BAB III
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Eksistensi Normatif Hakim Pengawas Dan Pengamat Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP)
1. Eksistensi Hakim Pengawas Dan Pengamat Dalam Kitab Undang- Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP)
Hakim Pengawas dan Pengamat adalah hakim yang diberi tugas khusus untuk melakukan pengawasan dan pengamatan terhadap pelaksanaan putusan pengadilan yang telah memiliki kekuatan hukum tetap (in kracht van gewijsde). Tugas pengawasan dan pengamatan dilakukan terhadap putusan pemidanaan yang berupa perampasan kemerdekaan atau pidana bersyarat. Keberadaan Hakim Pengawas dan Pengamat diatur dalam Pasal 55 ayat (1) Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman, Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) pada Bab XX tentang Pengawasan dan Pengamatan Pelaksanaan Putusan Pengadilan, dan Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 7 Tahun 1985 tentang Petunjuk Pelaksanaan Tugas Hakim Pengawas dan Pengamat yang merupakan pelengkap dari peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi.
Seperti telah kita ketahui bahwasannya Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) telah mengatur mengenai eksistensi normatif Hakim Pengawas dan Pengamat. Eksistensi Hakim Pengawas dan Pengamat diatur dalam Bab XX tentang Pengawasan dan Pengamatan Pelaksanaan Putusan Pengadilan pada Pasal 277 sampai dengan Pasal 283 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP). Selanjutnya penulis membahas setiap pasal yang mengatur mengenai eksistensi Hakim Pengawas dan Pengamat.
Pasal 277 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) menyatakan bahwa:
commit to user
(1) Pada setiap Pengadilan harus ada hakim yang diberi tugas khusus untuk melakukan pengawasan dan pengamatan terhadap putusan Pengadilan yang menjatuhkan pidana perampasan kemerdekaan.
(2) Hakim sebagimana dimaksud dalam ayat (1) yang disebut hakim pengawas dan pengamat, ditunjuk oleh Ketua Pengadilan untuk paling lama dua tahun.
Berdasarkan ketentuan Pasal 277 ayat (1) di atas dapat diketahui bahwa pada setiap Pengadilan Negeri harus menunjuk seorang hakim yang bertugas untuk melakukan tugas pengawasan dan pengamatan terhadap semua putusan pengadilan yang menjatuhkan pidana perampasan kemerdekaan. Pidana perampasan kemerdekaan yang dimaksud dapat berupa pidana penjara atau pidana kurungan. Pidana penjara adalah suatu pidana berupa perampasan kemerdekaan atau kebebasan bergerak dari seorang terpidana dengan menempatkannya di Lembaga Pemasyarakatan (Dwija Prayitno, 2009:71-72). Sedangkan pidana kurungan adalah juga merupakan salah satu bentuk pidana perampasan kemerdekaan, akan tetapi dalam berbagai hal ditentukan lebih ringan daripada yang ditentukan kepada pidana penjara (S.R.
Sianturi, 2002:471). Tugas pengawasan ditujukan terhadap jaksa selaku pelaksana putusan pengadilan dan Lembaga Pemasyarakatan.
Sedangkan tugas pengamatan ditujukan untuk meneliti dan menilai hasil kerja hakim itu sendiri dalam menjatuhkan putusan pemidanaan yang kemudian dijadikan sebagai bahan penelitian bagi pemidanaan yang akan datang. Jadi disini hakim yang ditunjuk sebagai Hakim Pengawas dan Pengamat memiliki tugas rangkap yaitu sebagai hakim biasa dalam mengadili perkara di pengadilan dan juga sebagai Hakim Pengawas dan Pengamat itu sendiri.
Menurut Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 7 Tahun 1985 tentang Petunjuk Pelaksanaan Tugas Hakim Pengawas dan Pengamat, jumlah hakim pengawas dan pengamat dapat lebih dari satu orang pada satu Pengadilan Negeri. Jumlah Hakim Pengawas dan Pengamat tergantung pada banyak sedikitnya narapidana yang ada dalam ruang lingkup tugas Pengadilan Negeri yang bersangkutan. Apabila di suatu commit to user
daerah hukum Pengadilan Negeri hanya terdapat satu Lembaga Pemasyarakatan tetapi kapasitas penampungannya besar, maka penunjukan Hakim Pengawas dan Pengamat dapat lebih dari satu orang. Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 7 Tahun 1985 tentang Petunjuk Pelaksanaan Tugas Hakim Pengawas dan Pengamat tidak menentukan secara pasti jumlah Hakim Pengawas dan Pengamat pada setiap Pengadilan Negeri, namun sesuai ketentuan Pasal 277 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) yang berwenang menunjuk Hakim Pengawas dan Pengamat adalah Ketua Pengadilan maka penunjukan jumlah Hakim Pengawas dan Pengamat pada setiap Pengadilan Negeri diserahkan kepada Ketua Pengadilan.
Berdasarkan ketentuan Pasal 277 ayat (2) di atas masa jabatan Hakim Pengawas dan Pengamat paling lama adalah 2 (dua) tahun.
Pembatasan masa jabatan selama 2 (dua) tahun dimaksudkan untuk memberikan kesempatan kepada hakim-hakim lain di Pengadilan Negeri agar memiliki pengalaman menjadi Hakim Pengawas dan Pengamat karena dapat bermanfaat bagi peningkatan profesionalisme hakim dalam menjatuhkan putusan yang berkeadilan di masa yang akan datang. Manfaat yang diperoleh hakim ketika menjadi Hakim Pengawas dan Pengamat antara lain adalah hakim dapat mengetahui pengaruh dan manfaat putusan yang dijatuhkannya terhadap terpidana, menambah pengetahuan dan pengalaman hakim sehingga di kemudian hari dapat menjatuhkan putusan yang bermanfaat bagi terpidana, dan untuk menjalin keakraban hubungan antara penegak hukum.
Pasal 278 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) menyatakan bahwa “Jaksa mengirimkan tembusan berita acara pelaksanaan putusan pengadilan yang ditandatangani olehnya, Kepala Lembaga Pemasyarakatan dan terpidana kepada Pengadilan yang memutus perkara pada tingkat pertama dan panitera mencatatnya dalam register pengawasan dan pengamatan”.
commit to user
Menurut ketentuan Pasal 1 butir a Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) jaksa adalah pejabat yang diberi wewenang oleh Undang-Undang untuk bertindak sebagai penuntut umum serta melaksanakan putusan Pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. Pasal 54 ayat (1) Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman juga menentukan bahwa pelaksanaan putusan pengadilan dalam perkara pidana dilakukan oleh jaksa.
Berdasarkan ketentuan Pasal 278 di atas jaksa sebagi eksekutor harus mengirimkan tembusan berita acara kepada Pengadilan yang memutus perkara pada tingkat pertama mengenai pelaksanaan putusan pengadilan yang telah ditandatangani oleh dirinya, Kepala Lembaga Pemasyarakatan dan terpidana, kemudian dicatat oleh panitera pengadilan dalam register pengawasan dan pengamatan.
Pasal 279 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) menyatakan bahwa “Register pengawasan dan pengamatan sebagaimana tersebut pada Pasal 278 wajib dikerjakan, ditutup dan ditandatangani pada setiap hari kerja dan untuk diketahui ditandatangani juga oleh hakim sebagaimana dimaksud dalam Pasal 277”.
Berdasarkan ketentuan Pasal 279 di atas register pengawasan dan pengamatan ditutup dan ditandatangani oleh panitera pada setiap hari kerja. Selain itu, Hakim Pengawas dan Pengamat yang bersangkutan juga harus mengetahui kemudian menandatangani register pengawasan dan pengamatan tersebut. Register pengawasan dan pengamatan dibuat oleh panitera setelah menerima tembusan berita acara pelaksanaan putusan pengadilan yang dikirim oleh jaksa. Data dalam register pengawasan dan pengamatan tersebut dibuat dan diisi oleh panitera.
Hakim Pengawas dan Pengamat hanya mengecek mengenai pelaksanaan putusan pengadilan yang telah dijatuhkan untuk mengetahui bahwa putusan Pengadilan sudah mulai dilaksanakan.
commit to user
Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 7 Tahun 1985 tentang Petunjuk Pelaksanaan Tugas Hakim Pengawas dan Pengamat memuat pedoman yang dapat memudahkan dalam memberikan gambaran riil dari pengawasan dan pengamatan. Pedoman tersebut salah satunya berupa model register pengawasan dan pengamatan yang berisi hal-hal sebagai berikut (Khunaifi Alhumami, 2018:54):
a) Nomor urut perkara yang didaftar dalam register.
b) Nomor register perkara pada Pengadilan Negeri yang memutus perkara.
c) Identitas terpidana yang meliputi nama, umur, jenis kelamin, pekerjaan, alamat tempat tinggal atau domisili, dan agama.
d) Memenuhi putusan Pengadilan Negeri, Pengadilan Tinggi, dan Mahkamah Agung. Hal ini dimaksudkan sebagai dasar Hakim Pengawas dan Pengamat saat mengirimkan hasil pengawasan dan pengamatan kepada hakim yang memutus perkara.
e) Lama pidana yang dijatuhkan. Menunjukkan berat ringannya tindak pidana yang dilakukan dengan pertimbangan, diantaranya yaitu:
1) Tingkah laku terdakwa selama persidangan.
2) Perbuatan sebelum melakukan tindak pidana.
3) Delik yang dilanggar.
4) Mengetahui sudah berapa lama terpidana berada di Lembaga Pemasyarakatan.
5) Nomor dan tanggal berita acara pelaksanaan putusan pengadilan.
6) Tanggal terpidana diberi lepas bersyarat dan sebagainya.
7) Tanggal terpidana dikeluarkan dari Lembaga Pemasyarakatan karena habis masa pidananya.
8) Keterangan.
Pasal 280 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) menyatakan bahwa: commit to user
(1) Hakim Pengawas dan Pengamat mengadakan pengawasan guna memperoleh kepastian bahwa putusan Pengadilan dilaksanakan sebagaimana mestinya.
(2) Hakim Pengawas dan Pengamat mengadakan pengamatan untuk bahan penelitian demi ketetapan yang bermanfaat bagi pemidanaan, yang diperoleh dari perilaku narapidana atau pembinaan Lembaga Pemasyarakatan serta pengaruh timbal balik terhadap narapidana selama menjalani pidananya.
(3) Pengamatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) tetap dilaksanakan setelah terpidana selesai menjalani pidananya.
(4) Pengawasan dan pengamatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 277 berlaku pula bagi pemidanaan bersyarat.
Berdasarkan ketentuan Pasal 280 ayat (1) di atas tujuan pengawasan oleh Hakim Pengawas dan Pengamat adalah untuk memastikan bahwa putusan pengadilan dilaksanakan sebagaimana mestinya, sesuai asas perikemanusiaan dan perikeadilan dalam hal ini untuk mencegah munculnya anggapan masyarakat bahwa putusan pengadilan itu hanya dijadikan sebagai simbol saja (Suryono Sutarto, 1990:10). Hal-hal yang harus diperhatikan oleh Hakim Pengawas dan Pengamat terhadap putusan pengadilan dalam rangka mewujudkan tujuan tersebut antara lain yaitu:
a) Pelaksanaan atau eksekusi putusan dilakukan sesuai dengan peraturan yang ada, antara lain:
1) Pasal 55 ayat (3) Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman bahwa putusan Pengadilan harus dilaksanakan dengan memperhatikan nilai kemanusiaan dan keadilan.
2) Pasal 270 sampai dengan Pasal 276 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) tentang pelaksanaan putusan Pengadilan khususnya yang mengatur mengenai pidana perampasan kemerdekaan dan pidana bersyarat.
3) Peraturan yang berlaku dalam Lembaga Pemasyarakatan sepanjang mengatur mengenai pelaksanaan putusan Pengadilan.
commit to user
b) Pelaksanaan putusan harus sesuai dengan bunyi amar putusan yang telah dijatuhkan, khususnya untuk amar putusan yang berupa perampasan kemerdekaan atau pemidanaan bersyarat.
c) Penyerahan terpidana oleh Jaksa kepada Lembaga Pemasyarakatan harus tepat pada waktunya.
d) Hak-hak terpidana harus diberikan sepanjang syarat-syarat prosedural sesuai sistem pemasyarakatan telah dipenuhi. Hak-hak tersebut misalnya pemberian asimilasi, remisi, cuti, lepas bersyarat/integrasi, dan lain-lain.
Menurut Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 7 Tahun 1985 tentang Petunjuk Pelaksanaan Tugas Hakim Pengawas dan Pengamat bahwa Pengawasan terhadap pelaksanaan putusan pengadilan yang dilakukan oleh Hakim Pengawas dan Pengamat diwujudkan dalam beberapa bentuk kegiatan antara lain yaitu:
a) Memeriksa dan menandatangani register pengawasan dan pengamatan. Kegiatan ini dilakukan setelah jaksa sebagai pelaksana putusan menyerahkan terpidana kepada Lembaga Pemasyarakatan. Setelah terpidana ditempatkan sesuai tempatnya menjalani hukuman kemudian jaksa membuat berita acara pelaksanaan putusan Pengadilan yang ditandatangani sendiri olehnya, Kepala Lembaga Pemasyarakatan, dan terpidana yang bersangkutan. Berita acara yang telah ditandatangani tersebut selanjutnya dikirimkan oleh jaksa ke pengadilan kemudian panitera pengadilan mencatat dalam register pengawasan dan pengamatan.
Hakim pengawas dan pengamat tinggal mengecek dan menandatangani setelah memastikan bahwa putusan sudah mulai dilaksanakan.
b) Checking on the spot. Kegiatan ini dilakukan oleh Hakim Pengawas dan Pengamat dengan cara mendatangi Lembaga Pemasyarakatan secara langsung untuk memeriksa kebenaran isi berita acara pelaksanaan putusan pengadilan yang telah dikirimkan commit to user
oleh Jaksa, kebenaran ketepatan waktu Jaksa menyerahkan terpidana kepada Lembaga Pemasyarakatan, kebenaran pelaksanaan hukuman secara nyata yang dilakukan oleh Lembaga Pemasyarakatan. Checking on the spot ini dilakukan paling sedikit 3 (tiga) bulan sekali.
c) Observasi. Kegiatan ini dilakukan oleh Hakim Pengawas dan Pengamat secara langsung di Lembaga Pemasyarakatan untuk mengetahui keadaan, suasana, dan kegiatan apa saja yang berlangsung dalam lingkungan tembok-tembok Lembaga Pemasyarakatan. Observasi ini bertujuan untuk menilai bagaimana keadaan di Lembaga Pemasyarakatan apakah telah mencerminkan bahwa pemidanaan tidak dimaksudkan untuk menderitakan dan tidak diperkenankan merendahkan martabat manusia. Hakim Pengawas dan Pengamat juga harus secara langsung mengamati perilaku narapidana sehingga dapat mengetahui dampak dari putusan pidana yang dijatuhkan kepada terpidana tersebut.
d) Melakukan wawancara dengan para wali pembina. Kegiatan ini dilakukan oleh Hakim Pengawas dan Pengamat untuk mengetahui mengenai pembinaan yang berikan kepada narapidana apakah telah dilaksanakan dengan baik dan sebagaimana mestinya. Dengan melakukan kegiatan wawancara tersebut Hakim Pengawas dan Pengamat dapat mengetahui hasil pembinaan di dalam Lembaga Pemasyarakatan.
e) Wawancara dengan narapidana. Tidak hanya melakukan wawancara dengan para wali pembina, Hakim Pengawas dan Pengamat harus melakukan wawancara secara langsung dengan narapidana. Kegiatan tersebut dilakukan untuk mengetahui perlakuan terhadap sesama narapidana maupun perlakuan dari petugas Lembaga Pemasyarakatan kepada narapidana. Hakim Pengawas dan Pengamat dapat mengetahui ada tidaknya kekerasan
commit to user
yang terjadi antar narapidana maupun dari petugas Lembaga Pemasyarakatan (Apriyanti, dkk, 2014:81).
Berdasarkan ketentuan Pasal 280 ayat (2) di atas dapat diketahui bahwa Hakim Pengawas dan Pengamat tidak hanya berwenang melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan putusan pengadilan tetapi juga bewenang untuk melakukan pengamatan. Pengamatan tersebut ditujukan sebagai penelitian terhadap pelaksanaan pemidanaan di Lembaga Pemasyarakatan. Penelitian tersebut penting dilakukan guna memperoleh kepastian yang sifatnya bermanfaat bagi pemidanaan atau bagi penjatuhan pidana oleh pengadilan yang akan datang. Penelitian dapat dapat diperoleh dari data perilaku narapidana, hasil pembinaan dari Lembaga Pemasyarakatan, serta pengaruh dari pembinaan tersebut terhadap narapidana yang menjalani pidananya maupun sebaliknya (Elvi Susansi, 2019:83).
Menurut Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 7 Tahun 1985 tentang Petunjuk Pelaksanaan Tugas Hakim Pengawas dan Pengamat bahwa pengamatan terhadap pelaksanaan putusan pengadilan yang dilakukan oleh Hakim Pengawas dan Pengamat diwujudkan dalam beberapa bentuk kegiatan antara lain yaitu:
a) Mengumpulkan data-data tentang perilaku narapidana yang dikategorikan berdasarkan jenis tindak pidananya. Dalam mengumpulkan data-data ini Hakim Pengawas dan Pengamat dapat mengacu pada beberapa faktor misalnya tipe pelaku tindak pidana apakah pelaku baru pertama kali melakukan tindak pidana atau residivis, keadaan rumah tangganya apakah harmonis atau kacau, perhatian keluarga terhadap dirinya apakah cukup atau kurang, keadaan lingkungannya apakah lingkungan baik atau tidak, catatan pekerjaannya apakah memiliki pekerjaan tetap atau pengangguran, catatan kepribadiannya apakah egois atau temperamental, keadaan psikisnya, dan lain-lain.
commit to user
b) Mengadakan evaluasi mengenai perilaku narapidana. Misalnya pengaruh lamanya pidana yang dijatuhkan pengadilan terhadap perilaku narapidana apakah sudah tepat untuk melakukan pembinaan yang baik. Pola pembinaan yang baik penting agar pada waktu dilepas nanti narapidana tersebut sudah dapat menjadi anggota masyarakat yang baik dan taat pada hukum (Bahrun dkk, 2019:263). Setelah data-data sudah terkumpul hendaknya hasilnya dilaporkan oleh Hakim Pengawas dan Pengamat secara tertulis kepada Ketua Pengadilan Negeri paling sedikit 3 (tiga) bulan sekali. Selanjutnya Ketua Pengadilan Negeri memberikan laporan tersebut kepada para hakim yang memutus perkara narapidana yang bersangkutan agar para hakim dapat mengetahui pengaruh dari putusan pidana yang dijatuhkannya.
Hal yang penting bagi pembinaan narapidana salah satunya adalah ketepatan lama tidaknya masa pemidanaannya. Pembinaan yang baik terhadap narapidana sangat penting karena diharapkan setelah selesai menjalani masa pidananya seorang narapidana sudah dapat menjadi anggota masyarakat yang baik dan taat pada hukum. Ketepatan lama tidaknya masa pemidanaan juga berpengaruh pada biaya dan tenaga yang diperlukan untuk melakukan pembinaan, apabila masa pidana yang dijatuhkan terlalu lama maka dapat mengakibatkan pemborosan biaya dan tenaga. Selain itu apabila masa pidana yang dijatuhkan kurang maka pembinaan yang seharusnya perlu diberikan juga tidak dapat optimal. Hal itu dapat mengakibatkan narapidana saat kembali ke masyarakat dalam keadaan yang belum baik.
Diketahui dari ketentuan Pasal 280 ayat (2) Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) bahwa pembentuk Undang-Undang ini menghendaki agar pemidanaan-pemidanaan yang dilakukan oleh Pengadilan tidak terlepas dari tujuan pemidanaan (H. Muhammad Rezky dan Chessa Ario, 2020:108). Menurut Pasal 51 Rancangan Undang-Undang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana tujuan commit to user
pemidanaan antara lain yaitu: mencegah terjadinya tindak pidana dengan menegakkan norma hukum; memasyarakatkan pelaku tindak pidana dengan mengadakan pembinaan; menyelesaikan konflik yang ditimbulkan oleh tindak pidana, memulihkan keseimbangan, dan mendatangkan rasa damai dalam masyarakat; dan membebaskan rasa bersalah pada pelaku tindak pidana (Dede Kania, 2014:21). Jadi tujuan pemidanaan bukan untuk menderitakan pelaku tindak pidana ataupun merendahkan martabatnya sebagai manusia. Ketentuan Pasal 280 ayat (2) Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) memang merupakan suatu ketentuan yang ideal bagi pengembangan hukum di Indonesia. Adanya tugas pengamatan oleh Hakim Pengawas dan Pengamat guna penelitian demi ketetapan yang bermanfaat bagi pemidanaan dapat menghasilkan pemikiran mengenai cara-cara pembinaan yang lebih baik terhadap para narapidana (Barda Nawawi Arief, 2001:77). Pemikiran tersebut dapat dijadikan masukan untuk Lembaga Pemasyarakatan dalam melakukan pembinaan agar efektif dan efisien sebagaimana yang dikehendaki oleh Pengadilan.
Diharapkan setelah para narapidana selesai menjalani masa pidananya mereka dapat kembali ke masyarakat dalam keadaan baik dan taat pada hukum.
Berdasarkan kententuan Pasal 280 ayat (3) Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) bahwa pengamatan oleh Hakim Pengawas dan Pengamat harus tetap dilakukan setelah narapidana selesai menjani masa pidananya. Ini berarti bahwa peranan Hakim Pengawas dan Pengamat tidak hanya terbatas mengawasi dan mengamati narapidana selama di Lembaga Pemasyarakatan saja, tetapi juga mengawasi dan mengamati narapidana setelah narapidana tersebut keluar dari Lembaga Pemasyarakatan (Yahya Harahap, 1998:32).
Undang-Undang ini tidak menjelaskan secara rinci mekanisme pengamatan yang harus dilakukan oleh Hakim Pengawas dan Pengamat setelah narapidana keluar dari Lembaga Pemasyarakatan. commit to user
Apabila hanya ada satu Hakim Pengawas dan Pengamat untuk melaksanakan ketentuan ini sangatlah tidak mudah. Seperti kita ketahui tugas Hakim Pengawas dan Pengamat tidak hanya melakukan pengawasan dan pengamatan terhadap pelaksanaan putusan tetapi juga tetap melaksanakan tugas pokok mengadili perkara di Pengadilan. Jika mengharapkan bantuan dari orang atau instansi yang tidak kompeten di bidangnya dikhawatirkan tidak dapat meberikan hasil yang bermanfaat bagi tugas penelitian bahkan dapat membuat penelitian yang dilakukan oleh Hakim Pengawas dan Pengamat memberikan hasil yang keliru (Fiqih Hidayat Hamin, 2018:154). Menurut Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 7 Tahun 1985 tentang Petunjuk Pelaksanaan Tugas Hakim Pengawas dan Pengamat dalam melakukan tugasnya Hakim Pengawas dan Pengamat harus mengumpulkan fakta nyata berdasarkan keadaan yang sebenarnya, jauh dari percampuran opini subyektif karena untuk menghindari hasil yang menyesatkan.
Berdasarkan Pasal 280 ayat (4) Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) bahwa Hakim Pengawas dan Pengamat juga ditugaskan untuk melakukan pengawasan dan pengamatan terhadap seseorang yang dijatuhi pidana bersyarat. Seperti telah diketahui pemidanaan bersyarat diatur dalam pasal 14 a Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Andi Hamzah dan Siti Rahayu berpendapat bahawa pidana bersyarat adalah menjatuhkan pidana pada seseorang akan tetapi pidana tersebut tidak usah dijalani, kecuali dikemudian hari ternyata bahwa terpidana sebelum batas tempo percobaan berbuat suatu tindak pidana lagi atau melanggar syarat-syarat yang diberikan oleh hakim kepadanya, jadi putusan pidana tetaplah ada akan tetapi hanya pelaksanaan pidana itu yang tidak dilakukan (Andi Hamzah dan Siti Rahayu, 1983:31). Pada dasarnya, hakim harus menentukan syarat umum dan syarat khusus yang harus dipenuhi oleh terpidana. Syarat umum yaitu selama masa percobaan, terpidana tidak boleh melakukan suatu tindak pidana atau melakukan kegiatan yang bersifat melanggar commit to user
hukum. Kemudian syarat khusus yang harus dipenuhi yaitu berkenaan dengan perilakunya dalam pergaulan di masyarakat (Hudali Mukti, 2010:142). Ketentuan Pasal 280 ayat (4) ini dirasa tidak mudah bagi Hakim Pengawas dan Pengamat. Hakim Pengawas dan Pengamat sulit untuk dapat melakukan pengawasan dan pengamatan secara langsung jika terpidana berada di luar Lembaga Pemasyarakatan. Oleh karena itu masih diperlukan pengaturan yang lebih jelas dan pemikiran yang baik terkait mekanisme pelaksanaan tugas tersebut.
Menurut Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 7 Tahun 1985 tentang Petunjuk Pelaksanaan Tugas Hakim Pengawas dan Pengamat bahwa pengawasan dan pengamatan terhadap narapidana yang telah keluar dari Lembaga Pemasyarakatan atau terpidana bersyarat sedapat mungkin dilakukan dengan menjalin kerjasama dengan aparat pemerintahan desa (kepala desa/lurah), sekolah-sekolah, pejabat agama, yayasan-yayasan yang berkecimpung dalam bidang sosial yang sudah biasa membantu pembinaan bekas narapidana, seperti balai BISPA, Direktorat Rehabilitasi Tuna Sosial, Direktorat Jendral Rehabilitasi dan Pelayanan Sosial Departemen Sosial, dan sebagainya.
Namun karena keadaan dan situasi di berbagai daerah yang belum memungkinkan, Mahkamah Agung selanjutnya menyerahkan pada kebijaksanaan Hakim Pengawas dan Pengamat di daerah.
Tugas pengamatan oleh Hakim Pengawas dan Pengamat terhadap narapidana yang telah keluar dan terpidana bersyarat dilakukan dengan mengamati tingkah laku narapidana setelah selesai menjalani pidananya untuk mengetahui sejauh mana pengaruh pembinaan oleh Lembaga pemasyarakatan terhadap perilaku narapidana. Data-data tersebut diperlukan oleh Hakim Pengawas dan Pengamat demi terciptanya hukum dan pola pembinaan yang baik sebagaimana yang diharapkan. Jika untuk mendapatkan data-data tersebut Hakim Pengawas dan Pengamat harus terjun secara langsung dirasa kurang efektif karena dapat menyita waktu hakim, mengingat hakim tersebut commit to user
memiliki tugas pokok untuk mengadili perkara di Pengadilan. Di sisi lain tidak menutup kemungkinan dapat juga membuat bekas narapidana tersebut merasa terganggu dan merasa dibatasi kebebasannya karena apapun yang dilakukannya akan diamati.
Alternatif yang dapat dilakukan adalah dengan bekerjasama dengan aparat desa tempat narapidana berdomisili, yayasan sosial atau pihak yang mengetahui kegiatan keseharian narapidana. Pihak-pihak yang terlibat harus dipastikan terpercaya sehingga tidak akan berpengaruh buruk terhadap hasil pengamatan guna penelitian yang bermanfaat.
Pasal 281 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) menyatakan bahwa: “Atas permintaan Hakim Pengawas dan Pengamat, Kepala Lembaga Pemasyarakatan menyampaikan informasi secara berkala dan sewaktu-waktu tentang perilaku narapidana tertentu yang ada dalam pengamatan hakim tersebut”. Berdasarkan ketentuan Pasal 281 tersebut dapat diketahui bahwa Hakim Pengawas dan Pengamat boleh meminta Kepala Lembaga Pemasyarakatan untuk memberikan informasi mengenai perilaku narapidana yang berada dalam pengawasan dan pengamatannya secara berkala atau sewaktu- waktu ketika dibutuhkan. Hal tersebut dapat mempermudah Hakim Pengawas dan Pengamat mendapatkan data mengenai perilaku narapidana karena tidak setiap saat Hakim Pengawas dan Pengamat dapat melakukan pengawasan dan pengamatan secara langsung di Lembaga Pemasyarakatan.
Pasal 282 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) menyatakan bahwa: “Jika dipandang perlu demi pendayagunaan pengamatan, Hakim Pengawas dan Pengamat dapat membicarakan dengan Kepala Lembaga Pemasyarakatan tentang cara pembinaan narapidana tertentu”. Berdasarkan ketentuan Pasal 282 tersebut dapat diketahui bahwa agar tugas Hakim Pengawas dan Pengamat dapat terlaksana dengan baik maka sebaiknya setiap Hakim Pengawas dan Pengamat membicarakan dan menyusun program pembinaan commit to user
narapidana yang baik dengan pejabat Lembaga Pemasyarakatan.
Namun Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) ini tidak mengatur secara rinci pola koordinasi yang baku antara Hakim Pengawas dan Pengamat dengan pejabat Lembaga Pemasyarakatan mengenai pola pembinaan narapidana. Urusan teknis pemasyarakatan bukan menjadi kewenangan Hakim Pengawas dan Pengamat sehingga apabila terjadi pelanggaran Hakim Pengawas dan Pengamat tidak dapat bertindak. Hakim Pengawas dan Pengamat hanya dapat memberikan saran dan pendapat yang tidak mengikat ketika diikutsertakan dalam sidang pembinaan pemasyarakatan. Di sini pelaksanaan tugas Hakim Pengawas dan Pengamat lebih bersifat
“pemantau” tanpa diberikan kewenangan (Dessi Perdani Yuris, 2010:102).
Pasal 283 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) menyatakan bahwa: “Hasil pengawasan dan pengamatan dilaporkan oleh Hakim Pengawas dan Pengamat kepada Ketua Pengadilan secara berkala”. Berdasarkan ketentuan Pasal 283 tersebut dapat diketahui bahwa Hakim Pengawas dan Pengamat harus melaporkan hasil pengawasan dan pengamatannya kepada Ketua Pengadilan secara berkala. Hal tersebut dilakukan mengingat Ketua Pengadilan lah yang memberikan tugas pengawasan dan pengamatan kepada Hakim Pengawas dan Pengamat sehingga Hakim Pengawas dan Pengamat harus bertanggungjawab kepada Kepala Pengadilan dengan melaporkan hasil pengawasan dan pengamatan yang dilakukannya.
Menurut Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 7 Tahun 1985 tentang Petunjuk Pelaksanaan Tugas Hakim Pengawas dan Pengamat data-data yang terkumpul dari tugas pengawasan dan pengamatan hendaknya dilaporkan secara tertulis oleh Hakim Pengawas dan Pengamat kepada Ketua Pengadilan Negeri paling sedikit 3 (tiga) bulan sekali dengan tembusan kepada Kepala Lembaga Pemasyarakatan, Kepala Kejaksaan Negeri, Ketua Pengadilan Tinggi, commit to user
Kepala Kantor Wilayah Departemen Kehakiman, Kepala Kejaksaan Tinggi, Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia, Menteri Kehakiman Republik Indonesia, dan Kejaksaan Agung Republik Indonesia. Kemudian Ketua Pengadilan Negeri meneruskan atau menyampaikan laporan tersebut kepada hakim-hakim yang telah memutus perkara narapidana yang bersangkutan agar hakim-hakim tersebut dapat mengetahui pengaruh dari putusan yang mereka jatuhkan.
Berdasarkan semua uraian di atas dapat diketahui bahwa tugas pengawasan yang dilakukan oleh Hakim Pengawas dan Pengamat ditujukan kepada pihak luar yaitu Jaksa dan Lembaga Pemasyarakatan.
Tugas pengawasan menitikberatkan antara lain pada ketepatan waktu jaksa menyerahkan terpidana kepada Lembaga Pemasyarakatan, ketepatan waktu Lembaga Pemasyarakatan dalam melaksanakan masa pidana yang dijatuhkan oleh pengadilan, dan kesesuaian pembinaan narapidana dengan prinsip-prinsip Pemasyarakatan. Sedangkan tugas pengamatan ditujukan kepada pihak internal pengadilan mengenai hasil kerja pengadilan itu sendiri yang berupa pemidanaan, selanjutnya digunakan sebagai bahan penelitian bagi pemidanaan di masa yang akan datang. Tugas pengamatan menitikberatkan pada ketepatan penjatuhan masa pidana yang dilakukan oleh hakim.
Pengawasan dan pengamatan yang dilakukan oleh Hakim Pengawas dan Pengamat terhadap pelaksanaan putusan pengadilan memberikan beberapa manfaat antara lain adalah sebagai berikut (Khunaifi Alhumami, 2018:51):
a) Dapat menghindari terjadinya pemalsuan isi putusan, misalnya mengganti pidana yang tercantum dalam amar putusan yang semula amarnya pidana penjara selama 3 (tiga) tahun menjadi 2 (dua) tahun.
b) Dapat menghindari terjadinya penukaran narapidana, misalnya narapidana yang sebenarnya harus menjalani masa pemidanaan commit to user
digantikan dengan “narapidana bayaran” sehingga narapidana yang sebenarnya tidak perlu menjalani hukumannya.
c) Dapat menghindari penyimpangan yang mungkin terjadi di dalam Lembaga Pemasyarakatan, misalnya petugas Lembaga Pemasyarakatan membolehkan narapidana untuk pulang ke rumah pada malam hari kemudian kembali ke Lembaga Pemasyarakatan di keesokan harinya.
d) Dapat memberikan pemahaman bahwa pemidanaan tidak dimaksudkan untuk menderitakan dan menyengsarakan narapidana, melainkan untuk membina narapidana agar dapat kembali menjadi anggota masyarakat yang baik dan taat pada hukum. hal tersebut sesuai dengan paradigm pemidanaan baru yang dianut Indonesia, yang semula hanya fokus pada upaya pembalasan yang berujung menderitakan pelaku kejahatan sekarang lebih memfokuskan pada pembinaan agar seorang pelaku kejahatan dapat kembali ke masyarakat dengan baik. Konsep yang semula penjara dirubah menjadi Lembaga Pemasyarakatan yang berarti orang yang dimasukkan ke dalam Lembaga Pemasyarakatan tujuannya adalah untuk dimasyarakatkan kembali.
e) Dapat menambah wawasan dan pengetahun Hakim Pengawas dan Pengamat mengenai pengaruh atau dampak dari putusan yang telah dijatuhkan Pengadilan kepada narapidana. Hakim Pengawas dan Pengamat dapat mengetahui secara langsung perilaku dan keadaan narapidana selama menjalani masa pidananya. Dengan demikian, ketika hakim menjatuhkan putusan akan memikirkan dan mempertimbangkan beberapa hal agar putusan tersebut dapat dilaksanakan dengan efektif dan sesuai dengan apa yang diharapkan. Hakim-hakim di Pengadilan Negeri sebaiknya diberi kesempatan untuk menjadi Hakim Pengawas dan Pengamat agar mendapat pengalaman sehingga dapat lebih bijak dalam menjatuhkan putusan. commit to user
2. Pendapat Para Ahli Tentang Eksistensi Hakim Pengawas Dan Pengamat
Eksistensi normatif Hakim Pengawas dan Pengamat yang di atur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHAP) rupanya memunculkan opini dari beberapa ahli hukum yang dilihat dari norma maupun dari praktik senyatanya.
Lamintang berpendapat bahwa dari ketentuan mengenai Hakim Pengawas dan Pengamat dapat diketahui bahawa pembentuk Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) telah menghendaki agar pemidanaan yang dilakukan oleh Pengadilan tidak dilepaskan dari tujuan-tujuan yang ingin dicapai hakim dengan penjatuhan pidananya.
Tugas pengamatan yang dilakukan oleh Hakim Pengawas dan Pengamat digunakan sebagai bahan penelitian yang bermanfaat bagi pemidanaan. Hakim Pengawas dan Pengamat melakukan pengamatan secara langsung mengenai perilaku dan keadaan narapidana di Lembaga Pemasyarakatan sehingga mengetahui pengaruh dari putusan yang dijatuhkan kepada narapidana tersebut. Selanjutnya hasil pengamatan dapat menjadi evaluasi para hakim ketika akan menjatuhkan putusan pemidanaan. Hakim harus memikirkan dan mempertimbangkan beberapa hal dalam menentukan masa hukuman yang tepat agar tujuan penjatuhan putusan tersebut dapat tercapai seperti yang diharapkan (Lamintang, 1984:562).
Mengutip dari Dwi Afrimetty Timora, Umar Seno Adji berpendapat bahwa diperlukan peran Hakim Pengawas dan Pengamat sejak pemeriksaan pendahuluan, pemeriksaan di persidangan, dan sesudah putusan dijatuhkan dalam suatu proses pidana. Hakim tidak hanya akan melihat akibat-akibat dari putusan yang dijatuhkan olehnya, namun Hakim Pengawas dan Pengamat perlu memikirkan cara yang baik agar dapat memasyarakatkan kembali si terpidana.
Jumlah Hakim Pengawas dan Pengamat sangat terbatas dan kemampuannya pun juga terbatas untuk melakukan pengawasan dan commit to user
pengamatan terhadap narapidana yang menjalani pembebasan bersyarat. Beban kerja hakim sebagai hakim di Pengadilan dirasa cukup banyak serta tidak adanya fasilitas yang memadahi untuk melakukan pengawasan dan pengamatan terhadap narapidana yang menjalani pembebasan bersyarat (Dwi Affrimetty Timoera, 2014:53).
Bambang Poernomo berpendapat bahwa terakit dengan tugas pengawasan dan pengamatan, kemanfaatan yang paling utama dalam Ketentuan Bab XX Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) bukan terletak pada tugas pengawasannya, namun terletak pada tugas pengamatannya sebagai bahan penelitian guna penjatuhan pidana. Menurutnya hakim dalam tugas khusus ini turut melakukan pendekatan secara langsung untuk mengetahui sejauh mana baik atau buruknya pada diri narapidana atas putusan hakim yang dijatuhkan kepadanya. Usaha pendekatan dari hakim ini akan menambah kemampuan di bidang hukum penitensier dan pengenalan atas penerapan penology sehingga hakim tidak lagi hanya seorang tukang putus hukuman tanpa ikut memikirkan manfaat putusannya (Bambang Poernomo, 1993:1). Tugas pengawasan terhadap pelaksanaan putusan Pengadilan pada dasarnya dimaksudkan untuk menjamin terlaksananya putusan tersebut. Namun hal tersebut tidak perlu menjadikan hakim menjadi Kepala Lembaga Pemasyarakatan, karena sebenarnya teknis pengawasan itu sudah dapat dilakukan oleh Kepala Direktorat Pemasyarakatan Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia bersama- sama dengan Kejaksaan setempat.
Tambunan berpendapat bahwa wewenang Ketua Pengadilan sebagai pengawas dalam pelaksanaan putusan terutama dimaksudkan agar terpidana yang telah terbukti bersalah benar-benar menjalani pidananya dengan sebaik-baiknya. Untuk menjamin efektivitas pengawasan Ketua Pengadilan menunjuk dan menugaskan hakim yang ada pada pengadilan yang dipimpinnya untuk secara khusus melakukan pengamatan. Jadi pembentukan Hakim Pengawas dan commit to user
Pengamat bertujuan untuk memastikan bahwa putusan pengadilan dilaksanakan sebagaimana mestinya dan diharapkan si terpidana dapat menjalani pidananya dengan sebaik-baiknya. Pembinaan narapidana harus manusiawi sesuai prinsip-prinsip pemasyarakatan dan hak-hak narapidana harus dipenuhi (Tambunan, 1983:163).
Andi Hamzah dan Irdan Dahlan berpendapat bahwa pengawasan hukum adalah tugas jaksa sebagai pelaksana putusan hakim yang diawasi oleh Hakim Pengawas dan Pengamat, dalam rangka hanya untuk menjamin bahwa putusan dilaksanakan dengan baik oleh jaksa dan Lembaga Pemasyarakatan. Pengawasan ini bukan pengawasan vertikal namun pengawasan horizontal. Pengawasan tidak dilakukan secara fisik namun dilakukan secara administratif. Seperti kita ketahui pelaksanaan sistem peradilan pidana terbagi menjadi 4 (empat) sub sistem yaitu Kepolisian, Kejaksaan, Pengadilan, dan Lembaga Pemasyarakatan. Kedudukan empat sub sistem tersebut adalah sejajar.
Jadi pengawasan pelaksanaan putusan yang dilakukan oleh Hakim Pengawas dan Pengamat terhadap Jaksa dan Lembaga Pemasyarakatan merupakan pengawasan horizontal. Pengawasan tersebut bukan suatu pengawasan dari atas ke bawah maupun dari atasan ke bawahan, karena memang kedudukan masing-masing sub sistem adalah sejajar (Andi Hamzah dan Irdan Dahlan, 1984:48).
Adi Andojo berpendapat bahwa menyediakan waktu seharian penuh di Lembaga Pemasyarakatan untuk melihat dari dekat secara langsung semua kegiatan yang ada dilakukan di dalam Lembaga Pemasyarakatan merupakan metoda praktis untuk menginspeksi keadaan di Lembaga Pemasyarakatan. Agar kegiatan tersebut dapat terlaksana dengan baik maka diperlukan keterbukaan dari semua pihak baik dari petugas Lembaga Pemasyarakatan maupun dari narapidana.
Semua pihak diharapkan tidak mengurangi atau menutupi keadaan senyatanya yang ada agar diperoleh kesimpulan yang akurat sehingga dapat dijadikan acuan dalam membuat putusan di kemudian hari. commit to user
Mengingat kesibukan dan kurangnya jumlah hakim, maka inspeksi cukup dilakukan sedikitnya 1 (satu) bulan sekali (Khunaifi Alhumami, 2018:53).
Romli Atmasasmita mengatakan bahwa kritik pedas sering dilontarkan pada Lembaga Pemasyarakatan sebagai aparat penegak hukum dalam hal terjadinya pelarian narapidana atau tahanan, narapidana mati di dalam Lembaga Pemasyarakatan (Romli Atmasasmita, 1996:7). Mengingat bahwa pengawasan terhadap pelaksanaan pemidanaan di Lembaga Pemasyarakatan dilakukan oleh Hakim Pengawas dan Pengamat, maka jika terjadi pelarian narapidana atau narapidana mati di dalam Lembaga Pemasyarakatan hal tersebut dimungkinkan karena tidak adanya koordinasi yang baik antara Lembaga Pemasyarakatan dengan Hakim Pengawas dan Pengamat.
Untuk mengindari terjadinya hal yang tidak diinginkan tersebut maka Hakim Pengawas dan Pengamat sedapat mungkin mendekatkan hubungan antara sub sistem Pengadilan dengan sub sistem Lembaga Pemasyarakatan. Sesuai tugasnya Hakim Pengawas dan Pengamat ditunjuk oleh Ketua Pengadilan untuk mengawasi pelaksanaan pemidanaan termasuk hak-hak yang semestinya diperoleh narapidana (Romli Atmasasmita, 1996:7).
Menurut pendapat Al Wisnubroto dan G Widiartana ketentuan mengenai Hakim Pengawas dan Pengamat dalam Kitab Undang- Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) diatur cukup ideal, namun dalam praktik senyatanya ketentuan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) tersebut kurang berjalan optimal. Beberapa hal yang menjadi faktor penyebabnya yaitu (Al Wisnubroto dan G Widiartana, 2005:109):
a) Hakim Pengawas dan Pengamat yang ada pada setiap pengadilan juga disibukkan dengan tugas pokok mengadili perkara di Pengadilan, sehingga tugasnya sebagai Hakim Pengawas dan Pengamat sering kali terabaikan. commit to user
b) Kurangnya jumlah hakim yang ada di Pengadilan, sehingga tugas sebagai Hakim Pengawas dan Pengamat tidak dapat dijalankan.
c) Kurangnya koordinasi antar aparat penegak hukum. Sering kali dalam hal ini tiap institusi penegak hukum lebih mementingkan tugas masing-masing dan mengesampingkan kebutuhan institusi penegak hukum lain yang berkaitan dengan proses peradilan pidana.
Mengenai pelaksanaan tugas Hakim Pengawas dan Pengawas dalam praktiknya menurut Guru Besar Hukum Pidana di Universitas Diponegoro, Prof. Muladi bahwa selama ini Hakim Pengawas dan Pengamat tidak berjalan optimal. Pengawasan dan pengamatan yang dilakukan oleh Hakim Pengawas dan Pengamat terhadap sistem pemasyarakatan seolah-olah menempatkan petugas pemasyarakatan berada di bawah hakim. Padahal seperti yang telah diketahui bahwa Lembaga Pemasyarakatan merupakan sub sistem yang setara dengan subsistem lain dalam sistem peradilan pidana yaitu polisi, jaksa, dan hakim. Oleh karena itu Prof. Muladi menyarankan agar pasal-pasal mengenai Hakim Pengawas dan Pengamat dalam Kitab Undang- Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) dihilangkan atau dihapuskan (Hapuskan Hakim Wasmat dari KUHAP, Hukum Online, 11 Mei 2011).
Ditjen Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, Didin Sudirman juga membenarkan bahwa selama ini Hakim Pengawas dan Pengamat belum berjalan optimal. Menurutnya pengawasan dan pengamatan tersebut jarang dilakukan oleh hakim yang bersangkutan, dasar pemilihan perkara pidana yang diawasi juga belum jelas. Didin mengatakan hal tersebut berdasarkan pengalamannya memimpin Lembaga Pemasyarakatan bahwa pengawasan dan pengamatan oleh Hakim Pengawas dan Pengamat jarang dilakukan (Hapuskan Hakim Wasmat dari KUHAP, Hukum Online, 11 Mei 2011). commit to user
Hasbullah Fudail, Kepala Bidang Hukum Divisi Pelayanan Hukum Kantor Wilayah Hukum dan Hak Asasi Manusia Provinsi Jawa Barat mengatakan bahwa sampai saat ini peranan Hakim Pengawas dan Pengamat untuk pembinaan narapidana khususnya kabupaten/kota di Provinsi Jawa Barat belum optimal. Hambatan beasar masih dialami dalam mengimpelentasikan tugasnya. Hambatan yang menjadi masalah sampai saat ini mencakup mengenai hambatan regulasi peraturan perundang-undangan, hambatan sarana dan prasarana, hambatan dari Hakim Pengawas dan Pengamat itu sendiri, serta hambatan birokrasi hukum lainnya (Peran Hakim Pengawas dan Pengamat di LAPAS Belum Optimal, Kantor Wilayah Jawa Barat Kementerian Hukum dan HAM Republik Indonesia, 17 April 2012).
Belum optimalnya pelaksanaan tugas Hakim Pengawas dan Pengamat juga telah dibuktikan dengan adanya beberapa hasil penelitian hukum yang pernah didapatkan oleh peneliti sebelumnya.
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Anwaruddin dan Sri Endah Wahyuningsih dalam Jurnal Konferensi Ilmiah Mahasiswa UNISULLA (KIMU) 4 yang berjudul Fungsi Dan Peran Hakim Pengawas Dan Pengamat di Wilayah Hukum Pengadilan Negeri Kudus pertanyaan hukum yang diangkat yaitu: pelaksanaan fungsi dan peran Hakim Pengawas dan Pengamat di wilayah hukum Pengadilan Negeri Kudus; kendala-kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan fungsi dan peran Hakim Pengawas dan Pengamat di wilayah hukum Pengadilan Negeri Kudus. Anwaruddin dan Sri Endah Wahyuningsih menggunakan metode penelitian hukum yuridis sosiologis yang bersifat deskriptif dengan data primer yang berupa wawancara dengan Hakim Pengawas dan Pengamat di Pengadilan Negeri Kudus, kemudian data sekunder diperoleh melalui studi kepustakaan. Mereka berargumentasi bahwa fungsi pengawasan dilakukan oleh Hakim Pengawas dan Pengamat terhadap hal-hal yang berhubungan dengan syarat-syarat administrative narapidana selama menjalani masa commit to user
hukumannya di Lembaga Pemasyarakatan. Fungsi pengamatan yang dilakukan oleh Hakim Pengawas dan Pengamat adalah untuk mengetahui bagaimana perilaku narapidana selama menjalani hukumannya di Lembaga Pemasyarakatan serta membuat hasil pembinaan narapidana selama di Lembaga Pemasyarakatan. Tujuan pengawasan dan pengamatan dapat tercapai dengan baik apabila seorang Hakim Pengawas dan Pengamat dapat memahami dan menguasai tujuan pemidanaan terlebih dahulu, namun apabila Hakim Pengawas dan Pengamat tidak melakukannya maka dirinya tidak akan memiliki pedoman dalam melakukan pengawasan dan pengamatan.
Pada kesimpulannya Anwarrudin dan Sri Endah Wahyuningsih mengatakan bahwa pelaksanaan fungsi dan peran Hakim Pengawas dan Pengamat di wilayah hukum Pengadilan Negeri Kudus belum optimal, karena masih adanya beberapa kendala dalam pelaksanaannya baik yang berasal dari faktor internal Hakim Pengawas dan Pengamat sendiri, maupun faktor eksternal yang berasal dari instansi Kejaksaan yang berkaitan dengan prosedur pelaksanaan fungsi dan peran Hakim Pengawas dan Pengamat di wilayah Pengadilan Negeri Kudus.
Kendala dalam pelaksanaan fungsi dan peran Hakim Pengawas dan Pengamat ada 5 (lima) persoalan antara lain yaitu: tidak sebandingnya jumlah hakim dengan jumlah narapidana; adanya rangkap tugas yang diemban oleh hakim; kesibukan menangani perkara di Pengadilan Negeri Kudus; lemahnya koordinasi dalam penyampaian surat pemberitahuan kunjungan ke Rumah Tahanan Kudus; pernah terjadi kesalahan eksekusi putusan yang salah disebabkan karena minimnya koordinasi antara Jaksa Penuntut Umum dengan Rumah Tahanan Kudus (Anwaruddin dan Sri Endah Wahyuningsih, 2020:514).
Dalam Penelitian yang dilakukan oleh Khunaifi Alhumami dalam Jurnal Hukum Dan Peradilan yang berjudul Peranan Hakim Pengawas Dan Pengamat Untuk Mencegah Terjadinya Penyimpangan Pada Pelaksanaan Putusan Pengadilan, pertanyaan hukum yang diangkat commit to user
yaitu: efektivitas lembaga Hakim Pengawas dan Pengamat terkait upaya preventif penyimpangan pelaksanaan putusan; hambatan pelaksanaan lembaga Hakim Pengawas dan Pengamat. Selanjutnya penelitian tersebut menggunakan pendekatan hukum normatif, data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari hasil observasi dan data sekunder berupa peraturan perundang-undangan dan dokumen lain yang terkait. Khunaifi berargumen bahwa pelaksanaan Pasal 277 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) secara administrasi terpenuhi dengan baik. Kemudian ia berpendapat bahwa secara substansial salah satu kendala pelaksanaan Pasal 280 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) terjadi karena kantor Hakim Pengawas dan Pengamat dengan Lembaga Pemasyarakatan teralu jauh. Pada kesimpulannya khunaifi mengatakan bahwa Lembaga Hakim Pengawas dan Pengamat tidak efetif karena 3 (tiga) hal antara lain adalah kesibukan hakim dalam memeriksa perkara, kurangnya koordinasi antara Hakim Pengawas dan Pengamat dengan Lembaga Pemasyarakatan, kurangnya dukungan sarana dan prasarana termasuk anggaran operasional (Kunaifi Alhumami, 2018:62).
Selanjutnya dalam penelitian yang dilakukan oleh Marwan Busyro dalam Jurnal Justitia yang berjudul Peranan Hakim Pengawas Dan Pengamat Terhadap Pelaksanaan Putusan di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B Kota Padangsidimpuan, pertanyaan hukum yang diangkat yaitu: apakah Hakim Pengawas dan Pengamat telah dapat berperan sebagai aparat yang berwenang dalam mengawasi dan mengamati pelaksanaan suatu putusan pemidanaan di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B Kota Padangsidimpuan. Marwan menggunakan metode penelituan hukum normatif yang menggunakan sumber data primer dan sekunder. Marwan berargumen bahwa masih diperlukan adanya petunjuk pelaksanaan tugas Hakim Pengawas dan Pengamat agar dapat pengawasan dan pengamatan dapat dilaksanakan dengan baik sesuai commit to user
dengan peraturan perundang-undangan. Kemudian mengenai hambantan bagi terlaksananya pengawasan dan pengamatan terhadap narapidana adalah masalah dana yang sangat dibutuhkan untuk melakukan pembinaan narapidana yang ada di Lembaga Pemasyarakatan. Jika dana ini tidak ada maka cara pembinaan narapidana masih jauh dari apa yang diharapkan menurut Undang- Undang. Pada kesimpulannya Marwan Busyro mengatakan bahwa Hakim Pengawas dan Pengamat belum dapat berperan sebagai aparat yang berwenang dalam mengawasi dan mengamati pelaksanaan suatu putusan pemidanaan di Lembaga Pemasyarakatan sesuai dengan tuntutan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) karena disebabkan belum adanya suatu koordinasi dalam pelaksanaan tugas-tugas di lapangan sehingga sering menimbulkan ketidakpastian terhadap wewenang masing-masing. Adapun hambatan yang ditemui Hakim Pengawas dan Pengamat dalam melaksanakan tugasnya adalah tidak adanya penunjang tugasnya seperti staf untuk membantu tugas Hakim Pengawas dan Pengamat dalam mengawasi dan mengamati perkembangan narapidana di Lembaga Pemasyarakatan tersebut (Marwan Busyro, 2014:420-421).
Terakhir dalam penelitian hukum yang dilakukan oleh Maria Rosalina dan Widya Handary dalam Jurnal Hukum Kaidah yang berjudul Peran Hakim Pengawas Dan Pengamat Dalam Melakukan Pengawasan Atas Putusan Yang Telah Berkekuatan Hukum Tetap Bagi Pelaku Tindak Pidana (Studi di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II A Binjai, pertanyaan hukum yang diangkat yaitu: pengaturan hukum lembaga Hakim Pengawas dan Pengamat; peran lembaga Hakim Pengawas dan Pengamat; dan hambatan serta upaya lembaga Hakim pengawas dan Pengamat. Adapun metode penelitian yang mereka lakukan adalah penelitian hukum normatif yang bersifat deskriptif.
Data yang digunakan adalah data primer yang diperoleh dari hasil wawancara dan data sekunder berupa data pustaka. Maria dan Widya commit to user
berargumentasi bahwa tujuan pengaturan hukum terkait lembaga Hakim Pengawas dan Pengamat adalah untuk menjamin pelaksanaan putusan pidana. Menurutnya peran lembaga Hakim Pengawas dan Pengamat dilaksanakan dengan memperhatikan pelayanan, sarana, fasilitas, dan kelebihan kapasitas pada Lembaga Pemasyarakatan kelas II A Binjai dikaitkan dengan hak-hak yang semestinya diperoleh narapidana. Pada kesimpulannya Maria dan Widya mengatakan bahwa dasar pelaksanaan lembaga Hakim Pengawas dan Pengamat ada 3 (tiga) yaitu Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP), Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman, dan Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 7 Tahun 1985 tentang Petunjuk Pelaksanaan Tugas Hakim Pengawas dan Pengamat. Hambatan lembaga Hakim Pengawas dan Pengamat berputar-putar dalam 8 (delapan) bentuk persoalan antara lain yaitu:
persoalan berupa aturan hukum yang kurang tegas tentang Hakim Pengawas dan Pengamat; kurangnya sosialisasi mengenai Hakim Pengawas dan Pengamat; jauhnya jarak kantor Hakim Pengawas dan Pengamat dengan Lembaga Pemasyarakatan; berita acara eksekusi yang lambat dari Jaksa Penuntut Umum; terbatasnya jumlah Hakim Pengawas dan Pengamat; kurangnya koordinasi antara instansi yang terkait; dana operasional khusus Hakim Pengawas dan Pengamat;
beban tugas Hakim Pengawas dan Pengamat untuk tetap mengadili perkara di Pengadilan (Maria Rosalina dan Widya Handari, 2019:11).
Menurut penulis sendiri kurang optimalnya tugas Hakim Pengawas dan Pengamat antara lain dikarenakan pengaturan mengenai Hakim Pengawas dan Pengamat dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) kurang jelas dan terperinci, jumlah hakim Pengadilan yang terbatas, dan hakim tersebut juga merangkap tugas untuk mengadili perkara di Pengadilan. Selain itu Kitab Undang- Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) juga menghendaki bahwa tugas pengawasan dan pengamatan yang dilakukan oleh Hakim commit to user
Pengawas dan Pengamat tetap harus dilakukan terhadap terpidana yang telah selesai menjalani masa pidananya serta terpidana bersyarat. Hal tersebut berarti pengawasan dan pengamatan harus dilakukan di luar Lembaga Pemasyarakatan. Untuk melakukan tugas tersebut tentu saja tidak mudah mengingat wilayah Indonesia yang sangat luas dan bekas narapidana tersebut sudah memiliki kebebasannya kembali. Oleh karena itu Hakim Pengawas dan Pengamat akan mengalami kesulitan sehingga tidak bisa optimal.
B. Pengoptimalan Tugas Hakim Pengawas Dan Pengamat Dalam Menegakkan Keadilan
Berdasarkan pembahasan sebelumnya yang telah penulis paparkan dapat diketahui bahwa pelaksanaan tugas Hakim Pengawas dan Pengamat belum optimal. Belum optimalnya tugas Hakim Pengawas dan Pengamat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain adalah sebagai berikut:
1. Faktor hukum itu sendiri. Ketentuan Pasal 55 ayat (2) Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman menyatakan bahwa pengawasan pelaksanaan putusan Pengadilan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan sesuai dengan peraturan perundang- undangan. Namun sampai saat ini belum ada peraturan perundang- undangan yang secara khusus mengatur mengenai pelaksanaan tugas Hakim Pengawas dan Pengamat. Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) hanya mengatur mengenai keberadaan dan tugas Hakim Pengawas dan Pengamat. Selama ini pelaksanaan tugas Hakim Pengawas dan Pengamat hanya berpedoman pada Surat Edaran Mahkamah Agung yang hanya berlaku untuk internal Mahkamah Agung dan peradilan di bawahnya. Jika hanya berpedoman pada Surat Edaran Mahkamah Agung maka tidak dapat mengikat semua pihak atau hanya berlaku secara internal Mahmakah Agung dan peradilan di bawahnya. Mengingat mengenai hierarkis peraturan perundang-commit to user
undangan Surat Edaran Mahkamah Agung tidak termasuk di dalamnya (Dessi Perdani Yuris, 2010:101)
2. Faktor penegak hukum. Jaksa sebagai pelaksana putusan Pengadilan terkadang terlambat menyerahkan terpidana ke Lembaga Pemasyarakatan atau terlambat dalam menyerahkan berita acara pelaksanaan putusan kepada Pengadilan. Kemudian seringkali tidak adanya koordinasi antara Lembaga Pemasyarakatan dengan Hakim Pengawas dan Pengamat mengenai pembinaan narapidana (Buyung, 2014:6).
3. Faktor anggaran dan fasilitas. Sering kali jarak antara kantor Hakim Pengawas dan Pengamat dengan Lembaga Pemasyarakatan terlalu jauh sehingga membutuhkan sarana dan prasarana untuk melakukan pengawasan dan pengamatan ke Lembaga Pemasyarakatan. Selain itu sesuai ketentuan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) Hakim Pengawas dan Pengamat tetap melakukan pengawasan dan pengamatan terhadap narapidana yang telah selesai menjalani masa pidananya dan terhadap terpidana bersyarat. Tentu hal tersebut memerlukan fasilitas dan anggaran untuk mobilitas dan operasional Hakim Pengawas dan Pengamat. Namun pada kenyataannya tidak ada anggaran secara khusus untuk Hakim Pengawas dan Pengamat.
4. Faktor lainnya yaitu mengenai jumlah dan beban Hakim Pengawas dan Pengamat. Sedikitnya jumlah hakim di Pengadilan membuat Hakim Pengawas dan Pengamat harus tetap menjalankan tugasnya untuk mengadili perkara di Pengadilan karena banyaknya jumlah perkara.
Jadi Hakim Pengawas dan Pengamat merangkap tugas mengadili perkara serta melakukan pengawasan dan pengamatan pelaksanan putusan pengadilan. Beban tugas dan kesibukan Hakim Pengawas dan Pengamat sering kali mengakibatkan terabaikannya salah satu tugasnya.
commit to user
Mengingat pentingnya peran Hakim Pengawas dan Pengamat untuk terjaminnya kepastian bahwa putusan Pengadilan dilaksanakan sebagaimana mestinya serta demi ketetapan yang bermanfaat bagi pemidanaan maka perlu adanya pengoptimalan tugas Hakim Pengawas dan Pengamat. Untuk saat ini ada beberapa upaya pengoptimalan yang dapat dilakukan. Pertama, mengadakan koordinasi antara sub sistem Pengadilan dengan sub sistem Lembaga Pemasyarakatan mengenai pembinaan narapidana agar pembinaan narapidana dapat berjalan baik.
Kedua, memberikan anggaran dan fasilitas khusus untuk pelaksanaan tugas Hakim Pengawas dan Pengamat. Upaya tersebut dirasa kurang mampu untuk benar-benar mengoptimalkan tugas Hakim Pengawas dan Pengamat. Pengoptimalan dari aspek hukum sangat diperlukan karena hukumlah yang menjadi dasar pelaksanaan tugas Hakim Pengawas dan Pengamat. Seperti telah kita ketahui bahwa Undang-Undang saat ini belum mengatur secara jelas dan rinci mengenai tugas dan pelaksanaan Hakim Pengawas dan Pengamat. Maka sangat diperlukan beberapa upaya pengoptimalan di masa yang akan datang dari aspek hukum.
Konsepsi pembaharuan hukum acara pidana terkait peranan Hakim Pengawas dan Pengamat perlu direkonstruksi karena ada ketidakjelasan dalam perumusan ketentuan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP). Agar tujuan penegakan hukum dan keadilan melalui penjatuhan putusan maka sebaiknya ada beberapa pasal yang harus direvisi. Terdapat kelemahan perumusan pasal-pasal dalam Kitab Undang- Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP). Untuk mengatasinya maka dapat diajukan konsepsi yang mencakup beberapa aspek. Pertama, berkaitan dengan tidak efektifnya pengaturan mengenai obyek pengawasan dan pengamatan yang berupa putusan pengadilan. Dalam ketentuan Pasal 277 ayat (1) obyek pengawasan dan pengamatan adalah hanya terhadap putusan yang berupa perampasan kemerdekaan saja. Kemudian di Pasal 280 ayat (4) disebutkan kembali bahwa pengawasan dan pengamatan juga dilakukan terhadap putusan yang berupa pidana bersyarat. Agar efektif dan commit to user
tidak menimbulkan kebingungan maka Pasal 277 ayat (1) yang semula berbunyi: “Pada setiap Pengadilan harus ada hakim yang diberi tugas khusus untuk membantu ketua dalam melakukan pengawasan dan pengamatan terhadap putusan Pengadilan yang menjatuhkan pidana perampasan kemerdekaan” sebaiknya dirubah menjadi: “Pada setiap Pengadilan harus ada hakim yang diberi tugas khusus untuk membantu ketua dalam melakukan pengawasan dan pengamatan terhadap putusan Pengadilan yang menjatuhkan pidana perampasan kemerdekaan atau pidana bersyarat” atau dengan mengatur secara jelas ketentuan mengenai kedudukan, tugas dan fungsi Hakim Pengawas dan Pengamat terhadap terpidana bersyarat dalam pasal tersendiri.
Kedua, terkait ketidakjelasan norma mengenai pengamatan terhadap terpidana bersyarat. Oleh karena itu diperlukan revisi Kitab Undang- Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) untuk mengatur pengamatan terhadap terpidana bersyarat dalam satu pasal khusus. Pasal tersebut harus mengatur secara jelas dan tegas mengenai cara Hakim Pengawas dan Pengamat melakukan tugas dan fungsinya dalam mengamati terpidana bersyarat, pihak-pihak lain yang akan dilimpahi wewenang untuk mengawasi dan mengamati terpidana bersyarat secara langsung.
Mengingat bahwa masyarakat lah yang berinteraksi langsung dengan terpidana maka pengawasan dan pengamatan mengenai perubahan perilaku terpidana harus dimulai oleh masyarakat yang paling dekat dengan terpidana tersebut. Pengawasan dan pengamatan tersebut dapat dimulai oleh aparat pemerintah terendah yaitu Kepala Desa/Kelurahan melalui Ketua Rukun Tetangga (RT) tempat narapidana berdomisili.
Kemudian hasil dari pengamatan tersebut dapat diteliti secara berkala, diverifikasi, dan dibuatkan rekomendasi oleh Balai Pemasyarakatan (BAPAS) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia. Hasil rekomendasi tersebut yang dijadikan pedoman oleh Hakim Pengawas dan Pengamat untuk menetapkan penghentian masa percobaan bagi terpidana
commit to user
atau menetapkan pelaksanaan pidana perampasan kemerdekaan bagi terpidana apabila melanggar persyaratan yang telah diberikan Pengadilan.
Jika merujuk pada Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (RKUHAP) sekarang pengaturan mengenai Hakim Pengawas dan Pengamat tidak banyak mengalami perubahan dari Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana lama. Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (RKUHAP) hanya menambahkan ketentuan mengenai jumlah Hakim Pengawas dan Pengamat. Tetapi ada suatu aturan baru yang menarik dalam rancangan tersebut yaitu adanya pengaturan mengenai Hakim Pemeriksa Pendahuluan. Hakim Pemeriksa Pendahuluan tersebut diatur dalam Pasal 111 sampai dengan Pasal 122 Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (RKUHAP). Hakim Pemeriksaan Pendahuluan ini dijabat oleh hakim Pengadilan Negeri sama halnya dengan Hakim Pengawas dan Pengamat. Dalam rancangan tersebut diatur bahwa selama menjabat sebagai Hakim Pemeriksa Pendahuluan, hakim tersebut dibebaskan dari tugas untuk mengadili semua jenis perkara dan tugas lain yang berkaitan dengan tugas Pengadilan. Setelah menyelesaikan masa jabatannya sebagai Hakim Komisaris baru hakim tersebut kembali melaksanakan tugasnya sebagai hakim di Pengadilan Negeri. Hakim Pemeriksa Pendahuluan berkantor di Rumah Tahanan atau di dekat Rumah Tahanan. Dalam melaksanakan tugasnya Hakim Pemeriksa Pendahuluan dibantu oleh seorang panitera dan beberapa orang staf sekretariat. Hakim Pemeriksa Pendahuluan memiliki tugas dan fungsi yang hampir sama dengan Hakim Pengawas dan Pengamat yaitu sama-sama melakukan pengawasan. Perbedaanya adalah Hakim Pemeriksa Pendahuluan melakukan pengawasan terhadap sah atau tidaknya tindakan upaya paksa yang dilakukan pada tahap pemeriksaan pendahuluan (pra ajudikasi) seperti penangkapan, penggeledahan, penyitaan atau pemeriksaan surat- surat. Sedangkan Hakim Pengawas dan Pengamat melakukan pengawasan setelah pemeriksaan di sidang Pengadilan selesai dan telah ada putusan yang berkekuatan hukum tetap (pasca ajudikasi). Berdasarkan kemiripan commit to user
tersebut konsep pengaturan Hakim Pengawas dan Pengamat dalam beberapa hal dapat mengadopsi konsep pengaturan Hakim Pemeriksa Pendahuluan namun dengan beberapa penyesuaian. Konsep yang dapat diadopsi dari Hakim Pemeriksa Pendahuluan meliputi 3 (tiga) hal.
Pertama, hakim yang ditunjuk untuk menjabat sebagai Hakim Pengawas dan Pengamat juga harus dibebaskan dari tugas mengadili perkara dan tugas lain yang berkenaan dengan Pengadilan. Jadi selama bertugas sebagai Hakim Pengawas dan Pengamat, hakim tersebut hanya fokus menjalankan tugasnya melakukan pengawasan dan pegamatan pelaksanaan putusan. Setelah selesai menjabat sebagai Hakim Pengawas dan Pengamat baru kembali dibebani tugas penanganan perkara. Dengan begitu diharapakan Hakim Pengawas dan Pengamat dapat menjalankan tugasnya dengan optimal. Kedua, kantor Hakim Pengawas dan Pengamat yang semula berada di kantor Pengadilan Negeri harus dipindahkan di atau di dekat kantor Lembaga Pemasyarakatan, sehingga dapat memudahkan Hakim Pengawas dan Pengamat dalam melakukan pengawasan dan pengamatan di Lembaga Pemasyarakatan. Hal tersebut juga dapat mendekatkan hubungan dan memudahkan Hakim Pengawas dan Pengamat untuk berdiskusi dan berkoordinasi dengan pihak Lembaga Pemasyarakatan. Ketiga, seperti Hakim Pemeriksa Pendahuluan dalam melaksanakan tugasnya dibantu oleh panitera dan staf sekretariat, Hakim Pengawas dan Pengamat dalam melaksanakan tugasnya juga perlu dibantu beberapa staf sekretariat.
Dalam rangka penegakan hukum yang bertujuan untuk menciptakan suatu keadilan maka pengoptimalan tugas Hakim Pengawas dan Pengamat perlu dilakukan. Mengingat bahwa tujuan pengawasan dan pengamatan adalah untuk memastikan bahwa putusan Pengadilan telah dilaksanakan sebagaimana mestinya dan demi ketetapan yang bermanfaat bagi pemidanaan. Berdasarkan konsepsi yang telah diajukan di atas, disimpulkan bahwa pembaharuan hukum acara pidana mengenai peranan Hakim Pengawas dan Pengamat yang sebaiknya diterapkan adalah norma commit to user
hukum acara pidana yang mengatur secara jelas dan tegas mengenai peranan Hakim Pengawas dan Pengamat terhadap perubahan perilaku narapidana, sehingga setiap penjatuhan pidana penentuan masa hukumannya dapat tepat dan dapat dipastikan bahwa narapidana ketika kembali ke masyarakat dalam keadaan baik dan taat hukum.
commit to user