ASSALAMU’ALAIKUM, WR, WB.
By :
Hendra Septiawan (4209100501)
Dosen Pembimbing :
Semin Sanuri., ST, MT, Ph.D., , , Ir. Aguk Zuhdi M.F., M.Eng, Ph.D.
Marine Engineering Dept ITS
ANALISA TEGANGAN PISTON AKIBAT
PENGURANGAN TEBAL PISTON HEAD PADA
PENGURANGAN TEBAL PISTON HEAD PADA
KONVERSI MESIN DIESEL MENJADI MESIN
BAHAN BAKAR GAS
BAHAN BAKAR GAS
By :
Hendra Septiawan (4209100501)
Dosen Pembimbing :
Semin Sanuri., ST, MT, Ph.D., , , Ir. Aguk Zuhdi M.F., M.Eng, Ph.D.
LATAR BELAKANG
Perkembangan teknologi bahan bakar sangatlah
Perkembangan teknologi bahan bakar sangatlah
signifikan. Salah satu bahan bakar yang mulai
dilirik pada bidang otomotif adalah CNG Namun
dilirik pada bidang otomotif adalah CNG. Namun
untuk mesin yang dikonversi menjadi bahan bakar
CNG perlu dilakukan modifikasi pada mesin salah
CNG perlu dilakukan modifikasi pada mesin, salah
satunya adalah memodifikasi piston. Dengan
demikian akan mempengaruhi tegangan yang
demikian akan mempengaruhi tegangan yang
terjadi pada piston. Penulisan dilakukan untuk
menganalisa tegangan piston dan distribusi
menganalisa tegangan piston dan distribusi
thermal yang terjadi pada piston.
PERUMUSAN MASALAH
1 Bagaimana tegangan yang terjadi pada piston akibat
1. Bagaimana tegangan yang terjadi pada piston akibat pengurangan ketebalan piston head dengan berbagai macam variasi compression ratio?
macam variasi compression ratio?
2. Bagaimana distribusi temperature yang terjadi pada piston?
3. Apakakah piston mampu menahan tekanan silinderp p p akibat pemotongan pada piston head?
BATASAN MASALAH
1 Tidak membahas proses pembakaran yang terjadi pada
1. Tidak membahas proses pembakaran yang terjadi pada ruang bakar.
2 Tid k b h d t il i l i f i
2. Tidak membahas secara detail simulasi performa mesin.
3. Variasi compression ratio yaitu pada 10, 13, 15, 17, 19 dan 20.28 saja.
4. Tidak membahas pengaruh variasi compression ratio terhadap performa mesin.
Tujuan Penulisan
1 Mengetahui tegangan yang terjadi pada piston akibat
1. Mengetahui tegangan yang terjadi pada piston akibat tekanan yang terjadi akibat pembakaran pada ruang bakar
bakar.
2. Mengetahui distribusi temperatur yang terjadi pada i t
piston.
3. Mengetahui apakah piston dapat menerima beban yang diberikan akibat konversi bahan bakar diesel menjadi CNG tersebut.
Tinjauan Pustaka
1 Gudimetal & Gopinath (2009)
1. Gudimetal & Gopinath (2009)
“Finite Element Analysis of Reverse Engineered Internal
C
b ti
E i
Pi t ”
Combustion Engine Piston”.
2. Morel, dkk (1990)
“Detailed Analysis of Heat Flow Pattern in Piston”.
DASAR TEORI
DASAR TEORI
Compressed Natural Gas
(CNG)
(CNG)
CNG merupakan gas alam yang dikompresi dan dapat
di i d l b j CNG b hk l
disimpan dalam suatu bejana. CNG membutuhkan volume bejana yang lebih besar untuk mendapatkan massa yang sama terhadap gas alam dan menggunakan tekanan tinggi sama terhadap gas alam dan menggunakan tekanan tinggi sekitar 200 bar atau 2900 psi (
Poulton, 1994
).Mesin Diesel
Motor diesel mempunyai banyak keunggulan antara lain Motor diesel mempunyai banyak keunggulan antara lain mempunyai tingkat efisiensi yang tinggi dengan tingkat pemakaian bahan bakar relatif rendah (
Harington 1992
)pemakaian bahan bakar relatif rendah (
Harington,1992
).Dalam motor diesel bahan bakar diinjeksikan ke dalam
ili d b i i d b t k ti i S l
silinder yang berisi udara bertekanan tinggi. Selama kompresi udara dalam silinder mesin maka suhu udara
i k t hi k tik b h b k d l b t k
meningkat, sehingga ketika bahan bakar dalam bentuk kabut halus, bersinggungan dengan udara panas ini, akan menyala dan tidak dibutuhkan alat penyalaan dari luar menyala, dan tidak dibutuhkan alat penyalaan dari luar. Karena alasan ini maka motor diesel disebut juga motor penyalaan kompresi
Elemen Hingga (Finite Element)
Finite Element merupakan pusat untuk menampilkan Finite Element merupakan pusat untuk menampilkan analisa teknik dari suatu model menggunakan computer. Finite element method memecahkan masalah ini dengan Finite element method memecahkan masalah ini dengan membagi model yang kompleks menjadi sebuah group dari elemen hingga (finite element) Element dari model finite elemen hingga (finite element). Element dari model finite element memiliki bentuk geometri yang umum seperti rectangles triangles dan tetrahedral
rectangles, triangles dan tetrahedral.
Load dan Boundry Conditon
Masing masing pembebanan pada model berbeda beda Masing-masing pembebanan pada model berbeda-beda. Seperti sebuah kantilever yang dipasang di dinding, sebuah pelat yang ditumpu maka yang demikian merupakan pelat yang ditumpu, maka yang demikian merupakan kondisi batas (
boundry condition
)Load dan Boundry Conditon
Pelat dicekam
Pelat diberi b b
Perindahan Kalor
Perpindahan kalor (heat transfer) ialah ilmu untuk Perpindahan kalor (heat transfer) ialah ilmu untuk meramalkan energi yang terjadi karena adanya perbedaan suhu diantara benda atau material (
Holman J P 1986
) suhu diantara benda atau material (Holman J.P, 1986
). Ilmu ini dapat digunakan untuk meramalkan energi yang diperlukan untuk mengubah sistem dalam keadaan diperlukan untuk mengubah sistem dalam keadaan seimbang ke keadaan seimbang lain, tetapi tidak dapat meramalkan kecepatan perpindahan itumeramalkan kecepatan perpindahan itu.
Perindahan Kalor Konveksi
Sudah umum diketahui bahwa plat logam panas akan Sudah umum diketahui bahwa plat logam panas akan menjadi dingin lebih cepat bila ditaruh didepan kipas angin dibandingkan bilamana ditempatkan di udara tenang Kita dibandingkan bilamana ditempatkan di udara tenang. Kita katakan bahwa kalor dikonveksi atau dipindahkan ke luar, dan proses ini dinamakan
perpindahan kalor secara
dan proses ini dinamakan
perpindahan kalor secara
konveksi.
METODOLOGI
METODOLOGI
Data Mesin
Item Unit
Combustion System Direct injection system
Type Single cylinder, vertical-4 cycle air cooled d l yp diesel Number of cylinder 1 Bore mm 86 St k 70 Stroke mm 70 Displacement mm 0.406 Output kW (HP) 6.6 (9.0) 7 4 (10 0) (HP) 7.4 (10.0) Compression ratio 20.28
Speed (PTO Shaft) RPM 3800 1800 3600 1800 max : 3800 1900 3800 1900 Speed at no load RPM max : 3800 1900 3800 1900 min : 1200 600 1200 600 Sumber : YANMAR Service Manual 2003
Piston
ANALISA DAN
ANALISA DAN
PEMBAHASAN
Definisi Umum
Analisa dilakukan dengan cara memvariasikan compression ratio (CR) Analisa dilakukan dengan cara memvariasikan compression ratio (CR) engine. Mulai dari 10, 13, 15, 17, 19 dan 20.28. Dari kondisi ini maka torsi, pressure dan distribusi thermal akan bervariasi. Kemudian dilakukan analisa tegangan (stress) yang terjadi pada piston. Untuk mengetahui tegangan yang terjadi dapat diterima oleh piston yaitu dengan parameter tegangan ijin
dengan parameter tegangan ijin.
) y leleh(σ tegangan ) iji ijin(σ Tegangan = σy = 505 Mpa ) keamanan(n faktor ) ijin ijin(σ Tegangan MPa 5 252 505 σ = = n = 2 MPa 5 , 252 2 ijin σ = =
Jenis Volume pada Piston
Untuk menghitung CR, yaitu :
Inputan Data
Clearence hole Clearence hole stroke V V V V V CR + + + =CR Tclear. Tcut Vstroke Vhole Vclear. Stroke
20.28 0.70 - 406285.44 17006.82 4062.85 70.00 19 1.05 0.35 406285.44 16432.98 6094.28 69.65 17 1.70 1.00 406285.44 15349.92 9866.93 69.00 15 2.48 1.78 406285.44 14401.70 14394.11 68.22 13 3.53 2.83 406285.44 13237.86 20488.39 67.17
Mechanical Properties Duralaluminium :
Inputan Data
Mechanical Properties Duralaluminium :
Density 2600-2800 kg/m3
Melting Point 660 °C
Analisa Struktur
g
Elastic Modulus 70-79 GPa Poisson's Ratio 0.33
Tensile Strength 230 570 MPa
Analisa Struktur Analisa Struktur
Tensile Strength 230-570 MPa Yield Strength 215-505 MPa Percent Elongation 10-25%
Analisa Struktur & Termal
A T
Inputan Data
CR Tekanan Maksimal (bar) Tekanan Maksimal (N/mm2) CR Temp. Head (OC) Temp. max (OC) Heat Transfer (W/mm2) 20 28 317 85 1750 201 20.28 86.64 8.664 19 81.21 8.121 17 72.83 7.283 20.28 317.85 1750 201 19 317.85 1750 193 17 317.85 1790 180 15 64.51 6.451 13 56.32 5.632 10 44.13 4.413 15 317.85 1820 167 13 317.85 1850 154 10 317.85 1910 132Data untuk Analisa
Meshing dan Boundry Condition
Untuk Analisa Struktur
Untuk Analisa Struktur
Memesukkan Pressure d M d l
pada Model
Piston dicekam pada Lubang Piston pin
Elemen tipe Tetrahedral dengan rasio 0.3
Hasil Siulasi Untuk Analisa
Struktur
Struktur
339 N/mm2
Tegangan terbesar terjadi pada daerah lubang piston pin
Data Tegangan Hasil Analisa
Struktur
Struktur
Tekanan Tekanan Stress (N/mm
2) CR Tekanan Maksimal (bar) Tekanan Maksimal (N/mm2) Tegangan ijin (N/mm2) Max. Min. 20.28 86.64 8.664 339 0.0539 420.8 19 81 21 8 121 308 0 0656 420 8 19 81.21 8.121 308 0.0656 420.8 17 72.83 7.283 304 0.0624 420.8 15 64 51 6 451 266 0 065 420 8 15 64.51 6.451 266 0.065 420.8 13 56.32 5.632 221 0.0564 420.8 10 44.13 4.413 171 0.0445 420.8
Data Tegangan Hasil Analisa
Struktur
Dari data diatas, maka dapat diketahui bahwa pada CR 13 dan 10 tekanan yang terjadi pada cylinder masih dapat
Struktur
dan 10 tekanan yang terjadi pada cylinder masih dapat diterima oleh piston. Karena tegangan yang terjadi masih lebih kecil dari tegangan ijin. Dengan demikian modifikasig g j g piston yang dapat diaplikasikan pada mesin diesel yang dikonversi menjadi mesin berbahan bakar gas yaitu pada
i ti 13 d 10 compression ratio 13 dan 10.
Meshing dan Boundry Condition
Untuk Analisa Struktur
Untuk Analisa Struktur
Memesukkan Temperatur (oC) d H t (W/ 2) Heat Convection pada
(oC) dan Heat (W/mm2) p
daerah ring piston dan skirt piston
Elemen tipe Tetrahedral dengan rasio 0.3
Meshing dan Boundry Condition
Untuk Analisa Struktur
1750 oCUntuk Analisa Struktur
Temperatur terbesar pada piston head
Data Tegangan Hasil Analisa
Termal
Termal
Distr. Temp.(oC) Heat Flux (W/mm2)
CR Distr. Temp.( C) Heat Flux (W/mm )
max min max min
20 28 1750 1740 1 45 2 06 x10‐4 20.28 1750 1740 1.45 2.06 x10 4 19 1750 1740 1.47 2.15 x10‐4 17 1790 1780 1 49 2 45 10 4 17 1790 1780 1.49 2.45 x10‐4 15 1820 1810 1.46 6.96 x10‐7 13 1850 1840 1.48 1.17 x10‐5 10 1910 1900 1.51 6.07 x10‐6
Data Tegangan Hasil Analisa
Termal
Dari data-data diatas dapat diketahui, bahwa distribusi temperature yang paling besar terdapat pada CR 10
Termal
temperature yang paling besar terdapat pada CR 10 dengan temperature maksimal 1910oC dan heat flux paling
KESIMPULAN DAN SARAN
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
1. Tegangan yang terjadi pada piston terbeser pada CR 20.28
yaitu 339 N/mm2 yang terletak di daerah sekitar lubang
i t i K t k ili d t b d CR t b t
piston pin. Karena tekanan silinder terbesar pada CR tersebut yaitu 8.664 bar. Perubahan tegangan menurun secara gradual seiring dengan pemotongan piston
seiring dengan pemotongan piston.
2. Distribusi temperature terbesar yaitu pada CR 10 yaitu
d t t 1910oC k d CR t b t b h
dengan temperature 1910oC, karena pada CR tersebut bahan bakar dan udara yang disemprotkan lebih banyak. Sedangkan
distribusi temperatur yang terkecil pada CR 20 28 yaitu
distribusi temperatur yang terkecil pada CR 20.28 yaitu
Kesimpulan (Cont.)
3. Tegangan pada CR 10 dan 13 masih dapat diterima oleh
piston, karena tegangan maksimal lebih kecil dari tegangan ijin. Tegangan pada CR 10 dan 13 yaitu 171 dan 221 N/mm2, sedangkan tegangan ijin yaitu 252.2 N/mm2.
Saran
1. Penulisan hanya menganalisa tegangan (
stress
) dan distribusi temperature, diharapkan pada penulisan setelahnya dapat menghitung tegangangan termal setelahnya dapat menghitung tegangangan termal (thermal stress
) pada piston.2 Pengaruh performa akibat pemotongan piston tidak
2. Pengaruh performa akibat pemotongan piston tidak diperhitungkan dalam penulisan ini, diharapkan untuk selanjutnya dapat dianalisa pula pengaruh performaj y p p p g p mesin terhadap pemotongan piston head.
Saran
3. Diharapkan untuk penulisan selanjutnya dapa menghitung tinjauan ekonomis akibat konversi mesin diesel menjadi mesin berbahan bakar gas ini
diesel menjadi mesin berbahan bakar gas ini.
4. Pemotongan yang dilakukan pada piston head untuk memperbesar compression ratio akan merubah tinggi memperbesar compression ratio akan merubah tinggi clearance silinder, dengan demikian diharapkan penulisan selanjutnya hanya memperbesar swirl piston
p j y y p p
saja, sehingga tinggi clearance silinder tidak berubah.