber: Hasil analisis, 2021
Tabel 2 diatas merupakan hasil analisis regresi multilevel semua indikator variabel otonomi daerah terhadap kesejahteraan subjektif. Setelah dilakukan analisis regresi multilevel indikator otonomi darah terhadap kesejahteraan subjektif, hasil regresi multilevel untuk kemandirian keuangan daerah terhadap kesejahteraan subjektif, menunjukkan bahwa rasio atau persentase Pendapatan Asli Daerah kabupaten/ kota terhadap total pendapatan pemerintah kabupaten/ kota mempunyai nilai coef 1,558 dan p-value 0.274, sehingga dapat disimpulkan tidak mempunyai hubungan signifikan terhadap kesejahteraan subjektif karena nilai p-value >
0,1. Rasio atau persentase Pendapatan Asli Daerah kabupaten/ kota terhadap total pendapatan pemerintah kabupaten/ kota dalam penelitian ini dihitung menggunakan data yang diperoleh dari Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan (DJPK) Kementerian Keuangan Tahun 2016.
Sedangkan hasil analisis regresi multilevel untuk policy scope (ruang lingkup kebijakan) terhadap kesejahteraan subjektif menunjukkan bahwa:
a) Rasio atau persentase total pengeluaran pemerintah kabupaten/ kota untuk layanan dasar terhadap total pengeluaran pemerintah kabupaten/ kota mempunyai nilai coef = -1,458 dan nilai p-value = 0.607 sehingga tidak mempunyai hubungan yang signifikan terhadap kesejahteraan subjektif karena p-value > 0,1. Rasio atau persentase total pengeluaran pemerintah kabupaten/ kota untuk layanan dasar terhadap total pengeluaran pemerintah kabupaten/ kota dihitung menggunakan data yang diperoleh dari Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan (DJPK) Kementerian Keuangan Tahun 2016;
b) Rasio jumlah PNS pemerintah kabupaten/kota terhadap jumlah penduduk mempunyai nilai coef - 0,00238 dan nilai p-value 0,135 sehingga dapat dikatakan bahwa rasio jumlah pns pemerintah kabupaten/ kota terhadap jumlah penduduk tidak mempunyai hubungan signifikan terhadap kesejahteraan subjektif karena nilai p-value > 0,1.
Rasio jumlah PNS pemerintah kabupaten/ kota terhadap jumlah penduduk menggunakan data dari Badan Pusat Statistik Tahun 2016; dan
c) Persentase tingkat pendidikan kepala desa/ lurah yang bergelar sarjana atau Strata 1 mempunyai nilai coef - 0,0385 dan p-value 0,930 sehingga dapat disimpulkan
bahwa persentase tingkat pendidikan kepala desa/
lurah yang bergelar sarjana atau Strata 1, tidak mempunyai hubungan signifikan terhadap kesejahteraan subjektif karena nilai p-value > 0,1.
Untuk hasil analisis regresi multilevel Organizational Autonomy (Otonomi Organisasi) terhadap kesejahteraan subjektif, hasilnya menunjukkan bahwa:
a) Indeks kompetisi partai politik dalam pemilihan anggota DPRD kabupaten/kota mempunyai nilai coef 0,171 dan p-value 0,911 sehingga dapat dikatakan tidak mempunyai hubungan yang signifikan terhadap kesejahteraan subjektif karena nilai p-value >0,1.
Indeks kompetisi partai politik dalam pemilihan anggota DPRD kabupaten/ kota dalam penelitian ini menggunakan data hasil pemilihan anggota DPRD kabupaten/ kota Tahun 2014 yang bersumber dari Komisi Pemilihan Umum (KPU); dan
b) Tingkat partisipasi pemilih dalam pemilihan anggota DPRD kabupaten/ kota mempunyai nilai coef 0,791 dan p-value 0,390, sehingga dapat disimpulkan bahwa tingkat partisipasi pemilih dalam pemilihan anggota DPRD kabupaten/ kota tidak mempunyai hubungan yang signifikan terhadap kesejahteraan subjektif karena p-value >0,1.
Apabila dilihat dari karakteristik responden apabila dikaitkan dengan otonomi daerah dan kesejahteraan subjektif, reponden yang berstatus menikah lebih merasa sejahtera dibandingkan dengan responden yang berstatus tidak menikah/ duda/ janda dan responden yang tinggal didesa merasa lebih sejahtera dibandingkan responden yang tinggal di kota. Sedangkan jika dilihat dari tempat tinggal berdasarkan pulau, tidak ada hubungan yang signifikan antara pulau dimana tempat tinggal berada dengan kesejahteraan subjektif jika dikaitkan dengan otonomi daerah karena semua nilai p-value nya > 0,1.
Begitu pula dengan usia responden, hasil regresi multilevel menunjukkan tidak ada perbedaan yang berarti antar masing-masing kategori usia responden dalam hal kesejahteraan subjektif yang dirasakan.
4.3 Hasil Analisis Regresi Multilevel Otonomi Daerah dan Kesejahteraan Objektif
4.3.1 Hasil Analisis Regresi Multilevel Otonomi Daerah
dan Tingkat Penghasilan Rumah Tangga
282 Selain kesejahteraan subjektif, dalam penelitian ini variabel kesejahteraan juga diukur menggunakan indikator kesejahteraan objektif. Kesejahteraan objektif diukur menggunakan dua sub indicator, yaitu tingkat penghasilan rata-rata rumah tangga dan tingkat pendidikan tertinggi dalam rumah tangga. Oleh karena itu telah dilakukan analisis regresi multilevel untuk
mengetahui hubungan dari indikator variabel otonomi daerah terhadap kesejahteraan objektif baik tingkat penghasilan maupun tingkat pendidikan.
Untuk hasil analisis regresi multilevel indikator variabel otonomi daerah dan tingkat penghasilan dapat ditampilkan dalam tabel 3 dibawah ini:
Tabel 3 Analisis Regresi Multilevel Otonomi Daerah dan Tingkat Penghasilan Rata-Rata Rumah Tangga Tingkat Penghasilan Coef. Std. Err. z P-Value [95% Conf. Interval]
Rasio total pengeluaran untuk layanan dasar terhadap pengeluaran total Pemerintah Daerah
-5.501082 2.691481 -2.04 0.041 -10.77629 -.2258769
Rasio Pendapatan Asli Daerah Terhadap Total Pendapatan Daerah
1.615766 1.358166 1.19 0.234 -1.046191 4.277722 Rasio Jumlah PNS Pemerintah
Kabupaten/Kota Terhadap Jumlah Penduduk
-.0007031 .0015193 -0.46 0.644 -.0036808 .0022746 Tingkat Pendidikan Kepala Desa/Lurah
Sarjana
.2276909 .4156781 0.55 0.584 -.5870232 1.042405 Indeks Kompetisi Partai Politik dalam
Pemilihan DPRD Kabupaten/Kota
.30131 1.463257 0.21 0.837 -2.56662 3.16924 Tingkat Partisipasi Pemilih dalam Pemilihan
DPRD Kabupaten/Kota
-.3286675 .8730201 -0.38 0.707 -2.039756 1.382421 Responden yang Berusia Baya .1755977 .0353787 4.96 0.000 .1062567 .2449387 Responden yang Berusia Dewasa .2540183 .0348623 7.29 0.000 .1856894 .3223473 Responden yang Berusia Tua -.1966297 .037072 -5.30 0.000 -.2692895 -.12397 Status Responden yang Menikah .341186 .0157966 21.60 0.000 .3102253 .3721467 Responden yang Tinggal di Desa .6781316 .0123509 54.91 0.000 .6539243 .7023389 Responden yang Tinggal di Sumatera .4129952 .1526673 2.71 0.007 .1137728 .7122177 Responden yang Tinggal di Bali dan Nusa
Tenggara
-.027596 .2079202 -0.13 0.894 -.4351121 .3799202 Responden yang Tinggal di Kalimantan .611943 .1823703 3.36 0.001 .2545038 .9693823 Responden yang Tinggal di Sulawesi .2283652 .2149948 1.06 0.288 -.1930169 .6497472 Responden yang Tinggal di Maluku .4011212 .2639751 1.52 0.129 -.1162604 .9185028 Responden yang Tinggal di Papua .5027626 .2665492 1.89 0.059 -.0196642 1.025189
_cons 6.577999 2.463037 2.67 0.008 1.750534 11.40546
Sumber: Hasil analisis, 2020
Tabel 3 diatas merupakan hasil analisis regresi multilevel semua indikator variabel otonomi daerah terhadap tingkat penghasilan rata-rata rumah tangga yang merupakan salah satu indikator kesejahteraan objektif.
Untuk regresi multilevel indikator financial self- reliance (kemandirian finansial daerah) terhadap tingkat penghasilan rata-rata rumah tangga menghasilkan temuan bahwa rasio atau persentase Pendapatan Asli Daerah kabupaten/ kota terhadap total pendapatan pemerintah kabupaten/ kota mempunyai nilai coef 1,615 dan p-value 0,234 sehingga dapat disimpulkan bahwa rasio atau persentase Pendapatan Asli Daerah kabupaten/ kota terhadap total pendapatan pemerintah kabupaten/ kota tidak mempunyai hubungan signifikan terhadap tingkat penghasilan rumah tangga masyarakat karena nilai p- value > 0,1.
Sedangkan regresi multilevel indikator policy scope (ruang lingkup kebijakan) terhadap tingkat penghasilan rata-rata rumah tangga menunjukkan hasil sebagai berikut:
a) Rasio total pengeluaran pemerintah kabupaten/ kota untuk layanan dasar terhadap pengeluaran total pemerintah kabupaten/ kota mempunyai nilai coef - 5,501 dan p-value 0,041, sehingga dapat dikatakan bahwa rasio total pengeluaran Pemerintah Kabupaten/Kota untuk layanan dasar terhadap pengeluaran total pemerintah kabupaten/ kota berhubungan signifikan terhadap tingkat penghasilan rumah tangga masyarakat karena nilai p-value < 0,10.
Tetapi nilai coef bertanda negatif yang berarti semakin besar rasio total pengeluaran pemerintah kabupaten/
kota untuk layanan dasar terhadap pengeluaran total pemerintah kabupaten/ kota, tingkat penghasilan rumah tangga masyarakatnya justru akan semakin menurun.
b) Rasio jumlah PNS pemerintah kabupaten/ kota
terhadap jumlah penduduk mempunyai nilai coef -
0,00070 dan nilai p-value 0,644, sehingga dapat
dikatakan bahwa rasio jumlah PNS pemerintah
kabupaten/ kota terhadap jumlah penduduk tidak
283 berhubungan signifikan terhadap tingkat penghasilan rumah tangga masyarakat karena nilai p-value > 0,1.
c) Rasio atau persentase tingkat pendidikan kepala desa/
lurah yang bergelar sarjana atau Strata 1 mempunyai nilai coef 0,2276 dan p-value 0,584, sehingga dapat disimpulkan bahwa persentase tingkat pendidikan kepala desa/ lurah yang bergelar sarjana atau Strata 1, tidak mempunyai hubungan yang signifikan terhadap tingkat penghasilan rumah tangga masyarakat karena nilai p-value > 0,1. Untuk hasil regresi multilevel indikator organizational autonomy (otonomi organisasi) terhadap tingkat penghasilan rata-rata rumah tangga menunjukkan bahwa:
Indeks kompetisi partai politik dalam pemilihan anggota DPRD Kabupaten/Kota mempunyai nilai coef 0,30131 dan p-value 0,837 sehingga dapat dikatakan bahwa indeks kompetisi partai politik dalam pemilihan anggota DPRD Kabupaten/Kota tidak mempunyai hubungan yang signifikan terhadap tingkat penghasilan rumah tangga masyarakat karena nilai p-value > 0,1.