24
Universitas Kristen Petra
3. METODE PENELITIAN
3.1. Metode Penelitian
Metode penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif, yaitu penelitian yang berbasis pada data, yang mengutamakan statistik angka, baik dalam metode pengumpulan data maupun analisisnya. (Daymon & Holloway, 2008, p.12). Pada penelitian ini, peneliti ingin menguji teori pengaruh consumer attitude terhadap customer loyalty melalui marketing mix khususnya promotion dan perceived value melalui riset. Penelitian kuantitatif dirasa sesuai untuk metode penelitian ini karena, data yang digunakan dalam penelitian ini merupaka data yang berbasis angka – angka, yang dikumpulkan melalui kuesioner.
Penelitian ini juga menggunakan metode penelitian kausal (causal research), dimana penulis ingin melihat apakah suatu variabel yang menjadi variabel bebas berpengaruh terhadap variabel terikat (Juliandi et al., 2014, p.13). Penelitian ini ingin melihat pengaruh consumer attitude, promotion dalam marketing mix, dan perceived value sebagai penyebab terjadinya customer loyalty pada customer PT.
Go-Jek Indonesia.
3.2. Gambaran Populasi dan Sampel 3.2.1. Populasi
Populasi menurut Sugiyono (2010, p.61), adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Dalam penelitian ini, populasi adalah seluruh orang yang pernah menggunakan jasa layanan Go-Jek yang berada di Surabaya.
3.2.2 Sampel
Sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi (Sugiyono, 2010, p.62). Dikarenakan jumlah populasi penelitian ini tidak diketahui dengan pasti, maka peneliti mengunakan teknik penarikan sampel secara non-acak (non probability sampling), dimana pengabilan sampel yang tidak semua anggota sampel diberi kesempatan untuk dipilih sebagai anggota sampel, sehingga individu tidak memiliki kemungkinan yang sama untuk diambil menjadi
25
Universitas Kristen Petra
sampel. Pada penelitian ini, jumlah populasi dari customer Go-Jek tidak diketahui, sehingga penelitian ini cocok menggunakan teknik non probability sampling.
Jenis non probability sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling atau judgement sampling, yaitu sampel yang dipilih sesuai dengan kriteria yang ditentukan oleh peneliti (Swarjana, 2012, p.102). Purposive sampling dilakukan melalui screening pada kuesioner. Peneliti ingin meneliti customer Go-Jek yang menggunakan Go-Jek dalam 3 bulan terakhir minimal 3 kali. Penetuan besarnya sampel untuk populasi besar/ tidak terbatas/ tidak diketahui (infinite population) menggunakan rumus Hair et al. (1998), yaitu dengan mengalikan minimal 5 kali jumlah parameter indikator dan maksimal 10 kali dari jumlah parameter indikator yang dipergunakan dalam penelitian.
Sehingga perhitungannya adalah:
n = 5 x p = 5 x 26 = 130 n = 10 x p = 10 x 26 = 260 Keterangan :
(5/10) = batas maksimal dan minimal perkalian n = sampel
p = parameter indikator penelitian
Dengan demikian, jumlah total sampel yang harus diambil oleh peneliti adalah 130 sampai 260 responden.
3.3 Jenis dan Sumber Data
Jenis dan sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
1. Data Primer, data yang diperoleh langsung dari daftar pertanyaan (questionaire) pada pengguna Go - Jek Surabaya.
2. Data Sekunder, ialah data yang dimbil melalui media online berupa data deskripsi perusahaan dan pengunduh atau pengguna Go-Jek Surabaya dalam jumlah yang kasar.
26
Universitas Kristen Petra
3.4. Metode dan Prosedur Pengambilan Data
Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data kuisioner.
Pengunaan kuesioner dilakukan dengan memberikan pertanyaan di dalam kertas, dan langsung dijawab oleh responden. (Sugiyono, 2010, p.199). Terdiri dari pertanyaan tertutup dan diberikan kepada responden secara langsung. Penggunaan kueosioner dikarenakan kuisioner terdiri dari pertanyaan dan jawaban yang mudah dipahami oleh responden.
Dalam kuesioner ini, peneliti membagi 3 bagian yaitu
1. Demografi responden, terdiri dari usia, gender, serta pekerjaan responden
2. Riwayat customer dalam menggunakan Go-Jek di 3 bulan terakhir 3. Variabel yang ingin di ukur
Pengukuran variabel menggunakan skala likert, dimana setiap jawaban dihubungkan dengan pernyataan atau dukungan sikap yang diungkapkan dengan bentuk pernyataan atau dukungan sikap yang diungkapkan dengan kata-kata sebagai berikut :
Sangat Tidak Setuju (STS) = skor 1 Tidak Setuju (TS) = skor 2
Netral (N) = skor 3
Setuju (S) = skor 4
Sangat Setuju (SS) = skor 5
3.5.. Identifikasi Variabel
Variabel yang akan diteliti terdiri dari variabel independen (X), variabel intervenimg (Z) dan variabel dependen (Y). Variabel-varibel tersebut akan di uji untuk mengetahui Customer Attitude, Marketing Mix, Perceived Value dan Customer Loyalty dari customer Go-Jek.
Variabel Independen (X2) : Consumer Attitude Variabel Independen (X1) : Promotion,
Variabel Intervening (X3) : Perceived Value Variabel Dependen (Y) : Customer Loyalty
27
Universitas Kristen Petra
3.6. Definisi Operasional
Definisi operasional variabel adalah pengertian variabel, secara operasional, secara praktik, secara nyata dalam lingkup obyek penelitian/obyek yang diteliti. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah variabel bebas dan variabel terikat. Berikut ini beberapa defenisi operasional dari variabel yang terkandung dalam penelitian ini :
Customer Attitude (X2)
Customer Attitude adalah pemikiran, presepsi dan perasaan customer, ketika menggunakan jasa Go-Jek.
Customer attitude menurut Myers (2008) dapat diukur melalui 3 komponen sikap, kognitif, afektif, dan konatif. yaitu:
a. Kognitif; Berisi persepsi dan kepercayaan yang dimiliki oleh customer mengenai layanan Go-Jek.
- Customer memilki presepsi baik terhadap Go-Jek ketika menggunakan produk Go-Jek
- Customer percaya ketika menggunakan produk Go-Jek terjamin aman b. Afektif; pengalaman terhadap Go-Jek yang mempengaruhi emosi
customer.
- Customer merasa senang menggunakan jasa Go-Jek - Customer merasa nyaman menggunakan Go-Jek - Customer merasa puas menggunakan produk Go-Jek - Customer merasa aman menggunakan produk Go-Jek
c. Konatif; pengalaman terhadap brand Go-Jek yang membuat customer melakukan sesuatu/ mengubah perilaku.
- Costumer selalu menggunakan Gojek sebagai layanan ojek online - Customer menggunakan Go-Jek sebagai lifestyle
- Customer membandingkan kualitas Go-Jek dengan transportasi online lainnya
28
Universitas Kristen Petra
Promotion (X)
Promotion atau promosi merupakan bagaiamana respon customer setelah melihat promosi diberikan oleh Go-Jek. Bentuk promosi salah satunya adalah mengiklankan produk untuk dijual kepada customer.
(Munusamy & Hoo, 2008). Secara konsep, promosi mengandung aspek informasi yang dapat mempersuasi customers menggunakan Go-Jek.
Promosi yang dilakukan harus mengandung informasi layanan apa saja yang disediakan oleh Go-Jek untuk customer-nya.
Berikut ini 3 langkah promosi Go-Jek yang dapat diukur dalam penelitian ini menurut Durianto et al (2003, p.2) yaitu :
1. Advertising (Periklanan)
Merupakan cara promosi Go-Jek dengan penyajian nonpersonal, dibuat menarik dan komuniatif, mengandung ide tentang barang atau jasa dari Go-Jek yang ingin ditawaran ke customer.
- Iklan Go-Jek menarik perhatian customer
- Iklan Go-Jek memberikan informasi yang jelas bagi customer - Iklan Go-Jek mampu mengajak customer untuk menggunakan Go-
Jek lagi
- Iklan Gojek mengingatkan customer mengenai brand Go-Jek 2. Sales Promotion (Promosi Penjualan)
Berbagai bentuk insentif jangka pendek yang diberikan oleh Go-Jek untuk mendorong keinginan customer membeli kembali jasa Go-Jek.
- Potongan harga Go-Jek menarik customer menggunakan Go-Jek lagi
- Voucher top up yang diberikan Go-Jek menarik customer menggunakan Go - Jek lagi
3. Direct Selling (Pemasaran Langsung)
Penggunaan e-mail sebagai sarana untuk melakukan komunikasi secara langsung antara Go-Jek dan customernya.
Customer Ingin menggunakan Go-Jek kembali setelah membaca e-mail yang berisi promosi dari Go-Jek.
29
Universitas Kristen Petra
Perceived Value (X3)
Penilaian customer terhadap Go-Jek mengenai keuntungan dan kerugian yang didapat dengan biaya yang dikeluarkan. Sweeney and Soutar (2001) mengatakan bahwa dalam perceived value terdapat penilaian mengenai seberapa pantas harga yang diberikan kepada sebuah produk dengan uang yang dikeluarkan oleh customer. Penilaian ini disebut dengan perceived of function atau value of money.
Function Value (price/value for money) :
1. Harga yang diberikan oleh Gojek sesuai dengan yang didapat oleh customer
2. Harga yang diberikan oleh Gojek lebih murah dari ojek online lainnya
Customer Loyalty (Y)
Customer loyalty adalah komitmen konsumen untuk membeli kembali merek Go- Jek di masa depan.
Customer loyalty menurut Zeithaml (1990) dapat diukur melalui empat dimensi loyalitas, yaitu repurchase intention, word of mouth, price sensitivity, dan complaining behavior. Dalam penelitian ini, seseorang dikatakan memiliki brand loyalty jika memiliki indikator-indikator di bawah ini :
a. Repurchase intention
- Komitmen customer untuk menggunakan jasa Go-Jek di masa depan - Komitmen customer untuk menjadikan Go- jek sebagai merek
prioritas pada jasa layanan ojek online b. Word of mouth
- Komitmen customer mengatakan hal positif tentang brand Go-Jek kepada orang lain
- Komitmen customer merekomendasikan brand Go-Jek kepada orang lain
c. Price sensitivity
- Komitmen customer untuk tetap menggunakan Go-Jek walau ada kenaikan harga ke depannya
30
Universitas Kristen Petra
d. Complaining behavior
- Komitmen customer untuk menyampaikan saran kepada Go-Jek - Komitmen customer untuk menyampaikan keluhan kepada Go-Jek 3.7. Teknik Pengujian Data
Teknik pengujian data dalam penelitian in dilakukan dengan uji vaiditas dan reliabilitas.
3.7.1 Uji Validitas
Pengujian ini digunakan untuk mengukur valid tidaknya suatu kuesioner. Suatu kuesioner dikatakan valid jika pertanyaan dalam kuesioner mampu untuk mengungkapkan sesuatu yang akan diukur oleh kuesioner tersebut. Penelitian ini menggunakan program SPSS dan SmartPLS sebagai alat uji validitas.. Pada program SPSS, pernyataan diuji dengan Pearson Product Moment, dimana jika nilai rhitung > rtabel, maka pernyataan dapat dikatakan valid (Riduan, 2011, p.112). Pada SmartPLS, terdapat dua jenis pengujian validitas, yaitu validitas konvergen dan validitas diskriminan.
Konvergen memiliki atrti yaitu fokus. Sehingg bisa dikatakan validitas konvergen merupakan validitas yang fokus terhadap indikator yang dapat mewakili satu variabel laten dan yang mendasari variabel laten tersebut. Hal ini dapat dilihat melalui nilai loading factor yaitu adalah besarnya korelasi antara indikator dengan variabel latennya. Jika indikator dengan loading factor tinggi, maka memiliki konstribusi yang lebih tinggi untuk menjelaskan konstruk latennya. Sebaliknya pada indikator dengan loading factor rendah memiliki konstribusi yang lemah untuk menjelaskan konstruk latennya. Nilai loading factor yang lebih besar dari 0,5 dianggap memiliki validasi yang cukup kuat untuk menjelaskan variabel laten (Yamin & Kurniawan, 2009, p.222).
Validitas diskriminan merupakan sebuah konsep tambahan yang mempunyai makna bahwa dua konsep berbeda secara konseptual harus menunjukkan perbedaan yang memadai. Hal ini dapat dilihat pada nilai rata-rata varian yang diekstraksi atau Average Variance Extracted (AVE) dan nilai Cross Loading. Nilai AVE harus lebih besar dari 0,5, yang
31
Universitas Kristen Petra
berarti satu variabel laten mampu menjelaskan lebih dari setengah varian dari indikator-indikatornya dalam rata-rata. Sedangkan pada Cross Loading indikator dikatakan valid jika korelasi indikator dengan variabel latennya lebih besar daripada korelasi indikator tersebut dengan variabel laten lainnya (Sarwono & Narimawati, 2015, p.18).
3.7.2. Uji Reliabilitas
Menurut Ghozali (2006) reliabilitas adalah alat untuk mengukur suatu kuesioner yang merupakan indikator dari variabel. Suatu kuesioner dikatakan reliabel jika jawaban seseorang terhadap pernyataan kuesioner konsisten atau stabil dari waktu ke waktu. Dalam SPSS dan SmartPLS cara yang digunakan untuk menguji reliabilitas kuesioner adalah uji statistic Alpha Cronbach. Pernyataan diuji melalui analisis Cronbach’s alpha. Jika nilai Cronbach’s Alpha lebih besar atau sama dengan 0,60 berarti instrument tersebut reliabel (Sugiyono, 2010, p.124). Pada SmartPLS uji reliabilitas juga melihat hasil Composite Reliability dimana dapat dikatakan reliabel jika nilai koefisien diatas 0,60 (Sarwono &
Narimawati, 2015, p.17).
3.8. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data menggunakan teknik statistik deskriptif dan teknik analisis multivariat. Teknik statistik deskriptif berupa mean, sedangkan dan teknik analisis multivariat menggunakan model SEM (Structural Equation Modeling).
3.9. Teknik Statistik Deskriptif
Sugihyono dalam bukunya mengatakan bahwa statistik deskriptif adalah statistik yang digunakan untuk menganalisa data dengan cara mendeskripsikan data yang telah terkumpul apa adanya, tanpa membuat kesimpulan secara umum atau generalisasi (2010, p.206). Pengukuran mean atau rata – rata, digunakan untuk mengukur nilai sentral atau pusat suatu distribusi data berdasarkan nilai
32
Universitas Kristen Petra
rata-rata yang dihitung dengan cara membagi nilai hasil penjumlahan sekelompok data dengan jumlah data yang diteliti (Anshori & Iswati, 2009, p.117).
Setelah mean sudah diketahui, rentang skala diperlukan untuk menentukan kategori mean yang diperoleh termasuk ke dalam kelas interval yang mana.
Untung menghitung rentang skala, dapat memakai rumus (Durianto et al., 2004, p.43) sebagai berikut :
RS = m - n b Keterangan :
RS = Rentang skala pada interval kelas m = Skor tertinggi pada skala likert yaitu 5 n = Skor terendah pada skala likert yaitu 1 b = Jumlah interval kelas
Maka, rentang skala yang digunakan berentang : RS = 5 – 1 = 0,8
5
Dari rentang skala tersebut, maka dapat ditentukan pengkategorian nilai mean, sebagai berikut :
Tabel 3.1 Pengkategorian Mean
Mean Kategori
1,00 – 1,80 Sangat rendah
1,81 – 2,60 Rendah
2,61 – 3,40 Cukup
3,41 – 4,20 Tinggi
4,21 – 5,00 Sangat tinggi
Sumber : Durianto et al. (2004, p.43)
3.10. Teknik Analisis Multivariat
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis kuantitatif dengan menggunakan model SEM (Structural Equation Modeling) atau
33
Universitas Kristen Petra
Model Persamaan Struktural. SEM adalah teknik analisis multivariat untuk menguji hubungan variabel yang kompleks. Hubungan yang kompleks tersebut dapat diartikan sebagai rangkaian hubungan yang dibangun antara satu atau beberapa variabel dependen (endogen) dengan satu atau beberapa variabel independen (eksogen). SEM dapat menggabungkan pendekatan analisis factor (factor analysis), analisis regresi (regression analysis), dan analisis jalur (path analysis). SEM juga dapat menguji pengaruh langsung dan tidak langsung antar variabel (Bahri & Zamzam, 2014, p.11).
Pada pengujian ini SEM diuji menggunakan PLS (Partial Least Square).
Prosedur PLS digunakan untuk memperkirakan kuadrat terkecil passial model- model regresi atau dikenal sebagai proyeksi terhadap struktur laten. Tujuan utama menggunakan SEM dengan PLS adalah untuk memaksimalkan varian variabel laten endogenous (tergantung) yang dijelaskan. Hal ini berlawanan dengan SEM yang berbasis kovarian yang bertujuan untuk mereproduksi matriks kovarian yang didasarkan teori tanpa berfokus pada varian yang dijelaskan.
Berikut adalah beberapa asumsi yang terkandung dalam PLS SEM (Sarwono & Narimawati, 2015, p.12), antara lain :
1. PLS SEM tidak mengharuskan pengguna data mengikuti asumsi normalitas karena PLS SEM tidak memperlakukan data seperti SEM yang berbasis kovarian. Sehingga hal ini memungkinkan penggunaan data yang tidak berdistribusi normal.
2. PLS SEM dapat menggunakan ukuran sampel yang kecil.
3. PLS SEM mengijinkan teknik pengambilan sampel secara non-probabilitas atau acak, seperti accidental sampling, purposive sampling dan sejenisnya juga dapat digunakan dalam PLS SEM.
4. PLS SEM mengijinkan indikator formatif dalam mengukur variabel laten selain indikator reflektif.
5. Dalam PLS SEM hanya diijinkan model recursive (sebab akibat) saja dan tidak mengizinkan model non-rekursif (timbal balik).
Analisis data dapat dilihat pada nilai R Square. Nilai R Square menunjukkan seberapa besar variabel independen mampu menjelaskan variabel dependen baik secara parsial maupun simultan. Kemudian pada koefisien jalur
34
Universitas Kristen Petra
atau path coefficients dapat menggambarkan hubungan variabel independen terhadap dependen. Jika nilai koefisien jalur positif, berarti terdapat hubungan positif diantara keduanya, begitu juga sebaliknya. Hubungan variabel independen dan dependen dapat disebut signifikan tergantung pada nilai t-statistik atau uji T.
Dikatakan signifikan jika nilai thitung > ttabel, dimana didalam penelitian ini, peneliti menggunakan nilai ttabel dengan taraf signifikansi 5%, yaitu 1,96. Jika nilai thitung
lebih besar dari 1,96, maka terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel independen terhadap variabel dependen.